• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Pada Siapa Aku Memohon

singthung

IndoForum Junior E
No. Urut
7164
Sejak
21 Sep 2006
Pesan
1.634
Nilai reaksi
27
Poin
48
Kepada siapa sebenarnya umat Buddha berdoa dan memohon? Pada Dewa, Tuhan atau Buddha??? (sms pembaca)

Ora et Labora, sebuah ungkapan yang sangat umum kita dengar. Berdoa dan Bekerja, ungkapan yang menjelaskan bahwa di samping berdoa, kita juga harus berkarya. Terlepas dari usaha yang dilakukan, doa bagi banyak orang adalah hal yang sangat pokok, bahkan sering diyakini bahwa tanpa doa manusia tidak akan mencapai apa yang diinginkannya. Kalau memang doa itu demikian krusial dalam hidup manusia, apakah umat Buddha juga harus berdoa? Lalu berdoa pada siapa?

Buddha secara tegas menolak pandangan bahwa apa yang diinginkan manusia dapat diwujudkan lewat doa. Pada satu kesempatan, Buddha berkata pada hartawan Anathapindika:

Oh, perumah tangga, di dunia ini ada lima hal yang diinginkan, menarik dan menyenangkan. Apakah kelima hal itu? Tidak lain adalah usia panjang, kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran dan kelahiran kembali di alam-alam Surga. Akan tetapi, oh, perumah tangga, Saya tidak pernah mengajarkan bahwa lima hal tersebut dapat diperoleh dengan doa (acayana) ataupun dengan kaul/nadar (patthana). Jika seandainya dapat diperoleh dengan doa atau kaul/nadar, siapakah yang tidak akan melakukannya?

Bagi seorang siswa mulia, oh, perumah tangga, yang mendambakan usia panjang, kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran, dan kelahiran kembali di alam-alam Surga; sangatlah tidak tepat apabila ia berdoa atau merasa senang dalam usaha seperti itu. Sebaliknya, ia selayaknya menempuh jalan kehidupan yang mengakibatkan usia panjang, kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran dan kelahiran kembali di alam-alam Surga. Hanya dengan berbuat demikianlah ia dapat memperoleh apa yang diinginkan, menarik dan menyenangkan.


Buddha dalam Dhammapada syair 1 dan 2 secara gamblang mengajarkan:

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya.

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya.


Buddha dengan jelas mengajarkan bahwa perbuatan atau jalan kehidupan yang kita tempuh, bukan doa, adalah upaya benar untuk memperoleh keinginan yang menyenangkan. Sedang dari perbuatan yang kita lakukan, pikiran adalah pelopor. Jadi, mengendalikan pikiran yang merupakan sumber awal segala perbuatan adalah jauh lebih penting daripada berdoa. Dengan kata lain, doa yang kita lakukan haruslah bertujuan memurnikan pikiran, bukannya sekedar meminta-minta demi kepentingan pribadi atau bahkan berkehendak melepaskan diri dari tanggung jawab atas perbuatan yang tidak benar yang kita lakukan. Inti ajaran Buddha adalah pemahaman benar tentang hukum karma (hukum perbuatan & sebab akibat). Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai. Bukan apa yang kita doakan, itulah yang kita tuai.

Manusia haruslah menjadi makhluk yang menggapai apa yang diinginkan melalui usahanya sendiri, bukan dengan meminta-minta pada sesuatu di luar dirinya. Sudah tentu, usaha-usaha yang dilakukan oleh manusia itu haruslah bajik dan benar. Umat Buddha meyakini bahwa diri sendiri bertanggung jawab atas setiap perbuatan yang dilakukan, oleh karenanya umat Buddha tidak pernah (dan tidak layak) meminta-minta, baik pada Dewa, Tuhan, Bodhisattva atau Buddha.

Tidak di langit, di tengah lautan, di celah-celah gunung atau di manapun juga dapat ditemukan suatu tempat bagi seseorang untuk dapat menyembunyikan diri dari akibat perbuatan jahatnya.
Dhammapada syair 127.

Tidak ada tempat untuk bersembunyi dari akibat perbuatan jahat yang dilakukan oleh diri sendiri, ini berarti bahwa tidak ada cara untuk menghindarkan diri dari akibat perbuatan jahat itu. Ini juga berarti, akibat perbuatan bajik itu pun akan datang dengan sendirinya tanpa memintanya.


