singthung
IndoForum Junior E
- No. Urut
- 7164
- Sejak
- 21 Sep 2006
- Pesan
- 1.634
- Nilai reaksi
- 27
- Poin
- 48
Seruan Mengumumkan Kemunculan Buddha
Lima Kolàhala
Kolàhala artinya seruan verbal yang dimulai oleh beberapa orang yang mengatakan, “Ini akan terjadi.” Sebelum peristiwa sebenarnya terjadi, muncul di antara orang-orang yang berkumpul dan berbicara mengenai hal-hal yang akan terjadi dalam bahasa yang sama dan suara yang bulat.
Kolàhala tepatnya adalah seruan-seruan yang dilakukan dengan penuh kegembiraan oleh banyak orang sebagai suatu pertanda sebelum hal sebenarnya terjadi. Bukan berarti, seperti kegemparan yang terjadi di kota-kota atau di desa-desa yang meramalkan sesuatu yang tidak benar misalnya suatu kejadian yang mustahil seperti “Pangeran Setkya akan kembali!”
Di Burma, Pangeran Setkya adalah putra satu-satunya dan pewaris tahta dari Raja Bagyidaw (1819-1837). Ia di bunuh oleh saudara Bagyidaw, Raja Tharrawady, yang kemudian merebut tahta di tahun 1837, pembunuhan ini terjadi di bulan April 1838.
Ada lima jenis Kolàhala di dunia ini:
(1) kappa-kolàhala
(2) cakkavati-kolàhala
(3) buddha-kolàhala
(4) mangala-kolàhala
(5) moneyya-kolàhala
(1) Kappa-kolàhala
Kolàhala yang mengingatkan umat manusia akan hancurnya dunia disebut kappa-kolàhala. Ketika saat hancurnya dunia sudah mendekat, dewa bernama Lokavyuha dari alam kenikmatan indria (kamàvacara-dewa), dengan mengenakan pakaian merah, dan rambut tergerai, mengusap air matanya, menyusuri jalan-jalan yang digunakan oleh manusia dan berteriak dengan keras hingga terdengar oleh umat manusia di segala penjuru, seratus tahun sebelum peristiwa sebenarnya terjadi.
“Teman-teman, seratus tahun sejak hari ini, dunia akan hancur! Samudra raya akan mengering! Bumi, Gunung Meru, semuanya akan terbakar dan hancur (jika dunia akan hancur oleh api), akan terjadi banjir besar dan hancur (jika dunia hancur oleh air), akan tertiup oleh badai angin dan hancur (jika dunia hancur oleh angin), dunia akan hancur dimulai dari bumi dengan Gunung Meru dan samudra hingga alam brahmà! Teman-teman, kembangkan cinta kasih (mettà), kembangkan welas asih (karunà), kembangkan rasa bahagia atas kebahagiaan orang lain (mudità), kembangkan ketenangseimbangan (upekkhà) yang merupakan sifat brahmà! Layani orangtuamu dengan penuh hormat! Berbuatlah kebajikan! Jangan gegabah!”
Seruan ini yang dilakukan sambil menangis keras disebut kappa-kolàhala.
(2) Cakkavatti-kolàhala
Kolàhala yang muncul di alam manusia yang menyerukan bahwa “Seorang raja dunia akan muncul” yang memerintah seluruh alam manusia di empat benua besar termasuk pulau-pulau kecil di sekelilingnya yang berjumlah dua ribu, disebut cakkavatti-kolàhala.
Dewa penjaga dunia (lokapàla), dari Alam Dewa Kàmàvacara, yang telah mengetahui terlebih dahulu akan munculnya seorang raja dunia, menyerukan di jalan-jalan dan tempat-tempat umum dan meneriakkan kepada umat manusia di segala penjuru mengenai peristiwa yang akan terjadi seratus tahun mendatang.
“Teman-teman, seratus tahun sejak hari ini, seorang raja dunia akan muncul di dunia ini!”
