• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Sambhogakaya dalam Tradisi Theravada

marcedes

IndoForum Junior E
No. Urut
17648
Sejak
21 Jun 2007
Pesan
1.552
Nilai reaksi
20
Poin
38
di kutip dari tetangga.

Selama ini kita kenal Sambhogakaya hanya ada di tradisi Mahayana dan Vajrayana. Di dalam Theravada hanya dikenal 2 tubuh lainnya saja yaitu Manussabuddha (Nirmanakaya dalam Mahayana) dan Dhammakaya (Dharmakaya dalam Mahayana). Tradisi Theravada tidak mengenal adanya Sambhogakaya. Tapi sebenarnya apakah yang dialami Acariya Mun Bhuridatta itu Sambhogakaya?

Sambhogakaya dalam Tradisi Theravada?

Tinggal di Goa Sarira, Acariya Mun sering dikunjungi oleh para Savaka Arahant, yang muncul di hadapannya melalui samadhi nimitta. Masing-masing savaka Arahant memberikan pembabaran Dhamma untuk membantunya, menerangkan praktek-praktek tradisi dari para Arya.

…………

Seorang savaka Arahant, setelah memberikan pembabaran tersebut dan meninggalkannya, Acariya Mun dengan rendah hati menerima ajaran Dhamma tersebut. Ia waspada dalam mengkontemplasi setiap aspek dari ajaran tersebut, memisahkan tiap-tiap poin dan menganalisa semuanya dengan cermat, satu demi satu. Ketika lebih banyak savaka Arahant yang datang untuk mengajarinya (Dhamma) dengan cara ini, maka ia (Acariya Mun) mendapatkan banyak pemahaman baru ke dalam praktek hanya dengan mendengarkan pembabaran (para savaka Arahant tersebut). Mendengarkan pembabaran Dhamma yang sangat menakjubkan ini, semangat Acariya Mun untuk bermeditasi meningkat, sehingga banyak meningkatkan pemahamannya terhadap Dhamma.

Acariya Mun dikisahkan mencapai tingkatan Anagami ketika ia bermeditasi di goa tersebut, setelah mendengarkan pembabaran para savaka Arahant.

=============================================================================

Pada malam hari ketika Acariya Mun mencapai vimutti, sekelompok Buddha, diikuti oleh para pengikut Arahanta Mereka, datang untuk mengucapkan selamat padanya karena telah mencapai vimuttidhamma. Pada suatu malam, seorang Buddha, diikuti oleh 10000 pengikut Arahant, datang untuk berkunjung; malam hari berikutnya, ia dikunjungi oleh Buddha yang lain, yang diikuti pula oleh 100000 Arahant. Setiap malam, ia dikunjungi oleh Buddha yang berbeda, yang datang untuk memberikan apresiasi pada Acariya Mun, diikuti oleh pengikut Arahant dengan jumlah yang berbeda-beda.

Acariya Mun berkata bahwa jumlah dari pengikut Arahant bermacam-macam tergantung dari kusala kamma / parami yang dikumpulkan oleh Buddha tersebut, sebuah faktor yang membedakan satu Buddha dengan Buddha lainnya. Jumlah Arahant yang mengikuti setiap Buddha tidak merepresentasikan jumlah seluruh dari pengikut Arahant-Nya, mereka hanya menunjukkan parami yang dimiliki oleh masing-masing Buddha. Di antara para pengikut Arahant tersebut, terdapat sedikit samanera.

…………..

Acariya Mun menjawab bahwa ia tidak memiliki keraguan tentang sifat sejati dari Buddha dan para Arahant. Apa yang masih menjadi pertanyaan baginya adalah: Bagaimana mungkin Sang Buddha dan para Arahant, yang telah mencapai anupadisesa-nibbana, yang tanpa sisa dan bebas dari realita konvensional, masih muncul dalam wujud tubuh. Sang Buddha menjelaskan persoalan ini padanya:

Jika mereka yang telah mencapai anupadisesa nibbana hendak berinteraksi dengan Arahant lainnya, yang telah membersihkan hati mereka namun masih memiliki tubuh fisik yang sementara ini, maka mereka harus secara sementara mengambil wujud ‘duniawi’ dengan tujuan untuk membuat kontak. Namun, jika semua perhatian telah mencapai anupadisesa nibbana, yang tanpa sisa dan tanpa realita konvensional, maka penggunaan wujud konvensional tidak lagi dibutuhkan. Maka dari itu perlu untuk mengambil wujud konvensional ketika berhadapan dengan realita konvensional, namun ketika dunia konvensional telah dilampaui secara sempurna, maka tidak ada lagi masalah yang timbul.

Semua Buddha mengetahui kejadian yang berkaitan dengan masa lalu dan masa depan dengan nimitta yang menyimbolkan realita konvensional dari kejadian yang ditanyakan. Sebagai contoh, ketika seorang Buddha berkeinginan untuk mengetahui kehidupan-kehidupan Buddha-Buddha yang sebelum-Nya, maka ia harus mengambil nimitta dari tiap Buddha, dan keadaan-keadaan tertentu yang mana Ia alami, sebagai alat untuk membawa langsung pada pengetahuan tersebut. Jika sesuatu eksis di luar dunia relatif dari realita konvensional, yaitu vimutti, maka tidak ada simbol yang dapat merepresentasikannya. Oleh karena itu, pengetahuan tentang Buddha-Buddha masa lampau bergantung pada konvensi duniawi yang memberikan dasar umum bagi pengertian, seperti yang digambarkan oleh kedatanganku kali ini. Hal tersebut diperlukan bahwa Aku dan para semua pengikut Arahant-Ku muncul dalam wujud sementara kita, agar yang lainnya, seperti dirimu, dapat memiliki cara untuk menentukan seperti apakah wujud kita. Jika kita tidak muncul dengan wujud ini, maka tiada seorangpun yang dapat melihat kita.

