• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Indonesia Today

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Alexis
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai
FPI Hadirkan Dua Saksi Fakta

JAKARTA, KAMIS - Dalam persidangan gugatan praperadilan yang diajukan Habib Rizieq terhadap kepolisian, Kamis (19/6) pagi ini menghadirkan dua saksi fakta. Mereka adalah Neneng Yulinza (34) dan Darma Bakti Ginting. Kesaksian keduanya di hadapan majelis hakim Pengadilan Jakarta Selatan itu diharapkan akan membatalkan penahanan Habib Rizieq.

Dari kesaksian Darma terungkap, pihak kepolisian menangkap Habib Rizieq tidak memakai surat perintah penangkapan. Sebab, pada saat menangkap polisi tidak memperlihatkan surat tersebut.
 
Pencuri Berkeliaran di Arena MTQ

SERANG, KAMIS - Pencuri berkeliaran di arena MTQ Nasional XXII yang berlangsung di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B). Dua mobil pengunjung dibobol kawanan pencuri dalam tiga hari penyelenggaraan MTQ tersebut.

Korban terakhir adalah sebuah mobil Toyota Kijang Innova A 1609 C yang diparkir di depan panggung utama MTQ Nasional, Rabu (18/6). Mobil tersebut milik Hambar, pegawai Dinas Pemukiman dan Sumber Daya Air Pemprov Banten. Sebuah laptop yang disimpan di bangku tengah mobil tersebut raib diambil pencuri.

Pencuri diduga masuk ke dalam mobil dengan cara merusak kaca jendela tengah sebelah kiri menggunakan benda tajam. Buktinya di mobil tersebut terlihat tanda bekas cungkilan di karet pelapis kaca jendela. Pecahan kaca mobil itu juga masih menumpuk di atas bangku tengah mobil warna merah hati tersebut. "Kirain saya pecahan kaca ini karena tertimpa bahan bangunan. Tapi, pas dilihat laptop saya kok sudah nggak ada," ujar Hambar.

Wanita yang tinggal di Perumahan Citra Gading, Cipocokjaya, Kota Serang, itu, mengaku sedang ada keperluan di arena MTQ tersebut. Namun sebenarnya ia meninggalkan laptop dalam mobilnya hanya sekitar lima menit. Begitu ia kembali untuk mengambil laptop tersebut, benda berharga berisi banyak data penting itu sudah tak ada di tempat.

Hambar mengaku tak langsung curiga laptopnya diambil pencuri karena alarm mobil sama sekali tak berbunyi. Ternyata para pencuri sangat lihai mensiasati alarm mobil hingga pegawai negeri sipil berjilbab itu tak memercayainya. "Cuma ditinggal lima menit saja, sudah dibobol. Ini harus dilaporkan ke polisi. Kalau nggak, makin banyak korban karena pelaksanaan MTQ satu minggu," ujar Hambar yang bergegas melaporkan apa yang dialaminya ke Polres Serang.

Sebelumnya, sebuah mobil Toyota Kijang B 2958 KQ yang diparkir di belakang stan MTQ Nasional, persisnya sebelah kiri panggung utama, juga dibobol maling, Senin (16/6). Seperangkat laptop, proyektor, dan layar yang disimpan di bangku tengah mobil tersebut raib.

Modusnya sama dengan yang dialami Hambar, yakni dengan merusak kaca jendela tengah. "Hanya ditinggal lima menit untuk membenarkan stan, barang dalam mobil hilang," ujar Suherman, karyawan Departemen Agama Pusat yang mengemudikan mobil tersebut. Suherman juga mengaku sudah melaporkan peristiwa pencurian itu ke Mapolres Serang.

Kapolda Banten Brigjen Polisi Rumiah yang dikonfirmasi Warta Kota mengaku sudah memerintahkan stafnya untuk mengimbau para pengunjung agar tak meninggalkan barang berharga di dalam mobil. "Soalnya, pengamanan MTQ tersebut tak bisa maksimal tanpa ada kehati-hatian dari para pengunjung," ucapnya.

Menurutnya, lokasi penyelenggaraan MTQ di KP3B tergolong sangat luas dan tak berpagar. Akibatnya siapa pun bisa masuk ke arena MTQ tanpa bisa diseleksi. Para petugas juga tak bisa bersiaga selama 24 jam hanya untuk mengawasi keluar-masuknya pengunjung. "Jadi sekali lagi, jangan tinggalkan barang berharga di mobil," kata Rumiah seraya menambahkan bahwa anak buahnya berusaha menangkap kawanan pencuri di arena MTQ tersebut.

MTQ XXII diikuti kafilah dari 33 provinsi. Jumlahnya sekitar 1.386 orang, ditambah 113 , dan 12 anggota tim pengawas. Para peserta umumnya menginap di hotel-hotel yang ada di kawasan Anyer. Tujuh cabang dilombakan di arena MTQ tersebut, yakni Tilawah AlQuran, Hidzil Quran, Tafsir AlQuran, Khat AlQuran, Fahmil Quran, Syahril Quran, dan menulis kandungan AlQuran. Yang terakhir masih bersifat ekshibisi. (nir)
 
Jumlah Pulau Berkurang -Hasil Verifikasi di 25 Provinsi Terhitung 8.172 Pulau

JAKARTA, KAMIS - Selama ini pulau di Indonesia disebutkan berjumlah 17.508, tetapi ternyata data yang menjadi acuan itu tidak sesuai dengan yang ditemukan Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi di lapangan. Diperkirakan hasil verifikasi jauh di bawah jumlah itu.

Hal ini terungkap dalam bedah buku berjudul Toponimi Indonesia, Sejarah Budaya Bangsa yang Panjang dari Permukiman Manusia dan Tertib Administrasi yang ditulis oleh Prof Dr Jacub Rais dan kawan-kawan.

Buku setebal 280 halaman yang diterbitkan Pradnya Paramita itu dibahas oleh Direktur Pemberdayaan Pulau-pulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan Alex Retraubun serta Direktur Wilayah Administrasi dan Perbatasan Departemen Dalam Negeri Kartiko Purnomo di Jakarta, Rabu (18/6).

Pada acara tersebut juga diluncurkan buku biografi Jacub Rais 80 Tahun, Merintis Geomatika di Indonesia, untuk memperingati 80 tahun usia guru besar emeritus Institut Teknologi Bandung dan mantan Kepala Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) ini yang lahir pada 18 Juni 1928.

Selama ini, ungkap Jacub, penyebutan jumlah pulau di Indonesia memang tidak berdasarkan survei yang menyeluruh. Meski demikian, pada tahun 1987 Indonesia telah melaporkan pada Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) perubahan jumlah pulaunya, dari 13.667 menjadi 17.508.

"PBB sebenarnya tidak minta laporan tentang jumlah pulau. Namun, menjadi kegiatan negara untuk melakukan pembakuan nama geografis, termasuk pembakuan nama pulau," ujar Jacub, pakar toponimi atau penamaan unsur daerah di muka bumi.

Di Indonesia, pada tahun 1987 jumlah pulau yang bernama tercatat hanya 5.707 pulau.

Tinggal delapan provinsi

Alex, yang menjadi penanggung jawab survei penamaan pulau pada Timnas Pembakuan Nama Rupabumi, menjelaskan, survei yang dilakukan sejak tahun 2005 hingga medio 2007 menghasilkan data 4.981 pulau yang tersebar di enam provinsi.

Jumlah itu telah dibakukan oleh pihak terkait, yaitu Departemen Dalam Negeri, Departemen Kelautan dan Perikanan, serta Bakosurtanal, dan dilaporkan pada Konferensi Ke-9 PBB tentang pembakuan nama geografis.

Menurut Kartiko, sampai Juni 2008 ini terakumulasi 8.172 pulau dari 25 provinsi yang telah diverifikasi.

Ada delapan provinsi lagi yang akan disurvei, antara lain, Nanggroe Aceh Darussalam, Banten, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.

Kartiko dan Alex yakin hasil akhir verifikasi jumlah pulau itu akan jauh lebih sedikit dari 17.508 pulau yang diyakini sekarang ini.

"Data keseluruhan jumlah dan nama pulau di Indonesia akan dilaporkan kepada PBB pada tahun 2012," lanjut Kartiko.

