(iv) Perbuatan Benar
Perbuatan Benar adalah menghindari tiga jenis perbuatan jasmani yang salah. (42)
· Menghindari pembunuhan.
· Menghindari pengambilan sesuatu yang tidak diberikan.
· Menghindari perbuatan asusila.
(v) Penghidupan Benar
Penghidupan Benar adalah penghidupan yang tidak jahat. Umat Awam dinasehati oleh Sang Buddha untuk menghindari perdagangan lima jenis barang sbb:
· Makhluk Hidup – walaupun perbudakan tidak umum lagi sekarang, perdagangan manusia masih terjadi di dunia ini.
· Daging – seseorang seharusnya tidak memelihara binatang untuk dijual kemudian disembelih.
· Alat-alat berbahaya – senjata dll untuk membunuh.
· Minuman keras – alkohol, obat bius, dll.
· Racun – yang di gunakan untuk membunuh, misalnya obat insektisida.
Sang Buddha menasehatkan bahwa kekayaan seharusnya diperoleh dengan cara yang benar, tanpa paksaan dan kekerasan, jujur dan tanpa menyakiti makhluk yang lain.
(vi) Usaha Benar
Mulai dari sini kita mulai pada pengembangan pikiran, untuk ‘menyucikan pikiran’ yang merupakan bagian ketiga dari pesan Sang Buddha. Hanya seseorang yang menyucikan pikiran yang memiliki kesempatan untuk mengakhiri lingkaran kehidupan. Latihan untuk menyucikan pikiran terdiri dari Usaha Benar, Perenungan Benar dan Konsentrasi Benar.
Usaha benar terdiri dari empat bagian, yaitu usaha untuk :
· Menghilangkan pikiran-pikiran jahat yang telah muncul.
· Mencegah munculnya pikiran-pikiran jahat yang belum muncul.
· Mengembangkan pikiran-pikiran bajik yang belum muncul.
· Mempertahankan pikiran-pikiran bajik yang sudah muncul.
Pikiran jahat adalah pikiran yang disertai keterikatan, dengki, tidak tahu malu, sombong, kebencian, iri hati, kikir, gelisah, dll..
Pikiran baik adalah pikiran yang bebas dari keterikatan, memiliki rasa malu, percaya diri, penuh perhatian, cinta kasih, ketenangan, dll.
(vii) Perenungan Benar(43)
Perenungan Benar adalah perenungan yang terus menerus dari :
· Tubuh – sifat alami tubuh. Meliputi 4 elemen, 32 bagian tubuh, membusuknya tubuh dan berbagai jenis mayat yang berbeda.
· Perasaan – muncul dan lenyapnya perasaan yang menyenangkan, tidak
menyenangkan dan netral.
· Pikiran – kondisi pikiran, apakah dalam keadaan konsentrasi, terpencar, mengantuk,terang, dll.
· Dhamma – ajaran Sang Buddha, yang berhubungan dengan lima kelompok kehidupan, enam ruang lingkup indera, Empat Kebenaran Mulia, dll.
Perenungan yang terus menerus tentang keempat hal ini tanpa mengizinkan pikiran melayang akan menenangkan pikiran, menuntun pada Konsentrasi Benar, dan membuat seseorang memahami sifat alami dari “diri/pribadi”.
(viii) Konsentrasi benar
Seperti yang dijelaskan di sepanjang Nikaya-Nikaya, Konsentrasi Benar berarti pencapaian empat jhana (penyerapan meditasi)(44). Konsentrasi Benar yang mulia adalah empat jhana yang didukung oleh tujuh faktor lain dari Jalan Mulia Berunsur Delapan. Menjinakkan Pikiran. Pikiran yang tidak terlatih adalah liar dan gelisah seperti kuda yang liar. Ini perlu dijinakkan sebelum menjadi pikiran yang bermanfaat. Sang Buddha menyamakan pikiran biasa dengan enam jenis binatang(45) terikat bersamaan dan selalu menarik ke arah yang berbeda. Mereka harus diikat pada sebuah tiang untuk menjinakkan dan mengendalikan mereka.(46) Sama halnya juga, kita mengikat pikiran kita hanya kepada satu objek pikiran yang tetap dalam meditasi, tanpa mengijinkannya ditarik oleh enam objek indera. Perlahan pikiran akan berpusat kepada objek meditasi. Inilah jalan satu-satunya untuk menjinakkan dan mengendalikan pikiran.