Pada saat ketika diperlukan untuk berinteraksi dengan realita konvensional, maka vimutti harus dimanifestasikan dengan cara-cara konvensional yang cocok/benar. Dalam kasus vimutti yang murni, ketika dua citta yang telah termurnikan saling berinteraksi satu sama lain, maka yang muncul hanya esensi kualitas dari mengetahui – yang tidak mungkin dijelaskan dengan cara apapun. Maka ketika kita ingin menunjukkan sifat dari kesucian sempurna, maka kita harus menggunakan cara-cara kovensional untuk membantu kita menggambarkan pengalaman dari vimutti. Kita dapat berkata bahwa vimutti adfalah “kondisi pabhassara (bercahaya dengan sendirinya) bebas dari semua nimitta yang merepresentasikan kebahagiaan sempurna”, secara singkat, namun pernyataan ini sudah banyak digunakan dan hanya merupakan metafora konvensional. Seseorang yang mengetahui dengan jelas hal tersebut dalam hatinya, maka tidak akan mungkin memiliki keraguan terhadap vimutti. Oleh karena karakteristik yang sebenarnya tidak akan mungkin dapat dijabarkan, vimutti tidak dapat dibayangkan di dalam artian relatif dan konvensional. Meskipun begitu, vimutti bermanifestasi secara konvensional dan vimutti yang eksis di dalam kondisi asal mulanya, diketahui dengan jelas dan sempurna oleh Arahant. Hal ini mencakup vimutti yang memanifestasikan dirinya dengan cara menggunakan aspek-aspek konvensional di bawah keadaan tertentu, dan vimutti yang eksis di dalam tingkatan asal mulanya yaitu tidak berkondisi. Apakah kamu menanyakan hal ini karena kamu ragu ataukah sebagai sebuah percakapan saja?

Acariya Mun menjawab: “Aku tidak memiliki keraguan terhadap aspek konvensional dari semua Buddha, ataupun aspek yang tidak berkondisi. Pertanyaanku hanyalah merupakan sebuah cara konvensional untuk menunjukkan penghormatan. Meskipun tanpa kedatangan Anda dan para pengikut Arahant, aku tidak memiliki keraguan di mana letak Buddha, Dhamma dan Sangha yang sesungguhnya berada. Ini adalah keyakinanku yang sangat jelas bahwa siapapun yang melihat Dhamma melihat Tathagata. Ini berarti bahwa Sang Buddha, Dhamma dan Sangha masing-masing menunjukkan tingkatan kemurnian yang sama, yang sepenuhnya bebas dari realita konvensional, yang dikenal sebagai Tiga Permata (Triratna).”

Salah satu kritik terhadap Acariya Mun adalah bahwa Kanon Pali tidak mencantumkan satu kejadianpun yang mendukung pernyataan Acariya Mun, bahwa para Arahant yang telah parinibbana datang untuk mendiskusikan Dhamma dengannya dan menunjukkan cara mereka mencapai Nibbana.

Acariya Mun kemudian berkata bila kita menerima bahwa Tipitaka tidak memegang monopoli atas Dhamma, maka tentu saja mereka yang mempraktekkan ajaran Buddha dengan benar akan dengan sendirinya mengetahui segala aspek dari Dhamma, sesuai dengan kemampuan alami mereka, tanpa peduli apakah dicantumkan dalam Tipitaka atau tidak.

(Dikutip dari Biografi Spiritual Yang Mulia Acariya Mun Bhuridatta Thera karya Acariya Maha Boowa Nanasampanno)

Tubuh Cahaya Buddha

Tubuh Cahaya Buddha (Sambhogakaya) adalah cahaya penuh keindahan yang ada pada tubuh Buddha. Ini adalah aspek yang meliputi kebahagiaan semua Buddha dalam Kebenaran, kebahagiaan dalam mengajarkan Kebenaran, dan membawa yang lain merealisasikan Kebenaran. Karena semua Buddha telah praktek tak terhitung lamanya dan telah memperoleh kesempurnaan Kebijaksanaan dan Belas Kasih, masing-masing mempunyai Kedamaian, Kegembiraan, dan Kebahagiaan yang tak terkira, seperti yang dituangkan dalam Sambhogakaya. Para Buddha biasanya tidak nampak dalam tubuh ini karena kita tidak dapat "mencema" akibat keterbatasan pengertian kita. Malahan, para Buddha berwujud Nirnanakaya.

Sambhogakaya adalah 'tubuh rahmat' atau tubuh cahaya yang sering dinyatakan dengan perwujudan surgawi yang dapat dilihat oleh makhluk surga dan Bodhisattva.

Dengan bulan sebagai perumpamaan dari Buddha, maka Sambhogakaya itu seperti bulan purnama yang tidak terhalang awan, yang bersinar terang dalam cahaya totalnya.