Sebelumnya, daftar nama pulau tersebut akan dikukuhkan dengan peraturan presiden dan menjadi referensi resmi negara untuk penyelenggaraan pemerintahan, pendidikan, atau kepentingan lain. (YUN/KOMPAS)
 
Djoko Gagal Ubah Air Jadi Energi

KAMIS, 19 JUNI 2008 | 13:12 WIB
Laporan wartawan Kompas Runik Sri Astuti

NGANJUK, KAMIS - Djoko Suprapto, pria yang mengklaim diri sebagai penemu blue energy, ternyata tidak bisa membuktikan sesumbarnya yang mampu mengubah air menjadi bahan bakar minyak. Dari tiga alat penemuannya yang diperagakan, tidak ada satupun yang mampu merubah air jadi bahan bakar secara langsung. Joko ternyata hanya bisa menjiplak penemuan Joko Sutrisno asal Yogyakarta yang sudah dipublikasikan secara luas.

Penemuan itu adalah penghematan penggunaan bahan bakar minyak dengan cara dicampur air. Sebelumnya air ini diberi katalisator seperti disuling yang bisa memisahkan unsur hidrogen dari air. Hidrogen inilah yang dicampurkan ke dalam bahan bakar minyak. Segala jenis BBM bisa dicampur hidrogen.

Pada Kamis (19/6) pagi di Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Djoko Suprapto memperagakan tiga liter solar dicampur tujuh liter air yang disuling dan diambil uapnya. Uap inilah yang dicampurkan ke solar lalu dialirkan ke generator dan dipakai untuk menyalakan genset.

Genset menyala selama 30 menit kemudian mati karena mesin terlalu panas. Uji coba yang sama dilakukan pada mesin mobil yang sudah dicopot dari rangkanya. Bahan bakar yang digunakan adalah bensin. Dengan komposisi perbandingan yang sama, mesin mobil menyala.

Alat ketiga yang diperagakan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Mandiri. Pembangkit ini diklaim mampu menghasilkan 10.000 watt dari tegangan 9 volt. Tidak ada penjelasan mengenai bahan bakar pembangkit. Pada peragaan alat yang pertama sampai alat yang ketiga, tidak ada penjelasan teknis. Juru bicara Joko Suprapto, Catur Suryadi, juga tidak bisa memberikan penjelasan ilmiah. Bahkan saat ditagih mana alat yang bisa mengubah air menjadi bahan bakar, ia bilang masih dalam proses pembuatan.
 
Izin Terbang AdamAir Resmi Dicabut

2697246p.jpg

JAKARTA,KAMIS - Izin operator penerbangan (Air Operator Certificate) PT Adam SkyConnections Air atau AdamAir secara resmi telah dicabut oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara Departemen Perhubungan Budhi Muliawan Suyitno. Pencabutan AOC 121-036 bagi AdamAir tersebut tertuang dalam surat berkop Dephub dengan nomor AU/3752/DSKU/1902/2008 dengan klasifikasi penting diteken oleh Dirjen pada Rabu, 18 Juni 2008.

"Dengan demikian, maka AOC AdamAir resmi dicabut. Surat diberikan langsung kepada Direktur Utama AdamAir, Adam Adhitya Suherman," kata Kepala Pusat Komunikasi Dephub Bambang Supriyadi Ervan di Jakarta, Kamis (19/6).

Kemudian, berdasarkan Civil Aviation Safety Regulation (CASR/aturan keselamatan penerbangan sipil) bagian 121.29, Dephub meminta agar dalam jangka waktu satu minggu sejak surat tersebut diberikan, pihak AdamAir harus mengembalikan lembar asli Sertifikat Operator Pesawat Udara dan Spesifikasi Operasi (Opspec) ke Dephub.

"Apabila ingin mendapatkan kembali sertifikatnya, maka AdamAir harus mengajukan permohonan sertifikasi baru," kata Bambang.
 
Otak Kasus Munir Terbongkar

6875large.jpg

Muchdi Pr Terancam Hukuman Mati

JAKARTA - Konspirasi pembunuhan aktivis HAM Munir terkuak. Polisi akhirnya menemukan sosok di belakang layar yang selama ini diyakini menggerakkan terpidana 20 tahun Pollycarpus Budihari Priyanto menghabisi Munir pada 7 September 2004.

Dia adalah mantan Deputi V Penggalangan Badan Intelijen Negara (BIN) yang juga mantan Danjen Kopassus Mayjen (pur) Muchdi Purwoprajono. Mabes Polri pun menetapkan purnawirawan kelahiran Jogjakarta 13 April 1948 itu sebagai tersangka. ''Besok (hari ini, Red) kami pindahkan dan lakukan penahanan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok," kata Kabareskrim Komjen Pol Bambang Hendarso Danuri di Mabes Polri tadi malam (19/6).

Muchdi dijemput penyidik di Apartemen Sahid, Jakarta Pusat, tadi malam (19/6). Operasi tertutup yang dipimpin langsung oleh Kabareskrim itu berjalan mulus. ''Pak Mathius Salempang (ketua tim teknis penyidik kasus Munir, Red) yang turun menjemput tersangka. Dia (Muchdi) lantas dibawa ke Bareskrim," kata sumber Jawa Pos yang ikut penangkapan.

Sumber lain memastikan, setidaknya tiga temuan baru yang meyakinkan polisi atas keterlibatan mantan perwira yang dicopot dari posisi Danjen Kopassus oleh Menhankam/Panglima ABRI Jenderal Wiranto sebagai buntut kasus penculikan 97. Kasus penculikan itu dibongkar oleh Munir.

Yang pertama, kesaksian agen madya BIN Budi Santoso yang masih berdinas di Pakistan. Budi yang hingga kini belum pernah muncul di pengadilan dan publik itu mengatakan, pada 6 September 2004, Polly menelepon dan mengatakan bahwa dirinya terbang ke Singapura bersama Munir. ''Pada 7 September-nya, Polly -sapaan Pollycarpus- kembali telepon sepulang dari Singapura, sambil mengatakan, 'saya dapat ikan besar'," tirunya.

Kesaksian Budi yang berdinas pada Direktorat 5.1 itu melengkapi kesaksian sebelumnya yang digunakan jaksa dalam peninjauan kembali (PK) kasus Munir dengan terdakwa Polly.

Saat itu, kepada polisi yang memeriksanya pada 3 dan 8 Oktober 2007, Budi mengakui mengenal Polly pada 14 Juni 2004. Dia berjumpa Polly di ruang kerja Muchdi di Kantor BIN.

Saat itu Budi diperintah Muchdi untuk membawa uang Rp 10 juta. Tapi, Budi tidak tahu uang itu untuk apa. Proses ini oleh Budi dicatat dalam buku kasnya yang juga disita polisi. Budi juga mengaku sering ditelepon dari HP maupun nomor rumah Polly. Isinya menanyakan posisi Muchdi.

Bukti baru lain adalah kesaksian dua anak buah Muchdi saat masih aktif berdinas di BIN. "Kedua orang yang berstatus sipil itu menguatkan bahwa Polly memang benar sering bertemu Muchdi. Semua ini dirangkaikan dengan fakta jika ada 41 hubungan telepon antara nomor milik Muchdi dengan nomor milik Polly di seputar hari pembunuhan Munir," bebernya.

Namun, sumber itu mengakui jika polisi belum berhasil mengetahui isi percakapan di dalam hubungan dalam nomor telepon tersebut. Tapi, bukti dan saksi-saksi di atas menjadi tambahan bahwa Muchdi terkait kasus Munir. Apalagi, hingga kini mantan Pandam VI/Tanjungpura itu selalu membantah dirinya terkait kasus Munir. Muchdi bahkan sempat mendatangi redaksi Jawa Pos pada 2006 lalu untuk mengklarifikasi jika dirinya tidak terkait kasus pembunuhan pendiri Kontras itu.

Lalu apa motif Muchdi menyuruh Polly -yang juga diyakini agen BIN- menghabisi Munir? "Biar nanti pengadilan yang membuka. Yang jelas, ini tidak melibatkan institusinya. Ini hanya tindakan oknum," sambung sumber lain.

Muchdi dijerat menggunakan pasal 340 KUHP (pembunuhan berencana) juncto pasal 55 (1) KUHP (menyuruh dan memberi kesempatan dalam perbuatan pidana). Ancaman hukumannya maksimal pidana mati atau penjara seumur hidup atau dua puluh tahun.