Seruan ini yang dilakukan sambil berteriak keras disebut cakkavatti-kolàhala.
(3) Buddha-kolàhala
Kolàhala yang memberitahukan kepada umat manusia di dunia bahwa, “Seorang Buddha akan muncul,” disebut Buddha-kolàhala. Para brahmà dari Alam Suddhàvàsa, mengetahui terlebih dahulu mengenai peristiwa munculnya Buddha Yang Mahatahu, mengenakan pakaian brahmà, perhiasan, dan mahkota, dengan gembira menyusuri jalan-jalan dan tempat-tempat umum dan menyerukan kepada umat manusia di segala penjuru.
“Teman-teman, seribu tahun dari hari ini, seorang Buddha Yang Mahatahu akan muncul di dunia ini!”
Seruan ini yang dilakukan sambil berteriak keras disebut Buddha-kolàhala.
Pernyataan bahwa Buddha-kolàhala terjadi seribu tahun sebelum munculnya seorang Buddha, harus mempertimbangkan umur kehidupan Buddha tersebut. Bodhisatta Dipankara, Kondanna, Mangala, dan lain-lain yang berumur panjang, menikmati kehidupan istana selama sepuluh ribu tahun atau lebih, melepaskan keduniawian, mempraktikkan dukkaracariya dan menjadi Buddha. Buddha-kolàhala terjadi di alam surga, dan karena kolàhala tersebut, para dewa dan brahmà di seluruh sepuluh ribu alam semesta mendatangi Bodhisatta dewa dan mengajukan permohonan. Setelah permohonan disetujui barulah Brahmà Suddhàvasa turun ke alam manusia, menyusuri tempat-tempat umum dan menyerukan ramalan ini. Oleh karena itu, bisa lebih dari seribu tahun, atau lebih dari lima ribu tahun, mungkin sembilan atau sepuluh ribu tahun setelah Buddha-kolàhala ini baru seorang Buddha yang berumur panjang muncul. Jadi, harus dipahami, bahwa pernyataan “Buddha-kolàhala terjadi seribu tahun sebelum kemunculan Buddha” tidak berlaku untuk semua Buddha. Namun hanya berlaku untuk Buddha-Buddha yang berumur pendek seperti Buddha Gotama.
(4) Mangala-kolàhala
Karena keraguan akan arti dari Mangala (berkah), umat manusia berkumpul dan mengartikan dengan caranya masing-masing, dan mengatakan “Ini disebut Mangala!,” “Ini disebut Mangala!,” sehingga menimbulkan keributan, “Mereka bilang ini Mangala.” Suara-suara perdebatan ini disebut Maïgala-kolàhala. Brahmà Suddhàvàsa yang telah mengetahui sebelumnya bahwa Buddha akan memberikan khotbah yang menjelaskan tentang Mangala, mengetahui pikiran umat manusia yang mencari kebenaran mengenai berkah, menyusuri tempat-tempat umum dan menyerukan kepada umat manusia di segala penjuru dua belas tahun sebelum Buddha memberikan khotbah-Nya.
“Teman-teman, dua belas tahun sejak hari ini, Buddha akan memberikan khotbah Mangala!”
Seruan ini yang dilakukan sambil berteriak keras disebut Mangala-kolàhala.
(5) Moneyya-kolàhala
Kolàhala sehubungan dengan praktik pertapaan moneyya (latihan mulia) disebut moneyya-kolàhala (Penjelasan mengenai praktik moneyya terdapat dalam kisah Thera Nàlaka.) Brahmà Suddhàvàsa yang telah mengetahui sebelumnya bahwa seorang bhikkhu di alam manusia akan mendatangi Buddha untuk menanyakan mengenai pertapaan moneyya, menyusuri tempat-tempat umum dan menyerukan kepada umat manusia di segala penjuru tujuh tahun sebelum Buddha mengajarkan.
