Intisari Bhagawad Gita

bcak

IndoForum Newbie B
dibacain dong bro..................:D (he he he canda, ditungguin di forum sebelah)
:D
forum sebelah mana bro???

perasaan cuman ikut diforum ini aja....... :)>-

note: ini (percakapannya) masih lanjut, belom sempat post lagi, ada banyak kesibukan....... :D
 

bcak

IndoForum Newbie B
PERCAKAPAN 21

DEKATKAN DIRIMU DENGAN TUHAN UNTUK KEMULIAANMU


Krishna berkata, "Orang yang menjadi budak nafsunya menjadi budak seluruh dunia. Orang yang menguasai nafsunya menjadi penguasa seluruh dunia.
Yakinilah pengetahuan bahwa ketuhanan yang bersemayam dalam dirimu, atma yang merupakan sumber cahaya, adalah dasar segala kebahagiaan dan kesenangan yang bisa engkau alami di dunia. Kebanyakan orang mengalami penderitaan yang berat karena mempunyai anggapan yang keliru bahwa kesenangan indera dan kenikmatan benda-benda duniawi itu nyata dan kekal, tetapi semua ini hanya sementara dan tidak dapat berlangsung terus. Orang-orang belum menyelidiki dan belum memahami apa sesungguhnya dasar kebahagiaan yang berkaitan dengan objek indera dan segala kemewahan dunia.

Dalam Bhagawad Gita, badan digambarkan sebagai sebuah periuk dengan sepuluh lubang, di dalamnya ada lampu yang tidak dapat dipadamkan. Jika engkau menutup periuk ini dengan kain tebal maka engkau tidak bisa melihat sinar lampu itu. Tetapi jika pelan-pelan engkau angkat kain penutup periuk, engkau dapat melihat cahaya keluar dari sepuluh lubang periuk itu. Pada saat itu seolah-olah ada sepuluh berkas sinar. Tetapi kalau periuk itu engkau pecah engkau menyadari bahwa hanya ada satu lampu di dalamnya. Atma yang bersinar adalah lampu yang memancarkan cahaya itu.

Sinar atma yang cemerlang ditutupi oleh badan dan sepuluh inderanya, lima kasar, dan lima halus, yang digambarkan sebagai sepuluh lubang periuk. Dan periuk badan ini ditutupi oleh kain tebal rasa kepemilikan dan keterikatan. Terlebih dulu engkau harus menyingkirkan kain egoisme dan rasa kepemilikan. Rasa memiliki ini bersumber pada ketidaktahuan: merupakan tipuan yang berasal dari maya. Maya dapat dianggap sebagai selubung luar bagi Tuhan; Tuhan digambarkan mempunyai khayalan sebagai bentuk luar-Nya yang menyelubungi dan menutupi-Nya dari pandangan. Bila engkau lepas dari kain khayal ini maka sinar yang ada di dalam akan tampak, bercahaya cemerlang melalui alat-alat indera.

Cahaya yang engkau lihat melalui mata adalah pantulan cahaya ketuhanan yang bersinar yang ada di dalam. Getaran engkau dengar dan rasakan dengan kulit dan telingamu adalah reaksi cahaya itu juga. Suara yang engkau buat dengan mulut adalah gema cahaya ketuhanan itu juga. Semua yang dapat engkau kerjakan dan alami melalui alat-alat indera, tidak lain hanya pantulan, reaksi, atau gema dari atma jyothi, sinar cemerlang yang merupakan dirimu yang abadi. Tetapi, selama engkau masih mempunyai periuk badan ini, engkau tidak dapat melihat sinar atma yang esa, engkau hanya mengalami pantulan-pantulan cahaya yang berlainan.

Sesungguhnya engkau melihat keanekaan dalam kesatuan. Engkau harus meluruskan pandangan yang keliru ini. Upanishad mengajarkan bahwa engkau harus melihat kesatuan dalam keanekaan. Bilakah engkau dapat melihat dan menghayati kesatuan? Hanya bila engkau memusnahkan rasa persamaan diri dengan tubuh maka engkau dapat menghayati kesatuan dari semuanya itu. Mayalah yang mengakibatkan pengalaman khayal sehingga engkau melihat keberagaman yang sebenarnya hanyalah kesatuan. Dalam Upanishad dituliskan pengalaman langsung para resi yang agung bahwa hanya ada satu kesatuan dalam keserbaanekaan dunia, kesatuan ini merupakan dasar segala-galanya dimanapun juga. Kesatuan ini adalah atma yang harus dihayati dalam setiap objek dan setiap mahkluk. Inilah intisari ajaran Bhagawad Gita yang juga menjadi intipati seluruh Upanishad.

Gita menjelaskan kesatuan yang sama dan tidak berubah di mana pun juga ini sebagai yoga. Engkau harus menyelidiki, mengambil kejadian-kejadian dalam kehidupanmu sehari-hari, untuk mengetahui bagaimana engkau dapat menghayati kesamaan ini dalam keanekaragaman. Untuk mengetahui ketuhanan yang terkandung dalam segala sesuatu, perhatikan contoh penyediaan makanan. Misalnya, beberapa macam makanan manis seperti kue, cake, dan gula-gula yang kau buat. Bentuk dan nama kue serta gula-gula itu berbeda-beda, tetapi bahan pokoknya sama yaitu gula. Karena ada gula, semuanya mempunyai rasa manis. Tepung sendiri tidak manis, rasanya tawar, tetapi setelah dicampur gula, baru terasa manis. Tidak menjadi masalah apakah engkau memakai tepung beras tepung gandum, atau tepung lain, asalkan dicampur gula, rasanya manis, Begitu pula objek-objek di dunia ini tidak mempunyai rasa atau tawar, tetapi karena gula ketuhanan dicampurkan di dalamnya, engkau bisa menikmati macam-macam di dunia ini dan kau anggap semua itu menarik serta enak.

Tetapi janganlah, menyia-nyiakan hidupmu untuk mengejar kesenangan duniawi. Sadarilah kebenaran bahwa engkau memperoleh kelahiran sebagai manusia ini bukannya untuk sekedar menikmati makan dan tidur. Bila engkau memperhatikan sekelilingmu, engkau dapat melihat hewan, burung, dan cacing yang hanya hidup untuk makan. Mengapa harus hidup sebagai manusia kalau hanya untuk mengejar kesenangan seperti hewan, burung, dan cacing itu? Apa gunanya mencari pengetahuan yang tertinggi lalu menghabiskan waktumu untuk bersuka ria dalam kesenangan-kesenangan rendah yang juga dinikmati oleh hewan, burung, dan cacing tanpa memerlukan pendidikan tinggi? Apakah ideal khusus yang selama ini telah diberikan kepada umat manusia (untuk dicapai)? Apakah makna yang mendalam dari pernyataan bahwa sungguh sulit mendapatkan hidup sebagai manusia? Hidup sebagai manusia tidak diberikan agar engkau dapat berkelakuan seperti binatang. Dan juga tidak diberikan agar engkau dapat berkelakuan seperti iblis. Manusia dilahirkan sebagai manusia untuk mengembangkan sifat-sifat ketuhanan. Engkau telah diberi kehidupan sebagai manusia agar dapat mencapai tingkat yang tertinggi yaitu kesadaran Tuhan. Itulah yang juga diajarkan oleh Yesus ketika Beliau berkata, "Manusia hidup bukan dari roti saja".

Engkau harus mencapai sesuatu yang sangat berarti. Engkau telah diberi kehidupan agar engkau dapat menyadari sifat Tuhan yang ada pada dirimu. Tugasmu yang utama sebagai manusia ialah melepaskan hal-hal yang tidak kekal dan mencapai hal-hal yang kekal. Tetapi sekarang engkau tidak menginginkan sifat yang luar biasa itu, bahkan engkau hidup terikat. "Karena itu Arjuna", kata Krishna, "Kesadaran badan dan keterikatan kepada badan membelenggu engkau. Lepaskanlah keterikatanmu kepada badan".
Engkau harus menyelidiki mengapa engkau mempunyai keterikatan kepada badan. Perhatikan contoh ini. Setiap orang tahu bahwa tidak benar berkata bohong. Banyak orang, pada suatu saat mengucapkan sumpah bahwa mereka tidak akan berbohong. Tetapi, setelah itu, ketika terlibat dalam percakapan, mereka berbohong lagi. Ambil contoh seorang pedagang yang tahu bahwa ia tidak boleh menipu. Ia bertekad akan membatasi dirinya untuk mencari untung yang sedang-sedang saja secara jujur. Tetapi keesokan harinya ia melakukan kecurangan. Atau seseorang memutuskan tidak akan bergunjing atau melukai hati orang dalam pembicaraan, namun dalam beberapa menit saja ia lupa akan janjinya dan mulai mencela seseorang. Rupanya pikiran orang tidak tetap sama sekali, dan tanpa pikiran yang teguh serta tetap ia tidak dapat mengendalikan perbuatannya. Pada hari suci ia berpendapat bahwa ia tidak boleh memikirkan hal-hal lain kecuali Tuhan dan berpuasa tidak makan. Tetapi tak berapa lama kemudian ia mulai melonggarkan puasanya dan berkata, "Baiklah saya makan kue dan minum teh saja".

