• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

IF Bali

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. goesdun
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai
Iringan Semar Pegulingan dalam Lomba Kerajinan

DIIRINGI tetabuhan gamelan semar pegulingan oleh Sekaa Gong Banjar Petak Gianyar, membuat suasana marak lomba kerajinan di Wantilan, Jumat (27/6) kemarin. Gending-gending tetabuhan mengalun nyaring, menambah konsentrasi para peserta lomba dari seluruh kabupaten/kota tersebut. Para juri pun mendekat menilai hasil kerajinan mereka. Demikian juga sejumlah penonton tampak sesekali memasuki arena lomba.

Dalam kegiatan kemarin ada dua materi yang dilombakan yakni membuat cenderamata plakat ukiran kayu (lambang/simbol PKB) dan membuat kerajinan ukir kayu dinding/relief. Kriteria lomba meliputi ide kreatif, estetika dan finishing. Dalam lomba itu ditentukan tiga juara -- I, II, III dan IV terbaik. (08)
 
'Skate Run' Hadir di Bali

Arena bermain skate run hadir di Bali bertempat di Mal Bali Galeria, depan ATM Centre eks Amphi Theatre, Kuta, Badung. Keberadaan skate run yang mengdopsi teknologi canggih dari Swiss, merupakan yang pertama di Asia.

Marketing Manager PT Sarana Cita Damai, Patty, Jumat (27/6) kemarin, mengemukakan di Eropa permainan skate run sudah memasyarakat dan biasa dilakukan di gundukan es. Akan tetapi penghobinya di Bali bisa bermain di atas landasan parafin (mirip lilin) dengan ketebalan 5 cm . 'Di bawah sepatu terdapat pisau berbahan stainless steel yang bergesekan langsung dengan parafin,' ujar Patty.

Ia menjamin skate run sangat cocok bagi segala usia karena pelakunya bisa leluasa bermain karena aman. Pengguna skate run cukup membayar Rp 25.000/jam untuk menyewa sepatu berikut perlengkapan seperti helm dan pelindung bodi. 'Bagi yang biasa bermain sepatu roda pasti langsung bisa meluncur,' ucapnya.

Sementara bagi yang belum mampu menggunakan, pihaknya menyiapkan instruktur yang siap mengajari dan memandu selama bermain. 'Kami juga menyiapkan instruktur asing dari Austria, Mr. Jimmy,' ucap Patty.

Ia optimis arena bermain skate run bakal diserbu pengunjung utamanya saat liburan ini. Dipilihnya Bali yang pertama di Asia karena merupakan pasar potensial sekaligus memperkenalkan bahwa skate run sudah ada di Indonesia.

'Kami juga membidik wisman, apalagi Pulau Dewata merupakan daerah tujuan wisata internasional,' ungkapnya. Di arena itu akan diadakan permainan hoki, pertunjukan kabaret, sulap, dan badut, pada 5 Juli nanti mulai pukul 12.00.

Menurutnya, ke depan penghobi skate run akan makin piawai bermain hoki atau berdansa sebagaimana biasa dilakukan di sintetis es. Untuk itu, ia ingin kelak Bali memiliki klub hoki.

Patty menambahkan, skate run ramah lingkungan karena landasan parafin yang mengelupas dikumpulkan dan didaur ulang memakai mesin. Arena bermain skate run akan merambah Palembang, Jakarta, dan Bandung. (022/*)
source: BP
 
Deklarasi Bali Hasil dari Konferensi Pengelolaan Limbah

Nusa Dua (ANTARA News) - Konferensi antarbangsa untuk pengelolaan limbah (COP 9) Konvensi Basel di Nusa Dua, Bali, sejak 23 Juni 2008 mengeluarkan Deklarasi Bali pada Jumat.

Deklarasi tersebut tidak memuat masalah penting, yang diperdebatkan, yakni aturan ekspor-impor limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) atau BAN Amendment.

Namun, Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar selaku ketua COP 9 Konvensi Basel mengatakan telah menemukan langkah maju dalam BAN Amendment.

Setelah melalui lobi, 40 negara penting akhirnya meyetujui pembentukan kelompok kerja untuk membahas mengenai BAN Amendment itu. Indonesia dan Swiss menjadi dua negara pelopor kelompok kerja tersebut.

"Setelah 15 tahun perdebatan panjang, BAN Amendment tidak maju-maju, akhirnya dari Bali, ditemukan langkah maju. Dengan kelompok kerja itu, hal praktis dalam BAN Amendment akan mulai dibahas," katanya.

Walau hasil konferensi itu masih kecil, kata Rahmat Witoelar, ia menyatakan puas.

"Saya sangat puas dengan hasil konferensi ini. Deklarasi Bali menegaskan objektifitas konvensi dan peran pentingnya bagi negara, seperti, Indonesia dalam melindungi kesehatan dan lingkungan dari pencemaran limbah B3," katanya.

Sekretaris Pelaksana Konvensi Basel, Katharina Kummer Peiry, mengatakan Deklarasi Bali merupakan jalan menuju pewujudan BAN Amendment.

"Hasil konferensi di Bali ini melebihi harapan saya. Lebih lagi, BAN Amendment, yang lama mandek, kini mulai bergerak," katanya.

Dari tiga agenda penting, yang dibahas, hanya pengelolaan limbah barang elektronika mencapai kemajuan, sementara dua agenda lain, aturan ekspor-impor limbah bahan berbahaya dan beracun dan pengelolaan limbah perkapalan dipastikan tertunda hingga konferensi berikut dua tahun mendatang.

Agenda menyangkut pengelolaan limbah perkapalan tertunda. Sebelumnya, konferensi di Bali itu diharapkan melahirkan kesepakatan baru, yang secara hukum mengikat dan menjelaskan persyaratan hukum untuk membongkar kapal tidak terpakai. Kini, aturan standardisasi hal teknis masih menunggu pengawasan dan standardisasi dari Organisasi Maritim Internasional (IMO).

Deklarasi Bali antara lain memuat penegasan anggota Konvensi Basel pada prinsip dan tujuan konvesi itu, yakni melindungi kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Deklarasi itu juga mengundang Majelis Kesehatan Dunia Badan Kesehatan Dunia untuk mempertimbangkan jalan meningkatkan kesehatan melalui pengelolaan limbah, yang aman dan ramah lingkungan.

