• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Tuhan & Ajaran Sang Buddha

singthung

IndoForum Junior E
No. Urut
7164
Sejak
21 Sep 2006
Pesan
1.634
Nilai reaksi
27
Poin
48
Tuhan & Ajaran Sang Buddha​


BERBICARA MENGENAI KONSEP, SEKILAS dalam benak kita terbayang teori-teori yang kental kaitannya dengan sesuatu yang diteliti, dikaji, diperdebatkan, dan juga diyakini. Dalam konteks artikel ini, konsep yang dibahas adalah tentang tuhan. Secara umum pandangan yang ada menganggap seseorang yang beragama pasti atau harus mempunyai ”satu Tuhan yang diakui”. Konsep tuhan dari sudut pandang ini sangat jelas memersonifikasikan Tuhan, jadi tuhan dirupakan sebagai sosok atau makhluk seperti halnya manusia. Keyakinan akan konsep ini tentunya bukan sesuatu yang asing bagi kita, karena sejak kecil kita sudah mendapat modal yang kuat akan konsep tuhan sebagai makhluk adidaya yang mencipta alam semesta beserta seluruh isinya dari pendidikan di sekolah maupun lingkungan sekitar
kita.

Yang sulit adalah ketika kita mendapatkan kebenaran akan sesuatu konsep yang telah demikian lama mengakar dalam pikiran kita, bahwa konsep yang kita yakini selama ini ternyata keliru atau salah. Sulitnya karena kemelekatan kita pada konsep tersebut (bahwa tuhan dipandang sebagai sosok atau pribadi pengatur dan pencipta alam semesta dan isinya) telah begitu kuat. Jika kemelekatan (keyakinan) kita terhadap konsep itu begitu kuatnya maka kita akan selalu menjadi pendebat seluruh konsep yang ada walaupun konsep yang lain mungkin menawarkan sudut pandang yang sebenarnya.

Kontroversi

Sejauh ini masih banyak yang mempertanyakan, dalam Buddhis itu tuhannya yang mana, bagaimana pula karakteristiknya. Mengapa pula dalam sutta-sutta ataupun ceramah Dhamma konsep tentang tuhan ini sangat jarang disinggung. Bagaimana sesungguhnya konsep mengenai Tuhan dalam Agama Buddha? Mengapa perlu membahas tentang konsep ini? Menurut ahli-ahli di luar negeri, dikatakan bahwa agama Buddha dimasukkan sebagai agama yang Agnostik dan tidak mengenal tuhan pencipta. Selain itu, menurut para Atheis, dikatakan bahwa Buddhisme tidak bisa disebut sebagai agama karena tidak adanya tuhan dan segala macamnya, namun lebih cenderung ke filosofi. Sedangkan menurut historisnya, dikatakan bahwa di Indonesia, Walubi terpaksa menggunakan sebutan Sanghyang Adi Buddha sebagai tuhan dalam agama Buddha karena tekanan dari pemerintah.

Teori

Menjawab berbagai kontroversi tentang pemaknaan tuhan yang sesungguhnya dalam agama Buddha sudah sepatutnya menjadi tugas kita bersama sebagai penganut ajaran Buddha. Karena itu, dalam pembahasan berikut ini akan diuraikan dasar-dasar pandangan non-Buddhis terhadap konsep tuhan dalam Buddhisme, istilah-istilah yang digunakan untuk memperjelas mengenai teori ketuhanan dalam Buddhisme, dan bagaimana pandangan Sang Buddha mengenai konsep tuhan itu sendiri. Jawaban Sang Buddha kelak akan menguak tabir misteri tentang Atta dan doktrin penolaknya, Anatta (doktrin tiada inti diri).

Istilah agnostik, theis, dan atheis

Seorang agnostik adalah seorang yang percaya bahwa ada ‘sesuatu’ yang di luar pikiran manusia. Di sisi lain, seorang agnostik mungkin percaya mungkin pula tidak percaya pada ‘tuhan’. Jadi seorang agnostik bisa sebagai seorang theis ataupun seorang atheis. Istilah ‘gnostic’ atau ‘agnostic’ dibuat oleh philsuf-pemikir Thomas Huxley pada tahun 1869. ‘Gnostic’ berasal dari akar kata ‘gnosis’, artinya ‘mengetahui’ (to know). Dengan kata lain, seseorang agnostik mengakui ketidaktahuannya mengenai keberadaaan ‘tuhan’. Menurut mereka, ‘tuhan’ mungkin saja ada, tetapi akal tidak dapat membuktikan keberadaan ataupun ketidakberadaannya.

Dalam teori Buddhis, memang tidak dikenal adanya konsep tuhan dengan definisi sebagai pencipta dan pengatur alam semesta beserta segala isinya dengan watak atau sifat-sifat seperti manusia yang bisa marah, senang, benci, sayang, dsb, sehingga agama Buddha sering disebut atheis. Tentunya jawaban ini sangat tidak memuaskan beberapa pihak dan orang-orang yang sudah terlanjur melekat pada pandangan tuhan sebagai pribadi atau makhluk yang agung, tinggi, dan super power, di mana menuntut setiap agama harus mempunyai konsep yang sama seperti itu. Sayangnya, cara pandang kita sebagai penganut ajaran Buddha terhadap konsep tuhan ini memang sangat berbeda dibanding agama-agama lainnya.

Tuhan dalam agama Buddha didefinisikan sebagai yang mutlak, maka jika meminta definisi tuhan sebagai yang mutlak ini, kita dapat merujuk pada uraian Sang Buddha tentang Nibbana yang ada pada Sutta Pitaka, Udana VIII:3. Dalam hal ini agama Buddha termasuk agama theistik. 'Yang Mutlak' sendiri adalah istilah falsafah, bukan istilah yang biasa dipakai dalam kehidupan keagamaan. Dalam kehidupan keagamaan, 'Yang Mutlak' itu sendiri disebut dengan 'tuhan yang maha esa'.

