Follow along with the video below to see how to install our site as a web app on your home screen.
Catatan: This feature may not be available in some browsers.
Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis. Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.
PESAN SANG BUDDHA
Bhikkhu Dhammavuddho Maha Thera
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa(3X)
PENDAHULUAN
Para Buddha muncul di dunia sekali dalam kurun waktu yang sangat lama, pada saat dunia terjerumus ke dalam gelapnya ketidaktahuan akan realitas atau eksistensi Kebenaran.Pencerahan-diri oleh usaha mereka sendiri yang tekun, mereka membawa cahaya pengetahuan ke dunia. Seorang Buddha adalah “Yang Sadar” atau “Yang Tercerahkan” terhadap Kebenaran yang berhubungan dengan alam semesta. Meskipun terlahir sebagai seorang manusia, setelah pencerahan-Nya, seorang Buddha tidak bisa dianggap sebagai seorang manusia, makhluk alam surga, atau jenis makhluk apapun. Ini dikarenakan Beliau telah sepenuhnya melepaskan ego atau diri/pribadi(1) yang dilekati oleh semua makhluk.
Keberadaan-Nya melampaui semua makhluk di alam semesta ini. Semua Buddha membabarkan pesan yang sama : “Hindari kejahatan, lakukan kebajikan,sucikan pikiran”(2) Ini juga dikenal sebagai Tiga bagian pelatihan untuk mendapatkan berkah/pahala kebajikan. Ajaran-Nya sering dikenal sebagai Dhamma, sementara Sangha merujuk pada bhikkhu/bhikkhuni(3), idealnya mereka yang Mulia (Ariya).
1. HINDARI KEJAHATAN
Ini berarti tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Kriteria baik dan buruk dalam Buddha-Dhamma adalah apa yang bermanfaat dan merugikan, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Menghindari kejahatan berarti melatih kemoralan (sila) yakni menjalankan sila.
LIMA SILA (PANCASILA)
Terdapat lima dasar kemoralan dimana setiap orang didorong untuk menjalankannya demi kesejahteraan mereka sendiri karena pelanggaran terhadapnya dapat membawa pada akibat yang sangat menyedihkan. Lima sila terdiri dari :
(i) Menghindari pembunuhan.
Seseorang tidak seharusnya secara sengaja menghilangkan nyawa makhluk hidup manapun. Kehidupan adalah hal yang paling berharga bagi setiap makhluk hidup. Ketakutan terbesar dirasakan oleh setiap makhluk hidup ketika hidupnya dalam bahaya/terancam. Sebagai contoh, berburu binatang untuk olahraga adalah sangat tercela. Bentuk ketidak-pedulian terhadap kesejahteraan makhluk lain ini-lah yang membawa kepada kerugian terbesar kita.
Tidak termasuk pelanggaran jika tidak ada kehendak/niat untuk membunuh.
Memang benar bila terkadang sangatlah sulit untuk melatih sila ini, misalnya sehubungan dengan tikus, kecoa dan semut di rumah. Bagaimanapun, kebijaksanaan harus dilatih untuk sampai pada solusi terbaik, seperti mencegah peluang masuk mereka terhadap makanan dan memastikan kalau sisa-sisa makanan telah dibersihkan.
Akan tetapi, Sang Buddha secara bijaksana mengijinkan konsumsi daging dengan tiga kondisi: seseorang tidak melihat, mendengar, atau mencurigai (bahwa binatang tersebut secara khusus dibunuh untuk seseorang). Jadi seseorang diijinkan, sebagai contohnya membeli daging mentah dari pasar, tetapi tidak diijinkan memesan seekor ayam yang masih hidup untuk disembelih.
Menyebabkan atau merekomendasikan euthanasia (pembunuhan karena belas kasih), menggugurkan kandungan, dan penggunaan jenis kontrasepsi setelah terjadinya pembuahan,secara umum juga tidak diperbolehkan.
(ii) Menghindari pengambilan sesuatu yang tidak diberikan.
Seseorang disebut melanggar sila ini jika barang yang dicuri adalah milik orang lain dan seseorang mengetahui hal ini dan mempunyai niat untuk mencuri. Seseorang bahkan tidak seharusnya mengambil sesuatu yang telah ditinggali oleh orang lain jika ada kemungkinan bahwa orang tersebut akan kembali mencarinya, kecuali untuk menyimpannya secara aman,dengan tujuan mengembalikan barang tersebut kepada pemiliknya.
