• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Renungan Harian/Saat Teduh.

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. user.
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai
Bacaan hari ini: Galatia 1:6-10
Ayat mas hari ini: Galatia 1:6,7
Bacaan Alkitab Setahun: Markus 8-10



Dalam acara orientasi di sebuah universitas, para peserta terpaksa menahan haus karena dilarang minum selama kegiatan berlangsung. Namun, panitia telah menyediakan seember air di sana. Karena itu, begitu acara selesai, para peserta segera menyerbu ember tersebut dan meminumnya tanpa memeriksa apakah air itu layak untuk diminum. Akibatnya, para senior memarahi mereka karena tidak berhati-hati. Ternyata, ini adalah cara panitia untuk mengajarkan tentang sikap berhati-hati.

Sikap berhati-hati semacam ini pula yang dinasihatkan Rasul Paulus. Saat itu, jemaat Galatia sedang menghadapi isu pengajaran sesat. Banyak pihak berusaha mengacaukan atau memutarbalikkan Injil (ayat 7). Jadi, Paulus menasihati mereka untuk tidak menerima begitu saja segala pengajaran baru yang mereka terima. Caranya dengan membandingkan hal baru tersebut dengan pengajaran yang telah mereka terima dari Paulus (ayat 8).

Sebagai orang percaya zaman ini, berbagai “pengajaran baru” juga menggempur kita. Isunya mungkin seputar ketuhanan Yesus, kebangkitan Yesus, mukjizat, keselamatan, Alkitab, dan lain-lain. Sumbernya bisa melalui buku yang kita baca, media massa yang membawa banyak berita, atau bahkan dari khotbah di gereja. Dan itu membuat kita ragu atau goyah. Dalam kondisi demikian, ingatlah nasihat Paulus: periksalah setiap ajaran tersebut dengan membandingkannya pada pengajaran mula-mula (yang sekarang tertulis di Alkitab). Itu sebabnya kita wajib mempelajari Alkitab dan mengerti segala kebenarannya, agar sanggup menguji setiap ajaran yang datang dan tak tersesat dalam perjalanan



ALKITAB ADALAH SATU-SATUNYA STANDAR KEBENARAN AJARAN IMAN KITA

 
Bacaan hari ini: Filemon 8-19
Ayat mas hari ini: Filemon 11
Bacaan Alkitab Setahun: Markus 11-13



Suami istri itu hampir bercerai karena cekcok terus. Kepada pendeta, sang suami menyatakan kekesalannya. “Saya jengkel sekali! Setiap kali bertengkar, istri saya selalu mengungkit lagi kesalahan saya di masa lalu. Satu per satu. Akibatnya pertengkaran menjadi semakin seru. Kami meributkan kembali masalah yang sudah diselesaikan.”

Mengungkit kesalahan masa lalu adalah kebiasaan buruk. Itu tandanya kita tidak mau memandang orang lain secara baru. Kita memberi stempel: “sekali begitu, tetap begitu.” Ini membuat orang frustrasi. Bacaan kita hari ini mengisahkan ada seorang tuan bernama Filemon. Ia mempunyai budak bernama Onesimus. Budak ini pernah mencuri barang tuannya lalu lari dari rumah. Tentu saja Filemon sangat marah. Di tengah pelariannya, Onesimus berjumpa dengan Paulus. Tuhan bekerja. Budak ini bertobat dan menerima Kristus. Hidupnya diubahkan. Paulus lantas meminta Onesimus balik kepada tuannya. Karena Paulus kenal dekat dengan Filemon, ia mengirim sepucuk surat. Isinya meminta agar Filemon bisa memandang Onesimus se-cara baru, menerimanya bukan lagi sebagai hamba, melainkan sebagai saudara seiman. Jangan ungkit lagi kesalahannya, sebab Onesimus sudah berubah.

Tampaknya, kita harus belajar mengampuni seperti Kristus. Dia mengampuni secara tuntas. Dia tak pernah mengungkit lagi dosa kita di masa lalu. Ketika mengampuni, Yesus membuang atau mengubur dosa kita. Di hadapan-Nya kita menjadi manusia baru. Bukankah kita harus mengampuni orang lain, sama seperti Kristus meng-ampuni kita?



ORANG YANG TERUS MENGUNGKIT KESALAHAN MASA LALU MEMPERSULIT TERJADINYA PEMBARUAN DI MASA DEPAN

 
Bacaan hari ini: Yeremia 42:1-22, 43:1-7
Ayat mas hari ini: Yeremia 42:3
Bacaan Alkitab Setahun: Markus 14-16




Banyak dari kita yang sering meminta pendapat dari orang lain ketika sedang bingung. Namun, harus diakui, terkadang sebelum mendengar pendapat mereka pun, kita sudah punya rencana sendiri. Dengan demikian, yang terjadi adalah kita sekadar mencari persetujuan atas rencana kita. Dalam beberapa kasus, sikap ini mungkin dapat dipahami mengingat semua penda-pat tersebut adalah pendapat manusia yang bisa salah. Namun, kalau sikap ini kita bawa juga ketika meminta pendapat dari Tuhan, seperti yang kita temukan dalam bacaan Alkitab hari ini, tentu menjadi salah.

