• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Jarangnya Kemunculan Seorang Buddha

singthung

IndoForum Junior E
No. Urut
7164
Sejak
21 Sep 2006
Pesan
1.634
Nilai reaksi
27
Poin
48
Jarangnya Kemunculan Seorang Buddha


Anàthapindika—seorang hartawan yang kelak menyumbangkan Vihàra Jetavana—dalam suatu kunjungannya ke Ràjagaha, ketika ia bertemu dengan Buddha untuk pertama kalinya, mendengar kata “Buddha” dari saudara iparnya yang juga kaya raya di Ràjagaha. Begitu ia mendengar kata “Buddha,” ia berseru, “Ghoso’pi kho eso gahapati dullabho lokasmim yadidam ‘buddho buddho’ ti”, artinya “Teman, jarang sekali mendengar kata ‘Buddha, Buddha’ di dunia ini.”

Ketika Buddha berdiam di Kota âpana di Negeri Aïguttaràpa, seorang guru brahmana bernama Sela, mendengar kata “Buddha” dari Keniya—petapa berambut kasar. Begitu ia mendengar kata “Buddha” ia berpikir, “ghoso ‘pi kho eso dullabho lokasmim yadidam ‘buddho buddho’ ti’“, artinya, “Jarang sekali mendengar kata ‘Buddha, Buddha’ di dunia ini.” Tidak lama kemudian, ia bersama tiga ratus pengikutnya, menjadi ehi-bhikkhu dan tujuh hari kemudian mereka mencapai tingkat kesucian Arahatta.

Dari kutipan ini, sebenarnya sangatlah jarang dan sulit dapat mendengar kata “Buddha, Buddha” dan lebih jarang lagi munculnya seorang Buddha.

Kata “berlian” yang dimaksudkan dapat berupa berlian asli ataupun palsu. Demikian pula, karena kabar munculnya Buddha telah tersebar sebelum munculnya Buddha, Anàthapindika dan Sela pasti telah mendengarnya sebelum pernyataan palsu dari enam guru petapa telanjang yang menyebut diri mereka “Buddha”. Tetapi, seperti halnya kata “berlian”, hanya jika yang dimaksud adalah berlian asli, yang dapat menyenangkan seseorang yang dapat membedakan berlian asli atau palsu; demikian pula, mereka yang memiliki kecerdasan seperti Anàthapindika dan Sela, kata “Buddha” dapat membawa kegembiraan hanya jika yang dimaksud adalah Buddha sejati.

Bagaikan menganggap berlian palsu sebagai berlian asli oleh mereka yang bodoh dan yang berpendapat salah. Demikian pula para pengikut yang menganggap guru mereka—enam petapa telanjang sebagai Buddha asli, adalah pendapat yang salah dan berbahaya (micchàdhimokkha).

Untuk lebih menjelaskan mengenai fenomena jarangnya kemunculan seorang Buddha di dunia, adalah penting untuk mengetahui hal-hal berikut sehubungan dengan Bodhisatta dan Buddha:

1. Bodhisatta (makhluk yang kelak akan mencapai Pencerahan Sempurna, Bakal Buddha).

2. Bodhisatta-kicca (tugas-tugas seorang Bakal Buddha).

3. Buddha (makhluk agung yang telah memenuhi tugas-Nya sebagai Bakal Buddha dan telah mencapai Pencerahan Sempurna), dan

4. Buddha-kicca (tugas-tugas seorang Buddha).

1. Bodhisatta

Empat pengetahuan Pandangan Cerah* mengenai Jalan (Magga Nana) dengan atau tanpa disertai kemahatahuan (Sabbannuta Nana**) disebut Pencerahan (Bodhi). Pencerahan ada tiga jenis:

(* Jalan menuju lenyapnya penderitaan, yang berbentuk faktor terakhir dari Empat Kebenaran Mulia yang terdiri dari delapan faktor: (1) pandangan benar (sammà diññhi), (2) pemikiran benar (sammà saïkappa), (3) perkataan benar (sammà vàcà), (4) perbuatan benar (sammà kammanta), (5) penghidupan benar (sammà àjãva),(6) usaha benar (sammà vàyàma), (7) perhatian benar (sammà sati), dan (8) pemusatan benar (sammà samàdhi). Dua pertama adalah kebijaksanaan (pannà), tiga berikutnya adalah moralitas (sãla), dan tiga terakhir adalah konsentrasi (samàdhi).)

(**Catatan: Sabbannuta Nana terdiri dari kata sabbannuta dan Nana. Kata pertama sabbannuta artinya adalah mahatahu. Seseorang yang memiliki sabbannuta atau Sabbannuta Nana adalah Sabbannu, Yang Mahatahu, bukan berarti ia selalu mengetahui segalanya, tetapi ia dapat mengetahui segalanya jka ia menghendakinya.)

(1) Sammà-Sambodhi: Pencerahan berupa empat pengetahuan Pandangan Cerah mengenai Jalan yang disertai kemahatahuan. Empat pengetahuan mengenai Jalan adalah pemahaman atas Empat Kebenaran Mulia oleh diri sendiri tanpa bantuan guru, dan memiliki kekuatan untuk melenyapkan kotoran batin, juga kebiasaan-kebiasaan (vàsanà) dari kehidupan-kehidupan sebelumnya; Kemahatahuan adalah pemahaman atas semua prinsip yang perlu diketahui. Manusia mulia yang memiliki keinginan baik yang kuat untuk mencapai Sammà-Sambodhi disebut Sammà-Sambodhisatta, “Bakal Buddha Sempurna.”

(2) Pacceka-Bodhi: Pencerahan berupa empat pengetahuan Pandangan Cerah mengenai Jalan, yaitu pemahaman atas Empat Kebenaran Mulia oleh diri sendiri tanpa bantuan guru. Manusia mulia yang memiliki keinginan baik yang kuat untuk mencapai Pacceka-Bodhi disebut Pacceka-Bodhisatta, “Bakal Pacceka Buddha.”

(3) Sàvaka-Bodhi: Pencerahan berupa empat pengetahuan Pandangan Cerah mengenai Jalan, yaitu pemahaman atas Empat Kebenaran Mulia oleh diri sendiri dengan bantuan guru. Manusia mulia yang memiliki keinginan baik yang kuat untuk mencapai Sàvaka-Bodhi disebut Sàvaka-Bodhisatta, “Bakal Siswa Buddha.”

Tiga Jenis Bakal Buddha

Dari tiga jenis manusia mulia ini (1) Sammà-Sambodhisatta atau Bakal Buddha Sempurna dibagi atas tiga jenis: (a) Bakal Buddha Pannàdhika, (b) Bakal Buddha Saddhàdhika, dan (c) Bakal Buddha Viriyàdhika.

Kebuddhaan adalah pencapaian kemahatahuan (Sabbannuta Nana). Untuk mencapai kebijaksanaan tertinggi ini, pencari harus memiliki kebijaksanaan yang lebih kuat. Faktor-faktor bagi kebijaksanaan adalah pertimbangan yang mendalam dalam melakukan berbagai perbuatan secara fisik, ucapan maupun pikiran. Dengan demikian, kebijaksanaan seseorang akan menguat dan matang dalam kehidupan demi kehidupan sehingga akhirnya dapat mencapai kemahatahuan yang bahkan lebih kuat dari semua kebijaksanaan. Seperti uang yang diperoleh dengan cara investasi, demikian pula kemahatahuan diperoleh dengan investasi intelektual.

(a) Bakal Buddha disebut Pannàdhika dengan faktor kebijaksanaan kuat yang selalu hadir dalam setiap usaha-Nya dalam menjadi Buddha setelah memenuhi Kesempurnaan (Pàrami) selama empat asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa.