“Teman-teman, tujuh tahun sejak hari ini, seorang bhikkhu akan mendatangi Buddha dan menanyakan mengenai Dhamma moneyya!”
Seruan ini yang dilakukan sambil berteriak keras disebut moneyya-kolàhala.
Demikianlah lima kolàhala. Penjelasan lengkap dari lima ini terdapat dalam Atthakathà dari Buddhavamsa, Jàtaka, Kosala, Samyutta, Kuddaka-Pàtha, dan Jinàlanukàra.
Permohonan Kepada Bodhisatta Dewa
Lima Pertanda (Pubba-nimitta) yang Meramalkan Kematian Para Dewa
Lima pubba-nimitta adalah:
(1) bunga-bunga surgawi menjadi layu,
(2) pakaian dan perhiasan surgawi menjadi kotor,
(3) keringat bercucuran dari ketiak,
(4) kecantikan fisik memudar,
(5) merasa tidak nyaman berada di rumah di surga.
(1) Bunga-bunga surgawi menjadi layu: bunga-bunga yang bermekaran yang muncul sebagai penghias sejak hari dewa tersebut dilahirkan di alam dewa, mulai mengering. Bunga-bunga yang muncul dari tubuhnya bersamaan dengan terlahirnya dewa tidak pernah layu sepanjang kehidupan mereka. Bunga-bunga ini mulai layu sejak tujuh hari sebelum akhir hidup mereka (tujuh hari menurut perhitungan kalendar manusia). (Bunga-bunga milik Bodhisatta Dewa Setaketu tidak pernah mengering selama dewa tersebut hidup di alam Surga Tusita, yaitu, selama lima puluh tujuh crore enam juta tahun menurut perhitungan kalendar surgawi. Bunga-bunga ini mulai mengering sejak tujuh hari manusia sebelum ia meninggal dunia.)
(2) Pakaian dan perhiasan surgawi menjadi kotor: sama seperti kasus sebelumnya, pakaian dan perhiasan surgawi tidak pernah kotor; namun tujuh hari menjelang kematian dewa, pakaian dan perhiasan ini menjadi kotor.
(3) Keringat bercucuran dari ketiak: alam surga tidak seperti alam manusia, tidak ada perubahan cuaca seperti panas dan dingin. Tetapi tujuh hari menjelang kematian dewa, butir-butir keringat mengucur dari seluruh tubuhnya (terutama dari ketiak).
(4) Kecantikan fisik memudar: tanda-tanda usia tua, seperti gigi yang mulai tanggal, rambut memutih, kulit mulai keriput dan tanda-tanda ketuaan lainnya yang memperlihatkan rusaknya tubuh tidak pernah terjadi; dewi-dewi selalu terlihat seperti berumur enam belas tahun dan dewa-dewa selalu terlihat seperti berumur dua puluh tahun, mereka selalu terlihat muda dan segar, cerah, memiliki warna-warni yang indah; namun keindahan tubuh ini mulai melemah dan memudar saat menjelang meninggal dunia.
(5) Merasa tidak nyaman berada di rumah di surga: mereka tidak pernah mengalami ketidakbahagiaan di dalam istana surga sepanjang kehidupan mereka; mereka mulai merasa tidak nyaman dan kehilangan kebahagiaan berada di dalam tempat tinggal mereka saat mereka akan meninggal dunia.
Lima Pubba-nimitta Tidak Terjadi Pada Semua Dewa
Meskipun lima pubba-nimitta muncul pada dewa yang sedang sekarat seperti yang dijelaskan sebelumnya, harus dimengerti bahwa hal ini tidak terjadi pada semua makhluk dewa. Seperti halnya di alam manusia, pertanda-pertanda seperti jatuhnya meteor, gempa bumi, gerhana bulan dan matahari, dan sejenisnya berhubungan dengan raja atau menteri yang mahakuasa, dan lain-lain, demikian pula di alam dewa, pubba-nimitta ini hanya terjadi pada dewa atau dewi yang maha agung, namun tidak terjadi pada dewa yang tidak memiliki kekuasaan dan keagungan yang besar.
