tusuksate
IndoForum Activist A
- No. Urut
- 48279
- Sejak
- 14 Jul 2008
- Pesan
- 20.342
- Nilai reaksi
- 397
- Poin
- 83
Global Warming alias Pemanasan Global udah ga asing lagi di telinga kita, coz hampir tiap hari setiap orang meneriakkan “Stop Global Warming”, tapi mungkin sebagian besar orang masih banyak yang belum tau apa sih global warming itu sendiri, apa penyebabnya dan bagaimana mengurangi dampaknya.
Yup, mari kita sama-sama belajar dan mencoba untuk mengurangi dampaknya…
Pemanasan global merupakan efek dari zat karbon yang semakin hari semakin meningkat jumlahnya yang membuat lapisan ozon makin tipis dan sinar ultra violet makin bebas beredar di bumi. Padahal, seperti yang kita tau sinar tersebut cukup berbahaya untuk kesehatan kulit. Itu baru salah satu dari dampak pemanasan global. Saat ini yang paling terasa adalah terjadinya perubahan iklim yang tidak tentu adanya, seperti di Balikpapan tempat saya tinggal ini contohnya, emang sih Balikpapan termasuk daerah yang dari dulu cuacanya ga tentu musim hujan/kemarau nya, tapi biasanya perubahan iklimnya ga se-drastis ini. Sekarang di Balikpapan panas banget trus otomatis bisa langsung hujan deras. Pokoknya ga tentu,,jadi kalau saya naik motor harus selalu bawa jas hujan…hwihihihi…
Makanya sekarang Pemerintah dan para kalangan terkemuka termasuk artis2 menggalakkan sistem tanam pohon paling tidak di sekitar rumah kita, ide bagus banget tuh…paling tidak udara di rumah kita jadi seger gitu…hwehehehe…Nah selain itu ternyata emang masih banyak jalan menuju Roma lho,,selain tanam pohon ternyata masih banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mengurangi dampak global warming. Ga perlu mikir usaha yang berat2 dulu,,,seperti masalah pengelolaan pembangunan dan tata ruang kota biar kita percayakan kepada Pemerintah, nah sedangkan kita bisa mulai dari hal-hal yang kecil dulu, bukankah lebih baik berbuat sesuatu hal yang baik walaupun itu hal kecil daripada tidak sama sekali,,betul ngga??
Walaupun keliatannya hal yang sepele, tapi ternyata dampaknya lumayan hebat lho,,coba deh baca hal-hal di bawah ini yang mungkin setidaknya bisa kita lakukan,,,Check this out!!
1. Mengurangi Pemakaian Bahan Bakar
Percaya ga kalau 1 hari aja dalam 1 minggu kita ga pakai kendaraan bermotor, itu udah nyelamatin udara dari berton-ton zat karbon, susah sih emang ngurangin pemakaian kendaraan bermotor coz hari2 kita pasti pake buat ke kantor, ke sekolah/kampuz, belum lagi jalan-jalan sore. Tapi hal itu mungkin aja kita lakuin, kayak kita dalam seminggu 1 hari nebeng ma temen ke kantor/kampus
Kendaraan bermotor sebagai penyumbang sumber CO2 terbesar di wilayah perkotaan juga perlu diantisipasi dengan mengubah perilaku hidup orang. Pencemaran udara 70% dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Menurut data Swiss Contact, Proyek Udara Bersih Jakarta, sumber pencemaran di Jakarta disumbang oleh kendaraan pribadi sekitar 90% dan sekitar 10% dari kendaraan umum, termasuk truk. Bila di lakukan pengurangan penggunaan kendaraan bermotor, maka kemacetan dan polusi udara dapat dikurangi..
2. Mencari Energi Alternatif
Penggunaan energi alternatif yang dapat diperbarui perlu dilakukan di Indonesia. Pembangkit listrik di Indonesia kebanyakan menggunakan bahan bakar fosil: minyak bumi, batu bara, dan gas alam. Ketiganya mengeluarkan CO2. Jadi, semakin kita boros menggunakan listrik, semakin banyak CO2 yang dikeluarkan. Daripada terus-terusan boros listrik dan pemerintah harus membangun pembangkit listrik berbahan fosil baru untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, lebih baik melakukan hemat listrik. Dengan penghematan ini, anggaran pemerintah untuk subsidi listrik yang besar bisa dipakai untuk membangun pembangkit listrik dengan energi bersih, seperti sinar matahari, air, angin, biomassa, dan panas bumi.
3. Jangan pake styrofoam dan plastik
Biasanya kalau kita beli makan di restoran fast food kan bungkusnya tuh pake styrofoam atau kadang pake tempat plastik yang kalau kita udah sampe rumah kita buang...
patut diingat pula bahwa bahan styrofoam secara biologis memiliki jangka waktu yang paling lama untuk diuraikan, yaitu 100 tahun. Lalu bagaimana pula nasib bumi kita apabila sampah styrofoam selalu bertambah setiap harinya??
4. Menanam pohon secara masal
Penanaman pohon secara masal juga perlu dilakukan, misalnya dengan membuat taman kota, hutan kota, dan kewajiban menanam bagi instansi, perumahan, atau lembaga lain.
