• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Renungan Harian/Saat Teduh.

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. user.
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai
Jadi, jika seseorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa
Yakobus 4:17

Bacaan:
Lukas 10:25-37
Setahun: Keluaran 11-13

Ketika membaca perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati, biasanya perhatian kita tertuju pada orang Samaria . Padahal dengan memberikan perumpamaan itu, Yesus tidak hanya hendak menunjukkan kemurahan hati orang Samaria , tetapi juga hendak menunjukkan kejahatan imam dan orang Lewi!

Mengapa imam dan orang Lewi itu dikatakan jahat? Karena mereka tidak melakukan kebaikan yang seharusnya mereka lakukan. Mereka bisa menolong orang yang dirampok itu, tetapi dengan banyak pertimbangan mereka memilih untuk cuci tangan, tidak melakukan apa-apa.

Mungkin tidak banyak orang kristiani yang jatuh dalam dosa perzinaan, pembunuhan, pencurian, atau tindakan amoral lain, tetapi banyak orang kristiani jatuh dalam dosa ini: tidak melakukan apa-apa! Ya, ini dosa yang sering dilakukan orang kristiani. Yakobus 4:17 mengatakan bahwa jika seseorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa!

Tidak melakukan apa-apa adalah dosa! Ingatkah Anda perumpamaan tentang orang yang menerima satu talenta? Apa yang dikatakan tuannya ketika mendapati bahwa hamba yang menerima satu talenta ini tidak berbuat apa-apa? Tuan itu berkata bahwa ia adalah hamba yang jahat!

Untuk menjadi orang berdosa, Anda tidak perlu membunuh, merampok, atau berzina. Hanya dengan tidak berbuat apa-apa, kita menjadi orang berdosa! Hari ini, mari kita menjadi orang yang selalu melakukan kebaikan kepada siapa pun, kapan pun, dan di mana pun. Jangan sampai kita jatuh dalam dosa karena tidak berbuat apa-apa —PK

TUHAN MEMINTA KITA MENJADI ANAK-ANAK YANG AKTIF

Lukas 10:25-37
10:25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
10:26 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?"
10:27 Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."
10:28 Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup."
10:29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?"
10:30 Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.
10:31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.
10:32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.
10:33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
10:34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.
10:35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.
10:36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?"
10:37 Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"
 
Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus
Lukas 5:18

Bacaan: Lukas 5:17-26
Setahun: Keluaran 14-16

Ada sebuah cerita tentang seorang pemuda idealis yang sedang berjalan-jalan. Ia melihat seorang ibu gelandangan dengan dua anaknya yang masih balita tengah mengais makanan di tempat sampah. Ia begitu trenyuh. Dari trenyuh, ia menjadi marah kepada Tuhan. “Tuhan, mengapa Engkau tidak berbuat sesuatu untuk menolong keluarga gelandangan itu?” protesnya. Tuhan pun menjawab, “Aku sudah berbuat sesuatu. Dengan mengirimkan kamu kepada mereka!”

Kisah si lumpuh dalam bacaan hari ini adalah potret masyarakat kita. Orang lumpuh itu bisa muncul sebagai pemulung yang sakit dan hanya tergeletak di tikar karena tidak punya biaya ke rumah sakit. Atau, seorang pemuda yang bermasa lalu kelam hingga dikucilkan dan menjadi bahan gosip orang-orang di sekitarnya. Atau, seorang anak yang begitu nakal dan tidak terkendali karena salah didikan. Atau, seorang remaja yang merasakan kehampaan hidup lalu melarikan diri ke dugem. Mereka adalah orang-orang yang membutuhkan sapaan kasih Tuhan Yesus.

Apa yang sudah kita lakukan untuk si lumpuh? Dalam hidup ini tidak ada yang kebetulan. Di balik setiap kejadian yang kita lihat dan alami, pasti ada maksud Tuhan. Kalau Tuhan mengizinkan kita melihat “orang-orang lumpuh” itu di sekitar kita, pasti juga bukan tanpa sengaja. Tuhan ingin kita melakukan sesuatu untuk mereka.

Sudahkah kita mengambil sikap seperti beberapa orang yang dengan segala perjuangan menggotong si lumpuh kepada Tuhan Yesus? Jangan sampai kita malah menjadi seperti orang banyak itu, yang menghalangi si lumpuh untuk sampai kepada Tuhan Yesus! —AYA

DI BALIK SETIAP KEJADIAN YANG KITA LIHAT, DENGAR, ALAMI
SELALU ADA PESAN TUHAN AGAR KITA BERBUAT SESUATU

Lukas 5:17-26
5:17 Pada suatu hari ketika Yesus mengajar, ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan dari Yerusalem. Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit.
5:18 Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus.
5:19 Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus.
5:20 Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia: "Hai saudara, dosamu sudah diampuni."
5:21 Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: "Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?"
5:22 Akan tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu?
5:23 Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah?
5:24 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" --berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu--:"Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!"
5:25 Dan seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah.
5:26 Semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya: "Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan."
 
Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah
Galatia 6:9

Bacaan: Galatia 6:1-10
Setahun: Keluaran 17-19

Berikut ini adalah cerita dari mahasiswa-mahasiswa sebuah sekolah teologi. Saat memasuki semester akhir, mereka wajib melakukan pelayanan di desa. Dua orang mahasiswa setiap akhir pekan melayani di gereja kecil di sebuah desa. Seusai pelayanan, mereka selalu mendapatkan sepiring pisang goreng pemberian seorang nenek yang tinggal di desa itu. Nenek itu bernama Mbah Ginuk. Selalu begitu.