Seperti halnya, pertanda baik atau buruk yang muncul di alam manusia hanya dipahami oleh orang-orang terpelajar, demikian pula pertanda-pertanda, baik atau buruk, yang meramalkan peristiwa yang terjadi di alam dewa, hanya dipahami oleh para dewa yang bijaksana.
Ketika pertanda tersebut muncul pada dewa yang tidak pernah melakukan kebajikan, mereka menjadi ketakutan, “Siapa yang tahu di mana aku akan dilahirkan?” Sedangkan mereka yang banyak melakukan kebajikan, tidak merasa khawatir sama sekali, mengetahui bahwa, “Kita akan menikmati kebahagiaan yang lebih tinggi di alam dewa yang lebih tinggi karena jasa yang kita peroleh dari dàna, sila, dan meditasi yang kita lakukan.” (Penjelasan Mahàpadàna Sutta, Sutta Mahà Vagga Atthakathà.)
Bodhisatta Memasuki Rahim, Kehamilan Pada Tahap Kedua Kehidupan
Akan muncul pertanyaan sehubungan dengan mengapa Ratu Maya mengandung Bodhisatta hanya pada periode ketiga pada tahap kedua hidupnya. Jawabannya adalah: nafsu indria dalam diri manusia dalam tahap pertama kehidupan biasanya sangat kuat. Sehingga, perempuan yang hamil pada tahap ini, cenderung tidak mampu menjaga kehamilannya. Ketidakmampuan ini menyebabkan berbagai bentuk kecelakaan dan kesukaran dalam masa kehamilan.
Tahap pertengahan yaitu tahap kedua dari tiga tahap dibagi lagi dalam tiga periode yang sama. Ketika seorang perempuan berada dalam periode yang ketiga, rahimnya bersih dan murni. Bayi yang dikandung dalam rahim yang bersih dan murni ini akan sehat, dan bebas dari penyakit.
Ibu seorang Bodhisatta dalam kehidupan terakhirnya menikmati kenikmatan dalam tahap pertama kehidupannya, dan biasanya ia akan meninggal setelah melahirkan Bodhisatta selama periode ketiga dari tahap kedua hidupnya. (Juga merupakan sebuah fenomena yang lazim bahwa ia akan meninggal dunia tujuh hari setelah melahirkan Bodhisatta. Ia meninggal bukan karena melahirkan. Sebenarnya, (Bodhisatta) dewa turun ke alam manusia, setelah melihat bahwa calon ibunya hanya akan hidup selama sepuluh bulan tujuh hari lagi setelah ia memasuki rahimnya, seperti yang dijelaskan dalam kisah Lima Penyelidikan yang dilakukan oleh Bodhisatta dewa. Jadi, jelas bahwa kematiannya bukan disebabkan oleh kelahiran anak, namun karena waktunya telah habis.) (Digha Nikàya Atthakathà.)
Perjalanan Ratu Mahà-Màyà dari Kapilavatthu Menuju Devadaha
Kisah mengenai kunjungan Ratu Mahàmàyà dari Kapilavatthu menuju Devadaha tertulis dalam Jinattha Pakàsani sebagai berikut:
“Setelah membersihkan dan meratakan jalan sepanjang lima yojanà antara Devadaha dan Kapilavatthu hingga seperti tanah yang keras….”
Dalam Tathàgata Udàna Dipani, tertulis sebagai berikut:
“Setelah memperbaiki jalan sepanjang tiga puluh yojanà dari Kapilavatthu sampai Devadaha dengan menimbun lubang-lubang, memperluas sehingga nyaman untuk dilalui....”
Dua Tulisan yang Berbeda
Dalam buku ini, kami mengikuti apa yang tertulis dalam Atthakathà dari Buddhavamsa dan Jàtaka di mana jarak kedua kerajaan ini, Kapilavatthu dan Devadaha tidak disebutkan, Komentar ini hanya menjelaskan mengenai perbaikan jalan saja.
