• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Salah Faham Terhadap Dunia Sufi

semutsedeng

IndoForum Senior C
No. Urut
69471
Sejak
27 Apr 2009
Pesan
5.596
Nilai reaksi
138
Poin
63
Dibaca ampe abis ya biar paham...
kLo udah, ditunggu kritik dan sarannya, ni baru bagian pertama...:D:D:D
Selamat membaca dan memahami...:):):):)

Bismillah...

Akidah Sufi Dituduh Menyimpang dari Al-Qur’an dan Sunnah

Redaksi Sufi menurunkan pledoinya atas kontroversi yang selama ini dituduhkan oleh para pemikir Muslim yang anti Tasawuf. Sejak zaman munculnya dunia Sufi dalam peradaban ilmu pengetahuan banyak kalangan yang menuding Tasawuf sebagai aktivitas yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Termasuk para pemikir dewasa ini, khususnya Abdurrahman Abdul Khaliq dalam bukunya Al-Fikrus Shufi, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul, “Penyimpangan-Penyimpangan Tasawuf.” Buku ini tersebut sangat mendeskriditkan Tasawuf degan penuh emosional dan antipati, dan berpengaruh terhadap gerakan Islam radikal di berbagai negara Islam termasuk di Indonesia.

Karena itu Redaksi Sufi berusaha meluruskan tuduhan-tuduhan hipokrit tersebut dengan mengangkat kembali fakta, idea, akidah dan syari’ah yang sesungguhnya. Sehigga pemahaman yang dangkal itu berbuntut menjadi tuduhan yang sangat arogan dan membahayakan akidah mereka sendiri.

Di bawah ini akan kita muat secara bersambung hal-hal yang dipersoalkan oleh mereka, sehingga mereka anti tasawuf. Dan Redaksi Cahaya Sufi menurunkan jawaban-jawabannya:

Akidah Sufistik
Dalam bentuknya yang terakhir akidah tasawuf berbeda dengan Al-Qr’an dan Sunnah dari seluruh sisinya, disebabkan oleh sumber dan penerimaan akidah itu, yakni sumber pengetahuan keagamaan. Dalam Islam akidah ditetapkan hanya Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi dalma tasawuf akidah ditetapkan melalui Ilham, wahyu yang dipercaya oleh para Wali. Hal ini berhubungan dengan Jin yang mereka namanakan dengan makhluk ruhani, atau mi’rajnya ruh ke langit. Lebur dalam Allah dan Injila’ (berkilauannya) cermin hati. Sehingga menurut pengakuan mereka, perkara ghaib tampak seluruhnya bagi wali Sufi melalui kasyf dan mengikatkan hati dengan Rasulullah SAW, karena dalam kepercayaan mereka ilmu-ilmu itu disandarkan pada Rasulullah atau dengan bertemu dengan Rasulullah dalam keadaan terjaga atau mimpi.

Ketika sumber-sumber itu terbilang banyaknya maka akidah itu sendiri berkembang, berubah-ubah, satu sama lainnya berbeda. Masing-masing menyatakan apa yang didapat dalam Kasyfnya, apa yang tertangkap dalam benaknya, apa yang dikatakan Rasulullah, atau diberikan malaikat atau yang ia lihat sendiri di Lauhul Mahfudz.

Mengenai Al-Qur’an dan Sunnah para Sufi memiliki penafsuran kebatinan yang terkadang mereka menamakannya tafsir Isyarat. Mereka percaya bahwa setiap huruf dalam Al-Qur’an memiliki makna yang tidak diketahui kecuali oleh Sufi yang mumpuni dan terbuka hatinya. Berdasarkan hal ini para Sufi memiliki keberagaman sendiri yang dalam tataran ushul dan cabangnya berbeda dari agama yang dibawa oleh Rasulullah.

Berikut ini ringkasan akidah sufi tentang Allah, Rasulullah, Para Wali, Syurga, Neraka, Fir’aun, dan Iblis. Begitu juga keyakinan tentang berbagai syariat.

Akidah mereka tentang Allah
Seorang Sufi meyakini Allah dengan akidahnya yang beraneka ragam. Diantaranya adalah Hulul (reingkarnasi) seperti mazhabnya Al-Hallaj dan juga Wihdatul Wujud yang mengajarkan ketidakterpisahan antara Khaliq dengan makhluk. Inilah akidah terakhir yang berkembang sejak abad ke III hingga kini. Akhirnya setiap tokoh dan Ulama akidah ini, mencatatnya dalam kitab, seperti Ibnu ‘Araby, Ibnu Sab’in, Al-Tilmasy, Abdul Karim al-Jily, Abdul Ghani an-Nablusy dan juga mayoritas pimpinan Thariqat Sufi kontemporer.

Akidah mereka tentang Rasulullah
Diantara mereka yang meyakini bahwa Rasulullah tidak mencapai martabat dan kondisi para Sufi. Rasulullah tidak mengetahui ilmu-ilmu para Sufi sebagaimana diutarakan oleh Busthamy, “Kami menyelami lautan yang para Nabi berhenti di pantainya.” Diantara mereka juga ada yang meyakini bahwa Muhammad adalah puncak jagad semesta ini. Dialah Allah yang bersemayam di Atas Arasy. Langit, bumi, ‘Arasy, Kursy, dan seluruh yang ada diciptakan dari Cahaya Muhammad. Dan Muhammadlah yang pertama maujud. Dialah yang bersemayam di atas Arasy Allah. Demikianlah akidah Ibnu Araby dan Sufi sesudahnya.

