• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Jaya Manggala Gatha

singthung

IndoForum Junior E
No. Urut
7164
Sejak
21 Sep 2006
Pesan
1.634
Nilai reaksi
27
Poin
48
Menaklukkan Angulimala
(dengan Kesaktian/Iddhi)



Ukkhitta khagga matihattha sudãrunantam
Dhãvantiyo janapathan gulimãla vantam
Uddhibhisankhatamano jitavã munindo
Tan tejasã bhavatu te jayamangalãni

Sangat kejam dengan pedang terhunus dalam tangan yang kokoh kuat
Angulimala berlari mengejar sepanjang jalan tiga yojana dengan berkalung untaian jari
Raja Para Bijaksana menaklukkannya dengan kesaktian
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.

Istri kepala penasehat (Purohita Brahmana) Raja Pasenadi Kosala yang bernama Mantani, melahirkan seorang anak laki-laki. Pada saat kelahirannya, semua senjata di dalam kota berkilau mengeluarkan cahaya yang terang benderang. Kejadian ini menyebabkan ayahnya bertanya kepada ahli perbintangan, mereka meramalkan bahwa anak tersebut di kemudian hari akan menjadi perampok. Keesokan harinya, ketika ia mengunjungi istana, sang ayah bertanya kepada Raja Pasenadi, apakah tadi malam Raja dapat tidur nyenyak. Raja menjawab, tadi malam ia tidak dapat tidur dengan nyenyak karena melihat semua senjata di dalam gudang berkilauan. Hal ini menandakan adanya bahaya yang akan menimpa Raja sendiri atau kerajaannya. Brahmana tersebut lalu menyampaikan kepada Raja, bahwa semalam istrinya telah melahirkan seorang anak laki-laki. Pada saat kelahirannya, tidak hanya pedang kerajaan, semua senjata yang ada di seluruh kota berkilauan, yang menandakan bahwa anaknya kelak akan menjadi perampok.

Brahmana tersebut bertanya kepada Raja, apakah Raja menghendaki agar ia membunuh anaknya yang baru lahir itu. Raja lalu bertanya, apakah anak tersebut kelak akan menjadi kepala perampok ataukah menjadi perampok tunggal. Ia menjawab bahwa anak tersebut akan menjadi perampok tunggal.

Raja tidak terlalu khawatir, karena beliau beranggapan bahwa kerajaannya tidak akan dapat dikacaukan hanya oleh seorang perampok. Jadi beliau membiarkan anak tersebut hidup dan tumbuh menjadi dewasa.

Anak itu diberi nama Ahimsaka, yang berarti tidak melukai siapapun (=tanpa kekerasan). Anak itu diberi nama demikian karena ia berasal dari keluarga yang tidak pernah dinodai dengan kejahatan dan juga karena sifat anak itu sendiri.

Ketika Ahimsaka dewasa, ia disekolahkan di Taxila, suatu pusat pendidikan yang terkenal pada masa lampau. Ahimsaka amat pandai, dapat melampaui murid-murid yang lain dan menjadi murid yang paling menonjol, dan ia amat disayang oleh gurunya.

Teman-temannya menjadi iri kepadanya. Mereka berusaha mencari kesalahan agar Ahimsaka dapat dihukum. Mereka tidak dapat mencela kemampuan maupun reputasi baik keluarga Ahimsaka.

Mereka lalu memfitnah bahwa Ahimsaka telah melakukan hal yang tidak pantas dengan istri gurunya. Mereka lalu membagi kelompoknya menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama memberitahukan kepada guru mereka tentang kesalahan Ahimsaka, kelompok kedua dan ketiga membenarkan apa yang dikatakan oleh kelompok yang pertama. Ketika guru mereka tidak mempercayai apa yang mereka katakan, mereka mengusulkan supaya guru mereka membuktikannya sendiri.

Guru Ahimsaka kemudian melihat istrinya berbicara dengan ramah kepada Ahimsaka, hal ini menambah kecurigaannya, sehingga ia merencanakan untuk melenyapkan Ahimsaka. Sebagai orang terpelajar, di dalam usahanya untuk melenyapkan Ahimsaka, ia tidak melakukannya secara terbuka, karena ia takut tidak ada lagi murid yang mau berguru kepadanya.

