The Lounge Forum Hindu.

goesdun

IndoForum Junior A
Iya nih ko sepi ya ? Pa lagi pada jihad ke Palestina ya....:D
Hindu berperang melawan kala keletehan dan adharma.
Sepi lagi pada persiapan Saraswati - Pagerwesi.
maklum dua minggu ini Hindu Dharma dalam suasana in ceremony.
 

yunisaraf

IndoForum Newbie E
goes mau tanya nih, saya lagi seneng2nya baca bhagavad gita, tapi kok setelah saya baca saya mendapat suatu gambaran yg sangat menggangu (mudah2an saya salah)
1. setelah saya membaca gita saya mendapat gambaran bahwa dewa selama ini yang saya pahami sebagai manifestasi brahman/fungsi brahman merupakan mahluk ciptaan brahman dan terpisah dari brahman itu sendiri
2. dalam sloka kesekian (lupa) kalau kita menyembah dewa maka kita akan masuk ke planet dewa, kalo kita menyembah brahman maka kita akan masuk ke planet brahman
trus selama ini kita menyembah dewa dipura apakah kita salah? kenapa kita tidak meyembah tuhan?
kemudian kita piodalan dipura kawitan, apakah itu termasuk menyembah leluhur??? apakah kita salah????

makasi gus atas pencerahannya
 

goesdun

IndoForum Junior A
goes mau tanya nih, saya lagi seneng2nya baca bhagavad gita, tapi kok setelah saya baca saya mendapat suatu gambaran yg sangat menggangu (mudah2an saya salah)
1. setelah saya membaca gita saya mendapat gambaran bahwa dewa selama ini yang saya pahami sebagai manifestasi brahman/fungsi brahman merupakan mahluk ciptaan brahman dan terpisah dari brahman itu sendiri
2. dalam sloka kesekian (lupa) kalau kita menyembah dewa maka kita akan masuk ke planet dewa, kalo kita menyembah brahman maka kita akan masuk ke planet brahman
trus selama ini kita menyembah dewa dipura apakah kita salah? kenapa kita tidak meyembah tuhan?
kemudian kita piodalan dipura kawitan, apakah itu termasuk menyembah leluhur??? apakah kita salah????

makasi gus atas pencerahannya
Slokanya ada pada bagian Misteri Nan Agung yaitu (IX-25) Rajawidya dan Rajaguhya Yoga.
"Yang memuja Dewata pergi kepada Dewata, kepada leluhur perginya yang memuja leluhur mereka dan kepada roch alam perginya yang memuja roch alam tetapi mereka yang memuja Aku, datang kepada-Ku"

Penjelasan satu sloka ini tentu akan mengelirukan bila kita tidak memperhatikan dua sloka sebelumnya.

"Mereka yang memuja para Dewata yang berbakti dengan penuh kepercayaan sesungguhnya juga memuja Aku" (IX-23)

"Aku sesungguhnya penikmat dan penguasa segala puja bakti persembahan tetapi mereka yang tidak mengetahui Aku dan sifat0-sifat yang sejati, karena itu mereka gagal, jatuh kembali lagi" (IX-24)

Bahkan pada sloka selanjutnya dipertegas bentuk persembahan.

"Siapa saja yang berbakti kepada Aku dengan persembahan sehelai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan, satu seteguh air, Aku terima sebagai bakti persembahan dari orang yang berhati suci" (IX-26)

Bahkan dengan selalu mengagungkan Aku yaitu dengan selalu menyebut nama "Aku" Siapa nama "AKU" ?
Bhagawadgita tidak secara definitip menyampaikan.

Semua penganut Hindu Dharma menganggap sudah melakukan.

Di sana sini hakekat "Aku" disebut Adhi Atma, Brahman, Parama Siwa dan lain-lain.

Jadi yang menyebut Om Nama Siwaya dan sebagainya juga dianggap telah melakukan Kirtana.

Semoga menjadi jelas bahwa sloka IX-25 merupakan penjelasan akibat bila dalam beryadnya / persembahan tidak dilandasi rasa penuh kepercayaan dan tidak mengetahui akan sifat-sifat yang sejati dari Ida Shang Hyang Widhi Wasa (seperti uraian sloka IX-24). Jadi kenyakinan terhadap Panca Sradha merupakan landasan dalam setiap pelaksanaan yadnya. Kalau tidak tentu akan sia-sia.
 