Saat ditanya Jawa Pos soal Munir beberapa jam sebelum ditangkap polisi di Kantor DPP Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Jl Brawijaya IX, Jaksel, Muchdi tidak mau menanggapi. "Kalau tidak ada urusannya dengan parpol, saya tidak mau jawab," ujarnya gusar.

Ketika ditanya lagi, jawaban wakil ketua umum Gerindra itu tetap sama. "Ini di parpol ya, jangan tanya yang lain. Saya nggak mau jawab," ujarnya dengan nada meninggi.

Begitu pula Polly, yang kukuh mengaku tidak mengenal Muchdi. Saat dibesuk Jawa Pos di Lapas Sukamiskin, Bandung, Senin lalu (16/6), mantan pilot Garuda itu mengaku tidak terlibat dalam kasus Munir, apalagi disuruh Muchdi membunuh Munir (Jawa Pos, 17/6).

Suara lelaki kelahiran Solo 26 Januari 1961 tersebut bahkan meninggi saat ditanya soal Budi Santoso. "Saya juga pingin tahu wajah Budi yang mana? Ngaku-nya kolonel, BIN lagi, tapi saya coba temuin dalam sidang, dia tidak datang," tegasnya.

Lalu, bagaimana lanjutan proses yang akan dilakukan polisi setelah menangkap Muchdi? Kabareskrim Bambang mengatakan, polisi akan melengkapi berkas Muchdi. Lantas, kasusnya dilimpahkan ke pengadilan melalui kejaksaan. Prinsipnya, tambah Bambang, berkas Muchdi segera dinyatakan lengkap (P-21) setelah dilengkapi berkas pemeriksaan tersangka.

Menurut Bambang, hingga kemarin, polisi belum menemukan calon tersangka lain di luar Muchdi. "Kecuali nanti berkembang di pengadilan," ujarnya.

Hasil Tim Pencari Fakta Munir yang dibentuk berdasar keppres pada 2005 menyatakan, Munir tewas akibat pembunuhan oleh permufakatan jahat. Dugaannya, ada operasi intelijen dari beberapa kalangan di BIN. Kepala BIN saat itu, Jenderal (pur) Hendropriyono, pernah digugat Munir. Polly hanyalah bagian dari operasi tersebut. Aktor yang terlibat dalam kasus itu dipisah menjadi aktor perencana operasi, aktor penyedia fasilitas, dan aktor pelaksana operasi.

Juru bicara tim pengacara Muchdi, Zaenal Maarif, yang datang ke Bareskrim Polri beberapa saat setelah kliennya ditangkap polisi menolak istilah "penangkapan".

Menurut Zaenal, kliennya memenuhi penggilan dengan didampingi seorang pengacaranya.

Tapi, pengakuan itu, agaknya, bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan. Polisi benar-benar bergerak cepat dan tidak ingin kecolongan. Meski demikian, dalam jumpa persnya tadi malam, Bambang tidak menyebut Muchdi ditangkap, tetapi dijemput. "Kami jemput dia (Muchdi) di sebuah tempat,'' kata Bambang.

Di bagian lain, Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Marsekal Muda Sagom Tamboen mengaku belum tahu bahwa ada permintaan Muchdi untuk melibatkan Badan Pembinaan Hukum TNI dalam membela kasusnya. "Tidak ada," ujarnya. Secara teknis, menurut Sagom, Muchdi tidak bisa didampingi pihaknya karena pada waktu kejadian yang bersangkutan sudah berstatus purnawirawan.

Selain Komjen Pol Bambang Hendarso, tim penjemput juga melibatkan Direktur I Keamanan dan Transnasional Brigjen Badrodin Haiti. Mereka berpakaian sipil dan tidak mengendarai mobil dinas. Bambang menggunakan Kijang Krista. Badrodin menumpang Kijang Innova.

Beberapa petugas Gegana juga dilibatkan dalam iring-iringan empat mobil yang membawa Muchdi. Saking cepatnya, Jawa Pos yang stand by di pintu belakang Bareskrim Polri tidak sempat memotret Muchdi saat dibawa masuk. Yang jelas, Muchdi mengenakan kacamata dan topi.

Munir dibunuh pada 7 September 2004. Saat itu suami Suciwati itu hendak melanjutkan studi ke negeri Belanda. Namun, bapak dua anak itu tidak pernah sampai ke Negeri Tulip tersebut dalam keadaan hidup saat racun arsenik memenuhi aliran darahnya. Belakangan, sebelum Muchdi, polisi telah memproses Polly, mantan Dirut Garuda Indra Setiawan, dan mantan chief secretary Airbus 330 Rohainil Aini.

Juga ada dua orang tersangka lain yang belum juga dikenai proses hukum -karena akan direhabilitasi-, yakni Oedi Irianto dan Yeti Susmiarti. Dua nama itu awalnya diduga ikut meracun Munir di atas pesawat Garuda yang terbang dari Jakarta ke Singapura pada hari nahas tersebut. Namun, belakangan polisi merevisi bahwa lokasi peracunan bukan di dalam pesawat, melaikan di Bandara Changi, Singapura.

Di tempat terpisah, istri almarhum Munir, Suciwati, belum merasa puas atas proses hukum terhadap Muchdi. Sebab, dia menganggap, ada pihak lain yang lebih berperan sebagai pembuka akses perencanaan konspirasi pembunuhan Munir. ''Polisi harus mampu mengungkap pelaku tersebut,'' kata Suciwati.
 
Menyaksikan Demonstrasi Blue Energy Temuan Joko Suprapto

6836large.jpg

"Sukses", Tetap Rahasiakan Formula, Khawatir Ditiru

''Penemu'' blue energy Joko Suprapto memenuhi janjinya untuk mendemonstrasikan temuannya itu kemarin. Demonstrasi yang dilakukan di rumahnya, Dusun Turi, Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso, Nganjuk, itu berlangsung sukses. Joko pun mendapat pujian dan tepuk tangan. Namun, dia masih merahasiakan bagaimana cara kerja temuannya itu.

Demonstrasi dimulai sekitar pukul 08.00. Sarananya adalah genset dan mesin mobil yang sudah dipereteli. Alat ''ajaibnya'' yang disebut jodhipati berbetuk tiga tabung. Dengan tambahan alat itulah, dia bisa menghemat pemakaian solar pada genset hingga 30 persen dari konsumsi normal.

Saat demo kemarin, Joko juga menjelaskan bahwa alatnya itu ramah lingkungan. ''Coba lihat, cerobong dieselnya tidak mengeluarkan asap,'' ujarnya di hadapan pengunjung.

Selain itu, bau yang keluar tidak terlalu menyengat seperti jika genset menggunakan bahan bakar minyak (BBM) solar. Bau yang muncul setelah menggunakan jodhipati seperti bau rebusan air.

Jodhipati terdiri atas tiga tabung. Tabung pertama adalah tempat air. Tabung kedua berisi katalisator untuk mengubah air menjadi uap hidrogen, yang lantas ditampung di tabung ketiga.

Ketiga tabung dihubungkan dengan selang kecil beraneka jenis. Ada yang berwarna cokelat dan perak serta dilengkapi keran penghubung. Di samping tabung-tabung tersebut diletakkan jeriken berkapasitas lima liter yang diisi empat liter solar.

Tabung pertama dan genset dihubungkan dengan trafo sebagai pemantik daya. Joko yang mempersiapkan sendiri alat-alat tersebut menawarkan kepada pengunjung untuk menuangkan air ke dalam tabung pertama. ''Dicek sekalian air beneran atau bukan,'' tantangnya.

Prosesnya, air ditabung pertama dipanaskan. Sekitar 20 menit kemudian tampak buliran solar bercampur dengan air yang sudah dipanaskan tadi. ''Lihat itu, airnya bergabung dengan solar,'' ujar Joko sambil menunjuk selang berwarna cokelat.

Gabungan air dengan solar itulah yang kemudian dimasukkan ke dalam genset sebagai bahan bakar. Untuk membuktikan adanya daya listrik, genset dihubungan dengan lampu halogen 100 watt di pendapa rumah Joko, yang langsung menyala terang.