Oleh karena itu ia berkata kepada Ahimsaka :
"Muridku, saya tidak sanggup lagi mengajarmu lebih lanjut, kecuali kamu dapat mengumpulkan seribu buah jari tangan kanan manusia sebagai biaya pendidikanmu."

Guru Ahimsaka mengira bahwa Ahimsaka tidak akan pernah berhasil melaksanakan keinginannya. Dan di dalam usahanya untuk mengumpulkan jari manusia, ia pasti akan tertangkap oleh pengawal raja.

Ahimsaka menjawab, bahwa di dalam keluarga mereka tidak mempunyai kebiasaan untuk melakukan kejahatan kepada orang lain. Berulang-ulang Ahimsaka memohon kepada gurunya, agar ia dapat membayar biaya pendidikannya dengan cara yang lain, tetapi gurunya tetap pada pendiriannya. Apabila ia menolak melaksanakannya, ia akan mendapat kutukan. Karena ia mempunyai keinginan yang kuat untuk belajar dan tidak ada jalan lain lagi untuk melanjutkan pendidikannya, ia lalu mempersenjatai dirinya dan masuk ke hutan Jalini di Kosala, yang merupakan pertemuan dari delapan jalan dan mulai membunuh siapapun yang lewat di situ untuk mengumpulkan jari tangan manusia sesuai dengan permintaan gurunya.

Jari yang terkumpul digantungnya pada sebuah pohon. Namun karena jari-jari tersebut selalu dihancurkan oleh burung gagak dan burung pemakan bangkai, ia lalu membuat untaian jari untuk memastikan jumlah jari yang telah dikumpulkannya. Sejak itu ia dikenal dengan nama Angulimala (=Untaian Jari).

Rakyat lalu pergi ke Savatthi, menghadap Raja untuk memberitahukan bahwa jumlah penduduk semakin berkurang, karena kekejaman seorang perampok yang selalu membunuh penduduk yang lewat di hutan itu. Mereka memohon supaya Raja mengirim pasukan untuk menangkapnya. Raja mengabulkan permohonan rakyat dan segera memerintahkan pasukan kerajaan untuk menyelidiki perampok tersebut.

Brahmana yang merupakan ayah Ahimsaka, berkata kepada istrinya bahwa ia amat khawatir kalau-kalau perampok yang kejam itu adalah anak mereka sendiri, dan bertanya apa yang harus mereka lakukan. Istrinya lalu berkata, sebaiknya ia cepat-cepat pergi ke hutan, sebelum pasukan kerajaan tiba, untuk menyadarkan anaknya. Namun brahmana itu menolak untuk pergi. Istri brahmana itu lalu memutuskan untuk masuk ke hutan seorang diri. Dengan kecintaan seorang ibu terhadap anaknya yang amat besar, ia meratap dan berseru agar anaknya mau mengikuti tradisi keluarga, berhenti melakukan pembunuhan dan berkata bahwa pasukan raja sedang dalam perjalanan untuk menangkapnya.

Pada waktu yang sama, Sang Buddha yang sedang bersemayam di Vihara Jetavana melihat dengan Mata Buddha (melalui Maha Karuna Samapatti), bahwa dari kumpulan karma baik yang dimiliki pada kehidupannya yang lampau, Angulimala memiliki cukup banyak kebajikan untuk menjalani kehidupan sebagai seorang bhikkhu dan mempunyai kemampuan untuk mencapai Tingkat Kesucian Tertinggi yaitu menjadi Arahat pada kehidupan ini juga. Sang Buddha juga melihat bahwa ibu Angulimala dapat terbunuh apabila Angulimala melihatnya, karena ia sudah amat ingin melengkapi untaian jari yang diminta oleh gurunya.

