• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Testimonial

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Abraham
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Abraham

IndoForum Newbie E
No. Urut
45342
Sejak
5 Jun 2008
Pesan
32
Nilai reaksi
0
Poin
6
Mari berbagi kesaksian tentang cerita perjalanan hidup kita, keluarga, teman etc bersama Tuhan..

Meskipun mungkin kesaksian saudara sederhana tapi saya percaya setiap hal baik yang kita tabur akan berbuah baik pula dan dapat menjadi berkat bagi rekan-rekan IF sekalian..

GBU all. /no1
 
Segala Sesuatu Ada Waktunya

Sunday, 10 June 2007

Saat Ibadah Tutup Tahun 31 Desember 2006, firman Tuhan yang disampaikan oleh Bapak Gembala berbicara tentang segala sesuatu ada waktunya. Tuhan menggenapi janjiNya dengan caraNya yang indah.

2 tahun yang lalu, tepatnya Agustus 2004, di perusahaan tempat saya bekerja menawarkan pinjaman tanpa bunga untuk pembelian mobil. Saat itu saya sangat ingin mengganti mobil saya dengan yang baru, saya sangat mengharapkan mendapat pinjaman itu. Saya senantiasa berdoa menantikan pengumuman pinjaman tersebut. Ternyata saat pengumuman saya gagal mendapat pinjaman. Saat itu saya sangat kecewa karena jawaban doa saat berbeda dengan yang saya harapkan.

Oktober 2005 kembali dibuka pendaftaran untuk peminjaman di perusahaan, kali ini saya sangat yakin saya pasti mendapatkannya karena saya sudah 2 kali mengajukan peminjaman. Saya berdoa terus untuk mendapat jawaban dari Tuhan. Ternyata saat pengumuman kembali saya tidak mendapatkan pinjaman yang sangat saya harapkan. Hati saya hancur, saya sangat kecewa dan sempat protes kepada Tuhan. Saya sudah menabur dan mengembalikan perpuluhan, tapi mengapa doa saya tidak segera dijawab. Setelah itu saya larut dalam kekecewaan dan sempat tidak memiliki harapan lagi untuk mendapat pinjaman dari perusahaan. Bahkan saya ingin memenuhi keinginan saya sendiri melalui pinjaman bunk, tapi bunganya sangat memberatkan saya. Istri saya mengingatkan saya agar bersabar dan berharap hanya kepada Tuhan, pasti Tuhan punya rencana yang indah dibalik semua kegagalan yang kami alami.

September 2006 setelah ulang tahun gereja, saya mengisi formulir permohonan doa dengan permohonan mendapat mobil baru. Setelah menunggu, ternyata sampai oktober 2006 masih belum dibuka pendaftaran pinjaman di perusahaan (biasanya pendaftaran dibuka bulan Agustus-Oktober). Lalu kembali saya mengisi formulir permohonan doa dengan isi yang sama yaitu mendapat mendapat mobil baru, entah bagaimana caranya saya serahkan kepada Tuhan.

Ternyata November 2006 baru dibuka pendaftaran pinjaman dari perusahaan. Kembali saya mendaftar dan bawa pergumulan ini dalam doa setiap malam. 2 minggu setelah natal saya mengambil formulir jawaban doa dan dengan iman saya menulis bahwa doa saya pasti dijawab, yaitu saya mendapat mobil baru. Saat saya akan masukkan formulir jawaban doa ke dalam kotak jawaban doa, istri saya bekata agar saya berserah kepada Tuhan, apapun hasil pengumumannya jangan sampai saya kecewa pada Tuhan, saya jawab dengan yakin minggu depan saya pasti masukkan formulir ini ke dalam kotak jawaban doa.

Puji Tuhan, minggu depannya benar-benar Tuhan menjawab doa yang selam ini saya gumulkan. Saya mendapat pinjaman untuk pembelian mobil baru. Bahkan karena pembelian dilakukan di akhir tahun, ada potongan harga yang besar diberikan oleh dealer. Memang tepat apa yang bapak gembala sampaikan. Semua ada waktunya, waktu Tuhan adalah yang terbaik, kita harus sabar menunggu waktunya Tuhan. Jangan mengandalkan kekuatan sendiri untuk menyelesaikan pergumulan, cara dan waktu Tuhan adalah yang terbaik untuk kita.
 