(iii) Menghindari perbuatan asusila
Perbuatan asusila berarti melakukan hubungan seksual dengan pasangan atau tunangan seseorang, seseorang yang dibawah umur, dilarang oleh hukum atau norma susila (seperti anggota keluarga dekat, bhikkhu atau bhikkhuni)(4). Nafsu yang berlebihan adalah penyebab kelahiran kembali di alam binatang.
(iv) Menghindari perkataan bohong
Perasaan malu dan takut akan kesalahan adalah dua penjaga dunia, menurut Sang Buddha.(5) Sang Buddha berkata bahwa jika seseorang dapat berbohong secara sengaja, maka tidak ada sesuatu lainnya yang dapat membuatnya merasa malu untuk berbuat. Seseorang dinilai dari ucapannya.
Selain berbohong, ucapan tak bajik yang harus dihindari adalah berbagai jenis ucapan dengki(yang menyebabkan ketidak-harmonisan), ucapan kasar, dan gosip yang tak bermanfaat.
(v) Menghindari minuman keras
Seseorang seharusnya tidak meneguk minuman keras dan menggunakan obat bius karena ini melemahkan kemampuan indera yang berakibat kepada hilangnya ingatan, kurang waspada, tidak bersemangat dan lamban, dan secara umum menjadi lebih bodoh.
Hal ini juga membawa pada kegagalan dalam memenuhi tanggung jawab seseorang, habisnya kekayaan,pertengkaran dan bahkan perkelahian, serta ketidak-nyamanan umum dan gangguan pada orang lain.
DELAPAN SILA (ATTHASILA)
Sang Buddha juga mengajari umat awam untuk melaksanakan delapan sila. Sila yang ketiga diubah menjadi : “Menghindari tindakan seksual”. Ketiga sila yang lain adalah menghindari makan setelah tengah hari hingga subuh keesokan harinya, menonton pertunjukkan dan berdandan, serta pemakaian tempat tidur yang mewah (tinggi dan besar).
Delapan sila ini dilatih pada tanggal 8, 15, 23 dan hari terakhir bulan lunar, yakni kira-kira sekali dalam seminggu. Pelaksanaan delapan sila ini membawakan banyak berkah yang dapat menyebabkan kelahiran kembali di alam-alam surga.
MANFAAT MENJALANKAN SILA
Jasa kebajikan dari menjalankan sila tergantung kepada tingkat pemurnian dari latihan kita. Sang Buddha menjabarkan lima manfaat dari menjalankan sila(6):
(i) Kekayaan terjaga
Seseorang yang tidak menjalankan sila, besar kemungkinan akan menghabiskan kekayaannya dengan sering mengunjungi klub malam dan tempat pelacuran, berjudi, mabuk-mabukan, dll., yang tidak akan dilakukan oleh seseorang yang bermoral.
(ii) Reputasi baik
Seseorang yang bermoral yang tidak membunuh, mencuri, berasusila, berbohong dan mabuk maka secara nyata akan dihargai orang lain.
(iii) Berani berhadapan dengan orang ramai
Seseorang yang bermoral tidak mempunyai alasan untuk merasa malu atau bersalah dan tidak akan memiliki rasa takut ketika dipanggil untuk berhadapan atau bersapa dengan orang ramai.
(iv) Meninggal dengan pikiran jernih.
Menjelang saat kematian, seseorang yang bermoral tidak takut karena pikirannya yang murni memberinya kepercayaan diri yang besar dan kegembiraan. Akan tetapi, banyak orang meninggal dengan ketakutan yang besar dan teror karena telah menjalani kehidupan yang tidak bermoral, terutama mereka yang melanggar salah satu dari sila-sila dalam tingkatan yang cukup berat seperti seorang penjagal.
(v) Kelahiran kembali yang baik
Seseorang yang telah menjalankan sila telah menjalani kehidupan yang tidak membahayakan makhluk dan pasti memperoleh kelahiran kembali yang baik.