Setelah beroperasi 40 menit, genset tersebut dimatikan. Dan, ketika diamati, solarnya hanya berkurang sedikit. Sedangkan air di tabung pertama berkurang sekitar 10 persen. Air sisa itu berwarna sedikit keruh dan berbau ''sangit''. ''Kami pernah mencoba dengan perbandingan 10 solar dan 90 air," kata Joko.

Sampai demonstrasi berakhir, Joko menolak menjelaskan proses tersebut secara ilmiah. Dalihnya, dia khawatir ditiru.

Kemarin Joko juga mencoba temuannya itu untuk mesin bensin. Mesin tersebut dimodifikasi sehingga memiliki dua karburator. Satu karburator untuk bensin, yang lain untuk uap hidrogen.

Percobaan dengan mesin bensin gagal dan malah mengeluarkan asap. Joko sempat panik.

''Seharusnya karburator tersebut tidak boleh sejajar. Dia lantas menjelaskan bahwa kegagalan itu disebabkan uap hidrogen yang belum berproses sempurna dan keburu bercampur dengan bensin.

Selanjutnya, dia menunjukkan kotak besar berwarna perak yang disebutnya pembangkit listrik mandiri. Menurut dia, pembangkit itu mampu menghidupkan alat elektronik tanpa henti. ''Ini seperti yang dibongkar di UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta),'' jelas Joko.

Joko lantas menunjukkan cara mengoperasikan alat tersebut dengan memantiknya dengan menggunakan enam buah baterai AA berdaya masing-masing 1,5 volt. Setelah beberapa detik, tombol power alat itu dinyalakan. Dan, lampu TL 100 watt yang dipegang Joko terlihat menyala terang. Padahal, baterai pemantik telah dilepaskan.

Tidak percaya begitu saja, hadirin meminta alat penguji lain. Sebuah bor listrik berdaya 450 watt diberikan. Sama dengan yang pertama, setelah dipantik sekian detik, bor dan lampu TL menyala bersamaan. ''Sudah terbukti kan?'' tanya Joko.

Setelah melakukan beberapa kali demonstrasi, Joko masuk ke rumah. Dia tidak keluar lagi hingga sore.

Yang masih menjadi pertanyaan pengunjung adalah alat yang disebut-sebut bisa mengubah air menjadi bahan bakar. Pembantu Joko menjelaskan, alat tersebut memang belum siap.
 
6835large.jpg

Calon Independen Lolos Verifikasi
Berhak Ikut Pilbup Kerinci 2 Oktober


SUNGAIPENUH - Calon independen bakal meramaikan pemilihan bupati Kerinci, Provinsi Jambi, yang dijadwalkan berlangsung 2 Oktober mendatang. Adalah pasangan Ami Taher-Dianda Putra, yang lolos verifikasi pencalonan setelah memenuhi syarat minimal dukungan lima persen dari jumlah pemilih di Kerinci.

Saat mendaftarkan diri dalam pencalonan, pasangan tersebut mengklaim mendapatkan dukungan 19.589 pemilih. Setelah diverifikasi, 3.626 dukungan dinyatakan tidak sah.

Dengan demikian, dukungan yang dianggap sah untuk Ami Taher-Dianda adalah 15.963. Jumlah tersebut sudah lebih dari cukup untuk memenuhi syarat minimal lima persen pemilih di Kerinci, yaitu 15.825.

Sebenarnya, selain Ami Taher-Dianda, ada pasangan independen lain yang juga mendaftarkan diri, yaitu Adi Rozal-Syofjan Hasim. Pasangan tersebut gugur setelah hasil verifikasi menunjukkan dukungan yang sah hanya 14.349 dari 17.473 yang diajukan.

Ketua KPUD Kerinci Fuadi menjelaskan bahwa Undang-Undang No 32 Tahun 2004 memberikan peluang kepada calon independen, yakni calon yang pencalonannya tidak diajukan partai tertentu. Dengan hasil verifikasi tadi, pasangan Ami Taher-Dianda berhak meneruskan pendaftaran pencalonannya yang dimulai kemarin dan akan berakhir 25 Juni mendatang. "Dasarnya adalah berita acara pleno, berita acara PPK, dan persyaratan administrasi lainnya yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku," tambah Fuadi.

Keberhasilan pasangan tadi lolos dalam proses verifikasi disambut gembira ratusan pendukungnya. Dalam konferensi pers, Ami-Dianda mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Kerinci yang telah memberikan dukungan kepada dirinya.

Dia juga mengingatkan para pendukungnya bahwa hasil verifikasi tersebut baru permulaan. "Perjalanan masih panjang. Kita harus bekerja keras," kata Ami.

KPUD memutuskan pasangan tersebut lolos verifikasi setelah mengadakan rapat pleno yang baru berakhir Rabu sekitar pukul 21.00 WIB. Setelah melakukan verifikasi di 17 kecamatan di Kerinci, KPUD menemukan bahwa 15.963 dukungan untuk pasangan tadi memenuhi syarat. Sisanya, 3.626, tidak. Jumlah tersebut sudah lebih dari cukup untuk memenuhi syarat minimal lima persen.

Dari 17 kecamatan, hanya di satu kecamatan pasangan tersebut tidak memperoleh dukungan. Yaitu di Kecamatan Tanah Kampung. Dukungan tertinggi, 7.072, diperoleh di Kecamatan Air Hangat.
 
wah
semakin men dekat ni bahan bakar air /heh
maju trz om Joko
demi Indonesia /heh
 
Kronologis Kasus Maftuh Fauzi Versi Tim Dokter

SABTU, 21 JUNI 2008 | 18:06 WIB
JAKARTA, SABTU - Kematian Maftuh Fauzi, mahasiswa Akademi Bahasa Asing, Universitas Nasional (Unas), angkatan 2003, menimbulkan kontroversi. Maftuh adalah satu dari 31 mahasiswa Unas yang ditahan di Polres Jakarta Selatan pascabentrokan antara mahasiswa dan polisi dalam aksi unjuk rasa di Kampus Unas, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Dalam bentrokan itu Maftuh mengalami luka di kepala bagian belakang. Ia sempat dirawat di RS UKI dan RS Pusat Pertamina sebelum menghembuskan nafas terakhir. Berikut kronologis kasus Maftuh versi Tim Dokter RSPP-UKI-UNAS yang diperoleh Kompas, Sabtu (21/6).

1. Tanggal 14 Mei 2008, Maftuh dirawat di Medical Centre Depok dengan suspek Typhoid (Tiphus-red).

2. Tanggal 24 Mei-2 Juni 2008, kejadian di UNAS dan penahanan di Polres Jakarta Selatan. Saat itu terdapat luka robek di kepala belakang kiri seluas 5 mm x 2 mm. Dilakukan 1 (satu) jahitan.

3. Tanggal 10 Juni 2008, berobat ke RS. Pasar Rebo dengan Chepalgia dan riwayat Epilepsi serta batuk-batuk (TBC). Dilakukan Brain CT Scanning dengan hasil: tidak didapatkan kelainan pada tulang kepala maupun jaringan otak. Dikarenakan tidak tersedia kamar rawat inap, Maftuh dialihkan perawatan ke RS UKI.

4. Tanggal 10 Juni, Maftuh dirawat di RS UKI. Pada pemeriksaan Thorak ditemukan TBC paru-paru, selama dirawat di RS UKI sampai tanggal 16 Juni 2008 keadaan umum semakin menurun. Disarankan untuk melakukan pemeriksaan MRI tetapi menolak.

5. Tanggal 16 Juni, Maftuh mengalami gaduh gelisah dan berteriak-teriak di RS.UKI.

6. Tanggal 17 Juni, dilakukan pemeriksaan HIV dengan hasil reaktif, kemudian keluarga meminta pulang paksa kemudian pindah ke RSPP.

7. Tanggal 17 Juni 2008, pukul 22.50 WIB, Maftuh sampai di UGD RSPP.

8. Tanggal 18 Juni 2008, pukul 00.01 WIB kemudian dirawat di ICU RSPP. Pada pemeriksaan di ICU didapatkan tekanan darah 134/74 Mm.Hg, nadi 103 per menit, RR 20 kali per menit. Ditemukan luka lecet yang sudah mengering di belakang kepala. Hasil pemeriksaaan laboratorium: Leukosit 12,24 ribu/uL, Thrombocyt 115 ribu/uL. Pukul 09.00 WIB pernafasan makin sesak sehingga dilakukan intubasi dan pernafasan dibantu dengan respirator. Dilakukan Brain CT Scan, hasil tidak tampak kelainan morfologi cerebral/intracranial dan struktur tulang tidak menunjukkan kelainan. Thorax Foto: Infiltrat sentral paru kanan dan kiri.

