singthung
IndoForum Junior E
- No. Urut
- 7164
- Sejak
- 21 Sep 2006
- Pesan
- 1.634
- Nilai reaksi
- 27
- Poin
- 48
Jarangnya Kemunculan Seorang Buddha
Anàthapindika—seorang hartawan yang kelak menyumbangkan Vihàra Jetavana—dalam suatu kunjungannya ke Ràjagaha, ketika ia bertemu dengan Buddha untuk pertama kalinya, mendengar kata “Buddha” dari saudara iparnya yang juga kaya raya di Ràjagaha. Begitu ia mendengar kata “Buddha,” ia berseru, “Ghoso’pi kho eso gahapati dullabho lokasmim yadidam ‘buddho buddho’ ti”, artinya “Teman, jarang sekali mendengar kata ‘Buddha, Buddha’ di dunia ini.”
Ketika Buddha berdiam di Kota âpana di Negeri Aïguttaràpa, seorang guru brahmana bernama Sela, mendengar kata “Buddha” dari Keniya—petapa berambut kasar. Begitu ia mendengar kata “Buddha” ia berpikir, “ghoso ‘pi kho eso dullabho lokasmim yadidam ‘buddho buddho’ ti’“, artinya, “Jarang sekali mendengar kata ‘Buddha, Buddha’ di dunia ini.” Tidak lama kemudian, ia bersama tiga ratus pengikutnya, menjadi ehi-bhikkhu dan tujuh hari kemudian mereka mencapai tingkat kesucian Arahatta.
Dari kutipan ini, sebenarnya sangatlah jarang dan sulit dapat mendengar kata “Buddha, Buddha” dan lebih jarang lagi munculnya seorang Buddha.
Kata “berlian” yang dimaksudkan dapat berupa berlian asli ataupun palsu. Demikian pula, karena kabar munculnya Buddha telah tersebar sebelum munculnya Buddha, Anàthapindika dan Sela pasti telah mendengarnya sebelum pernyataan palsu dari enam guru petapa telanjang yang menyebut diri mereka “Buddha”. Tetapi, seperti halnya kata “berlian”, hanya jika yang dimaksud adalah berlian asli, yang dapat menyenangkan seseorang yang dapat membedakan berlian asli atau palsu; demikian pula, mereka yang memiliki kecerdasan seperti Anàthapindika dan Sela, kata “Buddha” dapat membawa kegembiraan hanya jika yang dimaksud adalah Buddha sejati.
Bagaikan menganggap berlian palsu sebagai berlian asli oleh mereka yang bodoh dan yang berpendapat salah. Demikian pula para pengikut yang menganggap guru mereka—enam petapa telanjang sebagai Buddha asli, adalah pendapat yang salah dan berbahaya (micchàdhimokkha).
Untuk lebih menjelaskan mengenai fenomena jarangnya kemunculan seorang Buddha di dunia, adalah penting untuk mengetahui hal-hal berikut sehubungan dengan Bodhisatta dan Buddha:
1. Bodhisatta (makhluk yang kelak akan mencapai Pencerahan Sempurna, Bakal Buddha).
2. Bodhisatta-kicca (tugas-tugas seorang Bakal Buddha).
3. Buddha (makhluk agung yang telah memenuhi tugas-Nya sebagai Bakal Buddha dan telah mencapai Pencerahan Sempurna), dan
4. Buddha-kicca (tugas-tugas seorang Buddha).
1. Bodhisatta
Empat pengetahuan Pandangan Cerah* mengenai Jalan (Magga Nana) dengan atau tanpa disertai kemahatahuan (Sabbannuta Nana**) disebut Pencerahan (Bodhi). Pencerahan ada tiga jenis:
(* Jalan menuju lenyapnya penderitaan, yang berbentuk faktor terakhir dari Empat Kebenaran Mulia yang terdiri dari delapan faktor: (1) pandangan benar (sammà diññhi), (2) pemikiran benar (sammà saïkappa), (3) perkataan benar (sammà vàcà), (4) perbuatan benar (sammà kammanta), (5) penghidupan benar (sammà àjãva),(6) usaha benar (sammà vàyàma), (7) perhatian benar (sammà sati), dan (8) pemusatan benar (sammà samàdhi). Dua pertama adalah kebijaksanaan (pannà), tiga berikutnya adalah moralitas (sãla), dan tiga terakhir adalah konsentrasi (samàdhi).)
