• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Mendapatkan Kontak Batin dgn Dewa (Buddhist, Taoist)

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. m3tt4
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai
38. DI BIMBING DEWA PENGOBATAN

Aku punya pengalaman yang unik dengan guruku dewa pengobatan, dia mempunyai ciri khas yang jauh berbeda dengan guru-guruku yang lain. Dia tidak mempunyai jadwal dalam membimbingku, tidak seperti guru-guruku yang lain. Tapi dia selalu datang membimbingku secara spontan dan mendadak jika ada sesuatu yang akan terjadi padaku atau saat aku sedang menghadapi kasus yang membutuhkan pertolongannya. Aku saja sampai bingung, karena tidak tau kapan dia akan datang membimbingku, tidak ada jadwal yang pasti. Aku hanya bisa merasakan perubahan pada tubuhku jika dia mau datang membimbing.

Guru sejatiku mengatakan bahwa, dewa pengobatan ini walaupun sikapnya seperti itu, tapi dia punya kekuatan yang besar. Aku bisa mendapatkan pelajaran berharga darinya. Tapi aku agak sulit mengikuti kebiasaannya ini. Karena kadang 1 hari dia bisa 2 kali datang membimbing, kadang 2 hari tidak datang membimbing. Tapi aku akui bahwa bimbingannya memang tidak sembarangan dan punya kekuatan yang besar seperti yang dikatakan guru sejatiku. Dia mengajarkan aku membuat hu, mantra dan kata-kata. Dia berpesan kepadaku, bahwa kekuatan dalam diri itu tidak perlu diperlihatkan. Bersikap apa adanya saja dan jangan meninggikan diri.

Tentu saja aku selalu ingat kata-katanya itu, maknanya amat dalam dan mengajarkan kepadaku agar selalu rendah hati. Karakter guruku ini memang amat berbeda, dia selalu datang menemuiku dengan ceria dan bergembira. Dengan santainya berjalan dan melompat, seperti tidak ada beban dalam hatinya. Aku kadang berfikir ingin sepertinya, bisa selalu ceria dan bahagia. Tidak ada beban, menjalani semua masalah dengan enteng saja.

Saat pertama kali dia datang membimbing, aku tidak mengerti apa yang kurasakan, wajah dan bibir terasa tebal dan aku merasa agak sedikit pusing dan melayang. Saat aku sedang bingung, guru sejatiku memberitahu bahwa dewa pengobatan mau datang membimbing. Aku baru sadar dan langsung masuk kedalam meditasi untuk menerima bimbingannya. Kadang aku memang agak sedikit sulit membedakan perubahan dalam tubuhku ini, kedatangan dewa, panggilan guru sejatiku dan getaran mahluk gaib kadang tidak bisa kubedakan, hanya saja ada bagian tubuh tertentu yang membedakannya. Aku sudah mempelajari semua itu, agar aku bisa dengan segera mengetahui tanda-tandanya dan bisa bergerak dengan lebih cepat.

Dewa pengobatan ini telah menjadi budha, dia bisa mencapai pencerahaan walaupun masih minum arak. Hanya saja dia tidak menganggap arak itu adalah arak, tapi dia menganggap arak itu adalah air . sehingga tidak membuatnya mabuk dan membuatnya lupa diri. Dia bisa mengendalikan dirinya walapun dia minum arak.

Kita sebagai manusia apakah bisa seperti dewa pengobatan ini? Kebanyakan manusia tengelam dalam kemabukan minuman keras, tidak bisa mengendalikan diri dan terjerumus semakin dalam. Menjadi tergantung terhadap minuman beralhokol dan tidak bisa melepaskan diri dari semua itu. sungguh disayangkan. Sesungguhnya bukan minuman beralkoholnya yang dilarang untuk diminum, tapi akibat dari mabuk minum alhokol itulah yang tidak dibenarkan. Tidak sadarkan diri dan mempermalukan diri sendiri.
 
39. BIMBINGAN DEWA LANGIT

Saat aku menulis buku ini, aku sedang dalam bimbingan dewa langit. Dewa langit ini mengantikan bimbingan dewa ilmu hitam dan gaib yang telah selesai membimbingku. Hanya tata cara dan peraturan kedua dewa tersebut memiliki kesamaan. Dan yang membedakan diantara mereka adalah, jika dewa ilmu hitam dan gaib membimbingku dalam meditasi dan rohku tidak keluar, hanya mendengarkan bimbingannya saja. Tapi dibimbing dewa langit, rohku harus keluar untuk pergi ketempatnya dilangit. Pada hari pertama dewa langit membimbing dia datang menemuiku dan aku merasakan rohku keluar dari tubuh jasmaniku ini, dan keluar menghadap dewa langit itu. aku agak sedikit bingung kenapa caranya seperti itu, mungkin dia adalah dewa langit yang tinggi, jadi akulah yang harus datang ketempatnya jika mau dibimbing.
Aku dibawa ketempatnya, dan melihat tempatnya itu begitu indah tapi seperti penuh dengan misteri. Aku merasakan suasana gaib yang begitu kuat didaerah itu. lalu aku dibawa ke rumahnya, dan langsung keruangan meditasinya. Aku bertanya pada dewa langit itu, kenapa disini juga ada ruang untuk meditasi? Apakah dewa langit juga meditasi. Dewa langit itu berkata bahwa walaupun dia adalah dewa langit, tetap menjalani meditasi. Jadi aku yang manusia juga harus rajin menjalankan meditasi, karena dari meditasi itulah segalanya bisa terbuka.

Diruang meditasinya aku diajarkan gerakan untuk menetralisir kekuatanku jika terlalu besar, Sekaligus diberi kekuatan olehnya. Diajarkan membuat hu dan diberi nasehat-nasehat.

Pada hari pertemuan yang kedua saat jadwal bimbingannya, aku tidak dijemput lagi oleh dewa langit tersebut. Rohku keluar dengan sendirinya dari tubuh jasmaniku dan pergi sendiri ketempatnya di langit untuk menerima bimbingan. Aku bisa mengeluarkan roh dalam tubuh jasmaniku sejak guruku yang seorang budha hidup membimbing dan membawa rohku pergi kenirwana dan neraka. Jadi saat dewa langit memberitahu bahwa rohku harus keluar untuk pergi ketempatnya, aku sudah bisa melakukannya. dan kurasa dewa langit itupun sudah mengetahuinya.

Sesunggunya aku tidak pernah berfikir akan dibimbing oleh dewa langit yang tinggi tingkatannya, seakan tidak percaya dewa langit itu mau membimbing aku. Semakin lama dewa yang datang membimbing dan menjadi guruku tingkatannya semakin tinggi. Dan aku harus semakin menjaga sikapku pada mereka, karena semakin tinggi tingkatan dewa tersebut, semakin tinggi pula bimbingannya. Dan terlebih lagi peraturannya semakin ketat. Tapi sekarang aku sudah lebih mengerti dan tidak panik lagi seperti dulu, menerima semua bimbingan dengan tenang dan tidak merasa tertekan lagi. Karena untuk apa dihindari dan ditentang, jika memang jalan yang kutempuh sekarang ini memang sudah digariskan dari atas. Aku sudah mengetahui masa depanku, jadi aku hanya mengikuti semua petunjuk para dewa saja. Aku percaya jalan yang kutempuh ini adalah jalan yang benar.
 
40. MEMOHON HUJAN MEREDA

Hidup dijakarta jika sudah masuk musim penghujan, pasti akan mengalami bencana banjir. Hal itu pasti dialami hampir setiap tahun, bahkan pernah dalam satu tahun harus mengalami 2 kali bencana banjir. Jika sudah terkena banjir pasti akan merasakan penderitaan. makan, mandi, bekerja, sekolah, berdagang tidak bisa dijalani dengan lancar. Sepertinya Jakarta memang tidak akan pernah luput dari bahaya banjir ini.

Didaerah tempatku juga pernah mengalami kebanjiran, karena hujan lebat dan tidak berhenti-henti. Selokan mampat sehingga air tidak bisa mengalir dengan lancar. Kalau sudah melihat hujan turun dengan derasnya aku pasti sudah gelisah dan pasrah saja karena tidak tau harus melakukan apa agar hujan bisa berhenti sehingga tidak banjir.

Sekarang karena aku sudah dekat dan bisa berkomunikasi dengan para dewa, aku sudah bisa memohon pertolongannya. Pernah suatu kali, sama sekali tidak aku rencanakan. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya bercampur dengan guntur yang mengelegar dan petir menyambar dengan kuatnya Dan air hujan sudah hampir masuk kerumahku, Aku bertanya pada dewi welas asih, mengapa cuaca hari ini demikian buruk, apakah karena memang sudah musimnya ataukah ada sebab lain?
“ desi … saat ini ada sesuatu hal yang terjadi di langit sehingga hari ini tidak begitu baik.”
“ bisakah dewi membantu agar hujan hari ini bisa mereda, hamba memohon hal ini agar tidak terjadi bencana banjir. Mohon pertolongan dewi.”
“ Kaupun bisa langsung memohon pada yang maha kuasa. ”
“ Saya tidak berani.”
“ aku akan berusaha mengabulkan permohonanmu, kau tidak perlu kuatir. jalanilah hidupmu dengan baik.”
Benar saja, saat aku telah selesai berbicara dengan dewi welas asih tersebut, hujan yang tadinya turun begitu keras bisa segera mereda, Guntur dan kilat yang menyambar menghilang dengan begitu cepat.

Pengalaman pertama permohonanku ini sempat membuat aku tidak percaya, mungkin kebetulan saja. Apakah permohonanku itu langsung dikabulkan dan benar-benar telah didengar oleh yang maha kuasa.

Tapi sejak kejadian itu, bila aku melihat hujan mulai turun dengan derasnya dan diikuti oleh cuaca begitu buruk aku mencoba memohon pertolongan pada dewi welas asih lagi, Dan anehnya selalu dikabulkan permohonanku itu. begitu seterusnya, aku selalu memohon perlindungan dari bahaya banjir.

Karena aku selalu takut terjadi banjir, maka selalu memohon para dewa dan yang maha kuasa membantu meredakannya. Yang tadinya daerahku sudah hujan deras atau sudah terlihat langit begitu gelap dan sudah mulai hujan, jika aku memohon pada para dewa maka hujan segera reda atau tidak jadi hujan, seakan hujan dipindahkan ketempat lain. Sepertinya tidak masuk akal, tapi hal ini benar-benar aku alami.

suatu kali, cuaca begitu panas dalam beberapa hari. Sampai-sampai ac/pendingin tidak bisa berfungsi dengan baik, yang keluar bukan hawa dingin malah hawa panas. Cuaca yang panas beberapa hari itu telah menyebabkan anak laki-lakiku mengalami sakit panas dalam. dia tidak terbiasa dengan hawa yang terlalu panas, bahkan pendingin dikamar tidurnya tidak pernah dimatikan sama sekali. tapi karena cuaca begitu panas dan tidak turun-turun hujan dia tidak tahan. Melihat keadaannya itu aku tidak tega, dan memutuskan memohon para dewa membantu menurunkan hujan agar anakku bisa sedikit tenang.

Lalu aku menghadap dewi welas asih untuk memohon pertolongannya mendatangkan hujan.
“ dewi welas asih, hamba mohon pertolonganmu. Cuaca beberapa hari ini begitu panas dan hujan tidak turun-turun. Saat ini anak hamba sedang sakit panas dalam, bisakah dewi membantu menurunkan hujan.”
“ desi … aku tahu kesulitanmu. Aku akan membantumu. Tapi jika hujan telah datang kau tidak boleh memohon untuk menghentikannya.”

Keesokan harinya hujan benar-benar turun, lega rasanya melihat anakku sembuh dari panas dalamnya.

Dari kejadian yang kualami ini aku berfikir bahwa, apa yang kulakukan menghentikan hujan dan mendatangkan hujan mungkin adalah keegoisan yang ada pada diriku karena aku melakukan hal itu untuk kepentinganku, keluargaku dan orang-orang disekitarku saja. Terakhir suamiku member aku nasehat bahwa tidak baik melakukan hal itu, karena apa yang kulakukan bisa saja membuat orang lain menderita. Jika orang lain mengharapkan hujan turun tapi aku memohon untuk meredakan hujan itu apakah aku tidak egois. Begitu pula sebaliknya. Ada orang yang mengatakan bahwa apa yang terjadi pada alam, kita tidak bisa berbuat apa-apa, bencana alam yang terjadi didunia telah ditentukan karena semua atas perbuatan kita sendiri yang tidak mencintai dan menjaga alam dengan baik. Aku mulai memahami dan mengerti perkataan suamiku, dalam hal ini suamiku itu lebih bijak dariku yang masih hijau ini.

Tapi sesungguhnya, dari kejadian yang kualami ini. Aku berfikir bahwa semua bencana yang akan terjadi dalam hidup kita yang tidak bisa kita ketahui kapan datangnya, jika kita dekat dengan para dewa, kita akan mendapatkan pertolongan. Apapun permohonan kita kepada para dewa pasti terkabulkan asalkan setulus hati memohon dan tidak hanya mencari para dewa bila kita telah mengalami kesulitan saja. Tapi disaat kita senang dan bahagia dan tidak mempunyai masalah, seharusnya kita juga mendekatkan diri. Hanya kadang manusia lupa, jika sedang tidak bermasalah dalam hidup tidak mau dekat dengan para dewa. menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang. Tapi jika sedang mengalami masalah berat baru memohon pertolongan malah kadang menyalahkan para dewa atas penderitaan mereka.
 
