• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Menghentikan Roda Karma

Hunter Leader

IndoForum Newbie A
No. Urut
2307
Sejak
16 Jun 2006
Pesan
417
Nilai reaksi
64
Poin
28
Hutang budi dan dendam hanya merupakan bunga dari sifat sayang diri belaka. Andaikata seseorang tidak berbuat yang merugikan kita, tentu dia takkan dianggap musuh. Jadi, sama sekali bukan pribadinya yang membuat kita mendendam, melainkan perbuatannya terhadap diri kita. Kalau perbuatan itu baik dan menguntungkan diri, maka kita akan merasa berhutang budi! Kalau perbuatannya buruk dan merugikan diri, tentu akan dianggap sebagai dendam sakit hati yang harus kita balas. Dengan demikian, maka terciptalah rantai yang tiada putusnya berupa balas membalas, baik membalas budi maupun membalas dendam!

Tetapi, bukankah itu sudah seharusnya demikian? Bukankah sudah adil kalau budi dendam dibalas sehingga menjadi adil namanya? Bukankah sudah demikian pada umumnya yang disebut hukum karma?

Memang demikianlah pendapat umum yang telah menjadi tradisi usang. Karena kepercayaan dan pendapat turun-temurun seperti inilah membuat kita terseret ke dalam arus yang dibuat manusia sendiri dan dinamakan karma. Mata rantai itu terbentuk dari perbuatan-perbuatan yang menghendaki akhiran yang menyenangkan, perbuatan-perbuatan yang bertujuan, dan berpamrih.

Apakah artinya perbuatan baik maupun buruk kalau didasari tujuan tertentu, berpamrih yang bukan lain hanya pencetusan dari rasa sayang diri belaka? Perbuatan demikian itu, baik maupun buruk, adalah perbuatan yang tidak wajar, yang palsu dan karenanya selalu berkelanjutan dan berekor tiada kunjung putus dan menjadi hukum karma. Layaknya kalau hidup kita ini hanya kita isi dengan perbuatan-perbuatan palsu yang lebih patut disebut hutang-pihutang? Tiada kebebasan, tiada kewajaran sama sekali?"

Akan tetapi, apakah dianjurkan agar kita tidak usah mengenal dan membalas budi? Bukankah orang yang tidak mengenal budi adalah orang yang rendah dan tidak baik?

Ucapan diatas ini mencerminkan pandangan umum, namun sesungguhnya pandangan seperti itu adalah tidak tepat.
Mengapa tidak tepat? Bukankah orang harus selalu mengingat budi orang lain yang dilimpahkan kepadanya dan berusaha untuk membalas budi itu?"

Cobalah renungkan dalam-dalam, "Orang yang mengingat dan membalas budi orang lain adalah orang yang menghendaki agar budinya diingat dan dibalas orang lain pula!"

Apa salahnya dengan itu? Bukankah saling membalas budi adalah perbuatan orang sopan dan baik?

Karena, kalau sudah dijadikan keharusan balas-membalas, berarti bayar-membayar dan perbuatan itu sudah tidak patut disebut budi lagi, melainkan semacam hutang-pihutang! Dengan mengingat dan membalas budi orang lain berarti merendahkan orang itu, merendahkan pula nilai perbuatannya yang hanya disamakan dengan hutang!

Mari kita renungkan baik-baik. Bukan begitu?"

Tidak! Setiap pendapat dari siapapun juga datangnya, tidak dapat dibenarkan, karena pendapat hanya memancing pertentangan. Kalau yang kaubaca diatas tadi kausebut sebagai pendapatku dan kauanggap benar, tentu akan muncul orang lain yang menganggapnya tidak benar maka terjadilah pertentangan. Aku hanya mengajak engkau bersama mempelajari hal ini dan bersama mencari tahu tentang diri kita masing-masing. Sudah jelas sekarang bahwa budi dan dendam hanyalah pencetusan dari sayang diri yang menciptakan karma, menciptakan sebab dan akibat.

Kalau kita tersesat, takkan pernah kita dapat membebaskan diri dan hidup ini menjadi sia-sia yang menjadi permainan sebab akibat. Karena Si Akibat sendiri pun berekor dan menjadi sebab dari akibat yang lain lagi. Sedangkan si sebab pun menjadi akibat dari sebab yang terdahulu.

Bukankah seyogianya kalau kita membebaskan diri dari ikatan mata rantai yang tiada kunjung putus itu?

