• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Seruan Mengumumkan Kemunculan Buddha

singthung

IndoForum Junior E
No. Urut
7164
Sejak
21 Sep 2006
Pesan
1.634
Nilai reaksi
27
Poin
48
Seruan Mengumumkan Kemunculan Buddha


Lima Kolàhala

Kolàhala artinya seruan verbal yang dimulai oleh beberapa orang yang mengatakan, “Ini akan terjadi.” Sebelum peristiwa sebenarnya terjadi, muncul di antara orang-orang yang berkumpul dan berbicara mengenai hal-hal yang akan terjadi dalam bahasa yang sama dan suara yang bulat.

Kolàhala tepatnya adalah seruan-seruan yang dilakukan dengan penuh kegembiraan oleh banyak orang sebagai suatu pertanda sebelum hal sebenarnya terjadi. Bukan berarti, seperti kegemparan yang terjadi di kota-kota atau di desa-desa yang meramalkan sesuatu yang tidak benar misalnya suatu kejadian yang mustahil seperti “Pangeran Setkya akan kembali!”

Di Burma, Pangeran Setkya adalah putra satu-satunya dan pewaris tahta dari Raja Bagyidaw (1819-1837). Ia di bunuh oleh saudara Bagyidaw, Raja Tharrawady, yang kemudian merebut tahta di tahun 1837, pembunuhan ini terjadi di bulan April 1838.


Ada lima jenis Kolàhala di dunia ini:
(1) kappa-kolàhala
(2) cakkavati-kolàhala
(3) buddha-kolàhala
(4) mangala-kolàhala
(5) moneyya-kolàhala

(1) Kappa-kolàhala

Kolàhala yang mengingatkan umat manusia akan hancurnya dunia disebut kappa-kolàhala. Ketika saat hancurnya dunia sudah mendekat, dewa bernama Lokavyuha dari alam kenikmatan indria (kamàvacara-dewa), dengan mengenakan pakaian merah, dan rambut tergerai, mengusap air matanya, menyusuri jalan-jalan yang digunakan oleh manusia dan berteriak dengan keras hingga terdengar oleh umat manusia di segala penjuru, seratus tahun sebelum peristiwa sebenarnya terjadi.

“Teman-teman, seratus tahun sejak hari ini, dunia akan hancur! Samudra raya akan mengering! Bumi, Gunung Meru, semuanya akan terbakar dan hancur (jika dunia akan hancur oleh api), akan terjadi banjir besar dan hancur (jika dunia hancur oleh air), akan tertiup oleh badai angin dan hancur (jika dunia hancur oleh angin), dunia akan hancur dimulai dari bumi dengan Gunung Meru dan samudra hingga alam brahmà! Teman-teman, kembangkan cinta kasih (mettà), kembangkan welas asih (karunà), kembangkan rasa bahagia atas kebahagiaan orang lain (mudità), kembangkan ketenangseimbangan (upekkhà) yang merupakan sifat brahmà! Layani orangtuamu dengan penuh hormat! Berbuatlah kebajikan! Jangan gegabah!”

Seruan ini yang dilakukan sambil menangis keras disebut kappa-kolàhala.

(2) Cakkavatti-kolàhala

Kolàhala yang muncul di alam manusia yang menyerukan bahwa “Seorang raja dunia akan muncul” yang memerintah seluruh alam manusia di empat benua besar termasuk pulau-pulau kecil di sekelilingnya yang berjumlah dua ribu, disebut cakkavatti-kolàhala.

Dewa penjaga dunia (lokapàla), dari Alam Dewa Kàmàvacara, yang telah mengetahui terlebih dahulu akan munculnya seorang raja dunia, menyerukan di jalan-jalan dan tempat-tempat umum dan meneriakkan kepada umat manusia di segala penjuru mengenai peristiwa yang akan terjadi seratus tahun mendatang.

“Teman-teman, seratus tahun sejak hari ini, seorang raja dunia akan muncul di dunia ini!”

Seruan ini yang dilakukan sambil berteriak keras disebut cakkavatti-kolàhala.

(3) Buddha-kolàhala

Kolàhala yang memberitahukan kepada umat manusia di dunia bahwa, “Seorang Buddha akan muncul,” disebut Buddha-kolàhala. Para brahmà dari Alam Suddhàvàsa, mengetahui terlebih dahulu mengenai peristiwa munculnya Buddha Yang Mahatahu, mengenakan pakaian brahmà, perhiasan, dan mahkota, dengan gembira menyusuri jalan-jalan dan tempat-tempat umum dan menyerukan kepada umat manusia di segala penjuru.

“Teman-teman, seribu tahun dari hari ini, seorang Buddha Yang Mahatahu akan muncul di dunia ini!”

Seruan ini yang dilakukan sambil berteriak keras disebut Buddha-kolàhala.

Pernyataan bahwa Buddha-kolàhala terjadi seribu tahun sebelum munculnya seorang Buddha, harus mempertimbangkan umur kehidupan Buddha tersebut. Bodhisatta Dipankara, Kondanna, Mangala, dan lain-lain yang berumur panjang, menikmati kehidupan istana selama sepuluh ribu tahun atau lebih, melepaskan keduniawian, mempraktikkan dukkaracariya dan menjadi Buddha. Buddha-kolàhala terjadi di alam surga, dan karena kolàhala tersebut, para dewa dan brahmà di seluruh sepuluh ribu alam semesta mendatangi Bodhisatta dewa dan mengajukan permohonan. Setelah permohonan disetujui barulah Brahmà Suddhàvasa turun ke alam manusia, menyusuri tempat-tempat umum dan menyerukan ramalan ini. Oleh karena itu, bisa lebih dari seribu tahun, atau lebih dari lima ribu tahun, mungkin sembilan atau sepuluh ribu tahun setelah Buddha-kolàhala ini baru seorang Buddha yang berumur panjang muncul. Jadi, harus dipahami, bahwa pernyataan “Buddha-kolàhala terjadi seribu tahun sebelum kemunculan Buddha” tidak berlaku untuk semua Buddha. Namun hanya berlaku untuk Buddha-Buddha yang berumur pendek seperti Buddha Gotama.

(4) Mangala-kolàhala

Karena keraguan akan arti dari Mangala (berkah), umat manusia berkumpul dan mengartikan dengan caranya masing-masing, dan mengatakan “Ini disebut Mangala!,” “Ini disebut Mangala!,” sehingga menimbulkan keributan, “Mereka bilang ini Mangala.” Suara-suara perdebatan ini disebut Maïgala-kolàhala. Brahmà Suddhàvàsa yang telah mengetahui sebelumnya bahwa Buddha akan memberikan khotbah yang menjelaskan tentang Mangala, mengetahui pikiran umat manusia yang mencari kebenaran mengenai berkah, menyusuri tempat-tempat umum dan menyerukan kepada umat manusia di segala penjuru dua belas tahun sebelum Buddha memberikan khotbah-Nya.

“Teman-teman, dua belas tahun sejak hari ini, Buddha akan memberikan khotbah Mangala!”

Seruan ini yang dilakukan sambil berteriak keras disebut Mangala-kolàhala.

(5) Moneyya-kolàhala

Kolàhala sehubungan dengan praktik pertapaan moneyya (latihan mulia) disebut moneyya-kolàhala (Penjelasan mengenai praktik moneyya terdapat dalam kisah Thera Nàlaka.) Brahmà Suddhàvàsa yang telah mengetahui sebelumnya bahwa seorang bhikkhu di alam manusia akan mendatangi Buddha untuk menanyakan mengenai pertapaan moneyya, menyusuri tempat-tempat umum dan menyerukan kepada umat manusia di segala penjuru tujuh tahun sebelum Buddha mengajarkan.

“Teman-teman, tujuh tahun sejak hari ini, seorang bhikkhu akan mendatangi Buddha dan menanyakan mengenai Dhamma moneyya!”

Seruan ini yang dilakukan sambil berteriak keras disebut moneyya-kolàhala.

Demikianlah lima kolàhala. Penjelasan lengkap dari lima ini terdapat dalam Atthakathà dari Buddhavamsa, Jàtaka, Kosala, Samyutta, Kuddaka-Pàtha, dan Jinàlanukàra.


Permohonan Kepada Bodhisatta Dewa

Lima Pertanda (Pubba-nimitta) yang Meramalkan Kematian Para Dewa


Lima pubba-nimitta adalah:

(1) bunga-bunga surgawi menjadi layu,
(2) pakaian dan perhiasan surgawi menjadi kotor,
(3) keringat bercucuran dari ketiak,
(4) kecantikan fisik memudar,
(5) merasa tidak nyaman berada di rumah di surga.

(1) Bunga-bunga surgawi menjadi layu: bunga-bunga yang bermekaran yang muncul sebagai penghias sejak hari dewa tersebut dilahirkan di alam dewa, mulai mengering. Bunga-bunga yang muncul dari tubuhnya bersamaan dengan terlahirnya dewa tidak pernah layu sepanjang kehidupan mereka. Bunga-bunga ini mulai layu sejak tujuh hari sebelum akhir hidup mereka (tujuh hari menurut perhitungan kalendar manusia). (Bunga-bunga milik Bodhisatta Dewa Setaketu tidak pernah mengering selama dewa tersebut hidup di alam Surga Tusita, yaitu, selama lima puluh tujuh crore enam juta tahun menurut perhitungan kalendar surgawi. Bunga-bunga ini mulai mengering sejak tujuh hari manusia sebelum ia meninggal dunia.)