9. Tanggal 19 Juni 2008, polisi datang meminta keterangan medis tetapi datang tanpa membawa surat keterangan, tetapi kemudian diusulkan siangnya, tidak dijawab pihak RSPP. Keadaan semakin menurun, ditemukan tanda-tanda mati batang otak. Pemeriksaan laboratorium: Leukosit 4,79 ribu/uL, Trombocyt 80 ribu/uL. Kepada keluarga sudah dijelaskan oleh Tim Dokter RSPP diwakili oleh Direktur Medis yang disaksikan oleh ayah dan ibunya, Biro Rektor & Humas UNAS bahwa pasien adalah penderita HIV. Keluarga sudah mengetahui.

10. Tanggal 20 Juni 2008, keadaan Maftuh semakin menurun. Hasil pemeriksaan Laboratorium: Leukosit 3,39 ribu/uL, Trombocyt 46 ribu/uL, Ureum 71, Kreatinin 2,8, Albumin 2,0. Kemudian yang bersangkutan dinyatakan meninggal pada pukul 11.20 WIB.

11. Tanggal 21 Juni 2008, Setelah Maftuh dinyatakan meninggal, masih banyak wartawan berkumpul di RSPP. Direksi dan tim dokter yang merawat melakukan keterangan pers. Mereka menjelaskan bahwa kematian Maftuh disebabkan Cardio Respiratory Failure karena Sepsis tanpa menunjukkan file. (Atau dengan bahasa yang sederhana, Maftuh mengalami gagal jantung karena infeksi sistemik. -red).

12. Tanggal 21 Juni 2008, pukul 18.00 WIB sekitar 100 orang mahasiswa masuk ke rumah sakit dan ruang unit gawat darurat (UGD) sambil berteriak-teriak mendesak pihak rumah sakit menjelaskan penyebab kematian Maftuh. Direksi RSPP pun menunjukkan rekam medis dan hasil foto CT Scan kepala. Penjelasan direksi tidak diterima dan dikatakan berbohong. Mahasiswa terus mendesak. Akhirnya, pihak rumah sakit menunjukkan hasil pemeriksaan HIV dengan hasil reaktif.

Menurut keterangan dokter, sekitar 7,5 tahun lalu Maftuh mengaku telah berhenti memakai obat terlarang saat kuliah di Fakultas Ekonomi, tapi satu tahun sebelum berhenti (tahun 2001), Maftuh mengaku menggunakan obat terlarang dengan jarum suntik.

Kesimpulan:
a. Maftuh telah dirawat di beberapa rumah sakit dan secara konsisten memperlihatkan gejala-gejala penurunan kekebalan tubuh, sebelum, selama dan sesudah terjadi kekerasan tumpul pada kepala.

b. Dari gejala klinik yang diperoleh dari data rumah sakit, penyebab kematian dapat dipastikan bukan karena trauma kekerasan tumpul kepala, melainkan karena infeksi sistemik akibat penurunan kekebalan tubuh.

Adapun tim dokter yang membuat laporan kronologis tanggal 20 Juni 2008 itu adalah Mardjo Seobiandono (PPertamedika), Ratna Rosita (Depkes), Agus B Purwadianto (Depkes), Rullyanto, Mariya, Huda, Rudi, cholisah Suralaga (UNAS), Wahyuningsih (RSPP), Suryoatmodjo Saleh (RSPP), Musthofa Fauzi (RSPP), Widya Sarkawi (RSPP), Yvone NJP (RS UKI) dan Boy ER Wayong (RS UKI).

---------------------------------------------------------------------------

Ada Pembesaran Hati dan Limpa Milik Maftuh Fauzi

SABTU, 21 JUNI 2008 | 18:25 WIB
KEBUMEN, SABTU - Maftuh Fauzi (27), mahasiswa Universitas Nasional korban pemukulan aparat kepolisian saat terjadi aksi menolak kenaikan harga bahan bakar minyak di Kampus Unnas pada 24 Mei silam dan akhirnya meninggal, dimakamkan di kampung halaman ibunya di Desa Adikarto, Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen, Sabtu (21/6), sekitar pukul 11.00.

Namun sebelum dimakamkan, korban diotopsi oleh tim dokter forensik Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto dan Universitas Diponegoro Semarang, dengan menempati kamar jenazah Rumah Sakit Umum Daerah Kebumen, sekitar pukul 06.30.

Permintaan otopsi itu diajukan oleh Kepolisian Resor Kebumen dan disetujui oleh orang tua korban, Muhamad Sahdi (55) dan Mumfatimah (54). Proses otopsi berlangsung selama tiga jam, dan berakhir pada pu kul 09.30.

Usai melakukan otopsi, ketua tim dokter forensik Fakultas Kedokteran Unsoed, M Zaenuri Samsul Hidayat dengan didampingi Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Jawa Tengah Komisaris Besar Syahroni dan Kepala Polres Kebumen Ajun Komisaris Besar Triwarno Atmojo , memberikan keterangan pers kepada wartawan di RSUD Kebum en.

Zaenuri mengatakan, pada bagian belakang kepala korban memang ditemukan memar akibat pukulan benda tumpul, tapi memar itu telah sembuh. Setelah rongga kepala korban dibuka, tak ditemukan pendarahan maupun kerusakan pada rongga kepala.

Selain membuka rongga kepala, Zaenuri mengatakan, timnya juga memeriksa bekas luka pada dada kiri korban yang dijahit. Setelah dibuka, timnya menemukan tanda-tanda infeksi akut pada kedua bagian paru-parunya.

"Pada rongga bagian dalam, lanjutnya, juga dapat dilihat dengan mata telanjang terdapat pembesaran hati dan limpa yang akut dan sudah menahun. Pembesaran organ ini tampak dengan mata telanjang," ujarnya.

Namun, Zaenuri mengatakan, pihaknya masih belum bisa menetapkan penyebab kematian korban. Karena itu pula, pihaknya mengambil sambel dari sejumlah organ dalam korban, yaitu otak, hati, dan darah. "Sampel ini akan diperiksa di laboratorium FK Undip, dan hasilnya baru bisa diketahui seminggu mendatang, " katanya.

Saat dimintai keterangan, orang tua korban mengaku ikhlas menerima kematian anak pertama mereka. Namun mereka enggan memberikan keterangan penyebab kematian anaknya itu, karena merasa tak paham ilmu medis. "Tapi kami ikhlas menerima nasib yang menimpa anak kami, " ucap Muhammad Sahdi.

Anggota Komisi III DPR RI Ganjar Pranowo yang ikut hadir dalam pemakaman korban, mengatakan, meskipun tim dokter tetap berusaha mengalihkan isu korban terjangkit HIV, tapi kenyataannya korban tewas setelah mengalami cidera kepala akibat terkena pu kul polisi pada insiden Unnas.

"Polisi harus tetap bertanggung jawab atas insiden ini. Aksi kekerasan yang dilakukan polisi seperti ini pun sudah sering kali terjadi. Sekarang malah membawa korban dan hal ini menyedihkan," ujarnya.
 
Diduga Mengedarkan Narkoba, Dua Gadis Cantik WNA Ditangkap

SABTU, 21 JUNI 2008 | 18:33 WIB
JAKARTA, SABTU - Dua gadis cantik Warganegara Cina, ditangkap polisi, Sabtu (21/6) pagi. Salah seorang diantaranya terus berusaha gantung diri. Karena khawatir, polisi membawanya ke Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

Menurut Kepala Satuan Psikotropika Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Hendra Joni, yang dihubungi Sabtu (21/6) sore, kedua tersangka adalah Tan Ling alias Linda (26), dan Guo Ling (24).

Linda ditangkap di depan apartemen yang ia huni, Apartemen Mediterania, Jalan Gajah Mada, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat, Sabtu pukul 08.00. Dari sebuah tas kecil yang dibawanya, polisi menyita 5 butir ekstasi, 20 butir happy five, sabu 3,9 gram, 24 plastik serbuk putih seberat 46,4 gram yang diduga adalah bahan dasar Narkoba.

