• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

tradisi sembahyang kubur

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. dingting
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

dingting

IndoForum Beginner C
No. Urut
35177
Sejak
5 Mar 2008
Pesan
813
Nilai reaksi
15
Poin
18
all mo tnya ne, ad yg pernah ikut ritual sembhyang kbur ga?:-/untuk mngenang ama menghormati leluhur2 kta yg uda meninggal. konon adat tionghoa turun temurun neh. biasenya klo ga slah 1 taon diadain 2 kli klo ga slah. trus kbetulan blan krang jga lgi pas hari raya-NYA, bgi yg mo smbahyang kbur. trz ad penghormatan ke dewa tanah jga. ap bner mkanan yg kta bwa tu di komsumsi ama leluhur kta??? kan ad bwa mkanan, minuman, kue, buah2an uda tu ditgalin dikit. sisanya dibawa plang bt dmsak:D. bkar uang kertas,pakaian, sepatu, handuk,tu2 de brang-NYA. ktanya bt dipake almarhum di dunia stelah meninggal. smua itu2 bner2 ad yak???:-/:-/:-/
 
all mo tnya ne, ad yg pernah ikut ritual sembhyang kbur ga?:-/untuk mngenang ama menghormati leluhur2 kta yg uda meninggal. konon adat tionghoa turun temurun neh. biasenya klo ga slah 1 taon diadain 2 kli klo ga slah. trus kbetulan blan krang jga lgi pas hari raya-NYA, bgi yg mo smbahyang kbur. trz ad penghormatan ke dewa tanah jga. ap bner mkanan yg kta bwa tu di komsumsi ama leluhur kta??? kan ad bwa mkanan, minuman, kue, buah2an uda tu ditgalin dikit. sisanya dibawa plang bt dmsak:D. bkar uang kertas,pakaian, sepatu, handuk,tu2 de brang-NYA. ktanya bt dipake almarhum di dunia stelah meninggal. smua itu2 bner2 ad yak???:-/:-/:-/

Bisa lihat disini

https://www.forum.or.id/showthread.php?t=41419&highlight=cheng+beng

Tirokuddha Sutta


Pelimpahan jasa tentunya sudah tidak asing lagi bagi umat Buddha yang selalu melakukannya setelah melakukan perbuatan baik. Bahkan di zaman kehidupan Sang Buddha, pelimpahan jasa ini sudah sering dilakukan karena selain dapat membantu orang lain, juga dapat membawa manfaat bagi diri kita sendiri.

Sewaktu Raja Bimbisara meminta agar jasa kebajikan pemberian dana kepada anggota Sangha itu dilimpahkan kepada leluhurnya, Sang Buddha mengucapkan syair Tirokudda Sutta sebagai berikut:

Diluar dinding mereka berdiri dan menanti,
dipersimpangan-persimpangan jalan,
mereka kembali kerumah yang dulu dihuninnya,
dan menanti di muka pintu,
tetapi bila diadakan pesta yang meriah,
dengan makanan dan minuman yang berlimpah,
ternyata tidak seorangpun yang ingat,
kepada makhluk-makhluk itu,
yang merupakan leluhur mereka.

Hanya mereka yang hatinya welas asih,
memberikan persembahan kepada sanak keluargannya,
berupa makanan dan minumanyang lezat,
baik dan disukai pad waktu mereka masih hidup

“Semoga buah jasa-jasa baik kita,
melimpah kepada sanak keluarga yang telah meninggal,
semoga mereka bahagia.”
Sanak keluarga kita yang sedang berkumpul ditempat ini,
dengan gembira akan memberikan restu mereka,
karena diberi makanan dan minuman yang berlimpah.

“Semoga sanak keluargaku berusia panjang,
sebab karena merekalah kami memperoleh sesajian yang lezat ini

“Karena kami diberi perhormatan yang tulus,
maka yang memberinya pasti akan memperoleh,
buah jasa yang setimpal,
karena disini tidak ada pertanian,
dan juga tidak ada peternakan,
tidak ada perdagangan,
juga tidak ada peredaran uang dan emas.”
Sanak keluarga kita yang telah meninggal,
hidup disana dari pemberian kita disini.