‘Tuhan’ sebagai tujuan akhir

Agama Buddha boleh-boleh saja dikatakan atheis karena jika melihatnya hanya dari sudut pandang personal, agama Buddha memang tidak ber-’tuhan’. Karena jelas-jelas agama Buddha memegang teguh konsep anatta (doktrin tiada inti diri/aku/jiwa yang kekal) yang merupakan salah satu bagian penting dari 3 corak umum yang universal (tilakkhana). Jika melihat definisi Tuhan dari sudut pandang impersonal (bukan pribadi), maka dalam ajaran Buddha terdapat Nibbana yang bisa disamakan dengan konsep Tuhan karena Nibbana adalah tujuan yang tertinggi dan termulia yang ingin dicapai oleh seorang penganut ajaran Buddha.

Tujuan akhir dari kita belajar, memperdalam pemahaman tentang Dhamma Sang Buddha, dan mempraktekkannya pun sesungguhnya karena kita menginginkan kebebasan yang mutlak, menuju pada pencapaian pencerahan yang tertinggi, yaitu Nibbana. Sama halnya dengan pandangan umum agama lain yang ingin mencapai atau berada di sisi ‘tuhannya’ setelah meninggal (tujuan akhirnya). Inilah sebabnya kita bisa menggunakan konsep Nibbana untuk mendefinisikan Tuhan dalam agama Buddha karena peranannya sebagai tujuan akhir, sama dengan peranan tuhan dalam agama-agama lainnya.

Hakekat ketuhanan

Dengan mengetahui bahwa tuhan dalam agama Buddha sesungguhnya tujuan akhir yang perlu kita capai sebagai pemeluk ajaran Buddha, maka merupakan sesuatu yang mutlak bagi kita untuk mengenali bagaimana hakekat ketuhanan (sifat-sifat tuhan) itu sendiri. Adapun hakekat ketuhanan dalam agama Buddha adalah tidak berkondisi dan terbebas dari Lobha, Dosa, dan Moha. Karena tidak berkondisi dan terbebas dari Lobha, Dosa, dan Moha, maka sifat-sifat tuhan adalah maha esa, karena hanya satu-satunya, dan mahasuci, karena terbebas dari Lobha, Dosa, dan Moha.

Karena itu, tuhan bisa dikatakan bersifat impersonal (bukan pribadi), yaitu memahami yang mutlak/tuhan sebagai anthropomorphisme (tidak dalam ukuran bentuk manusia) dan anthropopatisme (tidak dalam ukuran perasaan manusia). Jika masih berpandangan bahwa tuhan bersifat tidak impersonal, maka berarti masih berkondisi, yang berarti masih ada dukkha. Dengan demikian, bisa timbul pandangan bahwa ”tuhan dapat disalahkan”, sehingga kita tidak dapat mendudukkan tuhan dalam proporsi yang sebenarnya dan mengaburkan kembali pandangan yang semula bahwa ‘tuhan’ adalah yang tertinggi, mahasuci, mahaesa, mahatahu, dsb.

Yang mutlak (tuhan) dalam agama Buddha tidaklah dipandang sebagai sesuatu pribadi puggala adhitthana), yang kepadanya umat Buddha memanjatkan doa dan menggantungkan hidupnya. Agama Buddha mengajarkan bahwa nasib, penderitaan dan keberuntungan manusia adalah hasil dari perbuatannya sendiri di masa lampau, sesuai dengan hukum kamma yang merupakan satu aspek Dhamma.

Definisi dan asal muasal kata ”tuhan”

Dilihat dari agama dan kepercayaan yang ada, Tuhan/Dei/Deos/God/ Thien pada intinya memiliki pengertian penguasa, pengatur alam semesta yang berkepribadian yang dipercaya memiliki super power. Kepercayaan akan adanya tuhan dimulai dengan konsep politheis atau banyak tuhan dengan tugas-tugas tertentu seperti kepercayaan Mesir dan Yunani kuno.

Belakangan manusia mulai berpikir bahwa tuhan yang jumlahnya banyak tersebut tidaklah efektif lagi karena mengurangi kredibilitas sesuatu yang super power. Selain itu timbul pemikiran perlunya tuhan tertinggi untuk mengatur tuhan-tuhan yang lain yang merupakan cermin dari hirarki kerajaan. Akhirnya terbentuklah konsep monotheis, tuhan yang satu.

Etimologi (asal kata) ‘tuhan’ dalam bahasa Melayu juga memiliki sejarahnya sendiri. Kata ‘tuhan’ berasal dari kata ‘tuan’, sama artinya dengan kata ‘lord’ dalam bahasa Inggris, sama artinya dengan kata ‘gusti’, yaitu seseorang sebagai tempat mengabdikan diri.

Hal ini dapat kita buktikan dengan mengamati dalam bahasa Jawa, seperti ‘gusti raja’, ‘gusti putri’ yang kemudian muncul istilah ‘gusti allah’. Selain itu juga dari satu sumber disebutkan, bahwa sebelum perkataan 'Tuhan' diperkenalkan kepada rakyat Indonesia, rakyat Indonesia telah ber-tuhan, akan tetapi tidak disebut dengan perkataan 'tuhan'. Di Jawa dikenal perkataan 'pangeran'. Perkataan ‘pangeran' itu mempunyai akar kata 'her', 'tempat diam untuk menghadap orang tua'; kata kerjanya 'angher', 'tinggal pada suatu tempat untuk mengabdi'; maka perkataan 'pangeran' berarti 'yang diikuti, yang diabdi'. Dalam hal ini tidak ada unsur memohon, meminta sesuatu, mengharapkan sesuatu dari 'Pangeran', akan tetapi karena mengabdi dan mengikuti, maka pasti akan diperoleh berkah atau buah (pahala). Tuhan atau pangeran dalam bahasa Jawa sering digambarkan sebagai : “gesang tanpa roh; kuwaos tanpa piranti; tan wiwitan datan wekasan; tan kena kinaya ngapa; ora jaman ora makam; ora arah ora enggon; adoh tanpa wangenan; cedak tanpa gepokan (senggolan); ora njaba ora njero; lembut tan kena jinumput; gede tan kena kinira-kira",

yang artinya :
"Hidup tanpa roh; kuasa tanpa alat; tanpa awal tanpa akhir; tak dapat diapa-siapakan; tak kenal jaman maupun perhentian; tak berarah tak bertempat; jauh tak terbatas; dekat tak tersentuh; tak di luar tak di dalam; halus tak terpungut; besar tak terhingga".