Sang Buddha berkata bahwa seseorang yang memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan terhadap Buddha, Dhamma, Sangha, yang bajik, terkendali dalam sila, dapat menyatakan dengan pasti bahwa dia telah memenangkan tahap Pemasuk Arus, yang pasti menuju pencerahan. Dia tidak akan pernah jatuh lagi ke alam kelahiran kembali yang menyedihkan yakni alam hantu, binatang dan neraka.(7)
MENJAGA PINTU INDERA
Salah satu jalan untuk membantu kita menjauhi kejahatan dan menjalankan sila kita adalah dengan menjaga pintu indera kita dan bersikap waspada /perhatian. Keenam organ indera kita yakni mata, telinga, hidung, lidah, tubuh jasmani (landasan sentuhan) dan batin, mengkondisi keenam objek indera yakni bentuk, bunyi, bau, cita-rasa, sentuhan dan pikiran. Kondisi dengan objek indera manapun, perasaaan secara otomatis muncul. Sampai pada titik ini kita tidak memiliki kontrol, tetapi diluar ini, bagaimana kita bertindak adalah sepenuhnya tergantung pada kita sendiri. Disinilah kamma (perbuatan yang disertai kehendak) muncul karena keinginan kita memainkan peranan.
Jadi kita harus mempunyai kewaspadaan /perhatian sehingga kita menghasilkan kamma baik daripada kamma buruk yang akan kita sesali kelak. Sebagai contoh seseorang yang berbicara kata-kata yang tidak menyenangkan kepada kita dan seketika juga perasaan yang tidak menyenangkan muncul. Jika kita waspada, kita sadar kalau perasaan marah dapat membawa pada sesuatu yang berbahaya. Jadi kita segera menghilangkan kemarahan kita, atau jika tidak dapat, pergi dari tempat itu. Penglihatan adalah pintu indera lain yang dengan mudah menuntun pada kamma buruk seperti penampilan seorang wanita cantik dapat menyalakan nafsu seorang pria yang sudah menikah. Jika dia waspada dia akan mengingat tanggung jawabnya dan menghindari diri dari melakukan sesuatu yang mungkin akan disesalinya kelak.
Demikian kita seharusnya senantiasa waspada terhadap perasaan kita dan tidak mudah terbawa pengaruh.
TIDAK LELUASA MENJALANKAN SILA?
Sebagian orang tidak suka melaksanakan sila ataupun mendengarkan Dhamma. Mereka berpikir dengan berbuat demikian mereka terikat untuk menjalankan sila dan bila mereka melanggarnya, konsekuensi yang diterima akan berat. Mereka berpikir jika mereka tidak berjanji untuk melaksanakan sila, kesalahan dapat diabaikan bila mereka melanggarnya. Dalam kasus mereka yang tidak mendengarkan Dhamma, mereka berpikir mereka dapat memberi alasan tidak tahu.
Berlakunya Hukum Kebenaran (Kesunyataan) dari Dhamma. Apa yang gagal dipahami mereka adalah bahwasanya Hukum Kamma merupakan Kebenaran Universal yang berlaku adil bagi semua makhluk, terlepas dari apakah mereka menerima sila atau tidak dan apakah mereka mengetahui hal ini atau tidak. Sang Buddha membabarkan Dhamma bukan hanya kepada umat Buddhis tetapi kepada semua makhluk. Dan Sang Buddha juga mengatakan apakah seorang Buddha muncul di dunia atau tidak, telah adanya kondisi yang berlaku utuh dari Dhamma, Hukum Kebenaran (Kesunyataan) dari Dhamma ini, Kebenaran abadi yang berlaku setiap saat. Dikarenakan makhluk hidup tidak menyadari hal ini, maka Sang Buddha mengajarkan dan menunjukkannya kepada kita. Baik mendengarkan Dhamma atau tidak,Hukum Kebenaran (Kesunyataan) ini berlaku bagi kita. Seseorang yang berbuat jahat dan yang merugikan akan menderita sebagai akibatnya, sama halnya dengan seseorang yang berbuat baik dan yang bermanfaat menerima akibat yang berbahagia.
NB:
1 Atta, sering diterjemahkan sebagai jiwa, pribadi, dan dianggap tidak berubah, abadi, dan tidak berkondisi.
2 Dhammapada, ayat 183.
3 Majjhima Nikaya 142.
4 Majjhima Nikaya 41.
5 Anguttara Nikaya 2.1.9
6 Anguttara Nikaya 5.213.
7 Samyutta Nikaya 55.2.
Ini berarti melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain atau berlatih kedermawanan.Umat Buddhis menyebutnya sebagai “Latihan Dana (Kedermawanan)”. Sudah merupakan kodratnya bagi seseorang untuk menjadi egois. Ini dapat dilihat dari seorang bayi yang harus dilatih dan diajari untuk berbagi dan memberi. Tapi sayangnya, kebanyakan orang menahan sifat egoisnya bahkan sampai mereka tumbuh dewasa. Kita harus berusaha untuk memberi secara rutin sampai sifat kedermawaan menjadi bagian dari sifat alami kita. Berbagai cara memberi. Secara umum, latihan dana berarti memberi barang-barang materi.Tetapi seseorang juga dapat memberikan tenaganya untuk pekerjaan yang membutuhkan tenaga fisik, atau kata-kata baik yang bersimpati, penghargaan dan nasehat. Beberapa orang juga memberikan seluruh hidupnya untuk mengabdi tanpa pamrih untuk tujuan yang bermanfaat. Memberikan pengetahuan dapat membawakan manfaat besar bagi orang lain.
