Sabtu, 31 Mei 2008
Forecast Denpasar* 24-29 C dan BERAWAN
Info : Kongres Kebudayaan Bali : Menguatkan Identitas dan Integritas Budaya Bali
Budhijna Pratyaspatti (Pendalaman Budaya Memupuk Semangat Kebangkitan Baru). Tema sentral itulah yang akan diusung pada Kongres I Kebudayaan Bali yang digelar 14-16 Juni 2008 mendatang. Kongres kebudayaan pertama di Bali ini dinilai sangat strategis bagi pengembangan etos kebudayaan Bali, revitalisasi pariwisata dan perekonomian masyarakat Bali, penguatan solidaritas keindonesiaan, pemantapan komunikasi antarbangsa dan percepatan pembangunan Bali ke depan.
DALAM tataran konsep, semangat yang melandasi gelaran kongres yang dirancang melibatkan 400 orang peserta dengan rincian 60 persen peserta lokal Bali, 25 persen peserta nasional dan 15 persen peserta internasional ini memang sangat mulia. Namun, kesuksesan perhelatan akbar ini tidak hanya ditakar dari guliran pemikiran-pemikiran brilian yang mengalir riuh di ruangan kongres. Namun yang terpenting, bagaimana pemikiran-pemikiran brilian itu bisa diaktualisasikan dalam bentuk aksi nyata yang konstruktif bagi upaya pelestarian dan pengembangan budaya Bali secara menyeluruh. Hasil kongres juga diharapkan mampu menginspirasi para decision maker di Bali dalam merumuskan maupun menggulirkan kebijakan-kebijakan strategis yang mampu mendongkrak kesejahteraan segenap komponen masyarakat Bali tanpa harus tercerabut dari akar dan jati diri budaya Bali.
Ditemui Jumat (30/5) kemarin, Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Propinsi Bali Drs. I Nyoman Nikanaya, M.M. menegaskan, dalam derap langkah pembangunan Bali telah ditetapkan kebudayaan sebagai potensi dasar. Dikatakan, kebudayaan Bali sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia memiliki identitas yang dikukuhkan dengan local genius yang mampu mengapresiasi beragam bentuk keberagaman. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai unsur budaya Bali yang tetap padu dengan dilandasi konsep Tri Hita Karana.
Perubahan Perilaku
Namun, kata dia, derasnya arus globalisasi yang melanda kehidupan masyarakat dewasa ini telah menciptakan perubahan-perubahan perilaku kehidupan masyarakat Bali. Kini, ada kecenderungan masyarakat Bali tidak lagi mengedepankan tata kehidupan dalam pola kebersamaan (paras paros sarpanaya - red). Namun, cenderung mengedepankan sifat-sifat individual. Terombang-ambing oleh gelombang kehidupan yang lebih mengedepankan sifat materialistis dan tata pergaulan yang mengenyampingkan moralitas. Pada saat bersamaan, muncul kelompok atau orang-orang yang dikuasai keinginan-keinginan berlebihan yang akhirnya memunculkan keserakahan yang tidak terkendali. Nilai-nilai agama yang dikemas dalam etika seperti dharma, satya, tri hita karana dan kearifan lokal lainnya seperti mengalami kevakuman makna.
Dalam kondisi seperti ini, tegasnya, kebudayaan Bali dihadapkan dengan berbagai tantangan. Alam dan masyarakat Bali dihadapkan pada realita penyempitan lahan, penyerobotan hutan, pemadatan ruang, waktu dan informasi, masalah kependudukan, aktivitas ekonomi dan politik praktis dengan beban populasi, polusi, eksploitasi dan komersialisasi. Kesenjangan antara konsep filosofis dan aktualisasi dalam tataran kehidupan sehari-hari makin melebar. Kesenjangan antara teks dan konteks, tataran ideal dan perilaku makin menjauh. Hal ini diindikasikan oleh makin bopengnya alam lingkungan Bali makin terusiknya kesucian pura dan jagat Bali serta pelecehan nilai-nilai Tri Hita Karana.
'Itulah gambaran Bali dewasa ini. Menyikapi situasi dan kondisi masyarakat dan budaya Bali seperti itu, dipandang perlu dan sangat mendesak untuk menghimpun pemikiran-pemikiran yang positif dan konstruktif dalam suatu forum bernama Kongres Kebudayaan Bali ini. Kami berharap, kongres yang baru pertama kali digelar ini bisa menjadi ajang yang representatif untuk dialog lintas budaya dan media efektif untuk komunikatif antarilmuwan, budayawan, seniman, birokrat, politisi, pemangku budaya dan segenap komponen masyarakat lainnya guna pendalaman budaya Bali untuk kepentingan teoritik, perencanaan dan aplikasi,' katanya dan menambahkan, berangkat dari kegelisahan itu Kongres I Kebudayaan Bali itu digelar.
