• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

[Umum] Kumpulan Humor Pendek dari cotutgaul :D

huahh...
dapat humor kocak nih,,

Bahlul Ulum Jombang

Di pesantren Bahlul Ulum Jombang ada sebuah peraturan yang melarang para santri menonton bioskop. Untuk menjaga agar peraturan tersebut berjalan dengan baik, ditugaskanlah seorang satpam untuk menjaga pintu gerbang. Jika pada malam hari ada santri yang baru balik ke pesantren, kata Cak Dulah yang mantan santri di pesantren ini, satpam akan langsung memeriksa apakah santri itu abis nonton bioskop atau bukan.

Namun, bukan anak muda jika tidak punya banyak akal. Untuk memenuhi hobi nonton bioskop, seorang santri pada hari Jum'at sore minta izin mau pulang ke rumah orang tuanya di Jember. Jumat sore kebetulan tidak ada pelajaran, alias bebas. Begitu bis memasuki kota Jember dan mendekati rumahnya, dia berhenti, pas di depan gedung bioskop. Sang santri pun nonton film, apapun judulnya, pokoknya yang sedang diputar saat itu.

Setelah nonton, dia tidak kemudian pulang ke rumah orang tuanya, tetapi kembali ke pesantren. Apa mau dikata, sesampainya di pintu gerbang, malam sudah menukik di angka 12.

"Habis nonton bioskop ya," tanya satpam.

"Nggak, Pak. Baru pulang ke rumah orang tua. Ini buktinya karcis bus Jember-Jombang". Selembaran karcis pun diperlihatkan oleh santri itu. Tapi dasar apes, keliru karcis bioskop yang keluar.

"Oh dasar penipu. Pushup 100 kali!" teriak satpam

"Behhh!" (ahm)

HO...Oh!

Seorang ajudan Presiden Clinton dari Amerika Serikat lagi jalan-jalan di Jakarta. Karena binggung dan tersesat, ia kemudian bertanya kepada seorang penjual rokok, "Apa ini Jalan Sudirman" "Ho oh!" jawab si penjual rokok.

Karena binggung dengan jawaban tersebut, dia kemudian bertanya kepada seorang Pulisi yang sedang mengatur lalulintas "Apa ini Jalan Sudirman?" dijawab oleh Pulisi "Betul!".

Karena binggung mendapat jawaban yang berbeda, akhirnya dia bertanya kepada Gus Dur yang waktu itu kebetulan melintas bersama ajudan setianya, "Apa ini Jalan Sudirman?" dijawab oleh Gus Dur "Benar!"

Bule itu semakin binggung saja jarena mendapar 3 jawaban yang berbeda. Lalu akhirnya dia bertanya lagi mengapa waktu tanya tukang rokok dijawab "Ho..oh!" lalu tanya Pulisi dijawab "Betul!" dan yang terakhir dijawab Gus Dur dengan kata "Benar!"

Gus Dur tertegun untuk sejenak lalu dia berkata "Oooh begini, kalau anda bertanya kepada tamatan SD maka jawabannya adalah Ho..oh, kalau bertanya kepada tamatan SMA maka jawabannya adalah betul, sedangkan kalau bertanya kepada tamatan universitas maka jawabanya adalah benar!" Ajudan Clinton itu menggangguk dan akhirnya bertanya, "Jadi anda ini adalah seorang sarjana?"

Dengan spontan Gus Dur menjawab "Ho...oh!" (ahm)

Rahasia Peti Rahasia

Lebih dari empat puluh tahun hidup berdua dengan istrinya, Mat Rais masih saja penasaran dengan satu rahasia yang disimpan rapat-rapat oleh istrinya, yaitu sebuah peti besi yang dikunci rapat dan ditaruh di kolong tempat tidur mereka selama berpuluh-puluh tahun.

Hingga akhirnya sekarang istrinya sedang tergolek sakit...dan Mat Rais duduk di sampingnya sambil mengelus-elus tangan istrinya. Masih penasaran dengan rahasia peti besi itu, maka ia bertanya kepada istrinya,

"Istriku, maukah kau menceritakan rahasia isi peti besi di kolong tempat tidur ini?"

"Mas...maukah kau berjanji akan memaafkan aku setelah tahu rahasiaku?"

"Tentu dik...aku akan memaafkan kamu."

"Bukalah peti itu..." kata istrinya sambil menyerahkan sebuah anak kunci. Mat Rais segera menarik peti itu keluar dan membukanya. Dia dalam peti itu dilihatnya ada empat kaleng beras dan setumpuk uang berjumlah satu juta rupiah.

"Wah jangan-jangan warisan buat aku," pikir Mat Rais sedikit girang. Lalu dengan suara terbata-bata istrinya berkata, "Mas...saya minta maaf, selama kita hidup sebagai suami istri, saya tidak sepenuhnya setia padamu...setiap kali saya melakukan selingkuh...saya taruh sekaleng beras ke dalam peti itu..."

Terharu dengan pengakuan istrinya, Mat Rais pun menjawab, "Istriku, akupun minta maaf....selama ini akupun tidak setia pada mu...terutama saat kau hamil dulu...kamu cuma empat kali, sedangkan aku lebih banyak dari itu,,,, jadi sekarang kita anggap seri."

Mat Rais terdiam sejenak dan lalu ia bertanya dengan penuh perasaan pingin tahu. "Tapi omong-omong yang satu juta rupiah itu untuk apa?"

"Ooo..dulu kalau petinya sudah mulai penuh beras, maka beras itu saya jual, dan uang itulah hasilnya," kata istrinya.

Mat Rais, "??????" (ahm)

Kepala Pulisi Pakai Sepatu

Ini cerita mengenai dua sahabat yang lugu dan sedikit kurang pintar bernama Kebo dan Belo. Mereka berdua kagum dengan acara di sebuah televisi.

Kebo : "Kemarin, saya lihat liputan di TV, di Inggris ada pameran sepatu terbesar lho... lebih tinggi dari ukuran manusia biasa. Biasa bayangin gak sih lue..?"