Konferensi itu diikuti sedikit-dikitnya 1.000 perutusan dari 170 negara anggota dan bertema melindungi kesehatan manusia dan lingkungan hidup dari dampak buruk akibat pengelolaan limbah berbahaya dan beracun, serta perpindahan lintas batas atau negara dari limbah tersebut.(*)
 
Gong Kebyar Wanita Tak sekadar Numpang Lewat

PENIKMAT seni di Bali kembali mendapat kesempatan menyaksikan kepiawaian kaum ibu dalam menabuh gamelan. Mulai Jumat (27/6) hingga Rabu (2/7) mendatang, seniman-seniman wanita dari sembilan kabupaten/kota di Bali akan tampil pada Parade Gong Kebyar Wanita di Panggung Terbuka Ardha Candra secara bergantian. Kehadiran mereka di pentas PKB tidak sekadar numpang lewat, tetapi cukup mampu memberikan warna semarak bagi tumbuh-kembangnya seni budaya Bali.

Memang, tidak ada dalih pembenar untuk memarginalkan kiprah kaum wanita di jagat seni pertunjukan Bali. Penampilan Sekaa Gong Wanita (SGW) Semara Ratih PKK Banjar Sanggulan, Desa Banjar Anyar, Kediri, Tabanan dan SGW Gita Bhuwana Banjar Bualu, Benoa, Badung yang membuka PGKW PKB ke-30 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Jumat (27/6) malam, mampu memberikan bukti bahwa mereka memang sangat layak untuk tampil di panggung prestisius Ardha Candra.

Serupa dengan rekan prianya, sekaa gong kebyar yang dimotori kaum ibu itu juga sukses menyedot penonton dalam jumlah besar. Atraksi seni yang memukau juga ditampilkan SGW Githa Suara Patni Desa Adat Kemoning, Klungkung dan SGW Istri Candra Swari Banjar Serongga Kaja, Gianyar yang memperoleh kesempatan unjuk kepiawaian, Sabtu (28/6) malam.

Penabuh-penabuh wanita duta seni dari empat kabupaten itu tampil penuh pesona lewat tabuh kreasi pepanggulan/lelambatan dan tiga jenis tari lepas meliputi tari penyambutan, tari Kebyar Duduk dan tari kreasi baru seperti tari Cendrawasih dan Cilinaya. Dengan performa yang makin berkualitas dari tahun ke tahun, mungkin sudah saatnya panitia PKB melombakan materi gong kebyar wanita ini atau kehadiran kaum ibu itu di pentas PKB tidak sebatas berparade.

Sayang, kegairahan kaum ibu di pentas gong kebyar tidak diikuti rekan-rekannya yang menekuni seni pedalangan. Entah apa pertimbangannya, panitia PKB justru mencoret "Parade Wayang Kulit Dalang Wanita" dari agenda PKB ke-30. Padahal, atraksi seni dalang-dalang wanita itu pada PKB ke-29 lalu sempat meletupkan harapan besar akan bermunculan barisan panjang dalang-dalang wanita yang ikut menyemarakkan jagat seni pertunjukan Bali. Tetapi ketika ruang ekspresi itu ditutup, dikhawatirkan kegairahan kaum wanita menekuni seni pedalangan yang mulai bangkit akan kembali melemah.

Untuk PKB tahun depan, ada baiknya panitia PKB meningkatkan materi-materi kegiatan yang murni didukung seniman-seniman wanita seperti halnya Parade Gong Kebyar Wanita. Dengan begitu, kehadiran wanita di arena PKB tak lagi sebatas "pemanis" tetapi benar-benar tampil sebagai motor penggerak kesenian yang utama. (ian)
source: BP
 
Motif Bali Dipatenkan Orang Asing

Perajin Emas/Perak Bali Kebingungan

Rasa takut mulai menghinggapi para perajin perak dan emas di Bali. Hal ini menyusul ribuan motif tradisional Bali telah didaftarkan oleh perusahaan asing pada Dirjen HaKI Dep. Hukum dan HAM Jakarta. Mereka takut mengembangkan kreasinya atas desain yang sudah dipakai perajin di Bali secara turun-temurun, karena khawatir akan melanggar hak cipta yang berkonsekuensi pelanggaran hukum.

Ketua Suarti Desain Center Drs. Nyoman Lodra, M.Si., Sabtu (28/6), menyatakan motif Bali atau desain tradisional tersebut sesungguhnya sudah ada dan dipakai oleh perajin Bali secara turun-temurun. Bahkan banyak dari desain tersebut tidak diketahui siapa penciptanya. Sehingga desain tersebut telah menjadi milik masyarakat Bali. 'Kami bisa saja sebenarnya mendaftarkan desain tradisional tersebut. Tapi persoalannya kami malu karena bukan kami yang menciptakan,' kata pemilik N. Lodra Art Printings itu.

Dosen sebuah perguruan tinggi di Surabaya ini kemudian memberikan contoh keberadaan patra punggel. Patra tersebut asli warisan leluhur masyarakat Bali, namun saat ini sedang didaftarkan hak patennya oleh orang asing. Dikatakan, perajin Bali dalam berkreasi selalu berpedoman pada warisan leluhur yang selalu bersentuhan dengan budaya Bali. Jadi kesimpulannya, sangatlah tidak masuk akal kalau patra punggel atau patra-patra lainnya kemudian didaftarkan oleh orang asing sebagai hak ciptanya.

Kegelisahan yang dikatakan Lodra tampak nyata dari kondisi para perajin tradisional di kawasan Celuk dan sekitarnya. Bila sepuluh tahun yang lalu mereka dengan bangganya memperlihatkan mekanisme kerja kepada setiap tamu yang mampir di tempat tinggalnya, kini kondisinya sudah terbalik. Banyak perajin yang memilih sembunyi-sembunyi bekerja, karena takut hasil karyanya dikatakan menggunakan desain orang lain. Malah saking takutnya, mereka banyak yang gulung tikar. Akibat yang paling nyata, banyak art shop beralih fungsi untuk kepentingan lain.

Kekhawatiran serupa juga dilontarkan Desak Nyoman Suarti, pemilik PT Suarti Collection. Sebagai pionir impor kerajinan perak ke Amerika Serikat, pihaknya kini mengaku takut jika suatu saat semua produk kerajinan perajin Bali ditolak di Amerika Serikat. Soalnya, jika sebuah desain sudah dipatenkan maka siapa pun tidak boleh menggunakannya lagi. Tidak terkecuali desain tradisional, yang sementara ini menjadi kebanggaan masyarakat Bali. Akibatnya produksi yang telanjur sudah diimpor harus dikembalikan pada pemiliknya. 'Mau dikemanakan nasib perajin-perajin Bali. Produksinya tidak akan mungkin lagi masuk pasar internasional, mengingat di luar negeri hukumnya begitu ketat,' kata Suarti, yang sangat khawatir kalau pada kesempatan berikutnya banyak perajin di Bali akan sama nasibnya dengan Ketut Deny Aryasa (didakwa telah melakukan pelanggaran hak cipta).

