• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Apa Gunanya Membaca Parita Budha ?

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. akiong
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai
Tanya Jawab Antara Raja Milinda dan Yang Mulia Nagasena



Menurut kitab Milindha Panha (Pertanyaan-pertanyaan Raja Milinda), dinyatakan secara jelas mengenai sifat dari "Makna Paritta" dan dinyatakan juga jenis-jenis orang yang dapat memperoleh dan yang tidak dapat memperoleh manfaat dari paritta.

Dilema Raja Milinda dalam memahami kekuatan pengaruh paritta dan hubungannya dengan seseorang yang dapat dan yang tidak dapat memperoleh manfaat darinya, terangkum dalam percakapannya dengan Yang Mulia Nagasena sebagai berikut:

Milinda: "Yang Mulia Nagasena, telah dikatakan oleh Yang Terberkahi-

Tidak di dalam langit, tidak di tengah-tengah samudra,

Tidak di dalam belahan gunung terpencil,

Tidak ada satu pun tempat di penjuru dunia ini,

Dapat ditemukan tempat dimana seseorang dapat lari dari perangkap kematian."

"Tetapi di pihak lain, peran Paritta disebarluaskan oleh Sang Bhagava - sebagai contoh, Ratana Sutta dan Khanda Paritta dan Mora Paritta dan Dhajagga Paritta. Jika, Nagasena, seseorang tidak dapat melarikan diri dari perangkap kematian, walaupun dengan pergi kesurga, atau dengan pergi ke tengah-tengah samudra, atau dengan pergi ke istana-istana tertinggi yang mewah, atau bahkan ke gua-gua atau lungau-lungau atau lereng-lereng yang curam, atau lubang-lubang di pegunungan, maka upacara Paritta tidaklah akan berguna. Akan tetapi apabila dengan pembacaan Paritta maka seseorang dapat terlepas dari kematian, maka pernyataan dalam syair yang saya kutip tersebut adalah salah. Ini sungguh merupakan suatu masalah ("berkepala dua"), sungguh-sungguh merupakan sebuah masalah yang sulit. Saya serahkan pertanyaan ini kepada mu dan berikanlah penyelesaiannya."

Nagasena: "Sang Buddha, O Raja, memang telah mengajarkan syair yang telah anda kutip, dan Beliau juga mendukung upacara Paritta. Tetapi syair-syair Paritta ini hanyalah berarti bagi mereka yang masih memiliki sisa prosi kehidupan untuk dijalankan, bagi mereka yang masih memiliki sisa porsi kehidupan, dan mengendalikan diri mereka dari Karma buruk. Tidak ada satupun upacara atau sarana buatan yang dapat digunakan untuk memperpanjang kehidupan bagi seseorang yang masa hidupnya telah berakhir. Seperti halnya, O Raja, sebuah batang kayu yang telah kering dan mati, tumpul dan tidak bergetah, semua bentuk kehidupan telah pergi meninggalkannya, telah mencapai akhir dari waktu hidupnya, - Yang Mulia dapat memberikan beribu-ribu ember air untuk menyiramnya, tetapi ia tidak akan pernah menjadi segar lagi atau menumbuhkan tunas dan daun-daun lagi. Demikian juga halnya, tidak ada satu upacara atau sarana buatan apapun, tidak obat-obatan dan tidak juga Paritta, yang dapat memperpanjang kehidupan seseorang yang porsi hidup telah habis baginya. Semua ilmu pengobatan di dunia menjadi tidak berguna, O Raja, bagi orang yang seperti ini, tetapi Paritta adalah sebuah perlindungan dan bantuan bagi seseorang yang masih memiliki porsi hidup, yang masih penuh akan kehidupan, dan mengendalikan diri mereka dari berbuat karma-karma jahat. Dan inilah kegunaan paritta yang telah diajarkan oleh Sang Bhagava. Layaknya, O Raja, seorang petani menjaga butir padinya ketika matang dan mati dan bersiap-siap untuk panen dari arus air ketika ia masih muda, dan berwarna gelap seperti awan, dan penuh akan kehidupan - demikian juga halnya, O Raja, maka upacara Paritta dapat dikeluarkan dan diabaikan dalam kasus seseorang yang telah mencapai akhir porsi hidupnya, tetapi bagi seseorang yang masih memiliki porsi hidup untuk dijalankan serta fisik yang sehat dan kuat, bagi mereka syair-syair Paritta mungkin dapat digunakan, dan mereka akan memperoleh manfaat darinya."