Saat itu Yohanan, Azarya, dan sisa rakyat Kerajaan Yehuda berencana pergi ke Mesir untuk lari dari tentara Babel (41:17). Akan tetapi, sebelum berangkat, mereka meminta petunjuk Tuhan tentang rencana ini. Ternyata Tuhan berpendapat lain dan menyuruh mereka untuk tidak pergi. Sulit bagi mereka untuk menerima petunjuk Tuhan, yakni agar mereka tetap di Yehuda, sehingga mereka tidak mau mendengarkan suara Tuhan dan tetap pergi ke Mesir.

Kita boleh datang kepada Tuhan dengan rencana kita dan meminta pendapat-Nya. Namun, kita harus siap kalau Tuhan menyatakan bahwa rencana tersebut harus diubah sesuai kehendak-Nya. Hal ini kerap kali memang tidak mudah, sebab rencana-Nya kadang tampak berat. Kadang kita bisa lihat bahwa akan ada pengorbanan yang akan kita tanggung. Mungkin itu berbentuk tak tergapainya ambisi pribadi, cibiran dari orang lain, dan sebagainya. Akan tetapi, kalau kita mau yang terbaik, tidak bisa tidak, rencana-Nya itulah yang harus kita ikuti



BILA KITA MEMINTA PETUNJUK DARI TUHAN BERSIAPLAH UNTUK MENAATINYA


 
Bacaan hari ini: Mazmur 90:1-12
Ayat mas hari ini: Mazmur 90:12
Bacaan Alkitab Setahun: Lukas 1-4



Pak Permana meninggal dunia,” kata teman saya di telepon. Saya terkesiap. Dua hari lalu saya sempat bertemu dengan Pak Permana. Masih segar bugar. Kami ngobrol ngalor-ngidul, sambil bersenda gurau dan tertawa-tawa. Tidak ada tanda-tanda sedikit pun hidup Pak Permana akan sesingkat itu. Rupanya, Pak Permana terkena serangan jantung. Sehabis bermain tenis, ia mengeluh dadanya sakit. Lalu, tidak lama sesudah itu ia pingsan. Dalam perjalanan ke rumah sakit, ia mengembuskan napasnya yang terakhir.

Begitulah hidup. Sangat ringkih. Bisa dibilang, kita ini berada di bawah bayang-bayang kematian. Setiap saat kita bisa dijemput oleh kematian. Kapan saja dan di mana saja. Tidak saja ketika usia kita sudah uzur atau ketika tubuh sakit-sakitan. Namun juga saat kita “masih” di usia muda, berada di puncak karier, dan di saat tubuh kita sehat. Kematian tidak pandang bulu; tidak pandang usia; tidak pandang situasi dan kondisi kita. Pemazmur bahkan mengibaratkan hidup kita ini seperti rumput; yang di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, akan tetapi di waktu petang ia sudah lisut dan layu (ayat 5,6).

Lalu bagaimana? Apakah kita pasrah dan pasif saja menjalani hari-hari, sekadar untuk menunggu kematian datang? Tidak. Kesadaran bahwa kita bisa kapan saja dijemput kematian seharusnya mendorong kita untuk hidup dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Soal kapan pun kematian itu datang menjemput, kalau kita sudah berusaha hidup bijak dan bajik di dalam Tuhan, kita akan menghadapinya dengan tenang. Untuk itu, kuncinya adalah berjaga-jaga senantiasa



YANG PENTING BUKAN KAPAN KITA MATI TETAPI BAGAIMANA KITA HIDUP
 
Bacaan hari ini: Keluaran 3:1-6
Ayat mas hari ini: Keluaran 3:4
Bacaan Alkitab Setahun: Lukas 5-7



Henri Dunant adalah bankir kaya. Suatu hari, pemerintah Swiss mengutusnya menemui Napoleon di Paris untuk urusan bisnis. Namun, Napoleon sedang berperang di Italia. Jadi, Dunant menyusulnya ke medan perang. Di situ ia terhenyak melihat kekejaman perang. Mayat manusia berserakan di ladang. Gereja penuh orang yang luka berat. Berminggu-minggu Dunant ikut membantu dokter merawat mereka. Sepulangnya ke Swiss, ia depresi. Bayangan kekejaman perang terus menghantui. Ia yakin Tuhan ingin dirinya berbuat sesuatu. Lalu Dunant mendirikan Palang Merah Internasional, yang sampai kini telah menolong jutaan orang di medan perang.

Perjalanan Dunant ke Italia sepertinya salah jalan. Menyimpang dari rencana semula. Namun, justru di situ Tuhan menyatakan kehendak-Nya. Sama seperti pengalaman Musa. Tiap hari ia mengikuti rute yang sama ketika menggembalakan domba-domba. Namun suatu hari, ketika melihat semak duri yang menyala, ia memutuskan untuk berhenti sejenak. Keluar dari jalur rutin. “Menyimpang ke sana untuk memeriksanya.” Di situlah ia mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang mengubah arah hidupnya. Saat itulah Tuhan menyatakan kehendak-Nya

Orang bilang, hidup harus terencana. Jadi, kita pun membuat rencana tahunan, bulanan, sampai jadwal harian, dan berusaha menurutinya. Tak ada yang salah dengan itu. Namun, jika situasi membuat kita harus menyimpang dari rencana semula, jangan panik atau marah. Bisa jadi saat itu Tuhan ingin menyatakan kehendak dan rencana-Nya yang berbeda dengan rencana kita. Belajarlah untuk peka!