Suatu kali karena usia tua, Mbah Ginuk meninggal dunia. Para mahasiswa yang biasa melayani di gereja di desa Mbah Ginuk merasa sangat kehilangan. Mereka berangkat pelayanan dengan hati sedih, bukan saja karena tidak lagi akan mendapatkan pisang goreng yang enak, tetapi juga rindu kepada Mbah Ginuk yang memperlakukan mereka seperti cucu sendiri. Namun, yang mengejutkan mereka, setelah mereka selesai melakukan pelayanan, di pastori terhidang sepiring pisang goreng yang tidak kalah lezatnya. “Lo, siapa yang mengirim pisang goreng ini?” tanya mereka dengan nada ingin tahu campur gembira. “Tetangga Mbah Ginuk yang menyediakannya!” ujar orang yang ditanya.

Ternyata kebaikan hati Mbah Ginuk yang itu menjadi inspirasi bagi tetangganya yang juga sudah tua untuk melakukan hal yang sama. Demikianlah perbuatan baik akan melahirkan perbuatan baik lainnya. Maka, seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus, marilah kita tidak jemu-jemu untuk berbuat baik. Pasti ada banyak cara bagi kita untuk meneladani Mbah Ginuk. Marilah kita menyediakan “pisang goreng” kita sendiri bagi orang-orang yang ada di sekitar kita —XQP

KEBAIKAN HATI TAK DIUKUR DARI BANYAKNYA PEMBERIAN KITA
TETAPI KETULUSAN HATI YANG MENGIRINGINYA

Galatia 6:1-10
6:1 Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.
6:2 Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.
6:3 Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri.
6:4 Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.
6:5 Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.
6:6 Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu.
6:7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.
6:8 Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.
6:9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.
6:10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.
 
... dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit .... Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan harta milik mereka
Lukas 8:2,3

Bacaan: Lukas 7:36-38, 47-8:3
Setahun: Keluaran 23-25

Abraham Lincoln, mantan presiden AS, mempunyai seorang lawan politik bernama Stanton . Semasa kampanye, orang ini selalu menjelek-jelekkannya; menjulukinya “badut licik murahan”, bahkan “gorila”. Namun Lincoln tak membalas, bahkan ketika terpilih menjadi presiden, ia mengangkat Stanton sebagai sekretaris negara! “Karena dialah orang yang terbaik,” katanya. Dan benar, sejarah mencatat bahwa Stanton adalah sekretaris negara yang sangat loyal. Saat Lincoln meninggal, Stanton memandang jenazahnya di peti mati dengan cucuran air mata. “Di peti mati ini terbaring seorang pemimpin terhebat yang pernah saya kenal,” katanya. Lincoln hebat, sebab ia berani mengampuni dan memercayai orang yang pernah menyakiti hatinya.

Tuhan Yesus pun terkenal suka mengampuni dan memberi kesempatan baru bagi pendosa. Dalam Lukas 7 diceritakan bagaimana Dia mengampuni perempuan berdosa yang dianggap sampah masyarakat. Tidak hanya itu. Ia diberi kesempatan untuk melayani bersama rombongan Yesus (8:1-3). Dipercaya. Di kelompok itu ada juga perempuan yang sudah disembuhkan dari roh-roh jahat, serta istri pejabat (bendahara Herodes) yang masa lalunya kelam. Ditinjau dari track record-nya, mereka bukan kandidat unggulan. Namun, Yesus memandang mereka dengan kacamata positif. Jika seseorang diampuni dan dipercaya, pasti ia berubah menjadi lebih baik.

Apakah Anda memiliki kacamata positif dalam memandang orang lain? Jika seseorang pernah melukai hati, bahkan mengkhianati Anda, dapatkah Anda memberinya kesempatan? Memercayainya sekali lagi? —JTI

ORANG TERKUBUR JIKA DISISIHKAN
ORANG TERHIBUR JIKA DIBERI KESEMPATAN

Lukas 7:36-38, 47-8:3
7:36 Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan.
7:37 Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi.
7:38 Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.

7:47 Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih."
7:48 Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni."
7:49 Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: "Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?"
7:50 Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!"

8:1 Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia,
8:2 dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat,
8:3 Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.
 
Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya
Amsal 11:3

Bacaan: Amsal 11:1-6
Setahun: Keluaran 26-28

Suatu kali beberapa orang guru berusaha mengungkapkan kecurangan yang terjadi pada pelaksanaan Ujian Nasional. Sikap mereka ini cukup berani mengingat bahwa guru-guru yang lain memilih diam untuk menghindari risiko dipecat atau diminta mengundurkan diri. Begitu juga ketika isu danang nonbudgeter sebuah departemen yang mengampu hajat hidup orang banyak, muncul ke permukaan. Hampir semua pihak yang dikabarkan menerima dan menikmati danang nonbudgeter tersebut serentak menyangkal keterlibatan mereka atau mencari “kambing hitam”.

Rupanya, kejujuran semakin jarang dijumpai dalam kehidupan kita. Hampir pada semua aspek kehidupan ini, kita menjumpai semakin banyak kecurangan, perselingkuhan, atau korupsi, baik yang berskala kecil maupun besar. Berani bersikap jujur kemudian mengandung konsekuensi bahwa kita juga harus berani untuk menerima risiko dicap sebagai orang yang melawan arus. Apalagi istilah “jujur hancur” sudah begitu nyata terjadi di masyarakat kita.

Lalu, bagaimana dengan kita, para pengikut Kristus? Apakah kita pun harus ikut berkompromi dengan dunia yang sudah begitu tercemar ini? Jawabannya jelas “tidak”! Firman-Nya mengingatkan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna” (Roma 12:2). Marilah kita senantiasa memohon pimpinan Roh Kudus agar kita mampu bertahan dan tidak terbawa arus cemar dunia ini! —NDA

SAAT KITA MULAI BERLATIH UNTUK TIDAK JUJUR
MAKA KITA SEDANG MULAI MENENUN SEBUAH PERANGKAP—Sir Walter Scott

Amsal 11:1-6

11:1. Neraca serong adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat.
11:2. Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati.
11:3. Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya.
11:4. Pada hari kemurkaan harta tidak berguna, tetapi kebenaran melepaskan orang dari maut.
11:5. Jalan orang saleh diratakan oleh kebenarannya, tetapi orang fasik jatuh karena kefasikannya.
11:6. Orang yang jujur dilepaskan oleh kebenarannya, tetapi pengkhianat tertangkap oleh hawa nafsunya.
 
Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini .... Ini tidak lain dari rumah Allah,
ini pintu gerbang surga

Kejadian 28:16,17

Bacaan: Kejadian 28:10-22
Setahun: Keluaran 29-31

Menimang dan bercanda dengan anak-anak adalah sukacita yang tak tergantikan. Namun, betapa sulitnya menemukan momen itu lagi saat anak-anak sudah bisa berjalan dan berlari. Jika mereka merasa nyaman dengan situasi sekitar, mereka akan berlari riang ke sana kemari. Dan, jangan harap bisa menggendong mereka di saat-saat seperti itu! Mereka akan berusaha membelot dan melepaskan diri sekuat tenaga dari pelukan kita.

Suatu malam, ketika anak-anak saya sedang bermain, tiba-tiba listrik padam. Seluruh rumah gelap gulita. Suasana hening mencekam. “Papa! Papa di mana?” teriak anak-anak saya ketakutan. “Tenang, Papa di sini,” kata saya sambil segera memeluk dan menggendong mereka. Pelukan tangan yang mungil dan degupan jantung mereka terasa jelas. Kedekatan dan keintiman seperti inilah yang saya dambakan.

Kisah pelarian Yakub dari Barsyeba ke Padan Aram menggambarkan kontras yang menarik. Pintu rumah ayahnya tertutup karena dendam dan amarah Esau yang berniat membunuhnya (Kejadian 27:42). Namun, pintu gerbang surga (28:17) terbuka untuk Yakub. Perhatikan sapaan lembut penuh kasih Allah Abraham, neneknya, dan Allah Ishak, ayahnya (ayat 13), serta janji berkat dan penyertaan yang luar biasa bagi Yakub, si penipu (ayat 13-15).

Dunia dengan segala keasyikannya sering membuat kita terlena dan lupa kepada Sang Pemberi Berkat. Ketika “listrik padam”, baru kita menyadari kehadiran Bapa yang merindukan kita. Yakub memberikan respons positif terhadap pernyataan Allah yang dahsyat (ayat 17). Ia mendirikan tugu (ayat 18), akan mendirikan rumah Allah serta memberi perpuluhan (ayat 22). Bagaimana dengan kita? —WP

DEKAT DENGAN HATI ANAK-NYA—ITULAH KERINDUAN BAPA
MARI SAMBUT HANGAT DENGAN KASIH YANG MENYALA

Kejadian 28:10-22
28:10 Maka Yakub berangkat dari Bersyeba dan pergi ke Haran.
28:11 Ia sampai di suatu tempat, dan bermalam di situ, karena matahari telah terbenam. Ia mengambil sebuah batu yang terletak di tempat itu dan dipakainya sebagai alas kepala, lalu membaringkan dirinya di tempat itu.
28:12 Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu.
28:13 Berdirilah TUHAN di sampingnya dan berfirman: "Akulah TUHAN, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu.
28:14 Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya, dan engkau akan mengembang ke sebelah timur, barat, utara dan selatan, dan olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.
28:15 Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke manapun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu."
28:16 Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia: "Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya."
28:17 Ia takut dan berkata: "Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga."
28:18 Keesokan harinya pagi-pagi Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu menjadi tugu dan menuang minyak ke atasnya.
28:19 Ia menamai tempat itu Betel; dahulu nama kota itu Lus.
28:20 Lalu bernazarlah Yakub: "Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai,
28:21 sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku.
28:22 Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu."
 
Sadarlah dan berjaga-jagalah!
1 Petrus 5:8

Bacaan: 1 Raja-raja 11:1-9
Setahun: Keluaran 32-34

Banyak hal besar berawal dari hal kecil. Kebakaran hutan tidak jarang berawal dari sebuah puntung rokok menyala yang dibuang sembarangan. Tawuran yang melibatkan dua fakultas di sebuah perguruan tinggi tidak jarang berawal dari “tatap-tatapan” dua mahasiswanya. Para pendaki gunung tahu persis, tantangan yang paling merepotkan mereka bukan jalanan terjal atau jurang curam, tetapi kerikil-kerikil kecil yang masuk ke kaus kaki mereka.

Begitu juga dengan dosa. Jangan bermain-main dengan dosa sesepele apa pun. Sebab, “yang kecil” itu justru bisa menjadi pintu masuk “yang besar”. Narkoba tidak jarang awalnya adalah kebiasaan merokok, dan kebiasaan merokok awalnya dari coba-coba sebatang dua batang rokok. Perzinaan atau pemerkosaan tidak jarang berawal dari film porno. Pembunuhan sadis tidak jarang berawal dari ucapan yang mengejek.

Hal ini juga terjadi pada Raja Salomo. Siapa tidak kenal Salomo, Raja Israel yang terkenal bijaksana? Kerajaan Israel mencapai puncak keemasan ketika berada di bawah pemerintahannya. Betul, kerajaannya adalah warisan Daud, ayahnya, tetapi kita tidak dapat memungkiri kehebatan Salomo dalam menangani masalah-masalah kenegaraan. Tragisnya, kebesaran Salomo justru kandas karena ia tidak tahan menghadapi “godaan” istri-istrinya. Bacaan kita mencatat akhir tragis perjalanan Salomo.

