• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Tanyakan [ASK] seputar islam disini (discussion)

hmmm kk the jailanus... pertanyaan itu seperti mana yang lebih kau cintai, ibumu ato istrimu?? kalo saya lebih dahulu mencintai Allah... karena Allah lah yang menciptakan kita semua.. bukankah kita ini harus lebih mengiba-iba dalam menggapai cinta Allah ??
 
makasih Joe Woo udah mencoba untuk menjawab

ada yang mo jawab lagi ga??

mana yang anda dahulukan, mencintai Allah atau mencintai Rosulullah??

dan harus ada alasanya loh....
 
kalo Ane mencintai Allah SWT
karena dia lah pencipta segalanya
terus yg menciptakan Nabi Muhammad kan Allah
masa kita lebih mencintai Nabi Muhammad dibandingkan penciptanya
Wallahu'alamBisshawab

CMIIW
 
Cacian, lum ada yang bales, ya...??? :D

iyah... :D

klo kentut wudhunya batal... jadi harus wudhu lagi... :D

Duh, ga bawa bahan, nih... jawabnyah sgene dulu, ya...??? :P

yee.... :p

tapi kamu jawab juga tuh :D makasih yaaa

Bismillahirrahmanirrahim

1. hukum keluarny air madzi tidak mewajibkan mandi tetapi membatalkan wudlu. berdasarkan hadist riwayat bukhari dan muslim :

Saya adalah seorang lelaki yang banyak keluar madzi maka saya perintahkan Al-Miqdad untuk bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam (tentang hal tersebut) maka ia pun bertanya padanya maka beliau menjawab : “wajib untuk berwudhu”.

2. rasulullah mengajarkan kita untuk memulai segala sesuatunya dengan niat,
yang man niat itu berasal dari hati dan bukanla dilafadzkan secara lisan, dan itu juga termasuk ketika kita ingin mandi janabah, jadi sebelum mandi kita niatkan saja dalam diri kita untuk mandi janabah lillaahi ta'ala.

3. kalau mau buang angin tetapi belum keluar, itu belum membatalkan wudlu,
tetapi sebaiknya dikeluarkan saja dan kita berwudlu lagi, karena menahannya itu tidak baik dan bisa menyebabkan penyakit pada diri kita.

waahhh... terima kasih banyak saudara,
:)
Kalau anda ditanya, mana yang lebih anda dahulukan, mencintai Allah, atau mencintai ROsulullah??


silahkan jawab beserta alasannya masing-masing


assalammualaikum wr wb

salam kenal saudara ----> ente islam juga kan?

Pertama mencintai Allah, kedua mencintai Rosulullah

kenapa?? karena Allah pencipta segala yg ada di alam semesta ini dan Rosulullah adalah pilihan-Nya.

thanks :)

waalaikumsalam wr wb
 
pertanyaan selanjutnya, bagaimana mencintai Allah jika tidak ada tuntutanna/cara-caranya dari Rosulullah?
 
sory, ada titipan pertanyaan.. a.k.a saudara kita yg salah buka thread baru..

berikut pertanyaannya dari saudara Galer02

galer02 berkata:
assalamu'alaikum

bro n sis ane mo tanya nech soal niat........
baik itu niat dalam shalat or else........
penting nggak sich niat itu diucapin di mulut?????...........

silahkan di jawab dengan paham dan pegangannya masing2......
 
kl seinged q dari kesepakatan ulama
mirip spt syahadat
diniadkan melalui lisan dan perbuatan
 
assalamualaikum

gmn kabar saudara muslim sekalian??semoga slalu dalam lindungan Allah. amin

oh iya saya mau minta pendapat..

bgini,,skrg ini kan masyarakat indonesia makin "terhimpit" karena kenaikan BBM n bahan2 pokok lainnya serta tol juga naik smua..

nah yg permasalahannya gini,,saya diajak oleh keluarga untuk pergi umroh..saya coba menolak tapi katanya ini smua untuk melihat dan mensyukuri kebesaran ciptaan Allah.tapi yg mengganjel pikiran saya,,bukan kah lebih baik uang untuk umroh itu kita gunakan untuk membantu orang2 yg kesusahan??

nah menurut tmn2 saya harus gmn??apakah ikut pergi umroh ataukah uangnya itu dialokasikan untuk membantu saudara2 kita yg kesusahan??


syukron.
 
Jelas uangnya dialokasikan kepada orang-orang yang sedang kesusahan....
mungkin bisa diambil pelajaran di tulisan di bawah ini

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. "Cak Nun", kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?"
Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan".
"Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" , kejar si penanya.
"Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu", jawab Cak Nun. "Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak" , katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi".

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di masjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara. Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan. Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?" Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.

Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.

Ekstrinsik Vs Intrinsik

Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, "Ia di neraka". Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup. Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.

Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain. Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W. Allport. Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik. Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.

Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang.

Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari kebahagiaan, kata Leo Tolstoy. Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri. Kebahagiaan terletak pada kebersamaan. Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan. Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-ritual agama.

Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap hipokrit; kemunafikan. Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, kita ribut tentang bid'ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid'ah dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan.

