• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Indonesia Today

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Alexis
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai
Utan udah tipis pake di jual lage...

kurang ajar tuh camat....
 
8150large.jpg


Temukan 6 Pose Bugil Korban
Polisi Sukses Bongkar Komputer Kasus Pemerkosaan 1,5 Tahun


SOLO - Kerja keras Poltabes Solo membongkar komputer komplotan pemerkosa mahasiswi sebuah perguruan tinggi di Solo membuahkan hasil. Dari dua perangkat tersebut, polisi menemukan enam pose Nita -nama samaran mahasiswi tersebut- tanpa busana.

Dari pose dan mimiknya, menurut polisi, Nita seperti terpaksa melakukannya. Foto-foto itulah yang diduga dijadikan senjata bagi komplotan beranggota sepuluh orang tersebut untuk memaksa Nita melayani nafsu bejat mereka.

Sebagaimana diberitakan, Nita mengaku selama 1,5 tahun dipaksa menjadi budak nafsu komplotan. Awalnya, dia diperkosa salah seorang pelaku, yang lantas merekam pemerkosaan tersebut.

Kemudian, dengan bekal foto-foto dan rekaman itu, pelaku memaksa Nita melayani nafsunya setiap saat dia ingin. Bahkan Ad, nama pelaku tersebut, juga mengajak rekan-rekannya ''menikmati'' tubuh Nita. Tentu saja dengan ancaman akan memublikasikan foto-foto dan rekaman pemerkosaan itu jika Nita menolak.

Polisi berhasil menangkap sembilan dari sepuluh tersangka. Selain itu, juga menyita dua CPU komputer yang digunakan menyimpan foto-foto dan rekaman pemerkosaan terhadap Nita.

Namun, polisi sempat kesulitan karena pelaku menjelaskan bahwa file foto-foto dan rekaman tersebut sudah dihapus. Namun, polisi terus berusaha membongkar CPU itu dan akhirnya berhasil.

''Setelah 3 kali 24 jam, kami menemukan enam foto korban dengan berbagai posisi. Melihat mimiknya, sepertinya dipaksa,'' kata Kasatreskrim Poltabes Solo Kompol Syarif Rahman SIK. Menurut dia, foto-foto tersebut akan dijadikan alat bukti.

Sementara itu, kemarin tiga pejabat Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo mendatangi mapolres. Mereka menjenguk lima tersangka yang disebut-sebut tercatat sebagai mahasiswa perguruan tinggi tersebut.

Pejabat yang berkunjung itu adalah Pembantu Rektor III Dwi Tiyanto, Dekan FISIP Supriyadi, dan Pembantu Dekan FKIP Amir F. Dwi Tiyanto. ''Kami hanya klarifikasi,'' kata mereka.

Menurut Dwi, lima mahasiswa itu menolak disebut memerkosa. Versi mereka, hubungan itu dilakukan suka sama suka. Dengan dasar pengakuan tersebut, pihak UNS, menurut Dwi, akan memberikan advokasi kepada kelima mahasiswa tersebut.

Meski begitu, Dwi menampik rencana permohonan penangguhan penahanan para mahasiswa tersebut. ''Sepertinya tidak. Kecuali bila keluarganya yang minta. Sampai saat ini, mereka belum melapor. Seharusnya para keluarga yang aktif,'' tambahnya.

Soal sanksi akademik, Dwi memastikan akan diberikan kepada kelima mahasiswa tersebut. Soal jenisnya, masih dalam pembahasan. ''Menunggu proses hukum yang berlangsung,'' kilahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dwi memaparkan bahwa peristiwa itu bisa berlangsung karena lemahnya pengawasan induk semang pemilik rumah kos. Pendapatnya itu disampaikan karena, menurut pengakuan mahasiswa, kejadiannya juga berlangsung di tempat kos korban. ''Kalau ada pengawasan, pasti ini tidak akan terjadi,''
 
Sesama Kapolsek Selingkuh, Dipecat
SLEMAN - Polres Sleman memecat dengan tidak hormat dua Kapolsek yang terbukti berselingkuh. Keduanya adalah Kapolsek Sleman AKP Rahmawati Wulansari dan Kapolsek Mlati AKP Adib Rojikan. Keduanya diberi kesempatan naik banding.

Kompol Dede Alamsyah SIK yang memimpin sidang komisi kode etik mengatakan, dalam sidang perkara ini terdapat beberapa hal yang dianggap memberatkan kedua teperkara. Pertama, kedua perwira itu sama-sama sudah berkeluarga sehingga ada pihak yang dirugikan dan melanggar kewajiban suami istri.

Kedua, sebelum kasus itu terungkap, keduanya sudah pernah diingatkan tiga kali. ''Selain itu, teperkara ini adalah public figure di masyarakat. Mereka adalah polisi yang dianggap sebagai panutan dan orang yang dihormati," tandas Dede kepada wartawan usai sidang di Mapolres Sleman kemarin.

Yang paling memberatkan, lanjut Dede, kasus itu terpubliksi secara nasional. ''Seperti saudara-saudara ketahui sendiri, kasus ini tidak saja tersebar di Jogja, tapi secara nasional. Polri sudah tercoreng karena kasus ini," kata Dede dengan wajah serius.