Dalam segala keadaan, selalu mawas diri itu perlu. Seperti apa yang dikatakan Rasul Petrus, “Sadarlah dan berjaga-jagalah!” (1 Petrus 5:8). Jangan karena merasa bahwa sesuatu itu hanya masalah “kecil”, lalu kita membiarkan diri dijerat olehnya —AYA

TIDAK ADA DOSA YANG TERLALU KECIL UNTUK KITA REMEHKAN

1 Raja-raja 11:1-9

11:1 Adapun raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Di samping anak Firaun ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het,
11:2 padahal tentang bangsa-bangsa itu TUHAN telah berfirman kepada orang Israel: "Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan merekapun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka." Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta.
11:3 Ia mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN.
11:4 Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya.
11:5 Demikianlah Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon, dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amon,
11:6 dan Salomo melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, dan ia tidak dengan sepenuh hati mengikuti TUHAN, seperti Daud, ayahnya.
11:7 Pada waktu itu Salomo mendirikan bukit pengorbanan bagi Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, di gunung di sebelah timur Yerusalem dan bagi Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon.
11:8 Demikian juga dilakukannya bagi semua isterinya, orang-orang asing itu, yang mempersembahkan korban ukupan dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka.
11:9 Sebab itu TUHAN menunjukkan murka-Nya kepada Salomo, sebab hatinya telah menyimpang dari pada TUHAN, Allah Israel, yang telah dua kali menampakkan diri kepadanya,
 
Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa
Lukas 15:18

Bacaan: Lukas 15:11-24
Setahun: Keluaran 35-37

Bagi orang Jepang, rasa malu atas kesalahan dan kegagalan yang mereka alami bisa tampak sebagai masalah yang begitu besar. Oleh karena itu, demi menghapus rasa malu semacam ini, mereka berani melakukan tindakan harakiri (bunuh diri).

Dalam setiap hidup kita, rasa malu dan sesal pasti akan muncul saat kita menyadari telah salah melangkah atau meng*alami kegagalan. Perumpamaan tentang anak hilang yang diberikan oleh Tuhan Yesus memberi kekuatan dan keberanian kepada kita.

Setelah si anak hilang menyadari kesalahannya, ia sungguh merasa malu dan menyesal. Malu pada orang-orang yang mengenalnya, malu pada masyarakatnya, terutama malu pada keluarganya, khususnya pada sang ayah yang pernah ia sakiti. Rasa malu yang begitu menguasai bisa saja membuatnya putus asa dan ingin mengakhiri hidup. Namun, apakah yang dapat kita pelajari dalam perumpamaan ini? Si anak hilang tidak berhenti pada rasa malu dan sesal saja. Ia mempunyai keberanian untuk mengakui segala dosanya. Ia berani melawan rasa malunya dengan pulang dan menghadapi bapanya. Dengan segala risikonya. Ia pulang dengan hati yang siap menerima konsekuensi atas kesalahannya, bahkan jika ia harus kehilangan status sebagai anak.

Terkadang rasa malu atas kesalahan kita tak tertahankan. Namun, kita memiliki Bapa surgawi yang penuh kasih dan mau mengampuni. Mari kita beranikan diri untuk datang kepada-Nya dengan pertobatan, Dia siap menerima kita kembali dan memulihkan kita dari keterpurukan —NDA

BERHENTILAH MENYESAL
ATAU ANDA AKAN KEHILANGAN HIDUP ANDA—Jonathan Larson

Lukas 15:11-24
15:11 Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.
15:12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.
15:13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.
15:14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat.
15:15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya.
15:16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya.
15:17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.
15:18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,
15:19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.
15:20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.
15:21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.
15:22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.
15:23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.
15:24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.
 
Demikianlah Mefiboset diam di Yerusalem, sebab ia tetap makan sehidangan dengan raja. Adapun kedua kakinya timpang
2 Samuel 9:13

Bacaan:
2 Samuel 9:1-13
Setahun: Keluaran 38-40

Namanya Mefiboset. Ia timpang karena terjatuh dari gendongan pengasuhnya saat berusia lima tahun. Selanjutnya ia dibesarkan di Lodebar, sebuah tempat yang tandus tanpa padang rumput. Sungguh cocok dengan kondisi hidupnya. Ia meratap dengan menyebut dirinya seperti anjing mati, binatang najis yang telah kehilangan nyawa (ayat 8).

Suatu saat, Daud, raja Israel dan sahabat ayahnya, memanggilnya ke istana. Mengingat kasih dan persahabatannya dengan Yonatan, ayah Mefiboset, Daud memperlakukan Mefiboset sebagai salah seorang anaknya. Harta milik dan hak-hak pria timpang itu dipulihkan. Selanjutnya Mefiboset menetap di Yerusalem, kota damai sejahtera, dan senantiasa makan sehidangan dengan raja.

Mefiboset mewakili kita semua, orang-orang yang timpang akibat dosa. Kita terbuang dari hadapan Tuhan dan tinggal di Lodebar, menjalani kehidupan yang gersang tanpa pengharapan. Seperti Mefiboset, kita juga tak ubahnya anjing mati karena upah dosa adalah maut.

Tindakan Daud, di sisi lain, secara kuat menggambarkan anugerah Allah. Allah menebus kita dari dosa bukan karena perbuatan baik kita, melainkan semata-mata karena kasih-Nya yang besar. Dia mengangkat kita sebagai anak-Nya dan memberi damai sejahtera. Dan kita diizinkan untuk makan sehidangan dengan-Nya, bersekutu dengan Raja segala raja, dan memperoleh kehidupan yang kekal!

