• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Salah Faham Terhadap Dunia Sufi

ilmu ane blm sampe kesitu boz..
ane blm blajar mpe nahwu sorof sgala...:):)
klo no.1 and 2..
ntu pernah ane baca, and ane nemu sendiri di kitab tasawuf..
klo no.3 ntu COPAS boz..

nah, boleh ni ane dijarin apa arti ayat diatas...???? :D:D

mas gilangsatria kut nimbrung nih ana nasehati belajar ilmu agama ini dari sumber aslinya yaitu alquran dan assunnah (hadist) yang shahih berdasarkan apa yang dipahami oleh generasi awal umat ini (shahabat nabi). Kemudian pelajarilah bahasa agama ini (arab) so lihatlah pembukaan kitab shahih Bukhari karya Imam ahli hadis beliau membuka tulisan setelah memuji ALLAH beliau mengwali tulisannya dengan bab ilmu dahulu baru amal.

mas gilang dalam berdakwah jika dakwah kita itu benar dan orng-orang mengikutinya maka pahalanya mengalir terus ke kita namun sebaliknya jika dakwah kita itu keliru maka dosa pulalah terus mengalir pada kita.
Janganlah sifat phobi (misalkan phobi terhadap wahabi, or syaikul islam ibnu taymiyah and so on) membuat anda tidak pernah membaca karya beliau yang adil adalah anda cenderung pada suatu pendapat misal anda cenderung kepada alirn sufi kemudian ada orang yang memperingati kita akan bahayanya sufi langkah yng terbaik adalah anda mempelajari mengapa orang itu memperingati akan bahayanya sufi kemudian anda komparasi dalil-dalil (bukti-bukti) yang otentik dari kedua golngan tersebut baik yang sufi maupun yang anti sufi (Sumber rujukan untuk menguatkan pendapat mereka yaitu Alquran dan assunah yang shohih).

Dan satu lagi yang perlu mas renungkan apakah aliran sufi ini ada pada jaman rasullullah ?? padahal ALLAH sudah memberikan SKep bahwa agama ini telah sempurna baik tata cara peribadatannya, muamalah, budi perkerti seperti yang termaktub dalam surah almaaidah(5):3 yang artinya

Pada hari ini telah kusempurnakan untukmu agamamu, dan telaj kucukupkan bagimu nikmatKU, dan telah KUridhoi islam jadi agama bagimu
 
@Makasih atas sarannya mas AbudzuL..
Sebelumnya maaf ya boz..Manusia ga berhak menentukan siapa yg salah, siapa yg benar.

Ane trusin lg yee artikelnya...

Salah Faham terhadap Dunia Sufi
Tuduhan terhadap Dunia Wali

Mereka menuduh kaum Sufi, dengan suatu tudingan keliru. Diantara tudingan mereka yang kontra pada dunia Sufi, tentang Kewalian antara lain:

1. Sufi dituduh mengutamakan Wali daripada Nabi.

2. Para Wali dianggap sama dengan Allah dalam setiap sifatNya, bermula dari salah paham mereka mempersepsi tentang ragam dunia Wali dengan tugas-tugas ruhani masing-masing, seakan-akan tugas itu menyamai tugas Allah.

3. Para Wali seperti memiliki dewan, majlis, berkumpul di gua Hira untuk menunggu takdir.


Tiga tudingan itulah yang membuat orang salah paham terhadap dunia Sufi.

JAWABAN
Ummat Islam sepakat adanya para Auliya' atau kekasih-kekasih Allah. Bahkan mereka yang kontra terhadap dunia Tasawuf pun memiliki definisi khusus, menurut penafsiran formal mengenai para Wali ini, yang tentu saja berbeda jauh antara langit dan bumi dengan pemahaman kaum sufi.

1. Kaum Sufi tidak pernah menempatkan derajat para Wali lebih unggul dibanding para Nabi dan Rasul. Para Auliya adalah sebagai pewaris dan pemegang amanah Risalah setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Sebagai Khalifah dan sekaligus juga sebagai pewaris Nubuwwah. Jika, muncul ungkapan-ungkapan kehebatan para Auliya dalam kitab-kitab Tasawuf, sama sekali tidak ada satu pun kata atau isyarat yang menunjukkan keunggulan maqom Auliya' dibanding maqom Ambiya dan Rasul. Semata hanya ingin mempresentasikan jika para Auliya' diberi karomah (hal-hal yang di luar nalar akal rasional) oleh Allah swt, apalagi para Anbiya dan Mursalin.

2. Para Sufi yang diangkat derajatnya oleh Allah meraih maqom Kewalian atas KehendakNya, diberi anugerah, fadlal dan rahmatNya, menurut kehendakNya. Kesalahpamahan mereka yang kontra terhadap dunia Wali semacam ini bersumber pada fenomena karomah, fenomena hikmah-hikmah terdalam yang tidak bisa dipahami oleh mereka, karena hanya merujuk pada teks Qur'an dan Hadits tanpa mengenal hakikat kedalaman dibalik ayat-ayat Al-Qur'an dan Sunnah itu.

Apakah anda tega menyalahkan Syeikh Abdul Qadir al-Jilany, Abul Hasan Asy-Syadzily, Hujjatul Islam al-Ghazaly, Ibnu Araby. Al-Bisthamy, Asy-Syibly, Junaid al-Bahgdady, para Imam Mazhab, yang sangat terkenal sebagai para Auliya' Allah, dan sama sekali mereka jauh dari perspesi anda tentang kewalian itu?

Padahal mereka adalah para penjaga Al-Qur'an dan as-Sunnah, para pelestari tradisi Syariat, Thariqat dan hakikat Risalah Nabi besar Muhammad SAW.

Jadi jika ada Istilah Abdal sebagaimana juga pernah disebut oleh Nabi Muhammad SAW, tentu saja, tidak gampang memahami tugas-tugas para Wali itu. Sedangkan siapa pun dalam menjelajah dunia ruhani, metafisika, dunia hakikat senantiasa justru akan dlolalah (tersesat) sepanjang perjalanannya tidak dibimbing oleh Wali yang Mursyid, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an: "Siapa yang sesat (jalan menuju kepada Allah) maka ia tidak akan pernah menemukan Wali yang Mursyid".

