• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Kambing Yang Menyelamatkan Pendeta (Kebodohan)

singthung

IndoForum Junior E
No. Urut
7164
Sejak
21 Sep 2006
Pesan
1.634
Nilai reaksi
27
Poin
48
Kambing Yang Menyelamatkan Pendeta (Kebodohan)



Dahulu kala, hiduplah seorang pendeta yang sangat terkenal, dari suatu ajaran agama yang sangat kuno. Ia memutuskan bahwa hari ini adalah hari yang tepat untuk mengadakan persembahan ritual dengan menyembelih kambing. Dalam kebodohan, ia berpikir bahwa ia adalah persembahan yang diinginkan oleh dewanya.

Maka ia mencari kambing yang pantas untuk dipersembahkan. Ia meminta pembantunya untuk membawa kambing tersebut ke sungai suci dan memandikannya serta kemudian menghiasainya dengan kalungan bunga. Kemudian para pembantu itu sendiri diminta untuk membersihkan diri sebagai bagian dari latihan penyucian.

Di tepi sungai, kambing itu tiba-tiba menyadari bahwa hari itu pasti akan terbunuh, ia juga menyadari tentang kelahiran-kelahiran dan kematian-kematiannya yang lampau dan juga kelahiran-kelahiran kembalinya yang lampau. Ia menyadari bahwa akibat dan perbuatan yang tidak benar di masa yang lampau akan segera selesai. Jadi ia mengeluarkan bunyi tawa yang nyaring, seperti suara simbal.

Ditengah tawa tersebut, ia menyadari suatu kebenaran yang lain - bahwa pendeta itu, dengan melakukan persembahan korban, ia akan mengalami penderitaan yang sama mengerikannya, akibat dari kebodohannya. Jadi ia mulai menangis sekeras tawanya!

Para pembantu yang saat itu sedang mandi di sungai suci pertama-tama mendengar tawa kemudian tangis. Mereka heran. Maka mereka bertanya kepada kambing itu, "Mengapa kamu tertawa dn kemudian menangis dengan sama kerasnya? Apakah alasannya?" Ia menjawab, "Aku akan memberitahukan alasannya. Tetapi harus di depan tuan kalian, sang pendeta".

Karena mereka sangat penasaran, mereka dengan segera membawa kambing persembahan itu kehadapan mereka. Mereka menjelaskan apa yang baru saja terjadi. Pendeta itu sendiri menjadi sangat ingin tahu. Ia dengan hormat bertanya kepada kambing tersebut, "Tuan, mengapa anda tertawa begitu keras, dan menangis sama kerasnya?"

Kambing itu, mengingat kehidupannya yang lalu, berkata "Dahulu kala, aku dulu adalah seorang pendeta juga, seperti anda yang terdidik dengan baik mengenai ucapan keagamaan. Saat itu aku juga mengira bahwa menpersembahkan seekor kambing bagi dewa juga diperlukan dan bermanfaat bagi orang lain, dan juga diriku sendiri di kelahiran yang akan datang. Akan tetapi sesungguhnya dari tindakanku itu adalah di dalam 499 kehidupanku berikutnya aku harus dipancung!"

"Ketika dipersiapkan untuk dipersembahkan, aku menyadari bahwa hari ini aku pasti akan kehilangan kepalaku untuk yang ke 500 kalinya. Dan akhirnya aku akan terbebas dari semua akibat perbuatanku yang tidak benar dalam kehidupan masa laluku. Sukacita akan hal inilah yang membuatku tertawa tidak terkontrol".

"Kemudian tiba-tiba aku menyadari bahwa kamu, pendeta, akan berbuat kesalahan yang sama denganku, dan akan terkutuk dengan akibat yang sama, terpancung kepalaku dalam 500 kali kehidupan yang akan datang! Jadi, karena kasihan dan simpati, tawaku berubah menjadi tangis".