Sedangkan hal yang meringankan, Wulan dan Adib tidak menyulitkan penyidik Propam selama dalam pemeriksaan. Setelah 20 hari sidang kode etik itu diputuskan, maka surat keputusan (skep) Kapolri tentang pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) untuk keduanya segera turun. ''Skepnya langsung dari Kapolri karena teperkara ini perwira,'' tambah Dede.

Sementara itu, Dody Maris Mahendra, suami Wulansari, melalui kuasa hukumnya, Fachim Fahmi SH, mengatakan puas atas keputusan itu. Menurut dia, keputusan tersebut akan mengembalikan harga dirinya dan mengembalikan Wulansari kepada keluarga yang sudah dijalinnya lebih dari lima tahun itu.

Fachim Fahmi juga mengatakan salut karena pimpinan kepolisian telah melaksanakan peraturan yang berlaku. ''Pemecatan ini sesuai dengan peraturan yang berlaku dan menunjukkan penegakan di kepolisian dijunjung tinggi terhadap anggotanya yang melakukan penyimpangan," tandas Fachim.
 
Trafo Lampu Runway Diembat
BENGKULU - Pesawat maskapai penerbangan lain yang seharusnya mendarat di Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu sekitar pukul 19.00 Selasa lalu urung. Pasalnya, landasan pacunya gelap, karena lampu runway tidak menyala.

Belakangan diketahui, kerusakan bukan pada lampu, melainkan trafonya hilang dicuri. Padahal sekitar satu jam sebelumnya masih ada.

Diperkirakan pencurian trafo tersebut terjadi setengah jam sebelumnya. Pesawat berpenumpang 150 orang itu pun memutuskan kembali ke Jakarta.

Pihak bandara pun kelabakan. Dengan berbagai cara, lampu runway pun bisa dinyalakan. Dan pesawat lain tadi akhirnya bisa mendarat pukul 23.30.

Keterlambatan kedatangan pesawat tersebut berimbas pada keterlambatan penerbangan Bengkulu-Jakarta. Puluhan penumpang pun harus menunggu berjam-jam di bandara. Termasuk di antara penumpang itu adalah Ketua PKBHB Bengkulu Husin, anggota DPDR Lebong Edy Tiger, dan mantan anggota DPRD Provinsi Bengkulu Trisman Thalib.
 
Kijang Nyebur Laut, 4 Tewas
TOLITOLI - Sebuah mobil Kijang Inova terjun ke laut dari atas tebing setinggi 10 m di Marantale, Kecamatan Ampibabo, Parigi Moutung, Sulawesi Tengah, dini hari kemarin (25/6). Akibatnya, empat di antara tujuh penumpang Kijang abu-abu bernopol DN 347 AL itu tewas.

M. Idrus, pemilik mobil sewaan tersebut, menjelaskan bahwa kecelakaan terjadi karena mobil dikemudikan oleh sopir cadangan. Sebelumnya, sopir asli, Budi, mengaku mengantuk. Namun, penyewa memaksa terus jalan karena harus mengejar waktu. Sehingga, Budi menyerahkan kemudi kepada Sahar, sang sopir cadangan.

Salah seorang korban yang selamat, Anwar, menjelaskan baru menyadari bahwa mobil yang ditumpanginya mengalami kecelakaan setelah berada di dalam laut. Dia beruntung karena melihat salah satu pintu mobil terbuka. Dari pintu itulah dia keluar, kemudian berenang ke tepi.
 
Banyugeni Guncang UMY
Menyusul Rektor, Wakil Rektor II Ikut Mundur


JOGJA - Proyek penelitian bio energy Banyugeni terus mengguncang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Setelah sang rektor menyatakan mundur, wakil rektor menyusul. Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan PP Muhammadiyah mengabulkan permohonan mundur yang diajukan Wakil Rektor II UMY Drs Priyono Puji Prasetyo.

Sebagaimana diberitakan, kepemimpinan UMY terguncang setelah gagalnya proyek penelitian Banyugeni yang bekerja sama dengan Djoko Suprapto. Sebab, UMY menilai teknologi yang ditemukan Djoko tersebut tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Apalagi, Djoko terus merahasiakan formula temuannya tersebut.

Setelah membongkar peralatan yang ditanam Djoko, UMY merasa tertipu. Ujungnya, merasa malu, rektor pun memilih mundur. Langkah tersebut diikuti wakil rektor (Warek) II.

Dalam sidang pleno Diktilitbang PP Muhammadiyah Selasa (24/6) malam lalu, jajaran pengurus menerima pengunduran diri Priyono. Hanya, pleno itu tidak sekaligus menunjuk pengganti Priyono. Sebab, kewenangan pengangkatan Warek berada di tangan rektor terpilih.

Rapat pleno dilaksanakan di Kantor PP Muhammadiyah, Jalan Cik Di Tiro, Jogjakarta. Rapat yang digelar pukul 19.00-21.00 itu dihadiri tujuh orang anggota Diktilitbang. Misalnya, Chairil Anwar, Edy Suandi Hamid, dan Sugiyanto.

Ketua Majelis Dikti PP Muhammadiyah Dr Chairil Anwar mengungkapkan, salah satu alasan diterimanya pengunduran diri Priyono adalah bentuk tanggung jawabnya sebagai wakil rektor II. Sebab, Priyono juga ikut memutuskan pelaksanaan kerja sama penelitian Banyugeni dan Jodhipati itu. ''Pengunduran diri ini sebagai bentuk solidaritas kepada Pak Khoiruddin,'' tuturnya.