Sebagai contoh, daripada memberikan makanan pada seseorang, yang membantunya hanya untuk satu hari saja, jika dia diajari suatu ketrampilan yang berguna untuk mendapatkan penghidupan, dia dibantu seumur hidupnya. Dari semua pemberian, pemberian Dhamma(8)adalah yang tertinggi.
Dhamma mengajarkan kita tentang Hukum Kebenaran yang sangat penting untuk diketahui sehingga kita bisa hidup selaras dengannya dan mencegah penderitaan di kehidupan sekarang maupun kehidupan yang akan datang.
Cara menggunakan kekayaan dengan baik. Sang Buddha berkata bahwa seseorang seharusnya menggunakan kekayaannya secara tepat dengan empat cara sebagai berikut : (9)
· Membuat diri sendiri, keluarga, tanggungan dan teman-temannya bahagia.
· Melindungi dirinya sendiri dari segala kemalangan yang mungkin terjadi.
· Melakukan persembahan kepada sanak keluarga, para tamu, penguasa, makhluk alam surga, makhluk hantu, dan melimpahkan jasa kebajikan kepada mereka.
· Melakukan persembahan kepada para bhikkhu yang baik dan para pertapa yang menjalani kehidupan suci.
Hasil dari memberi. Seseorang yang bijak memberikan sesuatu yang bebas dari noda, merupakan pilihan, yang pantas, dengan perhatian, dengan tangannya sendiri, dan dia melakukannya berulang kali. Dia juga memberi dengan rasa hormat, pada waktu yang tepat,dengan ramah, tanpa melukai diri sendiri maupun orang lain.(10) Seseorang yang memberi tanpa rasa hormat, tidak sopan bahkan dengan hinaan, mendapatkan kekayaan tetapi cenderung tidak dihormati dan bahkan dihina. Pemberian yang diberikan pada saat yang tepat akan dilimpahkan kekayaan pada waktu yang tepat pula. Pemberian dengan tidak ramah(tidak senang) akan dilimpahkan kekayaan tetapi pikirannya tidak cenderung menikmatinya.
Pemberian yang diberikan tanpa menyebabkan luka akan menghasilkan kekayaan dan harta benda yang tidak dapat dihancurkan oleh api, banjir, penguasa atau pencuri dan sebagainya.
Sang Buddha berkata, jika seseorang memberikan sesuatu dengan memikirkan balasannya, akan menghasilkan sedikit kebajikan. Seseorang yang memberi tanpa memikirkan balasannya akan mendapatkan kebajikan yang berlimpah. Pahala bajik juga besar jika pemberian itu diberikan oleh seseorang yang kurang mampu dan jika penerimanya adalah orang yang bermoral baik.
Empat ladang kebajikan. Ada empat “ladang kebajikan”(11) yaitu Sang Buddha, Sangha , Ayah dan Ibu, pemberian yang memberikan pahala besar. Sang Buddha tidak lagi bersama kita. Para bhikkhu dan bhikkhuni mewakili Sangha. Empat kebutuhan pokok adalah makanan, pakaian, obat-obatan, dan tempat tinggal. Ini juga merupakan empat kebutuhan dari seorang bhikkhu. Pemberian makanan menghasilkan umur panjang, kekuatan, kecantikan, dan kebahagiaan. Sehingga pemberinya akan mendapatkan manfaat yang sama di masa mendatang. Dari keempat kebutuhan ini, pemberian tempat tinggal untuk para bhikkhu empat penjuru, yakni pembangunan Vihara, menghasilkan pahala luar biasa besar. Pahala ini bahkan lebih besar daripada memberi makanan kepada Sang Buddha sendiri dengan para bhikkhu karena ini membantu pelestarian perhimpunan bhikkhu(bhikkhu Sangha).(12) Lebih lanjut, Sang Buddha berkata, pemberi kebutuhan, yang digunakan seorang bhikkhu dan mampu mencapai dan berdiam dalam konsentrasi tidak terbatas, akan mendapatkan pahala yang melimpah ruah, yang tidak terhitung, tidak terukur, membawa pada kelahiran di alam surga, yang disenangi, menggiurkan dan menyenangkan.(13)Kepada orang tua kita-lah, kita berhutang paling banyak. Kegagalan untuk menjaga orang tua kita membawa pada kerugian yang sangat besar.