Tapi kenyataan yang ada pohon ditebang untuk di jadikan bangunan atau di perjual belikan tanpa memikirkan dampak kedepannya...
5. Stop makan pake sumpit
Secara ga sadar dengan makan pake sumpit otomatis kamu bikin hutan jadi gundul, gmana ngga coba,,untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang makan pake sumpit,,pembuatan sumpit ini pastinya udah banyak pohon yang dikorbanin.
sebuah pohon yang berusia 20 tahun bisa menghasilkan sumpit sebanyak 3000 sampai 4000 pasang.
hanya taiwan saja sudah menggunakan sumpit sebanyak 100 triliun pasang setiap tahun, artinya 29 juta pohon hilang setiap tahunnya
6. Usahakan pake tisu dan kertas seperlunya aja
Setiap Proses produksi kertas memerlukan bahan kimia, air dan energi dalam jumlah besar dan tentusaja bahan baku, yang pada umumnya berasal dari kayu . Diperlukan 1 batang pohon usia 5 tahun untuk memproduksi 1 rim kertas. Limbah yang dihasilkan dari proses produksi kertas juga sangat besar, baik secara kuantitatif dalam bentuk cair, gas, dan padat, maupun secara kualitatif. Agar limbah ini tidak mencemari lingkungan, maka diperlukan teknologi tinggi dan energi untuk mem-prosesnya.
Dampak Global warming
1.Perubahan iklim
Perubahan iklim yang disebabkan oleh pemanasan global akan menimbulkan dampak negatif, antara lain mencairnya lapisan es terutama di kutub utara dan selatan yang mengakibatkan naiknya permukaan air laut. Akibatnya, volume lautan meningkat dan permukaannya naik sekitar 9-100 sentimeter sehingga akan menyebabkan tenggelamnya daerah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Perubahan iklim juga akan menyebabkan pergeseran musim. Musim kemarau akan berlangsung lama dan dapat menyebabkan kekeringan, sehingga kebakaran hutan meningkat. Kebakaran hutan akan menyebabkan gas CO yang berbahaya bagi manusia banyak terbentuk dan ikut masuk dalam saluran pernapasan manusia ketika sedang bernapas. Penumpukan gas CO dalam saluran pernapasan akan menyebabkan sesak nafas, sehingga mengganggu kesehatan. Pergeseran musim menyebabkan musim hujan datang lebih cepat dengan kecenderungan intensitas curah hujan yang lebih tinggi sehingga menyebabkan banjir dan tanah longsor. Banjir merupakan luapan air yang melanda suatu daerah tertentu. Luapan air tersebut dapat membahayakan kesehatan manusia, karena di dalamnya terdapat mikroorganisme penyebab penyakit, sehingga dapat menurunkan kualitas air dan terjadinya krisis persediaan makanan. Penurunan kualitas air dan krisis persediaan makanan menyebabkan timbulnya penyakit, seperti malaria, demam berdarah, dan diare.
2.Hilangnya terumbu karang
Naiknya air laut akibat pemanasan global dalam 20 tahun akan menenggelamkan gugusan karang ajaib Great barrier reef. Charlie, mantan kepala peneliti di Australian Institute of Marine Science mengatakan pada The Times: "Tidak ada harapan, Great Barrier akan lenyap 20 tahun lagi atau lebih. Sekali karbon dioksida (CO2) menyentuh level seperti yang diprediksi antara tahun 2030 dan 2060, seluruh karang akan lenyap. bukan hanya di Great barrier reef tapi di tempat-tempat lain di dunia mengalami ancaman serupa
3. Hutan Amazon Akan Berubah Menjadi Gurun
Memiliki jutaan spesies dan cadangan 1/5 air bersih dunia, hutan Amazon merupakan hutan hujan tropis terbesar di dunia. Tapi pemanasan global dan penggundulan hutan membalikkan fungsi hutan sebagai penyerap karbon dan merubah 30-60 persen hutan menjadi padang rumput kering. Proyeksi-proyeksi menunjukkan hutan ini bisa lenyap menjelang tahun 2050.
4. Angin Topan Akan Bertiup Lebih Dahsyat
Belum bisa dijelaskan apakah global warming bertanggung jawab atas terjadinya badai Katrina. Tapi ada indikasi-indikasi bahwa global warming akan menciptakan badai-badai berkategori 5 - badai Katrina sendiri berkategori 4 saat menghantam Lousiana. Kekuatan badai dimulai dari adanya air hangat dan model-model ramalan menunjukkan badai di masa depan akan menjadi lebih dahsyat seiring dengan naiknya temperatur lautan. Global warming juga membuat badai-badai itu lebih destruktif dengan naiknya permukaan laut yang memicu banjir yang lebih besar di wilayah pesisir.