Bagaikan air mengalir dari atas bukit,
turun kebawah untuk mencapai lembah yang kosong,
demikian pula sesajian yang diberikan,
dapat menolong sanak keluarga kita yang telah meninggal

Bagaikan sungai, bila airnya penuh,
akan mengalirkan airnya kelaut,
demikian pula sesajian yang diberikan,
dapat menolong sanak keluarga kita yang telah meninggal

“Ia memberikan kepadaku, ia bekerja untukku,
ia sanak keluargaku, ia sahabatku, kerabatku,
memberikan sesajian kepada mereka yang telah meninggal dunia,
dan mengingat kembali kepada apa yang biasa mereka lakukan,
bukan ratap tangis, bukan kesedihan hati,
bukan berkabung dengan cara apapun juga,
untuk menolong mereka yang telah meninggal dunia,
yang dilakukan sanak keluarga yang telah ditinggalkan

Tetapi bila persembahan ini dengan penuih bakti,
diberikan kepada sangha atas nama mereka,
dapat menolong mereka untuk waktu yang panjang,
dikemudian hari maupun pada saat ini

Telah diperlihatkan hakikat sesungguhnya,
Sesajian bagi sanak keluarga,
dan bagaimana penghormatan yang telah bernilai dapat diberikan kepada mereka,
serta bagaimana para bhikkhu mendapatkan kekuatan,
dan bagaimana anda sendiri dapat menimbun,
buah karma yang baik


Demikian syair dari Tirokudda Sutta yang pernah diucapkan oleh Sang Buddha. Setelah membaca Sutta ini dengan teliti, kita tentu dapat memetik manfaat yang besar, yaitu kita tidak seharusnya meratap-tangis, sedih, berkabung, membakar emas dan perak ataupun memberikan sesajian kepada sanak keluarga atau teman kita yang telah meninggal, tetapi yang dapat membantu mereka hanyalah persembahan yang diberikan kepada Sangha atas nama alm.

 
idam vo natina hotu sukhita hotu natayo
 
“Semoga buah jasa-jasa baik kita,
melimpah kepada sanak keluarga yang telah meninggal,
semoga mereka bahagia.”
Sanak keluarga kita yang sedang berkumpul ditempat ini,
dengan gembira akan memberikan restu mereka,
karena diberi makanan dan minuman yang berlimpah.

@sinthung
tu yg diatas agak krang ngerti mksudnya om. dri hasil penafsiran gw ini yah mksud klimat diatas. klo kta berbt amal baik, itu juga makanan yg dikonsumsi leluhur kita di t4-NYA. bkan mkanan yg enak2 dlam bntuk fisik kyak fried chicken msalnya dbwa pun percuma. toh leluhur kta ga bgun bt menyantapnya.

CMIIW.
 
begini....saya jelaskan secara singkat saja.

kalau leluhur kita terlahir di alam peta..mereka hanya bisa mendapatkan makanan itu dari "jasa perbuatan baik" kecuali ada jenis peta yang mampu makan makanan secara non-fisik.

saya saja pernah makan beberapa jeruk yang hambar rasanya ketika selesai sembahyang.

contoh jasa perbuatan baik yg itu seperti begini.
ketika anda juara medali emas olimpiade matematika...anda menelpon ibu anda dan berkata "bu,saya juara olimpiade".
apa yang ibu anda rasakan?..bahagia tentu-nya walau bukan ibu anda yang JUARA.

demikian juga dengan jasa perbuatan baik..ketika kita berdana,berbuat baik, lalu kita mengingat pada leluhur dan berkata "semoga jasa perbuatan ini dilimpahkan kepada ***** "
maka ketika mereka tahu,bahwa anda berbuat baik mereka juga ikut bahagia.

dan bukan perbuatan baik(kamma baik) di pindahkan / ditransfer...ini pandangan keliru.

contoh kasus pada waktu jaman gotama adalah raja bimbisara.