BAGI ORANG BERIMAN TAK ADA ISTILAH ”SALAH JALAN” SEBAB KE MANA PUN IA PERGI, TUHAN ADA DI DEPAN
 
Bacaan hari ini: Bilangan 9:15-23
Ayat mas hari ini: Mazmur 37:23,24
Bacaan Alkitab Setahun: Lukas 8-11


Kompas adalah penunjuk arah yang telah sangat menolong para penjelajah dunia. Namun sekarang banyak orang lebih suka menggunakan GPS (Global Positioning System), yakni sebuah instrumen interaktif yang dioperasikan lewat satelit dan berisi informasi peta perjalanan. Jika kita mengerti cara membaca petunjuk GPS tersebut, kita tidak mungkin tersesat. Alat canggih ini akan memberi tahu kita ke mana arah yang harus dituju. Betapa indahnya bila kita memiliki sebuah “GPS kehidupan” di sepanjang perjalanan kita di dunia ini.

Umat Tuhan mengalami kehadiran dan penyertaan Tuhan lewat “GPS istimewa” yang tak akan terulang dalam sejarah manusia—tiang awan (ayat 16). Melebihi akal. Tuhan menjamin bahwa mereka takkan pernah tersesat saat menuju tanah perjanjian. Syaratnya hanyalah mengikuti jadwal perjalanan tiang awan yang Tuhan sediakan. Saat itu, umat pilihan tidak tahu apa yang terjadi di luar lingkup perkemahan mereka. Namun, Tuhan Allah tahu benar kapan mereka harus berangkat dan berjalan. Jadi, umat Tuhan menempuh perjalanan dengan iman bahwa petunjuk tiang awan pasti benar, sebab itu berasal dari Tuhan (ayat 22, 23).

Sampai sekarang pun, sebetulnya Tuhan senantiasa memberi penunjuk arah bagi kita. Ada sebuah “GPS rohani” bagi setiap kita dalam menjalani hidup. Masalahnya, apakah kita peka terhadapnya, hingga kita cukup cakap untuk “membacanya”? Agar kita memiliki kepekaan atas arah yang ditunjukkan, kita perlu memiliki kedekatan pribadi dengan Tuhan. Hanya dengan demikian “GPS rohani” kita tetap berjalan



HIDUP ADALAH PERJALANAN PANJANG TANPA PENUNJUK ARAH YANG PASTI KITA SANGAT MUDAH TERSESAT
 
Bacaan hari ini: Matius 21:18-22
Ayat mas hari ini: Matius 21:19
Bacaan Alkitab Setahun: Lukas 15-18



Seorang teman bercerita bahwa selama ini ia rajin menyikat gigi. Sejak kecil ibunya telah membiasakan dirinya untuk menyikat gigi paling sedikit dua kali sehari. Namun suatu hari, tiba-tiba giginya terasa ngilu dan berdarah. Ia pun pergi ke dokter dan dari pemeriksaan ia baru tahu bahwa selama ini caranya menyikat gigi salah. Sekilas dari luar giginya memang sehat, tetapi di dalam ternyata ada beberapa bagian yang keropos. Itu berarti, rajin saja tidak cukup, tetapi perlu diiringi dengan cara-cara yang benar.

Begitu juga dalam kehidupan rohani kita. Selama ini kita mungkin rajin beri-badah di gereja, rajin berdoa, rajin berpuasa, dan sebagainya. Namun, kita tetap merasa “kosong”, tidak merasakan sukacita dan damai sejahtera di dalam hati. Orang-orang lain yang melihat hidup kita dari luar mungkin mengenal kita sebagai “orang baik”. Sayangnya, kita sendiri malah merasakan yang sebaliknya. Jika ini yang terjadi, berarti ada sesuatu yang salah dalam cara kita menjalani kehidupan rohani. Mungkin motivasi kita selama ini sudah keliru, atau pema-haman dan cara-cara kita melaksanakannya yang salah.

Itulah yang terjadi pada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka rajin melaksanakan kewajiban keagamaan, bahkan aturan demi aturan mereka jalankan dengan sangat ketat, sehingga dari luar mereka tampak sebagai orang-orang saleh. Namun, di mata Tuhan Yesus ternyata kondisi mereka sebenarnya tidak demikian. Mereka tidak lebih seperti pohon ara yang berdaun lebat, tetapi tidak berbuah. Kerajinan mereka tidak ada artinya. Bagaimana dengan kita?



KERAJINAN DALAM BERIBADAH TANPA DIIRINGI KETULUSAN DAN KERENDAHAN HATI ADALAH NOL BESAR

 
Bacaan hari ini: Markus 14:43-52
Ayat mas hari ini: Markus 14:52
Bacaan Alkitab Setahun: Lukas 22-24



Memberikan kritik kepada orang lain selalu lebih mudah dilakukan daripada mengkritik diri sendiri. Yah, “selumbar” di mata orang lain mudah terlihat, semen-tara “balok” di mata sendiri tidak. Oleh sebab itu, orang yang mampu melakukan otokritik (kritik atas diri sendiri) pastilah seorang yang berjiwa besar.

