• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Berdana … ketulusan atau formalitas

singthung

IndoForum Junior E
No. Urut
7164
Sejak
21 Sep 2006
Pesan
1.634
Nilai reaksi
27
Poin
48
RENUNGAN


BERDANA … KETULUSAN ATAU FORMALITAS


25.jpg




Kalau kita ke vihara, membaca parita-parita suci, mendengarkan khotbah Dhamma, kita sering mendengar tentang dana, dan seluk beluknya. Mengenai manfaat, kebajikan yang didapat serta ditimbulkan oleh dana. Demikian semangat para pemuka agama mengingatkan umat untuk rajin berdana, tak ayal lagi akan banyak umat yang beramai-ramai untuk menanam jasa kebajikan dengan berdana. Namun, dari semua yang berdana itu, sepersekiankah yang benar-benar tulus, atau hanya demi mengangkat pamor, ataupun sekedar formalitas saja?

Ada sebuah cerita yang mengisahkan bahwa pada suatu hari terdapat beberapa rekan dari vihara diundang untuk beramah-tamah di sebuah perusahaan yang cukup bergengsi. Bapak pemilik perusahaan tersebut tergolong aktif dalam aktivitas keagamaan. Pada saat itu kebetulan kita semua sedang berdiskusi tentang dana. Tiba-tiba beliau bercerita tentang sumbangannya ke sebuah vihara dengan selembar cek, lalu menyebutkan nilai nominalnya dan menawarkan kepada kami untuk melihat cek yang akan segera disumbangkannya itu. Kami menolaknya secara halus dengan mengemukakan bahwa kami semua percaya kepadanya.

Cerita di atas adalah merupakan sebagian kecil dari lingkungan yang kompleks. Kita banyak melihat orang-orang yang terkenal dan sangat dermawan. Hal tersebut patutlah disyukuri sekali, karena tanpa bantuan dari mereka, agama Buddha belum tentu berkembang sepesat ini di tanah air. Dalam berdana kita sering diberikan surat penghargaan dana, cindera mata, souvenir, dll. Itu merupakan suatu hal yang menyenangkan karena ada perhatian dari lawan pihak dengan menghargai ketulusan serta perhatian yang telah kita berikan.

Dalam agama Buddha, berdana sangatlah dianjurkan, namun tidak dipaksakan. Jadi kita tidak pernah mendengar bahwa sebagai umat yang telah bekerja dan berpenghasilan, diwajibkan untuk menyumbang sepersekian dari penghasilannya untuk berdana. Oleh karena itu, dari dalam diri kita sendiri harus sadar, tidak ada peraturan macam-macam yang mengikat, maka seyogyanya sifat kikir pun harus dikurangi. Sebesar apapun dana yang telah kita berikan dengan niatan yang tulus, mengesampingkan sifat kikir, akan jauh lebih bermakna bila dibandingkan dengan yang mengharapkan pamrih. Banyak hal yang dapat dilihat dari sisi lain dalam berdana. Namun semua itu berbalik ke hati nurani masing-masing. Sampai sejauh manakah ketulusan tanpa pamrih menggugah nurani kita untuk benar-benar mengamalkan Dhamma itu sendiri

Berharap bahwa umat Buddha selalu sadar dan percaya bahwa dengan berdana akan banyak membawa manfaat kebajikan yang berlimpah. Kita juga percaya kebenaran Hukum Kamma, apapun yang kita perbuat baik atau buruk akan berbuah sesuai dengan benih yang di tanam dan itulah kelak yang akan dituai. Sadhu Sadhu Sadhu…

 
kadang-kadang di vihara saya sangat menyedihkan, pembicara rata-rata menawarkan BERDANA demi iming-iming kebahagiaan seperti kekayaan,kesejahteraan,kesehatan,masuk alam dewa,dsb-nya....

mungkin saja bentuk pikiran saya yang seperti berpendapat demikian,maka saya memilih diam saja dan tidak peduli.....

tapi umat buddha tidak diharuskan berdana dengan membentuk pola pikir/motivasi/mental sedemikian....malah menambah ketamakan..

harusnya dengan mental melepas / ke-relaan.
 
tanpa mempedulikan apakah ada karma phala ataupun tidak... yang pasti...

