• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Tentang AYAT-AYAT CINTA

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. judi
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

judi

IndoForum Activist D
No. Urut
12992
Sejak
22 Mar 2007
Pesan
12.330
Nilai reaksi
459
Poin
83
ada yang sudah melihat/menonton ayat cinta? kalau ada yang sudah bisakah antum sekalian menjelaskan tentang kebingung ane tentang adegan yang ada dalam film ayat-ayat cinta dalam pandangan islam.
1.disalah satu adegan digambarkan Fahri tokoh utama dalam film itu menikahi maria (penganut kristen koptik)...menurut pandangan antum sah kah pernikahan mereka dalam pandangan islam ..semantara mereka miliki agama yang berbeda?

2. Syah kah dalam pandangan islam menikahi wanita yang dalam kedaan tidak sadar?

 
ayat2 cinta itu sebenarnya film romance..hanya saja dibungkus dengan bingkai agama yang kebetulan islam...
 
ane nonton di DVD tapi bukan bajakan loh yah kebetulan ane punya kenalan sama bagian produksinya...
 
aq jawab no.2
jawaban dr Ust.Ahmad Alwat Lc. (eramuslim)

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Seperti yang saya lihat di film Ayat-ayat Cinta, ada adegan si lelaki menikahi wanita yang sedang tergeletak tak sadarkan diri karena sakit parah (koma). Apakah sah nikahnya? Karena si wanita pasti tidak sadar bahwa dia sedang dinikahkan dan meskipun mungkin mencintai tapi belum tentu dia mau menikah dengan lelaki tersebut.

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

SHB
Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebagaimana kita ketahui bahwa akad nikah dalam syariah Islam adalah akad yang terjadi antara seorang ayah dengan laki-laki yang anak menjadi menantunya.

Sang Ayah mengucapkan ijab, yaitu lafadz yang intinya beliau menikahkan si calon menantu dengan anak gadisnya. Dan si calon menantu akan mengucapkan lafadz qabul, yang intinya adalahpersetujuan atas ijab tersebut.

Kalau ijab dan qabul itu terjadi dan disaksikan oleh minimal dua orang laki-laki yang muslim, baligh, aqil, merdeka, dan adil, maka akan nikah itu sah.

Lalu bagaimana dengan si gadis? Tidak adakah peranan yang dimilikinya? Tidakkah si gadis itu harus dimintai persetujuanya?

Dalam hukum seorang gadis dengan ayah kandungnya, kita mengenal istilah wali mujbir, yaitu wali yang punya hak sepenuhnya atas diri seorang gadis. Dari sekian deret orang yang berwenang menjadi wali, yang posisinya sampai berhak 'memaksa' hanyalah ayah dan kakek (ayahnya ayah).

Dan kewenangan wali mujbir memang sampai bisa menikahkan si anak gadis, dengan atau tanpa persetujuanya. Setidaknya, akad yang dilakukan oleh seorang wali mujbir itu hukumnya sah.

Namun lepas dari hukum sah atau tidaknya, tentu saja seorang ayah yang melakukan perbuatan pemaksaan terhadap anak gadisnya, dia juga akan ditanya di sisi Allah atas kesewenangan dan kezhalimannya.

Jadi mohon dibedakan dulu antara kewenangan dan kesewenang-wenangan. Keduanya mungkin saja terjadi. Kewenangan adalah hak dalam hukum, namun kesenang-wenangan adalah tindakan yang zhalim.

Sebagai ilustrasi, secara ketentuan almamater, seorang dosen punya kewenangan untuk memberi nilai secara subjektf kepada mahasiswanya. Dia bisa memberi A atau E, semua adalah kewenangan dosen. Bahkan pak Rektor pun tidak hak untuk mencampuri hak atau kewenangan ini.

Namun di sisi lain, bila seorang mahasiswa diberi nilai E oleh seorang dosen secara zhalim, padahal mahasiswa itu berhak dapat A, maka kita katakan bahwa dosen ini telah berlaku sewenang-wenang.

Tapi apakah bisa diubah kewenangannya? Tentu tetap tidak bisa, kecuali bila dosen itu sendiri yang mengubah keputusannya.

Demikian juga dengan kewenangan seorang wali mujbir, dia berhak menikahkan anak gadisnya dengan atas persetujuan atau tidak sama sekali. Juga berhak menikahkannya dengan sepengetahuan anak gadisnya atau tidak sama sekali.

Lalu solusi apa yang paling tepat?

Sederhana saja, seorang anak gadis seharusnya sangat dekat dengan ayahnya. Sehingga sang ayah tidak perlu menggunakan hak preogratifnya dalam hal menikahkan anak gadis itu. Biarkanlah anak gadis menjadi sangat dekat dengan ayahnya, sehingga apa pun yang diinginkan oleh si gadis, ayahnya akan memenuhinya, termasuk dalam hal memilih calon suami.

Maka bagi seorang wanita muslimah yang aktifis, perlu diingat bahwa semua aktifitas Anda menjadi seorang kader atau aktifis, akan menjadi sia-sia dan tidak ada gunanya, manakala anda tidak mampu mengambil hati ayah kandung. Sebab biar bagaimana pun, hak dan wewenang ayah kandung itu mutlak dibenarkan dalam syariah Islam.

Kalau seorang wanita datang dengan calon suami ideal pilihannya, tapi sang ayah masih menggeleng, jelas sudah siapa yang menang. Yang menang tentu saja ayah, meski si gadis telah didukung oleh 1.000 ustadz atau ustadzah kondang sekalipun.

Kembali kepada wanita yang sedang koma lalu dinikahkan oleh ayah kandungnya, maka hukumnya sah. Karena persetujuan seorang pengantin wanita tidak termasuk di dalam syarat sah sebuah akad nikah.

