• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Apa Gunanya Membaca Parita Budha ?

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. akiong
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

akiong

IndoForum Junior A
No. Urut
41745
Sejak
25 Apr 2008
Pesan
2.971
Nilai reaksi
47
Poin
48
Ada Banyak Parita Baik Itu Dari Teravada Dan Mahayana. Gunanya Apa ? Sebagian Malah Tidak Ada Terjemahannya Dalam Bahasa Indonesia.
 
Untuk Theravada:
Sebagian isi parita adalah mengingatkan/menyadarkan orang terus menerus..
efek khusus tidak ada..
 
@singthung, Mo Tanya Nih , Apakah Daya Kerja Parita Menegasi Karma ? Atau Hukum Parita Lebih Tinggi Dari Hukum Karma ?.....kalo Tidak Lebih Tinggi Bagaimana Bisa Ada Efeknya ? Mohon Pencerahan..thx

membaca paritta...contoh membaca karaniya metta sutta

"jangan menghina siapa pun,
jangan menipu siapa saja,
jangan karena marah dan benci mengharap orang lain celaka

bagai seorang ibu yang melindungi anak nya yang tunggal..demikianlah pikiran kasih sayang-nya di pancarkan,ke-atas,ke-bawah.............., dan seterusnya............"


ini sama saja menanam kamma baik melalui UCAPAN...nah karena telah menanam kamma baik lewat ucapan maka jangan heran kalau buah nya bisa dalam bentuk kebahagiaan..

jadi bukan berarti membaca paritta mampu mengubah sistem hukum kamma.
tapi membaca paritta malah sesuai dengan hukum kamma..

"apa yang ditanam itu pula yang dipetik"

======

btw kamu tanya ke singtung yah...bukan ke saya...hahaha....
jadi GU(gila urusan)....
tapi hanya ber-niat menjelaskan saja....
kalau ga mau diterima juga gpp...oke pizzz

salam metta
 
Theravada, mahayana dan tantra .. hanya beda visi saja... tapi inti ajaran tetap sama.
------------
 
@singthung, Mo Tanya Nih , Apakah Daya Kerja Parita Menegasi Karma ? Atau Hukum Parita Lebih Tinggi Dari Hukum Karma ?.....kalo Tidak Lebih Tinggi Bagaimana Bisa Ada Efeknya ? Mohon Pencerahan..thx

Seperti yang dijelaskan oleh Avuso Marcedes, kalau anda membaca dengan jelas yang sudah saya link,maka semua jawaban sudah ada disana. Kalau kita mengulang sutta-sutta atau kotbah Sang Buddha, timbul pikiran positif dan merenungkan kebajikan-kebajikan Beliau dan akan menghasilkan kamma baik juga. Pikiran adalah pelopor.

"Manopubbangama dhamma
manosettha manomaya
manasa ce padutthena
bhasati va karoti va
tato nam dukkhamanveti
cakkamva vahato padam."

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu,
pikiran adalah pemimpin,
pikiran adalah pembentuk.
Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat,
maka penderitaan akan mengikutinya,
bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya.

"Manopubbangama dhamma
manosettha manomaya
manasa ce pasannena
bhasati va karoti va
tato nam sukha manveti
chayava anapayini."

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu,
pikiran adalah pemimpin,
pikiran adalah pembentuk.
Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni,
maka kebahagiaan akan mengikutinya,
bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya.



 
mengapa temen gw teravada tulen baca parita tiap pagi mo buka toko dagang. Terus dalam teravada ada pelimpahan jasa, ada juga membaca parita buat org tua atau org yg kita sayangi pada bulan ceng beng atau bulan pertengahan 7....

Yang ini gimana ? Apa ada efeknya ? Terus bukankah diyakini tidak ada inti diri yg sama yg kekal ? Bagaimana bisa ada koneksitas link nya ama orang mati yg kita baca paritanya, terus sumbangan nya pahalanya buat siapa ? Yg mati ato yg hidup. Mhn pencerahan...thx
 
mengapa temen gw teravada tulen baca parita tiap pagi mo buka toko dagang. Terus dalam teravada ada pelimpahan jasa, ada juga membaca parita buat org tua atau org yg kita sayangi pada bulan ceng beng atau bulan pertengahan 7....