41. KARMA KEHIDUPAN LALU ADALAH NYATA

Selama aku mendapatkan kelebihan bisa mengetahui karma masa lalu seseorang, sudah beberapa orang yang aku ketahui apa kesalahan mereka pada kehidupan yang lalu yang menyebabkan kehidupan mereka sekarang mendapatkan banyak rintangan dan hambatan. Mereka tidak menyadari apa yang mereka lakukan pada kehidupan sekarang ini adalah cerminan perbuatan mereka dimasa kehidupannya yang lalu. Ini terdengar rumit. Awalnya aku juga tidak begitu paham mengenai karma. Tapi dengan seringnya melihat orang dan mendapatkan pengertian dari guruku, aku sudah lebih memahaminyai

Seperti salah seorang yang aku lihat ini, dikehidupan sekarang ini dia tidak bisa menjalankan hidupnya dengan baik, berbagai peluang kerja yang datang kepadanya tidak bisa dia dapatkan, sekalinya dapat dan mendapatkan gaji yang lumayan, dia malah sakit-sakitan dan tidak bisa meneruskan pekerjaannya itu dan kembali menganggur. Saat ini juga dia bukan seorang yang baik, sering melakukan pembunuhan mahluk hidup untuk dimakan dan dijual. Walaupun dia bisa mendapatkan uang yang lumayan dengan menjual mahluk hidup itu, tetap saja hidupnya susah karena dia tidak bisa mempergunakan uang yang dia dapatkan dengan baik, jika dapat uang hari itu, hari itu juga dihabiskan. Jika sudah tidak ada cara lagi bagi dia untuk mendapatkan uang, maka dia akan datang ke rumah keluarganya untuk minta dibantu.padahal dia sudah berkeluarga dan sudah punya anak.

Aku sempat mencoba melihat karma orang tersebut, ternyata karma masa lalunya begitu buruk, pada kehidupan yang lalu dia adalah seorang perampok dan pencuri pantas saja kehidupan dia sekarang hidupnya susah dan kebaikan tidak berpihak padanya. Melihat karma lalunya dan melihat kehhidupannya saat ini membuat aku sedih. Mengapa dia tidak menyadarinya, mengapa dia tidak tahu mengapa hidupnya susah. Seharusnya saat ini dia harus banyak berbuat kebaikan untuk membayar karmanya dimasa lalu dan tidak menambah karma nya itu semakin berat. Aku sudah pernah mencoba memberinya nasehat mengenai karmanya tersebut agar dia menjadi sadar dan merubah kesalahannya. Tapi dia tidak percaya adanya karma pada dirinya, malah menyalahkan orang tua. Dia menganggap bahwa karma orang tualah yang membuat dia menjadi susah.

Banyak orang tidak mengetahui dan tidak mempercayai adanya karma, apalagi kehidupan masalalu. Menganggap bahwa setelah mati mereka hanya pergi kesurga atau neraka, karena mereka tidak percaya adanya reinkarnasi/kelahiran kembali. Dulu aku juga tidak tahu dan tidak percaya adanya reinkarnasi. Tapi setelah aku mendapatkan bimbingan dalam ajaran budha aku baru mengetahui dan percaya adanya reinkarnasi itu.

Orang yang kuceritakan diatas itu hanyalah sebagian dari orang-orang yang kuketahui karma masalalunya. Ada yang karmanya baik dan ada yang buruk. Bagi yang karma masa lalunya baik, mereka mendapatkan kehidupan yang baik pula disaat ini. Tapi bagi yang karma masa lalunya buruk, maka kehidupan mereka pada saat ini juga buruk. Sepertinya segalanya sudah diatur, dan dari sini aku juga melihat bahwa orang-orang yang mempunyai karma masa lalu yang serupa, maka dikehidupan sekarang mereka menjadi satu keluarga. Kadang juga Dipertemukan menjadi orang tua dan anak.

Karma itu benar-benar nyata, kita harus mempercayainya. Walaupun kita tidak mengetahui atau belum mengetahui masa lalu kita, sebaiknya kita mulai berbuat kebaikan untuk bekal dikehidupan kita yang akan datang. Karena kita tidak pernah tahu setelah kita meninggalkan dunia ini, roh kita akan kemana, ke surga, keneraka atau turun lagi kedunia untuk mengalami penderitaan tumimbal lahir.
 
42. PELIMPAHAN JASA PARA LELUHUR MEMBUAHKAN HASIL

Pada waktu bulan ceng beng, atau saat pintu alam baka dibuka. Aku dan suamiku melakukan pelimpahan jasa untuk para leluhur. Dulu kami hanya mempersiapkan masakan vegetarian dan non vegetarian juga perlengkapan untuk bekal para leluhur. Kami melakukan pelimpahan jasa itu dengan setulus hati. Pada kesempatan ceng beng ini aku membuatkan teratai-teratai dari kertas sembahyang dan memberikan nama-nama leluhur kami pada setiap teratai. Dengan harapan mereka menerima persembahan kami itu.

Saat ceng beng itu juga pertama kalinya ada pembacaan kitab suci penyebrangan roh di rumahku. Kitabnya sangat tebal, butuh waktu hampir 4 jam untuk membacanya tanpa berhenti. Dan sambil menunggu pembacaan kitab suci itu selesai, aku melafal mantera dihadapan altar rumahku sebanyak 108 x (satu putaran japamala).

Dan saat aku melafal mantera tiba-tiba aku mendapat pengelihatan. Aku melihat ada satu dewa yang duduk diatas teratai datang menghampiriku, mengenakan jubah, memegang tongkat emas. Lalu aku melihat dewa itu turun dari teratai tersebut dan membungkukkan badan padaku seperti member hormat. Kemudian dewa itu membawaku kesuatu tempat, kami menyusuri jalan yang sepi dan tidak ada sinar matahari, saat kami memasuki tempat itu baju dan tubuh dewa itu berubah menjadi emas.

Sampai diujung jalan aku melihat sebuah teratai agak besar, awalnya hanya satu teratai saja. Namun semakin kuperhatikan teratai itu bertambah banyak dan menyusun seperti tangga yang naik keatas, awalnya aku tidak mengerti apa maksud dari pengelihatanku itu, kenapa dewa itu membawaku ketempat itu dan melihat teratai itu.

Setelah menyelesaikan pelafalan mantera aku baru sadar, saat ini aku kan membuat teratai untuk para leluhur, dan dewa itu ingin memberitahukan kepadaku bahwa teratai-teratai itu berguna untuk para leluhur sehingga mereka bisa naik kealam yang lebih tinggi. Menyadari hal itu aku begitu bahagia dan terharu, ternyata apa yang aku dan suamiku lakukan untuk para leluhur, telah diberkati oleh para dewa, sehingga mengutus dewa tersebut untuk memberi petunjuk padaku lewat pengelihatan karena saat itu aku belum bisa berkomunikasi dengan para dewa.

Pada saat itu aku juga bisa melihat kedatangan para leluhur kami itu, melihat mereka menikmati hidangan yang kami sediakan untuk mereka. Dan juga melihat leluhurku yang beragama berbeda datang ketempatku, leluhurku itu agak bingung, karena saat itu adalah pertama kalinya aku melakukan pelimpahan jasa untuk mereka. Mereka menengok suasana disana dan disini seperti merasa aneh. Tentu saja mereka terlihat seperti itu, karena agama mereka berbeda denganku.
 
43. DEWA MEMILIH TEMPAT UNTUK DATANG

Kita mengira bahwa para dewa akan turun pada semua tempat untuk mendengarkan permohonan umat manusia dan mengabulkannya. Sebenarnya pada setiap tanggal 1 dan 15 penanggalan lunar para dewa berkumpul divihara langit, hal ini aku ketahui saat aku diajak guruku pergi kenirwana melihat tempat-tempat disana. Para dewa berkumpul divihara langit itu untuk memberkati umat manusia dan mendengarkan permohonan mereka.

Dalam menemui manusia, Para dewa tidak sembarangan turun kesuatu tempat. Setiap dewa memiliki tempat-tempat khusus yang paling suka dia datangi. Ini berdasarkan pengalamanku selama mendekatkan diri kepada para dewa dan mendapatkan berkatnya. Karena setiap aku diberi tugas oleh guruku untuk menemui dewa tertentu, pasti guruku menunjukan salah satu tempat dan aku harus pergi ketempat itu. berbeda dewa berbeda pula tempatnya. padahal kan ditempat lain juga ada dewa itu, kenapa harus ketempat itu saja. Guruku mengatakan bahwa masing-masing dewa punya tempat yang paling berkenan dan nyaman baginya untuk turun. Jadi aku harus pergi ketempat yang ditunjuk saja baru dewa tersebut senang bertemu denganku dan memberikan berkatnya.

Biasanya dewa-dewa baru benar-benar mau turun kevihara-vihara/altar-altar rumah yang bersih, yang tidak tercemar oleh mahluk kotor/siluman. Dan tempat tersebut sering menjalankan puja bakti dan pelafalan mantera-mantera.

Pernah suatu kali, guruku memberiku tugas untuk menemui dewa penguasa 3 alam didaerah Jakarta, tapi karena aku tidak punya waktu dan tempatnya jauh dari rumahku, aku meminta izin untuk menemui dewa tersebut di tangerang saja. Mungkin guruku tidak ingin menyulitkan aku sehingga dia mengizinkannya. Tapi sampai disana dewa tersebut mengatakan maksudnya, bahwa dia tidak begitu senang datang ketempat itu, tapi karena dia ingin memberkatiku, mau tidak mau didatang ketempat itu juga.

Orang menganggap bahwa para dewa itu terlalu banyak aturan, tidak boleh begini dan tidak boleh begitu. Selama aku menjalani ini, pendapat itu salah besar. Para dewa itu amat welas asih dan mau mengerti kesulitan manusia, malah kadang bersedih atas sikap manusia yang menyalahkan dewa. mereka bisa menjadi dewa karena telah banyak berbuat kebaikan menolong manusia saat mereka masih berada didunia ini. Sampai telah menjadi dewapun tetap menolong manusia.
 
44. KEGAGALAN = NAIK TINGKAT

Aku pernah menanggani satu kasus, itu adalah kasus pertamaku sejak aku mendapatkan bimbingan dari para dewa. ada seseorang yang ingin mengetahui mengapa sampai saat ini dia belum juga dikaruniai seorang anak padahal telah menikah beberapa tahun.

Setelah aku melihat mengenai dirinya itu, aku mendapatkan petunjuk bahwa dia memiliki karma masa lalu yang menyebabkan dia tidak bisa memiliki anak, aku meminta petunjuk guruku apa yang harus aku lakukan agar dia bisa mendapatkan anak, guruku mengatakan bahwa dia harus menghadap salah satu dewa yang menangani masalah karmanya itu, dan memohon pengampunan dengan tulus. Dan setelah itu baru memohon berkah seorang anak dari dewa pemberi anak. Aku memberitahukan mengenai hal itu kepada orang tersebut dan dia menjalankannya.

Setelah belum ada 1 bulan sejak dia menjalankan semua itu, dia dinyatakan hamil. Mendengar kabar ini darinya membuat aku ikut berbahagia. Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, 1 bulan kemudian saat dia memeriksakan kondisi janinnya dokter menyatakan bahwa bayinya tidak berkembang dan harus digugurkan. Dia begitu sedih begitu juga aku, mengapa bisa jadi seperti ini. Bukankah awalnya begitu baik. Aku meminta petunjuk guruku mengenai hal ini, apakah janinnya tersebut harus digugurkan seperti yang dokter katakan. Tapi guruku mengatakan bahwa janin itu adalah anugrah yang diberikan oleh dewa kepadanya jadi jangan digugurkan, karena sama artinya tidak menghargai anugrah yang telah diberikan kepadanya. guruku mengatakan agar dia menyerahkan semuanya kepada para dewa, dan yakin sepenuhnya bahwa bayi itu akan baik-baik saja.

Tapi namanya manusia, tetap saja ada kekuatiran. Kalau tidak dirinya yang kuatir, pasti keluarganya yang kuatir atas kesehatan dirinya. Aku memintanya agar banyak membaca mantera dan berdoa semoga ada keajaiban. Sempat ada keajaiban, saat dia memeriksakan kondisi janinnya lagi, alat usg tidak bisa mendeteksi keberadaan janin tersebut, yang terlihat hanya kantong bayinya saja. Guruku mengatakan bahwa bayi itu sedang dalam perlindungan para dewa, jadi jangan kuatir. Tapi tetap saja dia panik dan terpaksa mengikuti petunjuk dokter untuk mengugurkannya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bersedih atas apa yang terjadi. Saat itu aku merasakan bahwa apa yang kulakukan untuk orang lain telah mengalami kegagalan. Dan sempat tidak menerima kejadian itu, dan tidak mau mendengar petunjuk-petunjuk guruku lagi.

