• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Beda Upacara Ritual dan Konsep berarti Sesat ???

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. akiong
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai
Kalau singthung dengan ajaran Dhamma dari buddha gotama bisa menjadi seperti itu... lantas apa yang membuat Anda tidak tertarik untuk mempelajari Dhamma kami? :)

sy mempelajarinya terus menerus...sampai kadang temen sy bertanya , sy ada di pihak mana.....??? sy tersenyum, karena ga ada jawaban yg terlintas di pikiran.
 
Kalau Anda mendapatkan manfaat darinya, ikutilah... kalau Anda merasa terugikan dengan mengikutinya, tinggalkanlah.

namaste.gif
 
Ya, Ehipasiko.....
Saya Mempelajari Terus Untuk Bercermin Diri, Karena Duniawi Dan Dorongan Kilesa2 Batin Sangat Merepotkan. Keseimbangan Batin Yg Anda Katakan Itu Memberi Inspirasi. Ya...keseimbangan Batin...thx
 
Tidak merasa terlena dengan pujian
Tidak merasa tercerca oleh hinaan

Itulah keseimbangan batin

Saya sendiri belum memilikinya, namun sedang dilatih.
 
Tidak merasa terlena dengan pujian
Tidak merasa tercerca oleh hinaan

Itulah keseimbangan batin

Saya sendiri belum memilikinya, namun sedang dilatih.

Selo yatha ekaghano
vatena na samirati
evam nindapasamsasu
na saminjanti pandita

Bagaikan batu karang yang tak tergoncangkan oleh badai,
demikian pula para bijaksana tidak akan terpengaruh oleh celaan maupun pujian


 
Demikian para bijaksana
Takkan terpengaruh cela dan pujian
 
@ maksud mencerminkan nuansa spirit budhist...bahasa kiasanya ada roh ajaran sang budha.

sebagai orang yg belajar ajaran budist , skhankhara pikirannya ada roh ajaran sang budha, yakni di dalam setiap pikiran , perkataan dan perbuatannya ada roh ajaran sang budha.

Di sini sy ambil contoh bro "singthung". Beberapa kali dalam posting sy, sengaja sy memancing AGAR ADA kata2 yg kasar dari SINGTHUNG. SY INGIN MENGETAHUI BAHWA SEORANG YG MENGUASAI BEGITU BANYAK SUTTA SANG BUDHA ITU SEPERTI APA BATIN NYA ? ......KENYATAAN NYA APA ? DIA HANYA BERKATA : BELAJAR LAGI , BELAJAR LAGI..., ATAU POSTING ANJURAN ..BACA THEARD INI, ATAU ADA PERNYATAAN YG TIDAK LANGSUNG, SEHINGGA TIDAK ADA TERKESAN KONFLIK.
INILAH PROFIL YG ADA ROH BUDHIST NYA, KALO TIDAK BISA DIKATAKAN ADA ROH PENCERAHANNYA. INILAH PROFIL YANG SUDAH "JADI" DALAM KULTIVASI AJARAN SANG BUDHA, SUDAH ADA CITA RASA BUDHIST NYA BUKAN LAGI FANATISME RENDAHAN. JADI BUKAN HANYA ADA KUTIPAN2 SUTTA SAJA, TAPI SUDAH ADA CITA RASA NYA. SUDAH BISA DIRASAKAN OLEH ORANG LAIN, BAHKAN OLEH ORANG YG BUKAN BIDHIST,JADI BUKAN LAGI HANYA ADA OMONG KOSONG BELAKA TAPI SUDAH ADA PROFIL PENCERAHAN DARI SKHANKHARA PIKIRANNYA.
KETIKA SAYA BERCERMIN PADA PROFIL INI, SY MENJADI MALU PADA DIRI SENDIRI ...

[/COLOR]

pikiran anda saat itu adalah niat buruk tentunya merupakan kamma buruk..

semoga tidak ada di forum ini untuk saling menjatuhkan...hanya ada MENTAL untuk saling mencerahkan yang punya avijja.
tentu nya dengan "CARA" yang bijak.

walau se-umpamanya singtung marah-marah lantas balas NGEJEK...sebaiknya bukan itu tujuan buddha dhamma..

orang bijak dapat membedakan antara BERLIAN dan KOTORAN.
mengambil kata-kata BERLIAN-nya...membuang kata-kata KOTORAN-nya.

kata-kata benar tetap benar walau itu dalam tumpukan kotoran sekalipun !.
 