Bila seseorang terus melakukan pelanggaran seperti itu terhadap apa yang telah diputuskannya, pastilah ada sesuatu yang amat kuat yang mendorong dari dalam dirinya dan selalu mengalahkannya. Jika tidak ada insting atau dorongan yang kuat itu dari dalam, pasti ia tidak akan mengubah ketetapan hatinya dan dengan kemauan yang kuat dapat mempertahankan disiplin yang telah dinyatakannya. Jadi dalam dirinya ada tenaga atau kekuatan yang tersembunyi yang tidak dapat dikendalikan atau dipahaminya. Jika ia berpikir lebih dalam dan mencoba menemukan apa gerangan kekuatan itu, ia akan mendapati bahwa kekuatan itu ada hubungannya dengan tiga guna 'sifat yang dimiliki manusia'. Guna atau sifat ini adalah satwa, rajas, dan tamas, yaitu sifat yang selaras, yang aktif atau bernafsu, dan yang lamban. Ketiga sifat ini hidup dan tumbuh karena makanan dan tidur. Di antara tiga sifat itu, rajo guna dan tamo guna cenderung mendorong manusia mengikuti jalan yang salah. Rajo guna mempunyai anak yang bernama kama atau 'nafsu'. Tamo guna mempunyai anak perempuan yang bernama krodha atau 'amarah'. Dorongan pertama yang kuat yang menyebabkan manusia melanggar keputusannya adalah anak rajo guna, yaitu nafsu. Nafsu menjadi pemimpin atau kapten semua sifat yang buruk.

Kini engkau bisa membuat program untuk menundukkan musuhmu yang datang dari luar, tetapi ini akan sia-sia jika engkau belum mengalahkan musuh yang ada dalam dirimu. Kalau engkau sudah menyerah kepada musuh dalam dirimu, bagaimana engkau berharap mengalahkan musuh di luar dirimu? Bila musuh dalam dirimu telah menundukkan kemauanmu dan mengalahkan segala niat yang baik, bagaimana engkau dapat menghadapi dan menaklukkan musuh di luar dirimu. Kapten sifat-sifat buruk atau nafsu ini telah membuat lubang dan memasuki rumah; yang lain-lain seperti kebencian, amarah, keserakahan, dan kecemburuan lalu ikut masuk rumah itu. Pada saat musuh-musuh ini ada dalam dirimu, engkau kehilangan rasa pertimbangan dan kebijaksanaanmu. Pada saat engkau kehilangan kebijaksanaanmu engkau juga membatalkan keputusanmu. Karena itu, alasan utama mengapa engkau tidak mematuhi ketetapan hatimu adalah dorongan nafsu. Coba kita berusaha mendalami hal ini.

Istana-istana yang dibangun untuk tempat tinggal para kaisar agung dan raja-raja biasanya dikelilingi oleh tembok yang kuat untuk menahan serbuan dari luar. Di tembok itu ada beberapa pintu yang dijaga. Begitu juga sebuah tempat ibadat biasanya terletak pada tempat yang dikelilingi tembok pengaman dan ada beberapa gerbang atau pintunya. Badan dapat dianggap sebagai tembok pekarangan yang mengelilingi Tuhan yang tinggal di tempat ibadat dalam hati sebagai atma. Benteng atau tempat ibadat dibangun dengan bata, semen, pasir, dan adukan, tetapi tempat ibadat ini dibangun dengan darah, tulang, dan daging. Dalam tembok daging dan tulang ada juga beberapa gerbang atau pintu dalam bentuk alat indera. Melalui pintu-pintu indera inilah nafsu dan sifat-sifat buruk lain menyerbu ke dalam tempat suci.
Badan memperoleh cahayanya dari penghuni yaitu Tuhan. Selama penghuni bersemayam di dalam badan, keharuman dan kegairahan hidup tetap memancar. Pada saat penghuni meninggalkan badan, ia menjadi berbau busuk dan buruk. Tanpa penghuni ini badan merupakan barang yang menjijikkan, sama sekali tidak harum, dan terus menerus mengeluarkan bau busuk. Proses mengubah badan dengan kualitas yang menjijikkan itu menjadi alat untuk mengabdi umat manusia dan menyadari sifat ketuhanan dapat memberikan kebahagiaan dan kepuasan batin. Tetapi orang menganggap tubuhnya hanya sebagai alat untuk memperoleh kesenangan badani sehingga ia memakai badannya untuk hal-hal yang tidak benar. Krishna memperingatkan Arjuna bahwa ini bukan sifat manusia sejati. Ia berkata kepada Arjuna, "Nak, badan diberikan agar mengerti Dehi 'penghuninya' (Tuhan). Gunakanlah dia untuk tujuan yang suci itu. Hewan dan burung tidak diberi kemampuan membedakan ini".

Selama ini engkau dapat menikmati berbagai hal karena engkau mempunyai kemampuan yang unik untuk mencari pengetahuan dan mawas diri. Engkau harus menggunakan segenap kemampuanmu untuk memahami prinsip-prinsip yang menjadikan sifat manusia. Mula-mula engkau harus mengerti kekuatan keinginan yang membuat engkau melanggar keputusanmu. Tentu engkau mempunyai keinginan, tanpa keinginan engkau tidak dapat hidup sesaatpun. Tetapi engkau harus menggunakan segala keinginanmu untuk kebaikan. Dalam hal ini engkau harus memberi contoh yang baik kepada orang lain. Itu berarti hidup sebagai manusia sejati. Jika engkau tidak menjadikan kesejahteraan seluruh masyarakat sebagai tujuanmu, engkau tidak bisa dinamakan manusia. Karena engkau lahir dalam masyarakat, karena engkau hidup dalam masyarakat dan memperoleh banyak manfaat dari masyarakat, engkau harus mengabdi kepada masyarakat. Dalam pengabdian kepada masyarakat, engkau mengabdi kepada Tuhan. Apakah itu tugas kecil atau pekerjaan besar, apapun yang engkau kerjakan harus kau lakukan demi Tuhan. Pekerjaan apapun yang engkau lakukan harus diubah menjadi pekerjaan yang suci, pekerjaan itu harus dijadikan ibadah.

Apapun yang engkau kerjakan, engkau harus bertanya, "Adakah manfaatnya?" Kesepuluh sinar yang memancar dari badan berasal dari satu sumber, yaitu cahaya dari Tuhan. Sinar-sinar ini adalah pantulan cahaya atma dalam dirimu, yaitu cahaya Tuhan Yang Mahakuasa. Engkau harus selalu menyadari hal ini. Engkau bisa langsung melihat badan kasar dengan roman muka dan ciri-cirinya, tetapi karena engkau tidak bisa melihat atma secara langsung, engkau tidak mempunyai pengertian yang benar tentang kecemerlangan Tuhan yang bersemayam di dalamnya. Ada sebuah contoh tentang ini. Pada suatu hari turun hujan yang lebat secara mendadak. Curahan air jatuh dari pohon, air tercurah dari atap dan talang, ada lagi air dari serambi, juga air dari atap rumah sebelah, air membanjiri tanah, mengakibatkan anak sungai dan sungai-sungai banjir. Air ada dimana-mana dan seolah-olah datang dari berbagai tempat, tetapi setiap tetes air ini hanya berasal dari satu sumber, yaitu awan tebal yang menutupi seluruh langit.

Begitu pula segala suara, segala kekuatan, segala keindahan, segala keahlian yang tampak dalam diri siapapun, semuanya berasal dari satu sumber, yaitu Tuhan Yang Maha Esa yang ada di mana-mana. Engkau harus menyadari kesatuan yang mendasari semua sifat yang berlainan ini. Kalau engkau telah memahami kesatuan ini, segala perbedaan akan lenyap, dan kalau keanekaragaman itu lenyap, segala keinginan lenyap pula. Maka bila keinginan musnah, tidak ada lagi amarah. Dan bila engkau telah mengalahkan keinginan (nafsu) dan amarah, engkau akan mencapai pengetahuan suci itu. Melalui latihan rohani, terutama dengan penyelidikan batin engkau akan dapat menyadari kesatuan dan menikmati sifat Tuhan yang selalu ada dalam dirimu. Kerinduan untuk memperoleh terang pengetahuan suci ini, untuk menghayati Yang Maha Esa dalam keberagaman, dinyatakan dalam doa Upanishad yang termasyhur.

Asatoma satgamaya
Tamasoma jyothir gamaya
Mrityorma amritam gamaya
arti:
Tuntunlah kami dari yang palsu ke yang sejati
Tuntunlah kami dari yang gelap ke yang terang
Tuntunlah kami dari kematian ke kekekalan.
Nilai berbagai objek di dunia didasarkan pada tempat yang diduduki. Pekerjaan apapun yang engkau lakukan, jika kau kerjakan demi Tuhan dan kau persembahkan kepada Tuhan, maka pekerjaan itu mempunyai nilai yang sangat tinggi. Dengan menghubungkan pekerjaan itu dengan Tuhan, ia menjadi suci dan mempunyai kekuatan yang besar. Engkau bisa mengerti hal ini dari contoh berikut. Jika engkau melihat seekor tikus dalam rumahmu, engkau akan mengambil tongkat dan mencoba membunuhnya. Engkau merasa jijik melihat tikus. Tetapi menurut tradisi tikus adalah kendaraan Dewa Ganesha. Bila engkau menganggapnya demikian, engkau menghormatinya sebagai wahana yang suci untuk dewa. Apakah alasannya? Nilai yang tinggi yang didapat oleh tikus sebagai kendaraan Ganesha ialah karena ia dihubungkan dengan suatu perwujudan ketuhanan. Begitu pula bila engkau melihat ular mungkin engkau merasa takut lalu mengambil tongkat untuk mengusirnya. Atau engkau mungkin mencari pawang ular untuk menangkapnya. Tetapi kalau ular itu melingkar di leher Shiwa, engkau menyembahnya dan memberikan penghormatan kepadanya. Apakah alasannya? Alasannya ialah ular itu telah mempersembahkan dirinya kepada Shiwa dan mengabdi kepada-Nya. Karena itu ia menjadi suci seperti Shiwa. Walaupun ia seekor ular yang berbisa, karena ia mempersembahkan dirinya kepada Tuhan, ia memperoleh keharuman dan kemuliaan.