(2) Pakaian dan perhiasan surgawi menjadi kotor: sama seperti kasus sebelumnya, pakaian dan perhiasan surgawi tidak pernah kotor; namun tujuh hari menjelang kematian dewa, pakaian dan perhiasan ini menjadi kotor.

(3) Keringat bercucuran dari ketiak: alam surga tidak seperti alam manusia, tidak ada perubahan cuaca seperti panas dan dingin. Tetapi tujuh hari menjelang kematian dewa, butir-butir keringat mengucur dari seluruh tubuhnya (terutama dari ketiak).

(4) Kecantikan fisik memudar: tanda-tanda usia tua, seperti gigi yang mulai tanggal, rambut memutih, kulit mulai keriput dan tanda-tanda ketuaan lainnya yang memperlihatkan rusaknya tubuh tidak pernah terjadi; dewi-dewi selalu terlihat seperti berumur enam belas tahun dan dewa-dewa selalu terlihat seperti berumur dua puluh tahun, mereka selalu terlihat muda dan segar, cerah, memiliki warna-warni yang indah; namun keindahan tubuh ini mulai melemah dan memudar saat menjelang meninggal dunia.

(5) Merasa tidak nyaman berada di rumah di surga: mereka tidak pernah mengalami ketidakbahagiaan di dalam istana surga sepanjang kehidupan mereka; mereka mulai merasa tidak nyaman dan kehilangan kebahagiaan berada di dalam tempat tinggal mereka saat mereka akan meninggal dunia.

Lima Pubba-nimitta Tidak Terjadi Pada Semua Dewa

Meskipun lima pubba-nimitta muncul pada dewa yang sedang sekarat seperti yang dijelaskan sebelumnya, harus dimengerti bahwa hal ini tidak terjadi pada semua makhluk dewa. Seperti halnya di alam manusia, pertanda-pertanda seperti jatuhnya meteor, gempa bumi, gerhana bulan dan matahari, dan sejenisnya berhubungan dengan raja atau menteri yang mahakuasa, dan lain-lain, demikian pula di alam dewa, pubba-nimitta ini hanya terjadi pada dewa atau dewi yang maha agung, namun tidak terjadi pada dewa yang tidak memiliki kekuasaan dan keagungan yang besar.

Seperti halnya, pertanda baik atau buruk yang muncul di alam manusia hanya dipahami oleh orang-orang terpelajar, demikian pula pertanda-pertanda, baik atau buruk, yang meramalkan peristiwa yang terjadi di alam dewa, hanya dipahami oleh para dewa yang bijaksana.

Ketika pertanda tersebut muncul pada dewa yang tidak pernah melakukan kebajikan, mereka menjadi ketakutan, “Siapa yang tahu di mana aku akan dilahirkan?” Sedangkan mereka yang banyak melakukan kebajikan, tidak merasa khawatir sama sekali, mengetahui bahwa, “Kita akan menikmati kebahagiaan yang lebih tinggi di alam dewa yang lebih tinggi karena jasa yang kita peroleh dari dàna, sila, dan meditasi yang kita lakukan.” (Penjelasan Mahàpadàna Sutta, Sutta Mahà Vagga Atthakathà.)

Bodhisatta Memasuki Rahim, Kehamilan Pada Tahap Kedua Kehidupan

Akan muncul pertanyaan sehubungan dengan mengapa Ratu Maya mengandung Bodhisatta hanya pada periode ketiga pada tahap kedua hidupnya. Jawabannya adalah: nafsu indria dalam diri manusia dalam tahap pertama kehidupan biasanya sangat kuat. Sehingga, perempuan yang hamil pada tahap ini, cenderung tidak mampu menjaga kehamilannya. Ketidakmampuan ini menyebabkan berbagai bentuk kecelakaan dan kesukaran dalam masa kehamilan.

Tahap pertengahan yaitu tahap kedua dari tiga tahap dibagi lagi dalam tiga periode yang sama. Ketika seorang perempuan berada dalam periode yang ketiga, rahimnya bersih dan murni. Bayi yang dikandung dalam rahim yang bersih dan murni ini akan sehat, dan bebas dari penyakit.

Ibu seorang Bodhisatta dalam kehidupan terakhirnya menikmati kenikmatan dalam tahap pertama kehidupannya, dan biasanya ia akan meninggal setelah melahirkan Bodhisatta selama periode ketiga dari tahap kedua hidupnya. (Juga merupakan sebuah fenomena yang lazim bahwa ia akan meninggal dunia tujuh hari setelah melahirkan Bodhisatta. Ia meninggal bukan karena melahirkan. Sebenarnya, (Bodhisatta) dewa turun ke alam manusia, setelah melihat bahwa calon ibunya hanya akan hidup selama sepuluh bulan tujuh hari lagi setelah ia memasuki rahimnya, seperti yang dijelaskan dalam kisah Lima Penyelidikan yang dilakukan oleh Bodhisatta dewa. Jadi, jelas bahwa kematiannya bukan disebabkan oleh kelahiran anak, namun karena waktunya telah habis.) (Digha Nikàya Atthakathà.)

Perjalanan Ratu Mahà-Màyà dari Kapilavatthu Menuju Devadaha

Kisah mengenai kunjungan Ratu Mahàmàyà dari Kapilavatthu menuju Devadaha tertulis dalam Jinattha Pakàsani sebagai berikut:

“Setelah membersihkan dan meratakan jalan sepanjang lima yojanà antara Devadaha dan Kapilavatthu hingga seperti tanah yang keras….”

Dalam Tathàgata Udàna Dipani, tertulis sebagai berikut:

“Setelah memperbaiki jalan sepanjang tiga puluh yojanà dari Kapilavatthu sampai Devadaha dengan menimbun lubang-lubang, memperluas sehingga nyaman untuk dilalui....”

Dua Tulisan yang Berbeda

Dalam buku ini, kami mengikuti apa yang tertulis dalam Atthakathà dari Buddhavamsa dan Jàtaka di mana jarak kedua kerajaan ini, Kapilavatthu dan Devadaha tidak disebutkan, Komentar ini hanya menjelaskan mengenai perbaikan jalan saja.

Kendaraan yang digunakan oleh Ratu Mahàmàyà dalam buku ini disebutkan adalah tandu emas, sesuai dengan yang tertulis dalam Komentar yang sama. (Tidak perlu heran mengenai bagaimana tandu ini dapat diangkat oleh seribu orang laki-laki, sama halnya dengan yang tertulis dalam kalimat, “Bodhisatta disusui oleh dua ratus empat puluh pengasuh,” ini tentu saja dilakukan secara bergiliran, atau mungkin juga, tandu ini ditarik oleh mereka secara bersamaan dengan menggunakan tali kain yang panjang.)

Dalam Tathàgata Udàna Dipani, dijelaskan sebagai berikut:

“Jalan itu yang sepanjang tiga puluh yojanà, diperbaiki, dihias dengan indah dan megah, ratu mengendarai kereta istana yang ditarik oleh delapan kuda berwarna putih teratai dari jenis Valàhaka Sindhi; Raja Suddhodana turut menyertainya, menemaninya hingga sejauh setengah yojanà; dari sana ia turun dan kembali setelah menerima penghormatan dari ratu dan mengucapkan kata-kata dukungan. Kuda-kuda putih itu dengan gembira menarik kereta, berpikir, “Pelayanan kita dengan menarik Ratu Mahàmàyà dengan Bodhisatta yang sedang dikandungnya akan membuahkan jasa yang dapat membawa menuju Nibbàna.”

Atthakathà dari Buddhavamsa dan Jàtaka serta Jinàlanukàra Tikà tidak menyebutkan hal ini. Yang disebutkan hanya bahwa perjalanan itu dilakukan dengan mengendarai tandu emas.

Hutan Sala Lumbini

Sehubungan dengan Hutan Sala Lumbini, dua versi—satu dari Buddhavamsa Atthakathà dan yang lain dari Jàtaka Atthakathà―dituliskan di sini. Kalimat “…berloncatan ke sana kemari menikmati sari makanan untuk mereka dan membawakannya untuk yang lain” adalah sesuai dengan tulisan Ngakhon Sayadaw. Terlihat dalam komentar dari buku Sayadaw tersebut berisi “anubhuttasanjàràhi”. Dalam Komentar-Komentar, bahkan yang bersumber dari edisi Chattha Sangàyanà, terdapat “anubhuttasanjàràhi”. Kamus mengartikan panjara yang terdapat dalam Komentar sebagai ‘sangkar’, namun ‘sangkar’ tidaklah tepat.

Juga, parabhata-madhukara-vadhudi diterjemahkan “dengan lebah-lebah betina yang membawakan (makanan) untuk lebah-lebah lain juga.” Walaupun parabhata memiliki kicauan seperti dalam arti dalam abhidhàna, arti tersebut tidak sesuai di sini, tidak pada tempatnya. Oleh karena itu, Ngakhon Sayadaw menyebutkan “membawakan untuk yang lain” dalam terjemahannya.