5. London Tenggelam Tahun 2100
Tidak hanya karang dan pulau-pulau landai yang terancam global warming. Faktanya sebuah ancaman besar juga menghantui wilayah kota besar di wilayah pantai yang beresiko tenggelam di bawah air akibat naiknya permukaan laut. Lusinan kota-kota dunia termasuk London dan New York bisa saja lenyap tenggelam menjelang akhir abad ini, menurut penelitian yang menyebutkan global warming akan mengakibatkan naiknya permukaan air laut lebih cepat dari yang diprediksi sebelumnya. London termasuk kota besar yang beresiko tinggi seperti digambarkan dalam sebuah film tahun 2007 berjudul "Flood". Menurut para ahli kota ini akan tenggelam tidak sampai 100 tahun lagi.
6. Hewan-hewan yang Menyusut
Studi baru menyebutkan bahwa bahwa spesies-spesies hewan mengalami penyusutan rata-rata hingga 50 persen dari massa tubuhnya dalm 30 tahun terakhir. Penelitian awal terhadap domba menduga bahwa musim dingin yang lebih pendek dan ringan membuat domba-domba itu tidak menambah berat badannya untuk bertahan hidup pada tahun pertama hidupnya. Faktor seperti ini dapat juga mempengaruhi populasi ikan. Para peneliti menyebutkan perubahan iklim ini bisa mengganggu rantai-rantai makanan, dimana predator di puncak rantai makanan yang paling terpengaruhi karena menyusutnya mangsa.
Bila sampai mengakibatkan kepunahan maka rantai makanan akan terputus sehingga keseimbangan alam akan terganggu.
7. Kepulauan Indonesia Kehilangan Ribuan Pulaunya
Akibat global warming, sedikitnya 2000 pulau kecil di kepulauan Indonesia mungkin akan hilang sebelum yahun 2030 danhal ini diperparah sebagai konsekuensi penambangan liar dan aktivitas lain yang merusak lingkungan. Indonesia hingga saat ini telah kehilangan sedikitnya 24 dari 17.500 pulau-pulau di wilayahnya.
8. Global Warming Bisa Memicu Terorisme
Global warming bisa menciptakan kondisi ketidakstabilan di negara-negara miskin, sehingga memicu terjadinya migrasi dan menjadi tempat subur berkembangnya terorisme. Kondisi negara yang tidak stabil akibat iklim yang keras dan tidak menentu menyebabkan banyak orang meninggalkan negaranya dan karena tekanan beberapa di antaranya bisa melakukan tindak terorisme. Belum lagi masalah akibat penolakan dari negara yang didatangi para imigran ini.
9. Mencairnya Pegunungan Alpen
Tahun-tahun belakangan ini terlihat pengurangan intensitas salju di wilayah-wilayah rendah, menyusutnya volume glacier (sungai es), dan juga meningkatnya cairnya wilayah es beku. Hal ini berdampak langsung pada aktivitas turisme di musim dingin. Diprediksi glacier-glacier itu akan hilang antara tahun 2030 dan 2050. Itali dan Swiss telah memutuskan untuk menggambar ulang batas-batas wilayah mereka akibat berkurangnya glacier-glacier di Alpine dan menyapu tanda batas-batas wilayah dua negara itu.
10. Tenggelamnya Kepulauan Maldiva
Wilayah kepulauan rendah dan flat yang dikelilingi lautan diprediksi akan ditenggelamkan oleh lautan yang mengelilinginya itu. Hal ini merupakan berita buruk bagi para penghuninya dan juga bagi dunia pariwisata yang mengandalkan pantai-pantai berpasir putih dengan air hangatnya. Para peneliti memberi waktu tidak lebih dari seratus tahun sebelum kepulauan ini bebar-benar lenyap ditelan samudera.
Gw usahakan Update terus
Yup, mari kita sama-sama belajar dan mencoba untuk mengurangi dampaknya…
Pemanasan global merupakan efek dari zat karbon yang semakin hari semakin meningkat jumlahnya yang membuat lapisan ozon makin tipis dan sinar ultra violet makin bebas beredar di bumi. Padahal, seperti yang kita tau sinar tersebut cukup berbahaya untuk kesehatan kulit. Itu baru salah satu dari dampak pemanasan global. Saat ini yang paling terasa adalah terjadinya perubahan iklim yang tidak tentu adanya, seperti di Balikpapan tempat saya tinggal ini contohnya, emang sih Balikpapan termasuk daerah yang dari dulu cuacanya ga tentu musim hujan/kemarau nya, tapi biasanya perubahan iklimnya ga se-drastis ini. Sekarang di Balikpapan panas banget trus otomatis bisa langsung hujan deras. Pokoknya ga tentu,,jadi kalau saya naik motor harus selalu bawa jas hujan…hwihihihi…
Makanya sekarang Pemerintah dan para kalangan terkemuka termasuk artis2 menggalakkan sistem tanam pohon paling tidak di sekitar rumah kita, ide bagus banget tuh…paling tidak udara di rumah kita jadi seger gitu…hwehehehe…Nah selain itu ternyata emang masih banyak jalan menuju Roma lho,,selain tanam pohon ternyata masih banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mengurangi dampak global warming. Ga perlu mikir usaha yang berat2 dulu,,,seperti masalah pengelolaan pembangunan dan tata ruang kota biar kita percayakan kepada Pemerintah, nah sedangkan kita bisa mulai dari hal-hal yang kecil dulu, bukankah lebih baik berbuat sesuatu hal yang baik walaupun itu hal kecil daripada tidak sama sekali,,betul ngga??