Milinda: "Tetapi, Nagasena, jika seseorang yang memiliki porsi hidup maka akan tetap hidup, dan bagi seseorang yang telah habis porsi hidupnya maka akan meninggal, bukankah ini berarti bahwa obat-obatan dan syair-syair Paritta tidaklah berguna."

Nagasena: "Pernakah Anda melihat, O Raja, kasus di mana sebuah penyakit disembuhkan oleh obat-obatan?"

Milinda: "Ya, beberapa ratus kali."

Nagasena: "Bila demikian, O Raja, pernyataan Anda mengenai manfaat syair-syair Paritta dan obat-obatan pastilah salah."

Milinda: "Saya pernah melihat, Nagasena, para dokter membagikan obat-obatan untuk pasien minum atau oleskan pada tubuh, dan dengan cara ini penyakit-penyakit tersebut dapat disembuhkan."

Nagasena: "Demikianlah, O Raja, ketika suara orang yang mengulang syair-syair Paritta terdengar, meskipun lidah menjadi kering, hati menjadi sedikit berdentam, dan kerongkongan menjadi haus, tetapi melalui pengulangan syair-syair inilah maka semua penyakit dapat dihilangkan, semua malapetaka dapat diusir pergi. Apakah Anda pernah melihat, O Raja, seorang laki-laki yang digigit oleh ular kemudian diisap racunnya (oleh ular yang telah mengigit tersebut) atau memberikan salep di atas dan di bawah lubang gigitan?"

Milinda: "Pernah, itu adalah hal yang biasa terjadi di dunia saat ini."

Nagasena: "Maka apa yang Anda katakan bahwa syair Paritta dan obat-obatan adalah serupa dan tidak berguna adalah salah. Dan ketika syair Paritta telah dibacakan oleh seseorang, seekor ular, yang telah siap untuk mengigit, akan tidak jadi mengigitnya, melainkan menutup rahangnya - sama halnya seperti perampok yang telah mempersiapkan pentungannya untukmemukulNya menjadi tidak jadi dipukulkan; mereka menurunkan pentungan dan memperlakukanNya dengan baik - sama halnya dengan seekor gajah yang berahi yang berlari kearahNya akan berhenti dihadapannya - sama halnya dengan hutan yang terbakar oleh api yang bergelora akan padam seketika ketika berada di hadapanNya - sama halnya dengan racun ganas yang termakan oleh Sang Buddha akan menjadi tidak berbahaya, dan berubah menjadi makanan - sama halnya dengan seorang pembunuh yang berniat untuk membunuhNya kemudian bahkan menjadi pelayannya - sama halnya dengan perangkap yang telah diinjakNya menjadi tidak tersentuh.

"Dan lagi, O Raja, apakah Anda pernah mendengar seorang pemburu yang selama tujuh ratus tahun gagal melempar jaringnya kepada seekor merak yang sedang membaca syair-syair Paritta, tetapi kemudian berhasil pada suatu hari ketika sang merak lupa membaca Paritta?"

Milinda: "Iya, saya telah mendengar tentang hal tersebut. Kemasyhuran cerita itu telah menyebar hingga ke penjuru dunia."

Nagasena: "Maka ucapan Anda bahwa syair-syair Paritta dan obat-obatan tidak berguna pastilah salah. Dan pernahkah Anda mendengar mengenai Danava yang demi menjaga istrinya, ia memasuki istrinya ke dalam sebuah kotak dan kemudian menelannya, dan membawa istrinya di dalam perut. Dan bagaimana Vidyadhara memasuki mulutnya, dan bermain dengan istrinya. Dan bagaimana ketika Danava menyadari hal tersebut, memuntahkan kotak tersebut dan membukanya, danb pada saat ia melakukan hal tersebut, Vidyadhara dapat melarikan diri ebrsama dengan istrinya?"