BERDANA itu untuk melatih KERELAAN.

ini sangat saya rasakan...
 
Ada yang beramal dana karena ingin berbuat baik mendapatkan karma baik.

Yang serius berlatih , beramal dana untuk melatih kerelaan.

Yang kwalitas mental lebih tinggi , beramal dana karena ada rasa peduli.

Yang lebih tinggi lagi, beramal dana karena ingin memberi teladan, mengajari orang awam berbuat baik.

Yang paling tinggi , merasa diri tidak pernah beramal dan orang2 tak pernah melihatnya beramal.
 
Ada yang beramal dana karena ingin berbuat baik mendapatkan karma baik.

Yang serius berlatih , beramal dana untuk melatih kerelaan.

Yang kwalitas mental lebih tinggi , beramal dana karena ada rasa peduli.

Yang lebih tinggi lagi, beramal dana karena ingin memberi teladan, mengajari orang awam berbuat baik.

Yang paling tinggi , merasa diri tidak pernah beramal dan orang2 tak pernah melihatnya beramal.


@akiong

dari kelima tipe diatas, sy pernah merasakan kelima2nya sekaligus scr bersamaan. kalau begitu sy berada dikategori yg mn tu?
(*)
 
tergantung di mana kondisi batin kita lebih sering berada saat beramal dana. di mana itulah level mental kita.




Sesungguhnya orang2 suci itu dari orang2 biasa. Justru orang2 luar biasa sering yang tersesat. Hanya saja dia tidak pernah tahu.
 
@akiong

oyah kelupaan; ada 2 tipe orang yg tidak dicantumkan diatas:
-orang yg beramal karena terpaksa.
-orang yg beramal karena ingin diakui

:D
 
ya, masih ada 2 itu...hanya bingung mo dikategorikan ke mana..:>

apa bisa dikategorikan ke golongan yg belum memasuki garis start. Jadi belum ada level. menurut anda gimana ?



Orang suci membina, semakin hari semakin berkurang keinginannya dan semakin sederhana. Orang awam membina, justru ingin semakin hari semakin bertambah kemampuan supra nya.
 
kalo gue berdana...
yg ada di pikiran gw.....

gue berdana bukan karena materi yg gw berikan kpd si objek penerima dana...
tapi semata2 hanya karena cetana (niat) untuk berbuat baik kepada semua makhluk...

mengenai imbalan, saya tidak mencari juga tidak mengharapkannya...
karena target saya bukanlah 'muka' / nama baik, tetapi melatih diri untuk ber welas asih kepada semua makhluk... bukankah itu inti dari ajaran sang buddha ??

smoga saya nda salah ^^

=====

datang ke ajaran yang baik itu
lihat ke (arah) ajaran yang baik itu
buktikan ajaran yang baik itu
bila sudah terbukti kebenarannya, LAKSANAKANLAH !!
jangan cuma dijadikan SAMPUL doank... mubazir coy... ^^
stuju ??

tanpa mempedulikan apakah ada karma phala ataupun tidak... yang pasti...

BERDANA itu untuk melatih KERELAAN.

ini sangat saya rasakan...

kalo gue sebut, melatih NIAT dan TEKAD menjalankan BUDDHA DHAMMA, bro stuju ga ?
 
Semua sama saja. Yg penting ada kebaikan hati yg tersisa.



___________________________________________________________________

Carilah yg terbaik, capai kemapanan duniawi. Tapi lakukan dengan keadilan. Orang2 harus hidup dengan baik, belajar dengan baik, dan berusaha dengan baik, dan perprilaku dengan baik, agar bisa mendapatkan kemapanan duniawi, dengan begitu, anda telah membangun fondasi yg sangat kokoh menuju jalan Nibbana.
 