Sebuah ungkapan bijaksana mengajarkan: hendaknya kita tidak memandang ke luar jendela, melainkan lihatlah ke dalam cermin. Melihat ke luar jendela adalah mencari kejelekan orang lain serta merusak batin dengan hanya tahu berharap dari luar diri sendiri, sedang memandang ke dalam cermin mengajarkan kita untuk introspeksi serta memurnikan batin dengan tidak
bergantung pada sesuatu di luar diri sendiri. Kebahagiaan dan kemurnian batin tidak didapatkan dari luar, melainkan berada dalam diri kita sendiri. Bila demikian, apakah kita masih melakukan permohonan doa? Lalu, apa benar umat Buddha itu tidak berdoa?

Sesungguhnya doa dalam ajaran Buddha memiliki definisi yang berbeda dengan khalayak umum. Dalam Buddhisme Theravada dikenal adanya pembacaan paritta (yang sering kali secara umum diartikan sebagai membaca doa). Paritta sesungguhnya bukan doa. Dalam paritta tidak akan ditemukan satupun permintaan ataupun permohonan sebagaimana yang dipanjatkan dalam sebuah doa.

Paritta berisi pernyataan, tekad/ikrar (bukan sumpah) serta pengharapan. Semisal dalam kebaktian pelatihan bersama, pembacaan Vandana adalah pernyataan pencerahan agung Buddha Gautama; pembacaan Tisarana merupakan pernyataan bernaung pada Buddha, Dharma dan Sangha; pembacaan Pancasila Buddhis menyatakan tekad berlatih diri menghindari perbuatan buruk membunuh, mencuri, berzinah, berdusta dan mengkonsumsi sesuatu yang memabukkan; pembacaan Karaniyametta Sutta menyadarkan diri sendiri untuk mengembangkan cinta kasih universal; serta pembacaan Ettavatta menyatakan harapan tercapainya kebahagiaan bagi semua makhluk (dengan melimpahkan jasa kebajikan). Melimpahkan buah perbuatan bajik yang kita lakukan pada semua makhluk agar mereka berbahagia, inilah yang disebut sebagai pelimpahan jasa kebajikan.

Pelimpahan jasa kebajikan demi kebahagiaan semua makhluk juga diterapkan dalam Buddhisme Mahayana. Selain itu, Mahayana juga mengajarkan pernyataan ikrar Bodhisattva. Bodhisattva menunjuk pada makhluk hidup (sattva) yang sadar (bodhi), yang berarti mereka telah sadar akan hakekat sejati kehidupan dan bertekad mencapai keBuddhaan serta membimbing semua makhluk hidup untuk terbebas dari lautan penderitaan yang merupakan putaran kelahiran dan kematian yang tak berawal dan tak berakhir. Jalan Bodhisattva telah tak mengenal lagi kata “aku” atau kepentingan diri
sendiri. Segala hal yang dilakukan Bodhisattva adalah demi kebahagiaan semua makhluk.

Baik pembacaan paritta, pelimpahan jasa ataupun ikrar Bodhisattva, semua itu ditujukan demi kebahagiaan semua makhluk, bukan demi diri sendiri. Jadi boleh dibilang, siswa Buddha yang baik tidak mengenal doa yang meminta kesenangan bagi diri sendiri, melainkan pengharapan dan upaya nyata bagi kebahagiaan semua makhluk. Ingin berpenghasilan cukup, maka
tempalah diri serta ulurkan tangan welas asih bagi mereka yang membutuhkan bantuan, bukan sekedar berdoa lalu menunggu kekayaan itu tiba. Ingin negara terbebas dari keterbelakangan, maka berpartisipasilah dalam dunia pendidikan dan pemberdayaan sumber daya manusia, bukan hanya sekedar berdoa lalu mengharapkan semuanya berjalan sesuai doa kita. Ingin umat manusia hidup dalam perdamaian, maka bergabunglah dalam barisan pembabar Dharma dan terapkan Dharma itu dalam keseharian, bukan hanya sekedar berdoa lalu beranggapan sudah melakukan yang terbaik.