Pada suatu hari Wishnu mengirim berita kepada Shiwa. Berita itu dikirim melalui Garuda, burung yang menjadi kendaraan Wishnu. Garuda datang kepada Shiwa, mengepak-ngepakkan sayapnya. Ular yang menghiasi leher Shiwa merasakan angin yang dihasilkan kebasan sayap Garuda; ia mulai mendesis. Walaupun burung Garuda adalah musuh bebuyutan ular dan ular biasanya bersembunyi atau lari bila ada Garuda, kini si ular mendesis kepada Garuda. Ia berani melakukan hal ini karena kekuatan yang diperolehnya berkat posisi yang ditempatinya di leher Shiwa. Ketika ular yang menderita egoisme ini terus mendesis kepada Garuda, Garuda berkata, "Oh, engkau ada di leher Shiwa, karena itu aku memaafkan engkau. Tetapi, coba bergeser sedikit, lepas dari leher Shiwa barang sesaat." Pada saat ular meninggalkan tempatnya, ia menjadi mangsa burung. Selama ia tetap berada pada tempatnya, ia mempunyai kekuatan yang hebat karena kedekatannya dengan Tuhan.

Sesungguhnya satu-satunya keakuan yang dapat diterima adalah bila engkau menghubungkan aku dengan Tuhan, dan bila engkau berkata, "Aku adalah Dia. Aku satu dengan Tuhan." Tetapi jika engkau menjauhkan diri dan tidak mencintai Tuhan, jika ego meliputi jiwamu, maka engkau menjadi hina, lemah, dan rapuh. Walaupun hanya hal yang kecil, hal yang tidak berarti, kalau ia berlindung kepada Tuhan, nilainya akan jauh lebih tinggi. Batu biasa mungkin tergeletak di jalan, tetapi bila ada seorang pematung yang membuat patung suci darinya, batu tadi akan dihormati dan disembah di tempat ibadat. Engkau dapat merenungkan atau membayangkan nilai luar biasa yang akan kau peroleh jika engkau menghubungkan dirimu dengan ketuhanan dan engkau sendiri menyatu dengan Tuhan.

Apapun juga yang rendah atau memalukan tidak mungkin berada dalam Tuhan. Ketika menyekap Sita di taman Ashoka, Rawana sangat menderita batin. Meskipun sepuluh bulan telah berlalu, Sita tidak menyerah kepadanya. Ia bahkan tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun kepada Rawana. Ancaman apa pun yang ditujukan kepadanya, Sita tetap tidak memperdulikannya sama sekali. Hal ini diperhatikan oleh Mandodari, istri Rawana, lalu ia mendatangi suaminya dan mencoba memperbaiki tindakannya. Ia berkata, "Rawana, kekuasaanmu tidak terbatas. Engkau sangat berbhakti kepada Shiwa. Engkau telah banyak melakukan tirakat. Engkau mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk menyamar. Engkau punya kekuatan untuk menyamar menjadi apa saja. Karena engkau bisa menjadi apa saja sekehendak hatimu, mengapa engkau tidak menemuinya dengan menyamar sebagai Rama? Dengan begitu Sita akan segera menyambutmu. Mengapa engkau belum melakukan ini?" Rawana berkata kepada Madodari, "Mandodari, jika aku menyamar sebagai Rama dan memakai wujud-Nya yang suci, tidak mungkin aku tetap memiliki nafsu birahi!"

Bila engkau menyatu dengan sifat ketuhanan, segala pikiran dan gagasan yang hina akan lenyap. Pikiran dan gagasan semacam itu tidak akan muncul lagi dan mengganggu ketenanganmu. "Karena itu," kata Krishna kepada Arjuna, "Bila engkau terjun ke medan pertempuran, bertempurlah, tetap sementara bertempur ingatlah Aku. Itulah cara yang benar untuk melaksanakan tugasmu. Dengan cara demikian, engkau menjunjung cita-cita luhur untuk mempertahankan dharma dan engkau memberi teladan yang baik kepada orang lain, di samping itu engkau akan mendapat kemasyhuran. Jika engkau mempersembahkan segala sesuatu kepada Tuhan, engkau akan berhasil dalam setiap usaha. Untuk melakukan hal ini engkau harus mampu mengendalikan semua inderamu sampai mereka dapat kau kuasai sama sekali. Maka engkau akan dapat mewujudkan kemampuanmu sepenuhnya sebagai manusia. Di samping itu engkau akan mampu mencapai keseimbangan batin dan dapat disebut stithaprajna.

"Sekarang engkau masih hidup dengan berbagai keterikatan; bila engkau masih terbelenggu seperti itu, bagaimana engkau bisa mencapai ketenangan? Engkau menjauhkan kedamaian hati. Segala hubungan dan ikatan yang engkau pupuk akan selalu berubah. Semua itu tidak kekal dan tidak mungkin menolong engkau mencapai tujuan akhir. Ketahuilah kebenaran yang kekal itu; ikatan dirimu kepada Tuhan. Tuhan selalu bersama engkau dan tidak akan pernah meninggalkan engkau."
 

bcak

IndoForum Newbie B
PERCAKAPAN 22

ALAM KASAR, ALAM HALUS, DAN ALAM KAUSAL


Dalam alam ini ke mana pun engkau memandang, engkau hanya akan menemukan lima unsur dan tidak ada yang lain; di manapun tidak akan ada unsur yang keenam.
Seperti telah dibicarakan sebelumnya, ada tiga jenis akasha atau alam yang juga dapat dianggap sebagai alam semesta. Ketiga alam ini adalah bhutakasha yaitu 'alam kasar' chittakasha yaitu 'alam halus atau alam pikiran', dan chidaakasha yaitu 'alam paling halus dan paling luas' dan disebut 'alam kausal'. Di luar alam-alam ini yang merupakan dasar dari ketiga alam ini ialah prinsip ketuhanan yang dinamakan Brahman atau Tuhan, juga dinamakan atman 'diri sejati yang kekal'. Seorang bhakta yang ingin mengetahui prinsip ketuhanan dan menyatu dengan Tuhan, harus memahami ketiga jenis akasha atau alam semesta ini. Bhutakasha terdiri dari lima unsur yaitu eter, udara, api, air, dan tanah. Eter juga disebut akasha, adalah unsur yang pertama; unsur ini sangat halus. Eter tidak mempunyai sifat khusus kecuali bunyi. Unsur berikutnya udara. Udara mempunyai dua sifat, bunyi dan sentuhan. Kemudian api. Api dapat dilihat; ia mempunyai tiga sifat yaitu bunyi, sentuhan, dan bentuk. Sesudah api, ada unsur air. Seperti api, air dapat dilihat; air mempunyai empat sifat yaitu; bunyi, sentuhan, bentuk, dan rasa. Tanah, unsur yang terakhir, mempunyai kelima sifat itu yaitu: bunyi, sentuhan, bentuk, rasa, dan bau. Jelaslah bahwa hanya tiga unsur terakhir yaitu api, air, dan tanah mempunyai bentuk; dua unsur pertama, eter dan udara, mempunyai sifat-sifat yang lain, tetapi tidak mempunyai bentuk.

Semua benda yang ada dalam bhutakasha 'alam yang kasat mata', tidak kekal dan dapat berubah-ubah. Lama-kelamaan semua benda mengalami perubahan dari satu nama dan bentuk ke nama dan bentuk yang lain, lalu berubah lagi, dan seterusnya. Dalam alam bhutakasha segala sesuatu terus bergerak. Baiklah kita mendalami sifat benda yang terdiri dari kelima unsur ini. Misalnya, bermacam-macam atom yang ada pada suatu tempat dan suatu waktu tertentu. Pada waktu itu atom-atom tersebut membentuk suatu wujud tertentu. Karena atom-atom itu bergerak dan berpindah tempat, wujud yang mereka bentuk akan berubah pula. Atom-atom dalam segala benda mengalami perubahan tempat dan keadaan dengan sangat cepat sehingga sulit sekali mengetahui kapan terjadi perubahan dalam benda itu karena setiap saat selalu berubah. Atom-atom yang membentuk badan manusia, seperti atom pada bentuk-bentuk lain, berubah setiap saat, menyebabkan badan mengalami perubahan. Perubahan ini mirip seperti gelombang yang tiada putusnya yang dapat kita lihat di lautan. Gelombang laut tidak berpangkal dan tidak berujung. Titik-titik air dalam satu gelombang menyatu dengan gelombang berikutnya. Gelombang itu sendiri menyatu lagi dengan gelombang lain, begitu seterusnya. Proses perubahan bentuk dan menyatu ini berlangsung terus. Inilah sifat alam yang kasat mata.

Umat manusia juga dapat digambarkan sebagai gelombang, dan makhluk hidup lainnya seperti binatang dan burung dapat dilukiskan sebagai gelombang lain, tumbuh-tumbuhan gelombang lain lagi, demikian pula serangga dan binatang melata. Kekuatan jahat juga dapat digambarkan sebagai gelombang, dan kekuatan Tuhan sebagai gelombang juga. Di dalam alam tidak mungkin kita mengetahui aspek apa dari gelombang yang mana akan menyatu dengan gelombang lain. Karena itu, seperti titik-titik air dalam suatu gelombang di lautan bercampur dan menyatu dalam gelombang lain. Demikian pula mungkin engkau akan menemukan bahwa gelombang yang mengandung sifat-sifat manusia bisa menyatu dengan gelombang lain yang mengandung sifat-sifat makhluk hidup lain. Proses perubahan dan pergantian itu berlangsung terus. Karena itu hidup dapat digambarkan sebagai suatu rangkaian gelombang. Sifat manusia dihubungkan dengan proses berpikir yang menghasilkan serentetan buah pikiran. Proses pemikiran ini tidak kekal, melainkan terus mengalami perubahan. Begitu pula badan mengalami perubahan. Jika kau tidak mengetahui keenam macam perubahan yang terjadi pada kehidupan manusia yaitu lahir, tumbuh, dewasa, menua, jompo, dan mati, engkau akan terkelabui dan mengira bahwa hidup manusia ini kekal. Sumber penyebab kesalahpahaman itu ialah ketidaktahuan.