Indonesia, sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat, Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih menjadi bentuk kekerasan yang memakan korban. Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu, rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, Papua Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis.

Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka. Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi.

Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi. Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali, di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit. Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak beragama.
 
saya setuju dgn pendapat saudara jalinus
bukankah kita juga harus memperhatikan hubungan dgn manusia selain hubungan dgn Allah SWT?
 
@jalinus n kryed


syukron..ada yg mau nambahin??
 
mo nanya, lebih baik mana sering baca Al-Qur'an dalam bahasa Arab atau Indonesia (terjemahannya)? Wa suka liat kebanyakan orang2 baca Al-Qur'an dalam bahasa Arab melulu seringnya tapi pas ditanya apa yg mereka baca ga mengerti maksud & tujuannya.
 
mo nanya, lebih baik mana sering baca Al-Qur'an dalam bahasa Arab atau Indonesia (terjemahannya)? Wa suka liat kebanyakan orang2 baca Al-Qur'an dalam bahasa Arab melulu seringnya tapi pas ditanya apa yg mereka baca ga mengerti maksud & tujuannya.

Setau aku, membaca Al-Qur'an (arabnya) itu dapet pahala, sedangkan membaca terjemahnya saja tidak dapet pahala. Karena beda antara membaca al-qur'an (arabnya) dengan membaca terjemahnya saja.
Tetapi, membaca terjemah Al-Qur'an untuk memahami maksud dan tujuan dari ayat" di dalam Al-Qur'an lalu mengamalkannya, jelas ini dapet pahala bahkan bisa jadi pahalanya lebih banyak dari hanya membaca al-qur'an (arabnya) saja karena mengamalkan apa yang ada di dalam al-qur'an.
Menurut saya, yang paling baik itu adalah membaca al-qur'an (arabnya) lalu membaca terjemahnya dengan maksud memahami dan mengamalkan apa yang ada dalam al-qur'an... jadi pahalanya dapet dua.....

terimakasih.....
 
mo nanya, lebih baik mana sering baca Al-Qur'an dalam bahasa Arab atau Indonesia (terjemahannya)? Wa suka liat kebanyakan orang2 baca Al-Qur'an dalam bahasa Arab melulu seringnya tapi pas ditanya apa yg mereka baca ga mengerti maksud & tujuannya.

llebih kurang sama yg disampaikan saudara jalinus
Lebih baik membaca Al-Quran dalam bahasa aslinya, tapi juga lebih baik lagi kalau kita mengerti terjemahannya, paham apa yang disampaikan, dan mampu melaksanakannya (andai ada yg berisi perintah ibadah)...
mudah2 an membantu...
 
mo nanya, lebih baik mana sering baca Al-Qur'an dalam bahasa Arab atau Indonesia (terjemahannya)? Wa suka liat kebanyakan orang2 baca Al-Qur'an dalam bahasa Arab melulu seringnya tapi pas ditanya apa yg mereka baca ga mengerti maksud & tujuannya.

Bro semoga ini menjawab pertanyaan anda...... :)
Ini adalah kisah seorang kakek tua yang hidup bersama cucu satu-satunya. Sang kakek adalah seorang muslim yang taat, tiada hari dalam hidupnya tanpa membaca Al-Quran.
Si Cucu yang melihat betapa sang kakek begitu khidmat membaca Al-Quran penuh dengan penghayatan, bertanya : “Kek…!! Mendengar kakek membaca Al-Quran, aku merasa hatiku sejuk sekali. Aku ingin sekali bisa memahaminya sebagaimana kakek. Tapi aku tidak mampu, adapun yang aku pahami, aku lupakan secepat aku menutup buku”

Adakah manfaat-nya kita membaca AL-QURAN tanpa mengetahui ARTINYA?
Sang kakek seakan tidak menghiraukan pertanyaan cucunya yang masih muda itu. Dia malah mengajak cucunya itu keluar rumah.

Sang kakek mengambil sebuah ember kotor (bekas mengangkut tanah liat), lalu dilubangilah ember itu di bagian bawah dan samping-sampingnya, beberapa lubang.

Si Cucu dengan keheranan dan rasa penasaran ingin mengetahui apa yang hendak dilakukan oleh kakek kesayangannya itu.

“Anakku…! Bawalah ember ini ke sungai, kemudian bawalah kembali kemari dengan sudah terisi penuh air.”

Si Cucu tentunya sadar, bahwa ember tersebut sudah bocor, maka mau tidak mau dia harus berlari setelah mengisi ember tersebut dengan air.

Si Cucu pun menyanggupinya. Dan pergilah dia ke sungai untuk mengisi ember tersebut dengan air, kemudian dia berusaha berlari sekencang-kencangnya agar setibanya di tempat kakeknya airnya masih penuh.

Dia pun melakukannya dengan sungguh-sungguh. Tapi setibanya di tempat kakeknya, ternyata tidak sedikit pun air yang tersisa. Semua airnya habis tertumpah sebelum tiba di tempat kakeknya.

Sang kakek sesekali menertawakannya. Dan berkata, “Kali ini kau harus berusaha berlari lebih cepat lagi. AYO KAMU PASTI BISA….!”