Yang ini gimana ? Apa ada efeknya ? Terus bukankah diyakini tidak ada inti diri yg sama yg kekal ? Bagaimana bisa ada koneksitas link nya ama orang mati yg kita baca paritanya, terus sumbangan nya pahalanya buat siapa ? Yg mati ato yg hidup. Mhn pencerahan...thx

Tidak ada masalah membaca paritta tiap pagi ketika membuka toko,misalnya paritta Mangalla Sutta berisi tentang berkah utama(sila ,etika,moralitas) dan manfaatnya kita, bisa menghalau black magic atau sejenisnya dari saingan dagang lainnya, Metta Sutta tentang mengembangkan Cinta Kasih, manfaatnya bebas dari gangguan Makhluk halus karena kita memancarkan Cinta Kasih(Metta) dsbnya.

Perlimpahan Jasa untuk makhluk yang dilahirkan di alam menderita(bisa dari anggota keluarga kita atau yang lain). lihat Sigalovada Sutta,kewajiban anak terhadap orang tua. Bisa lihat di thread Tirokudda Sutta, manfaatnya tentu bermanfaat makhluk yang menderita dan bagi kita tentu berbuat kebaikan. Perlimpahan Jasa tidak tergantung bulan,mau setiap hari juga tidak apa-apa.


Tirokudda Sutta



Pelimpahan jasa tentunya sudah tidak asing lagi bagi umat Buddha yang selalu melakukannya setelah melakukan perbuatan baik. Bahkan di zaman kehidupan Sang Buddha, pelimpahan jasa ini sudah sering dilakukan karena selain dapat membantu orang lain, juga dapat membawa manfaat bagi diri kita sendiri.

Sewaktu Raja Bimbisara meminta agar jasa kebajikan pemberian danang kepada anggota Sangha itu dilimpahkan kepada leluhurnya, Sang Buddha mengucapkan syair Tirokudda Sutta sebagai berikut:

Diluar dinding mereka berdiri dan menanti,
dipersimpangan-persimpangan jalan,
mereka kembali kerumah yang dulu dihuninnya,
dan menanti di muka pintu,
tetapi bila diadakan pesta yang meriah,
dengan makanan dan minuman yang berlimpah,
ternyata tidak seorangpun yang ingat,
kepada makhluk-makhluk itu,
yang merupakan leluhur mereka.

Hanya mereka yang hatinya welas asih,
memberikan persembahan kepada sanak keluargannya,
berupa makanan dan minumanyang lezat,
baik dan disukai pada waktu mereka masih hidup

“Semoga buah jasa-jasa baik kita,
melimpah kepada sanak keluarga yang telah meninggal,
semoga mereka bahagia.”
Sanak keluarga kita yang sedang berkumpul ditempat ini,
dengan gembira akan memberikan restu mereka,
karena diberi makanan dan minuman yang berlimpah.

“Semoga sanak keluargaku berusia panjang,
sebab karena merekalah kami memperoleh sesajian yang lezat ini

“Karena kami diberi perhormatan yang tulus,
maka yang memberinya pasti akan memperoleh,
buah jasa yang setimpal,
karena disini tidak ada pertanian,
dan juga tidak ada peternakan,
tidak ada perdagangan,
juga tidak ada peredaran uang dan emas.”
Sanak keluarga kita yang telah meninggal,
hidup disana dari pemberian kita disini.

Bagaikan air mengalir dari atas bukit,
turun kebawah untuk mencapai lembah yang kosong,
demikian pula sesajian yang diberikan,
dapat menolong sanak keluarga kita yang telah meninggal

Bagaikan sungai, bila airnya penuh,
akan mengalirkan airnya kelaut,
demikian pula sesajian yang diberikan,
dapat menolong sanak keluarga kita yang telah meninggal

“Ia memberikan kepadaku, ia bekerja untukku,
ia sanak keluargaku, ia sahabatku, kerabatku,
memberikan sesajian kepada mereka yang telah meninggal dunia,
dan mengingat kembali kepada apa yang biasa mereka lakukan,
bukan ratap tangis, bukan kesedihan hati,
bukan berkabung dengan cara apapun juga,
untuk menolong mereka yang telah meninggal dunia,
yang dilakukan sanak keluarga yang telah ditinggalkan

Tetapi bila persembahan ini dengan penuih bakti,
diberikan kepada sangha atas nama mereka,
dapat menolong mereka untuk waktu yang panjang,
dikemudian hari maupun pada saat ini