Dalam alam yang kasat mata atau bhutakasha terdapat milyaran juta matahari, masing-masing mempunyai dunia sendiri; ada planet yang tidak terhitung jumlahnya, besar dan kecil, dan makhluk yang tak tepermanai jumlahnya; dan dalam alam semesta yang tak terhingga luasnya ini, bumi lebih kecil daripada sebutir debu; di atas bumi ini India hanya sebuah negara kecil. Dalam negara kecil ini ada negara bagian yang kecil. Dalam negara bagian yang kecil ini ada distrik kecil. Dalam distrik kecil ini ada dusun kecil. Dalam dusun kecil ini ada rumah kecil yang tidak berarti. Dan dalam rumah kecil ini duduklah tubuh yang amat kecil....Alangkah ganjilnya kalau membayangkan bahwa tubuh yang sekecil itu merasa egois dan membusungkan dada karena merasa penting, mengingat ukurannya yang sangat kecil itu dalam alam semesta yang begitu luas. Bila engkau membayangkan bhutakasha ini dan tempatmu di dalamnya, engkau akan menyadari bahwa badanmu hanyalah sebuah bintik debu yang amat kecil dalam alam raya ini. Dapatkah bintik sekecil itu berharap bisa memahami keseluruhan alam ini? Dapatkah setitik air mengukur lautan? Sedangkan lautan itu sendiri terus menerus mengalami perubahan....demikian pula seluruh bumi....demikian juga segala sesuatu yang lain dalam alam bhutakasha.
Dunia tempat engkau hidup bersifat sementara dan akan berlalu. Bagaimana bisa makhluk yang tidak berarti dan sementara dalam dunia yang tidak kekal ini mencoba memahami eksistensi yang tidak terhingga, tidak terbatas, dan kekal? Untuk memahami eksistensi yang kekal, engkau harus mempunyai tempat yang kekal dalam eksistensi yang kekal itu. Badan, kepribadian, dan individualitas, semuanya bersifat sementara. Semua itu dapat dibandingkan dengan sebuah fatamorgana. Orang ingin memuaskan dahaganya dari fatamorgana. Fatamorgana tampak seperti air, tetapi sebenarnya tidak ada air. Kain tidak dapat dibasahi oleh fatamorgana; ember tidak bisa diisi di tempat fatamorgana itu. Engkau tidak dapat menghilangkan rasa haus di fatamorgana.

Seluruh alam kasat mata yang sangat luas itu, bhutakasha, hanya bagaikan sebuah atom dalam alam chittakasha, alam mental, seperti halnya badanmu tampak seperti atom dalam alam bhutakasha. Dan alam chittakasha yang maha besar ini hanya sebesar atom dalam chidaakasha 'alam kausal'. Bhutakasha yang terbuat dari lima unsur kasar dapat ditangkap oleh kelima alat indera. Tetapi karena semua yang ada dalam bhutakasha terbuat dari lima unsur dan hanya lima unsur itu, bhutakasha itu lembam dan tidak punya kesadaran. Namun di dalamnya terkandung prinsip ketuhanan. Begitu pula prinsip ketuhanan ini dapat ditemukan dalam chittakasha, walaupun chittakasha juga lembam dan tidak sadar karena ia terbuat dari lima unsur yang sama (dalam aspeknya yang halus). Prinsip ketuhanan bersemayam dalam diri manusia, terkandung dalam tubuh yang lembam, dan menghidupkan serta menggiatkan tubuh itu. Demikian pula prinsip ketuhanan itu juga terkandung dalam alam yang kasat mata dan alam mental, yaitu bhutakasha dan chittakasha, dan menghidupkan serta menggiatkan kedua alam itu. Prinsip ketuhanan ini memancarkan sinarnya dari chidaakasha, yang terhalus di antara alam-alam yang tidak terbatas ini. Untuk memahami hal ini, perhatikan bayangan pada cermin. Bayangan atau pantulan itu tidak mempunyai keberadaan sendiri. Ia bergerak hanya bila benda yang dipantulkan bergerak. Segala kesemarakan yang tampak pada benda-benda di dunia ini timbul dari chidaakasha 'alam kausal' lalu dipantulkan oleh chittakasha, dan bhutakasha yang berfungsi sebagai cermin. Seperti halnya cahaya matahari dipantulkan oleh bulan, cahaya yang ada pada alam kausal chidaakasha dipantulkan dalam alam mental chittakasha dan kemudian dalam alam kasat mata bhutakasha.

Misalnya engkau ingin menghiasi bayangan dalam cermin. Dapatkah engkau melakukan itu? Bila engkau melihat wajahmu dalam cermin, dapatkah engkau membuat titik pada dahi bayanganmu dalam cermin itu? Tidak, itu usaha yang sia-sia. Engkau membuat titik di tengah-tengah dahi bayanganmu, tetapi begitu engkau bergerak, bayangan itu juga bergerak, dan titik yang tadinya di tengah-tengah dahi sekarang berada di telinga. Bila engkau membalik badanmu, bayangan pun membalik badannya juga dan titik tidak lagi berada di tengah-tengah dahi. Jadi bagaimana caranya agar engkau bisa menaruh titik pada dahi bayangan dalam cermin, sehingga titik itu tetap berada pada dahi, apa pun yang terjadi? Engkau harus menaruh titik pada bendanya sendiri. barulah engkau dapat bergerak ke mana saja atau engkau putar cermin itu, dan titik itu tidak akan berpindah. Ada suatu cerita untuk menjelaskan hal ini.

Dahulu ada seorang seniman yang terkenal di seluruh dunia. Ia mempunyai bakat yang luar biasa dalam melukis orang atau potret. Ia menghadap Krishna yang tinggal di Dwaraka dan mau melukis gambar Krishna. Krishna tersenyum berseri-seri seraya berkata, "Baik, jika engkau ingin melukis gambar-Ku, boleh saja. Tolong beritahu aku apa yang harus aku lakukan." Sang seniman memohon, "Swami, mohon Swami duduk tenang selama satu jam pada satu tempat, saya akan membuat sketsa, kemudian saya selesaikan bagian yang kecil-kecil." Krishna duduk pada satu tempat tanpa bergerak sama sekali. Seniman mulai membuat sketsa permulaan. Tak lama kemudian ia bersujud pada kaki Krishna dan berkata, "Swami, saya sudah menyelesaikan sketsanya." Sambil tersenyum Krishna berkata, "Kapan engkau memberikan gambar-Ku?" Seniman menjawab, "Swami, besok pada saat seperti ini saya dapat menyelesaikan lukisan ini." Sepanjang malam ia berkata terus tanpa kenal lelah untuk menyelesaikan tugas yang sulit itu, melukis gambar Krishna di atas kanvas. Keesokan harinya ketika gambar telah selesai, sang seniman sangat puas dengan hasil kerjanya. Ia membungkus lukisan itu dengan kain yang bagus dan membawanya ke tempat Krishna. Tetapi ketika kain yang pembungkus dibuka, ternyata dalam waktu 24 jam wujud Krishna telah berubah sama sekali. Seniman itu segera meletakkan lukisannya di sebelah Krishna. Ia memandang lukisan itu lalu memandang Krishna. Ia menyadari bahwa sedikit sekali persamaannya, lukisan itu dan berkata, "Saudaraku, rupanya ada beberapa yang kurang cocok." Sang seniman berkata, "Maafkan saya Swami. Baiklah saya coba lagi agar lebih baik. Berikan saya kesempatan lagi." Hal ini terjadi berkali-kali selama sepuluh hari.

Setiap hari seniman itu mengulangi melukis, tetapi tidak mungkin menghasilkan gambar yang cocok. Seniman itu merasa amat malu; ia mengambil keputusan sebaiknya ia pergi saja dari tempat itu dan segera kabur. Di tengah jalan di luar Dwaraka, Narada putra Dewa Brahma, secara kebetulan berjumpa dengan sang seniman yang sedang meninggalkan kota itu. Narada bertanya kepada seniman, "Kelihatannya engkau sangat sedih. Beritahulah saya apa yang membuat engkau murung." Seniman menceritakan semua yang telah terjadi. Narada memberitahu seniman itu, "Ya, Krishna adalah aktor utama dan sutradara utama. Beliau melakonkan seluruh drama ini. Dengan caramu itu engkau tidak akan dapat melukis Beliau. Tetapi jika engkau benar-benar ingin berhasil, dengarkanlah kata-kataku dan ikuti dengan cermat." Seniman itu bersedia melaksanakan petunjuk Narada. Ia kembali ke Dwaraka dan hari berikutnya menemui Krishna sambil membawa gambar yang dibungkus dengan kain yang halus. Ia berkata kepada Krishna, "Swami, akhirnya saya dapat memberikan gambar Swami yang mirip sekali." Seniman itu berkata, "Swami, coba lihat. Gambar ini persis sama dengan Swami. Perubahan apa pun yang terjadi pada wajah dan wujud Swami, gambar yang tampak di sini akan dengan setia memperlihatkan perubahan itu." Kemudian ia siap membuka kain pembungkus dan berkata, "Terimalah ini sebagai lukisan saya yang terbaik." Setelah kain dilepas, ternyata itu sebuah cermin yang bersih.

Jika engkau ingin melukis gambar Tuhan yang kekal dengan alat yang tidak kekal seperti kuas, cat, dan sebagainya, engkau tidak akan berhasil. Dalam alam bhutakasha semuanya bersifat sementara. Semua wujud terus mengalami perubahan. Wujud sementara itu tidak dapat memberikan gambaran Tuhan yang abadi. Jika engkau ingin mempunyai gambaran Tuhan yang bersih dan tidak berubah-ubah, engkau hanya akan dapat memperolehnya dalam hatimu yang suci. Karena itu, mencari Tuhan dalam alam bhutakasha, dengan kata lain, berusaha mengetahui-Nya melalui perwujudan yang berubah-ubah yang ada dalam alam kasat mata ini merupakan khayalan belaka. Eksistensi yang permanen dan tidak berubah tidak bisa diketahui melalui wujud-wujud yang tidak kekal dan selalu berubah. Pengetahuan apa pun yang engkau peroleh dengan cara ini sifatnya sementara. Kebahagiaan apa pun yang engkau dapatkan karena berusaha mengetahui Dia dengan cara ini, hanya akan bersifat sementara. Sifat dasar kelima unsur ini adalah sifat terus menerus berubah. Untuk mencapai keadaan yang kekal, engkau harus mencari di luar kelima unsur itu dan perwujudannya yang berubah-ubah.