JakaLoco

IndoForum Beginner A
@yunisaraf

hati2 ketika anda membaca kitab suci, apalagi yg terjemahan...
be careful coy..
kitab suci adalah lautan maha dalam, jangan sampai anda tenggelam dan dimakan hiu 'ketersesatan' di dalamnya!
 

sakradeva

IndoForum Newbie D
@yunisaraf

hati2 ketika anda membaca kitab suci, apalagi yg terjemahan...
be careful coy..
kitab suci adalah lautan maha dalam, jangan sampai anda tenggelam dan dimakan hiu 'ketersesatan' di dalamnya!
jadi ingat pesan Nak lingsir (Sesepuh)

"De ngawag Maca Lontar , nyanan bisa Buduh"

artinya kurang lebih

" jangan sembarangan mempelajari Sastra Suci, nanti bisa gila"

ungkapan diatas ada benarnya namun jang disalah artikan, kita bukannya dilarang memepelajari kitab suci, namun dalam mempelajari kitab suci hendaknya memenuhi aturan mainnya.

setidaknya kita mempunyai Guru atau pembimbing yang sudah memahami/ menguasai kitab suci, agar ada tempat berkonsultasi atas isi kitab suci yang belum kita pahami.
dalam mempelajari kitab suci pun ada jenjang dan tingkatnya
untuk mempelajari Veda Sruti ( Rig, Yajur, Sama dan Atharva) kita di sarankan mempelajari smrti ,Itihasa dan Purana, lalu menguasai Vedangga, dan dilengkapi Upaweda.
 

BASK

IndoForum Newbie F
makasi banyak atas pencerahannya, goes kalo siwaratri kemana? di bali bagusnya di mana yah?
Kalo menurut saya, Siwaratri bagusnya sih...;) di Pura Penataran Agung Besakih (tempat berstananya Bhatara Siwa), lagipula disana ada persembahyangan bersama sampai pagi dan ada dharma wecana juga :)
 

JakaLoco

IndoForum Beginner A
goes mau tanya nih, saya lagi seneng2nya baca bhagavad gita, tapi kok setelah saya baca saya mendapat suatu gambaran yg sangat menggangu (mudah2an saya salah)
1. setelah saya membaca gita saya mendapat gambaran bahwa dewa selama ini yang saya pahami sebagai manifestasi brahman/fungsi brahman merupakan mahluk ciptaan brahman dan terpisah dari brahman itu sendiri
2. dalam sloka kesekian (lupa) kalau kita menyembah dewa maka kita akan masuk ke planet dewa, kalo kita menyembah brahman maka kita akan masuk ke planet brahman
trus selama ini kita menyembah dewa dipura apakah kita salah? kenapa kita tidak meyembah tuhan?
kemudian kita piodalan dipura kawitan, apakah itu termasuk menyembah leluhur??? apakah kita salah????

makasi gus atas pencerahannya
Menyembah Leluhur bukan berarti Men-Tuhan-kan Leluhur...
Jika anda tidak memuja Dewa bagaimana mungkin anda bisa sampai kepada Brahman(Hyang Widhi)?
Saran saya adalah sembah ketiganya..
Anda perlu ingat bahwa Mpu Kuturan memantapkan pemujaan Tri Murti (Trinitas horizontal (Brahma,Wisnu,Iswara)) dan Dang Hyang Dwijendra memantapkan pemujaan Tri Purusa(Trinitas vertikal (Parama Siwa, Sada Siwa, Siwa))...jika kedua trinitas ini dipertemukan maka akan membentuk tanda plus/palang/tapak dara (+) yg artinya "keselamatan"..
Padmasana adl bentuk bangunan suci yg diperuntukan utk menyembah Tuhan (Hyang Widhi), sedangkan bangunan utk memuja para Dewa tertinggi dlm bentuk Gedong, Meru, Padmasari..kalo anda perhatikan setiap persembahyangan di Pura yg statusnya Kahyangan Jagat pasti kita sembahyang ke arah Gedong,Meru,ato Padmasari bukan ke arah Padmasana..
mengapa?karena dgn memuja Dewa pun kita telah memuja Tuhan, mengapa kita gak langsung memuja ke Padmasana?karena Hyang Widhi tidak bisa dicapai dgn akal pikiran...dan kalo ada orang yg mengatakan Moksa menyatu dengan Brahman(Hyang Widhi) itu hanya omong kosong..Ida Sesuhunan pun bersabda saat ini pun belum ada manusia yg mampu menunggal ring Hyang Pasupati dan tidak akan pernah ada!
 

JakaLoco

IndoForum Beginner A
@^atas

sepi karena umat se-dharma lagi sibuk rahinan Sugihan Jawa,Sugihan Bali,Galungan hehehe..
 

goesdun

IndoForum Junior A
Setelah sejenak kembali ke rutinitas....sekarang menjelang persiapkan diri menyambut Hari Raya Kuningan.
 

Pasang iklan disini dapat menyebabkan produk dikenal, omzet naik, keuntungan bertambah, good investment dan brand image. Contact us untuk memulai.
Top