Kriteria Wali Mursyid tentu tidak sesederhana yang mereka pahami. Kata Iman dan Taqwa saja, sangat berlapis-lapis kedalamannya, dan beragam pula wilayah implementasinya dalam dunia jiwa para hamba Allah. Apakah sebegitu mudah orang mengaku menjadi Wali Allah, hanya karena merasa beriman dan merasa bertaqwa dan bahkan mengklaim merasa dirinya beramal shaleh?

Sedangkan tahap agar hamba Allah bisa bebas dari rasa takut dan gelisah saja sulitnya bukan main. Gelisah terhadap cobaan dunia dan cobaan akhirat, takut terhadap fitnah dunia dan siksa akhirat, pun manusia akan sulit membebaskan psikhologinya. Padahal para Wali itu tidak pernah takut dan tidak pernah susah, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an.
Inilah yang dipresentasikan dunia Tasawuf sebagai tradisi ilmu-ilmu Islam bidang hakikat, yang juga bisa difahami manaka melalui pendekatan hakikat pula, dengan logika bathiniyah yang suci. Sebab wilayah hakikat bukanlah wilayah rasional empiris, juga bukan wilayah inderawi. Itu pun harus dalam bimbingan mereka yang telah meraih keparipurnaan hakikat sebagai Insan Kamil.

Karena itu Ibnu Araby, membagi komunitas para auliya’ menurut komunitas kebajikan yang disebut dalam berbagai ayat Al-Qur'an, semisal, komunitas Sholihun, Muhsinun, Shobirun, Syakirun, Dzakirun, Mujahidun, Muttaqun, 'Aminun, Mukhlishin, Mukhlashin, 'Abidun, dan ratusan komunitas Sholeh disana yang tentu saja, merupakan kualifikasi moral yang begitu dalam. Jika Allah menyebutkan suatu kelompok moral, dengan menggunakan istilah tertentu, pasti memilki rahasia tertentu pula. Kata Robb, beda dengan kata Ilah, beda lagi dengan penyebutan yang menggunakan Sifat dan Asma' sepetri Al-Khaliq, Al-Bari', al-Mushowwir, misalnya.

Munculnya istilah Ghauts, Quthub, Abdal, Nuqaba', Nujaba', tentu memiliki dasar-dasar yang tersirat dalam Al-Qur'an dan Sunnah, dan tugas-tugas amanah kewaliyan mereka tentu Allah sendiri Yang Maha Tahu, yang dengan KemahakuasaanNya, dan Irodah MutlakNya, memberikan wewenang dan tugas khusus. Dan semua tugas itu juga dalam rangka meneruskan amanah Rasul SAW.

3. Soal adanya dewan para Wali, sesungguhnya juga tidak bisa dipersepsi sebagaimana kita memahami majlis sosial politik, dengan dewan pimpinan tertentu itu, dengan cara pemilihan ketua dewan atau ketua organisasi. Bahwa dalam dunia Kewalian ada hirarki struktural secara ruhani, pasti sangat berbeda hirarki strukturalnya dengan dunia sosial manusiawi. Kalau suatu saat memang ada tugas bermajlis di gua Hira', itu bukan suatu tugas yang bisa dinilai sebagaimana berkumpulnya sebuah majlis PBB atau lainnya. Namun, karena tugas kasuistis, menyangkut perkara moralitas ummat manusia di dunia, bahkan yang hidup maupun yang sudah mati, yang begitu tampak jelas dalam Alam Mukasyafah mereka, melalui Nur Ilahi.



Tetapi wajar jika anda mempersoalkan, adanya kelompok tertentu yang mengklaim dewan para wali, lalu membuat pertemuan alam ghaib, lalu mereka merasa sebagai para wali, padahal tidak lebih dari sebuah tipudaya alam Jin dan Iblis, bisa saja demikian. Karena Iblis dan Syetan pun punya kelompok tandingan Wali yang disebut dalam Al-Qur'an "Auliya' as-Syayathin". Atau para Wali Syetan, yang seringkali menggunakan jubah religius dan keagamaan. Mereka berjubah, tapi penuh dengan kebusukan, ketakaburan, riya' dan 'ujub, hubbud dunya (cinta dunia), penghamba nafsu dan takut mati.

Namun alangkah piciknya kita kalau memahami dunia Wali dari sekadar gelombang sosial ummat atau dari fenomena keagamaan (khususnya di bidang bathiniyah), lalu anda membuat kesimpulan gradual, kesimpulan salah kaprah, sebagaimana para orientalis dan pengamat Sufi yang lebih banyak salah kaprahnya dalam memaknai istilah dan terminologi Sufi itu sendiri. Wallahul Muwaffiq ila Aqwamith Thoriq, wallahu A'lam bish-Showab.

KHM. Luqman Hakim
 
@Makasih atas sarannya mas AbudzuL..
Sebelumnya maaf ya boz..Manusia ga berhak menentukan siapa yg salah, siapa yg benar.

Ane trusin lg yee artikelnya...

Salah Faham terhadap Dunia Sufi
Tuduhan terhadap Dunia Wali

Mereka menuduh kaum Sufi, dengan suatu tudingan keliru. Diantara tudingan mereka yang kontra pada dunia Sufi, tentang Kewalian antara lain:

1. Sufi dituduh mengutamakan Wali daripada Nabi.

2. Para Wali dianggap sama dengan Allah dalam setiap sifatNya, bermula dari salah paham mereka mempersepsi tentang ragam dunia Wali dengan tugas-tugas ruhani masing-masing, seakan-akan tugas itu menyamai tugas Allah.

3. Para Wali seperti memiliki dewan, majlis, berkumpul di gua Hira untuk menunggu takdir.


Tiga tudingan itulah yang membuat orang salah paham terhadap dunia Sufi.

JAWABAN
Ummat Islam sepakat adanya para Auliya' atau kekasih-kekasih Allah. Bahkan mereka yang kontra terhadap dunia Tasawuf pun memiliki definisi khusus, menurut penafsiran formal mengenai para Wali ini, yang tentu saja berbeda jauh antara langit dan bumi dengan pemahaman kaum sufi.

