• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

IF Bali

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. goesdun
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai
Gw di Bali juga nih kk GoesDun, nice berita2 nya :))
 
Sabtu Pahing, 24 Mei 2008
Forecast Denpasar* 24-31 C dan BERAWAN

Info :Revitalisasi Gambang Buleleng--
Ramuan Seni Baru dari Perpaduan Seni Langka

Sebagai daratan yang memiliki peradaban yang cukup tua, Kabupaten Buleleng memang memiliki banyak jenis kesenian klasik. Salah satunya adalah jenis gamelan gambang yang diyakini sudah ada di Buleleng ketika Majapahit belum memberi pengaruh terhadap kehidupan seni-budaya Bali. Seperti juga kesenian klasik lain, seni gambang kini nyaris tak pernah terdengar gaungnya. Bahkan, keberadaannya pun kini makin langka. Meski begitu, sejumlah seniman gambang di Bali Utara mulai mengambil ancang-ancang untuk menghidupkan kembali seni tua itu. Caranya antara lain seni gambang dipadukan dengan seni klasik lain seperti seni okokan, seni ngoncang dan sunari. Apakah dengan cara seperti itu gambang bisa dikenal kembali salah satu jenis kesenian Bali yang adiluhung?

=====



SELAIN di Buleleng gambang juga ada di daerah lain seperti Tenganan dan Bebandem (Karangsem), Singapadu, Saba dan Blahbatuh (Gianyar), Kesiut (Tabanan) serta Kerobokan dan Sempidi (Badung). Di Buleleng sendiri keberadaan gambang tak lebih dari 10 buah. Di Kecamatan Tejakula tertinggal hanya satu kelompok seni gambang, di Kecamatan Kubutambahan satu kelompok, di Kecamatan Sawan satu kelompok, di Kecamatan Buleleng terdapat dua kelompok, di Kecamatan Sukasada dua kelompok, dan di Kecamatan Banjar satu kelompok.

Anggota kelompok itu pun jumlahnya tidak banyak. Paling hanya satu atau dua orang yang benar-benar mahir memainkan gamelan gambang. Selain jumlahnya sedikit, intensitas pergelarannya juga sangat langka. Ini terjadi karena sebagai seni klasik dan disakralkan, gambang tak bisa dipentaskan di sembarang tempat. Gamelan itu hanya dimainkan pada saat upacara-upacara ngaben.

Di Padangbulia, misalnya, gambang yang dipercaya sudah ada sejak desa itu dibangun hanya dipentaskan saat upacara ngaben dan odalan. Dan, sangat jarang dikeluarkan pada hari-hari biasa. Karena tidak populer, warga di Padangbulia tidak banyak yang tertarik untuk mendalami seni gambang. Namun begitu, ternyata masih tetap saja ada sejumlah warga yang begitu setia menggeluti gambang. Salah satunya adalah Jero Dalang Made Wijana. Artinya, di desa tempat gambang itu disemayamkan saja tidak begitu dikenal dekat oleh warganya, apalagi di desa lain yang tak memiliki gamelan gambang.

Menurut Jero Dalang Made Wijana, gambang yang kini disakralkan di Desa Padangbulia memiliki sejarah cukup panjang. Konon gambang itu sudah ada pada zaman kebesaran Patih Kebo Iwa yang memang dipercaya pernah tinggal di Desa Padangbulia. ''Bekas-bekas tapak kaki Kebo Iwa masih ada di Padangbulia,'' kata Jero Dalang Wijana.

Saat Kebo Iwa di Padangbulia itu, kata Jero Dalang Wijana, gamelan gambang mulai dibuat lalu menjadi peninggalan suci hingga kini. Menurut Jero Dalang, gamelan gambang itu dianggap sakral dan hanya dipentaskan pada saat upacara pitra yadnya. ''Gambang sendiri terdiri atas dua suku kata ''ga'' dan ''mbang''. ''Ga'' berarti jalan, ''mbang'' artinya kesunyian. Gambang artinya penuntun jalan bagi sang Atma menuju ke Sunialoka,'' terangnya.

Mungkin karena fungsi gambang secara spiritual untuk menuntun atma ke wilayah sunyi itulah maka nasib gambang sendiri hingga kini tetap sunyi. Anak-anak muda lebih suka memainkan gamelan gong kebyar yang dianggap bisa memberikan ruang lebih besar untuk eksis dan dikenal oleh publik yang lebih luas. Bahkan dalam pergaulan kesenian anak muda, gambang dinilai sebagai jenis kesenian yang khusus digeluti para orang tua, sehingga mereka mungkin akan belajar gambang ketika mereka sudah memasuki usia tua.



Paduan Seni Langka

Meski sunyi, seniman gambang tampaknya tak pernah menyerah untuk berjuang melestarikan kesenian gambang di Bali. Jero Dalang Made Wijana kini bahkan mulai membuat gamelan gambang baru yang secara khusus akan dipadukan dengan jenis-jenis kesenian lain. Gambang yang dibuat Jero Dalang ini bentuk dan nadanya tetap sama dengan gambang peninggalan nenek moyangnya di Padangbulia. Namun gambang itu akan digunakan dalam pergelaran yang lebih profan, misalnya sebagai seni pertunjukan yang dipadukan dengan alat gamelan lain.

Jero Dalang yakin nada-nada yang ada pada gamelan gambang memiliki keserasian dengan alat-alat gamelan baru. Apalagi hingga kini nada-nada yang dihasilkan gamelan gambang tidak jelas antara nada pelog atau selendro. ''Ada yang bilang gambang itu pelog, ada yang bilang selendro, tapi bagi saya pelog atau selendro tetap sama asalkan bagus didengar telinga,'' katanya.

Buktinya, dari hasil eksperimen yang dilakukan Jero Dalang beberapa bulan ini, gambang ternyata memiliki kecocokan dengan jenis gamelan lain. Ia pernah memadukan gambang dengan angklung yang menghasilkan nada perpaduan cukup bagus. Selain angklung, ternyata gambang juga kerap disandingkan dengan Gong Gede. Menurutnya, berbagai eksperimen bisa dilakukan agar gambang bisa dikenal kembali. ''Sebagai dalang, saya juga ingin memainkan wayang dengan iringan gambang,'' katanya.

Wayan Sujana, pinisepuh Sanggar Santi Budaya, Singaraja, juga mulai mengembangkan eksperimen untuk mengembangkan seni gambang di Buleleng. Dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-30 ini, Sujana bersama seniman-seniman muda di Buleleng membuat sebuah garapan seni gambang yang digabungkan dengan okokan, sunari atau suling dan seni ngoncang. Okokan dan ngoncang juga termasuk seni langka di Buleleng.

Kini seni ngoncang dengan ketungan (tempat penumbuk padi) saat ini hanya bisa ditemukan di Dusun Kedu di Panji, Suwug Sabi dan Banyuning. Sementara okokan ditemukan di desa-desa yang masih memiliki tradisi sapi grumbungan, seperti Desa Kaliasem, Banjar Tegal, dan Bebetin. Namun Sujana berkeyakinan ketika semua seni langka itu digabung tentu akan menjadi kesenian baru yang unik. ''Kini tinggal bagaimana menggarap semua seni langka itu menjadi satu seni pertunjukan yang enak,'' ujarnya.

Sujana mengakui kesenian gambang memang termasuk seni sakral yang tak bisa dipentaskan pada sembarang waktu dan tempat. Namun sebagai upaya pelestarian sekaligus pengembangan, seni gambang juga sebaiknya diberikan ruang yang baru dengan cara penggarapan yang baru namun tetap memiliki nilai-nilai kesakralan. ''Nilai-nilai kesakralan bisa tetap menempel dalam produk seni baru itu,'' ujarnya.

Sebab, menurut Sujana, di Bali atau dalam kebudayaan Hindu, nilai-nilai kesakralan selalu ada dalam setiap produk kesenian. Namun tidak setiap jenis kesenian dianggap sakral. Strategi pengembangan seperti ini sesungguhnya sudah banyak dilakukan seniman sejak zaman dulu, misalnya tari Sanghyang yang sakral diambil semangatnya untuk menjadi tari Cak yang lebih profan. Masalah apakah kesenian baru itu disukai atau tidak, diterima atau tidak, berkembang atau tidak, hal itu tergantung dari keseriusan penggarapannya. Jika digarap asal-asalan, tentu saja seni yang baru itu nasibnya bisa lebih sunyi dari seni sakral. * adnyana ole
source: BaliPost
 
[FONT=Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif]Senin Wage, 26 Mei 2008[/FONT]
Forecast Denpasar* 24-31 C dan BERAWAN

Info : bunk Dunia Bantu Peningkatan Sektor Swasta di Bali

ADAM SACK sebagai IFC (International Finance Corporation) Country Manager untuk Indonesia berkunjung ke kantor Gubernur Bali sekaligus juga untuk menandatangani nota kesepakatan dengan Gubernur Bali Dewa Beratha, Jumat (23/5). IFC yang merupakan bagian dari Grup bunk Dunia yang berfokus pada peningkatan sektor swasta melalui berbagai program, di antaranya adalah program penyederhanaan perizinan. Program National OSS bermitra dengan Depdagri untuk menghasilkan panduan yang dipergunakan sebagai acuan nasional bagi daerah yang ingin membangun Pelayanan Terpadu Satu Pintu.

Penandatanganan sekaligus juga pertemuan itu bertempat di ruang tamu Gubernur Bali, berlangsung dengan penuh keakraban dan dihadiri oleh Chief Financial Officer bunk Dunia Vincenzo La Via, Brigit Helms yang merupakan IFC Indonesia Head of Advisory Service dan dua pejabat dari Depdagri.

Penandatanganan nota kesepahaman ini merupakan perwujudan kemitraan antara Propinsi Bali dan IFC. MoU ini mengukuhkan posisi Propinsi Bali sebagai propinsi pelopor di Indonesia dalam pelaksanaan model pendukungan pertumbuhan Pelayanan Terpadu Satu Pintu yang bertumpu pada propinsi.

Dalam model yang akan dibentuk ini peranan propinsi adalah sebagai pendukung, motivator, pengarah, sekaligus pengawas. Adapun Bali ditunjuk sebagai role model karena Bali dikenal sebagai propinsi yang memiliki komitmen yang sangat kuat bagi pengembangan sektor swasta di daerahnya.

