goesdun
IndoForum Junior A
- No. Urut
- 32661
- Sejak
- 7 Feb 2008
- Pesan
- 3.024
- Nilai reaksi
- 66
- Poin
- 48
Sendratari Ramayana Bali Ditunggu India
SEBUAH tim kesenian Bali membawa nama Indonesia dalam Festival Ramayana Internasional di India pada 6-12 Juni ini. Di India, 20 seniman tari dan karawitan yang terdiri dari dosen dan mahasiswa ISI Denpasar akan menampilkan Sendratari Ramayana. Tujuh negara -- Kamboja, Indonesia, Srilanka, Thailand, Laos, Malaysia, Indonesia, dan tuan rumah India akan tampil menyajikan seni pertunjukan yang bersumber dari epos Ramayana nan masyur itu. "Wawasan para seniman yang akan berinteraksi dalam festival yang berlangsung di Madya Paradesh sudah tentu akan bertambah," ujar Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., MA.
Diundangnya para seniman Bali dalam festival bergengsi itu tentu dilandasi alasan yang kuat. Seperti halnya di tanah leluhur kelahiran cerita karangan Walmiki itu, di Bali kisah Rama sebagai titisan Dewa Wisnu memerangi kezaliman Rahwana begitu kuat mengakar. Eksistensinya dalam bentuk puisi dikumandangkan dan diresapi dalam kumandang pesantian. Lakon-lakon heroik dan sarat moral divisualisasikan dalam karya seni lukis dan seni patung. Tokoh-tokohnya seperti Rama, Sita, Anoman misalnya diidolakan sebagai teladan, bukan saja oleh penganut Hindu namun masyarakat pada umumnya.
Transformasi cerita Ramayana amat mengakar dalam kehidupan masyarakat Bali adalah lewat seni pertunjukan. Beberapa seni pertunjukan Bali berangkat dari sumber lakon yang terdiri dari tujuh kanda itu. Bahkan ada kesenian Bali yang identik dengan Ramayana yaitu drama tari Wayang Wong yang kini masih dapat dijumpai di Desa Tejakula (Buleleng), Sebatu, Mas, dan Batuan (Gianyar). Selain Wayang Wong, wayang kulit juga ada yang khusus memainkan cerita Ramayana yang lazim disebut Wayang Ramayana.
Cak atau Kecak, kendati sejatinya dapat membawakan berbagai lakon, namun dengan cerita Ramayana, seni pertunjukan ini menjadi seni pentas turistik yang banyak disaksikan para pelancong. Ketika dipisahkan menjadi seni profan oleh pelukis asal Jerman, Walter Spies dan penari Baris Desa Bedulu, Gianyar, I Wayan Limbak pada tahun 1930-an, Cak mengawali debutnya dengan lakon "Karebut Kumbakarna" yang mengisahkan pertempuran heroik raksasa Kumbakarna dalam membela rakyat dan negerinya, Alengka, dari gempuran dahsyat Rama dan tentera keranya. Dalam perkembangannya, pada 1970-an, Cak Bona, Gianyar, menyajikan cerita Ramayana yang kental dipengaruhi Sendratari Ramayana Kokar Bali dan ASTI Denpasar yang sedang populer saat itu.
Menarik Perhatian
Dari sekian jenis pertunjukan Bali yang berangkat dari cerita Ramayana, Sendratari Ramayana yang muncul 1965 adalah seni pentas yang mampu menarik perhatian penonton begitu luas. Sendratari ini pada awalnya digarap untuk perayaan ulang tahun ke-5 Kokar Bali. Tak dinyana, seni pentas ciptaan seniman karawitan dan tari I Wayan Beratha ini disambut antusias masyarakat. Sejak itu siswa Kokar Bali dan kemudian mahasiswa ASTI (kini ISI) Denpasar sering diundang pentas hampir ke berbagai penjuru Bali, menuturkan cerita Ramayana dalam untaian tari dalam paduan iringan karawitan disertai kisahan dalang. Para penari utamanya menjadi bintang-bintang yang dikagumi penonton.