1. Kaum Sufi tidak pernah menempatkan derajat para Wali lebih unggul dibanding para Nabi dan Rasul. Para Auliya adalah sebagai pewaris dan pemegang amanah Risalah setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Sebagai Khalifah dan sekaligus juga sebagai pewaris Nubuwwah. Jika, muncul ungkapan-ungkapan kehebatan para Auliya dalam kitab-kitab Tasawuf, sama sekali tidak ada satu pun kata atau isyarat yang menunjukkan keunggulan maqom Auliya' dibanding maqom Ambiya dan Rasul. Semata hanya ingin mempresentasikan jika para Auliya' diberi karomah (hal-hal yang di luar nalar akal rasional) oleh Allah swt, apalagi para Anbiya dan Mursalin.

2. Para Sufi yang diangkat derajatnya oleh Allah meraih maqom Kewalian atas KehendakNya, diberi anugerah, fadlal dan rahmatNya, menurut kehendakNya. Kesalahpamahan mereka yang kontra terhadap dunia Wali semacam ini bersumber pada fenomena karomah, fenomena hikmah-hikmah terdalam yang tidak bisa dipahami oleh mereka, karena hanya merujuk pada teks Qur'an dan Hadits tanpa mengenal hakikat kedalaman dibalik ayat-ayat Al-Qur'an dan Sunnah itu.

Apakah anda tega menyalahkan Syeikh Abdul Qadir al-Jilany, Abul Hasan Asy-Syadzily, Hujjatul Islam al-Ghazaly, Ibnu Araby. Al-Bisthamy, Asy-Syibly, Junaid al-Bahgdady, para Imam Mazhab, yang sangat terkenal sebagai para Auliya' Allah, dan sama sekali mereka jauh dari perspesi anda tentang kewalian itu?

Padahal mereka adalah para penjaga Al-Qur'an dan as-Sunnah, para pelestari tradisi Syariat, Thariqat dan hakikat Risalah Nabi besar Muhammad SAW.

Jadi jika ada Istilah Abdal sebagaimana juga pernah disebut oleh Nabi Muhammad SAW, tentu saja, tidak gampang memahami tugas-tugas para Wali itu. Sedangkan siapa pun dalam menjelajah dunia ruhani, metafisika, dunia hakikat senantiasa justru akan dlolalah (tersesat) sepanjang perjalanannya tidak dibimbing oleh Wali yang Mursyid, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an: "Siapa yang sesat (jalan menuju kepada Allah) maka ia tidak akan pernah menemukan Wali yang Mursyid".

Kriteria Wali Mursyid tentu tidak sesederhana yang mereka pahami. Kata Iman dan Taqwa saja, sangat berlapis-lapis kedalamannya, dan beragam pula wilayah implementasinya dalam dunia jiwa para hamba Allah. Apakah sebegitu mudah orang mengaku menjadi Wali Allah, hanya karena merasa beriman dan merasa bertaqwa dan bahkan mengklaim merasa dirinya beramal shaleh?

Sedangkan tahap agar hamba Allah bisa bebas dari rasa takut dan gelisah saja sulitnya bukan main. Gelisah terhadap cobaan dunia dan cobaan akhirat, takut terhadap fitnah dunia dan siksa akhirat, pun manusia akan sulit membebaskan psikhologinya. Padahal para Wali itu tidak pernah takut dan tidak pernah susah, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an.
Inilah yang dipresentasikan dunia Tasawuf sebagai tradisi ilmu-ilmu Islam bidang hakikat, yang juga bisa difahami manaka melalui pendekatan hakikat pula, dengan logika bathiniyah yang suci. Sebab wilayah hakikat bukanlah wilayah rasional empiris, juga bukan wilayah inderawi. Itu pun harus dalam bimbingan mereka yang telah meraih keparipurnaan hakikat sebagai Insan Kamil.

Karena itu Ibnu Araby, membagi komunitas para auliya’ menurut komunitas kebajikan yang disebut dalam berbagai ayat Al-Qur'an, semisal, komunitas Sholihun, Muhsinun, Shobirun, Syakirun, Dzakirun, Mujahidun, Muttaqun, 'Aminun, Mukhlishin, Mukhlashin, 'Abidun, dan ratusan komunitas Sholeh disana yang tentu saja, merupakan kualifikasi moral yang begitu dalam. Jika Allah menyebutkan suatu kelompok moral, dengan menggunakan istilah tertentu, pasti memilki rahasia tertentu pula. Kata Robb, beda dengan kata Ilah, beda lagi dengan penyebutan yang menggunakan Sifat dan Asma' sepetri Al-Khaliq, Al-Bari', al-Mushowwir, misalnya.

Munculnya istilah Ghauts, Quthub, Abdal, Nuqaba', Nujaba', tentu memiliki dasar-dasar yang tersirat dalam Al-Qur'an dan Sunnah, dan tugas-tugas amanah kewaliyan mereka tentu Allah sendiri Yang Maha Tahu, yang dengan KemahakuasaanNya, dan Irodah MutlakNya, memberikan wewenang dan tugas khusus. Dan semua tugas itu juga dalam rangka meneruskan amanah Rasul SAW.

3. Soal adanya dewan para Wali, sesungguhnya juga tidak bisa dipersepsi sebagaimana kita memahami majlis sosial politik, dengan dewan pimpinan tertentu itu, dengan cara pemilihan ketua dewan atau ketua organisasi. Bahwa dalam dunia Kewalian ada hirarki struktural secara ruhani, pasti sangat berbeda hirarki strukturalnya dengan dunia sosial manusiawi. Kalau suatu saat memang ada tugas bermajlis di gua Hira', itu bukan suatu tugas yang bisa dinilai sebagaimana berkumpulnya sebuah majlis PBB atau lainnya. Namun, karena tugas kasuistis, menyangkut perkara moralitas ummat manusia di dunia, bahkan yang hidup maupun yang sudah mati, yang begitu tampak jelas dalam Alam Mukasyafah mereka, melalui Nur Ilahi.