Telah diperlihatkan hakikat sesungguhnya,
Sesajian bagi sanak keluarga,
dan bagaimana penghormatan yang telah bernilai dapat diberikan kepada mereka,
serta bagaimana para bhikkhu mendapatkan kekuatan,
dan bagaimana anda sendiri dapat menimbun,
buah karma yang baik

Demikian syair dari Tirokudda Sutta yang pernah diucapkan oleh Sang Buddha. Setelah membaca Sutta ini dengan teliti, kita tentu dapat memetik manfaat yang besar, yaitu kita tidak seharusnya meratap-tangis, sedih, berkabung, membakar emas dan perak ataupun memberikan sesajian kepada sanak keluarga atau teman kita yang telah meninggal, tetapi yang dapat membantu mereka hanyalah persembahan yang diberikan kepada Sangha atas nama alm.


 
ya, ini yg gw ga jelas, link nyake hukum karma. Apakah efek parita itu membuahkan karma lalu apakah terjadi karma baik lawan karma buruk. Jk ya, apakah bisa instant begitu ?

Jk tidak ada karma buruk yg berbuah, apakah kita bisa kena black magic ?....thx.mhn pencerahan.
 
Perhatikan Baik-baik...

ya, ini yg gw ga jelas, link nyake hukum karma. Apakah efek parita itu membuahkan karma lalu apakah terjadi karma baik lawan karma buruk. Jk ya, apakah bisa instant begitu ?

Jk tidak ada karma buruk yg berbuah, apakah kita bisa kena black magic ?....thx.mhn pencerahan.
ironis sekali anda tidak mengerti cara kerja kamma...padahal ini ajaran para buddha...saya jelaskan 1x lagi...

terjadi nya kamma baik se-waktu baca paritta adalah melalui ucapan...

====
bold merah
saya sulit mengatakan apa yang terjadi...tapi saya kasih contoh saja.

kamma baik dan buruk...tidak ada yang namanya PENGHAPUSAN / PERTOBATAN..
misalkan anda telah menanam kamma buruk...lalu kemudian anda juga menanam kamma baik
nah lihat saja mana yang porsi nya banyak...

ketika kamma baik anda banyak..sedangkan kamma buruk anda sedikit...
tetap kamma buruk itu akan berbuah
(tidak ada konsep yang namanya kamma baik di tanam terus kamma buruk di DELETE...atau terhapus..)

lanjut....
ibarat gula dan garam di campurkan....
apakah garam itu hilang setelah dicampurkan dengan gula?
tentu garam nya tidak hilang....tetapi TIDAK TERASA apabila gulanya terlalu banyak..

demikian juga sebalik nya...
gula disini ibarat kamma baik dan garam adalah kamma buruk.
ini adalah pengertian dasar kamma....

ke-atas lagi ada yang namanya kondisi akan berbuah atau tidak berbuah...

=======

ada satu kejadian di jakarta.....dimana seorang ibu ingin sekali pulang ke ACEH sehari sebelum tsunami...
tetapi se-waktu pesawat berangkat..dia ketinggalan pesawat...

karena sangat ingin nya pulang ke ACEH...dia pun mencari jasa penerbangan lain.....tetapi aneh nya semua FULL..

dia kecewa dan akhirnya batal pulang....ternyata esok nya ada TSUNAMI..
ini disebut kamma baik yang berbuah dan kamma buruk tidak sempat berbuah karena kondisi.

Jk tidak ada karma buruk yg berbuah, apakah kita bisa kena black magic ?....

semua makhluk tentu pasti punya kamma buruk....coba lihat sang buddha yang mencapai pencerahan sempurna saja MASIH MERASAKAN KAMMA BURUK-NYA...
dimana beliau di Fitnah...dimana beliau di lukai oleh devadatta,dsbnya..

jika anda berpikir anda tidak memiliki kamma buruk tentu itu mustahil...
karena kehidupan yang di lalui itu sangat banyak..demikian juga

jika anda berpikir anda tidak memiliki kamma baik tentu itu juga mustahil...
cuma di 2 baik dan buruk ada WAKTU untuk membuahkan kamma itu.


nah jika ada YANG DI SANTET lantas tidak KENA...
itu adalah karena kamma buruk nya belum saat nya berbuah..dan saat ini KAMMA BAIK-nya yang berbuah.

demikian juga sebalik nya...hal ini bisa dilihat di gereja-gereja dimana ada PENYEMBUHAN ILAHI....lantas apa semua bisa sembuh?...tentu tidak kan.

