Follow along with the video below to see how to install our site as a web app on your home screen.
Catatan: This feature may not be available in some browsers.
Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis. Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.
Ajaran Buddha sangat memperhatikan masalah psikologis seseorang. Hal ini dapat kita ketahui dari banyaknya ucapan-ucapan Sang Buddha yang berhubungan dengan psikologi (pengendalian pikiran, batin, dsb). Bahkan di dalam Dhammapada (Dharmapada), yang pertama kali disinggung adalah masalah pikiran manusia. Artinya bahwa ajaran Buddha begitu berminat besar dalam hal yang berhubungan dengan pikiran seseorang. Mengapa? Hal itu karena semua kejadian, sebab, dan tindakan manusia dimulai dari pikirannya sendiri. Ketika pikiran seseorang sulit untuk ia kendalikan, maka akibatnya tentu saja akan menjadi kurang baik bahkan mungkin tidak baik.
Salah satu sila (aturan) dalam ajaran Buddha yaitu sila ke-5 adalah berusaha untuk menghindari mengkonsumsi makanan yang dapat melemahkan pikiran, termasuk mabuk-mabukan dan narkoba. Mengapa sila itu ada? Jelas sekali bahwa sila itu berhubungan dengan pikiran seseorang. Ketika seseorang makan makanan yang melemahkan pikirannya sehingga ia tidak bisa mengendalikan diri, maka ia menjadi tidak sadar akan perbuatannya (biasanya perbuatannya buruk).
Sila ke-5 dalam Pancasila-Buddhis jika tidak diikuti, akan mengkondisikan seseorang melanggar salah satu dari sila lainnya. Contohnya ketika seseorang menggunakan narkoba, pikiran sadarnya menjadi lebih lemah sehingga sulit untuk mengendalikan diri yang pada giliran selanjutnya akan membuat ia melakukan pelanggaran sila lainnya, mungkin perbuatan asusila, mencuri, melukai/membunuh, atau berbohong/menipu.
Seseorang yang menggunakan narkoba akan menjadi ketagihan sehingga bagaimana pun caranya ia akan berusaha untuk meneruskan menggunakan narkoba. Apalagi narkoba harganya tergolong mahal, sehingga si pengguna narkoba akan berusaha mencari cara mendapatkannya entah itu dengan mencuri uang, merampok, menipu atau cara- cara lainnya yang jelas melanggar sila lainnya dalam Pancasila-Buddhis.
Keburukan-keburukan dari menggunakan narkoba antara lain:
Memboroskan uang
Mudah menimbulkan pertengkaran atau perkelahian
Merusak kesehatan
Menjadi sumber noda (nama baik menjadi rusak)
Menyeret seseorang untuk melakukan perbuatan yang memalukan
Melemahkan daya pikir seseorang
Keburukan-keburukan tersebut sangat jelas dan akan dialami bagi pengguna narkoba (pecandu). Jika dibandingkan dengan minum-minuman keras, narkoba lebih berbahaya karena efeknya langsung ke syaraf manusia yang berhubungan dengan otak. Dan yang berbahaya dari penggunaan narkoba adalah efeknya yang pelan-pelan menghancurkan tubuh manusia karena membuat ketagihan.
Cara agar kita tidak menggunakan narkoba adalah jangan pernah mencobanya, walaupun hanya untuk coba-coba. Coba sadari dan pahami bahwa menggunakan narkoba sangat tidak bermanfaat bagi tubuh dan pikiran kita. Jangan terpengaruh lingkungan dan kendalikan diri sendiri. Jika berada pada lingkungan yang kurang baik, sebaiknya hindari interaksi yang sering dengan lingkungan tersebut karena bisa mempengaruhi pikiran. Cara lainnya adalah mengembangkan kebijaksanaan (pannya/prajna) dan cinta-kasih (metta/maitri). Kebijaksanaan dikembangkan agar kita dapat mengendalikan pikiran kita dan bertindak dengan pertimbangan. Kebijaksanaan juga dikembangkan dengan memahami akibat-akibat buruk dari mengkonsumsi narkoba. Sedangkan cinta kasih dikembangkan dengan cara merenungkan bahwa kita melaksanakan sila ke-5 agar tidak melukai orang-orang di sekitar kita (keluarga dan teman). Kita tahu bahwa ketika pikiran kita menjadi tidak bisa dikendalikan, kita akan melakukan kekerasan sehingga bisa mengakibatkan teman atau keluarga kita terluka. Walaupun bukan keluarga atau teman kita yang terluka, secara tidak langsung kita akan melukai perasaan mereka jika kita bertindak tanpa pengendalian diri.
Referensi:
Vajirananavarorasa. Pancasila dan Pancadhamma dalam agama Buddha. Sangha Theravada Indonesia.