(b) Bakal Buddha lain meyakini bahwa mereka dapat menjadi Buddha dengan memenuhi Kesempurnaan, dan memiliki keyakinan yang lebih kuat. Dalam diri mereka keyakinan lebih kuat daripada kebijaksanaan. Oleh karena itu mereka disebut Bakal Buddha Saddhàdhika, “Bakal Buddha dengan keyakinan yang kuat.” Karena mereka tidak dituntun oleh kebijaksanaan melainkan oleh keyakinan, dalam memenuhi Kesempurnaan-Nya, mereka akan menjadi Buddha setelah delapan asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa.

(c) Ada lagi Bakal Buddha lain yang mengandalkan sepenuhnya kepada usaha. Bagi mereka kebijaksanaan bukanlah faktor yang penting. Mereka juga tidak mementingkan keyakinan dalam memenuhi Kesempurnaan menuju Pencerahan. Menganggap bahwa usaha akan membawa mereka menuju Kebuddhaan,mereka sangat mementingkan usaha dalam memenuhi Kesempurnaan dan menjadi Buddha hanya setelah enam belas asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa. Oleh karena itu mereka disebut Bakal Buddha Viriyàdhika, “Bakal Buddha dengan usaha yang kuat.”

Harus dipahami bahwa, tiga jenis Buddha Pannàdhika, Saddhàdhika, dan Viriyàdhika―hanya berlaku untuk Bakal Buddha. Tiga jenis Buddha ini hanya ada ketika mereka adalah Bakal Buddha, namun begitu mereka mencapai Kebuddhaan, mereka semua sama dalam hal kebijaksanaan, keyakinan, dan usaha. Tidak dapat disebutkan Buddha mana yang lebih mulia daripada yang lainnya dalam segala aspek.

Pannàdhikànam hi saddhà mandà hoti pannà tikkhà;
Saddhàdhikànam pannà majjhimà hoti saddhà balavà;
Viriyàdhikànam saddhà-pannà mandà viriyaÿ balavam.

Bakal Buddha Pannàdhika, kebijaksanaan kuat namun keyakinan lemah.
Bakal Buddha Saddhàdhika, kebijaksanaan madya namun keyakinan kuat.
Bakal Buddha Viriyàdhika, kebijaksanaan dan keyakinan lemah namun usaha kuat.

Alasan Perbedaan Antara Tiga Jenis Bakal Buddha

Telah disebutkan ada tiga jenis Bodhisatta dengan periode pemenuhan Kesempurnaan berbeda, yaitu empat asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa, delapan asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa, dan enam belas asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa. Alasan perbedaan ini disebutkan dalam Pàramãdawgan Pyo, sebuah epos yang disusun oleh seorang sastrawan Myanmar zaman dulu―Ashin Silavaÿsa. Menurutnya, perbedaan ini karena Jalan yang dipilih oleh masing-masing Bakal Buddha yaitu, Bakal Buddha Pannàdhika memilih Jalan Kebijaksanaan yang memerlukan empat asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa untuk mencapai Buahnya. Bakal Buddha Saddhàdhika memilih Jalan Keyakinan yang memerlukan delapan
asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa untuk mencapai Buahnya. Bakal Buddha Viriyadhika memilih Jalan Usaha yang memerlukan enam belas asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa untuk mencapai Buahnya.

Menurut pandangan beberapa guru lain, yang disebutkan dalam Pakinnaka-kathà dari komentar Cariyà Piñaka, perbedaan tiga periode ini adalah karena perbedaan tingkat usaha, yaitu, kuat, madya, dan lemah. (Pandangan ini menyebutkan bahwa seorang Pannàdhika Bodhisatta memerlukan waktu empat asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa untuk memenuhi-Nya karena usaha yang kuat; namun pandangan ini membingungkan (sankara-dosa) karena Bakal Buddha Pannàdhika bertumpang tindih dengan Bakal Buddha Viriyàdhika).

Pandangan yang diusulkan oleh Komentator Dhammapàla dan lainnya adalah bahwa perbedaan ini disebabkan karena perbedaan tingkat kematangan―kuat, madya, dan lemah― dari Kesempurnaan yang mengarah pada Pembebasan (vimutti paripàcanãya Dhamma). Untuk penjelasannya, bahkan pada waktu menerima ramalan, Bodhisatta telah terbagi dalam tiga jenis: (i) Ugghàñitannu Bodhisatta (seseorang yang menembus Kebenaran pada saat sedang mendengarkan penjelasan), (ii) Vipancitannu Bodhisatta (seseorang yang menembus Kebenaran saat penjelasan selesai), dan (iii) Neyya Bodhisatta (memerlukan bimbingan, setelah melalui nasihat dan tanya jawab, melalui pertimbangan bijaksana, dengan bergaul dengan orang-orang bijaksana, perlahan-lahan menembus Kebenaran).

(i) Ugghàtitannu Bodhisatta adalah mereka yang memiliki kapasitas untuk mencapai tingkat kesucian Arahatta bersama-sama dengan Enam Kemampuan Batin Tinggi (Abhinnà) dan Empat Pengetahuan Analitis (Pañisambhidà); mereka dapat mencapai tingkat tersebut bahkan sebelum akhir dari baris ketiga dari empat baris bait yang dikhotbahkan oleh Buddha jika mereka ingin mencapai Pencerahan sebagai seorang siswa (Sàvaka-Bodhi) dalam kehidupan itu juga. (Ini adalah satu dari delapan faktor untuk menerima ramalan).

(ii) Vipancitannu Bodhisatta adalah mereka yang memiliki kapasitas untuk mencapai tingkat kesucian Arahatta bersama-sama dengan Enam Kemampuan Batin Tinggi (Abhinnà) dan Empat Pengetahuan Analitis (Pañisambhidà); mereka dapat mencapai tingkat tersebut bahkan sebelum akhir dari baris keempat dari empat baris bait yang dikhotbahkan oleh Buddha jika mereka ingin mencapai Pencerahan sebagai seorang siswa (Sàvaka-Bodhi) dalam kehidupan itu juga.

(iii) Neyya Bodhisatta adalah mereka yang memiliki kapasitas untuk mencapai tingkat kesucian Arahatta bersama-sama dengan Enam Kemampuan Batin Tinggi (Abhinnà) dan Empat Pengetahuan Analitis (Pañisambhidà); mereka dapat mencapai tingkat tersebut pada akhir dari seluruh bait yang dikhotbahkan oleh Buddha jika mereka ingin mencapai Pencerahan sebagai seorang siswa (Sàvaka-Bodhi) dalam kehidupan itu juga.

Seorang Ugghàtitannu Bodhisatta, tingkat kematangan Kesempurnaan yang mengarah kepada Pembebasan adalah sangat kuat sehingga mereka hanya memerlukan waktu empat asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa setelah menerima ramalan. Seorang Vipancitannu Bodhisatta, tingkat kematangan Kesempurnaan yang mengarah kepada Pembebasan adalah madya sehingga mereka memerlukan waktu delapan asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa setelah menerima ramalan. Seorang Neyya Bodhisatta, tingkat kematangan Kesempurnaan yang mengarah kepada Pembebasan adalah sangat lemah sehingga mereka memerlukan waktu enam belas asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa setelah menerima ramalan.

Ugghàtitannu Bodhisatta sama dengan Pannàdhika Bodhisatta; demikian pula Vipancitannu Bodhisatta sama dengan Saddhàdhika Bodhisatta, dan Neyya Bodhisatta sama dengan Viriyàdhika Bodhisatta.

Tidak Mungkin Mencapai Kebuddhaan Sebelum Menyelesaikan Masa Pemenuhan Kesempurnaan

Padi hanya dapat matang setelah ditanam selama tiga, empat atau lima bulan, tidak mungkin memanen padi dalam lima belas hari atau satu bulan meskipun disiram dan disiangi beberapa kali dalam sehari; tangkai dan daunnya tidak dapat tumbuh sesuai keinginan seseorang, ia tidak dapat tumbuh berkembang, berbuah, dan matang sebelum waktunya. Demikian pula, harus dimengerti bahwa tiga jenis Bodhisatta tidak mungkin mencapai Kebuddhaan dengan sempurna dengan Buah kemahatahuan yang matang sebelum mereka menyelesaikan masa pemenuhan Kesempurnaan selama empat, delapan atau enam belas asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa, bahkan jika, setelah menerima ramalan, mereka memberikan dàna setiap hari seperti Pangeran Vessantara dan menjalani kebajikan seperti moralitas, dan lain-lain.