Dari penjelasan Linda, polisi menangkap rekannya, Guo Ling, yang sedang berada di depan restoran Hunan La Mei Zi di Jalan Mangga Besar I. Dari tangan pelaku, polisi menyita selembar tisu berisi kristal sabu seberat 4,9 gram. Tisu yang berisi barang haram itu disimpan dalam dompet Guo Ling.

Kedua tersangka mengaku, membawa barang-barang tersebut dari Cina lewat udara (pesawat terbang). "Sesuai paspornya, kedua gadis kelahiran Yunan, Cina Selatan itu tinggal di kota Guang Zhou," ungkap Hendra.

Ia menambahkan, setelah ditangkap dan mendekam di sel tahanan Direktorat Narkoba Polda Metro, Linda terus berusaha bunuh diri. Karena khawatir, polisi membawanya ke RS Kramat Jati.

Hendra belum bisa memastikan, apakah keduanya menjadi bagian dari industri seks dan Narkoba yang bertebaran di kawasan Mangga Besar. "Masih dalam pengembangan penyelidikan. Saya belum bisa memastikan. Tapi kemungkinan ke arah sana bisa saja," tuturnya.
 
Konservasi Kehutanan Kembali Digemakan

SABTU, 21 JUNI 2008 | 18:15 WIB
BALIKPAPAN - Kalangan pemerhati kehutanan Indonesia kembali menggemakan pentingnya konservasi hutan. Salah kelola berdampak hutan kritis sehingga bencana alam, persoalan lingkungan , dan konflik pemakaian lahan meluas.

Untuk itu, kalangan akademisi, pemerintah, dan lembaga swadaya masyarakat bertemu di Balikpapan, Kalimantan T imur, Sabtu (21/6). Mereka membahas pelbagai masalah kehutanan, meluncurkan buku revisi panduan identifikasi kawasan bernilai konservasi tinggi, dan mempersiapkan Agenda 21 Balikpapan tentang konservasi hutan untuk tahun depan.

"Bangsa ini dilanda krisis kebudayaan," kata Sofyan Warsito, guru besar ekonomi kehutanan pada Universitas Gadjah Mada. Hutan sebagai benda milik bersama dirusak tetapi dibiarkan sebab pejabat kurang bermoral.

Menurut Sofyan, pemerintah memanfaatkan hutan cuma untuk pendapatan sebesar-besarnya. "Pemerintah membanggakan besarnya PDRB kehutanan tetapi bungkam soal nilai kerusakan lingkungan. Padahal, ekonomi maju bila bencana nol," katanya.

Selain itu, aturan kehutanan, menurut pengamat hukum lingkungan pada Universitas Balikpapan, Mohamad Nasir, dibuat tak lengkap dan sukar dipahami. Antaraturan berbenturan dan mudah ditafsirkan macam-macam.

Di sisi lain, menurut Mustofa Agung Sardjono, guru besar sosial kehutanan pada Universitas Mulawarman, hutan tak terlindungi sebab pemerintah melupakan rakyat. "Padahal keikutsertaan rakyat mutlak dalam pengelolaan dan pelestarian hutan," katanya.

Untuk itu, lanjut Direktur Program Indonesia Tropenbos International, Petrus Gunarso, persoalan kehutanan harus jadi masalah bersama. Pemerintah daerah dan pusat tak perlu bertengkar lagi tentang kewenangan pengelolaan hutan. "Itulah inti Agenda 21 yang sedang kami siapkan," katanya.

Lebih jauh, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan diminta untuk mendeklarasikan kawasan hutan negara. Dari sana terlihat mana wilayah negara ini untuk pelestarian hutan dan yang bukan. "Tujuannya, suatu kawasan yang sudah disetujui bersama sebagai hutan tak boleh diubah oleh apapun, " kata Sofyan Warsito.
 
Begonia Kelimutuensis, Spesies Tumbuhan Baru dari Kelimutu

SABTU, 21 JUNI 2008 | 18:10 WIB
ENDE, SABTU - Satu tumbuhan spesies baru telah ditemukan di kawasan Taman Nasional Kelimutu, di Kabupate n Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Spesies baru itu diberi nama Begonia kelimutuensis.

Tumbuhan sejenis perdu itu yang dengan bahasa setempat disebut dengan Uta Onga merupakan satu-satunya tanaman di dunia yang cuma terdapat di kawasan TN Kelimutu. Itu sebabnya oleh ahli yang menemukan langsung diberi nama Begonia kelimutuensis, sebab setelah diteliti tumbuhan jenis ini tak ditemukan di tempat lain di dunia, kata Kepala Balai Taman Nasional (bed) Kelimutu Gatot Soebiantoro, Sabtu (21/6), di Ende.

Begonia kelimutuensis ditemukan dalam rangkaian kegiatan studi komunitas flora dan fauna di TN Kelimutu yang dilakukan oleh tim dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 17 Juli 5 Agustus 2007 lalu. Kegiatan itu diperkirakan akan berakhir tahun 2009. Studi komunitas flora dan fauna itu direncanakan berlangsung selama tiga tahap.

Adapun tim dari Puslit LIPI itu terdiri dari lima orang, yaitu Albert Husein Wawo (Biologi Konservasi), Harry Wiriadinata (taksonomis tumbuhan), Sudaryanti (taksonomis burung), Achmad Saim (taksonomis mamalia), dan Wardi (asisten peneliti taksonomi tumbuhan).
 
Kisah Bocah Tanpa Lubang Anus Berakhir Bahagia

BAHAGIA menyelimuti hati Anton dan Sarinah, warga Desa Baru Manggar, Beltim. Buah hati mereka, Farel, yang baru berusia satu tahun lebih kini sudah bisa buang air besar secara normal pascaoperasi lubang anus di RSUPAU Dr Esnawan Antariksa, Halim Perdana Kusuma, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Farel sebelumnya mengalami kelainan sejak lahir karena tidak memiliki lubang anus. Hampir dua bulan, Farel didampingi kedua orangtuanya menjalani perawatan dan operasi di Jakarta. Kepastian operasi lubang anus Farel akhirnya terwujud berkat bantuan Yayasan Hijau Putih Jakarta bekerja sama dengan DPRD Kabupaten Beltim dan Pemkab Beltim.

Farel menjalani tiga kali operasi. Operasi pertama berlangsung 22 Mei 2008, dilanjutkan operasi kedua pada 29 Mei 2008, dan terakhir pada 5 Juni 2008. Selama menjalani perawatan di rumah sakit, orangtua Farel hanya mengeluarkan dana untuk keperluan membeli obat-obatan, sementara biaya operasi dan kamar ditanggung rumah sakit.

"Syukur Alhamdulillah sekarang Farel sudah bisa buang air besar secara normal setelah menjalani operasi. Kami orangtua Farel sangat berterima kasih kepada pemerintah daerah, bupati, semua pihak yang sudah memberikan bantuan dana maupun kemudahan bagi kami selama ini, sehingga anak saya bisa dioperasi. Kami juga sangat berterima kasih kepada Ibu Heldi dari Yayasan Hijau Putih Jakarta yang sudah banyak membantu kami selama di Jakarta dan kembali lagi ke Belitung," ungkap Anton.

Petugas Gizi Puskemas Manggar Lisa Meilinda AM Keb yang ikut menjenguk Farel mengimbau orangtua Farel agar memberikan asupan makanan tambahan bergizi guna memulihkan kondisi dan berat badan Farel seusai menjalani operasi.

"Jangan dulu beri makanan yang keras-keras, sebaiknya selain diberikan makanan bubur diselingi juga susu supaya berat badannya dapat kembali normal," kata Lisa didampingi rekan kerjanya, Rosina.

Berat badan Farel sempat turun saat diberangkatkan ke Jakarta karena Farel harus menjalani puasa menjelang operasi. "Sekitar 17 hari puasa, enggak boleh makan dan minum karena mau dioperasi hanya dari infus saja. Paling hanya boleh dikasih minum beberapa tetes, sekarang sudah mulai mau makan, tapi hanya boleh makan bubur," Sarinah menjelaskan.
 