Singkat kata, doa walau secara psikologis dapat membantu manusia menjadi lebih tegar namun di sisi lain merapuhkan mental manusia menjadi sangat bergantung pada sesuatu di luar dirinya. Ini bukan hakekat doa yang benar. Seorang petani alih-alih berdoa mengharapkan “sawahnya memberi hasil”, tindakan konkrit “mengolah sawah dengan baik” serta perilaku bajik akan memiliki kemungkinan lebih besar dalam mewujudkan harapannya.

Bagaimana pula yang disebut sebagai tindakan konkrit “mengolah sawah dengan baik” serta berperilaku bajik secara Buddhisme? Di samping pemahaman Buddha Dharma yang benar, kita juga harus tekun mempelajari iptek terkait, pun berdisiplin dan sungguh-sungguh dalam menerapkannya. Selain itu, membina kesabaran juga hal yang tak boleh diabaikan karena semua jerih payah itu bukan berlangsung dalam satu malam, juga bila setelah berusaha masih menemui kegagalan, hendaknya kita tidak cepat menyerah dan menerimanya sebagai pelajaran hidup yang berharga, seperti halnya kesabaran Thomas Alfa Edison saat menghadapi 999 kegagalan sebelum berhasil menemukan lampu bohlam. Sudah tentu, untuk dapat bersabar sangat diperlukan konsentrasi (pemusatan kehendak dan semangat) yang tinggi. Selain itu, jangan lupa untuk senantiasa mengulurkan tangan welas asih dengan berdana membantu orang-orang di sekitar yang memerlukan bantuan
kita. Dan semua upaya itu harus kita lakukan dengan bijaksana. Saat memperoleh keberhasilan, jangan lupa diri; kala menemui kegagalan, hadapi dengan lapang dada; lakukan semua upaya dengan cara yang tepat dan benar.

Jadi, kepada siapa sebenarnya umat Buddha berdoa dan memohon? Pada Dewa, Tuhan atau Buddha? Dua syair berikut akan menjawab pertanyaan kita.

“Karenanya, Ananda, bersemayamlah sebagai pulau bagi dirimu sendiri, pelindungmu sendiri, tiada pelindung lain; Dhamma (Dharma) sebagai pulaumu, Dhamma (Dharma) sebagai pelindungmu, tiada pelindung lain.”
Mahaparinibbana Sutta, Digha Nikaya.

“Buatlah pulau bagi dirimu sendiri. Berusahalah sekarang juga dan jadikan dirimu bijaksana. Setelah memberisihkan noda-noda dan bebas dari nafsu keinginan, maka kelahiran dan kematian tidak akan datang lagi padamu.”
Dhammapada syair 238.


Pulau pelindung bagi diri kita dan semua makhluk, tak lain tak bukan adalah pemahaman dan penerapan Dharma yang benar dalam keseharian. Inilah hakekat permohonan doa dalam Buddhisme. Sekali lagi, jangan memandang ke luar jendela, melainkan lihatlah ke dalam cermin.
 
Btw gwe sering berdoa lho.. meminta ini itu hihihi...
Sama seperti kita meminta tolong pd temen, sapa tau ada dewa yg denger dan membantu (tentunya jika ada kamma pendukung)...
Seomga saya bisa sukses sehingga bisa membantu byk makhluk berbahagia....
 
berdoa dalam Agama Buddha seperti apa yah?
Membaca paritta apakah benar" bisa menghapus karma buruk?

Kata guru Agama gw, kita berdoa jgn hanya mendoakan diri sendiri ataupun keluarga, doakanlah seluruh makhluk, baik yang terlihat maupun tidak terlihat.

Apakah hal diatas dapat disebut sebagai karma baik? Apakah ada efek terhadap makhluk lain?

Bagaimana cara kita berdoa sebelum makan, sesudah makan, sebelum tidur dan bangun serta cara kita mendoakan mereka yang telah tiada..