Terkait pengganti Priyono, Chairil yang saat ini menjabat wakil rektor UGM Kemahasiswaan dan alumnus UGM menegaskan masih menunggu usul dari rektor terpilih. ''Kewenangan menjadi hak prerogatif rektor. Kami hanya sebatas menyeleksi dan mengesahkan apa yang diusulkan,'' paparnya.

Rektor UMY terpilih Ir Dasron Hamid menyatakan belum akan mengangkat wakil rektor baru. ''Saya masih akan melakukan koordinasi dan penataan internal. Nanti, setelah semua tertata, baru akan kami usulkan calon penggantinya," papar Dasron kemarin.

Selain itu, Dasron mengaku sedang berkonsentrasi mengembalikan citra UMY. Dia mengungkapkan, selama ini polemik Banyugeni dan Jodhipati telah berpengaruh kepada citra UMY. ''Saya akan fokus ini dulu," tandasnya.

Priyono yang dihubungi koran ini menegaskan bahwa alasan pengunduran dirinya adalah bentuk tanggung jawab.
 
duh indonesia makin banyak kriminalnya..
 
=Alexis;824142

Salah seorang korban yang selamat, Anwar, menjelaskan baru menyadari bahwa mobil yang ditumpanginya mengalami kecelakaan setelah berada di dalam laut. Dia beruntung karena melihat salah satu pintu mobil terbuka. Dari pintu itulah dia keluar, kemudian berenang ke tepi.


duh dodol banget seh baru sadar pas dah nyemplung hwhwhwhhwhw
 
@atas
masi mending selamat x /heh

wah
utan masi aj d jual
kapan mo ber kembang na Indo ni/?
/hmm
 
8373large.jpg


Mahasiswa Pengguna Narkoba Terbesar
Di Jogja, Kasusnya Naik Tajam selama Dua Tahun Terakhir


JOGJA - Kasus narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba) di Jogja meningkat 24 persen dalam dua tahun terakhir. Peningkatan itu hanya diukur dari pengguna dan kasus yang ditangani kejaksaan negeri.

Jumlah di lapangan sangat mungkin lebih besar. Yang mengejutkan, pengguna terbesar narkoba adalah mahasiswa. ''Persentasenya lebih besar daripada masyarakat umum,'' papar Kasi Pidana Umum (Pidum) Kejaksaan Negeri Jogjakarta M. Arief Basuki SH.

Menurut Arief, tantangan untuk membongkar kasus narkoba semakin meningkat. Banyak kendala baru yang sebelumnya tidak pernah dihadapi.

Kini pengedar memanfaatkan kecanggihan perangkat teknologi informasi. Sistem peredarannya pun terputus. ''Transaksinya lewat ATM atau internet. Ketika digerebek, kami hanya mendapatkan penggunanya. Pengedarnya tetap lolos,'' tambahnya.

Pemaparan Arief tersebut disampaikan di sela pemusnahan barang bukti narkoba yang dilakukan Badan Narkotika Provinsi (BNP) DIJ. BNP yang dipimpin Wagub Paku Alam IX itu memusnahkan sejumlah barang bukti berupa 492,94 gram ganja, 3,426 gram putauw, dan 0,129 gram heroin. Juga, 5,065 sabu-sabu, 784 pil lexotan, dan 12 butir ekstasi.

Di tempat sama, sebelum pemusnahan, dilakukan upacara peringatan Hari Antinarkoba Internasional. Assekprov Pemberdayaan Masyarakat Bambang Rahardjo mewakili ketua BNP PA IX dalam sambutannya menyoroti gejala penyalahgunaan narkoba yang terus meningkat.

Saat ini tercatat pengguna narkoba di Indonesia mencapai 3,2 juta orang atau sekitar 1,5 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Di antaranya, 8.000 ribu orang menggunakan narkotika dengan alat bantu suntik dan 60 persennya terjangkit HIV/AIDS. "Sekitar 15 ribu orang meninggal setiap tahun karena pengaruh napza," papar Bambang.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, penyalahgunaan narkoba yang dari tahun ke tahun cenderung meningkat.
 
8535large.jpg


Hendarman Hanya Copot Untung
Disebut dalam Percakapan Ayin, Wisnu Masih Aman


JAKARTA - Janji Jaksa Agung Hendarman Supandji menindak pejabat Kejaksaan Agung yang terkait Artalyta Suryani alias Ayin dibuktikan kemarin. Tapi, dari tiga jaksa senior yang terancam sanksi, hanya Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negera (JAM Datun) Untung Udji Santoso yang harus merelakan jabatannya lepas.

"Demi menjaga kredibilitas JAM Datun, besok pagi (hari ini, Red) saya mengusulkan kepada presiden untuk dilakukan penggantian terhadap JAM Datun," ujar Hendarman di ruang Sasana Pradana, gedung utama Kejagung, kemarin (26/6).

Saat itu Hendarman didampingi Wakil Jaksa Agung Muchtar Arifin, JAM Pembinaan Parnomo, JAM Pengawasan M.S. Rahardjo, JAM Pidana Khusus Marwan Effendy, dan JAM Pidana Umum Abdul Hakim Ritonga.

Namun, Hendarman menolak jika penggantian tersebut dikategorikan sanksi bagi Untung Udji. Alasannya, keputusan akhir nanti bergantung pada sidang Tim Penilai Akhir (TPA) yang diketuai Wakil Presiden Jusuf Kalla. "(Pergantian, Red) ini untuk menjaga kredibilitas jabatan itu," terangnya.

