awas om ntar gila /gg/gg/gg/gg
Presiden Raja Humor
Kolumnis Mohammad Sobary pernah bertanya dalam tulisannya, "Bila Pak Harto raja senyum, raja apa presiden lainnya?" Dijawabnya sendiri: "Saya tidak tahu yang lain-lain, tetapi Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mungkin raja humor."
Dunia ini memang aneh, Raja Humor ini saat itu menjadi presiden sebuah republik yang mendekati kebangkrutan sosial, kebudayaan, politik, dan ekonomi-nya. Gus Dur, si raja humor, terampil mengejek orang lain, seterampil ia mengejek dirinya sendiri.
Ia, misalnya, berkata bahwa Pak Harto itu dulu presiden New Order. Pak Habibie, presiden in order, boleh juga out of order. Dan Gus Dur sendiri. "Saya presiden no order (tak teratur-pen)," katanya, sambil terkekeh-kekeh mendahului bunyi tawa publik yang mendengarnya.
Dan apa hubungannya presiden new order dan no order? Keduanya sama saja. Sang Raja Senyum perlu interpretasi dari orang lain agar senyum itu dipahami akurat. Sang Raja Humor perlu interpretasi orang di kiri kanannya, agar pernyataan politik, perintah, atau ucapannya bisa dilaksanakan untuk sebesar mungkin kesejahteraan rakyatnya.
Kalau tidak negara bisa repot. Raja senyum cuma senyum. Raja humor cuma terkekeh-kekeh sambil mengejek, "Begitu aja kok repot." (ahm)
Menghormati Negara
Tepat detik-detik Proklami 17 Agustus yang diperingati pada tahun 2008 ini, mantan Presiden Abdurahman Wahid menghadiri upacara di Istana Negara. Semua mata tertuju kepadanya, karena tahun-tahun sebelumnya Gus Dur enggan datang. Apalagi mantan Presiden Megawati juga tidak tampak.
Gus kok datang ke Istana sih? tanya wartawan yang penasaran.
Gus Dur: Saya datang karena menghormati negara
Wartawan: Tadi ada pembicaraan apa dengan SBY?
Gus Dur: Ya nggak adalah, kan seperti biasa, upacara kan begitu
Wartawan: ???? nggak ada berita nih.
(mbs)
Peluru pun Habis
Ini cerita Gus Dur tentang situasi Rusia tak lama setelah bubarnya Uni Soviet. Sosialisme hancur, dan para birokrat tak punya pengalaman mengelola sistem ekonomi pasar bebas.
Di masa sosialisme memang rakyat sering harus antre untuk mendapatkan macam-macam kebutuhan pokok, tapi manajemennya rapi sehingga semua orang kebagian jatah.
Sekarang, masyarakat tetap harus antre, tapi karena manajemennya jelek, antrean umumnya sangat panjang, dan banyak orang yang tidak kebagian jatah.
Begitulah, seorang aktivis sosial berkeliling kota Moskow untuk mengamati bagaimana sistem baru itu bekerja. Di sebuah antrean roti, setelah melihat banyaknya orang yang tak kebagian, aktivis itu menulis di buku catatannya, "Roti habis"
Lalu dia pergi ke antrean bahan bakar. Lebi banyak lagi yang tak kebagian. Dan dia mencatat, "Bahan bakar habis!" Kemudian dia menuju ke antrean sabun. Wah, pemerintah kapitalis baru ini betul-betul berengsek. Banyak sekali masyarakat yang tidak mendapat jatah sabun.Dia menulis besar-besar, "Sabun habis!"
Tanpa dia sadari, rupanya dia diikuti oleh seorang intel KGB. Ketika dia akan meninggalkan antrean sabun itu, si intel menegur.
"Hei, Bung! Dari tadi kamu sibuk mencatat-catat terus. Apa sih yang kamu catat.?"
Sang aktivis menceritakan bahwa dia sedang melakukan penelitian tentang kemampuan pemerintah dalam mendistribusikan barang bagi rakyat.
"Untung kamu ya, sekarang sudah jaman reformasi," ujar sang intel. "Kalau dulu, kamu sudah ditembak."
Sambil melangkah pergi, aktivis itu mencatat: "Peluru juga habis." (ahm)
Pekerjaan Orang Normal
Bagi John F Kennedy jabatan presiden merupakan pekerjaan termulia. Sebab dalam pandangannya, politik itu sendiri adalah kerja mulia. Lain halnya dengan Billy Carter, adik kandung bekas presiden Jimmy Carter.
Menurut Gus Dur, Billy Carter memiliki usaha pompa bensin. Kalau pas ada waktu senggang, biasanya ia suka bersantai dengan beberapa temannya sambil menikmati bir atau minuman lain kegemarannya.
Pokoknya, ia prototipe "orang biasa" di tingkat terbawah kehidupan politik Amerika Serikat. Karena ia pun punya penilaian sendiri tentang perubahan besar dalam kehidupan kota tempat tinggalnya.
Pada tahun 1976, abangnya, Jimmy Carter, mencoba mencalonkan diri sebagai presiden. Di masa santer-santernya kampanye Carter berlangsung, Billy pun tak luput dari kejaran wartawan yang ingin tahu lebih jauh tentang keluarga besar Carter. Wartawan yang memergokinya langsung bertanya, bagaimana sesungguhnya kondisi keluarga Carter.
Billy menjawab, "Ibuku sudah lebih tujuhpuluh tahun umurnya, ketika ia mendaftarkan diri masuk Korps Perdamaian sebagai juru rawat di India untuk dua tahun. Kakak perempuanku senang naik sepeda ke mana-mana, sampai keluar negara bagian yang luas. Kakak perempuanku yang satu lagi menjadi pengabar Injil, pada tadinya ia ratu kecantikan.
"Sekarang, abangku ingin jadi presiden. Nah, Anda bisa lihat, akulah satu-satunya orang yang normal dalam keluarga ini."
(ahm)