Belum Waktunya

Wednesday, 15 August 2007

1 November 2006 saya sakit panas tidak sembuh-sembuh. Sebelumnya saya tidak pernah sakit panas seperti ini.

Hari Senin saya putuskan untuk pergi ke dokter, karena selain panasnya belum reda, di tangan saya muncul bintik-bintik merah. Kebetulan karena masih siang, dokter belum ada yang praktek, yang ada dokter jaga. Saya diperiksa dan diberi resep. 2 hari kemudian karena belum ada perubahan, saya pergi ke dokter yang lain. Saat itu saya diberi resep dan disuruh cek lab. Hasilnya semua baik (dalam batas normal) hanya trombosit saya yang mengkhawatirkan, 175 (minimal 150).

Malamnya saya tidak bisa tidur. Saat itu rasanya baru saja saya memejamkan mata dan saya seperti melihat hal-hal yang aneh. Seperti ada orang yang jelek sekali, dengan baju putih yang sangat kotor dan tidak karuan. Dia memanggil-manggil nama saya bahkan sempat memegang jari saya. Tapi saya tidak mau. Saya juga melihat seperti ada pengangkatan, tapi semuanya berwarna merah seperti api. Dalam hati saya terus berdoa dan berseru kepada Tuhan. ‘Tuhan, apa ini sudah waktunya?’

Di sisi lain saya mendengar suara pujian yang sangat indah, merdu dan lagunya enak sekali. Suara itu semakin lama semakin keras, yang menyanyi adalah para malaikat Tuhan. Jumlahnya banyak sekali, seperti ada ada di suatu mimbar yang penuh dengan malaikat Tuhan mengenakan pakaian yang sangat indah, menyanyikan lagu pujian yang sangat indah dan sangat merdu. Lalu saya juga mendengar ada suara menjawab pertanyaan saya tadi. ‘Bukan, ini belum saatnya, ini bukan waktumu.’ Suara itu sangat jelas terdengar. Bersamaan dengan itu orang yang jelak tadi menghilang dan ada cahaya yang bersinar terang, sangat terang. Dan ada seekor merpati putih terbang.

Keesokan harinya ketika saya bangun. Saya merasa sudah sehat, tidak ada bintik merah lagi. Saat periksa ke dokter, dokter minta saya untuk cek trombosit lagi. Dalam hati saya tidak mau, buat apa cek lagi, saya kan sudah sembuh. Tapi untuk membuktikan dan orang-orang di skeliling saya percaya, saya cek lagi dan hasilnya saya benar-benar sehat.
 
Melalui Pujian dan Penyembahan Saya Disembuhkan

Sunday, 13 May 2007

17 Mei 2005, saya mengalami sakit di bagian tenggorokan yang membuat saya tidak bisa bersuara. Hingga tanggal 20 saya sudah minum obat dengan rutin hingga jamu yang katanya bisa membuat saya bersuara kembali, tapi ternyata tidak ada hasilnya. Kata tetangga saya sakit saya ini setidaknya 3 atau 4 minggu baru bisa sembuh jika rutin dalam pengobatan.
Tanggal 21, hari Minggu. Saya selalu datang Ibadah Raya ke-2. Jam 7 pagi saya sudah siap dan berangkat ke gereja. Dalam perjalanan saya memiliki keinginan untuk tidak jadi beribadah karena penyakit yang sedang saya alami. Tapi saya teringat bahwa dalam pujian penyembahan ada kuasa yang bisa menyelesaikan masalah apa saja. Tapi hati saya tidak yakin apakah saya bisa disembuhkan Tuhan. Jam 8 saya tiba di gereja, saya beranikan diri untuk masuk dan didalam saya langsung berdoa kepada Tuhan. Saya minta kesembuhan dalam Ibadah Raya II ini. Saat itu pujian yang dinaikkan berjudul “Hatiku Percaya” saya ikut memuji dan bergerak. Sebelum tiba di bagian lirik, saya paksakan tenggorokan saya untuk mengeluarkan suara dan menyanyikan lagu ini. Tiba-tiba Tuhan memberi kesembuhan total sehingga saya bisa bersuara seperti semula dan mengucapkan ‘...kumau slalu bersyukur’. Itu adalah mujizat bagi saya dan saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus. Benar-benat tidak ada yang mustahil bagi Tuhan Yesus, ada kuasa dalam pujian dan penyembahan.
 