(**Catatan: Sabbannuta Nana terdiri dari kata sabbannuta dan Nana. Kata pertama sabbannuta artinya adalah mahatahu. Seseorang yang memiliki sabbannuta atau Sabbannuta Nana adalah Sabbannu, Yang Mahatahu, bukan berarti ia selalu mengetahui segalanya, tetapi ia dapat mengetahui segalanya jka ia menghendakinya.)
(1) Sammà-Sambodhi: Pencerahan berupa empat pengetahuan Pandangan Cerah mengenai Jalan yang disertai kemahatahuan. Empat pengetahuan mengenai Jalan adalah pemahaman atas Empat Kebenaran Mulia oleh diri sendiri tanpa bantuan guru, dan memiliki kekuatan untuk melenyapkan kotoran batin, juga kebiasaan-kebiasaan (vàsanà) dari kehidupan-kehidupan sebelumnya; Kemahatahuan adalah pemahaman atas semua prinsip yang perlu diketahui. Manusia mulia yang memiliki keinginan baik yang kuat untuk mencapai Sammà-Sambodhi disebut Sammà-Sambodhisatta, “Bakal Buddha Sempurna.”
(2) Pacceka-Bodhi: Pencerahan berupa empat pengetahuan Pandangan Cerah mengenai Jalan, yaitu pemahaman atas Empat Kebenaran Mulia oleh diri sendiri tanpa bantuan guru. Manusia mulia yang memiliki keinginan baik yang kuat untuk mencapai Pacceka-Bodhi disebut Pacceka-Bodhisatta, “Bakal Pacceka Buddha.”
(3) Sàvaka-Bodhi: Pencerahan berupa empat pengetahuan Pandangan Cerah mengenai Jalan, yaitu pemahaman atas Empat Kebenaran Mulia oleh diri sendiri dengan bantuan guru. Manusia mulia yang memiliki keinginan baik yang kuat untuk mencapai Sàvaka-Bodhi disebut Sàvaka-Bodhisatta, “Bakal Siswa Buddha.”
Tiga Jenis Bakal Buddha
Dari tiga jenis manusia mulia ini (1) Sammà-Sambodhisatta atau Bakal Buddha Sempurna dibagi atas tiga jenis: (a) Bakal Buddha Pannàdhika, (b) Bakal Buddha Saddhàdhika, dan (c) Bakal Buddha Viriyàdhika.
Kebuddhaan adalah pencapaian kemahatahuan (Sabbannuta Nana). Untuk mencapai kebijaksanaan tertinggi ini, pencari harus memiliki kebijaksanaan yang lebih kuat. Faktor-faktor bagi kebijaksanaan adalah pertimbangan yang mendalam dalam melakukan berbagai perbuatan secara fisik, ucapan maupun pikiran. Dengan demikian, kebijaksanaan seseorang akan menguat dan matang dalam kehidupan demi kehidupan sehingga akhirnya dapat mencapai kemahatahuan yang bahkan lebih kuat dari semua kebijaksanaan. Seperti uang yang diperoleh dengan cara investasi, demikian pula kemahatahuan diperoleh dengan investasi intelektual.
(a) Bakal Buddha disebut Pannàdhika dengan faktor kebijaksanaan kuat yang selalu hadir dalam setiap usaha-Nya dalam menjadi Buddha setelah memenuhi Kesempurnaan (Pàrami) selama empat asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa.