Dalam kesempatan itu pula, Vincenzo La Via menyampaikan penghargaan terhadap Gubernur Bali karena telah menunjukkan komitmen yang tinggi untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif. Gubernur Bali menyampaikan pula terima kasih atas bantuan dan dukungan yang diberikan oleh Grup bunk Dunia terhadap Propinsi Bali untuk peningkatan perekonomian di propinsi Bali. (r/*)
source: BaliPost
 
Gudangnya Peninggalan Purbakala

DI bidang seni budaya, tiap-tiap banjar se-Desa Bedulu memiliki seperangkat gambelan, di samping itu juga telah berdiri sanggar-sanggar seni tabuh dan seni tari serta sekaa wayang, topeng, sekaa santhi, rejang dan baris serta sekaa tabuh wanita.

Secara etimologi nama Bedulu berasal dari ata ''Bedahulu'' seperti terdapat dalam kitab Negara Kertagama yang ditulis Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi. Pada pupuh XIV bait nomor 3 antara lain disebutkan bahwa negara bawahan di sebelah timur Jawa antara lain Bali dengan negara yang penting Badahulu dan Lwa Gajah. Kata ''Badahulu'' terdiri atas kata ''bada'' yang berarti tempat dan ''hulu'' yang berarti pemimpin, penghulu atau raja.

Dengan demikian Badahulu seperti disebutkan dalam Negara Kertagama berarti tempat para pemimpin atau raja (istana raja). Dan, dengan kata lain Badahulu yang sekarang menjadi Bedulu adalah suatu tempat penting pada masa Bali kuno sebagai tempat para pemimpin atau istana raja dalam mengendalikan pemerintahan di Bali. Sedangkan ''Lwa Gajah'' dapat diidentifikasikan sebagai Goa Gajah. ''Lwa'' artinya air dan ''Gajah'' artinya gajah. Jadi Lwa Gajah berarti air yang keluar dari patung gajah seperti masih dapat disaksikan sekarang ini di Goa Gajah berupa arca pancuran yang terletak di depan pintu masuk goa yang dulunya ditemukan di sekitar kolam. Desa Bedulu mempunyai 24 buah pura dan 20 buah berisi peninggalan purbakala.

Keberadaan benda-benda peninggalan purbakala ini mempunyai peranan penting bagi umat Hindu setempat. Hal ini dapat disaksikan pada saat diselenggarakannya upacara piodalan di Pura-pura untuk memohon keselamatan dan kemakmuran bagi masyarakat. Sumber daya alam berupa tambang yang terdapat pada tebing Sungai Petanu sebagai sumber batu padas untuk bahan bangunan stil Bali sangat menjanjikan bagi warga setempat.

Desa Pakraman Bedulu tidak memiliki areal hutan tetapi di pinggir Sungai Petanu tumbuh tanam-tanaman yang membentuk hutan-hutan kecil sehingga dapat berfungsi sebagai area konservasi alam dan lingkungan. Potensi sumber daya alam berupa mata air dan sumber air tanah yang dimiliki Bedulu dapat berperan sebagai sumber pengairan irigasi. Di antaranya, pancuran Goa Gajah, Beji Samuantiga, dan Pura Dedari. Desa Bedulu mempunyai kekunoan yang cukup banyak dan beraneka ragam.

Di samping Goa Gajah dan Relief Yeh Pulu, juga terdapat situs peninggalan purbakala lainnya seperti Pura Jero Agung. Menurut Drs. A.A. Gede Oka Astawa, salah seorang tokoh masyarakat setempat yang juga peneliti dari Balai Arkeologi Denpasar, keunikan ditemukan di pura yang piodalannya jatuh pada Purnama Sasih Asada ini yakni selalu menggunakan Damar Kurung (lampu yang terbuat dari kelapa dan diletakkan dalam keranjang).

Damar kurung ini dipasang atau digantung di masing-masing penjor yang dipasang di depan pintu atau candi kurung pura tersebut. Melalui sinar yang dipancarkan oleh damar kurung itu sebagai pertanda terhadap Jawa (Majapahit) bahwa masyarakat di Badahulu (Bali) sedang melakukan upacara di Pura Jero Agung yang merupakan istana raja Bali kuno Astasura Ratna Bhumi Banten, yang ditundukkan oleh Majapahit. Keunikan lainnya di Pura Jero Agung yakni menggunakan daging ayam yang kalah dalam sabungan (becundang).

Ditambahkan, peninggalan arkeologi yang ditemukan di situs Jero agung dan sekitarnya antara lain temuan pada masa prasejarah berupa sarkofagus yang ditemukan oleh penduduk tahun 1973 pada saat mengerjakan tanah untuk meciptakan. Temuan ini terdiri atas wadah dan tutup. Selain itu ditemukan beberapa fragmen sarkofagus lainnya. Di tahun 2002 pada sebidang tanah yang sangat dikeramatkan oleh masyarakat setempat ditemukan pecahan gerabah, keramik, struktur dan lain-lain. Temuan ini ditindaklanjuti dengan melakukan ekskavasi pada bulan Juli 2004, selama 12 hari dan berhasil membuka kotak sebanyak 10 buah.

Pada umumnya, benda-benda peninggalan purbakala yang ada di Desa Pakraman Bedulu berasal dari masa prasejarah, seperti alat-alat batu, tulang, peti batu, nekara perunggu dan sebagainya dan yang berasal dari masa sejarah atau masa klasik (masa pengaruh Hindu-Buddha) misalnya stupika dan meterai tanah liat, prasasti, arca-arca, candi dan lain-lain. Peninggalan-peninggalan ini sebagian besar ditemukan di antara Sungai Petanu dan ditempatkan di Pura-pura. (dar)
source: BP
 
[FONT=Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif]Selasa Kliwon, 27 Mei 2008[/FONT]
Forecast Denpasar* 25-30 C dan BERAWAN

Info : Kenaikan Harga BBM -> Berpengaruh pada Paket Wisata

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang mencapai rata-rata 28,7 persen berimplikasi luas. Tarif angkutan wisata di Bali juga terkena imbasnya. Dalam waktu dekat Persatuan Angkutan Wisata Bali (Pawiba) dan Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (Asita) Bali akan segera membahas rencana kenaikan tarif angkutan wisata. Diperkirakan kenaikan tarif angkutan antara 10 - 15 persen. Apa dampak ikutan dari kenaikan harga BBM?

==========================================================

WAKIL Ketua Pawiba Yus Artana mengisyaratkan, kenaikan tarif angkutan wisata di Bali antara 10 - 15 persen, sesuai dengan batas maksimal yang direkomendasikan Menteri Perhubungan. "Kami sudah menyusun usulan kenaikannya, yang dalam waktu dekat akan kami ajukan kepada mitra kami, Asita Bali," ujar Yus di Denpasar, Senin (26/5) kemarin.

Ditambahkannya, di Bali angkutan wisata terbagi menjadi dua. Untuk angkutan domestik menggunakan tarif rupiah, sementara angkutan turis asing menggunakan dolar AS. Untuk angkutan turis domestik tarifnya disepakati sesuai dengan jauh/dekat rute yang akan ditempuh serta sesuai daya muat kendaraan yang dipakai. Rencananya, tarifnya dinaikkan 10 persen.

Sementara untuk tarif angkutan turis asing menggunakan dolar AS dengan kurs antara Rp 8.500 - 9.000/dolar AS. Sebelum adanya kenaikan, untuk tarif tur full day kategori small bus tarifnya 121 dolar AS, medium bus 228 dolar AS dan big bus bertarif 285 dolar. Sesuai usulan Pawibam, tarif tiga kategori ini akan naik 15 persen.

Wakil Ketua Asita Bali Ketut Ardana mengatakan bisa memahami aspirasi Pawiba. Oleh karena itu, pihaknya masih menunggu surat resmi dari Pawiba, sehingga nanti bisa dikomunikasikan berapa kira-kira kenaikan tarif yang bisa diterima oleh semua pihak. Dia berharap kenaikan tarif angkutan wisata di Bali tidak lebih dari 10 persen.

Sambil menunggu kesepakatan yang baru mengenai tarif, Ardana meminta Pawiba agar tetap menerapkan tarif yang disepakati sebelumnya. Artinya, jangan sampai menaikkan secara sepihak. Di sisi lain, kenaikan harga BBM ini akan berpengaruh pada paket-paket wisata yang telah disepakati dengan mitra usaha di luar negeri.

Namun, Ardana mengaku tidak terlalu khawatir karena mitra usaha di luar negeri bisa memahami kondisi fluktuasi harga BBM di Indonesia. Sebab, harus jujur diakui, harga BBM di Indonesia termasuk yang paling murah di dunia. "Apalagi dalam tradisi bisnis, kami biasanya menyertakan klausul mengenai kondisi darurat, force majeur," ujar Ardana.

Yang menarik, baik Ardana maupun Artana, sepakat bahwa di atas semua itu, yang menjadi concern dari Pawiba dan Asita Bali; jangan sampai ada gelojak gara-gara kenaikan harga BBM. Bisa saja keputusan kenaikah harga BBM akan merugikan pelaku bisnis dan pekerja, tetapi kalau sampai terjadi gejolak, justru kehancuran yang dituai.

Dihubungi terpisah, Ketua DPC Serikat Pekerja Pariwisata (FSP-Par) Badung Putu Satyawira mengatakan, agar tidak terjadi gejolak, pola penyelesaian bipartit sebaiknya makin diintensifkan. Di mana pengusaha/manajemen dan wakil pekerja/serikat pekerja duduk satu meja membicarakan permasalahan yang timbul sebagai dampak kenaikan BBM. "Kondisi masing-masing perusahaan tentu berbeda, sehingga pendekatannya berbeda pula. Yang penting ada kejujuran dari masing-masing pihak," ujar Satyawira.

Kalau memang kondisi perusahaan tidak memungkinkan untuk menaikkan transportasi dan hal itu diketahui secara terbuka oleh karyawan, maka tidak mungkin dipaksakan. Barangkali alternatif lain bisa dijalankan misalnya melakukan penghematan. Di hotel, misalnya, penghematan air, listrik, gas dan pemanfaatan kembali kertas bekas untuk memo internal.