Menikahi Wanita Kristen

Mungkin setelah itu anda akan bertanya lagi, bagaimana hukumnya menikahi wanita yang saat dinikahi agamanya masih kristen? Dan bagaimana pula status walinya, apakah si ayah yang masih kristen itu juga bisa menjadi wali dalam akad nikah? Bukankah syarat seorang wali harus beragama Islam?

Jawaban atas pernyataan itu adalah bahwa seorang laki-laki muslim memang dibenarkan menikahi wanita ahli kitab. Dan hal itu ditetapkan lewat ayat Al-Quran, sunnah nabawiyah dan juga amal (praktek) para shahabat nabi SAW.

Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal bagi mereka. wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.(QS. Al-Maidah: 5)

Dan khusus dalammasalah syarat wali nikah yang harus muslim, maka khusus dalam kasus seorang wanita ahli kitab yang dinikahi seorang laki-laki muslim, bila ayahnya masih yahudi atau nasrani, memang dibenarkan untuk menjadi wali.

Ini merupakan sebuah pengecualian yang bersifat kasuistik, tidak bisa digeneralisir ke dalam kasus lainnya. Karena itu syarat keIslaman seorang wali hanya berlaku manakala gadis yang dinikahi itu muslimah, kalau gadis itu ahli ktiab, maka walinya boleh ahli kitab juga.

Siapakah Ahli Kitab?

Setiap membahas 'ahli kitab', biasanya selalu muncul diskusi dan pertanyaan baru, siapakah yang dimaksud ahli kitab?

Memang kita akui ada sebagian kalangan yang mengataka bahwa ahli kitab itu tidak ada lagi pada hari ini. Alasannya, Injil yang mereka pakai bukan lagi Injil yang asli.

Demikian juga dengan aqidah mereka, sudah banyak yang menyimpang. Misalnya paham trinitas yang dibawa oleh Paulus. Sehingga buat sebagian kalangan, wanita kristen di hari ini tidak termasuk ahli kitab yang halal dinikahi.

Kami menjawab masalah ini dengan sebuah analogi. Kalau dikatakan bahwa agama Kristen hari ini tidak termasuk ahli kitab, lantaran Injil mereka sudah tidak asli lagi, bukankah Injil di masa Nabi Muhammad SAW pun sudah dipalsukan? Bahkan sejak awal memang tidak ada Injil yang asli, bukan? Karena Injil tidak pernah ditulis dan dijaga sebagaimana umat Islam menjaga Al-Quran.

Namun di masa Rasulullah SAW, para shahabat menikahi wanita ahli kitab. Tidak peduli dan tidak ada kaitannya dengan kepalsuan Injil mereka. Mereka tetap dikatakan ahli kitab dan statusnya kafir, justru lantaran mereka telah memalsukan Injil.

Demikian juga, kalau dikatakan bahwa agama Kristen sekarang ini tidak layak digolongkan sebagai ahli kitab karena telah berpaham trinitas, bukankah di masa Rasulullah SAW mereka pun telah menyembah nabi Isa dan punya tiga tuhan?

Lalu apa bedanya Kritsten hari ini dengan Kristen di masa Nabi? Sama-sama telah keluar dari aqidah dan syariah yang dibawa oleh Nabi Isa.

Maka menurut hemat kami, meski tetap menghormati segala perbedaan, wanita Kristen pada hari ini tetap saja kita perlakukan sebagai ahli kitab, sebagaimana dahulu Rasulullah SAW memperlakukannya. Mereka tidak kita sebut sebagai watsaniyyin (penyembah berhala). Maka sembelihan mereka halal dan wanita mereka halal pula untuk dinikahi.

Tapi tentu saja semua itu hanya merupakan tataran hukum dasar terkait denga nhitam putihnya hukum. Sedangkandalam prakteknya, tentu saja masih ada seribu pertimbangan lainnya untuk tidak menikahi wanita Kristen menjadi isteri.

Dan karena pertimbangan lain itupula mengapa dahulu Umar bin Al-Khattab pernah meminta aparatnya yang terlanjur menikahi wanita ahli kitab untuk segera menceraikannya.

Ternyata selain pertimbangan syariah secara hitam putih, masih ada beberapa pertimbangan lainnya, misalnya faktor gejolak sosial dari para wanita muslimah, di mana mereka akan merasa 'ditinggalkan' kalau melihat laki-laki muslim berbondong-bondong menikahi wanita yahudi dan kristen.

Lagian, kisah seorang mahasiswa Indonesia menikahi wanita Kristen Koptik Mesir kan cuma ada di novel dan film, kenyataaannya sih tidak pernah. Alih-alih menikahi wanita Kristen Koptik, menikahi wanita Mesir yang muslimah saja nggak ada yang berani. Padahal muslimah Mesir itu dijamin halalan thayyiban.

Salah seorang teman yang kuliah di Mesir menjawab, "Wah ustadz, bukan masalah halalnya, tapi kalau kami menikahi muslimah Mesir, bingung nanti ngasih makannyapakai apa?" Yang lain menimpali, "Buat kami cukuplah menikahi mahasiswi asal Indonesia saja, biar bisa sama-sama makan sambel terasi dan semur jengkol", tambahnya sambil terkekeh-kekeh. Wealah...

