• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Renungan Harian/Saat Teduh.

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. user.
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai
25 Oktober 2007 -- K A M I S

Tubuhmu- Bait Allah | I Korintus 6:19-20

Perhatian utama dunia terhadap tubuh adalah penampilan secara lahiriah: Bagaimana cara berpenampilan berbeda? Bagaimana cara agar lebih menarik atau mendapat perhatian lebih? Sayang sekali, kesuksesan seringkali digantungkan pada kondisi tubuh kita.

Bagaimana menurut Anda Tuhan melihat tubuh manusia? Apakah Anda yakin bahwa Tuhan hanya tertarik pada jiwa dan roh, atau apakah Anda berharap Tuhan menaruh perhatian pada tubuh fisik Anda juga?

Disamping banyak kesalah pahaman umum, Tuhan lebih mengutamakan tubuh manusiawi kita. Rasul Paulus menegaskan ini di dalam I Korintus 6:19-20. Paulus berkata “ tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu.” Selanjutnya dalam II Korintus 6:16, Paulus menjelaskan tubuh kita adalah bait Allah. Konteks ayat ini mengungkapkan banyaknya kekeliruan umum sekarang. Orang-orang di Korintus memiliki pandangan sangat rendah tentang tubuh. Mereka percaya tubuh tidaklah penting, bahkan menganggap tubuh bak kuburan di mana jiwa terkurung di dalamnya.

Tanggapan Paulus penuh dinamis. Ia menjawab, “ Tidak! Tubuh bukanlah sebuah kuburan-ia adalah bait!” Tubuh menentukan kehormatan dan harga diri kita. Tubuh juga merupakan tempat kudus untuk memelihara penyembahan.
 
26 Oktober 2007 -- J U M A T

Apa Yang Terjadi Di Salib | Ibrani 10:1-14

Tuhan yang Kudus tidak kompromi dan tidak berhenti bersikap melawan semua bentuk kejahatan. Keadilan-Nya menuntut penebusan harus dilakukan atas tiap dosa.

Dalam Perjanjian Lama cara pengorbanan diatur oleh Tuhan, dan para imam melakukan pengorbanan bagi dosa bangsa-bangsa setiap hari (Keluaran 29:38-39). Setiap orang juga membawa korban domba-domba dan binatang-binatang lain ke bait sebagai tebusan untuk pelanggaran pribadi (Imamat 5:5-7). Korban dilakukan berulang-ulang dan dari hari ke hari karena darah binatang tidak dapat menghapus dosa. Namun, ketika Yesus, Anak Domba pilihan Tuhan, menyerahkan hidupNya sebagai pengganti dosa manusia, penebusan menjadi sempurna. Yesus memikul seluruh dosa kita di dalam tubuh-Nya atas ketidaktaatan kita-dahulu, sekarang, dan yang akan datang (I Petrus 2:24). Tidak dibutuhkan korban apapun lagi (Ibrani 7:27).

Apa yang terjadi di salib? Murka Tuhan atas ketidakbenaran telah dinyatakan (Roma 1:18-19). Hukuman atas dosa telah dilakukan. Seorang manusia terlahir dari perawan, tak berdosa, jelmaan Putra Allah secara suka rela menawarkan diri-Nya menggantikan kita dan menerima penghakiman Tuhan atas segala dosa. Yesus mengambil alih hukuman dan murka yang seharusnya layak kita terima. Ini adalah kabar baik. Ketika kita menerima Yesus sebagai Juru Selamat pribadi, kita tidak lagi di bawah hukuman maut; kita tidak lagi dinyatakan bersalah karena Dia telah mengambil alih tempat kita.
GBU..
 
Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku? … Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!
Mazmur 42:6

Bacaan: Mazmur 42
Setahun: Yeremia 9-11; 1 Timotius 6

Setelah melihat pantai sebelah barat Sri Lanka , saya tidak bisa membayangkan bahwa bencana tsunami pernah melanda daerah itu hanya beberapa bulan sebelumnya. Laut itu kelihatan tenang dan indah, banyak pasangan kekasih berjalan-jalan di bawah sinar matahari yang cerah, dan orang-orang sibuk melakukan aktivitas mereka masing-masing. Semuanya itu memberi sebuah perasaan yang aneh kepada saya. Dampak dari bencana itu masih tetap ada, tetapi telah menyusup jauh ke dalam lubuk hati dan pikiran orang-orang yang selamat. Trauma itu sendiri tidak akan mudah mereka lupakan.

Malapetaka yang besar mendorong sang pemazmur untuk berseru dalam keluh kesahnya, “Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: ‘Di mana Allahmu?’” (Mazmur 42:4). Pergumulan hati sang pemazmur pun telah menyusup ke dalam. Pada saat orang-orang lainnya melanjutkan aktivitas mereka seperti biasa, ia membawa kebutuhan akan kesembuhan yang dalam dan sempurna di dalam hatinya.

Hanya dengan menyerahkan kehancuran kita kepada Gembala hati kita yang baik dan besar, kita dapat menemukan kedamaian yang memampukan kita untuk menanggapi hidup: “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”[/I] (ayat 6).

Marilah kita berharap hanya kepada Allah. Karena, itu merupakan satu-satunya jawaban bagi trauma hati kita yang mendalam —WEC

ORANG-ORANG YANG BERHARAP KEPADA ALLAH
TIDAK AKAN PERNAH PUTUS ASA



Mazmur 42
42:1 Untuk pemimpin biduan. Nyanyian pengajaran bani Korah.
42:2 Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.
42:3 Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?
42:4 Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: "Di mana Allahmu?"
42:5 Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah-gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan.
42:6 Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!
42:7 Jiwaku tertekan dalam diriku, sebab itu aku teringat kepada-Mu dari tanah sungai Yordan dan pegunungan Hermon, dari gunung Mizar.
42:8 Samudera raya berpanggil-panggilan dengan deru air terjun-Mu; segala gelora dan gelombang-Mu bergulung melingkupi aku.
42:9 TUHAN memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku.
42:10 Aku berkata kepada Allah, gunung batuku: "Mengapa Engkau melupakan aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh?"
42:11 Seperti tikaman maut ke dalam tulangku lawanku mencela aku, sambil berkata kepadaku sepanjang hari: "Di mana Allahmu?"
42:12 Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!
 
Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.
Efesus 4:2

Pernah melihat seseorang dengan sikap yang sangat berpengaruh? Saat mereka masuk ruangan, suasana berubah. Dengarkanlah orang-orang ini berbicara di telepon. Perhatikanlah keanggunan mereka saat berhadapan dengan orang-orang bermasalah. Amati cara mereka berdiri, duduk, dan sedikit membungkuk ke depan saat mereka mendengarkan Anda, sambil mengangguk setuju. Mereka duduk lebih tegak, dan senyuman mereka lebih tulus. Perhatikanlah, ada sesuatu yang berbeda dengan bahasa tubuh mereka.

Sikap kita dalah hasil pekerjaan Yesus Kristus dalam kehidupan kita, dari waktu ke waktu, dan kepatuhan kita pada petunjuk-Nya. Masa depan kita cerah jika sikap kita benar, dan sikap tersebut membuat masa sekarang lebih menyenangkan. Sikap bukan perasaan, bukan juga hasil dari suatu kejadian, baik atau buruk. Namun sikap kita adalah keputusan. Sikap baru tidak terbentuk dengan sendirinya, tapi harus dibangun. Buatlah keputusan hari ini untuk berubah jika Anda merasa belum memiliki sikap yang baik. Dunia membenci perubahan, tapi itu yang menyebabkan kemajuan.

Sikap yang baik menyebabkan Tuhan leluasa untuk melakukan kehendak-Nya, adalah permulaan dari prestasi yang luar biasa. Bentuklah sikap yang baik dan lihatlah pintu menuju ke tempat orang-orang sukses berada terbuka lebar di hadapan Anda.

Raihlah masa depan yang cerah dengan sikap hati yang benar, karena akan banyak pintu yang terbuka untuk Anda
 
Pada sebatang pohon kecil, hiduplah beberapa daun yang tumbuh bersama. Di antara daun-daun tersebut terdapat sebuah daun yang sangat besar dan kuat. Daun itu diagung-agungkan karena kekuatannya.Dialah yang dianggap pelindung bagi daun-daun lainnya dari badai, hujan, panas matahari yang terik, dan bahaya lainnya.

Suatu ketika datanglah musim kemarau yang panjang. Daun-daun di pohon kecil itu mulai layu karena tidak mendapat air dan makanan. Daun besar yang tadinya kuat dan besar mulai terlihat keriput. Ia berusaha melindungi daun-daun lainnya dari matahari yang bersinar sangat terik sehingga daun2 sahabatnya itu tidak kehilangan air lebih banyak lagi. Hari berganti hari, daun besar itu sudah sampai pada puncak usahanya. Ia mulai sobek-sobek sehingga sinar matahari mulai menembusnya. Ia mulai kehilangan kekuatannya dan daun-daun lainnya pun sudah mulai mengabaikannya karena ia tidak kuat lagi seperti dulu.

Beberapa hari kemudian daun besar itu merasa tidak kuat lagi akhirnya ia berkata kepada teman-temannya : Teman-teman aku tidak lagi mempunyai kekuatan untuk melindungi kalian, aku akan gugur. Selamat tinggal. Setelah berkata demikian akhirnya daun besar itu pun gugurlah. Musim kemarau terus berlanjut, daun-daun di pohon kecil itu saling bertahan untuk hidup. Mereka sama sekali sudah melupakan daun besar yang telah berjasa melindungi mereka sehingga mereka dapat bertahan sampai sekarang.

Musim kemarau tidak juga berakhir. Daun-daun di pohon kecil itu sudah mulai kehilangan harapan.
Mereka merasa sangat kelaparan, kehausan dan akan mati. Di saat mereka putus asa, tiba tiba dirasakan adanya air dan makanan dari tanah. Mereka terheran-heran akan adanya keajaiban itu. Setelah lama mencari-cari, mereka menyadarinya. Mereka melihat bahwa daun besar itu sudah membusuk dan menghasilkan air dan sari makanan bagi mereka. Akhirnya dengan air dan sari makanan dari daun besar tadi, daun daun di pohon kecil itu berhasil bertahan sampai musim hujan datang.

Daun-daun di pohon kecil itu sangat menyesal karena telah melupakan daun besar itu. Padahal sampai akhir hayatnya daun besar itu tetap menjadi pahlawan bagi daun-daun lainnya.

Renungan bagi kita,

Janganlah menilai seseorang dengan penampilan dan kekuatannya.
 
A. Masalah keluarga dan gender di dalam dunia ini

Manusia adalah mahluk sosial. Manusia adalah mahluk yang berelasi. Manusia diciptakan oleh Tuhan Allah ada laki-laki dan ada perempuan. Ini sebenarnya sesuatu yang indah di dalam tatanan yang Tuhan ciptakan. Laki-laki sebagai kepala dan wanita sebagai penolong. Tetapi di jaman sekarang banyak problema yang timbul di dalam gender yaitu salah satunya adalah feminisme atau bisa juga masculisme sebaliknya. Ada banyak problema di dalam masyarakat dunia sekarang ini dalam kaitan dengan gender dan keluarga :

1. Ada wanita yang menjadi pemimpin keluarga dimana seharusnya laki-laki yang mengepalainya

2. Ada laki-laki yang berpoligami

3. Ada laki-laki yang mempunyai simpanan

4. Ada laki-laki yang berpandangan wanita itu lebih rendah

5. Perceraian yang semakin banyak

6. Konflik keluarga yang semakin banyak

7. Penyelewengan di dalam keluarga

8. Ada wanita yang mempunyai anak tetapi tidak ingin menikah dan single parent.

9. Homoseksualitas dan lesbian semakin banyak

10. Dll



Ini semua adalah problema yang dihadapi oleh banyak manusia di dalam dunia ini. Keluarga banyak konflik dan masyarakat di ambang kehancuran. Semua ini karena manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan manusia tidak kembali pada standard kebenaran. Problema Kejadian 3 mengakibatkan relasi keluarga rusak. Adam menuduh Hawa. Adam sebagai kepala menyalahkan penolongnya. Bahkan relasi antara suami istri men jadi kacau. Kej 3:16 menjelaskan