Kegelisahan juga diperlihatkan Ketut Deny Aryasa. Namun pemilik PT Bali Jewelery ini, menyadari sepenuhnya bahwa perajin di Bali dan pengusaha eksportir barang kerajinan Bali sering lengah menyangkut perlindungan hukum, khususnya berkaitan dengan HaKI. Pada kondisi ini terjadi perbedaan pandang dan pola pikir yang sangat jauh antara orang Bali dengan asing. Orang Bali seolah-olah memiliki kebanggaan apabila karyanya ditiru oleh orang lain dan dipakai banyak orang tanpa mempedulikan bahwa ada nilai lain yang melekat dalam tiap karya tersebut.

Tidak demikian halnya dengan orang asing, mereka beranggapan tiap desain haruslah cepat-cepat didaftarkan, dengan pertimbangan sebuah desain merupakan harta kekayaan yang tidak ternilai harganya di kemudian hari.


Sepi Aktivitas
Sementara dari penelusuran yang dilakukan sekitar Celuk dan tempat-tempat kerajinan lainnya, terjadi pemandangan yang sangat menyedihkan. Sebagai akibat ketakutan bersentuhan dengan hukum, para perajin memilih tidak berproduksi lagi. Mereka tampak membiarkan begitu saja mesin-mesin yang sebelumnya telah banyak menghasilkan devisa bagi negara. Kalau pun ada yang masih berkreasi dan berproduksi, mereka sengaja memilih tempat yang sepi jauh dari pantauan orang lain.

Seorang perajin di Singapadu yang minta namanya dirahasiakan kemudian menunjukkan sejumlah art shop yang terpaksa gulung tikar, sebagai akibat banyaknya desain tradisional Bali telah dipatenkan orang asing. Dikatakannnya, banyak pemilik art shop menutup usahanya, karena takut berurusan dengan hukum. 'Entah berapa banyak perajin di Bali yang nganggur,' katanya.

Ditanya harapannya, mereka dengan tegas minta pemerintah juga memperhatikan nasib perajin kecil. Pemerintah mesti secara rutin mensosialisasikan betapa pentingnya pendaftaran paten sebuah desain. Mereka sangat tidak mengharap orang asing dengan begitu mudahnya memonopoli motif tradisional Bali. (015)
source: BP
 
@Goesdun,
Wah ko jadi sampe seperti itu ya bro...
Jadi inget Malaysia nih...:D
 
@Goesdun,
Wah ko jadi sampe seperti itu ya bro...
Jadi inget Malaysia nih...:D

sebenarnya setiap daerah di Indonesia sudah punya Branding, temasuk bali dengan Branding Logi :

logobrand2.gif

Setiap segala-sesuatu mestinya sudah dipatenkan atau dilist pda Branding Bali, yang pada akhirnya semua itu menjadi Branding Indonesia.

Kalau karya seni memang sulit sebagai suatu hak cipta, sebab berbeda setikit/ satu goresan saja misalnya sudah memiliki nilai berbeda.

Banyak juga selain karya seni yang semestinya tidak boleh tipatenkan oleh perorangan seperti ramuan obat tradisional yang sudah tercatat dalam lontar-lontar yang secara turun-temurun. Tapi pada akhirnya banyak juga yang dipatenkan pihak luar negeri.

Memang banyak karya-karya seni daerah kita dijiplak dan diproduksi masal oleh pihak luar serta menjadi haknya.

===
Ribuan Desain Tradisional Bali Didaftarkan Orang Asing

Banyaknya desain tradisional Bali yang didaftarkan orang asing pada Dirjen HaKI Departemen Hukum dan HAM serta di luar negeri, dipastikan secara perlahan-perlahan akan mengancam kelangsungan perajin perak dan emas di Bali. Bahkan, dampaknya akan menyebabkan perekonomian Bali makin terpuruk.

Hal itu dikemukakan anggota DPR-RI Gde Sumarjaya Linggih di hadapan para asosiasi desainer, pelukis dan organisasi lainnya, Sabtu (5/7). 'Bila kita tidak cepat bersikap, dipastikan bom waktu tersebut akan meledak. Perekonomian Bali jadi hancur, karena semua produk perajin Bali ditolak di luar negeri,' kata Sumarjaya yang kerap disapa Demer ini.

Ia mengusulkan agar para perajin Bali segera mengambil langkah nyata, sebelum desain Bali kembali didaftar pada Dirjen HaKI serta di luar negeri. Salah satunya membentuk wadah serta menelusuri desain apa saja yang telah didaftarkan. 'Segera kumpulkan desain yang secara tanpa hak telah didaftarkan orang asing tersebut. Biarlah pemerintah serta kami di DPR yang menuntaskannya,' katanya.

Sikap semau gue pihak asing yang mendaftarkan desain tradisional Bali itu, menurut Demer, tidak lepas dari ketidakpedulian para perajin itu sendiri. Perajin Bali sudah puas ketika desain ciptaannya mendapat pengakuan orang lain. Padahal sebenarnya para desainer tersebut mesti memberikan perlindungan atas ciptaannya dengan jalan mengajukan permohonan hak cipta. 'Mesti diakui pera perajin kita kurang dalam administratif, beda dengan orang asing,' ujarnya.

Ketua Asosiasi Perak Bali Nyoman Patra mengaku tidak tahu persis berapa jumlah desain tradisional Bali yang telah didaftarkan. Alasannya, pihaknya belum pernah mendapat tembusan dari pemerintah tentang desain apa saja yang telah mendapat sertifikat hak cipta. Malah pihaknya curiga pengumuman terhadap pendaftaran desain tersebut dilakukan secara diam-diam.

Pada pertemuan yang berlangsung secara kekeluargaan itu, juga terungkap rencana para asosiasi untuk membentuk sebuah wadah perkumpulan. Dari perkumpulan yang sementara dikoordinasi Desak Nyoman Suarti itu, diharapkan bisa menjembatani kesulitan yang dihadapi para perajin di Bali.



Monopoli

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Konsultan Hukum atas Kekayaan Intelektual Indonesia Gunawan Suryomurito menyatakan pendaftaran sebuah hak cipta bukanlah semata-mata menghidupkan monopoli atas sebuah ciptaan. Pendaftaran bertujuan menggiatkan kreativitas atas ciptaan baru, selain memang memberikan perlindungan hukum bagi pemegang hak cipta.

Menurut Gunawan, UU No.19 tahun 2002 sudah memuat secara jelas mekanisme sebuah pendaftaran. Ia kemudian menunjuk ketentuan pasal 35 ayat (4), di mana disebutkan pendaftaran ciptaan bukan merupakan suatu keharusan bagi pencipta atau pemegang hak cipta, dan timbulnya perlindungan suatu ciptaan dimulai sejak ciptaan itu ada atau terwujud dan bukan karena pendaftaran.