Suatu hari saat aku agak sedikit tenang, aku bermeditasi. saat itu datanglah salah satu budha berkata kepadaku.
“ desi mengapa kau bersedih dan menjauhkan dirimu dari para dewa “
“ maafkan hamba, sesungguhnya hamba kecewa dan sedih karena para dewa tidak membantu hamba menangani kasus yang hamba hadapi.”
“ desi kau tidak boleh berkata seperti itu, para dewa telah membantumu. Apa kau tidak merasakannya?”
“ tapi hasilnya tidak sesuai dengan kenyataan. Ini adalah kegagalan yang telah aku perbuat, aku tidak berani lagi menjalani hal ini.”
“ desi … para dewa sudah menjawab semua permohonanmu untuk orang tersebut, hanya saja manusia tidak memiliki keteguhan hati, para dewa mengatakan agar apapun yang terjadi serahkanlah semua kepada para dewa, jadi yakinilah itu. maka keajaiban akan datang. Orang tersebut lebih mendengar perkataan manusia, bukan perkataan dewa. jadi ini bukan kegagalanmu, justru melewati kasusmu ini kau telah naik tingkat.”

Aku kaget setengah mati, bagaiman bisa aku naik tingkat, apa yang kulakukan dalam menolong orang tidak membuahkan hasil dan tidak membuat mereka bahagia, bagaimana mungkin bisa naik tingkat.
“ apa yang terjadi terhadap orang tersebut bukan kesalahanmu, kau telah bisa melewati ujianmu, karena tidak ada lagi keAKUan didalam dirimu. Kau rela menderita dan bersedih untuk orang lain, dan berusaha untuk membantu orang lain.”
“ hamba tidak berani menerima penghargaan ini, hamba tidak siap.”
“ desi berfikirlah dengan lebih jernih, kedepannya kau akan lebih mengerti dan lebih memahami semua hal didunia ini.”
Lalu budha itu menghilang, menyusul guruku yang datang menemuiku.

Guruku kembali meyakinkan aku, bahwa aku tidak gagal. Jadi aku diminta tidak bersedih lagi. Guruku memberi benda pusaka atas kenaikan tingkatku itu. akhirnya aku menerimanya dengan hati gamang.
 
45. TUBUHKU BANYAK MENGANDUNG UNSUR YANG

Sejak aku dekat dengan para dewa dan selalu mendapatkan bimbingannya, aku menjadi tidak mudah terserang penyakit. Karena disamping mendapatkan perlindungan dari para dewa, kadang aku juga diberi anugrah-anugrah untuk kekuatan tubuhku ini. Hanya pada awal menerima berkah dan berkat, karena tubuhku masih banyak mengandung unsur yin, aku masih merasa lelah dan lemas karena belum terbiasa menerima berkah-berkah itu. Tapi semakin lama tubuhku semakin kuat.

Semakin banyaknya berkah yang aku terima dari para dewa, aku merasakan hawa panas dalam tubuhku, tapi aku tidak sakit panas dalam. Hanya hawa yang keluar dalam tubuhku bersifat panas. Aku menanyakan hal ini pada guruku, guruku mengatakan bahwa unsur yang dalam diriku sangat besar, kau tidak akan mudah terserang penyakit dan diganggu roh/arwah yang berunsur yin. Tapi tubuhmu belum kuat untuk menahan unsur yang itu. guruku bilang akan memberitahukan kepadaku apa yang harus aku lakukan untuk mengatasi hal ini.

Saat aku meditasi sore, salah satu budha datang menemuiku. Dia menyuruhku untuk pergi kesuatu tempat agar tubuhku bisa menerima unsur yang telah masuk pada diriku dan yang akan terus masuk kedalam tubuhku selama dalam bimbingan para dewa juga agar aku bisa mendapat kekuatan untuk menjalani tugas-tugas yang akan datang yang lebih berat lagi. Karena aku sudah naik tingkat.

Aku bingung, kenapa bukan guruku yang memberi petunjuk ini, budha itu berkata bahwa aku bisa diberi tugas oleh budha/dewa apa saja. Karena aku memang berjodoh dan telah dekat dengan para dewa. guruku juga membenarkan petunjuk yang diberikan oleh budha itu. dan aku dengan tenang menjalankan tuga yang diberikan budha tersebut.

Tempat yang ditunjuk budha itu adalah salah satu tempat wisata, yang hawanya mengandung banyak belerang. Sesampainya ditempat itu kami berfoto-foto dan membeli souvenir khas daerah itu sambil menunggu petunjuk selanjutnya dari guruku.

Guruku menyuruh agar aku mencari tempat yang tenang untuk bermeditasi, aku menjalankannya. Saat aku mulai memasuki Samadhi, hawa belerang itu kuat sekali kurasakan masuk kehidungku, setelah beberapa lama aku mulai terbiasa dan tenang. Tidak lama kemudian budha yang menyuruh kupergi ketempat itu datang lagi.
“ desi, kau telah menjalankan petunjukku dengan baik, aku senang melihat apa yang kau lakukan. Tidak semua manusia bisa mencapai tahap sepertimu ini. Kau sudah boleh menyudahi meditasimu, karena tubuhmu telah mendapatkan kekuatan kembali. Pulanglah dengan bahagia.”

Saat perjalanan pulang kembali kerumah, aku merasakan hawa yang begitu dingin, aku mengigil dan kepalaku agak mengambang. Aku mencoba untuk tidur didalam mobil tapi tidak bisa. pikiranku melayang kemana-mana tapi tidak ada yang aku pikirkan. Seperti kosong. Setelah beberapa saat, aku merasakan kekuatan dalam tubuhku, aku merasa segar dan mataku begitu jernih. Dan hawa panas yang sebelumnya kurasakan hilang dalam diriku. Tubuhku kembali normal dan mendapatkan kekuatan lebih. Perubahaan ini hanya aku yang merasakannya.

Sejak menjalankan tugas itu, dewa-dewa yang datang membimbingku semakin tinggi, dan kasus-kasus yang kuhadapi juga semakin tidak masuk akal dan semakin membutuhkan tenaga lebih banyak. Tapi aku tidak mau lagi mengeluh, karena para dewa membimbingku selama ini tanpa mengharapkan balasan apapun dariku.
 
46. DEWI GUNUNG KHULUN

Mendapat kontak batin dan berkah bimbingan dari para dewa, adalah anugrah terbesar dalam hidupku. Pada awalnya aku tidak menyadarinya, dan tidak menghargai setiap bimbingan yang aku terima. Para dewa dengan sabar dan penuh kasih memberiku banyak nasehat dan menguatkan hatiku. Semua ini karena jodoh antara aku dengan para dewa sudah tiba, karma masalalu telah kubayar dikehidupan ini, sehingga aku bisa mendapatkan kontak batin dan bimbingan dari para dewa.

Mendapat petunjuk dari guruku, bahwa ada satu dewi yang akan membimbingku. Dewi ini adalah dewi dari gunung khulun, dia akan membimbingku dalam menyusun sadhana, melafal mantera dll. Dan tidak pernah kuduga sebelumnya, bahwa dewi gunung khulun inilah yang mengamanatkan agar aku menulis buku pertamaku ini.

Saat dibimbing olehnya, aku harus memiliki keyakinan teguh dalam menjalankan kehidupanku sekarang ini. karena dengan keyakinan teguhlah semua yang diharapkan akan menjadi kenyataan dan bisa mendapatkan hasil yang baik. Menghadapi masalah juga harus yakin bisa menjalankannya. Dia juga berpesan, untuk menolong manusia tanpa pilih-pilih dan minta petunjuk guru apakah boleh ditolong. Harus tau tata karma, hormat pada guru dan dharma. Harus rajin melatih diri dan mempelajari semua bimbingan dari para guru.

Saat dewi itu menyuruh agar aku mulai menulis buku ini, aku merasa tidak yakin bisa melakukannya. Dan aku bertanya-tanya untuk apa aku harus menulis buku ini. Karena menurut sepengetahuanku, menulis buku seperti ini banyak halangan dan gangguannya. Tidak hanya gangguan dari alam gaib, tapi juga akan mendapat ganguan dari orang-orang yang tidak menyukai bukuku ini.

Dewi tersebut mengatakan kepadaku, agar aku tidak perlu takut. Karena jika para dewa sudah memberikan amanat ini, maka aku akan dilindungi. aku diminta untuk menuliskan semua pengalamanku selama mendapatkan kontak batin dengan para dewa. untung saja aku selalu menuliskan setiap kejadian dan bimbingan yang kudapatkan selama ini, jadi dengan melihat kembali catatanku itu aku sudah bisa menuliskannya kedalam buku ini.

Pada buku pertamaku ini, aku diminta untuk menulis 50 isi pengalaman hidupku itu, dan setiap harinya dewi itu akan menanyakan perkembangan tulisanku sampai selesai. Jadi dewi itu yang membimbing aku dalam pembuatan bukuku ini. Jika ada hal yang aku tidak mengerti dan membutuhkan kata-kata yang tepat, maka dewi tersebut akan menjelaskannya dan memberitahukan kata-kata yang baik yang harus aku tulis.

Dewi itu mengatakan, buku yang akan aku tulis ini akan bisa membuka hati umat manusia yang membacanya. Dan memberitahukan kepada mereka bahwa para dewa itu benar-benar ada. Jika ada ikatan jodoh dimasa lalu, maka manusia tersebut akan bisa mendapatkan kontak batin seperti diriku. Buku ini disebarkan untuk jalan dharma, jadi aku diminta untuk menulisnya dengan baik.
 
47. TIDAK MENGINDAHKAN PERTANDA BURUK

Sejak aku mendapatkan kontak batin dengan para dewa, aku selalu mendapatkan pertanda-pertanda pada tubuhku.
Kadang tubuhku mengisyaratkan bahwa guruku memanggil, kadang member isyarat ada mahluk gaib atau dewa, kadang memberi isyarat ada ilmu hitam datang menyerang. Tapi anggota tubuh ku yang lain ada yang memberitahukan suatu pertanda baik dan buruk.

Suatu kali telinga sebelah kananku berdenging kuat dan lama sekali, guruku mengatakan bahwa aku akan mendapat kabar kurang baik, biasanya aku akan menanyakan kepada guruku, kabar yang aku dapatkan ini dari keluarga terdekatku atau tidak. Jika guruku mengatakan bahwa kabar itu bukan dari keluarga terdekatku, aku akan sedikit tenang. Dan benar saja pada esok harinya aku mendapat kabar duka dari saudara jauhku.

Dan suatu kali, telinga kananku berdenging lagi. Aku berfikir pasti aka nada sesuatu yang tidak baik. Karena guruku mengatakan jika berdenging di telinga kanan akan mendapatkan kabar tidak baik dan jika berdenging disebelah kiri akan mendapat kabar baik. Mengingat hal itu aku segera meminta petunjuk, guruku mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk pada keluargaku, mendengar perkataan guruku itu aku sempat tidak tenang, tapi aku tidak mengindahkan perkataannya dan tidak berusaha agar sesuatu hal yang buruk itu terjadi, aku sibuk dengan pekerjaanku saja dan tidak memperhatikan keluargaku dan tidak meminta mereka agar berhati-hati.

Benar saja, esok paginya saat anakku menuruni tangga bersama susternya mereka tergelincir dan terjatuh ditangga, aku tidak bisa langsung melihat mereka karena sedang berbicara dengan rekan bisnisku ditelpon. Melihat mereka terjatuh, aku merasa amat bersalah. Mengapa aku tidak berhati-hati dan tidak segera mengambil sikap untuk mencegah hal ini. Guruku sudah memberitahukan hal ini kepadaku, tapi aku tidak mengindahkannya. Aku takut anakku dan susternya terjadi apa-apa, sambil menangis aku segera memohon guruku untuk membantu mengobati mereka. Guruku berkata kepadaku.”
“ desi jangan bersedih, mereka tidak apa-apa hanya terkena benturan dan trauma sedikit, mereka akan kembali pulih. Jangan kuatir, berkatilah air putih untuk mereka minum.”

Dan guruku itu memberi petunjuk untuk mengobati luka benturan yang dialami suster, karena dia lebih parah lukanya. Itu semua karena dia tidak melepaskan gendongannya pada anakku dan rela dirinya yang lebih terluka. Aku mengucapkan terima kasih padanya didalam hati, karena tidak semua suster anak seperti dia, dan aku memohon agar para dewa melindungi dia dan segera menyembuhkan luka-lukanya.

Apa yang terjadi pada anakku itu diketahui oleh para dewa, dewi gunung khulun datang memberi petunjuk padaku, agar aku mempersiapkan hu yang dia ajarkan untuk diberikan kepada anakku dan suster. Hu ini untuk menghilangkan trauma dari kecelakaan, sehingga mereka tidak mengalami panas pada tubuhnya. Aku menjalankan petunjuk itu.

Dengan harap-harap cemas, setelah semua yang ku lakukan. Aku dengan gelisah menunggu perkembangan mereka. Ternyata tidak terjadi apa-apa lagi. Anakku juga tidak panas dan bisa bergerak dan bermain dengan ceria, sepertinya benar yang dikatakan oleh guruku, bahwa anakku tidak akan apa-apa. Keyakinan memang bisa membuat semua menjadi kenyataan.
 