Misalkan engkau mengadakan ziarah ke suatu tempat ibadat untuk menghayati Tuhan. Untuk pergi ke tempat itu mungkin banyak kesulitannya. Akhirnya bila engkau sampai di tempat itu dan masuk ke dalam tempat ibadat, engkau berdiri di depan patung dengan perasaan khusyuk. Engkau memandang patung, tetapi segera engkau memejamkan mata dan mengarahkan pandanganmu ke dalam batin. Setelah dengan susah payah mencapai tempat itu untuk melihat patung suci, mengapa sesampainya di sana engkau memejamkan mata dan melihat ke dalam batinmu sendiri? Apakah makna yang lebih dalam pada kejadian ini? Engkau melihat ke dalam dirimu sendiri karena engkau menyadari bahwa untuk memperoleh pandangan mengenai Tuhan yang kekal dan sejati, engkau harus melihat ke dalam hatimu. Kekuatan intuisimu mengetahui bahwa gambar yang diperoleh melalui mata hanya berkesan sesaat, meninggalkan buah pikiran, yang tidak kekal. Setelah menempelkan gambaran ini dalam pikiran, gambaran itu harus dikukuhkan sehingga menghasilkan kesan yang tidak berubah-ubah dalam hati.
Walaupun engkau tidak dapat memperoleh penghayatan Tuhan secara langsung dalam alam yang kasat mata ini, penampakan (Tuhan secara) tidak langsung yang engkau peroleh di situ akan memberimu kebahagiaan sementara. Hanya karena bhutakasha bersifat sementara dan berubah-ubah, engkau tidak boleh menolak kebahagiaan sementara (dari penampakan Tuhan yang tidak langsung) ini, dan kemudian perlahan-lahan, setapak demi setapak, engkau harus maju menuju kebahagiaan yang abadi. Ada tiga tahap dalam perjalanan ini. Pertama, tahap ketidakbenaran dalam ketidakbenaran. Tahap yang kedua disebut ketidakbenaran dalam kebenaran. Tahap yang ketiga adalah kebenaran dalam kebenaran. Tahap yang ketiga adalah kebenaran dalam kebenaran. Ketiga tahap ini dapat disamakan dengan tiga alam itu yaitu alam fisik atau alam yang kasat mata, alam mental atau alam halus, dan alam kausal; tiga alam itu adalah bhutakasha, chittakasha dan chidaakasha.

Ketidakbenaran dalam ketidakbenaran adalah apa yang engkau alami dalam bhutakasha, dalam alam kasat mata panca indera; di sini semua bersifat sementara dan tidak kekal; di sini bukan saja bayangannya yang tidak benar dan khayal, tetapi objek yang dipantulkan, yang berasal dari alam mental juga tidak benar dan khayal. Ketidakbenaran dalam kebenaran adalah keadaan yang engkau dapati dalam chittakasha. Di situ bayangannya bersifat sementara dan tidak benar, tetapi memantulkan yang kekal dan benar. Kebenaran dalam kebenaran didapatkan dalam chidaakasha; di sini tidak ada bayangan khayal dan pantulan khayal; di sinilah terdapat intisari kebenaran karena di dalamnya memancar cahaya atma yang tidak berubah. Engkau dapat memahami hal ini dengan merenungkan hal yang sering Swami katakan, "Engkau bukan satu orang, tetapi tiga....satu yang engkau pikirkan siapa engkau, satunya lagi yang orang lain pikirkan sebagai dirimu, dan yang ketiga adalah dirimu yang sejati.' Satu yang engkau anggap sebagai dirimu adalah badan kasar, bersifat sementara dan tidak benar; bagaimanapun hidupmu sekarang ini, apa pun yang engkau alam dewasa ini semuanya sementara. Baik objek maupun bayangannya adalah sementara dalam hidup yang engkau alami sekarang. Inilah yang menjadi sifat ketidakbenaran. Yang dipikirkan orang lain tentang dirimu, ini berhubungan dengan pikiran dan chittakasha sehingga juga berubah-ubah dan tidak benar, tetapi ia memantulkan kebenaran yang abadi. Yang terakhir ialah dirimu yang sejati, yaitu kebenaran yang tidak berubah-ubah, bersinar dalam alam chidaakasha.

Sepotong es di tanganmu akan mencari hingga kembali menjadi air. Mengapa begitu? Karena mencari adalah sifat es. Begitu pula perubahan dan kesementaraan adalah sifat segala benda yang tampak dalam bhutakasha. Walaupun sementara engkau berusaha memahami bhutakasha, engkau harus memikirkan akasha yang lebih mendalam, lebih halus. Bhutakasha adalah alam yang kasar. Engkau mengalaminya dalam keadaan jaga. Hal yang sama dalam wujudnya yang halus berhubungan dengan chittakasha yang engkau alami dalam keadaan mimpi. Dalam keadaan jaga engkau dapat melihat benda-benda karena pantulan cahaya yang memancar dari matahari dan bulan, tetapi matahari dan bulan dalam alam jaga itu tidak ada dalam alam mimpi. Hanya cahaya yang memancar dari chittakasha yang menyebabkan engkau melihat benda-benda dalam alam mimpi. Pada saat engkau menyingkirkan yang kasar, cahaya yang halus tampak di dalam. Pada siang hari engkau tidak dapat melihat bintang. Tetapi hanya karena engkau tidak bisa melihat bintang, itu tidak berarti bahwa bintang itu tidak ada. Bintang-bintang tetap bersinar walaupun siang, tetapi karena cahaya matahari begitu terang, engkau tidak bisa melihatnya. Ketika cahaya matahari meredup di senjakala, engkau dapat melihat lagi bintang-bintang yang bersinar itu. Di balik yang kasar terdapat yang halus, dan dalam alam halus terdapat pola untuk yang kasar. Pada masa kanak-kanak sudah ada pola usia tua dalam wujud benih, dan dalam usia tua terdapat bekas yang halus masa kanak-kanak.

Ada sesuatu yang lebih tinggi daripada alam yang kasat mata dan alam halus, yaitu chidaakasha. Chidaakasha tidak bergerak; alam ini tidak mengalami perubahan. Di dalamnya terdapat paramjyothi 'terang yang berasal dari sumber cahaya atma'. Karena cahaya atma yang memenuhi segala sesuatu ini bersinar dalam dan melalui chidaakasha maka engkau dapat mengalami chittakasha dan bhutakasha. Jika tidak ada chidaakasha, tidak akan ada alam halus dan alam kasar untukmu, tidak ada chittakasha dan tidak ada pula bhutakasha. Karena itu engkau harus melandasi hidupmu dengan chidaakasha dan bersamaan dengan itu engkau harus menggunakan bhutakasha untuk mencapai chittakasha dan menggunakan chittakasha untuk mencapai chidaakasha. Agar jelas, bayangkanlah lautan, gelombang dan air laut tidak berbeda. Buih dan gelombang juga tidak berbeda. Buih, gelombang, dan laut adalah satu. Ketiganya air. Namun tampak seakan-akan buih, gelombang, dan laut berbeda.

Dalam alam kasat matapun engkau harus mencari unsur yang sama yang melandasi semua pengalaman dan menyatukan bhutakasha, chittakasha, dan chidaakasha. Engkau dapat menghubungkan tiga akasha ini dengan tiga tingkat kesadaran. Bayangkan keadaan jaga sebagai bhutakasha, keadaan mimpi sebagai chittakasha, dan keadaan tidur nyenyak sebagai chidaakasha. Di atas ketiga alam ini, menembusinya, dan menjadi unsur yang sama pada ketiga alam itu, ialah alam keempat, alam turiya; ini merupakan kesadaran tertinggi, yaitu alam transendental. Sushupti yaitu 'alam tidur nyenyak' tidak akan memberikan kebahagiaan yang kekal dan sejati. Hanya setelah engkau kembali ke keadaan jaga dari tidur yang nyenyak, engkau merasa telah menikmati kedamaian. Tetapi dalam turiya 'keadaan kesadaran yang tertinggi' engkau akan dapat menikmati ananda yaitu 'kebahagiaan yang kekal dan sejati' dan selalu merasakan kebahagiaan itu.

Shankara menggambarkan tidur itu sebagai keadaan samadhi. Apa arti samadhi? Biasanya orang salah kira bahwa samadhi itu suatu keadaan emosional tertentu yang membuat orang bertingkah laku tidak normal, seakan-akan berada dalam keadaan sangat gembira atau berada dalam trans. Engkau mengira bahwa samadhi itu sesuatu yang berbeda dengan keadaan jaga, mimpi, atau tidur nyenyak. Tetapi sesungguhnya samadhi merupakan suatu hal yang umum pada ketiga alam itu. Arti samadhi terkandung dalam kata itu sendiri. Sama dan dhi, dua suku kata yang membentuk kata samadhi. Sama artinya 'sama' dan dhi 'berpikir'. Maka samadhi berarti berpikir dengan pikiran tetap atau seimbang. Pikiran tetap seimbang ketika mengalami panas dan dingin, laba dan rugi, pujian dan celaan....itulah samadhi. Karena itu seseorang yang tenggelam dalam samadhi, yang pikirannya dalam keadaan seimbang, akan selalu berada dalam keadaan bahagia, baik ia berada dalam alam bhutakasha 'alam jaga', alam chittakasha 'alam mimpi', atau chidaakasha yaitu 'alam tidur nyenyak'. Setiap orang mendambakan keadaan yang bahagia itu; untuk mencapainya diperlukan banyak latihan rohani. Engkau pun harus memperoleh rahmat Tuhan. Untuk mendapat rahmat-Nya engkau harus memiliki sifat keseimbangan dan melaksanakan banyak kebajikan yang menyenangkan Dia.

