Jawaban Mas Hanung ttg Film Ayat-Ayat Cinta BAJAKAN
Feb 24, '08 5:57 PM
Saya pikir, setelah materi film sebanyak 7 Rheel dibawa dari India
menuju Jakarta, saya bisa sujud syukur dan berseru 'akhirnya film ini
selesai juga.' Sejauh yang saya bayangkan, tidak akan ada lagi
persoalan besar yang menghadang. Tapi tidak sangka, hasil film ketika
diperbanyak di lab Jakarta, hasilnya scratch, seperti nonton
film `Janur Kuning'. Dua lab Film yang ada di Jakarta(yang ternyata
satu-satunya lab di Negeri ini) tidak bisa menanggulangi persoalan
itu. Belum lengkap seminggu ada di Jakarta, 7 Rheel Film Ayat-Ayat
Cinta diterbangkan di Bangkokuntuk diperbanyak sekaligus diberi
Subtitle. Lagi-lagi kita kejar-kejaran dengan waktu karena paling
tidak film harus sudah jadi tanggal 18 Februari untuk Gala Premiere
di Plaza Senayan-Jakarta.
Di Bangkok, persoalan scratch terselesaikan dengan baik dengan
cara melakukan duplicate negative film tersebut. Akhirnya, 70 copy
film Ayat-Ayat Cinta terselesaikan dalam waktu satu minggu. Pada saat
dilakukan pengiriman melalui bandara Swarnabhumi- bangkok, kita
terganjal maskapai penerbangan Garuda. 70 Copy tidak boleh di bawa,
harus melalui Kargo. Padahal beberapa producer pernah melakukan itu
sebelumnya dalam airlines yang sama. Kita sempat berdebat panjang di
depan counter check in. Akhirnya hanya 10 copy saja yang bisa kebawa,
sisanya harus lewat Kargo. 4 orang yang semula menyertai saya membawa
70 copy tersebut akhirnya harus tinggal di Bangkokuntuk mengurus
pengiriman lewat Kargo. Saya semakin was-was karena isyu birokrasi di
lembaga Bea Cukai bandara terkenal rumit dan banyak preman. Salah-
salah film AAC terganjal di Bea Cukai.
Pada saat saya melakukan pengecekan ulang atas 10 Copy untuk
keperluan Gala Premiere di Plaza Senayan, saya mendapatkan sms dari
teman saya kalau AAC sudah ada bajakannya. Saya kaget, karena belum
pernah sepanjang sejarah saya membuat film, pembajak membajak film
Nasional. Saya punya kenalan pengusaha dvd bajakan di Glodok yang
bahkan pernah bilang `Kita tidak membajak film-film Indonesia.
Kasihanlah, film Indonesiakanlagi tumbuh. Sayang kalau dibajak.
Film Amerika aja yang kita bajak. Mereka kanudah kaya.' Saya
tersenyum dalam hati. Moralitas kadang muncul tanpa kita duga dari
jenis manusia seperti apa.
Persoalan moralitas dan manusia itu kemudian yang membawa saya
menelusuri kebenaran berita pembajakan film AAC. Manusia seperti apa
yang tega melakukannya? Moralitas seperti apa yang dia anut, kalau
manusia kelas pembajak glodok (yang menyikapi bajakan sebagai
bisnisnya) saja bisa menerapkan ukuran nilai atas produk yang dia
bajak.
`Saya sangat menyesal mendengar itu, Mas. Kini di Malang sedang
geger' begitu bunyi sms dari teman saya di Malang. Seperti sebuah
bola salju yang tergulir, sms-sms lain datang dari Surabaya, Makasar,
Jogja. Mereka tidak sekedar mengabarkan, tapi memberikan analisa
detil gambar, suara dan hasil edit atas film bajakan AAC. Bahkan ada
yang bilang kalau hasil bajakan tersebut sudah di komentari di
internet. Subhanalloh!
Saya cuma bisa diam. Hati saya bergolak. Bukan karena film saya
di bajak yang kemudian keuntungan yang saya terima sedikit. (Ah, lagi-
lagi kalau kita bicara materi tidak akan ada habisnya). Mari kita
membebaskan diri dari kecenderungan menilai pembajakan dari unsur
materi. Hal paling besar dari pengaruh bajakan adalah: Penonton tidak
dididik menghargai kualitas terbaik dari sutradara. Film Ayat-Ayat
Cinta, sekalipun di bajakan bisa diikuti jalan ceritanya, tapi bukan
kualitas terakhir dari sutradara-producer dan kru serta pemain.
Bajakan tersebut diambil dari hasil mentah yang masih ada di mesin
editing studio MD. Artinya belum ada music yang layak (Masih musik
kasar yang diambil dari film Schindler list, Kamasutra, Pasion of
Christ, dsb), belum ada tata suara yang mendukung seperti suara
Ustadz Jefri melantunkan ayat dan doa, suara Fahri di masjid Al Azhar
saat Talaqi masih suara cewek, suara-suara atmosfer lalu lintas di
Kairo juga belum masuk. Pendeknya, hasil dari bajakan tersebut belum
layak untuk menjadi bahan apresiasi penonton. Jika sudah begitu,
apakah penonton juga layak menilai sebuah produk yang memang belum
layak untuk di apresiasi?
Kabarnya, saya mendengar justru yang mengkonsumsi AAC bajakan
kebanyakan umat muslim pecinta novel AAC. Semoga berita itu tidak
benar. Tapi terlepas dari semua itu, saya menyayangkan sikap siapapun
yang terlibat, baik membajak maupun mengkonsumsi bajakan tersebut.
Apalagi melakukan penilaian atas dasar film bajakan tersebut yang
kemudian menghasut, mencerca dan menjelek-jelekkan filmnya dan calon
penonton yang mau menonton di bioskop. Saya hanya bisa berharap
kepada Alloh untuk memaafkan orang-orang yang melakukan itu. Bagi
yang tidak melakukannya, saya ucapkan terima kasih yang paling dalam.
Kepadanya, saya hanya berharap doa untuk saya tetap sabar dan tidak
terpengaruh.
Jujur, sekali lagi bukan materi yang saya kejar. Lebih dari itu,
film ini telah membuat saya mencintai lebih dalam agama Islam, karena
keindahan Quran yang menekankan kesabaran dan keikhlasan umatnya.
Robbana Afrigh alaina Sabran, Wa tsabit Aghdamana wan
surna 'alalqoumil kafiriin ...
sumber:
http://hanungbraman tyo.multiply. com/journal/ item/12/AAC_ BAJAKAN