Kendaraan yang digunakan oleh Ratu Mahàmàyà dalam buku ini disebutkan adalah tandu emas, sesuai dengan yang tertulis dalam Komentar yang sama. (Tidak perlu heran mengenai bagaimana tandu ini dapat diangkat oleh seribu orang laki-laki, sama halnya dengan yang tertulis dalam kalimat, “Bodhisatta disusui oleh dua ratus empat puluh pengasuh,” ini tentu saja dilakukan secara bergiliran, atau mungkin juga, tandu ini ditarik oleh mereka secara bersamaan dengan menggunakan tali kain yang panjang.)
Dalam Tathàgata Udàna Dipani, dijelaskan sebagai berikut:
“Jalan itu yang sepanjang tiga puluh yojanà, diperbaiki, dihias dengan indah dan megah, ratu mengendarai kereta istana yang ditarik oleh delapan kuda berwarna putih teratai dari jenis Valàhaka Sindhi; Raja Suddhodana turut menyertainya, menemaninya hingga sejauh setengah yojanà; dari sana ia turun dan kembali setelah menerima penghormatan dari ratu dan mengucapkan kata-kata dukungan. Kuda-kuda putih itu dengan gembira menarik kereta, berpikir, “Pelayanan kita dengan menarik Ratu Mahàmàyà dengan Bodhisatta yang sedang dikandungnya akan membuahkan jasa yang dapat membawa menuju Nibbàna.”
Atthakathà dari Buddhavamsa dan Jàtaka serta Jinàlanukàra Tikà tidak menyebutkan hal ini. Yang disebutkan hanya bahwa perjalanan itu dilakukan dengan mengendarai tandu emas.
Hutan Sala Lumbini
Sehubungan dengan Hutan Sala Lumbini, dua versi—satu dari Buddhavamsa Atthakathà dan yang lain dari Jàtaka Atthakathà―dituliskan di sini. Kalimat “…berloncatan ke sana kemari menikmati sari makanan untuk mereka dan membawakannya untuk yang lain” adalah sesuai dengan tulisan Ngakhon Sayadaw. Terlihat dalam komentar dari buku Sayadaw tersebut berisi “anubhuttasanjàràhi”. Dalam Komentar-Komentar, bahkan yang bersumber dari edisi Chattha Sangàyanà, terdapat “anubhuttasanjàràhi”. Kamus mengartikan panjara yang terdapat dalam Komentar sebagai ‘sangkar’, namun ‘sangkar’ tidaklah tepat.
Juga, parabhata-madhukara-vadhudi diterjemahkan “dengan lebah-lebah betina yang membawakan (makanan) untuk lebah-lebah lain juga.” Walaupun parabhata memiliki kicauan seperti dalam arti dalam abhidhàna, arti tersebut tidak sesuai di sini, tidak pada tempatnya. Oleh karena itu, Ngakhon Sayadaw menyebutkan “membawakan untuk yang lain” dalam terjemahannya.
Mempertimbangkan terjemahan secara rasional, kita dapat melihat pembagian tugas antara lebah-lebah ini: (1) ada lebah-lebah (betina) yang membawa berbagai jenis makanan yang tersedia dari empat penjuru, (2) lebah-lebah betina yang menunggu di sarangnya dan mengolah berbagai rasa makanan tadi menjadi madu yang manis.
Di sini dalam Buddhavamsa Atthakathà, yang dimaksudkan adalah lebah betina (pekerja). Oleh karena itu “parabhata-madhukara-vadhudi” harus diterjemahkan “lebah-lebah betina mengolah makanan menjadi madu dari berbagai jenis dan rasa makanan yang dibawa oleh lebah-lebah lain (lebah pembawa makanan)”. Sehingga dapat diterima jika kalimat tersebut adalah sebagai berikut: ”Lebah-lebah betina mengolah makanan menjadi madu dari berbagai jenis dan rasa makanan yang dibawa oleh lebah-lebah pembawa makanan yang beterbangan ke sana-kemari di antara pohon-pohon besar dan kecil untuk mengambil makanan.”