Setelah menjelaskan sifat-sifat mulia seorang stithaprajna, Krishna berkata kepada Arjuna, "Arjuna, tidak ada artinya sama sekali engkau mendasari perbuatanmu hanya atas pertimbangan yang menyangkut badan jasmani. Ikutilah perintah-Ku! Lakukan tugasmu sambil sepanjang waktu selalu ingat kepada-Ku. Maka engkau akan dapat menghayati dan menikmati ketuhanan yang ada di mana-mana. Ketuhanan ini adalah kemanunggalan yang mendasari kebhinekaan dalam dunia; jadikanlah itu dasar semua perbuatanmu. Hanya bila engkau dengan tidak hentinya terus-menerus memikirkan ketuhanan maka hati-Ku akan tergerak dan akan terpusatkan kepadamu, "Dalam keadaan apapun pikiran dan perasaan seorang stithaprajna tidak akan mengalami perubahan. Ia telah mengembangkan sikap yang tidak terguncangkan karena senantiasa berpusat kepada Tuhan.
Siapa yang akan heran bila api itu panas? Membakar adalah sifat alami api, seperti dingin adalah sifat alami es. Begitu pula setiap orang yang lahir akan mati; hal ini harus dianggap sangat wajar. Siapa saja yang menyadari kebenaran ini tidak akan mengalami kesedihan. Karena itu di mana pun dan dalam keadaan apapun milikilah keseimbangan pikiran. Apa pun yang terjadi, pusatkan selalu pikiranmu kepada Tuhan. Untuk mengembangkan kemampuan mengingat Tuhan di manapun dan setiap saat, engkau harus memahami benar-benar sifat khas yang penting pada bhutakasha, chittakasha, dan chidaakasha. Perhatikanlah hal berikut ini. Malam hari engkau makan dan beberapa saat kemudian bersiap tidur. Tidak lama kemudian engkau tertidur dan bermimpi. Banyak yang terjadi dalam mimpimu, tetapi setelah bangun, mimpi itu tidak meninggalkan bekas. Dalam keadaan jaga engkau melakukan bermacam-macam kegiatan dan mengalami berbagai hal, tetapi kemudian ketika engkau tidur, kegiatan dalam keadaan jaga diganti oleh kejadian-kejadian dalam alam mimpi. Begitu banyak perubahan terjadi dalam waktu 24 jam.

Ada perbedaan-perbedaan yang sangat menyolok pada apa yang engkau alami dalam alam mimpi dan yang kau alami dalam alam jaga. Dalam situasi seperti ini apa yang harus engkau yakini dan apa yang harus tidak diyakini? Mungkin engkau bertanya, "Mana yang benar dan mana yang tidak benar? Apakah aku orang yang mengalami semua kejadian dalam alam jaga ini, atau apakah aku orang yang mengalami semua kejadian lainnya dalam alam mimpi?" Wedanta memberikan jawabannya; aku atau diri yang sejati bukan ini dan bukan itu. Aku bukan orang yang mengalami keadaan jaga, bukan pula orang yang mengalami keadaan mimpi, bukan pula orang yang tertidur dalam keadaan tidur nyenyak. Aku melampaui semua ini. Aku adalah kenyataan adikodrati.

Apa yang engkau kira ada sesungguhnya tidak ada. Apa yang engkau percaya tidak ada sebenarnya ada. Bila engkau mencapai kebijaksanaan engkau akan menyadari bahwa hanya ada satu, yang sesungguhnya ada dan merupakan kebenaran abadi. Itulah Brahman, prinsip adikodrati. Tetapi prinsip Brahman ini tidak mudah dicerna oleh orang biasa. Semua yang engkau baca, engkau dengar, dan engkau alami merupakan sifat-sifat bhutakasha. Bertolak dari sini engkau harus berusaha mencapai tujuan. Dari yang berwujud engkau harus meningkat ke yang tidak berwujud, dari yang berubah-ubah meningkat ke yang tidak berubah. Hal ini juga digambarkan sebagai peningkatan dari savikalpa ke nirvikalpa. Savikalpa masih mempunyai sifat. Apapun juga yang melampaui sifat-sifat ini dan melampaui tiga guna (sattva, rajas dan tamas) adalah nirvikalpa. Nirvikalpa tidak mengalami perubahan, tidak tergoyahkan. Mencapai keadaan yang tidak berubah dan tidak tergoyahkan ini merupakan setiap peminat kerohanian. Orang yang tenggelam dalam keadaan ini disebut stithaprajna. Engkau mungkin bertanya-tanya apakah Arjuna telah mencapai tingkat stithaprajna ini. Ya, Krishna sendiri memberikan tingkat kesadaran ini kepada Arjuna; Ia mengubah Arjuna menjadi stithaprjana dan menjadikannya sarana ketuhanan.

Jika seorang bijaksana tidak melakukan kegiatan, ia tidak bisa memberi contoh kepada orang kebanyakan. Di universitas ada direktur pendidikan jasmani dan guru oleh raga. Guru olah raga menerima perintah dari direktur. Selama latihan sang direktur tinggal diam, tetapi guru olah raga berteriak, "Satu...dua...tiga...!" dan melakukan gerakan-gerakan olah raga. Ia harus memberi contoh; hanya dengan demikian orang lain dapat diharapkan akan menirunya. Seperti guru olah raga, stithaprajna, sambil menerima perintah dari direktur batin, memberi contoh sehingga orang kebanyakan dapat mengikuti. Karena itu Krishna mengubah Arjuna menjadi orang yang ideal. Krishna berkata kepadanya, "Aku akan menjadikan engkau alat-Ku untuk melakukan pekerjaan-Ku."

Apakah makna yang lebih mendalam mengapa Krishna melakukan segalanya itu untuk Arjuna? Nama Arjuna berarti orang yang memiliki hati suci. Arjuna senantiasa hidup dalam Krishna. Sering Krishna menyebut Arjuna sebagai Bharata. Nama ini berarti 'orang yang hidup dalam cahaya Tuhan'. Bha artinya 'bercahaya'. Orang hidup dalam cahaya Tuhan adalah Bharata. Aspek yang lebih mendalam pada hubungan Krishna dan Arjuna dapat diketahui dari nama yang diberikan oleh Krishna kepada Arjuna.

Kewajiban Arjuna ialah mengikuti perintah Krishna dengan seksama. Kata Arjuna, "Swami, saya akan mematuhi perintah Swami, apapun perintah itu. Apapun yang Swami suruh, akan saya lakukan. Saya tidak akan menjalankan kehendak saya sendiri, apa saja yang di luar perintah Swami." Stithaprajna tidak memiliki perasaan aku dan punyaku. Ia tidak mempunyai rasa keakuan atau keterikatan. Menerima dan mematuhi setiap perintah Tuhan serta memusnahkan seluruh rasa keakuan dan kepemilikan adalah sifat mulia seorang stithaprajna. Itulah sebabnya mengapa sifat stithaprajna diuraikan panjang lebar dalam bab kedua Bhagawad Gita.

Tetapi sekedar menguraikan sifat-sifat stithaprajna tidak akan banyak manfaatnya, maka Krishna mulai dengan menjelaskan sifat-sifat akasha dan berbagai aspek alam semesta. Arjuna mempunyai kecerdasan otak untuk memahami makna ajaran ini. Setelah diberi penampakan wujud kosmos Tuhan, ia segera memahami maknanya yang lebih dalam. Ia menyadari bahwa itu berarti kemanunggalan antara bhutakasha, chittakasha, dan chidaakasha. Setelah mendapat penampakan wujud kosmos ini, setiap Arjuna memejamkan matanya, ia selalu melihat Krishna sebagai kesan yang tidak terhapuskan di dalam hatinya. Ia menyadari bahwa apa yang ia lihat dengan mata terbuka ialah alam bhutakasha. Kemudian setelah memejamkan mata, apa yang tercatat dalam pikirannya dan ia lihat secara batiniah, berada dalam chittakasha. Kesan abadi penglihatan suci yang tetap ada dalam hatinya berada dalam chidaakasha. Sama halnya dengan tulisan pada kertas; setelah dicetak tidak mungkin dipisahkan lagi dari kertas. Dengan demikian wujud kosmos Krishna menjadi kesan yang langgeng dalam hati Arjuna.
 

bcak

IndoForum Newbie B
PERCAKAPAN 23

SELALULAH MERASA PUAS MAKA ENGKAU AKAN DIKASIHI TUHAN


Bab kedua kitab Bhagawad Gita yang disebut Sangkhya Yoga membicarakan jalan pengetahuan. Prinsip yang mendasari Sangkhya Yoga adalah: hanya yang lahir akan mati. Apapun yang mengalami kelahiran dan kematian akan melalui enam tahap selama keberadaannya, yaitu: lahir, tumbuh, berkembang, layu, jompo, dan mati. Tetapi, bila tidak pernah lahir maka tahap-tahap yang lainpun tidak pernah ada. Apakah yang tidak pernah lahir? Ia adalah atma! Atma tidak lahir. Atma tidak mati. Atma tidak mengalami perubahan apa pun. Ia permanen, tidak berubah, abadi, dan tidak mempunyai sifat. Itulah sifatmu yang sejati. Hanya badan mengalami kelahiran, hanya badan mengalami keenam tahap kehidupan itu, hanya badan mengalami kematian. Tetapi penghuni badan, yaitu Dehi, tetap tidak terpengaruh oleh perubahan-perubahan badan ini. Penghuni ini adalah atma. Ia disebut nirmaya yaitu 'yang tidak memiliki maya', 'yang bebas dari khayalan'. Setelah engkau mengerti prinsip atma, engkau akan menyadari bahwa ialah satu-satunya yang mempunyai nilai sejati, satu-satunya yang perlu diketahui; yang lain-lain lekas berlalu dan tidak kekal. Engkau harus berusaha sungguh-sungguh agar mendapatkan pengetahuan atma dan dengan demikian engkau akan memperoleh kebahagiaan abadi.