48. MELATIH MATA BATIN

Sesungguhnya mata batin telah aku dapatkan saat aku banyak melafal satu mantera. Yang tadinya disaat mataku terpejam tidak melihat apapun, selain cahaya putih yang menjauh. Secara tiba-tiba bisa melihat pemandangan/suasana suatu tempat atau melihat kehadiran dewa dan roh. Aku melihat semua itu seperti gambar/film saja. Kadang datang pengelihatan yang sama sekali tidak aku pikirkan.

Dulu pada awalnya, aku melihat kehadiran dewa tidak begitu jelas dan terlihat samar-samar saja. Guruku mengatakan agar aku melatih mata batinku dengan bermeditasi. ada jam-jam tertentu yang harus aku ikuti untuk melatih mata batinku agar bisa melihat kehadiran para dewa dengan lebih jelas. Karena waktu yang ditentukan amat sulit aku jalankan, karena pada jam-jam seperti itu, banyak sekali ganguannya.

Rasa mengantuk, malas dan lelah. Padahal aku harus melatihnya secara rutin setiap hari, tapi sulit sekali. kadang 4 hari aku bisa menjalankannya dengan teratur, tapi entah kenapa timbul lagi gangguan itu. memang tidak mudah untuk menjalankannya. Guruku sangat pengertian, dia tahu bahwa aku berat menjalankan hal ini, jadi tidak terlalu menekanku, hanya saja jika aku tidak selalu melatih mata batinku ini, aku tidak bisa melihat setiap kejadian ataupun kehadiran para dewa dengan jelas. Tentunya dengan begitu aku sendiri yang tidak mendapatkan manfaatnya.
Aku berusaha untuk konsekuen melatih mata batinku, tapi aku tidak bisa terlalu ekstrem karena aku tidak hanya menjalankan kebatinan saja, tapi juga menjalankan kehidupanku sebagai orang awam, yang harus berkonsentrasi pada usaha kami. Aku berusaha menjalaninya dengan seimbang. Yang penting hati tulus dan tidak ada niat-niat yang tidak baik, para dewa pasti akan mengerti kondisiku ini.
Guruku mengatakan, jika aku rutin melatih mata batinku, maka aku akan bisa melihat para dewa dan mahluk gaib tidak hanya saat menutup mata, tapi saat mata terbukapun aku akan bisa melihatnya. Aku berkata pada guruku, bahwa aku akan berusaha untuk melatihnya. Memang ada orang yang dari lahir sudah bisa melihat hal-hal gaib dengan mata terbuka, biasanya kelebihan ini dewa yang memberikannya. Tapi bagaimana orang tersebut bisa mempergunakan kelebihannya itu dengan baik, semua tergantung dari dirinya sendiri untuk menguasainya. Dan jika dia bisa memahami apa yang ada dalam dirinya itu dan bisa bertindak bijaksana, mempergunakan kelebihannya itu untuk menolong dan membantu orang, maka jodohnya dengan para dewa pasti akan terbuka dan dia akan mendapatkan bombingan kearah yang baik.
 
49. ALAM GAIB YANG SEMPAT DITUTUP DIBUKA KEMBALI

Dulu saat aku baru menjalani bimbingan, hatiku tidak pernah teguh, masih selalu bimbang dan ragu terhadap setiap bimbingan yang aku terima dari para dewa. saat menjalankan tugas ataupun menghadapi suatu kasus, aku terkadang goyang dan tidak begitu siap. Selalu memikirkan hal-hal yang negative terlebih dulu, sehingga belum menjalani tugas atau kasus tersebut, aku sudah bergerak mundur.

Guruku selalu meyakinkan aku, agar aku tetap teguh. Percaya sepenuhnya dengan petunjuk para dewa, maka tidak akan salah jalan. Mungkin pada awalnya guruku itu pasti merasa lelah membimbingku, karena aku ini terlalu pesimis, dan tidak berani menghadapi tugas dan kasus yang aku jalani. Sesungguhnya bukan karena apa. Menjalani jalanku ini amatlah berat dan tidak mudah, jika alam gaib telah terbuka dan aku sudah bisa berinteraksi dengan alam dan mahluk gaib. Maka apapun yang aku lakukan dan menjalankan tugas dan kasusku yang menyangkut alam gaib pasti akan tersambung secara otomatis. Guruku tidak mau aku mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Saat menjalankan kasus seseorang yang berkaitan dengan alam gaib, aku harus teguh, yakin, siap dan berani menghadapinya. Karena kekuatan gaib itu tidak bisa dilihat dengan mata jasmani, jika aku tidak mempersiapkan diriku sedemikian rupa untuk bisa menangkal dan melawannya, itu akan berakibat buruk untukku. Itulah yang dikuatirkan oleh guruku. Selama ini setiap ada kekuatan gaib yang menyerangku, masih ada guruku yang menangkalnya sehingga tidak mengenai diriku. Tapi kedepannya aku harus bisa menghadapinya sendiri.

Pernah suatu kali alam gaib itu terpaksa ditutup oleh guruku, karena guruku mengkuatirkan aku. Guruku mengetahui apa yang aku rasakan, ketidak siapan aku dan kemalasanku untuk berlatih. Sehingga sejak saat itu, tidak ada hal-hal gaib yang aku rasakan. Tapi aku masih terus dibimbing oleh para dewa. dan setelah guruku merasa bahwa aku sudah siap, dia membuka kembali alam gaib itu untukku dan berkata.
“ desi … aku melihat kau sudah siap menjalani tugas-tugasmu, kau telah membuktikannya hari ini dengan secara spontan membantu salah satu keluargamu yang diserang ilmu hitam. Sesungguhnya aku sengaja membiarkan guna-guna itu mengenai keluargamu demi melihat reaksimu, ternyata engkau menjalankannya dengan baik dan tenang.
Mulai hari ini aku akan membuka kembali alam gaib itu untukmu, jalanilah setiap tugasmu dengan baik.”

Sejak guruku mengatakan hal itu, langsung saja datang beberapa kasus yang berkaitan dengan alam gaib menghampiriku bertubi-tubi, sampai aku agak kewalahan. Tapi aku berusaha bersikap tenang, dan mengingat pesan-pesan guruku itu didalam hati.

Saat itu secara mendadak teman suamiku member kabar bahwa istrinya masuk rumah sakit akibat pendarahan pada kehamilannya, setelah diperiksa ternyata dikandungannya ada kista yang sudah membesar, itu lah yang menyebabkan dia mengalami pendarahan dan harus dioperasi untuk melahirkan bayinya yang baru berusia 8 bulan.

Setelah dia melahirkan bayinya istrinya itu mengalami koma dan tidak sadarkan diri selama 2 hari, teman suamiku itu begitu sedih dan tidak tau harus berbuat apa lagi. Suamiku menceritakan hal ini kepadaku dan memintaku untuk melihat keadaan istrinya dengan mata batinku. Lalu aku masuk dalam Samadhi, rohku keluar dan pergi kerumah sakit itu, diluar aku melihat teman suamiku itu sedang duduk bersedih. Lalu aku masuh keruang istrinya, aku melihat istrinya itu tidak bergerak, tapi aku melihat ada 2 orang berpakaian hitam dan putih. Aku menghampiri kedua orang dan bertanya ;
“ maaf, nama saya desi. Anda berdua siapa?”
“ kami adalah dewa penjemput roh.”
“ mengapa anda berada didekat wanita itu?”
“ jika rohnya keluar kami yang akan menangkapnya.”
“ kenapa? Apa wanita ini memang sudah ditakdirkan untuk meninggal”
“ karena wanita ini bukan orang yang baik. Dia belum waktunya meninggal. Jika ada orang baik yang memohon untuknya, maka dia akan selamat.”
“ bisakah engkau membantunya “
“ ini bukan tugas kami. Bukankah kau bisa berkomunikasi dengan para dewa. kau tanyalah kepada para dewa mengenai hal ini.”
“ baiklah, aku akan meminta petunjuk para dewa. terima kasih.” Lalu aku bergegas pergi dari rumah sakit itu.

Setelah itu aku meminta petunjuk guruku, apa yang harus kulakukan untuk menolong wanita itu. guruku memberitahu apa saja yang harus kupersiapkan. Lalu dengan ketulusan hati menjalankan ritual dan memohon kepada para dewa agar bisa memberikan kesempatan hidup bagi wanita itu agar dia bisa berkumpul kembali dengan keluarganya.

Esok harinya, teman suamiku itu memberi khabar bahwa istrinya sudah siuman dan sudah bisa berbicara. Mendengar hal itu aku merasa lega, aku dan suamiku tidak memberitahukan apa yang kami lakukan untuk istrinya. Biarlah mereka bisa mendapatkan kebahagian berkumpul satu keluarga dan mulai menata hidup mereka dengan baik.

Ini adalah salah satu hal yang terjadi saat gaib dibukakan oleh guruku, ada beberapa hal lagi yang terjadi dan tidak kutuliskan disini. Aku sungguh bersyukur berjodoh dengan guruku itu, dia selalu memperhatikan aku, menjagaku dan membimbingku agar aku menjadi lebih baik.
 
50. SELALU MENDAPAT HADIAH BILA SELESAI MENJALANKAN TUGAS

Aku menceritakan pengalamanku ini bukan semata-mata mengada-ada. Tapi ini benar-benar aku alami. Mendekatkan diri pada para dewa, ternyata bagiku bukan hanya sekedar mendekatkan diri. Aku dipilih secara khusus oleh para dewa untuk menjalankan dharma. Dengan tujuan membantu orang lain dan membimbing mereka agar berbuat baik.

Tugas-tugas para dewa yang kujalankan, pada awalnya ringan kurasakan. Tapi semakin naik tingkat semakin berat dan penuh dengan tantangan. Tapi setiap kali aku selesai menjalankan tugas yang diberikan, aku selalu mendapatkan penghargaan. Berupa benda-benda pusaka yang tidak terlihat oleh mata jasmani dan hanya bisa dilihat dengan mata batin. Benda-benda pusaka itu tersimpan pada diriku.

Awalnya aku tidak terlalu antusias dengan hadiah-hadiah itu, karena kupikir tidak akan berfungsi apa-apa. Tapi ternyata pikiranku itu salah, benda-benda pusaka yang diberikan kepadaku bukan tidak ada fungsinya. Karena adanya benda-benda pusaka itu, aku mengalami perubahan demikian pesat. Benda-benda pusaka itu benar-benar menyatu dalam tubuhku dan membantu mengaktifkan kekuatan-kekuatan yang ada dalam diriku yang pada saat itu belum terbuka. Setiap benda memiliki fungsi masing-masing. Berdasarkan bimbingan apa yang akan aku terima dan siapa yang membimbingku.

Para dewa memberikan semua itu, mungkin untuk memotivasi diriku. Agar aku bersemangat menjalankan semua tugas yang diberikan. Dan mau mempergunakan kelebihan yang aku miliki untuk menolong orang, karena tujuan para dewa dari dulu adalah menyelamatkan para insan. Suatu tujuan yang mulia bagiku, tapi proses menuju kesana tidak mudah. Harus rela mengalami penderitaan demi orang lain yang tidak aku kenal. Aku berusaha merubah karakter dan sikapku yang sebelumnya kurang begitu peka terhadap kesulitan orang lain. Sesungguhnya aku ini memiliki sifat acuh pada orang lain dan tidak terlalu memperdulikan orang lain, selama orang itu tidak menggangguku, akupun tidak akan menganggunya. Sifatku ini bertolak belakang dengan suamiku yang suka menolong orang, hatinya segera tergerak jika melihat kesulitan orang lain.

Tapi aku bersyukur karena secara perlahan sifatku itu berubah, disamping dibimbing oleh para dewa juga ada suamiku yang selalu mengingatkan aku dengan sabar. Mungkin jika tidak ada dukungan dari suamiku dan bimbingan para dewa, aku mungkin masih menjadi seorang yang tidak berarti dan tidak peka terhadap kesulitan orang lain. Yang menghabiskan kehidupanku dengan kesenangan duniawi. Tidak seperti sekarang mulai mengabdikan diriku untuk menjalankan dharma.

Semua hadiah-hadiah yang kuterima dari para dewa akan selalu kujaga dengan baik, dan tidak akan mempergunakannya untuk hal-hal yang tidak baik. Tapi mempergunakan semua benda tersebut untuk tujuan kebaikan. Para dewa pasti tahu ketulusan hatiku ini.
 
Pendahuluan Buku Ke-2

Ini adalah buku kedua yang aku tulis, isinya agak jauh berbeda dengan isi buku pertamaku. Penemuan jati diri kehidupan lalu yang telah kuketahui selama ini ternyata baru sebagian kecil terbuka. Semakin mendalami jalan hidupku saat ini, aku semakin diperlihatkan banyak hal-hal baru dan tidak masuk akal menurut pemahamanku sebagai manusia awam. Aku kira setelah aku mengetahui jati diriku, itu sudah selesai sampai disitu dan aku hanya menjalankan kehidupanku dengan baik saja, tidak berbuat hal-hal yang jahat dan banyak berbuat kebajikan.

Ternyata semakin mengikuti bimbingan ada rencana lain yang telah digaris padaku, yang tidak bisa aku pahami dan tidak masuk akal. Menurut petunjuk Guru-Guruku dari angkasa, semua ini telah diatur dari awal dan masih rahasia langit dan kedepannya banyak tugas yang harus aku jalankan. Aku diminta untuk menjalankan hidup dengan baik, selalu mendengarkan petunjuk para Dewa, terlebih bimbingan Guru-Guruku maka aku tidak akan tersesat dan salah jalan.

