• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Kerancuan Pandangan Mengenai Lenyapnya Ajaran

singthung

IndoForum Junior E
No. Urut
7164
Sejak
21 Sep 2006
Pesan
1.634
Nilai reaksi
27
Poin
48
Kerancuan Pandangan Mengenai Lenyapnya Ajaran




Pada salah satu kotbahnya Sang Buddha Gotama menyatakan bahwa dalam proses berakhirnya era Beliau selama 5000 tahun ini akan ada lima kelenyapan, yaitu: lenyapnya pencapaian tingkat kesucian, lenyapnya Ajaran, lenyapnya pelaksanaan benar, lenyapnya simbol/bentuk luar, dan terakhir lenyapnya Relik.

Lenyapnya Ajaran berarti lenyapnya Tipitaka secara berangsur sampai tidak ada lagi orang yang mampu mengingat bahkan empat syair Ajaran Para Buddha. Tetapi selama Tipitaka masih ada secara utuh bersama kita maka kelenyapan Ajaran belum terjadi walaupun pada kenyataannya sekarang ini Dhamma-Dhamma palsu sudah mulai banyak bermunculan menjamur dan mewabah di berbagai belahan dunia memanfaatkan kesempatan dari kebodohan batin manusia yang semakin tebal. Pada saatnya nanti ketika Ajaran telah lenyap tentu saja Dhamma yang sejati tidak mungkin lagi dapat ditemukan dan pada waktu itu hanya Dhamma-Dhamma palsu dan semua ajaran yang bukan Dhamma yang dapat ditemukan. Inilah kesimpulan kita mengenai lenyapnya Ajaran.

Bertentangan dengan kesimpulan itu ada sekelompok orang yang membentuk intepretasi mereka sendiri sebagai berikut: Dhamma yang sejati tidak akan lenyap dari dunia sampai munculnya Dhamma yang palsu menggantikannya. Ketika Dhamma palsu muncul maka itulah waktunya Dhamma yang sejati lenyap." Jadi menurut mereka sekarang Dhamma yang sejati sudah tidak ada lagi karena sudah banyak Dhamma palsu menjamur di seluruh belahan dunia. Ini adalah salah satu bentuk kerancuan pandangan yang perlu diluruskan.

Ajaran Buddha yang sejati bukan lenyap karena ajaran palsu muncul dan menggantikannya melainkan karena memang masa berlakunya sudah berakhir. Ajaran yang sejati dan ajaran yang palsu bisa saja eksis dalam kurun waktu bersamaan seperti yang sekarang tengah terjadi. Jadi jelas sekarang bahwa karena Tipitaka masih ada dalam bentuknya yang utuh maka artinya Dhamma sejati belum lenyap walaupun ada banyak Dhamma palsu di mana-mana. Ini hanyalah merupakan bagian dari pertanda proses lenyapnya Dhamma secara berangsur. Ketika tiba waktunya nanti Dhamma yang sejati lenyap maka otomatis tidak ada lagi Dhamma sejati yang dapat ditemukan manusia, tentunya yang bisa ditemukan hanyalah Dhamma palsu.

Kerancuan Pandangan Mengenai Datangnya Buddha Metteya

Bagi siapa saja yang mengerti arti dari kata Sammasambuddha akan merasa sangat janggal bila diminta untuk percaya bahwa Buddha Metteya lengkap dengan ciri-cirinya telah lahir di bumi ini di antara kita dengan nama lain sekitar satu abad sebelum tahun 1943. (catatan: tanggal 1 Agustus 1943 tengah hari dihitung sebagai akhir dari sistem penanggalan Kali Yuga). Tetapi ternyata ada saja sekelompok orang yang percaya demikian. Mereka bisa berpandangan demikian tentunya karena mengambil sebagian dari isi kotbah tersebut dan mengabaikan sisanya, kemudian direka-reka sesuai dengan perhitungan dan perkiraan mereka sendiri, padahal seharusnya isi dari kotbah merupakan satu kesatuan jalan cerita. Ini juga salah satu pandangan yang perlu diluruskan.

Sama seperti empat Sammasambuddha yang telah muncul di bumi yang ini, Buddha Metteya adalah juga Sammasambuddha yang berarti Buddha yang mencapai Penerangan Sempurna dengan upaya sendiri tanpa bantuan makhluk lain kemudian membabarkan Dhamma kepada manusia dan dewa. Dengan demikian berarti selama Ajaran dari Sammasambuddha terdahulu masih eksis maka tidak akan mungkin muncul Sammasambuddha baru. Mengapa? Tentu saja karena bila Ajaran dari Buddha yang terdahulu masih eksis maka tidak perlu bagi calon Sammasambuddha yang bersangkutan untuk bersusah payah menemukan kembali Dhamma dengan upaya sendiri. Beliau cukup pergi ke perpustakaan lalu membaca kitab Tipitaka yang masih utuh dan lengkap atau pergi kepada bhikkhu suci yang masih hidup untuk belajar. Dan bila sekalipun kemudian calon Sammasambuddha itu mencapai tingkat kesucian tertinggi setelah membaca dan memahami Tipitaka maka Beliau tidak dapat disebut sebagai Sammasambuddha melainkan disebut sebagai Arahat Savaka Buddha yang artinya Orang yang mencapai tingkat Arahat karena belajar dari Ajaran Buddha. Jadi kesimpulannya Sammasambuddha hanya mungkin muncul pada saat dunia hampa dari Ajaran Buddha.

Mereka yang percaya bahwa Buddha Metteya telah lahir di antara kita adalah orang-orang yang sama yang percaya bahwa Ajaran Buddha sekarang ini telah lenyap total digantikan dengan Dhamma palsu. Mereka melihat semua gejala-gejala yang terjadi di dunia sekarang ini adalah sama dengan yang digambarkan oleh Sang Buddha dalam khotbahnya mengenai kehancuran moralitas seiring dengan semakin pendeknya usia manusia.

Pada kenyataannya memang benar bahwa sekarang banyak terjadi bencana alam, perang, pembantaian, wabah penyakit, kekurangan pangan, kemiskinan, kekerasan, pencurian, pembunuhan, dusta, fitnah, kata-kata kasar, membual, iri hati, dendam, pandangan sesat, berzinah dengan saudara sendiri (incest), keserakahan, pemuasan nafsu, kurang patuh pada orangtua, petapa, orangtua, dan pemimpin masyarakat. Memang benar Dhamma palsu banyak bermunculan. Memang benar Ajaran Buddha yang sejati semakin memudar. Memang benar semakin banyak orang berjubah bhikkhu yang melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan Vinaya. Memang benar relik ada yang berpindah tempat. Tetapi ini semua bukan otomatis berarti bahwa Dhamma sejati telah lenyap melainkan hanya merupakan bagian dari pertanda proses menuju akhir dari era ajaran Buddha Gotama sesuai dengan apa yang digambarkan dalam khotbah Beliau. Kemerosotan moral itu semakin hari akan semakin meningkat dari segi kwalitas, kwantitas dan intensitasnya sampai satu waktu mencapai titik puncak kebobrokan dari segala segi di mana manusia tidak mungkin bisa lebih bobrok lagi daripada itu.