Janganlah membiarkan dirimu terdorong oleh bermacam-macam nafsu. Sebaiknya engkau harus puas dengan apa yang telah diberikan. Dalam bab mengenai Bhakti Yoga, Krishna menyebutkan dua puluh enam sifat mulia seorang abdi Tuhan yang membuat ia disayangi Tuhan. Di antara sifat-sifat ini, sifat merasa puas merupakan ciri khas yang paling penting dan menonjol pada seorang bakta. Ini berarti tidak mengejar kesenangan duniawi. Setelah menikmati segala macam kemewahan dan memuaskan nafsu di dalam hidupmu tanpa memperoleh kedamaian dan kepuasan, sekarang engkau harus merasa puas dengan apa yang engkau miliki, anggaplah apa yang sudah kau miliki itu memenuhi seluruh kebutuhan.

Hati manusia yang tidak pernah puas dapat diumpamakan dengan keranjang bambu yang berlubang-lubang. Jika engkau mau menimba air dari sumur dengan keranjang bambu seperti itu, begitu keranjang terangkat, seluruh air sudah keluar melalui lubang. Setetes air pun tidak akan tersisa untuk menghilangkan dahagamu. Begitu pula bila engkau diliputi oleh nafsu, keinginan, dan keserakahan, engkau akan mendapati bahwa seluruh rasa puasmu sudah hilang sebelum engkau sempat menikmati pemenuhan keinginanmu. Bila rasa puas itu lenyap dari hatimu, hanya kekecewaan yang tinggal.

Satu nafsu selalu menumbuhkan berbagai nafsu lain. Orang yang tidak mempunyai apa-apa sama sekali mungkin akan merasa bahagia dan puas bila ia mendapat Rp. 10.000,-. Tetapi orang itu juga setelah ia mendapat Rp. 10.000,-, berpikir lagi alangkah enaknya kalau mendapat seratus ribu Rupiah. Jika kebetulan ia mendapat seratus ribu rupiah, ia bernafsu untuk memiliki seratus juta Rupiah. Lalu ia ingin menjadi tuan tanah yang besar. Dari tuan tanah ia ingin menjadi anggota DPR, kemudian menjadi menteri, lalu menjadi perdana menteri. Akhirnya ia ingin dianggap sebagai Tuhan. Namun manusia tidak akan pernah mampu mencapai sifat ketuhanan dengan bantuan uang dan kekayaan. Sementara keinginan seseorang melampaui batas, ia akan merasa sangat tidak senang, sangat tidak puas, dan kekayaannya tidak akan memberikan kedamaian batin sama sekali. Engkau harus mempelajari cara untuk memperoleh kepuasan dengan apa yang engkau miliki, kekayaan apapun yang telah diberikan kepadamu, Tugasmu adalah memelihara kekayaan dan milik yang telah kau peroleh dengan rahmat Tuhan dan senantiasa merasa puas.

Engkau semua memuji Tuhan, tetapi jauh lebih penting jika Tuhan yang memuji engkau. Engkau menyatakan bahwa engkau mencintai Tuhan, tetapi engkau harus mengetahui apakah Tuhan telah menyatakan cinta-Nya kepadamu. Engkau percaya bahwa Tuhan milikmu, tetapi apakah Tuhan telah mengatakan bahwa engkau adalah milik-Nya? Misalkan engkau mengirim surat tercatat kepada seseorang; baru setelah engkau menerima bukti penerimaannya engkau merasa bahwa pengiriman surat itu telah dilaksanakan dengan baik. Hanya dengan mengatakan bahwa Tuhan Mahabesar dapat dibandingkan dengan mengirim surat tercatat itu. Tetapi engkau dapat mengalami kepuasan yang mendalam hanya bila engkau mendapat jawaban positif dari Tuhan yang mengatakan, "Ya, tetapi engkaupun hebat!" Bila Ia mengatakan, "Engkau adalah milik-Ku, engkau sangat Kucintai." Maka engkau mendapat kepuasan. Pernyataan Tuhan ini menjadi kekayaanmu yang terbesar. Untuk mendapat hasil seperti ini engkau harus melaksanakan latihan rohani. Jika engkau tidak mendapatkan hasil ini pada akhirnya, seluruh usahamu sia-sia.

Harapan, keinginan, hasil seluruh latihan rohani yang kau lakukan adalah untuk mendapat pernyataan ini dari Tuhan, "Kekasih-Ku, engkau adalah milik-Ku". Arjuna mendapat jaminan itu. Mungkin ia pernah mempunyai sejumlah keinginan, tetapi ia meninggalkan segala keinginan dan nafsunya dan menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Tuhan. Arjuna berkata, "Swami, Engkau adalah segala-galanya bagiku, aku milik-Mu". Itulah yang harus engkau capai, yang menjadi satu-satunya tujuan, satu-satunya sasaran, satu-satunya keinginan. Hidupmu akan mencapai penyempurnaan dan pemenuhan jika engkau mendapat rahmat Tuhan.

Bila engkau pergi ke luar negeri, apakah engkau seorang yang sangat terpelajar, apakah engkau memiliki jabatan yang amat tinggi, apakah engkau sangat kaya, apapun kedudukan dan keadaan hidupmu, tetap engkau harus memiliki paspor untuk perjalanan di luar negeri. Seseorang mungkin berkata, "Saya orang yang sangat terpelajar, saya kaya sekali, saya tuan tanah besar. Saya ingin punya paspor". Tetapi hanya dengan berkata demikian ia tidak akan mendapat paspor. Semua hal ini mungkin merupakan hasil karya dan prestasi pribadi, tetapi jika engkau ingin pergi ke luar negeri, ada prosedur khusus yang harus engkau tempuh. Prosedur ini tidak berbeda bagi orang terpelajar dan bagi orang yang tidak terpelajar, bagi orang kaya dan orang miskin. Untuk hal kecil sekalipun seperti mengadakan perjalanan dengan bus, kereta api, atau pesawat terbang, tidak ada yang akan mempedulikan kedudukan dan prestasimu. Asalkan engkau mempunyai karcis, tidak seorangpun akan bertanya apakah engkau kaya atau terpelajar dan jabatan apa yang engkau miliki. Mereka sudah puas jika mereka tahu bahwa engkau punya karcis dan mereka akan membawamu ke tempat tujuan. Jika engkau tidak mempunyai karcis, engkau akan ditinggalkan apapun jabatanmu.

Begitu pula jika engkau ingin masuk ke dalam kerajaan moksha, engkau harus mempunyai rahmat Tuhan, barulah engkau boleh masuk ke situ. Rahmat itu merupakan paspormu. Tetapi jika engkau hanya mempunyai paspor, masih ada penolakan, masih ada kesulitan. Di samping itu engkau juga harus mempunyai visa; itu memberimu hak untuk memasuki tempat tujuan. Di samping rahmat Tuhan engkau harus pula mempunyai rahmat kesadaran batinmu, yaitu antaratma. Sang pemberi mungkin siap memberikan, tetapi orang yang akan menerima hadiah harus mampu menerimanya. Untuk memasuki alam moksha engkau harus mempunyai kasih Tuhan dan juga harus mempunyai pahala usaha spiritual. Kalau kedua hal ini berjalan seiring barulah engkau dapat mencapai kebebasan.

Bhagawad Gita mengajarkan bahwa jika engkau ingin memasuki kerajaan kebebasan dan mencapai moksha, engkau harus memiliki 26 sifat mulia. Namun jika engkau memiliki satu saja, engkau berhak masuk. Dari semua sifat itu yang paling penting adalah kepuasan batin. Hanya orang yang mempunyai kepuasan batin dapat dianggap agung. Swami sering bertanya, "Siapakah manusia yang teragung di dunia ini?" Jawabnya adalah, "Orang yang senantiasa puas; ialah manusia yang teragung." Karena itu, engkau harus membina rasa puas dan senang dalam hatimu. Janganlah engkau tersesat di dunia karena bernafsu mengejar kebahagiaan sementara, kekayaan sementara, jabatan dan kemewahan sementara. Selama engkau masih hidup engkau bisa menikmati kebahagiaan yang kau peroleh. Selama engkau masih mempunyai keterikatan pada tubuhmu, engkau juga akan terikat pada suatu tempat atau negara. Selama engkau menganggap dunia yang terbuat dari lima unsur ini sebagai kenyataan, engkau harus mengurus badanmu yang juga terdiri dari lima unsur ini. Tetapi sesungguhnya jangan menghabiskan waktumu untuk menggeluti hal-hal ini. Engkau harus selalu ingat tujuan. Ada sebuah contoh yang sederhana.

Ada seseorang yang amat kaya; ia telah menjelajahi seluruh dunia. Ia ingin membangun sebuah rumah yang tidak ada bandingannya di manapun juga, rumah yang begitu megah yang tidak pernah dibayangkan orang. Rumah itu harus sangat besar dan mewah, tidak pernah terpikirkan, tidak pernah terlihat, bahkan tidak pernah termimpikan orang. Ia bertekad akan membangun rumah yang permanen dan unik ini meskipun menelan biaya milyaran rupiah. Sejumlah insinyur dan arsitek dikerahkan dari berbagai negara untuk pembangunan itu. Akhirnya berdirilah sebuah rumah yang sangat indah dan ia kini memiliki rumah yang memuaskan hati orang dipandang dari segala segi dan nilai budaya. Berjuta-juta orang datang menyaksikan rumah itu. Orang kaya ini menyiapkan segala sesuatunya untuk meresmikan pembukaan rumahnya yang unik itu secara besar-besaran. Sebelum peresmiannya ia mengundang sejumlah insinyur serta ahli bangunan dan bertanya kepada mereka, "Apakah ada kekurangan di sana sini, atau kekeliruan sekecil apapun pada bangunan ini?" Mereka itu tidak menemukan kekurangan apa-apa. Tampaknya bangunan itu benar-benar sempurna.