Dalam buku pertamaku, aku tidak menceritakan jati diriku karena para Dewa belum mengizinkan aku menulisnya. Dan pada buku keduaku ini, disamping tugas dan tanggung jawabku dalam menjalankan misi lebih berat, agar semua orang tidak bertanya-tanya dan berprasangka, maka dibuku keduaku ini aku akan kembali menceritakan apa yang kualami selama mendapatkan kontak batin dengan para Dewa dan misi apa yang sedang aku jalankan.
Mungkin keluarnya buku kedua ini akan banyak memicu pertentangan dan kritikan yang lebih keras, karena mungkin banyak orang yang tidak percaya dengan tulisanku ini. Tapi aku tidak bisa menutupi kebenaran yang telah kudapatkan, langit sudah memberi petunjuk kepadaku bahwa aku harus menulis semuanya, itu pesan para Dewa kepadaku.

Saat ini, aku mohon maaf yang sebesar2nya jika tulisan buku ke-2 ini tidak sesuai dengan pemahaman dan keinginan para pembaca dan umat se-dharma. Aku tidak dapat berbuat banyak, apalagi berusaha untuk menghindar dari tanggung jawab yang telah diberikan kepadaku. Aku harus menjalankan hidupku ini ini sesuai dengan arahan dan bimbingan para Dewa. Aku tak mungkin lagi berbalik dan menentang kehendak langit. Kehidupanku yang sekarang adalah kesempatan untuk bisa kembali ke tempat asalku. Jika aku melewatkan kesempatan ini dan tidak menghiraukannya, mungkin aku harus kembali mengalami tumimbal lahir dan harus menunggu kesempatan untuk bisa kembali yang tidak diketahui kapan waktunya.

Setelah sekian lama aku bertemu dengan banyak orang yang menanyakan tentang kehidupan mereka, sebagian banyak dari mereka yang punya jati diri/roh asal yang tidak bisa, punya bibit yang baik untuk membina diri dan mencapai keBuddhaan, tapi mereka sama sekali tidak mengetahui hal ini, kadang aku berpikir apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya mengenai roh asal mereka, kata orang rahasia langit tidak boleh dibocorkan, tapi jika mereka tidak mengetahuinya, bagaimana mungkin mereka bisa terlepas dari lingkaran tumimbal lahir dan termotivasi untuk membina diri mengikuti jalan Bodhisattva. Bibit-bibit baik itu kadang terlahir bukan dari orang berada, di zaman sekarang untuk mendapatkan jalan dharma saja harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit, orang yang susah kadang tidak bisa ikut ambil bagian dalam ritual keagamaan untuk mendapatkan berkah rejeki bahkan juga untuk menolong keluarganya agar bisa tersbrangkan, karena untuk bisa mengikuti ritual keagamaan itu harus punya danang untuk bisa ikut, kadang aku tidak bisa membedakannya lagi, jalan dharma sepertinya bisa dibeli dengan uang.

Tapi kadang pula orang-orang tersebut tidak mendapatkan dukungan dari keluarganya ataupun dari lingkungannya, kadang ada juga yang takut, ketika mereka mulai membina diri rohnya bereaksi, sehingga mereka menarik diri dan tidak menjalaninya, kadang ada juga orang yang dari lahir sudah membawa kelebihan dalam dirinya, yang seharusnya bisa digunakan untuk berbuat kebajikan menolong orang tanpa pamrih agar bisa kembali ke tempat asal, tapi mereka mempergunakan kelebihan mereka dengan sombong dan mengutamakan materi semata.

Jujur saja, sesungguhnya aku pernah bimbang menjalankan jalan dharmaku saat ini, sesuatu yang diluar pikiranku sebagai manusia. Kadang sulit untuk mempercayai semua yang aku alami. Tapi aku bersyukur dan masih beruntung karena aku tidak sendirian menjalaninya. Disaat aku mulai bimbang dan ragu, suami memberikan pandangan yang baik padaku, selalu meyakinkan aku dan tidak membiarkan aku bingung sendiri.

Apa yang dikatakan para Dewa kepadaku, walaupun aku belum menceritakannya pada suamiku, tapi dia sepertinya sudah tahu dan mengatakan kata-kata yang sama dengan kata-kata para Dewa. Kadang terasa aneh, kenapa suamiku bisa punya pandangan sama dengan para Dewa, dan kadang dia sudah mengetahui maksud dari setiap perkataan para Dewa kepadaku. Sehingga yang tadinya aku mulai keluar dari jalur bimbingan , mendengar perkataannya aku kembali bersemangat dan kembali yakin.
Dari sekian banyak orang yang datang padaku untuk berkonsultasi, ada orang-orang yang punya kelebihan-kelebihan yang tidak dipunyai orang awam, aku berpandangan mereka itu pasti bukan orang bisaa, bisa saja mereka memiliki jati diri yang khusus hasil dari pembinaan diri di kehidupan lalu. Tidak sedikit dari mereka yang tidak bisa menjalaninya dengan baik sehingga jalan dharma mereka tidak bisa berjalan dengan baik. Malah ada yang dihalangi dan tidak diarahkan dengan baik sehingga mengakibatkan mereka pesimis, frustasi dan takut menjalaninya, bahkan banyak dari mereka yang terjebak dalam keduniawiannya.

Sesungguhnya menjalani dharma memang tidak mudah, semua tergantung pada hati. Jika hati memandangnya mudah, maka akan menjadi mudah. Tapi jika hati memandangnya sulit, maka akan menjadi sulit untuk dijalani, yang penting bisa memandang setiap masalah dengan tenang, maka apapunyang terjadi dalam kehidupan ini walaupun baik atau buruk tidak ada kekuatiran dalam hati.

Berusaha meredam keinginan-keinginan dan mengkoreksi pikiran, sikap dan tingkah laku buruk kita, agar pendekatan yang kita lakukan kepada para Dewa bisa mendapatkan respon yang baik dan bisa mendapatkan kontak batin dengan para Dewa, karena mereka melihat ketulusan hati kita.
Demikianlah kata-kata yang bisa kuungkapkan disini, semoga buku ke-2 ini bisa mendatangkan kebaikan dan bisa membuat banyak orang lebih mengenal jati diri masing-masing, berusaha mendapatkan pencerahan dan tidak mengejar keinginan duniawi, harta, nama, jabatan dan pemuasan akan Indra tubuh kita hanyalah halangan bagi kita dalam membina diri, semakin kita tergantung pada hal itu, kita semakin sulit mendapatkan kebahagiaan yang abadi, dan terlebih lagi harus kembali menjalani kehidupan di dunia ini yang penuh dengan penderitaan dan kesulitan.
 
Jati Diri/Roh Asal

Dalam buku pertama, aku pernah menuliskan bahwa aku telah mengetahui jati diriku/roh asalku yang sebenarnya. Aku telah mengalami 2 kali kelahiran, kehidupan sebelumnya dan kehidupan yang sekarang, Guru Sejatiku yang mengatakannya dan aku telah mengetahui kehidupanku itu dari meditasi. Dan dalam kelahiranku itu aku harus mengalami penderitaan dan kesulitan hidup di dunia ini.

Aku beruntung karena dikehidupanku yang sekarang, bisa mendapatkan kesempatan untuk membina diri sehingga bisa mengetahui jati diriku yang sesungguhnya dan bisa memutuskan rantai tumimbal lahir.

Aku berusaha melatih diriku untuk bisa mencapai penerangan dan mencapai keBuddhaan di kehidupan saat ini juga. Dengan adanya pertolongan dari Guru Sejatiku, juga para Dewa yang membimbing dan mendukungku, juga dari suami dan keluarganya selalu memberikan kekuatan dan dorongan kepadaku, sehingga aku bisa menjalankan kehidupanku yang agak berbeda ini.

Penemuan jati diriku berawal dari mulainya menjalankan kepercayaan agama Buddha, sebelumnya aku beragama Kristen, saat mulai menjalankan agama Buddha bersama suamiku, aku agak canggung. Karena aku tidak mengerti tata cara sembahyang, kadang aku merasa risih jika harus sembahyang dan memegang dupa hio di depan banyak orang. Tapi, sejak mulai belajar membaca mantera Dewa Bumi, hatiku mulai bisa menerima dan tulus menjalani agamaku, walaupun kehidupanku saat itu masih diiringi dengan pemuasan keinginan duniawi.

Suatu kali aku bermimpi pergi ke suatu Vihara dengan membawa bunga melati, bersujud di hadapan rupang seorang Dewi, saat itu aku melihat mata rupang Dewi tersebut bergerak dan melirik ke kanan wajahnya, aku melihat ada api yang membakar rambutnya, aku segera memadamkan api tersebut dan membersihkan wajah kanannya dari noda hitam.

Kejadian mimpiku ini terjadi dalam kehidupan nyataku. Disaat aku bersembahyang di salah satu vihara di daerah Tangerang, seperti sudah diatur, aku tiba-tiba saja membersihkan pipi kanan salah satu rupang Dewi di vihara itu. Saat itu aku belum sadar, kalau itu adalah pertanda untukku, dan awal kontak batin dengan Guru sejatiku. Hanya saja sejak kejadian itu aku ingin selalu membaca “Maha Karuna Dharani”.

Sejak kejadian itu, aku seperti dituntun untuk bertemu dengan Guru sejatiku, yaitu Bodhisattva yang berjodoh denganku selama ini mendampingiku tapi aku tidak mengetahuinya. Hanya saja aku berulang kali memimpikan Bodhisattva itu, dan sepertinya memberikan petunjuk dalam mimpiku.

Sejak sering membaca mantra Dewa Bumi, entah sudah berapa banyak, aku mulai mendapatkan penglihatan gaib setiap membaca mantra dan ditunjukkan tempat bertemu dengan Guru sejatiku itu. Sampai saat itu, aku belum bisa berkomunikasi dengan Guru sejatiku itu apalagi dengan para Dewa.

Hanya karena sudah dapat penglihatan, aku bisa meminta petunjuk melalui penglihatan saja disaat membaca mantra Dewa Bumi, jadi saat ada sesuatu yang ingin aku tanyakan, aku tidak minta jawaban melalui pua pue, tapi memohon agar bisa diberi penglihatan saat membaca mantra, dan percaya tidak percaya, aku bisa mendapatkan jawaban dari para Dewa atas pertanyaan-pertanyaanku itu.

Setelah bertemu dengan rupang Guru sejatiku di salah satu toko penjual rupang para Dewa di daerah Jakarta, aku memasang rupang Guru sejatiku itu di rumah, saat itu hanya menempatkannya sebagai pajangan biasa saja, karena aku belum menyadari kalau aku berjodoh dengannya.

Setelah tiga hari rupang Guru sejatiku itu terpajang di rumah keanehan terjadi, suster dirumahku ingin memakai telepon tapi saat dia menempelkan telpon di telinganya, terdengar suara mantra di telepon itu, suaranya sama dengan mantra yang ada di rupang Guru sejatiku itu.

Kejadian aneh itulah awal mulanya aku memutuskan untuk menjalani meditasi, walaupun tidak yakin atas apa yang kulakukanm aku tetap mencoba untuk menjalani keinginanku. Beberapa teman menyarankan agar aku tidak melakukannya karena katanya bisa kemasukan/kerasukan roh jahat, awalnya aku sedikit takut juga, tapi entah kenapa aku tak menghiraukannya lagi dan tetap menjalani meditasi. Karena aku percaya para Dewa pasti melindungi, karena sebelum meditasi aku membaca Sutra dan mantra terlebih dahulu.

Sesuatu terjadi pada hari ke-21 aku menjalani meditasi, sebelum ke-21 hari itu tak ada pengalaman apapun dalam meditasi yang aku jalani. Tiba-tiba saja saat aku selesai meditasi dan berniat untuk tidur, jantungku berdetak sangat kencang, sepertinya dadaku dipukul-pukul dari dalam , hal itu kurasakan kurang lebih 1 menit saja dan begitu jelas. Aku bertanya-tanya dalam hati, karena tidak mengerti apa yang terjadi padaku, aku bertanya pada suamiku mengenai apa yang kurasakan, suamiku mengatakan “ mungkin disuruh meditasi lagi”, walaupun kata-kata suamiku terdengar tidak masuk akal, karena baru saja aku selesai meditasi. Tapi aku ikuti saja sarannya untuk kembali bermeditasi. Benar saja, saat aku meditasi beberapa lama, mulai ada sensasi yang aneh yang tidak pernah aku rasakan selama meditasi, aku seperti mencapai suatu kekosongan bisa menenangkan pikiranku.

Setelah sensasi itu dalam hati aku mendengar ada orang yang memanggil namaku, aku kira itu suamiku jadi aku tidak menghiraukan panggilan itu. Tapi suara itu kembali memanggilku lagi 2 kali, aku mulai merasa aneh apa iya itu suara suamiku, tapi kedengarannya suara seorang wanita, aku tidak bisa membedakannya karena saat itu mata batinku belum terbuka. Akhirnya aku menjawab panggilannya,

“ya…”

“Desi.. aku adalah Dewi Seribu Tangan Seribu Mata. Karma kehidupan masa lalumu telah selesai, rohmu telah terbangunkan dengan sendirinya. Sejak saat ini kau akan bisa berkomunikasi dengan Dewa dan roh, bisa mengetahui kehidupan masa lalu dan masa yang akan datang. Aku memberi anugrah benda pusaka untuk melindungi dirimu. Jalanilah kehidupanmu dengan baik”.