Seperti diberitakan, tiga jaksa senior, yakni JAM Datun Untung Udji Santoso, JAM Intelijen Wisnu Subroto, dan mantan JAM Pidana Khusus (JAM Pidsus) Kemas Yahya Rahman, terancam sanksi karena pelanggaran PP Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri. Pelanggaran itu terkait hubungan mereka dengan Ayin. Pekan lalu mereka menjalani pemeriksaan internal oleh jajaran pengawasan yang dipimpin langsung oleh JAM Pengawasan M.S. Rahardjo.

Rahardjo menjelaskan, selama pemeriksaan itu, timnya telah memeriksa 15 jaksa, termasuk tiga jaksa senior tersebut. Jaksa lain yang diperiksa adalah mereka yang tergabung dalam tim untuk menangkap Ayin. Sebetulnya tim juga menjadwalkan pemeriksaan terhadap Ayin. Namun, hal itu terkendala izin dari majelis hakim pengadilan Tipikor.

Hendarman menjelaskan, pihaknya belum bisa menjatuhkan hukuman disiplin atas diri Untung Udji, Kemas, dan Wisnu. Sebab, dia masih menunggu keputusan pengadilan Tipikor yang menyidangkan perkara Ayin dan jaksa Urip Tri Gunawan. "Apabila saya jatuhkan (sanksi, Red) sekarang, tentu kontraproduktif dengan putusan pengadilan," kata Hendarman.

Dia lantas menyebutkan, putusannya akan lebih rendah jika hanya berdasarkan laporan hasil pemeriksaan JAM Was. "Saya akan mengambil keputusan yang tegas terhadap hasil persidangan," imbuhnya.

Alumnus Fakultas Hukum Undip Semarang itu hanya menunggu keluarnya putusan pengadilan tingkat pertama. Alasannya, jika menunggu putusan tingkat banding, tingkat kasasi, dan peninjauan kembali (PK), dibutuhkan waktu lama.

Terkait posisi JAM Intelijen Wisnu Subroto, Hendarman yang lantas meminta JAM Pengawasan M.S. Rahardjo menjelaskan hasil pemeriksaan mengatakan, belum menemukan petunjuk adanya pelanggaran disiplin terhadap Wisnu. Fakta pemeriksaan menunjukkan, Wisnu menindaklanjuti laporan Untung tentang adanya jaksa yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena menerima suap, tetapi si penyuap tidak ditangkap. Tapi, dia berjanji mengambil tindakan jika dalam persidangan Ayin dan Urip terungkap adanya keterlibatan Wisnu.

Mengenai posisi yang ditinggalkan Untung Udji, Hendarman mengaku telah mengantongi sejumlah nama yang dihasilkan dari rapat tim Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat). Namun, dia menolak mengungkapkan nama-nama calon JAM Datun tersebut. "Besok (hari ini, Red) sudah saya panggil untuk dimintai komitmen," katanya.

Dia menyatakan menerima empat nama dari Baperjakat. Tapi, nanti hanya tiga nama yang diusulkan kepada presiden dan dibahas dalam rapat TPA. "Selambat-lambatnya Senin (30/6) (diusulkan ke presiden, Red)," jelas mantan JAM Pidsus itu.

Wakil Jaksa Muchtar Arifin yang ditemui usai penyampaian keterangan pers menyatakan, nama-nama calon diambil dari jaksa eselon II yang telah memenuhi ketentuan. "Ada yang Sesjam (sekretaris JAM, Red), ada yang bukan," terang Muchtar. Dia juga mengelak merinci nama yang dimaksud.

Dari informasi yang dihimpun koran ini, ada tujuh nama dengan pangkat eselon II yang berpeluang menduduki posisi JAM Datun. Mereka terdiri atas enam sekretaris JAM dan satu kepala Pusdiklat Kejagung (lihat grafis). Jabatan kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) yang juga berpangkat eselon II, tidak masuk dalam daftar calon JAM Datun.

Dua Sesjam, Sesjampidum Muzammi Merah Hakim dan Sesjambin Amrizal Syahrin diperkirakan tidak masuk dalam hitungan Baperjakat. Alasannya, ketiganya dalam waktu dekat memasuki masa pensiun. "Masa pensiun juga salah satu yang dipertimbangkan," ujar Kapuspenkum Kejagung B.D. Nainggolan.

Dari empat nama tersisa, posisi Sesjamintel Masyhudi Ridwan dan Sesjamwas Halius Husen tampaknya yang paling kuat berdasarkan ukuran senioritas. Dua Sesjam lain, Sesjamdatun Suhartoyo dan Sesjampidsus K.W. Sulatra, tergolong masih muda dan belum lama menempati jabatan Sesjam. Demikian juga Kapusdiklat Darmono yang baru dilantik pada 24 April lalu menggantikan Marwan Effendy yang diangkat menjadi JAM Pidsus.

Usul Jaksa Agung Hendarman Supanji mengganti Jam Datun Untung Udji Santoso sudah sampai ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. SBY pun memberi sinyal menyetujui penggantian JAM Datun tersebut.

Menteri Sekretaris Negara Hatta Radjasa mengatakan, SBY menyambut baik langkah Hendarman. Soal siapa yang berhak menggantikan Untung, SBY menyerahkan kepada Jaksa Agung. "Perintah beliau, tegakkan kehormatan dan pastikan integritasnya," kata Hatta. ''Presiden tidak pernah mengarahkan pilah si A atau si B. Nanti itu dibahas TPA,'' sambungnya.
 