Pendeta itu berkata, "Jangan takut, kambingku yang baik. Aku akan menyediakan perlindungan yang terbaik bagimu dan secara pribadi menjamin bahwa tidak akan ada celaka yang terjadi padamu". Tetapi kambing itu berkata. "Oh, pendeta, perlindungan anda sangat lemah dibandingkan dengan kekuatan karma/perbuatanku di masa lampau".

Jadi pendeta itu membatalkan persembahan yang akan dilakukannya, dan mulai mempunyai keraguan mengenai pembunuhan binatang yang tidak berdaya. Ia membebaskan kambing itu dan bersama para pembantunya mulai memgikuti kambing itu untuk memberikan perlindungan.

Kambing itu berjalan pergi, hingga tiba pada tempat yang berbatu karang. Ia melihat beberapa pucuk daun muda di suatu cabang dan menjulurkan lehernya untuk mencapai dedaunan tersebut. Tiba-tiba saja ada kilat. Satu sambaran kilat menyambar batu yang tajam, membelahnya dan runtuhan bebatuan yang tama itu tepat memenggal leher kambing itu! Seketika itu juga kambing itu mati, dan kilat itu menghilang.

Mendengar kejadian yang sangat aneh itu, beratus-ratus orang datang menuju ke tempat itu. Tidak ada yang dapat mengerti mengapa semua itu dapat terjadi.

Disekitar itu hiduplah seorang peri pohon. Ia telah melihat semua yang terjadi. Ia menampakkan diri, dengan lembut melayang di udara. Ia mulai mengajarkan kepada orang-orang yang ingin tahu itu dengan berkata, "Lihatlah apa yang terjadi pada kambing yang malang ini. Inilah akibat dari membunuh hewan! Semua makhluk dilahirkan, dan menderita pada waktu sakit, usia tua, dan kematian. Tetapi semuannya ingin hidup, bukan mati. Dengan tidak menyadari bahwa semua mempunyai persamaan seperti itu, beberapa diantaranya membunuh makhluk hidup lainnya. Ini menyebabkan penderitaan bagi si pembunuh, baik pada kehidupan sekarang maupun kehidupan-kehidupaa yang akan datang.

"Dengan tidak mengetahui bahwa semua perbuatan akan membawa akibat bagi si pelaku, beberapa dari mereka terus saja membunuh dan menyebabkan lebih banyak lagi penderitaan pada diri mereka sendiri di masa datang. Setiap kali mereka membunuh sebagian dari mereka juga harus mati dalam kehidupan saat ini. Dan penderitaan yang ada berlanjut bahkan sampai dilahirkan di alam neraka!"

Mereka yang mendengarkan peri itu berbicara merasa sangat beruntung. Mereka berhenti membunuh karena kebodohan/ketidaktahuan mereka dan hidup dengan lebih baik, baik dalam kehidupan saat ini maupun dalam kelahiran-kelahiran berikutnya.

PESAN YANG ADA:

Bahkan agama dapat menjadi sumber kebodohan.

 
maksudnya gimana kk ?
bisa memberikan masukan kpd saya ?

Maksudnya: bahwa agama juga bisa menjadi sumber kebodohan. Mengapa seperti itu, karena agama adalah pelita sebenarnya. Sedangkan kitab itu ada di hati. Semakin banyak pelita, makan akan semakin terang kitab di hati....

Agama menjadi semacam pembodohan, coba tarik ke diri masing-masing. Dengan mempelajari Buddha Dharma. yakin seyakin-yakinnya bahwa itu adalah kebenaran yang hakiki. Sensor diri dijebol... nalarpun hilang. Karena apa? karena sudah ada dasar kepercayaan maha kuat, bahwa Buddha Dharma yang dibaca adalah kebenaran sejati.

Sadarkah bahwa ada yang namanya perbedaan persepsi? Sadarkah bahwa ehipasiko diajarkan sebenarnya untuk ini.

Keyakinan kebenaran obsulute bisa membuat manusia menjadi sombong. Dengan mengerti sedikit Buddha Dharma, maka terpikir bahwa diri sendiri yang paling benar, menyalahi orang lain dan lain sebagainya.... Membaca kitab lain, kepala sudah menolak terlebih dahulu dengan 'cap' sesat sudah menempel di kepala. Akhirnya apa?