Ketika kita mendengar kedua jenis kata ini, sebagian dari kita akan langsung memikirkan bahwa narkoba dan alkohol adalah tidak baik, jelek dan negatif. Alkohol dan narkoba pada dasarnya adalah bersifat netral ; tidak baik maupun buruk. Pada awalnya alkohol dan narkoba (heroin, ganja, morfin, paragorik dll) digunakan untuk pengobatan sebagai obat penenang dan penawar sakit. Penggunaan alkohol dan narkotika sebagai obat bius telah dikenal manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Dalam hal ini, narkotika dan alkohol memiliki kegunaan yang baik. Namun , dalam beberapa dekade terakhir ini, narkotika menjadi masalah serius yang menimpa terutama pada kaum muda dan remaja. Masalah ini telah menjadi ancaman hampir di seluruh negara dunia. Dalam hal ini, narkotika dan alkohol memiliki kegunaan yang tidak baik. Baik atau tidak baik dari narkotika dan alkohol tergantung pada niat dan tujuan orang menggunakannya. Setelah bagian artikel ini, kata narkoba yang disebutkan adalah narkoba yang digunakan orang untuk tujuan negatif.
Penggunaan narkoba yang salah telah membuat jutaan orang pada usia muda mengalami penderitaan, hidup dengan hampa dan tidak berarti. Menurut para ahli, pengguna (pecandu) narkoba mengalami penderitaan dan kesakitan yang tiada henti. Para pecandu tidak bisa merasakan kehidupan tanpa narkoba. Ketika mereka mengkonsumsi narkoba mereka akan merasa ketenangan dan kepuasan yang “menakjubkan”, tapi masa-masa itu hanya sementara. Ketika efek narkotikanya habis, mereka merasa kesepian, tidak kuat dan penuh dengan kesakitan. Mereka akan mencari lagi narkoba untuk dikonsumsi. Hari demi hari, tahun demi tahun, mereka akan semakin sulit untuk lepas dari kecanduan tersebut. Dengan berjalan waktu, narkoba akan mengendalikan hidup seorang pecandu. Narkoba yang akan mengatur hidup sang pecandu. Diri sendiri sudah tidak mampu lagi mengatur diri sendiri. Kesadaran akan semakin berkurang, sehingga tindakan tidak berkesadaran akan kerap kali dilakukan,dan kapasitas diri untuk melakukan kejahatan akan meningkat. Bahaya yang mengancam dari penggunaan narkoba adalah ketagihan dan ketika mengkonsumsi, orang tersebut memiliki kesadaran yang rendah. Ada banyak pengaruh buruk dari seseorang yang kecanduan narkoba seperti penyakit mental, gelisah dan ketakutan, tidak bergairah, kehilangan koordinasi tubuh, penghayal, agresif, dan efek fisiologisnya.
Mengapa mereka menggunakan narkoba?
Ada beberapa alasan seseorang menggunakan narkoba. Seorang pengguna narkoba umumnya menggunakannya sebagai jalan keluar untuk suatu masalah yang tidak menyenangkan, frustasi, stress atau sesuatu hal yang tidak dapat diterima kenyataaannya. Selain itu, bisa disebabkan karena berteman dengan teman yang kecanduan atau melihatnya di media komunikasi, atau karena ada rasa ingin tahu, iseng-iseng aja atau karena didesak dan didorong orang lain. Dalam hal ini, lingkungan, keluarga atau kelompok merupakan faktor yang sangat dominan dalam sikap seseorang untuk menggunakan narkoba. Mereka biasanya adalah orang yang merasa dirinya sangat menderita, sangat kesepian, tidak ada orang yang memperhatikan dirinya atau menggangap pihak lain menyebabkan banyak penderitaan bagi dirinya. Jika diri mereka tidak kokoh dan mantap, maka akan mudah terjerumus terhadap tindakan kekerasan, dan juga jatuh dalam cengkeraman narkotika.
Apa yang harus kita lakukan?
Dalam hal ini, terdapat beberapa sutta, dimana Sang Buddha secara langsung membabarkan Dharma mengenai cara hidup yang benar, hidup berdasarkan Dharma. Khususnya untuk konsumsi minuman keras atau narkoba, Sang Buddha menyampaikan hal ini di Sigalovada Sutta, Parabhava Sutta (sebab-sebab kemerosotan moral ) dan Manggala Sutta (berkah termulia).
Sebagai umat awam atau upasaka-upasika , setelah berlindung kepada Buddha, Dharma dan Sangha, kita memegang lima sila – Pancasila Buddhis. Kita melatih sila untuk menghindari pembunuhan, pencurian, asusila, ucapan tidak benar, dan konsumsi yang menyebabkan melemahnya kesadaran. Antara sila yang satu dengan sila lain saling berhubungan dan saling mendukung. Apabila kita melaksanakan sila pertama dengan baik yang dilandasi dengan perhatian penuh maka sila kedua, ketiga,keempat dan kelima akan mudah dijalankan.