Sampai baru pada abad 19, maka studi mengenai iklim mulai mengetahui tentang kandungan gas yang berada di atmosfer, disebut sebagai gas rumah kaca, yang bisa mempengaruhi iklim di Bumi. Apa itu gas rumah kaca?
Sebetulnya yang dikenal sebagai ‘gas rumah kaca’, adalah suatu efek, dimana molekul-molekul yang ada di atmosfer kita bersifat seperti memberi efek rumah kaca. Efek rumah kaca sendiri, seharusnya merupakan efek yang alamiah untuk menjaga temperatur permukaaan Bumi berada pada temperatur normal, sekitar 30°C, atau kalau tidak, maka tentu saja tidak akan ada kehidupan di muka Bumi ini.
Pada sekitar tahun 1820, bapak Fourier menemukan bahwa atmosfer itu sangat bisa diterobos (permeable) oleh cahaya Matahari yang masuk ke permukaan Bumi, tetapi tidak semua cahaya yang dipancarkan ke permukaan Bumi itu bisa dipantulkan keluar, radiasi merah-infra yang seharusnya terpantul terjebak, dengan demikian maka atmosfer Bumi menjebak panas (prinsip rumah kaca).
Tiga puluh tahun kemudian, bapak Tyndall menemukan bahwa tipe-tipe gas yang menjebak panas tersebut terutama adalah karbon-dioksida dan uap air, dan molekul-molekul tersebut yang akhirnya dinamai sebagai gas rumah kaca, seperti yang kita kenal sekarang. Arrhenius kemudian memperlihatkan bahwa jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatgandakan, maka peningkatan temperatur permukaan menjadi sangat signifikan.
Semenjak penemuan Fourier, Tyndall dan Arrhenius tersebut, ilmuwan semakin memahami bagaimana gas rumah kaca menyerap radiasi, memungkinkan membuat perhitungan yang lebih baik untuk menghubungkan konsentrasi gas rumah kaca dan peningkatan Temperatur. Jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatduakan saja, maka temperatur bisa meningkat sampai 1°C.
Tetapi, atmosfer tidaklah sesederhana model perhitungan tersebut, kenyataannya peningkatan temperatur bisa lebih dari 1°C karena ada faktor-faktor seperti, sebut saja, perubahan jumlah awan, pemantulan panas yang berbeda antara daratan dan lautan, perubahan kandungan uap air di udara, perubahan permukaan Bumi, baik karena pembukaan lahan, perubahan permukaan, atau sebab-sebab yang lain, alami maupun karena perbuatan manusia. Bukti-bukti yang ada menunjukkan, atmosfer yang ada menjadi lebih panas, dengan atmosfer menyimpan lebih banyak uap air, dan menyimpan lebih banyak panas, memperkuat pemanasan dari perhitungan standar.
Sejak tahun 2001, studi-studi mengenai dinamika iklim global menunjukkan bahwa paling tidak, dunia telah mengalami pemanasan lebih dari 3°C semenjak jaman pra-industri, itu saja jika bisa menekan konsentrasi gas rumah kaca supaya stabil pada 430 ppm CO2e (ppm = part per million = per satu juta ekivalen CO2 – yang menyatakan rasio jumlah molekul gas CO2 per satu juta udara kering). Yang pasti, sejak 1900, maka Bumi telah mengalami pemanasan sebesar 0,7°C.
Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F) dengan efek rumah kaca (tanpanya suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi). Akan tetapi sebaliknya, akibat jumlah gas-gas tersebut telah berlebih di atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.
Sebetulnya yang dikenal sebagai ‘gas rumah kaca’, adalah suatu efek, dimana molekul-molekul yang ada di atmosfer kita bersifat seperti memberi efek rumah kaca. Efek rumah kaca sendiri, seharusnya merupakan efek yang alamiah untuk menjaga temperatur permukaaan Bumi berada pada temperatur normal, sekitar 30°C, atau kalau tidak, maka tentu saja tidak akan ada kehidupan di muka Bumi ini.
Pada sekitar tahun 1820, bapak Fourier menemukan bahwa atmosfer itu sangat bisa diterobos (permeable) oleh cahaya Matahari yang masuk ke permukaan Bumi, tetapi tidak semua cahaya yang dipancarkan ke permukaan Bumi itu bisa dipantulkan keluar, radiasi merah-infra yang seharusnya terpantul terjebak, dengan demikian maka atmosfer Bumi menjebak panas (prinsip rumah kaca).
Tiga puluh tahun kemudian, bapak Tyndall menemukan bahwa tipe-tipe gas yang menjebak panas tersebut terutama adalah karbon-dioksida dan uap air, dan molekul-molekul tersebut yang akhirnya dinamai sebagai gas rumah kaca, seperti yang kita kenal sekarang. Arrhenius kemudian memperlihatkan bahwa jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatgandakan, maka peningkatan temperatur permukaan menjadi sangat signifikan.