2. Bodhisatta-kicca

Hanya dengan keinginan untuk memiliki kekayaan namun tidak bekerja untuk mendapatkannya tidak akan membawa ke mana-mana. Hanya dengan bekerja cukup keras seseorang boleh berharap untuk memperoleh apa yang diinginkannya. Demikian pula, tiga jenis Bakal Buddha yang ingin mencapai tiga jenis Pencerahan yang telah dijelaskan sebelumnya akan mencapainya hanya setelah mereka memenuhi Kesempurnaan (Pàramã), mengorbankan kehidupan dan bagian tubuh mereka sebagai dàna (càga) dan mengembangkan kebajikan melalui tindakan (cariya) sebagai alat untuk memperoleh Pencerahan yang mereka inginkan.

Dalam sebuah perusahaan, keuntungan yang akan diperoleh ditentukan oleh modal yang diinvestasikan dan usaha yang dilakukan. Jika modal yang diinvestasikan cukup besar dan usaha yang dilakukan cukup keras, keuntungannya pasti besar; jika modal dan usahanya sedang-sedang saja, keuntungannya juga akan sedang-sedang saja; jika modal dan usahanya kecil maka keuntungan yang diperoleh juga kecil. Demikian pula, ada perbedaan antara Pencerahan yang dicapai oleh mereka yang melakukan investasi dalam bentuk pemenuhan Kesempurnaan, pengorbanan hidup dan organ tubuh sebagai dàna, dan pengembangan kebajikan, praktik-praktik yang mendukung pencapaian Pencerahan (Bodhiparipàcaka). Keuntungan yang diperoleh dalam bentuk Pencerahan juga berbeda karena ada perbedaan dalam investasi Kesempurnaan, pengorbanan, dan praktik kebajikan mereka.

Perbedaan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

(1) Samma-Sambodhisatta,

Bakal Buddha, yang bahkan sebelum menerima ramalan pasti (yang diucapkan oleh seorang Buddha, “Orang ini akan mencapai kebuddhaan bernama ini dalam dunia itu.”) telah mengumpulkan jasa dan telah memutuskan dalam batinnya untuk menjadi Buddha.
Seperti yang disebut dalam kalimat berikut:

Aham pi pubbabuddhesu, buddhattamabhipatthayim
manasà yeva hutvàna, dhammaràjà asaïkhiyà

Dalam Buddhàpadàna dari Apadàna, seorang Bakal Buddha di hadapan tidak terhitung banyaknya Buddha, bercita-cita untuk mencapai Kebuddhaan selama tidak terhitung banyaknya kappa.

Setelah bertekad untuk mencapai Kebuddhaan dan mengumpulkan jasa-jasa selama kurun waktu tertentu, ketika ia memiliki delapan faktor (seperti Petapa Sumedhà), seorang Bodhisatta akan menerima ramalan pasti dari seorang Buddha hidup.

Di sini harus dimengerti bahwa tekad yang dilakukan oleh mereka yang bercita-cita untuk menjadi Buddha (Abhinãhàra) dilakukan dalam dua tahap; sebagai cita-cita untuk mencapai Pencerahan Sempurna sebelum memiliki delapan faktor yang hanya merupakan tindakan batin, tekadnya di hadapan satu demi satu Buddha belumlah lengkap, dan ia belum layak mendapat gelar Bodhisatta.

Tetapi setelah ia memiliki delapan faktor seperti Sumedhà, ia bertekad dengan berikrar:

“Iminà me adhikàrena katena purisuttame
sabbannutam pàpunitvà tàremi janatam bahum”

Yang artinya:

“Sebagai buah dari kebajikan yang telah kulakukan demi tercapainya Kebuddhaan tanpa memedulikan hidupku, semoga aku, dapat mencapai Kebuddhaan, dapat menolong makhluk-makhluk lain.”

Tekadnya menjadi lengkap pada saat itu, oleh karena itu ia siap menerima ramalan pasti.
Harus dipahami bahwa, lengkapnya tekad ini (abhinãhàra) adalah kebajikan kesadaran yang besar (kehendak) yang timbul sebagai akibat dari perenungan kemuliaan yang tidak terbayangkan dari Buddha dan welas asih-Nya yang sangat besar demi kesejahteraan semua makhluk. Dan kebajikan kesadaran yang besar ini memiliki kekuatan untuk memotivasi pemenuhan kesempurnaan, pengorbanan kehidupan dan organ-organ tubuh sebagai dàna, dan pengembangan kebajikan melalui praktik.

Saat kebajikan kesadaran yang besar ini timbul dalam diri Bakal Buddha, ia menempatkan dirinya pada Jalan menuju Kebuddhaan. Karena ia telah berada di jalan menuju Kebuddhaan, ia berhak mendapat gelar Bodhisatta. Karena tekad yang sempurna sebagaimana telah dijelaskan di atas, yaitu kebajikan kesadaran besar, timbullah dalam dirinya cita-cita baik, yaitu mencapai Pencerahan Sempuran dan kemampuan yang tidak ada tandingannya dalam memenuhi Kesempurnaan, untuk mengorbankan hidupnya dan organ-organ tubuhnya sebagai dàna, dan mengembangkan kebajikan yang membentuk prasyarat untuk mencapai Kebuddhaan.

Dan juga karena kesadaran kebajikan besar yang telah dijelaskan sebelumnya, ia merenungkan Kesempurnaan yang harus dipenuhi dan bagaimana cara melakukannya. Ia melakukan hal ini dengan pengetahuan penyelidikan Kesempurnaan (Pàrami-pavicaya Nana), dan lain-lain yang memungkinkannya untuk menembus berbagai hal tanpa bantuan guru. Pengetahuan ini adalah pengantar dalam mencapai Kebuddhaan; diikuti oleh pemenuhan Kesempurnaan yang nyata satu demi satu.

Seperti yang disebutkan dalam Nidàna-katha dari Komentar Cariyà-Piñaka, setelah menerima ramalan pasti akan menjadi Buddha, Bakal Buddha harus terus-menerus berusaha memenuhi Kesempurnaan (Pàrami), pengorbanan (càga), dan melakukan kebajikan melalui praktik (cariya)* yang merupakan prasyarat untuk mencapai Pengetahuan Jalan Kearahattaan (Arahatta-Magga Nana) dan kemahatahuan (Sabbannuta Nana) melalui empat pengembangan, yaitu: (i) sabbasambhàra bhàvanà, (ii) nirantara bhàvanà, (iii) cirakàla bhàvanà, dan (iv) sakkaca bhàvanà.

(*Catatan: Kesempurnaan, pengorbanan, dan tindakan: Pàrami, càga, cariya: Pàramã ada sepuluh. Càga yang dimaksudkan adalah mapariciccàga, persembahan atau pengorbanan yang luar biasa besar, yang terdiri dari lima jenis persembahan: kekayaan, anak, istri, organ tubuh, dan nyawa. Cariya secara harfiah berarti perbuatan, sikap, atau praktik, yang dilakukan demi kesejahteraan diri sendiri dan makhluk lain. Cariya terdiri dari tiga kelompok, yaitu: (1) lokattha cariya, praktik demi kesejahteraan semua makhluk, (2) Nàtattha cariya, praktik demi kesejahteraan sanak-saudara sendiri, dan (3) Buddhathha cariya, praktik demi mencapai Pencerahan.)