Saat Kuangakat Tangan, Tuhan Turun Tangan

Tuesday, 10 October 2006

Tanggal 30 Desember 2005 soft lens saya hilang 1 saat akan dilepas. Sedangkan tanggal 31 malam saya harus melayani tamborine untuk acara tutup tahun di Gereja. Jadi tanggal 31 siang saya harus beli soft lens yang baru.

Setelah di cek, saya diberi soft lens dengan ukuran yang sesuai dan langsung saya pakai. Sebelum dipakai softlens harus dicuci dengan cairan pembersih, tapi yang disediakan di toko itu berbeda merk dengan yang biasa saya pakai di rumah. Ternyata mata saya sangat sensitif dan tidak cocok dengan cairan itu. Ketika saya tempelkan ke mata, rasanya pedih sekali seperti terkena sabun. Saya berteriak kesakitan dan soft lens pun dilepas, mata saya dibilas air bersih, tapi mata saya tetap sakit dan sangat merah. Saca coba obati dengan tetes mata untuk iritasi ingan tapi mata saya malah mengeluarkan air terus menerus. Setelah bebrapa jam, wajah bagian kiri saya sampai kram karena sakit yang luar biasa. Pukul 8 malam saya hampirmrmutuskan untuk tidak jadi bertugas tamborine, tapi saya teringat ketika beberapa hari terakhir orang tua saya selalu mengatakan, “Kalau kamu setia melayani Tuhan, hidupmu pasti terjamin”, dan akhirnya saya menguatkan diri untuk tetap melayani. Saya berdoa supaya Tuhan sembuhkan saya dan saya bisa melayani dan memberi yang terbaik. Tapi rasa sakit itu malah semakin hebat.

Sesaat sebelum tampil di mimbar saya menangis, saya ingat selama 1 tahun ini memang saya agak kurang komitment dalam pelayanan, seringakali teledor dan tidak disiplin. Tapi kenapa saat saya mau bertobat dan benar-benar melayani dengan tulus malah mata saya sakit seperti ini? Lalu saya minta ampun kepada Tuhan. Setelah selesai melayani mata saya bertambah sakit.Teman-teman menyarankan saya untuk pergi ke UGD Rumah sakit terdekat tapi saya tetap berharap bahwa Tuhan yang sembuhkan saya, lalu saya mengikuti ibadah tutup tahun.

Keesokan harinya saat bangun, saya sangat terkejut dan hal pertam yang saya lakukan adalah berteriak histeris memanggil orang tua saya karena kelopak mata kiri saya tidak bisa membuka (bengkak), saya pikir saya buta. Tapi setela ditengankan oran tua, kami berdoa bersama. Kebetulan hari itu tanggal merah, tidak ada doketr mata yang praktek. Akhirnya saya hanya menutup mata kiri say dengan kasa untuk menghindari kuman dan menutupi kebengkaan.

Tuhan ijinkan saya hari ini untuk banyak beristirahat dan merenung, berharap sepenuhnya kepada Tuhan. Tanggal 1 sore, perban saya buka. Mata saya sudah mulai bisa membuka karena bengkaknya mengecil. Tapi mata masih terasa pedih. Ketika adik saya melihatnya dan berkata, “Semalam aku mimpi matamu sembuh”. Saya tangkap perkataan itu, saya aminkan.

Tanggal 2 pagi ketika bangun tidur terjadi mujizat. Mata kiri say sembuh total. Tidak terasa pedih, matapun bening dan tidak bengkak. Saya bersyukur pada Tuhan dan saya berjanji untuk bersaksi atas kebesaran Tuhan ini.Dulu say pernah mengalami iritasi karena softlens juga, hanya ringan saja dan tidak sakit sama sekali tapi butuh 4 hari untuk sembuh. Sekarang Tuhan menyatakan mujizatNya dengan iritasi yang lebih parah tapi sembuh dalam waktu yang singakat dan tanpa obat.