Ketika Pesta Kesenian Bali (PKB) mulai digelindingkan sejak 1979, pertunjukan Sendratari Ramayana dalam bentuk kolosal makin fenomenal. Kokar Bali (kini SMK Negeri Sukawati) dan ASTI/STSI Denpasar yang menjadi pelaku utama sendratari itu meraup perhatian khusus masyarakat. Kreasi dan inovasinya dalam penggarapan cerita Ramayana digandrungi penonton PKB. Pementasannya di panggung terbuka Ardha Candra Taman Budaya Bali dipadati ribuan penonton.
Sendratari sebagai sebuah konsep artistik pertunjukan yang berorientasi dari cerita Ramayana juga mengemuka di Yogyakarta. Bertempat di pelataran Candi Prambanan, sejak 1961 telah juga dipentaskan Sendratari Ramayana yang dibawakan oleh ratusan penari. Namun jika sendratari gaya Jawa itu kelahirannya dilatarbelakangi sebagai tontonan wisatawan, sedangkan keberadaan sendratari di Bali menjadi presentasi estetik untuk masyarakat Bali sendiri. Sendratari Ramayana gaya Bali yang diciptakan Wayan Beratha tersebut menjadi tonggak penting perkembangan sendratari-sendratari berikutnya dengan sumber lakon yang beragam seperti Mahabharata, babad, legenda dan sebagainya.
Cerita Ramayana dalam bentuk sendratari "klasik" itulah yang ditampilkan oleh para seniman Bali pada awal Juni ini di tanah Ramayana, India. Sendratari Ramayana yang berdurasi hampir satu jam itu berawal dari pengembaraan Rama, Sita, dan Laksmana di hutan Nandaka. Setelah penculikan Sita oleh Rahwana, kera putih Anoman diutus Rama menjadi duta mengultimatum Rahwana agar mengembalikan Sita. Karena Rahwana bersikukuh ingin memperistri Sita, perang pun meletus yang berakhir dengan matinya raja Alengka itu. Sita pun kembali ke pelukan Rama.
Tim kesenian yang dipimpin Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar, Ketut Sariada, SST, ini diperkuat oleh penari dan penabuh yang memang seniman-seniman sendratari. Selain Ketut Sariada (Rama), Sendratari Ramayana yang ditampilkan di forum internasional itu di antaranya didukung Cokorda Raka Tisnu (Rahwana), Ida Ayu Wimba Ruspawati (Kidang), dan I Gusti Lanang Ardika (Marica).
* kadek suartaya
source: BP
SEBUAH tim kesenian Bali membawa nama Indonesia dalam Festival Ramayana Internasional di India pada 6-12 Juni ini. Di India, 20 seniman tari dan karawitan yang terdiri dari dosen dan mahasiswa ISI Denpasar akan menampilkan Sendratari Ramayana. Tujuh negara -- Kamboja, Indonesia, Srilanka, Thailand, Laos, Malaysia, Indonesia, dan tuan rumah India akan tampil menyajikan seni pertunjukan yang bersumber dari epos Ramayana nan masyur itu. "Wawasan para seniman yang akan berinteraksi dalam festival yang berlangsung di Madya Paradesh sudah tentu akan bertambah," ujar Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., MA.
Diundangnya para seniman Bali dalam festival bergengsi itu tentu dilandasi alasan yang kuat. Seperti halnya di tanah leluhur kelahiran cerita karangan Walmiki itu, di Bali kisah Rama sebagai titisan Dewa Wisnu memerangi kezaliman Rahwana begitu kuat mengakar. Eksistensinya dalam bentuk puisi dikumandangkan dan diresapi dalam kumandang pesantian. Lakon-lakon heroik dan sarat moral divisualisasikan dalam karya seni lukis dan seni patung. Tokoh-tokohnya seperti Rama, Sita, Anoman misalnya diidolakan sebagai teladan, bukan saja oleh penganut Hindu namun masyarakat pada umumnya.
Transformasi cerita Ramayana amat mengakar dalam kehidupan masyarakat Bali adalah lewat seni pertunjukan. Beberapa seni pertunjukan Bali berangkat dari sumber lakon yang terdiri dari tujuh kanda itu. Bahkan ada kesenian Bali yang identik dengan Ramayana yaitu drama tari Wayang Wong yang kini masih dapat dijumpai di Desa Tejakula (Buleleng), Sebatu, Mas, dan Batuan (Gianyar). Selain Wayang Wong, wayang kulit juga ada yang khusus memainkan cerita Ramayana yang lazim disebut Wayang Ramayana.