Mempertimbangkan terjemahan secara rasional, kita dapat melihat pembagian tugas antara lebah-lebah ini: (1) ada lebah-lebah (betina) yang membawa berbagai jenis makanan yang tersedia dari empat penjuru, (2) lebah-lebah betina yang menunggu di sarangnya dan mengolah berbagai rasa makanan tadi menjadi madu yang manis.

Di sini dalam Buddhavamsa Atthakathà, yang dimaksudkan adalah lebah betina (pekerja). Oleh karena itu “parabhata-madhukara-vadhudi” harus diterjemahkan “lebah-lebah betina mengolah makanan menjadi madu dari berbagai jenis dan rasa makanan yang dibawa oleh lebah-lebah lain (lebah pembawa makanan)”. Sehingga dapat diterima jika kalimat tersebut adalah sebagai berikut: ”Lebah-lebah betina mengolah makanan menjadi madu dari berbagai jenis dan rasa makanan yang dibawa oleh lebah-lebah pembawa makanan yang beterbangan ke sana-kemari di antara pohon-pohon besar dan kecil untuk mengambil makanan.”

Kelahiran Bodhisatta

Sehubungan dengan kelahiran Bodhisatta, Tathàgata Udàna Dipani dan beberapa tulisan dalam bahasa Myanmar mengenai Buddhavamsa menyebutkan, “Ketika mendekati waktunya bagi Ratu Mahàmàyà untuk melahirkan, adiknya, Pajàpati Gotamã, memberikan bantuan dengan menyanggahnya dari sebelah kiri; ia melahirkan dengan dibantu oleh para pelayannya di sekelilingnya.” Dalam Buddhavamsa Atthakathà, Jàtaka Atthakathà dan Jinàlanukàra Tikà, disebutkan bahwa ketika waktu kelahiran hampir tiba setelah ia merasakan desakan dari rahimnya yang mendorong kelahiran, mereka yang melakukan perjalanan bersamanya membuat tirai dan kemudian pergi menjauhinya; ketika sedang sendirian itulah, ratu melahirkan Bodhisatta. Karya ini sesuai dengan apa yang dituliskan dalam komentar-komentar tersebut.

Pernyataan mengenai dua aliran air, hangat dan dingin, yang memungkinkan (ibu dan anak) menyesuaikan suhu tubuh mereka segera setelah kelahiran adalah berdasarkan penjelasan dari Mahàpadàna Sutta, Buddhavamsa Atthakatha, dan Jàtaka Atthakatha.

Apa yang secara khusus tertulis dalam Sutta Mahà Vagga Atthakathà, dari dua aliran air ini, yang dingin mengalir masuk ke dalam kendi emas dan yang hangat mengalir masuk ke dalam kendi perak. Dua aliran air ini yang turun dari langit itu dimaksudkan untuk digunakan oleh anak dan ibu, yang tidak dinodai oleh kotoran tanah, untuk diminum atau sekadar bermain-main, tidak untuk orang-orang lain. Selain air hangat dan dingin yang turun dari langit dan masuk ke dalam kendi emas dan perak, air dari Danau Haÿsa, dan lain-lain tersedia dalam jumlah yang tidak terbatas. Inilah hal khusus yang perlu menjadi perhatian.

Riwayat Kàladevila, Sang Petapa

(Nama petapa ini adalah Devala dalam versi Sinhala, dalam bahasa Myanmar disebut Devila.) Kisah Devila dikutip dari Sutta Nipàta Atthakathà, Vol. II.

Devila sang petapa adalah penasihat dari Raja Sihahanu, Raja Kapilavatthu dan ayah dari Raja Suddhodana. Karena kulitnya yang hitam, sang brahmana petapa dipanggil dengan nama Asita. Dia adalah guru istana dan penasihat yang melayani Raja Sihahanu dengan memberikan nasihat-nasihat sehingga raja dapat mengatasi semua situasi, baik itu urusan politik, administrasi, maupun hal-hal lain yang dihadapi.

Selama pemerintahan Raja Sihahanu, ia adalah guru dan pengawal bagi Pangeran Suddhodana yang masih sebagai pangeran dan belum naik tahta. Devila mengajarkan berbagai tata karma istana dan peraturan-peratuan kerajaan dan mendidiknya dalam hal ketatanegaraan serta melatih banyak keahlian.

Ketika Pangeran Suddhodana mewarisi tahta, dan dilantik menjadi raja setelah Raja Sãhahanu, ia tetap menjadi penasihat Raja Suddhodana.


Setelah naik tahta, Raja Suddhodana tidak menunujukkan penghormatan yang tinggi kepada gurunya seperti sewaktu ia masih menjadi seorang pangeran muda; dalam suatu persidangan, ia hanya mengangkat kedua tangannya untuk memberikan hormat sesuai tradisi seorang raja Sakya.

Karena tidak mendapatkan penghormatan dari raja seperti sebelumnya, karena keangkuhannya, sebagai seorang yang berasal dari kasta brahmana dan seorang guru, ia menjadi tidak bahagia, tidak puas, dan merasa bosan akan kewajibannya untuk datang ke istana, ia memohon restu dari sang raja untuk menjadi petapa.

Megetahui keinginan yang kuat dari guru, Suddhodana memohon, “Engkau boleh menjadi petapa. Tetapi setelah menjadi petapa, mohon agar tidak pergi jauh. Sudilah engkau menetap di tamanku agar aku dapat dengan mudah menemuimu.” Setelah menyanggupi permohonan raja dengan mengatakan, “Baiklah,” dan menjadi petapa serta menerima perlakuan yang menyenangkan dari raja ia menetap di taman kerajaan, terus-menerus bermeditasi dengan objek kasina hingga ia mencapai lima kekuatan batin. Setelah memperoleh kekuatan batin ini, ia biasanya makan setiap hari di istana Raja Suddhodana, kemudian berkunjung ke Pegunungan Himàlaya, Alam Catumahàràjika, Alam Tàvatimsa, dan tempat-tempat lain untuk melewatkan hari-harinya.

Silsilah Bodhisatta Secara Singkat

Sehubungan dengan penyelidikan Bodhisatta mengenai keluarga di mana ia akan dilahirkan (kula olokana), sejarah raja-raja Sakya, akan dijelaskan sebagai berikut. Penjelasan ini dimaksudkan untuk memahami ciri-ciri dari tingginya derajat Bodhisatta karena kelahirannya (jàtimahatta-guna).

Dalam periode pertama dari banyak kappa yang tidak terhitung lamanya (vivattathàyi asankhyeyya kappa), raja pertama umat manusia di awal terbentuknya dunia adalah Bodhisatta kita. Waktu itu Beliau bernama Manu.

Bodhisatta Manu terlihat lebih tampan, lebih menyenangkan dilihat, lebih dihormati, agung, dan berbudi luhur dibanding siapa pun di dunia ini pada masa-masa awal dunia.

Pada masa itu, umat manusia memiliki moral yang suci, namun lambat laun muncul orang-orang yang mulai melakukan tindak kejahatan seperti mencuri, dan lain-lain. Agar dapat hidup bebas dari bahaya ini dan agar dapat hidup dalam damai, orang-orang pada masa itu berdiskusi dan memutuskan untuk memilih seseorang yang dapat memimpin mereka dengan adil.

Mereka juga setuju bahwa Manu, Bodhisatta, adalah yang terbaik untuk memimpin mereka, karena ia memenuhi semua persyaratan yang diperlukan. Kemudian mereka semua mendatanginya dan mengajukan permohonan agar ia sudi menjadi pemimpin mereka.
Sewaktu Manu menjalani kewajibannya sebagai pemimpin, para penduduk di bawah kepemimpinannya menghormatinya dengan membayar pajak, sebagai imbalan atas jasanya sebagai pemimpin, yang berjumlah sepersepuluh dari panen yang mereka hasilkan.

Mendapat Tiga Gelar

1. Para penduduk secara bulat mengakui kepemimpinan Bodhisatta, tidak ada yang keberatan sama sekali, sebagai seorang yang mampu memimpin mereka dengan kebajikan, sehingga penghargaan diberikan dalam bentuk membayar pajak. Oleh karena itu ia mendapat gelar mahàsammata.

2. Tidak ada perselisihan atau pertengkaran sehubungan dengan kepemilikan tanah. (Jika ada) Yang Mulia Manu dengan kekuasaannya akan memutuskan dengan adil. Oleh karena itu ia mendapat gelar khattiya.

3. Karena ia dipilih oleh para penduduk untuk menjalani tugas-tugas kerajaan, ia mendapat gelar ketiga, ràjà.




 
banyak sekali sumber perpustakaan budhist , sdr singthung colector ato sarjana budhist ?.
 
Dalam bhadda kappa ini, Manu, sang Bodhisatta adalah yang pertama dari semua raja yang memperoleh tiga gelar ini, mahàsammata, khattiya, dan ràjà.

