singthung
IndoForum Junior E
- No. Urut
- 7164
- Sejak
- 21 Sep 2006
- Pesan
- 1.634
- Nilai reaksi
- 27
- Poin
- 48
KEVADDHA SUTTA (SUTTA PITAKA DIGHANIKAYA X)
Demikianlah yang saya dengar.
Pada suatu ketika Bhagava berada di di Pavarikambavana, Nalanda. Waktu itu seorang perumah-tangga muda bernama Kevaddha pergi menemui Bhagava, ia menghormati beliau dan duduk di tempat yang telah tersedia. Setelah duduk ia berkata kepada Bhagava:
“Bhante, kota Nalanda kami ini sangat makmur dan berpengaruh, penuh dengan penduduk, banyak orang yang menjadi pengikut Bhagava. Baik sekali bilamana Bhagava memberikan perintah kepada beberapa Bhikkhu untuk mempertunjukan kekuatan batin yang melebihi kemampuan manusia biasa. Maka keyakinan penduduk Nalanda kami ini kepada Bhagava akan lebih bertambah”
Setelah ia berkata begitu, Bhagava berkata kepadanya: “Kevaddha, tetapi bukan dengan cara begitu saya mengajar para Bhikkhu: ‘Para Bhikkhu, pertunjukkanlah kekuatan batin yang melebihi kemampuan manusia biasa kepada para umat awam’”
2— Untuk kedua kali Kevaddha memohon hal yang sama kepada Bhagava, namun ia mendapat jawaban yang sama.
3— Untuk ketiga kali Kevaddha berkata kepada Bhagava: “Saya tidak bermaksud melukai kepada Bhagava. Saya hanya berkata bahwa 'Kota Nalanda kami ini sangat makmur dan berpengaruh, penuh dengan penduduk, banyak orang yang menjadi pengikut Bhagava. Baik sekali bilamana Sang Bhagava memberikan perintah kepada beberapa Bhikkhu untuk mempertunjukkan kekuatan batin yang melebihi kemampuan manusia biasa. Maka keyakinan penduduk Nalanda kami ini kepada Bhagava akan bertambah’”.
[Bhagava]: “Kevaddha, ada tiga macam keajaiban (patihariya) yang saya sendiri telah mengerti dan realisasikan, dan telah saya ajarakan kepada orang lain”.
“Apakah tiga macam keajaiban, yaitu: 'keajaiban kekuatan-batin fisik (iddhi patihariya), keajaiban kemampuan-batin mengetahui-pikiran orang lain (adesana patihariya) dan keajaiban ajaran (anusasana patihari)`”.
4— [Bhagava]: “Kevaddha, apakah yang dimaksud dengan keajaiban kekuatan-batin fisik (iddhi patihariya)?
“Kevaddha, dalam hal ini seandainya seorang Bhikkhu memiliki dan dalam berbagai cara menikmati keajaiban kekuatan-batin fisik yaitu: merubah diri dari seorang menjadi banyak; dari banyak orang menjadi seorang saja; menghilangkan diri atau sebaliknya; berjalan menembus dinding, benteng atau gunung tanpa ada hambatan; ia menyelam ke dalam dan keluar tanah bagaikan dalam air; berjalan di atas air bagaikan berjalan di atas tanah; dengan duduk bersila ia melayang di angkasa bagaikan burung terbang; menyentuh dan merasakan bulan dan matahari yang perkasa dengan tangannya; dengan tubuhnya ia dapat mengunjungi alam-alam dewa Brahma. Mereka yang melihat itu percaya dan yakin ia melakukannya”.