Sebaliknya, lanjut Satyawira, kalau memang kondisi keuangan perusahaan memungkinkan, maka kenaikan tunjangan transportasi bagi pekerja harus dilakukan. Apalagi secara normatif, kemungkinan peninjauan kembali uang transportasi itu telah diatur dalam dokumen Perjanjian Kerja Bersama (PKB). "Dalam salah satu klausulnya, memang kalau ada kenaikan harga BBM, maka uang transportasi ditinjau lagi," ujarnya.

Di Jakarta, Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi saat bertemu Menakertrans Erman Suparno mengimbau pengusaha di seluruh Indonesia agar segera menaikkan tunjangan pekerja. Antara lain menaikkan tunjangan makan dan transportasi sesaat setelah pemerintah mengumumkan kenaikan 28,7 persen harga bahan bakar minyak bersubsidi akhir pekan lalu.

Dalam perkenalan pengurus Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) periode 2008 - 2013 dengan Menakertrans, belum lama ini, Sofjan mengatakan pengusaha bisa memahami alasan kenaikan harga BBM bersubsidi karena membebani keuangan negara. Sebab, kalau tak kunjung dinaikkan, subsidi negara bisa mencapai ratusan trilyun rupiah.

Menakertrans mengatakan, dewan pengupahan daerah yang terdiri atas unsur pemerintah, pengusaha dan serikat pekerja akan membahas tingkat kebutuhan hidup layak (KHL) pekerja mulai bulan depan. Hasil perhitungan itu akan dipakai pemda sebagai dasar menentukan upah minimum propinsi atau kabupaten/kota. Pemerintah menginginkan tak terjadi PHK.

Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Myra Maria Hanaratani menambahkan, pemerintah tetap memegang komitmen pengusaha menambah tunjangan untuk pekerja. Sebelumnya, Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi menegaskan bahwa realisasi kenaikan tunjangan tersebut merupakan hasil negosiasi bipartit antara pengusaha dan pekerja. (gre)
source: BP
 
Maria Pecahkan Rekor ASEAN

Maria Natalia Londa berhasil memecahkan rekor ASEAN pada kejuaraan atletik junior (U-18) di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, yang berlangsung 22-23 Mei lalu. Atlet lompat jauh putri Bali itu mencatat prestasi 6 meter, melampaui rekor sejauh 5,68 meter yang sebelumnya dipegang atlet Thailand.

Maria sekaligus menyumbangkan satu-satunya medali emas bagi kontingen Indonesia. Total tuan rumah yang meraih 1 emas, 2 perak, dan 2 perunggu. ''Indonesia bercokol di urutan keempat di bawah Thailand, Malaysia, dan Vietnam,'' sebut Maria di Denpasar, Senin (26/5) kemarin.

Ia tidak turun di nomor lompat jangkit karena tidak dipertandingkan. Maria akan kembali dipanggil PB PASI guna berlaga di ajang Kejuaraan Atletik Asia Junior di Jakarta, 12-15 Juni mendatang. Lomba ini melibatkan 45 negara.

Siswi kelas II IPS-2 SMAN 2 Denpasar itu berharap bisa tampil maksimal dan tidak cedera serta mencapai puncak penampilan pada PON XVII di Kaltim. ''Saya berdoa supaya tak cedera lagi,'' jelas atlet kelahiran Denpasar pada 29 Oktober 1990 ini.

Maria tetap giat berlatih meskipun saat ini sedang menempuh ujian di sekolahnya. ''Saya harus pintar membagi waktu antara latihan dan belajar,'' katanya. (022)
source: BP
 
Kamis, 29 Mei 2008
Forecast Denpasar* 24-29 C dan BERAWAN

Info :
A.
Jelang Kongres Kebudayaan Bali : Lindungi Pertiwi Bali, Lestarikan Budaya
B. 25 PEMBICARA LOKAL TAMPIL DALAM KONGRES KEBUDAYAAN BALI

--------------
A. Jelang Kongres Kebudayaan Bali : Lindungi Pertiwi Bali, Lestarikan Budaya

Lama digagas, akhirnya Kongres Kebudayaan Bali I positif akan digelar pertengahan Juni mendatang ini. Kongres kebudayaan tersebut menurut rencana akan dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Sabtu (14/6) mendatang, beberapa jam sebelum dibukanya pawai PKB ke-30. Pembukaan kongres berlangsung di Inna Grand Bali Beach, Sanur, diikuti sekitar 400 peserta dari Bali, luar Bali dan luar negeri.
-------------

Demikian terungkap saat rapat panitia kongres di aula Dinas Kebudayaan Bali, Selasa (27/5). Panitia kongres Wayan Geriya mengatakan, peserta kongres 60 persen adalah tokoh, pakar, seniman dan budayawan Bali, 25 persen dari luar Bali (nasional) dan 15 persen dari luar negeri -- semuanya berjumlah sekitar 400 orang.

Dalam kongres itu, kebudayaan akan dibedah dari berbagai perspektif, lintas budaya, dan lintas ilmu. Dengan demikian diharapkan muncul pemikiran-pemikiran cerdas dan bernas. "Melalui kongres ini diharapkan sisi positif dan sisi buram budaya bisa dikenali, apa tantangan dan masalah yang dihadapi, kemudian dicarikan solusi. Dengan demikian budaya betul-betul membawa kemajuan adab dan persatuan, kebangkitan estetika dan budi luhur," ujar Wayan Geriya sembari menyebut budaya tidak hanya lestari, tetapi juga mesti berkembang dan ada penemuan-penemuan baru (inovasi).

Pantia lainnya, Prof. Wayan Dibia, juga mengatakan hal senada. Dikatakan, budaya Bali sudah berkembang, tidak hanya menjadi bagian dari budaya Indonesia, tetapi juga sudah mempengaruhi budaya dunia. Hal itu tampak sejak ditampilkannya Gong Peliatan di Paris tahun 1931. "Jadi, gamelan Bali juga telah mempengaruhi teater modern Barat," ujar Dibia.

Sementara Prof. Wayan Rai S. menambahkan, kearifan budaya Bali seperti sekaa gamelan sudah diadopsi oleh para seniman di Amerika.

Di sisi lain, Prof. Wayan Supartha, juga panitia kongres, berharap makin banyak kearifan budaya Bali dapat mempengaruhi pola pikir dunia -- menjadi falsafah dasar kehidupan dunia. Bali memiliki konsep penghargaan terhadap semua yang ada di muka bumi yakni sarwa prani hitang karah. Dalam memahami konsep ini, tentu tidak ada arogansi dari yang kuat terhadap yang lemah. Demikian juga konsep cecupu manik yang saling memerlukan dan bergantung. Dalam konteks kehidupan, manusia sangat bergantung pada lingkungan. Karena itu hubungan harmonis penting dijaga antara manusia dengan lingkungan.

"Dalam kongres kebudayaan nanti diharapkan muncul gagasan-gagasan cemerlang terhadap konsep-konsep yang ada untuk kepentingan global. Ada semacam letupan hati dari kongres yang dapat menggetarkan dunia," ujar Supartha sembari mengatakan, tanah-tanah Bali sudah mengalami himpitan dari serbuan vila dan bangunan lain. Karena itu perlu ada perlindungan-perlindungan terhadap pertiwi Bali, agar masyarakat bisa melestarikan budaya.

"Bagaimana kita bisa berbudaya kalau tanah Bali sudah banyak dikuasai oleh orang yang bukan krama Bali," katanya.

Kadisbud Bali Nyoman Nikanaya mengatakan dasar pembangunan Bali adalah kebudayaan, karena itu kongres ini memiliki makna strategis untuk melahirkan pemikiran-pemikiran bernas untuk melestarikan budaya Bali. Kongres berlangsung selama tiga hari hingga 16 Juni 2008. Persidangan di hari pertama dilangsungkan di Inna Grand Bali Beach dan selanjutnya di ISI Denpasar.

Banyak Terlupakan
Masih terkait soal kebudayaan, Direktur Nilai Tradisi Ditjen Nilai Budaya, Seni dan Film Depbudpar IGN Wija di Jakarta, Selasa (27/5) malah melontarkan keprihatinan bahwa nilai seni budaya Indonesia tidak tergarap dengan baik. "Bahkan, tidak sedikit nilai budaya yang tersebar di berbagai daerah sudah terlupakan. Banyak nilai budaya bangsa Indonesia terlupakan, dan itu yang menjadi prioritas kita untuk diidentifikasi," kata Wija.

Menurut Wija, upaya untuk menggali potensi nilai budaya itu akan ditingkatkan melalui internalisasi nilai budaya bangsa melalui pendidikan. Hal lain yang akan dilakukan, kata dia, meningkatkan identifikasi dan perekaman peta budaya dalam rangka pendokumentasian karya budaya bangsa.
Wija mengatakan, tahun ini pihaknya juga berupaya meningkatkan citra Indonesia di dunia Internasional melalui kegiatan promosi budaya dan pengiriman delegasi kebudayaan. Nantinya, jelas Wija, pihaknya ingin memposisikan nilai budaya sebagai acuan perilaku sehari-hari menuju kepada penguatan jati diri bangsa.

Menjawab program pengelolaan kekayaan budaya, Wija mengatakan, pihaknya akan memberikan pemahaman sejarah dan pelestarian peninggalan sejarah yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa, memperkokoh jati diri, integritas nasional dan kesejahteraan masyarakat.

Kegiatan strategis yang menjadi fokus tahun ini dalam rangka internalisasi nilai budaya kepada generasi muda, kata Wija, antara lain kegiatan perkemahan budaya se-Jawa dan Bali yang dilaksanakan di Karanganyar, Jateng dan kegiatan Gita Bahana Nusantara di Jakarta. (08/010)
source:BP
-------------------

B. 25 PEMBICARA LOKAL TAMPIL DALAM KONGRES KEBUDAYAAN BALI
formatnews-Denpasar: SEKITAR 25 pembicara lokal bersanding dengan ahli asing tampil dalam Kongres Kebudayaan Bali yang digelar saat pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-30, 14 Juni mendatang.