Untuk mencegah hal ini, Sang Buddha lalu mengubah wujudNya menjadi seorang bhikkhu dan segera memasuki hutan. Para pengembala dan petani berusaha mencegah Sang Buddha untuk masuk ke hutan seorang diri, karena empat puluh orang yang pergi bersama-sama pun dapat dibunuh oleh Angulimala. Meskipun mendapat peringatan, Sang Buddha tetap melanjutkan perjalanNya dengan berdiam diri. Untuk kedua dan ketiga kalinya mereka berusaha mencegah Sang Guru masuk ke hutan tersebut, namun Sang Buddha dengan berdiam diri tetap meneruskan perjalananNya masuk ke dalam hutan.

Pada pagi hari itu, Angulimala telah mengumpulkan sembilan ratus sembilan puluh sembilan buah jari dan telah merencanakan bahwa siapapun yang ditemuinya pada hari itu harus dibunuhnya. Tetapi ia mendapat kesulitan untuk menemukan orang yang dapat dibunuhnya, karena orang-orang selalu berjalan dalam rombongan yang besar dan bersenjata lengkap.

Akhirnya ia melihat seorang bhikkhu seeang berjalan seorang diri, tanpa membawa senjata. Ia berpikir tentu amat mudah untuk membunuhnya. Angulimala lalu membawa pedang, tameng, anak panah beserta busurnya mengikuti Sang Buddha dari jarak yang dekat.

Sang Buddha menunjukkan kesaktianNya, sehingga bagaimanapun Angulimala berusaha berlari sekuat tenaga, sedangkan Sang Buddha berjalan dengan kecepatan biasa, ia tetap tidak dapat menyusul Sang Buddha.

Angulimala lalu berpikir, "Saya telah mengejar gajah, kuda, kijang dan dapat mengalahkan mereka, sekarang meskipun saya sudah berlari sekuat tenaga, dan Bhikkhu ini berjalan dengan kecepatan biasa saja, saya tetap tidak dapat mendekatiNya."

Dengan terengah-engah dan berkeringat, ia berteriak meminta Sang Buddha untuk berhenti : "Tittha (Berhentilah) Samana!"

Sang Buddha menjawab : "Saya sudah berhenti! Hentikan dirimu sendiri!"

Angulimala keheranan akan jawaban Sang Buddha dan bertanya : "Apa maksudMu?"

Sang Buddha menjawab :
"Saya telah bertekad untuk melimpahkan kasih sayang kepada semua mahluk, sedangkan kamu tidak mempunyai belas kasih terhadap mahluk lain. Oleh karena itu Saya sudah berhenti, sedangkan kamu belum berhenti melakukan pembunuhan."

Karena tumpukan karma baik Angulimala yang amat besar pada kehidupannya yang lampau, bahwa ia diberi tahu oleh Buddha Padumuttara, bahwa ia akan menjadi seorang Arahat. Sebagai seorang yang mempunyai kemampuan untuk menjadi seorang Arahat, setalah mendengar apa yang dikatakan oleh Sang Buddha, ia mengetahui bahwa pertapa mulia ini adalah Buddha Gotama yang karena cinta kasihNya yang amat besar datang untuk menolongnya.

Angulimala segera melemparkan untaian jari dan senjatanya, lalu bernamaskara di kaki Sang Buddha dan memohon untuk ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu. Sambil mengangkat tanganNya, Sang Buddha berkata :
"Ehi Bhikkhu (Mari, O Bhikkhu)."

Dengan demikian Angulimala dapat menerima delapan kebutuhan pokok seorang bhikkhu pada saat yang bersamaan dan langsung menerima Upasampada, tanpa terlebih dahulu menjadi seorang samanera. Dengan disertai oleh Angulimala, Sang Buddha kembali ke Vihara Jetavana.

Sementara itu Raja Pasenadi Kosala didesak untuk menangkap perampok Angulimala. Sudah menjadi kebiasaannya untuk menemui Sang Buddha apabila ada kejadian genting. Setalah Raja Pasenadi Kosala bernamaskara, lalu duduk di salah satu sisi, Sang Buddha bertanya :
"O, Raja, ada hal apakah yang membuat anda risau?
Apakah Raja Seniya Bimbisara dari Magadha menantang anda?
Apakah para Pangeran Licchavi dari Vesali?
Atau para bangsawan sainganmu?"

