Gerindra Mengekor PKS?
Prabowo Subianto sebagai pioner Gerindra, tentulah belajar banyak tentang fenomena PKS partai dengan sistem akar rumput yang rapi, perekrutan yang terkonsep dan garis komando top down paling disiplin, apa kata partai begitulah kata simpatisan.
Tidak seperti partai–partai lain yang menjadi besar karena faktor individu, PKS menjadi besar karena konsep dan tema yang dipegang teguh para elitnya. Di saat partai–partai lain akan kehilangan figur penting, kelak PKS malah siap–siap melepaskan profil –profil terbaiknya bagai anak panah yang siap dilepaskan ke gelanggang politik naisional.
Prabowo Counter Strike tentulah sangat paham tentang manajemen, apalagi sekian lama bergelut di manajemen tentara, tentulah para elit di Gerindra dengan motornya Prabowo tidak ingin mengulangi kesalahan partai-partai terdahulu yang kuat di puncak tapi hancur –hancuran di akar rumput karena manajemen partai yang instant dan asal popular alias asal bapak senang.
Prabowo Counter Strike dengan Gerindranya tentulah lebih cermat dalam membaca peta lawan–lawan politiknya , mereka tahu betul bahwa untuk memenangkan pertempuran berat seperti pemilu harus dengan cara yang canggih, persiapan yang lengkap dan langkah yang sempurna.
Dari sekian banyak partai yang akan bertarung, tentulah Gerindra harus punya konsep lebih dibanding partai partai pesaingnya. Dan untuk urusan konsep PKS adalah Partai yang paling susah diimbangi, maka dari itu jauh-jauh hari Prabowo sudah mempersiapkan banyak amunisi untuk menyamai konsep PKS, program HKTI. Asosiasi Pedagang Pasar adalah salah satu contoh dari langkah kuda Prabowo dalam mengatur strategi untuk memenangkan pertarungan.
Konsep promosi dibanyak media dan perekrutan kader yang menggunakan jariangan sosial adalah langkah selanjutnya yang memang cuma bisa dilakukan oleh orang-orang yang kompeten dan ahli dalam manajerial.
Gerindra dan PKS adalah fenomena Indonesia, partai dengan manajemen kelas dunia , partai dengan kekuatan pada faktor konsep dan tema. Salut buat keduanya.
http://inilah.com/berita/citizen-journalism/2009/02/12/83059/gerindra-mengekor-pks/
PKS dan Golkar, Partai Kader Yang Solid
Pemilu 2009 tinggal hitungan hari. Partai politik dan para calegnya semakin bersiap mengerahkan sumberdaya untuk memenangkan pertarungan. Di tengah hiruk pikuk menyongsong pemilu 2009 kita dihadapkan pada ketidakpastian arah demokrasi Indonesia. Demokrasi yang berpotensi menghasilkan produk legislator yang tidak berkualitas dan hanya mengandalkan citra.
Agaknya menjadi persoalan tersendiri bagi bangsa ini, untuk mampu menciptakan sistem bernegara yang mampu membawa bangsa ini menjadi bangsa yang terhormat. Karena sepertinya kita berputar-putar dalam kubangan persoalan yang tiada hentinya. Memang butuh pengorbanan dan kerja keras, untuk membangun demokrasi di tengah masyarakat yang pragmatis.
Jika dirunut, akar persoalan ini akan berujung pada kapabilitas kepemimpinan. Jika saat ini rakyat menjadi sangat pragmatis, itu wajar karena mereka juga merasakan secara langsung wakil yang mereka pilih sangat pragmatis ketika sudah duduk di Senayan.
Jika demikian adanya, tak pelak, keberadaan partai politik menjadi cukup strategis. Karena partai politik menjadi pilar demokrasi dengan melakukan proses penyaringan pemimpin atau wakil-wakil yang kredibel dan berkualitas. Masalahnya adalah, proses rekrutmen dan kaderisasi di tubuh partai politik belum optimal, seperti misalnya masih menempatkan caleg yang hanya mengandalkan popularitas, tanpa memiliki agenda perbaikan bangsa yang jelas, atau masih menempatkan koruptor dan komprador asing sebagai calon-calon legislatornya.
Dilematis memang. Karenanya tesis tentang partai kader menjadi menarik untuk dikedepankan. Ada contoh menarik terkait partai kader ini. Seperti PKS misalnya, dengan konsep kaderisasi internal di partainya mereka mampu melakukan aktifitas berpartai yang produktif dan elektabilitasnya terus naik secara signifikan. Juga Golkar dengan basis kadernya mampu bertahan pada pemilu 99 di tengah gempuran dari segala arah.
Berbeda dengan partai massa yang hanya mengandalkan citra dan popularitas temporer, Seperti Demokrat, PAN dan partai lainnya. Sebagai awam, kita dapat menilai, partai-partai massa ini memiliki kontrol internal yang sangat lemah. Bahkan dalam proses penyaringan caleg seperti saat ini, caleg-caleg dimunculkan tidak memiliki track record perjuangan yang jelas, atau bahkan bisa jadi si caleg mendaftar menjadi anggota partai saat akan pemilu saja. Sangat pragmatis.
http://inilah.com/berita/citizen-journalism/2009/03/08/89080/pks-dan-golkar-partai-kader-yang-solid