Tetapi wajar jika anda mempersoalkan, adanya kelompok tertentu yang mengklaim dewan para wali, lalu membuat pertemuan alam ghaib, lalu mereka merasa sebagai para wali, padahal tidak lebih dari sebuah tipudaya alam Jin dan Iblis, bisa saja demikian. Karena Iblis dan Syetan pun punya kelompok tandingan Wali yang disebut dalam Al-Qur'an "Auliya' as-Syayathin". Atau para Wali Syetan, yang seringkali menggunakan jubah religius dan keagamaan. Mereka berjubah, tapi penuh dengan kebusukan, ketakaburan, riya' dan 'ujub, hubbud dunya (cinta dunia), penghamba nafsu dan takut mati.

Namun alangkah piciknya kita kalau memahami dunia Wali dari sekadar gelombang sosial ummat atau dari fenomena keagamaan (khususnya di bidang bathiniyah), lalu anda membuat kesimpulan gradual, kesimpulan salah kaprah, sebagaimana para orientalis dan pengamat Sufi yang lebih banyak salah kaprahnya dalam memaknai istilah dan terminologi Sufi itu sendiri. Wallahul Muwaffiq ila Aqwamith Thoriq, wallahu A'lam bish-Showab.

KHM. Luqman Hakim

mas tolong beritahu saya apa yang dimaksud dengan istilah Ghauts, Quthub, Abdal, Nuqaba', Nujaba' dan hujjah/ dalil alqurnan dan hadis nabi sebagai dasarnya ?
 
@nih mas ada hierarki Wali..

# Wali Aqthab atau Wali Quthub
Wali yang sangat paripurna. Ia memimpin dan menguasai wali diseluruh alam semesta. Jumlahnya hanya seorang setiap masa. Jika wali ini wafat, maka Wali Quthub lainnya yang menggantikan.
# Wali Abdal
Abdal berarti pengganti. Dinamakan demikian karena jika meninggal di suatu tempat, mereka menunjuk penggantinya. Jumlah Wali Abdal sebanyak tujuh orang, yang menguasai ketujuh iklim. Pengarang kitab Futuhatul Makkiyah dan Fushus Hikam yang terkenal itu, mengaku pernah melihat dan bergaul baik dengan ke tujuh Wali Abdal di Makkatul Mukarramah.
Pada tahun 586 di Spanyol, Ibnu Arabi bertemu Wali Abdal bernama Musa al-Baidarani. Abdul Madjid bin Salamah sahabat Ibnu Arabi pernah bertemu Wali Abdal bernama Mu’az bin al-Asyrash. Beliau kemudian menanyakan bagaimana cara mencapai kedudukan Wali Abdal. Ia menjawab dengan lapar, tidak tidur dimalam hari, banyak diam dan mengasingkan diri dari keramaian.

# Wali Nuqoba’
Jumlah mereka sebanyak 12 orang dalam setiap masa. Allah memahamkan mereka tentang hukum syariat. Dengan demikian mereka akan segera menyadari terhadap semua tipuan hawa nafsu dan iblis. Jika Wali Nuqoba’ melihat bekas telapak kaki seseorang diatas tanah, mereka mengetahui apakah jejak orang alim atau bodoh, orang baik atau tidak.

# Wali Nujaba’
Jumlahnya mereka sebanyak 8 orang dalam setiap masa.

Silahkan mas baca surah Yunus ayat 62- 64, klo kurang paham, mas blajar lg ya, soalnya saya juga masih blajar mas..:D:D:D
lagi pula, artikel di atas bukannya udah ada ayat Al-quran nya mas??

afwan..:):):)
 
@nih mas ada hierarki Wali..

# Wali Aqthab atau Wali Quthub
Wali yang sangat paripurna. Ia memimpin dan menguasai wali diseluruh alam semesta. Jumlahnya hanya seorang setiap masa. Jika wali ini wafat, maka Wali Quthub lainnya yang menggantikan.
# Wali Abdal
Abdal berarti pengganti. Dinamakan demikian karena jika meninggal di suatu tempat, mereka menunjuk penggantinya. Jumlah Wali Abdal sebanyak tujuh orang, yang menguasai ketujuh iklim. Pengarang kitab Futuhatul Makkiyah dan Fushus Hikam yang terkenal itu, mengaku pernah melihat dan bergaul baik dengan ke tujuh Wali Abdal di Makkatul Mukarramah.
Pada tahun 586 di Spanyol, Ibnu Arabi bertemu Wali Abdal bernama Musa al-Baidarani. Abdul Madjid bin Salamah sahabat Ibnu Arabi pernah bertemu Wali Abdal bernama Mu’az bin al-Asyrash. Beliau kemudian menanyakan bagaimana cara mencapai kedudukan Wali Abdal. Ia menjawab dengan lapar, tidak tidur dimalam hari, banyak diam dan mengasingkan diri dari keramaian.

# Wali Nuqoba’
Jumlah mereka sebanyak 12 orang dalam setiap masa. Allah memahamkan mereka tentang hukum syariat. Dengan demikian mereka akan segera menyadari terhadap semua tipuan hawa nafsu dan iblis. Jika Wali Nuqoba’ melihat bekas telapak kaki seseorang diatas tanah, mereka mengetahui apakah jejak orang alim atau bodoh, orang baik atau tidak.

# Wali Nujaba’
Jumlahnya mereka sebanyak 8 orang dalam setiap masa.

Silahkan mas baca surah Yunus ayat 62- 64, klo kurang paham, mas blajar lg ya, soalnya saya juga masih blajar mas..:D:D:D
lagi pula, artikel di atas bukannya udah ada ayat Al-quran nya mas??

afwan..:):):)

apakah jika seseorang sudah mencapai kedudukan seperti diatas masih harus menjalankan syariat agama ini?
 