Belo : "Ah... itu sih biasa. Loe tau tau gak, Kepala Pulisi di Portugis pada enggak pakai sepatu!!!"

Kebo : "Gak mungkin... yang bener loe...??"

Belo : "Iya lah, masak Kepala Pulisi pakai sepatu? Sepatu itu makainya ya di kaki!" (ahm)

comment nya yah /no1
 
dah pernah semua seh, cuma beda versi doangks hwhwhw

keep posting yaw
 
masa sih?
padahal humor na bru2 lochh..

Kolam Susu

Di suatu tempat, salah satu negara berkembang ada sebuah peresmian peternakan ikan yang dananya mendapat bantuan dari bunk dunia.

Untuk go public, undangan pun disebar ke seluruh dunia.

Dalam perjalanan menuju tempat pengguntingan pita, terjadi dialog antara para tamu undangan.

Toyoda San dari Jepang: "Di negara saya tidak perlu tambak ataupun peternakan ikan seperti ini, kalau kamu makan ikan, pergi saja ke sungai bawa tangguk, cidukkan ke sungai, dua atau tiga kali ciduk pasti dapat ikan"

Kim Ill Sung dari Korea: "Itu belum seberapa di tempat saya, sekali tangguk saja sudah dapat ikan.

(Sementara wakil Indonesia mau ngomong sudah keduluan dari China)

Sing Sing Set dari China: Eehh, Tuan-tuan masih kalah di negara gua, tidak usah pakai tangguk, pakai saja gayung sudah dapat ikan 2 ekor.

Suprapto dari Indonesia: (Sialan ogut mau ngomong gitu) He...bapak-bapak, ente tidak pernah ke Indonesia kan...Di negara saya, di setiap sungai, kalau kita mau ambil air satu ember saja susah banget, kita harus usir ikan-ikan yang ada di sungai, baru kita ambil airnya.

Semua tamu: ????!!!!!

(Hi hi...yang ogut usir bukan ikan, tapi sampuahhhhh) (ahm)


Tunggulah Usia Sama


Sudah lama Budi naksir cewek yang tinggal di kampung sebelah. Ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Cewek itu menerima cinta bagong dengan sepenuh hati, meski "proklamasi cinta" Baging dilakukan di gang sempit pinggir selokan.

Sayang, kisah-kasih di selokan itu tidak berjalan mulus. Orang tua si gadis keberatan karena Bagong belum bekerja. Namun keduanya pantang menyerah. Bahkan, setelah beberapa bulan menjalin kasih, Bagong memberanikan diri melamar. Ia menemui ayah si gadis.

"Pak kami sudah saling cinta, maka kami akan menikah. Kapan saya boleh menikahi anak bapak?" kata Bagong. Ayah si gadis jelas menolak. Namun untuk berkata terus terang, ia tidak sampai hati.

"Begini Nak Bagong. Bukan saya keberatan, tapi tunggulah saat yang tepat. Saat ini umur anak saya 20 tahun, umur Nak Bagong 24 tahun. Jadi, tunggulah sampai umur kalian sama," kata si bapak. Kontan saja si Bagong langsung pingsan... (ahm)

Merdeka Jatuh

Ketika menghadiri acara komedi politik di sebuah stasiun televisi swasta, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berkelakar tentang masa kemerdekaan dulu.

Gus Dur pada saat itu bercerita mengenai penyambutan yang luar biasa terhadap Presiden RI Soekarno ketika mengunjungi sebuah desa.

Karena masa itu masih masa kemerdekaan, setiap orang yang berjejer di pinggir jalan membawa bendera yang diikat di batang bambu, sambil berteriak "Merdeka!!!"

Lalu, ada seorang nenek-nenek yang melihat bendera seorang anak sekolah dasar yang jatuh. Seketika itu juga si nenek bilang kepada anak kecil itu "Nak, merdekanya jatuh tu." (ahm)

Becak, Dilarang Masuk!

Saat menjadi presiden, Gus Dur pernah bercerita kepada Menteri Pertahanan saat itu, Mahfud MD tentang orang Madura yang katanya banyak akal dan cerdik.

Ceritanya ada seorang tukang becak asal Madura yang pernah dipergoki polisi ketika melanggar rambu "becak dilarang masuk". Tukang becak itu masuk ke jalan yang ada rambu becak disilang dengan garis hitam yang berarti jalan itu tidak boleh dimasuki oleh becak.

"Apa kamu tidak melihat gambar itu? Itu kan gambar becak tidak boleh masuk jalan ini," bentak pak Polisi. "Oh saya melihat pak, tapi itu kan gambarnya becak kosong, tidak ada pengemudinya. Becak saya kan ada yang mengemudi, tidak kosong berarti boleh masuk," jawab si tukang becak.

"Bodoh, apa kamu tidka bisa baca? Di bawah gambar itu kan ada tulisan bahwa becak dilarang masuk," bentak pak Polisi lagi.

"Tidak pak, saya tidak bisa baca, kalau saya bisa membaca maka saya jadi Polisi seperti sampeyan, bukan jadi tukang becak begini," jawab si tukang becak sambil cengengesan. (ahm)
 
Tunggulah usia sama
wakakaka mau ngelarang anaknya kawin aja pake alasan mustahil hahaha konyol tapi lucu tuh:)):)):)):))
 
^
wah2 /heh/heh

Ruwahan

Dalam tradisi Jawa ada kebiasaan "ruwahan". Pada kesempatan itu, banyak orang pergi memanjatkan doa bagi keselamatan orang yang telah meninggal. Di makam, orang akan berusaha memperkenalkan saudara-saudara maupun teman-teman yang sudah meninggal kepada yang diajaknya.

Hal yang sama juga dilakukan oleh sebuah keluarga kecil di sebuah desa.

"Ini makamnya nenek Ibu dan sebelahnya itu makam kakeknya Ayah," kata si Ibu kepada anak laki-laki satu-satunya.

"Kalau yang itu, Bu?" tanya si anak.

"Makam temannya teman Ayah!" jawab Ibu.

"Kalau yang di pojok itu, Yah?!" tanya si anak kepada ayahnya.