5— [Selanjutnya Bhagava berkata] “Mereka yang berkeyakinan harus menyatakan fakta kepada yang tak berkeyakinan, dengan berkata: ‘Saudara-saudara, mengagumkan dan menakjubkan kekuatan dan kemampuan seorang Bhikkhu yang memiliki keajaiban-batin fisik. Karena saya sendiri melihat Bhikkhu itu dalam berbagai cara menikmati keajaiban kekuatan-batin fisik, yaitu: merubah diri dari seorang menjadi banyak; dari banyak orang menjadi seorang saja; meng-hilangkan diri atau sebaliknya; berjalan menembus dinding, benteng atau gunung tanpa ada hambatan; ia menyelam ke dalam dan keluar tanah bagaikan dalam air; berjalan di atas air bagaikan berjalan di atas tanah; dengan duduk bersila ia melayang di angkasa bagaikan burung terbang; menyentuh dan merasakan bulan dan matahari yang perkasa dengan tangannya; dengan tubuhnya ia dapat mengunjungi alam-alam dewa Brahma’”.
[Bhagava]: “Mungkin orang tak berkeyakinan itu akan mengatakan: ‘Saudara, namun ada mantra Gandhari. Berdasarkan pada kemanjuran mantra itu maka Bhikkhu itu dalam berbagai cara menikmati keajaiban kekuatan-batin fisik, yaitu: merubah diri dari seorang menjadi banyak; dari banyak orang menjadi seorang saja; menghilangkan diri atau sebaliknya; berjalan menembus dinding, benteng atau gunung tanpa ada hambatan; ia menyelam ke dalam dan keluar tanah bagaikan dalam air; berjalan di atas air bagaikan berjalan di atas tanah; dengan duduk bersila ia melayang di angkasa bagaikan burung terbang; menyentuh dan merasakan bulan dan matahari yang perkasa dengan tangannya; dengan tubuhnya ia dapat mengunjungi alam-alam dewa Brahma’”.
“Kevaddha, bagaimana pendapatmu? Mungkinkan orang tak berkeyakinan berkata begitu?”
[Kevaddha]: “Bhante, ia akan mengatakan itu”.
[Bhagava]: ‘Kevaddha, baiklah. Karena saya melihat bahaya dalam mempraktikkan keajaiban kekuatan-batin fisik, maka saya enggan, bosan dan malu melakukannya.’
6— [Bhagava]: “Kevaddha, apakah yang dimaksud dengan keajaiban kemampuan-batin mengetahui pikiran orang lain (adesana-patihariya)?”
[Selanjutnya Bhagava menjelaskan ]: “Kevaddha, dalam hal ini seorang Bhikkhu mengetahui isi hati nurani dan perasaan, pikiran dan pendapat makhluk-makhluk lain atau orang-orang lain, dengan berkata: ‘Pikiran anda begini dan begitu. Anda sedang berpikir tentang hal ini dan itu. Perasaan anda begini dan begitu.’ Orang-orang yang berkeyakinan dan percaya melihatnya berbuat seperti itu.”
7— [Bhagava]: ”Orang yang berkeyakinan harus menyatakan fakta kepada orang tak berkeyakinan, dengan berkata: ‘Saudara-saudara, mengagumkan dan menakjubkan kekuatan dan kemampuan seorang Bhikkhu yang memiliki keajaiban kemampuan-batin mengetahi pikiran orang lain’. Karena saya sendiri melihat Bhikkhu itu mengetahui perasaan-perasaan, pikiran-pikiran dan pendapat-pendapat makhluk-makhluk lain dan orang-orang lain, dengan berkata: ‘Pikiran anda begini dan begitu. Anda sedang berpikir tentang hal ini dan itu. Perasaan anda begini dan begitu. Mungkin orang tak berkeyakinan itu akan mengatakan: ‘Saudara, namun ada mantra Manika. Berdasarkan pada kemanjuran mantra itu maka Bhikkhu itu mempunyai kemampuan untuk mengetahui isi pikiran makhluk-makhluk lain atau orang-orang lain.’
‘Kevaddha, bagaimana pendapatmu? Mungkinkan orang tak berkeyakinan berkata begitu?’
[Kevaddha]: “Bhante, ia akan mengatakan itu.”
[Bhagava]: “Kevaddha, baiklah. Karena saya melihat bahaya dalam mempraktikkan keajaiban memampuan-batin mengetahui pikiran orang lain, maka saya enggan, bosan dan malu melakukannya”.