Kedatangan bangsa Barat dengan membawa agama Nasrani dan usaha menerjemahkan Injil khususnya kata ‘lord’ (Jesus) ke dalam bahasa Melayu, memberikan perubahan kata ‘tuan’ menjadi ‘tuhan’. Hal ini terjadi karena kata ‘tuan’ memiliki konotasi yang sifatnya duniawi, dan dengan diubahnya kata tersebut menjadi kata ‘tuhan’ akan memberikan konotasi yang sifatnya spiritual.

Bagaimana dengan Buddhisme? Pada dasarnya dalam Buddhisme tidak terdapat ajaran mengenai tuhan dalam pemahaman pengertian sebagai penguasa, pengatur alam semesta yang berkepribadian yang dipercaya memiliki super power.

Tidak ada satupun pengertian dari ‘tuhan’ di atas yang dapat kita jumpai dalam teks-teks awal Buddhisme, kecuali beberapa sifat tertentu. Beberapa waktu yang lalu di Sri Lanka, timbul suatu gerakan protes untuk menghilangkan istilah tuhan dalam kurikulum sekolah, di mana istilah tuhan ini merupakan produk agama Nasrani yang juga mewabah di Sri Lanka.

Penggunaan kata ‘tuhan’ dalam agama Buddha di Indonesia merupakan suatu bentuk kompromi politik, di mana Indonesia hanya mengakui agama yang bertuhan meskipun tidak dijelaskan definisi atau pengertiannya apakah harus seragam, dan agama Buddha di Indonesia perlu menyesuaikan diri. Kemudian muncul istilah Sanghyang Adi Buddha yang oleh sebagian orang dianggap sebagai tuhan yang bisa melihat, mendengar, memberkahi, sehingga digunakan dalam upacara pengambilan sumpah seorang umat Buddha dalam sistem kenegaraan.

Sebenarnya jika kita melihat dan memerhatikan sila pertama Pancasila Dasar Negara Indonesia yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, kita tidak bisa mengatakan dan mengartikannya bahwa Indonesia mengakui adanya satu tuhan, tetapi mengakui sifat-sifat tuhan yang mutlak. Kata ”ketuhanan” merupakan kata yang memiliki awalan ‘ke-’ dan akhiran ‘–an’, ketika suatu kata dasar diberi imbuhan awalan ‘ke-’ dan akhiran ‘–an’ maka kata tersebut memiliki perubahan arti.

Dalam hal ini kata ‘tuhan’ yang merupakan kata benda ketika ditambah dengan awalan ‘ke-’ dan akhiran ‘–an’ akan berubah menjadi kata sifat. Dengan kata lain, kata ‘ketuhanan’ berarti sifat–sifat atau hal-hal yang berhubungan dengan tuhan, bukan tuhan itu sendiri.

Kata ‘maha’ berasal dari bahasa Sanskerta/ Pali yang bisa berarti mulia atau besar (bukan dalam pengertian bentuk). Kata ‘maha’ bukan berarti ‘sangat’. Jadi adalah salah jika penggunaan kata ‘maha’ dipersandingkan dengan kata seperti besar menjadi maha besar yang berarti sangat besar.

Kata ‘esa’ juga berasal dari bahasa Sansekerta/Pali. Kata ‘esa’ bukan berarti satu atau tunggal dalam jumlah. Kata ‘esa’ berasal dari kata ‘etad’ yang lebih mengacu pada pengertian keberadaan yang mutlak atau mengacu pada kata ‘ini’ (this – Inggris). Sedangkan kata ‘satu’ dalam pengertian jumlah dalam bahasa Sansekerta maupun bahasa Pali adalah kata ‘eka’. Jika yang dimaksud dalam sila pertama adalah jumlah Tuhan yang satu, maka kata yang seharusnya digunakan adalah ‘eka’, bukan kata ‘esa’.

Dari penjelasan yang telah disampaikan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa arti dari Ketuhanan Yang Maha Esa bukanlah berarti tuhan yang hanya satu, bukan mengacu pada suatu individual yang kita sebut tuhan yang jumlahnya satu. Tetapi sesungguhnya, Ketuhanan Yang Maha Esa berarti sifat-sifat luhur/mulia tuhan yang mutlak harus ada. Jadi yang ditekankan pada sila pertama dari Pancasila ini adalah sifat-sifat luhur/mulia, bukan tuhannya.

Dan apakah sifat-sifat luhur/mulia (sifat-sifat tuhan) itu? Sifat-sifat luhur/mulia itu antara
lain: cinta kasih, kasih sayang, jujur, rela berkorban, rendah hati, memaafkan, dan sebagainya. Dan ajaran agama Buddha mengandung semua hal itu. Dengan dasar acuan mengenai sifat-sifat Tuhan dalam agama Buddha, di mana peranannya sebagai tujuan akhir yang mutlak dicapai oleh semua makhluk, dan juga dari definisi serta asal kata ‘Tuhan’ itu sendiri secara historis dan harfiah seperti yang telah diuraikan di atas, maka dapat dikatakan bahwa sesungguhnya konsep tuhan dalam agama Buddha sama sekali tidak bertentangan sila pertama dasar negara Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, maupun UUD '45 pasal 29 ayat 1 dan 2.

Lebih jauh, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam agama Buddha kita dapatkan dari sabda-sabda Sang Buddha, seperti yang dituliskan dalam Kitab Udana : "Atthi bhikkhave ajatam abhutam akatam asankhatam,no ce tam bhikkhave abhavisam ajatam abhutam akatam asankhatam, nayidha jatassa bhutassa katassa sankhatassa nissaranam pannayatha. Yasma ca kho bhikkhave atthi ajatam abhutam akatam asankhatam, tasma jatassa bhutassa katassa sankhatassa nissaranam pannaya'ti”

yang artinya:
"Para bhikkhu, ada Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Menjelma, Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Para bhikkhu, bila tak ada Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Menjelma, Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka tak ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Menjelma, Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu". (Udana,VIII: 3)

Untuk memahami ‘yang mutlak’ ini, seseorang harus mengembangkan pengertiannya, dari pengertian duniawi (lokiya) sampai memperoleh pengertian yang mengatasi duniawi (lokuttara), yang hanya dapat dicapai oleh insan yang sadar, yang telah membebaskan diri dari cengkeraman kamma dan kelahiran kembali. Pengertian ini tidak dapat dimiliki oleh manusia yang batinnya masih dicengkeram oleh keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kegelapan batin (moha).