Hal itu berarti suatu ciptaan baik yang terdaftar mau pun tidak terdaftar tetap dilindungi. Ditambahkannya, pendaftaran hak cipta hanya memberi dugaan hukum, bahwa si pendaftar adalah pencipta dari ciptaannya. Sementara soal ide, Gunawan menyebutkan bisa mendapatkan perlindungan hukum kalau sudah diwujudkan dalam satu benda yang nyata. 'Ide pastinya berubah-ubah. Jadi bagaimana mungkin memberikan perlindungan,' jelas Gunawab.

Ditanya soal seni motif itu, kata Gunawan, hanya bisa diterapkan pada tekstil. Seperti kain dan lainnya. Soal motif telah tertuang secara jelas pada pasal 29 ayat (1) huruf d UU No. 19 tahun 2002. Sementara kreasi pada suatu aksesoris namanya seni terapan.

Dosen UI ini juga menegaskan pengertian memperbanyak. Dia berpendapat, pengertian memperbanyak yakni membuat bentuk yang sama dalam jumlah yang banyak. Berikut motifnya harus sama persis dari bentuk aslinya. Menurutnya, motif boleh diadopsi oleh orang lain, sepanjang tidak dibuat utuh. (015)
source: BP
 
Pembuktian Arja tak Identik Dramatari Panji

Pentas Arja Doyong "Sukreni Gadis Bali"

PENIKMAT seni yang berkunjung ke arena PKB, Minggu (29/6) malam, sangat beruntung lantaran bisa menikmati kesenian arja dengan citarasa yang berbeda. Malam itu, para seniman arja yang bergabung di bawah Geria Olah Kreativitas Seni (Geoks), Singapadu, Gianyar, mempersembahkan arja doyong "Sukreni Gadis Bali" (SGB).

Pementasan yang berlangsung di Wantilan Taman Budaya itu didukung sejumlah pragina arja papan atas Bali seperti A.A. Ayu Artati, Nyoman Manik Suryani, I Nyoman Geguh Cok. Istri Rai Partini, Jero Murniasih, Anom Ranuara, Ni Made Astari, I Made Sudira, I Nyoman Sunartha, dan G.L. Oka Ardika.

Lakon yang diangkat dari novel karya sastrawan besar Bali A.A. Panji Tisna ini merupakan ajang pembuktian bahwa kesenian arja tidak selalu identik dengan dramatari Panji. Namun, kesenian tradisional Bali ini sejatinya bersifat sangat terbuka terhadap beragam sumber lakon termasuk karya-karya sastra yang paling mutakhir sekalipun. Tidak harus saklek atau selalu terpaku pada cerita-cerita Panji seperti yang mewarnai kesenian arja selama ini.

Dengan fleksibilitas seperti itu, kesenian arja diyakini tetap memiliki vitalitas untuk menggebrak jagat seni pertunjukan Bali karena senantiasa ada nuansa baru yang dihembuskan. Dengan begitu, penikmat seni di Bali tidak sampai terperangkap dalam kejenuhan.

Koreografer sekaligus sutradara Arja Doyong SGB I Wayan Dibia menegaskan, arja doyong sebenarnya sudah berkembang di daerah Sukawati dan sekitarnya sejak 1904. Mengutip penuturan para seniman tua arja di Singapadu, mantan Ketua STSI (ISI) Denpasar ini mengatakan, masyarakat menyebutnya sebagai arja doyong karena dramatari itu dibawakan oleh seorang pemain dengan pola pajegan dan mengenakan kostum sederhana atau busana sehari-hari.

Oleh karena dibawakan dalam posisi yang lebih banyak duduk -- pada awalnya tanpa iringan musik, masyarakat setempat menyebutnya dengan arja doyong atau arja negak. "Pada dasarnya, Arja Doyong SGB merupakan garapan baru yang memadukan ide-ide arja doyong, tradisi mageguritan dan unsur-unsur arja gaguntangan. Terinspirasi oleh penggambaran suasana kehidupan masyarakat Bali di era 1930-an atau saat novel SGB ditulis, tata busana para penari diupayakan untuk disesuaikan dengan kebutuhan lakon," papar Dibia.



Empat Babak

Dikatan Dibia, pihaknya sengaja mengangkat kisah SGB karena pesan-pesan moral yang disampaikan A.A. Panji Tisna dalam karya itu masih sangat relevan dengan kondisi kehidupan sosial kemasyarakatan pada zaman ini.

Alur cerita dalam Arja Doyong SGB yang dibagi ke dalam empat pembabakan itu sama persis dengan novel aslinya. Diawali dengan kesedihan Sukreni yang meratapi nasib malangnya diperkosa oleh mantri polisi hidung belang I Gusti Made Tusan.

Pementasan ditutup dengan adegan pertarungan hebat antara I Gusti Made Tusan dengan penjahat kelas kakap I Gustam yang tidak lain merupakan anak kandung Sukreni dengan I Gusti Made Tusan. Cerita berujung tragedi, anak dan ayah itu sama-sama terbunuh terkena hukum karmaphala dari Hyang Widhi. (ian)
source: BP
 
Petarung akan Diarak ke Bandara

Para petarung Bali yang akan berlaga pada PON XVII/2008 di Kaltim, akan bertolak Kamis (3/7) nanti. Mereka akan diarak dalam perjalanan menuju Bandara Ngurah Rai, Tuban.

Pelatih Ketut Gede Sumantra mengaku melibatkan jajaran pengurus cabang (pengcab) dan satuan latihan (satlat) se-Bali dalam konvoi atlet ke bandara. 'Tujuan kegiatan ini adalah supaya semua insan kodrat ikut merasa memiliki. Kami juga ingin menumbuhkan rasa kebersamaam sekaligus menambah motivasi dan semangat juang para petarung,' ujarnya, Senin (30/6) kemarin.

Sumantra sendiri sudah tidak sabar ingin segera menyaksikan mereka bertarung, setelah sekian lama mengikuti latihan dengan disiplin. Ia menilai anak asuhnya sudah siap tempur setelah melahap menu latihan kecepatan, ketepatan, dan kekuatan pukulan.

Ketua Tim Elite Bali itu juga memompa semangat juang petarung di luar latihan. 'Kami mengajak tiap petarung berbicara terbuka dari hati ke hati,' terangnya. Pertandingan cabang kempo dilaksanakan 7-9 Juli. (022)
source: BP
 
Peluang Kerja di Amerika Terbuka Lebar
Lentera International Rekrut Pekerja Hotel
Denpasar (Bali Post)
Perusahaan-perusahaan di Amerika kini terus mencari tenaga kerja untuk mengisi lowongan pekerjaan. Perusahaan Amerika menyatakan senang dengan kinerja dan kemampuan pekerja dari Indonesia. Lentera International ES yang beralamat di Kampial Senin (30/6) akan memberangkatkan tenaga kerja yang akan dipekerjakan di Hotel Ritz Carlton Florida.