Jadi sekali lagi hendaknya kita pahami bahwa sekarang Tipitaka masih utuh, berarti Ajaran Buddha belum lenyap jadi tidak mungkin Buddha Metteya sudah muncul. Apalagi dalam kotbah disebutkan bahwa kemunculan Buddha Metteya adalah pada waktu usia manusia rata rata 80.000 tahun sedangkan usia rata-rata manusia pada zaman sekarang hanya puluhan tahun saja dan semakin memendek dari waktu ke waktu dari generasi ke generasi. Artinya sekarang ini adalah periode menuju titik terendah usia manusia, yaitu 10 tahun. Setelah menyentuh titik balik terendah maka siklus usia manusia kembali bertambah secara berangsur menuju ke 80.000 tahun.

Kerancuan Sikap Mental Terhadap Buddha yang Akan Datang

Munculnya Buddha yang akan datang bernama Buddha Metteya adalah hal yang tidak perlu diperdebatkan oleh semua yang mengaku siswa Sang Buddha karena peristiwa itu memang pernah dinyatakan langsung oleh Sang Buddha Gotama sendiri. Kapan waktunya Beliau akan muncul juga tidak perlu dipersoalkan karena tentunya ketika masanya tiba dan kondisinya sesuai Beliau akan muncul. Yang penting mulai sekarang kita terus berupaya menyempurnakan Parami mumpung Ajaran Buddha Gotama masih tersedia agar kelak bisa lahir kembali dan meneruskan perjuangan dalam era Buddha Metteya seandainya kita tidak berhasil merealisasikan Tujuan Akhir dalam era Buddha yang sekarang ini.

Yang perlu diluruskan hanyalah sikap mental yang keliru sehubungan dengan penantian kemunculan Buddha Metteya. Sikap mental dan pandangan yang bagaimanakah yang dianggap keliru?

Pertama adalah pandangan bahwa era Buddha Gotama sudah berakhir bersamaan dengan Beliau Parinibbana sehingga Ajaran Beliau dianggap sudah basi, tidak relevan lagi di zaman sekarang. Dan karena era Buddha Gotama dianggap telah berakhir maka otomatis sekarang dipercaya sebagai era Buddha selanjutnya yaitu Buddha Metteya. Padahal mereka juga mengetahui dengan jelas bahwa Buddha Metteya belum lahir.

Sebetulnya ada kontroversi di dalam pandangan itu sendiri yaitu Buddha yang belum lahir dengan Ajaran yang sudah muncul. Suatu Ajaran disebut sebagai Ajaran Buddha tentu saja karena pertama kalinya diajarkan oleh Sammasambuddha sebagai penemu kembali Dhamma yang telah hilang lenyap di antara manusia dan dewa. Jadi Ajaran Buddha pastilah bukan ajaran manapun yang ditemukan dan diajarkan pertama kalinya oleh siapapun yang bukan Sammasambuddha. Jadi bila Buddha yang akan datang belum lahir otomatis berarti Ajaran Beliau pasti juga belum ada. Ini adalah logikanya.

Kedua adalah sikap mental terhadap Buddha yang akan datang. Karena menganggap Buddha Gotama sudah tidak punya kekuatan lagi maka yang menjadi sasaran permintaan dan permohonan tentunya adalah calon pengganti Beliau, yaitu Buddha Metteya. Kemunculan Buddha Metteya nanti digambarkan dan diharapkan sebagai juru selamat yang misinya membawa serta para pengikutnya mencapai Nibbana yang notabene diartikan sebagai kehidupan kekal dalam kebahagiaan abadi. Kata membawa serta ke Nibbana di sini cenderung diartikan seperti seorang ayah yang mengajak anak-anak kesayangannya pergi jalan-jalan ke mal. Atau juga seperti korban gempa yang menunggu dievakuasi ke tempat yang aman oleh tim penyelamat.

Berdasarkan kepercayaan itu maka dalam masa penantian ini orang yang bersangkutan akan melakukan puji dan puja kepada Buddha Metteya yang disertai permohonan agar Beliau tidak lupa membawa serta dirinya serta keluarganya ke Nibbana. Malahan untuk lebih memastikan nama orang-orang yang bersangkutan tidak ketinggalan maka dirasa perlu adanya pendaftaran dimuka yang tentunya disertai syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi dan sekaligus ditindaklanjuti dengan mengabdi dan berbakti demi terpenuhinya harapannya itu.

Ada apa yang salah dengan kepercayaan itu? Para Buddha dari segala masa tentunya termasuk juga Buddha Gotama dan Buddha Metteya hanya mengajarkan inti yang sama, yaitu:" Tidak berbuat jahat, senantiasa menambah kebajikan dan mensucikan batin." Untuk apa melaksanakan Ajaran ini? Tentunya untuk mencapai Tujuan Akhir yaitu Nibbana. Bagaimana bisa? Dengan melaksanakan Ajaran itu dengan benar maka tiga akar kekotoran batin, yaitu lobha, dosa dan moha akan terkikis sampai akhirnya lenyap tuntas.

Lobha, dosa, dan moha adalah penyebab dukkha artinya selama masih ada lobha, dosa dan moha dalam batin maka selama itu pula akan terjadi kelanjutan arus kelahiran atau tumibal lahir dalam samsara (lingkaran kelahiran dan kematian). Dengan lenyapnya ketiga akar itu maka tidak ada lagi kelahiran selanjutnya, tidak ada lagi dukkha, bebas dari samsara. Inilah yang dimaksud dengan Nibbana dalam pola pikir Buddhis.

Jadi jelas bahwa Nibbana yang dimaksud oleh Sang Buddha mesti dicapai dengan upaya melatih diri mengikis akar kekotoran batin sesuai dengan metode yang telah diajarkan Sang Buddha. Tidak ada Buddha yang pernah mengajarkan pengikutnya untuk minta diajak serta mencapai Nibbana seperti contoh anak kecil yang minta orangtuanya mengajak pergi ke mal. Sang Buddha adalah Guru penunjuk Jalan, kita semua lah yang harus berupaya sendiri berlatih mengikuti jalan atau petunjuk Beliau. Realisasi Nibbana adalah hasil perjuangan yang teramat panjang. Bukan hadiah. Bukan hasil undian atau pilih kasih. Bukan hasil memuja dan memuji. Bukan hasil mendaftar di muka. Bukan juga hasil dari memohon dan meminta. Setelah memahami demikian hendaknya kita tidak lagi mudah terperdaya pandangan salah.

Ciri ciri Ajaran Buddha yang Benar

Yang paling utama adalah bahwa Ajaran Buddha di era Buddha Gotama ini harus berdasarkan kitab suci Tipitaka yang merupakan rangkuman dari semua kotbah Sang Buddha selama 45 tahun. Bukan berdasarkan kitab lain. Kemudian jika Tipitaka diringkas dan diambil sarinya akan menjadi 37 faktor penerangan sempurna (bodhipakkhiya-dhamma). Bila dipadatkan lagi akan menjadi 7 Kemurnian (7 visuddhi), kemudian bila diringkas lagi menjadi sila, samadhi dan panna. Ketiga ini disebut tiga sikkha (latihan). Bila dijabarkan maka pelaksanaannya menjadi jalan mulia berunsur delapan (atthangika-magga).

Landasan pokok yang harus ada dalam setiap Ajaran yang menyatakan diri sebagai Ajaran Buddha adalah: tiga mustika (tiratana), tiga corak universal (tilakkhana), empat kebenaran Mulia (cattari ariya saccani), hukum kamma dan tumimbal lahir (kamma dan patisandhi/punabbhava), Nibbana.