Bagaikan matahari yang memiliki seribu berkas cahaya dan memberikan sinarnya kepada semua makhluk sehingga dapat melihat berbagai bentuk dan warna, demikian pula Manu sang Bodhisatta, bagaikan mata umat manusia pada masa itu yang memiliki banyak ciri mulia, bersinar terang, seolah-olah ia adalah matahari kedua, sehingga ia juga disebut keturunan àdiccavamsa (keturunan matahari).

(Sehubungan dengan mahàsammata pada masa awal dunia, dan juga sehubungan dengan antara kappa yang sekarang yang merupakan yang keempat dari enam puluh empat pembagian kondisi Vivattatthàyi dari asankhyeyya kappa yang merupakan seperempat dari bhadda kappa ini, beberapa penulis terpelajar menulis secara berbeda. Dalam “Kronologi Istana Kaca” yang ditulis oleh beberapa bhikkhu terpelajar dan beberapa menteri yang berkumpul dan mendiskusikan selama tiga tahun di dalam istana kaca dalam masa pemerintahan Raja Bagyidaw, pendiri keempat dari Kota Ratanapura, dan dalam Kappa Vinicchaya Pàtha Nissaya yang ditulis sebagai penyelesaian dari perdebatan, oleh Mohtà Thathanabaing Sayadaw, berjudul Sujàtàbhisiridhajadhipatipavara Mahàdhamma-Rajàdhiràjaguru, atas permintaan Raja Mindon, yang memimpin sidang Sangha kelima, diputuskan untuk memberikan bukti-bukti yang kuat dan cukup banyak dari Tipitaka, Komentar, dan Subkomentar, bahwa hanya ada satu Bodhisatta Mahàsammata dan antara kappa sekarang adalah yang keempat.

(Khususnya di Kappavinicchaya terdapat bagian khusus (visesa kanda) yang berisi pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban (codanà dan sodanà) yang memberikan kesimpulan dan keputusan atas topik-topik yang diperdebatkan seperti sebelas antara kappa, sebelas mahàsammata, antara kappa kedua belas, antara kappa kesembilan belas, dan berbagai diskusi yang menjelaskan dengan bukti-bukti yang kuat sehingga semua pihak, bhikkhu dan umat awam menjadi bebas dari keraguan.

(Berikut ini adalah urutan raja-raja (ràjakkama) seperti mahàsammata dan seterusnya, yang bersumber dari Mahàvamsa dan Mahàsutakàri Maghadeva Lankà:

(1) pertama, Manu Mahàsammata,
(2) putranya, Raja Roca,
(3) putranya, Raja Vara-roca,
(4) putranya, Raja Katyàna,
(5) putranya, Raja Vara-Katyàna,
(6) putranya, Raja Uposattha,
(7) putranya, Raja Mandhàtu (Bodhisatta),
(8) putranya, Raja Vara,
(9) putranya, Raja Upavara,
(10) putranya, Raja Cetiya,
(11) putranya, Raja Mucala,
(12) putranya, Raja Mahàmucala,
(13) putranya, Raja Mucalinda,
(14) putranya, Raja Sàgara,
(15) putranya, Raja Sàgaradeva,
(16) putranya, Raja Bharata,
(17) putranya, Raja Anugira,
(18) putranya, Raja Ruci,
(19) putranya, Raja Suruci (juga disebut Mahàruci),
(20) putranya, Raja Patàpa,
(21) putranya, Raja Mahàpatàpa,
(22) putranya, Raja Panàda,
(23) putranya, Raja Mahàpanàda,
(24) putranya, Raja Sudassana,
(25) putranya, Raja Mahàsudassana,
(26) putranya, Raja Neru,
(27) putranya, Raja Mahà Neru, dan
(28) putranya, Raja Accima.

(a) Dua puluh delapan raja ini adalah manusia yang berumur sangat panjang hingga asankhyeyya. Dua puluh tujuh raja setelah Mahàsammata adalah keturunannya. Beberapa dari dua puluh delapan raja ini memerintah di Kota Kusavati, yang lainnya di Ràjagaha dan Mithilà.

(b) Raja Accima, yang terakhir dari dua puluh delapan raja, mendirikan kembali Kota Kusavati dan memerintah di sana; keturunannya persis berjumlah seratus orang. (Dãpavamsa menyebutkan bahwa mereka tinggal di Kapilavatthu.)

(Berdasarkan sumber dari Mahà Sutakàri Magha Deva Lanuka yang mengurutkan raja-raja (a) dan (b) seluruhnya berjumlah seratus dua puluh delapan raja.)

(c) Dari seratus raja keturunan Raja Accima, yang terakhir bernama Raja Arindama. Putranya mendirikan Kota Ayujjhapura dan memerintah di sana; dia dan keturunannya seluruhnya berjumlah lima puluh enam.

(d) Raja terakhir dari lima puluh enam ini bernama Duppasaha. Putranya membangun Kota Bàrànasi dan memerintah di sana; dia dan keturunannya di kota itu berjumlah enam puluh.

(e) Raja terakhir dari enam puluh raja ini bernama Ajita. Putranya membangun Kota Kambala; dia dan keturunannya di kota itu seluruhnya berjumlah delapan puluh empat ribu.

(f) Raja terakhir dari delapan puluh empat ribu raja ini bernama Brahmadatta. Putranya membangun Kota Hatthipura dan memerintah di sana; dia dan keturunannya di kota itu seluruhnya berjumlah tiga puluh enam.

(Menurut sumber Lanuka yang sama yang mengurutkan raja-raja (c), (d), (e), dan (f) seluruhnya berjumlah 84.152.)

(g) Raja terakhir dari tiga puluh enam raja ini bernama Kambalavamsa. Ia membangun Kota Ekacakkhu dan memerintah di sana; dia dan keturunannya di kota itu seluruhnya berjumlah tiga puluh dua.

(h) Raja terakhir dari tiga puluh dua raja ini bernama Purindeva (Surindeva atau Munindeva dalam versi lainnya). Putranya membangun Vajiramutti dan memerintah di sana; dia dan keturunannya di kota itu seluruhnya berjumlah dua puluh delapan.

(i) Raja terakhir dari dua puluh delapan raja ini bernama Sàdhina. Putranya membangun Mathura dan memerintah di sana; dia dan keturunannya di kota itu seluruhnya berjumlah dua puluh dua.

(j) Raja terakhir dari dua puluh dua raja ini bernama Dhammagutta. Putranya membangun Aritthapura dan memerintah di sana; dia dan keturunannya di kota itu seluruhnya berjumlah delapan belas.

(k) Raja terakhir dari delapan belas raja ini bernama Sippi. Putranya membangun Indapattha-nagara dan memerintah di sana; dia dan keturunannya di kota itu seluruhnya berjumlah dua puluh dua.

(Menurut sumber Lanuka yang sama yang menggabungkan (g), (h), (i), (j), dan (k) seluruhnya berjumlah seratus tujuh belas.)

(l) Raja terakhir dari seratus tujuh belas raja ini adalah Brahmàdeva. Putranya juga memerintah di Ekacakkhu, ia dan keturunannya di kota itu seluruhnya berjumlah lima belas.

(m) Raja terakhir dari lima belas raja ini adalah Baladatta. Putranya membangun Kosambi dan memerintah di sana; ia dan keturunannya di kota itu seluruhnya berjumlah empat belas.

(n) Raja terakhir dari empat belas raja ini adalah Hatthideva. Putranya membangun Kannagocchi dan memerintah di sana; ia dan keturunannya di kota itu seluruhnya berjumlah sembilan

(o) Raja terakhir dari sembilan raja ini adalah Naradeva. Putranya membangun Rocana dan memerintah di sana; ia dan keturunannya di kota itu seluruhnya berjumlah tujuh.

(p) Raja terakhir dari tujuh raja ini adalah Mahinda. Putranya membangun Campà dan memerintah di sana; ia dan keturunannya di kota itu seluruhnya berjumlah dua belas.

(Menurut sumber Lanuka yang sama yang menggabungkan lima paragraf di atas seluruhnya berjumlah lima puluh tujuh raja.)

(q) Raja terakhir dari lima puluh tujuh raja ini adalah Nàgadeva. Putranya membangun Mithilà dan memerintah di sana; ia dan keturunannya di kota itu seluruhnya berjumlah dua puluh lima.

(r) Raja terakhir dari dua puluh lima raja ini adalah Samuddadatta. Putranya kembali memerintah di Ràjagaha; ia dan keturunannya di kota itu seluruhnya berjumlah dua puluh lima.

(s) Raja terakhir dari dua puluh lima raja ini adalah Tidhanukara. Putranya membangun Takkasilà dan memerintah di sana; ia dan keturunannya di kota itu seluruhnya berjumlah dua belas.

(t) Raja terakhir dari dua belas raja ini adalah Tàlissara. Putranya membangun Kusinàra dan memerintah di sana; ia dan keturunannya di kota itu seluruhnya berjumlah dua belas.

(u) Raja terakhir dari dua belas raja ini adalah Purinda. Putranya membangun Tàmalitthiya dan memerintah di sana; ia dan keturunannya di kota itu seluruhnya berjumlah dua belas.