Pelimpahan jasa kebajikan. Ketika kita berbuat kebajikan, hendaknya kita juga mengingat untuk melimpahkan jasa kebajikan kita kepada makhluk yang tidak terlihat. Hantu kebanyakan tinggal dekat manusia dan biasanya kembali ke rumah sanak keluarga dan teman,berharap mendapatkan pelimpahan jasa yang sangat mereka butuhkan.
Sang Buddha juga mengajarkan bahwa kita seharusnya melimpahkan jasa kebajikan kita kepada makhluk makhluk halus penghuni rumah (para dewa) sehingga mereka dapat melindungi rumah kita dari makhluk luar yang jahat.
MENGAPA BERBUAT BAIK?
Analogi Garam dan air. Seseorang mungkin akan bertanya “Mengapa saya harus berbuat baik? Apakah tidak cukup jika saya tidak berbuat jahat atau menyakiti yang lain?” Pada kehidupan lalu kita yang tidak terhitung jumlahnya, kita telah mengumpulkan banyak kamma buruk yang memiliki kecenderungan mendatangkan banyak masalah dalam kehidupan sekarang ini. Sang Buddha mengajarkan bahwa jalan untuk mengurangi akibat kamma buruk masa lampau adalah dengan melakukan banyak kamma baik dalam kehidupan sekarang.(14)
Sang Buddha mengibaratkan kamma buruk dengan segumpal garam dan kamma baik dengan air. Jika segumpal garam dituangkan ke secangkir air, maka air tersebut akan menjadi asin.Tetapi jika garam tersebut dituangkan ke air yang ada di sungai, keasinannya berkurang banyak. Sama halnya dengan melakukan kamma baik sekarang ini meringankan akibat kamma buruk masa lampau, kecuali kamma buruk yang sangat berat seperti membunuh orang tua kita.Analogi pencurian. Lebih lanjut, Sang Buddha berkata bahwa tindakan jahat yang ringan yang dilakukan oleh seseorang yang tidak memiliki timbunan kebajikan dalam perbuatan, pikiran dan kebijaksanaan akan mengakibatkan kelahiran di alam rendah.
Jika seseorang memiliki timbunan kebajikan dalam perbuatan, pikiran dan kebijaksanaan, melakukan tindakan yang sama, akibat buruk akan berbuah di dalam kehidupan sekarang dan tidak harus menunggu setelah meninggal. Sama halnya dengan kasus seorang miskin yang dipenjarakan karena mencuri 1, 10, atau 100 dollar, sedangkan seorang yang kaya dan berkuasa tidak dipenjarakan untuk kasus pencurian yang sama.
Manfaat memberi. Terdapat banyak manfaat dari memberi yaitu: seseorang disukai dan disenangi oleh orang banyak; disenangi oleh mereka yang luhur dan bijaksana; berita baik tentang orang tersebut menyebar luas; lebih percaya diri menghadiri pertemuan; memperoleh kelahiran kembali yang baik. (15) Di samping berbuat baik sendiri, kita mendorong, menyetujui atau memuji tindakan berbuat baik orang lain, maka lebih banyak jasa kebajikan yang didapatkan.
Melalui meditasi Sang Buddha mencapai penerangan dan melenyapkan semua gelapnya ketidaktahuan. Dengan pikiran yang bersinar, kuat, tenang, Beliau dapat melihat semua keberadaan alam-alam kehidupan di dunia. Menurut Sang Buddha, makhluk hidup dari setiap sistem dunia terbagi atas 3 alam kehidupan yaitu alam lingkup indera, alam berbentuk, dan alam tak berbentuk. Dunia manusia terletak di alam lingkup indera dimana nafsu keinginan dan ketamakan mendominasi semua makhluk. Alam berbentuk dan alam tak berbentuk hanya dapat dicapai oleh para makhluk yang mengembangkan meditasi penyerapan (jhana).Makhluk-makhluk di dua alam ini tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan karena mereka tidak lagi tertarik dengan pemuasaan seksual tetapi dipenuhi oleh kebahagiaan yang lebih tinggi dari jhana. Secara alami, hasil dari melakukan kebajikan dan menghindari kejahatan adalah kelahiran kembali di salah satu enam alam surga yang masih dalam kelompok alam lingkup indera.
