• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Perbedaan kesaktian dan kesucian

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. marcedes
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

marcedes

IndoForum Junior E
No. Urut
17648
Sejak
21 Jun 2007
Pesan
1.552
Nilai reaksi
20
Poin
38
wah tahun 2006 baru baca ini...ketinggalan gw...hehehe.
keknya dah pernah juga d post.

Perbedaan Kesaktian dan Kesucian

Fenomena Dhamma
(untuk kalangan sendiri)​

Apakah artinya Kesaktian?
Kesaktian sering juga disebut kemampuan batin yang tinggi, super power, adi duniawi, supra natural, hipnotis, mentalis, sulap, dalam bahasa Pali disebut Iddhi, Nyana dan masih banyak lagi.
Namun, dari manakah sebenarnya kesaktian itu muncul atau diperoleh manusia?
Dan dengan cara apakah kesaktian itu dapat dengan mudahnya dimiliki oleh sebagian orang? Pertanyaan seperti itu pasti sering keluar dalam benak setiap orang, ketika setelah melihat pertunjukan langsung atau tidak, misalnya di TV seperti contohnya David Copperfield , Deddy Corbuzier, Romy Rafael, Joko Bodo, dan lain-lain.
Kesaktian selalu menarik orang pada saat dipertunjukkan di depan orang banyak, sebab ia kelihatan aneh tapi nyata, tidak masuk akal tapi dapat dibuktikan, dan kenapa tidak setiap orang bisa melakukannya?.

Kesaktian jauh berbeda dengan kesucian, artinya, orang memiliki kesaktian belum tentu dia memiliki kesucian batin seperti Sotapanna, Sakadagami, Anagami, Arahat, namun sebaliknya orang yang telah mencapai tingkat kesucian ada yang memiliki kesaktian ada juga yang tidak, hal ini tergantung dari tekad atau niatnya ketika berlatih.
Tetapi sementara ini umat masih banyak yang keliru atau salah menilai dan terbalik, dengan anggapan bahwa orang sakti pasti telah mencapai Arahat, dan sebaliknya orang yang tidak punya kesaktian berarti belum mencapai tingkat kesucian, maka dampaknya terhadap umat yang keliru ini sangat berbahaya, Bila umat kadang memandang remeh, menghina, melecehkan bhikkhu/praktisi meditasi yang sebenarnya dia telah memiliki tingkat kesucian, karma buruknya berat sekali bisa menghancurkan benih-benih kebajikan yang bahkan setinggi gunung.
Contohnya Dewadatta murid/sepupu Buddha yang memiliki kesaktian luar biasa, karena bisa mengubah dirinya dalam sekejap menjadi seekor ular, menjadi anak kecil dll, tapi ternyata dia belum memperoleh kesucian batin tingkat apapun, hanya memiliki kesaktian hasil dari latihan bertapa dan meditasi sejak berulang kali kehidupannya dulu.

Hal-hal seperti inilah yang saya ingin sampaikan untuk di bahas oleh kita bersama, dengan tujuan agar kita bisa lebih tahu dan mengerti apa sesungguhnya kesaktian itu, setelah tahu dan mengerti kita akan dapat membedakannya dengan Kesucian, kemudian kita akan dapat menilai mana yang lebih berguna dan memberikan manfaat bagi banyak orang, atau sebaliknya, termasuk kita harus ekstra hati-hati.

Uraian khusus tentang kesaktian
Kesaktian muncul sejak zaman pra sejarah yang membuktikan bahwa pada zaman primitif, kesaktian telah digunakan oleh manusia dengan berbagai macam cara. Seiring tradisi kebudayaannya masing-masing, disetiap tempat dan negara pasti ada sedikit persamaan dan perbedaannya, namun pada intinya hampir sama, yakni dengan memuja dan memohon bantuan makhluk halus, baik tingkat rendah sampai tingkat yang tertinggi.
Dan semua itu tergantung kondisi seseorang yang memohon lalu menjalankannya. Jika tanpa bantuan makhluk halus, salah satunya ialah sulap yaitu menggunakan trik/tak-tik kecepatan tangan dan gerakan, kemudian ada lagi kesaktian tingkat tinggi yakni dengan kemampuan/kekuatan pikiran dan kesadaran, hasil dari latihan yang bukan dengan mudahnya orang bisa memperoleh itu yakni dengan latihan meditasi yang intensif baik melalui bimbingan gurunya atau dengan panduan buku-buku yang bisa dipertanggung jawabkan seperti buku Samadhi ajaran Buddha Gotama.