@atas

Ya harus lah mas, syariat dan hakikat tidak bisa dipisahkan..
semakin orang bertasawuf, malah ia kan semakin menjaga syariatnya..

masing-masing sudah ada aturan yg harus dijalankan oleh hamba Allah..
Syariat itu menerangkan tentang hukum, perintah dan syarat-syarat dalam menjalankan ibadah kepada Allah..
Sedangkan Tasawuf itu, lebih kepada akhlak didalam menjalankan ibadah itu sendiri..

keduanya harus ber-iringan dan tidak dapat dipisahkan..
afwan..:):):)
 
Mas gilang saya udah jalan jalan nih ke tread sebelah tentang tauhid terlihat postingan mas (dakwah tentang wali) yang anda kutip dari Dr. Asep Usman Ismail, dosen UIN Jakarta.

semua tulisan itu tanpa didasari fakta dalil yang kuat baik dari sisi alqur'an maupun assunah

satu paragraphnya berbunyi demikian

"Lalu apa puncak dari tingkatan kewalian itu?
Puncak dari tingkatan kewalian itu adalah khatmul walaayah. Ini juga yang disebut kutubul-auliya, poros tertinggi dari kewalian. Kalau pada tingkatan ini bukan sekedar berduaan. Kalau berduaan kan masih bisa dibedakan antara dirinya dengan Tuhannya. Jadi masih ada pemisah, aku dan Dia, atau aku dan Engkau. Sementara pada tingkatan ini antara hamba dan Tuhan itu sudah benar-benar menyatu, tidak ada lagi pemisah."

mana dalil alqur'an dan assunnah yang shahih untuk mendukung pendapat beliau ini.

so jika saya lihat tulisan diatas , inikan ajarannya wihdatul ujud (manunggaling kawula gusti) dimana pelopornya di Indonesia adalah syaikh siti jenar yang dipancung oleh sunan kalijaga akibat keyakinan wihdatul ujud ini.
dimana 'ulama sepakat kafirnya orang yang berkeyakinan ini. Pengkafiran ini tentunya dengan syarat-syarat salah satunya tegaknya hujah pada orang yang berkeyakinan sperti ini (tidak berarti pelaku langung dicap kafir ada proses yang panjang, salah satu contohnya sperti yang dilakukan oleh sunan kalijaga terhadap syaik siti jenar)

mas nasehat saya jika anda info apapun dalam masalah agama anda diam, kemudian anda berusaha mencari jawabannya dengan melakukan cross cek baik dengan alquran dan assunnah yang shahih (minimal terjemahannya untuk kitab-kitab standar, alquran, shahih muslim, shahih bukhari, jika tak mampu cari diperpustakaan )menurut pemahaman shahabat, tanyakan pada orang yang tahu, lakukan komparasi.
Karena permasalahan agama ini adalah permaslahan syurga dan neraka.

Mas saya tanya pada anda mana yang paling mulia wali yang menurut anda atau shahabat nabi ?

Satu lagi mas agama ini sudah sempurna semua permaslahan, tata cara ibadah, muamalah, ahlak dsb sudah tercakup dalam agama ini tinggal kitanya mau ngak untuk mengaji (mendalami dan memahami agama ini dengan benar)
 
@atas
Soal wahdatul wujud itu bukannya menyatu 2 dzat mas,tp keyakinan didalam hati kita bahwa Tiada Tuhan Selain Allah.. apanya yg mw disatukan mas?wong Allah aja ga bisa dibayangkan..??
Soal syeikh siti jenar yg saya tw, kebanyakan dari buku2 atau yg di cerita2 itu tidak lengkap mas, banyak yg "konon" , coba mas baca referensi dari saya bukunya (agus sunyoto tentang ajaran syeikh siti jenar, di gramedia jg ada mas..)

Mas saya tanya pada anda mana yang paling mulia wali yang menurut anda atau shahabat nabi ?
Maaf ya mas, bukannya saya tidak mw menjawab,dari pertanyannya saja sudah salah.

saya mw tanya nih sama mas, mas berarti meragukan wali songo?padahal beliau-beliau mengamalkan tasawuf jg..??? :):)

Seluruh imam mahdzb pun mengamalkan tasawuf mas, ndak percaya?cba mas cari sendiri ya riwayat para imam mahdzabnya..:)
imam malik r.a berkata :
"Fiqih tanpa tasawuf adalah kafir fasik, sedangkan tasawuf tanpa fiqih adalah kafir zindiq
maaf ya mas klo ada jawaban yg kurang dari saya, karna saya jg masih belajar.:):)
 
LanjuUuUutT.. akh.... :D:D:D

Komentar Imam Mazhab Tentang Thariqat Sufi
Imam Abu Hanifah RA:
Imam Abu seorang imam mazhab dari empat mazhab terkenal, ternyata juga seorang Mursyid Thariqah Sufi.

Diriwayatkan oleh seorang Faqih Hanafi al-Hashkafi, menegaskan, bahwa Abu Ali ad-Daqqaq ra, berkata, “Aku mengambil Thariqah sufi ini dari Abul Qasim an-Nashr Abadzy, dan Abul Qasim mengambil dari Asy-Syibly, dan Asy-Syibly mengambil dari Sary as-Saqathy, beliau mengambil dari Ma’ruf al-Karkhy, dan beliau mengambil dari Dawud ath-Tha’y, dan Dawud mengambil dari Abu Hanifah Ra.

Abu Hanifah dikenal sebagai Fuquha ulung, ternyata tetap memadukan antara syariah dan haqiqah. Dan Abu Hanifah terkenal zuhud, wara’ dan ahlu dzikir yang begitu dalam, ahli kasyf, dan sangat dekat dengan Allah Ta’ala, berkah Tasawuf yang diamalkannya.

Jika ada pertanyaan, kenapa para Mujtahidin itu tidak menulis kitab khusus mengenai Tasawuf, jika mereka mengikuti aliran Sufi?
Imam Asy-Sya’rany, Mujathid dan Ulama besar mengatakan, “Para Mujtahidun itu tidak menulis kitab khusus mengenai tasawuf, karena penyakit-penyakit jiwa kaum muslimin di zamannya masih sedikit. Mereka lebih banyak selamat dari riya’ dan kemunafikan. Mereka yang tidak selamat jumlahnya kecil. Hampir-hampir cacat mereka tidak tampak di masa itu. Sehingga mayoritas Mujtahidin di masa itu lebih konsentrasi pada bidang ilmu dan mensistematisir pemahaman pengetahuan yang tersebar di kota dan desa, dengan para Tabi’in dan Tabiit Tabi’in, yang merupakan sumber materi pengetahuan, sehingga dari mereka dikenal timbangan seluruh hukum, dibanding berdebat soal amaliyah qalbiyah sebagian orang yang tidak banyak muncul”.