Siapakah Acariya Mun

Acariya Mun (1870-1949 M), beserta gurunya, Ajahn Sao Kantasilo (bhikkhu dari aliran Dhammayuttika), adalah para pelopor Tradisi Hutan di Thailand (tradisi Kammatthana). Acariya Mun dipercaya telah mencapai tingkat Arahat.

Beliau adalah guru dari Acariya Maha Boowa. Yang Mulia Acariya Mun Bhuridatta Thera adalah seorang tokoh terkemuka dalam Buddhisme Theravada Thai zaman sekarang.

Dalam Visuddhi Magga, komentator kanon Pali Theravada yang terkemuka, YA Buddhaghosa pernah berkata, "Sang Buddha memiliki Rupakaya yang sangat indah yang ditandai dengan 80 tanda-tanda kecil dan 32 tanda-tanda besar seorang manusia agung, dan memiliki Dhammakaya yang murni di segala aspek dan dimuliakan oleh Sila, Samadhi, penuh dengan kemegahan dan kebajikan, tidak tertandingi dam tercerahkan sempurna."

"yo pi so Bhagava asiti anuvyanjanapatimandita- dvattimsamahapurisalakkhana-vicitra-rupakayo sabbakaraparisuddha-silakkhandhadi-gunaratana- samiddha-dhammakayo yasamahatta-punnamahatta..... appatipuggalo araham sammasambuddho"

Di dalam Atthasallini, Buddhaghosa mengatakan bahwa selama 3 bulan perginya Sang Buddha, ketika Ia membabarkan Abhidhamma pada ibunya di surga Tusita, Sang Buddha memunculkan para Nimitta-buddha persis seperti wujud-Nya. Nimitta-buddha - Nimitta-buddha tidak dapat dibedakan dari Sang Buddha sendiri.

Sang Buddha memunculkan Nimitta-buddha di Tavatimsa sebagai pengganti-Nya membabarkan Abhidharma, ketika Sang Buddha setiap hari pergi mandi ke Danau Anotatta (Anavatapta).

Nah kita menemukan kata kunci dari kedua pernyataan di atas yaitu:

1. Ketika Acariya Mun bertanya: "Bagaimana mungkin Sang Buddha dan para Arahant, yang telah mencapai anupadisesa-nibbana, yang tanpa sisa dan bebas dari realita konvensional, masih muncul dalam wujud tubuh?" maka mungkin secara tidak langsung menunjuk pada Rupakaya yang disebutkan Buddhaghosa.

2. Para savaka Arahant muncul di hadapan Acariya Mun melalui samadhi nimitta. Nah berdasarkan kutipan karuna_murti (dr E-Sangha ya?) dan Atthasalini, juga ditemukan kata "nimitta". Dhamma-nimitta adalah kebajikan dan konsentrasi, sama dengan Sambhogakaya sebagai Tubuh Kebajikan.

Sedangkan dalam Atthasalini "Nimitta-buddha" adalah seperti tubuh "ajaib" yang tidak berbeda dengan Sang Buddha sendiri. Sama dengan Sambhogakaya. Bahkan antara keduanya ada kesamaan, yaitu "Nimitta-buddha" dan Sambhogakaya berkaitan dengan alam surgawi.

Dalam aliran Vajrayana, Rupakaya ini dibagi menjadi dua yaitu Nirmanakaya dan Sambhogakaya.

YA Chandrakirti, pendiri aliran Prasangika Madhyamika - Mahayana, menggunakan kata-kata Rupakaya sebagai sinonim dari Sambhogakaya. YA Chandrakirti juga mengatakan bahwa Rupakaya dihasilkan dari kebajikan yang dikumpulkan, mirip dengan Acariya Mun yang mengatakan bahwa jumlah Arahant yang mengikuti seorang Buddha yang datang padanya, bergantung pada parami yang dikumpukan Buddha tersebut.

Nama lain Rupakaya adalah Vipakaya yaitu tubuh yang muncul sebagai hasil dari tindakan bajik.

Sekte Yogacara dari aliran Mahayana, membedakan Rupakaya menjadi 2:
1. Rupakaya kasar yaitu Nirmanakaya
2. Rupakaya inti yaitu Sambhogakaya

Sekte-sekte Buddhis awal seperti Mahasanghika dan Sarvastivada memiliki perbedaan pendapat. Bagi Mahasanghika, Rupakaya Sang Buddha adalah murni dan tanpa asrava, sedangkan menurut Sarvastivada dan YA Vasubandhu, Rupakaya Sang Buddha adalah tidak murni. Rupakaya yang dimaksud di sini adalah Nirmanakaya. Namun Sarvastivada juga mengatakan bahwa Buddha juga memiliki "tubuh ajaib yang dapat memunculkan berbagai transformasi", selain Rupakaya.

Jadi dalam Theravada, Sarvastivada dan Mahasanghika, Rupakaya hanyalah menjelaskan Nirmanakaya, tidak Sambhogakaya.

Satu-satunya referensi dalam Theravada tentang Sambhogakaya hanyalah "Nimitta-buddha" atau "Dhamma-nimitta".