Dari empat ini: (i) sabbasambhàra bhàvanà adalah pengembangan total dari seluruh Kesempurnaan; (ii) nirantara bhàvanà adalah Pengembangan Kesempurnaan dalam periode waktu minimum selama empat asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa, atau waktu maksimum selama enam belas asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa, tanpa terputus dalam satu kehidupan sekalipun (iii) cirakàla bhàvanà adalah Pengembangan Kesempurnaan selama waktu yang panjang tidak berkurang satu kappa pun dari waktu minimum empat asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa; dan (iv) sakkaca bhàvanà adalah Pengembangan Kesempurnaan dengan sungguh-sungguh dan saksama.

Kualitas Moral dari Seorang Bakal Buddha

Bakal Buddha, yang telah menerima ramalan pasti, sangat mudah tergerak oleh welas asih terhadap makhluk lain saat ia melihat mereka yang tidak berdaya dan tidak memiliki perlindungan dalam kesulitan mengarungi kehidupan, yang ditimpa berbagai penderitaan hebat berupa kelahiran, usia tua, sakit, dan kematian; berupa pembunuhan, cacat dan luka; berupa kesulitan mencari nafkah, dan penderitaan makhluk-makhluk di alam sengsara. Karena tergerak oleh welas asih ini, ia menahan penderitaan yang luar biasa menyesakkan dan tak terperihkan seperti memotong tangannya, kakinya, telinganya, dan lain-lain, dicelakai oleh mereka yang buta dan bodoh, dan welas asihnya kepada mereka bertahan selamanya.

Ia melingkupi semua makhluk dengan welas asihnya dengan cara sebagai berikut,“Bagaimanakah aku harus memperlakukan mereka yang jahat kepadaku? Aku adalah seorang yang berusaha memenuhi Kesempurnaan dengan tujuan untuk membebaskan mereka dari kesengsaraan lingkaran kelahiran. Betapa kuatnya Kebodohan! Betapa kuatnya Kemelekatan! Betapa menyedihkan, dikuasai oleh kemelekatan dan kebodohan, mereka bahkan melakukan serangan terhadapku yang sedang berusaha untuk membebaskan semua makhluk. Karena mereka telah melakukan kekejaman ini, mereka akan mengalami kesulitan.

Dengan memancarkan welas asihnya kepada semua makhluk, Ia mencoba mencari cara dan alat yang tepat untuk menolong mereka dan merenungkan, “Karena dikuasai oleh kemelekatan dan kebodohan, mereka dengan keliru menganggap apa yang tidak kekal sebagai sesuatu yang kekal, penderitaan sebagai kebahagiaan, bukan aku sebagai aku, dan yang menyakitkan sebagai sesuatu yang menyenangkan. Dengan cara apakah Aku dapat menolong dan mengeluarkan mereka dari penderitaan yang muncul karena sesuatu penyebab.”

Dalam perenungannya, Bodhisatta melihat bahwa kesabaran (khanti) adalah satu-satunya alat untuk membebaskan makhluk-makhluk dari penjara kehidupan. Ia tidak pernah marah sedikit pun kepada makhluk-makhluk yang bersikap kejam kepadanya yang memotong bagian-bagian tubuhnya, dan lain-lain. Ia berpikir, “Sebagai akibat dari perbuatan jahat yang pernah kulakukan pada masa lampau, aku pantas mengalami penderitaan saat ini. Karena aku telah melakukan kesalahan sebelumnya, aku pantas menerima penderitaan ini sekarang; Akulah yang memulai penderitaan ini.” Demikianlah ia menanggapi kekejaman makhluk lain terhadapnya.

Kemudian ia merenungkan lagi, “Hanya dengan kesabaran aku dapat menyelamatkan mereka. Jika aku jahat kepada mereka yang jahat, aku akan menjadi sama dengan mereka; aku tidak ada bedanya dengan mereka. Bagaimana aku dapat membebaskan mereka dari kesengsaraan lingkaran kelahiran? Tidak akan pernah bisa. Oleh karena itu, dengan mengandalkan kekuatan kesabaran yang menjadi dasar bagi semua kekuatan, dan menerima semua perbuatan jahat mereka terhadapku, aku akan sabar; dan dengan cinta kasih dan welas asih sebagai penuntun, aku akan memenuhi Kesempurnaan. Hanya dengan demikian aku dapat mencapai Kebuddhaan. Hanya dengan mencapai Kebuddhaan, aku dapat menyelamatkan semua makhluk dari penderitaan yang ditimbulkan oleh suatu sebab.” Demikianlah ia melihat situasi tersebut sebagaimana adanya.

Setelah merenungkan demikian, Bakal Buddha memenuhi Kesempurnaan demi Kesempurnaannya dengan cara yang unik—Sepuluh Kesempurnaan biasa, Sepuluh Kesempurnaan yang lebih tinggi, dan Sepuluh Kesempurnaan tertinggi, seluruhnya berjumlah tiga puluh, yang merupakan prasyarat bagi Pencerahan (Bodhisambhàra). Pemenuhan Kesempurnaan dilakukan dalam empat cara pengembangan seperti yang telah dijelaskan di atas.

Tidak Terlahir di Alam Surga Selama Memenuhi Kesempurnaan

Sebelum Ia menyelesaikan kesempurnaannya dalam kelahirannya sebagai Pangeran Vessantara (Bakal Buddha Gotama sebagai Raja Jetuttara, kelahiran terakhir di alam manusia sebelum Bodhisatta terlahir kembali sebagai Pangeran Siddhattha), selagi dalam tahap memenuhi Kesempurnaan, mengorbankan hidupnya dan bagian-bagian tubuhnya sebagai dàna dan mengembangkan praktik dalam cara yang unik, seorang Bakal Buddha dapat terlahir berkali-kali di alam dewa yang berumur panjang sebagai akibat dari kebajikan-kebajikannya. Tetapi ia memilih untuk memotong kehidupannya di alam dewa dengan sengaja mati (adhimutti-marana) karena di alam dewa sulit untuk memenuhi Kesempurnaan, sebaliknya ia sering kali terlahir di alam manusia di mana ia dapat meneruskan tugasnya yaitu memenuhi Kesempurnaan.

Kesempurnaan Dibandingkan Dengan Samudra

Seluas-luasnya samudra masih ada batasnya, dibatasi oleh dasarnya di bawah, oleh permukaannya di atas, dan dikelilingi oleh pegunungan cakkavàla di tepinya. Namun, samudra Kesempurnaan berdana (dàna-Pàrami) yang dipenuhi dan dikumpulkan oleh Bakal Buddha tidak terhingga; dimensinya tidak terbatas. Sehubungan dengan Kesempurnaan Kedermawanan, kita tidak menentukan batasnya dengan menghitung jumlah harta yang diberikan; atau dari jumlah daging dan darah yang telah diberikan; atau dari jumlah mata atau kepala yang telah dikorbankan. Demikian pula, kita tidak dapat menentukan batas dari Kesempurnaan lainnya, seperti moralitas (sãla-Pàrami) dengan cara yang sama. Demikianlah perbandingan antara samudra dengan Kesempurnaan, harus dipahami bahwa samudra memiliki kapasitas yang terbatas sedangkan Kesempurnaan adalah tidak terbatas.

Bakal Buddha Tidak Pernah Merasakan Sakit

Pada siang hari yang panas, seseorang akan pergi ke danau, mandi dan menyelam; dalam keadaan demikian ia tidak merasakan panas dan teriknya matahari. Demikian pula halnya dengan Bakal Buddha yang meliputi dirinya dengan welas asih, dalam usahanya menyejahterakan makhluk-makhluk lain, masuk ke dalam samudra Kesempurnaan dan menyelam di sana. Karena ia diliputi oleh perasaan welas asih, ia tidak merasakan sakit, sekalipun bagian-bagian tubuhnya terpotong, atau oleh berbagai penyiksaan.

bersambung...
 
Bagus postnya bos.... jangan lama-lama bersambungnya yah... aku tungguin nih...
 