(b) Bakal Buddha lain meyakini bahwa mereka dapat menjadi Buddha dengan memenuhi Kesempurnaan, dan memiliki keyakinan yang lebih kuat. Dalam diri mereka keyakinan lebih kuat daripada kebijaksanaan. Oleh karena itu mereka disebut Bakal Buddha Saddhàdhika, “Bakal Buddha dengan keyakinan yang kuat.” Karena mereka tidak dituntun oleh kebijaksanaan melainkan oleh keyakinan, dalam memenuhi Kesempurnaan-Nya, mereka akan menjadi Buddha setelah delapan asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa.
(c) Ada lagi Bakal Buddha lain yang mengandalkan sepenuhnya kepada usaha. Bagi mereka kebijaksanaan bukanlah faktor yang penting. Mereka juga tidak mementingkan keyakinan dalam memenuhi Kesempurnaan menuju Pencerahan. Menganggap bahwa usaha akan membawa mereka menuju Kebuddhaan,mereka sangat mementingkan usaha dalam memenuhi Kesempurnaan dan menjadi Buddha hanya setelah enam belas asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa. Oleh karena itu mereka disebut Bakal Buddha Viriyàdhika, “Bakal Buddha dengan usaha yang kuat.”
Harus dipahami bahwa, tiga jenis Buddha Pannàdhika, Saddhàdhika, dan Viriyàdhika―hanya berlaku untuk Bakal Buddha. Tiga jenis Buddha ini hanya ada ketika mereka adalah Bakal Buddha, namun begitu mereka mencapai Kebuddhaan, mereka semua sama dalam hal kebijaksanaan, keyakinan, dan usaha. Tidak dapat disebutkan Buddha mana yang lebih mulia daripada yang lainnya dalam segala aspek.
Pannàdhikànam hi saddhà mandà hoti pannà tikkhà;
Saddhàdhikànam pannà majjhimà hoti saddhà balavà;
Viriyàdhikànam saddhà-pannà mandà viriyaÿ balavam.
Bakal Buddha Pannàdhika, kebijaksanaan kuat namun keyakinan lemah.
Bakal Buddha Saddhàdhika, kebijaksanaan madya namun keyakinan kuat.
Bakal Buddha Viriyàdhika, kebijaksanaan dan keyakinan lemah namun usaha kuat.
Alasan Perbedaan Antara Tiga Jenis Bakal Buddha
Telah disebutkan ada tiga jenis Bodhisatta dengan periode pemenuhan Kesempurnaan berbeda, yaitu empat asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa, delapan asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa, dan enam belas asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa. Alasan perbedaan ini disebutkan dalam Pàramãdawgan Pyo, sebuah epos yang disusun oleh seorang sastrawan Myanmar zaman dulu―Ashin Silavaÿsa. Menurutnya, perbedaan ini karena Jalan yang dipilih oleh masing-masing Bakal Buddha yaitu, Bakal Buddha Pannàdhika memilih Jalan Kebijaksanaan yang memerlukan empat asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa untuk mencapai Buahnya. Bakal Buddha Saddhàdhika memilih Jalan Keyakinan yang memerlukan delapan
asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa untuk mencapai Buahnya. Bakal Buddha Viriyadhika memilih Jalan Usaha yang memerlukan enam belas asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa untuk mencapai Buahnya.
Menurut pandangan beberapa guru lain, yang disebutkan dalam Pakinnaka-kathà dari komentar Cariyà Piñaka, perbedaan tiga periode ini adalah karena perbedaan tingkat usaha, yaitu, kuat, madya, dan lemah. (Pandangan ini menyebutkan bahwa seorang Pannàdhika Bodhisatta memerlukan waktu empat asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa untuk memenuhi-Nya karena usaha yang kuat; namun pandangan ini membingungkan (sankara-dosa) karena Bakal Buddha Pannàdhika bertumpang tindih dengan Bakal Buddha Viriyàdhika).