Kelahiran Bodhisatta
Sehubungan dengan kelahiran Bodhisatta, Tathàgata Udàna Dipani dan beberapa tulisan dalam bahasa Myanmar mengenai Buddhavamsa menyebutkan, “Ketika mendekati waktunya bagi Ratu Mahàmàyà untuk melahirkan, adiknya, Pajàpati Gotamã, memberikan bantuan dengan menyanggahnya dari sebelah kiri; ia melahirkan dengan dibantu oleh para pelayannya di sekelilingnya.” Dalam Buddhavamsa Atthakathà, Jàtaka Atthakathà dan Jinàlanukàra Tikà, disebutkan bahwa ketika waktu kelahiran hampir tiba setelah ia merasakan desakan dari rahimnya yang mendorong kelahiran, mereka yang melakukan perjalanan bersamanya membuat tirai dan kemudian pergi menjauhinya; ketika sedang sendirian itulah, ratu melahirkan Bodhisatta. Karya ini sesuai dengan apa yang dituliskan dalam komentar-komentar tersebut.
Pernyataan mengenai dua aliran air, hangat dan dingin, yang memungkinkan (ibu dan anak) menyesuaikan suhu tubuh mereka segera setelah kelahiran adalah berdasarkan penjelasan dari Mahàpadàna Sutta, Buddhavamsa Atthakatha, dan Jàtaka Atthakatha.
Apa yang secara khusus tertulis dalam Sutta Mahà Vagga Atthakathà, dari dua aliran air ini, yang dingin mengalir masuk ke dalam kendi emas dan yang hangat mengalir masuk ke dalam kendi perak. Dua aliran air ini yang turun dari langit itu dimaksudkan untuk digunakan oleh anak dan ibu, yang tidak dinodai oleh kotoran tanah, untuk diminum atau sekadar bermain-main, tidak untuk orang-orang lain. Selain air hangat dan dingin yang turun dari langit dan masuk ke dalam kendi emas dan perak, air dari Danau Haÿsa, dan lain-lain tersedia dalam jumlah yang tidak terbatas. Inilah hal khusus yang perlu menjadi perhatian.
Riwayat Kàladevila, Sang Petapa
(Nama petapa ini adalah Devala dalam versi Sinhala, dalam bahasa Myanmar disebut Devila.) Kisah Devila dikutip dari Sutta Nipàta Atthakathà, Vol. II.
Devila sang petapa adalah penasihat dari Raja Sihahanu, Raja Kapilavatthu dan ayah dari Raja Suddhodana. Karena kulitnya yang hitam, sang brahmana petapa dipanggil dengan nama Asita. Dia adalah guru istana dan penasihat yang melayani Raja Sihahanu dengan memberikan nasihat-nasihat sehingga raja dapat mengatasi semua situasi, baik itu urusan politik, administrasi, maupun hal-hal lain yang dihadapi.
Selama pemerintahan Raja Sihahanu, ia adalah guru dan pengawal bagi Pangeran Suddhodana yang masih sebagai pangeran dan belum naik tahta. Devila mengajarkan berbagai tata karma istana dan peraturan-peratuan kerajaan dan mendidiknya dalam hal ketatanegaraan serta melatih banyak keahlian.
Ketika Pangeran Suddhodana mewarisi tahta, dan dilantik menjadi raja setelah Raja Sãhahanu, ia tetap menjadi penasihat Raja Suddhodana.
Setelah naik tahta, Raja Suddhodana tidak menunujukkan penghormatan yang tinggi kepada gurunya seperti sewaktu ia masih menjadi seorang pangeran muda; dalam suatu persidangan, ia hanya mengangkat kedua tangannya untuk memberikan hormat sesuai tradisi seorang raja Sakya.