Si Cucu pun berusaha lebih semangat lagi. Sampai akhirnya…!!! Dengan terengah-engah dia berkata kepada kakeknya, “Kek…! Aku rasa ini mustahil secepat apapun aku berlari, air tersebut akan lebih dulu habis sebelum aku sampai disini. Jadi ini suatu hal yang percuma”

Dengan tersenyum sang kakek berkata, “Anakku kamu pikir semua ini percuma? Sekarang coba lihat ini……….”

Kakek menunjuk ke ember yang dipegang cucunya tersebut. Dan berkata, “Bukankah ember yang kau pegang tersebut sebelumnya kotor sekali?”
“Lihatlah sekarang, sudah menjadi ember yang bersih…! Luar dan dalam”
“Anakku hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca Al-Quran. Kamu tidak bisa memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika kamu membacanya lagi, kamu akan berubah, luar dandalam… Itu adalah karunia dari Allah di dalam hidup kita.”

Jangan sampai anda sholat membaca doa dengan bahasa Indonesia :D karena tidak dicontohkan
 
nanya neh temen-temen.....

najis mana air kencing sama air mani???

kalau bisa dengan penjelasannya......

terimakasih
 
nanya neh temen-temen.....

najis mana air kencing sama air mani???

kalau bisa dengan penjelasannya......

terimakasih

Kalo kencing cara bersihinnya cukup disiram saja, kalo mani cara bersihinnya ya anda harus mandi junub, jadi najisan mana? lo pasti tahu kan.

Untuk lebih jelasnya, silakan baca......
Jenis-Jenis Najis

Terdapat tiga jenis najis iaitu:
1. Najis mughallazah (najis berat)
2. Najis mukhaffafah (najis ringan)
3. Najis mutawassitah (najis sederhana)

Najis Mughallazah
Najis mughallazah ialah najis berat. Najis ini terdiri daripada anjing dan babi serta benda-benda yang terjadi daripadanya.

Cara menyucikan najis mughallazah:
1. Bersihkan bahagian yang terkena najis.
2. Basuh sebanyak tujuh kali. Sekali daripadanya mesti menggunakan tanah bersih yang dicampur dengan air.
3. Gunakan air mutlak untuk membuat basuhan seterusnya (sebanyak enam kali) sehingga hilang bau, warna dan rasa.

Najis Mukhaffafah
Najis mukhaffafah ialah najis ringan. Najis mukhaffafah ialah air kencing kanak-kanak lelaki berusia di bawah dua tahun yang tidak makan atau minum sesuatu yang lain selain susu ibu.

Cara menyucikan najis mukhaffafah:
1. Basuh bahagian yang terkena najis dan lap.
2. Percikkan air di tempat yang terkena najis.
3. Lap dengan kain bersih sehingga kering.

Najis Mutawassitah
Najis mutawassitah ialah najis sederhana, iaitu segala sesuatu yang keluar dari dubur/qubul manusia atau binatang, cecair yang memabukkan, bangkai (kecuali bangkai manusia, ikan dan belalang), serta susu, tulang dan bulu dari haiwan yang haram dimakan. Najis mutawassitah terbahagi dua iaitu: "Najis Ainiyah" yaitu najis yang berwujud (tampak dan dapat dilihat), misalnya kotoran manusia atau binatang; dan "Najis Hukmiyah" iaitu najis yang tidak berwujud (tidak tampak dan tidak terlihat), seperti air kencing yang kering.

Cara menyucikan najis mutawassitah:

1. Basuh dengan menggunakan air bersih hingga hilang warna, bau dan rasa najis tersebut.
2. Basuh sehingga tiga kali dengan air mutlak.

Islam itu indah semua lingkup kehidupan sudah ada aturannya. :D
 
Nanya jg ah

Apakah memberi contekan kpd teman pd saat ulgn mendapat pahala? n juga memberikan contekan/salinan ke teman yg tdk mengerjakan pr, juga mendapat pahala dr ALLAH SWT(coz i2 kan menolong teman) ?
 
@ocoy
terima kasih untuk informasinya. Tetapi sejujurnya wa masih sangsi apakah cukup dengan mempelajari sesuatu tanpa memahaminya kita bisa merasakan manfaatnya. Pada prakteknya wa rasa tidak ada perbedaan membaca Al Qur'an dalam bahasa Arab dan tidak memahami apa yang terkandung di dalamnya dengan tidak membaca Al Qur'an sama sekali, dibandingkan dengan membaca terjemahannya kemudian memahami apa yg terkandung di dalamnya. Bukankah jika dianalogikan lebih baik embernya diseburkan ke dalam sungai saja hingga bersih luar & dalam di sungai. Menurut wa seperti itulah membaca terjemahan Al Qur'an dan memahaminya jika menggunakan analogi seperti yg pernah ditulis.

@Jalinus
Setau wa air mani itu tidak najis, sebab jika air mani itu najis maka semua umat manusia itu najis. Bukan kah kita terbentuk dari air mani? Tetapi jika seseorang mengeluarkan air mani maka dia harus mandi junub.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.