Pandangan yang diusulkan oleh Komentator Dhammapàla dan lainnya adalah bahwa perbedaan ini disebabkan karena perbedaan tingkat kematangan―kuat, madya, dan lemah― dari Kesempurnaan yang mengarah pada Pembebasan (vimutti paripàcanãya Dhamma). Untuk penjelasannya, bahkan pada waktu menerima ramalan, Bodhisatta telah terbagi dalam tiga jenis: (i) Ugghàñitannu Bodhisatta (seseorang yang menembus Kebenaran pada saat sedang mendengarkan penjelasan), (ii) Vipancitannu Bodhisatta (seseorang yang menembus Kebenaran saat penjelasan selesai), dan (iii) Neyya Bodhisatta (memerlukan bimbingan, setelah melalui nasihat dan tanya jawab, melalui pertimbangan bijaksana, dengan bergaul dengan orang-orang bijaksana, perlahan-lahan menembus Kebenaran).
(i) Ugghàtitannu Bodhisatta adalah mereka yang memiliki kapasitas untuk mencapai tingkat kesucian Arahatta bersama-sama dengan Enam Kemampuan Batin Tinggi (Abhinnà) dan Empat Pengetahuan Analitis (Pañisambhidà); mereka dapat mencapai tingkat tersebut bahkan sebelum akhir dari baris ketiga dari empat baris bait yang dikhotbahkan oleh Buddha jika mereka ingin mencapai Pencerahan sebagai seorang siswa (Sàvaka-Bodhi) dalam kehidupan itu juga. (Ini adalah satu dari delapan faktor untuk menerima ramalan).
(ii) Vipancitannu Bodhisatta adalah mereka yang memiliki kapasitas untuk mencapai tingkat kesucian Arahatta bersama-sama dengan Enam Kemampuan Batin Tinggi (Abhinnà) dan Empat Pengetahuan Analitis (Pañisambhidà); mereka dapat mencapai tingkat tersebut bahkan sebelum akhir dari baris keempat dari empat baris bait yang dikhotbahkan oleh Buddha jika mereka ingin mencapai Pencerahan sebagai seorang siswa (Sàvaka-Bodhi) dalam kehidupan itu juga.
(iii) Neyya Bodhisatta adalah mereka yang memiliki kapasitas untuk mencapai tingkat kesucian Arahatta bersama-sama dengan Enam Kemampuan Batin Tinggi (Abhinnà) dan Empat Pengetahuan Analitis (Pañisambhidà); mereka dapat mencapai tingkat tersebut pada akhir dari seluruh bait yang dikhotbahkan oleh Buddha jika mereka ingin mencapai Pencerahan sebagai seorang siswa (Sàvaka-Bodhi) dalam kehidupan itu juga.
Seorang Ugghàtitannu Bodhisatta, tingkat kematangan Kesempurnaan yang mengarah kepada Pembebasan adalah sangat kuat sehingga mereka hanya memerlukan waktu empat asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa setelah menerima ramalan. Seorang Vipancitannu Bodhisatta, tingkat kematangan Kesempurnaan yang mengarah kepada Pembebasan adalah madya sehingga mereka memerlukan waktu delapan asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa setelah menerima ramalan. Seorang Neyya Bodhisatta, tingkat kematangan Kesempurnaan yang mengarah kepada Pembebasan adalah sangat lemah sehingga mereka memerlukan waktu enam belas asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa setelah menerima ramalan.
Ugghàtitannu Bodhisatta sama dengan Pannàdhika Bodhisatta; demikian pula Vipancitannu Bodhisatta sama dengan Saddhàdhika Bodhisatta, dan Neyya Bodhisatta sama dengan Viriyàdhika Bodhisatta.
Tidak Mungkin Mencapai Kebuddhaan Sebelum Menyelesaikan Masa Pemenuhan Kesempurnaan
Padi hanya dapat matang setelah ditanam selama tiga, empat atau lima bulan, tidak mungkin memanen padi dalam lima belas hari atau satu bulan meskipun disiram dan disiangi beberapa kali dalam sehari; tangkai dan daunnya tidak dapat tumbuh sesuai keinginan seseorang, ia tidak dapat tumbuh berkembang, berbuah, dan matang sebelum waktunya. Demikian pula, harus dimengerti bahwa tiga jenis Bodhisatta tidak mungkin mencapai Kebuddhaan dengan sempurna dengan Buah kemahatahuan yang matang sebelum mereka menyelesaikan masa pemenuhan Kesempurnaan selama empat, delapan atau enam belas asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa, bahkan jika, setelah menerima ramalan, mereka memberikan dàna setiap hari seperti Pangeran Vessantara dan menjalani kebajikan seperti moralitas, dan lain-lain.