Guru meditasi atau buku panduannya sangat perlu boleh dibilang ibarat kompas dalam perjalan di hutan lebat dan sangar yang penuh marabahaya, binatang buas dan lain-lain.
Tetapi semua kesaktian pasti melalui belajar, latihan dan keuletan yang terus-menerus. Ada yang melalui bimbingan, ada juga yang langsung dalam waktu singkat, juga ada yang sejak lahir sudah membawa bakat alami. Hal itu berarti bagi mereka yang sejak lahir dan yang dalam waktu singkat, memang sudah sejak kelahiran yang lalu mereka itu telah pernah belajar dan berlatih tentang kemampuan pikiran dan kesadarannya.

Jadi, singkatnya manusia tanpa belajar dan berlatih, apapun tak akan berhasil dan pasti selama hidupnya akan menjadi orang bodoh dan dungu, ini adalah hukum alam, maka dengan pengertian ini kita menyadari bahwa, kita hidup ini adalah untuk belajar dan berlatih/berjuang, dan dunia yang kita injak ini adalah tempat kita belajar dan berlatih bagaikan sekolahan ibaratnya.
Jika kita malas belajar dan berlatih pada kehidupan ini, terserah untuk apa saja yang kita mau, berarti kita telah menyia-nyiakan waktu yang amat berharga, telah membuang kesempatan emas yang nyata-nyata sudah ada di depan mata kita, sebab kita hanya menyediakan kemauan saja.
Alasannya ialah, sebenarnya kita mau jadi apa? Tanyakan dulu pada diri sendiri, lalu ketika jawaban itu muncul yang benar, kita tinggal menyusun rencana untuk meneruskan dengan aksi tindakan atau mulai mencoba melaksanakannya dengan serius, dan penuh keyakinan/percaya diri, inilah sebenarnya modal awal kita.

Coba renungkan sejenak! Adakah manusia sejak lahir sudah bisa jadi professor, dokter, doktor, paranormal, dukun lepus, sin she, suhu hong shui, bhikkhu, raja dan seterusnya? Pasti tidak ada, yang ada ialah melalui belajar dan berlatih, bahkan ada yang paling berat dan memakan waktu panjang melelahkan, yaitu orang yang bercita-cita ingin menjadi Buddha. Kita tahu bahwa seorang calon Buddha mengumpulkan bekal 10 paramitanya hingga 4 Assankeyya kappa dan 100 ribu kappa, sedangkan 1.kappa saja kira-kira 430 juta tahun, sungguh waktu yang amat lama dan melelahkan, dan meskipun sudah lahir menjadi manusia calon Buddha, bahkan jadi calon raja tapi harus dilepaskan/ditinggalkan semua lalu berkelana, mengembara jadi pengemis dihina, dicaci-maki, diludahi, dikencingi oleh anak-anak penggembala sapi, selama 6 th di hutan-hutan, bukan waktu singkat dan rasanya tidak akan pernah ada sesuatu yang instan, kecuali penipu.
Menurut buku-buku Dhamma dan buku umum bahwa kesaktian bisa diperoleh dengan bermacam cara misalkan:

Yang pertama, dengan bertapa artinya dengan melakukan cara menahan/ mengurangi makan-minum, tidur dan bicara.
Yang kedua: Dengan berlatih Meditasi/mengembangkan kesadaran dan melatih pikiran atau meditasi hingga mencapai tingkat jhana-jhana.
Bertapa juga bisa dibagi lagi menjadi tak terhitung banyaknya cara latihan bertapa, seiring tradisi dan budaya setempat dan negaranya.
Namun secara singkat saya ingin menjelaskan bahwa, hasil dari bertapa juga bisa dibagi lagi menjadi banyak, semuanya tergantung kemauan, keuletan, semangat, yang paling menentukan ialah kesabaran, maka Buddha bersabda: ‘Khanti paramang tapo titika’, artinya kesabaran adalah cara bertapa yang paling unggul.

Buddha mengatakan hal itu bukan menakut-nakuti atau menyederhanakan cara bertapa, namun oleh karena Beliau sudah melakukan, merasakan, melaluinya dan akhirnya berhasil, jadi apapun yang Buddha katakan semua kata-katanya telah teruji dan dibuktikan melalui belajar dan berlatih, lalu mengalami dan merasakannya.

Cara bertapa calon Buddha hingga sakti
Dalam buku riwayat hidup Buddha menceritakan perjalanannya mengembara di hutan-hutan selama 6 th, sungguh bisa dijadikan sebuah inspirasi bagi penggemar/pencari kesaktian, karena disanalah Buddha sebenarnya memperoleh segala macam jenis kesaktian hingga yang luar biasa seperti disebutkan Iddhi Patihariya yang bisa terbang keangkasa lalu mengeluarkan air hangat dan dingin dari seluruh pori-pori Nya.