Apalagi kalau bukan pembodohan diri.....

Jari menunjuk bulan, tapi jari bukan bulan. Diri membaca kebenaran, tapi diri belum menjadi kebenaran.

Banyak kasus seperti ini.

Contoh lagi. Sidaharta Gautama saat meninggalkan anak istrinya untuk mencari kebenaran. Ini perbuatan suami yang salah. Jangan dianggap sebagai sebuah perbuatan yang benar. Kesalahan kita terkadang melihat Sidharta remaja sebagai manusia Buddha juga. Mengapa? karena kitab-kitab yang mengagungkannya membuat salah nalar kita.

Setelah menjadi Buddha, Sidharta menyesali perbuatan masa lalunya. Mengapa saya ucapkan demikian. Karena ada peraturan dalam memasuki Sangha yang mengharuskan ada izin dari keluarga. Artinya, perbuatan seperti yang sudah pernah dia lakukan sewaktu masih manusia biasa agar tidak terulang lagi. Laki-laki seperti apa yang hendak mengurus dunia, bila meninggalkan anak dan istrinya?

Dan banyak umat Buddha yang salah mengerti hal ini. Pembandingan hidup ke Sidharta Gautama. Kepada manusia Sidharta, Bukan ke Buddha Sakyamuni.

Ngerti maksudku.?

Saya tambah lagi. Ada yang vegetarian, ada yang tidak. Masing masing mengklaim diri sendiri paling benar. Bukankah ini pembodohan?

Yang tidak vege karena muncul sikap masa bodoh. Yang Vege justru menjadi congkak dan merasa diri sendiri lebih suci dari orang lain.

Ini pembodohan kan?

Bahkan, seperti yang di tulis SInthung di akhir.... Bahkan agama dapat menjadi sumber kebodohan.

Banyak sekali yang merasa tingkat pemahamannya sudah 'tinggi' hanya karena banyak baca, banyak meditasi, banyak bergaul dengan Bhikku/Bhiksu.... dsb..... Padahal, tanya diri sendiri. Sudahkan Brahma Vihara ada di diri anda. kalau belum..... anda belum mencapai apa-apa.....
 
Avuso roughtorer makin mantap saja.^_^

Mereka yang menganggap,
ketidak-benaran sebagai kebenaran,
dan kebenaran sebagai ketidak-benaran,
maka mereka yang mempunyai,
pikiran keliru seperti itu,
tak akan pernah dapat,
menyelami kebenaran.

Mereka yang mengetahui,
kebenaran sebagai kebenaran,
dan ketidak-benaran sebagai ketidak-benaran,
maka mereka yang mempunyai,
pikiran benar seperti itu,
akan dapat menyelami kebenaran.

 
Contoh lagi. Sidaharta Gautama saat meninggalkan anak istrinya untuk mencari kebenaran. Ini perbuatan suami yang salah. Jangan dianggap sebagai sebuah perbuatan yang benar. Kesalahan kita terkadang melihat Sidharta remaja sebagai manusia Buddha juga. Mengapa? karena kitab-kitab yang mengagungkannya membuat salah nalar kita.

Setelah menjadi Buddha, Sidharta menyesali perbuatan masa lalunya. Mengapa saya ucapkan demikian. Karena ada peraturan dalam memasuki Sangha yang mengharuskan ada izin dari keluarga. Artinya, perbuatan seperti yang sudah pernah dia lakukan sewaktu masih manusia biasa agar tidak terulang lagi. Laki-laki seperti apa yang hendak mengurus dunia, bila meninggalkan anak dan istrinya?

Dan banyak umat Buddha yang salah mengerti hal ini. Pembandingan hidup ke Sidharta Gautama. Kepada manusia Sidharta, Bukan ke Buddha Sakyamuni.

Pada awalnya saya juga menyangka bahwa betapa TEGANYA Siddharta meninggalkan ANAK ISTRINYA walaupun dengan keinginan untuk menemukan PEMBEBASAN.