Dengan demikian, jelaslah bahwa agama Buddha benar-benar mengajarkan keyakinan terhadap tuhan yang maha esa, yang mutlak. Hal ini penting sebagai penegasan kepada mereka yang mengira bahwa Sang Buddha tidak mengajarkan keyakinan terhadap tuhan yang maha esa dan dengan sendirinya agama Buddha dianggap tidak berlandaskan pada
ketuhanan yang maha esa.

Sampai di sini, pembahasan kembali pada sifat-sifat tuhan dalam agama Buddha, yaitu tidak berkondisi dan terbebas dari lobha, dosa, dan moha. Dan dalam Buddhis, hal ini dikenal dengan Nibbana. Untuk mengetahui apakah sesuatu yang tidak berkondisi ini benar-benar ada, maka dapat digunakan acuan berdasarkan Kitab Suci Tipitaka, logika (Anumana: melihat yang tidak terlihat dari yang terlihat), dan mengalami langsung (merealisasi). Bagaimana menuju perealisasian Nibbana adalah tergantung pada usaha kita, dan untuk itu kita perlu memahami satu doktrin penting yang diajarkan Guru Agung kita, yaitu ajaran tentang anatta.


 
Yg jelas penganut Buddha Sogata di Bali adl kaum theis..
nabi2 terbesar Hindu Bali adl Mpu Kuturan penganut sekte Buddha Mahayana mendapat wahyu dari Sang Hyang Pasupati (Tuhan) utk menata kehidupan beragama di Bali,
Dang Hyang Astapaka yg mendirikan Pura Sakenan pun adl seorang penganut Buddha Sogata..
leluhur2 kami ini bisa melihat Tuhan dalam wujud atau sering disebut dgn Dewa dan Dewi..
jd gak usah heran kalo Buddha Keling di Bali percaya thd Hyang Widhi (Tuhan)..
kalo anda menganggap bahwa atheis mgkn perlu dikaji ulang karena menurut sejarah turunnya Buddha Gautama setelah Beliau kembali sbg Wisnu, muncul golongan atheis penentang WEDA yg masuk ikut Buddha karena tidak mendapat tempat dlm masyarakat di India, lalu mereka mencampuradukan ajaran Buddha dgn atheis yg telah mereka yakini sebelumnya..
 
Yg jelas penganut Buddha Sogata di Bali adl kaum theis..
nabi2 terbesar Hindu Bali adl Mpu Kuturan penganut sekte Buddha Mahayana mendapat wahyu dari Sang Hyang Pasupati (Tuhan) utk menata kehidupan beragama di Bali,
Dang Hyang Astapaka yg mendirikan Pura Sakenan pun adl seorang penganut Buddha Sogata..
leluhur2 kami ini bisa melihat Tuhan dalam wujud atau sering disebut dgn Dewa dan Dewi..
jd gak usah heran kalo Buddha Keling di Bali percaya thd Hyang Widhi (Tuhan)..
kalo anda menganggap bahwa atheis mgkn perlu dikaji ulang karena menurut sejarah turunnya Buddha Gautama setelah Beliau kembali sbg Wisnu, muncul golongan atheis penentang WEDA yg masuk ikut Buddha karena tidak mendapat tempat dlm masyarakat di India, lalu mereka mencampuradukan ajaran Buddha dgn atheis yg telah mereka yakini sebelumnya..

Baca dengan yang jelas dulu dan jangan terburu-buru mengambil kesimpulan.
Buddha Gautama bukanlah Wisnu. Silahkan baca Jataka tentang Sang Buddha.

 
Agama Hindu dan Buddha sama2 berasal dari India, sehingga tidak heran ada beberapa hal yag mirip, tapi mirip bukan berarti sama.Contohnya sama2 mengakui pertapa Gautama sebagai Buddha tapi @JakaLoco mengatakan Buddha adalah titisan Wisnu, pandangan ini saya rasa berasal dari Agama Hindu. Sedangkan di agama Buddha sendiri Buddha bukanlah titisan Wisnu.

Karena titik pandang yang berbeda (karena jelas2 beda agama) hal ini bisa dimaklumi dan saling mengerti. Dan saya rasa tidak perlu dibahas terlalu mendalam tentang ini.
 
Yg jelas penganut Buddha Sogata di Bali adl kaum theis..
nabi2 terbesar Hindu Bali adl Mpu Kuturan penganut sekte Buddha Mahayana mendapat wahyu dari Sang Hyang Pasupati (Tuhan) utk menata kehidupan beragama di Bali,
Dang Hyang Astapaka yg mendirikan Pura Sakenan pun adl seorang penganut Buddha Sogata..
leluhur2 kami ini bisa melihat Tuhan dalam wujud atau sering disebut dgn Dewa dan Dewi..
jd gak usah heran kalo Buddha Keling di Bali percaya thd Hyang Widhi (Tuhan)..
kalo anda menganggap bahwa atheis mgkn perlu dikaji ulang karena menurut sejarah turunnya Buddha Gautama setelah Beliau kembali sbg Wisnu, muncul golongan atheis penentang WEDA yg masuk ikut Buddha karena tidak mendapat tempat dlm masyarakat di India, lalu mereka mencampuradukan ajaran Buddha dgn atheis yg telah mereka yakini sebelumnya..

Baca dengan yang jelas dulu dan jangan terburu-buru mengambil kesimpulan.
Buddha Gautama bukanlah Wisnu. Silahkan baca Jataka tentang Sang Buddha.


Agama Hindu dan Buddha sama2 berasal dari India, sehingga tidak heran ada beberapa hal yag mirip, tapi mirip bukan berarti sama.Contohnya sama2 mengakui pertapa Gautama sebagai Buddha tapi @JakaLoco mengatakan Buddha adalah titisan Wisnu, pandangan ini saya rasa berasal dari Agama Hindu. Sedangkan di agama Buddha sendiri Buddha bukanlah titisan Wisnu.

Karena titik pandang yang berbeda (karena jelas2 beda agama) hal ini bisa dimaklumi dan saling mengerti. Dan saya rasa tidak perlu dibahas terlalu mendalam tentang ini.