(Menurut sumber Lanuka yang sama yang menggabungkan lima paragraf di atas seluruhnya berjumlah delapan puluh tiga raja.)

(v) Dari delapan puluh tiga raja yang disebutkan di lima paragraf di atas. Raja terrakhir bernama Sàgaradeva. Putranya adalah Maghadeva (Magghadeva). Ia dan putranya memerintah di Mithilà hingga jumlahnya mencapai delapan puluh empat ribu raja.

(w) Raja terakhir dari delapan puluh empat ribu raja ini bernama Nimi, Bodhisatta. Putranya bernama Kalàrajanaka, yang memiliki putra bernama Samanukara, yang putranya bernama Asoca (atau Asoka). Keturunan mereka yang berjumlah 84.003 membangun kembali Bàrànasi dan memerintah di sana.

(x) Raja terakhir dari 84.003 raja ini bernama Sihappati.

a. putra Raja Sihappati adalah Raja Vijitasena,
b. putra Raja Vijitasena adalah Raja Dhammasena,
c. putra Raja Dhammasena adalah Raja Nàgasena,
d. putra Raja Nàgasena adalah Raja Samiddha,
e. putra Raja Samiddha adalah Raja Disampati,
f. putra Raja Disampati adalah Raja Renu,
g. putra Raja Reõu adalah Raja Kusa,
h. putra Raja Kusa adalah Raja Mahàkusa,
i. putra Raja Mahàkusa adalah Raja Navarattha,
j. putra Raja Navarattha adalah Raja Dasarattha,
k. putra Raja Dasarattha adalah Raja Ràma,
l. putra Raja Ràma adalah Raja Vilarattha,
m. putra Raja Vilarattha adalah Raja Cittaramsa,
n. putra Raja Cittaramsa adalah Raja Ambaramsi,
o. putra Raja Ambaramsã adalah Raja Sujàta,
p. putra Raja Sujàta adalah Raja Okkàka.

Enam belas raja ini semuanya memerintah di Bàrànasi.

Ada 252.556 keturunan sejak Mahàsammata Bodhisatta di awal dunia hingga Raja Okkaka.

(Sumber Maghadeva Lanka melakukan penjumlahan 84.003 dari (w), dan 16 dari (x) serta dari sumber-sumber lain, sehingga total seluruhnya menjadi 252.556 dimulai dari Mahàsammata hingga Raja Okkàka.)

(Di sini, berhubung penjelasan dari Ambattha Sutta dari Silakkhandha Atthakathà dan Muni Sutta dari Sutta Nipàta Atthakathà menyebutkan bahwa “setelah delapan puluh empat raja dari silsilah Maghadeva, terdapat tiga raja berturut-turut dengan nama yang sama Okkàka” dan bahwa “Okkàka ketiga memiliki lima ratu, masing-masing ratu memiliki lima ratus pelayan perempuan.” Pangeran-pangeran Sakya diperkirakan adalah keturunan dari Okkàka III, dan raja terakhir dari 252.556 raja ini adalah Okkàka III.)

Riwayat Raja Okkàka

Istri-istri dari Raja Okkàka, raja terakhir dari 252.556 raja, adalah Hatthà, Città, Jantu, Jèlini, dan Visàkha. Masing-masing dari mereka memiliki lima ratus pelayan perempuan.

(Sang raja diberi nama Okkàka, karena ketika ia berbicara, dari mulutnya terpancar sinar seolah-olah berasal dari bintang (dikutip dari penjelasan Ambattha Sutta). Layak untuk diketahui bahwa dalam sejarah Myanmar, Raja Kyansittha, Raja Manuhà, juga memancarkan sinar yang cemerlang dari mulutnya.)

(Juga jangan beranggapan bahwa kota Raja Okkàka adalah Bàrànasi. Karena pada Komentar Ambattha Sutta disebutkan bahwa putrinya, Piyà, menikah dengan Raja Ràma dari Bàrànasi. (Kota Raja Okkàka (ketiga) bisa kota apa pun kecuali Bàrànasi.)

Dari kelima ratu, yang tertua, Hatthà melahirkan empat putra, bernama, Ukkàmukha, Karakandu, Hatthinika, Sinisura, dan lima putri, bernama, Piyà, Suppiyà, ânandà, Vijità, dan Vijitasenà.

Ketika Ratu Hatthà wafat setelah melahirkan anak-anaknya, Raja Okkàka mengangkat seorang putri yang muda dan cantik sebagai permaisurinya; ia melahirkan seorang putra bernama Jantu. Pada hari kelima setelah melahirkan, sang ratu mengenakan pakaian dan perhiasan yang lengkap dan menunjukkan putranya kepada sang raja. Raja sangat gembira sehingga ia menganugerahkan sebuah permintaan kepada sang ratu, dengan berkata, “Ambillah apa pun yang engkau inginkan!”

Setelah berunding dengan sanak saudaranya, sang ratu meminta agar putranya, Jantu, dijadikan raja. Raja menolak dan memarahinya, “Engkau jahat, engkau ingin mencelakai putra-putraku!” Dalam setiap saat-saat gembira, ratu mencoba membujuk raja dan berkata, “Baginda, seorang raja tidak boleh mengingkari janjinya. Engkau harus menepati janji.” Demikianlah, ia terus-menerus menuntut agar kerajaan dilimpahkan kepada putranya. Raja kemudian memanggil putra-putranya, Ukkàmukha dan lain-lainnya dan berkata dengan sedih:

“Anak-anakku, karena gembira melihat adik kalian, aku menjanjikan anugerah kepada ibu Jantu. Sekarang ibu Jantu ingin agar putranya menjadi raja. Selain gajah, kuda dan kereta istana, bawalah gajah, kuda, dan kereta sebanyak yang kalian inginkan, kemudian pergilah menetap di suatu tempat yang jauh dari kota ini sampai aku mati. Setelah kematianku kembalilah dan ambil alih kerajaan ini.”

Setelah berkata demikian, Raja memberangkatkan putra-putranya bersama dengan delapan menteri.

Ukkàmukha dan saudara-saudaranya merasa sangat sedih dan menangis. Mereka bersujud kepada ayah mereka dan berkata, “Ayah, maafkan kesalahan kami.” Mereka juga meminta maaf kepada para pelayan. Lima putri memohon kepada raja, “Ayah, izinkan kami pergi bersama saudara kami,” dan kemudian mereka keluar dari kota, mereka melakukan perjalanan bersama saudara-saudara laki-laki mereka yang diiringi oleh delapan menteri dan pasukan yang terdiri dari empat lapis prajurit (gajah, kuda, kereta, dan berjalan kaki) keluar dari kota. Sejumlah besar laki-laki mengikuti para pangeran, dengan pikiran, “Putra-putra raja ini, pasti kembali dan memerintah setelah kematian ayahnya. Kami harus melayani mereka sejak sekarang.”

Jumlah pengikut bertambah dari satu yojanà pada hari pertama menjadi dua yojanà pada hari kedua, dan tiga yojanà pada hari ketiga. Mereka berunding, “Kekuatan pasukan kita sangatlah besar; jika kita menghendaki berperang untuk merebut kerajaan lain di sekitar sini dengan kekuatan kita ini; tidak akan ada raja yang berani melawan. Tetapi apa gunanya merebut paksa kerajaan lain dengan kekerasan. Sama sekali tidak bermanfaat! Jambådãpa ini sangat luas. Kita akan mendirikan kota baru di wilayah hutan yang masih bebas.” Setelah sepakat demikian, mereka menuju Pegunungan Himalaya dan mencari sebuah wilayah untuk mendirikan kota.

Mendirikan Kapilavatthu

Pada waktu itu, Bakal Buddha kita adalah seorang brahmana bernama Kapila yang kaya raya yang berasal dari keluarga yang sangat kaya raya. Setelah meninggalkan semua harta kekayaannya, ia menjalani kehidupan sebagai petapa dan tinggal di sebuah gubuk dari daun-daunan yang ia dirikan di dekat sebuah danau yang jernih airnya di dalam hutan jati di lereng Pegunungan Himalaya.

Karena menguasai ilmu pengetahuan mengenai tanah (pelajaran mengenai tanda-tanda dari tanah), yang disebut Bhumijàla, Kapila sang petapa dan Bakal Buddha mengetahui keunggulan dan keburukan dari tanah sampai delapan puluh lengan di bawah dan delapan puluh lengan di atas tanah. Di sekitar tempat di mana gubuk daun kapila berada, rumput-rumputan, pohon-pohonan, dan semak belukar tumbuh dengan subur, dengan tunas-tunas yang tumbuh menghadap ke timur. Selain itu, binatang-binatang pemangsa seperti singa dan macan yang sedang memburu mangsanya seperti rusa dan babi yang merupakan santapan mereka, atau ketika ular dan kucing yang sedang memburu katak dan tikus, sampai di tempat ini, mereka tidak dapat menangkap buruannya, malah sebaliknya mereka akan lari berbalik, karena ketakutan akan sikap bermusuhan yang ditunjukkan oleh calon mangsanya masing-masing. Melihat hal ini, Kapila menyimpulkan, “Tempat ini adalah tempat terbaik di mana musuh-musuh dapat ditaklukkan.”