Memberi Dalam Dhamma Berarti Menambah
Oleh : Yang Arya Bhikkhu Subalaratano


Banyak orang terutama yang berwatak kikir akan tertawa mendengar kata-kata di atas. Karena baginya, orang yang telah memberikan sesuatu pasti akan mengurangi apa yang dimilikinya. Mana mungkin miliknya akan bertambah. Hal itu karena ia hanya melihat dengan menggunakan kaca mata duniawi, batinnya masih sangat terikat atau melekat kepada apa yang dimilikinya sekarang. Ia belum sadar bahwa apa yang dimiliki itu adalah merupakan buah dari kedermawanannya dahulu.

Di jaman Sang Buddha, seorang yang sangat kikir bernama Toddeya, karena
kedunguannya ia terikat kepada hartanya demikian hebat, setelah mati ia
tumumbal lahir menjadi seekor anjing yang menjaga tempat dimana ia
menyembunyikan hartanya itu. Barulah setelah Sang Buddha membuka tabir yang tak terlihat oleh mata manusia biasa kepada anak Toddeya, persoalan itu
menjadi jelas. Anak tersebut kemudian sadar bahwa harta yang dimiliki oleh
si dungu bukan memberikan kebahagiaan, tapi sebaliknya akan membawa orang itu ke alam penderitaan.


Oleh karena itu bila kita menginginkan kebahagiaan yang benar, berbuatlah
kebaikan dengan mengembangkan kedermawanan terhadap sesamanya. Sesuai dengan ajaran Sang Buddha, para umat dianjurkan untuk mengembangkan kedermawanannya. Memberikan dana kepada para bhikkhu, Samanera, fakir miskin dan usaha sosial bagi kesejahteraan masyarakat.

Adalah menjadi kewajiban atas dasar cinta kasih bagi para bhikkhu menerima
dana makanan yang dipersembahkan oleh umat *(pindapata)*. Karena hal itu
memberikan kesempatan kepada para umat mendapatkan ladang subur untuk
menanam bibit kebajikan sesuai dengan kemampuannya. Kebajikan yang ditanam di tempat yang subur pasti akan menghasilkan buah kebahagiaan dikemudian hari.

Sang Buddha sangat memuji sikap Y.A. Maha Kassapa yang dalam melakukan
pindapata, selalu berjalan di tempat mereka yang kurang mampu. Maksudnya
agar mereka mendapat kesempatan lebih dahulu untuk menanam kebajikan,
sehingga keadaan mereka bisa segera berubah menjadi lebih baik. Bagi mereka
yang dapat memberikan dana kepada orang suci memang sangat beruntung, karena kebajikan tersebut mempunyai kekuatan yang luar biasa. Dalam salah satu * sutta* yang diceritakan bahwa dana yang diberikan kepada seorang Arahat biasanya dalam 7 hari dapat memberikan buahnya.

Maka demi kebaikan para Umat, Sang Buddha meletakkan peraturan bagi para
bhikkhu *(Patimokhasila)*. Jika para Bhikkhu-Sangha selalu kokoh dalam
Dhamma-Vinaya, maka mereka adalah merupakan ladang subur bagi para umat. Oleh karena itu para umat juga berkewajiban menyokong agar para
Bhikkhu-Sangha kokoh dalam sila-silanya.

Dengan demikian para umat tidak kehilangan ladang subur untuk menanam bibit kebajikannya. Menurut hukum Kamma dan *Punnabbhava*, keadaan kita sekarang adalah merupakan buah dari perbuatan yang mendahuluinya. Jadi kalau sekarang kita miskin, adalah disebabkan perbuatan kita yang lampau, yaitu tidak dermawan.