Semenjak penemuan Fourier, Tyndall dan Arrhenius tersebut, ilmuwan semakin memahami bagaimana gas rumah kaca menyerap radiasi, memungkinkan membuat perhitungan yang lebih baik untuk menghubungkan konsentrasi gas rumah kaca dan peningkatan Temperatur. Jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatduakan saja, maka temperatur bisa meningkat sampai 1°C.
Tetapi, atmosfer tidaklah sesederhana model perhitungan tersebut, kenyataannya peningkatan temperatur bisa lebih dari 1°C karena ada faktor-faktor seperti, sebut saja, perubahan jumlah awan, pemantulan panas yang berbeda antara daratan dan lautan, perubahan kandungan uap air di udara, perubahan permukaan Bumi, baik karena pembukaan lahan, perubahan permukaan, atau sebab-sebab yang lain, alami maupun karena perbuatan manusia. Bukti-bukti yang ada menunjukkan, atmosfer yang ada menjadi lebih panas, dengan atmosfer menyimpan lebih banyak uap air, dan menyimpan lebih banyak panas, memperkuat pemanasan dari perhitungan standar.
Sejak tahun 2001, studi-studi mengenai dinamika iklim global menunjukkan bahwa paling tidak, dunia telah mengalami pemanasan lebih dari 3°C semenjak jaman pra-industri, itu saja jika bisa menekan konsentrasi gas rumah kaca supaya stabil pada 430 ppm CO2e (ppm = part per million = per satu juta ekivalen CO2 – yang menyatakan rasio jumlah molekul gas CO2 per satu juta udara kering). Yang pasti, sejak 1900, maka Bumi telah mengalami pemanasan sebesar 0,7°C.
Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F) dengan efek rumah kaca (tanpanya suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi). Akan tetapi sebaliknya, akibat jumlah gas-gas tersebut telah berlebih di atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.
Walaupun keliatannya hal yang sepele, tapi ternyata dampaknya lumayan hebat lho,,coba deh baca hal-hal di bawah ini yang mungkin setidaknya bisa kita lakukan,,,Check this out!!
1. Mengurangi Pemakaian Bahan Bakar
Percaya ga kalau 1 hari aja dalam 1 minggu kita ga pakai kendaraan bermotor, itu udah nyelamatin udara dari berton-ton zat karbon, susah sih emang ngurangin pemakaian kendaraan bermotor coz hari2 kita pasti pake buat ke kantor, ke sekolah/kampuz, belum lagi jalan-jalan sore. Tapi hal itu mungkin aja kita lakuin, kayak kita dalam seminggu 1 hari nebeng ma temen ke kantor/kampus
Kendaraan bermotor sebagai penyumbang sumber CO2 terbesar di wilayah perkotaan juga perlu diantisipasi dengan mengubah perilaku hidup orang. Pencemaran udara 70% dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Menurut data Swiss Contact, Proyek Udara Bersih Jakarta, sumber pencemaran di Jakarta disumbang oleh kendaraan pribadi sekitar 90% dan sekitar 10% dari kendaraan umum, termasuk truk. Bila di lakukan pengurangan penggunaan kendaraan bermotor, maka kemacetan dan polusi udara dapat dikurangi..
2. Mencari Energi Alternatif
Penggunaan energi alternatif yang dapat diperbarui perlu dilakukan di Indonesia. Pembangkit listrik di Indonesia kebanyakan menggunakan bahan bakar fosil: minyak bumi, batu bara, dan gas alam. Ketiganya mengeluarkan CO2. Jadi, semakin kita boros menggunakan listrik, semakin banyak CO2 yang dikeluarkan. Daripada terus-terusan boros listrik dan pemerintah harus membangun pembangkit listrik berbahan fosil baru untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, lebih baik melakukan hemat listrik. Dengan penghematan ini, anggaran pemerintah untuk subsidi listrik yang besar bisa dipakai untuk membangun pembangkit listrik dengan energi bersih, seperti sinar matahari, air, angin, biomassa, dan panas bumi.
3. Jangan pake styrofoam dan plastik
Biasanya kalau kita beli makan di restoran fast food kan bungkusnya tuh pake styrofoam atau kadang pake tempat plastik yang kalau kita udah sampe rumah kita buang...
patut diingat pula bahwa bahan styrofoam secara biologis memiliki jangka waktu yang paling lama untuk diuraikan, yaitu 100 tahun. Lalu bagaimana pula nasib bumi kita apabila sampah styrofoam selalu bertambah setiap harinya??
Beberapa tahun lalu, Mc Donalds mengumumkan akan mengganti wadah
styrofoam dengan kertas. Para ahli lingkungan menyebutkan keputusan
itu sebagai ''kemenangan lingkungan'' karena styrofoam sangat
berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan.
Namun bukan berati styrofoam (polystyrene) jadi berkurang dan
hilang. Malahan di Indonesia, penggunaan styrofoam sebagai wadah
makanan makin menjamur. Sangat mudah menemukannya dimana-mana. Mulai
dari restoran cepat sampai ketukang-tukang makanan di pinggir jalan,
menggunakan bahan ini untuk membungkus makanan mereka. Alasannya,
ingin praktis dan tampil lebih baik. Padahal di balik kemasan yang
terlihat bersih itu ada bahaya besar yang mengancam.