Imam Malik Ra.
Beliau mengatakan soal tasawuf ini dengan kata-kata yang sangat popular hingga saat ini:
“Siapa yang bersyariat atau berfiqih tanpa bertasawuf, benar-benar menjadi fasiq. Dan siapa yang bertasawuf tanpa bersyariat (berfiqih) benar-benar zindiq. Siapa yang mengintegrasikan Fiqih dan Tasawuf benar-benar menapaki hakikat kebenaran.”

Imam Syafi’i Ra.
Beliau berkata: “Aku diberi rasa cinta melebihi dunia kalian semua: “Meninggalkan hal-hal yang memaksa, bergaul dengan sesama penuh dengan kelembutan, dan mengikuti thariqat ahli tasawuf.”

Imam Ahmad bin Hambal Ra.
Sebelum belajar Tasawuf, Imam Ahmad bin Hambal menegaskan kepada putranya, Abdullah ra. “Hai anakku, hendaknya engkau berpijak pada hadits. Anda harus hati-hati bersama orang-orang yang menamakan dirinya kaum Sufi. Karena kadang diantara mereka sangat bodoh dengan agama.” Namun ketika beliau berguru kepada Abu Hamzah al-Baghdady as-Shufy, dan mengenal perilaku kaum Sufi, tiba-tiba dia berkata pada putranya “Hai anakku hendaknya engkau bermajlis dengan para Sufi, karena mereka bisa memberikan tambahan bekal pada kita, melalui ilmu yang banyak, muroqobah, rasa takut kepada Allah, zuhud dan himmah yang luhur (Allah)”
Beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih utama ketimbang kaum Sufi.” Lalu Imam Ahmad ditanya, “Bukanlah mereka sering menikmati sama’ dan ekstase ?” Imam Ahmad menjawab, “Dakwah mereka adalah bergembira bersama Allah dalam setiap saat…”

Imam Al-Muhasiby RA.
Abu Abdullah al-Harits Al-Muhasiby, wafat tahun 243 H, diantara karyanya adalah al-Luma’ dan Kitabul Washaya, yang sangat popular diantara kaum Sufi. Beliau pernah mengatakan berhubungan dengan perjuangan dirinya dalam mencapai wushul kepada Allah, melalui jalan Tasawuf dan tokoh-tokoh Sufi, “Amma Ba’du, sudah ada penjelasan, bahwa ummat ini terpecah menjadi tujupuluh lebih golongan Diantara golongan itu ada satu golongan yang selamat, Wallahu A’lam sisanya. Dan sepanjang usia saya, sering diperlihatkan perbedaan antara ummat. Saya mengikuti metode yang jelas dan jalan utama. Aku mencari ilmu dan amal. Saya menapak jalan akhirat melalui petunjuk para Ulama, dan saya memegang ayat Al-Qur’an melalui penakwilan para fuqoha’, dan aku merenungkan urusan ummat, dan menganalisa pandangan dan mazhabnya. Saya berfikir mengenai apa yang mampu, dan betapa banyak perbedaan yang begitu mendalam yang menenggelamkan banyak orang.

Hanya sekolompok manusia yang selamat. Saya melihat bahwa mereka berpendapat bahwa golongan merekalah yang selamat.

Setelah menggambarkan berbagai kelompok mazahab dan golongan, Al-Muhasiby mengatakan:
“Kemudian aku sangat mencintai mazhab kaum Sufi dan sangat banyak mengambil faedah dari mereka, menerima adab-adab mereka karena ketaatan mereka, yang sangat lurus, dan tak seorang pun melebihi mereka. Kemudian Allah membukakan padaku bukti-bukti tasawuf, keutamaannya mencerahkan jiwaku, dan aku berharap agar keselamatan ada pada orang yang mengakuinya, atau merias dengan perilakunya. Aku sangat yakin adanya pertolongan besar bagi yang mengamalkannya, dan aku pun melihat adanya pelencengan pandangan bagi yang menentangnya. Aku juga melihat adanya kotoran yang mengerak pada hati yang menentang tasawuf, dan terlihat pula adanya argumentasi yang luhur bagi yang memahaminya. Bahkan kemudian, aku mewajibkan diriku untuk mengamalkannya. Aku meyakininya dalam akidah rahasia batinku, dan meliputinya pada kedalaman rasaku, bahkan kujadikan tasawuf itu sebagai asas agamaku, dimana aku bangun amal-amalku, lalu di bangunan itu aku mondar-mandir dengan perilaku hatiku…….”
 
Orang Sufi dianggap anti Syurga dan Tidak Takut Neraka?

Diantara tuduhan yang dilontarkan kepada kaum Sufi, bahwa dalam tasawuf, seorang Sufi itu tidak mau syurga dan tidak takut neraka. Padahal Rasulullah pernah berharap syurga dan dihindarkan dari neraka. Rasulullah paripurna saja masih demikian, kenapa kaum Sufi enggan dengan syurga dan tidak takut neraka?

Tuduhan dan pertanyaan berikutnya seputar syurga dan neraka, bahwa kaum Sufi dalam tujuannya untuk beribadah hanya kepada Allah, tidak menuju syurga dan tidak menghindar dari neraka, dianggap sebagai akidah yang salah. Padahal dalam ayat Al-Qur’an disebutkan, “Makan dan minumlah (di syurga) dengan nikmat yang disebabkan oleh amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang lampau….” (al-Haaqqah, 24) . Jadi kaum Sufi pandangannya bertentangan dengan ayat tersebut.

Dalam Al-Qur’an dan Hadits soal syurga dan neraka disebut berkali-kali dalam berbagai ayat dan surat. Tentu saja, sebagai janji dan peringatan Allah swt. Namun memahami ayat tersebut atau pun hadits Nabi saw, harus dilihat dari berbagai sudut pandang, tidak sekadar formalisme ayat atau teks hadits saja.
Contoh soal rasa takut. Dalam Al-Qur’an disebut beberapa kali bentuk takut itu. Ada yang menggunakan kata Taqwa, ada yang menggunakan kata Khauf dan ada pula Khasyyah, dan berbagai bentuk kata yang ditampilkan Allah Ta’ala yang memiliki hubungan erat dengan bentuk takut itu sendiri, sesuai dengan kapasitas hamba dengan Allah Ta’ala. Makna takut dengan penyebutan yang berbeda-beda itu pasti memiliki dimensi yang berbeda pula, khususnya dalam responsi psikhologi keimanan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, berkaitan dengan frekwensi dan derajat keimanan seseorang.