8— [Bhagava]: “Kevaddha, apa yang dimaksud dengan keajaiban ajaran (anusasana-patihariya)?’
‘Kevaddha, misalnya seorang Bhikkhu mengajar: ‘Berpikirlah seperti ini, dan jangan berpikir seperti itu. Berpikiranlah yang jernih seperti ini, jangan berpikiran tidak jernih seperti itu. Lenyapkanlah hal-hal ini, latihlah diri anda seperti ini, dan tetap melakukannya seperti ini. ‘Kevaddha inilah yang dimaksud dengan keajaiban ajaran.’
9(40)— ’Kevaddha , seandainya di dunia ini muncul seorang Tathagata, Yang Maha Suci, Yang Telah mencapai Penerangan Sempurna, sempurna pengetahuan serta tindak tanduknya, sempurna menempuh Jalan, Pengenal segenap alam, Pembimbing yang tiada tara bagi mereka yang bersedia untuk dibimbing, Guru para dewa dan manusia, Yang sadar, Yang Patut dimuliakan. Beliau mengajarkan pengetahuan yang telah diperoleh melalui usahanya sendiri kepada orang-orang lain, dalam dunia ini yang meliputi para dewa, dan manusia, Yang Sadar, Yang Patut dimuliakan. Beliau mengajarkan pengetahuan yang telah di peroleh melalui usahanya sendiri kepada orang lain, dalam dunia ini yang meliputi para dewa, mara dan Brahmanya; para petapa, Brahmana, raja beserta rakyatnya. Beliau mengajarkan kebenaran (Dhamma) yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan, indah pada akhir dalam isi maupun bahasanya. Beliau mengajarkan penghidupan suci (Brahmacariya) yang sempurna dan suci.
10(41)— “Kemudian, seorang yang berkeluarga atau salah seorang dari anak-anaknya atau seorang dari keturunan keluarga rendah datang mendengarkan Dhamma itu, dan setelah mendengar-nya ia memperoleh keyakinan terhadap Sang Tathagata. Setelah ia memiliki keyakinan itu, timbullah perenungan ini dalam dirinya: ‘sesungguhnya, hidup berkeluarga itu penuh dengan rintangan, jalan yang penuh dengan kekotoran nafsu. Bebas seperti udara bagi seorang yang hidup berkeluarga untuk menempuh hidup Brahmacariya secara sungguh-sungguh, suci serta dalam seluruh kegemilangan kesem-purnaannya. Maka, biarlah aku mencukur rambut dan janggut-ku, mengenakan jubah kuning dan meninggalkan hidup keluarga untuk menempuh hidup pabbajja.
11(42)— “Setelah menjadi Bhikkhu, ia hidup mengendalikan diri sesuai dengan peraturan-peraturan Bhikkhu (patimokkha), sempurna kelakuan dan latihannya, dapat melihat bahaya dalam kesalahan-kesalahannya, dapat melihat bahaya dalam kesalahan-kesalahan yang paling kecil sekalipun. Ia menyesuaikan dan melatih dirinya dalam peraturan-peraturan. Menyempurnakan perbuatan-perbuatan dan ucapannya. Suci dalam cara hidupnya, sempurna silanya, terjaga pintu-pintu inderanya. Ia memiliki perhatian-perhatian seksama dan pengertian jelas (sati sampajjana); dan hidup puas”
(12)43— “Kevaddha, bagaimanakah seorang Bhikkhu yang sempurna silanya? Kevaddha, dalam hal ini seorang Bhikkhu [menjalankan sila]:
‘menjauhi pembunuhan’,
‘menahan diri dari pembunuhan mahkluk-makhluk’.