Dalam industri, styrofoam sering digunakan sebagai bahan insulasi.
Bahan ini memang bisa menahan suhu, sehingga benda didalamnya tetap
dingin atau hangat. Karena bisa menahan suhu itulah, akhirnya banyak
yang menggunakannya sebagai gelas minuman dan wadah makanan.
Berbahaya Bagi Kesehatan
Mengapa styrofoam berbahaya? Styrofoam jadi berbahaya karena terbuat
dari butiran-butiran styrene, yang diprosese dengan menggunakan
benzana. Padahal benzana termasuk zat yang bisa menimbulkan banyak
penyakit.
Benjana bisa menimbulkan masalah pada kelenjar tyroid, mengganggu
sistem syaraf sehingga menyebabkan kelelahan, mempercepat detak
jantung, sulit tidur, badan menjadi gemetaran, dan menjadi mudah
gelisah. Dibeberapa kasus, benzana bahkan bisa mengakibatkan hilang
kesadaran dan kematian. saat benzana termakan, dia akan masuk ke
sel-sel darah dan lama-kelamaan akan merusak sumsum tulang belakang.
Akibatnya produksi sel darah merah berkurang dan timbullah penyakit
anemia. Efek lainnya, sistem imun akan berkurang sehingga kita mudah
terinfeksi. Pada wanita, zat ini berakibat buruk terhadap siklus
menstruasi dan mengancam kehamilan. Dan yang paling berbahaya, zat
ini bisa menyebabkan kanker payudara dan kanker prostat.
Beberapa lembaga dunia seperti World Health Organization' s
International Agency for Research on Cancer dan EPA (Enviromental
Protection Agency) styrofoam telah dikategorikan sebagai bahan
carsinogen(bahan penyebab kanker)
Semakin Berlemak Makin Cepat
Saat makanan atau minuman ada dalam wadah styrofoam, baham kimia
yang terkandung dalam styrofoam akan berpindah ke makanan.
Perpindahannya akan semakin cepat jika kadar lemak (fat) dalam suatu
makanan atau minuman makin tinggi. Selain itu, makanan yang
mengandung alkohol atau asam (seperti lemon tea) juga dapat
mempercepat laju perpindahan.
Penelitian juga membuktikan, bahwa semakin panas suatu makanan,
semakin cepat pula migrasi bahan kimia styrofoam ke dalam makanan.
Padahal di restoran-restoran siap saji dan di tukang-tukang makanan
di pinggir jalan, styrofoam digunakan untuk membungkus makanan yang
baru masak. Malahan ada gerai makanan cepat saji yang memanaskan
lagi makanan yang telah terbungkus styrofoam di dalam microwave.
Terbayang, kan, betapa banyaknya zat kimia yang pindah ke makanan
kita dan akhirnya masuk ke dalam tubuh kita.
styrofoam dengan kertas. Para ahli lingkungan menyebutkan keputusan
itu sebagai ''kemenangan lingkungan'' karena styrofoam sangat
berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan.
Namun bukan berati styrofoam (polystyrene) jadi berkurang dan
hilang. Malahan di Indonesia, penggunaan styrofoam sebagai wadah
makanan makin menjamur. Sangat mudah menemukannya dimana-mana. Mulai
dari restoran cepat sampai ketukang-tukang makanan di pinggir jalan,
menggunakan bahan ini untuk membungkus makanan mereka. Alasannya,
ingin praktis dan tampil lebih baik. Padahal di balik kemasan yang
terlihat bersih itu ada bahaya besar yang mengancam.
Dalam industri, styrofoam sering digunakan sebagai bahan insulasi.
Bahan ini memang bisa menahan suhu, sehingga benda didalamnya tetap
dingin atau hangat. Karena bisa menahan suhu itulah, akhirnya banyak
yang menggunakannya sebagai gelas minuman dan wadah makanan.
Berbahaya Bagi Kesehatan
Mengapa styrofoam berbahaya? Styrofoam jadi berbahaya karena terbuat
dari butiran-butiran styrene, yang diprosese dengan menggunakan
benzana. Padahal benzana termasuk zat yang bisa menimbulkan banyak
penyakit.
Benjana bisa menimbulkan masalah pada kelenjar tyroid, mengganggu
sistem syaraf sehingga menyebabkan kelelahan, mempercepat detak
jantung, sulit tidur, badan menjadi gemetaran, dan menjadi mudah
gelisah. Dibeberapa kasus, benzana bahkan bisa mengakibatkan hilang
kesadaran dan kematian. saat benzana termakan, dia akan masuk ke
sel-sel darah dan lama-kelamaan akan merusak sumsum tulang belakang.
Akibatnya produksi sel darah merah berkurang dan timbullah penyakit
anemia. Efek lainnya, sistem imun akan berkurang sehingga kita mudah
terinfeksi. Pada wanita, zat ini berakibat buruk terhadap siklus
menstruasi dan mengancam kehamilan. Dan yang paling berbahaya, zat
ini bisa menyebabkan kanker payudara dan kanker prostat.