====================

masalah santet dan mantra-mantra itu semua membentuk suatu syarat MEMPERCEPAT jika ada KONDISI

coba lihat orang membaca mantra-mantra...
disini ibarat semacam KARBIT yaitu mempercepat buah itu masak.

tapi COBA KALAU membaca mantra-mantra / upacara ibarat pakai karbit...tapi BUAH NYA TIDAK ADA.....apa yang mau di percepat?

makanya dibanding membaca mantra-mantra / upacara ...lebih baik MENANAM BIBIT atau berbuat kamma baik


========================================

tapi walaupun kamma berbuah ANDA HARUS AKTIF...

ada beberapa orang berpikir..." AH jika memang kamma saya berbuah...tidak perlu DI CARI...pasti datang sendiri "

ini disebut orang tolol.....

contoh 1
coba jika anda menang undian 1 milliar....(kamma baik anda berbuah)..tapi anda tidak mau menahu tentang undian itu...
anda berpikir...jika memang kamma baik berbuah " pasti ada orang datang memberi langsung uang "

padahal harus ada nomor yang di tukar di LOKET pengambilan hadiah...

contoh 2
coba seandainya anda punya genteng,semen,kayu,besi,batu,...tetapi anda tidak mau mengolah nya menjadi rumah....tetap saja itu demikian...
memang kamma baik anda mendapatkan bahan-bahan nya tapi yang mau MEMBUAT adalah ANDA SENDIRI..

contoh 3
anda sedang haus...d depan anda ada sebuah minuman(padahal ini kamma baik berbuah)..tetapi anda berpikir jika memang kamma baik berbuah
air itu akan masuk ke dalam mulut saya dengan sendiri nya..
ini orang tolol + bego.........

tentu anda harus dengan sendiri mengambil dan meminum-nya bukan.

kamma itu hanya dimana anda dibawa pada suatu KONDISI tetapi yang aktif harus anda sendiri pula..

kamma tidak mengatur kehidupan anda...anda yang mengatur kehidupan anda.

=============================

sama hal nya disini.....anda sudah diberi DHAMMA yang BENAR
(kondisi kamma baik anda berbuah..dimana bisa mengenal DHAMMA)

tetapi tergantung dari diri anda sendiri MAU atau TIDAK MENERIMA DHAMMA.

jika ada seorang yang memiliki BATU KERIKIL DI TANGAN-NYA...
lalu ada orang lain MENAWARKAN BATU BERLIAN permen mata didepan-nya.......
kemudian orang ini menolak tawaran itu..lalu tetap memegang batu kerikil...
bagaimana anda melihat orang ini?

lalu apakah yang membuat orang ini tetap bersikukuh pada batu kerikil...

jawab nya adalah . karena diri nya sendiri tidak ada pengetahuan TENTANG BATU...inilah disebut AVIJJA / KILESA


ini kisah nyata....ada seorang turis german..jalan-jalan di kota kecil...karena tidak ada transportasi..dia memanggil semacam becak....
sesudah diantar keliling kota...turis german ini mau membayar becak ini sebesar 5 dollar...tapi tukang becak ini menolak dan berkata cukup RP10.000 saja bos.
turis ini pun berpandangan bahwa tukang becak ini bodoh sekali.....

nah,apakah yang menyebabkan tukang becak ini menolak 5 dollar lalu hanya mau 10.000 rupiah?
karena tidak punya pengetahuan akan UANG...demikian lah

tetapi setelah ada orang lain menjelaskan tentang uang maka...tukang becak ini malah GEMBIRA dan memeluk turis ini...hahaha

salam metta. bro.

coba baca-baca thread tentang hukum kamma...
biar tambah pengetahuan.
 
ya, ini yg gw ga jelas, link nyake hukum karma. Apakah efek parita itu membuahkan karma lalu apakah terjadi karma baik lawan karma buruk. Jk ya, apakah bisa instant begitu ?

Jk tidak ada karma buruk yg berbuah, apakah kita bisa kena black magic ?....thx.mhn pencerahan.

Saya rasa anda sudah jelas dijelaskan oleh avuso Marcedes.