“Semoga buah jasa-jasa baik kita,
melimpah kepada sanak keluarga yang telah meninggal,
semoga mereka bahagia.”
Sanak keluarga kita yang sedang berkumpul ditempat ini,
dengan gembira akan memberikan restu mereka,
karena diberi makanan dan minuman yang berlimpah.

contoh kasus biasa..

ketika kita bermimpi bahwa leluhur kita memiliki pakaian compang-camping. lalu kita mendanakan baju-baju kepada panti asuhan dan berkata "semoga jasa perbuatan baik ini di terima oleh leluhur saya"

biasa nya mimpi kali ke-2 sudah baikan baju nya...

semoga dari beberapa penjelasan saya dapat di mengerti...sadhu-sadhu-sadhu
 
Pelimpahan jasa bukan berarti karma baik kita di "transfer" untuk orang lain karena para makhluk mewarisi karmanya masing-masing. Maksud dari pelimpahan jasa yang sebenarnya adalah perbuatan/karma baik yang telah kita lakukan dapat menjadi sebab atau kondisi bagi orang/makhluk lain yang dilimpahkan untuk munculnya pikiran-pikiran yang diliputi kebahagiaan seperti mudita & anumodana tetapi apabila mereka bergembira atas pebuatan-perbuatan baik yang telah kita lakukan.....


Pelimpahan jasa itu sendiri tidak memiliki hari yang special. manusia menggunakan hari special untuk lebih menghangatkan suasana pada hari itu dan ini menjadi sebuah kebiasaan bahwa hanya pada hari special tersebut,sebuah kebaikan akan melimpah-limpah. iya itu benar.

Untuk leluhur yang telah meninggal, hal terbaik bagi sanak keluarganya yang masih hidup adalah menjalanakan Sila, berpraktik dana dan welas asih dan semua praktik kebajikan lain dengan satu tekad "Semoga leluhur kita yang telah meninggal dunia mengetahui kebajikan yang saya perbuat untuk nya dan kalo dia tidak mengetahui ,semoga para deva memberitakan kebaikan ini kepadanya,sehingga tumbuh rasa sukha, tumbuh kebijaksanaan dan berjodoh dengan Dhamma sehingga pada akhirnya melepas"

Nah,praktek dana,welas asih dan kebijaksanaan itu bermacam-macam, dan kamu lakukan dimana menurut kamu adalah sesuai dan terbaik contoh, memberikan dana makanan kepada Bhikkhu, melepas makhluk hidup, mencetak buku Dhamma, dana bunga di altardan masih banyak contoh kebajikan Dhamma yang bisa kamu lakukan,inilah namanya Dana Parami. dan ini justru membawa kamma baik tidak hanya pada leluhur tapi pada keluarga kamu juga.

Beberapa miskonsepsi terjadi adalah selalu mengira sanak keluarga yang telah meninggal,pasti terlahir sebagai roh,hantu atau sesuatu yang tidak tampak,kita sudah mengerthaui dari Guru bahwa ada 6 alam tumimbal lahir yang bersifat duniawi. jadi hilangkan miskonspesi tersebut.

Semua dana kebajikan yang dilakukan mulai dari pikiran yang timbul kebahagiaan, ucapan yang penuh metta dan perbuatan yang diiringi dengan kebijaksanaan adalah sebuah berkah tiada tara untuk sanak keluarga yang meninggal.

Semoga memberikan jawaban, dan semoga semua kamma baik untuk leluhur kamu berbuah dimanapun ia berada sekarang ini. semoga ia memperoleh kebajikan untuk mengenal Dhamma.


tulisan2 di atas, bukan berasal dari tulisan saya
saya hanya copas dr forum lain, yg kebetulan ada thread pelimpahan jasa

semoga bermanfaat yaaah .......
 
@marcedes
saya saja pernah makan beberapa jeruk yang hambar rasanya ketika selesai sembahyang
kok rsanya bsa hambar om??? ap krna uda dikonsumsi ama leluhur, yah nmanya jga uda brang bkas mkanan orang kan uda beda rsanya. brarti bener2 ad dong klo leluhur tu ad konsumi tu mkanan yg kta bwa.

ketika kita bermimpi bahwa leluhur kita memiliki pakaian compang-camping. lalu kita mendanakan baju-baju kepada panti asuhan dan berkata "semoga jasa perbuatan baik ini di terima oleh leluhur saya"

biasa nya mimpi kali ke-2 sudah baikan baju nya...
npa ga lgsung bkar duit kertas ama baju aja. kan mak nyos lgsung ke pokok permslahan-NYA n bsa lgsung di pake. lgian klo kta uda nyumbang2 gtu, spa yg ngasih2 keperluan na. ayo!!! mending kta ksih smua brang kperluan leluhur aj kta transfer lwat bkar2 gtu^ ^kn nyampe kt4 dy jga.
 