Agar perdebatan ini tetap dalam rule yang benar. Sebaiknya, di Forum Religi Buddha, maka pandangan Buddha lah yang kita pakai, bukan pandangan Hindu.
 
sy pikir boleh-boleh saja mau melihat nya dalam pandangan hindu...

tapi kan buddha gotama sendiri yang berkata bahwa dia bukanlah titisan ataupun utusan...(tripitaka)

tapi ga tau lagi kalau di kitab weda ada tertulis lain.
 
@all

Maaf2...
tapi coba anda pikir ini:
bukankah Buddha Gautama terlahir dgn ciri2 yg telah disebutkan misalnya ada tanda cakra-nya?apakah orang yg terlahir tanpa tanda tersebut tdk bs jadi Buddha?
 
@singthung

sy pernah keliling2 di forum Hindu jg.Disana disebutkan Sidharta Gautama adalah Awatara Wisnu

Sbnrnya pengertian Awatara Wisnu disini kalau diterjemahkan ke dlm bahasa versi Budha adalah Sang Pemutar Roda Dharma.
yaitu orang yg muncul didunia ini utk memutar roda dharma. atau yang diramalkan akan muncul didunia untuk memutar roda dharma. Pengertian Hindunya adalah Awatara Wisnu.

smoga tdk ada kesalahpahaman antara agama Hindu dgn Budha, krn ada istilah2 yg sama dgn agama Hindu tp dlm agama Budha justru diartikan sedikit berbeda..Karena Sidharta Gautama sendiri membabarkan ajaran dengan versi yg berbeda dgn tdk berusaha untuk mengubah ajaran Brahmana yg sudah ada pd saat itu. Mereka tetap berjalan dijalurnya.
:)

@jacaloco
dlm sutra Mahayana memang ada disebutkan para Budha memiliki 32 tanda agung secara fisik.
 
@singthung

sy pernah keliling2 di forum Hindu jg.Disana disebutkan Sidharta Gautama adalah Awatara Wisnu

Sbnrnya pengertian Awatara Wisnu disini kalau diterjemahkan ke dlm bahasa versi Budha adalah Sang Pemutar Roda Dharma.
yaitu orang yg muncul didunia ini utk memutar roda dharma. atau yang diramalkan akan muncul didunia untuk memutar roda dharma. Pengertian Hindunya adalah Awatara Wisnu.

smoga tdk ada kesalahpahaman antara agama Hindu dgn Budha, krn ada istilah2 yg sama dgn agama Hindu tp dlm agama Budha justru diartikan sedikit berbeda..Karena Sidharta Gautama sendiri membabarkan ajaran dengan versi yg berbeda dgn tdk berusaha untuk mengubah ajaran Brahmana yg sudah ada pd saat itu. Mereka tetap berjalan dijalurnya.
:)

@jacaloco
dlm sutra Mahayana memang ada disebutkan para Budha memiliki 32 tanda agung secara fisik.

Dalam hal lain, disebutkan bahwa Sidharta Gautama adalah manusia biasa. jadi semua manusia bisa menjadi Buddha. Tanpa atau dengan tanda-tanda tersebut. Namun untuk menjadi Sammasambuddha, tidak semua orang bisa.

Dalam kaitannya dengan ajaran Hindu. Suatu agama justru lahir bila ada kondisi yang luar biasa yang sangat tidak teratur, sangat kacau balau. Agama Buddha tidak terkecuali. Demikian juga dengan agama-agama yang lain. Kemiripan ajaran pada banyak agama tidak bisa dihindari. karena agama pada dasarnya memang datang untuk menjadikan manusia lebih baik.

Saya tidak tahu banyak tentang Hindu Dharma. Namun dari bacaan-bacaan di FR Hindu, Buddha memang dianggap sebagai Awatara Winsu.

Secara pribadi, seandainya benar.... hal itu tidak berpengaruh pada saya. Beliau tetap guru Agung yang mengajarkan bagaimana melenyapkan duka untuk mencapai apa yang disebut dengan Nibbana. Tanpa atau dengan predikat titisan Wisnu. Kenyataan ini tidak bisa diubah.

Tidak ada satu agamapun yang lebih baik dari agama yang lain. Yang ada adalah lebih baik atau lebih buruk dalam menghayatinya. Itu pendapat saya.
 
Buddha sebagai emanasi dari Vishnu, ok2 aja.. no problem..

seorg tokoh spiritual besar hadir, pasti dikarenakan ada sesuatu yg harus dibereskan.
dan utk jaman sang buddha, ada beberapa masalah besar yg diperjuangkan oleh buddha:
1. Paham Kasta, yg ditentang Buddha.
2. Ritual2 Hindu, yg selalu mengorbankan makhluk hidup, termasuk manusia
3. Kesakralan spiritual telah hilang... krn pengertian2 yg dangkal, mis: membersihkan dosa dgn mengorbanan makhluk hidup lainnya.
4. Buddha membuat paham spiritual lebih kearah pengetahuan/sains, yang sebelumnya masih merupakan paham2 mistik yg susah diterima akal sehat.
5. Dharma Cakra setelah sesi latihan meditasi, adalah sumbangan dari buddha, dan sebelumnya, belum ada seorg tokoh spiritual pun yg melakukan ini. Karena Buddha tahu setelah meditasi, pikiran menjadi lebih jernih dan halus, dan lebih bisa menerima ajaran2 tinggi yg rumit.
 
@all

Ini saya kutipkan sedikit isi dari kitab Sutasoma :

P.J. Zoetmulder (1983:415) meringkas ikhtisar Sutasoma sebagai berikut. Manggala untuk memuji Srì Bajrajñàna, yang hakekat kodratnya berupa kehampaan (Sùnyatà) dan yang bersemayam di hati bula beliau tampil dari meditasi Bodhicitta. Setelah pada jaman-jaman dulu Brahmà, Visnu, dan Ìsvara melindungi Dharma, kini pada jaman kali Srì Jìnapati turun untuk memusnahkan kekuatan jahat (1.1- 4).