Untuk dapat melatih sila ke-lima, yakni menghindari konsumsi yang tidak berkesadaran (ketagihan atau memabukkan), kita butuh mengembangkan cinta kasih selain berlatih dengan perhatian murni melaksanakan sila yang lain. Mulailah berlatih untuk mengembangkan cinta kasih ke dalam diri kita. Sadar bahwa dengan konsumsi tidak berkesadaran akan membawa banyak penderitaan. Belajar untuk menyadari bahwa konsumsi tidak berkesadaran (narkoba, alkohol, dan sejenisnya) menyebabkan melemahnya kesadaran, ketidaktahuan dan kegelapan pikiran. Sadar bahwa menggunakan narkoba tanpa berkesadaran menyebabkan tubuh akan rusak, mental sakit, menguras kekayaan, kehilangan kalyanamitta. Atau di keluarga akan menimbulkan kesengsaraan, kekhawatiran, kegelisihan bagi suami, istri dan anak-anak. Anak-anak kita akan kecanduan juga , karena mereka belajar dan mengikuti pola hidup kita. Begitu juga di masyarakat.
Setelah melihat dan menyadari hal-hal ini, bahwa penggunaan narkoba yang tidak berkesadaran akan menyebabkan penderitaan bagi banyak pihak (diri sendiri maupun orang lain), maka kita harus bertekad untuk berlatih mengolah diri kita dengan cinta kasih.
Sadar akan penderitaan yang disebabkan oleh konsumsi yang tidak berkesadaran, aku berkomitmen untuk mengolah kesehatan fisik dan mental yang baik, demi diriku, keluargaku, dan masyarakatku, dengan mempraktikkan makan, minum, dan konsumsi yang berkesadaran.
Aku hanya akan memasukkan barang-barang yang melestarikan kedamaian, kesejahteraan, dan suka cita dalam tubuhku, kesadaranku, dan dalam tubuh maupun kesadaran kolektif keluarga dan masyarakatku.
Aku bertekad untuk tidak menggunakan alkohol atau intoksikan lain, atau memasukkan makanan atau barang-barang lain yang mengandung racun seperti program-program TV tertentu, majalah, buku, film, dan percakapan.
Aku sadar bahwa merusak tubuh atau kesadaranku dengan racun-racun ini adalah mengkhianati leluhurku, orang tuaku, masyarakatku, serta generasi yang akan datang.
(Y.M Thich Nhat Hanh)
Pada point terakhir , kita perlu melihat secara mendalam bahwa kiita menjalankan praktek bukan hanya untuk diri kita sendiri, melainkan juga untuk semua orang. Anak-anak atau teman kita mungkin memiliki kecenderungan untuk terjerat ke dalam narkotika dan alkohol ketika melihat atau mengetahui kita mengkonsumsinya. Dan kita tahu bahwa ada jutaan orang telah terjerumus ke lingkaran kecanduan, sehingga adalah penting bagi kita untuk melatih sila ini. Ketika kita telah mampu dan memiliki cara untuk membantu mereka yang kecanduan, maka kita harus membantu mereka agar lepas dari penderitaan. Kita hanya mampu membantu mereka, jika dalam diri kita memiliki kapasitas atau jiwa cinta kasih dan kita telah mempraktek Buddha Dharma . Tentu ini memerlukan waktu dan latihan.
Dalam praktek keseharian, kita harus mampu untuk tidak terpengaruh, bahkan dalam jumlah yang sedikit atas kesenangan narkotika yang berbahaya ini. Bagi mereka yang telah terjerat oleh kesenangan yang merusak ini, cara terbaik dan paling membantu untuk dilakukan adalah berteman dengan orang-orang bijaksana dan menjalankan ajaran Buddha Dharma serta tentu saja mencoba menghilangkan penggunaan obat bius . Seseorang akan kecanduan narkoba, sangat tergantung pada ”kapasitas” diri orang tersebut. Tentunya kapasitas seseorang sangat tergantung pada dirinya sendiri, orang lain atau lingkungan.
Jadi, narkoba dan kita merupakan hubungan dekat. Narkoba akan menjadi ”bagian” dari hidup kita, jika diri kita membiarkan dia ”menguasai” diri kita. Namun, jika kita dapat ”menguasai” diri kita, maka narkoba tidak akan menjadi ”bagian” kemelekatan dari hidup kita.
Untuk itu, kita perlu belajar dan mempraktekkan Buddha Dharma. Untuk belajar dan praktek, kita harus mau menyediakan waktu. Seiring dengan belajar dan latihan kita, mari kita saling berbagi kebahagiaan dari apa yang telah kita praktekkan dan pelajari.