2. Bodhisatta-kicca
Hanya dengan keinginan untuk memiliki kekayaan namun tidak bekerja untuk mendapatkannya tidak akan membawa ke mana-mana. Hanya dengan bekerja cukup keras seseorang boleh berharap untuk memperoleh apa yang diinginkannya. Demikian pula, tiga jenis Bakal Buddha yang ingin mencapai tiga jenis Pencerahan yang telah dijelaskan sebelumnya akan mencapainya hanya setelah mereka memenuhi Kesempurnaan (Pàramã), mengorbankan kehidupan dan bagian tubuh mereka sebagai dàna (càga) dan mengembangkan kebajikan melalui tindakan (cariya) sebagai alat untuk memperoleh Pencerahan yang mereka inginkan.
Dalam sebuah perusahaan, keuntungan yang akan diperoleh ditentukan oleh modal yang diinvestasikan dan usaha yang dilakukan. Jika modal yang diinvestasikan cukup besar dan usaha yang dilakukan cukup keras, keuntungannya pasti besar; jika modal dan usahanya sedang-sedang saja, keuntungannya juga akan sedang-sedang saja; jika modal dan usahanya kecil maka keuntungan yang diperoleh juga kecil. Demikian pula, ada perbedaan antara Pencerahan yang dicapai oleh mereka yang melakukan investasi dalam bentuk pemenuhan Kesempurnaan, pengorbanan hidup dan organ tubuh sebagai dàna, dan pengembangan kebajikan, praktik-praktik yang mendukung pencapaian Pencerahan (Bodhiparipàcaka). Keuntungan yang diperoleh dalam bentuk Pencerahan juga berbeda karena ada perbedaan dalam investasi Kesempurnaan, pengorbanan, dan praktik kebajikan mereka.
Perbedaan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
(1) Samma-Sambodhisatta,
Bakal Buddha, yang bahkan sebelum menerima ramalan pasti (yang diucapkan oleh seorang Buddha, “Orang ini akan mencapai kebuddhaan bernama ini dalam dunia itu.”) telah mengumpulkan jasa dan telah memutuskan dalam batinnya untuk menjadi Buddha.
Seperti yang disebut dalam kalimat berikut:
Aham pi pubbabuddhesu, buddhattamabhipatthayim
manasà yeva hutvàna, dhammaràjà asaïkhiyà
Dalam Buddhàpadàna dari Apadàna, seorang Bakal Buddha di hadapan tidak terhitung banyaknya Buddha, bercita-cita untuk mencapai Kebuddhaan selama tidak terhitung banyaknya kappa.
Setelah bertekad untuk mencapai Kebuddhaan dan mengumpulkan jasa-jasa selama kurun waktu tertentu, ketika ia memiliki delapan faktor (seperti Petapa Sumedhà), seorang Bodhisatta akan menerima ramalan pasti dari seorang Buddha hidup.
Di sini harus dimengerti bahwa tekad yang dilakukan oleh mereka yang bercita-cita untuk menjadi Buddha (Abhinãhàra) dilakukan dalam dua tahap; sebagai cita-cita untuk mencapai Pencerahan Sempurna sebelum memiliki delapan faktor yang hanya merupakan tindakan batin, tekadnya di hadapan satu demi satu Buddha belumlah lengkap, dan ia belum layak mendapat gelar Bodhisatta.