"Itu makam seorang pejuang yang meninggal terkena pecahan peluru pada saat kita masih dijajah Jepang dulu!" jawab Ayah.

"Juga saudara?" tanya si anak penasaran.

"Ya dia itu masih 'pakde'-nya 'oom'-nya ibumu.!"

"Eh lihat!! Bu Tuminem juga ke makam!" si anak berseru sambil menunjuk pada seorang ibu.

"Siapa dia, Nak?"

"Tetangga kita di seberang jalan, masih hidup. Lho, ayah dan ibu tidak mengenalnya?"

"??!!" (ahm)

Nih tentang IF member nya ;;) /e4

Jeruk Seupil

Di dekat rumah Genocide The Jackal ada seorang bapa yang terkenal pelit.Yang bernama L999. Setiap mo' beli sesuatu, nawarnya kelewatan banget. Suatu kali Genocide kebetulan mo' beli jeruk dan kebetulan juga dua ketemu bapa pelit tadi di tempat tukang jualan jeruk.

Ketika itu si L999 itu hendak membeli jeruk bareng Genocide.

L999: Jeruk ini satunya berapa?

Tukang Jeruk: Seribuan bu.

L999: ( kumat pelitnya) Masa Jeruk seupil gini mahal banget, seratusan deh ibu ambil banyak.

Genocide: (Kesel ngelihat Bapa pelit tadi) Eh pa, saya berani bayar sepuluh ribu kalau upil ibu segede gini.

L999: ....??? (ahm)

Kiai Sulang Wahab

Salah satu kegemaran Gus Dur adalah berkunjung dan berbincang dengan para kiai di seluruh pelosok, terutama Jawa, bahkan yang tinggal di tempat paling terkecil sekali pun. Suatu kali, Gus Dur berkunjung kepada salah seorang kiai di Rembang, yakni Kiai Sulang Wahab.

Kiai yang namanya nyentrik ini tetap populer di kalangan pengikutnya, meskipun sang istri adalah seorang anggota DPRD yang termasuk paling asik dan getol mengikuti acara-acara non-santri di pendopo kabupaten.

Saat itu istri Kiai Wahab mendapat bagian sepeda motor angsuran yang kemudian langsung saja dijajal oleh Kiai itu. Dan ternyata akibatnya lumayan, dia menabrak sebuah rumah. Sepeda motornya rusak sana-sini dan dia sendiri luka-luka.

"Kenapa Kiai bisa nebrak begitu?" tanya Gus Dur.

"Habis saya ngeremnya pakai rem kaki.." jawabnya.

"Loh, bukannya memang musti pake rem kaki?" tanya Gus Dur heran.

"Maksudnya, remnya pakai kaki saya, soale saya nggak tahu itu yang mana..."

"Besok lagi jangan diulang, Kiai. Rumahnya bisa roboh ditabrak Kiai"

"He he he". (ahm)


mau lg?
post sini /e4/e4
 
Senyum Anjing

Seorang mantan rentenir telah bertobat dan ingin membahagiakan sebagian hartanya. Ia berkeluh kesah kepada seorang pendeta.

"Pak Pendeta lihat rumahku penuh makanan dan pintuku terbuka lebar tetapi tak ada tetangga yang mau datang. Padahal, aku yakin mereka tidak punya persediaan makanan yang cukup di musim dingin ini."

"Bagus sekali perbuatan saudara, tetapi lihatlah anjingmu itu."

"Ya, ada dengan anjing saya, Pak Pendeta?"

"Ia selalu menjaga pintumu dan "tersenyum" kepada setiap orang yang mau masuk, sehingga semua lari ketakutan melihat taringnya!"

"???!!!" (ahm)


----------------
 
@atas

wkekeke ksian dong si gepeng gundul ma gondrong ga dpt apa" dri anaknya

eh mlah si gendut wekekke maka anaknya peng,ndul.ndrong jdi pnya pcar bencong wekekek

oya mong" cotut tuh (ahm) almarhum ya ??? =))
 
^
huehuehue..

Kiamat Sudah Dekat

Di masa bangsanya masih berjaya, seorang Raja Viking yang suka mabuk ditemani oleh ajudannya sedang duduk-duduk di sebuah kedai hendak memesan minuman.

"Mari kita minum dua botol bir dan wishky!" kata raja Viking kepada ajudannya.

"Lima botol bir dan wishky!!!" terika si kepala suku kepada penjaga kedai.

Sementara mereka menunggu minuman yang belum diantar, tiba-tiba, ada seorang pria berpakaian jubah hitam, ia seorang pendeta, berdiri di depan Raja Viking dan ajudan itu sambil membawa papan kayu yang bertuliskan:

"KIAMAT SUDAH DEKAT!!!"

Setelah membaca tulisan itu, tiba-tiba, si raja Viking berteriak kepada pelayan kedai, "CEPAAAT!!!" (ahm)

Yang Satu Itu

Suatu malam, lewat mimpi Malaikat Jibril mendatangi Soeharto. Jibril mengatakan pada Harto, bahwa waktunya sudah tiba untuk segera meninggalkan dunia.

"Kamu sudah terlalu lama berkuasa," ujar Jibril.

Soeharto pun minta waktu untuk mempersiapkan diri. Ia ingin membagikan warisannya yang sangat banyak kepada anak-anaknya secara adil.

Keesokan harinya ia mengumpulkan seluruh anak cucunya. Turut menyaksikan adalah sejumlah pejabat tinggi negara yang dekat dengan keluarga.

"Begini, saya akan segera mati. Saya ingin mewariskan apa yang saya miliki kepada kalian semua. Tolong sebutkan satu persatu permintaan kalian," ujar Soeharto.

"Ayahanda, saya minta semua jalan tol, stasiun televisi, vaksin polio dan.."pinta Tutut.

"Ayahanda, saya minta tempat judi terbesar di dunia dan semua tambang minyak," pinta anak kedua, Sigit.

"Ayahanda, saya minta stasiun televisi, monopoli plastik, ponsel, satelit, dan..," ucap Bambang.

"Ayahanda, saya minta jembatan, bunk, reksadana, galeri dan..." ucap Titiek.