8537large.jpg


Para Aktivis Korban Penculikan 1998, Kegiatan Mereka Sekarang (1)
Mugi Dampingi Keluarga Korban, Nezar Jadi Wartawan

Sepuluh tahun lalu para aktivis diculik dalam sebuah operasi rahasia. Saat belasan korban tak diketahui nasibnya hingga kini, beberapa orang beruntung masih bisa kembali ke rumah. Apa yang mereka lakukan dalam kehidupan "kedua" mereka kini?

FAROUK ARNAZ, Jakarta

LUKA batin Mugiyanto hingga kini belum juga sembuh. Satu dasawarsa berlalu ternyata tak membuat dia lepas dari pengalaman traumatik itu. Terutama jika melihat tatapan mata Oetomo Rahardjo, ayahanda Petrus Bima Anugrah; ataupun Ibu Nung, ibunda Yadin Muhidin, yang masih berharap anak-anak mereka -dua di antara 13 korban penculikan- suatu hari akan pulang.

Menurut Mugiyanto, sebagai survivor (korban selamat) peristiwa penculikan, perasaan itu awalnya ini hanya soal personal. Dia merasa beruntung sehingga terdorong harus berjuang untuk teman-temannya. "Tapi, kini (sudah berkembang) soal keadilan, kepastian, dan kehidupan. Orang yang diculik bukan hanya teman-temanku," kata Mugiyanto yang kini menjadi ketua IKOHI (Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia) kepada Jawa Pos.

Bapak seorang orang anak kelahiran Jepara, Jawa Tengah, 34 tahun lalu, hanyalah satu di antara sembilan korban penculikan yang selamat. Delapan korban yang lain adalah Aan Rusdianto, Andi Arief, Desmond Junaidi Mahesa, Faisol Reza, Haryanto Taslam, Nezar Patria, Pius Lustrilanang, dan Raharja Waluya Jati.

Adapun yang masih hilang hingga kini adalah Yani Afri, Noval Al Katiri, Dedy Umar, Ismail, Herman Hendrawan, Petrus Bima Anugrah, Yadi Muhidin, Hendra Hambali, Ucok M. Siahaan, M. Yusuf, Sonny, dan Wiji Thukul. Seorang lagi, Leornardus "Gilang" Nugroho, ditemukan tewas.

Peristiwa penculikan itu terjadi pada akhir rezim kekuasaan Soeharto. Saat itu gerakan yang potensial dan dinilai radikal sehingga menggerogoti kekuasaan rezim harus dilenyapkan. Belakangan, operator lapangan kasus itu terungkap. Ada 11 anggota Kopassus yang divonis bersalah. Lima di antaranya dipecat.

Tidak berhenti sampai di situ. Mantan Menhankam/Panglima ABRI Jenderal Wiranto mengumumkan hasil sidang Dewan Kehormatan Perwira yang mengakhiri karir Letjen Prabowo Subianto yang saat itu menjabat komandan Sesko ABRI. Sementara mantan Danjen Kopassus Mayjen Muchdi Purwopranjono dan mantan Komandan Grup IV/Sandi Yudha Kopassus Kol Inf Chairawan dibebaskan dari semua tugas dan jabatan struktural ABRI.

"Sampai kapan pun saya tak akan pernah lupa kengerian yang diciptakan saat itu," tambah Mugiyanto yang ketika kejadian adalah salah seorang aktivis Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi (Smid) -sebuah organisasi underbouw Partai Rakyat Demokratik (PRD)- yang dikejar-kejar rezim Soeharto sebgai buntut kerusuhan di kantor PDI pada 27 Juli 1996.

Hari nahas bagi mahasiswa Fakultas Sastra Inggris UGM itu terjadi pada 12 Maret 1998. Saat itu dia diciduk bersama Aan dan Nezar di rumah susun Klender, Jakarta Timur. Rumah itu dijadikan markas bawah tanah PRD yang tetap ramai meski ketuanya saat itu, Budiman Sudjatmiko, dibui. "Sejak diambil itu, semua siksaan saya rasakan," imbuhnya.

Mugi, sapaan akrabnya, lalu dikejar para penyekap dengan pertanyaan seperti siapa saja teman-temannya. Tak hanya interogasi, dia juga menjalani siksaan seperti disetrum dan dipukuli dalam keadaan tangan diborgol.

Pada 15 Maret 1998, dia, Nezar, dan Aan diserahkan ke Polda Metro Jaya oleh penculiknya. Di markas korps baju cokelat itu, Mugi Counter Strike diproses pidana. Dia dikenai pasal subversif. Tapi, pada 6 Juni 1998, dia dilepaskan dari tahanan setelah mendapat penangguhan penahanan buntut tumbangnya rezim Soeharto pada 21 Mei 1998.

"Aku baru merasa jadi manusia setelah dibebaskan," imbuhnya. Darah aktivis Mugi tak pernah berhenti menggelegak hingga akhirnya menjadi ketua IKOHI, organisasi tempat mendiang Munir menjadi penasihatnya.