Ajaran teologi yang diamanatkan dalam kakawin ini tampak dalam episode Sutasoma menjelaskan ajaran tentang Yoga sebagai berikut: “Ketika murid-muridnya bertanya lebih lanjut, Sutasoma menjawab jenis yoga yang dilakukan oleh aliran Siva dan yang terdiri atas enam tahap. Namun praktek itu ada bahaya bahwa seseorang mungkin terjerat dalam kedelapan sifat kesaktian yang diperoleh lewat yoga itu, sama seperti seseorang terbelenggu oleh panca indra dalam tahap sebelumnya. Jika bahaya itu dapat dihindari, maka ini merupakan salah satu jalan yang menuju ketujuan yang tertinggi ialah kekosongan (sùnyarùpa). Jalan yang lebih pendek lagi aman ialah advàyayoga (yoga yang tidak dualistis) seperti yang dilakukan oleh para pengikut Buddhisme Mahàyana. Yang menjadi tujuan mereka ialah Buddha tertinggi (paramàrtha Buddha) dan berakar pada advàya (keadaan yang tak dualistis) dan Prajnaparamita (pengetahuan yang tak berganda). Orang harus tahu kedua jalan itu. Baik seorang pertapa yang mengikuti Buddha maupun seorang pertapa yang menyembah Siva dapat dipersalahkan, bila ia tidak maklum akan cara pihak lain memahami Yang mutlak, yakni sebagai Sivatwa (ke-Siva-an, hakekat Siva) dan Buddhatwa (ke-buddha-an, hakekat Buddha) masing-masing. Setelah memberikan ajaran itu Sutasoma memerintahkan ketiga pengikutnya yang baru itu untuk menjadi bhiksu dan melakukan yoga di tempat mana pun yang mereka pilih, asal jangan bersama-sama, karena itu bertentangan dengan kebiasaan para pengikut Buddha. Ia sendiri akan melakukan yoga di puncak gunung. Para åûi yang tidak berhasil membelokkan niat Sutasoma, pulang ke rumah mereka masing-masing (38.1 – 42.6). Pada episode ini dijelaskan tentang “Bhinneka Tunggal Ika Tan hana Dharma mangrwa”, yang merupakan penjelasan bahwa hakekat dari semua agama adalah memuja Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan satu kesatuan yang tunggal atau monistik.

dikutip dari : www.parisada.org

Kesimpulan dari bacaan tsb :
1. Seorang penganut Siwa yg memaksakan cara yg ditempuhnya thd penganut Buddha pantas utk disalahkan dan sebaliknya (toleransi)
2. Apapun jalannya baik Siwa maupun Buddha akan tertuju kpd tujuan akhir yg sama (moksa/buddha/nirwana).
3. Karena cara Siwa lebih sulit dibanding Buddha, maka Tuhan mengutus kpd kami orang2 Hindu Bali seorang penganut Buddha Mahayana (Mpu Kuturan) utk menata kehidupan beragama, baru kemudian tatanan tersebut disempurnakan dgn pemahaman bahwa Tuhan adl satu oleh pendeta Siwa terbesar dlm sejarah Indonesia yaitu Dang Hyang Dwijendra..
jadi Hindu di Bali sebenarnya adl sinergi antara Siwa dan Buddha..
 
@all

Ini saya kutipkan sedikit isi dari kitab Sutasoma :

P.J. Zoetmulder (1983:415) meringkas ikhtisar Sutasoma sebagai berikut. Manggala untuk memuji Srì Bajrajñàna, yang hakekat kodratnya berupa kehampaan (Sùnyatà) dan yang bersemayam di hati bula beliau tampil dari meditasi Bodhicitta. Setelah pada jaman-jaman dulu Brahmà, Visnu, dan Ìsvara melindungi Dharma, kini pada jaman kali Srì Jìnapati turun untuk memusnahkan kekuatan jahat (1.1- 4).


Ajaran teologi yang diamanatkan dalam kakawin ini tampak dalam episode Sutasoma menjelaskan ajaran tentang Yoga sebagai berikut: “Ketika murid-muridnya bertanya lebih lanjut, Sutasoma menjawab jenis yoga yang dilakukan oleh aliran Siva dan yang terdiri atas enam tahap. Namun praktek itu ada bahaya bahwa seseorang mungkin terjerat dalam kedelapan sifat kesaktian yang diperoleh lewat yoga itu, sama seperti seseorang terbelenggu oleh panca indra dalam tahap sebelumnya. Jika bahaya itu dapat dihindari, maka ini merupakan salah satu jalan yang menuju ketujuan yang tertinggi ialah kekosongan (sùnyarùpa). Jalan yang lebih pendek lagi aman ialah advàyayoga (yoga yang tidak dualistis) seperti yang dilakukan oleh para pengikut Buddhisme Mahàyana. Yang menjadi tujuan mereka ialah Buddha tertinggi (paramàrtha Buddha) dan berakar pada advàya (keadaan yang tak dualistis) dan Prajnaparamita (pengetahuan yang tak berganda). Orang harus tahu kedua jalan itu. Baik seorang pertapa yang mengikuti Buddha maupun seorang pertapa yang menyembah Siva dapat dipersalahkan, bila ia tidak maklum akan cara pihak lain memahami Yang mutlak, yakni sebagai Sivatwa (ke-Siva-an, hakekat Siva) dan Buddhatwa (ke-buddha-an, hakekat Buddha) masing-masing. Setelah memberikan ajaran itu Sutasoma memerintahkan ketiga pengikutnya yang baru itu untuk menjadi bhiksu dan melakukan yoga di tempat mana pun yang mereka pilih, asal jangan bersama-sama, karena itu bertentangan dengan kebiasaan para pengikut Buddha. Ia sendiri akan melakukan yoga di puncak gunung. Para åûi yang tidak berhasil membelokkan niat Sutasoma, pulang ke rumah mereka masing-masing (38.1 – 42.6). Pada episode ini dijelaskan tentang “Bhinneka Tunggal Ika Tan hana Dharma mangrwa”, yang merupakan penjelasan bahwa hakekat dari semua agama adalah memuja Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan satu kesatuan yang tunggal atau monistik.

dikutip dari : www.parisada.org

Kesimpulan dari bacaan tsb :
1. Seorang penganut Siwa yg memaksakan cara yg ditempuhnya thd penganut Buddha pantas utk disalahkan dan sebaliknya (toleransi)
2. Apapun jalannya baik Siwa maupun Buddha akan tertuju kpd tujuan akhir yg sama (moksa/buddha/nirwana).
3. Karena cara Siwa lebih sulit dibanding Buddha, maka Tuhan mengutus kpd kami orang2 Hindu Bali seorang penganut Buddha Mahayana (Mpu Kuturan) utk menata kehidupan beragama, baru kemudian tatanan tersebut disempurnakan dgn pemahaman bahwa Tuhan adl satu oleh pendeta Siwa terbesar dlm sejarah Indonesia yaitu Dang Hyang Dwijendra..
jadi Hindu di Bali sebenarnya adl sinergi antara Siwa dan Buddha..