"Kami sangat senang dengan pekerja dari Indonesia," ujar Robert Laltoo dari International Works Solution (IWS) dan Jack Hedenstrom saat melakukan interview kepada calon tenaga kerja Indonesia. Satu per satu calon tenaga kerja yang rata-rata masih muda menjalani interview.

Mereka menceritakan awal kekagumannya terhadap pekerja dari Indonesia. Hal ini berawal dari seorang pekerja dari Indonesia yang kini menjabat sebagai Captain Waiter. "Saya sangat kagum dengannya (captain waiter-red), ia memiliki kemampuan yang bagus dan sangat sopan," terangnya. Hal inilah yang menyebabkan mengapa mereka tertarik dengan Indonesia.

Dikatakan, peluang kerja di Amerika bagi pekerja Indonesia sangat terbuka lebar. "Saat ini kita masih terbatas untuk sektor perhotelan, namun tahun depan kita akan merekrut tenaga kerja untuk sektor lain," katanya. Dinyatakan tahun ini perusahaan IWS menargetkan untuk merekrut sekitar 2.500 orang perkerja.

Direksi Lentera International ES, Fajar Fatoni menjelaskan perusahaan asing cukup puas melihat keberhasilan tenaga kerja Indonesia di Amerika. "Kita terkenal sebagai pekerja ulet dan berpendidikan cukup dan tidak banyak tingkah dibanding pekerja Philipina atau negara lain," ujarnya

Dikatakan, kali ini penguji dari IWS datang ke Bali untuk melakukan interview kepada calon pekerja yang akan ditempatkan di Hotel Ritz Carlton Florida. Jumlah pekerja yang akan diberangkatkan untuk rekrutmen kali ini sebanyak 170an orang pekerja.

Selama ini Lentera banyak melakukan pengiriman tenaga kerja ke kawasan Asia Pasifik. "IWS adalah partner baru untuk pengiriman tenaga kerja ke Amerikas," ujarnya. Dikatakan, dalam sebulan rata-rata Lentera memberangkatkan tenaga kerja ke luar negeri lebih dari 100 atau sekitar 1.700 orang per tahun. Lentera kini telah memiliki kantor cabang sebanyak 15 kantor yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatera, Bali, NTB dan tengah melakukan penjajakan di Sulawesi. (kmb/*)
source: BP
 
Menikmati Alunan Gong Saron 'Wit' Blambangan

Keberadaan Gong Saron di Bali sudah berusia cukup tua. Demikian pula Gong Saron Blambangan Banjar Seseh, Singapadu, Sukawati, Gianyar.


'Jauh sebelum penjajahan Belanda, Gong Saron yang ada di Singapadu kami perkirakan sudah ada," jelas Pembina Sekaa Gong Saron Blambangan Banjar Seseh Singapadu, AA Anom Suma (78), Selasa (1/7) kemarin.

Ditemui saat sekaa ini pentas di arena PKB, Anom Suma didampingi Ketua Sekaa Nengah Arimbawa dan Made Sudarsana menjelaskan, sekaa gamelan saron ini berisi nama Blambangan, karena karawitan tersebut wit atau berasal dari Blambangan, Banyuwangi, Jatim. Perangkat gamelan ini dulunya berasal dari Blambangan, bagaimana sejarahnya hingga sampai di Banjar Seseh Singapadu, pihaknya tidak tahu persis. Di Bali, gong ini umumnya digunakan kepentingan upacara Dewa Yadnya dan Pitra Yadnya.

Dikatakannya, tingkat kesulitan memainkan Gong Saron cukup tinggi, diperlukan konsentrasi dan daya ingat yang tinggi pula. Karena itu, selama ini sangat dirasakan kesulitan regenerasi. Dalam penampilannya di Kalangan Angsoka kemarin, sekaa gamelan ini menampilkan sejumlah tabuh yakni tabuh Gilak Angklung, Cinade, Lilit, dan Sih Miring. (lun)

Tingkat kesulitan memainkan Gong Saron cukup tinggi, diperlukan konsentrasi dan daya ingat yang tinggi pula. Karena itu, selama ini sangat dirasakan kesulitan regenerasi.
source: BP
 
Bali Pertama di Indonesia Olah Sampah Jadi Listrik

Denpasar, (ANTARA News) - Teknologi pendaur ulang sampah untuk menghasilkan listrik, energi alternatif menggunakan non bahan bakar minyak, yang diterapkan di Denpasar, Bali, merupakan yang pertama di Indonesia.

"Selain menghasilkan energi listrik, kehadiran teknologi canggih dari Inggris itu juga sanggup menangani masalah sampah secara tuntas," kata Direktur PT Navigat Organic Energy Indonesia (NOEI) H. Soeyoto, MBA di Denpasar, Rabu.

Ia mengatakan, proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik yang pertama di Indonesia tersebut telah didaftarkan pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), karena akan mampu menurunkan emisi udara.

Proyek dengan investasi 30 juta dolar AS itu sedang dalam uji coba untuk menghasilkan listrik, tahap pertama ditargetkan dua megawatt (Mw) pada 1 Oktober 2008.

"Kapasitas tersebut ditingkatkan dua kali lipat menjadi empat MW pada 1 Juni 2009 dan ditambah lagi hingga total menghasilkan energi listrik 9,6 MW pada 1 Juli 2010," ujar Soeyoto.

Dijelaskan, energi listrik hasil daur ulang sampah itu akan masuk dalam sistem kelistrikan Bali sesuai dengan naskah kerjasama yang ditandatangani antara PT NOEI dengan PT PLN Distribusi Bali.

Proyek tersebut mampu mengolah 800 ton sampah per hari, berasal dari empat kota/daerah, yakni Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan yang tergabung dalam wadah Serbagita.

Proyek tersebut digarap sejak akhir 2005 di atas lahan seluas sepuluh hektar yang disediakan Pemerintah Propinsi Bali di pinggiran kota Denpasar.

Kehadiran proyek yang sejak lama didambakan itu selain menghasilkan energi listrik, sekaligus menangani masalah sampah secara tuntas, ujar Soeyoto.

General Manager PT PLN Distribusi Bali, Ir Sudirman menambahkan, kehadiran proyek pendaurulangan sampah untuk menghasilkan energi listrik akan mampu memberikan penghematan yang cukup besar.

Penggunaan energi dua MW pada tahap pertama akan mampu menghemat biaya operasional PLN sebesar Rp6 miliar per tahun dan tahap pedua sebesar Rp48,6 miliar pada 1 Juni 2009, hingga total penghematan mencapai Rp180,7 miliar pada 1 Juli 2010, katanya.(*)
 
Belajar Seharian Akan Lahirkan Generasi Beringas

Denpasar (ANTARA News) - Psikiater Prof Dr dr LK Suryani, SpKj mengatakan, sistem belajar-mengajar seharian yang biasa disebut "full day school", terbukti merusak mental siswa, ditandai berkembangnya generasi apatis dan beringas.