Kegiatan selama tiga hari, 14-16 Juni 2008 juga menampilkan tujuh pembicara nasional dan enam pembicara tingkat internasional termasuk Dirjen UNESCO Kaichiro Matsura, demikian informasi yang diperoleh ANTARA dari panitia pelaksana di Denpasar Minggu.

Pembicara lokal yang tampil dalam kongres yang rencananya dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu dibagi dalam empat bidang pembahasan.

Pembahasan yang menyangkut identitas yang meliputi agama, bahasa dan manusia Bali menampilkan tiga pembicara masing-masing Drs Ida Bagus Gede Agastia (anggota DPD-RI), Prof Dr I Gusti Made Sutjaja MA (Universitas Udayana) dan Prof Dr Ida Bagus Gunada (Universitas Hindu Indonesia).

Pembahasan menyangkut ekonomi yang meliputi pariwisata, pertanian dan lingkungan menampilkan enam pembicara semua gurubesar dari Universitas Udayana masing-masing Prof Dr Nyoman Erawan, Prof Dr I Made Sukarsa, Prof Dr I Gde Pitana, Prof Dr Dewa Suprapta, Dr Rahmanta dan Dr Wayan Suwarna.

Pembahasan tentang peradaban (arsitek, pendidikan, gender dan Pemuda) oleh Rumawan Salain, Prof Dr Dewa Komang Tantra, Prof Dr Nyoman Dantes, Dra Luh Arjani dan Sugi Lanus.

Sedangkan menyangkut hak kekayaan intelektual (HAKI) oleh Prof Dr I Made Bandem, Drs Nyoman Gunarsa, Prof Dr I Wayan Dibia, Prof Dr I Made Wianta dan Pujiati.

Hubungan internasional (Diplomasi) dibawakan oleh Drs I Gde Ardika, mantan menteri kebudayaan dan pariwisata, Prof Dr Wayan Ardika (Unud), Anak Agung Gde Rai, pemilik Museum Arma Ubud dan Dr Ketut Putra Erawan.

Lima pembicara internasional lainnya masing-masing Dr Shangkar Dhayal Dvivedi dari Uthar Prodesh University India, Prof Dr Jenskin (Amerika Serikat), Adrian Vickers (Australia), Shenji Yamasitha (Jepang) dan Dr Mark Hobart (Inggris).

Kepala Dinas Kebudayaan Propinsi Bali Drs I Nyoman Nikanaya berharap kongres kebudayaan tersebut mampu memberikan masukan dan merumuskan kebudayaan Bali dalam memasuki era global.

Seni budaya Bali selama ini menjadi salah satu daya tarik wisatawan mancanegara dalammenikmati liburan di Bali. Semakin banyaknya wisatawan datang ke Bali dikhawatirkan mempengaruhi jati diri dan kekokohan dalam melestarikan dan mewarisi seni budaya Bali.

Melalui kongres kebudayaan Bali diharapkan mampu memberikan sumbangan pemikiran untuk tetap mempertahankan kekokohan seni budaya dan jatidiri sebagai bangsa Indonesia di tengah pengaruh budaya global, harap Nikanaya. *ant*
source: formatnews
 
Sabtu, 31 Mei 2008
Forecast Denpasar* 24-29 C dan BERAWAN

Info : Kongres Kebudayaan Bali : Menguatkan Identitas dan Integritas Budaya Bali

Budhijna Pratyaspatti (Pendalaman Budaya Memupuk Semangat Kebangkitan Baru). Tema sentral itulah yang akan diusung pada Kongres I Kebudayaan Bali yang digelar 14-16 Juni 2008 mendatang. Kongres kebudayaan pertama di Bali ini dinilai sangat strategis bagi pengembangan etos kebudayaan Bali, revitalisasi pariwisata dan perekonomian masyarakat Bali, penguatan solidaritas keindonesiaan, pemantapan komunikasi antarbangsa dan percepatan pembangunan Bali ke depan.

DALAM tataran konsep, semangat yang melandasi gelaran kongres yang dirancang melibatkan 400 orang peserta dengan rincian 60 persen peserta lokal Bali, 25 persen peserta nasional dan 15 persen peserta internasional ini memang sangat mulia. Namun, kesuksesan perhelatan akbar ini tidak hanya ditakar dari guliran pemikiran-pemikiran brilian yang mengalir riuh di ruangan kongres. Namun yang terpenting, bagaimana pemikiran-pemikiran brilian itu bisa diaktualisasikan dalam bentuk aksi nyata yang konstruktif bagi upaya pelestarian dan pengembangan budaya Bali secara menyeluruh. Hasil kongres juga diharapkan mampu menginspirasi para decision maker di Bali dalam merumuskan maupun menggulirkan kebijakan-kebijakan strategis yang mampu mendongkrak kesejahteraan segenap komponen masyarakat Bali tanpa harus tercerabut dari akar dan jati diri budaya Bali.

Ditemui Jumat (30/5) kemarin, Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Propinsi Bali Drs. I Nyoman Nikanaya, M.M. menegaskan, dalam derap langkah pembangunan Bali telah ditetapkan kebudayaan sebagai potensi dasar. Dikatakan, kebudayaan Bali sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia memiliki identitas yang dikukuhkan dengan local genius yang mampu mengapresiasi beragam bentuk keberagaman. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai unsur budaya Bali yang tetap padu dengan dilandasi konsep Tri Hita Karana.

Perubahan Perilaku

Namun, kata dia, derasnya arus globalisasi yang melanda kehidupan masyarakat dewasa ini telah menciptakan perubahan-perubahan perilaku kehidupan masyarakat Bali. Kini, ada kecenderungan masyarakat Bali tidak lagi mengedepankan tata kehidupan dalam pola kebersamaan (paras paros sarpanaya - red). Namun, cenderung mengedepankan sifat-sifat individual. Terombang-ambing oleh gelombang kehidupan yang lebih mengedepankan sifat materialistis dan tata pergaulan yang mengenyampingkan moralitas. Pada saat bersamaan, muncul kelompok atau orang-orang yang dikuasai keinginan-keinginan berlebihan yang akhirnya memunculkan keserakahan yang tidak terkendali. Nilai-nilai agama yang dikemas dalam etika seperti dharma, satya, tri hita karana dan kearifan lokal lainnya seperti mengalami kevakuman makna.

Dalam kondisi seperti ini, tegasnya, kebudayaan Bali dihadapkan dengan berbagai tantangan. Alam dan masyarakat Bali dihadapkan pada realita penyempitan lahan, penyerobotan hutan, pemadatan ruang, waktu dan informasi, masalah kependudukan, aktivitas ekonomi dan politik praktis dengan beban populasi, polusi, eksploitasi dan komersialisasi. Kesenjangan antara konsep filosofis dan aktualisasi dalam tataran kehidupan sehari-hari makin melebar. Kesenjangan antara teks dan konteks, tataran ideal dan perilaku makin menjauh. Hal ini diindikasikan oleh makin bopengnya alam lingkungan Bali makin terusiknya kesucian pura dan jagat Bali serta pelecehan nilai-nilai Tri Hita Karana.

'Itulah gambaran Bali dewasa ini. Menyikapi situasi dan kondisi masyarakat dan budaya Bali seperti itu, dipandang perlu dan sangat mendesak untuk menghimpun pemikiran-pemikiran yang positif dan konstruktif dalam suatu forum bernama Kongres Kebudayaan Bali ini. Kami berharap, kongres yang baru pertama kali digelar ini bisa menjadi ajang yang representatif untuk dialog lintas budaya dan media efektif untuk komunikatif antarilmuwan, budayawan, seniman, birokrat, politisi, pemangku budaya dan segenap komponen masyarakat lainnya guna pendalaman budaya Bali untuk kepentingan teoritik, perencanaan dan aplikasi,' katanya dan menambahkan, berangkat dari kegelisahan itu Kongres I Kebudayaan Bali itu digelar.

Tiga Tujuan Utama

Mantan Kepala Taman Budaya Bali ini menambahkan, paling tidak ada tiga tujuan utama yang dibidik dari gelaran kongres selama tiga hari tersebut. Pertama, mengembangkan dialog budaya secara lokal, nasional dan internasional untuk membangkitkan kembali kesadaran, empati dan apreasiasi para budayawan, seniman, ilmuwan, peneliti, birokrat, praktisi dan pemangku kebudayaan Bali sebagian bagian kebudayaan Indonesia dan dunia. Sinergi dialog diharapkan mampu menemukan keunggulan untuk bangkit dan meningkatkan kontribusi modal budaya bagi kemanusiaan, kesejahteraan dan peradaban. Kedua, mendiskusikan secara kritis eksistensi sistemik unsur-unsur budaya tangible dan intangible terkait dengan upaya penggalian, pelestarian dan pengembangan kebudayaan dalam konteks komunikasi lintas sektor, lintas budaya dan lintas bangsa.

"Yang terpenting lagi, kongres ini juga dijadikan ajang untuk merumuskan skema rencana aksi, program strategis dan politik kebudayaan dalam format visi kebudayaan Bali 2003," paparnya panjang lebar.

Nikanaya berharap Kongres I Kebudayaan Bali itu tidak sekadar menghasilkan tumpukan kertas kerja tanpa makna. Namun, benar-benar bermakna strategis bagi penemuan kembali dan penguatan identitas serta integritas kebudayaan Bali yang dapat ditujukan 'ke dalam' (krama Bali) sebagai unsur perekat dan kebanggaan. Sedangkan 'ke luar' (Indonesia dan internasional) ditujukan untuk menanamkan, mengembangkan dan memantapkan citra. Tak kalah pentingnya, perhelatan yang dijadwalkan dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini mampu menyegarkan dan merevitalisasi kearifan lokal dan taksu Bali guna menggerakkan etos dan semangat menuju kebangkitan baru yang lebih mencerahkan, mendamaikan dan menyejahterakan.

"Pokoknya, banyak sekali harapan besar yang digantungkan dari penyelenggaraan Kongres I Kebudayaan Bali ini. Kami juga berharap kegiatan ini berkelanjutan. Ada Kongres Kebudayaan Bali II, III, IV dan seterusnya," katanya seraya berharap forum ini dimanfaatkan sebagai ajang mengevaluasi, instrospeksi dan ekstrospeksi guna menemukan kembali identitas, esensi nilai-nilai luhur kebudayaan, etos budaya sebagai modal, unggulan dan potensi pembangunan masa depan yang lebih baik.