Pandangan-Pandangan Keliru Mengenai Kamma​

1. Kamma hanya dianggap sebagai hal yang buruk saja.

Pandangan ini beranggapan bahwa kamma hanya dianggap sebagai hasil yang buruk saja yang menimpa seseorang yang telah melakukan perbuatan buruk. Pandangan keliru (miccha ditthi) ini terjadi karena adanya kerancuan antara kamma (perbuatan) dengan kamma vipaka (hasil perbuatan) dan pemahaman yang salah terhadap kamma. Padahal, kamma yang berarti perbuatan sedangkan hasilnya disebut vipaka, tidak hanya berhubungan dengan perbuatan buruk ataupun akibat buruk semata, tetapi juga perbuatan baik ataupun akibat yang baik. Kamma vipaka (hasil perbuatan) tidak hanya berkaitan dengan hal-hal yang buruk tetapi juga hal-hal yang baik yang dialami oleh seseorang. Contoh: seseorang gemar berdana sehingga ia dihormati oleh setiap orang. Gemar berdana adalah kamma baik dan dihormati orang lain merupakan kamma vipaka (hasil perbuatan) yang baik.

2. Kamma vipaka (hasil kamma) dianggap sebagai nasib atau takdir yang tidak bisa diubah.

Pandangan ini dikatakan keliru karena jika hal itu terjadi maka seseorang tidak akan dapat bebas dari penderitaannya. Padahal seseorang dapat mengubah apa yang sedang ia alami. Selain itu, Guru Buddha telah mengajarkan mengenai Viriya atau semangat membaja yang berguna untuk mengatasi segala kesulitan. Sebagai contoh, seseorang yang lahir dalam keluarga yang kekurangan (miskin) karena kamma kehidupan lampau yang buruk yang telah ia lakukan dikehidupan yang lalu, ia dapat mengubah kondisi yang dialaminya tersebut dengan bekerja keras sehingga ia tidak lagi hidup dalam kemiskinan.

3. Prinsip kerja hukum kamma adalah mata dibayar mata, nyawa dibayar nyawa.

Pandangan ini beranggapan bahwa kamma akan selalu menghasilkan bentuk yang sama dengan hasil perbuatan (kamma vipaka), membunuh maka akan akan dibunuh, mencuri maka akan dicuri, menipu maka akan ditipu, dan sebagainya. Pandangan ini keliru karena kamma memiliki karakter yang dinamis dan tidak lepas dari kondisi-kondisi yang ada, sehingga tidak selamanya bentuk dari hasil kamma akan sama dengan bentuk kammanya. Tetapi yang dapat dipastikan adalah sifatnya, dimana kamma yang sifat buruk pasti akan menghasilkan hal yang sifatnya juga buruk, kamma baik pasti akan menghasilkan hal yang sifatnya juga baik.

4. Kamma orang tua diwarisi oleh anaknya.

Pandangan ini beranggapan bahwa orang tua yang melakukan kamma buruk maka hasilnya (vipaka) akan di terima oleh anaknya atau keluarga lainnya. Pandangan ini keliru karena prinsip kerja kamma adalah siapa yang melakukan perbuatan maka ia akan yang menerima hasilnya. Dalam Cullakammavibhanga Sutta; Majjhima Nikaya 135 Guru Buddha bersabda : "Semua mahluk hidup mempunyai kamma sebagai milik mereka, mewarisi kammanya sendiri, lahir dari kammanya sendiri, berhubungan dengan kammanya sendiri, dilindungi oleh kammanya sendiri. Kamma itulah yang membedakan makhluk hidup dalam keadaan rendah atau tinggi."

Dalam kasus tertentu terlihat sepertinya orang tua yang melakukan kamma buruk dan anaknya yang mengalami penderitaan. Hal ini bukan berarti kamma buruk orang tua diwarisi oleh anaknya, tetapi ini lebih berarti bahwa kamma buruk orang tua tersebut memicu kamma buruk si anak untuk berbuah. Dengan kata lain seseorang akan menerima akibat dari kammanya sendiri, tetapi kammanya dapat mempengaruhi atau mengkondisikan kamma orang lain untuk berbuah.