Benang merah dari seluruh isi Ajaran dimaksudkan untuk melatih diri memahami realitas akhir Anatta, menyadari samsara sebagai dukkha, dan melaksanakan Jalan menuju akhir dukkha. Ajaran apapun namanya yang tidak ada benang merah ini pasti bukan Ajaran Buddha meskipun ajaran tersebut mengandung nilai-nilai kebajikan sekalipun. Hanya Buddha yang dapat menunjukkan Jalan menuju akhir dukkha.

Lunturnya Praktik Dhamma

Praktik Dhamma bisa dikatakan mudah, juga bisa dikatakan teramat sulit. Mudah dalam arti praktik Dhamma "hanya" berupaya mempraktikkan danang, sila, samadhi, dan panna dalam kehidupan sehari-hari sesuai kapasitas kita. Tidak mesti sampai menyendiri di gunung dan hutan kecuali bila kita sudah sampai tahap kemajuan tertentu di mana membutuhkan kondisi yang lebih khusus untuk bisa mencapai kemajuan lebih lanjut. Lalu di mana sulitnya? Ya, mempraktikkannya itulah yang sulit. Mengapa sulit? Ya, karena kita tidak membiasakan diri maka menjadi sulit.

Seberapa sering kita melihat, mendengar, mengetahui orang lain atau bahkan mengalami sendiri naik turun, pasang surut mempraktikkan dhamma. Pada suatu masa kita begitu rajin belajar dhamma, membantu menyebarluaskan dhamma, berdana, menjaga sila, melatih meditasi samatha dan vipassana kemudian pada masa selanjutnya kita mulai malas belajar dhamma, mulai kendur berdana, mulai melanggar sila kecil-kecilan, mulai malas bermeditasi. Ini adalah pasang surut yang sangat umum terjadi pada kita semua. Hal ini lumrah karena kita memang masih terlalu mentah untuk memahami dhamma. Tetapi kita sebenarnya bisa memilih untuk tidak menjadi bagian dari kelumrahan tersebut.

Lingkaran setan yang biasa ditemukan dalam hal praktik Dhamma adalah pada saat kita mulai kendur praktik maka pemahaman dhamma kita pun turut memudar, sejalan dengan semakin pudarnya pemahaman maka sudah tentu praktik menjadi semakin kendur lagi karena kita mulai lupa tujuan dan manfaat praktik Dhamma, sampai akhirnya satu saat kita sama sekali mengabaikan praktik dan melupakan dhamma. Ketika kita telah melupakan Dhamma maka batin menjadi gelap, kosong, gelisah, sangat menderita, serba salah sehingga mudah sekali kita terombang ambing mengikuti kepercayaan ini dan itu, terperdaya ajaran rendah dan terhasut pengertian sesat. Yang tidak kalah berbahayanya, batin yang kosong sangat rentan tergoda untuk melakukan perbuatan buruk karena telah hilangnya pengertian benar dan minimnya pertahanan pengendalian diri apalagi di tengah gencarnya serbuan godaan duniawi di sekitar kita seperti gemerlapnya harta kekayaan dan kekuasaan, kenikmatan narkoba dan minuman keras, seks, dan seterusnya. menjadi gelap, kosong, gelisah, sangat menderita, serba salah sehingga mudah sekali kita terombang ambing mengikuti kepercayaan ini dan itu, terperdaya ajaran rendah dan terhasut pengertian sesat. Yang tidak kalah berbahayanya, batin yang kosong sangat rentan tergoda untuk melakukan perbuatan buruk karena telah hilangnya pengertian benar dan minimnya pertahanan pengendalian diri apalagi di tengah gencarnya serbuan godaan duniawi di sekitar kita seperti gemerlapnya harta kekayaan dan kekuasaan, kenikmatan narkoba dan minuman keras, seks, dan seterusnya.

Itulah konsekwensi logis dari lunturnya praktik dhamma, seumpama orang yang ditutup matanya dan dilepas sendirian ke hutan belukar yang dipenuhi binatang buas dan jurang-jurang. Terlalu berbahaya. Ketika kita tidak lagi menyadari kesalahan sebagai kesalahan sehingga terus berbuat kesalahan sebagai bentuk kebiasaan maka kita menuju ke tempat gelap dan pintu-pintu empat alam apaya (alam rendah) akan terbuka semakin lebar siap menanti.

Lingkaran arah kebalikannya adalah semakin kita rajin praktik Dhamma maka otomatis pemahaman kita akan semakin mendalam. Dengan pemahaman yang semakin mendalam seiring dengan manfaat yang NAGAWI kita rasakan langsung, maka tekad kita akan semakin kuat untuk mencapai tujuan dan dengan demikian semangat bertambah untuk mempraktikkan dhamma lebih baik lagi dan sebagai hasilnya tentu pemahaman akan semakin dan semakin dalam sampai suatu saat nanti dengan upaya yang berkesinambungan mudah-mudahan tujuan luhur kita tercapai.

Batin yang senantiasa kokoh mengingat Dhamma tidak akan mudah terperangkap tipu daya pikiran sendiri untuk melakukan perbuatan buruk dan tentunya hampir tidak ada peluang bagi pengertian sesat untuk bisa masuk dan berkembang.

Penutup

Akhirnya untuk menghindarkan kesalahpahaman yang mungkin saja terjadi, perlu kiranya disampaikan bahwa tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menuding ataupun memojokkan aliran kepercayaan tertentu. Tujuan dari tulisan ini hanyalah memberikan pendapat dari berbagai sudut pandang yang mungkin dapat membantu para pembaca untuk merevisi pola pikir sehingga mampu menyadari kerancuan sebagai kerancuan sehubungan dengan fenomena yang terjadi dalam proses berakhirnya era Buddha Gotama supaya tidak terperangkap dalam kepercayaan salah yang tidak membawa manfaat kearah kemajuan perkembangan batin.

Kemudian bagi siapa yang menyadari bahwa praktik Dhammanya sudah semakin luntur, mudah-mudahan tulisan ini bisa membangkitkan kembali semangat Anda demi kebaikan Anda sendiri.

Sumber:
- The Requisites of Enlightenment (Bodhipakkhiya Dipani), A Manual by The Venerable Ledi Sayadaw, Buddhist Publication Society, Kandy 1971, Ceylon
- Prophecies of The Buddha, Buddhist Time Prophecies.htm
 
Kalau kita mencermati, kalau kita mempelajari, begitu banyak keyakinan yang tumbuh berkembang, meluas dan mempunyai jutaan pengikut di dunia ini. Salah satunya adalah ajaran Buddha. Ajaran Buddha yang dimaksud adalah ajaran Buddha dari Sidharta Gautama, yang hidup sekitar 2552 tahun yang lalu.

Ajaran ini tumbuh dan berkembang seperti ajaran agama lain. Kontroversi masih menyelimuti. Ini mengapa Hindu dan Buddha sampai sekarang dengan Kong Hu Cu dan Tao, masih memakai embel embel 'isme'. Belum bisa dianggap agama oleh teologis-teologis yang kenyataannya memang lebih memandang agama-agama Abrahamic sebagai agama wahyu.

Agama biasanya muncul dari suatu keadaan yang kacau balau. Dalam suasana yang sangat pelik seperti itu, muncul manusia-manusia tercerahkan yang memberikan ajaran tentang hidup yang kemudian berkembang dengan pemeluk yang semakin banyak dan semakin banyak.

Sangat menyedihkan ketika melihat kenyataan yang berasumsi bahwa ajaran Buddha sudah kadaluarsa adalah datang dari golongan mereka yang juga mengaku sebagai penganut Buddha. Bahkan sekilas seperti pemberontakan dari dalam sendiri atas ajaran Buddha yang adiluhung.