Tetapi setelah ia memiliki delapan faktor seperti Sumedhà, ia bertekad dengan berikrar:
“Iminà me adhikàrena katena purisuttame
sabbannutam pàpunitvà tàremi janatam bahum”
Yang artinya:
“Sebagai buah dari kebajikan yang telah kulakukan demi tercapainya Kebuddhaan tanpa memedulikan hidupku, semoga aku, dapat mencapai Kebuddhaan, dapat menolong makhluk-makhluk lain.”
Tekadnya menjadi lengkap pada saat itu, oleh karena itu ia siap menerima ramalan pasti.
Harus dipahami bahwa, lengkapnya tekad ini (abhinãhàra) adalah kebajikan kesadaran yang besar (kehendak) yang timbul sebagai akibat dari perenungan kemuliaan yang tidak terbayangkan dari Buddha dan welas asih-Nya yang sangat besar demi kesejahteraan semua makhluk. Dan kebajikan kesadaran yang besar ini memiliki kekuatan untuk memotivasi pemenuhan kesempurnaan, pengorbanan kehidupan dan organ-organ tubuh sebagai dàna, dan pengembangan kebajikan melalui praktik.
Saat kebajikan kesadaran yang besar ini timbul dalam diri Bakal Buddha, ia menempatkan dirinya pada Jalan menuju Kebuddhaan. Karena ia telah berada di jalan menuju Kebuddhaan, ia berhak mendapat gelar Bodhisatta. Karena tekad yang sempurna sebagaimana telah dijelaskan di atas, yaitu kebajikan kesadaran besar, timbullah dalam dirinya cita-cita baik, yaitu mencapai Pencerahan Sempuran dan kemampuan yang tidak ada tandingannya dalam memenuhi Kesempurnaan, untuk mengorbankan hidupnya dan organ-organ tubuhnya sebagai dàna, dan mengembangkan kebajikan yang membentuk prasyarat untuk mencapai Kebuddhaan.
Dan juga karena kesadaran kebajikan besar yang telah dijelaskan sebelumnya, ia merenungkan Kesempurnaan yang harus dipenuhi dan bagaimana cara melakukannya. Ia melakukan hal ini dengan pengetahuan penyelidikan Kesempurnaan (Pàrami-pavicaya Nana), dan lain-lain yang memungkinkannya untuk menembus berbagai hal tanpa bantuan guru. Pengetahuan ini adalah pengantar dalam mencapai Kebuddhaan; diikuti oleh pemenuhan Kesempurnaan yang nyata satu demi satu.
Seperti yang disebutkan dalam Nidàna-katha dari Komentar Cariyà-Piñaka, setelah menerima ramalan pasti akan menjadi Buddha, Bakal Buddha harus terus-menerus berusaha memenuhi Kesempurnaan (Pàrami), pengorbanan (càga), dan melakukan kebajikan melalui praktik (cariya)* yang merupakan prasyarat untuk mencapai Pengetahuan Jalan Kearahattaan (Arahatta-Magga Nana) dan kemahatahuan (Sabbannuta Nana) melalui empat pengembangan, yaitu: (i) sabbasambhàra bhàvanà, (ii) nirantara bhàvanà, (iii) cirakàla bhàvanà, dan (iv) sakkaca bhàvanà.
(*Catatan: Kesempurnaan, pengorbanan, dan tindakan: Pàrami, càga, cariya: Pàramã ada sepuluh. Càga yang dimaksudkan adalah mapariciccàga, persembahan atau pengorbanan yang luar biasa besar, yang terdiri dari lima jenis persembahan: kekayaan, anak, istri, organ tubuh, dan nyawa. Cariya secara harfiah berarti perbuatan, sikap, atau praktik, yang dilakukan demi kesejahteraan diri sendiri dan makhluk lain. Cariya terdiri dari tiga kelompok, yaitu: (1) lokattha cariya, praktik demi kesejahteraan semua makhluk, (2) Nàtattha cariya, praktik demi kesejahteraan sanak-saudara sendiri, dan (3) Buddhathha cariya, praktik demi mencapai Pencerahan.)