Anugerah Allah mendatangkan perubahan hidup yang sangat drastis. Atas semuanya itu, kita patut menjalani kehidupan baru ini dengan penuh sukacita dan ucapan syukur —ARS

DOSA MEMBINASAKAN
ANUGERAH MENGHIDUPKAN

2 Samuel 9:1-13
9:1 Berkatalah Daud: "Masih adakah orang yang tinggal dari keluarga Saul? Maka aku akan menunjukkan kasihku kepadanya oleh karena Yonatan."
9:2 Adapun keluarga Saul mempunyai seorang hamba, yang bernama Ziba. Ia dipanggil menghadap Daud, lalu raja bertanya kepadanya: "Engkaukah Ziba?" Jawabnya: "Hamba tuanku."
9:3 Kemudian berkatalah raja: "Tidak adakah lagi orang yang tinggal dari keluarga Saul? Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah." Lalu berkatalah Ziba kepada raja: "Masih ada seorang anak laki-laki Yonatan, yang cacat kakinya."
9:4 Tanya raja kepadanya: "Di manakah ia?" Jawab Ziba kepada raja: "Dia ada di rumah Makhir bin Amiel, di Lodebar."
9:5 Sesudah itu raja Daud menyuruh mengambil dia dari rumah Makhir bin Amiel, dari Lodebar.
9:6 Dan Mefiboset bin Yonatan bin Saul masuk menghadap Daud, ia sujud dan menyembah. Kata Daud: "Mefiboset!" Jawabnya: "Inilah hamba tuanku."
9:7 Kemudian berkatalah Daud kepadanya: "Janganlah takut, sebab aku pasti akan menunjukkan kasihku kepadamu oleh karena Yonatan, ayahmu; aku akan mengembalikan kepadamu segala ladang Saul, nenekmu, dan engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku."
9:8 Lalu sujudlah Mefiboset dan berkata: "Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?"
9:9 Lalu raja memanggil Ziba, hamba Saul itu, dan berkata kepadanya: "Segala sesuatu yang adalah milik Saul dan milik seluruh keluarganya kuberikan kepada cucu tuanmu itu.
9:10 Engkau harus mengerjakan tanah baginya, engkau, anak-anakmu dan hamba-hambamu, dan harus membawa masuk tuaiannya, supaya cucu tuanmu itu ada makanannya. Mefiboset, cucu tuanmu itu, akan tetap makan sehidangan dengan aku." Ziba mempunyai lima belas orang anak laki-laki dan dua puluh orang hamba.
9:11 Berkatalah Ziba kepada raja: "Hambamu ini akan melakukan tepat seperti yang diperintahkan tuanku raja kepadanya." Dan Mefiboset makan sehidangan dengan Daud sebagai salah seorang anak raja.
9:12 Mefiboset mempunyai seorang anak laki-laki yang kecil, yang bernama Mikha. Semua orang yang diam di rumah Ziba adalah hamba-hamba Mefiboset.
9:13 Demikianlah Mefiboset diam di Yerusalem, sebab ia tetap makan sehidangan dengan raja. Adapun kedua kakinya timpang.
 
Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun sujud di depan Yesus dan berkata, “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa”
Lukas 5:8

Bacaan: Lukas 5:1-11
Setahun: Imamat 1-3

Pernah tersetrum listrik? Bagaimana rasanya? Maukah Anda mengulangi? Tidak bukan? Itu wajar. Namun, bagaimana bila yang Anda alami adalah “tersetrum” Tuhan?

Seusai mengajar dari atas perahu, Yesus menyuruh Simon bertolak ke tempat yang lebih dalam dan menangkap ikan. Seketika nelayan kawakan ini memprotes, tetapi akhirnya ia patuh. Hasilnya? Mukjizat. Perahunya penuh ikan hingga hampir tenggelam. Lalu ada satu hal menarik yang terjadi dalam diri Simon. Ia menyadari ketidaklayakannya untuk mengalami rahmat itu.

Mengalami mukjizat justru membuat Simon mengakui keadaannya sebagai orang berdosa. Biasanya jika seseorang mengalami mukjizat, ia merasa senang bahkan sangat bangga. Namun, Simon justru gentar. Pengalaman dengan Yesus sungguh membuatnya terpesona sekaligus takut. Katanya, “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa” (ayat 8). Pergikah Yesus? Tidak. Yesus justru mengundang Simon untuk lebih dekat kepada-Nya. Bahkan sangat dekat. Yesus ingin mengubahkan Simon—yang menyadari bahwa dirinya tidak layak—menjadi Petrus yang akan “menjala” manusia-manusia lain dengan “jala” rahmat Tuhan.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda pernah tergetar karena karya Tuhan? Mungkin pernah, bahkan sering. Permasalahannya, apa yang menjadi buah dari getaran itu? Rasa bangga dan pongah rohani sembari membanding-bandingkannya dengan pengalaman orang lain? Atau, justru sebaliknya: kerendahan hati yang menebarkan rahmat Tuhan bagi semua orang? Mari temukan mana yang sepantasnya kita rayakan —DKL

AMBILLAH WAKTU UNTUK MENEMUKAN RASA DAMAI,
DAYA ILAHI, DAN RASA CINTA—Phil Bosman​


Lukas 5:1-11

5:1 Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah.
5:2 Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya.
5:3 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.
5:4 Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan."
5:5 Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."
5:6 Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.
5:7 Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.
5:8 Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa."
5:9 Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap;
5:10 demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia."
5:11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.
 

Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.

1 Korintus 15:33


Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 32; Kisah Para Rrasul 4; Keluaran 13-14

Pernahkah Anda tiba-tiba merasakan jenuh dengan rutinitas harian Anda? Bahkan ide-ide kreatif sepertinya sudah mulai tersendat alirannya. Seolah-olah segala hal yang Anda lakukan hanya seperti rekaman film yang diulang berkali-kali. Hari demi hari itu-itu saja yang terjadi. Saya juga pernah mengalami hal seperti itu. Namun kalau kita mau menata ulang kehidupan kita, ada banyak hal dapat dilakukan untuk menambah inspirasi, kegairahan dan kebahagiaan kita.

Misalnya, untuk pencapaian target, kita bisa menyusun kembali rencana perbaikan untuk tiga bulan ke depan. Untuk keseimbangan kehidupan sosial, kita bisa mendonasikan beberapa barang bekas kepada yang memerlukan. Carilah buku atau DVD favorit dan nikmatilah dengan sepenuh hati. Setelah menjelang akhir pekan, kita bisa pergi makan bersama orang-orang terdekat sambil bercengkerama dengan santai tanpa perlu membahas hal-hal yang berat dan monoton. Keesokan paginya, bangun lebih pagi dan berjalan menelusuri jalan-jalan di sekitar rumah sambil menyapa tetangga-tetangga. Atau bila ada sport center di dekat rumah, Anda bisa mengunjuginya untuk menjaga kebugaran tubuh. Setelah itu habiskan waktu berdua bersama seseorang yang kita cintai. Entah itu sekedar pergi ke mall atau bertamasya.