Guru sejatiku itu meminta aku mengulurkan tangan kepadanya, tapi aku belum bisa melihat Dia dengan mata batinku, jadi aku hanya mengikuti instruksi darinya saja. Sejak itulah, perubahan demi perubahan kualami dalam diriku, mulai bisa berkomunikasi dengan Dewa dan roh, aku mengalami perubahan, dari manusia awam menjadi manusia yang bisa berinteraksi dengan para Dewa seperti yang dikatakan Dewa Bumi kepadaku. Setiap ada tugas yang diberikan oleh Guru sejatiku itu, aku pasti merasakan tubuhku berubah, hal ini hanya aku yang bisa merasakannya sendiri.

Sampai suatu hari aku mengetahui jati diriku, dari mana asal rohku sebelum turun menjadi manusia dan mengalami berulang kali tumimbal lahir. Dalam meditasi aku mengalami kejadian kehidupanku, dari saat masih sekolah di bangku SMA bergerak mundur ke SMP, terus mundur saat aku masih kecil, saat masih di kandungan ibuku, lalu mundur lagi ke suatu tempat entah di mana, aku melihat seorang wanita yang mengalami penderitaan, lalu mundur lagi melihat seorang wanita yang lain yang seperti seorang Dewi. Penglihatan itu berhenti sampai disitu, aku mencoba untuk merenungkan apa yang kulihat, tapi mungkin karena aku bukan orang yang pintar menganalisa, aku tidak menemui jawabannya.

Mungkin Guruku mengetahui hal ini, sehingga dia datang dan memberiku petunjuk.

“Desi… kau sudah mengetahui jati dirimu, roh asalmu adalah seorang Dewi di alam Sukhavati Surga Barat Buddha Amitabha, yang berada di tingkat ke-27. Kau adalah Dewi keindahan di alam Sukhavati. Alam Sukhavati ada 28 tingkat, dan masing-masing tingkat ada Dewi Sukhavati yang mengurus keindahan alam tersebut, yang terdiri dari masing-masing warna, kau sendiri adalah Dewi Sukhavati kuning”.

“apakah seperti itu Guru…tapi bagaimana mungkin?”

“Desi, kau turun ke dunia karena ada kesalahan yang pernah kau lakukan, sehingga harus mengalami penderitaan hidup di dunia manusia. Di alam Dewa, kita sering bertemu dan bercengkrama. Oleh karena itu aku sudah menunggu waktunya kau terbuka, sehingga bisa membimbingmu untuk bisa kembali ketempat asal.”

“Guru…apa kesalahan yang pernah saya lakukan saat menjadi Dewi Sukhavati?”

“ini masih rahasia langit aku tidak bisa mengatakannya kepadamu, nanti kau akan mengetahuinya sendiri. Kau harus mulai mengumpulkan jasa pahalamu dan berbuat banyak kebajikan agar bisa kembali ke tempat asalmu, ikutilah setiap petunjuk yang diberikan oleh para Dewa”.

Begitulah, Dewi Seribu Tangan Seribu Mata adalah Guru sejatiku, yang selama ini selalu datang setiap hari membimbing, memberi nasehat, memberi petunjuk dan menjagaku. Sehingga aku bisa menjalani kerohanian dengan begitu cepat. Dan mulai menuntun diriku menuju jalan kebenaran. Melalui Guru sejatiku itu pula, misi dari langit diberikan kepadaku, yaitu “Menjalankan Kebenaran dan Menolong Orang.

Semoga saja, misi yang telah diturunkan kepadaku itu bisa aku jalani dengan setulus hati, bisa menjalani kehidupanku dengan baik dan membina diri dengan bersadhana, membaca mantra, berbuat kebajikan dan bermeditasi, itulah yang kulakukan saat ini. Walaupun baru aku jalani tapi entah mengapa aku sepertinya nyaman melakukannya.
 
Berkat di Malam Tahun Baru

Pada malam tahun baru 2010, aku diminta oleh Guru sejatiku untuk bermeditasi pukul 10 malam. Entah mengapa dia menyuruhku seperti itu, dan saat itu aku tidak tahu maksudnya. Tapi aku tetap menjalani petunjuk yang dia berikan.

Saat itu aku melihat para Dewa turun dari langit, mereka berkumpul di hadapanku dan memancarkan sinar hijau kepadaku secara bersamaan dan setelah itu mereka satu persatu menghampiri aku dan menopangkan tangannya di kepalaku seperti memberkati. Aku agak bingung melihat hal ini, mengapa mereka datang dan memberikan berkat, apa maksudnya? Tapi dari semua Dewa yang hadir, aku tidak melihat Guru sejatiku juga Guru-guru pembimbingku.

Setelah selesai memberkati mereka pergi, tinggal aku sendiri kebingungan dan tidak mengerti. Lalu Guru sejatiku member petunjuk bahwa para Dewa telah memberikan anugrah kepadaku, jadi disaat aku mengalami kesulitan dimanapun aku berada, para Dewa itu akan datang menolongku.
Ini hadiah tahun baru yang paling indah yang aku dapatkan, para Dewa begitu baik dan memperhatikan aku, tapi kenapa aku kan manusia biasa, yang tidak memiliki kelebihan apa-apa, mendapatkan berkah dari para Dewa seperti itu, apakah pantas kuterima. Apa maksud dari semua ini..??

Pada tanggal 7 bulan 1 saat aku hendak menghadap Mahadewi Yao Chi untuk menerima bimbingan setiap harinya, Guru sejatiku memanggil, disamping beliau ingin membantu menjawab beberapa pertanyaan orang yang diajukan kepadaku, dia juga mengatakan sesuatu yang tidak bisa kupercaya. Petunjuk yang diberikan membuat aku agak bingung dan takut sehingga membuat aku menangis. Guruku berkata:

“Desi… Aku beritahukan kepadamu, bahwa akan ada Bodhisattva yang turun ke dunia demi menjalankan ikrar dan misiNya menjadi Buddha demi menyelamatkan semua makhluk. Dan dari sekian banyak umat manusia, kau telah dipilih untuk menjalankan amanat dan akan menerima anugrah dariNya.”

Aku terkejut mendengar perkataan Guruku itu.

“Guru, ini pasti bukan yang sebenarnya, mana mungkin Bodhisattva berkenan memberikan anugrah kepadaku.”

“Desi, ini atas petunjuk Bodhisattva itu sendiri, Dia sudah memilih dirimu untuk menjalankan amanat ini, karena memang sudah saatnya bagi Dia untuk terlahir ke dunia.”

“Tapi aku ini bukan orang yang bersih dan tidak layak menerima anugrah itu, akupasti sedang berkhayal. Guru, aku tidak berani menerimanya.”

“Semua ini sudah ditakdirkan, karena itu persiapkanlah dirimu untuk kedatanganNya dan ikutilah setiap petunjuk yang aku berikan.”

Dengan hati gundah aku menghadap Mahadewi Yao Chi, tapi Beliau tidak langsung memberikan bimbingan seperti biasanya. Beliau malah membahas apa yang dikatakan Guru sejatiku itu. Mahadewi Yao Chi juga mengetahui hal ini dan katanya berkat yang diberikan para Dewa waktu itu, yang memberkatiku dengan sinar warna hijau dan menopangkan tangan mereka di kepalaku satu persatu adalah untuk hal ini. Semua itu agar aku layak menerima anugrah dari Bodhisattva tersebut. Oleh sebab itu, para Dewa akan menolong jika aku mengalami kesulitan dimanapun aku berada.

Aku sungguh tidak percaya hal ini, tapi Mahadewi Yao Chi malah mengajari aku mantra untuk mempersiapkan kedatangan Bodhisattva tersebut untuk aku baca setiap hari sampai waktunya tiba.

Perasaan hatiku begitu gundah sat ini, mengapa aku harus mengalami hal ini, benarkah yang kualami ini. Tapi jauh hari sebelum Guruku mengatakan hal itu, aku pernah mendapatkan penglihatan lebih dulu. Saat aku hendak beranjak tidur, aku tahu kalau aku belum tidur saat itu, tapi saat aku hendak memejamkan mata, aku melihat kejadian-kejadian menyedihkan dan menyenangkan yang pernah aku alami dalam kehidupanku sekarang ini, setiap kejadian demi kejadian begitu jelas di mataku.

Aku melihat seseorang yang kakinya sakit telah sembuh dan dia datang menemuiku, entah apa yang kami bicarakan. Hanya saja beberapa waktu kemudian dia datang ke tempatku bersama banyak orang lainnya, sepertinya dia sedang mengatur pekerjaan untuk membangun sesuatu. Setelah jadi baru terlihat kalau bangunan itu sebuah Vihara. Vihara itu sama persis dengan yang kulihat dalam meditasi saat aku mengetahui masa depanku. Aku juga melihat diriku dalam keadaan mengandung dan dari langit turun Bodhisattva masuk ke dalam perutku.

Penglihatan ini ku alami dalam keadaan sadar dan bukan sedang bermimpi, dengan adanya petunjuk Guruku mengenai turunnya Bodhisattva tersebut, begitu berhubungan dengan penglihatanku itu. Hal ini membuat aku serba salah, ini seperti khayalan tapi aku tidak pernah mengharapkannya.

Anugrah ini datang begitu saja tanpa bisa aku hindari, hanya perasaan takut dan merasa tidak pantas menerimanya. Bisa berkomunikasi dengan Kaisar Langit saja sudah membuat orang tidak percaya, aku tidak bisa membayangkan jika ada Bodhisattva yang berkenan memberi anugrah, pasti aku akan dikecam dan dianggap orang gila.

Tgl 7-1-2010 pkl 10 pagi, Guru sejatiku memanggil dan berkata:

“Desi, kau sudah mengerti dan memahami mengenai anugrah yang akan diberikan Bodhisattva kepadamu bukan. Kau harus mempersiapkan dirimu dengan baik. Malam ini bermeditasilah untuk menghadap para Buddha, karena mereka akan memberkatimu.”

“Aku mengerti, tapi saat ini saya sedang berhalangan.”

“tidak apa=apa, tetap bisa menghadap. Dan ingat, setelah berhalanganmu selesai kau tidak boleh menundanya lagi, biarkan apa adanya.”

“Baiklah Guru.”

Besoknya kira-kira pukul 11:15 WIB, tanpa sengaja telunjukku memegang bara hio yang aku pasang saat ingin sembahyang di altar Dewa bumi, aku takut ini pertanda buruk, jadi aku coba bertanya kepada Dewa Bumi.

Ternyata Dia ingin memberitahukan kepadaku, karena hari ini para Buddha akan datang memberkatiku, Dia dan para Dewa Bumi akan membantu membukakan jalan untukku. Mara dan setan penggoda pasti akan berusaha mengganggu dan menggagalkan. Karena jika aku sudah diberkati, mereka akan sulit untuk merajalela.

Setelah aku pulang dari salah satu vihara di Jakarta, aku bermeditasi sesuai petunjuk Guru sejatiku. Aku melihat para Dewa Bumi datang, mereka semua menyebar kesegala penjuru seperti membuka dan melapangkan jalan, baru setelah itu aku melihat kehadiran Buddha Sakyamuni, Buddha Amitabha, dan Buddha Bhaisajyaguru menghampiriku dan menopangkan tangan mereka di kepalaku dan banyak Buddha di belakangnya, seperti ikut memberkati dari kejauhan, setelah itu semua Buddha itu menghilang.

Hari ini juga Guru Sejatiku meminta agar aku pergi ke salah satu vihara di daerah Jakarta, tapi aku ragu apa hari ini ada puja bakti, karena aku tidak tahu jadwal pujabakti di vihara itu. Untuk meyakinkan hatiku aku mencoba menghubungi salah satu umat yang ada di vihara itu, darinya aku mengetahui kalau hari ini adalah hari perayaan ulang tahun vihara itu, jadi aku baru sadar kalau guruku meminta aku kesana agar bisa menghadiri acara ulang tahun vihara itu. Akhirnya aku, suamiku, anakku dan mertuaku pergi ke vihara itu, sesampai di sana aku sudah terlambat, acara pujabaktinya sudah selesai.

Saat itu sedang ada lomba membaca mantra, bagi umat yang hadir dan ingin ikut lomba boleh ikut mengangkat tangan. Aku melihat banyak yang maju untuk ikut, satu persatu umat maju untuk membacakan mantra Ta Pei Cou, mantra Kao Wang Kwan Se Im, dan disaat pembacaan mantra Sin Cing (Sutra Hato) entah dorongan dari mana mengisyaratkan aku untuk maju kedepan, aku berusaha menolaknya, tapi dorongan itu begitu kuat dan tanpa bisa kutahan, tanganku dengan sendirinya terangkat dan akhirnya aku dipanggil ke depan untuk ikut lomba.

