• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Mendapatkan Kontak Batin dgn Dewa (Buddhist, Taoist)

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. m3tt4
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai
Bertemu dengan Murid Masa Lalu

Hari ini aku pergi ke vihara di daerah Jakarta untuk sembahyang kias anakku agar tahun ini terhindar dari segala mara bahaya, sekaligus menjalankan petunjuk Mahaguru TatmoCosu.

Pada malam harinya aku duduk meditasi, aku melihat seorang wanita dengan rambut terkuncir dan memakai baju Sutra warna abu-abu gaya wanita Tiongkok jaman dulu, aku mencoba untuk tak menghiraukannya karena kupikir itu hanya ilusiku, tapi setiap kucoba hilangkan dan kuabaikan, wujud wanita itu selalu saja datang dalam konsentrasi meditasiku sampai 3 kali, lalu tiba-tiba aku merasakan cakra mahkotaku terbuka seperti bunga teratai merekah dan rohku keluar dari tubuhku dalam sekali hentakan, mengikuti wanita itu entah kemana.

Akhirnya kami tiba di suatu tempat yang tidak asing bagiku dan rasanya aku pernah kesitu, tapi saat ini banyak orang berlalu lalang dan setiap orang yang berpapasan denganku selalu membungkukkan badan seperti memberi hormat, kami menuju ke sebuah rumah yang agak besar, aku masuk ke dalamnya dan melihat ada lukisan seorang Dewi mengenakan baju surgawi warna kuning tepat ditengah rumah tersebut, aku pernah melihat perwujudan Dewi itu dalam meditasi, lalu terbuka komunikasi antara aku dan wanita itu.

“Guru, aku Wei Siu Ling”

“Siapa kau, aku tidak mengenalmu.”

“Guru, aku muridmu. Aku sudah menunggu Guru lama sekali, selama kau pergi aku menjaga tempat ini untukmu. Apakah Guru tahu tempat apa ini?”

“Aku sepertinya pernah ke alam ini.”


“Ini adalah tempatmu, alam Sukhavati tingkat ke-27, tempat tinggalmu.”

“Begitukah? Mengapa kau memanggilku Guru, kapan aku punya murid?”

“Aku muridmua satu-satunya di alam Sukhavati ini, aku mohon kembalilah guru, kembalilah….”

Dengan perasaan bingung aku pergi meninggalkannya. Dan suaranya memintaku kembali masih terdengar olehku. Setelah itu aku masih dalam konsentrasi meditasi karena sepertinya masih ada sesuatu, tak lama kemudian tanpa aku harapkan sama sekali, aku melihat kedatangan Buddha, aku semakin bingung mengapa ada Buddha datang, Buddha itu berkata:

“Desi, aku Buddha Sakyamuni. Bagaimana keadaanmu?”

“Saya baik-baik saja, ada apakah Buddha Sakyamuni datang menemui saya?”

“Apakah kau percaya bahwa saat ini, kau sedang mendapat amanat dan anugrah besar?”

“Aku percaya, walaupun kadang masih ada kebimbangan dalam hati.”

“Apa yang dikatakan para Dewa adalah kebenaran, jika Dewa berbohong, bagaimana mungkin bisa mempercayai Dewa lagi, dan tidak akan mungkin ada keajaiban-keajaiban, kau telah mendapatkan anugrah dari Bodhisattva, pada waktunya berikanlah dia nama “xxx”. Ini adalah nama Buddha yang aku berikan. Ikutilah setiap petunjuk yang diberikan para Dewa kepadamu.”

Itulah perkataan Buddha Sakyamuni kepadaku, walaupun aku masih dalam keadaan bingung, aku mencoba meyakinkan hatiku kalau perkataan Buddha Sakyamuni dan para Dewa adalah kebenaran, apa yang terjadi padaku aku serahkan kepada para Dewa, aku percaya setiap bimbingan dan petunjuk yang diberikan kepadaku tidak akan salah.

Bertemu dengan seorang wanita yang mengaku muridku dan kehadiran Buddha Sakyamuni member petunjuk hari ini, membuat aku semakin yakin, bahwa kontak batin yang aku alami dengan para Dewa adalah kebenaran. Semua yang diberikan kepadaku, baik perlindungan, pertolongan, bimbingan, arahan dan perhatian dari para Dewa membuat aku semakin termotivasi untuk setulus hati menjalankan jalan dharmaku ini, ini semua semata-mata bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi juga untuk semua orang yang berjodoh dengan jalan dharma Buddha yang sedang diamanatkan kepadaku. Semoga saja aku bisa bertemu dengan orang-orang yang berjodoh untuk bersama-sama mengembangkan jalan dharma ini sesuai dengan kehendak para Buddha dan Bodhisattva.
 
Bimbang pada Anugrah yang Diberikan

Bimbang pada Anugrah yang Diberikan
21-2-2010

Hari ini tanggal 9 bulan 1 lunar perayaan bagi warga keturunan China, sembahyang tebu pada tepat jam 12 malam untuk mengucapkan terimakasih atas pertolongan Kaisar Langit, karena telah melindungi dan memberikan keselamatan.

Aku sembahyang pada pukul 12 malam. Dan hari ini pertama kalinya aku menjalankan po’un (cap baju). Aku memohon kepada Kaisar Langit agar disaat aku sembahyang pukul 12 malam ini tidak turun hujan, karena aku telah memasang altar di teras atas, jika hujan maka altar itu akan basah dan berantakan. Permohonanku dikabulkan, pukul 8 malamnya turun hujan rintik, dan kemudian berhenti langit kembali cerah, bintang bermunculan, sampai aku selesai sembahyang hujan tidak turun, dan baru pukul 12 siang esok harinya setelah altar dibereskan hujan baru turun.

Aku tahu sejak aku mendapatkan kontak batin dengan para Dewa, permohonanku sering kali dikabulkan, banyak bukti nyata diberikan kepadaku. Seperti tahun ini, bencana dimana-mana, yang biasanya setiap tahun daerahku selalu mengalami kebanjiran, tapi tahun ini terhindar dari hal itu, ini semua berkat pertolongan para Dewa dan Kaisar langit yang begitu murah dan selalu melindungi umatnya.

Tapi, disamping bukti-bukti nyata itu, sesungguhnya aku punya kegundahan hati yang dalam. Sejak awal para Dewa mengatakan bahwa aku telah diberikan anugrah besar dari Bodhisattva untuk menjalankan amanat khusus. Tapi tanda-tanda itu belum aku rasakan, kadang timbul rasa tidak percaya atas semua yang kualami. Kadang aku berpikir apakah aku telah mengalami cobaan dan telah masuk ke dalam perangkap Mara. Suamiku mengatakan supaya aku yakin saja apa yang dikatakan Guru sejatiku, karena buku ke-2 yang akan kutulis telah suamiku mengerti maksudnya, bahwa akan ada keajaiban yang terjadi dalam diriku, jika peristiwa yang kualami wajar dan seperti pada umumnya, itu bukan keajaiban. Mengapa suamiku selalu saja satu pandangan dengan para Dewa? Mengapa para Buddha juga mengatakan hal yang sama? Padahal jelas-jelas dilihat dengan mata duniawi/ilmiah itu sesuatu yang tidak mungkin. Aku diminta mempercayai yang tidak mungkin itu!

Tapi, jika dipikir dengan lebih dalam makna lebih dalam dari semua petunjuk yang diberikan kepadaku mengandung arti yang penuh dengan teka-teki, mungkin rencana langit belum boleh diketahui. Guruku bilang bahwa semua sudah direncanakan dan sudah diatur, mana mungkin tidak benar. Keyakinanku saat ini sedang diuji, sebuah dilema yang sama yang dialami beberapa orang wanita tapi dalam situasi yang agak berbeda, tapi intinya adalah sama yaitu keyakinan dan kepercayaan pada kebesaran dan kekuatan alam semesta.

Guru sejatiku bilang, yakinlah pada petunjuk yang diberikan oleh para Dewa kepadamu, keyakinan dalam jalan dharma paling penting, ketulusan hati bisa menggetarkan langit, hati yang tulus bisa mengundang Buddha dan Bodhisattva, berkenan memberkati. Aku telah mengalami beberapa kali tumimbal lahir menjadi manusia, aku selalu mengulang kembali kejadian yang aku alami pada kehidupan-kehidupan sebelumnya, selama aku belum menyadari dan bisa mengendalikan diriku, karmaku pada saat itu tidak bisa terhapus.

Kini karma masa laluku telah terkikis, tapi tentunya aku masih punya karma buruk yang telah kutanam di kehidupan sekarang ini, bisa terbuka dan mendapatkan kontak batin dengan para Dewa, akan dapat membantuku untuk secepatnya menghapus karma burukku itu, membina diri dengan bimbingan para Dewa aku mendapatkan banyak kemudahan, dibantu menuju ke arah yang benar, dituntun untuk berbuat banyak kebajikan bagi semua makhluk, hal itu akan mempercepat proses pencucian karmaku. Tapi karma buruk yang telah kulakukan di kehidupanku sekarang ini bukan sama sekali hilang, tapi dipercepat kematangannya, sehingga dengan pertolongan Buddha dan Bodhisattva, karma burukku bisa terkikis segera di kehidupan ini.

Menurut Guru sejatiku dan juga para Buddha dan Dewa, hidupku saat ini sudah diatur dan digariskan, aku harus selalu mengikuti petunjuk yang mereka berikan. Karena pada kehidupanku sekarang inilah aku sudah ditentukan akan kembali ke tempat asalku, di alam Sukhavati.

Aku hanya bisa pasrah, menyerahkan semua kepada para Dewa, setiap rencana dan jalan hidup yang diberikan, aku percaya ada maknanya dan tentunya mengandung makna yang baik.
 
Diyakinkan oleh Buddha

Diyakinkan oleh Buddha
Tgl 23-2-2010

Datang bulanku kali ini agak berbeda, banyak sekali dan bercampur dengan gumpalan-gumpalan, aku agak takut melihatnya, seperti mengalami keguguran/pendarahan saja. Aku meminta petunjuk Guruku, katanya tidak apa-apa, tubuhku sedang dalam proses pembersihan sehingga aura Bodhisattva mendapatkan ruang yang bersih. Tidak perlu ke dokter karena akan berhenti dengan sendirinya.

Dan entah kenapa mendadak aku merasakan aneh pada tubuhku, Guruku meminta agar aku bermeditasi. Dalam meditasi aku melihat ada Bodhisattva datang tapi dia tidak berbicara denganku, lalu rohku keluar mengikuti dia naik ke langit entah kemana. Sampai akhirnya aku tiba disuatu tempat, ada satu Buddha sedang duduk bersila dan berkata:

“Desi, Aku Sakyamuni.”

“Buddha Sakyamuni, mengapa saya kesini.”


“Aku mengutus Bodhisattva yang berjodoh denganmu itu untuk menemuiku. Kau adalah orang pilihannya dan semua telah ditentukan dan telah diatur, kau akan menjalani tugas ini. Aku, Julai hut, Mile hut dan Bodhisattva ini adalah Satu. Hanya saja aku turun ke dunia beberapa kali dengan tubuh fisik yang berbeda-beda berdasarkan perkembangan zaman. Di dunia ini hanya kau dan Mahagurumu yang bisa berkomunikasi denganKu, kebanyakan mereka hanya menjalankan jalan dharma berdasarkan tradisi dan buku, tidak ada petunjuk langsung dariku karena mereka tidak ada ketulusan hati dan menganggap Au tidak ada. Kau dan Mahagurumu mempunyai tugas meluruskan ajaran-ajaranku. Desi, kau harus mendengarkan perkataan Guru-Gurumu karena itu adalah kebenaran. Apakah kau sanggup menjalani tugas ini?”

“Saya akan berusaha. Tapi kenapa saat ini saya datang menemuiMu? Maafkan saya yang bodoh ini tidak mengetahui maksud Buddha Sakyamuni.”

“Aku ingin meyakinkanmu dan memintamu untuk meneguhkan hati, sekaligus memperlihatkan padamu bahwa Aku ada dan semua ini adalah nyata benar-benar kau alami.”

“Baiklah aku percaya.”

Lalu aku kembali diantar oleh Bodhisattva yang menjemputku tadi, setelah itupun Dia pergi.

Guru sejatiku mengatakan, memang tidak mudah menjalani jalan Dharma, menuntun orang dan memberi petunjuk pada mereka tidak pernah ada habisnya, satu masalah teratasi datang masalah yang lain, membuat mereka menderita dan sedih, walaupun banyak hal yang mereka tanyakan mengenai masalah mereka, aku tidak perlu takut ataupun kesal melihat semua itu, dengarkan saja setiap petunjuk yang diberikan, jika ada jawaban bagi pertanyaan mereka aku harus menyampaikannya.

Sesungguhnya semua masalah yang mereka kuatirkan dari besar sampai kecil, jawabannya hanya satu, yaitu mendekatkan diri kepada para Dewa, maka semua kekuatiran mereka akan bisa lebih ringan.

Guruku juga bilang, ada rahasia langit yang ingin dia beritahukan kepadaku mengenai rencana Buddha Sakyamuni (aku tidak bisa menulisnya disini dan belum saatnya untuk diketahui). Aku bilang pada Guru sejatiku kalau ini bukan rahasia lagi karena Buddha Sakyamuni telah memberitahukan hal ini kepadaku.

Guru sejatiku berkata:

“Desi, masi hada satu lagi rahasia langit yang ingin aku sampaikan padamu, aku telah meminta izin pada Kaisar Langit dan para Buddha untuk mengatakannya padamu, karena aku melihat kau sudah mulai paham dan mulai mempersiapkan buku ke-2.”

“Apakah itu Guru?”

“Desi, selain anugrah yang diberikan kepadamu sebelumnya dari Bodhisattva ada satu anugrah lagi yang akan datang kepadamu, sesuatu hal yang tidak akan kau percaya, ini adalah anugrah baru yang akan diberikan kepadamu. Anugrah ini tidak begitu saja diberikan, semua karena kau selalu mengikuti petunjuk yang diberikan oleh para Dewa, Buddha dan Bodhisattva.”

Aku kaget mendegar hal itu, rasanya begitu banyak rahasia langit yang dibukakan padaku, membuat aku tidak bisa bernafas. Jika orang yang berambisi dan mengejar keduniawian diberikan anugrah ini mungkin bisa menjadi tinggi hati, tapi aku merasa kebalikannya, karena hal ini terlalu tinggi dan di luar logika manusia. Siapakah diriku ini hingga mendapatkan anugrah-anugrah yang begitu besar. Apakah ini semua ilusi ataukah godaan yang harus aku alami dalam menjalankan dharma.

Aku tidak mau terpancing, aku tidak mau keluar dari jalan yang benar. Aku serahkan semua kepada para Dewa, aku mencoba untuk berpikir bijaksana menyikapi apapun yang diberikan kepadaku, aku tidak mau takabur dan juga tidak mau terlena, aku hanya akan berusaha menjalani kehidupanku dengan baik saja.

Hari ini aku mendengar kabar yang kurang baik lagi, kasus bayi tidak berkembang kembali terjadi, entah mengapa belakangan ini banyak terjadi kasus seperti ini, dunia begitu luas mengapa kasus seperti ini terus berkembang cepat, dan dialami oleh orang-orang yang aku kenal. Padahal zaman dulu, jarang sekali aku mendengar kasus ini dan kalaupun ada, orang yang mengalaminya bukan dari orang-orang yang aku kenal.