Cak atau Kecak, kendati sejatinya dapat membawakan berbagai lakon, namun dengan cerita Ramayana, seni pertunjukan ini menjadi seni pentas turistik yang banyak disaksikan para pelancong. Ketika dipisahkan menjadi seni profan oleh pelukis asal Jerman, Walter Spies dan penari Baris Desa Bedulu, Gianyar, I Wayan Limbak pada tahun 1930-an, Cak mengawali debutnya dengan lakon "Karebut Kumbakarna" yang mengisahkan pertempuran heroik raksasa Kumbakarna dalam membela rakyat dan negerinya, Alengka, dari gempuran dahsyat Rama dan tentera keranya. Dalam perkembangannya, pada 1970-an, Cak Bona, Gianyar, menyajikan cerita Ramayana yang kental dipengaruhi Sendratari Ramayana Kokar Bali dan ASTI Denpasar yang sedang populer saat itu.
Menarik Perhatian
Dari sekian jenis pertunjukan Bali yang berangkat dari cerita Ramayana, Sendratari Ramayana yang muncul 1965 adalah seni pentas yang mampu menarik perhatian penonton begitu luas. Sendratari ini pada awalnya digarap untuk perayaan ulang tahun ke-5 Kokar Bali. Tak dinyana, seni pentas ciptaan seniman karawitan dan tari I Wayan Beratha ini disambut antusias masyarakat. Sejak itu siswa Kokar Bali dan kemudian mahasiswa ASTI (kini ISI) Denpasar sering diundang pentas hampir ke berbagai penjuru Bali, menuturkan cerita Ramayana dalam untaian tari dalam paduan iringan karawitan disertai kisahan dalang. Para penari utamanya menjadi bintang-bintang yang dikagumi penonton.
Ketika Pesta Kesenian Bali (PKB) mulai digelindingkan sejak 1979, pertunjukan Sendratari Ramayana dalam bentuk kolosal makin fenomenal. Kokar Bali (kini SMK Negeri Sukawati) dan ASTI/STSI Denpasar yang menjadi pelaku utama sendratari itu meraup perhatian khusus masyarakat. Kreasi dan inovasinya dalam penggarapan cerita Ramayana digandrungi penonton PKB. Pementasannya di panggung terbuka Ardha Candra Taman Budaya Bali dipadati ribuan penonton.
Sendratari sebagai sebuah konsep artistik pertunjukan yang berorientasi dari cerita Ramayana juga mengemuka di Yogyakarta. Bertempat di pelataran Candi Prambanan, sejak 1961 telah juga dipentaskan Sendratari Ramayana yang dibawakan oleh ratusan penari. Namun jika sendratari gaya Jawa itu kelahirannya dilatarbelakangi sebagai tontonan wisatawan, sedangkan keberadaan sendratari di Bali menjadi presentasi estetik untuk masyarakat Bali sendiri. Sendratari Ramayana gaya Bali yang diciptakan Wayan Beratha tersebut menjadi tonggak penting perkembangan sendratari-sendratari berikutnya dengan sumber lakon yang beragam seperti Mahabharata, babad, legenda dan sebagainya.
Cerita Ramayana dalam bentuk sendratari "klasik" itulah yang ditampilkan oleh para seniman Bali pada awal Juni ini di tanah Ramayana, India. Sendratari Ramayana yang berdurasi hampir satu jam itu berawal dari pengembaraan Rama, Sita, dan Laksmana di hutan Nandaka. Setelah penculikan Sita oleh Rahwana, kera putih Anoman diutus Rama menjadi duta mengultimatum Rahwana agar mengembalikan Sita. Karena Rahwana bersikukuh ingin memperistri Sita, perang pun meletus yang berakhir dengan matinya raja Alengka itu. Sita pun kembali ke pelukan Rama.
Tim kesenian yang dipimpin Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar, Ketut Sariada, SST, ini diperkuat oleh penari dan penabuh yang memang seniman-seniman sendratari. Selain Ketut Sariada (Rama), Sendratari Ramayana yang ditampilkan di forum internasional itu di antaranya didukung Cokorda Raka Tisnu (Rahwana), Ida Ayu Wimba Ruspawati (Kidang), dan I Gusti Lanang Ardika (Marica).
* kadek suartaya
source: BP

