• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Sambhogakaya dalam Tradisi Theravada

haizzz...
berat2 yaa.. hehe..
hmm..

umat Buddha perlu merealisasikan bukan hanya mengetahui saja..

hmm.. rasa duren gak bakal tau kalo gak makan duren..
konsep2 penggambaran duren itu adalah kulitnya biasa berwarna hijau, berduri, memiliki bau yang menyengat.. rasanya manis.. legit..

trus ngomong sama orang yang belum pernah makan duren.. hehe.. bisa rasain??

hmm.. maw taw rasanya nibbana??
konsep2 penggambaran nibbana itu adalah yang tidak terkondisi, tidak dilahirkan kembali maupun kematian, lenyapnya kekotoran batin..
rasanya.. rasanya?? bahagia mungkin.. damai.. tenang.. dan dikatakan dari segala macam rasa.. nibbana merupakan rasa yang paling nikmat..

trus ngomong sama orang yang belum nyobain nibbana.. gimana yach??

bingung dech ^^ hehe..

yup..
seorang arahat wajar jika bertanya.. karena pencerapan seorang arahat masih kurang dibandingkan Sammasambuddha.. kalo udah pada tau semua maka para arahat2 bahkan siswa utama Buddha sendiri kadang masih bertanya mengenai sesuatu hal.. contoh saat Y.A Sariputta bertanya tentang silsilah para Buddha kepada Buddha Gotama.. hal yang wajar..

satu hal yang tidak diragukan oleh seseorang atau sesemakhluk saat mereka telah mencapai nibbana.. bahwa mereka telah mengerti akan hal ini..

Segala yang berawal pasti akan berakhir.. yup.. that's all dan ini bukan pemahaman intelektual tapi pemahaman yang sifatnya langsung membatin (maaf kalo g pake kata 'membatin' <lagi gak kepikir kosakata yang tepat>)
 
sy rasa sudah jelas jawabannya.

kutipan dari Brahmajala Sutta.

25. “Para bhikkhu, bagi Dia yang di luar jala, Ia yang telah mencapai kesempurnaan, Tathagata, yang sedang berada di hadapan kamu, karena segala belenggu pengikat penyebab kelahiran kembali telah diputuskannya. Selama kehidupan jasmaninya masih ada, maka selama itu para dewa dan manusia dapat melihatnya. Tetapi tatkala kehidupan jasmaninya terputus di akhir masa kehidupannya, maka para dewa dan manusia tidak dapat lagi melihatnya. Bagaikan sebatang pohon mangga yang ditebang, maka semua buah yang ada di pohon mengikutinya. Demikian pula, walaupun tubuh jasmani dari Dia yang telah mencapai kesempurnaan, Tathagata, masih berada di depan kamu, namun demikian semua belenggu penyebab kelahiran kembali telah diputuskannya. Selama kehidupan jasmaninya masih ada, maka selama itu para dewa dan manusia dapat melihatnya. Tetapi tatkala kehidupan jasmaninya terputus di akhir masa kehidupannya, maka para dewa dan manusia tidak dapat lagi melihatnya.”
 
sy rasa sudah jelas jawabannya.

kutipan dari Brahmajala Sutta.

25. “Para bhikkhu, bagi Dia yang di luar jala, Ia yang telah mencapai kesempurnaan, Tathagata, yang sedang berada di hadapan kamu, karena segala belenggu pengikat penyebab kelahiran kembali telah diputuskannya. Selama kehidupan jasmaninya masih ada, maka selama itu para dewa dan manusia dapat melihatnya. Tetapi tatkala kehidupan jasmaninya terputus di akhir masa kehidupannya, maka para dewa dan manusia tidak dapat lagi melihatnya. Bagaikan sebatang pohon mangga yang ditebang, maka semua buah yang ada di pohon mengikutinya. Demikian pula, walaupun tubuh jasmani dari Dia yang telah mencapai kesempurnaan, Tathagata, masih berada di depan kamu, namun demikian semua belenggu penyebab kelahiran kembali telah diputuskannya. Selama kehidupan jasmaninya masih ada, maka selama itu para dewa dan manusia dapat melihatnya. Tetapi tatkala kehidupan jasmaninya terputus di akhir masa kehidupannya, maka para dewa dan manusia tidak dapat lagi melihatnya.”
 