Bertahan di dunia aktivis juga dilakoni Raharja Waluya Jati yang saat itu ditemui di forum yang sama dengan Mugi. Jati yang protolan Fakultas Filsafat UGM adalah salah seorang pimpinan PRD. Lelaki kelahiran Jepara, 24 Desember 1969, itu diculik di RS Cipto Mangunksumo, Jakarta, pada 12 Maret 1998 saat bersama Faisol Reza berjalan dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

"Semua jengkal dari peristiwa itu masih saya ingat," kata Jati yang kini menjadi direktur eksekutif radio Voice of Human Rights. Munir adalah mantan ketua dewan pendiri VHR.

Mengapa masih setia dengan dunia aktivis? "Ini tanggung jawab moral. Saya pernah hidup dalam situasi itu. Reformasi belum selesai," kata Jati yang pernah disiksa penculik dengan dibaringkan telanjang di balok es.

Jati mengaku tetap menghormati pilihan rekan-rekannya yang sibuk dengan dunianya masing-masing. "Mereka merespons politik dan menyalurkan asipirasi dengan cara bermacam-macam. Andi Arief, misalnya, juga Reza (Faisol Reza)," tambahnya.

Nezar Patria, korban penculikan yang lain, menjalani kehidupan berbeda. Pascabebas dari penculikan, lelaki kelahiran Sigli, Aceh, 5 Oktober 1970, yang pernah menjabat Sekjen Smid memilih berkarir di jurnalistik. Dia pernah bergabung dengan majalah Tempo. Namun, belakangan dia bergabung dengan portal berita ekonomi dan politik Kanal One di media grup milik Aburizal Bakrie.

"Hingga kini belum ada partai politik yang cocok. Partai yang kuat, yang membangun basis massa, dan bukan hanya untuk mesin pemilu," katanya.

Nezar mengakui, sebenarnya mereka yang pernah diculik itu masih punya mimpi tentang Indonesia yang baik. Indonesia yang berkeadilan. "Tentu caranya yang beda-beda. Taktiknya yang berbeda-beda. Saya masih intens berkomunikasi dengan kawan-kawan itu," kata master lulusan London School of Economic and Political Science.

Nezar juga masih merasa punya utang: mencari tahu "keberadaan" teman-teman korban penculikan yang hingga kini belum diketahui rimbanya. Caranya, dia tak pernah merasa lelah untuk menjaga isu ini tetap hidup. "Ini kehidupan kedua saya yang tak akan saya sia-siakan."
 
Bela Mahasiswa Mesum
UNS Advokasi Tersangka Kasus Perbudakan Seks selama 1,5 Tahun


SOLO - Ada angin segar bagi lima mahasiswa Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo yang diduga terlibat dalam kasus perbudakan seks mahasiswi selama 1,5 tahun. Pihak UNS menyatakan keseriusannya membela mereka. Keseriusan tersebut ditunjukkan dengan desakan UNS kepada polisi untuk membuktikan bahwa foto bugil Nita -nama samaran korban- bukan rekayasa.

Sebagaimana diberitakan, Nita melapor telah menjadi budak seks sepuluh pemuda selama 1,5 tahun sejak akhir 2006. Di antara sembilan yang sudah ditahan Poltabes Solo, lima berstatus mahasiswa aktif UNS.

Ketika para petinggi UNS menjenguk, kelimanya mengaku hubungan itu dilakukan atas dasar suka sama suka. Pada saat yang sama, polisi berhasil membongkar komputer pelaku dan menemukan enam foto Nita dalam keadaan tanpa busana. Menurut versi polisi, dari mimiknya, saat pengambilan gambar tersebut Nita dipaksa.

UNS tidak percaya begitu saja. Kahumas UNS Widodo menyatakan bahwa hasil rapat petinggi rektorat menyangsikan keterangan polisi tersebut. Pemaksaan pengambilan foto -apalagi dalam pose seperti itu- sesudah hubungan intim dilakukan, menurut mereka, sangat tidak masuk akal. ''Korban melaporkan karena ada tekanan dari pihak tertentu. Polisi harus mengecek keabsahan foto bugil tersebut,'' pinta Widodo.

Foto itu menjadi penting karena, menurut Nita, dijadikan senjata para pelaku untuk melayani nafsu bejat mereka. Jika menolak, para pelaku mengancam memublikasikan foto-foto tersebut.

Keseriusan UNS membela kelima mahasiswa juga terlihat dari pembentukan tim pendampingan hukum bagi mereka. Dalihnya, mereka masih berstatus mahasiswa aktif. ''Mahasiswa tidak sepenuhnya salah. Mungkin, ada persoalan lain yang mendorong para pelaku bisa masuk perkara ini,'' tegas Widodo.

Kasat Reskrim Poltabes Solo Kompol Syarif Rahman SIK menyatakan pihaknya sudah mengecek foto bugil itu di komputer pelaku. Jika dilihat tanggal, bulan, dan tahun pada metadata file, pengambilannya dilakukan pada Agustus 2006. ''Diambil empat bulan lebih awal daripada dugaan sebelumnya, yakni Desember 2006,'' paparnya.

Polisi juga menepis dugaan adanya rekayasa di foto bugil itu. Jika dilihat fotonya, itu memang gambar Nita, korban sekaligus pelapor. Setelah diperlihatkan kepada Nita, yang bersangkutan membenarkan.

Polisi juga menolak keharusan mendatangkan tim penyelidik dari pakar telematika untuk meneliti gambar itu. Sebab, metadata di foto itu cukup jelas bahwa gambar diambil pada Agustus 2006. ''Tidak harus mendatangkan pakar telematika,'' tegasnya.