Begitu juga kata Jannah dan Naar, syurga dan neraka. Penekanan-penekanan kata Naar dalam Al-Qur’an juga memiliki struktur hubungan yang berbeda. Naar disebutkan untuk orang kafir, memiliki tekanan berbeda dengan orang munafik, orang fasik, dan orang beriman yang ahli maksiat. Itu berarti berhubungan dengan kata Naar, yang disandarkan pada macam-macam ruang neraka: Ada Neraka Jahim, Neraka Jahanam, Neraka Sa’ir, Neraka Saqar, Neraka Abadi, dan penyebutan kata Naar yang tidak disandarkan pada sifat dan karakter neraka tertentu.

Jika Naar kita maknai secara gradual, justru menjadi zalim, karena faktanya tidak demikian. Hal yang sama jika para Sufi memahami Naar dari segi hakikatnya neraka, juga tidak bisa disalahkan. Apalagi jika seseorang memahami neraka itu sebagai api yang berkobar.

Kalimat Naar tanpa disandari oleh Azab, juga berbeda dengan Neraka yang ansickh belaka. Misalnya kalimat dalam ayat di surat Al-Baqarah, “Wattaqun Naar al-llaty waquduhannaasu wal-Hijarah” dengan ayat yang sering kita baca, “Waqinaa ‘adzaban-Naar,” memiliki dimensi berbeda. Ayat pertama, menunjukkan betapa pada umumnya manusia, karena didahului dengan panggilan Ilahi ”Wahai manusia”. Maka Allah langsung membuat ancaman serius dengan menyebutkan kata Naar. Tetapi pada doa seorang beriman, “Lindungi kami dari siksa neraka,” maknanya sangat berbeda. Karena yang terakhir ini berhubungan dengan kualifikasi keimanan hamba kepada Allah, bahwa yang ditakuti adalah Azabnya neraka, bukan apinya. Sebab api tanpa azab, jelas tidak panas, seperti api yang membakar Ibrahim as.

Oleh sebab itu, jika seorang Sufi menegaskan keikhlasan ubudiyahnya hanya kepada Allah, memang demikian perintah dan kehendak Allah. Bahwa seorang mukmin menyembah Allah dengan harapan syurga dan ingin dijauhkan neraka, dengan perpekstifnya sendiri, tentu kualifikasi keikhlasannya di bawah yang pertama. Dalam berbagai ayat mengenai Ikhlas, sebagai Ruh amal, disebutkan agar kita hanya menyembah Lillahi Ta’ala. Tetapi kalau punya harapan lain selain Allah termasuk di sana harapan syurga dan neraka, sebagai bentuk kenikmatan fisik dan siksa fisik, itu juga diterima oleh Allah. Namun, kualifikasinya adalah bentuk responsi mukmin pada syurga dan neraka paling rendah.

Semua mengenal bagaimana Allah membangun contoh dan perumpamaan, baik untuk menjelaskan dirinya, syurga maupun neraka. Kaum Sufi memilih perumpamaan paling hakiki, karena perumpamaan neraka yang paling rendah sudah dilampauinya. Sebagaimana kualitas moral seorang pekerja di perusahaan juga berbeda-beda, walau pun teknis dan cara kerjanya sama.

Orang yang bekerja hanya mencari uang dan untung, tidak boleh mencaci dan mengecam orang yang bekerja dengan motivasi mencintai pekerjaan dan mencintai direktur perusahaan tersebut. Walau pun cara bekerjanya sama, namun kualitas moral dan etos kerjanya yang berbeda. Bagi seorang direktur yang bijaksana, pasti ia lebih mencintai pekerja yang didasari oleh motivasi cinta yang luhur pada pekerjaan, perusahaan dan mencintai dirinya, disbanding para pekerja yang hanya mencari untung be laka, sehingga mereka bekerja tanpa ruh dan spirit yang luhur.

Bersambung .. :D
 
Mas bagusnya tidak usah di copas,,,, kita sudah tahu kok situs SUFINEWS :D
 
@atas

Yaah mas..
semua Thread yg ada disini bukannya copas semua jg kan ya, hehehehehe .?? :D:D
ada yg copas dari buku, dari kitab, dari Al- quran dan dari gurunya .. ??
Lalu bedanya dimana mas ,, ?? :D:D

ok mas ocoy, i-Allah nanti saya buat yg ga copas .., tp ga mungkin akh mas ocoy, dari kitab jg tetep disebut copas kok, ya khan ? )
ditunggu saja ya .. :D:D:D
 
Lanjutin lagi ..
bismilah .. :)

Karena itu syurga pun demikian. Persepsi syurga bagi kaum Sufi memiliki kualifikasi ruhani dan spiritual yang berbeda dengan persepsi syurga kaum awam biasa. Hal yang sama persepsi mengenai bidadari. Bagi kaum Sufi bidadari yang digambarkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah, adalah Tajalli (penampakan) sifat-sfat dan Asma Kemahaindahan Ilahi, yang tentu saja berbeda dengan kaum awam yang dipersepsi sebagai kenikmatan bilogis seksual-hewani.

Syurga bagi kaum Sufi adalah Ma’rifatullah dengan derajat kema’rifatan yang berbeda-beda. Karena nikmat tertinggi di syurga adalah Ma’rifat Dzatullah. Jadi kalimat Rabi’ah Adawiyah tentang ibadah tanpa keinginan syurga adalah syurga fisik dengan kenikmatan fisik yang selama ini kita persepsikan. Dan hal demikian memang bisa menjadi penghalang (hijab) antara hamba dengan Allah dalam prosesi kema’rifatan.

Bahkan Allah pun membagi-bagi syurga dengan symbol berbeda-beda, ada Jannatul Ma’wa, Jannatul Khuldi, Jannatun Na’im, Jannatul Firdaus, yang tentu saja menunjukkan kualifikasi yang bersifat lahiriyah maupun bathiniyah. Bagi orang beriman yang masih bergelimang dengan nafsunya, maka perspesi tentang nikmat syurga, adalah pantulan nafsu hewaninya dan syahwatnya, lalu persepsi kesenangan duniawi ingin dikorelasikan dengan rasa nikmat syurgawi yang identik dengan syahwatiyah.

