• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Renungan Harian/Saat Teduh.

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. user.
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai
Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku
Lukas 1:49

Bacaan: Lukas 1:46-55
Setahun: Zefanya 1-3; Wahyu 16

Saya membaca tentang pasangan muda yang bisnisnya gagal, dan mereka hampir tidak punya uang untuk dibelanjakan saat Natal. Mereka terpaksa harus pindah rumah setelah Tahun Baru. Akan tetapi, mereka tidak ingin musim liburan ini rusak karenanya. Maka, mereka memutuskan untuk mengadakan pesta. Ketika para tamu datang, mereka melihat sebuah pohon cedar yang dihiasi serangkaian lampu dan kertas-kertas kecil yang digulung dan diikat pada cabang-cabang pohon dengan pita.

“Selamat datang di ‘pohon berkat’ kami!” kata mereka dengan wajah berseri-seri. “Meskipun kami mengalami masa-masa sulit, Allah telah memberkati kami dengan begitu banyak hal sehingga kami memutuskan untuk mempersembahkan pohon kami kepada-Nya. Setiap kertas melukiskan berkat yang Dia berikan kepada kami tahun ini.”

Pasangan ini menghadapi lebih banyak tantangan setelah itu, tetapi mereka memilih untuk tetap berpusat kepada Tuhan. Mereka kerap mengatakan bahwa Natal dengan “pohon berkat” ini merupakan salah satu Natal terindah bagi mereka, sebab mereka dapat bersaksi seperti yang dilakukan Maria: “Hatiku bergembira karena Allah, Juru Selamatku …. Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku” (Lukas 1:47-49).

Apa pun kesulitan Anda, hal itu tidak perlu merusak Natal, sebab tidak ada sesuatu pun yang dapat merusak Kristus! Tetaplah memusatkan perhatian kepada Yesus dan carilah cara untuk membagikan berkat-berkat-Nya dengan orang lain—mungkin melalui “pohon berkat” Anda sendiri —JEY

Untuk memberi makna pada Natal
berilah tempat utama bagi Kristus

Lukas 1:46-55
1:46 Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan,
1:47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,
1:48 sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
1:49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.
1:50 Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
1:51 Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
1:52 Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;
1:53 Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;
1:54 Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,
1:55 seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya."
 
Aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu
1 Korintus 15:1

Bacaan: 1 Korintus 15:1-8
Setahun: Hagai 1-2; Wahyu 17

Apakah Anda pernah memerhatikan betapa cepatnya barang-barang menjadi tua atau ketinggalan zaman?

Saya memikirkan hal ini saat sedang mengajar di kelas sebuah sekolah lanjutan kristiani. Mereka mengikuti perkembangan terkini dengan menyediakan sebuah komputer jinjing bagi setiap siswa. Rasanya belum terlalu lama ketika menyediakan komputer bagi siswa di perpustakaan sekolah lanjutan dianggap sebagai sesuatu yang inovatif. Kemudian menyediakan komputer di asrama sekarang menjadi mode terkini. Namun, suatu hari nanti komputer jinjing pribadi pun tidak akan terpakai lagi.

Segala sesuatu yang diciptakan manusia pada akhirnya akan ketinggalan zaman. Semua, kecuali Injil. Injil sudah berusia lebih dari 2.000 tahun. Dan meskipun ada begitu banyak terjemahan Alkitab yang terus-menerus diperbarui, Injil tetap relevan hari ini seperti pada saat ia ditulis.

Inilah Injil itu: Yesus Kristus datang ke dunia, menjalani kehidupan dengan sempurna, menyerahkan hidup-Nya dengan dikurbankan di atas kayu salib, dikuburkan di sebuah makam pinjaman, dan bangkit dari kematian tiga hari kemudian (1 Korintus 15:1-4). Karena Dia telah mengambil alih hukuman atas dosa-dosa kita, Dia dapat mengampuni dosa-dosa kita dan menjadikan kita anak-anak Allah apabila kita beriman dan percaya kepada-Nya (Kisah Para Rasul 12:38,39).

Kiranya kisah terbesar yang pernah diceritakan ini membuat Anda menjadi manusia baru—untuk selamanya. Inilah kisah yang tidak akan pernah menjadi kuno —JDB

Injil tak akan pernah menjadi kuno
1 Korintus 15:1-8
15:1 Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri.
15:2 Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu--kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.
15:3 Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,
15:4 bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;
15:5 bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya.
15:6 Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal.
15:7 Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul.
15:8 Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.
 
Batu-batu ini akan menjadi tanda peringatan bagi orang Israel untuk selama-lamanya
Yosua 4:7

Bacaan: Yosua 4:1-9
Setahun: Zakharia 1-4; Wahyu 18

Dalam buku The Shelter of Each Other, Mary Pipher memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.

Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendahului mereka.

Perjanjian Lama sangat memandang penting pengajaran tentang warisan rohani kepada anak-anak mereka. Setelah Allah membelah Sungai Yordan, Yosua diperintahkan untuk mengambil dua belas batu dari sungai untuk membuat tanda peringatan bagi generasi-generasi mendatang. “Jika anak-anakmu bertanya … ‘Apakah artinya batu-batu ini bagi kamu?’ maka haruslah kamu katakan kepada mereka bahwa air Sungai Yordan itu terputus …. Sebab itu batu-batu ini akan menjadi tanda peringatan bagi orang Israel untuk selama-lamanya” (Yosua 4:6-7).