kok rsanya bsa hambar om??? ap krna uda dikonsumsi ama leluhur, yah nmanya jga uda brang bkas mkanan orang kan uda beda rsanya. brarti bener2 ad dong klo leluhur tu ad konsumi tu mkanan yg kta bwa.
peta ini jenis PARADATTUPAJIVIKA-PETA
Peta ini memelihara hidup nya dengan memakan makanan yang disuguhkan orang dalam upacara seperti sembahyang.

npa ga lgsung bkar duit kertas ama baju aja. kan mak nyos lgsung ke pokok permslahan-NYA n bsa lgsung di pake. lgian klo kta uda nyumbang2 gtu, spa yg ngasih2 keperluan na. ayo!!! mending kta ksih smua brang kperluan leluhur aj kta transfer lwat bkar2 gtu^ ^kn nyampe kt4 dy jga.
wah.....hehehe,,,,jadi masa WTC itu yang terbakar hancur jadi didanakan sama alam peta....canda ^^

kalau tradisi tionghoa...membakar kertas sembahyan seperti duit^^....ataupun rumah-rumah sama saja kita mendanakan rumah atau pun duit.
ada juga yang bakar baju dan celana...bahkan sampai sandal...
tentu semua itu hanya tradisi / kebudayaan


oh lupa bilang....kalau leluhur anda terlahir dialam dewa ataupun manusia....mereka tidak akan menerima pelimpahan jasa..
karena ke-dua alam ini mampu mencari kebutuhan mereka sendiri.

tapi sedemikian banyak tumimbal lahir kita...pastilah ada sanak keluarga kita yang lahir dialam peta....makanya dalam teks pattidana dalam paritta.

berbunyi bahwa.....orang tua yang tampak atau tak tampak...yang bersikap netral atau bermusuhan,dsb.
 
@marcedes
kok rsanya bsa hambar om??? ap krna uda dikonsumsi ama leluhur, yah nmanya jga uda brang bkas mkanan orang kan uda beda rsanya. brarti bener2 ad dong klo leluhur tu ad konsumi tu mkanan yg kta bwa.


npa ga lgsung bkar duit kertas ama baju aja. kan mak nyos lgsung ke pokok permslahan-NYA n bsa lgsung di pake. lgian klo kta uda nyumbang2 gtu, spa yg ngasih2 keperluan na. ayo!!! mending kta ksih smua brang kperluan leluhur aj kta transfer lwat bkar2 gtu^ ^kn nyampe kt4 dy jga.

Seperti yang sudah dijelaskan oleh avuso Marcedes.

Daripada uang beli kertas sembahyang,rumah kertas,mobil kertas untuk dibakar sebaiknya uang tersebut beli kebutuhan pokok untuk dipersembahkan kepada Sangha atas nama almarhum jauh lebih bermanfaat .semua ini tergantung anda

 
Apakah Ulambana Sesuai dengan Tipitaka?

Tanya:

Namo Buddhaya,
Apakah upacara Ulambana untuk menolong yang menderita di alam sengsara seperti yang dikenal dalam tradisi Mahayana adalah sesuai
dengan Tipitaka?

Edy Huang, Pekanbaru



Jawaban dari Y.M. Uttamo Thera:

Namo Buddhaya,
Pada prinsipnya, ulambana adalah merupakan upacara pelimpahan jasa yaitu melakukan perbuatan baik atas nama mahluk yang sedang menderita di alam kelahirannya sekarang. Di dalam Tipitaka, Sutta Pitaka, Khuddhaka Nikaya, yaitu Tirokudda Sutta, Sang Buddha menguraikan tentang cara dan makna upacara pelimpahan jasa tersebut. Sutta ini adalah Sabda Sang Buddha ketika Raja Bimbisara mendapat banyak gangguan dari para mahluk Peta atau setan kelaparan yang sesungguhnya mereka semua adalah sanak saudaranya di banyak kehidupan yang lalu. Setelah Raja Bimbisara melakukan kebajikan atas nama mereka seperti yang diuraikan oleh Sang Buddha, para mahluk Peta ini akhirnya mendapatkan kebahagiaan dan terlahir di alam yang lebih baik sesuai dengan kebajikan yang mereka miliki.