Raja lalu menjelaskan masalah yang sedang dihadapinya, ia mengakui tidak dapat menangkap Angulimala si perampok yang haus darah itu. Sang Buddha lalu bertanya :
"Apa yang akan anda lakukan kalau perampok itu memakai jubah seorang bhikkhu?"

Raja menjawab :
"Yang Mulia, saya akan menghormatinya seperti saya menghormat kepada seorang bhikkhu."

Pada saat itu Bhikkhu Angulimala sedang duduk di dekat Sang Buddha. Beliau lalu berkata kepada raja :
"O, Raja, inilah Angulimala."

Raja Pasenadi Kosala menjadi ketakutan, badannya gemetar, rambutnya berdiri. Sang Buddha lalu menenangkannya dan berkata bahwa ia tidak perlu takut lagi, karena Angulimala telah menjadi seorang bhikkhu. Raja lalu mendekati Bhikkhu Angulimala dan menanyakan tentang orang tuanya, dan menawarkan untuk memenuhi semua kebutuhannya. Pada saat itu Bhikkhu Angulimala telah menjalani latihan hidup di hutan, berpindapatta, memakai jubah dari kain perca yang terdiri dari tiga bagian. Oleh karena itu ia menolak tawaran raja, karena ia sudah tidak memerlukannya lagi. Kemudian Raja Pasenadi Kosala memberi hormat kepada Bhikkhu Angulimala dan menyatakan keheranannya kepada Sang Buddha akan perubahan yang dialami oleh Bhikkhu Angulimala. Ia lalu pulang ke istana dengan hati yang bahagia.

Pada suatu hari, ketika Bhikkhu Angulima sedang berpindapatta di Savatthi, Beliau melihat seorang wanita yang sangat kesakitan karena akan melahirkan. Beliau melihat penderitaan wanita itu, tergerak hatinya, lalu berpikir :
"Betapa menderitanya mahluk hidup, betapa menderitanya mahluk hidup!"

Beliau yang pernah membunuh sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang, sekarang merasa amat kasihan melihat seorang wanita menderita kesakitan karena akan melahirkan. Ketika Beliau selesai berpindapatta dan makan pagi, Beliau pergi ke vihara menemui Sang Buddha dan menyampaikan apa yang dilihatnya. Sang Buddha lalu meminta Bhikkhu Angulimala pergi menemui wanita itu dan berkata :
"Saudari, sejak saat saya dilahirkan dalam Keluarga Ariya, saya tidak sadar, dengan sengaja telah membunuh mahluk hidup. Berdasarkan kebenaran ini, semoga anda selamat dan semoga anak anda selamat."

Beliau lalu pergi menemui wanita yang akan melahirkan bayinya. Layar penyekat diletakkan melingkari sang ibu, Bhikkhu Angulimala duduk dan mengulang Paritta yang diajarkan Sang Buddha. Segera saja bayi tersebut lahir dengan mudah dan selamat. (Kemanjuran Paritta Angulimala Sutta ini masih terbukti hingga saat ini).

Tidak lama kemudian, Bhikkhu Angulimala mencapai Tingkat Kesucian Arahat.

Pada suatu hari, ketika Yang Mulia Angulimala sedang berpindapatta di Savatthi, Beliau dilempari bongkahan tanah, tongkat dan batu. Kepalanya terluka, bercucuran darah dan mangkokNya pecah. Beliau pulang kembali ke vihara dan mendekati Sang Buddha yang sedang duduk. Sang Buddha yang melihat keadaanNya lalu menjelaskan, bahwa semua kejadian ini adalah akibat dari perbuatan burukNya, yang sesungguhnya dapat membuatNya menderita di Alam Neraka selama ribuan tahun.

Sekarang Yang Mulia Angulimala hidup menyendiri, menikmati Kebahagiaan dari Kebebasan, mengucapkan pernyataan-pernyataan Kebijaksanaan, meninggal dunia dan mencapai Nibbana.