Hal ini menimbulkan ketakutan yang dalam di hati manusia, khususnya seorang ibu, apakah ini karma yang harus mereka terima? Ataukah keyakinan mereka kepada Tuhan saat ini sedang diuji, karena dengan semakin berkembangnya teknologi di dunia membuat mereka tidak mau mengandalkan kebesaran Tuhan, tapi terikat dengan kesenangan duniawinya?

Bencana alam terjadi dimana-mana, gempa bumi, banjir, tanah longsor dll datang silih berganti. Apakah kiamat/akhir zaman benar-benar akan terjadi di tahun 2012 seperti yang diramalkan orang? Tapi, asetiap aku memohon petunjuk mengenai hal ini, para Dewa selalu meyakinkan aku untuk percaya, bahwa tidak akan terjadi hal itu, karena Bodhisattva akan turun ke dunia untuk menjadi Buddha demi menolong umat manusia dari kesulitan dan penderitaan.

Banyak calon ibu yang mengalami dilema dengan keadaan bayi yang tidak berkembang dalam rahimnya, sesuatu kebahagiaan yang seharusnya mereka dapatkan berganti dengan kesedihan dan duka yang teramat dalam di hati mereka, dengan begitu cepatnya vonis jatuh pada mereka, sehingga harus ada pengguguran kandungan (aborsi). Kesalahan terletak di mana? Iman ibu yang tidak kuat ataukah terlalu canggihnya alat kedokteran zaman sekarang yang sudah bisa melihat keadaan janin lebih awal?

Sejak aku mendapatkan kontak batin dengan para Dewa, sudah terjadi beberapa kasus bayi tidak berkembang terjadi. Membuat hatiku sendiri sedih, apa yang bisa aku lakukan melihat semua ini. Sebagai manusia awam mungkin aku tidak percaya pada apa yang para Dewa katakan kepadaku, tapi tubuhku jalan hidupku memang menunjukkan banyak perubahan. Banyak keajaiban-keajaiban yang telah diberikan kepadaku selama ini, perlindungan, pertolongan dan berkah.

Apakah yang aku alami ini memang untuk menguji keyakinanku kepada para Dewa? Aku hanya bisa menyerahkan dan menjalankan setiap petunjuk yang diberikan kepadaku, aku percayakan semuanya kepada para Dewa dan tidak ingin menentangnya, aku berusaha meyakinkan hatiku dan percaya sepenuhnya, bahwa semua yang kualami ini memang telah digariskan dan diatur.
 
Membina Diri harus Benar

Hari ini juga aku mendapat pembuktian atas petunjuk yang diberikan oleh Guruku, kemarin aku sempat kesal dan menangis karena apa yang kuharapkan tidak menjadi kenyataan.

Ada seorang yang bernama Yeni menghubungiku, dia meminta tolong untuk membantu ayahnya karena 2 hari yang lalu ayahnya mendadak muntah lalu tidak sadarkan diri, dia membawanya ke rumah sakit, dokter mengatakan bahwa ayahnya terkena penyumbatan otak/batang otak, gejala struk awal, tapi dokter sudah angkat tangan dan meminta untuk dibawa saja ke luar negeri dan sementara waktu ayahnya diberi obat penenang agar tidak merasakan sakitnya.

Aku mencoba meminta petunjuk Guruku, katanya ada roh yang masuk ke otaknya dan membuat ayahnya seperti sekarang. Karena ada dendam roh wanita bernama Ayi pada kehidupan yang lalu, ayahnya itu telah berbuat tidak baik padanya sehingga dia tidak bisa menjalani hidup dan membunuh dirinya. Aku mencoba berkomunikasi dengan Ayi, dia bialng sebenarnya dia tidak mau mengikuti ayahnya Yeni, tapi dendam masa lalu itu yang membuat dia tidak bisa pergi dari ayahnya, jika dia keluar maka akan ditangkap oleh Raja Akhirat, karena itu Guruku menganjurkan agar memasukkan Ayi ke dalam pagoda saat dikeluarkan dari tubuh ayah Yeni. Suamiku mencari pagoda itu ke mana-mana, katanya jika Ayi telah keluar dari tubuh maka ayah Yeni akan bisa sembuh.

Akhirnya aku menjalankan ritual yang diajarkan Guruku dan memanggil Dewa Pencari Arwah, aku memohon agar ayah Yeni ditemukan dan dikembalikan ke tubuhnya agar bisa tertolong. Malam harinya aku menunggu kabar Ayen mengenai ayahnya, tapi dia tidak menghubungiku dan telah berangkat ke luar negeri membawa ayahnya. Besoknya aku menghubungi Yeni tapi ayahnya telah meninggal di sana. Aku sedih mendengar hal itu, kenapa bisa seperti itu, kenapa Dewa tidak membantu, bukankah aku telah menjalankan semuanya dengan tulus. Aku menangis sejadi-jadinya, merasa kecewa dengan para Dewa atas kejadian ini.

Disaat aku lebih tenang Guruku memanggil dan memberitahukan bahwa aku sudah melakukan apa yang seharusnya aku jalankan, aku telah berbuat kebaikan. Tidak semua bisa sesuai yang aku inginkan, segala sesuatunya bisa saja berubah, tapi itu semua bukan kesalahanku. Roh ayah Yeni telah ditemukan oleh Dewa Pencari Arwah dan sudah ingin mengembalikan ke dalam tubuhnya, tapi ayahnya tidak mau kembali, dia telah menyadari kesalahan di masa lalu dan merasa bersalah, dia siap menerima hukuman atas kesalahannya dan tidak mau kembali lagi ke tubuhnya yang sekarang.

Mendengar hal itu, para Dewa melihat ketulusan hatinya dan memberikan kesempatan kepadanya untuk reinkarnasi kembali. Dendam masa lalu telah terselesaikan, masing-masing telah mendapatkan kebaikan, ayah Yeni pergi reinkarnasi dan Ayi telah kubantu menyebrangi rohnya.

Beberapa waktu kemudian Yeni dan keluarganya datang kerumahku. Dia bercerita kalau dia sebelum menghubungiku untuk meminta tolong, telah lebih dulu menghubungi orang pintar yang lain dan orang pintar itu juga mengatakan hal yang sama, kalau roh ayahnya gentayangan dan dia sedang ditempeli penagih hutang. Mereka menemukan surat tulisan ayahnya yang memberitahukan bahwa hidupnya tidak lama lagi dan dia menyesali semua kesalahan yang dia lakukan. Karena ayah Yeni juga seorang praktisi meditasi, mungkin dia sudah mengetahui masa lalunya dan telah menyadari, sehingga dia telah pasrah akan hidupnya.

Tapi disini aku berpikir, pasti ayah Yeni tidak ada perlindungan dalam meditasinya, tidak ada perlindungan dari Dharmapala dan Dewa sehingga tidak bisa eluar dari karma buruknya dan tetap menerima pembayaran karma sesuai dengan takdirnya. Mungkin dia tidak membina diri dengan membaca mantra-mantra, tapi hanya menjalani meditasi saja. Jika kita menjalani meditasi tanpa membaca mantra, hati kita harus benar-benar bersih dari segala kilesa, jika kita tidak rajin membaca mantra dan membuat perlindungan saat bermeditasi, akan bisa membahayakan diri kita, kita akan mudah diganggu oleh Mara dan kita tidak mendapatkan perlindungan para Dewa dan para Dharmapala.

Karena itu, kita tidak mengetahui karma apa yang kita tanam di kehidupan yang lalu, jika karma baik maka kita akan mendapat kebaikan di kehidupan sekarang, tapi jika karma buruk maka akan mendapat hal yang buruk pula di kehidupan sekarang. Karma itu benar-benar ada, semua karena perbuatan kita sendiri, karma tidak diturunkan oleh orang tua kita, atau tertular dari keluarga atau orang lain yang berada di sekitar kita.

Kita sendiri yang berbuat maka kita sendiri yang akan mendapatkan akibat, jadi jangan menyalahkan siapapun terlebih menyalahkan alam semesta. Tapi introspeksi diri dan renungkanlah segala yang terjadi di sekeliling kita agar kita bisa menyadari bahwa hidup di dunia ini begitu penuh dengan penderitaan dan kesulitan karena kita yang menciptakannya sendiri.
 
Kertas Mantra Ksitigarbha Bodhisattva

Kertas Mantra Ksitigarbha Bodhisattva
Tgl 5/3/2010

Malam harinya Guruku meminta agar aku meditasi pukul 10 malam, katanya ada yang ingin bertemu denganku. Tapi karena aku lelah bertemu dengan tamu, saat meditasi aku tidak bisa konsentrasi dan tidak bisa masuk dalam samadhi, jadi aku baru bisa meditasi esok malamnya.

Aku kira akan ada Guru roh baru yang akan menggantikan Dewa-dewa langit yang telah selesai membimbingku, dalam konsentrasi meditasi aku melihat perwujudan seorang pangeran dengan baju putih berbarengan dengan munculnya seekor naga putih yang melesat cepat dan berputar, aku amati saja semua itu dan membiarkan berjalan karena kupikir itu hanya ilusi, tapi alurnya semakin jelas, secara tiba-tiba muncul Cu Pat Kai dengan wajahnya di depan mukaku lalu muncul Sa Cie dan Sun Go Kong.

Aku merasa aneh… kenapa mereka semua muncul dalam meditasiku hari ini. Pertanyaan dalam hatiku terjawab dengan munculnya Ksitigarbha Bodhisattva dengan mengenakan jubah kebesarannya lengkap dengan Mahkota dan tongkatnya. Aku berpikir apakah kedatangan Ksitigarbha Bodhisattva adalah untuk mengangkat aku menjadi murid? Apa yang akan diajarkannya? Seiring dengan pertanyaan dalam hatiku, terbuka tanda komunikasi antara aku dengan Ksitigarbha Bodhisattva.

“Desi.. aku Tong Sam Cong, Te Cang Wang Pusa, Ksitigarbha Bodhisattva. Aku datang menemuimu untuk memberikan petunjuk kepadamu.”

“Ksitigarbha Bodhisattva, saya bersyukur mendapatkan berkah ini, apa yang ingin engkau sampaikan.”

“Aku tahu pada saat ceng beng nanti banyak arwah dan leluhur yang akan kau sebrangkan, karena itu aku datang hari ini untuk membantumu agar pelimpahan jasa bisa berjalan dengan baik.”

“Mohon petunjuknya.”

“Pada ritual penyebrangan roh nanti, saat membaca sutra tidak perlu terus menerus tidak berhenti, tapi bacalah tiap bab dengan diselingi istirahat, karena hasilnya tetap sama. Buatlah teratai dari kertas Perak untuk para arwah dan leluhur, tidak perlu satu nama pada satu teratai, tapi satu kelopak teratai satu nama, jadi satu teratai bisa beberapa nama arwah. Aku juga ingin memberikan kertas mantram dengan kertas mantra ini semua arwah dan leluhur yang kau lakukan penyebrangannya bisa terangkat semua dan bisa naik tingkat tidak ada yang tertinggal. Bakarlah setelah selesai memvaca sutra dan satu hari sebelumnya kertas mantra itu harus diletakkan di bawah dupa altar.”

“Terimakasih atas petunjuk dan kebaikan yang Ksitigarbha Bodhisattva berikan kepada saya.”

Lalu Beliau dan murid-muridnya pergi, inilah pertama kalinya aku dikunjungi oleh Ksitigarbha Bodhisattva dan mendapatkan petunjuk dariNya, disaat aku akan menjalankan ritual penyebrangan roh untuk yang pertama kalinya.

Aku menjalankan petunjuk yang diberikan oleh Ksitigarbha Bodhisattva, dan menjalankan ritual penyebrangan roh dengan setulus hati. Walaupun lelah aku senang menjalaninya, apalagi setelah melihat reaksi alam terjadi saat itu. Aku melihat kehadiran Ksitigarbha Bodhisattva di antara langit dan bumi duduk diatas teratai, mustika api yang berada di tangannya memancarkan sinar emas menyorot ke bumi, secara perlahan roh-roh yang telah mendapatkan bekal dari keluarga yang melakukan pelimpahan jasa pada saat itu terangkat naik melewati sinar itu dan mereka semua yang telah terangkat berdiri mengelilingi Ksitigarbha Bodhisattva.

Hujan juga tidak turun saat itu, setelah selesai ritual langit memerah sampai menyinari bumi seperti warna sorotan mustika Ksitigarbha sedang mengangkat para roh ke atas untuk disebrangkan.

Aku bahagia melihat kejadian itu, menandakan apa yang kulakukan diterima oleh para Dewa dan mereka berkenan terhadap apa yang kulakukan. Aku akan terus menjalani semua ini dengan tulus, membantu Ksitigarbha Bodhisattva menyelamatkan para roh yang tersesat. Semoga aku bisa menjalankan setiap petunjuk yang diberikan oleh para Dewa dengan baik.
 
Mendapat Rupang dan Japamala dari Guru Sejatiku

Pada suatu malam aku merasakan perubahan aneh dengan diriku. Aku merasakan tubuhku ringan dan rohku seperti bangkit, sehingga aku seperti merasakan kulit dan tulangku berpisah. Merasakan hal itu aku segera menuju ke ruang khusus dan mulai mencoba untuk masuk ke dalam meditasi, karena aku merasa seperti akan ada sesuatu yang kualami.

Setelah beberapa lama masuk ke dalam samadhi, aku melihat seorang anak remaja perempuan sedang bermain ayunan, kemudian dia masuk ke dalam rumah yang berada di dekat tempat dia bermain itu, lalu menuju ke suatu kamar di lantai atas rumah itu. Ternyata itu kamarnya, diatas tempat tidur dia berniat nonton televisi, tapi acara tidak ada yang bagus kemudian dia mematikan televisi itu dan berniat untuk tidur, tapi dia seperti terlupa sesuatu lalu bangkit dari tempat tidurnya menuju sebuah lemari baju, dia mengambil sebuah japamala dari lemari itu.

Kemudian dia turun melewati sebuah tangga spiral dan masuk ke dalam suatu ruangan, sepertinya ruangan altar, disana terpasangan gambar Guru sejatiku Dewi Seribu Tangan Seribu Mata berukuran agak besar. Gadis itu bersujud dan membaca mantra sambil memutar japamala, aku melihat gambar Guru sejatiku itu hidup dan menopangkan tangannya kekepala gadis itu yang sedang bersujud di depannya. Setelah selesai bersembahyang, gadis itu kembali ke kemarnya dan tidur.

Saat dia tidur, rohnya keluar dari tubuh dan pergi ke langit melalui jendela, ternyata dia pergi ke alam Sukhavati, disana dia bertemu dengan Guru sejatiku, Dewa Ganesha dan para Dewi lainnya, Guru sejatiku itu memberi sebuah japamala bergambar dirinya kepada gadis itu, setelah itu gadis itu kembali ke dalam tubuhnya.

Saat gadis itu bangun, dia kembali ke ruang altar tadi untuk bersembahyang, tapi tiba-tiba saja gadis itu jatuh pingsan, aku melihat Guru sejatiku keluar dari gambarnya itu dan menolong gadis itu dengan memasukkan sesuatu (seperti permen mata kecil) ke dalam dahinya, kemudian gadis itu siuman kembali.