Jadi, dalam Dhamma memang diuraikan cara untuk menolong mahluk yang terlahir di alam menderita. Namun, pertolongan ini hanya dapat diterima oleh mereka yang terlahir di alam Peta. Selain mahluk Peta, para mahluk menderita lainnya tidak dapat menerima pelimpahan jasa yang dilakukan oleh manusia.

Semoga semua mahluk berbahagia.

Semoga bermanfaat.
 
nanya juga nih,
jadi jika kita menyajikan makanan dll u leluhur kita, misalnya yg kita tujukan untuk kakek kita yg udah meninggal, jika kakek kita sudah terlahir di alam manusia atau dewa, berarti yg menerima itu bukan kakek kita???tapi makhluk peta dong????soalnya setiap mau sembahyang mereka kan pasti mengundang Dewa tanah kemudian baru leluhur kita itu,
mungkin ini gak penting tapi gimana pendapat kalian??
 
Kalo gw pribadi, it's just tradition.
So, gw ga kaitkan ama masalah agama2 gt ^^

Gw juga maren baru selesai sembahyang kubur ni, kalo menurut gw tradisi ni mesti di pertahankan sebab udah dari turun temurun.
 
nanya juga nih,
jadi jika kita menyajikan makanan dll u leluhur kita, misalnya yg kita tujukan untuk kakek kita yg udah meninggal, jika kakek kita sudah terlahir di alam manusia atau dewa, berarti yg menerima itu bukan kakek kita???tapi makhluk peta dong????soalnya setiap mau sembahyang mereka kan pasti mengundang Dewa tanah kemudian baru leluhur kita itu,
mungkin ini gak penting tapi gimana pendapat kalian??

begini...kalau masalah menyajikan makanan, hanya ada satu jenis makhluk dialam peta yang bisa menerima nya.
peta ini jenis PARADATTUPAJIVIKA-PETA
Peta ini memelihara hidup nya dengan memakan makanan yang disuguhkan orang dalam upacara seperti sembahyang.

alangkah baiknya yang dilimpahkan itu adalah jasa perbuatan baik,sehingga yang lahir dialam peta mampu menerima.

===========================
seandainya pula jika anda melimpahkan jasa kepada ALMARHUM kakek anda,contoh nama "KAKEK KAMESENIN"
dan semasa hidup kakek kamesenin ini penuh dengan kebajikan dan terlahir ke alam MANUSIA / DEWA..tentu kakek kamesenin ini tidak menerima jasa perbuatan baik anda.

makanya pula ALANGKAH baiknya jika melimpahkan jasa kepada seluruh makhluk hidup........
jika yang di utamakan adalah keluarga..

sebaiknya mengucapkan paritta pattidana,dimana baik orang tua ataupun keluarga saat ini ataupun kehidupan sebelumnya. tampak atau tak tampak, bersikap netral atau bermusuhan menerima jasa-jasa perbuatan baik ini.

atau bisa juga semoga semua keluarga saya menerima jasa perbuatan baik ini....semoga seluruh leluhur saya menerima jasa perbuatan baik ini...semoga berbahagia...

sabbe satta bhavantu sukhitata.


salam metta. ^^
 
Kalo hal sesajen gini diagama Shinto jg samakan??
Saya jg gak gt tau persis sbnrnya tp ya jalani saja ^^.
 
Tanpa berusaha untuk memperlebar permasalahan. Saya punya pandangan pribadi sebagai berikut:

Sembahyang Kubur/Ziarah

Memang kalau mau dicermati, yang mati biarlah mati. Bahkan dalam buku Harry Potter, Dumbledore sempat memperingatkan Harry agar lebih mengkhawatirkan orang hidup dari pada orang mati. Itu sebuah kebijaksanaan.

Namun dalam hidup sebagai manusia yang mempunyai perasaan cinta kasih, sayang, hormat dan bhakti kepada orang tua/leluhur, manusia melakukan apa yang dinamakan ziarah. Pada praktek semua agama hal ini dilakukan. Bahkan dalam ritual haji (dalam agama Islam, salah satu yang dilakukan adalah ziarah ke makam nabi Ibrahim (Abraham - Ibrani) yang merupakan leluhur perkambangan agama Abrahamic.