5. Kamma kehidupan lampau penentu segalanya yang terjadi di masa sekarang.

Pandangan ini beranggapan bahwa semua yang dialami seseorang pada masa sekarang, baik kondisi yang baik maupun buruk tidak lain merupakan hasil (vipaka) dari kamma kehidupan lampau saja. Pandangan ini keliru karena jika hal itu terjadi demikian maka seseorang hanya akan menjadi ”boneka” yang tidak bisa membebaskan diri dari penderitaan dan akan manjadi seseorang yang tidak memiliki kewaspadaan dan pengendalian diri. Hal ini telah dibabarkan oleh Guru Buddha dalam Tittha Sutta; Anguttara Nikaya 3.61 maupun dalam Sivaka Sutta; Samyutta Nikaya 36.21 {S 4.229} dan Devadaha Sutta; Majjhima Nikaya 101.

6. Kamma maupun vipaka (hasil kamma) ditentukan oleh tuhan.


Pandangan ini beranggapan bahwa semua yang diperbuat dan dialami seseorang pada masa sekarang, baik hal yang baik maupun buruk tidak lain merupakan kehendak tuhan. Pandangan ini keliru karena jika hal itu terjadi maka semua perbuatan dan semua yang dialami seseorang tidak lain hanya merupakan kehendak tuhan, sehingga seseorang tidak memiliki kehendak bebas, hanya akan menjadi ”boneka” yang tidak bisa membebaskan diri dari penderitaan dan akan menjadi seseorang yang tidak memiliki kewaspadaan dan pengendalian diri. Hal ini telah dibabarkan oleh Guru Buddha dalam Tittha Sutta; Anguttara Nikaya 3.61.

7. Kamma lampau dapat dihilangkan/dihapuskan.

Pandangan ini beranggapan bahwa kamma (perbuatan) buruk yang telah dilakukan seseorang, dapat dihilangkan/dihapuskan. Pandangan ini keliru karena kamma (perbuatan) lampau tersebut telah dilakukan dan telah terjadi sehingga tidak dapat dihapuskan. Sebagai contoh, Guru Buddha sendiri tetap menerima hasil dari kamma buruk kehidupan lampauNya berupa terlukanya kaki Beliau karena batu yang digulingkan oleh Devadatta. Jika kamma kehidupan lampau bisa dihapuskan maka Guru Buddha dengan mudah menghilangkannya dan kaki Beliau tidak akan terluka.

Kamma masa lampau tetap akan menimbulkan hasilnya seperti yang telah dijelaskan oleh Guru Buddha dalam Lonaphala Sutta; Anguttara Nikaya 3.99, dengan menggunakan perumpamaan garam yang sama banyaknya, yang satu dimasukkan ke dalam air di cangkir dan dan yang lain ke dalam sungai Ganga. Garam diibaratkan sebagai kamma buruk dan air adalah kamma baik. Ketika garam dimasukan ke dalam sebuah cangkir maka rasa garam tersebut akan terasa. Sedangkan garam yang jumlahnya sama dimasukan ke dalam sungai, maka air sungai tersebut tidak akan terasa asin. Jadi kamma buruk kehidupan lampau akan memberikan hasil/dampak tetapi dengan adanya kamma baik yang banyak yang dilakukan pada masa sekarang maka dampak dari kamma buruk tersebut menjadi berkurang bahkan tidak terasa.


 
thx....entar gw renung dalam2...thx se x lg.
 
Ada Banyak Parita Baik Itu Dari Teravada Dan Mahayana. Gunanya Apa ? Sebagian Malah Tidak Ada Terjemahannya Dalam Bahasa Indonesia.

Membaca Paritta Buddha TIDAK ADA GUNANYA, bila:
1. Tidak mengerti artinya
2. Tidak berusaha untuk mengerti artinya.
3. Tidak berusaha untuk menjalankan apa yang sudah dimengerti dari paritta tersebut.
4. Tidak berusaha untuk meyakini apa-apa saja yang sudah dimengerti dan dijalankan dari paritta tersebut.

Paritta hanya paritta. Bukan kata-kata sakti yang bisa membuat orang hebat atau celaka. Bisa bermanfaat, dan bisa tidak bermanfaat. Tergantung anda membacanya sebagai apa.

Kalau membaca paritta sebagai komik, tentu efeknya beda dengan membaca paritta sebagai kitab suci. Paritta adalah sumber. Pembabaran banyak hal yang pernah dijabarkan Budha Gautama. Umat Buddha tidak memakai jasa mediator dalam memahami Buddha Dharma. Tapi paritta adalah sumber tertulis yang membabarkan ajaran Sang Buddha.
 
ya, ini yg gw ga jelas, link nyake hukum karma. Apakah efek parita itu membuahkan karma lalu apakah terjadi karma baik lawan karma buruk. Jk ya, apakah bisa instant begitu ?