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu, 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat. Lc
 
mungkin kalau dedi miswar yang buat film ini bisa lebih ok lagi yah
 
@atas

Yups

apa lagi kalo
Dedi ama Habiburrahman
kerja sama

pasti keren banged filmnya :D
 
masalahnya si hanung biasa bikin film komedi....
 
hanung bramantio itu sutradara pembuat film ayat2 cinta. Dan ane juga agak menyesalkan kenapa sih harus punjabi yang jadi produsernya.....mindset punjabi. itu terkenal bgt selalu kejar profit...kadang kwalitas bukan yang utama...waktu bincang2 kateahuan bgt si produsernya minta film itu buru diselasaikan agar tayang pas ulang tahun produsernya...makin gak ok aja deh...
 
filmnya tidak sebagus dan seindah novelnya... ane udah banya novelnya... dan novelnya adalah novel dakwah yang dibalut romance... tapi pas nonton folmnya... unsur dakwahnya sangat berkurang...filmnya jadi film romance dibalut dengan unsur Islam....


ane sedih banget ......kenapa cerita yang begitu bagus dan nuansa Islam dan Dakwahnya begitu bagus... jadi film romance murahan.... ya memangsih unsur Isam dan Dakwahnya masih ada..... tapi sedikit sekali....
 
hanung bramantio itu sutradara pembuat film ayat2 cinta. Dan ane juga agak menyesalkan kenapa sih harus punjabi yang jadi produsernya.....mindset punjabi. itu terkenal bgt selalu kejar profit...kadang kwalitas bukan yang utama...waktu bincang2 kateahuan bgt si produsernya minta film itu buru diselasaikan agar tayang pas ulang tahun produsernya...makin gak ok aja deh...

Owgh
pantesan aja hasilnya kayak gitu
 
filmnya tidak sebagus dan seindah novelnya... ane udah banya novelnya... dan novelnya adalah novel dakwah yang dibalut romance... tapi pas nonton folmnya... unsur dakwahnya sangat berkurang...filmnya jadi film romance dibalut dengan unsur Islam....


ane sedih banget ......kenapa cerita yang begitu bagus dan nuansa Islam dan Dakwahnya begitu bagus... jadi film romance murahan.... ya memangsih unsur Isam dan Dakwahnya masih ada..... tapi sedikit sekali....

menurut ane mah yang salah (apa yang istilahnya..biar lebih tepat) penulis ceritanya...kurang selektif memilih produser ...seharusnya penulisnya yang cari dana untuk pembuatan Film dari novelnya itu...jadi dia gak di dikte sama produser yang membeli ceritanya
 
ada yang sudah melihat/menonton ayat cinta? kalau ada yang sudah bisakah antum sekalian menjelaskan tentang kebingung ane tentang adegan yang ada dalam film ayat-ayat cinta dalam pandangan islam.
1.disalah satu adegan digambarkan Fahri tokoh utama dalam film itu menikahi maria (penganut kristen koptik)...menurut pandangan antum sah kah pernikahan mereka dalam pandangan islam ..semantara mereka miliki agama yang berbeda?

2. Syah kah dalam pandangan islam menikahi wanita yang dalam kedaan tidak sadar?


yg no 1 sah.. karena apa?

saat sebelum pernikahan.. maria terlebih dahulu membaca dua kalimat syahadat.. barulah kemudian menikah..
 
Ini dah pernah di-post, belu, ya...???

Kisah di balik pembuatan Film Ayat-Ayat Cinta (diary Mas Hanung):

FILM TERBAIK TAHUN INI!!

Alhamdulillah ternyata ada yang bisa film seperti ini di Indonesia...



KISAH DI BALIK PRODUKSI AYAT-AYAT CINTA

Kairo adalah kota dimana manusia-manusia Fahri, Aisha, Maria, Noura, Nurul, dan segudang manusia-manusia ciptaan Kang Abik bertebaran, hidup, saling bicara dan saling mencinta. Kairo sangat indah kata kang Abik. Sudut-sudut pasar El Khalili, jalanan di Down Town, Menara-menara masjid termasuk didalamnya Masjid Al Azhar dan University of Azhar Cairo.

Sangat detil kang Abik menggambarkan itu dalam novelnya, yang membuat aku tertantang untuk mewujudkan dalam gambar: Bangunan-bangunan tua peninggalan 3 Dinasti (Firaun, kesultanan dan Penjajah Perancis), Kios-kios berdempetan berhadapan dengan trotoar-trotoar sempit yang penuh dengan pejalan kaki, terkadang diisi kursi-kursi rotan café pinggir jalan yang meletakkan seorang tua sedang menyedot shisa. Lalu 5 jam dari tempat itu, menuju matahari terbit, kita melihat kampung tua El Giza dengan aroma kotoran unta yang … hmmm, sekilas menjijikkan, tetapi … tertutup oleh eksotisnya lingkungan khas kairo. Bangunan itu berdiri dari tumpukan bata-bata merah yang dipoles campuran semen dan pasir. Menjadikan warna coklat muda dominan, berpadu selaras dengan warna tanah, warna kain-kain yang dipakai membalut tubuh gadis-gadis kairo, dan warna kulit unta. Bangunan itu ada banyak. Bertebaran. Saling berdiri begitu saja. Tidak begitu rapi seperti bangunan-bangunan kuno di Itali atau paris, tapi sangat menarik bagiku. Apalagi dengan latar belakang sepasang pyramid yang gagah menjulang menyentuh langit.

Kairo … ah, Kairo. Di kota ini aku akan meletakkan kamera, melukis dengan cahaya, membangun set dan meletakkan pemain-pemain didalamnya. Pemain Indonesia yang bergaya selayaknya orang kairo asli.