Akidah mereka tentang para Wali’
Kaum Sufi meyakini wali dengan beragam akidah pula. Diantara mereka ada yang mengutamakan wali daripada Nabi. Pada umumnya mereka menyamakan wali dengan Allah dalam setiap Sifatnya. Allah menciptakan, Menghidupkan, Mematikan, dan Berkuasa atas alam ini. Mereka dalam hal ini membagi golongan wali. Mereka adalah Ghauts yang memegang hukum alam ini, empat aqthab yang yang menguasai empat tiang alam ini dengan perintah ghauts, tujuh abdal, yang masing-masing mengatur satu dari tujuh benua dengan perintah ghauts, dan Nujaba’ yang meyebatr di setiap penjuru untuk mengatur ketentuan-ketentuan makhluk. Mereka juga memiliki dewan, majlis berkumpul di gua hira’ untuk menunggu takdir-takdir. Singkatnya para wali itu ‘alim, keramat, dan sempurna.

Pastinya, konsep demikian berbeda dengan konsep kewalian dalam Islam, yang berdasar pada kebragaman, ketaqwaan, amal shaleh, ibadah yang sempurna kepada Allah, dan sikap fakir atau butuh kepada Allah. Seorang Sufi tidak berkuasa sedikit pun terhadap dirinya sendiri terlebih terhadap orang lain. Firman Allah: “Katakanlah ‘Kami tidak berkuasa mendatangkan suatu kemudaratan kepadamu, juga tidak suatu kemanfaatan.’ (al-Jin 21).

Akidah mereka tentang Syurga dan Neraka
Seluruh Sufi meyakini bahwa mencari syurga adalah upaya yang banyak mengurangi kesempurnaan. Seorang Wali tidak boleh berusaha menuju dan mencari syurga. Sufi yang mencari syurga berarti kurang sempurna. Yang mereka cari hanyalah cinta, ketidakberdayaan di haribaan Allah, membuka tabir keghaiban dan berkuasa atas alam ini. Itulah syurga yag diyakini para Sufi.

Mereka juga meyakini bahwa menjauhi neraka tidak selayaknya dilakukan oleh Sufi yang sempurna. Karena rasa takut akan neraka akan seorang budak. Neraka bagi mereka tidak panas. Bahkan diantara Sufi ada yang bersombong diri, bahwa seandainya ia meludah di neraka, maka akan memadamkannya seperti yang dikatakan al-Busthamy. Adapun Sufi yang berakidah Wihdatul Wujud, diantara mereka ada yang berkeyakinan bahwa neraka bagi yang memasukinya itu nyaman dan nikmat, tidak kurang dari kenikmatan orang yang masuk syurga. Itulah akidah Ibnu Araby, seperti yang ia nyatakan dalam Fushusul Hikam.

Akidah mereka tentang Fir’aun dan Iblis
Kebanayakan Sufi meyakini bahwa Iblis adalah hamba paling sempurna dan makhlik terbaik dalam hal akidah, karena mereka mempercayai Iblis, tidak bersujud kecuali kepada Allah. Begitu juga Fir’aun bagi mereka adalah orang yang paling baik Tauhidnya. Karena ia pernah berkata, “Akulah Tuhanmu yang tertinggi.” Disini Fir’aun mengetahui hakikat, karena setiap yang maujud itu adalah Allah. Dalam kepercayaan mereka, Fir’aun termasuk orang yang beriman dan masuk syurga.

Demikian tudingan mereka terhadap kaum Sufi. Dan di bawah ini adalah jawaban atas kesalahpahaman mereka, baik dari segi pemahaman terhadap wacana Sufi, maupun pendekatan pemahamannya, bahkan terhadap substansi penafsiran Al-Qur’an dan Sunnah..
 
Aduh baru baca SEPINTAS saja saya sudah MERINDING,,,,,

Mungkin ayat ini bisa di jadikan RENUNGAN qq >:D<

7. Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi Al-Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari tawilnya, padahal tidak ada yang mengetahui tawilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS. 3:7)
 
thx bos buat kritikannya...
nih ada lagi jwbnya...

Mereka Yang Memusuhi Dunia Sufi
Syeikh Abduk Qadir Isa


Orang-orang yang menusuk dunia Sufi dalam Islam dan ingin merobohkan bahkan ingin menghancurkan dengan berbagai kedustaan, dengan melemparkannya melalui pandangannya yang sesat terbagi menjadi berbagai kelompok: Ada yang memusuhi karena benci dan dendam pada Islam, ada juga karena kebodohannya terhadap hakikat Tasawuf, lalu mereka terkubang dalam kebodohan yang mendustakan.

Kelompok Pertama:
Adalah musuh-musuh Islam dari kaum Zindiq Orientalis dan anthek-antheknya melalui rentetan perang Salib dan aktivitas kolonialisme yang penuh dendam, semata mereka hanya ingin merobohkan benteng-benteng Islam, menghancurkan rambu-rambu utamanya, dan menebarkan racun permusuhan dengan mengembangkan konflik antar barisan Islam.

Mohammad Asad, salah satu orientalis yang masuk Islam telah membuka kedok mereka dalam bukunya, al-Islam fi Muftariqit Thuruq, ketika membicarakan pengaruh perang Salib.

“Mereka memiliki semangat besar untuk meneliti Islam dalam rangka mengetahui rahasia kekuatannya, agar mereka tahu dari mana pintu-pintu masuknya, dan dari gerbang mana jalan menuju umat Islam untuk merobohkan dan merekayasa keburukannya. Diantara para orientalis itu, yang paling berpengaruh adalah RA Nicholson dari Inggris, Goldziher Yahudi, Louis Massignon dari Perancis dan lainnya.