Perasaanku bercampur aduk, tapi tubuh ini terasa begitu ringan saja maju kedepan, sepertinya kepercayaan diriku tumbuh begitu saja, dan tidak memperdulikan lagi semua yang hadir di situ, padahal saat itu ada mertuaku dan biasanya aku paling tidak bisa menampilkan diriku di depan banyak orang, dan terlebih lagi aku bukanlah umat di vihara itu.

Aku membaca mantra Sin Cing seperti biasa aku membacanya di rumah saat bersembahyang, sepertinya hanya aku sendiri yang berbeda melantunkan mentra itu dan anehnya malah aku menang lomba.

Aku merasa aneh sendiri, selama ini dari sejak remaja sampai aku dewasa aku sering ikut lomba-lomba menyanyi, tapi saat itu lomba menyanyi lagu-lagu duniawi.

Aku tidak pernah bisa menang menyanyikan lagu-lagu duniawi dan tidak ada jalan menuju dunia hiburan/penyanyi, walaupun teman-temanku dahulu pernah mengatakan bahwa suaraku bagus. Anehnya sekali ikut lomba baca mantra aku malah bisa menang. Aku pikir mungkin suaraku ini memang hanya diperuntukkan untuk kerohanian, mungkin para Dewa tidak mengizinkan aku tenggelam dala kesenangan duniawi, sehingga tidak pernah diberi kesempatan untuk berhasil dalam ajang keduniawian agar aku tidak lupa diri.
 
Kedatangan Bodhisattva

Kedatangan Bodhisattva
Tgl 18/1/2010

Hari ini aku ditegur oleh Guru sejatiku karena kemarin malam tidak konsentrasi dalam meditasi. Guru sejatiku memang menyuruhku meditasi, tapi saat itu aku sudah terlalu lelah pulang dari membersihkan rumah orang di daerah Bogor.
Saat aku tiba di rumah sudah hampir pukul 12 malam, aku mencoba untuk meditasi, tapi mataku sudah berat karena mengantuk dan tidak bisa konsentrasi dengan baik, hingga ketika melihat ada Bodhisattva datang dan berbicara padaku, aku tidak mendengarnya lagi dan tidak tahu lagi apa yang dibicarakan.

Karena itu, malam ini aku diminta untuk meditasi kembali, aku juga hampir terlupa petunjuknya karena pada saat itu sedang menerima tamu untuk konsultasi, kira2 pkl. 11 malam Guru sejatiku memanggil dan meminta agar aku meditasi karena Bodhisattva yang kemarin sudah menunggu.

Aku segera masuk ke ruang altar pribadiku untuk meditasi. Benar saja aku melihat kedatangan satu Bodhisattva, wujudnya sama dengan rupang yang ada di altar rumahku dengan warna kulit dan jubah yang sama. Dia tersenyum melihatku, kemudian kami berkomunikasi.

Bodhisattva bertanya kepadaku apakah aku sudah siap? Aku katakan iya dan Dia memberitahukan agar aku tidak perlu takut. Bodhisattva itu juga membicarakan satu rahasia padaku, katanya akan ada sesuatu di tahun 2012. Aku tidak bisa menuliskannya disini karena ini rahasia langit. Setelah mengatakan hal itu Bodhisattva itu pergi dan aku keluar dari meditasi.

Pagi harinya sekitar pkl 3 pagi, seperti biasa aku turun ke lantai dasar rumahku menuju ruang latar pribadi untuk meditasi. Saat itu hujan turun dengan derasnya dan tidak berhenti-henti tapi aku tetap konsentrasi dalam meditasi, tapi dalam meditasi ada sedikit kekhawatiran dalam hatiku, jika hujan terus seperti ini bisa-bisa daerahku banjir seperti tahun-tahun sebelumnya.

Meditasi pagi ini aku merasakan kekuatan roh besar menggerakkan tubuhku, begitu kuat sekali tidak seperti biasanya, walaupun aku seperti berada di alam yang lain dan gerakan tangan dan tubuhku begitu cepat dan kuat. Sekitar pelipis mata sampai hidung juga mulut dan dagu, seperti ada gerakan menekan yang kuat, ini pasti prana, tapi aku terus berkonsentrasi dan membiarkan proses pergerakan itu berhenti dengan sendirinya.

Setelah selesai meditasi, aku kembali ke lantai atas menuju kamar tidurku. Tapi saat di pertengahan tangga naik, Guru sejatiku memanggil dan berkata:

“Desi, aku minta kau mengikuti petunjukku karena hari ini adalah saatnya.”

“Apa maksud Guru?”

“Desi, kau sudah dipilih untuk menjalankan amanat ini, dan ini adalah saat dimana aura Bodhisattva menyatu dengan dirimu. Jadi lakukanlah.”

“Tapi diluar hujan deras sekali dan tidak berhenti-henti, aku takut akibatnya kurang baik.”

“Tidak apa-apa, jika kau melakukan petunjukku, maka hujan akan berhenti dengan sendirinya.”

“Apa bisa begitu Guru?”

“Cuaca dan keadaan alam belakangan ini tidak teratur dan selalu berubah-ubah dengan cepat, itu semua karena mara mencoba untuk menghalangi. Jadi, jangan ditunda lagi, ikutilah petunjuk yang kuberikan.”

“Baiklah Guru.”

Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, tapi aku kembali ke kamar tidurku saja dengan agak bingung. Aku berpikir, apakah petunjuk Guruku itu harus kujalani atau tidak, karena petunjuk kali ini agak sedikit aneh dan tidak masuk akal bagiku dan aku tidak berani melakukannya. Tapi hujan diluar tidak berhenti-henti, jika terus seperti ini, daerahku bisa kebanjiran.

Akhirnya aku kuatkan hatiku untuk melakukannya, petunjuk Guruku lebih penting dari sekedar rasa takut yang kualami. Dan benar saja, saat aku menjalankan petunjuk itu hujan langsung berhenti. Tapi air hujan sempat masuk ke teras rumahku, dan walaupun hujan benar-benar berhenti aku melihat langit masih mendung.

Aku memohon pada para Dewa untuk tidak menurunkan hujan lagi, karena jika tidak tempatku pasti tidak bisa diselamatkan dari banjir. Setelah selesai sembahyang, tiba-tiba angin bertiup kencang, awan hitam yang tadinya menyelimuti daerahku tersapu pergi, langit kembali cerah, matahari bersinar dengan sangat terik dan tidak turun hujan lagi saat itu.

Ini adalah keajaiban yang aku terima dari para Dewa, aku percaya, aku dan keluargaku selalu dalam perlindunganNya. Hari ini aku sadar, bahwa segala yang aku alami ini adalah garis hidup yang harus aku jalani, yang arahnya menuju ke tempat asalku, awalnya aku tidak mengerti maksud dari semua ini, dari beragama Kristen menjadi beragama Buddha, sama sekali tidak terpikirkan dan seiring berjalannya waktu aku mendekatkan diri dan dibimbing oleh para Dewa.

Aku telah bertemu dengan orang-orang yang belum pernah kukenal sebelumnya, mengetahui permasalahan dari kehidupan mereka. Ada yang karmanya berat, ada juga yang berjodoh kuat dengan Dewa. Dari yang tua sampai anak berumur 3 tahun memiliki aura keDewaan.

Aku baru mengetahuinya, bahwa setiap orang itu tidak sama, bukan hanya fisik dan sifat mereka, tapi roh yang ada dalam diri mereka ternyata tidak sama. Aku merasa dingin dan tidak nyaman jika berhadapan dengan orang yang tubuhnya ditempeli roh yang tidak baik, aku merasa biasa-biasa saja jika berhadapan dengan orang yang memiliki roh biasa yang terjebak pada keduniawian, aku merasa takjub dan tubuhku bereaksi kuat jika berhadapan dengan orang yang memiliki roh kedewaan atau pernah membina diri di kehidupan lalu dan rajin membaca mantra atau dilindungi oleh Dewa.

Ternyata aku diarahkan oleh para Dewa untuk membimbing orang lain, menuntun mereka untuk menjalani kehidupan dengan baik dan mendekatkan diri kepada para Dewa agar mereka bisa kembali ke tempat asal atau bisa naik ke tanah suci Sukhavati dan tidak mengalami tumimbal lahir kembali.

Aku telah diberikan misi dari langit dan mendapatkan tugas-tugas yang agak berat. Menjalankan kebenaran dan menolong orang adalah misiku. Perasaanku pasang surut menjalaninya, kata suamiku aku seperti air laut, kadang semangat menjalaninya kadang semangat hilang mengikuti perasaan hatiku yang tidak karuan.

Menjalankan misi ini begitu banyak rintangan dan cobaan, tapi sesungguhnya rintangan itu datangnya dari diriku sendiri, bukan dari mana-mana. Sendiri yang malas, lelah dan bosan, atau merasa terbeban dengan misi itu. Kadang suka merasa dipermainkan oleh para Dewa, karena perkataan dan petunjuk yang Mereka berikan penuh dengan teka-teki yang kadang sulit kuketahui maksud dan maknanya, tapi aku bersyukur ada suamiku, dia yang selalu memberikan pandangan baik kepadaku, sehingga aku sedikit demi sedikit mengetahui maksud para Dewa.

Seharusnya aku menjalani semua ini dengan keyakinan penuh dan percaya bahwa para Dewa tidak akan berbohong, karena jika seperti itu bagaimana mungkin ada keajaiban dan mukjizat yang terjadi di dunia ini jika para Dewa tidak mengatakan kebenaran. Dan tidak ada lagi manusia yang percaya pada kebesaran Tuhan.

Aku harus tetap menjalankan misi dan tugasku, tidak boleh memikirkan diriku sendiri, apapun yang terjadi padaku, semua kuserahkan kepada para Dewa. Apalah artinya tubuh ini, pada akhirnya akan kembali menyatu dengan tanah, jadi untuk apa kusayangi dan kutakutkan terjadi pada diriku.

Para Dewa melindungiku dan menjagaku. Tidak semua orang bisa seberuntung diriku, yang punya kekayaan lain yang tidak dimiliki orang awam. Tapi aku tidak boleh sombong, harus tetap rendah hati. Karena semua kelebihan yang diberikan para Dewa padaku adalah bukan untuk diriku sendiri melainkan untuk menolong orang lain juga.
 
Hari Para Dewa Naik ke Surga

Hari Para Dewa Naik ke Surga

Tgl 6/2/2010 Lunar 23/12
Hari ini tamu dari luar kota datang kerumahku salah satunya punya roh yang tidak biasa, tapi dia tidak percaya diri dan terombang ambing menjalani kehidupan dan jalan dharmanya, karena ada yang mengatakan kalau dia beraura yin dan diikuti oleh roh yang tidak baik, patung Dewa di altarnya dikatakan kotor dan harus dihancurkan.

Saat dia datang dan bertanya kepadaku mengenai hal itu aku mengatakan bahwa dia tidak yin, dan dia dibimbing oleh roh yang baik. Perkataanku itu membuat dia semakin bingung, sesungguhnya yang mana yang benar pikirnya. Tapi aku katakan kepadanya, kebenaran itu tidak ada dimana-mana, dan tidak perlu dicari kemana-mana.

Kebenaran itu ada dalam diri sendiri, jadi percayalah pada diri sendiri bahwa bimbingan yang diterima adalah benar. Untuk mengetahuinya adalah dengan cara melihat dan merasakan setiap bimbingan yang diterima mengarah ke baik atau ke arah yang jahat, seharusnya diri sendiri bisa mengetahuinya.

Semua tergantung pada keyakinan dan keteguhan hati, jika tidak ada semua itu akan sulit menjalani hidup apalagi menjalani dharma menolong manusia. Karena sejak dulu, para Dewa menjalani jalan Dharma mereka dengan keyakinan selama hidup di dunia.

Saat aku sedang makan dengan tamuku itu di restoran dekat rumahku, Guruku memanggil, dia menyuruhku untuk bermeditasi mala mini.

Setelah kembali ke rumah aku mandi dan meditasi, aku melihat para Dakini/Dewa Dewi khayangan sedang menari-nari dengan indahnya, setelah itu aku melihat Guru-Guruku, Dewa Kwan Kong, Mahaguru Tay Sang Lo Kun, Buddha Chikung, Buddha Sun Go Kong, Dewi Kwan Im, Mahadewi Yao Chi, Dewa Hian Tian Shang Tee dll turun satu persatu dan berbaris kesamping, dan terakhir aku melihat Guru sejatiku Dewi Seribu Tangan Seribu Mata datang dengan wujud yang lebih besar dan berhenti di atas para Guru yang lain. Aku mendengar mereka berbicara sama-sama:

“Desi, saat ini kami semua akan naik kelangit untuk memberikan laporan, untuk sementara bimbingan para Guru diliburkan dan kau tidak perlu menerima konsultasi sementara waktu, tapi jika ada hal yang mendesak kau boleh meminta petunjuk, setelah tanggal 5 bulan 1 lunar baru akan mendapat bimbingan, dan kembali seperti biasa. Tapi kau tetap harus menjalani meditasi dan membaca mantra, walaupun para Dewa naik, bukan berarti tidak melihat semua yang kau lakukan. Jalankanlah hidupmu dengan baik.” Lalu semua Guru-Guruku itu pergi.