Syarif pun berkeyakinan kuat memang ada unsur paksaan dalam pengambilan gambar itu. Tapi, sayang, dia tidak bisa menjelaskan secara detail bagaimana paksaan dari para pelaku itu kepada korban.
 
Polda Jateng Siapkan Regu Tembak
Eksekusi 2 Terpidana Narkoba asal Nigeria, Tunggu Kejaksaan SEMARANG - Simpang siur eksekusi mati dua terpidana kasus narkoba asal Nigeria yang dititipkan di Nusakambangan terus berlangsung. Indikasi eksekusi akan dilakukan dalam waktu dekat makin tampak.

Polda Jawa Tengah sudah mempersiapkan regu tembak. "Regu tembak nanti terdiri atas personel polisi pilihan guna menyukseskan eksekusi tersebut," jelas Kapolda Jateng Irjen Pol F.X. Sunarno kemarin (26/6).

Dikatakan, Polda Jateng telah menerima pemberitahuan resmi mengenai eksekusi dua warga Nigeria tersebut, yaitu Samuel Iwachekew dan Hansen Anthony. Polda tinggal menunggu pemberitahuan dari kejaksaan. "Kami sudah siap. Tergantung kejaksaan selaku eksekutor. Jaksa bilang laksanakan, kami laksanakan," imbuh Sunarno.

Meski begitu, Sunarno enggan memerinci hari dan tempat pelaksanaan eksekusi mati tersebut. Menurut dia, hal-hal itu masuk ranah teknis yang hanya menjadi konsumsi pihak berwenang (aparat).

Yang pasti, ujar dia, pelaksanaannya dipastikan tidak menemui kendala karena jajarannya telah siap sejak dini. Dia telah menginstruksi jajarannya agar melipatgandakan pengamanan. Apalagi setelah kerusuhan di Lapas Pasir Putih, Nusakambangan, Cilacap, Senin (23/6).

Sampai sekarang, personel Polres Cilacap masih disiagkan di Nusakambangan. "Sebagai langkah pencegahan, mereka (duo Nigeria) telah kami pisahkan dengan yang lain. Dan keamanan juga telah kami tingkatkan," terangnya.
 
Wew,pemerkosa dibela Univ nya sendiri

Kacau Kacau /wah
 
kaco"
masa d bela Univ ndiri
jelaz" ad bukti /hmm /hmm

trz Narkoba gi
d Mahasiswa pula yg byk na
ancur la generasi penerus bangsa /sob /sob
 
EMANSIPASI TARI CAK



Yang umum diketahui selama ini, pengiring Tari Cak Bali adalah laki-laki. Namun yang ditampilkan di Ksirarnawa Art Centre Denpasar Minggu malam lalu adalah Tari Cak dengan pengiring perempuan. Tidak kurang dari 50 perempuan menampilkan Tari Cak yang tergolong langka itu. Yang juga tidak biasa, sebagai penerangan tidak digunakan obor sebagaimana layaknya penampilan Tari Cak. Melainkan lampu listrik dengan cahaya temaram. Tak urung penampilan unik itu menjadi pusat perhatian pengunjung Pekan Kesenian Bali. Padahal saat yang sama tengah ditampilkan Tari Cak dengan pengiring laki-laki di Peliatan, Ubud, dan Gianyar.
 
Daerah Baru Terus Muncul

DPR Ajukan 17 RUU Pemekaran


BALIKPAPAN - Jumlah daerah di wilayah Republik Indonesia sepertinya akan terus bertambah banyak. Usul pemekaran wilayah kabupaten, kota, maupun provinsi terus bermunculan.

Saat ini saja, DPR tengah mengajukan 17 rancangan undang-undang (RUU) pembentukan kabupaten/kota/provinsi baru kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Usul tersebut disampaikan melalui surat bernomor LG.01.01/4483/DPR-RI/2008 tertanggal 16 Juni 2008.

Salah satu di antara 17 RUU itu adalah rencana Pembentukan Provinsi Kalimantan Timur Utara (Kaltara). "Impian terbentuknya Kaltara bakal menjadi kenyataan. Bukan sekadar wacana seperti yang terjadi selama ini," kata Wakil Ketua Panitia Perancang Undang-Undang DPD Nursyamsa Hadis kepada Kaltim Post Senin kemarin (30/6).

Anggota DPD dari Kaltim yang membawahkan Panitia Ad Hoc (PAH) I Otonomi Daerah, Pemekaran, Penggabungan Wilayah, Hubungan Pemerintah Pusat dan Daerah itu menegaskan, untuk memperlancar penetapan RUU itu menjadi UU, Tim Pembentukan Kaltara diminta segera melengkapi persyaratan-persyaratan yang belum terpenuhi.

"Dalam catatan Panitia Ad Hoc (PAH) I DPD, hal yang masih belum lengkap di antaranya SK gubernur, dukungan dana pemilu gubernur/wakil gubernur, peta, dan calon ibu kota. Ini harus segera dilengkapi sebagai bahan kajian untuk penetapannya nanti," kata Nursyamsa.

Dia menegaskan bahwa semua anggota DPD asal Kaltim mendukung penuh usul tersebut. Bahkan, DPD berjanji mengawal sepenuhnya sampai terbentuknya Kaltara sebagai provinsi baru di Kaltim.