"Tanpa kita sadari telah lahir generasi beringas yang tidak peduli pada kepentingan umum, lingkungan, apalagi persoalan bangsa. Rasa nasionalisme terhadap NKRI pun dipertanyakan," katanya pada Seminar Guru "Memahami Perkembangan Mental Anak Didik" di Denpasar, Selasa.

Disebutkan bahwa upaya mengejar prestasi akademik hingga meraih berbagai juara merupakan hal yang penting, tetapi tidak boleh mengabaikan kebutuhan untuk bersosialisasi dengan orangtua, keluarga, maupun masyarakat.

Selain itu, penekanan pada studi juga harus diimbangi dengan waktu yang cukup untuk rileks, menikmati berbagai kesenangan, sehingga pertumbuhan otak kiri dan kanan akan seimbang.

Rileks dengan menonton televisi juga perlu, tetapi untuk usia anak-anak harus didampingi dan dibatasi. "Siaran televisi menyajikan hiburan instan yang membunuh kreaivitas. Menonton terlalu lama juga menimbulkan kelelahan yang berdampak apatis," ucap Prof Suryani.

Di hadapan sekitar 200 guru SMP dan SMA pada seminar yang diselenggarakan Telkomsel bersama Dinas Pendidikan Propinsi Bali itu diingatkan agar orangtua tidak memaksakan putra-putrinya bersekolah di lembaga yang dinilai unggul dari sisi akademik saja.

"Berilah anak-anak keleluasaan untuk memilih tempat studi yang menyenangkan. Yang juga memperhatikan kebutuhan berkreasi, cukup waktu untuk bersenang-senang dan berkumpul dengan keluarga maupun masyarakat," katanya.

Gurubesar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana itu mengingatkan bahaya lebih lanjut dengan terus berkembangnya generasi yang apatis dan beringas akibat tidak memahami tindakan dan perbuatan apa yang harus dilakukan di rumah dan di masyarakat.

"Di mana-mana kita dengar orangtua mengeluhkan perilaku anaknya. Tidak mengerti urusan rumah. Ini salah kita, salah lembaga pendidikan. Karena itu sistem `full day school` perlu segera dievaluasi," pinta pendiri dan President CASA (Committee Against Sexual Abuse) itu.

Hal itu hanya bisa diperbaiki melalui pengembangan sistem pendidikan yang berimbang antara kebutuhan mengejar prestasi akademik dan keleluasaan berkreasi, bermain, bersosialisasi dan cukup waktu untuk rileks, tambahnya.(*)
 
Bali Tengah Mengalami Pergeseran Budaya

Denpasar (ANTARA News) - Pulau Dewata sebagai bagian dari komunitas internasional tengah mengalami pergeseran nilai-nilai budaya dan cenderung mengadopsi kebudayaan modern yang mendunia (kosmopolitan).

Gurubesar Universitas Gadjah Mada Prof. Dr. Irwan Abdullah menyarankan, masyarakat Bali yang sedang mengadopsi budaya modern harus tetap berpegang pada ikatan tradisi dan sistem nilai yang diwarisinya sehingga karakteristik Bali tidak luntur.

Berbicara dalam sarasehan disela Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-30 di Denpasar, Irwan berkata: "Bagaimana pun penetrasi nilai dan kepentingan internasional sangat kuat di Bali, baik bersifat investasi ekonomi maupun politik."

Menurutnya, kecenderungan dan perkembangan di Bali itu harus mampu dikendalikan dengan kekuatan budaya yang lebih otoritatif sehingga mampu membangun kemandirian sebagai upaya membentuk masyarakat Bali yang bermartabat dan berdaulat.

Berbagai corak persoalan yang dihadapi merupakan prakondisi bagi lahirnya masyarakat baru meninggalkan Bali yang asli, yakni suatu masyarakat yang memiliki sistem nilai jangka panjang yang terintegrasi ke dalam sistem dunia, dengan seluruh orientasi ruang dan simbul mancanegara.

Kepatuhan tradisional akan sulit untuk dibangun sehingga legitimasi tokoh adat dan tradisi akan mengalami gugatan.

Prof Irwan menambahkan, masyarakat baru akan tumbuh dengan pola penataan baru yang terlepas dari pengelompokan primordial menuju suatu pengelompokan berbasis gaya hidup yang menjauhkan interaksi sosial dari titik orientasi adat.

"Ketika pergeseran semacam itu terjadi, maka upacara menjadi pengalaman jauh dan pura menjadi sejarah masa lalu yang dihadirkan sebagai bagian dari nostalgia," ujar Prof Irwan.

Sarasehan sehari yang melibatkan 200 peserta dari kalangan seniman, budayawan, cendekiawan dan jajaran pemerintah itu menampilkan dua pembicara.

Pembicara lainnya adalah sejarawan Bali Drs I Nyoman Wijaya, M.Hum yang juga dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana dengan kertas kerja berjudul "Membongkar Mitos PKB Untuk Mencapai Keseimbangan dan Keharmonisan Masyarakat Bali".
(*)
 
Tema Lingkungan Hijau di Festival Sanur

Denpasar (ANTARA News) - "Sanur Village Festival", salah satu kegiatan promosi pariwisata dan budaya tahunan di Bali, pada penyelenggaraan ketiga, 5-10 Agustus 2008 mengangkat tema "Going Green" atau menuju hijau.

"Konsep Festival Sanur kali ini bertujuan promosi pariwisata dengan mengangkat kearifan lokal," kata Ketua Panitia SVF, Ida Bagus Sidartha Putra, di Sanur, Selasa.

Ia mengatakan, Desa Sanur sebagai daerah pariwisata pertama di Bali hingga saat ini masih mempertahankan budaya sebagai dasar pengembangan pariwisata.

Karena itu kegiatan tersebut menampilkan berbagai budaya dan kesenian tradisional yang dimiliki masyarakat setempat.

Menurut dia, penyelenggaraan SVF ketiga tahun ini hampir sama dengan pelaksanaan tahun lalu yang mengangkat tema semangat warisan budaya baru atau "The New Spirit of Heritage".

"Konsep dasarnya hampir sama dengan tahun lalu, namun tahun ini kami mengangkat isu lingkungan. Sebab isu lingkungan ke depan menjadi hal penting dalam industri pariwisata," ucapnya.

Menurut Sidartha, pasar pariwisata Sanur adalah masyarakat Eropa yang sangat peduli terhadap lingkungan, sehingga mereka tidak akan datang ke obyek wisata yang kondisi lingkungannya rusak.

Untuk merealisasikan tema tersebut, pihak panitia SVF akan mengadakan lomba pengelolaan sampah dengan peserta kalangan industri perhotelan.