Makhluk-makhluk alam surga. Kelahiran di alam-alam surga ini adalah transformasi langsung sebagai dewa(16) atau dewi.(17) Dewa atau dewi muncul sebagai pemuda usia 16 tahun yang sangat ganteng atau cantik dan bentuk ini akan bertahan hingga mereka meninggal dunia. Tidak ada proses penuaan sepanjang hidup mereka.
Tubuh mereka menjadi lebih halus seiring dengan kemajuan yang mereka peroleh. Di alam surga tingkat keenam, (18) tubuh mereka bersih dan halus luar biasa, tidak seperti tubuh kasar manusia. Mereka tinggal dalam istana-istana surga yang megah dan menikmati hidup mereka dalam kehanyutan kesenangan duniawi, karena kesenangan duniawi mendominasi semua makhluk di alam lingkup indera.
Sang Buddha berkata memiliki kekuasaan atas keenam belas negeri di India tidak dapat dibandingkan dengan 1/16 bagian pun kebahagiaan makhluk-makhluk surgawi.(19)
Kehidupan surgawi tidak kekal. Hidup di alam surga adalah lama waktunya. Yang paling rendah, alam empat raja dewa, satu hari alam surga sama dengan 50 tahun alam manusia dan usia kehidupan mereka adalah 500 tahun alam surga atau 900 juta tahun alam manusia. Usia kehidupan bertambah sejalan dengan semakin tingginya tingkat alam surga.
Di alam surga tingkat keenam, satu hari alam surga setara dengan 1600 tahun alam manusia dan usia kehidupan mereka adalah 16000 tahun alam surga atau 9216 juta tahun alam manusia. Usia kehidupan di alam berbentuk dan alam tak berbentuk dihitung dalam takaran siklus dunia,dimana tidak terhitung lagi dalam terminologi tahun manusia. Setiap kali seorang Buddha muncul di dunia, makhluk surgawi mengalami ketakutan yang besar ketika mendengarkan Dhamma, karena mereka menyadari mereka tidak memiliki kehidupan yang abadi tetapi pada akhirnya akan mati.
NB:
16 Dewa, makhluk surga, dengan tubuh yang bersinar cemerlang.
17 Dewi/Peri.
18 Alam surga tingkat keenam disebut Paranimmita-vasavatti, sedangkan tingkat kelima disebut Nimmana-rati.
Di alam surga tingkat keenam, makhluk-makhluknya memerintah makhluk lain untuk menciptakan sesuatu yang mereka inginkan. Dan di alam surga tingkat kelima, mereka dapat menciptakan apa yang mereka inginkan seperti teman, makanan.
19 Anguttara Nikaya 8.42.
4. BAHAYA, KEBODOHAN DAN KEBURUKAN DARI KESENANGAN DUNIAWI.
BAHAYA
Bahaya dari kesenangan duniawi adalah membawa pada nafsu keinginan yang lebih dan lebih lagi. Ketika api nafsu seseorang membara, keinginan bahkan meningkat lebih drastis daripada berkurang. Kesenangan duniawi juga tidak abadi tetapi akan berakhir suatu hari nanti ketika timbunan kebajikan seseorang telah habis.
KEBODOHAN
Kebodohan atau kesia-siaan dari kesenangan duniawi adalah nafsu yang tidak pernah terpuaskan. Makhluk hidup yang terbenam dalam kesenangan duniawi hanya memiliki satu sisi pandangan dari kehidupan yaitu hanya yang menyenangkan saja. Dengan tidak menyadari akan adanya alam kelahiran kembali yang menyedihkan yang menanti mereka,mereka tidak melihat kemendesakan untuk mengembangkan kebajikan, dengan melakukan perbuatan bajik dan menghindari kejahatan atau berusaha membebaskan diri dari lingkaran kelahiran kembali, sebaliknya mereka terus menghabiskan kebajikan yang telah mereka tanam.
Suatu hari nanti ketika kebajikan mereka telah habis, mereka akan jatuh dari alam surga menuju alam keberadaan yang lebih rendah.