Segala Aspek

Kasubdin Kesenian Disbud Propinsi Bali I Made Santha, S.E., M.Si. yang mendampingi Nikanaya menambahkan, upacara pembukaan Kongres Kebudayaan Bali akan dilaksanakan di salah satu hotel berbintang di kawasan Sanur yang dilanjutkan dengan sidang pleno I. Selanjutnya, seluruh persidangan akan digelar di gedung Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang dikelompokkan ke dalam lima panel. Panel I (Budaya Bali, Identitas dan Etos Budaya) akan difokuskan pada elaborasi Tri Hita Karana yang mencakup pembangunan spiritualitas (agama), lingkungan dan manusia. Panel II (Budaya Pengembangan Ekonomi dan Pariwisata) difokuskan pada kaitan resiprositas antara kebudayaan, modal budaya dan penguatan sektor pariwisata, pertanian dan industri kerajinan dalam basis ekonomi kerakyatan. Panel III (Budaya dan Penguatan Peradaban) difokuskan pada hubungan fungsional antara kebudayaan dengan pilar-pilar peradaban yang mencakup etika, hukum, sains, sastra, pendidikan, keamanan, gender, politik dan teknologi. Panel IV (Budaya, Seni, Heritage dan HaKI) terfokus pada kreasi seni, inovasi, konservasi pelestarian heritage sampai dengan hak kekayaan inteltual (HaKI). Sedangkan Panel V (Budaya, Hubungan Antarbangsa dan Diplomasi) akan difokuskan pada hubungan antaretnis, antaragama dan antarbangsa dalam basis multikultural dan universialisme.

"Intinya, kami akan mengupas kebudayaan Bali dari segala aspek. Pada Kongres Kebudayaan Bali ini, kami juga mengundang banyak sekali pembicara dari luar Bali dan luar negeri yang berkompeten di bidangnya. Kehadiran mereka dinilai sangat strategis guna mengkritisi secara jujur terkait warna perjalanan budaya Bali dewasa ini dari kacamata orang luar. Apakah budaya kita masih mampu menggetarkan kekaguman di hati mereka atau justru sebaliknya, pandangan mereka memang sangat pantas disimak dalam konteks kebangkitan kembali budaya Bali. Terkadang, kritik memang terdengar pahit. Tetapi, hal itu justru membuat kita makin terpacu untuk membenahi diri," tegasnya. * w. sumatika
source: BP
 
halo member IF di Bali....
silakan bergabung di sini menemani goesdun, jika sudah ramai akan sy ajukan dibuatkan Regional Bali.
Nah jangan segan-segan, mari bergabung disini meramaikan Regional Bali /go
 
halo member IF di Bali....
silakan bergabung di sini menemani goesdun, jika sudah ramai akan sy ajukan dibuatkan Regional Bali.
Nah jangan segan-segan, mari bergabung disini meramaikan Regional Bali /go

mungkin lagi pade sibuk menjelang Pilkada....madak sing ulihan Koh...:-S

sampunan sungkan :-O, ngiring sarengin mabligbagan ring genah becik puniki. Suksma !~O)
 
Rabu, 04 Juni 2008
Forecast Denpasar* 24-29 C dan BERAWAN

Info : Serangan Tikus Mengganas di Tabanan

Puluhan hektar tanaman padi, palawija, sayuran maupun bunga diserang hama tikus di daerah Dukuh, Buahan, Kebontingguh Denbantas, Tabanan dan di Kecamatan Marga. Hal itu membuat warga sekitar resah karena terancam gagal panen dan menimbulkan kerugian tidak sedikit.

Warga sekitar baru melakukan upaya penanggulangan sendiri-sendiri namun sejauh ini belum berhasil dan melaporkan kepada pekaseh setempat serta petugas penyuluh lapangan (PPL).

Beberapa warga di Subak Dukuh dan daerah Kebontingguh, Tabanan mengaku hama tikus secara ganas telah menyerang padi dan tanaman mereka sejak seminggu belakangan. Seorang petani di Kebontingguh mengeluhkan sayuran hijau siap panen direbahkan hama tikus. Selain itu, tikus juga menyerang beberapa jenis bunga yang ditanam oleh warga setempat. Warga menyatakan sekitar 45 hektar sawah di Subak Dukuh telah diserang tikus sejak seminggu belakangan. 'Bukan hanya padi yang diserang tetapi juga sayur hijau dan bunga. Kami masing-masing telah melakukan upaya penanggulangan, tetapi belum berhasil,' ujar I Nyoman Daryasa (45) petani setempat.

Sementara Men Suli yang memiliki sawah sekitar 30 are di Subak Dukuh mengaku baru menanam padi sekitar seminggu, tetapi telah diserang tikus dengan ganas. Warga asal Kebontingguh ini mengaku telah mencoba berbagai cara tetapi serangan tikus belum juga berakhir. Tikus juga secara luas menyerang padi di Kecamatan Marga.

Ketua Sabhantara Pekaseh Tabanan I Wayan Sukanada, Selasa (3/6) kemarin, membenarkan sekitar seratus hektar padi di Kecamatan Marga yang tersebar di berbagai subak diserang hama tikus. Bahkan, padi yang siap panen juga turut diserang. 'Demikian pula yang mulai menguning dan berumur 50 hari. Masyarakat sangat resah dengan kejadian ini karena terancam gagal panen,' ujarnya.

Serangan paling ganas, kata dia, Marga daerah utara. Sekitar 20 hektar terserang. Serangan tikus yang mengancam gagal panen ini, kata Sukanada, telah dilaporkan ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tabanan yang membawahi subak serta berkonsultasi dengan Puri Agung Tabanan. Sesuai dengan arahan dari Puri Tabanan, krama subak disarankan untuk melakukan aci dan nunas ica (upacara dan persembahyangan) di Pura Luhur Pekendungan. 'Kami telah meminta bantuan Disbudpar Tabanan untuk memfasilitasi, tetapi hingga hari ini (kemarin) belum ada kepastian. Kami juga akan menggalang krama subak untuk nunas ica dan melakukan upaya niskala,' terang Sukanada. (kmb14)
source: BP
 
Jumat, 06 Juni 2008
Forecast Denpasar* 24-29 C dan BERAWAN

Info : Festival Layang-layang untuk Perdamaian

Memeriahkan HUT ke-50 Pemprop Bali dan HUT ke-63 NKRI, Persatuan Layang-layang Indonesia (Pelangi) Daerah Bali menggelar Bali and International Kite Festival (BIKF) 2008. Kegiatan ini mengangkat tema 'Terbang untuk Perdamaian (Flying for Pecae)' dan dipusatkan di pantai Padanggalak, Denpasar dari 10 - 13 Juli 2008. Lebih dari 1.000 sekaa dari seluruh Bali akan menampilkan karyanya untuk memperebutkan Piala Gubernur Bali.

Usai menghadap Gubernur Bali Dewa Beratha, Kamis (5/6) kemarin di Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Ketua Pelangi Bali IGP Rai Andajana mengemukakan, penyelenggaraan BIKF tahun ini telah memasuki tahun ke-30. Selain peserta lokal, peserta dari Eropa seperti Inggris, Jerman, Prancis dan Belanda telah memastikan ambil bagian. Dari Asia, pencinta layang-layang Cina Taipei, Jepang, Malaysia, India dan Korea juga telah memastikan ikut. Sementara dari Amerika telah memastikan peserta dari Amerika Serikat dan Brazil. Tema terbang untuk perdamaian dipilih karena BIKF memiliki relevansi dengan program Visit Indonesia Year 2008.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, BIKF 2008 melombakan jenis layang-layang tradisional dan kreasi baru. Yang berbeda adalah, jika pada lomba sebelumnya peserta hanya kelompok dewasa, tahun ini juga diperuntukkan bagi kelompok pelajar SD dan SLTP. 'Ini pertama kali dilakukan dengan maksud regenerasi dan pembinaan,' urai Andajana seraya menjelaskan peserta propinsi lain serta asing tidak diikutkan dalam lomba karena mereka hanya ikut ekshibisi.

Panitia lomba menetapkan sejumlah kriteria untuk layang-layang tradisional dan kreasi baru. Untuk layang-layang tradisional, bentangan sayap minimal 1,5 meter dan maksimal 2 meter untuk anak-anak. Untuk dewasa bentang sayap minimal 4 meter dan maksimal 5 meter. Khusus jenis Janggan, bentang sayap boleh melebihi 5 meter. Warna dibatasi merah, putih, hitam dan kuning atau diambil di antara warna-warna tersebut.

Sementara panjang tali penarik maksimal 500 meter, badan bambu, penukub kain atau parasut, penarik minimal 15 orang, konstum pakaian adat madya, bentuk (bebean, pecukan dan janggan), guwangan dewasa dari penyalin dan khusus pecukan boleh daun lontar, sedangkan anak-anak bebas. Peserta boleh menggunakan teknologi knock down tetapi kerangkanya harus dari bambu.

Untuk kreasi baru panitia hanya menetapkan panjang tali maksimal 500 meter, kostum adat madya dan bentuk ditekankan pada ide dan kreativitas antara lain bentuk dimensi, bentuk datar dengan beban dan bentuk datar tanpa beban.

Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, peserta dilarang memakai baju atau atribut partai politik tertentu. Bila melanggar dilarang mengikuti lomba. Penggunaan pakaian sponsor harus seizin panitia. Hadiah yang diberikan berupa uang tunai dan trofi untuk juara I, II dan III layang-layang tradisional dan layang-layang kreasi, serta piala bergilir untuk layang-layang tradisional. Pengumuman pemenang disampaikan melalui media cetak dan penyiaran.