Injil Markus ditulis dengan semangat otokritik yang berani. Dialamatkan kepada orang kristiani, tetapi juga ditulis untuk mengkritik para pemimpin kristiani. Kita dapat melihatnya dari bagaimana Injil ini menceritakan murid-murid Yesus, yang notabene adalah para rasul, yaitu pemimpin Gereja. Kelemahan para pemimpin itu “ditelanjangi” dengan sangat jujur. Termasuk tatkala mereka semua “melarikan diri” waktu Yesus ditangkap di Taman Getsemani. Memalukan, tetapi nyata. Markus benar, tindakan memalukan para pemimpin—termasuk para pemimpin kristiani—masih terus ada dan terjadi sampai sekarang. Untuk itu, harus ada yang berani mengkritiknya demi perbaikan. Namun, yang luar biasa adalah Markus bukan hanya mengkritik para seniornya, tetapi juga mengkritik dirinya sendiri. Bahkan lebih tajam! Jika para murid “melarikan diri”, ia adalah pemuda yang “lari dengan telanjang”. Sebenarnya pemuda itu adalah dirinya sendiri! Jadi, di sini seolah-olah Markus berkata, “Mereka semua lari meninggalkan Yesus, lebih-lebih aku sendiri!” Sebuah otokritik yang pantas dihargai.

Apakah kita adalah orang kristiani yang bertumbuh dewasa? Salah satu takaran untuk mengukur kedewasaan iman kita adalah kesediaan diri untuk melakukan otokritik. Maukah kita?



JUJUR ARTINYA BERSEDIA MENGAKUI KEBENARAN DAN KESALAHAN BAIK PADA ORANG LAIN MAUPUN PADA DIRI SENDIRI
 
Bacaan hari ini: Daniel 1
Ayat mas hari ini: Daniel 1:8
Bacaan Alkitab Setahun: Yohanes 1-4



Apakah arti sebuah nama?” demikian Shakespeare berkata. Namun, semes-tinya pertanyaan itu bisa dijawab; betapapun sederhana, sebuah nama pasti me-miliki makna. Nama menjadi sebuah tanda, harapan, janji, atau yang lain. Nama “Daniel” berarti “Tuhan adalah hakimku”. Dan pemuda Yahudi yang turut diangkut ke pembuangan di Babel ini, telah sungguh-sungguh hidup sesuai makna namanya.

Sejak muda ia telah begitu karib dengan Tuhan. Jadi, bersama beberapa orang, ia terpilih menjadi pegawai raja. Sebuah status elite bagi orang buangan. Meskipun demikian, ini tidak membuat Daniel “besar kepala”. Ia tetap sadar siapa dirinya. Sebagai pegawai raja, ia perlu menganalisa keadaan dan membuat banyak pilihan (ayat 8) sambil tetap membuka diri pada kemungkinan-kemungkinan bahwa pilihannya bisa jadi keliru (ayat 12-18). Di situlah ia me-ngandalkan Allah yang adalah hakimnya, yang dapat menolongnya mengambil keputusan yang benar. Ya, ia kerap dihadapkan pada situasi-situasi pelik di mana ia harus memilih dan memutuskan sikap—memilih makanan, mengartikan mimpi, membaca tulisan di dinding, menyerahkan diri pada keadilan Allah ketika di gua singa. Dan dalam segala situasi itu, ia membuat pilihan-pilihan yang penuh integritas dan berdasarkan petunjuk Tuhan.

Daniel mengajar kita bahwa integritas kita akan lulus uji jika kita memiliki iman yang terus membuka diri kepada Allah dalam segala aspek kehidupan. Jika seluruh hidup dan hati kita terarah kepada Allah, maka hidup kita akan semakin mantap dan pasti dapat menjawab segala tantangan zaman




APABILA TUHAN ADALAH HAKIMKU SEGALA KEPUTUSAN DAPAT KUAMBIL DENGAN HATI TEGUH
 
Bacaan hari ini: Matius 25:14-30
Ayat mas hari ini: Matius 25:26
Bacaan Alkitab Setahun: Yohanes 5-7



Seorang gadis Jepang bermaksud bunuh diri dengan cara terjun dari gedung yang tinggi. Anehnya, sebelum bunuh diri ia menelepon seorang reporter televisi. Sang reporter diminta merekam adegan bunuh diri tersebut dan menayangkannya di siaran berita. Celakanya, reporter itu setuju. Bersama seorang juru kamera, ia merekam dan menayangkan adegan bunuh diri tersebut. Tentu saja masyarakat heboh! Kedua orang itu dikecam karena tidak mencoba mencegah sang gadis untuk bunuh diri. Namun, keduanya berkelit. “Apa salah kami? Kami tidak melakukan apa-apa,” kata mereka.

Ya, kedua orang ini bersalah justru karena tidak berbuat apa-apa! Mereka punya kesempatan untuk menyelamatkan nyawa, tetapi diam saja. Sama seperti perumpamaan hamba yang diberi satu talenta. Ia dikecam tuannya bukan hanya karena ia malas, melainkan juga karena ia “hamba yang jahat”. Padahal ia tidak melakukan tindak kriminal, misalnya mencuri talenta itu. Sepeser pun tidak. Ia diberi satu talenta, lalu dikembalikannya juga satu talenta. Lantas, di mana letak kejahatannya? Ia jahat justru karena tidak berbuat apa-apa. Dengan berdiam diri, ia telah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh tuannya. Ia potensial, tetapi tidak produktif.