“namun engkau akan berahi (teshookaw) kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.” (Kej 3:16)
. Ini berarti laki-laki akan berkuasa terhadap wanita tidak dengan kasih seperti semula tetapi dengan kekuasaan dan wanita juga akan menguasai laki-laki. Berahi di dalam bagian ini kalau kita mau eksegese sebenarnya berarti menguasai. Kata berahi ( teshookaw) ini dipakai di dalam kalimat

“Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda ( teshookaw ) engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” ( Kej 4:7 ). Berahi ini sebenarnya bukan keinginan seksual tetapi keinginan untuk menguasai. Untuk lebih jelas silahkan eksegesis dengan lebih detail.



Karena dosa maka laki-laki dan perempuan akan saling menguasai. Karena dosa maka ada konflik di dalam rumah tangga. Karena dosa maka adanya permusuhan antara manusia dengan manusia. Adanya ketidak percayaan, adanya ketidaksetiaan dan adanya penyelewengan. Semua ini karena manusia sudah berdosa kepada Allah sumber hidup.



Bagaimana supaya manusia kembali kepada tatanan yang benar ? Bagaimana supaya problema keluarga diatasi ? Bagaimana problema gender diatasi ? Kita bukan sekedar menjawab problema tetapi yang penting adalah kembali kepada Tuhan dan apa yang Tuhan nyatakan di dalam FirmanNya.

Tuhan mengatakan bahwa rancanganNya adalah rancangan damai sejahtera. Apa yang Tuhan nyatakan dalam FirmanNya adalah rancangan yang mendatangkan kebaikan bagi kita umatNya.





B. Rencana Allah di dalam Alkitab mengenai laki-laki dan perempuan

Alkitab mengajarkan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Manusia diciptakan menurut gambar Allah Tritunggal. Untuk mengerti lebih jelas mengenai manusia, kita harus mengenal Allah. Calvin mengatakan bahwa ketika kita m engenal Allah maka kita mengenal diri dan ketika kita mengenal diri maka kita mengenal Allah. Jadi untuk mengenal diri kita harus mengenal Allah Tritunggal.



Allah Tritunggal adalah Allah yang esa tetapi mempunyai 3 pribadi. Ada kesatuan tetapi ada keragaman. Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. KetigaNya esa. Di dalam Allah Tritunggal terdapat beberapa prinsip yaitu :

a. Ordo

Adanya ordo (urutan kekepalaan) yaitu Allah Bapa kemudian Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Allah Bapa mengepalai Allah Anak. Allah Bapa dan Allah Anak mengepalai Allah Roh Kudus.

b. Kesetaraan

Baik Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus adalah setara dan sama tinggi. Tetapi ada ordonya.

c. Kasih dan pelayanan

Alkitab mengajarkan bahwa Allah adalah kasih. ( 1 Yohanes 4:8 ) Berarti Allah Tritunggal adalah kasih. Kasih merupakan atribut Allah yang sangat penting. Pemazmur sering berkata “Kasih setiaNya untuk selama-lamanya” . Kasih Allah adalah kekal adanya. Sebelum Dia menciptakan bumi beserta isinya yang juga termasuk manusia, Dia adalah kasih adanya. Siapakah yang Dia kasihi sebelum ada manusia yang Ia kasihi ?



Allah mengasihi diriNya sendiri. Allah Tritunggal saling mengasihi satu sama lain. Allah Bapa mengasihi Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Allah Anak mengasihi Allah Bapa dan Allah Roh Kudus. Allah Roh Kudus mengasihi Allah Bapa dan Allah Anak. Ketiga pribadi Allah saling mengasihi satu s ama lain. Di dalam tiga pribadi ada kesatuan. Dan di dalam tiga pribadi ada satu kasih, satu jiwa, satu tujuan. Hubungan Allah Tritunggal merupakan hubungan yang harmonis. Benar-benar harmonis. Hubungan Allah Tritunggal yang harmonis ini dimana ada keragaman namun ada kesatuan yang harmonis merupakan dasar hidup kita sebagai orang Kristen.



Alkitab juga mengajarkan bahwa ada saling menghargai, saling melayani, saling mengasihi dan saling menganggap yang lain lebih utama di dalam ketiga pribadi Allah Tritunggal. Allah Tritunggal tidak mementingkan pribadiNya sendiri terlepas dari pribadi yang lain namun saling memperhatikan. Perhatikanlahlah Allah Bapa mengasihi dan memuliakan Allah Anak. Di atas gunung Allah Bapa berkata “Inilah Anak yang kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” ( Matius 17:5 ). Yesus Kristus berkata “BapaKulah yang memuliakan Aku” ( Yohanes 8:54 ). Allah Anak juga memuliakan Allah Bapa. Yesus Kristus berkata :”Bapa, muliakanlah namaMu” (Yohanes 12:28 ). Yesus Kristus mengajarkan doa Bapa kami yang berisi “Bapa kami yang ada di dalam surga, dikuduskanlah namaMu” ( Matius 6:9). Alkitab juga mengajarkan bahwa Allah Bapa dan Allah Anak saling memuliakan :”Jikalah Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diriNya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera.( Yohanes 13:32 ). Yesus Kristus berkata “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah AnakMu supaya AnakMu mempermuliakan Engkau.” (Yohanes 17:1). Alkitab mengajarkan Allah Bapa dan Allah Anak saling mempermuliakan satu sama lain. Yesus juga menganggap Allah Bapa lebih besar walaupun Dia setara dengan Bapa: “Aku pergi kepada BapaKu sebab Bapa lebih besar dari pada Aku” (Yohanes 14:29)