‘Setelah membuang alat pemukul dan pedang, malu dengan perbuatan kasar’;
‘ia hidup dengan penuh cinta kasih, kasih sayang dan bajik terhadap semua makhluk, semua yang hidup’,
‘inilah sila yang dimilikinya’,
‘Menjauhi pencurian’,
‘menahan diri dari memiliki apa yang tidak diberikan’,
‘ia hanya mengambil apa yang tidak diberikan’,
‘ia hanya mengambil apa yang diberikan dan ’,
‘tergantung pada pemberian’,
‘ia hidup jujur dan suci’,
‘Inilah sila yang dimilikinya’,
‘Menjauhi hubungan kelamin’,
‘menjalankan penghidupan suci atau selibat (Brahmacariya) ’,
‘ia menahan diri dari perbuatan-perbuatan rendah dan hubungan kelamin’,
‘Inilah sila yang dimilikinya’.
(13)44— ’Menjauhi kedustaan’,
‘menahan diri dari dusta’,
‘ia berbicara benar’,
‘tidak menyimpang dari kebenaran’,
‘jujur dan dapat dipercaya’,
‘serta tidak mengingkari kata-katanya sendiri di dunia’,
‘Menjauhi ucapan fitnah’,
‘menahan diri dari memfitnah’,
‘apa yang ia dengar di sini tidak akan diceritakannya di tempat lain sehingga menyebabkan pertentangan dengan orang-orang di sini’,
‘Apa yang ia dengar di tempat lain tidak akan diceritakannya di sini sehingga menyebabkan pertentangan dengan orang-orang di sana’,
‘Ia hidup menyatukan mereka yang terpecah-belah’,
‘pemersatu dan mencintai persatuan’,
‘mendambakan persatuan; persatuan merupakan tujuan pembicaraannya’,
‘Inilah sila yang dimilikinya’,
‘Menjauhi ucapan kasar’,
‘menahan diri dari penggunaan kata-kata kasar; ia hanya mengucapkan kata-kata yang tidak tercela, menyenangkan, menarik, berkenan di hati, sopan, enak didengar dan disenangi orang’,
‘Inilah sila yang dimilikinya
‘Menjauhi pembicaraan sia-sia’,
‘menahan diri dari percakapan yang tidak bermanfaat’,
‘ia berbicara pada saat yang tepat’,
‘sesuai dengan kenyataan, berguna, tentang Dhamma dan vinaya’,
‘Pada saat yang tepat, ia mengucapkan kata-kata yang berharga untuk didengar, penuh dengan gambaran yang tepat, memberikan uraian yang jelas dan tidak berbelit-belit. Inilah yang dimilikinya’,
(14)45— ‘Ia menahan diri untuk tidak merusak benih-benih dan tumbuh-tumbuhan’,
‘Ia makan sehari sekali’,
‘tidak makan setelah tengah hari’,
‘Ia menahan diri dari menonton pertunjukkan-pertunjukkan’,
‘tari-tarian, nyanyian dan musik.
Ia menahan dari penggunaan alat-alat kosmetik’,
‘karangan-karangan bunga, wangi-wangian dan perhiasan-perhiasan’,
‘Ia menahan diri dari penggunaan tempat tidur yang besar dan mewah. ’,
‘Ia menahan diri dari menerima emas dan perak’,
‘Ia menahan diri dari menerima gandum (padi) yang belum dimasak. Ia menahan diri dari menerima daging yang belum dimasak’,
‘Ia menahan diri dari menerima wanita dan perempuan-perempuan muda’,
‘Ia menahan diri dari menerima budak belian lelaki dan budak belian perempuan’,
‘Ia menahan diri dari menerima biri-biri atau kambing, Ia menahan diri dari menerima bagi dan unggas’,
‘Ia menahan diri dari menerima gajah, sapi dan kuda’,
‘Ia menahan diri dari menerima tanah-tanah pertanian’,
‘Ia menahan diri dari menipu dengan timbangan, mata uang maupun ukuran-ukuran’,
‘Ia menahan diri dari perbuatan menyogok, menipu dan penggelapan’,
‘Ia menahan diri dari perbuatan melukai, membunuh, memperbudak, merampok, menodong dan menganiaya. Inilah sila yang dimilikinya’,
(15)46— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih merusak bermacam-macam benih dan tumbuhan, seperti: tumbuhan yang berkembang biak dari akar-akaran, tumbuhan yang berkembang biak dari tetangkaian, tumbuhan yang berkembang biak dari ruas-ruas atau tumbuhan yang berkembang biak dari kecambah-kecambahan; namun, seorang Bhikkhu menahan diri dari merusak bermacam-macam benih dan tumbuhan. Inilah sila yang dimilikinya’