Tetapi dari beberapa buku yang terakhir saya baca seperti JALUR TUA AWAN PUTIH karya THICHT NHAT HANH dan THE NAKED BUDDHA karya Adrianne Lowrey, saya mendapatkan informasi lain bahwa sebenarnya Siddharta meninggalkan kehidupan duniawi dengan sepengetahuan istrinya Yasodhara. Mengapa ?? Seperti yang diceritakan dalam cerita Jataka Tentang pemuda Migha yang mana merupakan kehidupan Lampau Siddharta, Yasodhara itu telah beraspirasi untuk menempuh kehidupan perumahtangga dengan Siddharta selama beberapa ratus kehidupan dan di depan buddha dipankara, Siddharta dan Yasodhara telah mengucapkan ikrar.

Berikut petikan cerita Jataka tersebut.

Sumpah Teratai (Pemuda Megha dan Seorang Gadis)

--------------------------------------------------------------------------------

Dikutip dari buku Jalur Tua Awan Putih (Jilid 2), Bab 36 hal 66, karya Y.A.Thicht Nhat Hanh.


Putri Yasodhara mengundang Buddha, Kaludayi, Nagasamala dan ibu ratu untuk makan bersama di istananya. Setelah mereka selesai makan, dia lalu mengundang mereka untuk menemaninya pergi ke sebuah desa kecil miskin tempat ia bekerja dengan anak anak. Rahula juga bergabung dengan mereka. Yasodhara memandu mereka menuju pohon jambu air tua tempat Buddha mengalami meditasi pertama-Nya ketika masih kecil. Bhagava heran betapa kejadian itu serasa baru terjadi kemarin padahal dua puluh tujuh tahun sudah berlalu. Pohon itu tumbuh jauh lebih besar selama sekian puluh tahun.

Atas permintaan Yasodhara, banyak anak miskin berkumpul di sekitar pohon itu. Yasodhara memberitahukan Bhagava bahwa anak anak yang pernah dijumpai Beliau puluhantahun silam sekarang sudah pada menikah dan punya keluarga masing-masing. Anak anak yang ada dibawah pohon berusia antara tujuh hingga dua belas tahun. Ketika melihat Buddha tiba mereka berhenti bermain lalu membentuk dua baris untuk Beliau berjalan ditengahnya. Sebelumnya Yasodhara sudah menunjukkan mereka cara menyalami Bhagava. Mereka menaruh sebuah kursi bambu khusus di bawah pohon untuk Bhagava dan menghamparkan tikar untuk alas duduk Ratu Gotami, YAsodhara, dan dua orang bhikkhu itu.

Buddha merasa bahagia duduk di sana. Beliau mengenang kembali hari hari yang pernah dilalui-Nya bersama anak anak miskin desa Uruvela. Beliau menceritakan kepada anak anak itu tentang Svasti, si gembala kerbau dan Sujata, gadis remaja yang memberi-Nya susu segar. Beliau membabarkan tentang menumbuhkembangkan hati yang penuh cinta kasih dengan cara memperdalam pengertian. Selain itu, Beliau juga menuturkan kepada mereka kisah tentang menyelamatkan seekor angsa dari sepupu laki laki-Nya yang memanah jatuh angsa itu. Anak anak mendengarkan semua uraian Bhagava dengan penuh ketertarikan.

Buddha mengisyaratkan RAhula untuk duduk dihadapan-Nya. Lalu beliau menceritakan anak anak itu sebuah kisah kehidupan lampau.

"Dahulu kala, hiduplah seorang pemuda bernama Megha di kaki pegunungan himalaya. Dia adalah pemuda yang baik dan rajin. Kendati tak punya uang, dengan penuh keyakinan pergilah dia ke ibukota untuk belajar. Dia hanya berbekal sebatang tongkat untuk berjalan, sebuah topi, sekendi air, pakaian yang dikenakannya, serta sebuah mantel. Sepanjang perjalanan, ia berhenti dan bekerja di ladang untuk mendapatkan nasi dan terkadang uang. Sewaktu tiba di ibukota Divapati, dia sudah mengumpulkan uang setara lima ratus rupee."