Dari empat ini: (i) sabbasambhàra bhàvanà adalah pengembangan total dari seluruh Kesempurnaan; (ii) nirantara bhàvanà adalah Pengembangan Kesempurnaan dalam periode waktu minimum selama empat asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa, atau waktu maksimum selama enam belas asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa, tanpa terputus dalam satu kehidupan sekalipun (iii) cirakàla bhàvanà adalah Pengembangan Kesempurnaan selama waktu yang panjang tidak berkurang satu kappa pun dari waktu minimum empat asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa; dan (iv) sakkaca bhàvanà adalah Pengembangan Kesempurnaan dengan sungguh-sungguh dan saksama.
Kualitas Moral dari Seorang Bakal Buddha
Bakal Buddha, yang telah menerima ramalan pasti, sangat mudah tergerak oleh welas asih terhadap makhluk lain saat ia melihat mereka yang tidak berdaya dan tidak memiliki perlindungan dalam kesulitan mengarungi kehidupan, yang ditimpa berbagai penderitaan hebat berupa kelahiran, usia tua, sakit, dan kematian; berupa pembunuhan, cacat dan luka; berupa kesulitan mencari nafkah, dan penderitaan makhluk-makhluk di alam sengsara. Karena tergerak oleh welas asih ini, ia menahan penderitaan yang luar biasa menyesakkan dan tak terperihkan seperti memotong tangannya, kakinya, telinganya, dan lain-lain, dicelakai oleh mereka yang buta dan bodoh, dan welas asihnya kepada mereka bertahan selamanya.
Ia melingkupi semua makhluk dengan welas asihnya dengan cara sebagai berikut,“Bagaimanakah aku harus memperlakukan mereka yang jahat kepadaku? Aku adalah seorang yang berusaha memenuhi Kesempurnaan dengan tujuan untuk membebaskan mereka dari kesengsaraan lingkaran kelahiran. Betapa kuatnya Kebodohan! Betapa kuatnya Kemelekatan! Betapa menyedihkan, dikuasai oleh kemelekatan dan kebodohan, mereka bahkan melakukan serangan terhadapku yang sedang berusaha untuk membebaskan semua makhluk. Karena mereka telah melakukan kekejaman ini, mereka akan mengalami kesulitan.
Dengan memancarkan welas asihnya kepada semua makhluk, Ia mencoba mencari cara dan alat yang tepat untuk menolong mereka dan merenungkan, “Karena dikuasai oleh kemelekatan dan kebodohan, mereka dengan keliru menganggap apa yang tidak kekal sebagai sesuatu yang kekal, penderitaan sebagai kebahagiaan, bukan aku sebagai aku, dan yang menyakitkan sebagai sesuatu yang menyenangkan. Dengan cara apakah Aku dapat menolong dan mengeluarkan mereka dari penderitaan yang muncul karena sesuatu penyebab.”
Dalam perenungannya, Bodhisatta melihat bahwa kesabaran (khanti) adalah satu-satunya alat untuk membebaskan makhluk-makhluk dari penjara kehidupan. Ia tidak pernah marah sedikit pun kepada makhluk-makhluk yang bersikap kejam kepadanya yang memotong bagian-bagian tubuhnya, dan lain-lain. Ia berpikir, “Sebagai akibat dari perbuatan jahat yang pernah kulakukan pada masa lampau, aku pantas mengalami penderitaan saat ini. Karena aku telah melakukan kesalahan sebelumnya, aku pantas menerima penderitaan ini sekarang; Akulah yang memulai penderitaan ini.” Demikianlah ia menanggapi kekejaman makhluk lain terhadapnya.