Ketika para pangeran yang dipimpin oleh Ukkàmukha sedang mencari tempat yang tepat untuk dijadikan kota, mereka tiba di gubuk daun sang petapa. Menanyakan kepada sang petapa mengenai maksud mereka, mereka menceritakan rencana mereka. Mengetahui permasalahannya, Kapila, sang petapa dan Bakal Buddha merasa sedih dan berkata:

“Pangeran, kota yang didirikan di pertapaanku ini, akan menjadi kota yang terbaik di seluruh Jambudipa. Di antara semua orang yang dilahirkan di kota ini, salah satunya akan mampu mengatasi yang lain yang berjumlah ratusan bahkan ribuan. Oleh karena itu, bangunlah sebuah kota baru di sini, di pertapaanku. Bangunlah sebuah istana di lokasi gubukku ini. Aku akan mengatakan kepadamu keunggulan tempat ini, bahkan seorang yang dilahirkan dari kasta rendah, dengan dukungan yang didapat dari tanah ini akan menjadi seorang yang memiliki kekuasaan bagaikan seorang raja dunia.”

Ketika para pangeran bertanya, “Yang Mulia Petapa, bukankah tempat ini masih dipakai dan ditempati oleh engkau? Kapila menjawab, “Jangan khawatir, jangan pikirkan bahwa tempat ini adalah milikku. Dirikan sebuah pertapaan buatku di tempat yang terpencil, dan dirikanlah sebuah kota untuk kalian tempati seperti yang telah kutunjukkan, dan namailah kota ini Kapilavatthu.”

Seperti yang telah ditunjukkan oleh Kapila, sang petapa, empat pangeran yang dipimpin oleh Ukkàmukha, dan para menterinya serta para prajurit membangun sebuah kota beserta istana kerajaan, mereka menamai kota itu Kapilavatthu dan menetap di sana.

Asal Mula Sakya

Selagi menetap di sana, para pangeran tumbuh dewasa dan sudah waktunya untuk menikah. Kemudian para menteri berunding dan berkata, “Tuan, para pangeran telah dewasa. Jika mereka berada di dekat ayah mereka, Raja Okkàka, ia pasti akan menikahkan para pangeran dan putri, sekarang tanggung jawab ini jatuh pada kita.” Setelah berunding, mereka berdiskusi dengan para pangeran.

Para pangeran menjawab, “O Menteri, tidak ada putri di sini yang sederajat dengan kami. Juga tidak ada pangeran dari kasta yang sama untuk adik-adik putri kami. Jika kasta yang tidak sama ini saling menikah, keturunannya akan menjadi tidak murni baik dari pihak ayah maupun pihak ibu; hal ini akan menyebabkan bercampurnya kasta-kasta dan rusaknya tatanan kasta (jàti-sambheda). Oleh karena itu, sebaiknya kita menunjuk putri tertua, sebagai ibu kami, dan masing-masing kami, empat pangeran dan empat putri, saling menikahi untuk mencegah rusaknya silsilah.” Kemudian setelah sepakat demikian, mereka memilih Putri Piya sebagai ibu mereka dan para pangeran menikahi adik-adik putri mereka sehingga menjadi empat pasang untuk menghindari ketidakmurnian keturunan mereka.

Seiring berjalannya waktu, masing-masing dari empat pasang anak-anak Okkàka tumbuh berkembang. Ketika sang raja mendengar mengenai Kapilavatthu yang didirikan oleh anak-anaknya yang dipimpin oleh Pangeran Ukkamukha, mengenai perkawainan mereka dengan keluarga sendiri dan bukan dari keluarga lain dan kesejahteraan yang mereka peroleh dari perkawinan kakak-adik yang dilahirkan oleh orangtua yang sama, raja sangat gembira sehingga ia mengucapkan pujian terhadap anak-anakanya di tengah-tengah para menteri dan lainnya:

“Sakyà vata bho kumàrà (sungguh piawai putra dan putriku, O menteri!).” “Paramà sakyà vata bhoi kumàrà” (sungguh mulia dan piawai putra dan putriku).”

Karena raja mengucapkan kaya ‘sakyà vata’, ‘sungguh piawai’, untuk memuji mereka, karena kata ‘sakyà’ ini yang artinya ’piawai’, nama sakya diberikan kepada keturunan dari pangeran dan putri yang dipimpin oleh Ukkamukha dan menjadi terkenal.

Demikianlah kisah kemunculan para pangeran Sakya.

Mendirikan Koliya

Kemudian, pada suatu hari, si putri tertua, yang paling tua di antara para pangeran dan putri, terserang penyakit lepra, di seluruh tubuhnya timbul bisul-bisul bagaikan bunga-bunga sàlimuggala atau parijàta.

Para pangeran berdiskusi, “Jika kita harus tinggal dan makan bersama-sama dengan kakak kita yang menderita penyakit kulit yang sangat mengerikan, kita juga akan tertular.” Suatu hari, mereka berpura-pura akan pergi bersenang-senang di taman dan membawa kakak di dalam kereta. Ketika tiba di sebuah lapangan di tengah hutan, mereka menggali lubang yang cukup luas untuk seseorang dalam berbagai postur, berdiri, duduk, berbaring, dan berjalan. Dalam lubang itu yang dibuat mirip sebuah kamar, mereka meletakkan banyak makanan dan minuman, kemudian menempatkan sang kakak di dalamnya. Mereka juga menutupi lubang itu dengan kayu dan papan sebagai perlindungan dari bahaya dan membuat hutan di sekeliling pagar papan itu yang juga berfungsi sebagai atap yang ditutupi oleh tanah, kemudian mereka pulang ke Kapilavatthu.

Kira-kira pada waktu yang sama, raja Bàrànasi yang bernama Ràma menderita penyakit lepra dan para pelayan perempuan dan menteri-menterinya serta pengawalnya merasa jijik dan takut. Ia menyadari keadaannya dan memasuki hutan setelah menyerahkan kerajaannya kepada putra tertuanya. Ia membangun sendiri sebuah gubuk daun-daunan sebagai tempat tinggalnya. Karena memakan buah-buahan dan akar-akaran, penyakit kulitnya menjadi hilang dan ia sekarang memiliki kulit yang keemasan. Ketika sedang berjalan-jalan, ia tiba di sebuah pohon raksasa yang memiliki batang yang sangat besar dengan lubang di tengahnya. Ia membuat sebuah kamar yang luas, enam belas lengan ukurannya di dalam batang pohon tersebut. Ia membuat pintu masuk, jendela dan tangga. Kamar ini seperti kamar istana di mana ia tinggal sebelumnya.

Pada malam hari Ràma membuat api dan mengamati suara-suara rusa, babi hutan, dan binatang lainnya yang berasal dari tempat lain sebelum pergi tidur. Pagi harinya, ia mendatangi sumber suara yang ia dengar malam sebelumnya untuk mencari serpihan daging rusa, babi hutan, dan lain-lain yang tersisa dari makanan singa, macan dan lain-lain. Ia mengumpulkan daging ini kemudian memasaknya sebagai makanan baginya. Demikianlah caranya bertahan hidup.

Suatu hari, seekor macan, mencium bau tubuh putri yang keluar dari kamar bawah tanah yang tidak jauh dari tempat tinggal Ràma. Ketika si macan mengais atap kayu itu dan mencoba membukanya, sang putri sangat ketakutan sehingga ia berteriak sangat keras. Saat itu menjelang pagi dan Ràma mendengar teriakan itu setelah membuat api dan menyiapkan panci. Mendengar teriakan itu dan mengetahui bahwa itu adalah teriakan seorang perempuan, ia berlari menuju sumber teriakan itu pagi harinya dan bertanya, “Siapakah yang tinggal di bawah tanah ini?” Ketika ia mendapat jawaban, “Saya seorang perempuan,” ia bertanya lagi, “Dari keluarga mana?” “Tuan, saya adalah putri dari Raja Okkàka.” “Keluarlah,” raja berkata. “Tuan, saya tidak bisa keluar,” “Mengapa?” “Saya menderita lepra.” Raja kemudian menanyakan permasalahannya dan mengetahui bahwa putri tidak keluar karena ia bangga akan status kebangsawanannya, raja memberitahukan bahwa ia sendiri adalah seorang raja dengan mengatakan, “Aku juga seorang bangsawan.” Ia menarik putri keluar dari kamar bawah tanah dan membawanya ke tempatnya. Ia memberikan obat-obatan yang sama dengan yang ia gunakan. Sang putri memakannya dan penyakitnya berangsur-angsur berkurang hingga akhirnya lenyap. Kulit sang putri kembali menjadi berwarna keemasan. Dengan persetujuan bersama, dua orang ini hidup bersama sebagai suami-istri.

Seiring berjalannya waktu, Permaisuri Piyà melahirkan putra kembar sebanyak enam belas kali sehingga seluruhnya berjumlah tiga puluh dua putra. Setelah usia mereka mencukupi, sang ayah, Raja Rèma, mengirimkan mereka untuk belajar sebagai seorang pangeran.

