• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

[Universal] Bagaimana pengamalan cinta kasih saudara2?

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Kebod
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai
@Singthung
wah penjabarannya panjang amat .....
apa bisa disingkatkan ?
Karena kata2nya saja banyak yang tidak saya mengerti, apa lagi isinya /sob

Agama Buddha tidak mengenal roh.


Anatta berasal dari kata ”an” yang merupakan bentuk negatif atau sering diterjemahkan sebagai tidak atau bukan. Dan ”atta” berarti berarti diri sejati atau inti/`roh`. Dalam bahasa Sanskerta disebut juga sebagai anatman. Jadi kata ”an-atta” berarti bukan diri sejati atau tanpa inti/`roh`.
 
PANCA KHANDHA
(Lima Kelompok)​


Jika kita menganalisa, makhluk hidup khususnya manusia terdiri dari 2 bagian utama, yaitu:

1. Jasmani atau disebut Rupa.
2. Batin atau disebut Nama.

Jasmani dan batin ini terdiri dari Lima Kelompok Kehidupan atau Panca Khandha.
Panca Khandha (Pali) atau Panca Skandha (Sanskerta) berasal dari kata ”panca” dan ”khandha”. Panca berarti lima dan khandha berarti kelompok/kumpulan. Jadi panca khandha berarti lima kelompok pembentuk kehidupan.



Guru Buddha dalam Satta Sutta; Radha Samyutta; Samyutta Nikaya 23.2 {S 3.189} menjelaskan:

”Radha, napsu keinginan, kegemaran, atau kehausan apapun terhadap rupa, viññana, sañña, sankhära, vedanä. Ketika sesuatu terperangkap di sana, terikat di sana, maka sesuatu itu disebut sebagai makhluk hidup.”

Jadi, apa yang disebut sebagai makhluk hidup termasuk manusia, dalam pandangan Buddha Dhamma adalah hanya merupakan perpaduan dari Panca Khandha yang saling bekerja sama secara erat satu sama yang lain. Tidak ditemukan suatu atma/atta atau roh yang kekal dan abadi.
Panca Khandha terdiri dari:

1. Rupa = Bentuk, tubuh, badan jasmani.
2. Viññana = Kesadaran.
3. Sañña = Pencerapan.
4. Sankhära = Pikiran, bentuk-bentuk mental
5. Vedanä = Perasaan.

Agar mudah diingat dapat disingkat menjadi RU, VI, SAN, SANG, VE.

Kelima Khandha ini dapat digolongkan menjadi 2 bagian, yaitu:

Rupa digolongkan sebagai Rupa (kaya) atau jasmani, sesuatu yang berbentuk dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki berikut hal-hal lainnya yang ada dalam tubuh seperti jantung, paru-paru, ginjal, pernapasan, suara, suhu tubuh, dan sebagainya. Rupa atau jasmani ini juga merupakan perpaduan dari 5 unsur, yaitu : unsur padat (pathavi dhatu), unsur cair (apo dhatu), unsur api/panas (tejo dhatu), unsur angin/gerak (vayo dhatu), dan unsur udara/oksigen (akasa dhatu).


Viññana, Sañña, Sankhära, Vedanä digolongkan sebagai Nama (citta) atau batin, sesuatu yang berada dalam jasmani dan tidak dapat dilihat. Di bawah ini merupakan penjelasan atas Viññana, Sañña, Sankhära, Vedanä sekaligus proses batin secara berurutan yang terjadi ketika jasmani kita melakuan kontak dengan sesuatu.

Viññana
Viññana berarti kesadaran atau juga disebut dengan citta. Keberadaannya dapat kita analisa ketika kita menyadari bahwa bathin kita telah menangkap suatu rangsangan ketika anggota tubuh kita berhubungan dengan sesuatu, misalnya:

- terjadi kontak antara mata dengan suatu bentuk.
- terjadi kontak antara jasmani dengan sentuhan.
- terjadi kontak antara telinga dengan suara.
- terjadi kontak antara hidung dengan bau-bauan.
- terjadi kontak antara pikiran dengan situasi.

Sañña
Sañña berarti pencerapan. Keberadaannya dapat kita analisa ketika batin kita mencerap atau menerima ataupun mengenal rangsangan-rangsangan yang terjadi pada tubuh kita melalui suatu bagian dari otak kita.

Sankhära
Sankhära berarti bentuk-bentuk pikiran. Keberadaannya dapat kita analisa ketika rangsangan pada tubuh yang telah disadari dan dicerap akan dibanding-bandingkan dengan pengalaman kita yang dulu-dulu melalui gambaran-gambaran pikiran yang tersimpan dalam batin kita, yang pernah kita lihat, dengar, sentuh dan lain-lain.

Vedanä
Vedanä berarti perasaan. Keberadaannya dapat kita analisa ketika kita telah membanding-bandingan rangsangan kemudian timbul perasaan senang (suka) atau tidak senang (tidak suka), bahagia maupun menderita, dan perasaan netral.

Secara singkat, proses batin yang terjadi ketika tubuh kita menerima rangsangan sebagai berikut:
Kesadaran => Pencerapan => Pikiran => Perasaan

(proses batin ini terjadi secara cepat)


Karena makhluk hidup khususnya manusia merupakan perpaduan dari berbagai unsur atau kelompok kehidupan (khandha), maka sesuai dengan hukum Tiga Corak Kehidupan (Tilakkhana), maka makhluk hidup apapun juga memiliki sifat tidak kekal (anicca), bukan diri sejati (anatta), dan dapat menimbulkan penderitaan (dukkha).
 