Pendaftaran peserta dibuka sejak 2 Juni - 5 Juli 2008 di Museum Sidik Jari, Jalan Haram Wuruk, Denpasar dengan biaya Rp 50 ribu untuk anak-anak dan Rp 75 ribu untuk dewasa. Setiap peserta akan mendapatkan satu nomor undian doorprize dengan hadiah utama sebuah sepeda motor. (r/*)
source: BP
 
Selasa, 10 Juni 2008
Forecast Denpasar* 24-29 C dan BERAWAN

Info : Konsorsium Malaysia Bangun Jalan Layang di Kuta dan Tuban

Konsorsium Malaysia mengajukan proposal untuk membangun jalan tol Denpasar-Nusa Dua sepanjang 7,5 km melintas di atas permukaan laut Tanjung Benoa. Selain itu, juga diajukan usul tambahan, yakni membangun fly over atau jalan layang di dua tempat. Satu di persimpangan Dewa Ruci, Kuta, satunya lagi di persimpangan Patung Ngurah Rai, Tuban.

Hal tersebut disampaikan Direksi Konsorsium Malaysia yang menghadap Gubernur Bali Dewa Beratha, Senin (9/6) kemarin. Direksi konsorsium adalah Datuk Khalid didampingi istrinya penyanyi kondang Siti Nurhalisa dari Gridcomm Shd. Bhd. dan Zaidun Leeng dari Isyoda Corporation Bhd.
Gubernur Dewa Beratha didampingi Kepala Bappeda Bali Wayan Subagiarta, Kadis PU Nyoman Sudiana, Kadisparda Bali Gede Nurjaya, dan Karo Humas dan Protokol I Nyoman Puasha Aryana.

Dewa Beratha mengapresiasi kedatangan konsorsium ini. Ia menjelaskan lalu lintas kendaraan bermotor jurusan Denpasar-Nusa Dua saat ini sangat padat dan rawan kecelakaan. Jika dalam lima tahun ke depan jalur yang ada sekarang tidak dikembangkan, pemerintah khawatir kemacetan serius akan benar-benar terjadi sehingga kegiatan kepariwisataan dan kegiatan ekonomi masyarakat Bali selatan terganggu.

Melihat kenyataan ini, Dewa Beratha berupaya keras mencari jalan keluar, salah satunya mengundang investor asal Malaysia untuk memikirkan alternatif pemecahan. Upaya Gubernur ini mendapat respons positif dari konsorsium Malaysia.

Di hadapan Gubernur, konsorsium ini memaparkan hasil kajian mereka untuk membantu Pemprop Bali mengatasi kemacetan lalu lintas jalur wisata Denpasar-Nusa Dua yang mereka namakan Proposed Bali Higway.

Dalam proposalnya, mereka menawarkan perlunya Pemprop Bali melakukan pembangunan jalur total baru yang melintas di atas permukaan laut Tanjung Benoa. Jalur ini menghubungkan langsung Denpasar - Nusa Dua sepanjang 7,5 km dan tidak melewati jalur Denpasar - Kuta - Nusa Dua saat ini. Mereka juga mengajukan usul perlunya pembangunan jalur baru yang menghubungkan langsung Bandara Ngurah Rai - Nusa Dua sepanjang 4,5 km, juga di atas permukaan laut.

Jalan tol yang dibangun terdiri dari empat ruas untuk kendaraan roda empat. Dua jalur ke selatan dan duanya lagi ke utara. Di samping jalur kendaraan akan dibangun jalur khusus sepeda motor, serta jalur bagi pejalan kaki dan penghobi olah raga jogging.

Agar kelancaran lalu lintas di keseluruhan Jalan By-pass Ngurah Rai terwujud, konsorsium juga mengajukan usul tambahan, yakni membangun fly over atau jalan layang di dua tempat. Satu di persimpangan Dewa Ruci, Kuta dan satunya lagi di persimpangan Patung Ngurah Rai, Tuban.

Dua Opsi
Untuk mengimplementasikan proyek ini, konsorsium mengajukan dua opsi kepada Pemprop Bali. Pertama, melaksanakan proyek dengan konsesi pengelolaan jalan tol oleh konsorsium untuk jangka waktu 35 tahun di mana seluruh hasil pungutan tol dikelola konsorsium. Untuk ini, konsorsium akan membangun lima tol plaza, yakni tiga di jalur baru sepanjang Tanjung Benoa dan dua di jalur lama By-pass Ngurah Rai. Untuk opsi pertama ini, total biaya pembangunan belum termasuk pembebasan lahan tetapi sudah termasuk pembangunan kedua ruas tol Rp 4,102 trilyun.

Opsi kedua, melaksanakan proyek dengan dana sepenuhnya ditanggung Pemprop Bali dan konsorsium hanya bertindak sebagai kontraktor. Untuk ini, biaya pembangunannya lebih kecil dari opsi pertama, yakni Rp 3,775 trilyun.

Selain keuntungan mengurangi kemacetan, apabila usulan ini terwujud, waktu tempuh Denpasar - Nusa Dua yang kini satu jam bisa dihemat menjadi hanya 10 menit. Sedangkan waktu tempuh Tuban - Nusa Dua yang kini sekitar 15-30 menit bisa disingkat menjadi hanya 5 menit.

Datuk Khalid mengemukakan, meskipun secara teknis proyek ini bisa dilaksanakan, namun berdasarkan hasil kajian pihaknya, pembangunan tol Denpasar - Nusa Dua tidak menguntungkan secara komersial disebabkan tingginya biaya pembangunan dan rendahnya revenue dari pungutan tol. Untuk menjadikan proyek menguntungkan, konsorsium mengusulkan agar Pemprop Bali memberikan insentif atau bantuan meliputi kompensasi dalam bentuk tanah, hak eksklusif untuk melaksanakan pembangunan di Tanjung Benoa - Nusa Dua, subsidi pungutan tol serta konsesi batu dan pasir. (r/027)

source: BP
 
Kamis, 12 Juni 2008
Forecast Denpasar* 24-29 C dan BERAWAN

Info : 3.600 Guru akan Pensiun, 2010 Dikhawatirkan Sekolah Kekosongan Guru


Kepala Dinas Pendidikan Bali, TIA Kusuma Wardhani, S.H.,M.M., mengungkapkan sekitar 3.600 guru di Bali akan pensiun hingga 2010. Menanggapi kondisi itu pengamat pendidikan yang juga pimpinan LPTK masing-masing Rektor IKIP PGRI Bali Drs. Redha Gunawan, M.M., dan Dekan FKIP Unmas, Drs. I Wayan Suandhi, M.Pd. mengaku khawatir jika tak segera diisi sejumlah sekolah akan kekosongan guru.

Redha Gunawan, Rabu (11/6) kemarin mengungkapkan kekosongan guru paling banyak terjadi di SD dan TK. Guru angkatan 1960-an yang diangkat massal setelah G-30S/PKI segera menjalani masa pensiun. Ia berharap pemkab dan pemprop untuk segera mengangkat dan melakukan perekrutan lulusan LPTK (IKIP dan FKIP) mulai sekarang secara bertahap guna menghindari terjadinya kekosongan secara drastis.

Ia mengatakan di Bali ada sekitar LPTK di antaranya IKIP PGRI Bali, Undiksha, IKIP Saraswati Tabanan, FKIP Unmas dan FKIP Undwi yang mencetak calon guru. Jika rata-rata mereka menamatkan 300 guru/tahun, berarti LPTK mampu mensuplai 1.500 guru/tahun. Dalam waktu tiga tahun keperluan guru ini baru bisa terpenuhi ditambah dengan lulusan LPTK yang belum menjadi PNS. 'Ya, kalau tak dari sekarang diisi, 2010 bisa terjadi satu sekolah hanya memiliki satu guru,' ujarnya.

Untuk mengisi guru SMP, SMA/SMK, kata Redha Gunawan, tak masalah karena lulusan LPTK banyak yang berkualitas. Khusus untuk calon guru SMK, pemerintah bisa mengambil lulusan program akta mengajar IV.

Hal ini dibenarkan Wayan Suandhi karena lulusan akta mengajar IV yang berasal dari sarjana non-keguruan, sangat unggul dalam materi. Mereka pun sudah memenuhi syarat minimal menjadi guru lengkap dengan delapan kompetensi guru. Misalnya, lulusan S-1 teknik dan elektro pas untuk SMK berbasis TI, lulusan S-1 pariwisata cocok di SMK pariwisata dan seterusnya. Apalagi di Bali hingga kini tak memiliki LPTK yang mencetak calon guru SMK.

Wayan Suandhi mengungkapkan jika semua LPTK mencetak 400 calon guru tiap tahun barulah kekurangan guru hingga 2010 itu bisa terpenuhi. Makanya ia sepakat jika pemerintah daerah mulai sekarang mengangkat guru menjadi PNS atau mengangkat guru bantu secara bertahap. Guru bantu ini ke depan bisa diangkat menjadi PNS. 'Jika tidak, 2010 akan terjadi kekosongan guru hampir di semua sekolah,' ujarnya.

TIA Kusuma Wardhani dalam sambutan tertulisnya dibacakan Drs. Ketut Astika saat acara yudisium akta mengajar FKIP Unmas belum lama ini mengungkapkan guru yang pensiun hingga 2010 ini mencapai 3.600 orang. Dengan makin banyaknya sarjana non-keguruan mengikuti program akta mengajar menunjukkan minat masyarakat menjadi guru makin tinggi. Apalagi profesi ini makin bergengsi. (025)
source: BP
 
Kunjungan Wisman Didominasi FIT

Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia masih didominasi oleh wisatawan kategori Free Individual Traveler (FIT). Pada tahun 2007, misalnya, dari 5,5 juta wisman yang mengunjungi Indonesia, 84,61 persen atau sekitar 4.653.550 orang di antaranya merupakan FIT, sementara sisanya 846.450 orang merupakan wisatawan yang datang secara bergrup.

Demikian dikemukakan Kepala Pusat Pengelolaan Data dan Sistem Jaringan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Drs. Harry Waluyo, M.Hum. di Denpasar, belum lama ini. Pernyataan ini disampaikan terkait Pendataan Profil Wisatawan Mancanegara yang disurvai melalui kedatangan penumpang pesawat yang masuk melalui di bandar udara (Passenger Exit Surver -- PES).