Kita perlu melakukan interaksi antargenerasi. Ingatlah, acap kali kisah-kisah Alkitab merupakan kisah-kisah keluarga. Anak-anak kita memerlukannya dan memerlukan kita —HDF


Nenek moyang yang saleh adalah
PARA guru yang baik

Yosua 4:1-9
4:1 Setelah seluruh bangsa itu selesai menyeberangi sungai Yordan, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua, demikian:
4:2 "Pilihlah dari bangsa itu dua belas orang, seorang dari tiap-tiap suku,
4:3 dan perintahkanlah kepada mereka, demikian: Angkatlah dua belas batu dari sini, dari tengah-tengah sungai Yordan ini, dari tempat berjejak kaki para imam itu, bawalah semuanya itu ke seberang dan letakkanlah di tempat kamu akan bermalam nanti malam."
4:4 Lalu Yosua memanggil kedua belas orang yang ditetapkannya dari orang Israel itu, seorang dari tiap-tiap suku,
4:5 dan Yosua berkata kepada mereka: "Menyeberanglah di depan tabut TUHAN, Allahmu, ke tengah-tengah sungai Yordan, dan angkatlah masing-masing sebuah batu ke atas bahumu, menurut bilangan suku orang Israel,
4:6 supaya ini menjadi tanda di tengah-tengah kamu. Jika anak-anakmu bertanya di kemudian hari: Apakah artinya batu-batu ini bagi kamu?
4:7 maka haruslah kamu katakan kepada mereka: Bahwa air sungai Yordan terputus di depan tabut perjanjian TUHAN; ketika tabut itu menyeberangi sungai Yordan, air sungai Yordan itu terputus. Sebab itu batu-batu ini akan menjadi tanda peringatan bagi orang Israel untuk selama-lamanya."
4:8 Maka orang Israel itu melakukan seperti yang diperintahkan Yosua. Mereka mengangkat dua belas batu dari tengah-tengah sungai Yordan, seperti yang difirmankan TUHAN kepada Yosua, menurut jumlah suku Israel. Semuanya itu dibawa merekalah ke seberang, ke tempat bermalam, dan diletakkan di situ.
4:9 Pula Yosua menegakkan dua belas batu di tengah-tengah sungai Yordan itu, di tempat bekas berjejak kaki para imam pengangkat tabut perjanjian itu. Batu-batu itu masih ada di sana sampai sekarang.
 
Karena siapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya
Matius16:25

Bacaan: Matius 16:21-28
Setahun: Zakharia 5-8; Wahyu 19

Michigan Barat diserang musim-musim dingin yang bersalju, sehingga permukaan jalan harus ditaburi garam agar lebih aman untuk dilalui. Masalahnya, garam membuat keropos badan logam mobil. Jadi, pergi ke tempat pencucian mobil adalah ritual yang sering dilakukan pada musim dingin.

Belum lama ini saya duduk di sebuah fasilitas cuci mobil. Mesin-mesin mulai menyemburkan cairan khusus ke seluruh mobil sebagai proses akhir pencucian. Ada tulisan yang mengatakan bahwa cairan tersebut merupakan “unsur pengering”, tetapi saya merasa bahwa hal itu aneh. Membasahi sesuatu untuk mengeringkannya tampaknya bertentangan dengan apa yang Anda harapkan. Namun, zat-zat kimia tersebut dirancang untuk melakukan hal itu. Ini merupakan pemikiran yang bertentangan dengan intuisi—sebuah paradoks.

Yesus juga menawarkan pemikiran yang bertentangan dengan intuisi ketika Dia memperkenalkan pesan kerajaan-Nya kepada para pengikut-Nya. Dalam Matius 16:25, Dia berkata, “Karena siapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Hal ini terdengar aneh. Untuk menyelamatkan hidup Anda, Anda harus kehilangan nyawa? Ini seperti mengatakan, “Untuk mengeringkan sesuatu, Anda harus membasahinya!” Namun demikian, hal ini mutlak benar. Saat kita mati bagi diri sendiri, dan memercayakan kepemilikan hidup kita kepada Kristus, kita baru bisa belajar apa artinya hidup dengan sebenarnya.

“Mati untuk hidup” tampaknya bertentangan dengan intuisi, tetapi ini adalah inti pengalaman kristiani —WEC


Untuk hidup bagi Kristus
kita harus belajar untuk mati bagi diri sendiri


Matius 16:21-28

16:21 Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.
16:22 Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau."
16:23 Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."
16:24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
16:25 Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
16:26 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?
16:27 Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.
16:28 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya."
 
Tuhan Allah berfirman, “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia”
Kejadian 2:18

Bacaan: Kejadian 2:15-25
Setahun: Zakharia 9-12; Wahyu 20

Di sebuah sistem penjara di Amerika Serikat, 25.000 orang tahanan yang paling berbahaya dikurung tersendiri di dalam sel-sel beton yang kecil. Bisa dikatakan orang-orang itu tidak memiliki hubungan dengan dunia luar. Seorang tahanan di Penjara Negara Oregon mengatakan bahwa bagian yang paling sulit dari isolasi seperti itu adalah “tidak dapat melihat seseorang muka dengan muka … untuk berkomunikasi, untuk menyentuh, untuk memeluk, untuk merasa dikasihi, untuk merasa sebagai manusia”. Kata-kata orang ini seakan-akan berteriak, “Saya merasa kesepian! Seharusnya tidak begini keadaannya.”

Penulis kitab Kejadian tentu akan menyetujui hal tersebut. Setelah Allah menciptakan manusia, Dia mengakui bahwa Adam kesepian, dan berkata, “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Pada intinya, Allah berkata bahwa manusia membutuhkan orang lain sehingga ia dapat menjadi manusia yang utuh. Meskipun lingkungan yang paling dekat dengan kita ialah pertemanan, dalam konteks yang lebih luas Allah mengatakan kepada kita bahwa menjadi seorang manusia yang utuh berarti menikmati hubungan dengan orang-orang lainnya.

Apa pun penyebab kesepian—dosa, kehilangan, rasa malu, sakit, depresi—Allah berkata bahwa hal ini “tidak baik”. Dia menciptakan kita untuk berhubungan erat dengan orang lain (Pengkhotbah 4:9-12) dan dengan-Nya (Wahyu 21:3). Ulurkanlah tangan dan kembangkanlah persahabatan yang diperlukan itu—demi Anda sendiri dan demi mereka —MLW

Persahabatan dapat membantu menghalau kesepian

Kejadian 2:15-25
2:15 TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.
2:16 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,
2:17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."
2:18 TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."
2:19 Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.
2:20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.
2:21 Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.
2:22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.
2:23 Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki."
2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.
2:25 Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.
 
Living Like A Citizen Of God's Kingdom

Daily Bible Reading:
Exodus 4-6, Matthew 1:18-25, Psalm 90:7-17



Before the colonialists imposed national boundaries on Southeast Asia, the kings of Laos and Vietnam had already reached an agreement about who was Laotian and who was Vietnamese. Those who ate short-grain rice, built their houses on stilts, and decorated their homes with Indian-style serpents were considered Laotians. Those who ate long-grain rice, built their houses on the ground, and decorated their homes with Chinese-style dragons were Vietnamese. The kings taxed the people accordingly hence they had no need for boundaries. It was simple; each person belonged to the kingdom whose values they shared and whose king they honoured!