Para bhikkhu membicarakan tempat kelahiran kembali dari Yang Mulia Angulimala, Sang Buddha memberitahu mereka, bahwa Beliau telah mencapai Nibbana. Para bhikkhu keheranan, bagaimana mungkin seseorang yang telah melakukan begitu banyak pembunuhan dapat mencapai Nibbana. Sang Buddha menjawab bahwa pada masa yang lampau, karena bimbingan yang kurang baik, Angulimala telah melakukan perbuatan-perbuatan buruk namun kemudian ketika Beliau mendapat bimbingan yang baik, Beliau menjalani kehidupan suci. Dengan demikian Beliau dapat mengatasi perbuatan buruk dengan perbuatan baiknya. Setelah berkata demikian, Sang Buddha mengucapkan syair :

"Mereka yang dapat mengatasi perbuatan buruk mereka dengan perbuatan baik, menyinari dunia ini, bagaikan bulan yang terbebas dari awan." (Dhammapada 173).
 
Mengalahkan Cinca
(dengan Kedamaian / Santi)



Katvãna katthamudaram iva gabbhiniyã
Ciñcãya duttha vacanam janakãya majjhe
Santena somaviddhinã jitavã munindo
Tan tejasã bhavatu te jayamangalãni

Setelah membuat perutnya gendut seperti wanita hamil dengan mengikatkan sepotong kayu
Cinca memfitnah di tengah-tengah banyak orang
Raja Para Bijaksana menaklukkannya dengan sikap kesatria dan kedamaian
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.

Pada saat para pertapa kehilangan banyak pengikut yang menyokong kehidupan mereka, mereka amat iri melihat banyak orang, baik kaya maupun miskin mendatangi Sang Buddha untuk menyampaikan hormat dan mendengarkan Dhamma. Mereka lalu melakukan perbuatan buruk, dan berteriak-teriak di tengah jalan : "Hai saudara-saudara ..... Apakah hanya Bhikkhu Gotama saja yang dapat menjadi seorang Buddha? Kami adalah para Buddha juga! Apakah hanya dengan berdana kepadaNya saja yang akan memperoleh kebajikan? Yang berdana kepada kami, juga akan memperoleh kebajikan yang sama. Karena itu kamu harus memberikan dana dan penghormatan kepada kami juga."

Tetapi penduduk di desa itu tetap tidak memperhatikan mereka. Akhirnya para pertapa dengan diam-diam berkumpul bersama dan berunding : "Dengan cara bagaimana kita dapat mencela Bhikkhu Gotama di depan orang banyak, sehingga orang-orang akan berhenti memberikan dana dan penghormatan kepadaNya?"

Pada waktu itu di Savatthi, tinggallah seorang pertapa wanita bernama Cinca Manavika. Ia mempunyai kecantikan dan keelokan yang luar biasa. Dari tubuhnya memancar sinar terang seperti seorang dewi. Seorang penasihat pertapa yang kasar mengusulkan, dengan bantuan Cinca mereka akan dapat mencela Sang Buddha Gotama. Para pertapa yang lain menyetujui usulannya. Mereka lalu memanggil Cinca Manavika.

Cinca Manavika mendatangi para pertapa, lalu memberi hormat dan berdiri menanti, tetapi para pertapa itu diam saja. Ia lalu bertanya : "Ada masalah apakah Anda ingin bertemu dengan saya?"

Pertanyaan ini diulangnya tiga kali, tetapi para pertapa itu diam saja. Kemudian ia berkata lagi : "Tuan yang mulia, saya datang menghadap untuk memperoleh jawaban. Ada masalah apakah Anda ingin bertemu dengan saya? Mengapa Anda tidak mau menjawab pertanyaanku?"

"Saudari," jawab salah seorang pertapa, "Tahukah kamu, kalau Bhikkhu Gotama sangat merugikan kami, sehingga penghasilan dan penghormatan orang-orang kepada kami menjadi hilang?"

"Tidak yang mulia, saya tidak mengenalnya, tetapi adakah yang dapat saya bantu dalam hal ini?"