Dijelaskannya, berdasarkan hasil pendataan profil wisman 2007, diperoleh pengeluaran wisatawan per kunjungan sekitar 970,98 dolar AS atau sekitar Rp 8,93 juta. Hal ini memperlihatkan rata-rata pengeluaran wisman dalam tiga tahun terakhir mengalami peningkatan. Sementara rata-rata lama tinggal (lenght of stay) wisman sepanjang tahun 2007 sekitar 9,02 hari.

Khusus mengenai lama tinggal, kata Harry Waluyo, mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan antara lain oleh trend pariwisata global yang cenderung melakukan short trip. Pola ini terjadi karena dipengaruhi oleh kondisi keamanan global yang cenderung memburuk, terutama sejak mencuatnya berbagai aksi terorisme di berbagai belahan dunia, khususnya di Amerika dan Bali.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Dr. Rusman Heriawan menegaskan, sektor pariwisata dari tahun ke tahun akan makin diandalkan. Rusman mengungkapkan, pada tahun 2006 sektor pariwisata menempati urutan keenam sebagai penyumbang devisa. Sementara tahun lalu, naik ke posisi kelima. Dia merinci, pada tahun 2006 posisi teratas ditempati migas dengan devisa 21,2 milyar dolar AS, disusul pakaian jadi 5,6 milyar dolar AS, karet olahan 5,5 milyar dolar AS, minyak sawit 4,8 dolar AS, elektronik dan pariwisata sama-sama 4,4 milyar dolar AS.

Sementara tahun 2007, posisi pertama masih ditempati minyak dan gas dengan devisa 22,1 milyar dolar AS. Posisi kedua disalip CPO dengan kontribusi 7,9 milyar dolar AS dan karet olahan 6,2 milyar dolar AS. Sementara pakaian jadi yang pada tahun sebelumnya menduduki posisi kedua melorot ke posisi keempat. Lantas pariwisata menempati posisi kelima dengan devisa 5,3 milyar dolar AS.

Dengan melihat struktur ekspor Indonesia, Rusman optimis pariwisata yang kerap disapa sebagai industri tanpa cerobong asap ini makin mengkilap di tahun-tahun mendatang. Oleh karena itu, dia berharap seluruh komponen pariwisata Indonesia harus menyadari ini, terutama pemerintah, kalangan industri dan masyarakat. Sebab, bagaimana pun multiplier effect dari sektor pariwisata sangat luas. (056)
source: BP
 
Sabtu, 14 Juni 2008
Forecast Denpasar* 24-30 C dan BERAWAN

Info :
Bali Gagal Laksanakan Program Sejuta Rumah

Program sejuta rumah yang dicanangkan pemerintah pusat diprediksi akan sulit dilaksanakan di Bali. Bahkan, sampai saat ini belum satu pun data terealisasinya program tersebut. Wakil Ketua DPD REI (Real Estate Indonesia) Bali Ir. Wayan Suantra mengatakan hal itu, Jumat (13/6) kemarin, menanggapi pelaksanaan program tersebut.

Dikatakannya, harga tanah yang masih sangat mahal serta adanya kenaikan harga material bangunan membuat pengembang di Bali sulit membangun rumah dengan tipe sederhana. Apalagi pusat mematok harga rumah bersubsidi Rp 55 juta. 'Jelas dengan nilai tersebut tak mungkin bisa dikerjakan,' tegas pengembang dengan bendera Nuansa Bali Utama ini.

Karena itu, program pembangunan sejuta rumah sederhana (RSh) yang dicanangkan pusat sampai sekarang ini belum bisa direalisasikan. 'Data yang ada pada kami untuk program itu sampai saat ini masih kosong alias nol,' tambahnya.

Meski demikian, Suantra mengatakan bukan berarti program itu tak bisa direalisasikan sepanjang ada kebijakan khusus yang diberlakukan. Kebijakan tersebut selain mengubah patokan harga rumah bersubsidi sesuai kondisi wilayah, seperti Bali setidaknya Rp 75 juta, juga dengan dukungan fasilitas oleh daerah.

Menurutnya, salah satu komponen biaya tinggi yang dihadapi pengembang saat ini adalah pengadaan fasilitas jalan, air dan listrik yang masih cukup mahal. 'Ini bebannya ke konsumen, sehingga harga rumah sederhana itu jadi tinggi,' jelasnya.

Kalau saja komponen ini bisa dibantu pemerintah alias dibebaskan, peluang bagi pengembang untuk membangun rumah sederhana itu akan besar. Ditanya kemungkinan menekan biaya dengan menghemat di konstruksi sebagaimana diembuskan pusat, Suantra mengatakan sangat sulit dilakukan dalam artian risikonya tinggi. 'Bermain di konstruksi sangat berbahaya. Apalagi untuk rumah sederhana yang memang kondisinya sudah sangat sederhana. Beda dengan rumah mewah yang masih mungkin dihemat,' tambahnya.

Menyinggung adanya kerja sama REI dengan PLN soal pengadaan listrik ke perumahan khususnya untuk kebutuhan 450 kWh, Suantra mengakui MoU sudah diteken pusat yang melibatkan Menteri Perumahan, Dirut PLN dan Ketua Umum REI. Namun pelaksanaan di lapangan masih banyak kendala. 'Perlu ada kajian lagi dari kerja sama itu agar bisa direalisasikan,' tambah salah seorang mitra PLN ini. (031)
source : BP
 
Presiden Resmikan Tujuh Proyek Infrastruktur di Bali

TANDA16.gif


Tujuh proyek infrastruktur di Bali, Sabtu (14/6) lalu diresmikan Presiden RI Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono. Selain peresmian proyek-proyek pekerjaan umum di Propinsi Bali, juga dilakukan Penyerahan Bantuan Langsung PNPM Mandiri dan Kredit Usaha Rakyat di lokasi proyek DSDP Suwung, Denpasar.

Dari ketujuh proyek infrastruktur yang diresmikan Presiden, enam di antaranya merupakan proyek Departemen Pekerjaan Umum. Meliputi proyek pengamanan pantai Nusa Dua, pengamanan pantai Sanur dan Padanggalak, pembangunan jaringan irigasi berkelanjutan di Buleleng dan Karangasem, perbaikan jaringan irigasi terdesentralisasi di wilayah timur Indonesia (Buleleng, Karangasem dan Jembrana), Denpasar Sewerage Development Project (DSDP) dan pembangunan Trash Rack Tukad Badung dan Tukad Mati. Sementara satu proyek lagi yakni pembangunan Gelanggang Olah Raga Lila Bhuana merupakan proyek Pemerintah Propinsi Bali.

Dalam sambutannya, Presiden Yudhoyono merespons positif hadirnya ketujuh proyek infrastruktur di Bali tersebut. Presiden mengatakan, peningkatan di bidang pembangunan infrastruktur memiliki pengaruh dalam kaitannya meningkatkan daya saing perekonomian bangsa, khususnya daerah. Khusus di Bali, pembangunan infrastruktur erat kaitannya dengan sektor kepariwisataan sebagai tumpuan ekonomi. Daya saing Bali sebagai pusat kepariwisataan dunia diharapkan akan makin meningkat dengan tersedianya infrastruktur daerah yang memadai.

Selain meningkatkan daya saing, pembangunan infrastruktur juga berkaitan dengan penyerapan tenaga kerja dalam hubungannya menanggulangi angka kemiskinan. 'Infrastruktur pengamanan pantai, misalnya, tidak hanya untuk menahan abrasi, juga untuk mengamankan kegiatan ekonomi masyarakat sekitar pantai,' kata Presiden.

Gubernur Bali Dewa Made Beratha mengungkapkan, ketujuh proyek tersebut menelan dana keseluruhan Rp 937.849.961.000. Dana yang dipergunakan bersumber dari APBN, APBD serta pinjaman dari negara Jepang. Khusus DSDP, Dewa Beratha memaparkan, proyek yang dibangun dengan dana Rp 512,9 milyar lebih ini merupakan terobosan agar lingkungan alam Bali tetap bersih, sehat dan nyaman. Pembangunan sistem pengelolaan air limbah ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan perairan dalam kaitannya mengurangi pencemaran pada air permukaan dan air tanah. Sebagai daerah tujuan pariwisata internasional, maka sudah sepantasnya pembangunan sektor ini di Bali menjadi prioritas, guna meningkatkan citra pariwisata Bali di dunia internasional.

Sementara itu, erat kaitannya dengan Tahun Sanitasi Internasional, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto menyatakan saat ini kondisi sanitasi di Indonesia masih memprihatinkan. Penanganan air limbah sebagian besar masih menggunakan sistem penanganan rumah tangga seperti septic tank. Kondisi ini, seiring berkembangnya penduduk akan sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat. 'Makanya penanganan limbah lewat pipa semacam ini harus dilakukan,' ujarnya.

Acara peresmian oleh Presiden tersebut juga dihadiri sejumlah anggota DPR-RI, para menteri Kabinet Indonesia Bersatu, dan Duta Besar Jepang untuk Indonesia Kojiro Shiojiri. Selain meresmikan tujuh proyek tersebut, Presiden juga meninjau realisasi PNPM Mandiri dan menyaksikan penyerahan secara simbolis kredit usaha rakyat kepada para debitor di Propinsi Bali. Di pengujung acara, rombongan diajak meninjau langsung keberadaan proyek DSDP. (ded/*)
source: BP
 
Kondisi Perekonomian Bali Triwulan Pertama

Pariwisata Membaik, Ekspor Terpuruk

Pertumbuhan pariwisata Bali dalam tiga bulan pertama di tahun 2008 cukup menggembirakan. Sampai dengan Maret, wisman yang berkunjung ke Bali telah mencapai 447.566 orang atau meningkat sekitar 29,16% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Di balik membaiknya pariwisata, ternyata kinerja ekspor Bali menurun. Lalu, apa yang menjadi peluang tantangan dan jalan keluar untuk menuju pertumbuhan ekspor? Berikut rangkuman data yang dituangkan dalam buku Indikator Perekonomian Bali Triwulan I 2008 yang dikeluarkan bunk Indonesia.