Ternyata para Guru memperhatikan aku, padahal aku lupa kalau hari ini mereka akan naik ke langit, mereka semua datang menemuiku dan berpamitan denganku, perhatian mereka itu membuatku terharu, aku sempat menangis saat itu, beginikah rasanya ditinggal Guru, ada kehilangan didalam hati.

Selama para Dewa naik ke langit, aku merasakan tubuhku agak ringan, biasanya banyak Dewa mendampingiku kemanapun aku pergi. Tapi hari ini, aku merasakan kekosongan dalam hatiku. Biasanya aku merasakan keberadaan mereka didekatku, tapi beberapa hari ini aku seperti kembali seperti orang awam dan tidak ada keanehan pada diriku. Tapi walaupun begitu, Guruku kadang masih datang menemuiku jika ada sesuatu hal yang penting, jadi sama sekali tidak membiarkan aku dan meninggalkanku.

Pada hari dimana para Dewa naik, dalam perjalanan aku melihat ke angkasa, disitu aku melihat sebuah garis agak lebar dan panjang seperti sebuah jalan, aku berpikir apakah mungkin para Dewa lewat jalan itu karena hari ini langit kulihat berbeda sekali.

Setiap tahun para Dewa naik kelangit untuk melaporkan setiap kejadian yang ada di bumi, setiap perbuatan manusia baik atau jahat sepanjang tahun ditulis dan dilaporkan ke langit, karena itulah karma manusia selalu berjalan dan berputar, kadang manusia menuai karma baik kadang juga karma buruk, semua itu tergantung pada apa yang dilakukan manusia itu di kehidupan lalu dan kehidupannya saat ini.

Aku baru mengetahui, kalau sesungguhnya jika karma buruk yang telah tertanam tidak langsung terhapuskan jika kita berbuat baik dan membina diri. Tapi dengan membina diri dengan membaca mantra, meditasi dan berbuat kebajikan, akan mematangkan karma buruk kita sehingga karma buruk bisa terkikis dengan cepat.

Hal ini berbeda dengan manusia yang tidak membina diri, memang dia tidak langsung menerima karma buruknya, tapi tanpa dia sadari dia telah menumpuk karma buruk semakin banyak, sehingga disaat buahnya matang, dia tidak bisa menghindar dari karmanya yang berat itu dan tidak ada yang bisa menolong dia baik di kehidupan ini maupun di kehidupan yang akan datang.

Banyak manusia yang takut membina diri, karena menganggap bahwa membina diri itu sama artinya dengan menjadi biksu dan harus meninggalkan keduniawian, tidak boleh ini dan itu, hidup terikat dengan sila dan lain sebagainya. Padahal sesungguhnya tidak seberat yang dipikirkan manusia, justru dengan membina diri dan mendekatkan diri pada para Dewa, kita akan mendapatkan kebahagiaan yang abadi, terhindar dari segala kesulitan dan penderitaan, karena kita akan dilindungi oleh para Dewa.

Tidak harus menghindari diri dari dunia ini, semua yang ada di dunia ini masih bisa dinikmati, hanya saja tidak terikat dan melekat terhadap segala kesenangan duniawi, bisa berpikir lebih jernih dan bijaksana, bahwa semua yang ada di dunia ini adalah kosong. Kita datang dan lahir di dunia ini dengan kekosongan dan nantinya saat meninggalkan dunia ini juga dengan kekosongan pula, jadi apa yang harus dirisaukan dan apa yang harus diharapkan. Karena sesungguhnya betapa berat dan besarnya usaha kita mengumpulkan harta, menaikkan jabatan dan mengejar hal-hal duniawi itu, pada akhirnya kita tidak mendapatkan apapun didunia ini.
 
Gadis Yang Menjadi Tumbal

Pada suatu hari suamiku bermimpi, dia menceritakan mimpinya itu kepadaku. Dalam mimpi itu saat dia sedang berjalan-jalan dengan keluarga, dia dikagetkan oleh jatuhnya seorang gadis berseragam sekolah dari sebuah gedung bertingkat tepat didepannya, dia tidak tahu kenapa gadis itu bisa jatuh dari atas gedung itu, sampai dia bangun dari tidur masih mengingat mimpi itu.

Guru sejatiku memberi petunjuk kalau nanti akan ada anak gadis sekolahan yang meminta tolong, karena dia sedang mengalami kesulitan. Benar saja, esok harinya saat waktu menunjukkan pukul 4 pagi, ada anak gadis menghubungiku dia bernama Yanti, ini bukan nama sebenarnya.

Nada bicaranya terlihat panik dan tidak karuan, seperti sedang mengalami ketakutan. Katanya sudah beberapa tahun ini tidak bisa tidur, semakin hari dia merasa banyak hantu mengganggunya. Jika dia tidur lebih cepat, maka akan terbangun di tengah malam dan tidak bisa tidur lagi, karena dia melihat banyak hantu di kamarnya.

Dari nama dan tanggal lahirnya, aku mengetahui kalau dia sedang ditempeli oleh roh jahat, tapi roh jahat ini bukan berasal dari dirinya, dia telah menjadi tumbal roh-roh jahat itu. Awalnya aku tidak mengerti mengenai hal ini, tapi Guruku mengatakan kalau demi usaha lancar dan tidak kesulitan uang, orang tuanya pergi ke orang pintar dan tidak menyadari tempat yang mereka datangi itu tidak bersih.

Setiap kali mereka ke tempat itu selalu disuruh memakan sesuatu dari orang pintar itu dan membawa pulang sesuatu yang diberikannya. Usahanya memang lancar, tapi rumah yang mereka tempati tidak nyaman dan anaknya yang bernama Yanti ini terganggu dengan adanya roh-roh itu, sehingga dia tidak bisa berkonsentrasi di sekolah dan dijauhi teman-teman sekolahnya. Roh-roh itu menunggu sampai Yanti berusia 17 tahun baru membawanya.

Yanti dan orang tuanya datang ke rumahku untuk meminta petunjuk apa yang harus dilakukan agar bisa menjalani hidup dengan baik, selama ini orang tuanya susah menghadapi Yanti karena sudah tidak bisa diatur. Aku pergi kerumahnya dan membersihkan rumah itu dari roh-roh pengganggu, serta melakukan kias untuk Yanti.

Ini adalah pertama kalinya aku membersihkan rumah orang dari gangguan roh-roh jahat. Sampai-sampai setelah pulang dari rumahnya, tubuhku benar-benar lelah dan terasa berat, sepertinya aura roh-roh jahat itu mengikuti dan menempel padaku dan aku sampai bermimpi diganggu mereka, tapi entah kenapa dalam tidur itu aku seperti tidak pernah putus melafal mantra dalam hati, sehingga roh-roh itu tidak bisa mendekatiku.

Esok paginya aku merasa tidak enak lalu bermeditasi untuk mengetahui ada apa. Ternyata di hadapanku muncul banyak sekali makhluk-makhluk menyeramkan. Ada yang berwujud kelabang, kalajengking, jin dll. Mereka marah padaku karena telah mengganggu, mereka mengatakan kalau Yanti sudah menjadi jatah mereka dan menyuruhku agar tidak ikut campur. Mereka menyerangku bersama-sama, dengan cepat aku mengaktifkan mustika dari Guruku. Mereka terpental satu persatu tidak bisa mendekatiku dan hilang menjadi asap.

Setelah itu Yanti sudah bisa tidur di kamarnya saat malam hari dan mulai berangsur-angsur mendapatkan teman disekolahnya, lingkar matanya yang gelap saat pertama kali kami bertemu tidak terlihat lagi saat kami bertemu untuk kedua kalinya setelah berkurangnya gangguan roh-roh itu.

Kita harus bersyukur bisa dilahirkan sebagai manusia, karena ini adalah kesempatan kita untuk bisa membina diri menjadi lebih baik dengan mengikuti Buddha-Bodhisattva. Jangan mengotori diri kita dengan menjadi pengikut roh-roh kegelapan, karena itu akan membuat kita tersesat dan roh kita dikuasai oleh roh-roh kegelapan itu.

Jalan terang dan jalan gelap, sulit untuk dibedakan, jika kita tidak berhati-hati dalam menjalani kehidupan kita maka kita akan tersesat dan tidak tahu jalan untuk kembali. Janganlah hanya karena menginginkan sesuatu yang berlebihan dalam dunia ini, kita menjadi hamba kegelapan dan harus mengorbankan kebahagiaan dan keluarga kita.
 
Terbakarnya Rambutku dan Kehadiran Bodhidharma

Terbakarnya Rambutku dan Kehadiran Bodhidharma
Tgl 10/2/2010 / lunar 27/12

Saat pagi hari aku membersihkan altar Dewa Bumi, entah kenapa tiba-tiba rambutku yang panjang terbakar terkena pelita altarnya, apinya sampai merambat begitu cepat di rambutku membuat aku kaget setengah mati. Aku pikir ini karena kteledoranku, tapi aku mencoba mengingat hari apa ini, setelah kuhitung-hitung seharusnya Kong co Ho Tek Ceng Sin sudah turun kembali ke bumi, aku mencoba untuk berkomunikasi, ternyata benar ada jawaban padahal kemarin tidak ada. Dalam komunikasi kami:

“Dewa Bumi, apakah Kongco telah kembali, mohon petunjukmu?”

“Ya aku telah kembali, aku melihat apa yang terjadi padamu. Rambutmu terbakar?”

“Iya, Kongco mengetahuinya?”


“Tentu, apa yang kau pikirkan setelah mengalami hal itu?”

“Aku hanya berpikir untuk memotong rambutku ini.”

“Kau memang harus memotongnya, karena jika rambutmu panjang akan membuat kau kesulitan saat sedang menjalankan tugas, kau akan sibuk dengan rambutmu itu, jadi potonglah. Kedepannya kau akan lebih sibuk lagi dari sebelumnya. Janganlah melekat pada tubuhmu yang sekarang karena itu bukan dirimu yang sebenarnya.”

“Baiklah, aku akan memotong rambutku ini.”

Mendengar perkataan Dewa Bumi aku mengerti, memang untuk apa aku menyayangi tubuh ini, ternyata aku masih melekat pada tubuh palsu, dan belum rela melepaskan semuanya.

Malam harinya aku diminta Guru sejatiku untuk meditasi, katanya ingin memperlihatkan sesuatu padaku. Saat meditasi, anehnya aku malah melihat Buddha Sun Go Kong sedang beraksi, lalu berganti dengan Guru sejatiku dengan tangannya yang bergerak-gerak, kemudian berganti lagi Dewi Kwan Im berdiri di atas naga (tidak biasanya). Lalu aku melihat sekelompok orang berkepala botak dan mengenakan celana saja (seperti shaolin) sedang membentuk formasi, dan mereka satu persatu mempertunjukkan gerakan masing-masing yang berbeda-beda. Setelah bayangan itu menghilang berganti dengan kehadiran seperti Tatmo Cosu/Bodhidharma. Aneh sekali, aku kira akan berganti lagi dengan penglihatan lain, tapi terbuka komunikasi antara aku dengan Bodhidharma.

“Desi, aku adalah Tatmo Cosu.”


“Mahaguru Tatmo, mengapa engkau datang menemuiku?”

“ Aku tahu kalau pemahamanmu tentang ajaran Buddha tidak begitu kuat sedangkan kau harus menjalankan dharma, karena itu aku datang untuk membantumu. Aku akan mengajarimu ajaran Buddha, filsafat dan meditasi. Apakah kau bersedia dibimbing olehku?”

“Saya merasa bersyukur bisa mendapatkan anugrah ini, tapi saya ini orang bodoh, apakah saya layak mendapatkan bimbingan dari Mahaguru Tatmo?”

“Kau jangan merendahkan dirimu, jika Bodhisattva saja berkenan memilihmu untuk menerima anugrahNya, bagaimana mungkin kau tidak layak menerima bimbinganku.”

“Baiklah, saya siap.”

Mahaguru Tatmo memberikan aturan-aturan sebelum dibimbing dan selama menjalani bimbingannya. Dalam ajaran Mahaguru Tatmo, dalam meditasi aku tidak diperkenankan untuk duduk beralas bantal/matras, tapi harus di atas papan kayu. Katanya kalau sudah terbiasa meditasi di atas alas yang empuk, maka jika saat bermeditasi di alam terbuka dan beralaskan keras akan sulit berkonsentrasi, tapi jika terbiasa duduk meditasi di alas keras, maka meditasi di mana saja, baik beralas keras atau empuk tetap bisa berkonsentrasi. Mahaguru Tatmo memberikan bimbingan padaku setiap penanggalan ganjil lunar.

Akhirnya sampai sekarang ini aku selalu menghadap Mahaguru Tatmo untuk belajar, setiap dia membacakan filsafat yang harus kutulis, kepalaku berputar-putar mengikuti kata-kata filsafatnya, seperti pelajar tiongkok zaman dulu yang membaca filsafat sambil memutar kepala. Setiap waktu bimbingannya, aku selalu menyalakan dupa khusus untuk mengundang kehadirannya dan dia selalu datang dengan menggunakan jubah putih, menggunakan tongkat dan dan rambutnya agak panjang di atas pundak, lalu duduk posisi meditasi di hadapanku, saat itu cakra dahiku tertekan kuat. Tekanan itu berangsur hilang ketika dia selesai membimbing dan pergi dari hadapanku.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.