• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Lima Macam Penderitaan Seorang Ibu

singthung

IndoForum Junior E
No. Urut
7164
Sejak
21 Sep 2006
Pesan
1.634
Nilai reaksi
27
Poin
48
Lima Macam Penderitaan Seorang Ibu

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa(3X)

Brahmāti mātāpitaro, pubbācariyāti vuccare;

Āhuneyyā ca puttānaṁ, pajāya anukampaka’ti

Ayah dan ibu laksana dewa brahma, ayah dan ibu adalah guru awal;

Ayah dan ibu patut dipuja, karena penuh kasih sayang kepada anak-anaknya

Sabrahmaka Sutta, Catukkanipāta, Itivuttaka, Khuddaka Nikāya​

Secara psikologi wanita itu memiliki lima macam penderitaan, apakah lima macam penderitaan itu? Lima penderitaan itu adalah datang bulan, mengandung, melahirkan, menyusui, dan merawat anak-anak.

Penderitaan pertama bagi kaum wanita adalah datang bulan. Penderitaan pertama ini hanya dialami oleh kaum wanita saja, tidak mungkin dialami oleh kaum pria. Pada saat datang bulan, biasanya kaum wanita merasa tidak nyaman, memiliki perasaan sensitif, marah, merasa kurang enak pada saat bergaul dengan teman-temannya. Kadang-kadang terasa sakit di bagian perut, kepala, bahkan ada yang muntah-muntah. Secara ekonomi, ini merupakan pemborosan karena ia harus membeli alat untuk melindungi dirinya sewaktu datang bulan tiba.

Penderitaan kedua adalah jika seorang wanita sudah bersuami biasanya ia akan mengandung. Pada saat mengandung, seorang wanita harus benar-benar menjaga kandungannya agar jangan sampai keguguran. Di samping itu, berat badannya semakin hari semakin bertambah sehingga pada saat berjalan ia mengalami keberatan dan lelah. Bayangkan, kondisi seperti ini dirasakan oleh sang ibu selama sembilan bulan mengandung. Kadang ia juga suka mengidam, seperti ingin makan buah mangga, durian, anggur, sirsak, rambutan, dan sebagainya. Menurut cerita orang-orang dahulu, apabila sang istri sedang mengidam maka kemauannya harus dituruti, jika tidak maka anaknya akan sering mengeluarkan air liur. Permasalahannya adalah jika buah yang diidamkan tidak ada di pasar dan belum musimnya.

Penderitaan yang ketiga adalah melahirkan anak. Coba bayangkan, melahirkan anak tidaklah mudah, apabila gagal maka hidup yang menjadi taruhannya. Pada saat melahirkan sakitnya luar biasa sekali, perut rasanya seperti ditusuk-tusuk dengan pisau, bagaikan seribu sayatan pedang yang tajam menusuk perut sang ibu. Berhubung sakitnya tidak tertahankan maka ibu menjerit sekuat-kuatnya, bersamaan itu darah mengalir dengan deras seperti menyembelih seekor kambing. Bisa jadi jika tidak kuat maka ibu akan meninggal dunia ataupun sebaliknya. Inilah penderitaan terberat bagi seorang ibu.

Penderitaan yang keempat adalah menyusui. Seorang ibu setelah melahirkan, tugas selanjutnya adalah menyusui. Pada saat menyusui seorang ibu harus mengkonsumsi makanan yang bergizi agar bayinya mendapat nilai gizi yang cukup sehingga menjadi sehat dan kuat. Sesungguhnya susu ibu yang diberikan kepada anaknya merupakan darah dari ibu itu sendiri. Maka dari itu, banyaknya susu yang diberikan kepada bayinya menjadikan badan ibu terasa lemah. Ada kala pada waktu menyusui, anak itu menggigit ibunya, meskipun terasa sangat sakit ibu tetap menahan sakitnya dan ia tidak pernah mengeluh karena kasih sayang kepada anaknya.

Penderitaan kelima adalah merawat anaknya. Seorang ibu dalam merawat anaknya sangat perhatian sekali. Ketika anaknya masih kecil ibunya selalu menjaga, membelai, dan menggendongnya, bahkan memberi makan yang enak dan bergizi agar anaknya tumbuh dengan sehat. Apabila ibu ingin tidur ia selalu menunggu anaknya sampai anaknya itu benar-benar sudah tidur. Pada saat merawat anak, ibu sangat beduka sekali, misalnya; pada saat anaknya sakit ia harus menunggunya, baik pada waktu hujan, dingin, panas ia rela untuk menemani anaknya. Maka dari itu, cinta kasih seorang ibu sepanjang masa, hanya memberi dan tidak mengharapkan kembali, bagaikan sang surya yang menyinari dunia. Itulah penderitaan seorang ibu yang harus ditanggung.

Dalam petikan Aṅguttara Nikāya i, 61 (Kataññu Sutta) dituliskan sabda Sang Buddha sebagai berikut:

Kunyatakan, O para bhikkhu, ada dua orang yang tidak pernah dapat dibalas budinya oleh seseorang. Apakah yang dua itu? Ibu dan ayah.