Aku datang bersama tim kecil, menjalin kerjasama dengan local production house, Egypt Production. Mereka sangat senang menyambut kedatangan kami. Kata mereka, tidak mudah membuat film di kairo. Skenario film harus dapat ijin dari sensor film. Tidak seperti di Indonesia. Bisa dengan gampang membuat film apa aja. Karena waktu yang kita punya sangat sempit, ijin yang seharusnya 3 bulan, bisa diurus dalam 2 minggu oleh seorang local producer bernama Tammer Abbas; seorang muslim kairo, cerdas, berpengalaman di bidang film dan kharismatis. Tammer mem-provide apa yang kita butuhkan: Hunting Lokasi, akomodasi dan transportasi hingga penyewaan alat. Di benankku, sedemikian jelas tergambar film ini akan sedetil seperti yang kang abik tuliskan di novel.

Setelah riset selesai dan scenario jadi, 20 tim dari Jakarta datang untuk melakukan hunting lokasi sekaligus test kamera. Kami melakukan shooting di sebuah tempat di El Giza. Alat-alat yang di sediakan buat kami jauh lebih bagus dari yang sering kita pakai di Indonesia. Kami sangat di support disana. Kami melakukan persiapan di kairo selama 2 minggu. Tammer akan mensupport semua shooting di Kairo berikut kostum, lokasi, crew dan pemain pendukung. Film ini benar-benar akan menjadi film Indonesia yang shooting total di Luar Negeri. Baru pertama kali terjadi dalam sejarah perkembangan film nasional. Bisa dibayangkan, bagaimana perasaanku waktu itu. Ibu, aku akan persembahkan yang terbaik buatmu … sebuah film agama yang indah dan bersahaja. Yang akan kau kenang … dan semua umat muslim Indonesia dan dunia tentunya …

`Mendadak semua berhenti begitu saja. Impian itu kandas. Producer membatalkan shooting di Kairo dengan alasan bujet produksi yang ditawarkan Egypt Production tidak masuk akal. Tammer Abbas menawarkan angka 3 kali lipat produksi standart Film Indonesia. 1 Film AAC di produksi sama saja memproduksi 3 film layar lebar di Jakarta. Siapapun producer di negeri ini akan berfikiran sama: Membatalkan produksi Film.

Seakan runtuh bangunan mimpi yang sudah aku bangun. Satu persatu menimpaku. Tapi producerku tidak begitu saja berniat membatalkan produksi film ini. 'Kita sudah terlanjur berjanji dengan banyak orang.' Katanya …

Bersama-sama kita mulai memikirkan bagaimana AAC bisa diproduksi sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kemudian kita mencari sponsor untuk bisa tetap shooting di Kairo. Kita menjalin kerjasama dengan The Embassy of Egypt di Jakarta. Lewat hubungan baik dengan ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin, mereka setuju dengan tawaran ini. Kata Dubesnya, Film ini akan dikelola oleh dua Negara: Indonesia dan Mesir. Sebelum di putar di bioskop, film ini harus diputar dihadapan presiden Negara-Negara Islam di Asia dan Timur Tengah, begitu kata Dubes. Betapa senangnya aku mendengar kabar ini. Impianku bangkit. Ku kabarkan berita ini ke teman-teman crew dan pemain. Mereka kembali semangat. Akhirnya dibuatkan kesepakatan antara dua Negara melalui Dubes Mesir, DepBudPar, PP Muhammadiyah. Bersama-sama kita melakukan pers conference, mengabarkan berita gembira ini ke masyarakat.

Namun lagi-lagi semua itu tidak ada artinya. Pemerintah mesir, sekalipun memberikan dukungan buat kerjasama ini, tidak bisa melakukan intervensi terhadap harga-harga termasuk di dalamnya Equiptment, lokasi, property. Itu adalah hak perusahaan swasta. Artinya, sekalipun di dukung pemerintah, tetap tidak bisa mempengaruhi harga. Harapan shooting di Kairo akhirnya kandas. Terlebih lagi pihak Egypt Production tiba-tiba mengirimkan tagihan atas hunting, pelayanan persiapan dan test kamera selama di kairo sebesar 500 juta rupiah. Angka yang tidak masuk akal buat producer untuk harga test kamera dan hunting. Biasanya di Jakarta kami melakukan hunting sekitar 5 juta sampai 10 juta. Test kamera gratis kita lakukan karena itu salah satu fasilitas perusahaan penyewaan alat.

Akhirnya producer tidak mau membayarnya. Terjadilah perselisihan antara keduanya. Pihak Egypt Production melayangkan surat gugatan ke pihak KBRI di Kairo. Pihak KBRI kairo mengirimkan surat ke Departemen Luar Negeri Indonesia dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang isinya terjadi penipuan pihak MD kepada perusahaan Kairo. Berita ini membuat Deplu dan Depbudpar menarik kembali dukungannya. Begitu juga dengan pihak Dubes Mesir. Seperti sebuah drama tragedy saja, nasib produksi Ayat-Ayat cinta tidak terselamatkan.

Terbayang olehku bangunan-bangunan bersejarah, menara-menara masjid Azhar yang tinggi menjulang, kios-kios berjajar, pasar-pasar tradisional, pyramid, guran sahara, pantai Alexandria yang indah … hilang … hilang ditelan angin begitu saja. Lalu pesan ibu terngiang : … Kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film agama …

Ana aasif … ya ummi …


Bukan sekali ini aku mendapatkan persoalan pada saat membuat film. Persoalan buatku adalah sahabat karib. Di Dapur Film aku menekankan ke teman-teman, jika mau terjun ke dunia film, persoalan adalah bagian hidup kita. Bukan berarti kita mencari persoalan, tapi persoalan harus kita sikapi sebagai tantangan. Akan tetapi persoalan yang menimpaku sekarang ini seolah tak berujung. Menangis sudah bukan suatu yang luar biasa lagi.

Sejak kabar kita bakal sulit shooting di kairo aku jadi tidak bergairah. Tapi kabar film AAC bakal diproduksi sudah beredar. Posisiku sulit. Bersamaan dengan itu film produksi pertama MD yang berbujet besar drop di pasaran. Sebuah film yang dianggap idealis, bahkan tidak mampu menembus angka 100 ribu penonton. Keyakinan producer mulai goyah.