"Kegiatan ini kami harapkan dapat menumbuhkan kebersamaan menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah dan limbah hotel secara sembarangan," katanya menambahkan. (*)
 
Krama Bali Terus Terjebak Konflik

KONFLIK kepentingan sesama krama Bali akan terus terbuka seiring dengan makin tingginya tawaran investasi masuk Bali. Kondisi ini juga diperparah oleh perilaku-perilaku sejumlah elite yang tak konsisten menjaga keseimbangan alam Bali dan gamangnya aturan main.

'Krama Bali akan terus terjebak konflik jika tak ada ketegasan dalam menyikapi perbedaan kepentingan. Krama Bali harus menempatkan keseimbangan sekala dan niskala untuk mengatasi permasalahan internal krama Bali di kemudian hari,' saran pengamat lingkungan yang juga pakar pertanian Unud Dr. Ni Luh Ketut Kartini, M.S., Jumat (2/7) kemarin.


Ia memprediksi konflik perebutan atas lahan yang melibatkan krama Bali tak akan terkonsentrasi di Bali selatan saja. Besar kemungkinan kasus -kasus serupa akan merembet ke sejumlah daerah di kawasan hulu yang selama ini menjadi sumber resapan air. Buktinya, kini banyak pemodal mengincar tanah-tanah pertanian yang juga berfungsi sebagai daerah resapan. 'Bahkan, banyak pihak mulai mempermainkan amdal dan perang argumentasi untuk membela yang bayar,' kritiknya. Toleransi investasi di kawasan Danau Buyan dan pengalihan status hutan lindung untuk kepentingan pariwisata juga terjadi. 'Jika aturan main terus dipermainkan oleh orang-orang yang punya kekuasaan, Bali tinggal menunggu waktu saja menuju kehancuran ekosistem,' tegasnya. (dir)

source: BP
 
Ada 'Mitos' PKB yang Perlu Dibongkar

Globalisasi di Bali telah menimbulkan pergulatan antara nilai-nilai budaya lokal dan global yang makin intensif. Proses ini membawa akibat pada ketidakseimbangan, disorientasi dan dislokasi hampir pada setiap aspek kehidupan masyarakat. Pada saat yang sama muncul sekularisme dan komersialisasi sebagai tolok ukur dalam kehidupan.

Hal itu dikatakan Prof. Dr. Irwan Abdullah, narasumber dari UGM Yogyakarta, saat Sarasehan Pesta Kesenian Bali (PKB) di kampus ISI Denpasar, Rabu (2/7) kemarin. Dalam konteks perubahan semacam itu, kata Irwan Abdullah, sangat dibutuhkan peningkatan ketahanan budaya yang ditentukan oleh sistem sosial dalam berbagai bentuk lembaga tradisional seperti banjar, desa adat, subak, sekaa dan dadia.

Keterikatan orang Bali terhadap lembaga tersebut telah mampu berfungsi secara struktural bagi ketahanan budaya Bali. Hal ini harus mengalami revitalisasi dan pemberdayaan kelembagaan untuk aktualisasi budaya secara lebih menyeluruh. Cara sederhana dan defensif menghadapi globalisasi tersebut yaitu dengan memurnikan identitas ke-Bali-an.

Sementara itu narasumber dari Unud Drs. Nyoman Wijaya, M.Hum. mengatakan, setidaknya ada empat "mitos" besar yang perlu dibongkar dalam PKB, salah satunya tahun kelahiran PKB. Menurut Wijaya, PKB yang kepertama diselenggarakan selama dua bulan dari tanggal 20 Juni sampai 23 Agustus 1979 dipusatkan di Taman Budaya (Art Center).

Dalam kata sambutannya, Gubernur Bali Ida Bagus Mantra saat itu mengatakan bahwa PKB 1979 sesungguhnya ingin meletakkan dan menempatkan diri sebagai media dasar menumbuhkan rasa cinta, sebab dengan mengenal dan mengerti, rasa cinta sekaligus kesadaran bertanggung jawab akan menjadi dasar pertumbuhan dan perkembangan apresiasi serta kreativitas seni menuju pengembangan macam ragam dan seni budaya yang berkepribadian.

Namun, peristiwa bersejarah itu terhapus dalam catatan sejarah karena generasi sekarang lebih mengenal PKB lahir 1978. Seharusnya, menurut Wijaya, usia PKB 2008 ini yang ke-29 tahun.

Mitos lainnya adalah sistem pelaksanaan PKB dari atas ke bawah. Menurut Wijaya, apabila tujuan penyelenggaraan PKB memang benar-benar ingin melestarikan dan mengembangkan kesenian Bali -- bukan untuk kepentingan orang per orang dalam jajaran pemerintah, maka model pelestarian buttom-up perlu dipertimbangkan.

Pada saat sekaa sebunan sudah mandiri, maka lanjutkan dengan melibatkan kaum profesional dalam PKB, sehingga pemerintah hanya sebagai pengarah dan pengawas, sedangkan para pemain yang mengisi pentas PKB adalah para sekaa sebunan dan seniman akademis dari ISI. Dari "perlombaan" alami seperti ini akan terjadi perangsangan apresiasi dan kreativitas, sehingga tiap tahun muncul kesenian model baru, bukan pengulangan model-model kesenian di alam istana.

Guru Besar Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja Prof. Drs. Dewa Komang Tantra, M.Sc., Ph.D. yang semula akan membawakan makalah pada sarasehan tersebut, namun karena ada kegiatan lain akhirnya batal hadir sebagai narasumber. Panitia hanya menyerahkan makalahnya.

Dalam makalah itu, Dewa Komang Tantra mengatakan masyarakat Bali yang sudah kesohor memiliki nilai-nilai keharmonisan, spiritualitas, estetika, etika, solidaritas dan sejenisnya seyogianya terus dikaji dan dicerahkan sesuai dengan sifat zaman. Kontekstualisasi nilai-nilai kebudayaan masyarakat Bali perlu dilakukan secara kreatif dan dinamis, didasarkan atas sikap kehati-hatian dalam melakukan interaksi lintas budaya. Kalau ini tidak dilakukan secara cerdas maka kebudayaan Bali akan terkontaminasi unsur-unsur budaya asing lainnya. (lun)
source: BP
 
Jumlah Penonton Pecahkan Rekor

PARADE Gong Kebyar Anak-anak yang menampilkan duta Kabupaten Gianyar dengan Badung di Panggung Terbuka Ardha Candra, Kamis (3/7) malam, merupakan pementasan yang paling "dibanjiri" penonton hingga pekan ketiga perhelatan PKB ke-30 ini. Atraksi seni para seniman cilik itu bahkan mampu menumbangkan "rekor" jumlah penonton terbesar yang selama ini selalu dikuasai Parade Gong Kebyar Dewasa.