Maka dari itu pengalaman Acariya Mun memang tidak ada dalam Tipitaka Pali, tetapi ada dalam Tripitaka Mahayana.

di satu sisi berarti sang buddha masih memiliki kesadaran yang notebane nya adalah penderitaan?...............agak rancu pernyataan ini
 
di kutip dari tetangga.

di satu sisi berarti sang buddha masih memiliki kesadaran yang notebane nya adalah penderitaan?...............agak rancu pernyataan ini

Salah satu aspek yang sering "dibanggakan" oleh kaum MAHAYANIS adalah bahwa ajaran MAHAYANA mengajarkan jalur BODHISATVA untuk mencapai annutara sammasambuddha.

Bahkan dikatakan dalam Saddhamapundarika sutra, "katanya" BUDDHA SAKYAMUNI meramalkan pencapaian sammsambuddha dari beberapa murid beliau yang telah mencapai tingkat ARAHAT.

Lebih lanjut di dalam Saddharmapundarika sutra dan Lankavatara Sutra dikatakan bahwa para ARAHAT masih mempunyai kesempatan untuk mencapai Annutara sammasambuddha.

Sehingga sering berkembang polemik tentang kedudukan ARAHAT dan BODHISATVA...

Sedangkan menurut yang saya pahami dengan latar belakang THERAVADA, di dalam BUDDHAVAMSA (kitab tentang riwayat agung para buddha), kisah tentang petapa sumedah (bakal BUDDHA SAKYAMUNI) yang beraspirasi mencapai sammasambuddha di hadapan BUDDHA DIPANKARA, "terpaksa" harus mengarungi tambahan kehidupan selama 4 asankheya kappa dan 100.000 kappa untuk menyempurnakan "PARAMI"-nya dan mendapat RAMALAN PASTI dari BUDDHA DIPANKARA bahwa pada suatu saat dimasa datang, petapa sumedha akan mencapai annutara sammasambuddha dengan nama BUDDHA GOTAMA.

Kemudian kisah petapa Sarada (bakal SARIPUTRA THERA) yang beraspirasi menjadi AGGASAVAKA (siswa utama seorang sammasambuddha) dihadapan BUDDHA ANOMADASSI, "terpaksa" harus mengarungi tambahan kehidupan 100.000 kappa untuk menyempurnakan "PARAMI"-nya dan petapa SARADA mendapat ramalan pasti dari BUDDHA ANOMADASSI bahwa dimasa mendatang, petapa SARADA akan menjadi AGGASAVAKA dari BUDDHA GOTAMA.

Dari cerita BUDDHAVAMSA diatas, petapa sumedha dan petapa sarada pada kehidupan BUDDHA yang lampau, telah memiliki potensi untuk mencapai tingkat kesucian ARAHAT, tetapi ketika mereka memiliki aspirasi yang walaupun demikian AGUNG-nya, maka pencapaian ARAHAT masih belum bisa direalisasikan. Karena para ARAHAT telah mencapai keadaan egaliter non-dualisme.

Terminologi BODHISATVA (menurut saya) tentunya adalah calon SAMMASAMBUDDHA... ketika seseorang individu mendapat RAMALAN PASTI dari seorang SAMMASAMBUDDHA tentang aspirasinya mencapai annutara sammasambuddha, maka masuklah individu tersebut ke dalam jalur BODHISATVA (harus menempuh lagi tambahan 4 asankheya kappa buat bakal sammasambuddha pannadhika -unggul dalam kebijaksanaan- spt BUDDHA GOTAMA , 8 assankheya kappa buat bakal sammasambuddha saddhadhika -unggul dalam keyakinan-, 16 assankheya kappa buat bakal sammasambuddha viriyadhika -unggul dalam semangat- seperti BUDDHA akan datang MAITREYA)
 
di satu sisi berarti sang buddha masih memiliki kesadaran yang notebane nya adalah penderitaan?...............agak rancu pernyataan ini

bukan kesadaran. tapi melingkupi segalanya, ia sudah bukan bentuk ataupun bentuk lagi.semua sama saja.

bila asumsi nibanna adalah tak pernah lahir lagi, maka selamanya kita yang akan terlahir lagi.

yang melihat nibana- terlahir atau tidak terlahir = seterusnya terlahir

salam metta
 
bukan kesadaran. tapi melingkupi segalanya, ia sudah bukan bentuk ataupun bentuk lagi.semua sama saja.

bila asumsi nibanna adalah tak pernah lahir lagi, maka selamanya kita yang akan terlahir lagi.

yang melihat nibana- terlahir atau tidak terlahir = seterusnya terlahir

salam metta

gak ngerti bro...
 
bukan kesadaran. tapi melingkupi segalanya, ia sudah bukan bentuk ataupun bentuk lagi.semua sama saja.

bila asumsi nibanna adalah tak pernah lahir lagi, maka selamanya kita yang akan terlahir lagi.

yang melihat nibana- terlahir atau tidak terlahir = seterusnya terlahir

salam metta

Nice posting, kalau kita terbelenggu seperti yang diatas maka selamanya kita akan terlahir kembali. :) :) :)
 
bukan kesadaran. tapi melingkupi segalanya, ia sudah bukan bentuk ataupun bentuk lagi.semua sama saja.

bila asumsi nibanna adalah tak pernah lahir lagi, maka selamanya kita yang akan terlahir lagi.

yang melihat nibana- terlahir atau tidak terlahir = seterusnya terlahir

salam metta

jadi yang ngomong sama Y.M Bhuridatta itu apa?
dari mana muncul nya kata atau ucapan / bahasa baik bahasa batin maupun bahasa umum...kalau tanpa kesadaran dan pikiran

bila para sammasambuddha berkata bahwa nibbana adalah kondisi dimana tidak akan lagi terlibat dalam kelahiran......gimana itu = lahir = penderitaan?