Jk tidak ada karma buruk yg berbuah, apakah kita bisa kena black magic ?....thx.mhn pencerahan.

Ketika sudah mencapai pencerahan/kesucian, apakah masih dalam ruang lingkup hukum karma??>:D<
 
Ketika sudah mencapai pencerahan/kesucian, apakah masih dalam ruang lingkup hukum karma??>:D<
kalau sudah ber-parinibbana baru tidak masuk hukum kamma.
kalau masih bernafas alias hidup..tentu masih lah.....^^
 
Kayaknya aye uda gak perlu ngejawab lagi ya disini, uda dijawab ama senior2 yang laen :D
 
Kayaknya aye uda gak perlu ngejawab lagi ya disini, uda dijawab ama senior2 yang laen :D

Terkadang, untuk suatu hal yang berat, bila dipertanyakan oleh orang yang pikirannya sederhana, maka ulasan dari yang sederhana yang bermakna. Bila uraiannya terlalu berat, sementara kemampuan pencerapan masih sederhana, yang ada justru semakin tidak mengerti dan semakin membingungkan. Tingkat pencerapan setiap orang berbeda.

Penjelasan dengan gamblang terkadang lebih mengena dari pada penjelasan panjang lebar. Karena ada sifat 'malas' yang masih menjadi debu dalam memahami Buddha Dharma atau hal apapun. Malas membaca, mengabaikan teks-teks yang tersebar sangat banyak. Sebenarnya mutiaranya berserakan di mana-mana... tapi debunya menutupi terlalu tebal.... kemudian ada malas yang melarang untuk memberishkan debu.... yah semakin berdebu.

Padahal solusinya sederhana, ambil sapu atau vacuum cleaner.... mudah-mudahan debunya terhapuskan, dan mutiaranya kelihatan.

Banyak orang yang merasa terlalu pintar, sehingga menjadi malas untuk belajar. Banyak juga yang merasa demikian pintar, sehingga kata-kata sederhana sering diabaikan. Banyak juga yang merasa sangat pintar, sehingga pikiran orang lain hanya sampah belaka.

Hanya untuk membersihkan debu... mereka yang merasa sangat pintar akan memohon kepada gunung untuk meniupkan angin timur.... sementara, di sebelahnya ada sapu dan vacum cleaner yang nganggur.... aneh kan?
:D
 
Terkadang, untuk suatu hal yang berat, bila dipertanyakan oleh orang yang pikirannya sederhana, maka ulasan dari yang sederhana yang bermakna. Bila uraiannya terlalu berat, sementara kemampuan pencerapan masih sederhana, yang ada justru semakin tidak mengerti dan semakin membingungkan. Tingkat pencerapan setiap orang berbeda.

Penjelasan dengan gamblang terkadang lebih mengena dari pada penjelasan panjang lebar. Karena ada sifat 'malas' yang masih menjadi debu dalam memahami Buddha Dharma atau hal apapun. Malas membaca, mengabaikan teks-teks yang tersebar sangat banyak. Sebenarnya mutiaranya berserakan di mana-mana... tapi debunya menutupi terlalu tebal.... kemudian ada malas yang melarang untuk memberishkan debu.... yah semakin berdebu.

Padahal solusinya sederhana, ambil sapu atau vacuum cleaner.... mudah-mudahan debunya terhapuskan, dan mutiaranya kelihatan.

Banyak orang yang merasa terlalu pintar, sehingga menjadi malas untuk belajar. Banyak juga yang merasa demikian pintar, sehingga kata-kata sederhana sering diabaikan. Banyak juga yang merasa sangat pintar, sehingga pikiran orang lain hanya sampah belaka.

Hanya untuk membersihkan debu... mereka yang merasa sangat pintar akan memohon kepada gunung untuk meniupkan angin timur.... sementara, di sebelahnya ada sapu dan vacum cleaner yang nganggur.... aneh kan?
:D
itulah masalahnya...walau sudah diberi bacaan nan lengkap untuk penjelasan...tapi masih juga berkata
"ah terlalu panjang gw ga bisa belajar yang ribet"

jika di beri penjelasan singkat masih juga berkata
"ah, gw ga ngerti...karena begini-begitu,dsb-nya"

...inilah masalah nya..malas membaca tapi rajin bertanya.
cape d..@[email protected]
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.