Tanpa berusaha untuk memperlebar permasalahan. Saya punya pandangan pribadi sebagai berikut:
Sembahyang Kubur/Ziarah
Memang kalau mau dicermati, yang mati biarlah mati. Bahkan dalam buku Harry Potter, Dumbledore sempat memperingatkan Harry agar lebih mengkhawatirkan orang hidup dari pada orang mati. Itu sebuah kebijaksanaan.
Namun dalam hidup sebagai manusia yang mempunyai perasaan cinta kasih, sayang, hormat dan bhakti kepada orang tua/leluhur, manusia melakukan apa yang dinamakan ziarah. Pada praktek semua agama hal ini dilakukan. Bahkan dalam ritual haji (dalam agama Islam, salah satu yang dilakukan adalah ziarah ke makam nabi Ibrahim (Abraham - Ibrani) yang merupakan leluhur perkambangan agama Abrahamic.
Lalu, apa salahnya dengan Ziarah/Sembahyang kubur? Tidak ada salahnya (menurut saya) kalau kita melakukannya dengan benar. Tanyakan ke diri sendiri, apakah dalam melakukan ziarah:
- Semua yang melakukannya, melakukan dengan perasaan senang/bahagia?
Bila seluruh anggota keluarga (bahkan yang di perantauan, pulang untuk menunjukkan bhakti kepada leluhur dalam ziarah tahunan, saya mengasumsikan ini sebuah pengorbanan yang akan membawa karma baik)
- Adakah yang dirugikan?
Bila tidak ada yang dirugikan, baik diri sendiri maupun orang lain, sangat baik untuk melakukannya.
- Semakin salahkah pandangan kepercayaan kita?
Tergantung dari ritual ziarah yang anda lakukan, bila anda melakukan ziarah dengan ritual 'doa' dengan sejuta permintaan pada lelulur pada kekayaan, kesehatan dan lain-lain, agaknya anda salah menurut pandangan Buddha. Bagimana bila ritual doa yang anda pinta itu anda ganti dengan pembacaan beberapa paritta/kheng Buddhis. Mungkin pelimpahan jasa-jasa bisa kita lakuakn pada lelulur kita. semangat membantu dan mengharapkan kebahagiaan pada semua mahluk, termasuk lelulur kita. Dalam pengertian ini, kisah Raja Bimbisara mungkin bisa memberikan inspirasi.
- Apa yang anda lakukan saat ziarah?
Senada dengan penjelasan sebelumnya. Kalau sekedar melakukan bakar kertas, sesaji-sesaji (apalagi yang dari hasil pembunuhan) kemudian dengan mengharapkan imbalan atas sesaji-sesaji kita. Sebaiknya, lakukanlah secara benar. Ziarah adalah sebuah cerminan bhakti kita pada leluhur/orang tua. Jangan justru melakukan karma buruk karena semangat bhakti tersebut. Membacakan paritta-paritta Buddhis mungkin bisa membantu.
- Adakah penyesalan setelah melakukan ziarah?
Ini pertanyakan pamungkas. Bila setelah pengorbanan beli kertas, sesaji dll ternyata apa yang diminta tidak terkabul dan kemudian yang muncul penyesalan. Nasehat saya, ritual ziarah anda salah.... Perbaiki dengan keyakinan anda, atau jangan lakukan sama sekali.
Ziarah adalah sebuah warisan budaya yang diwariskan kepada kita dari generasi ke generasi. Yakinlah ini adalah sebuah tradisi yang baik. Pada leluhur yang sudah mati saja kita melakukan bhakti seperti ini, lalu bagimana bhakti kit apada bakal/calon leluhur kita yang masih hidup (orang tua)? Hikmahnya ada di sini. Silahkan renungkan sendiri.
Kemudian banyaknya peraturan dalam upacara sembahyang kubur ini, misal mengundang Datuk Khong, Tua Phek Khong dll.... tidak ada salahnya kan? Semakin banyak puja bhakti kita panjatkan kepada semua mahluk, baik itu yang dari alam peta maupun dari alam dewa, karma baik akan semakin melinpah kepada kita.
Saya justru melihat, pengertian mendalam dalam ritual ziarah kuburan ini yang kurang kita mengerti. sebahagian umat Buddha terkadang sangat merasa benar dalam beberapa hal, sehingga sebelum menyelami makna yang terkandung dalam wujud ritual ziarah ini, kita sudah protest duluan. Misalnya tentang bakar kertas dll..... Walaupun mungkin itu hal yang sia-sia, tapi dalam prakteknya, terkadang kita perlu untuk menjaga perasaan orang tua kita yang belum mengerti atau keyakinannya masih kuat dalam hal ini. Melakukan penolakan secara keras di sini, justru akan menimbulkan karma buruk, karena kita menyakiti Buddha yang ada di rumah kita sendiri (orang tua). Lakukanlah pengertian secara perlahan, bukan dengan protes keras. Pengertian yang perlahan-lahan, menimbulkan kesadaran bagi umat Buddha pada budaya dr etnis China ini. Semua bangsa kenyataannya melakukannya... Kita umat Buddha juga. Hanya caranya memang harus disadari sepenuhnya.
Sesaji dalam aliran Shinto, saya menganggapnya sebagai bagian dari puja bhakti aliran kepercayaan tersebut.