Awalnya aku tidak mengerti mengapa aku melihat hal itu dalam meditasi hari ini, apakah ini suatu petunjuk atau hanya ilusiku saja. Aku menanyakan mengenai hal ini pada Guruku, Guruku bilang bahwa dia pernah memberikan japamala kepadaku pada kelahiranku yang lalu dan akan mendapatkan dariNya melalui orang yang berjodoh juga denganNya. Dan Guru sejatiku juga mengatakan, karena aku belum memiliki rupang diriNya sampai saat ini, aku diminta untuk pergi ke suatu toko di daerah Jakarta disana aku bisa bertemu dengan rupangNya yang berjodoh dengan ku.

Mendengar itu aku senang sekali, aku segera mengatakan hal ini pada suamiku. Dan kami pergi ke toko tersebut. Ternyata benar apa yang dikatakn Guruku, saat aku masuk ke toko itu aku melihat ada rupang Guru sejatiku sama seperti gambar yang aku miliki sebelumnya, melihat rupang itu aku merasakan persaan yang berbeda, dan memang di toko itu rupang Guruku Cuma ada satu-satunya. Dan anehnya lagi harga rupang itu jumlahnya pas sekali dengan uang yang kami bawa dari rumah padahal sebelumnya tidak kami hitung dulu.

Selang beberapa hari, tiba-tiba saja datang seorang tamu yang sudah pernah kukenal dan berjodoh dengan Dewi Seribu Tangan Seribu Mata kerumahku, dia memberikan sebuah japamala kepadaku sebagai oleh-oleh.

Apakah ini suatu kebetulan, aku rasa tidak. Aku percaya bahwa aku bisa mengetahui apa yang akan kualami dalam kehidupan ini, walaupun belum terjadi. Karena pembinaan diriku selama inilah yang telah membuat aku bisa mendapatkan kelebihan itu, aku sungguh amat bersyukur.

Pada sore harinya, setelah aku mengalami kebenaran dalam meditasi, saat aku sedang di teras lantai atas rumahku, aku merasa tubuhku agak goyang, sedikit melayang dan ada sesuatu yang naik turun di belakang kepalaku. Merasakan keganjilan ini aku segera masuk ke dalam meditasi. Aku melihat sesuatu yang kuncup dengan ukuran besar, di dalamnya seperti ada sesuatu yang bersinar, lalu kuncup itu terbuka, semakin diperhatikan seperti bunga teratai mekar, dan ditengahnya muncul Guru sejatiku dengan seluruh tangannnya yang bergerak-gerak duduk di atas teratai itu.

Lalu dibawah teratai itu muncul sebuah tangga yang terbuka turun ke bawah satu demi satu, tidak lama kemudian rohku keluar dari tubuh dan naik ke atas melalui tangga tersebut. Sesampainya diatas, Guru sejatiku turun dari teratai dan menghampiriku, dia menuntunku untuk duduk di sampingnya dan berkata:

“Desi…. Percayalah pada perkataanku, semua sudah ditetapkan, kau tidak perlu berpikir macam-macam, yang penting jalanilah hidupmu dengan baik dan semua tugas-tugasmu. Biarkan semua berjalan sesuai rencana.”

“Tapi Guru.. kenapa sampai saat ini tidak ada tanda apapun?”

“Sesungguhnya itu untuk mengecoh Mara, agar Mara tidak menyadari kalau kau telah mendapat anugrah itu. Jadi alam membuat dirimu seperti orang biasa, karena semua ini masih rahasia.”

“Oh begitu… baiklah Guru saya percaya.”

Akhirnya Guru sejatiku menyuruh aku kembali dan Dia menghilang.

Sejak mendapatkan anugrah ini, telah sering Guru sejatiku dan para Dewa meyakinkan aku, walaupun aku merasa sedikit bimbang, tapi Guru sejatiku dan para Dewa meminta agar aku mempercayainya. Karena keyakinanku kepada para Dewa harus Teguh, dengan begitu jalan dharma bisa berjalan dengan baik.

Aku amat berterimakasih kepada para Buddha, karena berkenan memilih aku untuk menjalankan amanat ini. Walaupun aku sadar, aku bukanlah manusia yang suci dan bersih, tapi merupakan keberuntungan besar bagiku, bisa mendapatkan perlakuan khusus dalam pembinaan diriku selama ini. Semoga segala petunjuk dan bimbingan yang mereka berikan kepadaku, bisa aku jalankan dengan baik.
 
Aura Buddha dan Bodhisattva

Pada tanggal 20 Maret 2010, aku diminta oleh Guru sejatiku untuk bermeditasi. Disitu aku melihat ada stupa-stupa, apa yang kulihat pada saat itu tidak bisa kuteruskan, karena aku terlalu lelah sehingga tidak bisa berkonsentrasi, aku memohon maaf pada Guru sejatiku.

Esok harinya, aku kembali diminta untuk meditasi karena kemarin tidak menjalaninya. Karena hari ini tubuhku agak segar, aku lebih bisa berkonsentrasi dan bisa memasuki samadhi.

Apa yang kulihat sama seperti kemarin, ada stupa-stupa dan patung Buddha, stupa-stupa itu tersusun dari yang paling tinggi di tengah dan stupa lainnya mengelilingi stupa yang diatas, membentuk sesuatu seperti sebuah candi, entah candi apa? Aku melihat disitu diriku sedang bermeditasi di bawah pohon menghadap candi itu. Stupa-stupa itu terbelah dua dan patung Buddha yang ada di dalamnya terangkat keatas, bergabung menjadi satu memancarkan cahaya hijau ke arahku yang sedang meditasi di bawah pohon.

Penglihatan itu hilang dan berganti dengan sebuah vihara di daerah Jakarta, daerahnya tidak asing bagiku karena aku pernah ke vihara itu sebelumnya. Dalam meditasi aku pergi ke vihara itu, di altar utama duduk rupang Buddha Maitreya besar dan didepannya ada beberapa rupang Buddha Maitreya juga yang agak kecil. Aku meditasi di depan altar itu dan rupang-rupang Buddha Maitreya yang ada disitu bergabung menjadi satu dan memancarkan sinar kuning ke arahku.

Penglihatan itu hilang lagi dan berganti dengan sebuah vihara dengan pintu gerbang masuknya yang melengkung bertuliskan vihara Sukhavati, aku masuk ke dalam dan melihat altar bersinar emas dan terang. Lalu itupun menghilang. Aku tidak mengerti dengan apa yang kulihat itu. Guruku berkata:

“Desi…kau harus pergi ke Candi Borobudur di Yogya dan ke vihara Maitreya yang ada di Jakarta untuk mendapatkan berkah dari Buddha Sakyamuni dan Buddha Maitreya.”

“Kenapa harus ke Borobudur Guru, saya sudah pernah kesana sebelumnya.”

“Saat itu kau belum terbuka, disana ada kekuatan yang besar karena merupakan peninggalan dari Buddha Sakyamuni, setiap waisak selalu diadakan ritual sembahyang, tapi hanya orang-orang seperti kau yang bisa menyerap energi murni di tempat itu, banyak dari mereka yang tidak merasakan apa-apa dan tidak mendapatkan apa-apa, karena kebanyakan dari mereka hanya mengikuti tradisi saja dan tidak benar-benar mendapatkan berkat dari tempat itu.”

“Tapi… itu ada di luar kota.”

“Carilah waktu untuk kesana, karena ini sangat penting. Apa kau mengerti?”

“Baiklah, saya akan berusaha.”

Aku mencoba untuk menjalankan petunjuk itu, yang paling mudah untuk pergi adalah ke Vihara Maitreya di Jakarta karena tempatnya dekat. Disana saat bermeditasi aku melihat cahaya kuning bersinar dan merasakan cakra mahkotaku terbuka, aku kira rohku akan keluar, tapi ternyata salah satu rupang Buddha Maitreya yang ada di altar terangkat menuju ke arahku dan masuk kedalam tubuhku melalui cakra mahkotaku yang terbuka itu.

Satu petunjuk telah aku jalankan, tinggal satu lagi dan agak sulit karena tempatnya jauh. Suatu hari dalam meditasi, aku melihat seekor gajah berwarna putih yang cantik dan diatasnya ada seseorang yang duduk bersila di atas teratai, melihat hal ini aku sempat keluar dari meditasi, karena kupikir aku sedang berkhayal dan tidak berkonsentrasi dengan baik.

Aku mencoba menenangkan pikiran sejenak dan kembali masuk dalam meditasi, tapi aku melihat hal yang sama, seekor gajah dan seseorang yang duduk di atasnya, kemudian muncul lagi seekor singa dengan orang duduk diatasnya juga, aneh siapa mereka? Aku mencoba menerka-nerka dalam hati, lalu terbuka komunikasi antara kami:

“Desi… kami adalah Bodhisattva Manjusri dan Samantabhadra, kau akan pergi menemui Buddha Sakyamuni di candi Borobudur, kami ingin memberikan petunjuk kepadamu mengenai kepergianmu ke sana. Buddha Sakyamuni adalah Buddha tertinggi dan paling diagungkan, ada hal-hal yang harus kau lakukan.”

“Apakah itu?”

“Saat kau sampai disana, ada beberapa stupa yang paling dekat dengan stupa utama Buddha Sakyamuni, pada setiap stupa kau harus menempelkan dahimu dan membaca mantra “GATE GATE PARAGATE PARA SAMGATE BODHI SVAHA” sebanyak 3 kali. Keliling stupa memutar searah jarum jam, setelah itu pada stupa utama bernamaskara dan membaca mantra yang sama lalu mundur kebelakang sebanyak 35 langkah, kemudian turunlah ke bawah untuk bermeditasi menghadap candi, itulah yang harus kau lakukan. Apakah kau bisa?”

“Bisa… saya akan mengikuti petunjuk yang Bodhisattva berikan. Terimakasih.”

Lalu Bodhisattva Manjusri dan Bodhisattva Samantabhadra menghilang, dan aku masih bingung akan kedatangan mereka memberi petunjuk, apa hubungan mereka dengan Buddha Sakyamuni, sehingga Mereka datang menemuiku? Aku mencoba mencari tahu mengenai Mereka, ternyata Mereka berdua adalah 2 pembantu utama Buddha Sakyamuni, ini pengalaman yang membuat aku takjub. Percaya atau tidak ini benar-benar terjadi, hanya kadang merasa aneh saja bisa mengalami hal ini.

Pada tanggal 9 April 2010, aku, suamiku dan anak pertamaku tiba di Yogya menjalani petunjuk ke Candi Borobudur. Karena pamanku yang tinggal disana hanya tinggal di tempat kerjanya, jadi kami memutuskan untuk menginap di hotel. Saat mencari hotel aku tidak ikut mereka dan tidak tahu kalau hotel itu tidak bersih, suamiku menyewanya selama 2 malam, saat sampai di kamar hotel aku sudah terlalu lelah dan ketiduran, saat itu masih pukul 9 malam, suamiku juga masih mengobrol dengan pamanku.

Pada jam 3 pagi aku bangun dan berniat untuk sadhana dan meditasi seperti biasa, dan mempersiapkan tempat menghadap pintu kamar dan duduk bersila disana. Saat mulai membaca mantra aku mendengar sesuatu, aku membuka mataku sambil tetap melafal mantra tapi menunggu beberapa saat tidak ada apa-apa, lalu aku menutup mata lagi dan berkonsentrasi kembali pada pembacaan mantra, tapi ada suara lagi kudengar, aku kembali membuka mata. Saat buka mata tidak ada suara, tapi saat tutup mata ada suara-suara yang mengganggu konsentrasiku. Aku mencoba tak menghiraukan suara itu dan tetap berkonsentrasi, tapi saat aku menutup mata kembali untuk yang ketiga kalinya bukan suara aneh lagi yang aku dengar, tapi ada roh berada didepanku dan mengeluarkan suara ssstttttttttt………….sepertinya dia menyuruh agar aku diam dan tidak membaca mantra.

Mendengar itu konsentrasiku pecah, aku tidak bisa lagi meneruskan pembacaan mantra dan bermeditasi di kamar itu, banyak arwah yang masuk kekamarku. Aku bergerak mundur dan mencoba untuk tidur, tapi saat aku pejamkan mata arwah-arwah itu muncul, sepertinya ramai sekali, aku berpikir tempat apa ini, kenapa banyak hantu disini? Aku tidak bisa tidur lagi, suamiku merasakan kegelisahanku dan bertanya ada apa? Aku bilang padanya kalau tempat ini tidak bersih. Dia bilang dia sudah tahu karena saat pamanku pulang pukul 12 malam saat ingin ditur, ada suara-suara aneh di kamar itu.

Ini salahku juga, karena aku tidak memeriksa tempat ini sebelumnya, kalau tahu dari awal aku pasti memilih tempat lain untuk menginap, memang kadang-kadang aku tidak mempergunakan kelebihanku untuk berjaga, sehingga harus mengalami hal ini. Guruku blang kalau tempat ini dulunya adalah tempat pemakaman umum, pantas saja begitu ramai. Guruku bilang agar aku tidak perlu memperhatikannya, dan bersikap seolah aku tidak merasakan keberadaan mereka nanti mereka akan pergi sendiri.

Aku masih menginap di hotel itu satu malam lagi, dan memagari kamarku dengan perlindungan yang diajarkan Guruku, agar hantu-hantu itu tidak masuk ke kamarku. Dengan tidur sambil membaca mantra di dalam hati di malam kedua, aku merasa diselimuti oleh cahaya Buddha-Bodhisattva sehingga tidak terganggu dan bisa tidur dengan nyaman. Saat kami pulang dengan menggunakan taxi, supir taxi itu juga mengatakan kalau tempat itu bekas kuburan umum.

Tanggal 10 April 2010, aku pergi ke Candi Borobudur dan mengikuti petunjuk yang diberikan Manjusri Bodhisattva dan Samantabhadra Bodhisattva, saat meditasi menghadap candi aku melihat stupa-stupa teratas yang mengelilingi stupa utama terbuka dan patung-patung Buddha didalamnya terangkat keatas dan berputar cepat searah jarum jam mengelilingi stupa utama yang paling besar yang perlahan terbuka dan patung Buddha disitu naik, saat Mereka sedang berputar cakra mahkotaku terbuka, dan patung Buddha yang paling besar menghampiriku dan masuk kedalam diriku melalui cakra mahkotaku yang terbuka. Kemudian patung-patung Buddha yang berputar, kembali ke stupa masing-masing dan stupa-stupa itu tertutup kembali. Setelah itu datang Manjusri Bodhisattva dan Samantabhadra Bodhisattva berkata :

” Desi… aura Buddha dan Bodhisattva telah masuk kedalam dirimu. Jalanilah hidupmu dengan baik agar kedatangan mereka bisa berjalan dengan baik dan tiada cela »

Akhirnya kedua petunjuk telah aku jalankan dengan baik, aku serahkan semua kepada para Dewa. Segala kebenaran yang terjadi padaku, biarlah nantinya bisa memberi kebaikan bagi semua makhluk.
 