Sebenarnya.. bagus juga ada sinergi semacam ini....
Setelah saya mempelajari aliran2 hindu dan buddha, saya berpendapat sbb:
1. Di ajaran buddha, wisdom/kebijaksanaan (prajna) yg lebih menonjol. Tapi di sisi devosi(Bhakti), Kurang.
2. Di aliran spiritual Hindu, Devosi(Bhakti) sangatlah menonjol, tapi di sisi Prajna, kurang.

Jadi, bila ke dua paham ini dipelajari, maka Kebijaksanaan dan Bhakti bisa saling melengkapi....
 
Sebenarnya.. bagus juga ada sinergi semacam ini....
Setelah saya mempelajari aliran2 hindu dan buddha, saya berpendapat sbb:
1. Di ajaran buddha, wisdom/kebijaksanaan (prajna) yg lebih menonjol. Tapi di sisi devosi(Bhakti), Kurang.
2. Di aliran spiritual Hindu, Devosi(Bhakti) sangatlah menonjol, tapi di sisi Prajna, kurang.

Jadi, bila ke dua paham ini dipelajari, maka Kebijaksanaan dan Bhakti bisa saling melengkapi....

Menurut saya karakteristiknya justru berbeda. Tidak ada yang kurang tidak ada yang menonjol. Hanya cara mengartikannya yang berbeda. Serta pemahaman umatnya kadang yang membuat perbedaan menjadi semakin mencolok.

Sisi bhakti agama Buddha justru sangat menonjol di aliran Mahayana. Saling tolong saling bantu, bahkan dalam mencapai tujuan akhir nibbana.

Semantara pada aliran Therevada, pembebasan pribadi diutamakan. Karena untuk membabaskan orang lain, bagaimana mungkin kalau kita sendiri masih terbelenggu.

1. Seorang abang menasehati adiknya, "kau harus tidak bermusuhan dengan cicimu... karena Ibu kita dulu mengingatkan aku akan hal itu...."

2. Sang adik menjawab, 'Untuk berprilaku terhadap saudara-saudari ku sendiri, aku tidak menunggu perintah Ibu, karena bagaimana bila nanti Ibu sudah tiada... siapa lagi yang akan kita tunggu...."

Keduanya-duanya benar. Sang abang menasehati dengan memakai teladan dari orang tua. Si adik juga benar, karena bertindak dengan akal pikiran sendiri serta naluri untuk berkeluarga.

Keduanya sama tujuannya... tidak memusuhi seorang cici yang kemungkinan sedang bermusuhan dengan si adik. Penglihatan orang beda-beda. Memusuhi terkadang dipandang demikian. Padahal sang asik juga punya pendapat sendiri, yang seharusnya tidak menjadi sombong dipandang, bila dihayati dengan sedemikan rupa.

Hindu dan Buddha...... inilah sebenar-benar nya dua keyakinan tua yang saling bersaudara.
 
Menurut saya karakteristiknya justru berbeda. Tidak ada yang kurang tidak ada yang menonjol. Hanya cara mengartikannya yang berbeda. Serta pemahaman umatnya kadang yang membuat perbedaan menjadi semakin mencolok.

Sisi bhakti agama Buddha justru sangat menonjol di aliran Mahayana. Saling tolong saling bantu, bahkan dalam mencapai tujuan akhir nibbana.

Semantara pada aliran Therevada, pembebasan pribadi diutamakan. Karena untuk membabaskan orang lain, bagaimana mungkin kalau kita sendiri masih terbelenggu.

1. Seorang abang menasehati adiknya, "kau harus tidak bermusuhan dengan cicimu... karena Ibu kita dulu mengingatkan aku akan hal itu...."

2. Sang adik menjawab, 'Untuk berprilaku terhadap saudara-saudari ku sendiri, aku tidak menunggu perintah Ibu, karena bagaimana bila nanti Ibu sudah tiada... siapa lagi yang akan kita tunggu...."

Keduanya-duanya benar. Sang abang menasehati dengan memakai teladan dari orang tua. Si adik juga benar, karena bertindak dengan akal pikiran sendiri serta naluri untuk berkeluarga.

Keduanya sama tujuannya... tidak memusuhi seorang cici yang kemungkinan sedang bermusuhan dengan si adik. Penglihatan orang beda-beda. Memusuhi terkadang dipandang demikian. Padahal sang asik juga punya pendapat sendiri, yang seharusnya tidak menjadi sombong dipandang, bila dihayati dengan sedemikan rupa.

Hindu dan Buddha...... inilah sebenar-benar nya dua keyakinan tua yang saling bersaudara.

Bhakti yg dimaksud bukan bhakti antar sesama.. tapi bhakti kepada kesadaran agung....

Tapi Bhakti/devosi dgn prajna kurang, akan berakibat negatif,
contoh:
kita lihat agama kristen, bhakti thd tuhan atau yesus sangatlah tinggi..
tapi tanpa dilandasi dgn prajna yg cukup... bhakti ini menjadi negatif, yg mengakibatkan timbulnya bhakta buta bahkan fanatisme buta.

Bhakta = orang yg melakukan bhakti.

Tapi, Prajna tanpa bhakti, akan merasakan hidupnya hambar... dan bahkan merasa dirinya hebat, tahu segala macem...dan akhir2nya juga jatuh dan dihinggapi penyakit "Aku Tahu".

Bhakti sebenarnya utk menundukkan ke akuan palsu atau yg disebut ego-an.

Intinya keduanya bagus utk kehidupan spiritual.

Kira-kira begitulah...
 
@ThirdEye & @roughtourer

Saya berpikir kalo Siwa dan Buddha bisa saling bahu membahu seperti ketika masa Majapahit bisa jadi Indonesia akan menjadi negara adi kuasa!
Bukan bahu membahu dlm memperbanyak umat tapi bahu membahu dlm memberi contoh toleransi beragama di Indonesia..
kembali kpd Bhineka Tunggal Ika..
bukankah Bhineka Tunggal Ika lahir karena keharmonisan dan saling pengertian antara Siwa dan Buddha?

tapi ngomong2 yg saya sampaikan spertinya OOT..
hahaha baru saya sadar!

back to topic..
siapakah yg paling tinggi/ paling suci dlm agama Buddha?