'Apakah kamu masih yakin AAC akan diproduksi?' Kata producer padaku,

'Iya' jawabku yakin. Sekalipun aku sendiri tidak tahu apakah keyakinan itu sekuat dulu.

'Apakah AAC adalah film yang bakal di tonton?' tanyanya kemudian.

Aku lalu ingat pernyataannya tentang 80% penduduk Indonesia adalah muslim. Kemudian aku membalikkan pernyataan itu kepadanya. Jawabnya …

'Ya, tetapi setelah melihat realitas, penonton kita masih belum bisa menerima film-film berat.'

Beberapa detik aku sempet bingung dengan istilah film berat. Aku tahu pada waktu itu kondisi psikologis producerku sedang drop. Tidak hanya satu-dua juta kerugian yang dia tanggung di film pertama. Wajar jika sudah menggoyahkan keyakinannya. Aku berusaha meyakinkan dia lagi kalau AAC adalah film yang ditunggu penonton. Aku juga meyakinkan kalau kita di dukung oleh Muhammadiyah. Tapi alasan itu tidak cukup buat dia. Sebuah dukungan bisa dengan gampang dicabut. Tetapi sebuah produk yang sudah diproduksi tidak bisa diuangkan. Investor tetap menanggung beban besar. Intinya, dia butuh keyakinan kalau AAC adalah film yang bakal ditonton lebih dari 1 juta penonton. Jumlah tersebut diperhitungkan secara bisnis untuk balik modal, mengingat bujet yang dipersiapkan untuk memproduksi AAC duakali lipat bujet standart Film Indonesia. Yah, sekitar 7 Milyar.

Lalu produk seperti apa yang ditonton oleh satu juta penonton?

Pertanyaan itu yang akan merobah karakter Film Ayat-Ayat Cinta yang selanjutkan menjadi persoalanku kemudian.

Pertama yang dilakukan untuk menset-up produk agar ditonton oleh satu juta penonton adalah mengubah scenario menjadi light. Scenariopun dirombak total. Producer sempat menghubungi Musfar Yasin untuk menggantikan Salman Aristo, karena pada saat itu Nagabonar jadi 2 meraih 1,3 juta penonton. Musfar menolak dengan alasan tidak etis. Salman Aristo kemudian bersedia merubah scenario dengan catatan sedikit keluar dari novel. Kita sepakat. Dalam hal ini Kang Abik sedikit kita abaikan dengan maksud segalanya berjalan lancar. Mengingat kang Abik kondisinya waktu itu tidak di Jakarta, sehingga untuk melakukan diskusi scenario harus menghadirkannya dari semarang.

Skenario dibuat dalam 2 minggu. Selama 2 minggu itu kegiatan persiapan menjelang shooting dihentikan. Di minggu ketiga seharusnya kita sudah melakukan shooting, terpaksa dilakukan persiapan lagi. Jadwal akhirnya mundur satu bulan. Keberatan muncul dari para pemain. Sebagian pemain Ayat-Ayat Cinta adalah pemain dengan jadwal ketat. Fedi Nuril sibuk dengan album dan tour Garasi. Ryanti sibuk dengan jadwal MTV, Carissa dan tante Marini sibuk dengan sinteron striping, Melanie putria dan Surya Saputra sibuk dengan presenter. Kalau produksi ini mundur schedule pemain yang akan sulit. Di bulan kedepan para pemain tersebut sudah masuk schedule lain diluar Ayat-Ayat Cinta.

Hal itu membuat Iqbal Rais, asistenku kelabakan mengatur schedule. Dalam 2 minggu itu pekerjaan Iqbal berkali-kali melakukan revisi schedule dan breakdown shooting. Sedangkan Amelia Oktavia (amek) dan Ruth Damai Pakpahan (Iyuth) yang bertugas sebagai casting director me-loby pemain kembali. Itu tidak mudah tentunya. Schedule di luar AAC sudah terlanjur di booking oleh para manajer. Malah beberapa ada yang sudah kontrak.

Seperti yang disepakati bersama, scenario rampung dalam 2 minggu. Tapi bukan berarti persoalan selesai disitu. Tahap berikutnya adalah menentukan dimana shooting dilakukan, mengingat kairo sudah tertutup buat MD. Oh,ya … Hal mendasar yang membuat produksi ini mengalami kendala kreatif adalah producer mulai menekan bujet produksi akibat kerugian di film pertama. Pemindahan shooting di Indonesia dilakukan dengan asumsi bujet produksi tidak semahal di Kairo. Padahal kenyataan di lapangan tidak semudah asumsi itu. Sesuatu yang diciptakan dengan set akan lebih mahal dibanding kita menggunakan set yang sudah jadi. Kalau toh ditemukan rumah yang mirip dengan yang ada di Kairo, perabot didalam rumah itu tidak bisa dipakai.

Menjelang shooting aku dan producer banyak bertengkar soal itu. Pengajuan bujet untuk tata artistic di potong. Begitupun dengan pengajuan lampu. Aku seperti berada dalam ruang isolasi yang semakin lama dinding itu bergerak menghimpit. Pada awal persiapan, konsep film AAC adalah menghadirkan keindahan kota kairo dengan memotret lansekap sebagaimana tertulis di novelnya kang Abik. Kini, terpaksa harus aku persempit mengingat lokasi shooting tidak memadai dan peralatan pendukung dikurangi.