Mengucapkan Sumpah Bodhi

Tanggal 14 April 2010, aku kembali ke Jakarta. Setelah selesa menjalankan petunjuk para Dewa untuk ke Candi Borobudur di Yogya. Kami pulang dengan menggunakan pesawat terbang, saat pesawat kami landing di bandara Soekarno Hatta, Guru sejatiku memanggil dan meminta agar aku pergi ke salah satu vihara di Tangerang untuk mengikuti ritual api homa, karena ada sesuatu yang akan aku lakukan di sana.

Sebenarnya aku tidak ada rencanan untuk ke vihara itu, karena baru kembali dari Yogya dan tidak tahu acara api homa itu jam berapa, kami berpikir pasti tidak akan keburu waktunya. Kami harus pulang dulu ke rumah untuk mandi dan bersiap ke vihara itu. Ternyata memang Para Dewa sudah mengatur waktunya, sehingga saat kami sampai di sana acara pujabakti baru saja dimulai.

Pada saat itu ada 3 orang Biksu yang memimpin pujabakti, aku tidak mengenal mereka semua, katanya mereka dari luar negeri. Saat mulai ritual api homa yang dipimpin oleh salah satu Biksu itu, aku merasakan kehadiran para Buddha Bodhisattva karena Biksu itu punya konsentrasi yang sangat baik, sehingga para Buddha-Bodhisattva berkenan untuk turun dan memberkati api homa hari itu.

Saat sesi meditasi, Ksitigarbha Bodhisattva datang memberikan petunjuk cara meletakkan rupangnya di altar rumahku, apa saja yang harus aku siapkan. Ksitigarbha Bodhisattva tahu kalau aku baru saja membeli rupang dirinya juga rupang Mahadewi Yao Chi di vihara itu.

Setelah api homa dan meditasi selesai, disaat ceramah dharma Guru sejatiku memberitahu, kalau aku harus ke rumah salah satu Biksu yang memimpin pujabakti di vihara itu, aku sempat kaget dan bingung kenapa begitu. Untuk apa aku ketempatnya, apalagi mereka semua dari luar negeri, mengapa aku harus pergi ke rumahnya. Banyak pertanyaan dalam hatiku, tapi aku tidak menolak petunjuk yang diberikan oleh Guruku, karena aku percaya dia tidak akan menyusahkan aku.

Guruku memberitahu kalau aku harus pergi ke rumah salah satu dari tiga biksu yang duduk di depan, untuk bernamaskara dan mengucapkan sumpah bodhi/ikrar dihadapan altar Buddha-Bodhisattva di rumahnya. Biksu itu duduk dipaling kanan, setelah aku menyelidiki dan mencari tahu mengenai Biksu itu, ternyata dia bukan orang luar negeri dan tinggalnya di Jakarta. Aku sungguh bersyukur untuk semua ini, karena Guruku memang tidak menyulitkan aku.

Akhirnya di akhir acara, aku dan suamiku menghampiri Biksu itu dan meminta izin untuk datang ke rumahnya, aku ceritakan petunjuk yang diberikan oleh Guru sejatiku padanya. Awalnya dia tidak mengizinkan, karena altar pribadi tidak boleh dimasuki oleh orang lain. Aku memahami kesulitannya taoi tugas Guruku harus kujalankan, karena aku selalu berusaha untuk tidak melewatkan satu tugaspun yang diberikan oleh Guruku. Aku menitipkan buku pertamaku padanya agar paling tidak jika dia berkenan membacanya mungkin sedikit mengetahui dan memahami apa yang kujalani saat ini.

Aku harus tiga kali menemui Biksu itu di beberapa vihara, di saat dia memimpin ritual. Akhirnya dia mengizinkan aku ke rumahnya untuk bernamaskara di depan altar rumahnya.

Tepatnya tanggal 25 Mei 2010, aku datang ke rumah Biksu yang ditunjuk oleh Guru sejatiku, bernamaskara di altar rumahnya dan mengucapkan sumpah bodhi/ikrar di hadapan para Buddha, Bodhisatta, Dewa, Dharmapala dan Dakini.

Isi ikrar itu adalah:

1. Menjalankan misi yang diberikan sejak awal mendapatkan kontak batin dengan para Dewa, yaitu “menjalankan kebenaran dan menolong orang”.
2. Membantu Ksitigarbha Bodhisattva untuk mengosongkan neraka dengan melakukan Penyebrangan Roh.
3. Menjalankan ajaran dharma sesuai petunjuk yang diberikan oleh para Guru dharma dari angkasa untuk menyelamatkan para insan, agar terlepas dari tumimbal lahir dan bisa terlahir di tanah suci Sukhavati, surga barat Buddha Amitabha.

Itulah ketiga sumpah bodhi yang aku ucapkan di hadapan para Buddha, Bodhisattva, Dewa, Dharmapala dan para Dakini. Aku telah menyerahkan kehidupanku ini untuk mengikuti jalan para Bodhisattva, melepaskan ke-aku-an dalam diriku. Mengabdikan diriku saat ini untuk menjalankan dharma Buddha dengan setulus hati.

Aku sangat berterimakasih pada Biksu itu, atas bantuannya sehingga aku bisa menjalankan tugas dan petunjuk Guruku dengan baik. Aku percaya kalau Guru sejatiku juga para Buddha dan Bodhisattva memilih dia itu dan juga tempatnya untuk datang memberkati aku saat mengucapkan sumpah bodhi, pasti telah melihat sisi baik dalam dirinya dan Buddha Bodhisattva berkenan kepadanya.

Dalam menjalankan tugas ini, sempat membuat aku gemetar dan berdebar-debar. Manusia tidak sembarangan mengucapkan sumpah, apalagi sumpah yang diucapkan di hadapan para Buddha. Tapi aku merasakan sisi positif dari mengucapkan sumpah bodhi ini, karena setiap aku mulai sedikit menyimpang dari ajaran Buddha, dengan sendirinya mengingat sumpah bodhiku, dengan segera kembali pada jalan dharma.
 
Mahaguru Datang Memberi Perlindungan

Pada saat peluncuran buku Mahaguru di sebuah pertokoan di Jakarta, aku pergi ke pameran itu untuk membeli beberapa buku tulisan Mahaguru yang belum aku miliki dan aku membeli 3 buah buku karyanya dan membawanya pulang.

Pada keesokan harinya, saat aku hendak pergi bersama dengan suami dan anakku, aku membaca salah satu buku Mahaguru di mobil dalam perjalanan ke sebuah mal untuk menemani anakku bermain. Baru saja membaca beberapa halaman tiba-tiba saja mataku terasa berat seperti mengantuk, aku berusaha untuk tetap membaca buku itu tapi rasa berat pada mataku sulit kutahan, aku mencoba menutup mata dan berniat untuk tidur sesaat karena kupikir aku memang ingin tidur.

Beberapa lama memejamkan mata ternyata aku tidak bisa tidur, pikiranku seperti melayang entah kemana tapi secara samar aku melihat perwujudan Mahaguru. Mungkin aku hanya berhalusinasi, lalu aku kembali membuka mataku, tiba-tiba saja Guruk memberitahu, kalau Mahaguru ingin berkomunikasi denganku dan aku diminta untuk berkonsentrasi meditasi sejenak.

Aku mengikuti petunjuk Guruku itu, dan dalam keadaan mobil yang sedang berjalan, aku memposisikan tubuhku untuk bermeditasi, walau mobil bergoyang tapi aku sudah terbiasa dan sudah bisa berkonsentrasi dalam meditasi. Setelah beberapa saat aku melihat kedatangan Mahaguru, dia duduk bersila memegang genta di tangan kirinya dan vajra di tangan kanannya dan mengenakan jubah kebesaran dengan Mahkota Panca Dhyani Buddha berwarna merah. Mahaguru semakin jelas kulihat sedang menggoyang-goyangkan genta, suara genta kudengar secara samar.

“Desi… aku sudah mengetahui mengenai dirimu, bahwa kau telah dipiih untuk menjalankan amanat yang besar dari Buddha Sakyamuni dan Buddha Maitreya. Buddha Sakyamuni telah memberitahukan hal ini padaku. Kedatanganku adalah sekaligus untuk membuktikan kebenaran ini. Mulai hari ini aku akan melindungi dan menjagamu, karena waktunya sudah tidak lama lagi. Kau tidak boleh mengatakan kalau kau bukan bagian dari aliranku, kau dan aliranku memiliki garis silsilah yang sama, kau dan aliranku akan bersama-sama saling mendukung menjalankan dan mengembangkan jalan dharma. Jangan berpikir sama terhadap semua umat, karena tidak semua umat tidak tulus dan salah, tapi ada juga yang tulus dan benar.”

“Baiklah, saya mengerti Mahaguru.”


“Jagalah dirimu dengan baik dan ikutilah setiap petunjuk yang diberikan oleh para Dewa. Aku meminta agar kau membaca mantra hatiku setiap hari.”

Lalu Mahaguru menghilang seiring dengan redanya tanda komunikasi antara kami.

Aku agak sedikit aneh dengan pengalamanku ini, kenapa Mahaguru mendadak datang, apakah ini sungguhan? Apakah Mahaguru benar-benar telah tahu siapa diriku? Ataukah ini hanya ilusiku saja?

Guru sejatiku meminta agar aku mempercayai apa yang kualami barusan, aku agak tegang dan was-was menghadapi hal ini. Apakah kebenaran ini akan terjadi? Apakah akan ada mukijzat yang kualami? Aku hanya bisa berserah diri kepada para Dewa, hidup dan mati bukan milikku.

Aku akan berusaha agar misi yang telah diturunkan dari langit bisa berjalan dengan baik dan lancar sesuai dengan kehendak para Dewa. Aku hanya sebagai perantara dan media penyebaran jalan dharma agar banyak makhluk di muka bumi ini dan di 4 alam kehidupan terselamatkan dari penderitaan.

Aku bersyukur bisa berjodoh dengan Mahaguru, tubuh dharmakayanyalah yang selalu datang membimbing. Beliau mengajarkan visualisasi dan beberapa mudra, beliau juga yang membantu rohku bisa keluar dari tubuh fisik dan membawaku berkeliling ke nirwana dan neraka.

Aku percaya beliau bukan orang biasa, benar-benar seorang Buddha Hidup yang tingkat pencapaian meditasinya sudah mencapai samyaksambodhi. Beliau telah sama dengan Buddha-Bodhisattva, karena di saat aku mendapatkan kontak batin dan bimbingan dari Buddha-Bodhisattva, Mahaguru juga datang membimbingku. Walaupun aku mendengar kata-kata tidak baik mengenai dirinya, aku tidak terpengaruh sebab aku sendiri telah mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak.
 
Mempersiapkan Anugrah Datang

Tanggal 08 Agustus 2010, saat aku dalam perjalanan pulang dari sebuah mal, aku merasakan sisi kanan kepalaku terasa memanas dan seperti ada arus listriknya. Aku rasakan hanya sesaat saja, karena itu aku tidak terlalu menghiraukan keanehan pada diriku itu.

Sampai dirumah anakku meminta untuk memasakkan sesuatu untuk dia makan, dan saat memasak itu, aku merasakan perubahan aneh pada tubuhku, rasa melayang, ringan dan kelembutan yang aku rasakan membuat aku memutuskan untuk turun ke ruang altar. Tapi aku tidak langsung meditasi karena berharap Guru sejatiku memberikan petunjuk mengenai yang kualami ini, tapi aku tidak tahan untuk masuk ke dalam meditasi.

Dalam meditasi aku merasakan kenyamanan dan keringanan dalam tubuhku, tapi ada tekanan kuat pada ujung hidungku, tekanan itu perlahan lahan naik ke atas sampai ke cakra dahiku dan menyebar disana, setelah itu aku merasakan tanda komunikasi. Perlahan aku melihat kehadiran Buddha Sakyamuni dan Buddha Maitreya, aku juga melihat tubuhku memancarkan cahaya terang bersamaan dengan kehadiran Mereka. Buddha Sakyamuni berkata:

“Desi… Aku tahu kau ragu dengan apa yang kau alami, Aku beritahukan kepadamu, semua yang kau alami adalah kebenaran, Buddha dan Bodhisattva tidak akan berbohong mengenai dirimu. Teguhkanlah hatimu, ikutilah semua petunjuk yang diberikan oleh Gurumu dan para Dewa.”

“Tapi, saya merasa takut apa yang dikatakan Buddha dan Dewa tidak sesuai dengan kenyataan yang hamba terima. Hamba takut telah salah jalan dan masuk dalam perangkap Mara.”

“Percayalah kau tidak salah jalan, kau telah mendapat berkah dariKu dan juga para Bodhisattva serta perlindungan dari para Dharmapala. Kau sudah dipilih untuk menjalankan amanat ini, tidak perlu berpikir yang tidak-tidak, yang penting jalankanlah hidupmu dengan baik dan ikutilah selalu petunjuk yang diberikan oleh para Dewa.”

“Baiklah Buddha Sakyamuni aku akan berusaha.”

Lalu Buddha Maitreya dan Buddha Sakyamuni menghilang, setelah aku keluar dari meditasi, Guruku memberikan petunjuk lagi kepadaku.

“Desi, kau harus percaya terhadap setiap petunjuk yang telah diberikan kepadamu. Kau adalah Dewi Sukhavati ke-27. Roh yang masuk ke alam Sukhavati tidak mudah untuk bisa mencapai tingkatan ke-27, kebajikan yang mereka tanam haruslah besar. Kebanyakan dari mereka berada di alam Sukhavati tingkat ke-5. Hanya kau Dewi Sukhavati yang turun ke dunia fana. Jalan hidupmu sudah diatur sejak kau mulai membina diri dan kau telah dipilih. Jadi jangan menganggap dirimu tidak berarti dan tidak berharga.”

“Guru… apa yang harus aku lakukan?”

“Persiapkanlah semua dengan baik dan jangan ragu lagi. Waktunya tidak lama lagi, semua ini kau lakukan agar tidak tergesa-gesa nantinya.”

Aku bingung apa yang harus aku lakukan, mengikuti petunjuk Guruku atau tidak? Dalam jalan dharma, keyakinan adalah iman kita. Karena disitulah letak ketulusan hati, bukankah aku telah berikrar mengikuti jalan Bodhisattva. Seharusnya aku punya keteguhan hati, apapun resikonya aku harus Teguh pada keyakinanku, percaya sepenuhnya pada perkataan dan petunjuk Guruku, dan para Dewa, bahwa semua itu adalah kebenaran.

Akhirnya aku membulatkan hatiku untuk mempersiapkan semuanya dan aku yakin pada perkataan Guruku, yakin pada perkataan para Buddha dan yakin pada perkataan para Dewa. Aku tidak peduli lagi terhadap apa yang dikatakan orang nantinya, yang mungkin menganggap aku sudah gila dan aneh, mempersiapkan sesuatu hal yang tidak mungkin menurut mereka.

Aku percaya pada kekuatan alam semesta, percaya kepada Guru, percaya kepada Buddha Sakyamuni. Semua ini telah diatur, jalan hidupku telah diatur ke arah yang baik. Mereka tidak akan menuntunku ke jalan yang salah. Aku yakin selama hati terdalamku tidak ternoda oleh kekotoran batin aku pasti tidak akan salah jalan.