"Ayahanda, permintaan saya tak banyak. Saya cuma minta hak monopoli cengkeh, mobil nasional, supermarket, sirkuit balap, tanker, pesawat terbang, LNG, dan..dan..," pinta Tommy yang merupakan anak kesayangan.

Pak Harto meminta agar para pejabat tinggi mencatat semua permintaan anak-anaknya secara rinci. Tapi rupanya belum semua anak Soeharto menerima warisan. Si anak bungsu, Mamiek, belum mengajukan permintaan apapun. Sedari awal pertemuan ia tampak hanya menundukkan mukanya. Wajahnya memerah, malu-malu.

Soeharto yang tak tahan dan ingin mengetahui permintaan anak bungsu yang paling dicintai almarhumah istrinya itu lantas bertanya, "Anakku yang paling ayu, ayo, jangan sungkan-sungkan. Semua kakakmu sudah mengajukan permintaan. Permintaanmu sendiri apa?"

Mamiek tak menjawab. Sambil menundukkan wajahnya, ia hanya menggigit-gigit kukunya. Dan ketika didesak, Mamiek hanya bilang, "Ah..malu, Pak."

"Oalah nduk, sebutkan semua permintaanmu niscaya semuanya aku kabulkan. Tapi jangan minta yang satu itu. Yang itu aku sudah tak punya," ujar Soeharto. (ahm)

Nyebut, Bang

Penampilan Gus Dur ketika memberikan pengantar pidato kenegaraan menyambut HUT Ke-55 Kemerdekaan RI di Sidang Paripurna DPR Agustus 2000, jauh berbeda dibanding saat ia hadir di tempat yang sama untuk interpelasi DPR. Kali ini ia tampak tegang. Wajahnya agak cemberut.

Namun segala ketegangannya akhirnya cair juga. Para anggota DPR malah beberapa kali dibuat terpingkal-pingkal oleh guyonannya.

Di tengah-tengah pidato tanpa teks itu, Gus Dur bercerita tentang seorang kondektur bus asal Sumatra Utarayang bergelantungan di pintu bus. Ketika bus melaju kencang, rupanya sopir tak tahu kalau sang kondektur terjatuh tersenggol bus lain.

Sang kondektur pun jatuh tersungkur. Kepalanya langsung membentur jalan dan retak. Napasnya sudah senen-kamis, terputus-putus.

Saat itulah datang seorang Betawi yang mencoba menolong kondektur yang sekarat itu.

"Bang, nyebut Bang, nyebut," katanya sambil mendekatkan mulutnya ke telinga kanan kondektur itu.

Maksud orang Betawi ini agar kondektur yang sekarat tadi menyebut syahadt La ilaha ilallah, sebelum meninggal. Tapi karena kondektur tadi bukan orang Islam, dia mengaitkan permintaan nyebut tadi dengan profesinya.

Maka, sesaat sebelum menghembuskan napas terakhirnya, kondektur tadi sempat nyebut, "Blo..M-Depo...BloM-Depo..." (ahm)

Tarawih Diskon

Pada masa kekuasaan Presiden Habibie, Gus Dur pernah mampir ke rumah Pak Harto di Cendana, dengan mengajak seorang yang disebutnya "Kiai kampung" dari Metro Lampung Tengah. Waktu itu bulan puasa.

Setelah berbuka dan omong-omong seperlunya, Pak Harto nyeletuk: Gus Dur dan Pak Kiai ini bakal malam kan di sini?"

"O tidak," jawab Gus Dur. "Saya harus segera pergi karena ada janji dengan Gus Joyo, adik Sri Sultan Hamengkubuwono X. Tapi Pak Kiai ini biar ditinggal di sini. Kan maksudnya buat ngimami (menjadi imam) salat taraweh, kan?"

Pak Harto manggut-manggut.

"Tapi," lanjut Gus Dur, "sebelumnya perlu ada klarifikasi dulu,"

"Klarifikasi apa?" tanya Pak Harto.

"Harus jelas dulu, tarawehnya mau pakai gaya NU lama atau gaya NU baru?"

"Lho apa ada macam-macam gaya NU? Kalau NU lama bagaimana, kalau NU baru bagaimana?" tanya Pak Harto semakin heran.

"Kalau gaya NU lama, tarawihnya 23 rakaat. Gaya NU baru, disku 60 persen (11 rakaat)!"

Pak Harto cuma tertawa, akrena tidak terlalu paham. Dan Kiai nyeletuk, "Iya deh. Diskon 60 persen pun enggak apa-apa."

Sekadar diketahui, "tarawih diskon" menjadi 11 rakaat itu adalah taraweh gaya Muhammadiyah. Keluarga Pak Harto sendiri disebut orang "hidup dengan gaya Muhammadiyah dan mati dengan cara NU". Sebab, Pak Harto pernah mengaku bahwa dia semasa sekolah di Yogyakarta belajar di SMP Muhammadiyah (jadi berakidah Muhammadiyah), tapi ketika istrinya meninggal, rumahnya di Cendana sibuk dengan macam-macam acara tahlilan (tiga hari, tujuh hari, 40 hari, 100 hari, dan seterusnya) yang merupakan "trade mark" NU.

Jadi kalau Gus Dur menawarkan tarawih diskon 11 rakaat itu, Pak Harto dengan senang hati menerima saja. Itu artinya dia kembali ke "khittah". (ahm)

Jangan Ikut Singapura

Seusai mengikuti rangkaian KTT Asean dan KTT Asean + 3 (Cina, Jepang dan Korea Selatan), Gus Dur memuntahkan kejengkelannya di depan seratusan warga Indonesia, di Kedubes RI di Singapura. Lee, yang datang menemui Gus Dur di kamar hotelnya, ternyata tidak mendukung gagasan Gus Dur memperluas keanggotaan ASEAN dengan melibatkan Timor Timur, Papua Nugini, dan Selandia Baru.

Lee Kwan Yew, menurut Gus Dur, malah juga secara terbuka menyebut bahwa dirinya sebentar lagi akan turun dari jabatan presiden.