Kemudian ia merenungkan lagi, “Hanya dengan kesabaran aku dapat menyelamatkan mereka. Jika aku jahat kepada mereka yang jahat, aku akan menjadi sama dengan mereka; aku tidak ada bedanya dengan mereka. Bagaimana aku dapat membebaskan mereka dari kesengsaraan lingkaran kelahiran? Tidak akan pernah bisa. Oleh karena itu, dengan mengandalkan kekuatan kesabaran yang menjadi dasar bagi semua kekuatan, dan menerima semua perbuatan jahat mereka terhadapku, aku akan sabar; dan dengan cinta kasih dan welas asih sebagai penuntun, aku akan memenuhi Kesempurnaan. Hanya dengan demikian aku dapat mencapai Kebuddhaan. Hanya dengan mencapai Kebuddhaan, aku dapat menyelamatkan semua makhluk dari penderitaan yang ditimbulkan oleh suatu sebab.” Demikianlah ia melihat situasi tersebut sebagaimana adanya.
Setelah merenungkan demikian, Bakal Buddha memenuhi Kesempurnaan demi Kesempurnaannya dengan cara yang unik—Sepuluh Kesempurnaan biasa, Sepuluh Kesempurnaan yang lebih tinggi, dan Sepuluh Kesempurnaan tertinggi, seluruhnya berjumlah tiga puluh, yang merupakan prasyarat bagi Pencerahan (Bodhisambhàra). Pemenuhan Kesempurnaan dilakukan dalam empat cara pengembangan seperti yang telah dijelaskan di atas.
Tidak Terlahir di Alam Surga Selama Memenuhi Kesempurnaan
Sebelum Ia menyelesaikan kesempurnaannya dalam kelahirannya sebagai Pangeran Vessantara (Bakal Buddha Gotama sebagai Raja Jetuttara, kelahiran terakhir di alam manusia sebelum Bodhisatta terlahir kembali sebagai Pangeran Siddhattha), selagi dalam tahap memenuhi Kesempurnaan, mengorbankan hidupnya dan bagian-bagian tubuhnya sebagai dàna dan mengembangkan praktik dalam cara yang unik, seorang Bakal Buddha dapat terlahir berkali-kali di alam dewa yang berumur panjang sebagai akibat dari kebajikan-kebajikannya. Tetapi ia memilih untuk memotong kehidupannya di alam dewa dengan sengaja mati (adhimutti-marana) karena di alam dewa sulit untuk memenuhi Kesempurnaan, sebaliknya ia sering kali terlahir di alam manusia di mana ia dapat meneruskan tugasnya yaitu memenuhi Kesempurnaan.
Kesempurnaan Dibandingkan Dengan Samudra
Seluas-luasnya samudra masih ada batasnya, dibatasi oleh dasarnya di bawah, oleh permukaannya di atas, dan dikelilingi oleh pegunungan cakkavàla di tepinya. Namun, samudra Kesempurnaan berdana (dàna-Pàrami) yang dipenuhi dan dikumpulkan oleh Bakal Buddha tidak terhingga; dimensinya tidak terbatas. Sehubungan dengan Kesempurnaan Kedermawanan, kita tidak menentukan batasnya dengan menghitung jumlah harta yang diberikan; atau dari jumlah daging dan darah yang telah diberikan; atau dari jumlah mata atau kepala yang telah dikorbankan. Demikian pula, kita tidak dapat menentukan batas dari Kesempurnaan lainnya, seperti moralitas (sãla-Pàrami) dengan cara yang sama. Demikianlah perbandingan antara samudra dengan Kesempurnaan, harus dipahami bahwa samudra memiliki kapasitas yang terbatas sedangkan Kesempurnaan adalah tidak terbatas.
Bakal Buddha Tidak Pernah Merasakan Sakit
Pada siang hari yang panas, seseorang akan pergi ke danau, mandi dan menyelam; dalam keadaan demikian ia tidak merasakan panas dan teriknya matahari. Demikian pula halnya dengan Bakal Buddha yang meliputi dirinya dengan welas asih, dalam usahanya menyejahterakan makhluk-makhluk lain, masuk ke dalam samudra Kesempurnaan dan menyelam di sana. Karena ia diliputi oleh perasaan welas asih, ia tidak merasakan sakit, sekalipun bagian-bagian tubuhnya terpotong, atau oleh berbagai penyiksaan.
bersambung...