Setiap hari, Tuhan memberi kita kesempatan untuk berbuat sesuatu; mengembangkan bakat, mengasihi sesama, melayani Tuhan, dan menjadi berkat bagi sesama. Sudahkah kita berbuat sesuatu, melakukan bagian kita? Ataukah kita diam saja, membiarkan kesempatan berlalu hari demi hari? Jangan abaikan setiap kesempatan. Itu adalah sebuah kejahatan



KITA BERDOSA BUKAN HANYA SAAT MELAKUKAN YANG SALAH TETAPI JUGA SAAT TIDAK MELAKUKAN YANG BENAR
 
Bacaan hari ini: Roma 15:14-21
Ayat mas hari ini: Roma 10:14
Bacaan Alkitab Setahun: Yohanes 19-21



Kubilai Khan adalah kaisar terbesar dalam sejarah Mongolia setelah Jenghis Khan, kakeknya. Pada abad ke-13, Kubilai Khan menerima kedatangan para pedagang Eropa. Setelah berbincang, kaisar tertarik dengan iman kristiani. Jadi, ia meminta agar ada seratus misionaris yang dikirim ke Mongolia untuk mengajar tentang Yesus. Namun, gereja di Eropa tak merespons. Mereka terlalu sibuk dengan urusan internal gereja, sehingga hanya ada dua misionaris yang dikirim, yaitu Nicholas dan William. Mereka pun tidak sampai ke Mongolia karena tak tahan menghadapi situasi perang yang sedang terjadi di Asia Tengah. Mongolia pun gagal dimenangkan bagi Kristus.

Kelalaian gereja pada masa lampau juga masih kerap terjadi pada zaman ini. Orang kristiani terlalu sibuk dengan urusan internal gereja. Akibatnya, gereja makin tertutup terhadap dunia di sekelilingnya karena “temboknya” semakin tinggi. Dan “tembok” itu membuat kita lupa bahwa semestinya kita ini menjadi pembawa berita baik bagi mereka yang masih banyak berdiri “di luar tembok”.

Kita mesti meneladani semangat pemberitaan Injil yang dilakukan Paulus. Ia berusaha membagikan Injil di tempat-tempat yang belum pernah mendengar nama Yesus (ayat 20). Inilah yang semestinya menjadi kerinduan setiap gereja. Kiranya setiap gereja kita terus setia melakukan hal ini. Urusan internal gereja memang tak dapat diabaikan, tetapi jika itu membuat gereja berhenti memberita-kan Injil, perlahan-lahan gereja akan “mati” karena tak memenuhi tugas yang diembannya. Apakah gereja tempat Anda beribadah adalah gereja yang memberitakan Injil Kristus?




JIKA TEMBOK GEREJA MAKIN TINGGI BERARTI GEREJA GAGAL MENJADI SAKSI
 
Bacaan hari ini: Pengkhotbah 11:1-6
Ayat mas hari ini: Pengkhotbah 11:6
Bacaan Alkitab Setahun: Kisah Para Rasul 1-4



Hidup ini penuh misteri—banyak hal tidak kita ketahui (ayat 5). Dan justru karena hidup mengandung banyak misteri, Pengkhotbah mendorong para pembaca tulisannya agar berani mengambil tindakan yang punya banyak kemungkinan hasil. “Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik” (ayat 6).

Pengkhotbah tidak meminta kita agar menjadi orang-orang yang gila kerja. Ia hanya mengingatkan bahwa kita ini sungguh tidak tahu apa-apa dan tak dapat memastikan hasil dari setiap pekerjaan yang kita lakukan. Kita juga tak tahu bagaimana Allah akan berkarya. Walaupun demikian, ketidaktahuan itu tak boleh membuat kita santai saja lalu masuk ke “tempurung” masing-masing; tak bersemangat, tak rajin, dan loyo menghadapi hidup. Sebaliknya, justru karena “ketidaktahuan” itu, kita digugah untuk menjadi rajin—”menabur benih pagi-pagi ... janganlah memberi istirahat pada tanganmu”. Dan dengan hati teguh (meskipun kita tidak tahu pasti tentang semua hal) serta rendah hati (karena kita beriman pada Allah yang memahami segala misteri) kita harus terus tekun berusaha.

Pengkhotbah mendorong kita untuk sungguh-sungguh berjuang dalam hidup sekarang ini, dan tidak terjatuh dalam perangkap lamunan ataupun penjara penyesalan yang hanya membuang waktu kita. Dan kita tidak pernah berjuang sendiri, karena kita selalu ada dalam pengawasan dan pemeliharaan Allah, Sang Jawaban dari semua ketidaktahuan kita



APABILA ORANG BERIMAN TAK MAU BERJERIH LELAH BAGAIMANA IMANNYA AKAN BERBUAH?
 
Bacaan hari ini: Lukas 17:5,6
Ayat mas hari ini: IBRANI 11:30
Bacaan Alkitab Setahun: Kisah Para Rasul 5-7



Seberapa besar iman yang harus kita miliki? Bisa jadi inilah pertanyaan yang mendorong para murid untuk meminta kepada Tuhan Yesus, “Tambahkanlah iman kami!” Dan, jawaban yang mereka terima sangat mengejutkan, “Sekiranya kamu mempunyai iman sekecil biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada po-hon ara ini: Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu” (Lukas 17:6).

Biji sesawi tergolong biji-bijian yang sangat kecil. Diameter biji ini kurang lebih satu milimeter, bahkan ada yang lebih kecil dari itu. Ada yang berwarna kekuningan, ada yang kecoklatan, ada juga yang berwarna hitam. Begitu kecil ukuran biji sesawi ini, sehingga orang bisa sangat sulit memegangnya. Dan biji sesawi yang sangat kecil ini justru dijadikan “ukuran” oleh Tuhan untuk menunjukkan kekuatan iman yang besar.