Aku dan Salman Aristo memutuskan memperkuat dramatik cerita daripada keindahan gambar. Oleh sebab itu beban jatuh pada para pemain. Pemain harus mampu secara meyakinkan membawakan karakter yang diperankan. Disini muncul persoalan baru. Sekalipun Amek dan Iyuth berhasil me-loby pemain untuk mundur shooting, tapi tidak bisa dapat waktu untuk latihan. Jangankan untuk melakukan riset dan observasi peran, untuk melakukan reading scenario saja waktunya terbatas. Kepalaku mendadak berat sekali. Hari-hari shooting tinggal beberapa hari, tapi permainan mereka masih jauh dari harapanku. Ya Alloh, selamatkan aku. Selamatkan film ini …

Pernah suatu kali aku minta mundur lagi karena pemain belum siap, terutama Rianti dan Carrisa. Producer tidak memberikan ijin. Aku bingung. Aku melihat Rianti dan Cariisa masih jauh dari harapanku. Pada awalnya tokoh Aisha diperankan Carrisa dan Rianti sebagai Maria. Saat latihan berlangsung, aku merasa keduanya tidak pernah mencapai klimaks. Selalu saja ada yang salah. Kemudian mas Whani Darmawan selaku acting coach (Penata laku) mencoba merobah posisi. Rianti sebagai Aisha dan Carrisa sebagai Maria. Aku melihat ada perubahan ke lebih baik. Mungkin tepatnya: Lebih pas … Tapi aku masih belum yakin dengan itu, dikarenakan banyak persoalan kreatif lain yang menghimpitku. Aku tidak bisa dengan jernih memutuskan. Lalu Aku minta bantuan Salman Aristo untuk ikut memutuskan. Setelah melewati test kamera, aku, Salman Aristo dan Producer bersama-sama melihat dan memutuskan siapa yang pantas menjadi Aisha. Aku ingat waktu itu rapat untuk memutuskan siapa yang pantas menjadi Aisha dilakukan 10 menit sebelum acara pers conference yang menghadirkan PP Muhammdiyah Din Sayamsudin dan wartawan dari media cetak dan TV. Di ruang lain, Rianti dan Carisa menunggu keputusan itu, karena berhubungan dengan siapa yang akan memakai cadar dan jilbab pada saat acara pers conference. Akhirnya, kami memutuskan Rianti yang menjadi Aisha. Cadarpun terpasang menutup sebagian wajah cantik Rianti

Ketika hari Shooting ditentukan, pemain sudah disiapkan secara schedule, Set sudah dibangun, mendadak ada kabar Ryanti akan di deportasi karena masa tinggalnya sudah habis (Rianti masih menjadi warag Negara Inggris saat ini), sehingga dia harus kabur ke Singapura beberapa hari sambil mengurus perpanjangan masa tinggalnya di Indonesia. Shooting yang sudah kita tentukan harus mundur lagi. Set yang sudah dibangun harus dibongkar. Kepalaku mulai berat. Mataku mulai kabur. Allohu akbar! Apa lagi yang harus aku hadapi? Berapa tetes lagi air mataku kutumpahkan dan berapa lapang lagi dadaku aku rentangkan? Ingin rasanya aku lari dari semua ini. Tapi aku selalu ingat pesan ayahku, wong lanang kui kudu mrantasi … (Lelaki itu harus menyelesaikan segala persoalan).

Aku melihat sisi positif dari kemunduran ini. Aku bisa focus latihan buat pemain. Akhirnya kamipun mundur. Karena set yang sudah dibuat tidak bisa dibongkar, kita terpaksa shooting satu hari tapi setelah itu break seminggu.

Pada saat shooting, aku melihat kairo berdiri di Jakarta dan Semarang. Aku melihat metro yang dibangun bangsa Prancis di stasiun Manggarai. Aku melihat perpustakaan Al Azhar dan ruang Talaqi masjid Al Azhar di Gedung Cipta Niaga Jakarta Kota. Flat Fahri, Flat Maria dan Pasar El Khalili di kota lama dan Gedung Lawang Sewu Semarang. Ruang sidang pengadilan Fahri di Gereja Imanuel Jakarta. Apa yang dibangun Allan, art directorku, berhasil meski dengan berbagai kendala keuangan yang tidak lancar. Untuk membangun set dan menyediakan property, Allan sering mengeluarkan uang pribadinya untuk menutup aliran uang yang tidak lancar. Gajinya yang seharusnya di bagi-bagikan kepada krunya, habis buat belanja property dan membangun set. Karenanya banyak krunya pada marah-marah dan kabur.

Pada saat shooting berlangsung, tidak begitu saja mulus dan on schedule. Hari-hari pertama kami berhasil menghadirkan suasana kairo dengan menyewa orang-orang arab sebagai extras. Karena shooting selalu selesai tengah malam, orang-orang arab lama-lama tidak mau diajak shooting lagi. Maklumlah, mereka bukan berprofesi sebagai pemain. Kebanyakan dari mereka pedagang, mahasiswa, karyawan bahkan ada yang dokter. Suatu kali pernah si dokter marah-marah karena shooting sampai malam, padahal sebagai dokter dia tidak pernah berpraktek sampai malam. Di hari-hari menjelang akhir shooting AAC, bahkan untuk mengajak gembel Arab pasar Tanah Abang pun tidak bisa. Masya Alloh!!