MENURUT laporan triwulan BI Denpasar, meningkatnya jumlah kunjungan wisman menunjukkan makin tingginya kepercayaan dunia internasional akan situasi Bali akhir-akhir ini. Kendati jumlah tamu meningkat, namun rata-rata lama menginap tidak menunjukkan perubahan dibanding tahun sebelumnya yaitu berkisar 3,65 hari. Namun, permasalahan yang dihadapi terkait lama tinggalnya wisman tidak hanya terbatas pada menurunnya minat wisman untuk menginap lama di Bali, juga dipengaruhi oleh makin banyaknya destinasi pariwisata baru sebagai saingan.

Disebutkan pula, memasuki tahun 2008 melambatnya ekonomi global terutama negara-negara tujuan ekspor seperti Amerika Serikat telah memunculkan kekhawatiran akan melemahnya kinerja ekspor Bali.

Penurunan nilai ekspor Bali terlihat pada dua bulan pertama tahun 2008. Nilai ini turun secara signifikan dibandingkan pada bulan yang sama tahun sebelumnya. Pada dua bulan pertama tersebut, nilai ekspor Bali hanya 47.509.903 dolar AS, turun 10,37% dari periode sebelumnya yang mencapai 53.005.242 dolar AS. Meskipun demikian nilai ekspor Bali untuk bulan Februari 2008 mengalami peningkatan menjadi 24.937.034 dolar AS dibandingkan bulan Januari 2008 yang hanya mencapai nilai 22.572.869 dolar AS.

Penurunan nilai ekspor Bali pada dua bulan pertama tahun 2008 ini dominan disebabkan menurunnya permintaan dari dua negara yang selama ini menjadi pangsa utama yaitu Jepang dan Amerika Serikat. Di samping mengalami penurunan nilai, ke-2 negara tersebut juga mengalami penurunan pangsa terhadap total ekspor Bali.

Kendati nilai ekspor Bali mengalami penurunan, namun neraca perdagangan Propinsi Bali untuk dua bulan pertama masih menunjukkan hasil positif. Nilai impor Bali pada dua bulan pertama hanya sebesar 7.424.647 dolar AS. Dengan demikian neraca perdagangan Bali mencapai surplus sekitar 40.085.256 dolar AS. Namun pemerintah jangan berpuas diri karena tidak selamanya impor dengan nilai kecil itu bagus. Dalam mengkaji kinerja impor, kita juga harus bisa melihat produk yang diimpor. Jika itu barang modal, maka akan memberi pengaruh yang positif bagi kinerja perekonomian ke depan, namun sebaliknya, apabila barang yang diimpor sebagian besar merupakan barang konsumsi, maka pengaruhnya terhadap perekonomian akan tidak terasa. (kmb24/*)
source: BP
 
Bahasa Bali dan Kongres Kebudayaan Bali

POLITIK Kebudayaan Nasional hingga kini masih gamang karena masih berupa butir-butir rekomendasi dari beberapa kali hasil Kongres Kebudayaan Nasional. Sebagai akibatnya, kegamangan berlanjut pada kongres seperti itu di tingkat daerah karena ketiadaan acuan-acuan kebijakan yang mengikat antara pemikiran kedaerahan dan kenasionalan.

Dengan ketiadaan pengikatan ini, jalur bolak-balik antara kebijakan nasional dan daerah akan sangat tidak jelas arah untuk tujuan yang diharapkan maupun yang hendak dicapai. Bila pada tataran atas keadaannya masih gamang, dapatkah kongres-kongres pada tataran daerah berpedoman pada butir-butir rekomendasi saja? Atau, dapatkah kongres daerah yang membahas ihwal tradisi budayanya langsung mengacu kepada undang-undang dasar, dalam hal ini UUD 1945?

Pemikiran seperti ini patut menjadi pertimbangan matang karena pada tingkal nasional perhelatan kebudayaan sudah beberapa kali diadakan, sedangkan khusus untuk Bali sebagai kesatuan administrasi, politik, tradisi, dan etnisitas, Kongres Kebudayaan Bali baru pertama kali diadakan. Tentunya pertanyaan yang hendak dihindarkan adalah "Kok baru sekarang?"

Tulisan ini hendak mempertegas banyak kegusaran yang diajukan oleh Putu Setia (BP 31/5/08) yang menyangkut ihwal besar yang berkait dengan kebudayaan Bali. Kegusarannya memang sangat beralasan karena permasalahannya memang luar biasa besar dan kompleks. Adalah naif sekali bila kebudayaan hanya dikaitkan dengan kesenian. Mengapa demikian? Bali mulai dan bisa masuk ke panggung internasional karena rekayasa Balanda lewat maskapai pelayarannya (KPM) yang membawa rombongan kesenian tari ke Paris.

Karena itu, Bali lebih dikenali dari sisi seni dan berkeseniannya. Di dalam negeri sendiri, orang luar atau bukan etnis Bali memiliki pandangan demikian pula, sampai-sampai ada lirik lagu keroncong menyebutkan "Pulau Bali pulau kesenian..." (dengan segala ungkapan keindahan dan pujian). Atau, bila orang Bali berada di luar Bali, mereka selalu dianggap memiliki keterampilan berkesenian. Pasti bisa menari atau menabuh.

Bahasa Bali dan aksara hanacaraka Bali yang merupakan turunan dari aksara Brahmi yang telah punah dari India bagian selatan telah merekam kecendekiaan orang Bali yang hidup hingga kini. Bukti-bukti untuk ini adalah adanya banyak dokumen tertulis berupa manuskrip lontar yang tersimpan secara lembaga dan perorangan. Dokumen ini ditulis dalam aksara yang kini telah menyatu dalam hidup dan perikehidupan orang Bali. Sedangkan bahasanya, bisa jadi dalam bahasa Bali atau campuran Bali dan Kawi (dengan masukan bahasa Sanskerta).



Gencar Dieksploitasi

Pencitraan kecendekiaan tradisi (Bali) tidaklah semenonjol pencitraan berkesenian seperti dipaparkan di atas. Sebuah pertanyaan lagi, mengapa demikian? Ya, karena berkesenian telah sedemikian gencarnya dieksploitasi, sampai-sampai masuk jalur dan menjadi komoditas perdagangan lewat eufemisme jasa hiburan atau leisure. Inilah rekayasa globalisasi modern atas apa yang berbau tradisi. Sedangkan kecendekiaan tradisi Bali bukanlah sebuah keterampilan. Dia adalah widia atau keilmuan yang dinaungi oleh peradaban Timur. Dan untuk mengusainya orang harus bergulat lewat unsur bahasa, aksara, dan banyak unsur tradisi kehidupan orang Bali.

Meski aksara Bali datang dari luar, dari bahasa Brahmi yang merupakan turunan dari bahasa Semit, huruf-huruf yang ada dalam abjad ini telah menyatu dalam kehidupan fisik (sekala) dan non-fisik (niskala) orang Bali. Karena kenyataan seperti itulah, maka ada ragam aksara dan bahasa untuk kehidupan keduniaan dan kedewataan. Dan, ini berlaku untuk banyak aksara dan bahasa di dunia. Tidaklah patut bila dikatakan bahwa aksara dan bahasa Bali hanya cocok untuk membicarakan ihwal yang berbau ke-Bali-an; terlebih sangat tidak patut lagi bila dinyatakan bahwa aksara Bali hanya diperuntukkan bagi agama Hindu di Bali. Bahwa ada beberapa aksara/huruf Bali mewakili dan memiliki simbol atau makna kedewataan, itu memang benar.

Karena pencitraan bahasa dan aksara ini kurang atau tidak sehebat apa yang digambarkan di depan, tentulah karena ketiadaan Politik Bahasa Daerah Bali yang jelas (meski telah ada Peraturan Daerah mengenai Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali No. 3/1992). Perencanaan mengenai ketiga bidang ini, dengan sendirinya, tidak jelas pula karena yang menangani semua ini seharusnya tidak hanya Dinas Kebudayaan. Bagaimana dengan Dinas Pendidikan? Kedua lembaga ini sepertinya jalan sendiri-sendiri. Cobalah periksa kembali mengenai ihwal Kongres Bahasa Bali yang lalu.

Di alur pendidikan formal, terlebih lagi adanya otonomi daerah dalam bentuk muatan lokal, perencanaan menyeluruh mengenai bahasa, aksara, dan sastra Bali seharusnya jelas dan terukur pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Lembaga yang manakah yang memikirkan, melaksanakan, dan menilai ihwal ini? Jenjang pendidikan tinggi adalah jalur pengembangan ilmu dan keterampilan yang ditumpukan pada kemampuan dasar dan menengah. Bandingkan saja dengan pendidikan matematik atau bahasa Inggris, dan yang lain.

Bagaimanakah ihwal perencanaannya pada alur non-formal atau kemasyarakatan? Siapakah yang memikirkan, melaksanakan, dan menilai ihwal ini? Ini juga masih kabur. Alur ini adalah alur pembinaan atas apa yang hidup dan tumbuh di masyarakat, yang selanjutnya dikembangkan oleh kelompok tertentu.



Sebagai Tantangan

Semua yang diajukan dalam tulisan ini semata-mata diangkat sebagai tantangan atas persoalan mengenai ihwal bahasa, aksara, dan sastra Bali untuk dipikirkan dan dibahas oleh komisi yang bertanggung jawab untuk ini dalam Kongres Kebudayaan Bali I agar bisa diwujudkan menjadi Politik dan Kebijakan Bahasa (termasuk aksara) dan Sastra Bali.

Dengan demikian, kegusaran yang dicetuskan mengenai, terutama, bahasa dan aksara Bali oleh Putu Setia, saya sendiri sebagai orang yang bergulat juga di bidang bahasa, aksara, dan susastra Bali, dan banyak sahabat Bali dan bukan Bali saya di luar negeri, bisa disirnakan. Dan, tentunya pencitraan bidang-bidang lain, terutama yang menyangkut kecendekiaan tradisi karena ini sesungguhnya materi keunggulan, lewat pembahasan dalam Kongres patut mendapat perhatian.

Hal ini semua akan bisa dilihat dengan jelas dari komisi-komisi yang diadakan untuk memperbincangkan makalah, mempertimbangkan dan menakar pemikiran, dan pada akhirnya mengambil kata putus mengenai pembahasan dan pemikiran tentang kebudayaan Bali dalam menjawab tantangan masa depan. Semoga!

Oleh I Gusti Made Sutjaja
source: BP
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.