KEBURUKAN
Perumpamaan penyakit leper. Keburukan dari kesenangan duniawi adalah merupakan sebuah
‘penyakit’. Sang Buddha memberikan perumpamaan yang jelas tentang makhluk hidup yang menderita penyakit leper.(20) Luka di tubuhnya sangat gatal sehingga dia harus menggaruk sampai tubuhnya berdarah, terinfeksi dan membusuk. Tetapi ini saja belum cukup. Dia harus mencari beberapa bara api yang digunakannya untuk membakar lukanya. Barulah kemudian dia menemukan kelegaan. Tetapi semakin dia menggaruk dan membakar lukanya, semakin berdarah, terinfeksi dan membusuk jadinya, masih saja dia terus melakukannya karena dia mendapatkan kepuasaan dalam ukuran tertentu. Garukan dan pembakaran seperti itu pada orang yang sehat hanya akan mengakibatkan kesakitan dan penderitaan yang besar.
Sedangkan penderita leper hanya mengenalinya sebagai kesenangan saja.Nafsu Keinginan mengakibatkan rasa sakit dan penderitaan. Makhluk hidup sama seperti leper, kata Sang Buddha. Mereka diserang dengan penyakit nafsu akan kesenangan duniawi, terbakar dengan bara kesenangan duniawi, dan mencari kepuasaan. Tetapi semakin banyak mereka terbenam dalam kesenangan duniawi, mereka akan semakin berpenyakit. Api nafsu mereka menjadi lebih besar bukannya mereda. Jadi mereka akan terus terbakar oleh api nafsu keinginan, tanpa mengenali sakit dan penderitaan yang mereka jalani.Dan karena menginginkan untuk memuaskan nafsu mereka, makhluk hidup cenderung menjadi budak dan bekerja keras mendapatinya. Kadang-kadang dalam proses tersebut mereka harus menjalani kesukaran besar, menghadapi dingin dan panas, angin dan hujan,nyamuk dan serangga, dan bahkan bahaya. Jika pekerjaannya tidak membuahkan hasil seperti panennya rusak oleh cuaca yang tak bagus, dia akan bersedih hati dan berduka. Jika rumah dan harta bendanya dirusak oleh api, banjir, atau bahkan kemalingan, dia akan bersedih hati dan berduka.
Dibakar oleh nafsu, sesama manusia bertengkar, berkelahi dan pembunuhan muncul; bahkan bangsa berperang mengakibatkan pembunuhan massal yang tidak berguna. Dan karena nafsu,makhluk hidup menjadi perampok,pemerkosa, dll, dan menerima hukuman sesuai hukum.
Karena kelakuan salah seperti itu, mereka menderita lagi setelah meninggal dengan memperoleh kelahiran kembali di alam yang menderita. Kesakitan dan penderitaan seperti itulah yang mereka jalani.(21)
Tidak ada jaminan, bahkan bagi makhluk-makhluk alam surga sekalipun. Untuk makhluk-makhluk yang berada di alam surga lingkup indera, walaupun kehidupan mereka nampaknya lebih lama dari kita, mereka berpikir itu pendek ketika akhir kehidupan datang karena mereka belum cukup menikmatinya. Mereka mengetahui ketika kematian sudah dekat dengan adanya tanda-tanda tertentu, seperti keringat yang keluar dari ketiak mereka, kecemerlangan mereka memudar, dll, mereka menjadi sangat khawatir dan gelisah. Kematian mereka biasanya disebabkan oleh habisnya jasa kebajikan atau matangnya kamma buruk yang berat. Tetapi kadang-kadang juga dapat dikarenakan lupa makan, terlalu terbenam dalam kesenangan sensual, atau marah yang luar biasa. Kebanyakan dari makhluk-makhluk ini meninggal dengan tidak puas, dengan ambisi yang tidak terpenuhi. Lalu mereka akan terlahir kembali di alam keberadaan yang lebih rendah.(22)
Penderitaan yang tidak dapat dikatakan, kehidupan demi kehidupan. Ketika seseorang terjatuh dari alam surga, pada umumnya memerlukan waktu yang sangat panjang sebelum dia bisa terlahir di alam surga lagi. Ini karena nafsu yang sangat besar dari makhluk hidup yang secara alami membuat mereka melakukan kejahatan. Sehingga mereka terus berputar di dalam lingkaran kehidupan, biasanya di alam lingkup indera, dan khususnya di alam sengsara. Penderitaan yang tak terkatakan dialami kehidupan demi kehidupan.