(16)47— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mempergunakan barang-barang yang ditimbun, simpanan, seperti: bahan makanan simpanan, minuman simpanan, jubah simpanan, perkakas-perkakas simpanan, bumbu makanan simpanan; namun, seorang Bhikkhu menahan diri dari menggunakan barang-barang yang ditimbun semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
(17)48— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih menonton aneka macam pertunjukkan, seperti:
‘tari-tarian, nyanyian-nyanyian musik, pertunjukkan panggung, opera, musik yang diiringi dengan tepuk tangan, pembacaan deklamasi, permainan tambur, drama kesenian, permainan akrobat di atas galah, adu gajah, adu kuda, adu sapi, adu banteng, pertandingan tinju, pertandingan gulat, perang perangan, pawai, inspeksi, parade;
‘namun seorang Bhikkhu menahan diri dari menonton aneka macam pertunjukkan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
(18)49-- ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terikat dengan aneka macam permainan dan rekreasi, seperti:
‘permianan catur dengan papan berpetak delapan baris’,
‘permainan catur dengan papan berpetak sepuluh baris’,
‘permainan dengan membayangkan papan catur tersebut di udara’,
‘permainan melangkah satu kali pada diagram yang digariskan di atas tanah’,
‘permainan dengan cara memindahkan benda-benda atau orang dari satu tempat ke lain tempat tanpa menggoncang-kannya’,
‘permainan lempar dadu’,
‘permainan memukul kayu pendek dengan menggunakan kayu panjang’,
‘permainan mencelup tangan ke dalam air berwarna dan menempelkan telapak tangan ke dinding’,
‘permainan bola’,
‘permainan meniup sempritan yang dibuat dari daun palem’,
‘permainan meluku dengan bajak mainan’,
‘permainan jungkir balik (salto) ’,
‘permainan dengan kitiran yang dibuat dari daun palem’,
‘bermain dengan timbangan mainan yang dibuat dari daun palem’,
‘bermain dengan kereta perang mainan’,
‘bermain dengan panah-panah mainan’,
‘menebak tulisan-tulisan yang digoreskan di udara atau pada punggung seseorang’,
‘menebak pikiran teman bermain’,
‘seorang Bhikkhu menahan diri dari aneka macam permainan dan rekreasi semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’
(19)50— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mempergunakan aneka macam tempat tidur yang besar dan mewah, seperti:
‘dipan tinggi yang dapat dipindah-pindahkan yang panjangnya enam kaki’,
‘dipan dengan tiang-tiang berukiran gambar binatang-binatang’,
‘seprei dari bulu kambing atau bulu domba yang tebal’,
‘seprei dengan bordiran warna warni’,
‘selimut putih’,
‘seprei dari wol yang disulam dengan motif bunga-bunga’,
‘selimut yang diisi dengan kapas dan wol’,
‘seprei yang disulam dengan gambar harimau dan singa’,
‘seprei dengan bulu binatang pada kedua tepinya’,
‘seprei dengan bulu binatang pada salah satu tepinya’,
‘seprei dengan sulaman permen mata’,
‘seprei dari sutra’,
‘selimut yang dapat dipergunakan oleh enam belas orang’,
‘selimut gajah’,
‘selimut kuda atau selimut kereta’,
‘selimut kulit kijang yang dijahi’,
‘selimut dari kulit sebangsa kijang’,
‘permadani dengan tutup kepala dan kaki’,
‘namun seorang Bhikkhu menahan diri untuk tidak mempergunakan aneka macam tempat tidur yang besar dan mewah semacam itu’.
‘Inilah sila yang dimilikinya.’