Allah Anak juga memuliakan dan menganggap Allah Roh Kudus lebih besar dari diriNya. Yesus Kristus berkata “Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni. Apabila seorang menentang Anak Manusia , ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak.” (Matius 12:32). Demikian juga Allah Roh Kudus memuliakan Allah Anak. Alkitab mengatakan bahwa Roh Kudus mengajar dan mengingatkan orang percaya kepada Kristus : “Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yohanes 14:26). Alkitab m engajarkan mengenai Roh Kudus :”Tetapi apabila Ia datang yaitu Roh Kebenaran , Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak berkata-kata dari diriNya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya itulah yang akan dikatakanNya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku ( Kristus ), sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada Ku” ( Yohanes 16:14 )



Lalu apa kaitan antara Allah Tritunggal dengan keluarga, laki-laki dan perempuan ?

i. Allah Tritunggal menjadi pola di mana relasi manusia diatur. Karena Allah adalah Allah yang berelasi maka manusia adalah manusia yang berelasi. Karena Allah tidak seorang diri maka manusia tidak seorang diri. Karena adanya ordo di dalam diri Allah maka didalam hidup manusia adanya ordo :

a. Laki-laki dan perempuan

b. Orang tua dan anak

c. Tuan dan hamba



ii. Karena adanya kesetaraan di dalam Allah Tritunggal maka adanya kesetaraan di dalam hidup manusia. Semua manusia adalah setara. Laki-laki dan perempuan adalah setara. Karena Allah Tritunggal adalah saling melayani maka manusia harus saling melayani.



Kembali kepada apa yang Alkitab katakan mengenai laki-laki dan perempuan.

Allah menciptakan manusia menurut pola Tritunggal. Adanya kesatuan tetapi adanya keragaman. Hubungan Allah Tritunggal yang terintim itu dilukiskan di dalam hubungan suami dan istri di dalam relasi perjanjian yaitu pernikahan. Dua menjadi satu dimana di dalam Allah Tritunggal adalah esa tetapi mempunyai tiga pribadi.



Kemudian Alkitab mengajarkan bahwa relasi laki-laki dan perempuan itu dilukiskan di dalam analogi relasi Allah dengan umatNya dan relasi antara Kristus dengan gerejaNya.



Relasi antara Allah dan umatNya dilukiskan di dalam nuansa perjanjian ( covenant ). Apa itu covenant ? Covenant adalah perjanjian antara 2 pihak dimana di dalam relasi adanya komitmen dan adanya satu kesetiaan. Relasi antara kita dengan Tuhan adalah relasi perjanjian. Ini digambarkan dengan nuansa pernikahan. Allah sebagai suami dan umatNya sebagai istrinya. Relasi antara Kristus dengan jemaat juga dilambangkan dengan hubungan suami istri. Ini adalah dalam nuansa perjanjian. Karena itu Alkitab mengajarkan

“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.”

(Efesus 5:22-25)



Di dalam relasi ini kita bisa belajar beberapa hal yaitu :

a. Ordo

b. Ketaatan

c. Kesetiaan

d. Kasih

e. Pelayanan

f. Pengorbanan



Di dalam relasi ini adalah eksklusif tanpa pihak ketiga, karena itu pernikahan yang Allah inginkan adalah monogami.
 
27 Oktober 2007 -- S A B T U

Apa Yang Terjadi Di Kayu Salib | Lukas 23:_32-43

Sudah menjadi kebiasaan pada zaman Yesus untuk menempatkan sebuah tulisan tuduhan di atas salib, yakni selembar surat yang menjelaskan seorang penjahat dinyatakan bersalah. Lembaran surat kita, dimana terdaftar semua dosa yang telah atau akan kita lakukan, dipakukan di kayu salib dan ditebus oleh Juru Selamat (Kolose 2:13-14). Dengan ini Yesus menghapus catatan tersebut, menjadikannya kosong dan tak berarti lagi. Semua dosa tidak bisa mendakwa, dan kita tidak lagi menanggung hukuman (Roma 8:1). Dosa telah dihakimi.

Pada waktu yang sama, Yesus, “telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum, dalam kemenangan-Nya atas mereka” (Kolose 2:15). Musuh kita, Setan, dan seluruh pasukannya telah dikalahkan pada hari itu dan telah dilucuti kuasanya atas hidup orang percaya. Kekalahan iblis diteguhkan melalui kuasa kebangkitan. Kebangkitan Yesus, membuktikan bahwa Bapa telah menerima Putra-Nya sebagai pengganti tempat kematian kita. Di atas kertas hutang kita sekarang tertulis “lunas dibayar,” kita yang percaya Yesus selamanya bebas dari kuasa setan. Hukuman dosa telah dibayar, kuasa dosa dipatahkan, dan Yesus mengambil alih rasa malu kita. Musuh tidak bisa menghancurkan kita; satu-satunya yang bisa setan lakukan hanyalah menggoda.

Sebagai tambahan, Sang Penebus telah membayar penebusan bagi umat manusia hari itu. Kita yang dulunya menjadi hamba dosa, kini bebas. Darah Yesus yang sangat berharga telah membebaskan sehingga kita dapat menjadi Anak-anak-Nya (Roma 6:6; Yohanes 1:12).



GBU....
 
Ia menasihati mereka, supaya mereka semua dengan kesungguhan hati
setia kepada Tuhan

Kisah Para Rasul 11:23


Bacaan: Kisah Para Rasul 11:19-26
Setahun: Yeremia 12-14; 2 Timotius 1

Saat masih remaja, Jean sering berjalan-jalan dan melihat ibu-ibu duduk di bangku sambil bercakap-cakap di taman. Anak-anak mereka yang masih kecil duduk di ayunan, berharap agar ada orang yang mau mendorong mereka. “Saya mendorong mereka,” kata Jean. “Dan, tahukah Anda apa yang terjadi saat Anda mendorong seorang anak di atas ayunan? Tak lama kemudian anak itu akan melakukannya sendiri. Itulah peran saya dalam kehidupan; saya mendorong orang lain.”