Kita hanya melewati dunia ini sekali saja. Maka, kebajikan apa pun yang dapat kita lakukan bagi siapapun, lakukanlah sekarang juga. Jangan menunda atau melalaikannya. Buatlah hidup Anda menjadi lebih efektif dan seimbang.

Sesuatu yang mengagumkan tanpa disadari terkadang ada di depan mata kita.
 
Mengapa engkau melihat serpihan di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di matamu sendiri tidak engkau ketahui?
Lukas 6:41
Bacaan: Lukas 6:41-42
Setahun: Imamat 16-18

Seusai kebaktian, dua pemuda berjalan sambil bercakap-cakap. “Keterlaluan sekali Bapak yang duduk di depan kita tadi! Sudah tidur, dengkurannya keras lagi.” Pemuda pertama mengomel. Tak mau kalah, pemuda kedua juga ikut mengomel, “Bapak tadi memang keterlaluan, dengkurannya membuat saya terbangun.”

Melihat kelemahan orang lain memang mudah, tetapi tak mudah menyadari kesalahan sendiri. Banyak orang kristiani juga mengomel dan mengeluhkan kelemahan orang lain atau mencela mereka yang berbuat salah. Tanpa disadari mereka juga bisa melakukan kesalahan yang sama.

Mari kita belajar untuk berhenti menghakimi dan mencari-cari kesalahan orang lain, sebab jika hal ini terus kita lakukan, kita tidak akan pernah memiliki waktu untuk menilai diri sendiri. Itu bisa menjadikan kita munafik, seperti orang Farisi dan ahli Taurat yang dikecam oleh Tuhan Yesus. Hal ini kelihatannya sepele, tetapi kalau tidak cepat diatasi, tanpa sadar kita membangun tembok kesombongan yang tinggi. Kita akan selalu merasa paling benar, paling suci, paling rohani.

Firman Allah hari ini menasihati; daripada kita mencari-cari kesalahan orang lain yang dapat dikritik dan dihakimi, lebih baik kita melihat keberadaan diri sendiri di hadapan Allah. Kita harus belajar menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada manusia yang tak pernah berbuat salah. Kalau kita mau jujur, bukankah kita juga pernah salah? Kalau kita sendiri kadang juga berbuat salah, mengapa kita sibuk mencari-cari kesalahan orang lain? —PK

Lebih mudah meNEMUKAN kesalahan kecil orang lain
daripada menYADARI kesalahan besar diri sendiri

Lukas 6:41-42
6:41 Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?
6:42 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."
 
@cute carity
thx buat renungannya, kiranya Tuhan senantiasa memberkati kamu yang sudah rajin mengisi renungan yang menjadikan setiap pembaca diberkati karena membaca post kamu. Gbu :)
 
I sat alone because Your hand was on me.
Jeremiah 15:17 NIV



Being alone isn't always a bad thing. In fact there are times when it's absolutely necessary in order to hear from God. The Bible points out that Jesus: (a) "often withdrew to lonely places and prayed" (Luke 5:16 NIV); (b) "withdrew by boat privately to a solitary place" (Matthew 14:13 NIV); (c) "went up on a mountain side by Himself to pray. When evening came, He was there alone" (Matthew 14:23 NIV); (d) "when He was alone, the Twelve… asked Him about the parables" (Mark 4:10 NIV). In the Old Testament, "Jacob was left alone, and a man wrestled with him till daybreak" (Genesis 32:24 NIV).

Your greatest Spiritual victories come from the battles God calls you to fight when you're alone. Most times He outlines and clarifies His plans for your life when there's nobody else around. That's because He wants you to be more influenced by Him than by them! When God's grooming you for a special work you'll be required to spend time outside the company of others. In Exodus God said, "Moses alone is to approach… the people may not come up with him" (Exodus 24:2 NIV). When Elijah spent the night alone in a cave, God told him to "go out and stand on the mountain… for the Lord is about to pass by" (1 Kings 19:11 NIV). Daniel "was left alone, gazing at this great vision" (Daniel 10:8 NIV), and Jeremiah wrote: "I sat alone because Your hand was on me."

Learn to understand the difference between being lonely and being alone. When God sidelines you consider it an honour, glean all you can, then move to the next level.


Daily Bible Reading:
Romans 7:1-9:16, Matthew 15:15-28, Psalm 134, Proverbs 4:5-13
 
Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu
Amsal 3:21
Bacaan: Amsal 3:21-26
Setahun: Bilangan 1-3

Konon di Tiongkok pernah hidup seorang hakim yang sangat dihormati karena tegas dan jujur. Ia memutuskan setiap perkara dengan adil, tanpa pandang bulu. Suatu hari, dua orang menghadap sang hakim. Mereka bertengkar hebat dan nyaris beradu fisik. Keduanya meminta keputusan atas kasus mereka, yang sebenarnya sangat sederhana. Keduanya berdebat tentang hitungan 3x7. Yang satu mengatakan hasilnya 21, yang lain bersikukuh mengatakan hasilnya 27. Ternyata sang hakim memvonis cambuk 10 kali bagi orang yang menjawab benar. Spontan si terhukum memprotes. Sang hakim menjawab, “Kamu bodoh, mau-maunya berdebat dengan orang bodoh yang tidak tahu kalau 3x7 adalah 21!”