Di satu sisi mereka menebar racun dalam madu, dan memuji Islam dalam sebagian buku-bukunya agar menarik respon pembaca. Ketika mulai tertarik, mereka membuat pengaruh pada akidahnya, lalu menebar kebatilan dalam hatinya untuk ditaburkan pada Islam, dengan berbagai dosa dan dusta.
Kadang-kadang mereka membuat rincian akademik yang spesifik, bahkan berjubah keagamaan, lalu mengenalkan Tasawuf sebagai ruhnya Islam. Namun di satu sisi mereka menegaskan bahwa Tasawuf itu sesungguhnya warisan dari Yahudi, Nasrani dan Budha. Mereka membuat keraguan pada pembacanya bahwa Tasawuf adalah pandangan yang telah menyimpang dan sesat, seperti pandangan tentang Hulul dan Ittihad, Wahdatul Wujud, dan Wahdatul Adyan.
Kita tahu, dan kita tidak asing dengan tudingan mereka, karena mereka adalah musuh. Karena demikian watak musuh dan pemakar. Kita tidak perlu lagi merinci hujatan mereka, karena kita sudah mengenal watak para musuh dunia Sufi dengan tujuannya yang begitu kotor.

Namun yang memprihatinkan kita adalah mereka yang mengaku sebagai tokoh Islam, tetapi mereka mengadopsi pandangan-pandangan musuh Islam itu untuk dijadikan pegangan demi menusuk Islam dari dalam, yaitu Ruhul Islam dan Mutiara Islam, yang tidak lain adalah Tasawuf. Apakah dibenarkan bagi seorang muslim yang berakal, mengambil pandangan dari musuh-musuh Islam yang kafir demi menusuk sesama saudaranya yang muslim? Maha Suci Allah, sungguh sebuah kebohongan besar.

Kalau saja para orientalis itu benar-benar membela Islam, benar-benar tulus dalam tesis mereka dengan keinginannya memurnikan Islam dari kotoran, kenapa mereka juga tidak memeluk Islam?
Kenapa mereka tidak menggunakan metode muslim bagi pandangan hidupnya?

Kelompok Kedua
Adalah mereka yang bodoh terhadap ajaran hakikat Tasawuf Islam, karena mereka tidak mendapatkan bimbingan dari tokoh Sufi yang benar dan dari kalangan Ulamanya yang Ikhlas. Bahkan mereka mengambil analisa tentang tasawuf dengan pandangan yang mengaburkan, jauh dari kejelasan dan fakta.
Mereka ini terbagi-bagi:

1. Mereka mengambil pandangan Sufi dari kalangan yang mengamalkan tasawuf secara menyimpang yang mengaku sebagai gerakan Tasawuf, tanpa membedakan antara hakikat Tasawuf yang terang dengan peristiwa-peristiwa penyimpangan tasawuf.

2. Ada kalangan yang terpeleset karena sesuatu yang ditemukan dalam kitab-kitab Tasawuf, sebagai rahasia tersembunyi, lantas menafsirkan menurut selera mereka tanpa adanya pendalaman hakikatnya, bahkan mereka memahami menurut perspektif mereka sendiri, menurut pengetahuan mereka yang terbatas dan dangkal. Tanpa mereka mau merujuk pada wacana dunia Tasawuf yang terang dan jelas yang tidak melanggar syariat. Mereka tidak menerjemahkan melalui pandangan kaum Sufi sendiri terhadap hal-hal yang tersembunyi itu.



Mereka ini semisal orang yang dalam qalbunya ada penyimpangan dan penyakit jiwa, lalu menakwilkan ayat-ayat Al-Qur’an yang Mutasyabihat dengan penafsiran dangkal mereka yang menyimpang, tanpa mereka memahami ayat-ayat Muhkamat (tegas) dan jelas makna dan tujuannya. Allah Ta’ala berfirman:
“Dialah yang menurunkan kepadamu Kitab, darinya ada ayat-ayat Muhkamat dan disanalah ada Ummul Kitab, dan ayat lain bersifat Mutasyabihat. Sedangkan mereka yang hatinya ada penyimpangan, mereka mengikuti yang kabur dari ayat itu demi menimbulkan fitnah dan meraih rekayasa pemahaman.”

Karena itu agar tidak disalahpahami, sejumlah Ulama Sufi menjelaskan berbagai rahasia Tasawuf dalam kitab-kitabnya, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Araby dalam kitabnya Al-Futuhatul Makkiyyah dan Ar-Risalah oleh al-Qusyairy.

ditunggu kritik dan sarannya...:):)
 
Saya mah tidak MENGKRITIK bos,,, soalnya saya BELUM SAMPAI TAHAPAN BERSATU DENGAN TUHAN,,,, seperti TUHAN di AGAMA SEBELAH :P

Boleh di bahas satu persatu,,, gak bos :D biar paham dunia SUFI :">

Apakah BENAR MANUSIA bisa BERSATU dengan TUHAN,,, sehingga OTOMATIS menjadi TUHAN :">
 
@atas

Waaahh...
Saya jg blm begitu paham bozz..

tapi soal pandangan menyatu dengan tuhan itu salah kaprah..
banyak orang menuding sesat para sufi, karena mereka salah dalam memahami istilah wahdatul Wujud (menyatu dengan Tuhan)..
yg saya pelajari, yg disebut menyatu itu, bukan zat kita dengan Allah, Maha Suci Allah dari hal seperti itu..

yang disebut bersatu itu, bagaimana kita berinteraksi dengan sifat, asma dan af'al nya Allah,,
Di dalam al_quraan kan ada, sya lpa nama suratnya..
klo ga salah bunyinya gni..
"fanzduruma fisamawati wama filardhi"
pandanglah apa yang tersembunyi dibalik langit dan bumi, bukan memandang langit dan bumi

apa yg tersembunyi??? disitu ada asma, sifat dan af'alnya Allah..

Afwan..
 