(20)51— “Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih memakai perhiasan-perhiasan dan alat-alat memper-indah diri, seperti:
‘melumuri, mencuci dan menggosok tubuhnya dengan bedak wangi’,
‘memukuli tubuhnya dengan tongkat perlahan-lahan seperti ahli gulat’,
‘memakai kaca’,
‘memakai minyak mata (bukan obat) ’,
‘memakai bunga-bunga’,
‘memakai pemerah pipi, kosmetika, gelang, kalung’,
‘memakai tongkat jalan (untuk bergaya) ’,
‘memakai tabung bambu untuk menyimpan obat, pedang’,
‘memakai alat penahan sinar matahari’,
‘memakai sandal bersulam’,
‘memakai sorban’,
‘memakai perhiasan dahi’,
‘memakai sikat dari ekor binatang yak’,
‘memakai jubah putih panjang yang banyak lipatannya;
‘namun, seorang Bhikkhu menahan diri dari pemakaian perhiasan-perhiasan dan alat-alat memperindah diri semacam itu.
Inilah sila yang dimilikinya’.
(21)52— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terlibat dalam percakapan-percakapan yang rendah, seperti:
‘percakapan tentang raja-raja’,
‘percakapan tentang mencuri’,
‘percakapan tentang menteri-menteri’,
‘percakapan tentang angkatan-angkatan perang’,
‘percakapan tentang pembunuhan-pembunuhan’,
‘percakapan tentang pertempuran pertempuran’,
‘percakapan tentang makanan’,
‘percakapan tentang minuman’,
‘percakapan tentang pakaian’,
‘percakapan tentang tempat tidur’,
‘percakapan tentang karangan-karangan bunga’,
‘percakapan tentang wangi-wangian’,
‘pembicaraan-pembicaraan tentang keluarga’,
‘percakapan tentang kendaraan’,
‘percakapan tentang desa’,
‘percakapan tentang kampung’,
‘percakapan tentang kota’,
‘percakapan tentang negara’,
‘percapakan tentang wanita’,
‘percakapan tentang lelaki’,
‘percakapan di sudut-sudut jalanan’,
‘percakapan tentang hantu-hantu jaman dahulu’,
‘percakapan yang tidak ada ujung pangkalnya’,
‘spekulasi tentang terciptanya daratan’,
‘spekulasi tentang terciptanya lautan’,
‘percakapan tentang perwujudan dan bukan perwujudan (eksistensi dan non eksistensi);
‘namun seorang Bhikkhu menahan diri dari percakapan-percakapan yang rendah semacam itu.
Inilah sila yang dimilikinya.
(22)53— ‘Meskipun beberapa petapa Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terlibat dalam kata-kata perdebatan, seperti:
‘Bagaimana seharusnya engkau mengerti Dhamma Vinaya ini?’
‘Engkau menganut pandangan-pandangan keliru, tetapi aku menganut pandangan-pandangan benar’,
‘Aku berbicara langsung pada pokok persoalan, tetapi engkau tidak berbicara langsung pada pokok persoalan’,
‘Engkau membicarakan di bagian akhir tentang apa yang seharusnya dibicarakan di bagian permulaan; dan membicarakan di bagian permulaan tentang apa yang seharusnya dibicarakan di bagian akhir’,
‘Apa yang lama telah engkau persiapkan untuk dibicarakan, semuanya itu telah usang’,
‘Kata-kata bantahanmu itu telah ditentang, dan engkau ternyata salah’,
‘Berusahalah untuk menjernihkan pandangan-pandanganmu; namun’,
‘seorang Bhikkhu menahan diri dari kata-kata perdebatan semacam itu’,
‘Inilah sila yang dimilikinya’.
(23)54— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih berlaku sebagai pembawa berita, pesuruh dan bertindak sebagai perantara dari raja-raja, menteri-menteri negara, kesatria, Brahmana,orang berkeluarga atau pemuda-pemuda,yang berkata: “Pergilah ke sana, pergilah ke situ, bawalah ini, ambilkan itu dari sana’; namun, seorang Bhikkhu menahan diri dari tugas-tugas sebagai pembawa berita, pesuruh dan perantara semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.’