Tentu saja itu hanya cerita rekaan. Hikmah dari cerita ini adalah bahwa jika kita sibuk memperdebatkan sesuatu yang tak berguna, berarti kita juga sama salahnya atau bahkan lebih salah daripada orang yang memulai perdebatan. Sebab dengan sadar kita membuang waktu dan energi untuk hal yang tidak perlu. Bukankah kita sering mengalaminya? Bisa terjadi dengan pasangan hidup, tetangga, atau kolega. Berdebat atau bertengkar untuk hal-hal yang tidak ada gunanya, hanya akan menguras energi percuma.

Ada saatnya kita mengalah untuk perdebatan atau pertengkaran yang sia-sia. Mengalah bukan berarti kalah, bukan? Untuk itu kita perlu mempertimbangkannya dengan bijaksana. Seperti kata Amsal 3:21, “... janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu.” Memang tak mudah. Kita hanya dapat melakukannya dengan hati bersandar kepada Tuhan (ayat 26), hingga kita pun berjalan dengan aman, tanpa terantuk (ayat 23) —NDA

HANYA ORANG BODOH YANG TIDAK BISA MARAH
TETAPI SUNGGUH ARIF ORANG YANG TIDAK SUKA MARAH

Amsal 3:21-26
3:21 Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu,
3:22 maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu.
3:23 Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman, dan kakimu tidak akan terantuk.
3:24 Jikalau engkau berbaring, engkau tidak akan terkejut, tetapi engkau akan berbaring dan tidur nyenyak.
3:25 Janganlah takut kepada kekejutan yang tiba-tiba, atau kepada kebinasaan orang fasik, bila itu datang.
3:26 Karena Tuhanlah yang akan menjadi sandaranmu, dan akan menghindarkan kakimu dari jerat.
 
Kalaupun seseorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan
Galatia 6:1

Bacaan: Matius 18:15-18
Setahun: Bilangan 4-6

Kerap kali kita segan menegur orang lain yang melakukan kesalahan, dengan banyak alasan: “diam adalah emas”, “nanti akan segera dilupakan”, “takut membuat orang tersinggung dan menjadi marah”, “saya sendiri belum sempurna”. Namun, Alkitab justru mengajar kita untuk membudayakan tegur-menegur dalam hidup bergereja.

Pertama, bila kita tahu bahwa seseorang bersalah, jangan berdiam diri saja. Kita perlu menegur untuk mengingatkannya. Namun, kita harus mendapatkan data dan fakta tentang pelanggaran tersebut, bukan asal percaya gosip. Tegur ia terlebih dahulu secara pribadi, mungkin memang ia tidak menyadari kesalahannya itu (Matius 18:15). Kedua, kita harus memimpin orang ke jalan yang benar, artinya tidak mengkritik secara destruktif, tetapi memberi pemecahan yang membangun. Lebih bijaksana lagi bila kita mengawali dengan pertanyaan; sebab mungkin saja kita yang salah mengerti. Ketiga, jangan menyerah kalau ternyata orang itu tidak mau ditegur. Mewujudkan niat baik terhadap orang lain kadang juga perlu perjuangan. Libatkan pihak kedua atau ketiga yang berkompeten untuk bersama-sama menegurnya (ayat 16). Keempat, jika ia memang tak mau juga dinasihati, bawalah masalahnya ke jemaat (ayat 17). Supaya jemaat sebagai persekutuan orang percaya bisa turut membantunya. Dan kelima, yang juga penting adalah, menegur sambil mawas diri. Jangan sampai kita sendiri jatuh dalam kesalahan yang sama. Ya, kita perlu memiliki kerendahan hati agar dapat menegur sebagai sahabat yang solider (Galatia 6:1).

Mari kita budayakan tegur-menegur yang alkitabiah, agar gereja semakin bertumbuh! —ACH


Membiarkan teman terus hidup di dalam dosa
bukanlah SIKAP sahabat yang baik

Matius 18:15-18
18:15 "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.
18:16 Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.
18:17 Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.
18:18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.
 
Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal
Yeremia 31:3


Bacaan: Mazmur 136:1-9
Setahun: Bilangan 7-9

Dunia ini sarat dengan perubahan. Tak ada satu hal pun di dunia ini yang akan bertahan untuk selamanya. Baju yang kita kenakan hari ini mungkin pernah menjadi baju favorit kita di waktu yang lalu, tetapi seiring dengan waktu, baju itu terlihat begitu biasa. Mobil kita yang ketika masih baru mungkin sering kita bangga-banggakan, tetapi lihatlah sekarang, kita kesal dengan mobil yang sudah mulai sering rawat inap di bengkel. Empat puluh tahun lalu mungkin kita termasuk gadis cantik yang jadi rebutan banyak orang, tetapi sekarang, siapa yang peduli pada nenek-nenek yang sudah peyot?

Itulah kehidupan di dunia. Tak ada yang kekal. Tak ada yang bisa bertahan untuk selamanya. Hanya satu yang tetap kekal; kasih Allah! Allah mengasihi kita dengan kasih yang tidak pernah berubah. Tidak pernah berhenti. Allah mengasihi kita untuk selamanya.

Saat kita berbuat dosa dan membutuhkan pengampunan Tuhan, ingatlah bahwa kasih-Nya kekal. Saat kita memasuki masa-masa sulit, ingatlah bahwa kasih Tuhan itu kekal. Jika di waktu lalu Tuhan pernah menolong kita dengan cara yang ajaib, tidak mustahil hari ini kita juga akan mengalami lagi pengalaman yang dahsyat bersama dengan Tuhan. Sebagaimana pemazmur menulis, “Kasih setia Tuhan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya” (Mazmur 103:17).

Jika Tuhan mengasihi kita dengan kasih kekal, lalu bagaimana kita mengasihi Dia? Marilah kita mengasihi Allah semaksimal yang kita mampu, sebagaimana Allah sudah mengasihi kita semaksimal yang Dia mampu. Dalam situasi dan kondisi apa pun —PK

BUKANKAH HIDUP KITA SUNGGUH TERJAMIN
KARENA KASIH YANG KEKAL ADA DALAM HIDUP KITA?