Dan kesaktian ini tidak ada tandingannya juga karena tidak seorang pertapa lainpun yang bisa memilikinya, walhasil tidak mudah seperti halnya bentuk kesaktian biasa pada umumnya, yang disebut oleh Buddha ialah Dirachana Wijja artinya ilmu kebinatangan yang sangat rendah dan hina.

Maka dengan bukti sabda Buddha inilah kita boleh menyebut mereka para bhikkhu yang suka praktek dukun santet dll, berarti mengajarkan/menggunakan ilmu kebinatangan yang sangat dilarang oleh Buddha, sebab akibatnya bisa masuk ke alam Neraka yang sangat mengerikan penderitaannya sampai berjuta-juta tahun, juga sulit untuk keluar hingga bisa mencapai kesucian batin, sebab telah begitu terhanyut sering menikmati hasilnya dari ilmu kebinatangan itu.
Kalau sementara ini banyak orang luar suka belajar dan berlatih kesaktian dari guru-guru spritualnya, yang sangat mudahnya diperoleh bahkan bisa di transfer, dijual, atau menggunakan alat misalnya disebut ‘jimat’, ‘hu’, keris, batu ali, huruf-huruf kaligrafi, sabuk, dst…semua itu tidak masalah, selama aman-aman saja dan membawa manfaat, asalkan jangan sampai menimbulkan efek yang merugikan diri sendiri dan orang/pihak lain saja.

Tapi ingat! Dalam kenyataan, ilmu kebinatangan/kesaktian seperti itu di bantu oleh makhluk halus tingkat rendah bahkan berbahaya baginya atau kedua pihak, sebabnya ialah makhluk halus yang diperintah bagaikan orang bodoh dan dungu, yang hanya perlu makan-minum untuk hidup, dia sama sekali tidak memiliki pengertian benar, tentang yang benar dan salah, dan apa akibatnya, dia hanya tunduk pada perintah.

Ibarat pegawai yang hanya mau bayarannya saja, jadi apapun perintahnya pasti dia mau melakukannya asalkan bayaran/upahnya memadai menurut dia sendiri, itulah sebabnya banyak sekali orang menjadi korban santet hingga mati, atau gila, sakit keras, yang sering kita dengar dan saksikan dalam kehidupan masyarakat kita.

Lalu muncullah ‘acara TV Pemburu Hantu’, uka-uka, dunia lain, fenomena ini beralasan dan untuk membuktikan bahwa sebenarnya selain kehidupan nyata masih banyak lagi kehidupan di alam-alam lain, selain itu karena masih banyak umat kepercayaan lain yang sama sekali mengharamkan kepercayaan adanya kehidupan di alam gaib itu, dengan adanya pertunjukan acara di TV sungguh menguntungkan kita, karena berarti bisa membuka mata batin mereka yang diliputi oleh kebodohan dan kedunguan, merasa seolah paling baik dan benar hanya dengan percaya saja pasti akan selamat dan masuk surga, padahal tidak semudah itu, tidak sesederhana itu.

Pembahasan tentang kesaktian saya cukupkan sekian dulu dan silahkan bila anda mau menanggapinya, nanti kita diskusikan sesuai kemampuan kita masing-masing, asalkan tidak dengan cara emosi, benci-dendam, dan salah paham, gunakan akal sehat manusia, dengan tujuan membuka wawasan, pengetian benar demi kemajuan batin kita semua. Sabbe Satta Bhawantu Sukhitatta. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Jakarta, 18 april 2006.
Salam damai dari jauh..
Bhikkhu Sudhammacaro.
 
Orang yang suci tidak pamer kesaktian.
Sakti belum berarti suci. Tapi bisa sudah suci, biasanya juga sakti.
 
jadi kategori suci yg mana ? post nya ga lengkap. apakah orang yg meditasi hutan itu termasuk suci ? kriterianya apa ? thx
 
jadi kategori suci yg mana ? post nya ga lengkap. apakah orang yg meditasi hutan itu termasuk suci ? kriterianya apa ? thx

Manusia suci menurut pandangan Buddhis ada empat yaitu :

1. Sotapanna, orang suci yang paling banyak akan terlahir tujuh kali lagi.

2. Sakadagami, orang suci yang paling banyak akan terlahir sekali lagi.

3. Anagami, orang suci yang tidak akan terlahir lagi di alam manusia, tetapi langsung terlahir kembali di salah sebuah dari lima alam Suddhavasa. Dari salah sebuah alam Suddhavasa ini Anagami itu akan mencapai tingkat kesucian tertinggi sebagai Arahat dan akhirnya ia mencapai parinibbana.