(24)55— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih melakukan tindakan-tindakan penipuan dengan cara: merapalkan kata-kata suci, meramal tanda-tanda dan mengusir dengan tujuan memperoleh keuntungan setelah memperlihatkan sedikit kemampuannya; namun seorang Bhikkhu menahan diri dari tindakan-tindakan penipuan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.’
(25)56— “Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disedikan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti:
‘meramal dengan melihat guratan-guratan tangan’,
‘meramal melalui tanda-tanda dan alamat-alamat’,
‘menujumkan sesuatu dari halilintar atau keanehan-keanehan benda langit lainnya’,
‘meramal dengan mengartikan mimpi-mimpi’,
‘meramal dengan melihat tanda-tanda pada bagian tubuh’,
‘meramal dari tanda-tanda pada pakaian yang digigit tikus’,
‘mengadakan korban pada api’,
‘mengadakan selamatan yang dituang dari sendok’,
‘memberikan persembahan dengan sekam untuk dewa-dewa’,
‘memberikan persembahan dengan bekatul untuk dewa-dewa’,
‘memberikan persembahan dengan mentega untuk dewa-dewa’,
‘memberikan persembahan dengan minyak untuk dewa’,
‘mempersembahkan biji wijen dengan menyemburkannya dari mulut ke api’,
‘mengeluarkan darah dari lutut kanan sebagai tanda persembahan kepada dewa-dewa’,
‘melihat dan meramalkan apakah orang itu mujur, beruntung atau sial’,
‘menentukan apakah letak rumah itu baik atau tidak’,
‘menasehati cara-cara pengukuran tanah’,
‘mengusir setan-setan di kuburan’,
‘mengusir hantu’,
‘[menggunakan] mantra untuk menempati rumah yang dibuat dari tanah’,
‘[menggunakan] mantra untuk kelajengking’,
‘[menggunakan] mantra tikus’,
‘[menggunakan] mantra burung’,
‘[menggunakan] mantra burung gagak’,
‘[menggunakan] meramal umur’,
‘[menggunakan] mantra melepas panah’,
‘[memamerkan] keahlian untuk mengerti bahasa binatang;
‘namun seorang Bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-limu rendah semacam itu’.
Inilah sila yang dimilikinya”.
(26)57— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti:
‘pengetahuan tentang tanda-tanda atau alamat-alamat baik atau buruk dari benda-benda, yang menyatakan kesehatan atau keberuntungan dari pemiliknya, seperti: batu-batu permen mata, tongkat, pedang, panah, busur, senjata-senjata lainnya; wanita, laki-laki, anak lelaki, anak perempuan, budak lelaki, budak perempuan gajah, kuda, kerbau , sapi jantan, sapi betina, burung nasar, kura-kura, dan binatang-binatang lainnya’,
‘namun, seorang Bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu’.
‘Inilah sila yang dimilikinya.’
(27)58— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramal dengan akibat: pemimpin akan maju, pemimpin akan mundur, pemimpin kita akan menyerang dan musuh-musuh akan mundur, pemimpin musuh akan menyerang dan pemimpin kita akan mundur, pemimpin kita akan menang dan pemimpin musuh akan kalah, pemimpin musuh akan menang dan pemimpin kita akan kalah; jadi kemenangan ada di pihak ini dan kekalahan ada di pihak itu;
‘namun seorang Bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu.
Inilah sila yang dimilikinya.
(28)59— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramalkan adanya gerhana bulan, gerhana matahari, gerhana bintang, matahari atau bulan akan menyimpang dari garis edarnya, matahari atau bulan akan kembali pada garis edarnya, adanya bintang yang menyimpang dari garis edahnya, bintang akan kembali pada garis edarnya, meteor jatuh, hutan terbakar, gempa bumi, halilintar, matahari, bulan dan bintang akan terbit, terbenam, bersinar dan suram; atau meramalkan lima belas gejala tersebut akan terjadi yang akan mengakibatkan sesuatu’;
‘namun seorang Bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu rendah semacam itu.
Inilah sila yang dimilikinya.’