Acariya Mun menjawab bahwa ia tidak memiliki keraguan tentang sifat sejati dari Buddha dan para Arahant. Apa yang masih menjadi pertanyaan baginya adalah: Bagaimana mungkin Sang Buddha dan para Arahant, yang telah mencapai anupadisesa-nibbana, yang tanpa sisa dan bebas dari realita konvensional, masih muncul dalam wujud tubuh. Sang Buddha menjelaskan persoalan ini padanya:

ini rancu benar.......kenyataan masih ragu-ragu tentang nibbana.....tetapi pernyataan di satu sisi tidak ragu-ragu.....
lagian mengapa musti sang buddha yang jika notabane nya masih memiliki kesadaran di alam ?????
munculkan saja wujud tubuh nya di alam manusia lalu mengajarkan dhamma.
 
"Jika mereka yang telah mencapai anupadisesa nibbana hendak berinteraksi dengan Arahant lainnya, yang telah membersihkan hati mereka namun masih memiliki tubuh fisik yang sementara ini, maka mereka harus secara sementara mengambil wujud ‘duniawi’ dengan tujuan untuk membuat kontak. Namun, jika semua perhatian telah mencapai anupadisesa nibbana, yang tanpa sisa dan tanpa realita konvensional, maka penggunaan wujud konvensional tidak lagi dibutuhkan. Maka dari itu perlu untuk mengambil wujud konvensional ketika berhadapan dengan realita konvensional, namun ketika dunia konvensional telah dilampaui secara sempurna, maka tidak ada lagi masalah yang timbul"


kalimat ini sptnya hampir mirip dgn kata2 dari master zen chang seng yen. menggunakan kata2 "biasa" untuk menunjukkan kata2 sejati. bila sudah mengerti maka kata2 sejati sekalipun tidak lagi dibutuhkan. kata "sejati" bkn berarti kata2 indah tp pencerahan.

@singthung
bila pertanyaan terus muncul apakah itu akan padam sepenuhnya? bagaimanakah pertanyaan2 bs terus muncul?apakah orang yg mencapai nibanna masih diliputi pertanyaan? bagaimana pertanyaan itu bs lenyap dari segala pandangan?
mohon penjelasannya. tx
 
Jadi ada polemik...

Nibbana yang saya "yakini-saddha" adalah nibbana yang setelah parinibbana (mencapai nibbana tanpa sisa), maka terputus-lah lingkaran samsara kelahiran. Itulah kebahagiaan tertinggi.

Jika ada nibbana (versi tertentu), yang "katanya" masih mengambil wujud tidak konvensional untuk bisa berinteraksi dengan kita kita (manusia), maka nibbana (versi tertentu) itu tidak memutus lingkaran samsara kelahiran, karena masih mengambil "tempat" di suatu alam... (katanya di ARAHAT DHARMADATU)...

Bingung kan ?? Kedua pandangan tersebut kontradiksi...
 
bila pikiran anda nibanna adalah tak terlahir-tanpa sisa.
lalu kapankah nibanna akan tercapai

"pikiran" nibanna tanpa sisa, itu adalah sisa.

sisa yang terus terbawa sampai kapanpun.

berapapun jumlah kelahiran bila terus berusaha bersama dengan sisa itu. selamanya adalah tetap sisa.


karena masih mengambil "tempat" di suatu alam...

tidak ditempat manapun. semuanya sama saja.

salam metta
 
bila pikiran anda nibanna adalah tak terlahir-tanpa sisa.
lalu kapankah nibanna akan tercapai

"pikiran" nibanna tanpa sisa, itu adalah sisa.

sisa yang terus terbawa sampai kapanpun.

berapapun jumlah kelahiran bila terus berusaha bersama dengan sisa itu. selamanya adalah tetap sisa.

seperti nya tergantung pemikiran....
ada orang menyebutkan suatu kondisi secara spontan...
misalkan "api di lilin ini padam"
dan kita menyatakan "api" ini telah habis tanpa sisa

sy mengerti maksud anda....jika seseorang terdogma/melekat dengan "pikiran tanpa sisa" maka sama saja melekat. (ini sudah berbeda)

sy sependapat dengan @dilbert
disatu sisi.....Y.M Bhuridatta yang katanya telah mengerti dan merealisasikan nibbana....tetapi tidak tahu tentang nibbana(apakah nibbana masih tersisa atau tidak)....inikan aneh.
(buku nya salah terjemahan atau gimana?)

sama saja Buddha Gotama jika katanya telah mencapai penerangan sempurna dan mengetahui tindak-tanduk mencapai nibbana...
tapi malah bertanya dengan buddha yang terdahulu (cth Buddha Kassapa)

masih menjadi pertanyaan baginya adalah: Bagaimana mungkin Sang Buddha dan para Arahant, yang telah mencapai anupadisesa-nibbana, yang tanpa sisa dan bebas dari realita konvensional, masih muncul dalam wujud tubuh.

sy menyebut secara spontan saja....ini memang sudah terdapat kejanggalan.
karena tanya dan jawab sudah menyatakan "keraguan/ketidak tahu-an"

apa seseorang bisa menjelaskan atau memberi pencerahan mengenai hal ini?
 
jawaban tersebut tidak akan pernah bisa ditemukan
 
jawaban tersebut tidak akan pernah bisa ditemukan

lha... kalau semua jawaban diberikan jawaban RETORIKA dan CINGULAR... semua pada kagak ada kesimpulan...