Rabi’ah Adawiyah dan para Sufi lainnya ingin membersihkan jiwa dan hatinya dari segala bentuk dan motivasi selain Allah yang bisa menghambat perjalanan menuju kepada Allah. Dengan bahasa seni yang indah dan tajam, mereka hanya menginginkan Allah, bukan menginginkan makhluk Allah. Amaliyah di dunia sebagi visa syurga hanyalah untuk menentukan kualifikasi kesyurgawiannya, bukan sebagai kunci masuk syurganya. Karena hanya Fadhal dan RahmatNya saja yang menyebabkan kita masuk syurga. “karena Fadhal dan Rahmat itulah kamu sekalian bergembira…” Demikian dalam Al-Qur’an. Bukan gembira karena syurgaNya.

Syurga dan neraka adalah makhluk Allah. Apakah seseorang bisa wushul (sampai kepada) Allah, manakala perjalanannya dari makhluk menuju makhluk? Apakah itu tidak lebih dari sapi atau khimar yang menjalankan roda gilingan, yang berputar-putar terus menerus tanpa tujuan?
Nah anda bisa merenungkan sendiri, betapa tudingan-tudingan mereka yang anti tasawuf soal persepsi syurga dan neraka ini, bisa terbantahkan dengan sendirinya, tanpa harus berdebat lebih panjang.

Hanya mereka yang tolol dan bodoh saja, jika ada ucapan seperti ini dikecam habis, “Tuhanku, hanya engkau tujuanku, dan hanya ridloMulah yang kucari. Limpahkan Cinta dan Ma’rifatMu kepadaku…” Ucapan yang menjadi munajat para Sufi. Lalu mereka mengecam ucapan ini, sebagai bentuk anti syurga dan tak takut neraka?
 
wadu2... dah lama gk kemare.. uda discuss expert :(
ane cm tw tasawuf itu yg d anut syekh siti jenar... trus baca2 yg d atas pendapat para imam.. kl tasawuf harus d padukan dengan syariat...
nah pertanyaannya...
knp syekh sitijenar di hukum mati karna tasawuf yg d anutnya...
tasawuf macam apa yg anut olehnya.. sesatkah?

mohon pencearahannya plz :D dangkal bgt nih soal tasawuf
eh tanya juga.. sufi sm tasawuf bedanya apa yak??
 
knp syekh sitijenar di hukum mati karna tasawuf yg d anutnya...
tasawuf macam apa yg anut olehnya.. sesatkah?

gini om jawabannya..
cerita tentang syeikh siti jenar itu banyak yg "konon" tidak lengkap, ada yg dipotong2.
ane baca dari bukunya Agus Sunyoto, thareqat syeikh siti jenar itu ada 2.
1. thareqat syatoriyah ..
2. thareqat Akmaliyah (untuk thareqat yg satu ini, sifatnya sangat rahasia.dan menurut jamaah thareqat mu'tabaroh di Indonesia, thareqat ini memang tidak tercantum di dalam nama2 thareqat yg mu'tabaroh saking rahasiannya thareqat ini.

mohon pencearahannya plz dangkal bgt nih soal tasawuf
eh tanya juga.. sufi sm tasawuf bedanya apa yak??

sama om, ane jg masih banyak yg ga tau .. :D
Sufi itu orang yg melaksanakan ajaran tasawuf, sedangkan tasawuf itu nama disiplin iLmunya, yg terdiri dari berbagai maqom-maqom yg harus ditempuh oleh seorang murid, istilah murid dalam tasawuf disebut saalik

begitu om :)
 
yg gw tau juga imam al ghazali sebelum meninggal dia bertobat dari tasawufnya/filsafatnya karena dia tau bahwa itu bisa merusak aqidah

suatu ketika pernah abis sholat jumat, ada seoarang ustad yg mengaku sufi dia sedang ke arah mesjid seusai sholat jumat.. terus tanya, "tad, antum dari mana?"
sambil bawa dan makan kurma ustad itu menjawab "ana abis sholat jumat di mekkah"

gimana tuh caranya?
 
yg gw tau juga imam al ghazali sebelum meninggal dia bertobat dari tasawufnya/filsafatnya karena dia tau bahwa itu bisa merusak aqidah

naah, ni ane jg pernah baca nih om.tp beliau medirikan sebuah thareqat namanya thareqat al ghazaliyah ..

suatu ketika pernah abis sholat jumat, ada seoarang ustad yg mengaku sufi dia sedang ke arah mesjid seusai sholat jumat.. terus tanya, "tad, antum dari mana?"
sambil bawa dan makan kurma ustad itu menjawab "ana abis sholat jumat di mekkah"

gimana tuh caranya?

ga usah bingung gmn caranya, namanya jg waliyullah, apapun bisa..
klo ga salah, menurut pengetahuan ane yg dangkaL, ntu namanya karomah.
sama seperti para nabi, tapi klo para nabi itu mukzizat. dan tingkatannya tentu lebih tinggi para nabi ..

afwan ..:):)
 
owh terusnya ditanya lagi ke ustad itu, "loh kok bisa sih tad? klo disini jam 1 kurang, di mekkah kan kira2 masih jam 9 nan tad"

setelah itu ustadnya pergi ga menjawab pertanyaan...

(wedew hebat juga yah tuh ustad, sampe bisa memajukan waktu)
 
owh terusnya ditanya lagi ke ustad itu, "loh kok bisa sih tad? klo disini jam 1 kurang, di mekkah kan kira2 masih jam 9 nan tad"
setelah itu ustadnya pergi ga menjawab pertanyaan...
(wedew hebat juga yah tuh ustad, sampe bisa memajukan waktu)

hahaha, iya jg ya mas, tp ga usah heran wong namanya jg cerita toh .. :D
 
ini beneran kok, gak cerita.... tapi ga tau ustadnya itu benar atau cerita.. pake bawa kurma segala kok. tiap bulan, mungkin 1-2 kali di mesjid gw ada kok pengajianya, sabtu malam.

“Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Allah.” (An-Naml: 65)
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.