Understand this: you can only live by the principles, practices and power of one of two kingdoms: the kingdom of darkness or the Kingdom of light. Which have you chosen? Each time the will of God is done in your life the Kingdom of God is demonstrated through you. When you adopt His values, live by His standards and obey His commandments, Christ's prayer is answered, "Your Kingdom come, Your will be done in earth… as it is in Heaven." You ask, "But how do citizens of His Kingdom act?" In the Beatitudes (which are what our attitudes should be) Jesus says
(1) they are humble;
(2) they are submitted to God's will;
(3) they hunger and thirst for more of God;
(4) they show mercy to others;
(5) they have a pure heart;
(6) they are peacemakers;
(7) they rejoice, even in hard times;
(8) they know their reward is waiting for them (Matthew 5:3-12).


What the world knows about the Kingdom of God - is what it sees displayed in our lives! And that's a big responsibility!
 
Be strong and courageous.
Deuteronomy 31:6 NIV


Daily Bible Reading:

Philippians 3:8-14, 2 Corinthians 5:14-21, Psalm 77:11-20, Proverbs 9:10-12

Without courage you're not living, you're hiding! Courage is what moves you forward; it's the muscle that makes your faith work. Faith by itself can be nothing more than a set of beliefs. Courage is what activates those beliefs.

Every Promised Land has giant-sized problems, and you have to face them and defeat them before moving in and taking up residence. Notice three things in Deuteronomy Chapter 7 (NIV) that God said to Israel about taking the Promised Land:
(1) "Your God, who is among you, is a great and awesome God" (v.21). Your God is greater than any opposition you are facing.
(2) "Will drive out those nations before you (v22)." God will go ahead of you. He will do for you what you cannot do for yourself, but you've got to show up for the fight.
(3) "Little by little (v22)." Whether it's conquering your Promised Land or your character flaws, you can't do it all at once, so God works with you in one area after another. Life is not one big battle, then you march in the victory parade. No, it's a series of small daily victories required to defeat the enemies of your Spiritual growth.

Twenty-four chapters later God is still telling Israel to be courageous (Deuteronomy 31:6). That's because courage is like oxygen, you can't survive without it. Courage is not the absence of fear, it's the conquest of it. Courage means doing it afraid - until you're no longer afraid. It means - tremble your way to confidence! God promised to go with them, and go before them. Who does God walk with and work with? Who does He go ahead of and arrange things for? The courageous!
 
Doa orang yang benar, sangat besar kuasanya dan ada hasilnya
Yakobus 5:16
Bacaan: Yakobus 5:13-18
Setahun: Kejadian 10-12

Anda mungkin mengenal tokoh-tokoh kristiani seperti Hudson Taylor, Martin Luther, Gordon Lindsay, atau Corrie ten Boom. Tahukah Anda mengapa tokoh-tokoh ini bisa dipakai Allah secara luar biasa? Salah satu kesamaan yang mereka miliki adalah kehidupan doa yang luar biasa.

Corrie ten Boom mengatakan, “Iblis tersenyum ketika Anda menyusun suatu rencana. Ia tertawa ketika Anda terlalu sibuk. Namun, Iblis gemetar saat Anda berdoa.” Gordon Lindsay berkata, “Waktu yang Anda manfaatkan untuk berhubungan dengan Tuhan tidak akan pernah sia-sia.” Hudson Taylor mengatakan, “Jangan melakukan konser terlebih dulu, baru memeriksa alat musik Anda. Mulailah setiap hari bersama Allah.” Martin Luther berkata, “Begitu banyak yang harus saya kerjakan hari ini, maka saya menggunakan tiga jam pertama saya untuk berdoa.” Kita tidak bisa hidup tanpa doa. Tanpa doa, kehidupan rohani kita menjadi lemah, sehingga kita mudah untuk jatuh ke dalam dosa. Iblis tidak akan takut jika setiap hari kita menghadiri rapat di gereja untuk menyusun strategi. Iblis tidak akan takut jika kita membuat program-program gereja yang sangat menarik. Iblis bahkan tertawa terbahak-bahak saat melihat kesibukan kita yang padat di gereja. Semua itu tidak akan membuat Iblis gentar. Namun, saat kita berdoa, Iblis akan gemetar dan lari dari hadapan kita.

Doa menembus batas ketidakmungkinan dan kemustahilan. Kemampuan kita sangat terbatas. Tanpa doa, kita tidak dapat berbuat banyak. Sebab itu, mari kita mulai kehidupan hari ini dengan doa! —PK

DOA DI PAGI HARI MENARIK BERKAT UNTUK SEPANJANG HARI

Yakobus 5:13-18
5:13 Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi!
5:14 Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.
5:15 Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni.
5:16 Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.
5:17 Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan.
5:18 Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya.
 
Sebab Engkau, ya TUHAN ... berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu
Mazmur 86:5

Bacaan: Mazmur 86:1-10
Setahun: Kejadian 13-15

Sore itu anak perempuan saya duduk termangu dengan tatapan kosong. Padahal, biasanya ia selalu ceria. “Besok pagi aku ada ujian praktikum kimia, Ma. Aku takut. Selama ini, aku selalu kesulitan menentukan volum larutan yang pas menetes dari pipa titrasi. Kalau besok hal itu terjadi lagi, aku akan gagal dalam ujian praktikum,” ungkapnya.

Saya bertanya kepadanya, “Menurut kamu, kalau kita berdoa, apakah Allah akan menolongmu?” Ia mengangguk. Maka, kami pun berdoa bersama. Pada sore keesokan harinya, ia pulang sekolah dengan wajah berseri. Ia menceritakan dengan semangat, “Tiga kali aku membuat tetesan yang pas, tak sekali pun aku harus mengulang! Tuhan baik, Ma. Dia telah menjawab doa kita,” katanya.