@singthung

spt kata cc Effie di thread yang lain, adanya perbedaan pendapat baru akan terbentuk aliran-2 dlm suatu agama. Tidak salah, aliran agama Buddha Maitreya mempercayai Roh adalah percikan langsung dari Roh Tuhan, makanya setiap manusia memiliki hati Nurani, karena Nurani inilah yang merupakan langsung dari Tuhan. Baik seorang pembunuh pun, dia memiliki Nurani, terbukti setelah membunuh orang, pasti Nurani mereka akan merasakan risau/gelisah.
 
wah.. roh ya? hehhehe.. sedikit aneh sih.. tapi saya sependapat dengan kk shintung.. itulah sebabnya saya tanya bagaimana bisa lihat rohnya kk.. hehehe.. ^^'


dan setahu saya.. kalo badan bergerak nth itu mata, kuping, mulut, ato bagian angota tangan yang lain bergerak2 menjelang kematian itu merupakan gejala yang biasa dialami.. mayat ayam pun mo mati gerak2 kan? kalo tidak salah itu karena cairan dalam tubuh dan sel2 tubuh yang juga ikut mati deh kk jadinya gerak2.. hehehe.. bener ngk ya??
 
@singthung
wah baca postnya kk ini, tampak nya sudah dalam bgt mempelajari agama /no1
sampai saya kalau baca harus berkali-kali pun masih belum paham.

@chineseculture
oh kalau roh, memang saya pernah tahu terdapat juga di agama lain, hanya lain pemahamannya :D
tapi ga pa2.... buat nambah pengetahuan kan tidak ada salahnya /heh
 
Hal pantang bunuh nyamuk, bagaimana kita harus bersikap untuk mengindari membunuh nyamuk dengan baygon dll
karena nyamuk kalau di biarkan bisa menggigit anak-anak, dan bagaimana jika nyamuk tersebut adalah nyamuk aedes agypty yang jika menggigit bisa mengakibatkan kematian ?
mohon masukannya

Maap cuma mo kasih pendapat...
Bunuh nyamuk walaupun aedes aegypty yang membahayakan pun tetap dikatakan perbuatan buruk dan akan menimbulkan karma buruk, namun karma buruk nya lebih sedikit daripada membunuh makhluk lain karena jijik,atau senang menyiksa hewan.

Lalu bagaimana menyikapinya?
Setelah kita membunuh nyamuk aedes agypty itu, kita harus berbuat baik seperti menolong makhluk yang menderita atau fangsen, biar karma baik kita bisa menutupi/ mereduksi akibat dari karma buruk membunuh itu tadi.

Klo g pribadi seh...g gak bakal nyemprot baygon, g sebisa mungkin berlatih gak nepok nyamuk...klo ada nyamuk mah g tiup aja biar pergi...

O iya, g 2 bulan sekali ikut fangsen di Vihara g, ada yang mau ikut?
 
betul.. nyamuk dbd itu berbahaya.. g tetap ga setuju kalo membunuh nyamuk, nyemprot sarangnya.. kepikir ga kalo sarangnya.. bisa lebih parah.. karena nyamuk itu bertelur sangat banyak sekali.. kalo sarangnya dihancurkan.. berapa banyak nyawa anak nyamuk yang mati?? (sungguh ironis, demi keselamatan sendiri, banyak nyawa yang harus menjadi tumbal)g lebih setuju melihat kedalam diri kita.. kalo kita harus menjaga kebersihan lingkungan kita aja deh.. walaupun nantinya sarang nyamuk itu hancur(secara tidak langsung).. tapi kita ga bermaksud untuk menghancurkan, membunuh secara langsung(seperti menyemprot sarangnya).. trus lagian kalo kita main semprot2.. malahan obat semprot itu membuat nyamuk makin resesif terhadap racun(makin susah dibunuh) dan buat kitanya yang menghirup.. kita juga keracunan..
kalo ada yang berikrar untuk menjadi Buddha tuh bisa lebih bagus lagi.. relakan aja nyamuk itu gigit u.. kalo u meninggal pun, u itu itung2 menyempurnakan parami..(mati atau tidak pun ditentukan oleh kamma anda sendiri)
kok g ngomong kasar gitu?? yep.. benar.. karena kalo u maw jadi Buddha(Samma Sambuddha) u harus rela untuk tidak menyakiti makhluk lain, malahan u itu harus rela untuk berkorban demi kehidupan makhluk lain.. bukankah begitu.. maaf kalo saya ada kesalahan dalam mengutarakan pendapat saya..
 
@singthung

spt kata cc Effie di thread yang lain, adanya perbedaan pendapat baru akan terbentuk aliran-2 dlm suatu agama. Tidak salah, aliran agama Buddha Maitreya mempercayai Roh adalah percikan langsung dari Roh Tuhan, makanya setiap manusia memiliki hati Nurani, karena Nurani inilah yang merupakan langsung dari Tuhan. Baik seorang pembunuh pun, dia memiliki Nurani, terbukti setelah membunuh orang, pasti Nurani mereka akan merasakan risau/gelisah.

Maaf, karena itulah kenapa aliran Maitreya dianggap menyimpang dari agama Buddha yang sebenarnya. Karena agama Buddha tidak mengakui adanya Roh.
 
Ya udah deh....
kalau memang ada perbedaan, namanya juga diskusi ga pa2 kan saling bahas, untuk mengenal ajaran masing2 asal tidak mencari siapa yang lebih benar saya kira ga pa2 kan ? Sekali lagi namanya saja beda aliran, ajarannya pasti ada yang lain...... :)

Malah sekarang saya pun tahu, bahwa Maitreya mengakui adanya Roh
sedangkan yang Mahayana dan Theravada tidak mengakui adanya Roh :)

@Ario Botax
Oh begitu ya.... jadi nyamuk apapun sebaiknya didiamkan jangan dibunuh....
Lalu kenapa kk, kalau kita membunuh nyamuk ? apa kita mendapat dosa besar ?
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.