Selain pembentukan provinsi Kalimantan Timur Utara, di antara belasan RUU itu ada usul pembentukan empat provinsi baru lain, yaitu Papua Tengah, Sulawesi Timur, Aceh Leuser Antara, dan Aceh Barat Selatan. Juga ada kabupaten dan kota baru dari beberapa provinsi.

Misalnya, di Provinsi Papua Barat, akan muncul dua kabupaten baru, Manokwari dan Kabupaten Pegunungan Arfak. Provinsi Papua mengajukan pembentukan satu kabupaten baru dengan nama Grime Nawa.

Di Sulawesi Tenggara akan terbentuk tiga kabupaten baru, yaitu Muna Barat, Raha, dan Kolaka Timur. Satu kabupaten baru akan terbentuk di Provinsi Sulawesi Barat, yaitu Mamuju Tengah.

Dari Sulawesi Tengah, diusulkan dua kabupaten baru, yaitu Banggai Laut dan Morowali Utara. Di Provinsi Sumatera Selatan direncanakan pembentukan dua kabupaten baru, yaitu Musi Rawas dan Penukal Abab Pematang Ilir. Lampung mengusulkan satu kabupaten baru, Pesisir Barat.
 
Segel 3 Kontainer Ban Singapura

KOTA - Kantor Bea dan Cukai Pekanbaru, Riau, menyegel tiga kontainer bermuatan ban yang dikirim dari Singapura. Penyegelan ban yang dikirim ke PT Berkat Sahabat itu dilakukan karena belum ada kejelasan tentang status barang tersebut.

Kasi Pelayanan dan Penindakan Bea dan Cukai Pekanbaru M. Ardani menjelaskan ada kecurigaan terkait dengan dokumen yang disertakan dalam pengiriman ban-ban itu. "Kami perlu cross check apakah dokumennya sesuai dengan barang yang dikirim tersebut," jelasnya.

Untuk memastikan, setiap kontainer dibongkar. Muatannya dihitung satu per satu dan disesuaikan dengan dokumen.

Ardani menambahkan, penyegelan itu merupakan tindak lanjut dari pemeriksaan yang dilakukan oleh Polsek Rumbai dan Limapuluh. Bea dan cukai terlibat dalam pemeriksaan karena dimintai bantuan oleh pihak kepolisian tersebut.

Kapolda Riau Brigjen Hadiatmoko menyatakan belum mendengar tentang penyegelan tiga kontainer tersebut. Andai hasil penyelidikan mengindikasikan pelanggaran, dia akan turun tangan. "Itu sesuai dengan komitmen kami untuk memerangi penyelundupan," tegasnya.
 
Ajudan Jenderal Diduga Terlibat Perampokan

KEBUMEN - Polres Kebumen menangkap seorang tersangka yang diduga terlibat dalam perampokan toko emas Semarang. Yang menjadi pertanyaan, saat ditangkap, Jaka -nama panggilan tersangka- mengendarai mobil bernomor polisi Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam). Dalam mobil Kijang biru tersebut, polisi menemukan senjata api jenis revolver dan sebelas butir peluru aktif.

Lelaki asal Sragen itu ditangkap di rumahnya di Desa Kalirejo, Kebumen. ''Saat itu dia sedang tidur. Karena itu, dia tidak sempat melawan,'' jelas Kasatreskrim Polres Kebumen AKP Kiswiyono kepada Radar Jogja (Grup Jawa Pos) di ruang kerjanya kemarin (30/6).

Penangkapan Jaka tersebut mengejutkan tetangga sekitarnya. Imam Susanto, ketua RT tempat tinggal Jaka, mengenalnya sebagai orang baik.

Sebelum penangkapan, beberapa polisi membangunkannya sekitar pukul 01.00 kemarin. Dia diminta menemani Kades Kalirejo Khairudin untuk menyaksikan penangkapan warganya itu.

Saat penangkapan, tidak ada seorang pun anggota keluarga Jaka yang menyaksikan. Termasuk, istrinya yang bernama Iin, 35, dan mertua Jaka, Uji, 50.

''Saat saya datang, tahu-tahu Jaka sudah diborgol,'' lanjutnya. Dia melihat setidaknya ada lima polisi berpakaian preman yang melakukan penangkapan.

Imam mengatakan, dirinya juga melihat senpi jenis revolver yang disita petugas. ''Pistolnya berwarna putih silver seperti warna sendok,'' ujar Imam.

Mislam, tetangga Jaka yang lain, juga mengenalnya sebagai orang baik. Hanya, dia memang jarang pulang. ''Kalau pergi satu atau dua bulan. Terus balik seminggu dan pergi lagi,'' tuturnya.

Menurut Mislam, tidak ada warga yang tahu pekerjaan Jaka sebenarnya. Beberapa warga hanya tahu bahwa Jaka bekerja di Jakarta sebagai ajudan atau sopir seorang jenderal. ''Mobil itu (Kijang Krista) memang sering dipakai,'' katanya.

Sebagaimana diberitakan, Polda Jateng memiliki PR besar untuk mengungkap perampokan Toko Emas Bintang Emas yang terjadi bulan lalu. Dalam aksi perampokan tersebut, pelaku berhasil menggondol 100 kilogram emas yang diperkirakan senilai Rp 25 miliar.

Tiga orang tewas dalam aksi perampokan tersebut. Yaitu, Welly Chandra, pemilik Toko Emas Bintang Emas; istri Welly bernama Anik Wijaya; dan Wulansari, 15, pembantu toko tersebut.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.