Walaupun NIBBANA tidak dapat dijelaskan 100% dengan kata-kata, tetapi minimal bisa didekati dengan konsep. Jikalau bahkan tidak dapat dikatakan sedikitpun dengan kata-kata, darimana datangnya terminologi NIBBANA ??
 
lha... kalau semua jawaban diberikan jawaban RETORIKA dan CINGULAR... semua pada kagak ada kesimpulan...

Walaupun NIBBANA tidak dapat dijelaskan 100% dengan kata-kata, tetapi minimal bisa didekati dengan konsep. Jikalau bahkan tidak dapat dikatakan sedikitpun dengan kata-kata, darimana datangnya terminologi NIBBANA ??

maksud dari saudara @le Ciel

barang kali yang dimaksud itu "lebih baik membuat diri kita mencapai arahat" baru mempertanyakan hal itu.

disatu sisi @dilbert juga memang benar....yah.....gitu deh ^^
 
maksud dari saudara @le Ciel

barang kali yang dimaksud itu "lebih baik membuat diri kita mencapai arahat" baru mempertanyakan hal itu.

disatu sisi @dilbert juga memang benar....yah.....gitu deh ^^

pada jaman siddharta gautama (masih belum menjadi buddha), maka terminologi BUDDHA (yang sadar) dan konsep tentang pembebasan (terbebas dari kelahiran dan kematian) itu sudah diketahui oleh banyak orang termasuk para petapa... tetapi bagaimana CARA menjadi YANG SADAR (BUDDHA) dan mencapai PEMBEBASAN (NIBBANA) itulah yang tidak diketahui.

Pencapaian oleh individu yang mencapai NIBBANA tetapi tidak dapat mengajarkan/membabarkan penjelasan tentang CARA/JALAN mencapai NIBBANA itu disebut dengan PACCEKA BUDDHA.

Disinilah "ke-istimewaan" seorang SAMMASAMBUDDHA yang telah mencapai NIBBANA (pembebasan) dan BISA MENGAJARKAN/MENJELASKAN cara atau jalan menuju kebebasan. karena seorang SAMMASAMBUDDHA menguasai EMPAT JALAN menuju PEMBEBASAN disertai dengan KEMAHATAHUAN (yang merupakan kualitas untuk memberikan penjelasan dan pengajaran).

Jadi pernyataan pernyataan RETORIKA seperti :
"Lebih baik membuat diri kita menjadi ARAHAT, tidak perlu didiskusikan"
atau
"jawaban tersebut tidak akan pernah bisa ditemukan"
dsbnya...

tidak memberikan "RUANG" sedikitpun kepada umat umat awam untuk bertanya tanya lebih jauh kepada apa yang dimaksud dengan NIBBANA, jika alih alih jawaban yang diberikan adalah "RASAKAN SENDIRI"...
 
pada jaman siddharta gautama (masih belum menjadi buddha), maka terminologi BUDDHA (yang sadar) dan konsep tentang pembebasan (terbebas dari kelahiran dan kematian) itu sudah diketahui oleh banyak orang termasuk para petapa... tetapi bagaimana CARA menjadi YANG SADAR (BUDDHA) dan mencapai PEMBEBASAN (NIBBANA) itulah yang tidak diketahui.

Pencapaian oleh individu yang mencapai NIBBANA tetapi tidak dapat mengajarkan/membabarkan penjelasan tentang CARA/JALAN mencapai NIBBANA itu disebut dengan PACCEKA BUDDHA.

Disinilah "ke-istimewaan" seorang SAMMASAMBUDDHA yang telah mencapai NIBBANA (pembebasan) dan BISA MENGAJARKAN/MENJELASKAN cara atau jalan menuju kebebasan. karena seorang SAMMASAMBUDDHA menguasai EMPAT JALAN menuju PEMBEBASAN disertai dengan KEMAHATAHUAN (yang merupakan kualitas untuk memberikan penjelasan dan pengajaran).

Jadi pernyataan pernyataan RETORIKA seperti :
"Lebih baik membuat diri kita menjadi ARAHAT, tidak perlu didiskusikan"
atau
"jawaban tersebut tidak akan pernah bisa ditemukan"
dsbnya...

tidak memberikan "RUANG" sedikitpun kepada umat umat awam untuk bertanya tanya lebih jauh kepada apa yang dimaksud dengan NIBBANA, jika alih alih jawaban yang diberikan adalah "RASAKAN SENDIRI"...

wah...mau gimana lagi...andai di forum ini ada yang telah mencapai arahat...mungkin bisa ngomong...tapi disini kan tidak demikian kondisi nya..

mau tidak mau persoalan ini di simpan saja....tidak perlu memberi nilai entah itu salah atau benar.....simpan saja.....nanti waktu se-iring berjalan mungkin ada jawabannya ^^
 
jadi masih perlu forum seperti begini tidak, kalau semua hal tidak perlu jawabannya ?? Atau tanyakan pada RUMPUT YANG BERGOYANG (kata Ebet G Ade) ???
 