Iman melewati batas-batas perhitungan akal. Apa yang menurut akal sulit, bahkan tidak mungkin, bisa terjadi di dalam iman. Tembok Yerikho menjadi bukti betapa kekuatan iman mampu meruntuhkan tembok (Yosua 6:1-27). Akal sehat kita tentu akan sangat sulit membayangkan tembok yang kokoh dan kuat itu runtuh, tetapi iman memungkinkan segala sesuatu terjadi. Karena itu, jangan berkecil hati jika kita tengah menghadapi “jalan buntu”; kesulitan dan hambatan bertumpuk di depan kita seolah-olah mustahil dilampaui. Jangan undur. Tetaplah berpaut pada iman, sebab di dalam iman selalu ada pengharapan akan adanya jalan keluar. Kadang-kadang hal itu dapat terwujud dengan cara dan waktu yang sama sekali tidak terduga. Sungguh



APA YANG TIDAK MUNGKIN BAGI AKAL MUNGKIN BAGI IMAN
 
Bacaan hari ini: Matius 13:24-30
Ayat mas hari ini: Matius 13:29
Bacaan Alkitab Setahun: Kisah Para Rasul 8-10



Gandum dan lalang adalah dua tanaman yang sangat mirip, tetapi sebenar-nya sangat berbeda. Gandum adalah makanan pokok yang sangat berguna bagi manusia, sedangkan lalang sama sekali tidak berguna. Bahkan lalang lebih banyak menyerap sari makanan dari tanah, sehingga mengganggu pertumbuhan gandum. Sayangnya lalang dan gandum baru dapat dibedakan ketika bulir-bulir-nya ke-luar. Dan, lalang yang dicabut sebelum waktunya bisa membuat gandum turut tercabut. Satu-satunya cara memisahkan lalang dan gandum adalah de-ngan menunggunya sampai saat menuai tiba.

Seumpama lalang dan gandum, begitulah orang jahat tetap dibiarkan hidup di dunia ini bersama orang baik, meski mereka membawa penderitaan bagi orang-orang baik. Tuhan mengasihi seluruh ciptaan-Nya, baik yang berbuat jahat atau yang berbuat baik. Dia masih memberi kesempatan kepada yang jahat supaya bertobat, juga memberi kesempatan kepada yang baik untuk terus bertumbuh dalam ketaatan pada firman Tuhan. Justru dengan adanya “lalang”, maka “gandum” ditantang untuk makin tekun bertumbuh, makin tahan uji, dan makin berkualitas.

Hari ini kita diajar mengenal hati Allah yang panjang sabar dan mengasihi seluruh isi dunia ini. Dia bersabar karena segala sesuatu ada waktunya; kasih-Nya menerima setiap orang apa adanya. Kasih-Nya memberi kesempatan kepada setiap orang untuk berubah dan bertumbuh lebih baik, bukan cepat menghakimi dan menghukum. Allah memiliki kasih yang besar, yang tidak menyerah untuk terus mengasihi. Sebagai “gandum” di ladang-Nya, hendaknya kita terus bertumbuh dalam kasih dan kebenaran yang sejati



MESKI LALANG HARUS TUMBUH DI ANTARA GANDUM BIARLAH GANDUM ITU TERUS MERANUM
 
Bacaan hari ini: Matius 8:5-13
Ayat mas hari ini: Matius 8:6,7
Bacaan Alkitab Setahun: Kisah Para Rasul 11-14



Dulu saya bersekolah di SD milik gereja. Mayoritas murid beragama kristiani, namun suasananya tidak selalu “kristiani”. Anak orang kaya cenderung bergaul dengan yang “setara”. Jika ada anak orang miskin di antara mereka; maka ia hanya akan sering disuruh-suruh atau dijadikan semacam bodyguard. Sementara itu saya, karena malas disuruh-suruh dan tak berbakat jadi bodyguard, hanya bisa berteman dengan mereka yang juga berkantong “tipis”. Ya, orang cenderung aman dengan yang “setara”, sehingga tali kasih yang terja-lin bukan kasih semesta!

Kasih semesta adalah kasih yang melampaui batas-batas sosial, ekonomi, budaya, agama, dan “kotak-kotak” buatan manusia lainnya. Yesus menunjukkan kasih-Nya yang semesta saat menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum. Yang Dia tolong adalah hamba orang Romawi. Ia orang Romawi—yang tentu tak karib dengan orang Yahudi, masih pula statusnya hanya seorang hamba! Akan tetapi, dua “batasan” ini tidak menghalangi Yesus untuk mengasihi dan menolong! Bahkan sang perwira Romawi—tuan dari hamba yang sakit itu, juga menunjukkan kasih semesta, kasih yang lintas batas. Ia memperjuangkan kesembuhan orang yang berbeda status sosial dengannya (hamba). Kedua, ia mengusahakan kesembuhan hambanya dengan memercayai bahwa Yesus yang adalah orang Yahudi itu sangat berkuasa untuk menolong. Inilah yang membuat Yesus heran sehingga berkata, “Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun [bahkan] di antara orang Israel” (ayat 10).

Kasih yang semesta menembus berbagai batas dan membuka banyak kemungkinan tak terduga. Bagaimana kasih kita?