Beberapa lembaga dunia seperti World Health Organization' s
International Agency for Research on Cancer dan EPA (Enviromental
Protection Agency) styrofoam telah dikategorikan sebagai bahan
carsinogen(bahan penyebab kanker)
Semakin Berlemak Makin Cepat
Saat makanan atau minuman ada dalam wadah styrofoam, baham kimia
yang terkandung dalam styrofoam akan berpindah ke makanan.
Perpindahannya akan semakin cepat jika kadar lemak (fat) dalam suatu
makanan atau minuman makin tinggi. Selain itu, makanan yang
mengandung alkohol atau asam (seperti lemon tea) juga dapat
mempercepat laju perpindahan.
Penelitian juga membuktikan, bahwa semakin panas suatu makanan,
semakin cepat pula migrasi bahan kimia styrofoam ke dalam makanan.
Padahal di restoran-restoran siap saji dan di tukang-tukang makanan
di pinggir jalan, styrofoam digunakan untuk membungkus makanan yang
baru masak. Malahan ada gerai makanan cepat saji yang memanaskan
lagi makanan yang telah terbungkus styrofoam di dalam microwave.
Terbayang, kan, betapa banyaknya zat kimia yang pindah ke makanan
kita dan akhirnya masuk ke dalam tubuh kita.
4. Menanam pohon secara masal
Penanaman pohon secara masal juga perlu dilakukan, misalnya dengan membuat taman kota, hutan kota, dan kewajiban menanam bagi instansi, perumahan, atau lembaga lain.
Tapi kenyataan yang ada pohon ditebang untuk di jadikan bangunan atau di perjual belikan tanpa memikirkan dampak kedepannya...
5. Stop makan pake sumpit
Secara ga sadar dengan makan pake sumpit otomatis kamu bikin hutan jadi gundul, gmana ngga coba,,untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang makan pake sumpit,,pembuatan sumpit ini pastinya udah banyak pohon yang dikorbanin.
sebuah pohon yang berusia 20 tahun bisa menghasilkan sumpit sebanyak 3000 sampai 4000 pasang.
hanya taiwan saja sudah menggunakan sumpit sebanyak 100 triliun pasang setiap tahun, artinya 29 juta pohon hilang setiap tahunnya
https://www.forum.or.id/showthread.php?t=64590
6. Usahakan pake tisu dan kertas seperlunya aja
Setiap Proses produksi kertas memerlukan bahan kimia, air dan energi dalam jumlah besar dan tentusaja bahan baku, yang pada umumnya berasal dari kayu . Diperlukan 1 batang pohon usia 5 tahun untuk memproduksi 1 rim kertas. Limbah yang dihasilkan dari proses produksi kertas juga sangat besar, baik secara kuantitatif dalam bentuk cair, gas, dan padat, maupun secara kualitatif. Agar limbah ini tidak mencemari lingkungan, maka diperlukan teknologi tinggi dan energi untuk mem-prosesnya.
Dampak Global warming
1.Perubahan iklim
Perubahan iklim yang disebabkan oleh pemanasan global akan menimbulkan dampak negatif, antara lain mencairnya lapisan es terutama di kutub utara dan selatan yang mengakibatkan naiknya permukaan air laut. Akibatnya, volume lautan meningkat dan permukaannya naik sekitar 9-100 sentimeter sehingga akan menyebabkan tenggelamnya daerah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Perubahan iklim juga akan menyebabkan pergeseran musim. Musim kemarau akan berlangsung lama dan dapat menyebabkan kekeringan, sehingga kebakaran hutan meningkat. Kebakaran hutan akan menyebabkan gas CO yang berbahaya bagi manusia banyak terbentuk dan ikut masuk dalam saluran pernapasan manusia ketika sedang bernapas. Penumpukan gas CO dalam saluran pernapasan akan menyebabkan sesak nafas, sehingga mengganggu kesehatan. Pergeseran musim menyebabkan musim hujan datang lebih cepat dengan kecenderungan intensitas curah hujan yang lebih tinggi sehingga menyebabkan banjir dan tanah longsor. Banjir merupakan luapan air yang melanda suatu daerah tertentu. Luapan air tersebut dapat membahayakan kesehatan manusia, karena di dalamnya terdapat mikroorganisme penyebab penyakit, sehingga dapat menurunkan kualitas air dan terjadinya krisis persediaan makanan. Penurunan kualitas air dan krisis persediaan makanan menyebabkan timbulnya penyakit, seperti malaria, demam berdarah, dan diare.
2.Hilangnya terumbu karang
Naiknya air laut akibat pemanasan global dalam 20 tahun akan menenggelamkan gugusan karang ajaib Great barrier reef. Charlie, mantan kepala peneliti di Australian Institute of Marine Science mengatakan pada The Times: "Tidak ada harapan, Great Barrier akan lenyap 20 tahun lagi atau lebih. Sekali karbon dioksida (CO2) menyentuh level seperti yang diprediksi antara tahun 2030 dan 2060, seluruh karang akan lenyap. bukan hanya di Great barrier reef tapi di tempat-tempat lain di dunia mengalami ancaman serupa
3. Hutan Amazon Akan Berubah Menjadi Gurun
Memiliki jutaan spesies dan cadangan 1/5 air bersih dunia, hutan Amazon merupakan hutan hujan tropis terbesar di dunia. Tapi pemanasan global dan penggundulan hutan membalikkan fungsi hutan sebagai penyerap karbon dan merubah 30-60 persen hutan menjadi padang rumput kering. Proyeksi-proyeksi menunjukkan hutan ini bisa lenyap menjelang tahun 2050.