Sedikit manusia dan mahkluk surgawi setelah meninggal akan terlahir di alam manusia atau alam surga, kebanyakan akan terjatuh di alam sengsara. Sedikit makhluk di alam sengsara akan terlahir di alam manusia dan alam surga, kebanyakan akan terlahir kembali di alam sengsara.(23)
5. PELEPASAN KEDUNIAWIAN
Sang Buddha berkata kita telah melewati kehidupan yang tidak terkira banyaknya dilingkaran kehidupan, dan airmata yang sudah kita cucurkan dalam kesakitan dan penderitaan lebih banyak dari air yang ada di empat samudera. Suatu hari nanti kita akan menyadari satusatunya jalan untuk membebaskan diri dari lingkaran ketidakpuasan ini adalah dengan melepas semua nafsu kesenangan duniawi.
Perumpamaan empat kuda keturunan murni. Terdapat empat jenis kuda keturunan murni di dunia.(24)
-Tipe yang pertama akan merasakan kegelisahan dan siap untuk beraksi segera setelah bayangan tongkat penghalau kelihatan.
-Tipe yang kedua tidak bergerak pada penglihatan yang sedemikian tetapi menjadi gelisah dan siap untuk pergi hanya setelah kulitnya dicambuk.
-Tipe yang ketiga tidak siap untuk pergi bahkan setelah dicambuk dengan tongkat penghalau tetapi hanya setelah dagingnya ditusuk.
-Tipe yang keempat masih tidak akan pergi setelah dagingnya ditusuk tetapi hanya setelah ditusuk sampai ke tulang.
Demikian juga, kata Sang Buddha, terdapat empat jenis manusia luhur didunia ini.
Yang pertama, ketika dia mendengar penderitaan atau kematian seseorang, dia akan menjadi khawatir dan menyadari penderitaan dan kematian akan dialaminya juga. Jadi dia melepaskan semua keterikatan duniawi untuk memempuh jalan suci.
Tipe yang kedua siap untuk melepaskannya hanya ketika dia melihat dengan matanya sendiri penderitaan atau kematian seseorang. Ini mengejutkannya dan membuatnya melihat ketidakkekalan dari kehidupan.
Tipe yang ketiga masih belum melepaskan duniawi ketika dia mendengar atau melihat penderitaan atau kematian seseorang, tetapi hanya ketika kerabatnya sendiri menderita atau mati, rasa sakit dan kesedihan membuatnya melihat kenyataan.
Tipe yang keempat masih belum berkeinginan melepaskan duniawi sampai dia sendiri menjadi sakit dengan penyakit yang serius yang menyengsarakannya ke ujung kematian. Hanya ketika itulah dia disadari dan siap untuk melepaskan keduniawian.Yang menjadi catatan penting disini adalah bahwa apa yang membuat makhluk hingga akhirnya bangun dan berpaling dari keduniawian adalah kesakitan dan kesedihan.
Pelepasan keduniawian. Jadi orang demikian tersebut, patah hati dan sakit hati, memulai untuk melepaskan duniawi dan nafsu duniawi. Sang Buddha berkata tidak ada seorang pun yang dapat membebaskan dirinya dari lingkaran kehidupan sementara berada di tengahtengah kesenangan duniawi, menikmati kesenangan duniawi, tanpa melepaskan nafsu keinginan terhadap kesenangan duniawi.(25) Pertama, dia mungkin tidak siap untuk melepaskan keduniawian dalam kehidupan tanpa rumah. Dia boleh tinggal di rumah tetapi menjauhkan diri dari tindakan seksual dan urusan dunia. Dia mulai melatih kehidupan suci di rumah. Dan suatu hari nanti dia akan menyadari kebenaran dari kata-kata Sang Buddha bahwa : “adalah sulit menempuh kehidupan suci semurni dan sekilat kulit kerang di rumah.” (26)
Barulah kemudian dia melepaskan keduniawian dalam kehidupan tanpa rumah untuk melatih jalan itu.Dan suatu hari nanti setelah sekian banyak usaha yang tekun, dia akan menyadari untuk dirinya sendiri secara langsung Kebenaran Mulia yang dinyatakan oleh Sang Buddha.
NB:
20 Majjhima Nikaya 75.
21 Majjhima Nikaya 13.
22 Dibawah alam manusia terdapat empat alam sengsara – alam hantu, alam binatang, alam asura dan alam neraka – dimana makhluk mengalami banyak kesakitan dan penderitaan. Keempat alam ini bersamaan dengan alam manusia dan keenam alam surga menjadikan alam lingkup indera sebelas alam.
23 Anguttara Nikaya 1.19.2.
24 Anguttara Nikaya 4.113.
25 Majjhima Nikaya 75.
26 Majjhima Nikaya 36.