Alam manusia, dewa, dll disebut jg alam "rupadhatu"
Didalam sutra budhis sy pernah baca ada satu alam yg disebut "Aruppadhatu"

alam yg sangat halus sekali. tak memiliki wujud dan jasmani. hanya kesadaran yg paling halus yg tertinggal. yg umumnya terdapat dlm meditasi jhana yg sudah tinggi. orang yg berada dlm kekosongan jhana ini disebut tengah berdiam dialam "aruppadhatu"

dialam ini tdk ada lagi fisik dan jasmani. seluruh kesadarannya adalah alam kekosongan. tp ia tetap berdiam disana sehingga tetap melekat pd kekosongan.

Sayadaw pernah membahas perihal ini.
 
Tidak berwujud dgn tidak memiliki jasmani itu sama ga ?

kalo kesadaran itu berwujud ga ?

kalo ga ada wujud, bagaimana yg berwujud bisa mengetahui yg tidak berwujud ? sesuatu itu harus ADA terlebih dahulu, kalo ADA , dia harus memiliki komponen skhanda membuatnya jadi ADA, agar bisa diketahui dan yg mengetahui pun harus memiliki skhanda sebagai media nya.

Kalo ADA itu saja berwujud ga ?

Kalo sangat halus, walaupun sangat halus sekalipun, apakah itu termasuk wujud ? sejauh ia dapat diidentifikasi, maka apapun itu telah berwujud walaupun dikatakan halus dan sangat halus.
 
Tidak berwujud dgn tidak memiliki jasmani itu sama ga ?

kalo kesadaran itu berwujud ga ?

kalo ga ada wujud, bagaimana yg berwujud bisa mengetahui yg tidak berwujud ? sesuatu itu harus ADA terlebih dahulu, kalo ADA , dia harus memiliki komponen skhanda membuatnya jadi ADA, agar bisa diketahui dan yg mengetahui pun harus memiliki skhanda sebagai media nya.

kesadaran tidaklah berwujud....karena tidak bisa di lihat dan sifat nya bukan materil^^...
tapi berkondisi adalah sifat aslinya

sepertinya harus di jelaskan tentang hukum Patticasamupadda nih...
rumusan patticasamupadda
1.dengan adanya AVIJJA maka muncullah SANKHARA
2.dengan adanya SANKHARA maka muncullah VINNANA
3.dengan adanya VINNANA maka muncullah NAMA-RUPA
4.dengan adanya NAMA-RUPA maka muncullah SALAYATANA
5.dengan adanya SALAYATANA maka muncullah PHASSA
6.dengan adanya PHASSA maka muncullah VEDANA
7.dengan adanya VEDANA maka muncullah TANHA
8.dengan adanya TANHA maka muncullah UPADANA
9.dengan adanya UPADANA maka muncullah BHAVA
10.dengan adanya BHAVA maka muncullah JATI
11.dengan adanya JATI maka muncullah JARA-MARANA.

kalau sebalikknya maka akan menjadi
1.dengan lenyapnya AVIJJA maka lenyaplah SANKHARA
2.dengan lenyapnya SANKHARA maka lenyaplah VINNANA
3.dengan lenyapnya VINNANA maka lenyaplah NAMA-RUPA
4.dengan lenyapnya NAMA-RUPA maka lenyaplah SALAYATANA
5.dengan lenyapnya SALAYATANA maka lenyaplah PHASSA
6.dengan lenyapnya PHASSA maka lenyaplah VEDANA
7.dengan lenyapnya VEDANA maka lenyaplah TANHA
8.dengan lenyapnya TANHA maka lenyaplah UPADANA
9.dengan lenyapnya UPADANA maka lenyaplah BHAVA
10.dengan lenyapnya BHAVA maka lenyaplah JATI
11.dengan lenyapnya JATI maka lenyaplah JARA-MARANA

demikianlah jika melenyapkan seluruh nidana( faktor-faktor) ini maka lenyaplah DUKKHA(penderitaan)

Penjelasan rincian nya adalah

1.AVIJJA adalah sebuah kebodohan batin atau kegelapan batin yang tidak mampu menembus 4 kesunyataan mulia, sehingga orang-orang selalu berpegang pada adanya "diri yang kekal" "atta yang kekal" dan "terpisah"

2.Sankhara adalah bentuk batin yang merupakan kehendak yang membabar melalui jasmani,ucapan dan pikiran.yang juga dapat disebut bentuk-bentuk kamma.