Daud memiliki kehidupan doa yang intens. Ia berdoa: “Sendengkanlah telinga-Mu, ya Tuhan, jawablah aku” (ayat 1). “Aku berseru sepanjang hari” (ayat 3). “Perhatikanlah suara permohonanku” (ayat 6). Apa yang mendasari kehidupan doa Daud? Keyakinannya yang kokoh bahwa Tuhan sangat mengasihinya dan Dia menyelamatkan orang yang percaya kepada-Nya (ayat 2). Dia adalah Allah yang baik, suka mengampuni, dan berlimpah kasih setia kepada semua orang yang berseru kepada-Nya (ayat 5), Dia adalah Allah yang besar dan melakukan keajaiban-keajaiban (ayat 10).

Kerap kali Tuhan mengizinkan kesulitan dan tantangan datang dalam kehidupan orang percaya. Namun, Dia ingin kita mengalami sendiri pertolongan-Nya yang ajaib. Tak hanya kita tahu dari kata orang atau dari kisah Alkitab. Anda ingin mengalami-Nya? Dia hanya sejauh doa! —YS

DOA MENGUBAH KESULITAN HIDUP
MENJADI PERNYATAAN CINTA KASIH-NYA


Mazmur 86:1-10

86:1 Doa Daud. Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku, sebab sengsara dan miskin aku.
86:2 Peliharalah nyawaku, sebab aku orang yang Kaukasihi, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu.
86:3 Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari.
86:4 Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku.
86:5 Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu.
86:6 Pasanglah telinga kepada doaku, ya TUHAN, dan perhatikanlah suara permohonanku.
86:7 Pada hari kesesakanku aku berseru kepada-Mu, sebab Engkau menjawab aku.
86:8 Tidak ada seperti Engkau di antara para allah, ya Tuhan, dan tidak ada seperti apa yang Kaubuat.
86:9 Segala bangsa yang Kaujadikan akan datang sujud menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu.
86:10 Sebab Engkau besar dan melakukan keajaiban-keajaiban; Engkau sendiri saja Allah.
 
Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati …
Ibrani 10:25

Bacaan: Ibrani 10:19-25
Setahun: Kejadian 16-18

Di zaman serbacanggih ini, orang bisa beribadah tanpa harus pergi ke gereja. Ada “gereja BTV” atau “gereja online” di internet. Setiap Minggu, orang bisa beribadah di depan layar kaca. Bahkan, di Amerika ada gereja yang menawarkan ibadah drive-thru. Anda bisa beribadah tanpa turun dari mobil. Cukup buka kaca mobil Anda. Petugas akan memberikan CD berisi khotbah, lembar bacaan Alkitab, serta kotak berisi roti dan air anggur perjamuan. Anda bisa memberi kolekte atau minta didoakan, lalu melanjutkan perjalanan sambil mendengarkan CD khotbah. Setelah itu, makan roti dan minum anggur perjamuan.

Namun, apakah yang kurang di sini? “Pertemuan ibadah”! Penulis kitab Ibrani melarang kita untuk menjauhi pertemuan ibadah. Maksudnya, ibadah bersama di mana umat Tuhan saling bertemu. Bertatap muka. Hadir. Kehadiran itu penting, sebab kita tidak dirancang untuk hidup sendiri. Sebagai anggota tubuh Kristus, kita perlu terus saling berhubungan. Sekeping puzzle tidak akan berarti jika berdiri sendiri. Namun, saat disatukan dengan kepingan-kepingan lain pada posisi yang tepat, maka akan terbentuk gambar yang indah. Itulah yang terjadi saat umat Tuhan beribadah. Ketika kita hadir, bukan hanya Tuhan dimuliakan. Kita pun dapat saling menguatkan dan menasihati.

Tahun lalu, pernahkah Anda menjauhkan diri dari pertemuan ibadah? Entah karena bosan dengan acara ibadahnya, atau karena di sana ada orang yang tidak Anda sukai. Di tahun baru ini, buatlah komitmen untuk kembali hadir di sana. Libatkan diri dalam ibadah bersama dan rasakan bedanya! —JTI

KEHADIRAN ANDA DALAM IBADAH
TAK TERGANTIKAN OLEH APA PUN DAN SIAPA PUN

Ibrani 10:19-25
10:19 Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus,
10:20 karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri,
10:21 dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.
10:22 Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.
10:23 Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.
10:24 Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.
10:25 Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.
 
Kami katakan ini karena kami dengar bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya, dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna
2 Tesalonika 3:11

Bacaan: 2 Tesalonika 3:7-13
Setahun: Kejadian 19-21

Binatang kerap diidentikkan dengan hal-hal yang buruk. Orang jahat, kejam, telengas kerap kali disebut, “Seperti binatang!” Makian dan umpatan banyak juga yang memakai nama-nama binatang. Ini sebetulnya pelecehan terhadap binatang. Pelanggaran HAB. Hak Asasi Binatang. Sebab kalau mau jujur, dalam banyak hal tidak jarang perilaku binatang malah lebih luhur daripada perilaku manusia.

Dalam hal kerajinan bekerja, misalnya. Semut adalah contoh yang sangat baik. Maka, tidak heran penulis Amsal pun berujar, “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak” (Amsal 6:6). Bayangkan! Kita, manusia, diminta untuk belajar kepada semut!

Salah satu “penyakit” manusia adalah kemalasan. Ingin hidup “enak”, tetapi enggan bekerja. Lalu membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak berguna. Bahkan kontraproduktif. Di jemaat Tesalonika, masalah kemalasan ini rupanya juga sudah sangat kronis. “Bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya, dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna,” begitu Rasul Paulus menegur mereka.

Bagaimana kita mengisi hari-hari kita? Selama 24 jam sehari kita hidup, tujuh hari seminggu, 52 minggu setahun, berapa banyak waktu yang kita pakai untuk hal-hal yang tidak berguna, hal-hal bodoh yang tidak membuahkan apa-apa? Jadi, sangatlah perlu kita selalu bertanya kepada diri sendiri, “Apakah yang saya lakukan ini ada gunanya? Bagi diri saya maupun bagi orang lain? Sekarang ataupun kelak?” —AYA


KEBODOHAN DAN KEMALASAN ADALAH DUA SISI
DARI SATU MATA UANG YANG SAMA


2 Tesalonika 3:7-13

3:7 Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu,
3:8 dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu.
3:9 Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti.
3:10 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.
3:11 Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna.
3:12 Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri.
3:13 Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik.
 
Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada karena hari-hari ini adalah jahat
Efesus 5:15,16

Bacaan: Efesus 5:1-20
Setahun: Kejadian 22-24

Pemilik Genting Resort di Malaysia, mengawali usahanya sebagai pedagang eceran atau kaki lima. Berkat kerja keras dan kejeliannya melihat peluang, serta kepandaiannya memanfaatkan peluang itu dengan tepat, maka usahanya berkembang pesat hingga ke mancanegara. Orang-orang menyanjungnya dengan sebutan si tangan dingin, the man with golden arms, orang berhoki tebal. Orang mengatakan bahwa tembaga yang digenggamnya akan berubah menjadi emas. Namun, atas segala pujian itu ia menjawab singkat, “Sekalipun kita dilempari batangan emas dari langit, kalau kita tidak memungutnya, maka emas itu tidak akan kita miliki.”

Ada tiga tipe orang berkenaan dengan peluang atau kesempatan dalam hidup ini. Pertama, orang yang tidak menyadari bahwa ada peluang baginya. Kedua, orang yang mengetahui adanya peluang, tetapi tidak mampu memanfaatkannya; mungkin karena ia takut mengambil risiko atau malas baik secara fisik maupun intelektual. Ketiga, orang yang bukan saja jeli melihat peluang yang baik, melainkan juga berani mengambil risiko untuk memanfaatkan serta mengembangkannya. Bahkan, orang tipe ini mampu menciptakan peluang, atau dari menggarap satu peluang, ia menciptakan peluang-peluang baru, baik bagi dirinya atau orang lain.

Bagaimana dengan kita? Sesungguhnya, Tuhan selalu menyediakan peluang untuk kita meningkatkan kehidupan, asal kita mau berusaha mengerti kehendak-Nya dan berupaya menjadi seperti yang Dia kehendaki. Untuk itu, seperti Rasul Paulus katakan, marilah kita hidup bijak dan saksama. Jangan hidup seperti orang bebal —NDA


PELUANG YANG BAIK SERING TIDAK TERULANG DALAM HIDUP KITA
DAN BENAR-BENAR ONCE IN A LIFE TIME

Efesus 5:1-20
5:1 Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih
5:2 dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.
5:3 Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus.
5:4 Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono--karena hal-hal ini tidak pantas--tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur.
5:5 Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.
5:6 Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka.
5:7 Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.
5:8 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang,
5:9 karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,
5:10 dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.
5:11 Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.
5:12 Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan.
5:13 Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.
5:14 Itulah sebabnya dikatakan: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu."
5:15 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,
5:16 dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.
5:17 Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.
5:18 Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,
5:19 dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.
5:20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita
 
Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik ... yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam
Mazmur 1:1,2

Bacaan: Mazmur 1:1-3
Setahun: Kejadian 37-39

Tinggal di pedesaan memberi kesan tersendiri bagi saya. Setiap senja saya mencium aroma yang spesifik, yaitu bau rumput yang sengaja dibakar untuk mengusir nyamuk. Saya juga mendapati beberapa petani yang tidur sekamar dengan lembunya. Mereka sama-sama melepas lelah setelah seharian membajak di sawah.

Bila saya memerhatikan lembu yang beristirahat di siang hari, saya melihat mulutnya selalu bergerak mengunyah sesuatu. Ya, sapi itu sedang memamah biak. Binatang yang memamah biak memiliki lambung dengan banyak ruang [poligastrik: berperut banyak]. Makanan yang masih kasar dan mula-mula disimpan di perut, dikeluarkan lagi ke mulut untuk dikunyah dan dicerna lagi di lapisan perut yang lain dan seterusnya, sehingga akhirnya lembu itu mendapat sari makanan untuk kebutuhan tubuhnya. Sungguh hebat “mesin susu” ini, sehingga dari rumput yang hijau bisa dihasilkan susu yang putih.

Itulah yang seharusnya kita lakukan untuk benar-benar menikmati firman Tuhan. Membaca Alkitab bukan sekadar untuk “memenuhi kewajiban” bersaat teduh; merasa terbeban, tetapi tidak mendapatkan sesuatu. Kita perlu membaca dan merenungkannya siang dan malam, menggali, dan mengadakan refleksi: Apa yang saya baca? Mengapa demikian? Bagaimana menerapkannya? Hanya dengan demikian dan di bawah bimbingan Roh Kudus (Yohanes 16:13), kita akan mengalami dan merasakan yang Daud rasakan, yakni menikmati manisnya madu surgawi, “Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih daripada madu bagi mulutku” (Mazmur 119:103) —ACH

KITA MAKAN TIGA KALI SEHARI UNTUK MEMELIHARA TUBUH
BERAPA KALI SEHARI KITA MEMBERI MAKAN JIWA KITA?
Mazmur 1:1-3
1:1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
1:2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
1:3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
 
Kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka
Kisah Para Rasul 16:25

Bacaan: Kisah Para Rasul 16:22-31
Setahun: Kejadian 40-42

Dulu, setiap kali berangkat kerja saya selalu terjebak kemacetan. Selama dua jam saya terperangkap di belakang setir. Hal itu tentu saja sangat menjengkelkan, apalagi jika melihat ulah para pengemudi kendaraan yang saling serobot. Suatu hari, ketika lalu lintas sedang macet total, saya mencoba melantunkan pujian. Hasilnya? Pikiran saya tak lagi terfokus pada kemacetan yang sedang terjadi, tetapi kepada Tuhan. Suasana hati saya berubah. Kejengkelan pun sirna. Jalanan tetap macet, namun saya dapat melaluinya dengan rasa damai.

Pujian dapat mengubah fokus hati. Tak heran, Paulus dan Silas berusaha menyanyi sewaktu mereka dipenjarakan. Padahal, ini bukanlah reaksi yang wajar. Dalam kondisi babak belur, biasanya orang lebih suka meratap. Mengapa mereka memilih untuk memuji? Karena mereka sadar bahwa puji-pujian mampu mengubah fokus hati. Saat memuji, mereka tidak lagi melihat besarnya suatu masalah, tetapi hanya kehadiran Tuhan di sana . Malam itu, penjara berubah menjadi gereja. Para tahanan mendengarkan puji-pujian dengan saksama. Kuasa Tuhan pun dinyatakan. Bahkan, kepala penjara bertobat dan dibaptiskan.