Lalu, apa salahnya dengan Ziarah/Sembahyang kubur? Tidak ada salahnya (menurut saya) kalau kita melakukannya dengan benar. Tanyakan ke diri sendiri, apakah dalam melakukan ziarah:

  1. Semua yang melakukannya, melakukan dengan perasaan senang/bahagia?
    Bila seluruh anggota keluarga (bahkan yang di perantauan, pulang untuk menunjukkan bhakti kepada leluhur dalam ziarah tahunan, saya mengasumsikan ini sebuah pengorbanan yang akan membawa karma baik)
  2. Adakah yang dirugikan?
    Bila tidak ada yang dirugikan, baik diri sendiri maupun orang lain, sangat baik untuk melakukannya.
  3. Semakin salahkah pandangan kepercayaan kita?
    Tergantung dari ritual ziarah yang anda lakukan, bila anda melakukan ziarah dengan ritual 'doa' dengan sejuta permintaan pada lelulur pada kekayaan, kesehatan dan lain-lain, agaknya anda salah menurut pandangan Buddha. Bagimana bila ritual doa yang anda pinta itu anda ganti dengan pembacaan beberapa paritta/kheng Buddhis. Mungkin pelimpahan jasa-jasa bisa kita lakuakn pada lelulur kita. semangat membantu dan mengharapkan kebahagiaan pada semua mahluk, termasuk lelulur kita. Dalam pengertian ini, kisah Raja Bimbisara mungkin bisa memberikan inspirasi.
  4. Apa yang anda lakukan saat ziarah?
    Senada dengan penjelasan sebelumnya. Kalau sekedar melakukan bakar kertas, sesaji-sesaji (apalagi yang dari hasil pembunuhan) kemudian dengan mengharapkan imbalan atas sesaji-sesaji kita. Sebaiknya, lakukanlah secara benar. Ziarah adalah sebuah cerminan bhakti kita pada leluhur/orang tua. Jangan justru melakukan karma buruk karena semangat bhakti tersebut. Membacakan paritta-paritta Buddhis mungkin bisa membantu.
  5. Adakah penyesalan setelah melakukan ziarah?
    Ini pertanyakan pamungkas. Bila setelah pengorbanan beli kertas, sesaji dll ternyata apa yang diminta tidak terkabul dan kemudian yang muncul penyesalan. Nasehat saya, ritual ziarah anda salah.... Perbaiki dengan keyakinan anda, atau jangan lakukan sama sekali.

Ziarah adalah sebuah warisan budaya yang diwariskan kepada kita dari generasi ke generasi. Yakinlah ini adalah sebuah tradisi yang baik. Pada leluhur yang sudah mati saja kita melakukan bhakti seperti ini, lalu bagimana bhakti kit apada bakal/calon leluhur kita yang masih hidup (orang tua)? Hikmahnya ada di sini. Silahkan renungkan sendiri.

Kemudian banyaknya peraturan dalam upacara sembahyang kubur ini, misal mengundang Datuk Khong, Tua Phek Khong dll.... tidak ada salahnya kan? Semakin banyak puja bhakti kita panjatkan kepada semua mahluk, baik itu yang dari alam peta maupun dari alam dewa, karma baik akan semakin melinpah kepada kita.

Saya justru melihat, pengertian mendalam dalam ritual ziarah kuburan ini yang kurang kita mengerti. sebahagian umat Buddha terkadang sangat merasa benar dalam beberapa hal, sehingga sebelum menyelami makna yang terkandung dalam wujud ritual ziarah ini, kita sudah protest duluan. Misalnya tentang bakar kertas dll..... Walaupun mungkin itu hal yang sia-sia, tapi dalam prakteknya, terkadang kita perlu untuk menjaga perasaan orang tua kita yang belum mengerti atau keyakinannya masih kuat dalam hal ini. Melakukan penolakan secara keras di sini, justru akan menimbulkan karma buruk, karena kita menyakiti Buddha yang ada di rumah kita sendiri (orang tua). Lakukanlah pengertian secara perlahan, bukan dengan protes keras. Pengertian yang perlahan-lahan, menimbulkan kesadaran bagi umat Buddha pada budaya dr etnis China ini. Semua bangsa kenyataannya melakukannya... Kita umat Buddha juga. Hanya caranya memang harus disadari sepenuhnya.