Tony/Candra Pulangkan Pasangan Malaysia

SABTU, 21 JUNI 2008 | 18:57 WIB
JAKARTA, SABTU- Pasangan Indonesia/Amerika Serikat, Candra Wijaya/Tony Gunawan, maju ke babak final Indonesia Open menyingkirkan pasangan Malasyia, Hoon Thien How/Ong Soon Hock. Di babak semifinal yang berlangsung di istora Gelora Bung Karno, Sabtu (21/6), Candra/Tony mengalahkan pasangan muda Malaysia tersebut dalam tiga game 23-25 21-15 21-15 dalam waktu 59 menit.

Di game pertama Candra/Tony tampil menekan dengan pukulan-pukulan keras. Namun permainan ini mampu dihadapi dengan baik oleh pasangan Malaysia tersebut. Ong/Hoon menang 25-23. Kemenangan ini menimbulkan kepercayaan diri pemain Malaysia. Mereka tampil menekan pada game kedua. Namun justru inilah yang diharapkan oleh Candra/Tony. Dengan pengalamannya, juara olimpiade Sydney 2000 ini membiarkan pasangan Malaysia membuat kesalahan sendiri. Candra/Tony menang 21-15.

Di Game ketiga, pasangan Malaysia tidak mengubah pola bermain. Mereka tetap menekan Candra/Tony dengan pukulan-pukulan keras. Ong/Hoon unggul cepat 7-1. Namun perlahan-lahan Tony/Candra memetik kesabaran mereka setelah beberapakali pukulan pasangan Malaysia ini menyangkut di net. Tony/Candra unggul 17-14, kemudian 18-15. Tiga poin kemudian direbut oleh Candra/Tony karena kesalahan pasangan Malasyia tersebut.

Pertandingan Tony/Candra menghadapi pasangan Malaysia berlangsung emosional, terutama karena faktor penonton. Para penonton meneriaki pemain Malaysia dengan sorakan, "Maling pulang! Maling Pulang!" Sementara sebagian lain meneror dengan menyanyikan lagu "Rasa Sayange."

Di final, Candra/Tony menunggu pemenang pertandingan semifinal antara pasangan Korea Selatan, Ko Sung Hyun/Kwon Yi Goo yang akan menghadapi pasangan muda Malaysia lainnya, Mohd Zakry Abdul Latif/Mohd Fairuzizuan Mohd Tazari.


Dua Ganda Campuran Tumbang

JAKARTA, SABTU - Harapan Indonesia meraih gelar juara ganda campuran sirna setelah Nova Widianto/Lilyana Natsir dan Flandy Limpele/Vita Marissa kalah, Sabtu (21/6). Kedua ganda campuran Indonesia ini tumbang di babak semifinal Djarum Indonesia Open Super Series 2008 di Istora Gelora Bung Karno, Sabtu.

Nova/Butet yang diunggulkan di tempat pertama tumbang di tangan unggulan empat asal Denmark, Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl 20-22 20-22. Pertarungan dua ganda campuran ini berlangsung sengit. Namun pasangan Denmark agaknya sudah mempelajari permainan Nova/Lilyana dengan terus menekan bagian depan pasangan Indonesia ini. Nova/Butet menyerah dalam 42 menit.

Sementara ganda campuran lainnya, Flandy Limpele/Vita Marissa yang diunggulkan di tempat ketiga juga tidak mampu melewati babak semifinal. Mereka disingkirkan pasangan tangguh China, Zheng Bo/Gao Ling. Unggulan kedua ini menang 21-17 21-9 dalam 34 menit.

Kekalahan dua ganda campuran yang menjadi harapan utama mempertahankan tradisi medali emas di Olimpiade Beijing nanti, tentunya harus menjadi bahan evaluasi pengurus PBSI. Masih ada waktu satu setengah bulan untuk memperkuat keduanya, terutama dalam hal mental dan strategi bertanding.
 
Blue Energy itu mmg ada yah?
Kalau ga salah kemarin saya nonton SCTV katanya itu kasus penipuan
 
wah
kyk na ad info yg gk k baca s malam
wah
kl nipu tu bahaya dunk s Jok
/hmm
trz konservasi ama d temukan spesies baru
mantep da /no1 /no1
ama tim BuluTangkis kita
keren /heh
/no1
 
HUT Jakarta, TMII Dipadati Puluhan Ribuan Pengunjung

MINGGU, 22 JUNI 2008 | 11:05 WIB
JAKARTA, MINGGU - Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta Timur dipadati oleh lebih dari 25.000 pengunjung tepat pada Hari Ulang Tahun (HUT) Jakarta ke-481 yang jatuh pada hari Minggu (22/6) bersamaan dengan liburan sekolah. "Peningkatan pengunjung pada hari ini mencapai lima kali lipat dibandingkan hari-hari biasa," kata Humas TMII, Jerrimias Lahama, di Jakarta, Minggu (22/6).

Jerri mengatakan khusus untuk menyambut HUT Jakarta ke-481 pihaknya menyelenggarakan hiburan alunan musik orkes gambang kromong Noray Grup di Panggung Parkir Utara TMII. Orkes itu tampil pada 22 Juni, pukul 10.00 WIB sampai selesai. "Di situ pengunjung dapat menikmati ragam kesenian Betawi dengan mengikuti paket khusus yang tersedia di anjungan DKI Jakarta," katanya.

Acara tersebut dirangkai dengan penyelenggaraan Drama Tari pada 29 Juni 2008 malam di Anjungan DKI. Di tempat yang sama juga direncanakan digelar pameran produk UKM Betawi, produk kuliner, dan lain-lain.

Seperti hari libur lain, hari ini kawasan wisata TMII dibuka lebih awal untuk pelaksanaan Minggu Ria bagi pengunjung yang akan melakukan olahraga pagi atau sekadar jalan-jalan. Manajemen taman wisata tersebut juga menawarkan hiburan lain yang tidak kalah menarik yaitu pemutaran film "Wild Ocean" di Keong Emas pada pukul 11.00 WIB dan 16.00 WIB dengan harga tiket Rp30.000. "Sementara harga tiket masuk TMII dari dulu sampai sekarang masih tetap Rp9.000," katanya.

Melonjaknya jumlah pengunjung tersebut telah diantisipasi banyak pihak termasuk untuk menekan risiko kepadatan dan kemacetan lalu lintas di kawasan tersebut. "Kita sudah menerapkan ’one way traffic’ untuk semua kendaraan. Jadi kendaraan yang akan lewat akan mengikuti arah jarum jam," demikian Jerrimias Lahama.
 
Mari, Belajar Sejarah Jakarta dari Perangko

MINGGU, 22 JUNI 2008 | 11:23 WIB
JAKARTA, MINGGU - PT Pos Indonesia telah meluncurkan seri terakhir dari 3 seri perangko Jelang Jakarta 2008. Seri ketiga, diluncurkan tepat pada HUT DKI Jakarta ke 481 tahun, Minggu (22/6). Pada seri ketiga ini, menonjolkan tempat-tempat yang menjadi ikon Jakarta, dan layak dikunjungi. Apa yang bisa diketahui dari sebuah gambar di perangko?

Setidaknya, seri perangko Jelang Jakarta memberikan sekelumit gambaran mengenai metamorfosa kota yang menjadi ibukota negara ini.Seri pertama, disebut dengan seri Era Jayakarta, diluncurkan pada 20 Januari 2008. Seri pertama, seperti halnya dua seri berikutnya, terdiri dari 7 jenis gambar. Pada seri ini, menceritakan masuknya Portugis ke Jayakarta pada tahun 1527 M yang saat itu dikuasai oleh Fatahillah.

Berbagai prasasti yang menjelaskan sejarah awal Jakarta, dipilih menjadi gambar perangko. Gambar-gambar yang bisa ditemui di seri pertama ini yaitu, Bendera Singa Ali, Prasasti Tugu, Ara Dewa Vishnu, Prasasti Padrao, Peta Nusantara Zaman Portugis, Naskah Perjanjian Sunda Kelapa dan Kapal Bangsa Portugis.Seri kedua ada seri Era Batavia, yang mengisahkan masuknya kolonial Belanda ke Indonesia, pada tahun 1610 hingga tahun 1900-an.