Karena tidak mendapatkan penghormatan dari raja seperti sebelumnya, karena keangkuhannya, sebagai seorang yang berasal dari kasta brahmana dan seorang guru, ia menjadi tidak bahagia, tidak puas, dan merasa bosan akan kewajibannya untuk datang ke istana, ia memohon restu dari sang raja untuk menjadi petapa.
Megetahui keinginan yang kuat dari guru, Suddhodana memohon, “Engkau boleh menjadi petapa. Tetapi setelah menjadi petapa, mohon agar tidak pergi jauh. Sudilah engkau menetap di tamanku agar aku dapat dengan mudah menemuimu.” Setelah menyanggupi permohonan raja dengan mengatakan, “Baiklah,” dan menjadi petapa serta menerima perlakuan yang menyenangkan dari raja ia menetap di taman kerajaan, terus-menerus bermeditasi dengan objek kasina hingga ia mencapai lima kekuatan batin. Setelah memperoleh kekuatan batin ini, ia biasanya makan setiap hari di istana Raja Suddhodana, kemudian berkunjung ke Pegunungan Himàlaya, Alam Catumahàràjika, Alam Tàvatimsa, dan tempat-tempat lain untuk melewatkan hari-harinya.
Silsilah Bodhisatta Secara Singkat
Sehubungan dengan penyelidikan Bodhisatta mengenai keluarga di mana ia akan dilahirkan (kula olokana), sejarah raja-raja Sakya, akan dijelaskan sebagai berikut. Penjelasan ini dimaksudkan untuk memahami ciri-ciri dari tingginya derajat Bodhisatta karena kelahirannya (jàtimahatta-guna).
Dalam periode pertama dari banyak kappa yang tidak terhitung lamanya (vivattathàyi asankhyeyya kappa), raja pertama umat manusia di awal terbentuknya dunia adalah Bodhisatta kita. Waktu itu Beliau bernama Manu.
Bodhisatta Manu terlihat lebih tampan, lebih menyenangkan dilihat, lebih dihormati, agung, dan berbudi luhur dibanding siapa pun di dunia ini pada masa-masa awal dunia.
Pada masa itu, umat manusia memiliki moral yang suci, namun lambat laun muncul orang-orang yang mulai melakukan tindak kejahatan seperti mencuri, dan lain-lain. Agar dapat hidup bebas dari bahaya ini dan agar dapat hidup dalam damai, orang-orang pada masa itu berdiskusi dan memutuskan untuk memilih seseorang yang dapat memimpin mereka dengan adil.
Mereka juga setuju bahwa Manu, Bodhisatta, adalah yang terbaik untuk memimpin mereka, karena ia memenuhi semua persyaratan yang diperlukan. Kemudian mereka semua mendatanginya dan mengajukan permohonan agar ia sudi menjadi pemimpin mereka.
Sewaktu Manu menjalani kewajibannya sebagai pemimpin, para penduduk di bawah kepemimpinannya menghormatinya dengan membayar pajak, sebagai imbalan atas jasanya sebagai pemimpin, yang berjumlah sepersepuluh dari panen yang mereka hasilkan.
Mendapat Tiga Gelar
1. Para penduduk secara bulat mengakui kepemimpinan Bodhisatta, tidak ada yang keberatan sama sekali, sebagai seorang yang mampu memimpin mereka dengan kebajikan, sehingga penghargaan diberikan dalam bentuk membayar pajak. Oleh karena itu ia mendapat gelar mahàsammata.
2. Tidak ada perselisihan atau pertengkaran sehubungan dengan kepemilikan tanah. (Jika ada) Yang Mulia Manu dengan kekuasaannya akan memutuskan dengan adil. Oleh karena itu ia mendapat gelar khattiya.
3. Karena ia dipilih oleh para penduduk untuk menjalani tugas-tugas kerajaan, ia mendapat gelar ketiga, ràjà.