Dalam perjalanan hidup ini, kita bisa menghadapi situasi “macet total”. Masalah datang bertubi-tubi. Kita terjebak di dalamnya. Atau, seperti Paulus dan Silas, kejutan hidup datang tak terduga. Tiba-tiba kita merasa dipenjara. Dibelenggu masalah. Jalan keluar tampak sukar. Di saat seperti itu, janganlah berputus asa. Pujilah Tuhan! Biarkan pujian mengubah fokus hati kita, sehingga kita dapat melihat hadirnya Tuhan di dalam persoalan! —JTI

SAAT KITA TAK MAMPU MENGUBAH SITUASI
PUJIAN MAMPU MENGUBAH CARA KITA MENGHADAPI SITUASI



Kisah Para Rasul 16:22-31
16:22 Juga orang banyak bangkit menentang mereka. Lalu pembesar-pembesar kota itu menyuruh mengoyakkan pakaian dari tubuh mereka dan mendera mereka.
16:23 Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh.
16:24 Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat.
16:25 Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.
16:26 Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua.
16:27 Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri.
16:28 Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: "Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!"
16:29 Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas.
16:30 Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: "Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?"
16:31 Jawab mereka: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu."
 
Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman
Mazmur 4:9

Bacaan: Mazmur 4:7-9
Setahun: Kejadian 43-45

Dalam buku The Simple Path karya Lucinda Vardey, Ibu Teresa mengatakan bahwa di tengah melayani kaum papa di Calcuta , India , waktu untuk menyendiri atau saat teduh begitu sulit didapat. Di tengah pelayanan yang sibuk, privasi menjadi “barang” mahal, terlebih keheningan. Dalam kesibukan, keheningan adalah sebuah kelangkaan. Namun, Ibu Teresa melanjutkan bahwa kita harus tetap bisa mengambil waktu untuk bersaat teduh di tengah kesibukan, bahkan di antara keributan dan kebisingan sekalipun.

Hening hampir selalu dimaknai sebagai kesunyian. Padahal, hening yang kita cari lebih dari sekadar itu, yaitu hening dalam arti keleluasaan berteduh di tengah gempuran pergulatan hidup yang “bising”. Hening, seperti kata sang pemazmur, adalah ketenteraman untuk membaringkan diri, saat Tuhan membiarkan kita diam dengan aman (Mazmur 4:9). Hening di sini bukan sekadar berarti lingkungan sekitar yang sepi. Hening juga bukan berarti malam yang larut tanpa suara.

Hening adalah saat di mana kita dapat merasakan kehadiran Tuhan, sehingga kita dapat membaringkan diri dengan tenang dan tenteram. Dengan demikian, kita dapat merasakan keteduhan, sekalipun kita sedang berada di tengah keramaian, karena hening itu bukan dinikmati oleh telinga kita, tetapi oleh hati yang teduh. Hening bisa terjadi saat kesibukan dan keingarbingaran menerkam diri kita. Itulah yang dialami oleh Daud dan terekspresi dalam mazmurnya. Marilah kita menikmati keheningan, di saat kita bekerja maupun saat beristirahat, di saat sunyi maupun saat suasana ramai. Izinkan Tuhan meneduhkan lautan kehidupan kita dengan kuasa-Nya. Mari Tuhan, teduhkan hati saya —AGS

HENING MERUWAT HATI KITA SEMAKIN DEKAT DENGAN TUHAN
SEMAKIN DEKAT DAN SEMAKIN DEKAT LAGI

Mazmur 4:7-9
4:7 Banyak orang berkata: "Siapa yang akan memperlihatkan yang baik kepada kita?" Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya TUHAN!
4:8 Engkau telah memberikan sukacita kepadaku, lebih banyak dari pada mereka ketika mereka kelimpahan gandum dan anggur.
4:9 Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.
 
Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu!
Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus

Galatia 6:2

Bacaan: 2 Korintus 8:1-24
Setahun: Kejadian 46-48

Ketika itu saya masih lajang. Satu hari saya menghadapi pergumulan berat dalam pelayanan dan membutuhkan teman untuk menolong saya. Jadi saya berdoa, “Tuhan, tolong kirimkan seorang hamba Tuhan yang bisa menolong saya.” Belum tuntas saya berdoa, terdengar ketukan di pintu. Begitu saya membuka pintu, ternyata yang mengetuk pintu adalah seorang hamba Tuhan yang saya kenal. Puji Tuhan. Namun, belum saya persilakan masuk, ia sudah melontarkan keluhan, “Saya punya masalah. Apakah kamu bisa menolong saya?” Saya mengajaknya masuk dan mengatakan bahwa saya juga sedang menghadapi masalah. Kami pun bersepakat untuk saling menolong karena masalahnya berbeda. Lucu sekali. Kami konseling secara bergantian, dan merasa lega. Ternyata kami bisa saling menolong, masalah kami teratasi, dan sejak itu kami menjadi sahabat karib.

Secara implisit, ayat emas kita hari ini (Galatia 6:2) menunjukkan bahwa kita semua memiliki masalah; entah dalam keluarga, keuangan, pekerjaan, atau pelayanan. Jangan malu dan segan untuk berbagi dengan saudara seiman yang dapat dipercaya; dengan demikian beban menjadi ringan bila sama-sama dijinjing. Itulah tradisi baik yang sering dilakukan jemaat mula-mula, yaitu jemaat di Makedonia dan Yerusalem (2 Korintus 8:1-24). Meskipun mereka miskin, menderita, dan menghadapi berbagai cobaan, mereka tetap saling menolong, bahkan mendesak untuk mengambil bagian dalam pelayanan (2 Korintus 8:4).

Dengan melakukan hal itu, kita memenuhi hukum Kristus, yaitu mengasihi Allah dengan mengasihi sesama —ACH

IKUT MENANGGUNG BEBAN ORANG LAIN
TERNYATA JUGA MERINGANKAN BEBAN SENDIRI

2 Korintus 8:1-24
8:1. Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.
8:2 Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.
8:3 Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.
8:4 Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.
8:5 Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.
8:6 Sebab itu kami mendesak kepada Titus, supaya ia mengunjungi kamu dan menyelesaikan pelayanan kasih itu sebagaimana ia telah memulainya.