Tetapi mengapa sampai ada kalimat wahdatul Wujud ato MANUNGGALING KAWULO GUSTI, yang BERARTI BERSATU DENGAN TUHAN SECARA NYATA,,,
 
@atas

1. yg saya tau, kalimat tersebut di lontarkan oleh Syeikh ibnu Taimiyah, lantaran beliau tidak bs memahami kata2 yg dikeluarkan oleh ibnu Arabi..
2. Orang2 yg anti terhadap tasawuf..
bahkan ada sebagian kata dalam kitab tasawuf yg dipenggal- penggal oleh oihak yg anti tasawuf..
3.Para Sufi yang diangkat derajatnya oleh Allah meraih maqom Kewalian atas KehendakNya, diberi anugerah, fadlal dan rahmatNya, menurut kehendakNya. Kesalahpamahan mereka yang kontra terhadap dunia Wali semacam ini bersumber pada fenomena karomah, fenomena hikmah-hikmah terdalam yang tidak bisa dipahami oleh mereka, karena hanya merujuk pada teks Qur'an dan Hadits tanpa mengenal hakikat kedalaman dibalik ayat-ayat Al-Qur'an dan Sunnah itu.


Apakah anda tega menyalahkan Syeikh Abdul Qadir al-Jilany, Abul Hasan Asy-Syadzily, Hujjatul Islam al-Ghazaly, Ibnu Araby. Al-Bisthamy, Asy-Syibly, Junaid al-Bahgdady, para Imam Mazhab, yang sangat terkenal sebagai para Auliya' Allah, dan sama sekali mereka jauh dari perspesi anda tentang kewalian itu?

Padahal mereka adalah para penjaga Al-Qur'an dan as-Sunnah, para pelestari tradisi Syariat, Thariqat dan hakikat Risalah Nabi besar Muhammad SAW.

Jadi jika ada Istilah Abdal sebagaimana juga pernah disebut oleh Nabi Muhammad SAW, tentu saja, tidak gampang memahami tugas-tugas para Wali itu. Sedangkan siapa pun dalam menjelajah dunia ruhani, metafisika, dunia hakikat senantiasa justru akan dlolalah (tersesat) sepanjang perjalanannya tidak dibimbing oleh Wali yang Mursyid, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an: "Siapa yang sesat (jalan menuju kepada Allah) maka ia tidak akan pernah menemukan Wali yang Mursyid".

Kriteria Wali Mursyid tentu tidak sesederhana yang mereka pahami. Kata Iman dan Taqwa saja, sangat berlapis-lapis kedalamannya, dan beragam pula wilayah implementasinya dalam dunia jiwa para hamba Allah. Apakah sebegitu mudah orang mengaku menjadi Wali Allah, hanya karena merasa beriman dan merasa bertaqwa dan bahkan mengklaim merasa dirinya beramal shaleh?

Sedangkan tahap agar hamba Allah bisa bebas dari rasa takut dan gelisah saja sulitnya bukan main. Gelisah terhadap cobaan dunia dan cobaan akhirat, takut terhadap fitnah dunia dan siksa akhirat, pun manusia akan sulit membebaskan psikhologinya. Padahal para Wali itu tidak pernah takut dan tidak pernah susah, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an.
Inilah yang dipresentasikan dunia Tasawuf sebagai tradisi ilmu-ilmu Islam bidang hakikat, yang juga bisa difahami manaka melalui pendekatan hakikat pula, dengan logika bathiniyah yang suci. Sebab wilayah hakikat bukanlah wilayah rasional empiris, juga bukan wilayah inderawi. Itu pun harus dalam bimbingan mereka yang telah meraih keparipurnaan hakikat sebagai Insan Kamil.

Karena itu Ibnu Araby, membagi komunitas para auliya’ menurut komunitas kebajikan yang disebut dalam berbagai ayat Al-Qur'an, semisal, komunitas Sholihun, Muhsinun, Shobirun, Syakirun, Dzakirun, Mujahidun, Muttaqun, 'Aminun, Mukhlishin, Mukhlashin, 'Abidun, dan ratusan komunitas Sholeh disana yang tentu saja, merupakan kualifikasi moral yang begitu dalam. Jika Allah menyebutkan suatu kelompok moral, dengan menggunakan istilah tertentu, pasti memilki rahasia tertentu pula. Kata Robb, beda dengan kata Ilah, beda lagi dengan penyebutan yang menggunakan Sifat dan Asma' sepetri Al-Khaliq, Al-Bari', al-Mushowwir, misalnya.

Munculnya istilah Ghauts, Quthub, Abdal, Nuqaba', Nujaba', tentu memiliki dasar-dasar yang tersirat dalam Al-Qur'an dan Sunnah, dan tugas-tugas amanah kewaliyan mereka tentu Allah sendiri Yang Maha Tahu, yang dengan KemahakuasaanNya, dan Irodah MutlakNya, memberikan wewenang dan tugas khusus. Dan semua tugas itu juga dalam rangka meneruskan amanah Rasul SAW..

klo ente punya pandangan lain yg lebih benar, ane sangat senang menerimannya..:)
 
@atas

1. yg saya tau, kalimat tersebut di lontarkan oleh Syeikh ibnu Taimiyah, lantaran beliau tidak bs memahami kata2 yg dikeluarkan oleh ibnu Arabi..
2. Orang2 yg anti terhadap tasawuf..
bahkan ada sebagian kata dalam kitab tasawuf yg dipenggal- penggal oleh oihak yg anti tasawuf..
3.Para Sufi yang diangkat derajatnya oleh Allah meraih maqom Kewalian atas KehendakNya, diberi anugerah, fadlal dan rahmatNya, menurut kehendakNya. Kesalahpamahan mereka yang kontra terhadap dunia Wali semacam ini bersumber pada fenomena karomah, fenomena hikmah-hikmah terdalam yang tidak bisa dipahami oleh mereka, karena hanya merujuk pada teks Qur'an dan Hadits tanpa mengenal hakikat kedalaman dibalik ayat-ayat Al-Qur'an dan Sunnah itu.


Apakah anda tega menyalahkan Syeikh Abdul Qadir al-Jilany, Abul Hasan Asy-Syadzily, Hujjatul Islam al-Ghazaly, Ibnu Araby. Al-Bisthamy, Asy-Syibly, Junaid al-Bahgdady, para Imam Mazhab, yang sangat terkenal sebagai para Auliya' Allah, dan sama sekali mereka jauh dari perspesi anda tentang kewalian itu?

