Saat Kuangakat Tangan, Tuhan Turun Tangan
Tuesday, 10 October 2006
Tanggal 30 Desember 2005 soft lens saya hilang 1 saat akan dilepas. Sedangkan tanggal 31 malam saya harus melayani tamborine untuk acara tutup tahun di Gereja. Jadi tanggal 31 siang saya harus beli soft lens yang baru.
Setelah di cek, saya diberi soft lens dengan ukuran yang sesuai dan langsung saya pakai. Sebelum dipakai softlens harus dicuci dengan cairan pembersih, tapi yang disediakan di toko itu berbeda merk dengan yang biasa saya pakai di rumah. Ternyata mata saya sangat sensitif dan tidak cocok dengan cairan itu. Ketika saya tempelkan ke mata, rasanya pedih sekali seperti terkena sabun. Saya berteriak kesakitan dan soft lens pun dilepas, mata saya dibilas air bersih, tapi mata saya tetap sakit dan sangat merah. Saca coba obati dengan tetes mata untuk iritasi ingan tapi mata saya malah mengeluarkan air terus menerus. Setelah bebrapa jam, wajah bagian kiri saya sampai kram karena sakit yang luar biasa. Pukul 8 malam saya hampirmrmutuskan untuk tidak jadi bertugas tamborine, tapi saya teringat ketika beberapa hari terakhir orang tua saya selalu mengatakan, “Kalau kamu setia melayani Tuhan, hidupmu pasti terjamin”, dan akhirnya saya menguatkan diri untuk tetap melayani. Saya berdoa supaya Tuhan sembuhkan saya dan saya bisa melayani dan memberi yang terbaik. Tapi rasa sakit itu malah semakin hebat.
Sesaat sebelum tampil di mimbar saya menangis, saya ingat selama 1 tahun ini memang saya agak kurang komitment dalam pelayanan, seringakali teledor dan tidak disiplin. Tapi kenapa saat saya mau bertobat dan benar-benar melayani dengan tulus malah mata saya sakit seperti ini? Lalu saya minta ampun kepada Tuhan. Setelah selesai melayani mata saya bertambah sakit.Teman-teman menyarankan saya untuk pergi ke UGD Rumah sakit terdekat tapi saya tetap berharap bahwa Tuhan yang sembuhkan saya, lalu saya mengikuti ibadah tutup tahun.
Keesokan harinya saat bangun, saya sangat terkejut dan hal pertam yang saya lakukan adalah berteriak histeris memanggil orang tua saya karena kelopak mata kiri saya tidak bisa membuka (bengkak), saya pikir saya buta. Tapi setela ditengankan oran tua, kami berdoa bersama. Kebetulan hari itu tanggal merah, tidak ada doketr mata yang praktek. Akhirnya saya hanya menutup mata kiri say dengan kasa untuk menghindari kuman dan menutupi kebengkaan.
Tuhan ijinkan saya hari ini untuk banyak beristirahat dan merenung, berharap sepenuhnya kepada Tuhan. Tanggal 1 sore, perban saya buka. Mata saya sudah mulai bisa membuka karena bengkaknya mengecil. Tapi mata masih terasa pedih. Ketika adik saya melihatnya dan berkata, “Semalam aku mimpi matamu sembuh”. Saya tangkap perkataan itu, saya aminkan.
Tanggal 2 pagi ketika bangun tidur terjadi mujizat. Mata kiri say sembuh total. Tidak terasa pedih, matapun bening dan tidak bengkak. Saya bersyukur pada Tuhan dan saya berjanji untuk bersaksi atas kebesaran Tuhan ini.Dulu say pernah mengalami iritasi karena softlens juga, hanya ringan saja dan tidak sakit sama sekali tapi butuh 4 hari untuk sembuh. Sekarang Tuhan menyatakan mujizatNya dengan iritasi yang lebih parah tapi sembuh dalam waktu yang singakat dan tanpa obat.
Saat kita mau setia dan berharap penuh pada Tuhan, Tuhan itu tak akan pernah mengecewakan kita. Dia sudah lebih dulu melayani kita, mari kita melayani Tuhan sebagai wujud membalas cintaNya dengan tulus, bukan sebagai beban.