Kalau marah, marahlah dengan sadar.
kalau merajuk, yah merajuklah dengan sadar

kalau sudah bisa dengan sadar
kendalikan marahnya
kendalikan merajuknya

kalau sudah terkendali
buat apa mengetes atau memancing orang lain untuk marah?
bukankah itu perbuatan mara?

kendalikan pikiran tidak bisa sekaligus
bertahap, tidak ada instan. Tidak perlu pakai kiasan, kalau dirasa menutupi.
mungkin bisa diawali dari mengendalikan rasa marah saat baca postingan orang lain.
mungkin juga dengan menghapus rasa iri yang bisa saja muncul saat melihat orang lain bisa menulis dengan demikian baiknya.

Lalu lanjut lagi, pahami diri sendiri. sebelum memposting sesuatu, pikir lagi, bijaksanakah ini dijadikan threat baru. untuk hal ini, terus terang saya thanx buat Coolguzs yang sudah berulang kali mengingatkan saya. Godaan untuk 'balas dendam' (ini hanya istilah bombastis saya - tidak ada dendam di sini) kadang memang menggelitik. Bukan kepada dendamnya aku berpikir, tapi kepada bagaimana aku bisa menahan sedikit ujung jariku untuk tidak menyerang secara langsung pribadi yang mengsuikku. Hanya karena aku masih memiliki aku yang kuat. Pencapaianku belum seberapa. Sementara seperti kata Akiong, tulisanku masih saja tajam menyayat kiri-kanan.
saya tidak mengutip sutta-sutta
saya terlalu bebal untuk menghapal mati sutta-sutta yang ribuan baris itu

Dan, dari pada putus asa. Aku coba untuk marah dengan sadar. Gondok dengan sadar. Nyentil dengan sadar. Nyindir dengan sadar. Sehingga apapun resiko yang bakal aku terima, aku bisa menerimanya tanpa penyesalan. Tidak bersembunyi pada ketidaksengajaan, karena aku marah tidak sadar, gondok tidak sadar, balas ngejeknya pun tidak sengaja atau tidak bermaksud begitu. Jadi, kalau seandainya akhirnya kena kartu merah, kena kartu kuning atau bahkan seperti mr. Wei yang konon sudah pernah kena banned, aku bisa menrimanya sebagai kesalahanku sendiri. Tanpa menuding ada yang menguasai Forum Buddha. Atau ada ketidak adilan.

Lagi, lagi ini jadinya seperti curhat. Seperti opini pribadi hanya karena sebaris kalimat yang ditulis Merce, 'kata-kata benar tetap benar walau itu dalam tumpukan kotoran sekalipun'. Paling tidak aku menuliskannya dengan sadar. Dengan kemauan sendiri untuk berbagi dengan teman-teman di sini. Tidak dengan tidak sengaja. Tapi sengaja. Agar dibaca. Tidak mesti ditanggapi, aku hanya menanggapi.

Kadang-kadang memang lebih menjadi naluri untuk menilai kotoran sebagai kotoran. padahal, kotoran juga bisa dijadikan pupuk. Bahkan sekarang sudah ada wacana untuk memanfaatkan kotoran sebagai bio gas yang bisa menjadi alternatif dari ketergantungan pada bahan bakar fosil, terutama minyak bumi.
 
Pengetahuan anda <@ROU> sebenarnya banyak ini membuat forum budist jadi hidup tidak monoton < maksudnya itu2 saja>. Posting anda ada refreshing nya. Bacanya juga seger...Jadi sering2 berkunjung da... thx
 
theravadha, Mahayana,Tantrayana

ak mau nanya Tantrayana yang mana ni?ada 2 loh. LSY dan Tibetan.

master2 di forum ini tolong di beri tahu ke saya mana yg sesat:-/:-/
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.