"Saudari, kalau kamu mengharapkan kami hidup sejahtera, gunakanlah segala kemampuanmu, susunlah rencana untuk mencela Bhikkhu Gotama, sehingga orang-orang tidak memberikan dana dan penghormatan lagi kepadaNya."

Cinca Manavika menjawab : "Baiklah yang mulia, saya akan melakukannya, jangan khawatir." Setelah berkata demikian, ia pergi dari pertapaan itu.

Sejak saat itu, Cinca meningkatkan keahliannya dalam bidang kewanitaan untuk mencapai maksudnya. Ia lalu menyusun rencana, apabila penduduk Savatthi kembali dari Vihara Jetavana setelah mendengarkan Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha, ia dengan sengaja mengenakan mantel panjang yang berwarna merah menyala, menyemprotkan minyak wangi dan mengenakan untaian bunga di tangannya, dan berjalan menuju ke arah Vihara Jetavana. Orang-orang bertanya : "Mau kemana kamu pada malam hari begini?"

"Saya mau pergi kemana saja, apa urusannya denganmu?"

Ia lalu menghabiskan malam itu di dekat Vihara Jetavana, di tempat para pertapa. Keesokan harinya ketika para penduduk keluar dari rumah menuju ke vihara untuk menyampaikan hormatnya kepada Sang Buddha, ia berjalan balik pulang masuk ke kota, seperti ia baru saja kembali dari Vihara Jetavana. Orang-orang bertanya : "Tidur di mana kamu semalam?"

"Apa urusannya dengan kamu, di mana saya tidur semalam?" jawabnya.

Setelah satu setengah bulan berlalu, apabila orang bertanya dengan pertanyaan seperti di atas, ia selalu menjawab :
"Oh, saya menghabiskan malam ini di Vihara Jetavana sendirian bersama Bhikkhu Gotama di Ruang Dhammasala."

Karena jawabannya itulah membuat orang-orang mempunyai perasaan curiga dan khawatir, tetapi mereka tidak percaya akan apa yang dikatakan Cinca. Mereka bertanya-tanya : "Ini benar atau salah...?"

Ketika tiga minggu sampai empat bulan berlalu, Cinca lalu membalut perutnya dengan kain, sehingga terlihat ia sedang hamil muda. Ia lalu pergi dan berkata kepada para penduduk : "Saya mengandung bayi dari Bhikkhu Gotama."

Jadi ia menipu dengan melakukan perbuatan yang sangat bodoh. Ketika delapan sampai sembilan bulan berlalu, ia mengikat dengan kuat sepotong kayu di perutnya, dan menutupinya dengan jubah panjang. Ia lalu membuat seluruh tubuhnya membengkak, dengan cara memukuli tangan, kaki dan punggungnya dengan sepotong tulang kerbau. Ia merasa tubuhnya seperti orang yang sedang hamil tua.

Pada malam itu ia mendatangi Ruang Dhammasala dan berdiri di hadapan Sang Buddha. Saat itu Sang Buddha sedang duduk di tempat duduknya yang indah, di tengah Ruang Dhammasala dan sedang membabarkan Dhamma. Dengan berdiri di hadapan Sang Buddha, Cinca Manavika membuka mulutnya, mencerca dengan berkata: "Hai Bhikkhu Yang Perkasa, kekuatanMu adalah mengumpulkan orang ketika sedang mengajarkan AjaranMu; dengan suaraMu yang halus dan lembut keluar dari bibirMu. Sayang sekali ternyata Kamu adalah orang yang menjadikan saya hamil dan saya akan melahirkan tidak lama lagi. Tetapi, Kamu juga tidak berusaha untuk menyediakan tempat berbaring di ruangan ini untukku, ataupun menawarkan kepadaku susu, minyak ataupun keperluan lainnya yang aku butuhkan. Batalkan semua tugas yang harus Kamu kerjakan, tidakkah Kamu katakan ke orang-orang yang menjadi pengikutMu, seperti Raja Kosala, Anathapindika dan Visakha pendukungMu yang terkenal itu. Katakanlah : 'Berikanlah apa yang perempuan muda ini butuhkan.' Kamu mengetahui dengan baik bagaimana membuat kesenangan, tetapi Kamu tidak mengetahui bagaimana memelihara anak yang menjadi keturunanMu ini."