Sebagai seseorang yang telah mendapatkan kontak batin dan selalu berusaha membina diri dengan baik, aku tidak ingin ragu sedikit pun. Aku tidak ingin melekat pada keakuan, keegoisan dan amarah. Segala ketakutan dan kekhawatiranku selama ini tidak beralasan, karena sesungguhnya aku hanya takut dinilai oleh orang lain, takut dikatakan orang lain kalau aku hanya mengada-ada. Kejadian dan pengalaman batin dengan para Dewa benar-benar aku alami dan begitu bermakna bagiku.

Hari ini juga aku teguhkan hatiku kembali, berkat bimbingan suamiku, keyakinan yang diberikan oleh Guru sejatiku dan perhatian para Buddha, Bodhisattva, Dharmapala, Dewa dan Dakini kepadaku, tidak akan aku abaikan. Aku akan tetap di jalan yang diberikan oleh Mereka, dan tidak ingin berpaling lagi.

Mengapa aku begitu yakin akan petunjuk Guruku, karena tanpa aku harapkan dalam mempersiapkan segala petunjuk aku mendapatkan berkah dan kemudahan serta pertolongan dari Mereka.
 
Roh-Roh yang Menempel di Kaki

Ada seseorang yang bernama Wawan, ini bukan nama sebenarnya. Kakaknya telah membaca buku yang kutulis dan menghubungiku untuk membantu adiknya, yang telah 5 hari berada di rumah sakit di daerah Jakarta. Kaki kanannya bengkak, dokter telah memberi macam-macam obat tapi bengkak pada kakinya tidak sembuh.

Aku dijemput oleh kakaknya pada malam hari untuk pergi kerumah sakit melihat keadaan adiknya itu. Tapi sebelumnya aku sudah mengetahui kalau ada roh jahat yang menempel pada kakinya. Ini adalah pengalaman pertamaku kerumah sakit membantu orang. Guruku mengatakan kalau dia tidak sengaja menginjak persembahan para roh, hingga setan-setan kelaparan yang sedang memunguti persembahan itu marah dan menempel serta menggigit kakinya.

Saat tiba di rumah sakit dan melihat sendiri keadaannya, kaki kanannya memang bengkak sekali dan merah seperti terbakar. Dia mengatakan kalau sejak dia sembahyang kuburan orang tuanya di kampung halaman. Dia sempat melompati kuburan-kuburan lainnya karena pada saat itu dia sibuk mencari letak kuburan orang tuanya, jadi tanpa dia sadari telah menginjak sesuatu, setelah dia pulang dari kuburan pada malam harinya mendadak kakinya bengkak dan sakit.

Sebelum membakar hu dan membaca mantra pada kakinya, aku mencoba untuk berkomunikasi dulu dengan roh-roh yang masuk kedalam kakinya itu, salah satu roh mengatakan kalau dia sudah tidak sopan menginjak persembahan yang sedang mereka ambil.

Aku mencoba meminta roh-roh itu untuk keluar dari kakinya dan akan memberikan persembahan yang baru untuk mereka, mereka menyetujuinya. Setelah itu aku membasuh kaki kanannya yang bengkak dengan air Maha Karuna Dharani dan Hu. Dengan mata batin aku melihat roh-roh berbentuk sinar keluar dari kakinya, maka dengan segera aku menuntun roh itu untuk keluar dari rumah sakit dan membakar persembahan baru untuk mereka, mereka senang dan akhirnya pergi.

Esok harinya, kakaknya memberi kabar kalau kaki kanan adiknya yang bengkak itu telah kempes banyak sekali, aku bersyukur mendengarnya. Tapi aku juga mendengar pada hari itu dia memutuskan pindah rumah sakit karena tidak puas dengan penanganan rumah sakit itu, dia pindah ke rumah sakit di luar negeri. Tapi sesampainya disana, saat dokter melihat keadaan kakinya, dokter memutuskan untuk mengamputasi kakinya itu. Mendengar hal itu dia dan keluarganya kaget dan menangis.

Kakaknya kembali menghubungiku dan meminta petunjuk harus bagaimana, apakah kakinya harus diamputasi atau tidak. Aku sedih mendengar hal ini, dan memohon petunjuk Guru sejatiku. Guru sejatiku mengatakan kalau kakinya tidak boleh diamputasi, kakinya akan sembuh hanya proses penyembuhannya agak lama karena dia punya penyakit diabetes/gula.

Aku memberitahu petunjuk Guru sejatiku kepada kakaknya dan meminta agar adiknya membaca mantra yang aku tunjukkan sebanyak mungkin. Aku ikut merasakan penderitaannya dan mencoba membantunya membaca mantra di altar utama dan memohon pertolongan para Dewa.

Pada saat itu rohku bergerak dengan sangat kuat, tanganku membentuk mudra-mudra dengan sendirinya, sepertinya rohku sedang berkomunikasi dengan Buddha dan Bodhisattva. Dan dalam meditasi aku melihat wawan sedang tidur di rumah sakit, ada dokter dan suster yang menangani kakinya, diatasnya muncul Buddha Bhaisajyaguru meneteskan air pengobatan pada kakinya.

Esok harinya dokter melakukan ronsen pada kakinya, ternyata keajaiban datang, kakinya tidak apa-apa, hanya bagian kulit luar saja yang terbakar karena dokter rumah sakit sebelumnya telah mengoleskan sesuatu pada kakinya dan kakinya tidak perlu diamputasi, tapi hanya melakukan operasi kecil untuk mengeluarkan sedikit nanah pada tumit kakinya. Aku bahagia mendengarnya, dan bisa melihatnya dalam keadaan sehat.

Kejadian ini memberikan pelajaran bagiku, bahwa kita tidak boleh sembarangan dalam melakukan sesuatu. Kita hidup berdampingan daengan roh di alam bardo, kita tidak bisa melihat keberadaan mereka bukan berarti mereka tidak ada, kadang kita tidak sengaja mengganggu mereka saja, mereka tetap mengejar kita.

Karena itu, untuk menghindari diri dari gangguan-gangguan roh yang tidak terlihat mata kita itu, kita harus rajin berdoa dan membaca mantra setiap hari, agar bisa mendapatkan perlindungan dari para Dewa, kapanpun dan dimanapun kita berada.
 
Diyakinkan untuk Membawa Aliran Tantra

Diyakinkan untuk Membawa Aliran Tantra
Tgl 7-5-2010 pukul 09:30 WIB

Aku merasakan keanehan pada tubuhku dan mencoba mencari tahu melalui meditasi, disitu aku melihat sesuatu yang berjalan dan melesat cepat seperti perwujudan seekor naga, tapi tidak begitu jelas. Serta melihat seperti pusaran-pusaran cahaya yang berputar-putar.

Setelah itu aku melihat sesuatu yang berbentuk seperti mahkota yang dipakai para Acharya, yaitu mahkota Panca Dhyani Buddha berukuran agak besar, lalu muncul Vajrasattva Bodhisattva. Aku mengenali perwujudannya dengan memegang Genta dan Vajra.

Aku merasa sedikit aneh terhadap apa yang aku lihat, kenapa Vajrasattva Bodhisattva tiba-tiba datang. Lalu terbuka komunikasi antara aku dengan Beliau.

“Desi, aku adalah Vajrasattva.”

“Ada apakah Bodhisattva datang menemui saya hari ini?”

“Desi, aku datang ingin memberikan Abhiseka kepadamu untuk menjalankan aliran Tantra, dan menganugrahkan Mahkota Panca Dhyani Buddha berwarna kuning. Dengan begitu kau tidak perlu takut lagi untuk menjalankan aliran Tantra. Aku akan mengajarimu cara menjalankan Api Homa dan penggunaan Genta-Vajra. Datanglah menghadap kepadaku setiap hari pukul 9 atau 10 malam agar aku bisa membimbingmu. Mahadewi Yao Chi hanya mengajarkan sadhana-sadhana rahasia dan liturgi pujabakti, jadi ritual api homa aku yang akan mengajarkannya. Kau siap menerima Transmisi Ajaran dariku?”

“Baiklah, saya siap.”

Aku diminta untuk menundukkan kepala, dan Vajrasattva Bodhisattva memasangkan Mahkota Panca Dhyani Buddha itu kekepalaku. Kemudian Dia pergi. Tinggal aku agak bingung sendiri, sungguhkah ini? Suatu pengalaman baru lagi terjadi padaku, membuat aku tidak bisa berkata-kata dan agak terharu akan peristiwa ini. Tapi esok dan seterusnya Vajrasattva benar datang dan memberi bimbingan padaku seperti apa yang dikatakanNya.

Tgl 17-5-2010 pkl. 10 malam, dalam meditasi Mahadewi Yao Chi datang menemuiku. Dia memperlihatkan kepadaku beberapa benda. Ada uang logam emas, perhiasan, baju-baju bagus dan perlengkapan pemimpin homa. Disitu juga ada Buddha Sakyamuni, Buddha Amitabha dan Buddha Bhasaijyaguru datang menyaksikan. Lalu Guru sejatiku Dewi Seribu Tangan Seribu Mata muncul dan berkata kepadaku:

“Desi, dari sekian benda ini manakah yang akan kau pilih?”

Aku berpikir sejenak, saat ini Vajrasattva Bodhisattva datang membimbing api homa, jadi aku memutuskan untuk memilih perlengkapan homa saja.

“Guru, saya memilih perlengkapan pemimpin homa.”

Lalu seiring dengan perkataanku itu, benda-benda yang lain menghilang.

“Kau sudah memilih. Untuk sementara benda ini aku simpan, sampai waktunya baru akan kuberikan kepadamu, saat kau sudah selesai belajar dan sudah siap.”

“Baiklah Guru.” Setelah itu semuanya menghilang.

Suatu hari saat aku sedang dalam kebimbangan karena ajaran Tantra yang aku terima. Tiba-tiba Vajrasattva Bodhisattva datang dan meminta aku untuk bermeditasi, disitu aku melihat orang-orang yang sedan duduk bersila dan pakaian yang mereka pakai seperti para Karmapa, Lhama atau Rinpoche. Salah satunya, yang wujudnya agak besar bicara kepadaku, katanya aku harus percaya dengan apa yang aku alami, bahwa aku telah mendapatkan transmisi ajaran Tantrayana sama halnya dengan mereka semua, mereka adalah para pendahulu yang mendapatkan ajaran dari angkasa, jadi antara aku dan mereka merupakan satu garis silsilah dalam aliran Tantrayana. Aku berpikir aneh, mereka semua dari Tibet sedangkan aku di Indonesia, kenapa ajaran Tantra diturunkan kepadaku?

Mereka mengatakan bahwa aku mempunyai misi yang berbeda dan akan membentuk aliran sendiri. Aku diarahkan untuk membentuk cetya yang diberi nama Sukhavati Prajna, logo/lambang cetya telah diberikan oleh Mahadewi Yao Chi, dan aku diminta agar segera mengurus izin cetya di tempatku.

Aku agak bingung dengan petunjuk ini, baru hari ini aku selesai mengucapkan sumpah bodhi, begitu cepatnya hari ini juga sudah diminta menjalani hal itu. Aku jadi agak sedikit pusing, kenapa begitu cepat dan rasanya seperti tergesa-gesa? Mahadewi Yao Chi bilang bahwa waktunya memang dipercepat.

Tgl 4-6-2010
Dalam meditasi aku melihat kehadiran Buddha Sakyamuni tapi dengan tubuh yang berwarna hitam, aku hanya melihat tangannya memegang pindapata, ada banyak Arahat dan Guru-guru silsilah juga datang. Lalu terbuka komunikasi dengan salah satu dari Arahat.

“Desi, aku Mahakasyapa.”

“Mahakasyapa? Ada apakah gerangan sehingga semua datang hari ini?”

“Desi, kau akan menjalankan aliran tantra, aliran ini bermula dari ajaran Buddha Sakyamuni, lalu turun kepadaku dan murid-muridnya, lalu ke Padmasambhava, Tilopa, Naropa, Milarepa, Nagarjuna, Vajrasattva, para Rinpoche, para Karmapa dll. Selama ini ajaran Tantra sebagian besar diturunkan di Tibet, lalu di Taiwan melalui Mahaguru Lu Sheng Yen dan sekarang di Indonesia melalui dirimu. Untuk itu aku ingin memberikan pratima Hevajra, agar kau bersadhana kepada Hevajra selama 7 hari berturut-turut. Kau akan melakukan penyatuan dengan Hevajra, karena Hevajra adalah gabungan dari seluruh Guru-Guru Tantra.”

“Baiklah Mahakasyapa, terimakasih aku akan menjalankan petunjukmu.”

Setelah mendengar perkataanku mereka semua memberkatiku, aku merasakan sesuatu yang damai dan nyaman. Itulah yang aku alami, aku tidak bisa mundur lagi. Dan akan menjalankan setiap petunjuk dengan keteguhan hati. Semoga saja segalanya bisa berjalan dengan baik.
 
Pertama Kalinya Menjalankan Ritual Waisak dan Bertemu dengan Ratu Mahamaya

Pertama Kalinya Menjalankan Ritual Waisak dan Bertemu dengan Ratu Mahamaya
Tgl 10-4-2010

Hari ini aku menjalankan pemandian rupang Buddha Sakyamuni untuk memperingati hari Trisuci Waisak, bahan dan tata cara telah ditunjukkan oleh Mahadewi Yao Chi dan Buddha Sakyamuni datang memberikan petunjuk-petunjuk kepadaku. Ini adalah pengalaman baru bagiku. Sekarang ini dalam satu hari aku dibimbing oleh 4 Dewa, Mahadewi Yao Chi, Mahaguru Tatmo Cosu, Semien Fo dan Vajrasattva.

Hari-hariku agak sedikit padat, belum lagi menjawab pertanyaan orang lewat sms, e-mail dan yang datang ke tempatku. Kadang membuatku sulit untuk bernafas. Tapi ikrar yang telah kuucapkan di hadapan para Buddha Bodhisattva selalu menyadarkan aku disaat mulai timbul rasa lelah. Aku juga amat berterimakasih pada seorang Biksu, jika bukan karena bantuan darinya aku pasti tidak bisa menjalankan tugas dan petunjuk dengan sempurna, dan sumpah bodhi tidak bisa aku ikrarkan di hadapan para Buddha-Bodhisattva sesuai dengan keinginan mereka.

Hari ini juga sempat hujan besar, kata Dewi Kwan Im langit bereaksi, karena ikrar itu diketahui oleh langit baik Buddha ataupun Mara, tapi aku tidak perlu kuatir karena tidak akan terjadi banjir di daerah tempatku karena sudah terlindungi. Saat aku sadhana kepada Buddha Amitabha hari ini, dalam meditasi aku melihat kehadiran seorang wanita dengan pakaian sedikit aneh, dia berubah-ubah gerakan dengan gemulai seperti wanita zaman kerajaan, dari pakaiannya terlihat bukan dari Tiongkok, tapi sepertinya dari India. Kenapa saat sadhana kepada Buddha Amitabha muncul penglihatan seperti ini. Dan lebih aneh lagi terbuka komunikasi dengan wanita itu.

“Desi, aku Maya Chandravati.”

“Maya Chandravati siapa?”

Aku sama sekali tidak mengenalinya. Lalu dia berkata lagi:

“Aku Mahamaya, Ibu dari Buddha Sakyamuni.”

Aku agak kaget mendengarnya, dan mencoba untuk tenang.