Bagaimanakan seharusnya kita bertindak agar terlepas dari mata rantai roda yang disebut karma ini?
 
saya baca kok kayak orang putus asa.^_^ Sangat sulit untuk meluruskan orang yang berpandangan salah. Sebelum kita harus mengerti apa artinya karma/kamma? Lihat dari pandangan Buddhis di jelaskan sbb:

Kamma (bahasa Pali) atau Karma (bahasa Sanskerta) berarti perbuatan atau aksi. Guru Buddha dalam Nibbedhika Sutta; Anguttara Nikaya 6.63 menjelaskan secara jelas arti dari kamma:

”Para bhikkhu, cetana (kehendak)lah yang kunyatakan sebagai kamma. Setelah berkehendak, orang melakukan suatu tindakan lewat tubuh, ucapan atau pikiran.”

Jadi, kamma berarti semua jenis kehendak (cetana), perbuatan yang baik maupun buruk/jahat, yang dilakukan oleh jasmani (kaya), perkataan (vaci) dan pikiran (mano), yang baik (kusala) maupun yang jahat (akusala).

Kamma atau sering disebut sebagai Hukum Kamma merupakan salah satu hukum alam yang berkerja berdasarkan prinsip sebab akibat. Selama suatu makhluk berkehendak, melakukan kamma (perbuatan) sebagai sebab maka akan menimbulkan akibat atau hasil. Akibat atau hasil yang ditimbulkan dari kamma disebut sebagai Kamma Vipaka.


Ada obat yang mujarab untuk mengatasi masalah tersebut sbb:

JALAN MULIA BERUNSUR DELAPAN
(Ariya Atthangiko Magga)


Dalam Dhammacakkappavattana Sutta; Samyutta Nikaya 56.11 {S 5.420}, Guru Buddha mengajarkan Empat Kebenaran Ariya (Cattari Ariya Saccani) kepada Lima Bhikkhu Pertama (Panca Vaggiya Bhikkhu), yang di dalamnya terdapat Jalan yang Menuju Terhentinya Dukkha. Jalan itu disebut dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Atthangiko Magga).

Di dalam Jalan ini mengandung unsur sila (kemoralan), samadhi (konsentrasi), dan panna (kebijaksanaan). Berikut pengelompokan unsur yang terkandung di dalamnya:

Pañña
1. Pengertian Benar (sammâ-ditthi)
2. Pikiran Benar (sammâ-sankappa)
Sila
3. Ucapan Benar (sammâ-väcä)
4. Perbuatan Benar (sammâ-kammanta)
5. Pencaharian Benar (sammâ-ajiva)
Samâdhi
6. Daya-upaya Benar (sammâ-vâyama)
7. Perhatian Benar (sammâ-sati)
8. Konsentrasi Benar (sammâ-samâdhi)

Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Atthangiko Magga) dibabarkan sebagai berikut:


1. Pengertian Benar (Sammã Ditthi)
Pemahaman Benar adalah pengetahuan yang disertai dengan penembusan terhadap
a. Empat Kesunyataan Mulia
b. Hukum Tilakkhana (Tiga Corak Umum)
c. Hukum Paticca-Samuppäda
d. Hukum Kamma

2. Pikiran Benar (Sammã Sankappa)
Pikiran Benar adalah pikiran yang bebas dari:
a. Pikiran yang bebas dari nafsu-nafsu keduniawian (nekkhamma-sankappa).
b. Pikiran yang bebas dari kebencian (avyäpäda-sankappa)
c. Pikiran yang bebas dari kekejaman (avihimsä-sankappa)


3. Ucapan Benar (Sammã Vãca)
Ucapan Benar adalah berusaha menahan diri dari berbohong (musãvãdã), memfitnah (pisunãvãcã), berucap kasar/caci maki (pharusavãcã), dan percakapan-percakapan yang tidak bermanfaat/pergunjingan (samphappalãpã). Dapat dinamakan Ucapan Benar, jika dapat memenuhi empat syarat di bawah ini :
a. Ucapan itu benar
b. Ucapan itu beralasan
c. Ucapan itu berfaedah
d. Ucapan itu tepat pada waktunya


4. Perbuatan Benar (Sammã Kammantã)
Perbuatan Benar adalah berusaha menahan diri dari pembunuhan, pencurian, perbuatan melakukan perbuatan seksualitas yang tidak dibenarkan (asusila), perkataan tidak benar, dan penggunaan cairan atau obat-obatan yang menimbulkan ketagihan dan melemahkan kesadaran.