Bahkan seandainya saja seseorang memikul ibunya ke mana-mana di satu bahunya dan memikul ayahnya di bahu yang lain, dan ketika melakukan ini dia hidup seratus tahun, mencapai usia seratus tahun; dan seandainya saja dia melayani ibu dan ayahnya dengan meminyaki mereka, memijit, memandikan, dan menggosok kaki tangan mereka, serta membersihkan kotoran mereka di sana bahkan perbuatan itu pun belum cukup, dia belum dapat membalas budi ibu dan ayahnya. Bahkan seandainya saja dia mengangkat orangtuanya sebagai raja dan penguasa besar di bumi ini, yang sangat kaya dalam tujuh macam harta, dia belum berbuat cukup untuk mereka, dia belum dapat membalas budi mereka. Apakah alasan untuk hal ini? Orangtua berbuat banyak untuk anak mereka: mereka membesarkannya, memberi makan dan membimbingnya melalui dunia ini.

Tetapi, O para bhikkhu, seseorang yang mendorong orangtuanya yang tadinya tidak memiliki keyakinan, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam keyakinan; yang mendorong orangtuanya yang tadinya tidak bermoral, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam moralitas; yang mendorong orangtuanya yang tadinya kikir, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kedermawanan; yang mendorong orangtuanya yang tadinya bodoh batinnya, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kebijaksanaan -orang seperti itu, O para bhikkhu, telah berbuat cukup untuk ibu dan ayahnya: dia telah membalas budi mereka dan lebih dari membalas budi atas apa yang telah mereka lakukan.

Dalam kitab komentar juga dikatakan tentang perbandingan jasa ibu, ayah, guru agama, dan guru biasa adalah sebagai berikut:

- Apabila ada satu orang guru agama jasanya sebanding dengan sepuluh guru biasa.

- Apabila ada satu ayah jasanya sebanding dengan seratus guru agama.

- Apabila ada satu orang ibu jasanya sebanding dengan seribu ayah.

Demikianlah begitu besarnya jasa ibu terhadap anak-anaknya, oleh karena itu janganlah kita menyakiti hati ibu kita sendiri, sebab ibu memiliki nilai jasa yang cukup besar dan sangat sulit untuk dibalas budinya. Karena itu selama orangtua kita masih hidup, cintailah kedua orangtua kita, hormati, dan patuhi nasihatnya dan rawatlah mereka dengan baik agar mereka hidup sehat dan bahagia.

 
saya terharu baca thread ini... jadi ingat mendiang ibu saya....
 
artikel yang saya terima. sekaligus di share^^
Ibuku hanya memiliki satu mata

Aku membenci-nya sungguh memalukan. Ia menjadi juru masak di salah satu sekolah. Untuk membiayai keluarga.
Suatu ketika aku masih SD, ibu-ku datang. Aku sangat malu. Mengapa ia lakukan ini?
Aku memandang nya dengan penuh kebencian dan melarikan diri.

Keesokan harinya di sekolah : "ibumu hanya punya satu mata?!?!" Leeeee" jerit seorang temanku...
aku berharap ibu-ku lenyap dari muka bumi.
"bu mengapa hanya tidak punya satu mata lainnya? kalau ibu hanya ingin membuatku di tertawakan, lebih baik ibu mati saja !!!!" ujar ku.

ibu-ku terdiam...aku merasa tidak enak,tapi pada saat bersamaan,lega rasanya sudah mengunkapkan apa yang selama ini aku ingin sekali katakan.
aku sama sekali tidak berpikir bahwa dengan kata-kata ku ini ibu bakalan terluka.

malam itu.....
aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air..Ibu ku sedang menangis tanpa suara, seakan-akan ia takut aku terbangun karena suara tangisannya.
aku memandang nya sejenak , dan kemudian berlalu.
walau demikian aku bertekad untuk tumbuh menjadi dewasa dan menjadi orang sukses.

Kemudian aku belajar dengan tekun. Ku tinggalkan ibuku dan pergi ke singapura untuk menuntut ilmu.
Lalu aku pun menikah dan memiliki anak....aku telah sukses dan memiliki tempat tinggal-ku sendiri.
aku bahagia sampai tidak teringat tentang ibu-ku.

sampai ketika ibu-ku ke singapura.
Apa?! siapa itu?! itu ibuku....masih dengan matanya yang satu..
langit seakan-akan runtuh dan anak-anaku berlari ketakutan....
lalu aku berkata "Siapa kamu? aku tak kenal diri mu"
dan untuk membuatnya dramatis aku bahkan berkata
"berani-berani nya kamu datang ke sini dan menakut-nakuti anakku!! KELUAR DARI SINI SEKARANG""

Ibuku hanya menjawab perlahan "oh maaf seperti nya saya salah alamat"
dan ku pikir, ibu tidak mengenaliku...lega rasanya

Suatu hari ,sepucuk surat undangan reuni sekolah tiba....di rumah ku singapura
lalu aku berbohong kepada istriku dengan alasan ada urusan kantor
setelah menghadiri reuni....aku mampir ke gubuk tua yang aku sebut dulu rumah.

disana kutemukan ibuku tergeletak di lantai,Namun aku tak meneteskan air mata.