Cinca mencerca Sang Tathagata di tengah-tengah orang banyak, seperti seorang perempuan yang membawa kotoran di tangannya dan ingin mengotori permukaan bulan.

Sang Buddha yang diganggu oleh Cinca saat Beliau membabarkan Dhamma hanya berkata :
"Saudari, apa yang kamu katakan itu benar atau salah, hanya Tathagata 1) dan kamu yang tahu."

"Ya, Bhikkhu Yang Perkasa, siapakah yang dapat memutuskan apakah hal ini benar atau salah kalau hanya saya dan Kamu yang tahu?" jawab Cinca.

Pada saat itu juga tempat duduk Dewa Sakka 2) terasa panas. Dewa Sakka mencari sebabnya mengapa tempat duduknya menjadi panas, Beliau segera menyadari bahwa : "Cinca Manavika berbohong dengan menuduh Sang Tathagata."

Dewa Sakka lalu berkata sendiri : "Saya akan membuat masalah ini menjadi terang dan jelas."

Dewa Sakka beserta keempat dewa lainnya pergi ke Ruang Dhammasala itu. Para Dewa itu lalu mengubah dirinya menjadi tikus-tikus kecil. Dengan satu gigitan dari tikus-tikus kecil itu, tali yang mengikat kayu di perut perempuan itu putus. Pada waktu itu juga angin bertiup dengan kencangnya sehingga jubah panjang itu terlepas dari tubuh Cinca, dan sepotong kayu segera jatuh dari perutnya. Kayu itu menimpa kaki dan memutuskan jari-jari kakinya. Orang-orang berteriak :
"Perempuan jahat ini telah mencerca Yang Maha Sempurna, usir dia dari sini."

Dengan segera mereka lalu mencengkeram kepalanya, dengan segumpal tanah dan tongkat di tangan mereka mengusir Cinca, lalu melemparkan Cinca keluar dari Vihara Jetavana.

Ketika ia tidak terlihat lagi oleh Sang Tathagata, bumi di hadapannya merekah terbelah dua dan membenamkannya sampai di kedua lututnya, dan api Neraka Avici 3) segera menyambarnya. Tubuh Cinca lalu ditelan kobaran api, dan seperti diselimuti oleh selimut yang indah, dengan segera ia terlahir kembali di Neraka Avici.

Sejak saat itu orang-orang tidak menghormati para pertapa itu lagi, sebaliknya pengikut Sang Buddha bertambah banyak.

Keesokan harinya, para bhikkhu berdiskusi di Ruang Dhammasala :
"Bhante, Cinca Manavika karena kesalahannya menuduh Yang Maha Suci, Yang Maha Sempurna, ia menjadi hancur."

Sang Guru Agung mendekati mereka dan bertanya :
"O, Para Bhikkhu, apa yang kalian bicarakan?"

Ketika mereka menjelaskan apa yang mereka perbincangkan, Sang Buddha lalu menjelaskan :
"O, Para Bhikkhu, ini bukanlah yang pertama kali ia melakukan kesalahan dengan melakukan tuduhan bohong kepadaKu dan menjadi hancur. Ia telah melakukan hal yang sama pada kelahirannya yang terdahulu."

Setelah berkata demikian, Sang Guru lalu bersabda :
Kalau seorang raja melihat dengan jelas kesalahan pada suatu bagian
Sesudah ia sendiri menyelidiki semua fakta dengan teliti
Baik kecil maupun besar, ia tidak harus memberikan hukuman.


Setelah berkata demikian, Beliau menjelaskan hal ini secara terperinci di dalam Maha Paduma Jataka (No. 472), di Nipata Dua Belas.

Keterangan :

Tathagata : Yang Maha Sempurna; Sebutan untuk Sang Buddha yang digunakan oleh Beliau apabila berbicara untuk diriNya.
Dewa Sakka : Raja para dewa
Neraka Avici : Salah satu dari neraka yang menakutkan
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.