8:7. Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, --dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami--demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.
8:8 Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu.
8:9 Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.
8:10 Inilah pendapatku tentang hal itu, yang mungkin berfaedah bagimu. Memang sudah sejak tahun yang lalu kamu mulai melaksanakannya dan mengambil keputusan untuk menyelesaikannya juga.
8:11 Maka sekarang, selesaikan jugalah pelaksanaannya itu! Hendaklah pelaksanaannya sepadan dengan kerelaanmu, dan lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu.
8:12 Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.
8:13 Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan.
8:14 Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.
8:15 Seperti ada tertulis: "Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan."

8:16. Syukur kepada Allah, yang oleh karena kamu mengaruniakan kesungguhan yang demikian juga dalam hati Titus untuk membantu kamu.
8:17 Memang ia menyambut anjuran kami, tetapi dalam kesungguhannya yang besar itu ia dengan sukarela pergi kepada kamu.
8:18 Bersama-sama dengan dia kami mengutus saudara kita, yang terpuji di semua jemaat karena pekerjaannya dalam pemberitaan Injil.
8:19 Dan bukan itu saja! Ia juga telah ditunjuk oleh jemaat-jemaat untuk menemani kami dalam pelayanan kasih ini, yang kami lakukan untuk kemuliaan Tuhan dan sebagai bukti kerelaan kami.
8:20 Sebab kami hendak menghindarkan hal ini: bahwa ada orang yang dapat mencela kami dalam hal pelayanan kasih yang kami lakukan dan yang hasilnya sebesar ini.
8:21 Karena kami memikirkan yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia.
8:22 Bersama-sama dengan mereka kami utus seorang lain lagi, yakni saudara kita, yang telah beberapa kali kami uji dan ternyata selalu berusaha untuk membantu. Dan sekarang ia makin berusaha karena besarnya kepercayaannya kepada kamu.
8:23 Titus adalah temanku yang bekerja bersama-sama dengan aku untuk kamu; saudara-saudara kami yang lain itu adalah utusan jemaat-jemaat dan suatu kemuliaan bagi Kristus.
8:24 Karena itu tunjukkanlah kepada mereka di hadapan jemaat-jemaat bukti kasihmu dan bukti kemegahanku atas kamu.
 
Ucapkanlah syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu
1 Tesalonika 5:18

Bacaan: 1 Tesalonika 5:12-22
Setahun: Kejadian 49; Keluaran 1

Berikut ini adalah kisah Benny & Mice di kolom kartun Kompas Minggu. Benny dan Mice sedang berada di warung. Sambil menikmati makanan, mereka berdua terdengar heboh memberi komentar dan saling menyahut. “Hmm, ini pas asinnya, renyahnya. Hmm, rasanya mak nyus ….” Ini membuat tamu yang lain penasaran. Namun, saat mengetahui apa yang mereka makan, mereka jadi marah. Sebab ternyata mereka hanya makan kerupuk dan minum es teh manis! [Istilah mak nyus dipopulerkan oleh Bondan Winarno di acara televisi Wisata Kuliner untuk melukiskan betapa nikmatnya suatu makanan-Red].

Bila direnungkan, bukankah sesungguhnya Benny dan Mice menunjukkan sikap yang bersyukur? Jika boleh meminjam satu slogan iklan, maka seolah-olah mereka berkata, “Apa pun makanannya, ucapannya puji Tuhan!” Namun, harus diakui bahwa banyak orang di lingkungan kita sekarang ini kerap kali mengeluh, tidak pernah merasa puas, dan kurang menghargai apa yang sudah dimiliki. Kaya materi, tetapi jiwanya miskin.

Rasul Paulus menasihati jemaat di Tesalonika untuk selalu bersukacita, berdoa, dan mengucap syukur. Sebab itulah yang dikehendaki Allah. Mengucap syukur bukan hanya saat kita menerima berkat, tetapi dalam segala hal; baik dalam kekurangan maupun kelimpahan. Kuncinya adalah menerima dan menikmati apa yang ada, bukan apa yang tidak ada. Dari situ hidup kita akan dipenuhi rasa syukur. Mari kita belajar untuk senantiasa mengucap syukur dalam keadaan apa pun; entah baik atau buruk, entah enak atau tidak enak. Selamat bersyukur! —ENO

HATI YANG PENUH SYUKUR
ADALAH KUALITAS HATI YANG PALING TINGGI

1 Tesalonika 5:12-22
5:12 Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu;
5:13 dan supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka. Hiduplah selalu dalam damai seorang dengan yang lain.
5:14 Kami juga menasihati kamu, saudara-saudara, tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang.
5:15 Perhatikanlah, supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang.
5:16 Bersukacitalah senantiasa.
5:17 Tetaplah berdoa.
5:18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
5:19 Janganlah padamkan Roh,
5:20 dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat.
5:21 Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.
5:22 Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.
 
Aku bersaksi bahwa mereka telah memberi menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka
2 Korintus 8:3

Bacaan: 2 Korintus 8:1-15
Setahun: Keluaran 2-4

Suatu ketika saya menumpang mobil seorang kawan. Di celah antara dua bangku depan, ia meletakkan sebuah kaleng berisi uang receh.

“Ini untuk ongkos parkir, ya?” saya bertanya.

“O, bukan,” jawabnya. “Itu kebiasaan ayah saya. Ia selalu menyediakan uang receh untuk diberikan pada pengemis atau pengamen di jalan.”

Saya mencelos. Berbeda sekali dengan sikap saya selama ini! Jangankan sempat menyiapkan uang, saya malah lebih sering merasa terganggu kalau ada pengemis atau pengamen mendekati saya sambil meminta sedekah. Saya berdalih, di dompet saya tidak ada uang receh. Sebenarnya itu hanya alasan untuk menenteramkan hati. Kalau saya mau jujur, saya memang tidak berusaha menyiapkan uang untuk didermakan. Dengan kata lain, saya pelit.