4. Arahat, orang suci yang telah menyelesaikan semua usahanya untuk melenyapkan semua belenggu yang mengikatnya. Bila ia meninggal dunia, ia tidak akan terlahir di alam mana pun. Ia akan parinibbana.


Ada sepuluh macam belenggu (samyojana) yaitu :

1. Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa atau aku yang kekal (sakkaya-ditthi).

2. Keragu-raguan yang skeptis pada Buddha, Dhamma, Sangha, dan tentang kehidupan yang lampau dan kehidupan yang akan datang, juga tentang hukum sebab akibat (vicikicchã).

3. Kemelekatan pada suatu kepercayaan bahwa hanya dengan melaksanakan aturan-aturan dan upacara keagamaan seseorang dapat mencapai kebebasan (silabbata-parãmãsa).

4. Nafsu indriya (kãma-rãga).

5. Dendam atau dengki (vyãpãda).

6. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk (rüpa-rãga). Alam bentuk (rüpa-rãga) dicapai oleh seseorang apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan samadhi dan telah mencapai Jhãna I, Jhãna II, Jhãna III atau Jhãna IV.

7. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk (arüpa-rãga). Alam tanpa bentuk (arüpa-rãga) dicapai oleh seseorang apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan samadhi dan telah mencapai Arüpa Jhãna I, Arüpa Jhãna II, Arüpa Jhãna III atau Arüpa Jhãna IV .

8. Perasaan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain (mãna).

9. Kegelisahan (uddhacca). Suatu kondisi batin yang haus sekali karena yang bersangkutan belum mencapai tingkat kebebasan sempurna (arahat).

10. Kebodohan atau ketidak-tahuan (avijjã).

==========================
Sotãpanna telah melenyapkan tiga belenggu (samyojana)yaitu
(1) sakkaya-ditthi, (2) vicikicchã, dan (3) silabbata-parãmãsa.

Sakadagami telah melenyapkan tiga belenggu (samyojana)yaitu
(1) sakkaya-ditthi, (2) vicikicchã, dan (3) silabbata-parãmãsa dan telah melemahkan belenggu (4) kãma-rãga dan (5) vyãpãda.

Anãgami telah melenyapkan lima belenggu (samyojana)yaitu
(1) sampai dengan (5).

Lima samyojana (1 - 5) dikenal sebagai lima belenggu rendah atau Orambhãgiya-samyojana.

Arahat telah melenyapkan sepuluh belenggu (1 - 10).

Lima samyojana berikut yaitu samyojana 6 - 10 dikenal pula dengan nama belenggu tinggi atau Uddhambhãgiya-samyojana.

Orambhãgiya-samyojana dan Uddhambhãgiya-samyojana telah dimusnahkan oleh Arahat.

 
Suci lebih mengarah ke spritual.
Sakti lebih kepada kehebatan-kehebatan di mata orang awam (dunia).
 
kalo kasus kesurupan .. itu kesaktian atau kesucian.. atau opsi lain ???
 
Itu keahlian, bisa juga kecelakaan. Misal pada kasus satu kelas dalam satu sekolah kesurupan. Itu jelas kecelakaan karena tidak diinginkan.

Kalau dalam kuda kepang (sebagian menyebutnya Jarang Kepang), itu keahlian, karena ada skill-skill khusus yang harus dikuasai sebelum lulus jadi pelaku Jarkep.

Kalau David C. Itu keahlian juga, karena dia adalah ahli dalam bidangnya.

Kalau Tangki-tangki yang 'jip tang' itu gak tahu yah keahlian atau kesaktian. Soalnya tarekat yang harus dijalani para tangki itu berat juga sepertinya.

Yang jelas, bila seseorang suci, mentalnya kuat.... tidak akan bisa dimasuki oleh essensi mental apapun.
 
kalo kasus kesurupan .. itu kesaktian atau kesucian.. atau opsi lain ???


kalau kasus 'kesurupan' tidak termasuk kesucian maupun kesaktian,hal itu dikarenakan rendah tingkat kesadaran yang kesurupan. Kalau Tangki atau Tatung termasuk dalam kesaktian tetapi belum tentu mencapai tingkat kesucian atau sakti belum tentu suci, Kalau orang yang sudah mencapai kesucian tidak akan mempraktekkan cara yang rendahan seperti Tangki,medium atau yang sejenisnya. Orang yang mencapai tingkat kesucian bisa memiliki kesaktian(abhinna),bisa juga tidak. Itu pendapat saya,silahkan kalau ada yang lain.