Menurut Gus Dur, ketika ia menyebut gagasan perluasan Asean itu kepada Lee, "Dia menolak. Dan biasanya, kalau dia menolak, yang lain menolak. Ya, sudah. Kalau begitu, kita bentuk pakta baru. Mungkin kita namai Forum Pasifik Barat."

Dan gagasan itulah yang ia lontarkan dalam sidang KTT ASEAN. Alasan pembentukannya, menurut Gus Dur, karena ASEAN selama ini tidak menunjukkan solidaritasnya pada negeri-negeri kecil di kawasan Asia Tenggara seperti Timor Timur dan Papua Nugini.

PM Singapura Goh Cok Tong, kata Gus Dur lagi, tidak pernah memberi perhatian pada negeri-negeri di selatan mereka. "Ya biarlah, nggak apa-apa dia jalan sendiri. Kita juga jalan sendiri," tambah Gus Dur enteng saja, seolah sedang mengomentari hubungan personal, bukan hubungan antar-negara.

"Mereka membuka pelabuhannya untuk kapal-kapal perang AS tanpa pernah kasih tahu. Kalau dia jalan sendiri, ya kita juga bisa."

Menurut Gus Dur, pada dasarnya orang Singapura melecehkan orang Melayu. "Kita dianggap tidak ada," katanya. "Bahkan Lee Kuan Yew menganggap saya sebentar lagi turun (dari jabatan presiden)."

Ia juga mengungkap hasil pembicaraannya dengan PM Malaysia Mahatir Muhammad sebelumnya. Menurut Mahatir, tutur Gus Dur, Singapura marah pada Malaysia karena negeri Jiran itu, "mengambil alih" 30 persen dari bongkar muat kapal-kapal dagang dari Singapura.

Setelah puas bongkar sana-sini, Gus Dur menarik kesimpulan yang membikin para pemimpin Singapura blingsatan: "Jadi, selama ini Singapura lebih banyak hidup dari ngakalin orang."
(ahm)
 
awas om ntar gila /gg/gg/gg/gg

Presiden Raja Humor

Kolumnis Mohammad Sobary pernah bertanya dalam tulisannya, "Bila Pak Harto raja senyum, raja apa presiden lainnya?" Dijawabnya sendiri: "Saya tidak tahu yang lain-lain, tetapi Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mungkin raja humor."

Dunia ini memang aneh, Raja Humor ini saat itu menjadi presiden sebuah republik yang mendekati kebangkrutan sosial, kebudayaan, politik, dan ekonomi-nya. Gus Dur, si raja humor, terampil mengejek orang lain, seterampil ia mengejek dirinya sendiri.

Ia, misalnya, berkata bahwa Pak Harto itu dulu presiden New Order. Pak Habibie, presiden in order, boleh juga out of order. Dan Gus Dur sendiri. "Saya presiden no order (tak teratur-pen)," katanya, sambil terkekeh-kekeh mendahului bunyi tawa publik yang mendengarnya.

Dan apa hubungannya presiden new order dan no order? Keduanya sama saja. Sang Raja Senyum perlu interpretasi dari orang lain agar senyum itu dipahami akurat. Sang Raja Humor perlu interpretasi orang di kiri kanannya, agar pernyataan politik, perintah, atau ucapannya bisa dilaksanakan untuk sebesar mungkin kesejahteraan rakyatnya.

Kalau tidak negara bisa repot. Raja senyum cuma senyum. Raja humor cuma terkekeh-kekeh sambil mengejek, "Begitu aja kok repot." (ahm)

Menghormati Negara

Tepat detik-detik Proklami 17 Agustus yang diperingati pada tahun 2008 ini, mantan Presiden Abdurahman Wahid menghadiri upacara di Istana Negara. Semua mata tertuju kepadanya, karena tahun-tahun sebelumnya Gus Dur enggan datang. Apalagi mantan Presiden Megawati juga tidak tampak.

Gus kok datang ke Istana sih? tanya wartawan yang penasaran.
Gus Dur: Saya datang karena menghormati negara

Wartawan: Tadi ada pembicaraan apa dengan SBY?
Gus Dur: Ya nggak adalah, kan seperti biasa, upacara kan begitu

Wartawan: ???? nggak ada berita nih.
(mbs)

Peluru pun Habis


Ini cerita Gus Dur tentang situasi Rusia tak lama setelah bubarnya Uni Soviet. Sosialisme hancur, dan para birokrat tak punya pengalaman mengelola sistem ekonomi pasar bebas.

Di masa sosialisme memang rakyat sering harus antre untuk mendapatkan macam-macam kebutuhan pokok, tapi manajemennya rapi sehingga semua orang kebagian jatah.

Sekarang, masyarakat tetap harus antre, tapi karena manajemennya jelek, antrean umumnya sangat panjang, dan banyak orang yang tidak kebagian jatah.

Begitulah, seorang aktivis sosial berkeliling kota Moskow untuk mengamati bagaimana sistem baru itu bekerja. Di sebuah antrean roti, setelah melihat banyaknya orang yang tak kebagian, aktivis itu menulis di buku catatannya, "Roti habis"

Lalu dia pergi ke antrean bahan bakar. Lebi banyak lagi yang tak kebagian. Dan dia mencatat, "Bahan bakar habis!" Kemudian dia menuju ke antrean sabun. Wah, pemerintah kapitalis baru ini betul-betul berengsek. Banyak sekali masyarakat yang tidak mendapat jatah sabun.Dia menulis besar-besar, "Sabun habis!"

Tanpa dia sadari, rupanya dia diikuti oleh seorang intel KGB. Ketika dia akan meninggalkan antrean sabun itu, si intel menegur.

"Hei, Bung! Dari tadi kamu sibuk mencatat-catat terus. Apa sih yang kamu catat.?"

Sang aktivis menceritakan bahwa dia sedang melakukan penelitian tentang kemampuan pemerintah dalam mendistribusikan barang bagi rakyat.

"Untung kamu ya, sekarang sudah jaman reformasi," ujar sang intel. "Kalau dulu, kamu sudah ditembak."