Sori2 banyak nanya, soalnya benar" ga tau banyak..sori2
 
@Buddhist
bener yg dikatakan oleh grumu bahwa jgn hanya berdoa untuk kepentingan diri sendiri tetapi mendoakan semua makhluk hidup yg terlihat maupun tidak terlihat

itu bisa menimbulkan karma baik,effectnya ke makhluk halus ya bisa membebaskan mereka dari penderitaan,effect buat orang tua ya agar dapat menambah karma baik orang tua.

sebenrnya sih agama buddha ada doa buat makan tetapi ya kalo kita sih ga usah terlalu bergantung pada doa. ya setidaknya waktu doa ya terima kasih sudah memberikan makan buat dimakan gitu ja, masalah mendoakan yg telah tiada ya pelimpahan jasa aja/sembayang leluhur menurut kepercayaan masing masing hehe(buat yg bukan buddhist)

nanya ma gpp byk byk asal bisa mengerti hehe

sekian dan terima kasih
 
yup, saya bakal belajar untuk menghormati makhluk lain (sebelumnya mah saya emosian, susah mengendalikan diri..hehe:D)
Ada tips ga supaya ga emosi?

Thx LomX >:D<

----------------------------------------------------------------------------
If someone do good to you, then do your best for him..
If someone do bad to you, then..ignore him..
----------------------------------------------------------------------------
terkadang kita tau mana yang harusnya boleh dan tidak kita lakukan,.
tapi kok kita bisa melakukan yang tidak seharusnya padahal kita dah tau klo itu ga boleh ya? :-/
 
Ada!! Kamu inget aja sama hal yang buat kamu seneng, pasti g emosi deh :D.
Kamu harus selalu ingat bahwa kamu harus jaga emosi kamu >:D< .
 
@Buddhist
supaya ga emosi....
sebenernya sih gampang..
coba dhe meditasi tiap hari 30 min aja.. biar pikiran tenang
kalo ga mau meditasi ya coba aja nahan diri buat ga marah..
kalo saya si jrg marah,ga tau juga ya dari sananya ga isa marah marah
 
Bukannya di atas itu sdh d blg kalo Buddha mengatakan doa ga bisa di kabulin?

Manusia itu, tdk bsa d sangkal lg, mahluk rakus dan tamak, berbuat demi kebaikan sendiri. "Membantu" pun, sebenarnya demi diri sendiri, karena takut akan karma (hukuman), dapat naik k nirvana atau surga, atau membuat diri anda merasa lebih baik. Jika "membantu" membuat anda merasa resah, anda tidak mungkin melakukannya bukan? Untungnya "membantu" bukan hanya baik untuk anda sendiri tp juga org lain.

Maka itu, doa demi apapun adalah tindakan tamak. Dan lagipula kepada siapa? Tuhan di Buddhism tidak seperti tuhan di agama2 lain. Saya merasa bahwa daripada berdoa lebih baik langsung saja membantu dengan tangan dan kaki sendiri, dan mungkin otak. Walau itu tidak mengubah status "tamak dan rakus" manusia, setidaknya itu membawa kebahagiaan untuk org lain.
 
haha pendapat yg menarik :D
saya setuju,tapi pendapat orang berbeda2 ..
Doa hanya untuk pengampunan ? nah ga ga bisa kekna =))
 
rasanya topik ini penting untuk kita diskusikan panjang lebar...
silahkan ....
 
RUMUS nya sederhana:
DOA tanpa usaha = 0
Usaha Tanpa DOA = 1
DOA + USAHA = 2 ^.^

bisa saja DEWA membantu,atau faktor lain ,,tapi tetap USAHA nomor SATU,
maap kalo salah.
 
^
setuju /no1
kalo aku berdoa meminta sesuatu biasa minta sm laumu
gua yakin Tuhan akan mendengar doa gua ya yg penting niatnya sih n usaha
mau memohon sm dewa jg gpp,asal jgn memohon sm setan aja :D

tp terkadang kalo selesai doa n terkabul gua suka lupa berterima ksh :P
hal buruk yg musti dihilangkan :">
tp yg paling gua gak lupa berterima ksh pas makan
pasti gua selalu berterima ksh pada Tuhan yg dah memberikan makan hari ini /kis
 
Kurang lengkap rasanya bila hanya berdoa tetapi lupa untuk bersyukur. Bersyukur untuk segala sesuatu, bersyukur di saat bahagia dan susah.

Dan juga kurang sempurna rasanya bila hanya berdoa dan bersyukur tetapi tidak mewujudkan perbuatan amal.
 
Buddha secara tegas menolak pandangan bahwa apa yang diinginkan manusia dapat diwujudkan lewat doa.