Waktu yang Lama yang Diperlukan untuk Memenuhi Kesempurnaan

Seorang Bakal Buddha harus memenuhi Kesempurnaan selama paling sedikit empat asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa sejak menerima ramalan hingga kelahiran terakhirnya di mana ia menyelesaikan tugas pemenuhan Kesempurnaan (seperti dalam kehidupan Vessantara). Menurut Saÿyutta Nikàya, satu kappa adalah periode di mana, jika tulang suatu makhluk disusun, susunan tulangnya akan setinggi gunung. Oleh karena itu, jumlah kelahiran seorang Bakal Buddha yang panjangnya empat asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa akan lebih banyak daripada jumlah tetesan air di samudra. Dari setiap kelahiran ini, tidak ada satu kehidupan pun yang dilewati dengan sia-sia tanpa memenuhi Kesempurnaan.

Kisah Pemenuhan Kesempurnaan oleh Bakal Buddha seperti yang disebutkan dalam 550 kisah Jàtaka dan dalam cerita-cerita Cariyà-Piñaka hanya sedikit contoh dari semua yang pernah ia alami selama empat asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa. Bagaikan mengambil semangkuk air dari laut untuk mencicipi rasa asinnya. Buddha menceritakan kisah ini sebagai gambaran dalam situasi dan kondisi tertentu. Jumlah kisah yang ia ceritakan dan jumlah pengalamannya yang sebenarnya dapat diumpamakan sebagai semangkuk air laut dan samudra.

Kesempurnaan dàna yang dipenuhi oleh Buddha dinyanyikan dalam bait pujian di dalam Jinàlaïkàra sebagai berikut:

So sàgare jaladhikam rudhiram adàsi
bhåmim paràjiya samamsamadàsi dànam
meruppamànamadhikanca samolisisam
khe tàrakàdhikataram nayanam adàsi.

Dengan bertujuan untuk memperoleh kebijaksanaan yang tidak terbatas, dan dengan penuh keyakinan dan semangat Bodhisatta itu memberikan dàna darahnya yang berwarna merah delima yang banyaknya lebih dari jumlah tetesan air di empat samudra. Dengan bertujuan untuk memperoleh Kebijaksanaan yang tidak terbatas, dan dengan penuh keyakinan dan semangat, Bodhisatta itu memberikan dàna dagingnya yang halus dan lembut yang banyaknya lebih dari bumi seluas 240.000 yojanà. Dengan bertujuan untuk memperoleh kebijaksanaan yang tidak terbatas, dan dengan penuh keyakinan dan semangat, Bodhisatta itu memberikan dàna kepalanya yang berhiaskan mahkota yang gemerlap oleh sembilan jenis permen mata yang jika kepalanya ditumpuk akan setinggi Gunung Meru. Dengan bertujuan untuk memperoleh kebijaksanaan yang tidak terbatas, dan dengan penuh keyakinan dan semangat, Bodhisatta itu memberikan dàna matanya yang menakjubkan, gelap bagai sayap kumbang yang banyaknya lebih dari jumlah bintang-bintang dan planet-planet di alam semesta.

(2) Bakal Pacceka-Buddha

Disebut juga Pacceka-Bodhisatta, mereka harus memenuhi Kesempurnaannya selama dua asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa. Mereka tidak dapat menjadi Pacceka-Buddha sebelum melewati masa Pemenuhan Kesempurnaan sebanyak kappa itu. Karena seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Pencerahan seorang Pacceka Buddha belumlah matang sebelum mereka memenuhi Kesempurnaan secara penuh.

(3) Bakal Siswa

Disebut juga Sàvaka-Bodhisatta adalah (a) bakal Siswa Utama (Agga Sàvaka), sepasang siswa seperti Yang Mulia Sàriputta (Upatissa) dan Yang Mulia Moggallàna (Kolita), (b) bakal Siswa Besar (Mahà Sàvaka), delapan puluh Siswa Besar (seperti Yang Mulia Kondanna sampai dengan Yang Mulia Pingiya), (c) bakal Siswa Biasa (Pakati Sàvaka), yaitu siswa-siswa lain selain Siswa Utama dan Siswa Besar, yang semuanya telah mencapai Arahanta selain yang telah disebutkan di atas. Demikianlah, ada tiga kelompok bakal Siswa.

Dari tiga kelompok ini (a) bakal Siswa Utama harus memenuhi Kesempurnaannya selama satu asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa; (b) bakal Siswa Besar selama seratus ribu kappa, (c) bakal Siswa Biasa, tidak disebutkan dalam Tipitaka berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi Kesempurnaan, namun dalam Komentar dan Subkomentar dari Pubbenivàsakathà (dalam Mahàpadàna Sutta) disebutkan bahwa para Siswa Besar dapat mengingat kehidupan lampaunya sampai seratus ribu kappa yang lalu dan Siswa Biasa kurang dari itu. Karena pemenuhan Kesempurnaan dilakukan dalam setiap kehidupannya, dapat disimpulkan bahwa bakal Siswa Biasa harus memenuhi Kesempurnaan selama tidak lebih dari seratus ribu kappa, namun waktu pastinya tidak ditentukan, dapat selama seratus kappa atau seribu kappa, dan sebagainya. Bahkan dalam beberapa contoh, hanya satu atau dua kehidupan seperti dalam kisah seekor katak berikut:

Seekor katak terlahir sebagai dewa setelah mendengar suara Buddha yang sedang membabarkan Dhamma. Sebagai dewa ia mengunjungi Buddha dan menjadi seorang yang ‘memasuki arus’ sebagai akibat dari perbuatan mendengarkan Dhamma dari Buddha (lengkapnya terdapat dalam kisah Manduka dalam Vimàna-vatthu).

3. Buddha

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, setelah memenuhi Kesempurnaannya selama waktu yang diperlukan, tiga jenis Bakal Buddha mencapai Empat Pengetahuan mengenai Jalan (Magga Nana), yang adalah pemahaman atas Empat Kebenaran Mulia oleh diri sendiri tanpa bantuan guru, juga Kemahatahuan (Sabbannuta Nana), yaitu pemahaman atas semua prinsip-prinsip yang harus dipahami. Dan pada waktu yang sama, mereka memperoleh ciri-ciri dan kemuliaan seorang Buddha yang tidak terbatas (ananta) dan tidak terukur (aparimeyya). Ciri-ciri dan sifat-sifat ini demikian banyaknya sehingga, jika Seorang Buddha menceritakan puji-pujian atas seorang Buddha lain selama satu kappa tanpa sekalipun menceritakan kisah lain, dari awal kappa sampai kappa tersebut berakhir, ciri-ciri dan sifat-sifat tersebut belum selesai diceritakan. Manusia mulia yang telah mencapai Pencerahan yang tidak ada bandingnya di tiga alam disebut Buddha yang Maha Mengetahui atau Yang Telah Mencapai Pencerahan Sempurna (Sammàsambuddha).

Setelah memenuhi Kesempurnaan yang diperlukan selama dua asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa, seorang Pacceka Buddha mencapai Pencerahan, berupa pengetahuan Pandangan Cerah mengenai Jalan yang adalah pemahaman atas Empat Kebenaran Mulia (Magga Nana) oleh diri sendiri tanpa bantuan guru. Tetapi ia belum mencapai Kemahatahuan dan sepuluh kekuatan (Dasabala Nana), dan lain-lain, manusia mulia yang demikian disebut Buddha Kecil (Pacceka-Buddha).

Setelah memenuhi Kesempurnaan yang diperlukan selama satu asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa jika ia adalah seorang bakal Siswa Utama, atau seratus ribu kappa jika ia adalah seorang bakal Siswa Besar, atau seratus kappa atau seribu kappa atau sejumlah kappa yang kurang dari seratus ribu kappa jika ia adalah seorang bakal Siswa Biasa, seorang bakal Siswa Utama mencapai Pencerahan berupa pengetahuan Pandangan Cerah mengenai Jalan yang adalah pemahaman atas Empat Kebenaran Mulia (Sàvaka-Bodhi Nana) dengan bantuan seorang guru (seorang Buddha). Manusia mulia yang telah mencapai Pencerahan sebagai Siswa (Sàvaka-Bodhi Nana) itu disebut Siswa yang mencapai Pencerahan (Sàvaka-Buddha); ia bisa menjadi seorang Siswa Utama, Siswa Besar, atau Siswa Biasa.