Sambil melangkah pergi, aktivis itu mencatat: "Peluru juga habis." (ahm)

Pekerjaan Orang Normal

Bagi John F Kennedy jabatan presiden merupakan pekerjaan termulia. Sebab dalam pandangannya, politik itu sendiri adalah kerja mulia. Lain halnya dengan Billy Carter, adik kandung bekas presiden Jimmy Carter.

Menurut Gus Dur, Billy Carter memiliki usaha pompa bensin. Kalau pas ada waktu senggang, biasanya ia suka bersantai dengan beberapa temannya sambil menikmati bir atau minuman lain kegemarannya.

Pokoknya, ia prototipe "orang biasa" di tingkat terbawah kehidupan politik Amerika Serikat. Karena ia pun punya penilaian sendiri tentang perubahan besar dalam kehidupan kota tempat tinggalnya.

Pada tahun 1976, abangnya, Jimmy Carter, mencoba mencalonkan diri sebagai presiden. Di masa santer-santernya kampanye Carter berlangsung, Billy pun tak luput dari kejaran wartawan yang ingin tahu lebih jauh tentang keluarga besar Carter. Wartawan yang memergokinya langsung bertanya, bagaimana sesungguhnya kondisi keluarga Carter.

Billy menjawab, "Ibuku sudah lebih tujuhpuluh tahun umurnya, ketika ia mendaftarkan diri masuk Korps Perdamaian sebagai juru rawat di India untuk dua tahun. Kakak perempuanku senang naik sepeda ke mana-mana, sampai keluar negara bagian yang luas. Kakak perempuanku yang satu lagi menjadi pengabar Injil, pada tadinya ia ratu kecantikan.

"Sekarang, abangku ingin jadi presiden. Nah, Anda bisa lihat, akulah satu-satunya orang yang normal dalam keluarga ini."
(ahm)


>:D<
 
General Electric

Seusai melantik Wakapolri di Istana, Gus Dur mengadakan konferensi pers dengan wartawan. Pada kesempatan itu, salah satunya diungkapkan tentang permintaan Gus Dur agar Kapolri Jenderal Suroyo Bimantoro mengundurkan diri.

Ketika konferensi pers itu usai, dan Gus Dur dipapah masuk ke dalam mobil, beberapa wartawan mulai tidak mengerubutinya lagi.

Gus Dur menantang, "Hai, saya masih punya satu informasi lagi. Kalian mau tidak?"

"Apa itu Gus?" tanya para wartawan serentak.

"Saya mau sebutkan nama seorang jenderal yang paling berbahaya dan berpotensi mematikan siapa saja," ujar Gus Dur.

"Wah, siapa itu Gus?" keroyok para wartawan yang tadinya sudah mulai menjauh. Mereka berlarian untukmendapatkan berita eksklusif itu. "Ok saya akan katakan," kata Gus Dur meyakinkan. Jenderal itu adalah jenderal (General) electric..."

"Woo itu sih listrik Gus?" protes para wartawan.

"Lha kalian ini, maunya bikin gosip melulu. Lha saya kan bener kalau General Electric itu paling berbahaya. Coba, mau enggak kamu kesetrum lampunya general electric? Berbahaya kan?! Kamu bisa mati kalau kesetrum???" (ahm)


Naik Kereta Api

Setelah mendapat larangan dari dokternya untuk tidak melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan pesawat terbang, Gus Dur kemudian nekat untuk berpergian jauh dengan menggunakan kereta api.

"Anda mau pergi naek kereta api Gus? Memangnya Anda pikir bisa po ssampai tepat waktu dengan naik kereta api?" ledek dokter Gus Dur.

Anda jangan meremehkan kereta api, kereta itu cepet banget lho...!" jawab Gus Dur.

"Kereta api mana yang bisa menandingi kecepatan pesawat terbang?"

"Oho...Anda jangan salah, semua kereta api bisa lebih cepat dari pesawat terbang."

"Anda mimpi kali. Semua orang juga tahu kalau pesawat itu jelas lebih cepat dibandingkan dengan kereta api."

"Wah Anda salah. Memang sekarang ini pesawat lebih cepat, tapi itu karena kereta api baru bisa merangkak, coba kalau kereta api nanti sudah bisa berdiri dan bisa lari, wuih...pasti bakalan jauh lebih cepat dari pesawat...!" (ahm)


Kombak-Kambek Rp5.000

Seorang wisatawan asal Amerika, kata Gus Dur, datang ke Yogyakarta ingin melihat-lihat beberapa tempat wisata. Seminggu ia berada di Kota Gudeg itu.

Satu per satu lokasi wisata di sana ia kunjungi, dan kali ini ia ingin ke Kebun Binatang Gembira Loka.

Setelah bertanya di mana letak kebun binatang itu kepada petugas hotel tempatnya menginap, akhirnya ia putuskan untuk mengunjunginya dengan naik becak. Sebab, semua jenis angkutan sudah pernah ia coba, kecuali becak.

Sambil membawa ransel kecilnya turis ini pun segera memanggil tukang becak yang mangkal di depan hotelnya.

"How much to Gembira Loka?" tanya sang turis. Sambil memekarkan lima jari tangan kanannya, si tukang becak menjawab, "Five thousand kombak kambek, mister." (ahm)


Tarawih Diskon

Pada masa kekuasaan Presiden Habibie, Gus Dur pernah mampir ke rumah Pak Harto di Cendana, dengan mengajak seorang yang disebutnya "Kiai kampung" dari Metro Lampung Tengah. Waktu itu bulan puasa.

Setelah berbuka dan omong-omong seperlunya, Pak Harto nyeletuk: Gus Dur dan Pak Kiai ini bakal malam kan di sini?"

"O tidak," jawab Gus Dur. "Saya harus segera pergi karena ada janji dengan Gus Joyo, adik Sri Sultan Hamengkubuwono X. Tapi Pak Kiai ini biar ditinggal di sini. Kan maksudnya buat ngimami (menjadi imam) salat taraweh, kan?"

Pak Harto manggut-manggut.

"Tapi," lanjut Gus Dur, "sebelumnya perlu ada klarifikasi dulu,"

"Klarifikasi apa?" tanya Pak Harto.