Buddha dengan jelas mengajarkan bahwa perbuatan atau jalan kehidupan yang kita tempuh, bukan doa, adalah upaya benar untuk memperoleh keinginan yang menyenangkan.

Inti ajaran Buddha adalah pemahaman benar tentang hukum karma (hukum perbuatan & sebab akibat). Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai. Bukan apa yang kita doakan, itulah yang kita tuai.

Manusia haruslah menjadi makhluk yang menggapai apa yang diinginkan melalui usahanya sendiri, bukan dengan meminta-minta pada sesuatu di luar dirinya. Sudah tentu, usaha-usaha yang dilakukan oleh manusia itu haruslah bajik dan benar. Umat Buddha meyakini bahwa diri sendiri bertanggung jawab atas setiap perbuatan yang dilakukan, oleh karenanya umat Buddha tidak pernah (dan tidak layak) meminta-minta, baik pada Dewa, Tuhan, Bodhisattva atau Buddha.
 
^

Setoedjoe..!!! /no1/no1

aQ bner2 ngalami soal ny,,smpet ga prcaya ma Tuhan .. Gara2 uda doa mati2an,,ujung2 bsok ny pas ulngan,,nilai ny merah.. /swt/swt

Di pikir2 ,,bljar cuma stengah jam ,,kpan pintar ny ?? :P:P
 
^

Setoedjoe..!!! /no1/no1

aQ bner2 ngalami soal ny,,smpet ga prcaya ma Tuhan .. Gara2 uda doa mati2an,,ujung2 bsok ny pas ulngan,,nilai ny merah.. /swt/swt

Di pikir2 ,,bljar cuma stengah jam ,,kpan pintar ny ?? :P:P

Sang Buddha kan mengajarkan supaya kita harus aktif(butuh usaha yang sungguh-sungguh) bukan pasif.

"Utthanena' ppamadena
samyamena damena ca
dipam kayiratha medhavi
yam ogho nabhikirati."

Dengan usaha yang tekun, semangat, disiplin, dan pengendalian diri,
hendaklah orang bijaksana,
membuat pulau bagi dirinya sendiri,
yang tidak dapat ditenggelamkan oleh banjir.


 
@ rekan rekan IKTdan MLDD

doa tidak perlu identik dengan minta-minta.

Namun keberadaan para Buddha Suci, bukan pula sesuatu yang dapat diabaikan.

Jika kita berikhtiar untuk menuju kebaikan, tidak perlu meminta-pun ikhtiar positif itu akan dibantu oleh Tangan-tangan suci yang tak terlihat.
Jika menyimpan pikiran yang negatif, dengan sendirinya kekuatan negatif akan membantu mewujudkannya.

Upaya diri sendiri tentu saja teramat penting.

Namun,
Menafikan pertolongan para Buddha/Suci; Menyepelekan Ikrar Suci Bodhisattva adalah bentuk kesombongan yang halus dan sulit dideteksi.
Menganggap bahwa kemajuan dan kemunduran sepenuhnya adalah atas usaha diri sendiri juga dapat membunuh hati welas kasih untuk membantu makhluk lainnya..

Apakah itu tidak berbahaya...

Itulah sebabnya ada jurang perbedaan yang mendasar antara mahayana dan yang Non-mahayana.
Dan dalam hal ini IKT dan MLDD menjalani Jalan Bodhisattva

xxcp
 
@ rekan rekan IKTdan MLDD

Menafikan pertolongan para Buddha/Suci; Menyepelekan Ikrar Suci Bodhisattva adalah bentuk kesombongan yang halus dan sulit dideteksi.
Menganggap bahwa kemajuan dan kemunduran sepenuhnya adalah atas usaha diri sendiri juga dapat membunuh hati welas kasih untuk membantu makhluk lainnya..

Apakah itu tidak berbahaya...

Itulah sebabnya ada jurang perbedaan yang mendasar antara mahayana dan yang Non-mahayana.
Dan dalam hal ini IKT dan MLDD menjalani Jalan Bodhisattva

xxcp

itu kan menurut pandangan anda.^_^

Kalau kita sedikit-dikit punya masalah lalu minta bantu Bodhisatva,dewa dsbnya, mau jadi apa kita? ,maunya ditolong melulu dan tidak mau berusaha. Buat apa ada Dhamma dan Vinaya yang diajarkan oleh Sang Buddha kalau kita tidak mempraktekkanNya.Dhamma ada obat yang paling mujarab.^_^

Dhamma dan Vinya adalah Guru kita.