Sesaji dalam aliran Shinto, saya menganggapnya sebagai bagian dari puja bhakti aliran kepercayaan tersebut.
 
@marcedes

begini...kalau masalah menyajikan makanan, hanya ada satu jenis makhluk dialam peta yang bisa menerima nya.

mahluk ap itu mksudnya??? leluhur kta trmsuk dlam golongan itu ga???
klo bkan brarti mkanan yg kta sajikan ga smapi dtngan mreka dong om???

@roughtorer
Apa yang anda lakukan saat ziarah?
Senada dengan penjelasan sebelumnya. Kalau sekedar melakukan bakar kertas, sesaji-sesaji (apalagi yang dari hasil pembunuhan) kemudian dengan mengharapkan imbalan atas sesaji-sesaji kita. Sebaiknya, lakukanlah secara benar. Ziarah adalah sebuah cerminan bhakti kita pada leluhur/orang tua. Jangan justru melakukan karma buruk karena semangat bhakti tersebut. Membacakan paritta-paritta Buddhis mungkin bisa membantu.

Bknnya diritual pekong(konghucu) diwajibkn bwa sesajen(hsil pembunuhan), klo dikaitkan sbnarnya pak kung itu kn dewa. shrusnya khidupannya uda vege. kok mlah sbliknya.
ne pngalaman gw. . .dlu gw prnah tnya abng sepupu gw. ko agma ap??? oh. . .ko2 nyembah pak kung(konghucu) enk bleh mkan dging. ga ad vegenya kyak agama budha.klo kjdian gtu.mnrut om gmna???
 
@ Dingting
Yah, dalam Khong Hu Cu memang tidak ada larangan untuk makan daging. Demikian juga untuk urusan sembahyang Pek Khong dll. Dan tradisi Khong Hu Cu ini sangat sulit untuk dilepaskan oleh penganut Buddha terutama yang berasal dari etnis China. Kebanyakan dari aliran Mahayana.

Sebagai umat Buddha, jelas dong kita akan terus berusaha untuk tidak melakukan pembunuhan. Apalagi untuk urusan sembahyang. Kita sembahyang kan tujuannya untuk mendapatkan karma baik. Dengan memberikan sesaji yang hasil pembunuhan, bukankah itu justru menimbulkan karma buruk?

Jadi, sesaji kita di arahkan lebih kepada yang tidak bersifat hasil pembunuhan.

Kita juga gak tahu pasti dewa/dewi yang sudah suci itu vegetarian aau tidak kan? Karena kita memikirkan mereka (dewa/dewi) itu dengan cara pandang kita yang manusia.

Terus, masalah sampai atau tidak sampai, ini juga mustahil mau dibuktikan (kecuali sudah mencapai tingkat kesucian tertentu). Yang hanya bisa kita lakukan adalah puja bhakti. Dalam hal ini yah, kepada Bodhisatva, Mahasatva.

Tradisi sembahyang kubur, menurut saya baik kok. Sekarang juga sudah banyak kesadaran dalam melakukan sembahyang kubur. Jarang benda-benda hasil pembunuhan disajikan. Terutama bagi mereka yang umat Buddha. Namun, umat Buddha dan umat Khong Hu Cu kan seakan membaur jadi satu. Terutama pada etnis China. Selain menjalankan ajaran Buddha, etnis China juga kerap melakukan ritual-ritual Khong Hu Cu, juga Taoisme. Ini yang dikenal dengan Tri Dharma, sebagai kepercayaan umum bangsa China. Dimana saja, tak peduli di Tiongkok, Hong Kong, Singapura, Taiwan, America atau di Indonesia.

Saya masih melihat, adanya niat baik dalam sembahyang kubur pada leluhur. Bhakti yang tidak berkesudahan walaupun mereka sudah tiada. Kemudian, jumpa keluarga kembali untuk bersama-sama sembahyang di kubur leluhur, ini banyak sisi baiknya. Selain mempererat tali persaudaraan, juga memupuk bhakti itu sendiri. Bagi yang sudah tidak mempunyai orang tua lagi, mungkin hal ini akan sangat terasa. Ada semacam rasa haru yang dibalut kebahagiaan berkumpul bersama, melupakan perselisihan, dan tunduk, berlutut pada pusara orang tua.

