Senin, 2 Juli 2012
Badai Eropa Belum Berlalu
KEKALAHAN tim Jerman atas Italia 1-2 pada semifinal Piala Eropa, Jumat dinihari pekan lalu, memang tak ada hubungannya dengan sikap menyerah kanselir Angela Merkel. Merkel dalam pertemuan KTT Uni Eropa di Brussels, Belgia, akhirnya ikut mendukung pengucuran danang talangan zona euro langsung kepada bunk-bunk yang sedang dilanda kesulitan.
Keputusan Merkel diambil beberapa jam setelah kesebelasan Jerman dipaksa menyerah oleh Italia. Entah itu ada hubungannya atau tidak. Yang pasti di pertemuan itu, Merkel menyerah terhadap tekanan Italia yang didukung Spanyol. Merkel mulanya menolak permintaan dua negara itu untuk mengucurkan bantuan yang lebih besar, namun kemudian menyerah dan mengabulkan permintaan mereka.
Selama ini Merkel adalah pemimpin Jerman yang paling keras menentang pembiayaan bersama utang zona euro. Jerman takut, yield obligasi mereka yang rendah akan naik tajam jika ikut membiayai Yunani, Italia, Spanyol dan negara-negara lain yang mengalami kesulitan keuangan.
Memang, bagi negara dengan peringkat utang AAA seperti Jerman, obligasi bersama akan memaksa kenaikan tingkat suku bunga mereka sendiri. Dampaknya akan rawan terhadap defisit negaraitu.Entahlah, kenapa tiba-tiba Merkel berubah 180 derajat.
Asal tahu saja, saat ini Spanyol sedang digelayuti utang yang tidak kecil. Menurut bunk sentral Spanyol, bunk of Spain, saat ini utang nasional negara itu sudah mencapai 734,96 miliar euro atau Rp 8.827 triliun. Maka tak begitu mengherankan jika pekan lalu Moody’s Investor Service memotong rating kredit Spanyol dari A3 menjadi Baa3, satu level di atas obligasi-obligasi dengan kategori junk bond. Dengan utang segede ini, menurut Moody’s, laju pertumbuhan ekonomi bisa melemah dan aksesnya ke pasar modal menjadi sangat terbatas.
Peringkat ini masih akan direview setelah Spanyol mengumumkan pengajuan bailout senilai 100 miliar euro atau US$ 125 miliar dari European Union rescue fund untuk rekapitalisasi perbankan.
Dalam waktu yang hampir bersamaan, Moody's juga memangkas 28 bunk Spanyol. Dua di antaranya yakni Banco Santander SA dan Banco Bilbao Argentaria SA. Peringkat surat utang jangka panjang dan deposito dua bunk tersebut dipangkas sebanyak empat level.
Pada 17 Mei lalu, Moody's juga sudah menurunkan peringkat 16 bunk Spanyol. Penurunan peringkat bunk tersebut menandakan ketidakberdayaan pemerintah dalam menyokong perbankan.
Lebih gila lagi Italia. Utang negeri pizza ini mencapai 1,94 triliun euro atau US$ 2,47 triliun, jauh jika dibandingkan dengan utang Indonesia sebesar US$ 204,15 miliar. bunk sentral Italia mengatakan, jumlahutang ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah.
Krisis keuangan di Uni Eropa juga memakan korban baru, yakni Siprus. Pemerintah Siprus mengajukan bantuan melalui mekanisme European Financial Stability Facility (EFSF). Ini adalah bentuk bantuan sementara yang diminta, sebelum Siprus mengajukan pertolongan lewat European Stability Mechanism (ESM).
Siprus menghitung, kebutuhan danang sementara untuk memulihkan perekonomian negeri itu mencapai 10 miliar euro. Nilai itu setara dengan US$ 12,5 miliar. "Jumlah pastinya belum diputuskan," ujar seorang pejabat kepada Reuters.
Jika mulus dan berhasil dicairkan, bantuan ini akan digunakan untuk mengobati sektor keuangan yang terlibas krisis Yunani.
Terguncang
Ya, krisis keuangan di Uni Eropa kini menjadi sorotan dunia. Celakanya, virus krisis keuangan itu telah menyebar ke berbagai negara. Negara-negara yang selama ini menjadikan Uni Eropa sebagai pasar utama, kena getahnya. Sebut saja, misalnya China, India, AS, Jepang, dan Korea Selatan.
Ekspor China ke Benua Biru itu turun dari 26,4% pada kuartal I 2011 menjadi 7,6% pada kuartal I 2012. Begitu juga ekspor Korea Selatan yang anjlok dari 29,6% pada kuartal I 2011 menjadi 3% pada kuartal I 2012. Jepang juga tak luput dari guncangan. ekspornya turun dari 12,9% pada kuartal I 2011, menjadi 1,8% pada periode yang sama tahun ini.
Pertumbuhan ekonomi China juga melambat. Pada kuartal I-2012 hanya tumbuh 8,1% dari semula 9,5% di kuartal I-2011. Aliran investasi asing ke negara tersebut juga menurun, yaitu hanya US$ 29,48 miliar pada kuartal I-2012 dari semula US$ 116 miliar pada kuartal I-2011.