5. Penghidupan Benar (Sammã Ãjiva)
Penghidupan Benar berarti menghindarkan diri dari bermata pencaharian yang menyebabkan kerugian atau penderitaan makhluk lain. "Terdapat lima objek perdagangan yang seharusnya dihindari (Anguttara Nikaya, III, 153), yaitu:

a. makhluk hidup
b. senjata
c. daging atau segala sesuatu yang berasal dari penganiayaan mahluk-mahluk hidup
d. minum-minuman yang memabukkan atau yang dapat menimbulkan ketagihan,
e. racun

Dan terdapat pula lima pencaharian salah yang harus dihindari (Majjima Nikaya. 117), yaitu:

a. Penipuan
b. Ketidak-setiaan
c. Penujuman
d. Kecurangan
e. Memungut bunga yang tinggi (praktek lintah darat)


6. Usaha Benar (Sammã Vãyama)
Usaha Benar dapat diwujudkan dalam empat bentuk tindakan, yaitu: berusaha mencegah munculnya kejahatan baru, berusaha menghancurkan kejahatan yang sudah ada, berusaha mengembangkan kebaikan yang belum muncul, berusaha memajukan kebaikan yang telah ada.


7. Perhatian Benar (Sammã Sati)
Perhatian Benar dapat diwujudkan dalam empat bentuk tindakan, yaitu:

- perhatian penuh terhadap badan jasmani (kãyãnupassanã)
- perhatian penuh terhadap perasaan (vedanãnupassanã)
- perhatian penuh terhadap pikiran (cittanupassanã)
- perhatian penuh terhadap mental/batin (dhammanupassanã)

Keempat bentuk tindakan tersebut bisa disebut sebagai Vipassanã Bhãvanã.


8. Konsentrasi Benar (Sammã Samãdhi)
Konsentrasi Benar berarti pemusatan pikiran pada obyek yang tepat sehingga batin mencapai suatu keadaan yang lebih tinggi dan lebih dalam. Cara ini disebut dengan Samatha Bhãvanã. Tingkatan-tingkatan konsentrasi dalam pemusatan pemikiran tersebut dapat digambarkan dalam empat proses pencapaian Jhana, yaitu:

- Bebas dari nafsu-nafsu indria dan pikiran jahat, ia memasuki dan berdiam dalam Jhãna pertama, di mana vitakka (penempatan pikiran pada objek) dan vicãra (mempertahankan pikiran pada objek) masih ada, yang disertai dengan kegiuran dan kesenagan (piti dan sukha).

- Dengan menghilangkan vitakka dan vicara, ia memasuki dan berdiam dalam Jhãna kedua, yang merupakan ketenangan batin, bebas dari vitakka dan vicãra, memiliki kegiuran (piti) dan kesenangan (sukha) yang timbul dari konsentrasi.

- Dengan meninggalkan kegiuran, ia berdiam dalam ketenangan, penuh perhatian dan sadar, dan merasakan tubuhnya dalam keadaan senang. Dia masuk dan berdiam dalam Jhãna ketiga.

- Dengan meninggalkan kesenangan dan kesedihan, dia memasuki dan berdiam dalam Jhãna keempat, keadaan yang benar-benar tenang dan penuh kesadaran di mana kesenangan dan kesedihan tidak dapat muncul dalam dirinya.

Siswa yang telah berhasil melaksanakan Delapan Jalan Utama memperoleh :

1. Sila-visuddhi - Kesucian Sila sebagai hasil dari pelaksanaan Sila dan terkikis habisnya Kilesa (Kekotoran batin).
2. Citta-visuddhi - Kesucian Bathin sebagai hasil dari pelaksanaan Samadhi dan terkikis habisnya Nivarana (Rintangan batin).
3. Ditthi-visuddhi - Kesucian Pandangan sebagai hasil dari pelaksanaan Pañña dan terkikis habisnya Anusaya (Kecenderungan berprasangka).


Demikianlah Jalan Utama Berunsur Delapan yang telah dibabarkan oleh Guru Buddha. Satu-satunya Jalan yang menuju pada akhir Dukkha.
 
ga terlalu ngerti apa yang di bicarain... /wah
 
OOT bentar... Singthung AKi ??? owner sky net?

berhubung wa Buddhis jadi aga nyerempet jawabannya ke sana ya. keknya lebih bagus jika dijawab dengan menjadi Buddha baru hilang deh karmanya.
 
karma merupakan hukum sebab akibat
berbuat dengan landasan ikhlas aja biar gak jadi penjara jiwa :D
 
swt kiiii... ongsambu ini hauhauhauahu duh OOT maap kk momod

cie2 bandar bokep jadi bijak sekarang. hahah duh sorry OOT lg
 
kalo d agama gw ga kenal hukum karma
yg d knal yaitu tabur - tuai
kalo lu bilang orang patut membalas dendam yang dialami adalah suatu keadilan ?
kalo gw bilang itu salah...
biarkan Tuhan yg membalas... karena kita d larang menyakiti sesama (agama gw)
kalo d akitab ada tertulis "kasihilah sesamamu manusia, seperti kau mengasihi dirimu sendiri"
kalo kita saling membalas tak ada abisnya... yg ada dosa numpuk ^^
gw pernah denger 1 perkataan
"bila kita tidak saling membalas dendam, kita sudah mengurangi 1 orang jahat didunia ini."
 