Suatu hari, seorang pemburu dari negara asal raja, Bàrànasi, ketika datang ke hutan di dekat Pegunungan Himàlaya, untuk mencari harta, bertemu dengan Ràma, karena mengenalinya sang pemburu berkata, “Tuan, aku mengenalimu dengan baik.” Sang raja kemudian menanyakan segala hal mengenai kerajaannya dan selagi mereka berbincang-bincang, tiga puluh dua anaknya pulang. Melihat anak-anak ini, si pemburu bertanya, “Raja, siapakah anak-anak ini?” “Mereka adalah anakku,” jawab raja. Setelah bertanya lebih lebih lanjut, ia mengetahui siapa ibu mereka dan berpikir, “Aku sekarang memiliki informasi yang dapat kuberikan sebagai hadiah kepada penguasa Vàrànasi.” Dengan pikiran demikian, ia kembali ke kota dan menceritakan kisahnya.

Raja Bàrànasi yang pada waktu itu adalah putra Ràma merasa sangat gembira dan untuk membawa kembali ayahnya, ia datang disertai oleh empat lapis pasukan. Ia memberi hormat kepada ayahnya dan memohon, “Ayah, terimalah kembali kerajaan Bàrànasi” “Anakku,” jawab Ràma, “Aku tidak lagi memiliki keinginan untuk menjadi raja Bàrànasi. Aku tidak akan kembali ke kota. Tebanglah pohon ini dan dirikan sebuah tempat tinggal dan sebuah kota baru untukku di tempat ini juga di pohon kola ini.” Atas perintah ini, putranya, raja Bàrànasi mendirikan sebuah kota baru.



 
Setelah kota baru tersebut dibangun setelah menebang pohon kola di tempat tinggal ayahnya, kota itu dinamai Koliya, karena kota ini terletak di jalur yang sering dilalui oleh macan, kota ini disebut juga Vyagghapajja. Setelah memberi nama kota ini, sang putra, raja Bàrànasi, memberi hormat kepada ayahnya kemudian pulang.

Sewaktu Raja Ràma dan permaisurinya menetap di kota baru Koliya, Piya suatu hari berkata kepada putra-putranya yang telah dewasa.

“Anakku, paman-pamanmu, para pangeran Sakya, memerintah di Kota Kapilavatthu. Putri-putri dari pamanmu berpakaian seperti ini, rambutnya seperti ini, gaya berjalannya dan tingkah lakunya seperti ini. Ketika mereka mendatangi pemandian untuk mandi, tangkaplah putri yang engkau suka dan bawalah kemari.”

Sesuai petunjuk ibu mereka, para pangeran mendatangi pemandian para putri dari paman mereka, para pangeran Sakya, di Kapilavatthu dan setelah mengamati dan memilih, masing-masing membawa putri yang mereka pilih, setelah memperkenalkan diri dan membawa mereka selagi mereka berjemur untuk mengeringkan rambut mereka.

Mendengar peristiwa ini, para pangeran Sakya berunding, “Saudaraku, biarkanlah hal ini terjadi. Para pangeran Koliya ini adalah keturunan kakak tertua kita, jadi mereka masih keponakan kita, kerabat dekat kita.” Mereka tidak menyalahkan para pangeran Koliya, dan karena merasa gembira, mereka mendiamkan hal ini.

Dari perkawinan antara Sakya dan Koliya ini, silsilah turun temurun tanpa terputus hingga masa Buddha.

Demikianlah, perkembangan keturunan Sakya terjadi dengan murni karena bercampur hanya dengan kerabat-kerabat dekat. Karena tidak pernah terputus sejak Raja Okkàka, sumber dari suku Sakya, berlanjut hingga Pangeran Siddhattha, Bakal Buddha, mereka tercatat dalam sejarah dengan reputasi yang baik sebagai “asambhinna khattiya” silsilah (kesatria yang tak terputus).

Mendirikan Devadaha

Para pangeran Sakya yang tinggal di Kapilavatthu memiliki kebiasaan pergi ke danau yang besar, indah, dan menyenangkan untuk bersenang-senang bermain air. Karena danau ini digunakan sebagai tempat olahraga bagi para penghuni istana, sehingga dikenal sebagai Devadaha. (Deva untuk menyebutkan para pangeran Sakya dan daha berarti danau untuk bermain air.)

Suatu ketika, para pangeran Sakya tersebut datang ke danau untuk bersenang-senang namun tidak kembali lagi ke Kapilavatthu tetapi membangun pondok peristirahatan di dekat danau; seiring dengan berjalannya waktu, wilayah itu berkembang dan menjadi kota sendiri; yang dikenal dengan nama Devadaha.

Para pangeran Sakya yang tinggal di kota itu juga disebut Sakya Devadaha sesuai nama kota itu.

(Dikutip dari penjelasan Devadaha Sutta, Uparipannàsa Atthakathà).
Keturunan Ukkàmukha, Raja Sakya

Raja-raja Kapilavatthu adalah sebagai berikut:

(1) pendiri, Raja Ukkàmukha (ketika raja berbicara, seberkas cahaya terang keluar dari mulutnya, tanda keberkuasaan, seperti ayahnya Raja Okkàka),
(2) putranya Raja Nipuna,
(3) putranya Raja Candimà,
(4) putranya Raja Candamukha,
(5) putranya Raja Sivi,
(6) putranya Raja Sinjaya,
(7) putranya Raja Vessantara, Bodhisatta,
(8) putranya Raja Jàli,
(9) putranya Raja Sihavahana,
(10) putranya Raja Sihassara.

Sepuluh raja Sakya ini dan keturunan Raja Sihassara hingga Jeyyasena, seluruhnya berjumlah delapan puluh ribu, berturut-turut memerintah Kerajaan Sakya Kapilavatthu.

Yang terakhir dari delapan puluh dua ribu sepuluh raja, Jeyyasena, memiliki seorang putra dan seorang putri yang bernama Sihahanu dan Yasodharà.

Pada waktu itu Raja Ukkàsakka dan Ratu Yasavati dari Devadaha (juga) memiliki seorang putra dan seorang putri, bernama Anjana dan Kancanà.

Dari perkawinan Pangeran Sihahanu, putra Raja Jeyyasena dari Kapilavatthu dan Putri Ka¤canà, Putri Ukkàsakka dari Devadaha, terlahir lima putra bernama (1) Suddhodana, (2) Amitodana, (3) Dhotodana, (4) Sakkodana, dan (5) Sukkodana (dikutip dari penjelasan Sammàparibbàjaniya Sutta, Suttanipàta Atthakatthà, Vol. 2), dan dua putri bernama (1) Amitta dan (2) Pàlità.

Dari perkawinan Pangeran Anjana, putra Raja Ukkàsakka dari Devadaha, dan Putri Yasodhara, putri Raja Jeyyasena dari Kapilavatthu, terlahir dua putra dan dua putri. (Di sini, nama Raja Anjana juga dikenal dengan nama Mahà Suppabuddha.) kedua putra adalah Pangeran Suppabuddha dan Pangeran Dandapani. Kedua putri adalah Siri Mahàmàyà dan Pajàpati Gotami.

Pangeran Suddhodana, putra Raja Sihahanu, menikah dengan kedua putri Raja Anjana: Putri Siri Mahàmàyà dan Putri Pajàpati Gotami. Putri tertua melahirkan seorang putra bernama Pangeran Siddhattha dan putri kedua melahirkan Putri Rupananda dan Pangeran Nanda.

Dari penjelasan ini, ada sepuluh raja keturunan dari Raja Ukkàmukha, pendiri Kapilavatthu.
Terdapat delapan puluh dua ribu raja keturunan dari Raja Sihassara hingga Jeyyasena.

Kemudian dari putra Raja Jeyyasena, Raja Sihahanu:

(1) putranya, Raja Suddhodana, dan
(2) putranya, Pangeran Siddhattha, Bakal Buddha.

Menjumlahkan seluruhnya dari tiga kelompok ini, terdapat 82.013 raja yang semuanya adalah Raja Sakya Asabhi¤¤à dan memerintah Kota Kapilavatthu.

Jika angka 82.013 ini sejak Raja Ukkàmukha hingga Pangeran Siddhattha, Bodhisatta, ditambahkan dengan angka sebelumnya 252.556 jumlah raja-raja di awal dunia dari Mahàsammata hingga Okkàka, hasilnya adalah 334.569.

Dari perkawinan pangeran Suppabuddha, putra Raja Anjana dan Putri Amittà, putri Raja Sihahanu, terlahir Putri Bhadda Kancanà atau Yasodhara dan Pangeran Devadatta.
Dari perkawinan Pangeran Siddhattha, Bakal Buddha, putra Raja Suddhodana dari Kapilavatthu dan Ratu Siri Mahàmàyà, dengan putri Bhadda Kancanà atau Yasodharà, putri dari Raja Suppabuddha dari Devadaha dan Ratu Amitta, terlahir Ràhula.

Raja Anjana, Kakek Buddha, Mengakhiri Era

Raja Anjana dari Devadaha, kakek Buddha (ibu Siri Mahàmàyà) mengakhiri Era Goza yang berlaku pada waktu itu. Ia membatalkan 8.649 tahun bulan baru, hari Sabtu di bulan Phagguna (Februari-Maret); dan sebagai penggantinya ia memperkenalkan era yang lain yang dimulai dari bulan Citta (Maret-April). (Ia membuat era baru yang digunakan sejak saat itu.) Era ini kelak disebut Mahà Era.