Jemaat-jemaat di Makedonia jauh dari sikap pelit ini. Mereka sendiri tengah dibelit berbagai persoalan dan didera kemiskinan. Namun, hal itu tidak menumpulkan kemurahan hati mereka. Sebaliknya, mereka dengan penuh sukacita dan sukarela memberikan bantuan melampaui kemampuan mereka. Kedermawanan mereka ini sangat menyentuh Paulus, sehingga ia menggunakannya untuk menggugah jemaat Korintus agar meneladani sikap tersebut.

Kedermawanan yang sejati rela berkorban demi kesejahteraan orang lain. Namun, kebajikan semacam ini tentu tidak muncul begitu saja. Untuk menepis sikap pelit dan belajar bermurah hati pada sesama, kita perlu melatih, membentuk, dan mengembangkan kedermawanan mulai dari taraf yang sederhana—mungkin seperti ayah kawan saya tadi —ARS

MENGEMBANGKAN KEDERMAWANAN
BERARTI MENGIKIS KEPELITAN SAMPAI KE AKARNYA

2 Korintus 8:1-15
8:1 Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.
8:2 Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.
8:3 Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.
8:4 Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.
8:5 Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.
8:6 Sebab itu kami mendesak kepada Titus, supaya ia mengunjungi kamu dan menyelesaikan pelayanan kasih itu sebagaimana ia telah memulainya.
8:7 Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, --dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami--demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.
8:8 Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu.
8:9 Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.
8:10 Inilah pendapatku tentang hal itu, yang mungkin berfaedah bagimu. Memang sudah sejak tahun yang lalu kamu mulai melaksanakannya dan mengambil keputusan untuk menyelesaikannya juga.
8:11 Maka sekarang, selesaikan jugalah pelaksanaannya itu! Hendaklah pelaksanaannya sepadan dengan kerelaanmu, dan lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu.
8:12 Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.
8:13 Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan.
8:14 Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.
8:15 Seperti ada tertulis: "Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan."
 
Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, “Aku telah melihat Tuhan!”
Yohanes 20:18

Bacaan: Yohanes 20:11-18
Setahun: Keluaran 5-7

Ketika seseorang diliputi gejolak perasaan yang kuat, ia melihat realitas melalui “kacamata emosi”. Bila sedang marah, apa pun yang dilakukan orang lain tampak salah. Bila sedang jatuh cinta, apa pun yang ada pada diri sang kekasih tampak berkilauan. Bila sedih, semua tampak sendu kelabu.

Maria Magdalena pun demikian. Ia sedang dirundung duka. Ia berdiri dekat kubur Yesus dan menangis. Di sana, ia bertemu dua malaikat. Anehnya, reaksi Maria sangat biasa. Saat malaikat itu bertanya, Maria bukan seperti orang yang sedang berbicara dengan malaikat. Ia berkata, “Tuhanku telah diambil orang ...” (ayat 13). Bahkan ketika Yesus sendiri menyapa, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapa yang engkau cari?” (ayat 15), Maria menjawab tanpa menyadari kehadiran-Nya. Ia menyangka yang menyapa adalah penjaga taman.

Betapa besar pengaruh “kacamata emosi”! Namun Yesus yang telah bangkit membuka mata Maria dengan menyebut namanya: “Maria” (ayat 16). Baru Maria terjaga dari keterpurukan perasaannya dan bersaksi: “Aku telah melihat Tuhan!” (ayat 18).

Apakah Anda sedang terpuruk begitu dalam hingga mata Anda tertutup oleh “kacamata emosi” dan tak mampu melihat Tuhan? Yesus rindu menyapa Anda, sebagaimana Anda ada, dengan nama Anda. Bangunlah, lihatlah dengan mata hati yang bening. Apa pun ikatan emosi yang sedang “memenjara” Anda, tegarlah, karena Tuhan sudah bangkit. Bangkit bagi Anda! Hadapilah pergumulan hidup dengan mata hati yang tertuju kepada Tuhan. Agar seperti Maria, Anda pun dapat bersaksi bahwa dalam kepedihan sekalipun, Anda dapat melihat Tuhan—DKL

SURSUM CORDA! ANGKATLAH HATIMU!

Yohanes 20:11-18
20:11 Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu,
20:12 dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring.
20:13 Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan."
20:14 Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.
20:15 Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya."
20:16 Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru.
20:17 Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu."
20:18 Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.
 
Akan tetapi, Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita
Roma 5:8

Bacaan: Roma 5:6-9
Setahun: Keluaran 8-10

Seorang pembicara mengangkat sebuah ilustrasi. “Seorang ayah, anaknya, dan teman anaknya berlayar ke Samudra Pasifik. Namun, ombak dan badai menyerang sehingga mereka terlempar ke laut. Karena hanya punya satu tali penyelamat, sang ayah harus memutuskan siapa yang akan ia tolong. Anaknya adalah seorang pengikut Kristus, sedangkan teman anaknya bukan. Akhirnya ia berteriak, ‘Aku mengasihimu, anakku!’ dan melemparkan tali itu kepada teman anaknya. Saat itu juga, anaknya menghilang ditelan gelombang. Begitu besarnya pula kasih Allah, sehingga Dia melakukan hal yang sama kepada kita.”

Usai kebaktian, dua remaja menghampiri si pembicara. “Saya pikir tidak realistis bila sang ayah mengorbankan anaknya dengan berharap teman anaknya itu akan mengikut Kristus.” “Benar sekali,” jawab si pembicara. “Tetapi sebesar itulah kasih Allah, buktinya … sayalah teman si anak itu.”

Roma 5:8 mengatakan kepada kita, “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita.” Ya, Yesus telah mati untuk semua orang, termasuk orang-orang yang belum percaya kepada Kristus. Oleh karena itu, kita yang sudah menerima keselamatan harus selalu mengingat mandat Allah bagi kita untuk “menjadikan semua bangsa murid-Ku” (Matius 28:19). Saat ini, pintu kemurahan Allah masih terbuka. Marilah kita bersaksi tentang cinta-Nya kepada orang-orang yang kita jumpai di sepanjang perjalanan hidup ini. Dia telah mengurbankan hidup-Nya agar seluruh isi dunia beroleh hidup yang kekal! —SST


TAK ADA YANG DAPAT MENANDINGI BESARNYA KASIH ALLAH

Roma 5:6-9
5:6 Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah.
5:7 Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar--tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati--.
5:8 Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.
5:9 Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.