Padahal mereka adalah para penjaga Al-Qur'an dan as-Sunnah, para pelestari tradisi Syariat, Thariqat dan hakikat Risalah Nabi besar Muhammad SAW.

Jadi jika ada Istilah Abdal sebagaimana juga pernah disebut oleh Nabi Muhammad SAW, tentu saja, tidak gampang memahami tugas-tugas para Wali itu. Sedangkan siapa pun dalam menjelajah dunia ruhani, metafisika, dunia hakikat senantiasa justru akan dlolalah (tersesat) sepanjang perjalanannya tidak dibimbing oleh Wali yang Mursyid, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an: "Siapa yang sesat (jalan menuju kepada Allah) maka ia tidak akan pernah menemukan Wali yang Mursyid".

Kriteria Wali Mursyid tentu tidak sesederhana yang mereka pahami. Kata Iman dan Taqwa saja, sangat berlapis-lapis kedalamannya, dan beragam pula wilayah implementasinya dalam dunia jiwa para hamba Allah. Apakah sebegitu mudah orang mengaku menjadi Wali Allah, hanya karena merasa beriman dan merasa bertaqwa dan bahkan mengklaim merasa dirinya beramal shaleh?

Sedangkan tahap agar hamba Allah bisa bebas dari rasa takut dan gelisah saja sulitnya bukan main. Gelisah terhadap cobaan dunia dan cobaan akhirat, takut terhadap fitnah dunia dan siksa akhirat, pun manusia akan sulit membebaskan psikhologinya. Padahal para Wali itu tidak pernah takut dan tidak pernah susah, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an.
Inilah yang dipresentasikan dunia Tasawuf sebagai tradisi ilmu-ilmu Islam bidang hakikat, yang juga bisa difahami manaka melalui pendekatan hakikat pula, dengan logika bathiniyah yang suci. Sebab wilayah hakikat bukanlah wilayah rasional empiris, juga bukan wilayah inderawi. Itu pun harus dalam bimbingan mereka yang telah meraih keparipurnaan hakikat sebagai Insan Kamil.

Karena itu Ibnu Araby, membagi komunitas para auliya’ menurut komunitas kebajikan yang disebut dalam berbagai ayat Al-Qur'an, semisal, komunitas Sholihun, Muhsinun, Shobirun, Syakirun, Dzakirun, Mujahidun, Muttaqun, 'Aminun, Mukhlishin, Mukhlashin, 'Abidun, dan ratusan komunitas Sholeh disana yang tentu saja, merupakan kualifikasi moral yang begitu dalam. Jika Allah menyebutkan suatu kelompok moral, dengan menggunakan istilah tertentu, pasti memilki rahasia tertentu pula. Kata Robb, beda dengan kata Ilah, beda lagi dengan penyebutan yang menggunakan Sifat dan Asma' sepetri Al-Khaliq, Al-Bari', al-Mushowwir, misalnya.

Munculnya istilah Ghauts, Quthub, Abdal, Nuqaba', Nujaba', tentu memiliki dasar-dasar yang tersirat dalam Al-Qur'an dan Sunnah, dan tugas-tugas amanah kewaliyan mereka tentu Allah sendiri Yang Maha Tahu, yang dengan KemahakuasaanNya, dan Irodah MutlakNya, memberikan wewenang dan tugas khusus. Dan semua tugas itu juga dalam rangka meneruskan amanah Rasul SAW..

klo ente punya pandangan lain yg lebih benar, ane sangat senang menerimannya..:)

Gw pikir itu dari PEMAHAMAN ELo sendiri,,, gak tahu COPAS dari situs SUFI

Jika PEMAHAMAN anda HANYA berdasarkan COPAS,,, gimana yach :P

Apa Maksud dari ayat di bawah ini,,, bisa menjelaskan bro >:D<
Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi Al-Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari tawilnya, padahal tidak ada yang mengetahui tawilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.
(QS. 3:7)​
 
Gw pikir itu dari PEMAHAMAN ELo sendiri,,, gak tahu COPAS dari situs SUFI

Jika PEMAHAMAN anda HANYA berdasarkan COPAS,,, gimana yach

Apa Maksud dari ayat di bawah ini,,, bisa menjelaskan bro
Quote:

Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi Al-Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari tawilnya, padahal tidak ada yang mengetahui tawilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.
(QS. 3:7)

ilmu ane blm sampe kesitu boz..
ane blm blajar mpe nahwu sorof sgala...:):)
klo no.1 and 2..
ntu pernah ane baca, and ane nemu sendiri di kitab tasawuf..
klo no.3 ntu COPAS boz..

nah, boleh ni ane dijarin apa arti ayat diatas...???? :D:D
 
ilmu ane blm sampe kesitu boz..
ane blm blajar mpe nahwu sorof sgala...:):)
klo no.1 and 2..
ntu pernah ane baca, and ane nemu sendiri di kitab tasawuf..
klo no.3 ntu COPAS boz..

nah, boleh ni ane dijarin apa arti ayat diatas...???? :D:D

Kalo No 1 dan 2 itu lo boleh kopas juga kan :D ngaku aja gak papa

nih buktinya http://sufinews.com/index.php?subac...092305&archive=&start_from=&ucat=25&do=pledoi

Kalo ARTI mah gak usah diajarin,,, itukan udah pake b. indonesia bukan arab lagi

Yang gw tanyain mAKSUD dari ayat diatas itu apa /?
 