(29)60— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramalkan turun hujan yang berlimpah-limpah, turun hujan yang tidak mencukupi, hasil panen yang baik, masa paceklik (kekurangan bahan makanan), keadaan damai, keadaan kacau, akan terjadi wabah sampar, musim baik; meramal dengan menghitung jari, tanpa menghitung jari; ilmu menghitung jumlah besar, menyusun lagu, sajak, nyanyian rakyat yang popular dan ada kebiasaan’;
‘namun, seorang Bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu’.
‘Inilah sila yang dimilikinya’.
(30)61— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti:
‘mengatur hari baik bagi mempelai pria atau wanita untuk dibawa pulang’,
‘mengatur hari baik baik mempelai pria atau wanita untuk dikirim pergi’,
‘menentukan saat baik untuk menentukan perjanjian damai (atau mengikat persaudaraan dengan menggunakan mantra) ’,
‘menentukan saat yang baik untuk meletuskan permusuhan’,
‘menentukan saat baik untuk menagih hutang’,
‘menentukan saat baik untuk memberi pinjaman’,
‘menggunakan mantra untuk membuat orang beruntung’,
‘menggunakan mantra untuk membuat orang sial’,
‘menggunakan mantra untuk menggugurkan kandungan’,
‘menggunakan mantra untuk mendiamkan rahang seseorang’,
‘menggunakan mantra untuk membuat orang lain mengangkat tangannya’,
‘menggunakan mantra untuk menimbulkan ketulian’,
‘mencari jawaban dengan melihat-lihat kaca ajaib’,
‘mencari jawaban melalui seorang gadis yang kerasukan’,
‘mencari jawaban dari dewa’,
‘memuja matahari memuja maha ibu (dewa tanah) ’,
‘mengeluarkan api dari mulut, memohon kepada dewi Sri atau dewi keberuntungan’,
‘namun, seorang Bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu’.
‘Inilah sila yang dimilikinya’.
(31)62— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti:
‘berjanji akan memberikan persembahan-persembahan kepada para dewa apabila keinginan nya terkabul’,
‘melaksanakan janji-janji semacam itu’,
‘mengucapkan mantra untuk menempati rumah yang dibuat dari tanah’,
‘mengucapkan mantra untuk menimbulkan kejantanan’,
‘mengucapkan mantrea untuk membuat pria menjadi impotent’,
‘menentukan letak yang tepat untuk membangun rumah’,
‘mengucapkan mantra untuk membersihkan tempat’,
‘melakukan upacara pembersihan mulut’,
‘melakukan upacara mandi’,
‘mempersembahkan korban’,
‘memberikan obat bersin untuk mengobat sakit kepala’,
‘meminyaki telinga orang lain’,
‘merawat mata mata orang’,
‘memberikan obat melalui hidung’,
‘memberi collyrium (minyak mata bukan obat) di mata’,
‘memberikan obat tetes pada mata’,
‘menjalankan praktek sebagai okultis’,
‘menjalankan praktek sebagai dokter anak-anak’,
‘meramu obat-obatan dari bahan-bahan akar-akaran’,
‘membuat obat-obatan’;
‘namun seorang Bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu’,
‘Inilah sila yang dimilikinya’.
(32)63— ’Kevaddha, selanjutnya seorang Bhikkhu yang sempurna silanya, tidak melihat adanya bahaya dari sudut mana pun sejauh berkenan dengan pengendalian terhadap sila’,
‘Kevaddha, sama seperti seorang kesatria yang patut dinobatkan menjadi raja, yang musuh-musuh telah di kalahkan, tidak melihat bahaya dari sudut mana pun sejauh berkenaan dengan musuh-musuh; demikian pula, seorang Bhikkhu yang sempurna silanya, tidak melihat bahaya dari sudut mana pun sejauh berkenaan dengan pengendalian-sila.
‘Dengan memiliki kelompok sila yang mulia ini, dirinya merasakan suatu kebahagiaan murni (anavajja sukkham). Kevaddha, demikianlah seorang Bhikkhu yang memiliki sila sempurna”.