"Harus jelas dulu, tarawehnya mau pakai gaya NU lama atau gaya NU baru?"

"Lho apa ada macam-macam gaya NU? Kalau NU lama bagaimana, kalau NU baru bagaimana?" tanya Pak Harto semakin heran.

"Kalau gaya NU lama, tarawihnya 23 rakaat. Gaya NU baru, disku 60 persen (11 rakaat)!"

Pak Harto cuma tertawa, akrena tidak terlalu paham. Dan Kiai nyeletuk, "Iya deh. Diskon 60 persen pun enggak apa-apa."

Sekadar diketahui, "tarawih diskon" menjadi 11 rakaat itu adalah taraweh gaya Muhammadiyah. Keluarga Pak Harto sendiri disebut orang "hidup dengan gaya Muhammadiyah dan mati dengan cara NU". Sebab, Pak Harto pernah mengaku bahwa dia semasa sekolah di Yogyakarta belajar di SMP Muhammadiyah (jadi berakidah Muhammadiyah), tapi ketika istrinya meninggal, rumahnya di Cendana sibuk dengan macam-macam acara tahlilan (tiga hari, tujuh hari, 40 hari, 100 hari, dan seterusnya) yang merupakan "trade mark" NU.

Jadi kalau Gus Dur menawarkan tarawih diskon 11 rakaat itu, Pak Harto dengan senang hati menerima saja. Itu artinya dia kembali ke "khittah". (ahm)


Dilarang Buka Mulut

Kemerdekaan berorganisasi dan mengemukakan pendapat dijamin oleh UUD. Namun di zaman Orde Baru hak ini dianggap seperti wabah sampar, sehingga yang terjadi malah sebaliknya: pembungkaman. Orang dilarang 'buka mulut'. Inilah yang menggerakkan seorang pejabat tinggi Indonesia angkat bicara dalam suatu seminar.

Dia bercerita, saat ini banyak orang Indonesia yang pergi ke Singapura hanya untuk memeriksakan giginya. Gus Dur yang hadir dalam acara itu terkejut mendengar cerita ini.

Seusai pejabat itu bicara, ia duduk persis di sebelah Gus Dur. Sambil berbisik Gus Dur bertanya, "'Pak, apa kita ini kekurangan dokter gigi atau mutu dokter gigi kita rendah sehingga banyak orang kita ke Singapura untuk periksa gigi?"

"Bukan, bukan itu masalahnya," jawab si pejabat.

"Lalu apa?" kejar Gus Dur.

"Ah masak sampeyan ndak tahu. Di negara kita kan sekarang orang tidak boleh buka mulut."

"Ooo..ya..ya...ya," kata Gus Dur sambil mengangguk-angguk, "ngerti saya." (ahm)
 
mksh grp nya krekez /no1

Buto Cakil Pembayar Demonstran?

Punakawan selalu digambarkan sebagai ksatria. Musuhnya jelek-jelek semua, misalnya Buto Cakil. Punakawan sering diculik, dibawa berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Tapi, menurut Ki Tedjo, sekarang semuanya serba tak jelas. Perilaku ksatria pun tak jelas. Yang jadi Punakawan pun tak jelas. Yang disebut istana pun tak jelas. Sebab saat ini masih banyak istana, ada yang di Cendana, ada yang di sana, pokoknya di mana-mana.

"Supaya rakyat tentram, mbok ya (para elite politik) itu kalau berantem caranya yang cerdas-lah. Rakyat seperti kita ini kan juga perlu tahu. Bukan begitu Gus?

"Sebelum tahu istananya, harus tahu dulu siapa demonstrannya," jawab Gus Dur.

"Ya sebelum tahu demonstrannya, harus tahu dulu siapa yang membayari." (ahm)


Doa Harimau

Gedung Kesenian Jakarta menggelar acara baca puisi oleh beberapa seniman. Sebagai petinggi negara yang dianggap pendukung kegiatan kesenian, Gus Dur diundang panitia. Salah satu penyair yang hadir di situ adalah Taufiq Ismail, yang membacakan puisi berjudul "Kucing". Dengan gayanya yang khas, salah seorang penyair terbaik itu membaca puisinya dengan penuh penghayatan.

Penonton pun terhanyut dalam suasana puisi Taufiq. Setelah Taufiq selesai, panitia meminta Presiden Gus Duru untuk ujuk gaya membaca puisi juga. Gus Dur oke saja, lalu dituntun ajudannya menuju mimbar.

"Saya akan membacakan judul puisi berjudul "Harimau"," ucap Gus Dur memulai. Hadirin pun penasaran, seperti apa kira-kira puisi karya Gus Dur itu. Yang jelas, Harimau-nya Gus Dur tentu jauh lebih besar ketimbang "kucing"-nya Taufiq.

Alkisah, cerita Gus Dur, ada seorang pemburu yang sedang bersiap-siap pergi mencari mangsa. Hari itu ia merencanakan mencari Harimau. Dan betul. Ketika tiba di hutan ia pun berjumpa dengan raja hutan itu. Ia tak menyia-nyiakan waktu. Senapan pun segera dikokangnya. Ia ambil posisi yang tepat.

Tak disangka, sang Harimau rupanya sadar bahwa dia sedang dibidik. Tahu kalau nyawanya terancam, harimau itu mengejar-ngejar sang pemburu. Ia lari sekencang-kencangnya. Tanpa disadarinya, ia sampai di pinggir jurang yang sangat dalam. Segera ia menghentikan larinya. Maju kena, mundur apalagi. Ia pun hanya bisa pasrah.

Tapi sang harimau ternyata tidak langsung menerkamnya. Si pemburu berdoa minta keselamatan pada Yang Maha Kuasa. Berbagai macam doa ia panjatkan.

Setelah sekian lama, ia agak heran, kok harimau itu belum juga menerkamnya. Jangan-jangan raja hutan itu malah sudah pergi. Sambil terus berdoa, ia membuka matanya pelan-pelan, mengintip sang harimau, apakah dia sudah pergi atau masih ada di situ.