"Ketika dia memasuki kota, tampaknya penduduk sedang mempersiapkan suatu perayaan penting. Ingin tahu perayaan apa, ia pun melihat ke sekeliling guna mencari orang untuk ditanyai. Pada saat itu, melintaslah seorang gadis cantik di hadapannya. Gadis itu sedang memegang sebuah karangan bunga teratai yang setengah mekar."

Megha bertanya kepadanya, "Numpang tanya dik, ada perayaan apakah hari ini?"

GAdis itu menjawab, "Engkau pasti orang asing di Divapati, kalau bukan, engkau pasti tahu hari ini Guru yang tercerahkan, Dipankara sudah datang. Beliau dikatakan bagaikan sebuah obor yang menerangi jalan bagi semua makhluk. Beliau adalah putra Raja Arcimat yang berkelana mencari Jalan Sejati dan telah menemukan-Nya. Jalan beliau menerangi seantero dunia sehingga masyarakat menyelenggarakan perayaan ini untuk menghormati beliau."

Megha sangat gembira mendengar kehadiran seorang Guru yang telah Tercerahkan. Ingin sekali ia mempersembahkan sesuatu untuk Guru itu dan memohon menjadi murid-Nya. Bertanyalah ia kepada gadis itu, "Seharga berapakah engkau beli bunga bunga teratai itu ?"

GAdis itu menatap Megha dan dengan mudah dapat melihat bahwa ia adalah seorang pemuda yang cerdas yang penuh perhatian. Gadis itu menjawab, "Aku hanya membeli lima tangkai itu saja. Dua tangkainya lagi aku petik dari kolam di rumahku sendiri."

Megha bertanya, "Berapa uang yang engkau keluarkan untuk lima tangkai itu ?"

"Lima ratus rupee."

Megha meminta untuk membeli lima tangkai teratai dengan lima ratus rupeenya untuk dipersembahkan ke Guru Dipankara. Tapi gadis itu menolak dengan berkata, "Aku membeli bunga untuk dipersembahkan kepada Beliau. Aku tidak bermaksud untuk menjualnya kepada orang lain."

Megha mencoba membujuknya. "Tetapi engkau kan masih bisa mempersembahkan dua tangkai yang engkau petik dari kolammu sendiri. Mohon ijinkanlah aku membeli lima tangkai. Aku ingin mempersembahkan sesuatu untuk Guru. Sungguh satu kesempatan langka yang sangat berharga dapat menjumpai Guru sekaliber itu dalam kehidupan ini juga.Aku ingin menemui Beliau dan bahkan memohon untuk menjadi murid-Nya. Jika engkau mengijinkan aku membeli lima tangkai terataimu itu, aku akan sangat berterima kasih kepadamu untuk seluruh sisa hidupku."

Gadis itu menatap ke tanah dan tidak menjawab.
 
Megha membujuknya. "Jika engkau mengijinkan aku untuk membeli lima tangkai teratai itu, aku akan melakukan apa saja yang kau pinta."

GAdis itu tampak tersipu sipu malu. Lama dia tidak mengangkat pandangannya dari tanah. Akhirnya ia pun berkata, "Aku tidak tahu jodoh apa yang terjalin di antara kita dikehidupan lampau. Yang jelas, aku jelas jatuh cinta kepadamu pada pandangan pertama. Kujumpai banyak pemuda namun belum pernah hatiku bergetar seperti ini. Akan kuberikan teratai teratai ini kepadamu untuk dipersembahkan kepada Yang Tercerahkan, tapi hanya jika engkau berjanji kepadaku bahwa di dalam kehidupan ini dan kehidupan kehidupan kita selanjutnya, aku akan menjadi istrimu."

Dia mengucapkan kata kata tersebut dengan tergesa gesa sehingga setelah selesai hampir saja ia kehabisan nafas. Megha tak tahu apa yang harus dikatakannya. Setelah hening sejenak dia pun berkata, "Engkau sangat istimewa dan jujur sekali. Waktu melihatmu, aku pun merasakan sesuatu yang khusus dalam hatiku. Tapi aku mencari jalan menuju pembebasan. Jika menikah, tak akan bebas kutelusuri jalur itu saat kesempatan yang tepat menampakkan diri."