“Ada apakah ratu Mahamaya datang menemui saya, bukankah saya sedang bersadhana kepada Buddha Amitabha?”

“Desi aku telah meminta izin kepada Buddha Amitabha untuk bertemu denganmu, hari ini langit gempar karena ikrarmu. Aku datang ingin melihat seperti apakah dirimu. Ternyata kau memang selalu menjalankan setiap petunjuk dengan baik. Pantas saja Buddha Bodhisattva telah memilihmu untuk menjalankan amanat dari langit.”

“Ratu Mahamaya, saya hanya orang biasa dan tidak pantas menerima berkah. Apakah ada pesan yang ingin disampaikan?”

“Desi, kau telah mendapatkan anugrah yang amat besar. Kau tak perlu bingung dengan keadaanmu. Pesanku kepadamu supaya kau bisa menjaga dirimu dan janganlah mengotori dirimu dengan hal-hal yang tidak baik, agar kesucian Bodhisattva tetap terjaga dengan baik pula.”

“Baiklah ratu Mahamaya, saya akan mengingat pesanmu.”

Lalu ratu Mahamaya prgi.

Dihari perayaan Waisak, banyak hal baru yang aku alami. Dari mempersiapkan ritual pemandian rupang Buddha Sakyamuni yang pertama kali, diberikan hu/kertas mantra oleh Ksitigarbha Bodhisattva untuk menolong arwah yang masuk ke alam setan, mengelilingi pagoda silsilah dan menghadiri acara waisak yang dihadiri oleh Bapak Presiden RI.

Aku yang dulunya tidak pernah tergabung dengan orang-orang yang menjalankan kerohanian dan lebih banyak menjalani hidup keduniawian yang kental. Suatu terobosan baru yang membuatku tidak bisa habis berpikir. Guruku mengatakan, kalau aku nantinya juga akan tergabung dengan mereka dalam membabarkan dharma.

Hari waisak kali ini begitu bermakna dalam bagiku, biasanya aku melewati hari waisak dengan biasa saja. Aku yang baru saja berjodoh dengan agama Buddha, secara demikian cepat mulai memahami sedikit ajaran buddha, tapi tidak melalui ceramah dharma yang ada di vihara-vihara tapi melalui pengalaman hidup yang aku jalani sejak mendapatkan kontak batin, dan mempelajari banyak hal yang dialami oleh setiap orang yang datang kepadaku. Semoga saja pengetahuanku akan dharma bisa semakin berkembang, dan aku bisa menjalankan tugas-tugasku dengan baik dan dengan setulus hati. Yang terpenting aku bisa meredam ego, keakuan dan kemelekatan.
 
Membentuk Cetya Sukhavati Prajna

Membentuk Cetya Sukhavati Prajna
Tgl 10-5-2010

Pagi ini aku dikagetkan dengan adanya keanehan yang terjadi dirumahku. Saat itu aku sedang sibuk mengurus usaha dikantorku yang terletak di lantai dasar. Aku mendengar beberapa orang di luar agak ribut berbicara seperti sedang aneh melihat sesuatu.

Mendengar itu aku beranjak keluar rumah, ternyata didepan rumahku banyak sekali capung-capung, jumlahnya mungkin ratusan. Mereka beterbangan dan hanya berputar-putar saja didepan rumahku, capung-capung itu sudah dari pagi disitu dan sudah hampir jam tidak pindah-pindah ataupun pergi menghilang.

Aku merasa aneh dengan pemandangan ini, kenapa bisa ada capung yang demikian banyaknya. Biasanya capung hanya terlihat satu atau dua ekor saja, tapi ini jumlahnya ratusan. Melihat hal itu aku sempat terpikir sepertinya capung-capung itu sedang berada di taman bunga yang penuh dengan bunga dan tumbuhan, tapi didepan rumahku sama sekali gersang, tidak ada pohon ataupun bunga, tapi kenapa capung-capung itu berkumpul dan beterbangan didepan rumahku. Ini pertanda baik atau buruk?

Saat aku masih dalam kebingungan Guruku berkata, capung-capung itu memberi tanda kalau para Buddha-Bodhisattva telah berkenan untuk turun ke rumahku dan akan menjadikan rumahku sebagai vihara. Aku diminta untuk segera merenovasi rumahku untuk menjadi cetya dan mengurus izinnya. Dan nama cetya itu nantinya adalah Sukhavati Prajna.

Mendengar petunjuk Guruku, aku jadi semakin takut, apakah aku bisa menjalankan petunjuk ini, aku sama sekali tidak paham dengan pembentukan cetya apalagi untuk mengurus iznnya. Dan aku sama sekali tidak tahu harus memulainya darimana, karena memang aku sama sekali tidak pernah menjalani hal ini. Guruku bilang tidak perlu cemas, ikuti saja setiap petunjuk yang diberikan oleh para Dewa, maka aku akan bisa menjalaninya dengan baik.

Sudah beberapa hari ini Mahadewi Yao Chi dan Vajrasattva Bodhisattva tidak membimbingku, karena tugas yang diberikan belum aku jalankan, yaitu merenovasi rumahku menjadi cetya dan mengurus izinnnya, dan juga harus mempelajari mudra, mantra dan visualisasi untuk ritual api homa yang nantinya akan aku jalankan.

Mahadewi Yao Chi bilang waktuku tidak banyak, harus segera menjalankan petunjuk agar dia bisa melanjutkan bimbingannya. Vajrasattva Bodhisattva juga meminta agar aku menghafal mudra dengan sempurna dulu baru menghadapnya lagi. Wah lumayan berat juga, kali ini tidak ada toleransi, aku memang dipersiapkan dengan ketat. Akkhirnya aku hanya bisa menghadap Mahaguru Tatmo Cosu dan Semien Fo saja.

Aku dan suamiku membuat surat permohonan untuk pembentukan cetya. Kami agak kuatir tidak bisa menjalankan petunjuk ini, karena daerah sekitar rumahku mayoritas beragama Kristen. Ada beberapa orang yang mengatakan kalau susah mendapatkan izin vihara, bahkan sampai bertahun-tahun izin tidak keluar. Mendengar hal itu kami sedikit putus asa, apakah benar seperti apa yang mereka katakan, kalau benar mana mungkin aku bisa mendapatkan izin juga.

Surat permohonan yang kami buat, aku mohon para Dewa memberkati, saat sedang berkonsentrasi memohon berkat, aku melihat sinar memberkati surat permohonan itu dan muncul Bodhisattva yang berbaju putih duduk di atas teratai dan diatas seekor burung Merak. Aku mengira itu Guruku yang memberkatinya lalu keluar dari meditasi dan menyerahkan surat itu kepada suamiku. Tapi tubuhku mendadak bergoyang-goyang, saat membaca majalah dharma tubuhku terbawa kekiri dan kekanan seperti naik perahu yang digoyang ombak.

Aku memutuskan untuk meditasi kembali mungkin ada petunjuk yang aku dapatkan dengan keanehan tadi. Benar saja aku kembali melihat kehadiran Bodhisattva yang kulihat tadi. Ternyata bukan Guruku. Kekuatannya kembali menggerakkan rohku, aku dibimbing gerakan. Gerakannya agak berbeda dengan Hevajra dan Kalacakra. Kalau kuperhatikan gerakannya lebih gemulai dan penuh dengan energi. Aku bingung melihat hal ini tapi tetap mengikuti setiap gerakannya sampai berhenti sendiri.

Akhirnya Guruku memberitahu kalau aku telah diabhiseka oleh Bodhisattva Mahamayuri Vidyarajni dan meminta agar aku bersadhana kepadanya selama 7 hari berturut-turut agar permohonan pembentukan cetya yang sedang aku ajukan bisa sukses dan berjalan lancar.

Aku menjalankan sadhana kepada Bodhisattva Mahamayuri sesuai petunjuk, tapi saat itu kami masih belum berniat merenovasi rumah kami menjadi cetya, karena masih tidak begitu yakin bisa menjalani dan kami merasa tempat kami belum layak untuk dijadikan cetya, karena tempatnya sempit dan tidak tahu bagaimana menata cetya itu sendiri.

Mungkin Guruku mengetahui apa yang kami pikirkan, sehingga pada suatu hari dia menyuruh kami untuk pergi kesatu vihara yang ada di Jakarta yang pernah kudatangi sebelumnya. Aku berpikir untuk apa Guruku memintaku pergi ke vihara itu lagi, kata Guruku untuk mendapatkan berkat dalam rangka pembentukan cetya.

Walau Guruku bilang seperti itu, aku tetap saja ragu dan mencoba untuk mengalihkan petunjuknya ke vihara yang lain yang letaknya tidak jauh dari vihara yang ditunjuk Guruku, tapi Guruku mengatakan bahwa bukan vihara itu. Akhirnya kami pergi juga ke vihara yang ditunjuk, saat kami datang kesana tidak ada kebaktian, tapi kami boleh bersembahyang. Jadi aku putuskan untuk bermeditasi didepan altar vihara itu. Dalam meditasi Guruku muncul dan berkata:

“Desi aku memintamu kesini agar kau bisa memperhatikan vihara ini. Vihara ini awalnya kecil seperti yang kau datangi sekarang ini, tapi pada saat ini akan membangun vihara yang besar. Didalam vihara ini tidak ada yang bisa berkontak batin denganku walaupun mandala utam adalah rupangku, tapi bisa membangun vihara yang besar sekali. Bagaimana dengan kau yang bisa berkontak batin dan sudah menyatu denganku, pasti akan bisa membangun vihara yang besar juga. Maka teguhkanlah hatimu, yang penting selalu mengikuti setiap petunjuk, karena jika tidak kau akan tersesat.”

“Tapi Guru, apakah itu bisa?”

“Tentu saja bisa. Percayalah bahwa akan menuju kesana jika selalu mengikuti petunjuk para Dewa.”


“Baiklah Guru saya percaya.”

“Kau boleh kembali.”

Lalu Guruku itu menghilang, dan kami pulang kembali kerumah. Dalam perjalanan saat aku ingin memberitahukan hal itu pada suamiku, anehnya suamiku sudah mengetahuinya kenapa kami disuruh ke vihara itu, dan dia sudah berpikir apa yang harus dia lakukan, sesampainya dirumah kami mulai menyusun rencana renovasi dan ternyata bisa berjalan dengan lancar, yang tadinya kami berpikir sulit dan tdaik mudah, tapi mendadak bisa berjalan sempurna.

Akhirnya rumahku mulai direnovasi untuk dijadikan cetya bertepatan dengan tanggal ulang tahun Mahaguru. Dan lebih membuatku takjub lagi. Pengurusan izin cetya yang semula dikatakan orang susah didapat dan kalaupun dapat pasti tidak bisa cepat dan butuh waktu bertahun-tahun, tapi kami bisa mengurusnya dengan hanya dalam beberapa hari saja izin bisa keluar.

Dari sini kami percaya bahwa semuanya telah diatur oleh para Buddha-Bodhisattva, disaat kami mengalami kesulitan dan merasa tidak sanggup, mereka datang memberikan bantuan dan pertolongan sehingga semua tugas bisa berjalan dengan baik. Aku dipertemukan dengan orang-orang yang bisa membantuku dan tidak akan pernah melupakan jasa-jasa mereka.

Sebenarnya sebelum rumahku direnovasi untuk menjadi cetya, pada awal kontak batin dengan Guru sejatiku, Beliau sudah mengatakan dari awal kalau tempatku akan menjadi vihara, tapi aku tidak begitu percaya saat itu dan hanya menjalani saja setiap petunjukNya. Aku pernah pergi ke dasar tanah dan melihat para Dewa Bumi membersihkan tanah disekitar rumahku. Mereka mempersiapkan tempatku dengan mengangkat kotoran didalamnya, banyak sekali Dewa bumi yang bekerja saat itu.

Ini adalah kejadian yang nyata, sama sekali tidak terpikirkan akan bisa terjadi. Kami memang diarahkan ke jalan dharma, dan Mereka tidak membiarkan kami tersesat dan mengalami kesulitan dalam menjalankan jalan dharma kami. Bodhisattva Mahamayuri Vidyarajni telah membantuk melancarkan tugas ini.
 
Menjemput Rupang Buddha Sakyamuni

Suatu hari Guru sejatiku menyuruhku melakukan sesuatu, dia meminta kesediaanku untuk pergi ke suatu tempat untuk mengambil sesuatu. Dia meminta agar aku pergi ke ssuatu vihara yang ada makam didalamnya di daerah Jakarta Utara untuk mengambil sebuah batu.

Aku jadi bingung kenapa Guruku menyuruh aku pergi ke vihara seperti itu, disitu pasti berhawa yin, jika mengambil sesuatu disana sudah pasti terkontaminasi. Apalagi aku harus meletakkan batu itu di altar dalam. Apakah ini benar? Apakah aku sedang tersesat sehingga petunjuk yang kudapatkan hari ini begitu aneh dan menakutkan?

Guruku bilang bahwa aku hanya mengambil batu itu dan tidak memohon disitu, hanya menghormati dan meminta izin para Dewa disana untuk mengambilnya. Aku bertanya pada Guruku untuk apa aku harus kesana mengambil batu itu. Tapi Guruku tidak mengatakan apapun karena masih rahasia katanya, aku diminta untuk mengambilnya dulu.

Akhirnya aku mencari informasi mengenai tempat itu, aku menemukan suatu vihara yang ada kuburannya, terletak di daerah Jakarta Utara, vihara itu merupakan peninggalan Laksamana Ceng Ho (Sam Po Kong). Guruku meminta agar sesampainya disana aku harus memperhatikan sekeliling vihara itu dan memang vihara itulah yang dia maksud. Aku sedikit takut dengan hal ini, tapi Guruku meyakinkan aku bahwa tidak apa-apa. Aku yakinkan hatiku bahwa Guruku tidak akan menyesatkan aku.

Tgl 20/6/2010

Setelah aku selesai membantu orang memasang altar dirumahnya, aku dan suami ku segera pergi ke vihara tersebut, sesuai petunjuk aku memperhatikan sekeliling vihara itu mencari keberadaan batu yang dimaksud. Mungkin karena aku merasa tidak enak, jadi aku bersembahyang sambil mata mencari kesana kemari.

Tapi sampai keliling kebagian belakang vihara, batu yang dimaksud itu tidak aku temukan, hal ini membuat aku agak bingung. Suamiku menyuruh aku untuk minta petunjuk pada Dewi Kwan Im. Dan dialtar Dewi Kwan Im aku duduk meditasi dan berharap bisa diberi petunjuk olehNya.

Dewi Kwan Im memberitahukan kalau batu yang dimaksud Guruku adalah rupang yang terbuat dari batu dan Dewi Kwan Im juga meminta agar aku memperhatikan sekitar meja altar. Aku baru tersadar, ternyata rupang, aku malah mengira akan mendapatkan batu cincin yang bisa timbul sendiri di vihara itu.

Mendengar petunjuk itu aku segera memberitahu suamiku, lalu kami mulai mencari rupang yang terbuat dari batu itu. Tapi sudah dicari di bagian meja altar juga tidak ada, apa petunjuknya salah? Tapi saat aku masuk ruang altar Dewi kwan Im tubuhku agak aneh.