Tiga Tujuan Utama
Mantan Kepala Taman Budaya Bali ini menambahkan, paling tidak ada tiga tujuan utama yang dibidik dari gelaran kongres selama tiga hari tersebut. Pertama, mengembangkan dialog budaya secara lokal, nasional dan internasional untuk membangkitkan kembali kesadaran, empati dan apreasiasi para budayawan, seniman, ilmuwan, peneliti, birokrat, praktisi dan pemangku kebudayaan Bali sebagian bagian kebudayaan Indonesia dan dunia. Sinergi dialog diharapkan mampu menemukan keunggulan untuk bangkit dan meningkatkan kontribusi modal budaya bagi kemanusiaan, kesejahteraan dan peradaban. Kedua, mendiskusikan secara kritis eksistensi sistemik unsur-unsur budaya tangible dan intangible terkait dengan upaya penggalian, pelestarian dan pengembangan kebudayaan dalam konteks komunikasi lintas sektor, lintas budaya dan lintas bangsa.
"Yang terpenting lagi, kongres ini juga dijadikan ajang untuk merumuskan skema rencana aksi, program strategis dan politik kebudayaan dalam format visi kebudayaan Bali 2003," paparnya panjang lebar.
Nikanaya berharap Kongres I Kebudayaan Bali itu tidak sekadar menghasilkan tumpukan kertas kerja tanpa makna. Namun, benar-benar bermakna strategis bagi penemuan kembali dan penguatan identitas serta integritas kebudayaan Bali yang dapat ditujukan 'ke dalam' (krama Bali) sebagai unsur perekat dan kebanggaan. Sedangkan 'ke luar' (Indonesia dan internasional) ditujukan untuk menanamkan, mengembangkan dan memantapkan citra. Tak kalah pentingnya, perhelatan yang dijadwalkan dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini mampu menyegarkan dan merevitalisasi kearifan lokal dan taksu Bali guna menggerakkan etos dan semangat menuju kebangkitan baru yang lebih mencerahkan, mendamaikan dan menyejahterakan.
"Pokoknya, banyak sekali harapan besar yang digantungkan dari penyelenggaraan Kongres I Kebudayaan Bali ini. Kami juga berharap kegiatan ini berkelanjutan. Ada Kongres Kebudayaan Bali II, III, IV dan seterusnya," katanya seraya berharap forum ini dimanfaatkan sebagai ajang mengevaluasi, instrospeksi dan ekstrospeksi guna menemukan kembali identitas, esensi nilai-nilai luhur kebudayaan, etos budaya sebagai modal, unggulan dan potensi pembangunan masa depan yang lebih baik.
Segala Aspek
Kasubdin Kesenian Disbud Propinsi Bali I Made Santha, S.E., M.Si. yang mendampingi Nikanaya menambahkan, upacara pembukaan Kongres Kebudayaan Bali akan dilaksanakan di salah satu hotel berbintang di kawasan Sanur yang dilanjutkan dengan sidang pleno I. Selanjutnya, seluruh persidangan akan digelar di gedung Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang dikelompokkan ke dalam lima panel. Panel I (Budaya Bali, Identitas dan Etos Budaya) akan difokuskan pada elaborasi Tri Hita Karana yang mencakup pembangunan spiritualitas (agama), lingkungan dan manusia. Panel II (Budaya Pengembangan Ekonomi dan Pariwisata) difokuskan pada kaitan resiprositas antara kebudayaan, modal budaya dan penguatan sektor pariwisata, pertanian dan industri kerajinan dalam basis ekonomi kerakyatan. Panel III (Budaya dan Penguatan Peradaban) difokuskan pada hubungan fungsional antara kebudayaan dengan pilar-pilar peradaban yang mencakup etika, hukum, sains, sastra, pendidikan, keamanan, gender, politik dan teknologi. Panel IV (Budaya, Seni, Heritage dan HaKI) terfokus pada kreasi seni, inovasi, konservasi pelestarian heritage sampai dengan hak kekayaan inteltual (HaKI). Sedangkan Panel V (Budaya, Hubungan Antarbangsa dan Diplomasi) akan difokuskan pada hubungan antaretnis, antaragama dan antarbangsa dalam basis multikultural dan universialisme.
"Intinya, kami akan mengupas kebudayaan Bali dari segala aspek. Pada Kongres Kebudayaan Bali ini, kami juga mengundang banyak sekali pembicara dari luar Bali dan luar negeri yang berkompeten di bidangnya. Kehadiran mereka dinilai sangat strategis guna mengkritisi secara jujur terkait warna perjalanan budaya Bali dewasa ini dari kacamata orang luar. Apakah budaya kita masih mampu menggetarkan kekaguman di hati mereka atau justru sebaliknya, pandangan mereka memang sangat pantas disimak dalam konteks kebangkitan kembali budaya Bali. Terkadang, kritik memang terdengar pahit. Tetapi, hal itu justru membuat kita makin terpacu untuk membenahi diri," tegasnya. * w. sumatika
source: BP