Di Kota lama dan Lawang sewu Semarang, kami menghadapi persoalan kamera terbakar, hujan, berhadapan dengan preman Kota Lama, ruang sempit dan lapuk karena tua yang membuat set lampu lama. Dengan begitu scene yang seharusnya diambil jadi banyak terhutang. Untuk membayarnya, kita menunggu jadwal pemain kosong, Amek dan Iyuth kembali me-loby, iqbal rais kembali membongkar break down. Hal itu terus menerus mereka lakukan sampai-sampai Amek dan Iyuth kehilangan muka di hadapan manajer dan pemain. Tidak jarang aku melakukan improvisasi demi efisiensi. Banyak adegan aku sederhanakan. bahkan dibuang. Tapi aku cukup senang karena aku bisa merobah salah satu sudut kota lama semarang menjadi pasar di El-Giza. Aku menghadirkan unta dari Kebun Binatang Gembiraloka Jogjakarta. Penduduk kota lama Semarang dibikin heboh dengan munculnya unta secara tiba-tiba di sana.

Shooting paling berat yang aku rasakan pada saat adegan sidang Fahri. Aku memilih gereja Imanuel Jakarta untuk di set sebagai ruang pengadilan. Aku menghadirkan lebih dari 300 ekstrass. Semua pemain utama kumpul jadi satu. Penata kostum, penata make up kewalahan menghadapi banyaknya pemain. Ini salah satu scene dengan jumlah pemain paling banyak. Aku melihat hal yang unik di sana. Banyak pemain memakai Jilbab bahkan bercadar, tapi mereka berada di dalam gereja. Tanda salib bertebaran di atas kepala mereka. Suatu yang lucu dan menarik aku lihat. Lalu aku ingat, pada saat aku masuk masjid Al Azhar, bahkan untuk ijin memotret saja tidak mudah. Apalagi shooting. Tapi di gereja Imanuel ini, aku tidak hanya membawa kamera dan lighting. Aku bahkan memasukkan teralis penjara sebesar 3 meter persegi didalamnya. Aku tertawa kalau memikirkan itu …

Kayaknya bikinnya susah juga, ya...???

Dan ternyata dibajaknya cepet juga... jadi tambah bikin sedih... Apa pada ga pengen film Indonesia berkembang...???

Sebagai mahasiswa desain, saya lumayan ngerti juga sama yang namanya pembajakan karya... makanya saya juga sedih...

Dan karenanya, saya pengen nonton yang di Bioskopnya dulu (meskipun dah punya bajakannya juga... :P)

'afwan...,
 
gw kecewa sama ini film
aneh skali
maria itu kan orang mesir asli
masak ngomong bahasa indonesia
aishanya juga
bahadurnya juga
kaga punya duid apa buat ngelesin bahasa arab
katanya 12 milyar abis
gw nonton bajakan
biar aja si punjabi bangkrut
 
gw kecewa sama ini film
aneh skali
maria itu kan orang mesir asli
masak ngomong bahasa indonesia
aishanya juga
bahadurnya juga
kaga punya duid apa buat ngelesin bahasa arab
katanya 12 milyar abis
gw nonton bajakan
biar aja si punjabi bangkrut

Ya..., kan di novelnya juga gitu... ga pake bhs. Arab semua...

Lagian, ini kan film Indonesia... bukan film Arab... :P

Oh..., nampaknya saya repost... maafkan... :P

Kalo yang ini, gimana...???

Jawaban Mas Hanung ttg Film Ayat-Ayat Cinta BAJAKAN

Feb 24, '08 5:57 PM



Saya pikir, setelah materi film sebanyak 7 Rheel dibawa dari India

menuju Jakarta, saya bisa sujud syukur dan berseru 'akhirnya film ini

selesai juga.' Sejauh yang saya bayangkan, tidak akan ada lagi

persoalan besar yang menghadang. Tapi tidak sangka, hasil film ketika

diperbanyak di lab Jakarta, hasilnya scratch, seperti nonton

film `Janur Kuning'. Dua lab Film yang ada di Jakarta(yang ternyata

satu-satunya lab di Negeri ini) tidak bisa menanggulangi persoalan

itu. Belum lengkap seminggu ada di Jakarta, 7 Rheel Film Ayat-Ayat

Cinta diterbangkan di Bangkokuntuk diperbanyak sekaligus diberi

Subtitle. Lagi-lagi kita kejar-kejaran dengan waktu karena paling

tidak film harus sudah jadi tanggal 18 Februari untuk Gala Premiere

di Plaza Senayan-Jakarta.

Di Bangkok, persoalan scratch terselesaikan dengan baik dengan

cara melakukan duplicate negative film tersebut. Akhirnya, 70 copy

film Ayat-Ayat Cinta terselesaikan dalam waktu satu minggu. Pada saat

dilakukan pengiriman melalui bandara Swarnabhumi- bangkok, kita

terganjal maskapai penerbangan Garuda. 70 Copy tidak boleh di bawa,

harus melalui Kargo. Padahal beberapa producer pernah melakukan itu

sebelumnya dalam airlines yang sama. Kita sempat berdebat panjang di

depan counter check in. Akhirnya hanya 10 copy saja yang bisa kebawa,

sisanya harus lewat Kargo. 4 orang yang semula menyertai saya membawa

70 copy tersebut akhirnya harus tinggal di Bangkokuntuk mengurus

pengiriman lewat Kargo. Saya semakin was-was karena isyu birokrasi di

lembaga Bea Cukai bandara terkenal rumit dan banyak preman. Salah-

salah film AAC terganjal di Bea Cukai.

Pada saat saya melakukan pengecekan ulang atas 10 Copy untuk

keperluan Gala Premiere di Plaza Senayan, saya mendapatkan sms dari

teman saya kalau AAC sudah ada bajakannya. Saya kaget, karena belum

pernah sepanjang sejarah saya membuat film, pembajak membajak film

Nasional. Saya punya kenalan pengusaha dvd bajakan di Glodok yang

bahkan pernah bilang `Kita tidak membajak film-film Indonesia.

Kasihanlah, film Indonesiakanlagi tumbuh. Sayang kalau dibajak.