KASIH TUHAN LAKSANA MENTARI YANG DIMILIKI SEMUA ORANG KIRANYA KASIHKU PUN TAK MEMILIH ORANG
 
Bacaan hari ini: Kejadian 6:13-22
Ayat mas hari ini: Kejadian 6:19
Bacaan Alkitab Setahun: Kisah Para Rasul 15-17



Harimau Jawa adalah salah satu dari sekian spesies harimau yang pernah hidup di Pulau Jawa. Namun sayang, pada tahun 1980-an spesies ini dikabarkan telah punah. Para ahli lingkungan menduga kepunahan binatang ini disebabkan oleh aktivitas manusia yang terus mendesak habitat mereka. Kini, daftar binatang yang punah atau terancam punah semakin panjang. Di antaranya harimau Sumatra, badak Jawa, jalak Bali, orang utan, dan banyak lagi.

Hari ini kita membaca tentang bagaimana Allah marah kepada ciptaan-Nya dan bermaksud mengakhiri hidup segala makhluk (ayat 13); yakni dengan men-datangkan air bah (ayat 17). Walaupun demikian, di tengah maksud itu pun Allah ingat untuk melakukan penyelamatan: Dia memilih Nuh serta keluarganya untuk diselamatkan. Dia juga ingat untuk menyelamatkan binatang-binatang, masing-masing sepasang. Apa yang Dia sebut “sungguh amat baik” (Kejadian 1:31) terus ingin Dia lestarikan.

Sebagaimana yang Allah lakukan, demikian pula kita. Kita mesti sungguh-sungguh bertindak menyikapi krisis lingkungan hidup yang tengah terjadi, khususnya dalam hal kepunahan berbagai jenis makhluk hidup. Kita mesti turut menjaga kelestarian alam; antara lain dengan tidak merusak cagar alam, tidak memburu binatang-binatang langka, tidak membeli barang-barang—seperti obat-obatan, makanan, pakaian, dan sebagainya—yang terbuat dari bagian tubuh binatang langka, atau mendukung organisasi pelestarian lingkungan. Biarlah kita selalu berusaha mengembalikan asrinya alam yang sejak mulanya Allah ciptakan dengan “sungguh amat baik”



ALLAH MEMBERI ALAM SEBAGAI ANUGERAH BAGI BUMI MARI JAGAI ANUGERAH ITU AGAR TETAP LESTARI
 
Bacaan hari ini: Efesus 5:6-14
Ayat mas hari ini: Efesus 5:10
Bacaan Alkitab Setahun: Kisah Para Rasul 21-24



Dalam bukunya The Gospel According to Starbucks, Leonard Sweet menulis-kan kisah Ed Faubert, seorang ahli pencicip kopi (coffee-taster) ternama. Ia sa-ngat peka pada cita rasa kopi. Berikanlah kepadanya secangkir kopi dan ia akan segera bisa menjelaskan segala hal tentang kopi itu secara perinci. Bahkan dengan mata tertutup, ia bisa tahu kopi yang dicicipinya berasal dari negara mana, ditanam di ketinggian berapa, dan di gunung apa.

Kepekaan dibentuk oleh latihan dan pengalaman terus-menerus. Kepekaan rohani pun demikian. Untuk dapat menguji apa yang berkenan kepada Tuhan (ayat 10), Paulus meminta jemaat Efesus untuk terus-menerus belajar hidup sebagai anak terang. Maksudnya, hidup sesuai dengan firman Tuhan. Dengan mempraktikkan firman setiap hari, semakin lama mereka akan menjadi semakin peka. Hasilnya? Mereka dapat membedakan mana yang berkenan kepada Tuhan dan mana yang tidak. Mereka takkan mudah disesatkan, sekalipun tiap hari hidup berbaur dengan orang-orang yang memiliki cara pikir dan gaya hidup duniawi. Bukannya terpengaruh, mereka bahkan bisa “menelanjangi perbuatan kegelapan” itu. Artinya, bisa menyadarkan orang lain akan perbuatannya yang berdosa.

Kita hidup pada zaman di mana penyesatan terjadi di mana-mana: lewat buku-buku, media massa, dan aneka tawaran dunia yang menggiurkan. Sudahkah kita memiliki kepekaan rohani? Banyak orang kristiani masih belum “bangun dari tidur” (ayat 14), bahkan ikut terbius dalam keduniawian. Tidak ada cara lain: kita harus belajar hidup taat sesuai firman Tuhan. Hanya dari situ kita bisa semakin peka



CARA UNTUK MENGUSIR KEGELAPAN SANGAT SEDERHANA: BAWALAH PELITA YANG MENYALA
 
Bacaan hari ini: Bilangan 13:25-33; 14:1-10
Ayat mas hari ini: Amsal 15:30
Bacaan Alkitab Setahun: ROMA 1-3



Dunia kita adalah dunia berita. Kabar bertebaran setiap hari. Lewat koran, ta-yangan televisi, situs internet, papan iklan, majalah, tabloid, dan penyampaian dari mulut ke mulut. Melalui kata, suara, gerak, gambar dan warna. Sayang, sedikit saja yang netral. Lebih banyak berita yang tersebar mengusung kepentingan-kepentingan dagang atau politik. Dan, masyarakat adalah sasarannya.

Menjelang masuk ke Kanaan, umat Israel terpengaruh oleh kabar yang dibawa oleh para pengintai utusan Musa. Sebagian besar pengintai membawa kabar miring, sehingga umat menjadi takut. Berita yang mereka sampaikan bernada negatif dan umat menjadi korbannya. Ibarat makanan, mereka membawa “makanan busuk” yang bikin “diare”. Umat Israel jadi resah, takut, panik, lalu memberontak. Syukurlah, di antara para pengintai itu ada Yosua dan Kaleb. Mereka tampil menyampaikan berita yang membesarkan hati. Menghantar “makanan sehat” dengan “gizi” iman yang tinggi. Mengajak umat untuk berpaling kepada Tuhan dan bersandar penuh kepada-Nya.