@atas

Emang tob markotob dah Mr. ocoy ini..:D:D:D:D

Ane ga tau maksud nye apa, bisa diajarin..???? :D:D:D:D
 
Loh saya yang tidak paham makanya saya bertanya >:D<

Jika anda tasawufer sejati pasti memahaminya :P

Lain kali jangan COPAS dong untuk MENJAWAB :P

Semga menemukan HIDAYAH sejati :">
 
:D:D:D

siip dah, klo ente nanya, ane jawab semampu ane aja yeee bozz..:):):)
 
hmmm bahan tentang sufistik adalah sesuatu yg berat

paham sufi sendiri adalah sebenarnya bukan murni dari islam sendiri paham ini adalah akulturasi dari pola pemikiran philosofis budaya2 lampau dunia (termasuk budaya yunani / romawi / persia / mesir) jadi sufi sendiri adalah sudut pandang terhadap islam dari sudut philosofis bukan dari sudut pandang akidah islam.

sufi sendiri bukan merupakan jalan yg di ajarkan dalam islam (sufi adalah pengembangan pola pikir para ulama2 dan cendikiawan muslim sesudah jaman rasullulah)

sufi dan islam adalah 2 jalan yg berlainan tapi akan menuju sati titik akhir yg sama (dengan catatan sufi tersebut bisa keluar dari sukr nya)

-islam adalah jalan yg terang dan lurus yg sudah di gariskan nabi Muhammad SAW dengan bimbingan wahyu dari Allah SWT

(jalan ini adalah jalan termudah dan simple bagi semua manusia untuk menuju ke hakikat tuhan. jalan ini menerangkan hubungan antara manusia dengan manusia dan keterkaitannya dengan hubungan antar manusia dan tuhan) >:D<



-sufi adalah jalan yg gelap dan berkelok2 dan terlalu rumit untuk menuju ke hakikat tuhan

(jalan ini di peruntukan untuk orang2 pilihan / orang2 yg sudah digariskan memiliki kelebihan terutama dalam hal intelgensia dan emotion tapi dalam sejarah banyak para ahli sufi tidak bisa keluar dari sukr nya (mabuk ilahiah >> dalam tingkatan sufi sering disamakan dengan tingkat penyatuan dengan tuhan pada tingkat ini sering kali banyak ahli sufi yg sering melontarkan pernyataan2 yg bagi orang awam bisa diartikan sesat > contohnya: aku adalah tuhan atau dalam jubah aku ada tuhan < kalimat ini adalah kalimat tidak sadar (sukr) sehingga hukum islam tidak bisa dikenakan untuk orang2 yg tidak sadar ini soalnya orang tidak sadar tidak bisa dikenakan hukum2 dalam islam / lepas kewajiban dalam islam >>> tetapi saat ahli sufi tersebut mulai memahami bahwa ada kesalahan dalam konsep penyatuan ini (kesalahnya adalah bila kita bersatu dengan tuhan berarti kita adalah tuhan dong :-/ klo kita tuhan siapa dong mahluknya :-/ apakah pantas kita yg hina ini membandingkan diri kita dengan zat yg maha sempurna :-/ klo ahli sufi tersebut merenungi hakikat ini maka dia akan masuk ke tahapan pemisahan (tahapan pemisahan antara esensi dirinya sebagai mahluk dan esensi tuhan sebagi sang pencipta) >:D< dan dia akan menemukan bahwa jalan sufi itu sama dengan jalan islam yg di bawa rasullulah :x)


banyak para ahli sufi beranggapan mereka sudah melewati tingkatan nabi2 terutama tingkatan nabi Muhammad SAW (tingkatan ibadah dan kecintaan terhadap tuhan menurut mereka) tapi sebenarnya para ahli sufi tidak akan bisa melebihi tingkatan para rasul2 allah hal ini dikarenakan beberapa faktor yaitu :

1. para nabi dan rasul adalah orang2 pilihan yg dah di gariskan untuk membawa perubahan bagi masyarakat dan budaya tempat nya berada sedangkan para kaum sufi cuman melakukan perubahan pada dirinya sendiri :D

2. para nabi dan rasul mendapatkan wahyu langsung dari allah melalui perantara malaikat jibril untuk di sampaikan pada umatnya dan memiliki mukzizat (sedangkan para ahli sufi cuman berpatokan pada kalam yg dia terima baik dari mimpi atau dari ilham << ini berbeda dengan wahyu dan mukzizat yg nilai kebenaranya adalah mutlak sebagai penanda bawah nabi dan rasul tersebuat adalah seorang manusia yg akan menunjukan kebenaran) karomah para sufi berbeda dengan mukzizat para rasul (karena karomah hanya sebagai alat bantu bagi sufi tersebut sedangkan mukzizat adalah tanda kebenaran dari tuhan yg tak terbantahkan bagi umatnya) :D

3. walaupun tingkatan ibadah para sufi lebih dalam dan lebih giat dari para nabi2 dan rasul2 tapi hakikat ibadah ini masih jauh dari para nabi2 dan rasul2 hal ini di karenakan nabi2 dan rasul2 adalah orang2 yg mengariskan hakikat dari ibadah ini dan orang pertama yg mempertahankan nya (termasuk mempertahankan sariah dan akidah) jadi tingkatan para sufi yg paling tinggi masih di bawah tingkatan sahabat nabi yg paling akhir (soalnya para sahabat ikut berjuang dalam menegakan sariah dan akidah islam jaman awal2 islam)



tambahan dikit: tidak ada hal yg aneh dan ajaib dalam sufistik >> sufistik sama aja halnya dengan ajaran2 yg lainnya (mungkin sufistik bisa dimasukan dalam philsafat islam kali ya :D ) keanehan dan keajaiban dalam sufistik terlalu di lebihkan dan walaupun hal itu ada tapi itu bukan suatu bentuk kebenaran dalam islam (karena dalam hukum islam kebenran hanya di tentukan dengan > alquran , alhadits , ijma , qiyas (yg bold yg paling utama) dan sering kali banyak orang yg mencoba untuk belajar sufi malah menjadi sesat di karenakan bukan orang2 yg mampu (sarat menjadi seorang sufi berat dan hanya sedikit yg mampu klo gak mampu di paksain isa sesat lo :( )

mungkin itu sekilas tentang sufistik menurut gue :D lagi ngantuk pass nulis ini sory klo ada salah2
 