Milinda: "Iya, saya telah mendengar tentang hal tersebut. Kemasyhuran cerita itu telah menyebar hingga ke penjuru dunia."

Nagasena: "Bila demikian, bukankah Vidyadhara dapat melarikan diri berkat kekuatan Paritta?"

Milinda: "Demikianlah yang terjadi."

Nagasena: "Bila demikian, maka pastilah ada kekuatan dalam Paritta. Dan pernahkah Anda mendengar bahwa Vidyadhara lainnya yang masuk ke tempat tinggal selir-selir Raja Benares, dan melakukan hubungan seksual dengan Sang Ratu, dan kemudian tertangkap, dan kemudian menjadi tidak terlihat, dan melarikan diri?"

Milinda: "Iya, saya telah mendengar cerita tersebut."

Nagasena: "Bukankah ia dapat melarikan diri dari penangkapan karena kekuatan akan Paritta?"

Milinda: "Iya."

Nagasena: "Karenanya, O Raja, pastilah ada kekuatan di dalam Paritta."

Milinda: �Yang Mulia Nagasena, apakah Paritta merupakan perlindungan bagi setiap orang?"

Nagasena: "bagi beberapa iya, tidak bagi lainnya."

Milinda: "Berarti syair-syair Paritta tidaklah selalu berguna?"

Nagasena: "Apakah makanan menjaga semua orang tetap hidup?"

Milinda: "Hanya dari beberapa orang, lainnya tidak."

Nagasena: "Mengapa demikian?"

Milinda: "Karena seseorang bisa meninggal karena makan terlalu banyak, ataupun manusia meninggal karena penyakit korela."

Nagasena: "Kalau begitu, bukankah makanan tidak dapat menjamin manusia untuk tetap hidup?"

Milinda: "Terdapat dua alasan seseorang dapat meninggal meskipun ada makanan, yaitu hancur karena mabuk di dalamnya (terhadap makanan), dan kelemahan pencernaan. Dan bahkan makanan sehat pun dapat menjadi teracuni oleh mantera-mantera jahat.

Nagasena: "Demikian juga halnya, O Raja, Paritta dapat menjadi perlindungan bagi sebagian orang, tetapi tidak bagi yang lainnya. Terdapat tiga alasan mengapa Paritta tidak dapat menjadi perlindungan - karma Penghancur, perbuatan jahat, dan ketidakyakinan. Paritta yang merupakan perlindungan bagi para makhluk menjadi kehilangan kekuatannya dikarenakan perbuatan makhluk-makhluk itu sendiri. Sama halnya, O Raja, seorang ibu dengan penuh cinta merawat anak yang berada dalam kandungannya, dan kemudian terus merawatnya dengan penuh perhatian. Setelah kelahiran anak tersebut, sang ibu akan menjaga anaknya bersih dari debu, noda dan ingus, dan meminyakinya dengan parfum-parfum terbaik dan termahal, dan ketika orang lain menjelekkan atau menyerangnya maka dia akan melawan mereka, dan dengan penuh rasa senang menggendong anaknya sebelum ia bisa berjalan. Tetapi ketika sang anak nakal, atau pulang terlambat, maka sang ibu akan memukul anaknya dengan rotan atau tongkat di lutut atau di tangannya. Sekarang, pada keadaan seperti itu, akankah sang ibu membela sang anak, menggendongnya dan memeluknya saat itu?"

Milinda: "Tidak."

Nagasena: "Mengapa tidak?"

Milinda: "Karena si anak laki-laki sedang melakukan kesalahan."

Nagasena: "Sama halnya, O Raja, syair-syair Paritta yang merupakan perlindungan bagi seseorang, karena kesalahannya sendiri, dapat balik menghukumnya."

Milinda: "Sangat bagus, Nagasena! Masalah telah terselesaikan, hutan-hutan menjadi bersinar, kegelapan menjadi terang, jaringan desas desus menjadi terungkap - dan oleh dirimu, O pemimpin terbaik dari berbagai aliran!"

 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.