Cara yang tepat untuk mereka yang menginginkan cita-citanya tercapai,
usahanya maju atau memperbaiki hidupnya ialah dengan jalan membuat kebajikan sebanyak-banyaknya. Tidaklah benar bahwa kekayaan dapat diminta di tempat keramat. Karena kekayaan seperti itu tidak akan memberikan kebahagiaan sejati. Hal ini hanya dikerjakan oleh mereka yang ingin cepat dan mudah memperoleh kekayaan semu tanpa memikirkan akibat yang pahit dikemudian hari.

Kita memang tidak dapat menentukan kapan kebajikan itu akan diterima. Tetapi pemberian seorang bijaksana memiliki 8 sifat mulia yang dapat mempercepat masaknya buah kebajikan itu:

1. *Sucim-deti:* dana barang yang bersih (suci). Barang yang diberikan benar-benar diperoleh dengan cara yang benar sesuai dengan Dhamma. Jadi bukan barang yang diperoleh dengan cara salah.

2. *Panitam-deti:* dana barang yang terbaik.
Barang yang diberikan adalah merupakan yang terbaik atau terpilih dari
yang dimiliki. Jadi mungkin saja bagi seorang miskin, sekepal nasi merupakan
yang terbaik dari yang dimilikinya.

3. *Kalena-deti:*dana diberikan tepat pada waktunya.
Seperti menanam bibit, subur tidaknya juga tergantung pada musim yang
tepat. Demikian juga pemberian barang atau dana makanan harus tepat pada
waktu dimana barang itu dibutuhkan. Pemberian makanan kepada bhikkhu atau
samanera tepat diberikan pada waktu pindapata, atau sebelum lewat tengah
hari.<

4. *Kappiyam-deti:*dana barang yang layak diberikan.
Barang yang diberikan hendaknya dapat bermanfaat bagi yang menerima dan
bukan yang membahayakan. Jadi pemberian yang mencelakakan penerimanya tidak disebut sebagai dana. Misalnya pemberian candu, alkohol dan sebagainya yang menyebabkan penerimanya menjadi mabuk.

5. *Viccheya-deti:*berdana secara bijaksana.
Dalam memberikan dana hendaknya dipilih orang yang tepat menerima atau
penyalurnya. Seperti menanam bibit kita membutuhkan ladang yang subur.
Pemberian dana kepada orang yang silanya kokoh pasti akan berbuah lebih baik daripada orang yang silanya kurang kokoh atau tidak memiliki sila
(kemoralan).

6. *Abhinam-deti:*melaksanakan dana harus tetap (kontinyu)
. Orang tidak semua dapat berdana dengan jumlah yang besar sekali saja.
Maka hendaknya tanpa jemu laksanakanlah dana terus menerus dimana ada
kesempatan sesuai dengan kemampuan. Sang Buddha bersabda: Kebajikan yang dilakukan terus-menerus laksana menitiknya air, lama-lama dapat memenuhi sebuah tempayan

7. *Dadam cittam pasadeti:* berdana harus dilaksanakan dengan pikiran
tenang dan rela.
Ketenangan dan kerelaan merupakan sifat mulia yang menambah harumnya
kebajikan.

8. *Datva attamano hoti:* setelah berdana batin merasa senang.
Kesenangan dan kebahagiaan ini dapat kita limpahkan dengan merenungkan
kepada para leluhur kita. Hal ini bisa dicapai bilamana dalam berdana batin
tidak melekat. Kebahagiaan ini masih terasa bila ingatan itu timbul kembali
dalam pikiran.

Dengan memiliki 8 sifat mulia ini, orang bijaksana tidak akan ragu bahwa
kebajikan yang dilaksanakan pasti akan cepat berbuah, menghasilkan
keberuntungan dan kebahagiaan di dalam hidupnya. Jadi benarlah kata-kata:
memberi dalam dhamma berarti menambah.
Dikutip dari Buku Bunga Rampai Dhammadesana, Bhikkhu Subalaratano
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.