Film Amerika aja yang kita bajak. Mereka kanudah kaya.' Saya

tersenyum dalam hati. Moralitas kadang muncul tanpa kita duga dari

jenis manusia seperti apa.

Persoalan moralitas dan manusia itu kemudian yang membawa saya

menelusuri kebenaran berita pembajakan film AAC. Manusia seperti apa

yang tega melakukannya? Moralitas seperti apa yang dia anut, kalau

manusia kelas pembajak glodok (yang menyikapi bajakan sebagai

bisnisnya) saja bisa menerapkan ukuran nilai atas produk yang dia

bajak.

`Saya sangat menyesal mendengar itu, Mas. Kini di Malang sedang

geger' begitu bunyi sms dari teman saya di Malang. Seperti sebuah

bola salju yang tergulir, sms-sms lain datang dari Surabaya, Makasar,

Jogja. Mereka tidak sekedar mengabarkan, tapi memberikan analisa

detil gambar, suara dan hasil edit atas film bajakan AAC. Bahkan ada

yang bilang kalau hasil bajakan tersebut sudah di komentari di

internet. Subhanalloh!

Saya cuma bisa diam. Hati saya bergolak. Bukan karena film saya

di bajak yang kemudian keuntungan yang saya terima sedikit. (Ah, lagi-

lagi kalau kita bicara materi tidak akan ada habisnya). Mari kita

membebaskan diri dari kecenderungan menilai pembajakan dari unsur

materi. Hal paling besar dari pengaruh bajakan adalah: Penonton tidak

dididik menghargai kualitas terbaik dari sutradara. Film Ayat-Ayat

Cinta, sekalipun di bajakan bisa diikuti jalan ceritanya, tapi bukan

kualitas terakhir dari sutradara-producer dan kru serta pemain.

Bajakan tersebut diambil dari hasil mentah yang masih ada di mesin

editing studio MD. Artinya belum ada music yang layak (Masih musik

kasar yang diambil dari film Schindler list, Kamasutra, Pasion of

Christ, dsb), belum ada tata suara yang mendukung seperti suara

Ustadz Jefri melantunkan ayat dan doa, suara Fahri di masjid Al Azhar

saat Talaqi masih suara cewek, suara-suara atmosfer lalu lintas di

Kairo juga belum masuk. Pendeknya, hasil dari bajakan tersebut belum

layak untuk menjadi bahan apresiasi penonton. Jika sudah begitu,

apakah penonton juga layak menilai sebuah produk yang memang belum

layak untuk di apresiasi?

Kabarnya, saya mendengar justru yang mengkonsumsi AAC bajakan

kebanyakan umat muslim pecinta novel AAC. Semoga berita itu tidak

benar. Tapi terlepas dari semua itu, saya menyayangkan sikap siapapun

yang terlibat, baik membajak maupun mengkonsumsi bajakan tersebut.

Apalagi melakukan penilaian atas dasar film bajakan tersebut yang

kemudian menghasut, mencerca dan menjelek-jelekkan filmnya dan calon

penonton yang mau menonton di bioskop. Saya hanya bisa berharap

kepada Alloh untuk memaafkan orang-orang yang melakukan itu. Bagi

yang tidak melakukannya, saya ucapkan terima kasih yang paling dalam.

Kepadanya, saya hanya berharap doa untuk saya tetap sabar dan tidak

terpengaruh.

Jujur, sekali lagi bukan materi yang saya kejar. Lebih dari itu,

film ini telah membuat saya mencintai lebih dalam agama Islam, karena

keindahan Quran yang menekankan kesabaran dan keikhlasan umatnya.

Robbana Afrigh alaina Sabran, Wa tsabit Aghdamana wan

surna 'alalqoumil kafiriin ...

sumber:

http://hanungbraman tyo.multiply. com/journal/ item/12/AAC_ BAJAKAN
 
afwan
kalo ana mending baca kitab2 hadits tafsir ato lainnya yang bermanfaat hanya gini kok diributkan.....kalo ana cuma liat riaynti yang make cadar........................ih cakepnya, doain ya akhi semua semoga istri ana kelak pake cadar ih............anggun banget ya kalo liat akhwat pake cadar
 
afwan
kalo ana mending baca kitab2 hadits tafsir ato lainnya yang bermanfaat hanya gini kok diributkan.....kalo ana cuma liat riaynti yang make cadar........................ih cakepnya, doain ya akhi semua semoga istri ana kelak pake cadar ih............anggun banget ya kalo liat akhwat pake cadar

Relatif, sih...

Lagin nggak wajib juga, kan, akhwat bercadar... yang disuruh, kan menutup aurat, di mana, wajah ga termasuk ke dalmnya... :D

Coba, Rianti make beneran, ya...??? :P
 
Relatif, sih...

Lagin nggak wajib juga, kan, akhwat bercadar... yang disuruh, kan menutup aurat, di mana, wajah ga termasuk ke dalmnya... :D

Coba, Rianti make beneran, ya...??? :P

lah kok sampeyan yang sewot ntar kalo istriku tak tutp brukut kek mo tak telanjangin kek.

emank sampeyan mo jadi istriku kok protes komentar tentang keinginan ane punya istri ber-cadar.

khan ana suka yang pake cadar2 gitu,sesuka 2 akulah riyanti pake cadar kok sampeyan ribut....


klao riyanti pake cadar,ya liat aja toh kufu-nya beda kok..... pasti ada yang lebihpantes untuknya....

kalo jodoh ane >:D< alhamdulillah.
ana sujud syukur kalo dia mau hijrah,hehehhehe...

female itu khan ungkapan ane ke inginan ane sendiri,jangan di komentari macem2 OK
kecuali female naksir ana n mo nikah ama ana trus protes boleh lah hahhahahhaha............
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.