Saat kita mau setia dan berharap penuh pada Tuhan, Tuhan itu tak akan pernah mengecewakan kita. Dia sudah lebih dulu melayani kita, mari kita melayani Tuhan sebagai wujud membalas cintaNya dengan tulus, bukan sebagai beban.
 
Dicukupkan Dalam Kekurangan

Saturday, 21 July 2007

Saat itu keluarga saya benar-benar jatuh karena hutang yang sangat banyak, ditambah 2 rumah saya yang digadaikan beserta dengan rumah ibu saya dan juga 2 toko saya yang saya gadaikan selama ± 10 tahun.

Ditambah dengan bunga dari lintah darat yang sudah 8 tahun, yang semakin hari semakin membuat keluarga saya stress. Hutang yang jumlahnya sudah bukan jutaan lagi, tapi sudah milyaran dikarenakan pekerjaan saya sebagai wiraswasta yang selalu dicurangi orang-orang. Orang-orang yang saya beri kesempatan untuk membayar dibelakang justru lari, padahal jumlahnya sangat banyak. Bahkan jumlah peminjamnya sudah mencapai puluhan orang. Sehingga mau tak mau saya harus meminjam uang dari lintah darat guna membayar barang dagangan saya yang tidak dibayar oleh pelanggan-pelanggan saya.

Saya tidak mau lari dari hutang-hutang saya yang jumlahnya sudah bermilyar. Saya jual aset-aset saya. Satu setengah tahun kemudian rumah saya yang ada di Jagalan akhirnya laku terjual. Selama satu setengah tahun itu ujian terus berdatangan. Setiap hari saya bingung untuk menawarkan rumah saya agar cepat terjual. Karena jika lama tidak laku maka bunga dari lintah darat semakin banyak dan harus terus menerus pinjam uang untuk membayar hutang saya. Namun hasil panjualan rumah ini belum juga bisa menutup hutang saya, karena 75% nya untuk menebus rumah yang saya gadaikan.

Akhirnya rumah yang saya tempati pun terpaksa saya jual. Saat itu keadadan keluarga saya semakin memburuk dan tidak ada penghasilan sama sekali. Jika dihitung saya menempati rumah sendiri seperti tinggal di hotel berbintang karena rumah ini saya gadaikan dan setiap tahun harus bayar ±50juta. Uang dari mana jika setiap hari saya tidak punya penghasilan, apalagi saya single parent. Wanita mana yang kuat menghadapi ujian ini, semua hanya karena Tuhan Yesus yang menopang dan member kekuatan kepada saya.

Setiap hari yang ada hanya ratap tangis kekhawatiran, apalagi kedua anak saya masih membutuhkan biaya yang banyak untuk pendidikan. Dalam usaha saya menjual rumah, semua orang sudah menilai bahwa rumah saya tidak mungkin laku, apalagi nilainya sudah milyar. Bahkan saudara saya sendiri menjauhi saya dan menyumpahi saya bahwa rumah saya tidak akan laku. Dia bilang kalau bukan orang ‘keblasuk’ atau gila apa ada yang mau beli rumah yang nilainya milyar. Namun saya tidak peduli terhadap perkataan itu. Saya mengimani bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah.

Sampai anak saya akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, rumah saya masih belum terjual (sudah 2 tahun). Saya hendak menyekolahkan anak saya ke sekolah negeri, namun anak saya benar-benar tidak mau kalau tidak masuk sekolah swasta. Padahal biayanya sangat mahal. Akhirnya anak saya diterima di jalur prestasi. Saya sangat bersyukur karena meskipun kaluarga saya tidak mampu namun anak saya berprestasi. Tapi ternyata jalur prestasi bukan seperti yang saya bayangkan (uang pangkal ringan). Justru uang masuk jauh lebih mahal dari yang jalur biasa.