Ia kaget setengah mati. Ternyata harimau itu juga sedang berdoa. "Hai harimau, sedang apa kamu?" tanya si pemburu.

Si raja hutan itu tak menyahut, dan terus saja memanjatkan doanya. "Hai harimau, kok kamu tidak menerkam saya?"

"Ya saya ini sedang berdoa," akhirnya raja hutan itu menjawab.

"Untuk apa kamu berdoa?" tanya pemburu itu lagi, dengan perasaan tentram.

"Saya memang biasa berdoa sebelum menerkam mangsa saya," jawab harimau itu sambil bersiap-siap menerkam.

Mendengar jawaban itu si pemburu pun kembali lari tunggang langgang.

Begitulah puisi karya Gus Dur. (ahm)


Mereka Pasti Kiai

Rombongan jamaah haji NU dari Tegal tiba di Bandara King Abdul Azis, Jeddah, Arab Saudi. Langsung saja kuli-kuli dari Arab berebutan untuk mengangkut barang-barang yang mereka bawa.

Akibatnya, dua orang di antara kuli-kuli itu terlibat percekcokan serius, dalam bahasa Arab. Mereka terus berbicara dalam bahasa Arab dengan suara agak keras. Melihat hal itu, rombongan jamaah haji tersebut spontan merubung mereka berdua sambil berucap "Amin, Amin, Amin!"

Gus Dur yang sedang berada di Bandara tersebut kemudian menghampiri mereka dengan heran.

"Loh, kenapa kalian berkerumun di sini?" tanyanya dengan penuh keingintahuan.

"Mereka ini terlihat sangat fasih berdoa Gus, apalagi mereka pakai surban, mereka itu kan pasti kiai..." (ahm)


BONUS VERSI IF:Memperingati post 4k (ntar)


Atap di Kamarku ke Mana?

Dekalvin: "kez, semalam aku banyak berpikir sambil menatap langit malam. Dan sekarang aku sedih banget."

Krekez: "Lho kok bisa Suk? Anda semalem merenung ya? Kenapa kok repot, Suk. Bukannya Anda udah 250 lebih postingan.emang apa yang susah?

Dekalvin: "Kamu enggak tahu sih...Semalem tuh aku lagi tiduran di atas tempat tidurku..."

Krekez: "Ya terus kenapa?"

Dekalvin: "Terus aku memandangi langit malam yang ditaburi bintang-bintang, dan bulanpun seolah tersenyum kepada ku..."

Krekez: "Lha terus kenapa? Bukannya malah asyik tuh?"

Dekalvin: "Asyik kepalamu! Lha yo aku langsung kaged no Jud. Atap di kamarku ke mana coba?! (ahm)

=))
 
sepi comment nih..
up up


Pendidikan dan Pekerjaan

Seorang pemuda baru lulus dari SMU. Karena tidak punya biaya akhirnya dia memutuskan untuk bekerja. Oleh karena itu dia mendatangi pamannya yang salah seorang pengurus partai politik untuk dicarikan kerja.

"Paman, tolong carikan saya pekerjaan dong," pinta pemuda itu.

"Wah lulusan SMU ya. Kalo gitu kamu jadi pengurus partai aja," kata pamannya.

"Enak jadi pengurus partai, nanti kamu bisa jadi anggota DPR, terus jadi ketua DPR/MPR, bahkan jadi wakil presiden atau presiden sekalipun juga bisa," tambah pamannya semangat.

"Wah paman saya gak mau muluk-muluk, saya minta yang sederhana saja, kaya guru SD misalnya," jawab pemuda itu.

Pamannya berpikir sebentar kemudian berkata, "Kalau jadi guru SD kamu harus sarjana, goblok petock!"

Di Bawah-Bawah Itu Sedikit

Tiga orang profesor dari AS, Jerman dan Indonesia mengadakan konferensi teknologi di Bali, mereka menceritakan hasil penemuan terbaru mereka.

AS : Di negara saya pesawat terbang udah dapat mencapai ketinggian sama dengan matahari.

Jerman + Indonesia: Ah...masa...??

AS : Hee..he..dibawah-bawah itu sedikit...

Jerman+Indo: Oooo...gitu...mmmm

Jerman : Di negara saya mobil sudah bisa lari dengan kecepatan 100 km/mnt

AS+Indo : Hahh...masa...iya..??

Jerman : Hee...di bawah-bawah itu sedikit...

Indonesia: Di Indonesia seorang wanita dapat melahirkan dari lubang pusarnya...

AS+Jerman: Hahh...gile...yang benar...!!!

Indonesia: Emmm..di bawah-bawah itu sedikit...!

Santri Dilarang Merokok!
"Para santri dilarang keras merokok!" Begitulah aturan yang berlaku di semua pesantren, termasuk di pesantren Tambak Beras asuhan Kiai Fatah, tempat Gus Dur pernah nyantri. Tapi, namanya santri, kalau tidak bengal dan melanggar aturan rasanya kurang afdhol.

Suatu malam, tutur Gus Dur, listrik di pesantren itu tiba-tiba padam. Suasanapun jadi gelap gulita. Para santri ada yang tidak peduli, ada yang tidur tapi ada juga yang terlihat jalan-jalan mencari udara segar.

Di luar sebuah rumah, ada seseorang sedang duduk-duduk santai sambil merokok. Seorang santri yang kebetulan melintas di dekatnya tekejut melihat ada nyala rokok di tengah kegelapan itu.

"Nyedot, Kang?" sapa si santri sambil menghampiri seniornya yang sedang asyik merokok itu. Langsung saja orang itu memberikan rokok yang sedang dihisapnya kepada sang yunior. Saat dihisap, bara rokok itu membesar, sehingga si santri mengenal wajah orang tadi. Saking takutnya, santri itu langsung lari tunggang langgang sambil membawa rokok pinjamannya.

"Hai, rokokku jangan dibawa! teriak Kiai Fattah.


wuzzzzzzzzzzzzz
 
Wkakakaka..
NGakak...
Buat cotut.,12.
/no1/no1/no1/no1/no1/no1/no1/no1/no1/no1/no1/no1
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.