4. Buddha-kicca

Di antara semua pribadi agung ini, Buddha Yang Mahatahu, Pacceka Buddha, dan Siswa Mulia. Buddha Yang Mahatahu disebut makhluk Tàrayitu (“Ia yang menyeberangkan makhluk-makhluk lain”), yang teragung, Beliau, yang setelah menyeberangi lautan samsàra, juga menyelamatkan makhluk lain dari bahaya saÿsàra.

Pacceka Buddha disebut makhluk Tarita, makhluk mulia yang telah menyeberangi lautan samsàra oleh dirinya sendiri namun tidak dapat menyelamatkan makhluk lain dari bahaya samsàra. Untuk menjelaskannya: Seorang Pacceka Buddha tidak muncul pada saat kemunculan Buddha Yang Mahatahu. Mereka hanya muncul dalam periode antara kemunculan Dua Buddha ketika tidak ada Buddha pada masa itu. Buddha Yang Mahatahu memahami Empat Kebenaran Mulia oleh diri sendiri tanpa bimbingan dari orang lain dan mampu mengajarkan dan membuat makhluk lain memahami Empat Kebenaran Mulia juga. Pacceka Buddha juga memahami Empat Kebenaran Mulia oleh diri sendiri namun tidak mampu mengajarkannya kepada makhluk lain. Setelah mencapai Jalan dan Buahnya, Nibbàna (pañivedha, secara harfiah berarti penembusan, merupakan satu dari tiga aspek ajaran Buddha; dua yang pertama adalah pariyatti dan pañipatti, memelajari kitab dan mempraktikkan), Ia tidak dapat menceritakan pengalaman pribadi atas pencapaiannya karena ia tidak memiliki terminologi yang tepat menjelaskan hukum spiritual ini. Oleh karena itu, pengetahuan seorang Pacceka Buddha akan Empat Kebenaran (Dhammàbhisamaya) oleh para komentator diumpamakan sebagai mimpi si dungu atau seorang petani bodoh yang mengalami kehidupan di kota besar yang tidak mampu ia ceritakan kembali. Pacceka Buddha (makhluk Tarita) adalah mereka yang telah menyeberangi samsàra oleh diri sendiri, tetapi tidak dapat membantu makhluk lain menyeberang.

Pacceka Buddha dapat menerima siswa-siswa yang ingin menjadi bhikkhu kepada mereka yang ingin menjadi bhikkhu, dan dapat memberikan latihan khusus kepada mereka untuk menjalani kehidupan suci (âbhisamàcàrika) seperti, “Dalam ketenangan ini engkau harus maju, mundur, engkau harus melihat, engkau harus mengatakan,” dan seterusnya; namun tidak dapat mengajarkan bagaimana membedakan batin dan jasmani (nàma-råpa), dan bagaimana mengamati karakteristik dari batin dan jasmani tersebut, yaitu: tidak kekal, tidak memuaskan, dan tanpa-diri, dan lain-lain yang dapat mengantarkan mereka menembus Jalan dan Buahnya.

Siswa Mulia, Sàvaka-Bodhisatta, disebut juga makhluk Tàrita karena telah dibantu menyeberangi lautan samsàra oleh Buddha Yang Mahatahu. Sebagai gambaran, Upatissa—petapa pengembara yang kelak menjadi Yang Mulia Sàriputta—berhasil menembus Jalan dan Buahnya setelah mendengar bait berikut dari Yang Mulia Assaji:

Ye dhammà hetuppabhavà
tesam hetum tathàgato

Dari kisah ini, kita dapat menyimpulkan bahwa Siswa Mulia adalah yang telah diselamatkan (makhluk Tàrita) oleh makhluk lain dan yang telah menyelamatkan makhluk lain (makhluk Tàrayitu), namun ajaran seorang siswa Buddha berasal dari seorang Buddha; bukan berasal dari siswa itu sendiri. Ia tidak dapat memberikan khotbah yang berasal dari diri sendiri tanpa bantuan dan petunjuk dari ajaran Buddha. Oleh karena itu siswa demikian disebut makhluk Tàrita, bukan makhluk Tarayitu, karena mereka tidak mungkin menembus Empat Kebenaran Mulia tanpa seorang guru; dan penembusan mereka atas Jalan dan Buahnya hanya dapat terjadi dengan adanya bantuan dan petunjuk dari guru.

Seperti yang telah dijelaskan, Pacceka Buddha dan Siswa Mulia adalah makhluk Tarita. Dengan demikian, setelah mereka menembus Jalan menuju Kearahattaan, selanjutnya mereka memasuki tahap pencapaian Buah (Phàla samàpatti) dan pencapaian Penghentian (Nirodha Samàpatti) demi kebahagiaan dan kedamaian mereka sendiri, tidak bekerja demi kebaikan makhluk-makhluk lain. Di lain pihak, seorang Buddha Yang Mahatahu (Samma-Sambuddha) tidak akan berusaha demi dirinya sendiri saja. Bahkan sebenarnya, dalam masa pemenuhan Kesempurnaan pun ia telah bertekad, “Setelah memahami Empat Kebenaran Mulia, Aku akan membantu yang lain untuk memahaminya juga (Buddho bodheyyam) dan seterusnya. Oleh karena itu, setelah menjadi Buddha, ia melaksanakan lima tugas-tugas seorang Buddha terus-menerus siang dan malam.

Karena Ia harus melaksanakan lima tugas seorang Buddha, Buddha hanya beristirahat sebentar setelah makan siang setiap hari. Pada malam hari Ia beristirahat hanya selama sepertiga dari jaga terakhir pada setiap malam. Jam-jam lainnya digunakan untuk melaksanakan lima tugasnya.

Hanya para Buddha yang memiliki semangat dalam bentuk istimewa dan kecerdasan yang tinggi (payatta), salah satu keagungan (Bhaga) seorang Buddha yang dapat melakukan tugas-tugas tersebut. Pelaksanaan tugas-tugas ini di luar lingkup Pacceka Buddha atau siswa-siswa.

Perenungan Atas Jarangnya Kemunculan Seorang Buddha

Perenungan yang mendalam atas empat hal berikut sehubungan dengan Bodhisatta dan Buddha, yaitu:

1. Bodhisatta (Bakal Buddha).
2. Bodhisatta-kicca (tugas-tugas seorang Bodhisatta).
3. Buddha (makhluk agung yang telah mencapai Pencerahan Sempurna), dan
4. Buddha-kicca (tugas-tugas seorang Buddha).
Akan mengarah kepada pemahaman bahwa kemunculan seorang Buddha adalah fenomena yang sangat jarang terjadi.

Penjelasannya: Banyak sekali mereka yang bercita-cita untuk mencapai Kebuddhaan ketika mereka mendengar atau menyaksikan kekuatan dan keagungan Buddha Gotama setelah mencapai Pencerahan Sempurna, seperti: kemenangan atas para petapa telanjang yang penuh dengan keangkuhan, pertunjukan Keajaiban Ganda, dan lain-lain. Oleh karena itu, ketika Buddha turun ke kota Sankassa dari alam Tàvatimsa setelah membabarkan Abhidhammà, umat manusia, dewa, dan brahmà dapat saling melihat karena keajaiban Devorohana* yang diperlihatkan oleh Buddha. Keajaiban Devorohana menyebabkan wilayah tersebut menjadi meluas dari alam brahmà tertinggi, Bhavagga di atas sampai Alam âvici yang terendah di bawah dan ke seluruh penjuru alam semesta yang tidak terbatas. Menyaksikan keagungan Buddha pada hari itu, tidak ada satu pun dari mereka yang berkumpul di sana, yang tidak bercita-cita mencapai Kebuddhaan. Semua orang yang membentuk kerumunan besar di sana bercita-cita mencapai Kebuddhaan seperti disebutkan dalam kisah Devorohana dari Komentar Dhammapada dan dalam penjelasan tiga macam keajaiban dalam Subkomentar Jinàlankàra.