Saat wawancara saya sudah sangat bingung dan khawatir. Sepanjang perjalanan saya dan anak saya terus berdoa supaya proses wawancara bisa lancer dan tidak dipersulit. Sampai di sekolah saya sangat takut karena saya hanya punya uang Rp.250.000,-. Saya dengar dari banyak orang tua siswa yang sudah diwawancara tekana biaya yang sangat mahal padahal mereka sudah tawar menawar ±1 jam dan tetap saja uang masuknya tinggi. Saya sangat takut dan berniat membatalkan anak saya masuk sekolah itu. Tapi saya berdoa ‘Tuhan, jika memang engkau yang berehendak anak saya bersekolah di sini, maka saya yakin Engkau yang akan memudahkan dan member yang terbaik.’ Akhirnya saya masuk ruang wawancara, anak saya takut dan cemas menunggu di luar. Hanya 5 menit saya keluar dengan meneteskan air mata karena saya terbebas dari uang sumbangan yang wajib dibayar Rp.500.000,-. Saya dan anak saya sangat bersyukur akan hal ini. 3 bulan kemudian rumah saya terjual diatas harga yang saya tentukan. Semua orang terheran-heran. Dalam hati saya berkata, ‘Semua ini karena Allahku yang dahsyat melampaui segala akal dan pikiran manusia.’
 
Jangan coba-coba tidak setia

spacer.png, 0 kB

Thursday, 02 November 2006

Berawal dari Tahun Baru Imlek lalu, angpao yang kami dapatkan kami kembalikan untuk perpuluhan milik Tuhan.

Kami merasa jumlahnya sudah berlipat-lipat dari perpuluhan biasa yang setiap bulan kami persembahkan, maka saya memutuskan hanya memberi perpuluhan dari angpao saja. Apa akibatnya ? Percaya tidak percaya, belum genap 1 minggu, kami 3 orang dari 4 orang dalam keluarga kami terkena sakit mata (belek). Biaya yang kami keluarkan untuk membayar dokter dan obat sebesar jumlah perpuluhan yang seharusnya kami kembalikan untuk Tuhan.

Saudara sekalian, saya menghimbau apabila kita sudah mengerti perpuluhan, jangan sampai kita berani mencoba untuk tidak stia pada Tuhan. Tuhan memberkati. Amin.
 
Pertolongan Tuhan selalu tepat pada waktunya

Wednesday, 11 October 2006

Kurang lebih sudah 2 tahun ini Tuhan memberi saya kekuatan untuk bisa setia dalam 3 hal. Pertama, rutin membaca Alkitab setiap hari secara berurutan 4 – 5 pasal setiap hari.

Kedua memberi persembahan perpuluhan dan ketiga memberikan persembahan untuk pembangunan gereja yang besarnya adalah 10% dari gaji saya. Saya merasakan cukup banyak godaan dalam menjalankan ketiga hal tersebut. Misalnya adanya kebutuhan hidup yang mendadak, adanya anggota keluarga yang sakit sehingga memerlukan biaya pengobatan, rasa lelah mengantuk dan merasa tidak mengerti firman Tuhan yang dibaca. Tetapi saya tetap berusaha setiap membaca firman Tuhan dan menabur untuk pekerjaan Tuhan. Bisa dikatakan saat ini, kami sedang menabur sambil mencucurkan air mata tapi kami yakin suatu hari nanti kami akan menuai sambil bersorak-sorai.

Selama ini saya dan suami merasakan betul pemeliharaan Tuhan dalam hidup kami mulai dari proses pacaran berjalan tanpa kendala yang berarti, Tuhan menyediakan rumah, pemenuhan kebutuhan dana untuk pesta perkawinan dan semua kebutuhan hidup kami disediakan Tuhan tepat pada waktunya. Kami tidak pernah dipermalukan. Selama ini kami selalu bisa membayar cicilan rumah, rekening listrik, rekening telepon dan premi asuransi dengan tepat waktu. Meskipun perhitungan diatas kertas seringkali tidak mencukupu, pada akhirnya semuanya selalu bisa terpenuhi. Tuhan menyediakan tepat pada waktuNya. Kami belajar dari hari ke hari untuk semakin beriman kepada Tuhan untuk semua hal. Amin
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.