Jadi ada polemik...

Nibbana yang saya "yakini-saddha" adalah nibbana yang setelah parinibbana (mencapai nibbana tanpa sisa), maka terputus-lah lingkaran samsara kelahiran. Itulah kebahagiaan tertinggi.

Jika ada nibbana (versi tertentu), yang "katanya" masih mengambil wujud tidak konvensional untuk bisa berinteraksi dengan kita kita (manusia), maka nibbana (versi tertentu) itu tidak memutus lingkaran samsara kelahiran, karena masih mengambil "tempat" di suatu alam... (katanya di ARAHAT DHARMADATU)...

Bingung kan ?? Kedua pandangan tersebut kontradiksi...

ini adalah jawaban dan keyakinan yang teguh :)>-
meskipun orang lain -mungkin- mempunyai pandangan yang berbeda sekalipun dan kemudian menjelaskan dengan panjang lebar sekalipun, yang terjadi adalah keyakinan anda tetap teguh ada disana.
sehingga jawaban terbenar "untuk sementara" adalah seperti dlm keyakinan kita.

untuk jawaban sejatinya hanya terjawab seiring dengan waktu yg berjalan sesuai yg dikatakan oleh marcedes.

kl tanya saya bingung atau tidak. yah, sy jg tdk tahu. krn kita tdk tahu cerita itu 100% benar atau salah. jd komentar yang dikemukakan jg tdk bisa 100% benar atau salah. krn kita sendiri blm mencapai arahat.
coba tanyakan kpd bro singthung yg sependapat dengan jawaban le ciel. barangkali dia punya terminologi jawabannya. :)>-

no debate ^:)^
 
ini adalah jawaban dan keyakinan yang teguh :)>-
meskipun orang lain -mungkin- mempunyai pandangan yang berbeda sekalipun dan kemudian menjelaskan dengan panjang lebar sekalipun, yang terjadi adalah keyakinan anda tetap teguh ada disana.
sehingga jawaban terbenar "untuk sementara" adalah seperti dlm keyakinan kita.

untuk jawaban sejatinya hanya terjawab seiring dengan waktu yg berjalan sesuai yg dikatakan oleh marcedes.

kl tanya saya bingung atau tidak. yah, sy jg tdk tahu. krn kita tdk tahu cerita itu 100% benar atau salah. jd komentar yang dikemukakan jg tdk bisa 100% benar atau salah. krn kita sendiri blm mencapai arahat.
coba tanyakan kpd bro singthung yg sependapat dengan jawaban le ciel. barangkali dia punya terminologi jawabannya. :)>-

no debate ^:)^

Quote saya diatas tidak dalam kapasitas menyatakan bahwa pandangan saya tentang Nibbana tanpa sisa adalah yang BENAR... Tetapi quote saya menyajikan suatu kenyataan bahwa kedua pandangan yang saya quote itu bertolak belakang jika ditafsirkan sebagaimana yang saya sajikan tersebut.

Dari sekian banyak sutra Mahayana, hanya SUTRA HATI (PRAJNA PARAMITRA HRDAYA SUTRA), SUTRA INTAN (VAJRACHEDDIKA PARAMITA SUTRA) serta SUTRA ALTAR (Sutra Patriakh ke-6 Aliran Zen) yang bisa saya "YAKINI-SADDHA-kan", selebihnya tidak "MASUK HITUNGAN" saya pribadi...
 
Quote saya diatas tidak dalam kapasitas menyatakan bahwa pa:)>-ndangan saya tentang Nibbana tanpa sisa adalah yang BENAR... Tetapi quote saya menyajikan suatu kenyataan bahwa kedua pandangan yang saya quote itu bertolak belakang jika ditafsirkan sebagaimana yang saya sajikan tersebut.

Dari sekian banyak sutra Mahayana, hanya SUTRA HATI (PRAJNA PARAMITRA HRDAYA SUTRA), SUTRA INTAN (VAJRACHEDDIKA PARAMITA SUTRA) serta SUTRA ALTAR (Sutra Patriakh ke-6 Aliran Zen) yang bisa saya "YAKINI-SADDHA-kan", selebihnya tidak "MASUK HITUNGAN" saya pribadi...

ketiga sutra tsb memiliki arti yg sulit dipahami ya. bahasa tingkat tinggi..:D
kl salah mengartikan bs membuat pandangan semakin nyasar..
tp sy jg sependapat dgn bro mengenai kualitas dari ketiga sutra itu..:)>-
 
@singthung
bila pertanyaan terus muncul apakah itu akan padam sepenuhnya? bagaimanakah pertanyaan2 bs terus muncul?apakah orang yg mencapai nibanna masih diliputi pertanyaan? bagaimana pertanyaan itu bs lenyap dari segala pandangan?
mohon penjelasannya. tx


"Aku Ingin Nibbana." Sang Buddha selalu menganjurkan kepada setiap pencari kebenaran: "Janganlah berpikir, Aku Ingin Nibbana." (Mulapariyaya-sutta).