(*Catatan: Devorohana artinya “turun dari alam para dewa”, yaitu turunnya Buddha dari alam dewa. Keajaiban yang terjadi pada peristiwa tersebut disebut sebagai keajaiban Devorohana, yang ditandai dengan fenomena semua alam semesta dapat saling melihat, dari ujung ke ujung, dari paling atas hingga paling bawah dan sebaliknya. Tidak ada yang dapat menghalangi pandangan, semua makhluk apakah manusia atau para dewa, dapat melihat satu dengan yang lain dan dapat dilihat oleh makhluk lain.)

Meskipun sangat banyak orang yang bercita-cita untuk mencapai Kebuddhaan setelah menyaksikan atau mendengarkan kemuliaan Buddha, akan tetapi, tentu saja, mereka yang memiliki sedikit keyakinan, kebijaksanaan, tekad, dan usaha akan surut langkah setelah mereka mengetahui kenyataan yang sebenarnya dari banyaknya Kesempurnaan yang harus dipenuhi, Pemenuhan Kesempurnaan dalam skala besar, Pemenuhan Kesempurnaan dalam setiap kehidupan tanpa terputus, pemenuhan dengan saksama dan sunguh-sungguh, waktu pemenuhan yang sangat lama, dan tidak memedulikan diri sendiri. Hanya pemenuhan kesempurnaan yang tanpa keraguan yang dapat membawa kepada Pencerahan Sempurna. Dengan demikian, Kebuddhaan dikatakan sebagai sesuatu yang sangat sulit dicapai (dullabha*). Kemunculan seorang Buddha adalah fenomena yang sangat jarang terjadi.

(*Catatan: dullabha, secara harfiah berarti sulit dicapai. Ada lima fenomena yang sulit ditemui, yaitu, (1) Buddha’uppàda, munculnya seorang Buddha, (2) manussattabhàva, kelahiran kembali sebagai manusia, (3) saddhàsampattibhàva, memiliki keyakinan di dalam Tiga permen mata dan hukum kamma, (4) pabbajitabhàva, menjadi anggota komunitas para bhikkhu, dan (5) saddhammasavana, berkesempatan mendengarkan ajaran Buddha.)

Demikianlah, disebutkan dalam sutta kedua dari Ekapuggala Vagga (15), Eka-nipata dari Aïguttara Nikàya:

Ekapuggalassa bhikkhave pàtubhàvo dullabho lokasmim, katamassa
ekapuggalassa, Tathàgatassa Arahato Sammàsambuddhassa, imassa kho
bhikkhave ekapuggalassa pàtubhàvo dullabho lokasmim.

“Bhikkhu, dalam dunia kemunculan satu makhluk adalah sangat jarang; Kemunculan makhluk apakah? Tathàgata, yang layak menerima penghormatan tertinggi dan yang mengetahui Kebenaran dengan Pencerahan Sempurna; Kemunculannya adalah sangat jarang terjadi.”

Penjelasan dari sutta tersebut juga menjelaskan mengapa kemunculan seorang Buddha sangat jarang terjadi. Dari Sepuluh Kesempurnaan, sehubungan dengan Kesempurnaan Kedermawanan saja, seseorang tidak dapat menjadi Buddha setelah memenuhinya satu kali; seseorang tidak dapat menjadi Buddha setelah memenuhinya dua kali, sepuluh kali, dua puluh, lima puluh, seratus, seribu, seratus ribu, atau satu crore (puluh juta), seratus crore, seribu crore, atau seratus ribu crore kali; Demikian pula seseorang tidak dapat menjadi Buddha setelah memenuhinya selama satu hari, dua hari, sepuluh, dua puluh, lima puluh, seratus, seribu, seratus ribu, atau seratus ribu crore hari, atau satu bulan, dua bulan, atau seratus ribu crore bulan; seseorang tidak dapat menjadi Buddha setelah memenuhinya satu tahun, dua tahun, atau seratus ribu crore tahun; bahkan tidak dapat menjadi Buddha setelah memenuhi Kesempurnaan selama satu mahàkappa, dua mahàkappa, atau seratus ribu crore mahàkappa; juga tidak dapat menjadi Buddha setelah memenuhi selama satu, dua atau tiga asaïkhyeyya. (Berlaku hal yang sama untuk Kesempurnaan lainnya seperti, Moralitas, Melepaskan Keduniawian, Kebijaksanaan, Usaha, Kesabaran, Kejujuran, Tekad, Cinta Kasih, dan Ketenangseimbangan). Kenyataannya, waktu yang terpendek yang adalah empat asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa; hanya setelah memenuhi semua Kesempurnaan selama itu tanpa terputus, dengan saksama, penuh pengabdian dan kesungguhan seseorang dapat mencapai Pencerahan Sempurna. Inilah alasan mengapa jarang sekali seorang Buddha muncul.

Subkomentar dari Sutta tersebut juga menekankan bahwa hanya setelah seseorang memenuhi Kesempurnaan selama paling sedikit empat asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa, orang tersebut dapat menjadi Buddha. Tidak ada cara lain. Demikianlah, mengapa jarang sekali seorang Buddha muncul.

Tidak Ada Perumpamaan yang Dapat Menggambarkan Kesempurnaan

Jumlah kehidupan Bakal Buddha selama empat asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa, antara kehidupan Sumedhà, sang petapa hingga Vessantara, adalah lebih dari jumlah tetesan air di samudra. Jumlah Kesempurnaan yang Ia penuhi tanpa terputus dalam satu kehidupan saja sudah begitu banyak sehingga tidak mungkin memperkirakannya, apalagi dalam seluruh kehidupannya. Tertulis dalam Jinàlankàra:

Mahàsamudde jalabinduto’pi
tadantare jàti anappakà va
nirantaram påritapàramãnam
katham pamànam upamà kuhiÿvà.

Kelahiran demi kelahiran selama periode
Antara kehidupan Sumedhà hingga Vessantara
Adalah lebih banyak daripada jumlah tetes air di samudra
Siapakah yang dapat menghitung Kesempurnaan yang dipenuhi tanpa terputus?
Bagaimanakah perumpamaan untuk menggambarkannya?

Selain itu, dalam Komentar Sutta Pàtheyya dan Subkomentarnya dan Subkomentar Jinàlaïkàra, di mana kebajikan dari seratus macam perbuatan baik (satapunnalakkhanà) dijelaskan, tertulis:

Setelah mengelompokkan di satu bagian, semua kebajikan seperti dàna, dan lain-lain yang dilakukan oleh makhluk-makhluk yang tidak terhitung banyaknya di alam semesta yang tidak terhitung banyaknya selama masa antara Sumedhà yang bertekad untuk mencapai Kebuddhaan di kaki Buddha Dãpaïkara hingga saat Pangeran Vessantara mendanakan istrinya, Ratu Maddi; dan setelah mengelompokkan ke bagian lain, semua kebajikan yang dilakukan oleh Bakal Buddha selama rentang waktu yang sama; kebajikan yang dilakukan oleh kelompok bagian pertama tidak dapat menyamai seperseratus bahkan seperseribu dari kebajikan yang dilakukan oleh kelompok bagian kedua.