Dalam hidup, mendorong orang lain adalah tujuan hidup yang mulia. Yusuf, seorang saleh dalam kitab Kisah Para Rasul, memiliki karunia itu. Pada zaman gereja mula-mula, ia menjual tanahnya dan memberikan uangnya kepada gereja supaya digunakan untuk membantu orang-orang yang kurang beruntung (4:36,37). Ia juga pergi bersama Paulus dalam perjalanan misi dan mengabarkan Injil (11:22-26; 13:1-4).

Anda mungkin telah mengenal Yusuf sebagai “Barnabas”, yaitu nama yang diberikan para rasul kepada “Anak Penghiburan”. Saat gereja yang berada di Yerusalem mendengar bahwa orang-orang di Antiokhia mulai mengenal Yesus sebagai Juru Selamat, mereka mengirim Barnabas karena “Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman” (11:24). Ia “menasihati mereka, supaya mereka semua dengan kesungguhan hati setia kepada Tuhan” (ayat 23).

Kita pun dapat memberikan “dorongan” semangat kepada orang-orang lainnya dalam perjalanan mereka bersama Tuhan —AMC​

SEDIKIT PERCIKAN SEMANGAT
DAPAT MEMANTIK USAHA YANG BESAR




Kisah Para Rasul 11:19-26

11:19 Sementara itu banyak saudara-saudara telah tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus dihukum mati. Mereka tersebar sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia; namun mereka memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja.
11:20 Akan tetapi di antara mereka ada beberapa orang Siprus dan orang Kirene yang tiba di Antiokhia dan berkata-kata juga kepada orang-orang Yunani dan memberitakan Injil, bahwa Yesus adalah Tuhan.
11:21 Dan tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan.
11:22 Maka sampailah kabar tentang mereka itu kepada jemaat di Yerusalem, lalu jemaat itu mengutus Barnabas ke Antiokhia.
11:23 Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan,
11:24 karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan.
11:25 Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia.
11:26 Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.
 
Yesaya 60:1
Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu.

Ketika aliran listrik tiba-tiba padam ketika malam hari, apa yang kita lakukan? Pasti kita akan segera mencari lilin untuk penerangan darurat. Ketika lilin dinyalakan, kita akan segera melihat cahaya terang yang keluar dari lilin tersebut, dan kegelapan pun terusir. Keadaan dunia saat ini boleh dibilang semakin gelap, seperti gelapnya malam ketika aliran listrik padam. Dan yang dibutuhkan dunia adalah seberkas cahaya terang dari orang-orang yang mau menjadi seperti lilin tersebut.

Sebuah lilin dapat menerangi sekelilingnya dengan melelehkan dirinya, membakar dirinya sehingga ada nyala api yang memberikan terang. Demikian juga dengan hidup kita, saat kita berkomitmen menjadi terang bagi sekeliling kita, mungkin kita akan merasa sakit ‘terbakar' , merasa dikucilkan saat kita harus menjadi terang bagi orang lain, bagi rekan kerja kita, atau bagi siapapun.

Tetapi saat kita mau setia, kemuliaan Tuhan akan dinyatakan melalui kehidupan kita, dan kehidupan kita akan menjadi berkat bagi orang lain. Mari, bangkit dan menjadi terang!

Bangkitlah dan menjadi terang, maka kemuliaan Tuhan akan diyatakan!
 
28 Oktober 2007 -- M I N G G U

Damai Sejahtera | Nehemia 1:4-7

Waktu yang kita habiskan bersama Tuhan seringkali memberi pengaruh besar terhadap kehidupan kita setiap hari. Ketika kita menyediakan waktu untuk merenungkan dan mendengarkan ’suara’-Nya, maka dalam hidup kita pasti akan terjadi perubahan, baik secara perlahan maupun drastis.

Hal apa saja yang terjadi;
Pertama, kita mulai memahami sudut pandang Tuhan. Dalam Efesus 1:16-19, Paulus berdoa bagi dirinya sendiri dan orang lain agar boleh mengerti sudut pandang Tuhan, sebab ketika kita meneropong segala sesuatunya dari sudut pandang-Nya, maka semua yang kita alami, baik sukacita maupun penderitaan, menjadi jauh lebih mudah dipahami sehingga kita tahu bagaimana mengatasi masalah-masalah tersebut.

Kedua, dengan meluangkan waktu bersama-Nya, tekanan-tekanan hidup menjadi ringan. Yesus mengingatkan murid-murid-Nya bahwa meskipun mereka akan mengalami kesukaran dalam dunia ini, mereka tidak perlu takut sebab musuh kita telah dikalahkan-Nya. Ya, mengapa kita harus takut terhadap musuh yang sudah ditaklukkan Kristus? (Yohanes 16:33)

Ketiga, upah yang kita dapatkan dari merenungkan Firman-Nya adalah damai sejahtera. Di tengah-tengah kesukaran hidup, kita sering kali kehilangan damai sejahtera. Ketahuilah damai yang sejati hanya dapat ditemukan dalam Tuhan Yesus (Yohanes 14:27). Dunia tidak dapat memberikan damai yang sejati, apalagi memahami damai yang diberikan oleh Tuhan (Filipi 4:7).

Keinginan untuk mendapatkan damai sejahtera sebagai upah hendaknya tidak dijadikan satu-satunya alasan untuk meluangkan waktu bersama-Nya meskipun tidak dapat disangkal bahwa hubungan yang akrab dengan-Nya dapat mendatangkan berkat.

GBU..
 
[CENTER]Sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di situ dan memanggil nama TUHAN. Ia memasang kemahnya di situ, lalu hamba-hambanya menggali sumur di situ.
Kejadian 26:25[/CENTER]


Ishak merupakan salah satu contoh pengusaha yang sukses dan diberkati oleh Tuhan. Kehidupannya yang berhasil telah menjadi inspirasi bagi banyak orang. Apakah yang menjadi kunci keberhasilannya? Ia tahu bagaimana menetapkan prioritas yang tepat.