Metode utama dari meditasi yang diajarkan Sang Buddha adalah perenungan terhadap pernafasan (anapanasati) yang juga merupakan metode yang digunakan oleh Yang Terberkahi sendiri. Ini adalah metode umum yang cocok untuk banyak orang. Posisi duduk dan berjalan adalah yang paling umum dalam meditasi. Seseorang memusatkan perhatiannya pada pernafasan jadi secara perlahan pikiran menjadi berpusat kepadanya. Dengan latihan yang terus menerus, pernafasan secara berangsur-angsur mencapai ketenangan sampai hampir tidak terasa/halus sekali. Yang kemudian membawa seseorang kedalam jhana pertama, kondisi dimana seseorang sepenuhnya bangun dan siaga. Ketika seseorang melatih meditasi, dia akan menyadari pentingnya pelepasan keduniawian. Pikiran yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat duniawi, selalu membawa pikiran pada hal-hal yang tidak penting dan tidak dapat menjadi konsentrasi.
Buah dari menjalani kehidupan suci. Ketika jhana diperoleh, pikiran menjadi terpusat. Seseorang mengalami kebahagiaan yang jauh melebihi semua kesenangan duniawi. Dengan demikian menjadi mudah untuk meninggalkan kesenangan duniawi.(47) Ini adalah keistimewaan/pencapaian pertama dari kehidupan suci yang lebih tinggi dari keadaan manusia biasa. Ketika seseorang mencapai jhana seseorang juga telah melampaui kekuasaan Mara, menurut Sang Buddha.(48) Sang Buddha berkata kesenangan duniawi tidak seharusnya dituruti tetapi kebahagiaan jhana “seharusnya dikejar, dikembangkan dan diperluas” karena membawa pada pencapaian tingkat kesucian (Ariya). Sang Buddha memuji pencapaian jhana demikian “Para bhikkhu, bahkan untuk waktu selama menjentikkan jari saja, seorang bhikkhu seharusnya melatih jhana pertama, seorang seperti dia boleh disebut bhikkhu.
Tidak sia-sia pencapaian jhananya; dia berdiam di dalam petunjuk Sang Guru; dia adalah seorang yang menaati nasehat dan dia memakan makanan sedekah untuk tujuan tertentu. Sanjungan lebih apa lagi yang dapat kuberikan untuk seseorang yang telah banyak maju dalam jhana pertama?”(49)
Ketika pikiran menjadi lebih tenang lagi, seseorang memasuki jhana kedua, ketiga dan keempat. Jhana keempat adalah kondisi yang dalam dari konsentrasi dimana Sang Buddha berkata berada dalam keadaan tak tergoyahkan dan berhentinya pernafasan.
Dalam tahap ini pikiran menjadi “terang, dapat ditaklukkan, tenang dan terarahkan”, dan “memiliki perenungan yang seksama dan mendalam (sati)” Hasil alami dari pikiran yang sangat kokoh ini adalah pengetahuan yang membebaskan. Seseorang mampu menyadari bahwa ini “Aku” dan dunia pada dasarnya adalah proyeksi pikiran.
Sementara kebanyakan orang berpikir bahwa pikiran ada didalam tubuh, seseorang mulai menyadari bahwa tubuh dan bahkan keseluruhan dunia adalah proyeksi pikiran,berhubung ini hanyalah persepsi dari kesadaran kita.
Seseorang juga dapat menyadari muncul dan lenyapnya fenomena dan penembusan pengetahuan lainnya. Juga, dengan pikiran yang jernih, terang, ketika seseorang mendengarkan atau mempelajari Sutta, seseorang dapat segera memahaminya dan mencapai pembebasan. Demikianlah kita temukan bahwa 1.060 Arahat yang pertama mencapai kesucian tingkat Arahat hanya dengan mendengarkan khotbah Sang Buddha.Sang Buddha mengatakan bahwa setelah mendapatkan pandangan benar, lima faktor pendukung lain dalam pencapaian kebebasan adalah: kemoralan, mendengarkan(mempelajari) Dhamma, diskusi Dhamma, ketenangan pikiran (samatha), dan perenungan(vipassana).(50) Demikianlah kita lihat disini pentingnya meneliti/menyelidiki sutta dari tahap pertama untuk masuk ke Jalan Mulia Berunsur Delapan sampai tahap terakhir dalam pencapaian kebebasan.
NB:
42 Silahkan merujuk pada bagian 1 : “Hindari kejahatan” untuk penjelasan istilah-istilah dibawah.
43 Untuk penjelasan lebih mendetail dari Perenungan dan Konsentrasi, lihat “Perhatian, Perenungan dan Konsentrasi” oleh pengarang. (Telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, hubungi DPD Patria Sumut untuk buku tersebut.)
44 Keadaan mental yang cemerlang. Di sini merujuk pada empat tingkat jhana berbentuk (rupa jhana).
45 Ular, buaya, burung, anjing, jakal, dan monyet.
46 Samyutta Nikaya 35.206
47 Majjhima Nikaya 14.
48 Majjhima Nikaya 26.
49 Anggutara nikaya 1.20.2
50 Majjhima Nikaya 43. Samatha dan Vipassana juga di jelaskan dalam “Perhatian, Perenungan dan Konsentrasi” oleh penulis. (Telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, hubungi DPD Patria Sumut untuk buku tersebut.