4. Angin Topan Akan Bertiup Lebih Dahsyat
Belum bisa dijelaskan apakah global warming bertanggung jawab atas terjadinya badai Katrina. Tapi ada indikasi-indikasi bahwa global warming akan menciptakan badai-badai berkategori 5 - badai Katrina sendiri berkategori 4 saat menghantam Lousiana. Kekuatan badai dimulai dari adanya air hangat dan model-model ramalan menunjukkan badai di masa depan akan menjadi lebih dahsyat seiring dengan naiknya temperatur lautan. Global warming juga membuat badai-badai itu lebih destruktif dengan naiknya permukaan laut yang memicu banjir yang lebih besar di wilayah pesisir.
5. London Tenggelam Tahun 2100
Tidak hanya karang dan pulau-pulau landai yang terancam global warming. Faktanya sebuah ancaman besar juga menghantui wilayah kota besar di wilayah pantai yang beresiko tenggelam di bawah air akibat naiknya permukaan laut. Lusinan kota-kota dunia termasuk London dan New York bisa saja lenyap tenggelam menjelang akhir abad ini, menurut penelitian yang menyebutkan global warming akan mengakibatkan naiknya permukaan air laut lebih cepat dari yang diprediksi sebelumnya. London termasuk kota besar yang beresiko tinggi seperti digambarkan dalam sebuah film tahun 2007 berjudul "Flood". Menurut para ahli kota ini akan tenggelam tidak sampai 100 tahun lagi.
6. Hewan-hewan yang Menyusut
Studi baru menyebutkan bahwa bahwa spesies-spesies hewan mengalami penyusutan rata-rata hingga 50 persen dari massa tubuhnya dalm 30 tahun terakhir. Penelitian awal terhadap domba menduga bahwa musim dingin yang lebih pendek dan ringan membuat domba-domba itu tidak menambah berat badannya untuk bertahan hidup pada tahun pertama hidupnya. Faktor seperti ini dapat juga mempengaruhi populasi ikan. Para peneliti menyebutkan perubahan iklim ini bisa mengganggu rantai-rantai makanan, dimana predator di puncak rantai makanan yang paling terpengaruhi karena menyusutnya mangsa.
Bila sampai mengakibatkan kepunahan maka rantai makanan akan terputus sehingga keseimbangan alam akan terganggu.
7. Kepulauan Indonesia Kehilangan Ribuan Pulaunya
Akibat global warming, sedikitnya 2000 pulau kecil di kepulauan Indonesia mungkin akan hilang sebelum yahun 2030 danhal ini diperparah sebagai konsekuensi penambangan liar dan aktivitas lain yang merusak lingkungan. Indonesia hingga saat ini telah kehilangan sedikitnya 24 dari 17.500 pulau-pulau di wilayahnya.
8. Global Warming Bisa Memicu Terorisme
Global warming bisa menciptakan kondisi ketidakstabilan di negara-negara miskin, sehingga memicu terjadinya migrasi dan menjadi tempat subur berkembangnya terorisme. Kondisi negara yang tidak stabil akibat iklim yang keras dan tidak menentu menyebabkan banyak orang meninggalkan negaranya dan karena tekanan beberapa di antaranya bisa melakukan tindak terorisme. Belum lagi masalah akibat penolakan dari negara yang didatangi para imigran ini.
9. Mencairnya Pegunungan Alpen
Tahun-tahun belakangan ini terlihat pengurangan intensitas salju di wilayah-wilayah rendah, menyusutnya volume glacier (sungai es), dan juga meningkatnya cairnya wilayah es beku. Hal ini berdampak langsung pada aktivitas turisme di musim dingin. Diprediksi glacier-glacier itu akan hilang antara tahun 2030 dan 2050. Itali dan Swiss telah memutuskan untuk menggambar ulang batas-batas wilayah mereka akibat berkurangnya glacier-glacier di Alpine dan menyapu tanda batas-batas wilayah dua negara itu.
10. Tenggelamnya Kepulauan Maldiva
Wilayah kepulauan rendah dan flat yang dikelilingi lautan diprediksi akan ditenggelamkan oleh lautan yang mengelilinginya itu. Hal ini merupakan berita buruk bagi para penghuninya dan juga bagi dunia pariwisata yang mengandalkan pantai-pantai berpasir putih dengan air hangatnya. Para peneliti memberi waktu tidak lebih dari seratus tahun sebelum kepulauan ini bebar-benar lenyap ditelan samudera.
Gw usahakan Update terus
. Ide lebih baik adalah mendaur ulang benda2 yg tak bisa terurang tersebut.