Alkitab memberikan sebuah pola dari kehidupan Ishak yang berhasil. Berikut ini adalah prioritas yang dilakukan oleh Ishak:

1. Hubungan pribadi dengan TUHAN.


Ia mendirikan mezbah dan memanggil nama TUHAN. Hal pertama yang menjadi prioritas Ishak adalah hubungan pribadi dengan TUHAN. Inilah kunci utama keberhasilan Ishak.

2. Membangun rumah tangga dan keluarga.


Prioritas Ishak yang kedua adalah memasang kemah. Hal ini berbicara mengenai membangun rumah tangga dan memprioritaskan keluarga. Hubungan yang harmonis dengan orang tua, suami, istri maupun anak-anak menjadi hal yang didahulukan di atas karir.

3. Pekerjaan atau pelayanan.


Hal terakhir yang menjadi prioritas Ishak barulah menggali sumur. Pekerjaan atau pelayanan menjadi prioritas terkhir yang dilakukan Ishak.

Ishak membangun kehidupannya di atas dasar janji kebenaran firman Tuhan. Ishak sudah memberikan contoh sebuah pola kehidupan yang berhasil karena tahu menempatkan prioritas yang tepat. Apa prioritas Anda hari ini?

Menentukan prioritas hidup yang tepat akan membawa Anda kepada keberhasilan yang sesungguhnya.
 
Bacaan: Matius 21:28-32
Setahun: Yeremia 15-17; 2 Timotius 2

Pernahkah Anda menghadapi tugas yang tidak ingin Anda lakukan? Menyiangi rumput, mencuci pakaian, membersihkan rumah, atau bahkan mempersiapkan pelajaran Sekolah Minggu setelah menjalani satu minggu yang melelahkan dapat membuat kita ingin menunda semua pekerjaan itu.

Saat kami juga mengalami hal yang sama, saya dan istri memiliki sebuah semboyan yang kami katakan kepada satu sama lain, “Saya tidak ingin melakukannya, tetapi saya tetap akan melakukannya.” Dengan mengakui bahwa kami kurang bersemangat, tetapi kemudian memilih untuk bertanggung jawab, membuat kami berhasil melakukan hal yang tak kami sukai tersebut.

Penilaian Allah terhadap iman dan ketaatan dapat kita lihat melalui perumpamaan-perumpamaan Yesus. Kristus berbicara tentang dua anak yang diminta oleh sang ayah untuk bekerja di kebun anggur. Anak yang pertama berkata tidak, tetapi “kemudian ia menyesal dan pergi” (Matius 21:29). Anak yang kedua berkata ya, tetapi tidak melakukannya. Lalu Tuhan bertanya, “Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” (ayat 31). Jawabannya sudah jelas, yaitu anak yang menyelesaikan tugasnya.

Perumpamaan Tuhan itu menggaris bawahi sebuah prinsip rohani yang sangat penting. Allah menginginkan iman dan ketaatan kita, bukan hanya niat baik kita. Lain kali, saat Anda tergoda untuk melalaikan tugas Anda, berkatalah, “Saya sedang tidak ingin melakukannya,” kemudian mohonlah anugerah untuk tetap melakukannya kepada Allah —DHF

KETAATAN ADALAH IMAN DALAM PERBUATAN​




Matius 21:28-32

21:28 "Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur.
21:29 Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi.
21:30 Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.
21:31 Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.
21:32 Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya."
 

Hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya suka damai, lembut … tidak memihak dan tidak munafik
Yakobus 3:17



Bacaan: Yakobus 3:13-18
Setahun: Yeremia 18-19; 2 Timotius 3


Para ilmuwan telah sepakat bahwa keling yang cacat merupakan penyebab tenggelamnya kapal Titanic yang “tak dapat tenggelam” itu. Menurut para peneliti yang baru-baru ini menyelidiki bagian-bagian kapal yang berhasil dikumpulkan dari puing-puing Titanic, keling kapal yang terbuat dari besi tempa, bukannya baja, menyebabkan badan kapal terbuka seperti resleting. Nasib Titanic membuktikan bahwa menghabiskan uang untuk peralatan mewah dan promosi publik, tetapi mengabaikan bagian-bagian yang “kecil” adalah tindakan bodoh.

Dalam beberapa hal, gereja hampir sama seperti kapal, dan banyak orang di dalam gereja bertindak sebagai keling kapal. Meskipun keling sepertinya tidak penting, merekalah yang menyatukan bagian-bagian kapal dan menjaganya agar tetap mengapung.

Banyak orang merasa tidak penting, bahkan perasaan itu juga menyerang orang-orang kristiani, dan beberapa orang melakukan hal-hal yang menyakitkan untuk membuat mereka merasa penting. Yakobus berkata, “Di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat” (3:16). Orang-orang yang terkorupsi oleh keinginan duniawi akan kecantikan, kekayaan, dan kekuasaan dapat meruntuhkan gereja-gereja besar, tetapi orang-orang yang murni dan tak bercacat (1:27) menyatukan gereja.

Sebagai anggota gereja, kita harus menjadi “keling-keling” yang tak bercacat. Jika kita murni (Yakobus 3:17), kuat (Efesus 6:10), dan berdiri teguh (1 Korintus 15:58), kita akan dipakai Tuhan untuk menjaga kapal-Nya agar tetap mengapung di tengah krisis —JAL​


ADALAH HAL YANG BESAR UNTUK SETIA
DALAM HAL-HAL YANG KECIL


Yakobus 3:13-18
3:13 Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan.
3:14 Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran!
3:15 Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan.
3:16 Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.
3:17 Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.
3:18 Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.
 