Malam itu, nyaris seluruh space di areal Ardha Candra dengan kapasitas sekitar 8.000 orang penonton itu terisi penuh. Bahkan, penonton sampai merangsek ke bibir panggung agar bisa menikmati persembahan seni seniman-seniman masa depan Bali itu. Luberan penonton itu jelas membuat kalang-kabut para fotografer lantaran tempat favorit mereka sudah "direbut" penonton.

Alhasil, mereka pun terpaksa mengabadikan momen-momen terindah itu di tengah-tengah himpitan penonton. Pementasan itu juga "diwarnai" aksi protes dari sejumlah penonton pemegang tiket VIP karena tidak mendapatkan tempat duduk sesuai yang tertulis di dalam tiket. (ian)
 
Bertabur Pesan Moral dan Kritik Sosial

Penampilan dalang Ki Enthus Susmono di Panggung Terbuka Ksirarnawa, Kamis (3/7) malam, layak mendapat acungan jempol. Dalang asal Tegal, Jawa Tengah itu tidak hanya piawai memainkan wayang lewat sabetan-sabetan khasnya, tetapi juga sangat cerdas mengemas isu-isu sosial-politik yang tengah mencuat di Indonesia tanpa harus merusak keutuhan lakon "Dewa Ruci" yang dibawakannya malam itu.

Dalang kreatif dengan kreasi jenis wayang terbanyak -- 1.491 wayang -- versi Museum Rekor Indonesia (Muri) ini sangat lugas dalam mengkritisi kebobrokan yang tengah berlangsung di negeri ini. Gugatan terhadap perilaku korup para pemimpin bangsa, pilkada yang "ternoda" praktik money politic, maraknya kasus illegal logging dan rupa-rupa kritik sosial lainya begitu kental dalam pementasan Ki Enthus Susmono. Kendati "bertaburan" kritik dan pesan moral, pementasan ini tidak jadi karya "berat" karena sang dalang mampu mencairkannya dengan beragam joke segar.

Daya kreatif dan inovasi Ki Enthus Susmono itu tercermin dalam wujud wayangnya yang tidak seperti wayang-wayang Jawa lainnya. Bentuk hidung, mulut, mata dan bagian wajah lainnya serta tangan, kaki dan bagian tubuhnya lainnya dari tokoh-tokoh pewayangan "disulapnya" lebih realistis. Kendati begitu, ikonitas wayang kulit masih dipertahankan di sana-sini.

Dari sinilah penyebutan Wayang Rai (gajah) Wong (manusia) itu berawal. "Konsep Wayang Kulit Rai Wong ini sangat sederhana, yakni wayang orang yang dikulitkan. Dengan lebih merealiskan wujud wayang ini, saya ingin menjadikannya sebagai pintu masuk untuk mengajak generasi muda termasuk anak-anak untuk menyelami dunia wayang," ujar Ki Enthus Susmono kepada Bali Post.

Tidak Sulit
Tidak sulit bagi penikmat seni di Bali memahami alur cerita "Dewa Ruci". Di samping lakon yang diangkat dari epos Mahabharata itu sudah begitu akrab bagi pencinta seni pewayangan di Bali, Ki Enthus Susmono menyampaikan persembahahan seninya dengan pengantar bahasa Indonesia yang diselipi sedikit bahasa Jawa.

Secara ringkas, "Dewa Ruci" mengisahkan tentang keteguhan hati satria Pandawa Bima dalam menjalankan amanat mahaguru Drona. Padahal, tugas berat itu hanyalah siasat licik kaum Korawa untuk melenyapkan Bima dari muka bumi. Semula, Bima ditugaskan mencari kayu gung susuhing angin di belantara Gunung Candramuka. Namun, siasat itu sia-sia karena bisa pulang dengan selamat. Sebagai siasat terakhir, Bima ditugaskan mencari air suci perwita sari di tengah samudera.

Di tengah pencarian itulah Bima bertemu dengan seekor naga raksasa dan terlibat pertarungan seru. Naga lenyap, muncullah seberkas cahaya yang tidak lain adalah Dewa Ruci yang selanjutnya menganugerahkan ilmu sejati "Sangkan Paraning Dumadi" kepada Bima. Ilmu itu berisikan tentang hakikat kehidupan di mayapada menuju kesempurnaan hakiki. (ian)
source: BP
 
Pasar Taruhan Pilgub Bali Capai Puluhan Milyar

Bagi para peminat judi apa pun bisa menjadi media taruhan. Selain Piala Eropa 2008 yang baru lalu, Pilgub Bali yang berlangsung 9 Juli mendatang juga dijadikan media taruhan. Informasi yang beredar, di Bali pasar taruhan Pilgub Bali mencapai Rp 1 milyar dan di Jakarta bahkan mencapai Rp 25 milyar.

Di pasar taruhan tersebut posisi CBS-Suweta dan Pastika-Yoga berimbang. "Jagoan kami memang CBS-Suweta dan saya yakin menang. Namun, saya dengar pasar taruhan berimbang 38 : 41 atau 41 : 38 yang nilainya mencapai puluhan milyar rupiah," ujar Ketua Tim Sukses CBS-Suweta, Gde Wiratha, di Denpasar, Sabtu (5/7) kemarin.

Wiratha sendiri terbahak-bahak mendapati kenyataan ada calon gubernur yang begitu antijudi, namun dirinya justru dijadikan taruhan dalam pilgub kali ini. Baginya, fenomena ini merupakan suatu lelucon yang tidak lucu, namun itulah kenyataan di masyarakat -- yang diakui atau tidak -- memang gandrung bertaruh.

Terlepas dari nuansa politisnya, fenomena ini menggelitik Wiratha yang juga Ketua Kadinda Bali ini. Baginya, fenomena tersebut merupakan cerminan dari realitas masyarakat yang tak bisa lepas dari naluri bertaruh atau berjudi. "Persoalan taruhan memang tak bisa dihindari. Itu salah satu bentuk rekreasi sekaligus katarsis," ujarnya.

Dia lantas berseloroh, sebaiknya pemerintah dan DPR-RI mempertimbangkan kembali untuk meninjau UU Perjudian. "Saya kira sudah saatnya bangsa ini berhenti menjadi bangsa yang hipokrit. Bayangkan, pemberantasan korupsi begitu gencar, namun korupsi makin marak. Lebih baik judi seperti kasino yang dilegalkan," tandas Wiratha.

Mengapa? "Dari kasino negara atau daerah dapat pemasukan dan dananya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Daripada pejabat yang korupsi, uang negara dikuras, rakyat yang melarat. Bahwa judi itu bertentangan dengan agama, biarkan itu urusan dengan Tuhan. Daripada kita jadi bangsa yang hiprokrit," ujar Wiratha. (056)
source: BP
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.