Suamiku dengan teliti memeriksa, dan tanpa sengaja dia melihat di bagian belakang rupang Buddha Sakyamuni yang berukuran besar berwarna emas, ternyata ada rupang beberapa Buddha dan Dewa tersembunyi disitu dan salah satunya rupang Buddha Sakyamuni yang terbuat dari batu berwarna hitam, tinggi kurang lebih 45 cm. Suamiku bertanya pada penjaga vihara itu:

“Pak.. ini apa ya, patung dari batu?”

“Iya patung itu terbuat dari batu sudah lama sekali disitu.”

“Boleh diminta untuk sembahyang pak?”

“Boleh, mau dibawa hari ini juga boleh.”

“Iya, soalnya sudah dikasih petunjuk untuk ambil patung disini.”

“Pantas saya lihat dari tadi seperti mencari sesuatu, kalau begitu saya siapkan patungnya untuk dibawa pulang.”

Dengan mudahnya aku membawa pulang rupang Buddha Sakyamuni, ternyata batu ini yang harus aku ambil dan dibawa pulang untuk diletakkan di altar rumahku. Saat merasakan aura patung itu, aku melihat perwujudan Buddha Sakyamuni berwarna emas dengan posisi meditasi berputar-putar. Guruku mengatakan memang batu itu yang dia maksud.

Awalnya aku sedikit ragu karena rupang itu berada di vihara yang ada kuburannya, tapi saat pertama kali aku masuk kevihara itu anehnya tidak ada aura yin ataupun merasakan makhluk kotor berada di tempat itu, aku yakini saja perkataan Guruku dan mencoba menghilangkan kekhawatiranku itu.

Lalu kami membawa pulang rupang Buddha Sakyamuni itu, dalam perjalanan pulang kami melihat pelangi di siang hari padahal sama sekali tidak hujan, yang lebih anehnya ujung pelangi itu berada tepat di atas rumahku. Mungkin ini pertanda baik. Sebelum meletakkannya di altar dalam aku membersihkan rupang itu terlebih dulu, tapi aku agak kurang nyaman karena warna rupang itu hitam sekali. Setelah dibersihkan aku meletakkannya di altar dalam sebelah kanan.

Pada esok hari, pukul 3 pagi saat aku ingin bersadhana mahamayuri Vidyarajni untuk kesuksesan pembentukan dan perizinan cetya, aku tidak dapat berkonsentrasi. Karena saat aku mulai menutup mata dalam melafal mantra aku merasakan energi yang begitu kuat dan agak berbeda dari biasanya sejak rupang Buddha Sakyamuni itu ada di ruang altar.

Saat hendak meditasi, aku merasa tidak begitu nyaman dan tidak bisa fokus dengan benar. Hal ini berlanjut beberapa hari. Guruku mungkin mengetahui perubahan dalam diriku, dan dia menyuruh agar aku mewarnai rupang Buddha Sakyamuni dengan warna emas, karena jika tidak aku tidak bisa membina diri dengan baik katanya.

Akhirnya suamiku mengecat rupang itu dengan warna emas, aku melihat memang agak berbeda dan tidak tidak terlihat seram seperti warna asalnya, tapi auranya tetap saja tidak berubah, setiap masuk ke ruang altar dalam aku pasti merasakan energi itu.

Aku mencoba menghilangkan rasa takut itu dengan lebih berkonsentrasi pada pelafalan mantra hati Buddha Sakyamuni, dan ternyata ketakutanku itu tidak beralasan karena dalam meditasi, aku dibimbing posisi-posisi meditasi yang benar. Sejak rupang Buddha Sakyamuni berada dirumahku, banyak hal yang terjadi, keajaiban, kemajuan dalam pembinaan diri dan terwujudnya segala keinginan dalam jalan dharma.
 
Sadhana Raja Naga

Suatu hari aku diminta oleh Guruku untuk mengikuti sadhana Raja Naga yang akan dilangsungkan 8 hari disalah satu vihara di Jakarta, akan ada pembacaan Sutra, membuang botol naga ke laut dan api homa pada acara itu. Tapi aku merasa tidak enak karena aku bukan umat di vihara itu, jika pengurus vihara itu banyak bertanya, apa yang harus aku jawab, lagipula aku juga tidak mau dianggap bermaksud mencuri dharma. Jadi aku tidak berniat untuk ikut.

Tapi satu hari menjelang acara ritual itu aku bermimpi, dalam mimpi itu aku dan beberapa orang terdampar disuatu pulau karena kapal kami tenggelam, kami semua berdiri di pinggir laut, tapi tidak tahu apa yang harus kami lakukan dan kami tidak bisa menyebrang lautan untuk kembali pulang karena lautnya begitu luas dan dalam, tapi kami bisa melihat pulau tempat kami dari kejauhan. Dalam keadaan panik itu, aku mendengar ada yang mengajari aku untuk mengucapkan sesuatu, seperti mantra yang diulang-ulang. Mendengar petunjuk itu aku segera melafalnya, dan mereka yang terdampar bersamaku itu juga ikut melafalnya, maka terdengarlah lafalan mantra yang sangat ramai.

Tiba-tiba saja aku melihat ada ikan yang sangat besar terapung dikejauhan dan sepertinya dia mendengar mantra kami, lalu ikan besar itu seperti memberi isyarat kepada semua isi lautan, dan seketika itu juga seluruh isi laut kecuali air terangkat dan beterbangan menuju kearahku, seakan-akan benda-benda itu masuk ke dalam tubuhku. Setelah itu air laut yang berada di sekeliling kami tiba-tiba surut sampai kedasarnya, air laut itu membelah membentuk jalan yang mengarah kepulau tempat tinggal kami, kami semua bisa berjalan didasar laut itu menuju ke pulau rumah kami dan sama sekali tidak ada air laut yang menghanyutkan kami. Mengalamai mimpi itu aku teguhkan hatiku untuk ikut sadhana Raja Naga di vihara itu dan tak memperdulikan resikonya.

Hari pertama mengikuti sadhana, Raja Naga datang berkomunikasi. Dia bilang bahwa Dia telah memberi abhiseka kepadaku melalui mimpi, sehingga aku pantas untuk mengikuti sadhana Raja Naga. Ternyata mimpiku itu adakah tanda abhiseka dari Raja Naga langsung, hari ke-4 sadhana, Raja Naga memberiku Mutiara Alam Laut, sebagai tanda inisiasi darinya karena nantinya bisa membawakan sadhana dan homa Raja Naga di cetya yang akan kubentuk dan Dia akan menjadi Dewa pelindung cetya.

Aku senang mendapat anugrah ini, bisa berjodoh dengan Raja Naga tidak mudah. Karena Raja Naga mempunyai karakter yang agak keras, tapi bukan emosi. Mengikuti sadhananya saja tidak boleh terlewat harus ikuti terus sampai selesai, sampai suatu kali pada hari ke-6 ada cobaan menghalangi, yang sepertinya bisa membuat kami tidak pergi mengikuti sadhana, tapi kami berusaha meneguhkan hati dan tetap jalan terus, lalu cobaan itu hilang begitu saja.

Sekarang rupang Raja Naga telah berada di cetya Sukhavati Prajna dan kami berlindung kepadaNya. Mengikuti jalan para Dewa memang harus punya keteguhan hati dan ketulusan hati. Hal itulah yang membuat mereka berkenan untuk memberkati dan melindungi kita.
 
Beryoga dengan Para Dharmapala

Menjalani petunjuk untuk membentuk cetya dan mengurus izinnya, aku semakin sering mendapatkan berkah. Satu persatu para Dharmapala datang memberikan dukungan, baik bimbingan, pertolongan dan perlindungan. Mereka semua sepertinya bersatu padu membantuku dalam menjalankan tugas ini.

Dari mulai kedatangan Mahacundi Bodhisattva memberikan bimbingan menyerap energi murni alam semesta, yang meminta agar aku pergi ke suatu tempat yang kekuatan alamnya begitu nyata dan kuat kurasakan. Aku pergi ke tempat itu setiap tanggal 12 lunar selama 3 kali pertemuan. Banyak pengalaman yang aku dapatkan selama menjalani bimbingannya. Mahacundi Bodhisattva selalu memancarkan sinar putih yang terang benderang dan berhawa hangat.

Lalu Dharmapala Kalacakra juga datang meminta agar aku bersadhana kepadanya selama 7 hari berturut-turut, karena dia ingin membantu membangkitkan bodhicitta dan perkembangan cetya Sukhavati Prajna. Aku beryoga dengan Kalacakra, gerakannya hampir menyerupai gerakan yoga Hevajra namun agak sedikit berbeda karena tidak ada getaran pada tubuh tapi agak lebih pada hentakan.

Kemudian Bodhisattva Kurukule juga datang untuk penyatuan denganku selama 7 hari, untuk membantu menumbuhkan cinta kasih dalam diriku. Gerakan yoganya begitu luwes dan bertenaga, seperti gerakan-gerakan yoga yang ada di tempat pelatihan yoga.

Sampai pada menyatu dengan Dewi Marici, dia membantuku agar bisa mendapatkan kesuksesan dalam jalan dharma dan keduniawianku. Gerakan yoganya begitu keras sampai seluruh badanku sakit semua saat awal bersadhana, tapi setelah beberapa hari berangsur-angsur normal kembali.

Pengalaman ini membuat aku tahu bahwa para Dewa saling bergandengan tangan dalam tujuan menolong manusia, tidak ada pertikaian ataupun saling mendominasi dalam membimbing manusia, tapi mereka malah saling melengkapi dan saling bergantian memberikan bekal untuk manusia yang membina diri, manusia yang awalnya tidak bisa apa-apa, karena telah mendapatkan kontak batin dan mata ketiganya terbuka, menjadi memiliki kelebihan yang tidak bisa dimiliki manusia awam.

Sebenarnya para Dewa dalam membimbing tidak pernah mau menyusahkan manusia, mereka juga terlihat bijaksana dan begitu memahami kesulitan manusia, tapi malah manusia yang merasa takut sendiri, takut Dewa marah atau murka, padahal yang kutahu para Dewa begitu welas asih. Hanya karakter mereka berbeda-beda tapi tidak punya rasa dendam, tinggi hati, emosi dalam diri mereka.

Manusia di dunia saling membanding-bandingkan kepercayaan mereka, membenarkan ajaran mereka sendiri dan menganggap keyakinan orang lain tidak baik dan tidak bisa menyelamatkan. Kepercayaan pada agama yang dianut boleh-boleh saja, justru jika memiliki keyakinan yang Teguh itu sangat baik. Tapi hendaknya tidak perlu terlalu fanatik pada kepercayaannya itu, karena di langit para Dewa dan Juru Selamat bahu-membahu dalam penyelamatan, kenapa kita di dunia saling berselisih paham dan memperdebatkan ajaran mana yang paling baik.
 
Wanita Paranormal

Wanita Paranormal
Tgl 10-8-2010

Hari ini adalah hari Tay Shang Lo Kun mendapat gelar. Beberapa vihara merayakan hari besarnya itu, aku sendiri mempersiapkan persembahan yang diajarkan Guruku, yaitu sesuatu yang saling berhubungan/saling melengkapi, seperti ada panas ada dingin, pahit/manis, besar/kecil dll dan bersadhana kepadanya.

Dalam meditasi Mahaguru Tay Shang Lo Kun datang memberi aku Pil Dewa Pelindung dari segala gangguan yang dimasukkan ke dalam mulutku, saat pil itu melewati hidungku tercium aroma obat yang kuat. Kata Mahaguru Tay Shang Lo Kun walaupun aku menjalankan dharma tidak mencampuri masalah orang lain tapi akan ada saja orang yang berniat tidak baik padaku, agar terhindari dari mara bahaya Mahaguru Tay Shang Lo Kun memberi aku pil Dewa Pelindung itu.

Esokan harinya ada tamu yang datang ke tempatku dengan maksud berkonsultasi, tapi salah seorang dari mereka kulihat gelagatnya kurang begitu baik, saat aku mengeceknya ternyata dia punya aura yang kurang nyaman. Ternyata dugaanku tidak salah, secara diam-diam dia menghubungi teman wanitanya yang ternyata seorang paranormal.

Tidak lama kemudian muncul wanita itu, tanpa permisi langsung masuk ke ruang kerjaku dengan wajah tidak senang dan dengan mata yang agak melotot. Aku agak bingung kenapa mendadak datang wanita ini aku kan tidak ada janji dengannya, ternyata teman prianya yang telah menghubunginya.

Wanita itu minta aku lihat dirinya, tapi melihat sikapnya yang tidak begitu bersahabat aku tidak berniat untuk mengikuti permintaannya. Tapi dia memaksa, aku bersikap setenang mungkin menghadapinya karena ini pertamakalinya aku berhadapan dengan orang yang menganggap dirinya punya kedekatan dengan Dewa.

Akhirnya aku berkonsentrasi merasakan aura dirinya, ternyata dia ditempeli oleh roh jahat. Setelah aku mendapat petunjuk itu aku hanya bilang kepadanya kalau dia ditempeli oleh roh jahat. Mendengar kata-kataku dia marah dan emosi, merasa tidak terima dengan perkataanku. Dia mengatakan sudah bertahun-tahun menjadi paranormal, dia kemasukan Dewi Kwan Im dan menolong orang juga, dan katanya lagi dia juga membaca mantra. Tapi aku tak merasakan sama sekali kenyamanan aura dalam dirinya.

Wanita itu masih ingin tahu lagi untuk mengenai dirinya, dengan sikap agak kasar memaksa aku untuk mengatakannya. Aku tak mau melanjutkannya, Karena baru kukatakan satu saja, dia sudah semakin tidak terima apalagi jika aku mengatakan yang lainnya lagi. Aku bilang Cuma itu saja dan aku tak mau melanjutkan pembicaraan kami. Dia masih tidak senang dan keluar ruang kerjaku dengan mengoceh, dia tunjukkan sikap acuhnya dengan merokok didepan kami dan didepan altar cetya, lalu pergi meninggalkan cetya tanpa permisi.

Aku berusaha menguatkan hatiku melihat sikap dan tingkah lakunya yang tidak sesuai. Jika Dewi Kwan Im berkenan kepadanya dan telah menjadikan dia sebagai kepanjangan tangan Dewi Kwan Im untuk menolong orang, mengapa sikapnya sama sekali tidak mencerminkan Dewi Kwan Im yang welas asih dan penuh tata krama. Aku sempat tidak mengerti dan bersedih melihat semua ini, apakah para Dewa berkenan menuntun orang seperti itu untuk menjalankan dharmaNya.

Esok paginya setelah aku selesai mepersiapkan anakku untuk pergi ke sekolah, aku berniat untuk tidur kembali. Tapi baru saja mau berbaring di ranjang mendadak saja setengah dari tubuhku sebelah kiri terasa sakit, semakin lama kudiamkan semakin sakit, seperti ada gerombolan binatang kecil bergerak-gerak cepat, dan aku merasa setengah tubuhku seperti lumpuh dan tidak bertenaga. Yang tadinya aku mengantuk menjadi tidak bisa tidur merasakan hal itu. Ini firasat tidak baik, aku segera turun ke altar cetya di lantai bawah dan masuk ke dalam meditasi.