29 Oktober 2007 -- S E N I N

Hikmat Bagi Kesehatan Yang Baik | I Korintus 9:24-27

Karena Tuhan sangat peduli dengan tubuh, simaklah beberapa tips sederhana berikut untuk menjaga kondisi fisik Anda.

Pertama, perhatikan apa yang Anda makan. Tubuh Anda menggunakan apapun yang Anda makan sebagai bahan bakar. Anda harus memutuskan bahan bakar apa yang sebaiknya dikonsumsi. Ketika Anda mengisi tubuh dengan sesuatu yang keliru, Anda tentu membatasi efisiensi, tenaga, dan seluruh kekuatannya.

Kedua, olah raga sangat penting bagi kesehatan tubuh. Anda mungkin berkata,”Saya tidak bisa melakukannya.” Ya, Anda bisa; ini hanyalah masalah kedisiplinan. Anda mungkin saja tidak menikmati olahraga, namun tubuh Anda membutuhkannya. Jika Anda hanya bisa berjalan-kaki, ya berjalan kaki saja!

Ketiga, hikmat untuk kesehatan membutuhkan latihan sikap. Bagaimana penampilan akan diri Anda, hidup Anda, dan orang lain? Sikap positif membantu tubuh Anda lepas dari stress.

Terakhir, luangkan waktu dalam doa dan perenungan Firman. Ini akan mempengaruhi kondisi fisik menjadi lebih baik. Anda dicipta untuk memiliki hubungan dengan Tuhan. Jika Anda aktif berhubungan dengan Tuhan dalam pembaharuan pikiran dan roh, ini akan menghasilkan dampak positif bagi tubuh Anda.

GBU...
 

Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.
Daniel 1:8

Seandainya Anda jadi tawanan bersama dengan Daniel pada waktu itu bukankah enak? Karena tawanan yang ini diperlakukan berbeda, disediakan makanan mewah dan minuman anggur yang biasa disantap oleh Raja. Mereka tidak perlu bekerja keras, hanya duduk makan enak. Tugas mereka hanyalah belajar, yang pastinya bukan pekerjaan sulit karena karena mereka adalah bangsawan, orang terpelajar. Selama tiga tahun mereka hidup enak seperti itu, gaya hidup mewah. Nebukadnezar bermaksud mencuci otak mereka dengan gaya hidup mewah ala Raja. Tujuannya supaya mereka mau mengabdi padanya dengan sukarela sebab sudah terbiasa dengan hidup enak. Hanya empat orang yang memutuskan untuk tetap hidup kudus, menolak semua gaya hidup mewah yang ditawarkan oleh Raja.

Kalau kita renungkan, bukankah sekarang dunia juga sedang berusaha untuk mencuci otak kita dengan gaya hidup mewah dan gampang? Kartu kredit, internet, teknologi komunikasi, makanan dan minuman instant, jadi sarjana dalam waktu satu tahun, semuanya memudahkan kita. Kalau kita tidak waspada, jangan-jangan kita juga terseret dengan gaya hidup dunia.

Tetaplah jaga hati dan karakter kita. Jadikan Roma 12:2 ‘Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna' sebagai pegangan hidup Anda.

Jagalah hati dan karakter Anda, agar segala yang baik yang dari Tuhan dapat menjadi pegangan hidup Anda.​
 
READ: James 3:13-18


The wisdom that is from above is first pure, then peaceable, gentle, . . . without partiality and without hypocrisy.
James 3:17​


Scientists have determined that faulty rivets may have caused the rapid sinking of the "unsinkable" HMS Titanic. According to researchers who recently examined parts recovered from the wreck, impure rivets made of wrought iron rather than steel caused the ship’s hull to open like a zipper. The Titanic proves the foolishness of spending resources on fancy equipment and public promotion while neglecting the "ordinary" parts.

In a sense, churches are like ships, and many of their people are like rivets. Although rivets seem insignificant, they are essential for holding the ship together and keeping it afloat.

Feelings of insignificance are rampant these days, even among Christians, and some do hurtful things to make themselves feel important. James says, "Where envy and self-seeking exist, confusion and every evil thing are there" (3:16). People corrupted by worldly desires for beauty, wealth, and power can bring down great churches, but people who are pure and undefiled (1:27) hold churches together.

As members of God’s church, we need to be "rivets" without defect. When we are pure (James 3:17), strong (Eph. 6:10), and steadfast (1 Cor. 15:58), we will be used by the Lord to keep His ship afloat in times of crisis. —Julie Ackerman Link

The task Thy wisdom hath assigned,
O let me cheerfully fulfill;
In all my works Thy presence find,
And prove Thy good and perfect will. —Wesley​

It is a great thing to be faithful in little things
 
30 Oktober 2007 -- S E L A S A

Dampak Salib Atas Maut | Kejadian 3:1-24

Kematian adalah kenyataan yang harus dihadapi. Kita seringkali berusaha sebaik mungkin mengabaikan kenyataan ini. Pada dasarnya, kita lebih tertuju pada kehidupan saat ini, bukan pada kematian. Namun Tuhan ingin kita mengerti beberapa kebenaran rohani mengenai kematian.

Alkitab berkata,”Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa ” (Roma 5:12). “Satu orang” merujuk kepada Adam, yang saat itu bersama Hawa, melanggar satu-satunya perintah Tuhan atas mereka:” tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:17). Mereka diusir karena ketidaktaatan. Akibatnya, keintiman mereka dengan Tuhan menjadi rusak, dan menghadapi kematian jasmani di kemudian hari. Karena dosa, maka tubuh kita yang fana juga akan mati akhirnya (Roma 6:23).Tidak ada jalan keluar selain Yesus kembali ketika kita masih hidup.

Kematian rohani (terpisahnya seseorang dari Tuhan), merupakan hasil dosa pertama. Sebagai keturunan Adam, kita juga dilahirkan di dalam kondisi demikian “mati karena pelanggaran dan dosa-dosa kita” (Efesus 2:1), dan kita tetap mati secara rohani kecuali kita bersekutu dengan Tuhan melalui iman di dalam Kristus (IKorintus 15:22). Dengan menerima Juruselamat, hubungan kita dengan Bapa sorgawi dipulihkan, dan kita memperoleh hidup kekal bersama dengan Dia (Yohanes 3:15).