Buddha sendiri sebagai ajaran, melebihi ajaran manapun dalam memberikan kebebasan kepada umat yang percaya pada ajaran ini untuk berpikir dan berbuat dengan bebas. Tidak ada istilah 'wajib' dalam ajaran ini. Bahkan, hal ini menyangkut dalam pengertian ketuhanan yang juga tidak wajib dalam agama Buddha.

Kondisi abu-abu pada sisi Tuhan ini, bisa dianggap sebagai sebuah kelebihan, namun tak jarang dianggap sebagai suatu hal yang 'melemahkan' ajran Buddha. Mungkin dari kerangka kebebasan berpikir juga yang akhirnya membuat masuknya frase Tuhan Yang Maha Esa, Sang Hyang Adi Buddha ke dalam Buddha Dharma. Ditambah lagi kondisi politik dan ketentuan-ketentuan hukum yang belaku di sejumlah negara.

Agama Buddha eksis mungkin karena toleransinya yang demikian hebat. Mungkin, kerusakan-kerusakan juga akan muncul dari toleransi yang sedemikian hebat ini. Sikap menerima dan membiarkan yang terkesan dari ajaran Buddha yang tidak dogmatis, membuat ajaran ini mengalami sinkritisme paling banyak dibanding ajaran agama lain. Sinkritisme Buddha Hindu, adalah contoh nyata dari paham Siwa Buddha yang berkembang pesat di sejarah Jawa Klasik. Demikian juga kenyataan adanya 'Kejawen' saat ini yang bisa dibilang sebagai perpaduan banyak unsur Jawa asli dengan Islam dan Buddha.

Penerimaan-penerimaan ini semakin hari semakin jauh, melahirkan bermacam aliran, termasuk yang paling seru saat ini, aliran yang diasumsikan sebahagian umat sebagai ajaran untuk menyambut Buddha Metteya.

Permasalahan mungkin timbul pada umat. Anggota Sangha yang eksis, tentu saja lepas dari urusan duniawi semacam ini. Namun bagaimana dengan umat Buddha biasa? Yang hanya berpedoman pada Ti Sarana serta menjalankan Pancasila Buddhis sebisanya? Karna sama sekali tidak ada ikatan sangat kuat untuk memaksa dalam menjalankan sila.

Gelombang penolakan mungkin. Gelombang trenyuh merasa orang lain berpandangan sesat dan salah. Sebersit perasaan ada upaya merusak kepercayaan umat. Sebuah kegelapan bathin yang secara sekilas mungkin dipandang sebagai usaha untuk menang sendiri, usaha untuk merasa ajaran sendiri yang paling benar. Hal ini terjadi, sangat nyata, terutama di Indonesia, jika kita merujuk pada perkembangan agama Buddha di negri ini.

Kita tidak punya organisasi yang bisa kompeten menyaring dan memantau perkembangan Buddha Dharma di Indonesia. yang ada adalah organisasi yang melakukan kompromi sana sini mungkin untuk sebuah tujuan kuantitas semu. Tak mungkin kita mengharamkan ajinomoto, kan? apalagi sebuah ajaran yang mengaku sebagai bagian dari ajaran Buddha.

Kita dipaksa untuk meneliti sendiri, memutuskan sendiri, bertindak sendiri dalam memilih mana yang baik, mana yang benar. Mana yang Buddha Dharma, mana yang masih sejalan dengan Buddha Dharma, dan mana yang menyimpang sama sekali dengan Buddha Dharma, dan mana yang sebagai hujatan pada Buddha Dharma.

Umat Buddha punya karakteristik sendiri, Kita berdana, kita melaksanakan sila, dan kita belajar terus tentang Bavanna. Itu jelas yang dilakukan umat Buddha.

Banyak jalan menuju Roma. Banyak juga ditawarkan jalan kebijaksanaan untuk mencapai Nibbana. Pilih yang paling cocok. Yang paling sesuai dengan karakter anda. Hati-hati dengan yang palsu. Yang asli akan berfungsi sebagai mana mestinya, yang palsu hanya akan membuat kita semakin terikat, bahkan kepada Buddha Dharma itu sendiri.

Seorang anak manusia yang ingin mencari pencerahan pasti akan digoda mara. Apalagi kita umat awam yang masih belajar. Kita adalah nafas bagi mara untuk hidup dan berkembang. Setiap kita sekali tergoda mara, bertambah satu lagi alasan mara untuk eksis dan terus meracuni pikiran kita.

Tulisan di atas, renunganku ini, adalah contoh dan bukti nyata. Masih eksisnya ajaran Buddha Gautama. Forum Buddha di IF ini bukti yang lainnya. Ajaran ini belum lenyap. Masih ada, masih mempunyai pengikut yang jumlahnya gila-gilaan. Dan yang terpenting, masih menjadi keyakinan nomor 1 di Asia Timur jauh, juga di dalam sanubari teman-teman seDharma di sini. Setiap yang ada adalah tidak kekal, demikian juga ajaran Buddha. Tapi, sayangnya seperti bumi yang masih mengitari matahari, ajaran Buddha masih ada sampai hari ini.
 
Kerancuan Pandangan Mengenai Lenyapnya Ajaran




Pada salah satu kotbahnya Sang Buddha Gotama menyatakan bahwa dalam proses berakhirnya era Beliau selama 5000 tahun ini akan ada lima kelenyapan, yaitu: lenyapnya pencapaian tingkat kesucian, lenyapnya Ajaran, lenyapnya pelaksanaan benar, lenyapnya simbol/bentuk luar, dan terakhir lenyapnya Relik.

Lenyapnya Ajaran berarti lenyapnya Tipitaka secara berangsur sampai tidak ada lagi orang yang mampu mengingat bahkan empat syair Ajaran Para Buddha. Tetapi selama Tipitaka masih ada secara utuh bersama kita maka kelenyapan Ajaran belum terjadi walaupun pada kenyataannya sekarang ini Dhamma-Dhamma palsu sudah mulai banyak bermunculan menjamur dan mewabah di berbagai belahan dunia memanfaatkan kesempatan dari kebodohan batin manusia yang semakin tebal. Pada saatnya nanti ketika Ajaran telah lenyap tentu saja Dhamma yang sejati tidak mungkin lagi dapat ditemukan dan pada waktu itu hanya Dhamma-Dhamma palsu dan semua ajaran yang bukan Dhamma yang dapat ditemukan. Inilah kesimpulan kita mengenai lenyapnya Ajaran.

Bertentangan dengan kesimpulan itu ada sekelompok orang yang membentuk intepretasi mereka sendiri sebagai berikut: Dhamma yang sejati tidak akan lenyap dari dunia sampai munculnya Dhamma yang palsu menggantikannya. Ketika Dhamma palsu muncul maka itulah waktunya Dhamma yang sejati lenyap." Jadi menurut mereka sekarang Dhamma yang sejati sudah tidak ada lagi karena sudah banyak Dhamma palsu menjamur di seluruh belahan dunia. Ini adalah salah satu bentuk kerancuan pandangan yang perlu diluruskan.