Seri ini diluncurkan 29 Maret 2008. Gambar-gambarnya, gedung-gedung di Batavia tempo dulu dan penyerangan yang dilakukan oleh Sultan Agung, Penangkapan Pangeran Jayawikarta oleh Pasukan Banten, Gedung Keuangan, Istana Pemerintah Batavia, Penyerangan Batavia oleh Sultan Agung, Penyerahan Kekuasaan Indonesia dan Perubahan Batavia menjadi Jakarta.

Seri terakhir, adalah seri Jakarta masa kini. Yang ditonjolkan pada seri ini adalah tempat-tempat wisata yang dapat menjadi pilihan jika mengunjungi kota ini, macam Kantor Filateli Jakarta, Dunia Fantasi, Taman Mini Indonesia Indah, Wisata Seni Budaya dan Wisata Bahari.

Kepala Kantor Filateli Jakarta, Adnan mengatakan perangko-perangko tersebut bisa dibeli di kantor pos seluruh Indonesia, dan tentunya Kantor Filateli Jakarta. Selain menyambut HUT Jakarta, juga dalam rangka menjelang pelaksanaan pameran filateli Asia Pasifik di Jakarta pada 23-28 Oktober 2008 mendatang. "Harganya 85 ribu yang terdiri dari 3 set, kalau mau beli per set nya 75 ribu. Harus cepat, karena para filatelis pasti akan memburunya," ujar dia, saat dijumpai di Balaikota DKI Jakarta, Minggu (22/6).

Selain perangko, PT Pos Indonesia juga menerbitkan sampul seri perangko tersebut, yang terdiri dari 7 macam sampul. Harganya Rp75 ribu. "Nah, untuk sampul harus cepet-cepet, karena kita hanya menjual di Kantor Filateli Jakarta. Dicetaknya hanya 481 set, sesuai usia Jakarta, biasanya para kolektor akan memburu nomor seri yang istimewa," tambah Adnan.

Bagi yang tertarik bisa langsung memburunya di Kantor Filateli Jakarta, depan Pasar Baru, Jalan Pos nomor 2, Jakarta Pusat.
 
Amoy Ditusuk Pacar 29 Kali

085919p.JPG



MINGGU, 22 JUNI 2008 | 13:09 WIB
PALEMBANG — Sungguh sadis. Diduga terlibat cinta segi tiga, Yulia Purnama Sari alias Amoy (21) tewas dibantai Heriansyah (21), pacarnya sendiri. Yuli dibantai dengan 29 tusukan di sekujur tubuhnya, Sabtu (21/6) sekitar pukul 08.30.

Tragedi pembunuhan itu terjadu setelah keduanya bertemu di kawasan Jl Talangjambi Kelurhan Talangjambi, Kecamatan Sukarame tak jauh dari rumah Yuli. Setelah membunuh pacarnya, Heri pulang melapor ke orangtua di kawasan Seberang Ulu dan Ketua RT. Atas saran orangtua dan Ketua RT, dia lalu menyerahkan diri ke Polsek Sukarame.

Heri nekat membantai pacarnya diduga karena Yuli telah dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria lain, dan berencana menikah bulan depan. Tewasnya pegawai Kafe Transit Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II ini, membuat gempar seluruh warga Talangjambi. Keluarga korban pun sangat terpukul terutama kedua orang tua dan kakak Yuli, Awi (25) yang terlihat meradang dan tak henti-hentinya mengusap air mata.

Awi memang paling dekat dengan Yuli. Masih terbayang di matanya, si adik yang paling disayang sempat membersihkan rumah bahkan memasak untuk kedua orang tuanya, kakak, dan adiknya.

Saking kesalnya Awi nekat memukul Heri saat menjalani pemeriksaan di Mapolsekta Sukarame, sekitar pukul 12.00. Saat itu Heri yang baru saja menjalani pemeriksaan di ruang Kanit Reskrim Polsekta Sukarame, Iptu Aditya digelandang petugas menuju ruang tahanan, tiba-tiba saja Awi merangsek maju menyerang dan memukuli wajah Heri hingga luka memar.

“Aku kesal, dia (yuli) dibunuh seperti itu. Pagi tadi aku masih sempat melihatnya menyapu dan memasak. Tidak ada firasat apapun,” kata Awi.

Menurut informasi, hubungan Yuli dengan Heri sejak lama tak mendapat restu dari keluarga. Sebab, Heri, warga Jl Rasyid Sidik RT 17 Kecamatan Seberang Ulu (SU) I ini, dinilai kurang memiliki tatakrama. Keluarga pun memberi nasihat kepada Yuli.

Yuli telah lama dijodohkan dengan seorang pria pilihan orang tuanya. Meski hingga kini belum diketahui siapa pria yang disebut-sebut orang ketiga dalam hubungan sejoli yang sama-sama bekerja di Bandara SMB II.

Hal ini diungkapkan saudara perempuan korban, Novi (25). Dengan berbagai pertimbangan, Yuli memutuskan hubungan dengan pelaku dengan cara baik-baik. “Heri memang kasar dan kurang sopan,” kata Novi.

Namun, diputuskan begitu saja membuat Heri tak terima dan menghubungi Yuli melalui ponsel. Mereka berjanji bertemu tidak jauh di lokasi kejadian sekitar 500 meter dari rumah Yuli. Disinilah kejadian tragis itu dimulai.

Menurut saksi mata, Eri (17) yang merupakan keponakan korban, Yuli dan Heri kemudian terlibat pertengkaran di lokasi. Dengan pisau di tangan, Heri yang terlihat kalap kemudian menghabisi Yuli dengan 29 luka tusukan di sekujur tubuh.
“Saya sempat melihat, bahkan pelaku sempat mengancam saya jangan cerita ke orang lain,” kata Eri yang sengaja diminta keluarga untuk membuntuti Yuli pergi.
Eri kemudian menjerit minta tolong. Warga pun mendengar jeritan dan berlari menuju lokasi kejadian dan menemukan Yuli sudah tergeletak bersimbah darah.

Heri melarikan diri dengan sepeda motor. Ayah korban yang juga Ketua RT 39, A Han (50) terlihat. “Saat kami menolong, dia masih hidup dan merintih kesakitan, tapi pelakunya sudah lari,” kata A Han.

Yuli meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit karena kehabisan darah, belum lagi macetnya lalu lintas juga membuat korban terlambat mendapat pertolongan medis yang hingga akhirnya korban dibawa ke Instalasi Forensik RSMH Palembang dan ditempatkan di kamar mayat.

Dokter Forensik RSMH Palembang, dr Binsar Silalahi, SpF, SH usai melakukan pemeriksaan mengatakan, luka korban sebanyak 29 titik, terdiri 19 luka tusuk di tubuh bagian belakang, lima titik diperut kiri depan dan empat titik lainnya di bagian dada dan satu di kepala.

Dari banyak luka itu, terdapat tiga luka yang tergolong dalam. Pertama di bagian belakang tusukan pisau tembus ke bagian dalam, dan di perut dengan luka melebar hingga organ usus nyaris keluar. “Pembunuhan ini tergolong sadis,” kata dr Binsar.

Dihina dan Dicaci

Dengan wajah pucat pasi dan terlihat letih, Heriansyah yang ditemani kedua orang tuanya mendatangi Mapolsekta Sukarami, Sabtu (21/6) siang untuk menyerahkan diri. Di hadapan petugas pemeriksa, Heri mengaku sakit hati lantaran kerap dihina dan dicaci sang pacar. Heri mengaku kesal, cemburu, dendam, dan bercampur baur sehingga membuat dia khilaf dan membunuh sang kekasih yang sebenarnya sangat dicintainya itu.

Namun pemuda ini menolak perbuatan itu dikatakan karena cemburu. Sebab Heri mengaku masih pacaran hingga saat Yuli meninggal. Menurut Heri, kejadian ini gara-gara dia memiliki utang sebesar Rp 700 ribu dengan sang pacar.

“Gara-gara inilah dia selalu saja kasar dan selalu mencaci maki dan menghina saya,” kata Heri.

Bahkan terakhir kali bertemu di lokasi kejadian, tempat Heri dan Yuli kerap bertemu. Lagi-lagi mereka bertengkar dan Yuli menghina dan mencacinya. Saat itu Yuli meminta utang Rp 700 ribu itu dibayar.

“Sempat saya bayar pakai HP dan sisanya saya minta tempo, tetapi dia bersikeras dan menghina saya, saya khilaf,” kata Heri. (ndr/sin/sta)
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.