Sulitnya Menjadi Seorang Bakal Buddha

Untuk mencapai Pencerahan Sempurna, tahap pengembangan yang dicapai oleh Sumedhà, Sang petapa saat ia menerima ramalan bahwa ia akan mencapai Kebuddhaan, hanya dapat dicapai jika seseorang memiliki delapan faktor berikut:

1. Ia adalah manusia.
2. Ia adalah laki-laki.
3. Telah memenuhi semua kondisi seperti Kesempurnaan yang diperlukan untuk mencapai Kearahattaan dalam kehidupan itu juga.
4. Bertemu dengan Buddha hidup.
5. Ia adalah petapa yang percaya akan hukum karma (Kammavàdã) atau pernah menjadi anggota Saÿgha dalam masa kehidupan seorang Buddha.
6. Telah mencapai Jhàna.
7. Berusaha keras untuk mengembangkan Kesempurnaan tanpa memedulikan hidupnya.
8. Keinginan baik yang sangat kuat untuk mencapai Kebuddhaan.

Hanya mereka yang memiliki delapan faktor ini yang dapat memakai ‘mahkota ramalan.’ Oleh karena itu, jangankan menjadi Buddha, mencapai tahap pengembangan seperti Sumedhà sang petapa saat ia memenuhi syarat untuk menerima ramalan saja sudah cukup sulit.

Ketika masih menjadi Bakal Buddha, untuk dapat menerima ramalan saja sudah cukup sulit, apalagi mencapai Kebuddhaan yang hanya dapat dicapai dengan pemenuhan Kesempurnaan dengan empat cara pengembangan selama paling sedikit empat asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa setelah menerima ramalan. Betapa sulitnya menjadi Buddha.

Karena Kebuddhaan begitu sulit dicapai, saat-saat di mana seorang Buddha muncul juga sangat jarang terjadi. Sehubungan dengan hal ini, Atthaka Nipàta dari Angutara Nikàya menjelaskan delapan waktu atau kehidupan dalam samsàra yang disebut sebagai ‘waktu yang salah (waktu yang tidak menguntungkan)’ atau ‘kehidupan yang tidak beruntung.’ Di pihak lain, saat-saat munculnya Buddha disebut sebagai saat yang menguntungkan dari kehidupan yang beruntung.

Delapan kehidupan yang tidak beruntung adalah:

(1) Kehidupan di alam yang terus-menerus mengalami penderitaan (Niraya); ini tidak menguntungkan karena makhluk-makhluk di alam ini tidak dapat melakukan kebajikan karena mengalami penderitaan dan siksaan terus-menerus.

(2) Kehidupan di alam binatang; ini tidak menguntungkan karena makhluk-makhluk di alam ini selalu ketakutan sehingga tidak dapat melakukan kebajikan dan tidak dalam posisi yang dapat mengenali kebajikan dan kejahatan.

(3) Kehidupan di alam peta; ini tidak menguntungkan karena makhluk-makhluk di alam ini tidak dapat melakukan kebajikan karena selalu merasakan kepanasan dan kekeringan, dan menderita kelaparan dan kehausan terus-menerus.

(4) Kehidupan di alam brahmà yang tidak memiliki kesadaran (asannàsatta-bhumi): ini tidak menguntungkan karena makhluk-makhluk di alam ini tidak dapat mendengarkan Dhamma karena tidak memiliki indra pendengaran.

(5) Kehidupan di wilayah seberang dunia: ini tidak menguntungkan karena makhluk-makhluk di wilayah tersebut tidak dapat dikunjungi oleh para bhikkhu, bhikkhunã, dan siswa-siswa Buddha lainnya; ini adalah tempat bagi mereka yang memiliki tingkat kecerdasan yang rendah; makhluk-makhluk di sana tidak dapat mendengarkan Dhamma meskipun mereka memiliki indra pendengaran

(6) Kehidupan di mana seseorang menganut pandangan salah: ini tidak menguntungkan karena seseorang yang menganut pandangan salah tidak dapat mendengar dan mempraktikkan Dhamma meskipun ia hidup di Wilayah Tengah tempat munculnya Buddha dan gema Dhamma Buddha berkumandang di seluruh negeri tersebut.

(7) Terlahir dengan indra yang cacat: ini tidak menguntungkan karena sebagai akibat perbuatan buruk yang dilakukan di kehidupan lampaunya, kesadaran kelahirannya tidak memiliki tiga akar yang baik, yaitu: ketidakserakahan, ketidakbencian, dan ketidakbodohan (ahetuka-patisandhika); oleh karena itu ia memiliki indra yang cacat seperti penglihatan, pendengaran, dan lain-lain. Dan dengan demikian tidak dapat melihat seorang Buddha dan mendengarkan ajarannya atau mempraktikkan Dhamma yang diajarkan meskipun ia terlahir di Wilayah Tengah dan tidak menganut pendangan salah.

(8) Kehidupan di mana tidak ada kemunculan Buddha: ini tidak menguntungkan karena pada saat itu seseorang tidak dapat berusaha mempraktikkan Tiga Latihan moralitas (sila), konsentrasi pikiran (samàdhi), dan kebijaksanaan (pannà) meskipun ia terlahir di Wilayah Tengah, memiliki indra yang baik dan menganut pandangan benar yaitu percaya akan hukum kamma.

Tidak seperti delapan kehidupan yang tidak menguntungkan ini (akkhana), ada kehidupan ke sembilan yang menguntungkan yang disebut Buddh’uppàda-navamakkhana karena dalam kehidupan ini, muncul seorang Buddha. Terlahir dalam waktu demikian dengan indra yang baik dan menganut pandangan benar memungkinkan seseorang untuk berusaha mempraktikkan Dhamma yang diajarkan Buddha. Kehidupan ke sembilan ini, di mana muncul seorang Buddha (Buddh’uppàda-navamakkhana) meliputi seumur hidup Buddha sejak ia mengajarkan Dhamma dan selama ajarannya tumbuh berkembang dengan subur.

Jayalah Buddh’uppàda-navamakkhana

Karena umat Buddha sekarang ini yang terlahir sebagai manusia dengan indra yang baik dan menganut pandangan benar hidup selagi Buddhadhamma masih berkembang, mereka telah bertemu dengan kesempatan yang sangat jarang Buddh’uppàda-navamakkhana. Terlepas dari kesempatan yang membahagiakan ini, jika mereka mengabaikan kebajikan mempraktikkan sila, samàdhi, dan pannà, mereka akan melewatkan kesempatan emas. Kesempatan untuk terlahir dalam delapan kehidupan yang tidak menguntungkan ini (akkhana) adalah sangat besar, sedangkan kesempatan terlahir pada masa berkembangnya ajaran Buddha adalah sangat kecil. Hanya sekali dalam sejumlah tidak terhitung banyaknya kappa yang sangat lama sekali seorang Buddha muncul dan kesempatan Buddh’uppàda-navamakkhana bagi mereka yang beruntung adalah sangat sulit diperoleh.

Umat Buddha yang baik sekarang ini memiliki dua berkah: pertama adalah berkah karena terlahir pada masa ajaran Buddha sedang berkembang di dunia, yang sangat jarang terjadi, dan berkah lainnya adalah terlahir sebagai manusia yang memiliki pandangan benar. Dalam kesempatan yang sangat menguntungkan Buddh’uppàda-navamakkhana ini, mereka harus merenungkan dengan sunguh-sungguh, “Bagaimanakah kita dapat mengetahui ajaran Buddha? Kita tidak boleh melewatkan kesempatan emas Buddh’uppàda-navamakkhana ini. Jika terlewatkan, kita akan menderita dalam waktu yang lama di empat alam sengsara.”

Dengan memahami hal ini, sebagai makhluk yang beruntung yang telah bertemu dengan Buddh’uppàda-navamakkhana, suatu kesempatan yang sangat jarang terjadi ini, kita harus berusaha mengembangkan tiga kebajikan mulia sila, samàdhi, dan pannà yang diajarkan oleh Buddha sampai tercapainya Kearahattaan.

 
2 thumbs up.... sangat inspiratif, mendobrak benteng-benteng pertahanan kebodohan. Menyegarkan mata yang sudah mengantuk, lebih efektif daripada kopi.

Sdr. Sinthung, semoga amal bhaktimu membawa karma baik di kehidupanmu.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.