oi,mana bisa menghentikan roda karma.klaw isa smwa org da masuk surga dan smwa na g susah lagi.
 
menurut pendapat dan pengalaman saya .. saya menganjurkan saudara saudara meditasi karena meditasi itu juga salah satu alternatif buang karma.. sehingga kita tidak lagi reinkarnasi..
 
menurut pendapat dan pengalaman saya .. saya menganjurkan saudara saudara meditasi karena meditasi itu juga salah satu alternatif buang karma.. sehingga kita tidak lagi reinkarnasi..

masa sih ? dengan meditasi = buang karma gt.. ?
 
Ada karma apa saya ga begitu percaya kk T.T tapi kalo ada ... Cape 'd
 
yap.. meditasi itu untuk menghapus karma.. terserah anda percaya atau tidak.. dengan meditasi rutin setiap hari maka kesadaran roh dan jiwa anda akan tinggi.. lambat laun karma anda akan habis.. dan pada saat uda habis maka anda tidak lagi menjalani siklus reinkarnasi...
 
yap.. meditasi itu untuk menghapus karma.. terserah anda percaya atau tidak.. dengan meditasi rutin setiap hari maka kesadaran roh dan jiwa anda akan tinggi.. lambat laun karma anda akan habis.. dan pada saat uda habis maka anda tidak lagi menjalani siklus reinkarnasi...

gaswat... baca lagi postingan Sinthung diatas. Meditasi bukan buang karma. Meditasi adalah cara untuk menenangkan konsentrasi. Tidak harus bersila. Bahkan bisa sambil ngisi thread ini. Dan.... tidak ada hubungannya sama sekali dengan buang karma....

Karma tidak bisa ditolak. Tidak bisa dibuang. Baik yang baik maupun yang buruk. Diterima saja. Dijalani. Bila banyak karma buruk, imbangi dengan karma baik. Caranya, jalankan perbuatan yang benar kepada sesama. Pemusatan pikiran yang benar dengan meditasi, hingga akhirnya bisa menjadi bijaksana.

Untuk menghentikan roda karma, tak ada cara lain, selain mencapai pencerahan. Dalam istilah Buddhis, mencapai Buddha.
 
Klo menurut gw dan juga berdasarkan agama gw (klo nggak salah), roda karma itu tidak dapat terlepas, baik itu karma yang baik maupun yang buruk, kalau kita berbuat hal yang buruk tentu nanti hasil atau buah hasil perbuatan kita akan dinikmati, kalu kita berbuat baik karmanya pun akan berbuah baik, jadi mau meditasi, mau ngapain aja kek pasti berkarma, nah kapan karmanya itu akan dinikmati, klo menuurt kepercayaan gw karma itu datang karena perbuatan kita dimasa kehidupan sebelumnya, dimasa kita hidup, dan dimasa yang akan datang, :)
 
gaswat... baca lagi postingan Sinthung diatas. Meditasi bukan buang karma. Meditasi adalah cara untuk menenangkan konsentrasi. Tidak harus bersila. Bahkan bisa sambil ngisi thread ini. Dan.... tidak ada hubungannya sama sekali dengan buang karma....

Karma tidak bisa ditolak. Tidak bisa dibuang. Baik yang baik maupun yang buruk. Diterima saja. Dijalani. Bila banyak karma buruk, imbangi dengan karma baik. Caranya, jalankan perbuatan yang benar kepada sesama. Pemusatan pikiran yang benar dengan meditasi, hingga akhirnya bisa menjadi bijaksana.

Untuk menghentikan roda karma, tak ada cara lain, selain mencapai pencerahan. Dalam istilah Buddhis, mencapai Buddha.

Klo menurut gw dan juga berdasarkan agama gw (klo nggak salah), roda karma itu tidak dapat terlepas, baik itu karma yang baik maupun yang buruk, kalau kita berbuat hal yang buruk tentu nanti hasil atau buah hasil perbuatan kita akan dinikmati, kalu kita berbuat baik karmanya pun akan berbuah baik, jadi mau meditasi, mau ngapain aja kek pasti berkarma, nah kapan karmanya itu akan dinikmati, klo menuurt kepercayaan gw karma itu datang karena perbuatan kita dimasa kehidupan sebelumnya, dimasa kita hidup, dan dimasa yang akan datang, :)
..mantap ah.. ;)
 
Karma menurut GW sih BISA DI HILANGKAN dengan cara selalu MELAKUKAN PERBUATAN BAIK agar tidak MENDAPATKAN KARMA ato HUKUMAN >:D<

Apakah KARMA=NASIB=TAKDIR :">
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.