Yup kalo menurut ane sama dengan bro gun :D

Seorang SUFI tidak akan MELAMPAUI RASUL ALLAH yang MEMANG TELAH DI PILIH ALLAH >:D<
 
Memang sudah dari dlu bro kaum SUFI ditentang..
tetapi semakin di tentang, malah namanya semakin harum,,:D:D:D

nih ada ayat tentang para wali..
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah tidak ada kekhawatiran terhadap diri mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Q.s. Yunus: 62)

nih ada hadistnya juga..
Diriwayatkan oleh Aisyah r.a Rasulullah saw bersabda:
"Allah berfirman, 'Barang siapa yg menyakiti seorang wali, berarti telah memaklumkan perang terhadap-KU.. (Hr. Ahmad, Hakim dan Tirmidzi)

Semua tergantung keyakinan kita masing...:):):)
 
Memang sudah dari dlu bro kaum SUFI ditentang..
tetapi semakin di tentang, malah namanya semakin harum,,:D:D:D

nih ada ayat tentang para wali..
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah tidak ada kekhawatiran terhadap diri mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Q.s. Yunus: 62)

nih ada hadistnya juga..
Diriwayatkan oleh Aisyah r.a Rasulullah saw bersabda:
"Allah berfirman, 'Barang siapa yg menyakiti seorang wali, berarti telah memaklumkan perang terhadap-KU.. (Hr. Ahmad, Hakim dan Tirmidzi)

Semua tergantung keyakinan kita masing...:):):)

harus dibedakan lo antara wali Allah dan sufi (gak semua sufi adalah wali allah) :)

no offense lo :D
 
Memang sudah dari dlu bro kaum SUFI ditentang..
tetapi semakin di tentang, malah namanya semakin harum,,:D:D:D

nih ada ayat tentang para wali..
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah tidak ada kekhawatiran terhadap diri mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Q.s. Yunus: 62)

Nih ayat LENGKAPNYA.....

"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang- orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa." (QS. Yunus : 62-63).

Semua Orang Beriman dan BERTAQWA adalah WALI ALLAH :D apakah SUFI disebut di ayat tersebut >:D<

Wali ALLAH beasal dari kata Waliyullah, yang berarti kekasih Allah, apakah unutk menjadi KEKASIH ALLAH harus MEMPUNYAI ILMU LADUNI :D tidak menurut ayat Yunus 62-63 kekasih ALLAH adalah orang yang selalu BERIMAN dan BERTAQWA,,, serta menjalankan PERKARA FARDHU dan SUNNAH >:D<

Imam Asy Syafi'I r.a. berkata : "Jika kalian melihat seseorang yang mampu berjalan di atas air dan terbang di angkasa, maka janganlah kalian tertipu olehnya, sehingga kalian serahkan urusannya kepada Al Qur'an (dan As Sunah)."(lihat Syarah Al Aqidah Ath Thahawiyah hal 573)

Maksudnya jika tingkah laku sehari- hari orang tersebut sesuai dengan dengan Al Qur'an dan As Sunah, maka ia adalah seorang wali Allah, tetapi jika tidak sesuai, maka ia adalah seorang wali setan.

nih ada hadistnya juga..
Diriwayatkan oleh Aisyah r.a Rasulullah saw bersabda:
"Allah berfirman, 'Barang siapa yg menyakiti seorang wali, berarti telah memaklumkan perang terhadap-KU.. (Hr. Ahmad, Hakim dan Tirmidzi)

Semua tergantung keyakinan kita masing...:):):)

Maksudnya,,, ORANG YANG BERIMAN DAN BERTAQWA di SAKITI orang, maka Allah MEMBENCI nya >:D<

Mari kita bersama 2x menjadi KEKASIH ALLAH
 
SetujuUuUuU Mr. ocoy..
thx dah menambahkan. Klo ada para suhu yg mw menambahkan artikel ini, silahkan..:):):)
ok ane lanjutin lg artikelnye ye....:D

Salah Faham Dalam Mengartikan Wacana-wacana Sufi(1)
Diantara tudingan yang dilontarkan oleh mereka yang anti tasawuf adalah kata-kata atau wacana yang muncul dari Ulama sufi yang dianggap menyimpang dari Qur’an dan Sunnah. Kedalaman-kedalaman Hikmah yang muncul dari ucapan para Sufi ternyata diartikan secara general dan tekstual begitu saja sehingga menimbulkan salah paham, baik bagi para Sufi pemula maupun mereka yang sejak awal mencari-cari kesalahan dan kelemahan Tasawuf.

Syeikh Abdul Qadir Isa al-Halaby, menulis secara khusus untuk menjawab mereka yang kontra dengan masalah ini dalam kitabnya Haqaiq ‘Anit-Tashawwuf. Katanya:
Apa yang kita lihat dalam kitab-kitab Tasawuf ada beberapa hal yang tampak bertentangan dengan lahiriyahnya nash Syari’at. Hal itu bisa disebabkan oleh latar belakang berikut:
Pertama, wacana itu dipalsukan oleh mereka yang kontra, kemudian disandarkan pada Sufi tertentu. Para pemalsu ini muncul dari kaum Zindiq dan mereka yang dengki dengan dunia Sufi, serta musuh-musuh Islam.