@roughtourer
Dalam hal lain, disebutkan bahwa Sidharta Gautama adalah manusia biasa. jadi semua manusia bisa menjadi Buddha. Tanpa atau dengan tanda-tanda tersebut. Namun untuk menjadi Sammasambuddha, tidak semua orang bisa.
Mengapa tdk semua org bs mejadi Sammasambuddha?
Bagaimanakah cara menjadi Sammasambuddha?
Siapakah yg mentakdirkan Siddharta Gautama menjadi Sang Buddha?
mungkinkah Tuhan??
 
Bhakti yg dimaksud bukan bhakti antar sesama.. tapi bhakti kepada kesadaran agung....

Tapi Bhakti/devosi dgn prajna kurang, akan berakibat negatif,
contoh:
kita lihat agama kristen, bhakti thd tuhan atau yesus sangatlah tinggi..
tapi tanpa dilandasi dgn prajna yg cukup... bhakti ini menjadi negatif, yg mengakibatkan timbulnya bhakta buta bahkan fanatisme buta.

Bhakta = orang yg melakukan bhakti.

Tapi, Prajna tanpa bhakti, akan merasakan hidupnya hambar... dan bahkan merasa dirinya hebat, tahu segala macem...dan akhir2nya juga jatuh dan dihinggapi penyakit "Aku Tahu".

Bhakti sebenarnya utk menundukkan ke akuan palsu atau yg disebut ego-an.

Intinya keduanya bagus utk kehidupan spiritual.

Kira-kira begitulah...

Contoh menarik, Orang Kristen bhakti Kepada Tuhan atau Jesus. Menurut saya, bhakti kepada Jesus justru harus dilakukan dengan memancarkan cinta kasih yang diperjuangkan Jesus.... bukan sekedar menyembah saja.

Jesus sebagai Tuhan.... Jangan artikan Tuhan seperti Tuhan yang biasa kita dengar. Coba tarik ke Nibbana. Nibbana itu bagaimana? Siapa yang bisa mencapai Nibbana? Orang yang sudah mencapai penerangan sempurna. Jadi.... tidak berbeda jauh sebenarnya.... bila kita bisa memandangnya. Ada dasar bagus dalam pengertian kita akan Nibbana bila kita memandang sesuatu yang sudah mencapai penerangan sempurna/tercerahkan mencapai Nibbana (kondisi Ketuhanan dalam Buddhis). Bila Jesus sudah mencapai pencerahan/penerangan sempurna/ wahyu..... maka Nibbana.... Tuhan... dalam arti yang lebih spesifik bagi umatnya.

Mungkin itu yang mendasari. Tentu saja menurut saya.

@roughtourer

Mengapa tdk semua org bs mejadi Sammasambuddha?
Bagaimanakah cara menjadi Sammasambuddha?
Siapakah yg mentakdirkan Siddharta Gautama menjadi Sang Buddha?
mungkinkah Tuhan??

Yang bisa menjadikan Sidharta Gautama menjadi Buddha tentu saja Sidharta sendiri. Tidak dalam satu periode kehidupan. Ketekunan luar biasa, serta tekad kuat yang menjadikan Sidharta Gautama menjadi Sammasambuddha.... Siapa yang memilih? Diri sendiri. Tidak semua orang bisa menjadi Sammasambuddha, karena kualitas manusia itu sendiri berbeda-beda.... tekad dan keinginan juga berbeda.
 
@roughtourer
Yang bisa menjadikan Sidharta Gautama menjadi Buddha tentu saja Sidharta sendiri. Tidak dalam satu periode kehidupan. Ketekunan luar biasa, serta tekad kuat yang menjadikan Sidharta Gautama menjadi Sammasambuddha.... Siapa yang memilih? Diri sendiri. Tidak semua orang bisa menjadi Sammasambuddha, karena kualitas manusia itu sendiri berbeda-beda.... tekad dan keinginan juga berbeda.

singkat, padat, dan jelas..thanx.

memang sangat sulit, jangankan menjadi Buddha, mengikuti sepersepuluh perilaku mulia Sang Buddha pun sangat sulit di zaman modern kayak gini..
 
@roughtourer


singkat, padat, dan jelas..thanx.

memang sangat sulit, jangankan menjadi Buddha, mengikuti sepersepuluh perilaku mulia Sang Buddha pun sangat sulit di zaman modern kayak gini..

memang sangat sulit.... tapi tidak mustahil.... dan itu yang ditolak oleh ajaran Buddha... tidak mustahil. makanya Tuhan tidak memilih atau mentakdirkan... tapi manusianya sendiri yang berusaha.

btw.... yang benar roughtorer bukan roughtourer, :D:D:D:D:P
 
memang sangat sulit.... tapi tidak mustahil.... dan itu yang ditolak oleh ajaran Buddha... tidak mustahil. makanya Tuhan tidak memilih atau mentakdirkan... tapi manusianya sendiri yang berusaha.

btw.... yang benar roughtorer bukan roughtourer, :D:D:D:D:P

Hahaha iyaya..roughtorer..sorry bro!
waduh gw masih muda koq dah rabun ya?gimana gw bisa mimpin Indonesia nich..
ngomong2 roughtorer tuch artinya apaan sich?
kalo jakaloco terdiri dari 2 kata >> Jaka (bujangan) , Loco (gila)
jadi JakaLoco >> bujangan gila hahahaha.....

sorry OOT!
 
Hahaha iyaya..roughtorer..sorry bro!
waduh gw masih muda koq dah rabun ya?gimana gw bisa mimpin Indonesia nich..
ngomong2 roughtorer tuch artinya apaan sich?
kalo jakaloco terdiri dari 2 kata >> Jaka (bujangan) , Loco (gila)
jadi JakaLoco >> bujangan gila hahahaha.....

sorry OOT!

Roughtorer
artinya orang kasar.... orang macho... orang sangar.... gitu deh... pokoknya maskulin.... hihihihihihihi....

Gw mau sorry sama siapa yah.... kok jadi OOT sendiri.... maaf semuanya...
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.