 
@^ itu sih pandangan umum....sah2 saja. karena toh tak banyak yg memiliki kemampuan seperti yg dimiliki aliran kami. Teknik kami ini multidimensial. ya, no coment da.
 
@^ itu sih pandangan umum....sah2 saja. karena toh tak banyak yg memiliki kemampuan seperti yg dimiliki aliran kami. Teknik kami ini multidimensial. ya, no coment da.

Bisa kasih tahu nama orang yang mempunyai kemampuan teknik multidimensial di Vihara Maitreya Duta Mas tempat anda bernaung???

 
kalo bukan kesaktian atau pun kesucian, lantas apa yg membuat aliran maitreya begitu mempercayai hal tersebut ya ???

kebodohan batin kah.. tau ketololan batin...hehehhe...
atau malah kita2 ini yg mengalami ketololan batin ????
 
kalo bukan kesaktian atau pun kesucian, lantas apa yg membuat aliran maitreya begitu mempercayai hal tersebut ya ???

kebodohan batin kah.. tau ketololan batin...hehehhe...
atau malah kita2 ini yg mengalami ketololan batin ????

hehehe,itu hak mereka untuk mempercayainya sama seperti orang kristen percaya bahwa Yesus telah menembus dosa manusia di tiang salib.

 
Ada yang bisa menjelaskan apa yang dimaksud dengan Teknik Multidimensial ga? Wah banyak yang harus diketahui nih, jangan2 udah ketinggalan sendirian lagi....
 
Ketinggalan kereta pencerahan, hehehehehehe.... booking tiket dulu dong.... biar gak ketinggalan.
 
Mo donk booking tiketnya. bookingnya dimana? harganya berapa? bisa delivery service ga? hehehe
 
Bookingan anda kami catat... silahkan tunggu... terima kasih... ^-^
 
Bisa kasih tahu nama orang yang mempunyai kemampuan teknik multidimensial di Vihara Maitreya Duta Mas tempat anda bernaung???


Duta mas ga ada. semua datang dari pusat Taiwan.

@ caro, multidimensi...artinya medium itu bisa menerima dari level kesadaran dari mana saja. Medium itu hanya alat. Sesepuh hanya memohon petunjuk dari yg Maha Esa Lao Mu. sesepuh tidak mengundang entitas tertentu, semua tergantung dari kuasa Lao Mu yg mengutus siapa yg hadir di medium dengan menulis di pasir, < MLLD >. Kalo pinjam raga , di mana ada entitas yg bisa bicara lewat tubuh manusia ,itu hanya ada di I Kwan Tao. Teknik ini satu level lebih tinggi dari penulisan pasir. Kalo penulisan pasir cara kerjanya seperti mesin fax, entitas tidak masuk ke tubuh. Kalo pinjam raga < istilah kami> , entitas menyatu kesadaran dengan medium secara full, kemampuan ini hanya ada di I KWAN TAO. Karena sesepuh I KWAN TAO lebih senior, mereka menguasai teknik2 lebih lengkap.

kalo tang kie kelenteng, biasanya medium mereka hanya datang dewa2 tertentu saja. < sy sih ga pernah liat jg, hny dengar dari org >
 
Duta mas ga ada. semua datang dari pusat Taiwan.

kalo tang kie kelenteng, biasanya medium mereka hanya datang dewa2 tertentu saja. < sy sih ga pernah liat jg, hny dengar dari org >

Bgm bisa tau juga kalo kesurupan di aliran matireya yg datang cuma dewa tertentu saj, dan bukan kesadaran yg lebih tinggi...
bgm membuktikkannya ????
 
anda yg buktikanlah kami keliru, kami adalah the real one. anda aliran budha apa ? anda mungkin hanya spiritual kebatinan, anda tidak ada pijakan untuk berargumen dalam hal Budhist. anda bukan Budhist, coba katakan anda dari aliran mana ? ga bisa jawabkan !!!. anda itu turist agama. hanya saja condong ke Budhist.!!! Dari cara lue memposting koment sama dengan @rou. Karena kalian bukan Budhist, ga ada base untuk berargument. kalian mo wakili siapa ? wakili Budhist ? ? ? Budhist yg mana ??? Budhist kebatinan ??? Budhist rumah tangga , kayak @Rou ?

no Flame, anda harus ada base untuk berargumen. sembarang kritik tapi tak ada dasar keyakinan. kalo mampu sebutlah anda dari aliran mana ? vihara anda di mana ? cuma wisatawan Budhist....hanya wisatawan saja kok.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.