Kedua, memang wacana itu benar adanya, tetapi untuk memahaminya membutuhkan takwil. Karena para Sufi berbicara dengan bahasa isyarat, metafora atau peribahasa, sebagaimana kita jumpai pada kata-kata dalam bahasa Arab yang penuh dengan metafor, seperti misalnya dalam Al-Qur’an ada ayat:
Dan firman Allah Ta’ala:
“Dan bertanyalah pada desa”
(maksudnya penduduk desa)

“dan apakah orang yang sudah mati kemudian Kami hidupkan?”
(Al An-am 122) (maksudnya adalah matinya hati, lalu Allah mengghidupkannya)

“Agar kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya”
(maksudnya dari kegelapan kekafiran menuju cahaya iman)
Dan banyak ayat Al-Qur’an yang membutuhkan takwil, tidak dipahami begitu saja menurut tekstualnya, karena kebiasaan sastra Arab yang menggunakan kekuatan bahasa metaphor. Jika kita fahami indikator dan makna dibalik ayat tersebut baru kita menerima takwil yang sesungguhnya, sehingga unsur kontradiktif bisa sirna.
Seperti dalam suatu ayat:

“Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak bisa memberi hidayah kepada orang yang kamu cintai.” (Al-Qoshosh: 56)

Dan di ayat lain disebutkan:

“Dan sesungguhnya kamu menunjukkan kepada jalan yang lurus” (Asy-Syuro: 52)

Bagi orang yang tidak memahami tafsir seakan-akan dua Nash itu bertentangan, karena ayat pertama menafikan Rasul SAW dari pemberi hidayah, dan ayat kedua Rasul SAW berhak memberi petunjuk. Tetapi kalau kita bertanya kepada ahli dzikr pasti terjawab, bahwa pada ayat pertama bermakna sebagai pencipta hidayah, dan ayat kedua bermakna sebagai pemberi ajaran tentang hidayah. Sehingga kedua Nash tersebut tidak bertentangan.

Banyak pula kita jumpai dalam Hadits-hadits Nabi saw, yang tidak bisa difahami menurut tekstualnya, tetapi harus ditakwili dengan pemahaman yang selaras dengan syariat dan relevan dengan Al-Qur’an. Dalam konteks inilah Asy-Sya’roni menegaskan: “Para ahli kebenaran sepakat untuk mentakwili hadits-hadits Sifat, seperti hadits: “Tuhan (Tabaroka wa-Ta’ala) kita turun setiap malam ke langit dunia sampai tersisa sepertiga malam terakhir, lalu befrirman: “Siapa yang berdoa kepadaKu niscaya Aku kabulkan…Siapa yang meminta kepadaKu niscaya Aku beri….Siapa yang memohon apmunan kepadaKu niscaya Aku ampuni” (Hr. Bukhari dan Muslim)

Sementara mereka yang tersesat memaknai sesuai dengan teksnya, dan berkata di atas podium, lalu ia dari podium itu, sembari berkata kepada publik: “Tuhanmu turun dari KursiNya ke langit seperti saya turun dari podiumku ini.” Jelas, pandangan ini sangat bodoh dan menyesatkan. (lihat Attashawwuful Islamy was-Sya’rany, Thoha Abdul Baqi Surur, hal 105)
Misalnya pula dalam hadits Nabi, “Sesungguhnya Allah menjadikan Adam menurut rupaNya.” (Hr. Muslim)

Menurut Ibnu Hajar Al-Haitsamy ra, harus ditakwili: “Benar bahwa dlomir (kata ganti) itu kembali kepada Allah Ta’ala sebagaimana lahiriahnya ayat. Dan hal itu harus ditegaskan dimaksud dengan “rupa” adalah “Sifat”. Yakni sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan Adam menurut Sifat-sifatNya, antara lain sifat Ilmu, Qudrat dan lain sebagainya. Hal ini dikuatkan hadits Aisyah ra, “Akhlak Rasulullah saw, adalah Al-Qur’an.” (hr. Musmim) Dan hadits, “Berakhlaklah dengan Akhlaq-akhlak Allah Ta’la”.

Indikasi hadits tersebut sepenuhnya adalah mensucikan akhlaq dan sifat-sifatnya dari segala kekuarangan agar bisa menjadi asas bagi semainya Akhlaq Tuhannya, yakni Sifat-sifatNya. Sebab kalau tidak ditakwili dengan Sifat itu maka akan terjadi kontradiktif antara Yang Maha Qodim dengan yang hadits (baru).

Dengan statemen ini ditegaskan bahwa hadits tersebut memberikan pujian pada Adam as, dimana Allah memberikan sifat-sifat pada Adam seperti Sifat-sifat Allah Ta’ala. Karena itu sebagaimana pandangan para Ulama, haruslah ditakwili pada hadits yang kata gantinya tersebut langsung pada Allah Ta’ala. Berbeda dengan mereka yang sesat memahami hadits tersebut, semoga Allah melindungi kita dari semua itu.

Al-‘Allamah al-Munawi dalam syarahnya terhadap Al-Jami’ush-Shoghir mengatakan, mengenai hadits Nabi saw, “Sesungguhnya Allah berfirman di hari kiamat, “Wahai manusia Aku sakit tapi kamu tidak menjengukKu. Manusia berkata, “Bagaimana aku menjengukMu, sedangkan Engkau adalah Tuhan alam semesta?” Allah menjawab, “Ketahuilah jika hambaKu si fulan sakit lalu kenapa tidak menjenguknya? Ketahuilah, sesungguhnya jika kamu menjenguk si fulan, niscaya kamu menemuiKu di sisi fulan itu….(sampai akhir hadits, Hr Muslim).
 
^
orang ini sadar gak sih kalo bung ocoy dan bung gungbaster itu menentang sufi??
Atau gw yang salah baca??

Akidah mereka tentang Allah
Seorang Sufi meyakini Allah dengan akidahnya yang beraneka ragam. Diantaranya adalah Hulul (reingkarnasi) seperti mazhabnya Al-Hallaj dan juga Wihdatul Wujud yang mengajarkan ketidakterpisahan antara Khaliq dengan makhluk.

Dari sini aja sudah kelihatan sesatnya....

Lagian aqidah yang benar itu cuma satu, aqidah ahlussunaah waljamaah, orang yang mengikuti ajaran Rasulullah yang sesuai dengan pemahaman para shalafussholih, bukan menurut pemahaman sendiri-sendiri.

Aqidah kok beraneka ragam...... /swt
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.