Mazmur 136:1-9
136:1 Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
136:2 Bersyukurlah kepada Allah segala allah! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
136:3 Bersyukurlah kepada Tuhan segala tuhan! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
136:4 Kepada Dia yang seorang diri melakukan keajaiban-keajaiban besar! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
136:5 Kepada Dia yang menjadikan langit dengan kebijaksanaan! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
136:6 Kepada Dia yang menghamparkan bumi di atas air! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
136:7 Kepada Dia yang menjadikan benda-benda penerang yang besar; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
136:8 Matahari untuk menguasai siang; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
136:9 Bulan dan bintang-bintang untuk menguasai malam! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
 
Kasih itu sabar; kasih itu baik hati; ia tidak cemburu
1 Korintus 13:4

Bacaan: 1 Korintus 13:4-7
Setahun: Bilangan 10-12

Cemburu adalah perasaan marah atau pahit yang muncul ketika ada orang yang kita anggap akan merebut kekasih kita. Banyak orang mengatakan, cemburu adalah tanda cinta. Bukankah orang menjadi cemburu karena merasa sangat memiliki dan tidak rela kehilangan kekasihnya?

Sebenarnya cemburu tidak selalu identik dengan tanda cinta. Alkitab menyatakan “kasih ... tidak cemburu” (1 Korintus 13:4). Kadang kala sikap cemburu justru menunjukkan kurangnya kasih sejati. Mengapa demikian? Sebab rasa cemburu bisa muncul dari sikap egois. Kita memperlakukan kekasih seperti barang milik kita. Tanpa sadar, kita berusaha “mencetaknya” menjadi seperti yang kita inginkan. Ia tidak diberi ruang untuk bebas bergerak. Kita mencurigai segala hubungannya dengan orang lain. Kita tidak suka melihatnya bercanda dan tertawa bersama orang lain. Kita merampas sukacita hidupnya!

Rasa cemburu kerap kali muncul dalam relasi suami istri, mertua menantu, pemuda pemudi yang sedang berpacaran, bahkan dalam persahabatan. Tidak jarang, hal ini bukannya membuat hubungan semakin harmonis, malah merusak dan menjauhkan kita dari sang kekasih.

Bagaimana cara menghilangkan rasa cemburu? Surat 1 Korintus 13:7 mengatakan, “Kasih ... percaya segala sesuatu.” Kasih percaya akan kesetiaan orang lain. Kasih belajar melihat apa yang terbaik dalam diri sang kekasih, sehingga kita pun berhenti berprasangka buruk. Jika kita memiliki kasih yang percaya, kecemburuan akan lenyap! —JTI


KASIH TAK MENJADI LEBIH KUAT KARENA CEMBURU
KASIH DIPERKUAT OLEH SIKAP LEBIH PERCAYA


1 Korintus 13:4-7
13:4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
13:5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
13:6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
13:7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
 
Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya
Mazmur 139:16


Bacaan: Mazmur 139
Setahun: Bilangan 13-15


Marlin dan Coral, sepasang ikan badut, sedang menanti telur-telur mereka menetas. Mereka asyik membicarakan nama anak-anak mereka nanti. Mereka juga mengenang masa indah pertemuan mereka dulu. Namun, rupanya bahaya mengintai mereka. Seekor barakuda berkelebat dan menerjang sarang mereka! Akibatnya, Marlin kehilangan Coral dan seluruh telur mereka. Seluruhnya? Oh, ternyata masih tertinggal satu butir! Dengan penuh sayang Marlin melindungi telur itu, dan bertekad untuk selalu melindunginya. Nemo, nama ikan dari telur yang tersisa itu, sudah dicintai ayahnya, bahkan sebelum ia menetas.

Cinta Marlin dalam film Finding Nemo mengingatkan kita akan kasih ilahi. Namun kasih-Nya jauh lebih besar! Mari kita perhatikan. Manusia baru bisa menyambut bahagia seorang anak saat mereka tahu ada janin yang hadir dalam kandungan seorang wanita. Namun sungguh luar biasa Allah. Dia telah mencintai kita bahkan sebelum kita hadir di rahim ibu kita (ayat 13)!

Selanjutnya, orang mungkin menyukai kita karena berwajah cantik atau tampan, berdompet tebal, berbakat mengagumkan, berkedudukan tinggi, atau berjasa baik. Dengan kata lain, kita dicintai karena kinerja atau kebaikan kita. Namun, Allah mengasihi kita jauh sebelum kita mampu melakukan sesuatu bagi Dia (ayat 16). Allah bahkan tetap mengasihi sekalipun kita kerap memberontak kepada-Nya, karena Dia telah memutuskan untuk mengasihi kita.

Hari ini, sejak kita bangun di pagi hari, kasih Allah sudah menyambut kita. Mari kita menghambur ke dalam pelukan-Nya dan mengucap syukur! —ARS


TAK ADA KASIH YANG MAMPU MENYAMAI
KASIH ALLAH KITA


Mazmur 139
139:1. Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku;
139:2 Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.
139:3 Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.
139:4 Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.
139:5 Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku.
139:6 Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.

139:7. Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?
139:8 Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.
139:9 Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut,
139:10 juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.
139:11 Jika aku berkata: "Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam,"
139:12 maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang.
139:13 Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.
139:14 Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.
139:15 Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah;
139:16 mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.

139:17. Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!
139:18 Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir. Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau.
139:19 Sekiranya Engkau mematikan orang fasik, ya Allah, sehingga menjauh dari padaku penumpah-penumpah darah,
139:20 yang berkata-kata dusta terhadap Engkau, dan melawan Engkau dengan sia-sia.
139:21 Masakan aku tidak membenci orang-orang yang membenci Engkau, ya TUHAN, dan tidak merasa jemu kepada orang-orang yang bangkit melawan Engkau?
139:22 Aku sama sekali membenci mereka, mereka menjadi musuhku.
139:23 Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;
139:24 lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.