Ajaran Buddha yang sejati bukan lenyap karena ajaran palsu muncul dan menggantikannya melainkan karena memang masa berlakunya sudah berakhir. Ajaran yang sejati dan ajaran yang palsu bisa saja eksis dalam kurun waktu bersamaan seperti yang sekarang tengah terjadi. Jadi jelas sekarang bahwa karena Tipitaka masih ada dalam bentuknya yang utuh maka artinya Dhamma sejati belum lenyap walaupun ada banyak Dhamma palsu di mana-mana. Ini hanyalah merupakan bagian dari pertanda proses lenyapnya Dhamma secara berangsur. Ketika tiba waktunya nanti Dhamma yang sejati lenyap maka otomatis tidak ada lagi Dhamma sejati yang dapat ditemukan manusia, tentunya yang bisa ditemukan hanyalah Dhamma palsu.

Kerancuan Pandangan Mengenai Datangnya Buddha Metteya

Bagi siapa saja yang mengerti arti dari kata Sammasambuddha akan merasa sangat janggal bila diminta untuk percaya bahwa Buddha Metteya lengkap dengan ciri-cirinya telah lahir di bumi ini di antara kita dengan nama lain sekitar satu abad sebelum tahun 1943. (catatan: tanggal 1 Agustus 1943 tengah hari dihitung sebagai akhir dari sistem penanggalan Kali Yuga). Tetapi ternyata ada saja sekelompok orang yang percaya demikian. Mereka bisa berpandangan demikian tentunya karena mengambil sebagian dari isi kotbah tersebut dan mengabaikan sisanya, kemudian direka-reka sesuai dengan perhitungan dan perkiraan mereka sendiri, padahal seharusnya isi dari kotbah merupakan satu kesatuan jalan cerita. Ini juga salah satu pandangan yang perlu diluruskan.

Sama seperti empat Sammasambuddha yang telah muncul di bumi yang ini, Buddha Metteya adalah juga Sammasambuddha yang berarti Buddha yang mencapai Penerangan Sempurna dengan upaya sendiri tanpa bantuan makhluk lain kemudian membabarkan Dhamma kepada manusia dan dewa. Dengan demikian berarti selama Ajaran dari Sammasambuddha terdahulu masih eksis maka tidak akan mungkin muncul Sammasambuddha baru. Mengapa? Tentu saja karena bila Ajaran dari Buddha yang terdahulu masih eksis maka tidak perlu bagi calon Sammasambuddha yang bersangkutan untuk bersusah payah menemukan kembali Dhamma dengan upaya sendiri. Beliau cukup pergi ke perpustakaan lalu membaca kitab Tipitaka yang masih utuh dan lengkap atau pergi kepada bhikkhu suci yang masih hidup untuk belajar. Dan bila sekalipun kemudian calon Sammasambuddha itu mencapai tingkat kesucian tertinggi setelah membaca dan memahami Tipitaka maka Beliau tidak dapat disebut sebagai Sammasambuddha melainkan disebut sebagai Arahat Savaka Buddha yang artinya Orang yang mencapai tingkat Arahat karena belajar dari Ajaran Buddha. Jadi kesimpulannya Sammasambuddha hanya mungkin muncul pada saat dunia hampa dari Ajaran Buddha.

Mereka yang percaya bahwa Buddha Metteya telah lahir di antara kita adalah orang-orang yang sama yang percaya bahwa Ajaran Buddha sekarang ini telah lenyap total digantikan dengan Dhamma palsu. Mereka melihat semua gejala-gejala yang terjadi di dunia sekarang ini adalah sama dengan yang digambarkan oleh Sang Buddha dalam khotbahnya mengenai kehancuran moralitas seiring dengan semakin pendeknya usia manusia.

Pada kenyataannya memang benar bahwa sekarang banyak terjadi bencana alam, perang, pembantaian, wabah penyakit, kekurangan pangan, kemiskinan, kekerasan, pencurian, pembunuhan, dusta, fitnah, kata-kata kasar, membual, iri hati, dendam, pandangan sesat, berzinah dengan saudara sendiri (incest), keserakahan, pemuasan nafsu, kurang patuh pada orangtua, petapa, orangtua, dan pemimpin masyarakat. Memang benar Dhamma palsu banyak bermunculan. Memang benar Ajaran Buddha yang sejati semakin memudar. Memang benar semakin banyak orang berjubah bhikkhu yang melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan Vinaya. Memang benar relik ada yang berpindah tempat. Tetapi ini semua bukan otomatis berarti bahwa Dhamma sejati telah lenyap melainkan hanya merupakan bagian dari pertanda proses menuju akhir dari era ajaran Buddha Gotama sesuai dengan apa yang digambarkan dalam khotbah Beliau. Kemerosotan moral itu semakin hari akan semakin meningkat dari segi kwalitas, kwantitas dan intensitasnya sampai satu waktu mencapai titik puncak kebobrokan dari segala segi di mana manusia tidak mungkin bisa lebih bobrok lagi daripada itu.

Jadi sekali lagi hendaknya kita pahami bahwa sekarang Tipitaka masih utuh, berarti Ajaran Buddha belum lenyap jadi tidak mungkin Buddha Metteya sudah muncul. Apalagi dalam kotbah disebutkan bahwa kemunculan Buddha Metteya adalah pada waktu usia manusia rata rata 80.000 tahun sedangkan usia rata-rata manusia pada zaman sekarang hanya puluhan tahun saja dan semakin memendek dari waktu ke waktu dari generasi ke generasi. Artinya sekarang ini adalah periode menuju titik terendah usia manusia, yaitu 10 tahun. Setelah menyentuh titik balik terendah maka siklus usia manusia kembali bertambah secara berangsur menuju ke 80.000 tahun.

Kerancuan Sikap Mental Terhadap Buddha yang Akan Datang

Munculnya Buddha yang akan datang bernama Buddha Metteya adalah hal yang tidak perlu diperdebatkan oleh semua yang mengaku siswa Sang Buddha karena peristiwa itu memang pernah dinyatakan langsung oleh Sang Buddha Gotama sendiri. Kapan waktunya Beliau akan muncul juga tidak perlu dipersoalkan karena tentunya ketika masanya tiba dan kondisinya sesuai Beliau akan muncul. Yang penting mulai sekarang kita terus berupaya menyempurnakan Parami mumpung Ajaran Buddha Gotama masih tersedia agar kelak bisa lahir kembali dan meneruskan perjuangan dalam era Buddha Metteya seandainya kita tidak berhasil merealisasikan Tujuan Akhir dalam era Buddha yang sekarang ini.

Yang perlu diluruskan hanyalah sikap mental yang keliru sehubungan dengan penantian kemunculan Buddha Metteya. Sikap mental dan pandangan yang bagaimanakah yang dianggap keliru?

Pertama adalah pandangan bahwa era Buddha Gotama sudah berakhir bersamaan dengan Beliau Parinibbana sehingga Ajaran Beliau dianggap sudah basi, tidak relevan lagi di zaman sekarang. Dan karena era Buddha Gotama dianggap telah berakhir maka otomatis sekarang dipercaya sebagai era Buddha selanjutnya yaitu Buddha Metteya. Padahal mereka juga mengetahui dengan jelas bahwa Buddha Metteya belum lahir.

Sebetulnya ada kontroversi di dalam pandangan itu sendiri yaitu Buddha yang belum lahir dengan Ajaran yang sudah muncul. Suatu Ajaran disebut sebagai Ajaran Buddha tentu saja karena pertama kalinya diajarkan oleh Sammasambuddha sebagai penemu kembali Dhamma yang telah hilang lenyap di antara manusia dan dewa. Jadi Ajaran Buddha pastilah bukan ajaran manapun yang ditemukan dan diajarkan pertama kalinya oleh siapapun yang bukan Sammasambuddha. Jadi bila Buddha yang akan datang belum lahir otomatis berarti Ajaran Beliau pasti juga belum ada. Ini adalah logikanya.