3.VINNANA adalah kesadaran dengan ini yang dimaksudkan adalah kesadaran yang merupakan akibat(vipaka) dari bentuk-bentuk kamma. baik kesadaran yang baik atau tidak baik. kesadaran ini disebut "Patisandhi vinnana" atau kesadaran yang menyambung kembali suatu bentuk kehidupan.

4.NAMA-RUPA adalah batin dan jasmani
dengan batin(NAMA) yang dimaksudkan disini adalah 3 khandha Yaitu : VEDANA, SANNA dan SANKHARA karena VINNANA merupakan dasar syarat dari pertumbuhan NAMA-RUPA. tetapi jika tidak berhubungn PATICASAMUPADDA, maka dengan NAMA selalu dimaksud 4 khandha yaitu :
VEDANA, SANNA, SANKHARA, VINNANA.

5.SALAYATANA adalah landasan enam indria yaitu:
a.mata
b.telinga
c.hidung
d.lidah
e.jasmani
f.pikiran dan hati

6 landasan ini muncul berbarengan dan bersamaan dengan NAMA-RUPA dan 6 landasan ini merupakan akibat(vipaka) kamma dari kehidupan lampau

6.PHASSA ialah kesan-kesan yaitu:
a.kesan mata
b.kesan telinga
c.kesan lidah
d.kesan hidung
e.kesan sentuhan
f.kesan batin.
semua ini adalah buah kamma yang baik atau tidak baik dari kehidupan lampau

7.VEDANA adalah perasaan yang muncul dari kesan-kesan 6 indria ini

8.TANHA adalah keinginan atau kehausan yang tak habis-habis nya mencari kepuasan di sana sini...
terdapat 3 macam tanha :

1. Kämatanhä : kehausan akan kesenangan indriya, ialah kehausan akan :
a. bentuk-bentuk (indah)
b. suara-suara (merdu)
c. wangi-wangian
d. rasa-rasa (nikmat)
e. sentuhan-sentuhan (lembut)
f. bentuk-bentuk pikiran

2. Bhavatanhä : kehausan untuk lahir kembali sebagai manusia berdasarkan kepercayaan tentang adanya "atma (roh) yang kekal dan terpisah" (attavada).

3. Vibhavatanhä : kehausan untuk memusnahkan diri, berdasarkan kepercayaan, bahwa setelah mati tamatlah riwayat tiap-tiap manusia (ucchedaväda).


9.UPADANA adalah kemelekatan yang terdiri dari 4 macam :
a.KAMUPADANA adalah kemelekatan pada :
-bentuk
-suara
-bau
-rasa kecupan
-rasa sentuhan
-bentuk-bentuk pikiran
singkat nya adalah kemelekatan kesenangan indiria

b.Ditthupadana adalah kemelekatan pada pandangan yang salah
contoh : menanggap berdana tidak ada pahalanya,menghormati ibu-bapak tidak ada pahalanya,berbuat kebajikan tidak ada pahalanya, dan lainnya

c.Silabbatupadana adalah kemelakatan pada upacara agama yang menanggap bahwa upacara agama dapat menghasilkan kesucian.

d.Attavadupadana adalah kemelekatan pada kepercayaan tentang adanya "aku" atau "atta" yang kekal dan terpisah.

10.BHAVA adalah proses dumadi yang terdiri 2 macam
a.kammabhava adalah proses kamma yaitu muncul nya bentuk-bentuk kamma yang menyebabkan tumimbal lahir( yang bersifat aktif 1,2,8,9,10)

b.Upattibhava adalah proses tumimbal lahir yaitu buah kamma yang lalu (kamma-vipaka) yang bersifat pasif no 3,4,5,6,7.

11.JATI adalah kelahiran yaitu munculnya 5 khandha.

12.JARA-MARANA adalah ketuaan/kelapukan, kematian atau serangkaian penderitaan seperti ratap tangis, putus asa, mata, susah hati, dsb-nya.

jadi sang buddha pernah berkata "avijja merupakan tabir yang sangat tebal dimana kita terbungkus didalamnya"

=========

@akiong
yang dimaksud (arupa) itu misalkan seperti cahaya....apakah wujud cahaya itu ada?
tentu tidak ada wujud cahaya...tapi cahaya itu nyata^^

salam.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.