GBU........
 

Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
Matius 6:27



Jawabannya: tidak ada. Kekuatiran tidak akan membawa kita kemana-mana, justru menghambat kita. Kekuatiran tampaknya bukan sesuatu yang aneh bagi kebanyakan orang. Ada saja yang membuat orang kuatir dalam hidup, mulai dari pekerjaan, finansial, keluarga, pasangan hidup, cuaca, sampai masa depan. Tapi, apakah kekuatiran adalah hal yang normal bagi orang percaya yang mengenal Allah?

Sebenarnya itu tidak normal. Mari kita renungkan sejenak, kalau seseorang kuatir dengan hidupnya, di manakah iman percayanya kepada Allah yang sanggup mengatur seluruh alam semesta? Lagipula, dalam perikop hari ini kita tahu bahwa Yesus dengan jelas menyebut orang-orang yang ada di sana pada waktu itu sebagai orang yang kurang percaya (ayat 30). Ia memperingatkan mereka, tapi sekaligus memberikan juga kunci jawaban agar mereka tidak lagi kuatir dengan hidupnya.

Lantas, apakah kunci untuk lepas dari kekuatiran? Mengenal Allah dan hidup seturut yang difirmankan-Nya. Klise? Tidak, karena ini memang kuncinya. Ketika kita mau belajar mengenal-Nya lewat Firman dan doa, iman percaya kitapun akan semakin bertumbuh. Jika kita hidup bersama Allah, memiliki fokus yang benar di hadapan-Nya, dan berjalan seturut perintah-Nya, maka sama sekali tidak ada alasan untuk kita kuatir. Dia pasti bertanggungjawab atas seluruh hidup saya dan Anda.


Hidup dekat dengan-Nya dan berjalan dalam Firman-Nya, membawa Anda lepas dari kekuatiran.
 
Saat kematianku sudah dekat (2 Timotius 4:6)


Bacaan: 2 Timotius 4:1-8
Setahun: Yeremia 20-21; 2 Timotius 4

Kata kematian yang diucapkan oleh Paulus dalam 2 Timotius 4:6 memiliki arti penting. Alkitab versi King James menggunakan kata keberangkatan (departure) untuk menggantikan kata kematian pada ayat itu. Kata keberangkatan berarti “melonggarkan” atau “melepaskan tambatan”. Paulus menggunakan kata yang sama saat mendesah, “Aku didesak dari dua pihak: Aku ingin pergi dan tinggal bersama-sama dengan Kristus” (Filipi 1:23).

Keberangkatan adalah istilah kelautan yang berarti “berlayar”—membongkar sauh, melepas tambatan yang mengikat kita pada dunia ini, dan pergi. Kata itu merupakan kata ganti yang bagus untuk “meninggal dunia”.

Bagi orang percaya, kematian bukan akhir, melainkan awal. Itu berarti kita meninggalkan dunia yang lama ini dan menuju tempat yang lebih baik untuk menyempurnakan tujuan hidup kita. Kematian merupakan saat bersukacita dan bergembira serta berkata lantang, “Selamat jalan!”

Namun, semua perjalanan dipenuhi ketidakpastian, terutama saat melewati lautan yang belum pernah dilayari. Kita lebih takut akan jalan yang kita lalui daripada kematian itu sendiri. Siapakah yang tahu bahaya seperti apa yang menghadang kita?

Namun, perjalanan itu sudah dipetakan. Seseorang telah melaluinya, dan Dia kembali untuk membawa kita melaluinya dengan selamat. Sekalipun kita berjalan dalam lembah kekelaman, Allah selalu menyertai kita (Mazmur 23:4). Tangan-Nya memegang kemudi, sementara Dia membimbing kita ke rumah surgawi yang telah disiapkan-Nya bagi kita (Yohanes 14:1-3) —DHR

ORANG-ORANG YANG TAKUT AKAN ALLAH
TIDAK PERLU TAKUT AKAN KEMATIAN



2 Timotius 4:1-8
4:1 Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya:
4:2 Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.
4:3 Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.
4:4 Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.
4:5 Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!
4:6 Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.
4:7 Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.
4:8 Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.
 

Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.
Mazmur 119:9


Apakah mungkin hidup dengan memiliki pikiran tetap bersih di dunia di mana kita terus dicekoki media dalam masyarakat yang dipenuhi pikiran atau hal yang tidak kudus? Sulit, tapi bisa. Rick Warren mengilustrasikannya dengan baik sebagai berikut. Anda tahu ikan-ikan di laut itu telah hidup di air asin sepanjang hidupnya tapi ikan-ikan itu tidak pernah menjadi asin. Ia tumbuh dalam lingkungan di mana tiap saat dikelilingi air asin yang begitu asinnya, hingga Anda tidak dapat meminumnya atau Anda akan sakit.

Nah, seperti Allah yang dapat menangkap seekor ikan dan memeliharanya dalam sebuah lingkungan yang penuh garam sepanjang hidupnya, tapi tidak terpengaruh olehnya, Allah yang sama dapat memelihara Anda di dunia yang sudah kena polusi dan memelihara pikiran Anda tetap bersih. Seperti Ia dapat memisahkan ikan itu dan memeliharanya di lingkungan air asin, tapi tidak membuatnya asin, Allah dapat menjaga kita dalam dunia tercemar dan menjaga pikiran dan hati kita bersih. Tapi bagaimana hal itu dapat terjadi?

Allah tidak pernah menyuruh melakukan sesuatu tanpa mengatakan bagaimana melakukannya. Mazmur 119:9 "Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu." Itulah caranya. Mengikuti standar Tuhan. Jadi buatlah komitmen mengikuti standar Allah.


Buatlah hidup Anda berjalan di dalam standarnya Tuhan, dan kekudusan akan menjadi sahabat Anda.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.