Kedua adalah sikap mental terhadap Buddha yang akan datang. Karena menganggap Buddha Gotama sudah tidak punya kekuatan lagi maka yang menjadi sasaran permintaan dan permohonan tentunya adalah calon pengganti Beliau, yaitu Buddha Metteya. Kemunculan Buddha Metteya nanti digambarkan dan diharapkan sebagai juru selamat yang misinya membawa serta para pengikutnya mencapai Nibbana yang notabene diartikan sebagai kehidupan kekal dalam kebahagiaan abadi. Kata membawa serta ke Nibbana di sini cenderung diartikan seperti seorang ayah yang mengajak anak-anak kesayangannya pergi jalan-jalan ke mal. Atau juga seperti korban gempa yang menunggu dievakuasi ke tempat yang aman oleh tim penyelamat.

Berdasarkan kepercayaan itu maka dalam masa penantian ini orang yang bersangkutan akan melakukan puji dan puja kepada Buddha Metteya yang disertai permohonan agar Beliau tidak lupa membawa serta dirinya serta keluarganya ke Nibbana. Malahan untuk lebih memastikan nama orang-orang yang bersangkutan tidak ketinggalan maka dirasa perlu adanya pendaftaran dimuka yang tentunya disertai syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi dan sekaligus ditindaklanjuti dengan mengabdi dan berbakti demi terpenuhinya harapannya itu.

Ada apa yang salah dengan kepercayaan itu? Para Buddha dari segala masa tentunya termasuk juga Buddha Gotama dan Buddha Metteya hanya mengajarkan inti yang sama, yaitu:" Tidak berbuat jahat, senantiasa menambah kebajikan dan mensucikan batin." Untuk apa melaksanakan Ajaran ini? Tentunya untuk mencapai Tujuan Akhir yaitu Nibbana. Bagaimana bisa? Dengan melaksanakan Ajaran itu dengan benar maka tiga akar kekotoran batin, yaitu lobha, dosa dan moha akan terkikis sampai akhirnya lenyap tuntas.

Lobha, dosa, dan moha adalah penyebab dukkha artinya selama masih ada lobha, dosa dan moha dalam batin maka selama itu pula akan terjadi kelanjutan arus kelahiran atau tumibal lahir dalam samsara (lingkaran kelahiran dan kematian). Dengan lenyapnya ketiga akar itu maka tidak ada lagi kelahiran selanjutnya, tidak ada lagi dukkha, bebas dari samsara. Inilah yang dimaksud dengan Nibbana dalam pola pikir Buddhis.

Jadi jelas bahwa Nibbana yang dimaksud oleh Sang Buddha mesti dicapai dengan upaya melatih diri mengikis akar kekotoran batin sesuai dengan metode yang telah diajarkan Sang Buddha. Tidak ada Buddha yang pernah mengajarkan pengikutnya untuk minta diajak serta mencapai Nibbana seperti contoh anak kecil yang minta orangtuanya mengajak pergi ke mal. Sang Buddha adalah Guru penunjuk Jalan, kita semua lah yang harus berupaya sendiri berlatih mengikuti jalan atau petunjuk Beliau. Realisasi Nibbana adalah hasil perjuangan yang teramat panjang. Bukan hadiah. Bukan hasil undian atau pilih kasih. Bukan hasil memuja dan memuji. Bukan hasil mendaftar di muka. Bukan juga hasil dari memohon dan meminta. Setelah memahami demikian hendaknya kita tidak lagi mudah terperdaya pandangan salah.

Ciri ciri Ajaran Buddha yang Benar

Yang paling utama adalah bahwa Ajaran Buddha di era Buddha Gotama ini harus berdasarkan kitab suci Tipitaka yang merupakan rangkuman dari semua kotbah Sang Buddha selama 45 tahun. Bukan berdasarkan kitab lain. Kemudian jika Tipitaka diringkas dan diambil sarinya akan menjadi 37 faktor penerangan sempurna (bodhipakkhiya-dhamma). Bila dipadatkan lagi akan menjadi 7 Kemurnian (7 visuddhi), kemudian bila diringkas lagi menjadi sila, samadhi dan panna. Ketiga ini disebut tiga sikkha (latihan). Bila dijabarkan maka pelaksanaannya menjadi jalan mulia berunsur delapan (atthangika-magga).

Landasan pokok yang harus ada dalam setiap Ajaran yang menyatakan diri sebagai Ajaran Buddha adalah: tiga mustika (tiratana), tiga corak universal (tilakkhana), empat kebenaran Mulia (cattari ariya saccani), hukum kamma dan tumimbal lahir (kamma dan patisandhi/punabbhava), Nibbana.

Benang merah dari seluruh isi Ajaran dimaksudkan untuk melatih diri memahami realitas akhir Anatta, menyadari samsara sebagai dukkha, dan melaksanakan Jalan menuju akhir dukkha. Ajaran apapun namanya yang tidak ada benang merah ini pasti bukan Ajaran Buddha meskipun ajaran tersebut mengandung nilai-nilai kebajikan sekalipun. Hanya Buddha yang dapat menunjukkan Jalan menuju akhir dukkha.

Lunturnya Praktik Dhamma

Praktik Dhamma bisa dikatakan mudah, juga bisa dikatakan teramat sulit. Mudah dalam arti praktik Dhamma "hanya" berupaya mempraktikkan danang, sila, samadhi, dan panna dalam kehidupan sehari-hari sesuai kapasitas kita. Tidak mesti sampai menyendiri di gunung dan hutan kecuali bila kita sudah sampai tahap kemajuan tertentu di mana membutuhkan kondisi yang lebih khusus untuk bisa mencapai kemajuan lebih lanjut. Lalu di mana sulitnya? Ya, mempraktikkannya itulah yang sulit. Mengapa sulit? Ya, karena kita tidak membiasakan diri maka menjadi sulit.

Seberapa sering kita melihat, mendengar, mengetahui orang lain atau bahkan mengalami sendiri naik turun, pasang surut mempraktikkan dhamma. Pada suatu masa kita begitu rajin belajar dhamma, membantu menyebarluaskan dhamma, berdana, menjaga sila, melatih meditasi samatha dan vipassana kemudian pada masa selanjutnya kita mulai malas belajar dhamma, mulai kendur berdana, mulai melanggar sila kecil-kecilan, mulai malas bermeditasi. Ini adalah pasang surut yang sangat umum terjadi pada kita semua. Hal ini lumrah karena kita memang masih terlalu mentah untuk memahami dhamma. Tetapi kita sebenarnya bisa memilih untuk tidak menjadi bagian dari kelumrahan tersebut.