Pelambatan juga terjadi di India yang pertumbuhan ekonominya turun dari semula 7,7% menjadi 6% dan Korea Selatan hanya tumbuh 2,8% dari sebelumnya 3,3%.
Keadaan ini membuat China segera memangkas suku bunga acuannya. Inilah untuk pertama kali sejak 2008 China melakukan revisi kebijakan moneternya. bunk Rakyat China (People’s bunk of China) resminya menyatakan akan menurunkan suku bunga deposito berjangka 1 tahun menjadi 3,25% dari 3,5%. Sementara itu, suku bunga kredit berjangka 1 tahun akan diturunkan menjadi 6,31% dari 6,56%.
Kini, bunk-bunk dapat menawarkan diskon 20% terhadap suku bunga pinjaman acuan itu, lebih tinggi dari sebelumnya yang hanya 10%. Di samping itu, China juga menunda penerapan aturan modal perbankannya yang lebih ketat hingga awal tahun depan. Ini sebagai cara menggenjot pertumbuhan kredit karena pemerintah China ingin membendung perlambatan pertumbuhan perekonomiannya.
Yang lebih menyedihkan adalah India. Negeri Taj Mahal ini diramal menjadi negara pertama di antara anggota BRIC yang kehilangan predikat bergengsi investment grade. Penerawangan ini dilakukan agen pemeringkat Standard & Poor's (S&P). Penilaian terburuk itu, misalnya, lambatnya pertumbuhan ekonomi dan iklim politik yang tidak kondusif.
Tak hanya S&P yang memberi penilaian negatif. Lembaga pemeringkat, Fitch Ratings merevisi outlook peringkat utang India dari stabil menjadi negatif. Lembaga pemeringkat juga menegaskan, peringkat utang jangka panjang dalam bentuk mata uang asing maupun lokal di level BBB-. Sedangkan peringkat utang jangka pendek dalam mata uang asing di F3. Fitch menjelaskan, revisi ini mencerminkan tingkat risiko investasi secara jangka panjang di India memburuk.
BRIC yang terdiri dari negara ekonomi berkembang Brasil, Rusia, India dan China dinilai tak cukup tangguh menahan dampak krisis ekonomi Eropa.
Berbagai Masalah
Tentu saja, para pemimpin Uni Eropa menyadari, krisis ini bila tak segera diatasi akan memakan lebih banyak korban. "Saya di sini untuk menemukan solusi bagi negara-negara yang menghadapi tekanan pasar," ujar Presiden Prancis Francois Hollande, setelah pertemuan KTT Uni Eropa.
Para pemimpin Uni Eopa sepakat menyiapkan danang talangan sebesar 500 miliar euro atau sekitar Rp 5.950 triliun. Sektor pertama yang akan diselamatkan adalah perbankan yang terbelit utang segunung.
Kabar ini langsung disambut positif oleh pasar. Pada penutupan Jumat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 68,002 poin atau sekitar 1,74% ke level 3.955,577. Investor asing yang belakangan keluar Bursa Efek Indonesia, pun masuk kembali. Hari itu mereka melakukan pembelian bersih senilai Rp 604,252 miliar di seluruh pasar.
Kenaikan IHSG searah dengan menghijaunya bursa regional Asia. Indeks Nikkei 225 naik 1,50%, Indeks Komposit Shanghai menguat 1,35%. Indeks Hang Seng melonjak 2,19% dan Indeks Straits Times bertambah 1,38%.
Namun, analis panen Securities Purwoko Sartono menilai, semua yang saat ini berlangsung di pasar hanya euphoria.Purwoko boleh jadi benar. Soalnya, strategi pengucuran uang sebesar 500 miliar euro untuk negara-negara zona euro yang dibelit utang, belum jelas cara dan syarat-syaratnya. Inilah yang dilihat banyak kalangan akan menjadi masalah ke depan. Mereka memberi contoh kasus Yunani yang tak pernah selesai.
Masalah lain yang bakal muncul adalah penunjukan Brussels sebagai pemegang kendali atas keuangan negara-negara zona euro. Padahal, kekuatan ekonomi terbesar adalah Jerman. “Masyarakat sebenarnya terlalu khawatir bahwa Brussels memiliki wewenang yang terlalu besar,” kata Perdana Menteri Inggris David Cameron.
Cameron seperti memberi sinyal bahwa badai Eropa belum berlalu dan masih harus diwaspadai. Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati mengatakan, pertumbuhan ekonomi negara-negara PIIGS (Portugal, Irlandia, Italia, Yunani, dan Spanyol) masih minus di bawah 0%. Selain itu, tingkat pengangguran di negara-negara tersebut juga masih tinggi, yaitu rata-rata di atas 15%.
Menurut Enny, krisis keuangan negara-negara PIIGS sudah sangat dalam. “Penganggurannya sangat tinggi, rasio utang masih tinggi sekali. Memang ada harapan mulai membaik, tapi ini baru di sisi politik," ujarnya.
Jadi, memang,
badai Eropa belum berlalu. Dan, itu masih panjang.