Ada selembar surat di tangan-nya....dan tertulis untuk-ku.
isi nya adalah

"Anakku..kurasa hidupku sudah cukup panjang...dan aku tidak akan pergi ke singapura lagi...

Namun apakah berlebihan jika aku ingin kamu menjengukku sesekali?
Aku sangat merindukanmu. Dan aku sangat gembira ketika tahu kau akan datang ke reuni itu.
Tapi kuputuskan aku takkan pergi ke sekolah....Demi kau.

Dan aku minta maaf karena membuat mu malu dengan hanya satu mataku.
Kau tahu,ketika kau masih sangat kecil....kau mengalami kecelakaan dan kehilangan satu matamu..
sebagai seorang ibu, aku tak tahan melihatmu tumbuh hanya dengan satu mata.

Maka aku berikan mataku untukmu. Aku sangat bangga padamu yang telah melihat seluruh dunia untukku, Di tempat ku dengan mata itu.
Aku takkan pernah marah atas kelakuanmu.

Ketika kau marah padaku....aku hanya membatin sendiri " itu karena ia mencintai ku...anakku....oh anakku
 
Yu Yuan: aku pernah datang dan aku sangat patuh​

Kisah tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kata terakhir yang ia tinggalkan adalah saya pernah datang dan saya sangat penurut.

Anak ini rela melepasakan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki danang pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dan membagi danang tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Dan dia rela melepaskan pengobatannya.

Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya.Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya. Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12.

Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, “saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan”. Kemudian papanya memberikan dia nama Yu Yan.

Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada Asi dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.

Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umurlima tahun, dia sudah membantu papa mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.

Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya di ceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.

Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia.

Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengerluarkan darah dan tidak mau berhenti. Dipahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.

Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar 300.000 $. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang kesanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit. Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.

Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir dikala kata-kata belum sempat terlontar. “Papa saya ingin mati”. Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, “Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati”. “Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini.”

Pada tanggal 18 juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri. Hari itu juga setelah pulang kerumah,Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya: “Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya lihatlah melihat foto ini”. Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudia memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.

Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yg berumur 8 tahun mengatur pemakamakannya sendiri dan akhirnya menyebar keseluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu Negara bahkan sampai keseluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang danang bagi anak ini”. Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang.

Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese didunia saja telah mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.

Setelah itu, pengumuman penggalangan danang dihentikan tetapi danang terus mengalir dari seluruh dunia. danang pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan.

Ada seorang teman di-email bahkan menulis: “Yu Yuan anakku yang tercinta saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta.”

Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. danang yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita didalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu yuan yang dari dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perermpuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.

Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, “Anak yang baik”. Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Pernah mengalami pendarahan dipencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.

Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah.

Pada tanggal 20 agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan: “Tante kenapa mereka mau menyumbang danang untuk saya? Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut. Wartawan tersebut menjawab, karena mereka semua adalah orang yang baik hati”. Yu Yuan kemudia berkata : “Tante saya juga mau menjadi orang yang baik hati”. Wartawan itupun menjawab, “Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik”. Yu yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. “Tante ini adalah surat wasiat saya.”

Fu yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan diatas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan.

Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat tante wartawan. Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Tolong,….. .. Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang- orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar. “Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari danang pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakana ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh”. Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya.

Saya pernah datang, saya sangat patuh, demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 agustus, karena pendarahan dipencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan di pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis. Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerimakenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air. Sungguh telah pergi kedunia lain.

Dikecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka citadengan karangan bunga yang ditumupuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan “Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas langit, kepakanlah kedua sayapmu. Terbanglah.. ……… ….” demikian kata-kata dari seorang pemuda tersebut.

Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.

Didepan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Diatas batu nisannya tertulis, “Aku pernah datang dan aku sangat patuh” (30 nov 1996- 22 agus 2005). Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia. Beristirahatlah gadis kecilku, nirwana akan menjadi lebih ceria dengan adanya dirimu.

Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa danang 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan danang Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.

Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut. “Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang melihat kami diatas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata “Aku pernah datang dan aku sangat patuh”.

Kesimpulan:
Demikianlah sebuah kisah yang sangat menggugah hati kita. Seorang anak kecil yang berjuang bertahan hidup dan akhirnya harus menghadapi kematian akibat sakit yang dideritanya. Dengan kepolosan dan ketulusan serta baktinya kepada orang tuanya, akhirnya mendapatkan respon yang luar biasa dari kalangan Dunia. Walaupun hidup serba kekuarangan, Dia bisa memberikan kasihnya terhadap sesama. Inilah contoh yang seharusnya kita pun mampu melakukan hal yang sama, berbuat sesuatu yang bermakna bagi sesama, memberikan sedikit kehangatan dan perhatian kepada orang yang membutuhkan. Pribadi dan hati seperti inilah yang dinamakan pribadi seorang Pengasih.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.