Penghapusan suatu era adalah tradisi duniawi yang kerap terjadi pada dunia sejarah. Tidak pernah terjadi dalam kasus penolakan terhadap suatu era atau penggunaan istilah Sakkaraj dan ungkapan Koza atau Goza dalam buku-buku Buddhis. Semua ini hanya tercantum dalam kitab-kitab duniawi mengenai astrologi dan sejarah. Cara perhitungan dan ungkapan yang terdapat dalam karya-karya astrologi dan sejarah diambil dari orang-orang terpelajar selama periode Bagan, Pinya dan seterusnya di Myanmar untuk kemudahan dalam mencatat tanggal dan tahun dari suatu peristiwa.

Ejaan Sakkaràj, Sakaràj, dan Koza, Goza

Banyak tulisan mengenai Sakkaràj, Sakaràj, Kozs, dan Goza oleh Monywe Zetawun Sayadaw dalam karyanya Samanta-Cakhu Dipani, Vol. 2. Pendapat Sayadaw mengenai hal ini adalah sebagai berikut:

”Banyak cara ditemui dalam menuliskan istilah ini, yang hanya berguna dalam mencatat dan menghitung jumlah tahun. Kesalahan ejaan tidak berpengaruh pada hal-hal duniawi; ejaan yang tepat juga tidak dapat membantu mendapatkan kebebasan dari samsàra karena tidak memiliki indra untuk memperoleh Pandangan Cerah dan pandangan benar. Karena alasan ini, semua bantuk penulisan ini memiliki manfaat masing-masing dan dapat diterima.”

Pernyataan demikian tentu tidak memuaskan.

Singkatnya, disebut Sakkaraj karena, tata cara penulisan secara kronologis yang dihitung sejak suatu tanggal tertentu, yang ditentukan oleh raja yang mampu melindungi rakyatnya; disebut Sakaraj karena, dilakukan oleh Raja Sakka. Koza dan Goza menunjukkan suatu rentang waktu yang ditandai oleh pergerakan matahari dan bulan. (Sakkaràj berasal dari kata Sakkaraj, sakka artinya ‘mampu’ dan ràja adalah ‘raja’; oleh karena itu Sakkaraj ditentukan oleh raja, yang mampu memberikan perlindungan kepada subjeknya. Sakaraj berasal dari Sakaràjà, Saka adalah nama seseorang dan ràjà adalah ‘raja’; karena Sakaràjà adalah suatu era yang dibuat oleh Raja Saka. Sedangkan Koza dan Goza, ko adalah matahari dan go adalah sebuah istilah untuk menyebutkan matahari dan bulan; za digunakan untuk menyatakan sesuatu yang bergerak. Waktu yang dibutuhkan dalam satu siklus zodiak penuh oleh matahari dan bulan disebut tahun Koza atau Goza. Juga tertulis Gocar.)

Istilah Kali-yug dan Sakkaràj

Dalam sebuah kalimat “Tahun Kali-yug Sakkaràj ini dan itu” dengan menggunakan istilah Kali-yug sebagai kata sifat sebelum Sakkaràj, Kali-yug dan Sakkaràj memiliki arti yang berbeda. Kalimat tersebut memiliki makna “tahun dari suatu era selama rentang waktu yang dimulai dari Kali-yug”, akan dijelaskan secara singkat sebagai berikut.

Di antara kappa pembentukan dan penghancuran yang disebut antara kappa, satu kappa pembentukan terdiri dari empat masa: kata-yuga, tetra-yuga, dvàpara-yuga, dan kali-yuga. Masing-masing memiliki periode kemajuan dan periode kemunduran. Ketika periode ini berulang hingga enam puluh kali, sebuah kappa pembentukan berakhir. Demikian pula halnya dengan kappa penghancuran, menurut sumber-sumber ilmiah. Dari keempat yuga, yang pertama, kata-yuga, berlangsung selama 1.728.000 tahun. Kemudian tetra-yuga selama 1.296.000 tahun. Diikuti oleh dvàpara-yuga selama 864.000 tahun. Akhirnya kali-yuga selama 432.000 tahun. (Catatan: jumlah tahun dvàpara-yuga adalah dua kali kali-yuga, tetra-yuga adalah tiga kali kali-yuga, dan kata-yuga adalah empat kali kali-yuga.). Total dari empat yuga ini adalah 4.320.000.

Selama masa kata-yuga semua manusia di seluruh empat penjuru (semua manusia) menjalani kebajikan seolah-olah mereka berdiri di atas empat kaki. Selama masa tetra-yuga semua manusia di tiga penjuru menjalani kebajikan seolah-olah mereka berdiri di atas tiga kaki, sedangkan satu penjuru tidak menjalani kebajikan. Selama masa dvàpara-yuga semua manusia di dua penjuru (setengah) menjalani kebajikan, sedangkan dua penjuru yang lain tidak menjalani kebajikan. Selama masa kali-yuga hanya manusia di satu penjuru menjalani kebajikan, sedangkan tiga penjuru lainnya tidak.

Guru kita, Buddha Gotama, muncul dalam tahun ke 2.570 kali-yuga, seperti yang tertulis pada Gotama Puràna. Dalam Kanda (bab) pertama tertulis:

Kaleràrabbhato sunna satta pancaduke gate
samvacchare babhuva ve Dhammavido Gotamàbhidho.

“Dua ribu lima ratus tujuh puluh tahun setelah dimulainya kali-yuga. Muncullah Gotama yang memahami Dhamma.”

Jika Anda ingin mengetahui tahun Sàsana sekarang dan tahun kali-yuga sekarang, ambillah tahun sekarang (Era Myanmar) dan tambahkan 1.182 tahun; hasilnya adalah tahun Era Sàsana (Era Buddhis).

Untuk mendapatkan tahun kali-yuga adalah tahun Sàsana sekarang ditambah 2.570; hasilnya adalah tahun kali-yuga sekarang.

Secara singkat, ketika seseorang menulis “dalam tahun kali-yuga Sakkaràj x“, yang dimaksudkan adalah tahun x dari Sakkaràj dalam masa kali-yuga. Masa kali-yuga berlangsung selama 432.000 tahun seperti yang dijelaskan sebelumnya. Sakkaràj adalah perhitungan tahun yang ditetapkan oleh raja.

Ciri-Ciri Suara yang Memiliki Delapan Kualitas Bagaikan Brahmà

Merdunya Suara Burung Karavika dan Kisah Asandhimittà

Istri Raja Dhammàsoka, Asandhimità, bertanya kepada Samgha (sehubungan dengan suara Buddha yang merdu), “Adakah di dunia ini yang suaranya mirip dengan suara Buddha?” Jawaban yang diberikan oleh Samgha adalah, “Suara burung karavika mirip dengan suara Buddha.” Sang ratu bertanya lagi, “Di manakah burung ini tinggal?” Samgha menjawab, “Mereka hidup di Himavanta.”

Sang ratu kemudian berkata kepada Raja Asoka, “Aku ingin melihat burung karavika.” Raja mengirimkan sangkar emas dengan perintah, “Seekor burung karavika harus datang dalam sangkar ini!” Sangkar tersebut kemudian melayang terbang dan berhenti persis di depan
seekor burung karavika. Mempertimbangkan, “Sangkar ini datang atas perintah raja; aku tidak dalam posisi untuk tetap tinggal di sini dan melawan perintah raja,” burung itu masuk ke dalam sangkar, yang segera terbang kembali dan berhenti di depan raja.

Meskipun mereka sekarang telah memiliki burung itu, tak seorang pun yang dapat membuat burung itu bersuara. Sang raja berkata, “O Menteri, bagaimana kita membuatnya bersuara?” Para menteri menjawab, “Burung karavika ini bersuara, O Raja, ketika mereka melihat teman-teman burung mereka.” Asoka kemudian meletakkan banyak cermin di sekeliling burung tersebut.

Ketika burung tersebut melihat bayangannya sendiri di dalam kaca, berpikir bahwa teman-temannya telah datang, ia mengeluarkan suara perlahan namun menyenangkan bagaikan alunan musik yang dihasilkan oleh seruling dari batu delima. Mabuk oleh suara raja burung karavika, Ratu Asandhimittà dan para penduduk Pàñaliputta kegirangan, mereka menari-nari gembira.

Kemudian ratu merenungkan, “Bahkan suara burung karavika ini, yang hanya seekor binatang, begitu merdunya. Apalagi suara Buddha, yang teragung. Kemerduan suaranya pasti tidak terbatas!”

Dengan membayangkan Buddha, ratu menjadi sangat gembira (piti), dengan kegembiraan yang tanpa henti, ia mengembangkan Pandangan Cerah Vipassanà, tahap demi tahap, bersama-sama dengan tujuh ratus pelayan wanitanya, ia mencapai Buah Sotàpatti.




 
wah...artikel loe lengkap banget.....kagum gw...post-post terus yah. biar sama-sama belajar..
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.