Lingkaran setan yang biasa ditemukan dalam hal praktik Dhamma adalah pada saat kita mulai kendur praktik maka pemahaman dhamma kita pun turut memudar, sejalan dengan semakin pudarnya pemahaman maka sudah tentu praktik menjadi semakin kendur lagi karena kita mulai lupa tujuan dan manfaat praktik Dhamma, sampai akhirnya satu saat kita sama sekali mengabaikan praktik dan melupakan dhamma. Ketika kita telah melupakan Dhamma maka batin menjadi gelap, kosong, gelisah, sangat menderita, serba salah sehingga mudah sekali kita terombang ambing mengikuti kepercayaan ini dan itu, terperdaya ajaran rendah dan terhasut pengertian sesat. Yang tidak kalah berbahayanya, batin yang kosong sangat rentan tergoda untuk melakukan perbuatan buruk karena telah hilangnya pengertian benar dan minimnya pertahanan pengendalian diri apalagi di tengah gencarnya serbuan godaan duniawi di sekitar kita seperti gemerlapnya harta kekayaan dan kekuasaan, kenikmatan narkoba dan minuman keras, seks, dan seterusnya. menjadi gelap, kosong, gelisah, sangat menderita, serba salah sehingga mudah sekali kita terombang ambing mengikuti kepercayaan ini dan itu, terperdaya ajaran rendah dan terhasut pengertian sesat. Yang tidak kalah berbahayanya, batin yang kosong sangat rentan tergoda untuk melakukan perbuatan buruk karena telah hilangnya pengertian benar dan minimnya pertahanan pengendalian diri apalagi di tengah gencarnya serbuan godaan duniawi di sekitar kita seperti gemerlapnya harta kekayaan dan kekuasaan, kenikmatan narkoba dan minuman keras, seks, dan seterusnya.

Itulah konsekwensi logis dari lunturnya praktik dhamma, seumpama orang yang ditutup matanya dan dilepas sendirian ke hutan belukar yang dipenuhi binatang buas dan jurang-jurang. Terlalu berbahaya. Ketika kita tidak lagi menyadari kesalahan sebagai kesalahan sehingga terus berbuat kesalahan sebagai bentuk kebiasaan maka kita menuju ke tempat gelap dan pintu-pintu empat alam apaya (alam rendah) akan terbuka semakin lebar siap menanti.

Lingkaran arah kebalikannya adalah semakin kita rajin praktik Dhamma maka otomatis pemahaman kita akan semakin mendalam. Dengan pemahaman yang semakin mendalam seiring dengan manfaat yang NAGAWI kita rasakan langsung, maka tekad kita akan semakin kuat untuk mencapai tujuan dan dengan demikian semangat bertambah untuk mempraktikkan dhamma lebih baik lagi dan sebagai hasilnya tentu pemahaman akan semakin dan semakin dalam sampai suatu saat nanti dengan upaya yang berkesinambungan mudah-mudahan tujuan luhur kita tercapai.

Batin yang senantiasa kokoh mengingat Dhamma tidak akan mudah terperangkap tipu daya pikiran sendiri untuk melakukan perbuatan buruk dan tentunya hampir tidak ada peluang bagi pengertian sesat untuk bisa masuk dan berkembang.

Penutup

Akhirnya untuk menghindarkan kesalahpahaman yang mungkin saja terjadi, perlu kiranya disampaikan bahwa tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menuding ataupun memojokkan aliran kepercayaan tertentu. Tujuan dari tulisan ini hanyalah memberikan pendapat dari berbagai sudut pandang yang mungkin dapat membantu para pembaca untuk merevisi pola pikir sehingga mampu menyadari kerancuan sebagai kerancuan sehubungan dengan fenomena yang terjadi dalam proses berakhirnya era Buddha Gotama supaya tidak terperangkap dalam kepercayaan salah yang tidak membawa manfaat kearah kemajuan perkembangan batin.

Kemudian bagi siapa yang menyadari bahwa praktik Dhammanya sudah semakin luntur, mudah-mudahan tulisan ini bisa membangkitkan kembali semangat Anda demi kebaikan Anda sendiri.

Sumber:
- The Requisites of Enlightenment (Bodhipakkhiya Dipani), A Manual by The Venerable Ledi Sayadaw, Buddhist Publication Society, Kandy 1971, Ceylon
- Prophecies of The Buddha, Buddhist Time Prophecies.htm
saya rasa ini adalah penjelasan singkat tapi jelas....nice post.


Kalau kita mencermati, kalau kita mempelajari, begitu banyak keyakinan yang tumbuh berkembang, meluas dan mempunyai jutaan pengikut di dunia ini. Salah satunya adalah ajaran Buddha. Ajaran Buddha yang dimaksud adalah ajaran Buddha dari Sidharta Gautama, yang hidup sekitar 2552 tahun yang lalu.

Ajaran ini tumbuh dan berkembang seperti ajaran agama lain. Kontroversi masih menyelimuti. Ini mengapa Hindu dan Buddha sampai sekarang dengan Kong Hu Cu dan Tao, masih memakai embel embel 'isme'. Belum bisa dianggap agama oleh teologis-teologis yang kenyataannya memang lebih memandang agama-agama Abrahamic sebagai agama wahyu.

Agama biasanya muncul dari suatu keadaan yang kacau balau. Dalam suasana yang sangat pelik seperti itu, muncul manusia-manusia tercerahkan yang memberikan ajaran tentang hidup yang kemudian berkembang dengan pemeluk yang semakin banyak dan semakin banyak.

Sangat menyedihkan ketika melihat kenyataan yang berasumsi bahwa ajaran Buddha sudah kadaluarsa adalah datang dari golongan mereka yang juga mengaku sebagai penganut Buddha. Bahkan sekilas seperti pemberontakan dari dalam sendiri atas ajaran Buddha yang adiluhung.

Buddha sendiri sebagai ajaran, melebihi ajaran manapun dalam memberikan kebebasan kepada umat yang percaya pada ajaran ini untuk berpikir dan berbuat dengan bebas. Tidak ada istilah 'wajib' dalam ajaran ini. Bahkan, hal ini menyangkut dalam pengertian ketuhanan yang juga tidak wajib dalam agama Buddha.

Kondisi abu-abu pada sisi Tuhan ini, bisa dianggap sebagai sebuah kelebihan, namun tak jarang dianggap sebagai suatu hal yang 'melemahkan' ajran Buddha. Mungkin dari kerangka kebebasan berpikir juga yang akhirnya membuat masuknya frase Tuhan Yang Maha Esa, Sang Hyang Adi Buddha ke dalam Buddha Dharma. Ditambah lagi kondisi politik dan ketentuan-ketentuan hukum yang belaku di sejumlah negara.

Agama Buddha eksis mungkin karena toleransinya yang demikian hebat. Mungkin, kerusakan-kerusakan juga akan muncul dari toleransi yang sedemikian hebat ini. Sikap menerima dan membiarkan yang terkesan dari ajaran Buddha yang tidak dogmatis, membuat ajaran ini mengalami sinkritisme paling banyak dibanding ajaran agama lain. Sinkritisme Buddha Hindu, adalah contoh nyata dari paham Siwa Buddha yang berkembang pesat di sejarah Jawa Klasik. Demikian juga kenyataan adanya 'Kejawen' saat ini yang bisa dibilang sebagai perpaduan banyak unsur Jawa asli dengan Islam dan Buddha.

Penerimaan-penerimaan ini semakin hari semakin jauh, melahirkan bermacam aliran, termasuk yang paling seru saat ini, aliran yang diasumsikan sebahagian umat sebagai ajaran untuk menyambut Buddha Metteya.

Permasalahan mungkin timbul pada umat. Anggota Sangha yang eksis, tentu saja lepas dari urusan duniawi semacam ini. Namun bagaimana dengan umat Buddha biasa? Yang hanya berpedoman pada Ti Sarana serta menjalankan Pancasila Buddhis sebisanya? Karna sama sekali tidak ada ikatan sangat kuat untuk memaksa dalam menjalankan sila.

Gelombang penolakan mungkin. Gelombang trenyuh merasa orang lain berpandangan sesat dan salah. Sebersit perasaan ada upaya merusak kepercayaan umat. Sebuah kegelapan bathin yang secara sekilas mungkin dipandang sebagai usaha untuk menang sendiri, usaha untuk merasa ajaran sendiri yang paling benar. Hal ini terjadi, sangat nyata, terutama di Indonesia, jika kita merujuk pada perkembangan agama Buddha di negri ini.