Kalau kita sudah memahami Dhamma dan mencapai tingkat kesucian ,apakah kita sombong lagi atau punya kekotoran batin? Tidak kan.
 
Ouh.. itu jelas bukan pandangan saya pribadi..

Itulah juga sebabnya anda ngak akan mampu mencapai upekha bahwa membantu dan dibantu pada dasarnya adalah sunyata.

....

dan saya menulis kepada rekanrekan IKT & MLDD adalah agar mereka tidak terjatuh dari jalan Bodhisattva. Karena yang berada di jalan Bodhisattva bukanlah memohon kepada Bodhisattva tetapi melatih diri untuk menjadi Bodhisattva..

xxcp
 
Itulah juga sebabnya anda ngak akan mampu mencapai upekha bahwa membantu dan dibantu pada dasarnya adalah sunyata.
....

dan saya menulis kepada rekanrekan IKT & MLDD adalah agar mereka tidak terjatuh dari jalan Bodhisattva. Karena yang berada di jalan Bodhisattva bukanlah memohon kepada Bodhisattva tetapi melatih diri untuk menjadi Bodhisattva..

xxcp

Itu kan anda tidak memahami Dhamma secara benar maka anda bimbang/ragu-ragu dan tidak memiliki keseimbangan batin. makanya dalam agama Buddha yang diutamakan adalah Pandangan Benar/Pengertian Benar, kalau tidak seterusnya anda akan salah/keliru.

Uppekkha

Uppekha (keseimbangan batin) memiliki makna melihat dari dekat yang mempunyai makna melihat dengan adil, tidak berat sebelah, lurus atau tegak. Secara harfiah, uppekkha berarti pertimbangan yang lurus, pandangan yang adil/tidak berat sebelah, yaitu tidak ada rasa senang dan tidak senang.

Keseimbangan batin penting sekali terutama bagi umat awam yang hidup dalam dunia yang kacau balau yang tidak menentu ini. Dunia telah terbentuk sedemikian rupa sehingga kebajikan sering mendapat kritik2 dan serangan2 yang ngawur dan curang; dan bahkan dihambat dan dihalang-halangi. Apabila seseorang dapat mempertahankan keseimbangan batin dalam keadaan seperti itu, maka dialah seorang pahlawan besar.

Untung dan rugi, kemasyuran dan nama buruk, pujian dan celaan, kebahagiaan dan penderitaan adalah delapan kondisi duniawi yang tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan umat manusia. Dalam hal ini Sang Buddha pernah bersabda: "Orang bijaksana tidak menunjukkan rasa gembira maupun kecewa di tengah2 pujian dan celaan. Mereka tetap teguh bagaikan batu karang yang tak tergoncangkan oleh badai.". Demikianlah mereka melatih dirinya dalam keseimbangan batin. Bagaikan angin yang bertiup melalui lubang2 jala, tak ada sedikit pun yang melekat pada jala itu. Demikian pula hendaknya seseorang jangan terikat pada kesenangan palsu di dunia yang selalu berubah ini. Bagaikan bunga teratai yang tidak ternoda oleh lumpur tempat tumbuhnya, demikian pula hendaknya seseorang jangan terseret oleh godaan2 duniawi tetapi harus selalu tetap suci, tenang dan seimbang.

Uppekkha memiliki "musuh" langsung yaitu kemelekatan dan "musuh" tidak langsung yaitu sikap acuh tak acuh yang timbul karena ketidaktahuan (kebodohan). Corak utama dari uppekkha adalah sikap tidak berat sebelah. Orang yang memiliki uppekkha tidak tertarik oleh semua hal yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Terhadap penjahat dan orang suci ia bersikap sama. Apabila metta mempunyai sasaran terhadap semua makhluk, karuna terhadap makhluk yang menderita dan mudita terhadap orang2 yang beruntung, maka uppekkha memiliki sasaran terhadap yang baik ataupun yang buruk dan yang menyenangkan ataupun tidak menyenangkan.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.