GAdis itu menjawab, "Berjanjilah bahwa aku akan menjadi istrimu dan aku bersumpah ketika tiba waktunya bagi dirimu untuk mencari jalurmu, aku tak akan mencegahmu pergi. Sebaliknya, aku akan melakukan segala yang kumampu untuk membantumu sepenuhnya mencapai pencerahanmu."

Dengan bahagia Megha menerima usulannya dan bersama berangkatlah mereka mencari Guru Dipankara. Massa begitu padat sehingga mereka hampir tidak dapat melihat Beliau di depan sana. Walaupun hanya dapat memandang wajah Beliau sekilas saja, tapi sudah cukup bagi Megha untuk mengetahui bahwa Beliau benar benar adalah Yang Tercerahkan. Megha merasakan kegembiraan yang luar biasa dan bersumpah bahwa suatu hari dirinya pun akan mencapai pencerahan tersebut. Ingin sedekat mungkin ia menghampiri agar dapat mempersembahkan Guru Dipankara bunga teratai, tapi mustahil baginya untuk bergerak maju melalui lautan manusia. Tak tahu apa yang harus dilakukan, ia pun melemparkan bunga bunga itu ke arah Guru Dipankara. Secara ajaib sekali teratai-teratai itu mendarat tepat di tangan sang Guru. Megha begitu gembira melihat betapa ketulusan hatinya terbukti. Gadis itu meminta Megha untuk melemparkan bunganya ke arah sang Guru. Gua tangkai teratai itu juga mendarat di tangan sang Guru. Guru Dipankara berseru, meminta pihak yang mempersembahkan bunga teratai untuk menampakan diri. Massa membelah diri memberikan jalan untuk Megha dan gadis itu. Megha menggandeng tangan sang gadis. Bersama mereka membungkuk hormat di hadapan Guru Dipankara. Sang Guru menatap Megha lalu berkata, "Aku memahami ketulusan hatimu, dapat kulihat engkau memiliki keteguhan hati yang besar untuk menelusuri jalur spiritual guna mencapai penerangan sempurna dan menyelamatkan semua makhluk. Berbahagialah, Suatu hari dalam kehidupan mendatang, engkau akan mencapai sumpahmu."

Setelah itu Guru Dipankara memandang gadis itu yang sedang berlutut di sisi Megha dan berkata kepadanya, "Engkau akan menjadi sahabat terdekat Megha dalam kehidupan ini maupun banyak kehidupan mendatang.Ingatlah untuk menepati janjimu. Engkau akan membantu suamimu merealisasikan sumpahnya."

MEgha dan gadis itu tersentuh mendalam sekali oleh kata kata Sang Guru. Mereka membaktikan diri untuk mempelajari jalur menuju pembebasan yang diajarkan oleh Yang Tercerahkan, Dipankara.

"Anak anak, dalam kehidupan ini dan banyak kehidupan selanjutnya. Megha dan gadis itu hidup sebagai suami istri. Sewaktu sang suami harus pergi guna menelusuri jalur spiritualnya, si istri membantunya dalam segala cara yang ia mampu. Tak pernah ia mencoba mencegahnya. Oleh sebab itu, dia merasakan syukur yang paling dalam kepada istrinya. Akhirnya, berhasillah ia merealisasikan sumpahnya dan menjadi manusia yang mencapai penerangan sempurna, seperti yang diramalkan Guru Dipankara di banyak kehidupan sebelumnya."

"Anak anak, uang dan kemasyhuran bukanlah yang terpenting dalam kehidupan. Uang dan kemasyhuran bisa hilang cepat sekali. Pengertian dan cinta kasih adalah hal yang terpenting dalam kehidupan. Jika kalian memiliki pengertian dan cinta kasih, kalian akan tahu kebahagiaan. Berkat pengertian dan cinta kasih masing-masing, Megha dan istrinya saling berbagi kebahagiaan di banyak kehidupan. Dengan pengertian dan kasih sayang, tiada yang tak bisa kalian selesaikan."