Kita tidak punya organisasi yang bisa kompeten menyaring dan memantau perkembangan Buddha Dharma di Indonesia. yang ada adalah organisasi yang melakukan kompromi sana sini mungkin untuk sebuah tujuan kuantitas semu. Tak mungkin kita mengharamkan ajinomoto, kan? apalagi sebuah ajaran yang mengaku sebagai bagian dari ajaran Buddha.

Kita dipaksa untuk meneliti sendiri, memutuskan sendiri, bertindak sendiri dalam memilih mana yang baik, mana yang benar. Mana yang Buddha Dharma, mana yang masih sejalan dengan Buddha Dharma, dan mana yang menyimpang sama sekali dengan Buddha Dharma, dan mana yang sebagai hujatan pada Buddha Dharma.

Umat Buddha punya karakteristik sendiri, Kita berdana, kita melaksanakan sila, dan kita belajar terus tentang Bavanna. Itu jelas yang dilakukan umat Buddha.

Banyak jalan menuju Roma. Banyak juga ditawarkan jalan kebijaksanaan untuk mencapai Nibbana. Pilih yang paling cocok. Yang paling sesuai dengan karakter anda. Hati-hati dengan yang palsu. Yang asli akan berfungsi sebagai mana mestinya, yang palsu hanya akan membuat kita semakin terikat, bahkan kepada Buddha Dharma itu sendiri.

Seorang anak manusia yang ingin mencari pencerahan pasti akan digoda mara. Apalagi kita umat awam yang masih belajar. Kita adalah nafas bagi mara untuk hidup dan berkembang. Setiap kita sekali tergoda mara, bertambah satu lagi alasan mara untuk eksis dan terus meracuni pikiran kita.

Tulisan di atas, renunganku ini, adalah contoh dan bukti nyata. Masih eksisnya ajaran Buddha Gautama. Forum Buddha di IF ini bukti yang lainnya. Ajaran ini belum lenyap. Masih ada, masih mempunyai pengikut yang jumlahnya gila-gilaan. Dan yang terpenting, masih menjadi keyakinan nomor 1 di Asia Timur jauh, juga di dalam sanubari teman-teman seDharma di sini. Setiap yang ada adalah tidak kekal, demikian juga ajaran Buddha. Tapi, sayangnya seperti bumi yang masih mengitari matahari, ajaran Buddha masih ada sampai hari ini.

hmm...pemikiran anda bagus juga dalam segi toleransi..tapi yah mau bagaimana lagi....memang begitu adanya.. anatta---bukan milikku tuh ajaran.
 
saya rasa ini adalah penjelasan singkat tapi jelas....nice post.

hmm...pemikiran anda bagus juga dalam segi toleransi..tapi yah mau bagaimana lagi....memang begitu adanya.. anatta---bukan milikku tuh ajaran.

Tepat. Akhirnya memang perbuatan yang dilihat, bukan omong kosong melompong. Kita merasa disakiti saat ajaran yang kita yakini dihujat diselewengkan, padahal anatta - bukan milikku itu ajaran.

Bukankah sudah ada Hukum Karma yang mengaturnya? Dan kita hanya bisa berusaha agar karma buruk tidak menimpah kita. Melawan hukum itu? gak kepikiran.
 
Kita merasa disakiti saat ajaran yang kita yakini dihujat diselewengkan
hehehe...kalau gw pribadi tidak pernah merasa sakit jika ajaran buddha di selewengkan..
tapi gw merasa HERAN 100000%...hahaha

coba pikir.....sang buddha sudah mencapai PENCERAHAN SEMPURNA( di akui oleh aliran tersebut )
dhamma sang buddha sudah sangat jelas di babarkan.
sangha siswa sang buddha sudah menjalankan SILA / ketetapan yang di BUAT langsung oleh guru AGUNG GOTAMA..

tapi.........masih ada juga kata-kata buddha gotama yang mereka tidak percaya....bahkan mencari JALAN LAIN alias ALTERNATIF.
tapi.........dhamma yang demikian jelas...masih juga di edit dan ditambah...
tapi........SILA sedemikian JELAS di buat oleh GURU sendiri...di hapus bahkan di rubah sendiri...

berarti di akui-kah kesempurnaan buddha gotama?
lalu apa bedanya buddha gotama dengan buddha akan datang mengenai ajaran para buddha?......

dari buddha Tanhankara...sampai GOTAMA...tidak pernah ada TAMBAHAN DHAMMA...seperti 4 kesunyataan menjadi 3 saja...dan jalan berunsur 8 di ubah menjadi 7 saja.
begitu pula buddha metteya(dari mulut gotama pertama kali keluar kata ini)
tidak akan beda dengan ajaran sekarang...

herannya...DI DEPAN MATA sudah jelas ajaran sammasambuddha ...malah tidak dipakai...bahkan menunggu ajaran buddha akan datang...

permen mata yang akan datang dengan sekarang tidak ada bedanya...
mengapa mesti menyia-nyiakan waktu yang berharga ini?.....heran benar gw..
 
hehehe...kalau gw pribadi tidak pernah merasa sakit jika ajaran buddha di selewengkan..
tapi gw merasa HERAN 100000%...hahaha

coba pikir.....sang buddha sudah mencapai PENCERAHAN SEMPURNA( di akui oleh aliran tersebut )
dhamma sang buddha sudah sangat jelas di babarkan.
sangha siswa sang buddha sudah menjalankan SILA / ketetapan yang di BUAT langsung oleh guru AGUNG GOTAMA..

tapi.........masih ada juga kata-kata buddha gotama yang mereka tidak percaya....bahkan mencari JALAN LAIN alias ALTERNATIF.
tapi.........dhamma yang demikian jelas...masih juga di edit dan ditambah...
tapi........SILA sedemikian JELAS di buat oleh GURU sendiri...di hapus bahkan di rubah sendiri...

berarti di akui-kah kesempurnaan buddha gotama?
lalu apa bedanya buddha gotama dengan buddha akan datang mengenai ajaran para buddha?......

dari buddha Tanhankara...sampai GOTAMA...tidak pernah ada TAMBAHAN DHAMMA...seperti 4 kesunyataan menjadi 3 saja...dan jalan berunsur 8 di ubah menjadi 7 saja.
begitu pula buddha metteya(dari mulut gotama pertama kali keluar kata ini)
tidak akan beda dengan ajaran sekarang...

herannya...DI DEPAN MATA sudah jelas ajaran sammasambuddha ...malah tidak dipakai...bahkan menunggu ajaran buddha akan datang...

permen mata yang akan datang dengan sekarang tidak ada bedanya...
mengapa mesti menyia-nyiakan waktu yang berharga ini?.....heran benar gw..

Sorry soal mengenai sakit hati, kata 'heran' memang lebih tepat. Setuju gw. Mungkin gaya bahasa gw yang bombastis. Batak sih.... hehehe

Juga setuju sekali tentang ajaran Buddha. Lalu kesempurnaan yang sudah dicapainya. Yang sekarang diklaim sebagai ajaran Metteya, apakah memang benar itu ajaran beliau?

Dan, memang kalau bisa berangkat naik bis trip saat ini, kenapa mesti menunggu trip besok? Apa yang bisa dikerjakan hari ini, mengapa mesti ditunda?
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.