Penelitian di negeri kita membuktikan bahwa berita yang paling banyak dikonsumsi masyarakat saat ini adalah infotainment yang gencar “menjual” gosip kehidupan para selebriti. Kedua, sinetron yang berbau dunia gaib. Itukah “makanan” kita sehari-hari? Sebagai anak Tuhan, mari perhatikan “makanan berita” yang kita santap. Saringlah berita yang kita dengar dan baca. Cermatilah tayangan yang kita tonton. Jangan menyantap “makanan basi” berupa kabar busuk yang merusak iman dan moral. Utamakan untuk menyantap “kabar baik” (Injil) sebagai “nutrisi bergizi” bagi jiwa kita



KESEHATAN IMAN KITA TERGANTUNG PADA “MAKANAN” YANG KITA BERIKAN KEPADA JIWA KITA
 
Bacaan hari ini: 2 Korintus 4:16-5:10
Ayat mas hari ini: 2 Korintus 4:16
Bacaan Alkitab Setahun: ROMA 10-12



Usia tua tidak membuat semangat William Franklin Graham Jr. alias Billy Graham, surut. Di usia 70 tahun, ia masih melakukan perjalanan ke China dan Korea untuk berkhotbah. Ia juga terus menulis buku dan tampil di berbagai kegiatan pela-yanan. Padahal saat itu ia sudah mulai terserang penyakit Parkinson. Seiring waktu, penyakit lain seperti cairan dalam otak dan kanker prostat juga menyerangnya. Di usianya yang hampir 90 tahun sekarang, ia mengisi hidupnya dengan berdoa dan sesekali terlibat dalam kegiatan yayasan-nya. Menurutnya, usia tua dan penyakit bukanlah halangan bagi seseorang untuk berkarya dan bersyukur kepada Tuhan.

Kita tidak selalu berada dalam kondisi tubuh yang sehat dan kuat. Akan ada saatnya di mana kondisi tubuh kita merosot, menjadi ringkih dan lemah. Bisa jadi penyakit yang mendera membuat kita tidak dapat melakukan aktivitas dengan maksimal. Atau, bisa juga usia yang beranjak tua membatasi kita untuk melakukan berbagai kegiatan. Dan, kita tidak dapat mengelak atau menolak proses alamiah tersebut.

Dalam keadaan demikian, yang bisa kita lakukan adalah menjaga agar “tubuh batiniah” kita tidak ikut-ikutan merosot. Itulah yang Paulus lakukan. Walaupun manusia lahiriahnya semakin merosot, tetapi manusia batiniahnya terus diperbarui (ayat 16). Caranya adalah dengan selalu bersyukur dan berpengharapan; dengan memfokuskan hati dan pikiran pada hal-hal yang indah dalam hidup ini (ayat 18). Di dalam iman kepada Tuhan Yesus, selalu ada alasan untuk bersyukur dan berpengharapan. Bagaimanapun keadaan kita



TUBUH JASMANIAH BOLEH MEROSOT NAMUN TUBUH BATINIAH HARUS TERUS MENANJAK
 
Bacaan hari ini: Yohanes 17:6-19
Ayat mas hari ini: Yohanes 17:18
Bacaan Alkitab Setahun: 1 KORINTUS 1-3



Pada tahun 2007, ketika mengadakan perjalanan di Vietnam, kami dipandu seorang warga Vietnam yang belum pernah bertemu orang Indonesia. Mungkin karena sangat penasaran, ia memakai kesempatan untuk bertanya kepada kami mengenai berbagai peristiwa di Indonesia, misalnya peristiwa bom Bali. Ia ingin tahu mengapa orang Indonesia begitu membenci orang Barat, sehingga tega berbuat semacam itu. Menanggapi keingintahuannya, kami sebagai “duta” Indonesia berusaha menjawab dan memberi penjelasan bahwa tindakan ter-sebut tidak mewakili sikap orang Indonesia secara umum.

Seperti orang Vietnam tersebut, ada juga banyak orang di sekitar kita yang belum tahu tentang Kerajaan Allah. Dan mereka akan tetap hidup dalam ketidaktahuan jika kita sebagai “duta” Kerajaan Allah tidak pernah menjelaskan hal itu kepada mereka. Tentang siapa Raja kita, dan bagaimana kita dapat diangkat menjadi anak-Nya. Orang-orang yang ditaruh di sekitar hidup kita mem-butuhkan kesaksian kita tentang-Nya. Lebih dari itu, menjadi duta Kerajaan Allah tidak cukup dengan berkata-kata saja. Kesaksian hidup kita pun memegang peranan yang sama penting, sebab tentu sulit bagi mereka untuk percaya bahwa ada kasih dalam Kerajaan Allah jika di antara sesama orang percaya tidak ada kepedulian satu sama lain. Sulit bagi mereka untuk percaya bahwa ada damai dalam Kerajaan Allah jika kita suka ber-tengkar dengan orang lain.

Sebagai “duta” Kerajaan Allah, biarlah kita hidup sepadan dengan status kita sebagai orang kristiani, sehingga orang yang melihat kita akan percaya kepada Yesus



TUHAN MENGUTUS KITA KE DUNIA UNTUK MENJADI DUTA-NYA MARI KITA KERJAKAN TUGAS ITU SEBAIK-BAIKNYA
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.