NIBBANA DI SINI DAN SEKARANG

(Oleh: Y.M. Buddhadasa Mahathera)​

Manfaat terbesar yang mungkin diperoleh dari praktik perhatian-penuh (mindfullnes) dengan pernapasan ialah bahwa tanpa harus meninggal dunia dulu kita dapat mengalami 'nibbana' dalam hidup ini. Di sini dimaksud adalah 'nibbana' di sini dan sekarang, yang tidak ada kaitannya dengan kematian. 'Nibbana' berarti 'dingin, sejuk' (cool). Kata 'nibbana' juga berarti 'dingin' yang mengacu pada dingin yang bersifat sementara, belum permanen, belum sempurna. Namun citarasanya adalah sama dengan 'nibbana' yang sempurna. 'Nibutto' adalah seperti sampel yang ditunjukkan oleh seorang salesman tentang sebuah produk yang mungkin kita beli. Sampel itu harus serupa. Jadi kita mempunyai sampel dari 'nibbana' untuk dicicipi sebentar. Ini disebut 'nibbana sementara' atau 'saamaayika-nibbaana'.

Keadaan dingin bisa juga 'nibbana' yang muncul karena "faktor itu". Dalam bahasa Pali itu disebut "faktor itu", yang berarti sesuatu yang mirip "terjadi bersamaan " (coincidental). Misalnya, bila terdapat 'sati' (perhatian-penuh) terfokus pada pernapasan, 'citta' (batin) dingin. Maka 'anapanasati' (perhatian pada napas) adalah "faktor itu", agen, penyebab, yang menghasilkan dingin itu disini dan sekarang. Ini disebut 'tadanga-nibbana', 'nibbana' yang muncul bersamaan (coincidental). Dingin itu muncul oleh karena tidak ada kotoran batin;bila tidak ada kotoran batin, 'citta' (batin) dingin. Bila tidak ada api, terdapat dingin. Di sini 'anapanasati' melenyapkan api, artinya, kotoran batin.

Sekalipun itu hanya bersifat sementara, api itu padam dan terdapat dingin untuk sementara. Terdapat 'nibbana' untuk suatu waktu tertentu karena adanya "faktor itu", alat itu, yakni 'anapanasati'. Sekalipun berlangsung sesaat (momentary), belum sempurna dan menetap, citarasa 'nibbana' dikecap sebagai sampel, suatu citarasa. 'Anapanasati' membantu kita mencicipi 'nibbana' sedikit demi sedikit, saat demi saat, dalam hidup ini juga. Dan tidak perlu mati! Maka, durasi dingin itu semakin panjang, semakin luas, dan frekuensinya semakin meningkat, sampai terdapat 'nibbana' sempurna. Jika tercapai, manfaat inilah yang paling memuaskan, paling berharga.

Adalah penting bahwa kita memahami kata 'nibbana' dengan benar. Itu berarti "dingin", dan tidak ada kaitannya dengan kematian. Kita menggunakan kata 'parinibbana' jika kita bermaksud mengacu pada 'nibbana' yang berkaitan dengan kematian, misalnya kematian seorang 'arahat'. Kata 'nibbana' saja tanpa awalan 'pari-' sekadar berarti "dingin", tidak adanya panas. Bayangkan bahwa segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya buat Anda: Anda sehat, secara ekonomis terjamin, punya keluarga yang baik, sahabat-sahabat yang baik, dan lingkungan yang baik. Maka, sesuai dengan arti kata 'nibbana', kehidupan Anda ini 'dingin'. Itu mungkin bukan 'nibbana' yang sempurna, oleh karena agar sempurna harus mencakup batin yang 'dingin' pula, namun itu pun bisa dikatakan 'dingin'.

'Nibbana' berarti "dingin, sejuk". Kita bahkan bisa menggunakan kata ini dalam kaitan dengan hal-hal material. Sebuah arang yang berangsur-angsur menjadi dingin sampai tidak panas lagi, dikatakan 'nibbana'. Ketika sebuah sup terlalu panas untuk dimakan, kita menunggunya sampai mendingin; lalu kita katakan sup itu cukup 'nibbana' untuk dimakan. Kita bahkan bisa menggunakan kata itu untuk binatang buas dan berbahaya yang ditangkap dari hutan; lalu dijinakkan dan dilatih sehingga bisa hidup di tengah-tengah manusia. Binatang-binatang itu juga bisa disebut 'nibbana'. Dalam kitab-kitab Pali, kata 'nibbana' digunakan dalam kaitan dengan hal-hal material, binatang dan manusia. Jika sesuatu itu dingin dan tidak panas, itu adalah 'nibbana' dalam satu atau lain makna,.Dan itu tidak perlu mati. Melalui praktik 'anapanasati' kita akan memperoleh jenis 'nibbana' yang paling memuaskan--dingin dalam tubuh jasmani, dingin dalam batin, dingin dalam semua aspek.

Singkatnya, kita mempunyai kehidupan yang dingin di sini dan sekarang; hidup kita 'nibbana', dalam arti yang diuraikan di atas. Dalam bahasa Pali, ini disebut 'nibutto', artinya "orang yang menjadi dingin" atau "orang yang mempunyai nibbana". Realitas ini disebut 'nibbana'. Orang seperti ini disebut 'nibutto'. "

(Dari: "MINDFULNESS WITH BREATHING -- A Manual for Serious Beginners", oleh:Y.M. Buddhadasa Mahathera, halaman 104-6.)
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.