Aku baru tahu kalau ternyata tubuh sebelah kiriku berkerumunan cacing-cacing kecil yang hidup dan bergerak-gerak, pantas saja aku merasa aneh. Melihat hal itu aku segera mengaktifkan kedua mustika pelindung dari ilmu hitam yang diberikan Mahaguru Hian Tian Shang Tee. Dengan sendirinya kedua mustika itu memancarkan sinar terang menyelimuti tubuh luar dan tubuh bagian dalamku, membuat semua cacing-cacing itu keluar dan kumuntahkan, aku memuntahkannya beberapa kali, setelah itu sakit dan kelumpuhan pada tubuh sebelah kiriku pelan-pelan memudar.

Ternyata kejadian yang aku alami itu adalah reaksi dari roh yang ada pada wanita paranormal yang datang ke tempatku sebelumnya, karena semalam bertepatan dengan malam jumat. Para Dewa sudah memberiku tanda-tanda, aku tidak menyadarinya karena pada saat itu aku sudah terlalu lelah dan tidak memperhatikan tanda-tanda itu, tapi segera beranjak tidur.

Sehingga kejadian yang tidak enak itu sempat menggangguku. Aku sungguh amat berterimakasih atas perlindungan yang diberikan oleh Mahaguru Tay Shang Lo Kum, Mahaguru Hian Tian Shang Tee serta para Dewa yang selalu melindungi, menjaga dan memberiku anugrah bimbingan.

Sehingga aku bisa melewati segala mara bahaya yang datang. Tanpa bantuan dan bimbingan mereka aku tidak bisa berbuat apa-apa jika hal seperti itu terjadi padaku.

Segala anugrah dan bimbingan yang mereka berikan selama ini begitu berarti dan nyata kurasakan manfaatnya. Dan aku percaya jika aku tulus menjalani jalan dharma ini, maka para Buddha, Bodhisattva, Dharmapala, Dewa dan Dakini akan selalu ada bersamaku dan tidak akan membiarkan aku mengalami kesulitan dan penderitaan.

Dalam menjalani jalan dharma ini mungkin tidak mudah bagiku, banyak hal yang terjadi dan sebagian besar menghadapi bahaya. Tujuan untuk menolong orang bisa berubah menjadi bumerang bagi diriku sendiri, kebaikan kadang dibalas dengan kejahatan, pada awalnya aku tidak mempunyai keberanian untuk menerima resiko jalan ini, tapi aku kembali berpikir bahwa dimana ada penderitaan pasti akan mendapatkan kebahagiaan.

Rela menderita demi menolong orang lain apakah tidak pantas? Pertanyaan ini yang pernah diajukan oleh Mahacundi Bodhisattva kepadaku, membuat aku kembali merenungi makna dari semua pengalaman ini.

Aku tidak bisa berbalik dan tak bisa memilih untuk menolak, karena aku sudah mengetahui dengan pasti bahwa jalan inilah yang harus kutempuh agar aku bisa kembali ke tempat asalku dan bisa mendapat pencerahan mencapai KeBuddhaan, aku percaya dengan perkataan Mahaguru bahwa kita bisa mencapai keBuddhaan dalam kehidupan sekarang ini juga asal giat melatih dan membina diri, teguh pada keyakinan dan tulus menjalaninya. Karena dengan begitu kita akan selalu dilindungi dan diberkati para Buddha, Bodhisattva, Dharmapala, Dewa dan Dakini.
 
Dikecewakan Manusia dan Dihibur Dewa

Renovasi cetya telah selesai, altar yang berwarna merah terang dan terdiri dari lima tingkat juga telah siap untuk diletakkan rupang-rupang para Dewa. Karena aku tidak begitu paham menyusun altar, aku selalu minta petunjuk kepada Guru sejatiku cara menyusunnya. Sebagian rupang para Dewa sudah ada sebelumnya, tapi karena rupang yang harus diletakkan di altar agak banyak, aku harus mencari rupang-rupang yang belum ada. Masih kurang 20 lebih rupang yang harus kucari agar altar terisi.

Guru sejatiku mengatakan untuk rupang para Guru yang membimbingku harus mengambil dari vihara tidak boleh beli di toko. Aku mengikuti petunjuk Guruku lalu pergi ke vihara yang pertama kali berjodoh denganku, pemimpin vihara itu punya hati yang baik dan mengizinkanku untuk menjemput 6 rupang Dewa di viharanya.

Dari awal memang aku berjodoh baik dengan vihara itu, aku diangkat murid oleh Mahaguru juga di vihara itu, banyak bantuan yang diberikan oleh pemimpin vihara itu, tapi karena tidak semua rupang yang kuinginkan ada di vihara itu, aku harus mencari ke vihara lain yang punya aura baik.

Ternyata tidak semua vihara yang auranya baik itu memiliki pengurus yang baik pula. Karena saat Guruku menyuruh agar aku ke vihara yang ada di Jakarta Barat untuk menjemput rupang Dewa Hian Tian Shang Tee, sama sekali tidak mendapat perlakuan yang baik, padahal aku sampai menyempatkan dua kali pergi ke vihara itu pagi-pagi demi untuk bertemu dengan pengurusnya, berharap bisa diizinkan menjemput rupang Dewa yang dimaksud.

Pengurus vihara itu sama sekali tidak memandang kami dan bersikap angkuh, bernada suara keras, sama sekali tidak mengizinkan aku untuk menjemput rupang Dewa ditempatnya, dan tanpa menghargai kami sama sekali dia segera membalikkan badan dan meninggalkan kami begitu saja. Aku begitu kecewa dengan sikapnya itu, kenapa pengurus vihara bisa begitu angkuh, tidak bisakah dia berbicara dengan baik-baik, padahal di altar viharanya rupang Dewa Hian Tian Shang Tee ada lebih dari sepuluh rupang.

Akhirnya kami pergi dari vihara itu dengan rasa galau dan memberitahukan hal ini pada Guru sejatiku bahwa aku gagal menjalankan tugas ini. Lalu aku diminta untuk ke satu vihara lagi yang berada di Jakarta Pusat, di vihara itu juga banyak sekali rupang Dewa, melihat sikap pemimpin vihara itu kelihatannya baik mungkin dia bisa mengizinkan aku untuk mengambil beberapa rupang Dewa disitu, tapi ternyata dugaanku salah. Dia juga tidak mengizinkannya, padahal aku sudah melihat Dewa yang mau aku ambil ada kembarannya atau lebih dari satu, dia bilang kalau dia juga mau pakai untuk sembahyang.

Aku agak kecewa sekalis aat itu, kenapa Guruku menyuruhku ke vihara-vihara itu untuk mengambil rupang Dewa padahal sama sekali tidak ada tanggapan baik dari mereka. Dalam perjalanan pulang aku bertanya-tanya dalam hati, apa arti semua ini, mengapa tidak ada kebaikan yang kudapatkan hari ini? Dewa mengizinkan kenapa manusia tidak mengizinkan? sepertinya ada kesalahan dalam hal ini. Tapi dimana letak salahnya? Dan apa makna dari kejadian ini?

Dalam keadaan masih bertanya-tanya, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke vihara di daerah itu juga untuk mengikuti api homa Kalacakra, tapi kami berniat untuk ke vihara yang ada di pancoran terlebih dulu dengan harapan bisa bertemu dengan rupang Dewa yang berjodoh untuk diletakkan di altar cetya, tapi anehnya saat mobil kami menyusuri jalan ke arah vihara itu, gang yang biasanya kami lewati tidak terlihat oleh suamiku, sehingga kami melewatinya dan tidak mungkin lagi kembali karena harus memutar jalan lebih jauh lagi.

Kami malah diarahkan ke suatu pertokoan yang berada di daerah itu, entah kenapa dengan sendirinya suamiku mengarahkan mobil kami kesana seperti ada dorongan saja. Ternyata di sana kami melihat banyak rupang Dharmapala, aku takjub melihatnya dan bercampur senang.

Aku memilih rupang-rupang Dharmapala yang aku inginkan, ada sekitar 20 rupang yang aku turunkan dari etalase toko itu, dan meminta petunjuk Guru untuk memilihkan yang mana yang boleh aku beli. Guruku memilih 9 rupang Dharmapala yang boleh, karena sebagian belum ada penyatuan dan belum bersadhana kepadanya jadi tidak boleh dibeli dulu.

Setelah memisahkan 9 rupang itu, aku kembali berpikir bagaimana aku bisa membelinya, harganya pasti mahal, rupang Dharmapala ini biasanya mahal harganya, dengan jumlah 9 rupang berapa yang harus aku bayarkan? Mana bisa aku membelinya? Jika begini bagaimana altar cetya bisa terisi?

Suamiku bertanya pada pemilik toko itu berapa harganya, ternyata harganya jauh lebih murah, tidak seperti yang aku pikirkan. Dan lebih aneh lagi uang yang dibawa suamiku dari rumah yang tidak kuhitung lagi, jumlahnya bisa pas.

Kebahagiaanku tidak sampai disitu saja, setelah mengikuti homa Kalacakra kami diarahkan lagi ke satu toko yang ada di Jakarta Utara disana ada 8 rupang yang kami inginkan, suatu kebetulan juga pemiliknya ada di tempat dan bertemu dengan kami, pemilik toko itu bertanya untuk apa membeli rupang Dewa, suamiku bilang kalau untuk altar Cetya.

Mendengar perkataan suamiku itu, pemilik toko menanggapi kami dengan baik, dia bersikap ramah dan memberi kami kebebasan memilih rupang di tokonya, bahkan rupang-rupang yang khusus yang disimpan didalam kantornya pun boleh kami pilih dan dia memberikan harga yang sangat murah kepada kami, padahal rupang-rupang itu terbuat dari keramik buatan tangan dan ada cap pembuatnya.

Aku baru mengerti makna dari semua kejadian hari ini, para Dewa menguji ketulusanku mengikuti petunjuknya, sekaligus belajar memahami sikap dan tingkah laku orang lain, karena tidak semua orang tidak baik tapi ada juga orang yang baik, aku sadar ini adalah ujian untukku apakah hatiku tegar menghadapi perlakuan orang dan tetap mengikuti petunjuk para Dewa, walaupun aku dua kali dikecewakan orang tapi dua kali para Dewa menolongku dan tidak membiarkan aku tenggelam dalam kekecewaan.

Esok paginya aku membersihkan semua rupang itu dan meletakkannya di altar dan hampir terisi penuh, aku memohon kehadiran para Buddha, Bodhisattva, Dharmapala, Dewa dan Dakini untuk memberkati rupang-rupang itu, dengan membaca mantra hati mereka dan bersadhana penuh.

Hari ini pengalaman baru kembali kudapatkan, Guru sejatiku yang selama ini selalu datang memberiku petunjuk melalu meditasi ataupun telepati, hari ini telah menyatu denganku bersamaan dengan telah terisinya rupang-rupang di altar utama cetya Sukhavati Prajna.

Hari ini aku baru mengetahui apa arti kata-kata Mahaguru mengenai “Saya adalah Buddha, Buddha adalah Saya. Saya adalah Vairocana, Vairocana adalah Saya, Inilah kemanunggalan”. Aku semakin yakin dengan ajaran Mahaguru, karena aku sendiri telah mengalaminya.

Banyak orang merasa takut menjalani jalan dharma, karena mereka tidak ingin meninggalkan kesenangan duniawinya, banyak orang salah pengertian terhadap para Dewa, menganggap mengikuti jalan Bodhisattva adalah harus meninggalkan keluarga. Hal ini yang menyebabkan banyak orang tidak mau membina diri.

Padahal jalan dharma selalu mengikuti perkembangan zaman, para Dewa memahami isi hati manusia. Selama manusia itu tulus dan menjalani kehidupan dengan baik dan mau mengikuti jalan para Dewa, maka mereka akan mendapatkan banyak kebaikan dan tidak akan membiarkan mereka mengalami penderitaan.

Di zaman sekarang tidak dituntut untuk benar-benar meninggalkan keluarga untuk membina diri, tapi tetap bisa bersama dengan keluarga dan membina hubungan dengan baik, yang penting tidak melekat dan tidak terikat akan hal itu.
 
Mendapat Gelar Vajra Acharya dan Menjalankan Homa

Suatu hari dalam meditasi Guru sejatiku, Mahadewi Yao Chi, Dewi Kwan Im, Ksitigarbha Bodhisattva, dan 3 Buddha datang. Aku tidak mengerti akan kehadiran Mereka dalam meditasiku ini, karena pada saat itu aku sedang menjalankan sadhana kepada Mahadewi Yao Chi.

Buddha Sakyamuni berkata kepadaku, kedatangan mereka adalah untuk melihat dan memberikanku gelar, anugrah ini diberikan karena aku telah menjalankan semua petunjuk ereka dengan baik. Gelar itu Vajra Acharya Varita Sukhavati Prajna, artinya adalah pemimpin wanita pertama pembawa aliran Tantra bernama Sukhavati Prajna.

Jubahku berwarna kuning emas dan para pengikut aliran Sukhavati-Tantra mengenakan jubah berwarna merah. Aku juga telah memiliki mantra hati yaitu, “OM, SUKHAVATI PRAJNA HUM” karena saat ini rohku telah bisa berjalan sendiri menolong orang dan masuk ke dalam mimpi orang. Wujud rohku memegang Toya berkepala burung hong dan membentuk mudra pengikat/memegang vajra.

Aku sudah diizinkan menjalankan ritual api homa dan harus memakai atribut lengkap saat ritual, pada saat ulambana Ksitigarbha Bodhisattva aku sudah harus menjalankan homa, karena Beliau menghendaki aku melakukan hal itu. Buddha Sakyamuni mengalungkan japamala dari mutu manikam ke leherku.

Sejak mendapat anugrah itu, aku telah 2 kali menjalankan homa, salah satunya homa Buddha Amitabha. Tujuan menjalankan homa itu adalah untuk melimpahkan jasa kebajikan kepada mereka yang telah banyak membantu terbentuknya cetya Sukhavati Prajna dan memohon Buddha Amitabha memberkati mereka semua. Banyak keajaiban yang terjadi selama homa berlangsung, dari bentuk api dan bentuk abu sisa pembakaran yang menyerupai kepala Naga yang kepalanya menghadap kegerbang cetya.

Juga terlihatnya banyak lingkaran sinar-sinar beraneka bentuk yang turun dari langit dari camera foto dan satu keajaiban juga munculnya sepasang tangan anak kecil mengambil persembahan yang dikirimkan orang tuanya di tempat pembakaran. Karena pada saat itu juga aku melimpahkan jasa kebajikan seorang anak yang baru saja meninggal, dan secara tidak langsung dia telah membantuku mendapatkan izin cetya melalui kedua orang tuanya.

Semua terasa bahagia karena banyak kejadian-kejadian nyata yang kami dapatkan saat itu, dan aku sangat berterimakasih atas segala dukungan mereka semua. Ketulusan hati mereka dan bimbingan para Dewa membuat semua berjalan dengan lancar.

Seiring dengan berjalannya waktu, aku mencoba untuk membimbing mereka yang berjodoh dengan para Dewa, agar mau membina diri dengan baik. Sehingga bisa mendapatkan kontak batin dengan para Dewa seperti diriku. Sudah berapa orang juga telah terbangkitkan rohnya dan mulai mendapatkan bimbingan atas arahan yang aku berikan. Semoga mereka yang berjodoh dengan Buddha-Bodhisattva bisa menjalani pembinaan dirinya dengan baik dan setulus hati mengikuti jalan Bodhisattva.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.