Yasodhara beranjali dan membungkuk hormat kepada Bhagava. Dia begitu tersentuh hingga menitikkan air mata. Ia tahu meskipun Bhagava menuturkan kisah itu kepada anak anak, tetapi sesungguhnya kisah itu secara khusus ditujukan kepada dirinya. Itu adalah cara Beliau menghaturkan terima kasih kepada dirinya. Ratu Gotami menatap Yasodhara. Dia pun paham mengapa Bhagava menceritakan kembali kisah ini. Dia lalu meletakkan tangannya ke atas pundak menantunya dan berkata kepada anak-anak, "Tahukah kalian siapa Megha dalam kehidupan ini? Beliau adalah Buddha. Dalam kehidupan kali ini. Beliau menjadi orang yang mencapai penerangan sempurna. Dan tahukah kalian siapa istri Megha dalam kehidupan kali ini ? Dia tak lain tak bukan adalah Putri Yasodhara kalian. Berkat pengertiannya, Pangeran Siddharta bisa menelusuri jalurnya dan mencapai kebangkitan. Sudah sepantasnya kita menghaturkan terima kasih kepada Yasodhara.

Lama sudah anak anak mengasihi Yasodhara. Sekarang mereka berpaling ke arahnya lalu membungkuk hormat kepadanya untuk menyatakan seluruh kasih yang ada di dalam lubuk hati mereka. Buddha tersentuh secara mendalam. Setelah itu, Beliau bangkit berdiri dan dengan perlahan berjalan kembali ke vihara diikuti bhikkhu Kaludayi dan Nagasamala.
 
Ketika saya membaca penggalan cerita seperti tertera dibawah ini...

....... "Anak anak, uang dan kemasyhuran bukanlah yang terpenting dalam kehidupan. Uang dan kemasyhuran bisa hilang cepat sekali. Pengertian dan cinta kasih adalah hal yang terpenting dalam kehidupan. Jika kalian memiliki pengertian dan cinta kasih, kalian akan tahu kebahagiaan. Berkat pengertian dan cinta kasih masing-masing, Megha dan istrinya saling berbagi kebahagiaan di banyak kehidupan. Dengan pengertian dan kasih sayang, tiada yang tak bisa kalian selesaikan."

Yasodhara beranjali dan membungkuk hormat kepada Bhagava. Dia begitu tersentuh hingga menitikkan air mata. Ia tahu meskipun Bhagava menuturkan kisah itu kepada anak anak, tetapi sesungguhnya kisah itu secara khusus ditujukan kepada dirinya. Itu adalah cara Beliau menghaturkan terima kasih kepada dirinya. Ratu Gotami menatap Yasodhara. Dia pun paham mengapa Bhagava menceritakan kembali kisah ini. Dia lalu meletakkan tangannya ke atas pundak menantunya dan berkata kepada anak-anak, "Tahukah kalian siapa Megha dalam kehidupan ini? Beliau adalah Buddha. Dalam kehidupan kali ini. Beliau menjadi orang yang mencapai penerangan sempurna. Dan tahukah kalian siapa istri Megha dalam kehidupan kali ini ? Dia tak lain tak bukan adalah Putri Yasodhara kalian. Berkat pengertiannya, Pangeran Siddharta bisa menelusuri jalurnya dan mencapai kebangkitan. Sudah sepantasnya kita menghaturkan terima kasih kepada Yasodhara.

Lama sudah anak anak mengasihi Yasodhara. Sekarang mereka berpaling ke arahnya lalu membungkuk hormat kepadanya untuk menyatakan seluruh kasih yang ada di dalam lubuk hati mereka. Buddha tersentuh secara mendalam .....


Saya juga terharu secara mendalam. Mendengar cerita tentang kualitas kehidupan berpasangan antara Siddharta dan Yasodhara dalam beberapa ratus kehidupan sungguhlah menjadi air penyejuk.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.