Saya tidak mempermasalahkan apakah paritta yang saya baca sampai ke orang tua, atau sesaji saya justru dimakan oleh mahluk lain. Bila mahluk peta yang memakan sesaji kita justru menjadi bahagia karena sembahyang kubur kita, bukankah ini juga berkah?

Sedikit demi sedikit, mungkin adat dari orang-orang etnis China ini akan pudar. Namun tidak bijaksana bila dengan pedang terhunus melarang tradisi/adat dari budaya luhur ini. Itu bukan ciri umat Buddha. Kita memberikan pembelajaran, bukan dengan kekerasan. Apalagi sampai menimbulkan perselisihan di keluarga karena kita ogah ikutan sembahyang (karena yakin ini tradisi) dan bertentangan (misal) dengan koko-koko, cici-cici kita yang mungkin tidak sedalam kita Buddha Dharmanya. Kalau memang keyakinan Buddhis kita lebih tinggi, harusya kita bisa lebih bertoleransi, bukan justru jebih 'ngeselin' orang lain.

Kira-kira begitu.

Ikuti saja, namun cara kita bisa berbeda kan, misalnya yah, dengan membacakan kheng atau paritta atau sutta sebagai ganti minta 'pho phi' dari leluhur.... Kemudian, mengusulkan untuk sesaji kue-kue, buah, teh, dll yang bukan hasil pembunuhan. Kalau bakar kertasnya.... anggap saja sejenis dupa.... Dupa juga harus beli toh? Dan ini butuh pengorbanan untuk melakukannya.
 
Ikuti saja, namun cara kita bisa berbeda kan, misalnya yah, dengan membacakan kheng atau paritta atau sutta sebagai ganti minta 'pho phi' dari leluhur.... Kemudian, mengusulkan untuk sesaji kue-kue, buah, teh, dll yang bukan hasil pembunuhan. Kalau bakar kertasnya.... anggap saja sejenis dupa.... Dupa juga harus beli toh? Dan ini butuh pengorbanan untuk melakukannya.
__________________

@roughtorer

gw prnah ngusulin sbelumnya kok klo ga slah.:D mlah tau ga mreka blang apa. beliau kn bkan agama budha jdi ga mgkin sesajennya dksih vege dek.:( tar klo beliau mrah gmna u ksih sesajen yg dy ga mao. u mo tanggung jawab???:-O jdi mlas ngusulin lgi. . .dpkir2 jga iya kn bro. kta kn ga tau leluhur kta ska maknnya ap?:D tpi kbnyakan orng lbih suka mkan sesaji-sesaji (apalagi yang dari hasil pembunuhan) termasuk gw jga msih suka mkan dging wlaupn agama budha. dan ini ud fakta bkan opini dimsyarakt,byak orng blum bsa hdup vege.:-O
 
@roughtorer

gw prnah ngusulin sbelumnya kok klo ga slah.:D mlah tau ga mreka blang apa. beliau kn bkan agama budha jdi ga mgkin sesajennya dksih vege dek.:( tar klo beliau mrah gmna u ksih sesajen yg dy ga mao. u mo tanggung jawab???:-O jdi mlas ngusulin lgi. . .dpkir2 jga iya kn bro. kta kn ga tau leluhur kta ska maknnya ap?:D tpi kbnyakan orng lbih suka mkan sesaji-sesaji (apalagi yang dari hasil pembunuhan) termasuk gw jga msih suka mkan dging wlaupn agama budha. dan ini ud fakta bkan opini dimsyarakt,byak orng blum bsa hdup vege.:-O

Gak usah diusulin.... yah orang lain mau sesaji apa silahkan saja. Maksudnya, kamu kalau sembahyang kubur yah baca paritta dalam hati saja. Gak usah minta apa-apa. Untuk sesaji juga, ikutan saja... sala jangan kamu yang ngusulin 'gw mau sesaji ayam goreng' gitooo. Yang udah disajikan yah makan saja.... yang penting tidak ada niat membunuh.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.