Ia mengundang orang-orang dari berbagai kalangan, termasuk banyak orang kaya dan para pejabat tinggi. Ia juga mengundang para resi yang agung agar mendapat restu mereka. Di antara pada undangan ada beberapa stithaprajna, orang-orang yang sungguh bijaksana. Penampungan para tamu telah dipersiapkan dengan baik. Setelah mereka berkumpul, ia mohon dengan segala kerendahan hati kepada mereka, "Mohon diberitahukan barangkali ada cacat atau suatu kekurangan dalam rumah ini?" Para insinyur yang ada di sana menyatakan, "Siapa yang dapat menunjukkan cacat sekecil apapun dalam rumah ini?" Rumah ini betul-betul tanpa cacat, begitu megah, sangat unik, dan benar-benar mutakhir."

Pada saat itu seorang yogi yang berdiri di pojok, tampil dan berkata kepada orang kaya yang menjadi tuan rumahnya. Kata yogi itu, "Bapak yang terhormat, kami melihat dua kekurangan besar dalam rumah ini." Semua orang yang ada di tempat itu sangat heran dan ingin sekali mengetahui apa kiranya cacat itu. Orang kaya itu menangkupkan tangannya dan mohon kepada sang mahatma, "Swami, mohon saya diberitahukan cacat apa yang Swami temukan? Semua yang hadir di sini menunggu jawaban Swami." Sang yogi berkata, "Oh orang kaya, engkau tidak mampu memperbaiki kekurangan ini. Salah satu cacatnya ialah, lama kelamaan seluruh bangunan ini akan runtuh dan rusak sama sekali. Inilah cacat yang tidak bisa dibetulkan. Cacat yang kedua adalah orang yang membangun rumah ini juga akan musnah. Ini pun tidak bisa diubah walaupun bisa ditunda sebentar. Karena tidak menyadari hal ini engkau mengira bahwa engkau telah mencapai sesuatu yang hebat, dan bahwa hasil karyamu sempurna, tetapi pada akhirnya kerusakan tadi pasti akan terjadi.

Begitulah keadaan orang yang lupa kalau suatu ketika ia akan mati dan mengira bahwa ia tidak akan berubah. Hanya bila engkau selalu mengingat eksistensi yang kekal, hanya jika engkau memusatkan pikiranmu kepada atma, engkau akan merasakan kepuasan dan selalu senang serta bahagia. Bila engkau memiliki sifat itu, engkau memiliki rumah yang tidak akan pernah runtuh karena berarti engkau memiliki rumah atma. Rumah (atma) ini tidak bisa dibandingkan dengan apapun juga. Berbeda dengan rumah-rumah yang engkau lihat di dunia, rumah atma itu sempurna, kekal, dan tidak bercacat. Karena itu engkau harus menyadari kebenaran bahwa dalam dunia yang fana ini segala sesuatu tidak kekal. Teruslah melakukan latihan rohani agar engkau dapat mencapai penghayatan batin itu.

Dengan dasar ini Krishna berkata kepada Arjuna, "Arjuna, engkau mengira bahwa engkau akan membunuh orang, pikiranmu itu keliru. Engkau adalah eksistensi yang kekal. Orang yang kau kira akan engkau bunuh adalah eksistensi yang kekal juga. Engkau adalah perwujudan atma. Atma tidak lahir, atma tidak mati." Hanya bila engkau mengerti dan melaksanakan kebenaran ini engkau mengikuti ajaran Sangkhya Yoga. Kata Krishna, "Engkau bukanlah orang yang akan mati dan engkau bukanlah orang yang akan membunuh. Begitu juga orang-orang lain yang engkau kenal, tidak mati, juga tidak membunuh. Inilah yang harus kau pahami dengan jelas. Arjuna, ketahuilah arti yang lebih mendalam tentang prinsip ini dan lakukan tugasmu. Selama engkau masih hidup, lakukan semua kewajibanmu dengan baik."

Kemudian Arjuna berkata, "Krishna, saya sama sekali tidak mempunyai keinginan apa-apa, juga saya tidak menginginkan surga." Tetapi Krishna bertanya kepada Arjuna, "Apakah engkau mengatakan ini karena engkau sudah memahami kebenaran utama di balik eksistensi badaniah, ataukah karena engkau takut dan perasaan lemah menghinggapi dirimu? Kata-kata yang engkau ucapkan karena keterikatan pada sanak keluarga, merasa bahwa engkaulah yang akan membunuh mereka, tidak bisa dihubungkan dengan atma. Jika engkau benar-benar mengerti prinsip atma, menyadari sifat kekekalannya, mengetahui bahwa tidak akan ada cacat atau kekurangan apapun padanya, maka pikiranmu tidak akan terganggu dan keragu-raguan tidak akan menyelubungi pengertianmu."

Semua ini telah diajarkan dalam bab kedua Bhagawad Gita dan perlu dimengerti maknanya yang lebih mendalam. Ajaran bahwa seseorang tidak membunuh dan ia tidak akan terbunuh mudah diterima oleh orang yang membaca Bhagawad Gita dalam arti yang dangkal, tetapi mereka tidak berusaha memahami artinya yang lebih dalam yaitu dalam hubungannya dengan atma. Jika engkau bertanya bagaimana engkau akan mengamalkan ajaran ini dan melihat bagaimana orang lain menerapkannya, engkau akan melihat bahwa mereka sama sekali tidak mengamalkannya, walaupun mereka mengulang-ulang pernyataan ini dengan bebas, bahkan menceramahi orang lain tentang ajaran itu. Ada sebuah contoh sederhana.

Ada seorang pemburu; orang yang sangat jahat yang telah membunuh banyak binatang. Lama kelamaan ia juga membunuh manusia. Ia mulai membunuh orang yang dijumpainya sehingga ia bisa mengambil barang korban. Ketika ia tertangkap dan diadili, hakim menjatuhkan hukuman mati di tiang gantungan sebagai ganjaran atas segala kejahatan yang telah dilakukannya. Diumumkan bahwa keputusan akan dibacakan dalam sidang pengadilan hari berikutnya. Ketika ia dibawa ke pengadilan untuk divonis, penjahat ini membaca kitab Bhagawad Gita yang ia taruh di kantongnya. Hakim menyatakan bahwa pukul 7.00 keesokan harinya ia akan digantung. Saat itu dengan lancang si penjahat berbicara, katanya, "Bapak Hakim, mengapa saya dijatuhi hukuman yang begitu dahsyat?" Hakim menjawab, "Karena engkau telah membunuh banyak orang yang tidak bersalah maka hukuman ini dijatuhkan."

Saat itu orang tersebut mengeluarkan Bhagawad Gita dari kantongnya. Ia memperlihatkan Bhagawad Gita itu kepada hakim seraya berkata, "Menurut kitab suci ini, Bapak Hakim, saya bukan pembunuh orang-orang itu, juga mereka tidak terbunuh!" Dan dengan kurang ajar ia menambahkan, "Mengapa Bapak hakim membantah kata-kata yang diwahyukan oleh Tuhan sendiri?" Hakim sama pintarnya dengan orang ini; tanpa ragu-ragu Hakim berkata, "Ya, benar sekali bahwa engkau tidak membunuh, juga mereka tidak terbunuh. Begitu pula mengenai keputusanku, aku tidak membunuh engkau, juga engkau tidak terbunuh. Namun demikian engkau harus siap menjalani hukuman pukul 7 besok pagi."

Engkau tidak bisa menggunakan Bhagawad Gita untuk mengubah keadaan guna mengenakkan dirimu. Engkau harus melaksanakan kebenaran yang terkandung dalam pernyataan Bhagawad Gita setelah menyadari maknanya yang lebih mendalam. Gita tidak hanya diajarkan kepada Arjuna. Dharma yang suci ini diajarkan kepada semua manusia yang lahir di dunia. Gita diajarkan kepada seluruh dunia dengan Arjuna sebagai alat. Arjuna bertindak sebagai wakil umat manusia. Semua ajaran agung ini, yang telah diajarkan kepada wakil umat manusia, berlaku untuk umat manusia itu sendiri. Untuk mengikuti ajaran ini engkau harus berangsur-angsur mengurangi nafsu serta keinginanmu dan berusaha memahami prinsip atma; hal itu akan memberimu kepuasan yang abadi. Engkau harus memeriksa hidupmu untuk mengetahui apakah engkau telah melaksanakan ajaran ini dalam kehidupanmu sehari-hari. Hanya dengan menghafal 700 bait Bhagawad Gita engkau tidak bisa menghayati kebenaran agung yang terkandung di dalamnya. Kebenaran yang lebih dalam ini akan terungkap dalam kehidupanmu sehari-hari. Kebenaran itu ada dalam situasi hidup sehari-hari sehingga engkau akan dapat mengalaminya secara langsung. Engkau harus mengerti benar nilai-nilai yang harus kau amalkan dalam melaksanakan tugas-tugasmu; engkau harus mengenal bagaimana masing-masing dari ke-26 sifat itu dapat menolong engkau mencapai tujuan, kemudian engkau harus menerapkannya dalam kehidupanmu sehari-hari.

Pokok terpenting dalam pelajaran hari ini yaitu engkau harus mengendalikan keinginan dan keserakahanmu dan dengan demikian mencapai kepuasan, serta engkau harus berusaha sekuat tenaga memperoleh kasih Tuhan. Tidak banyak manfaatnya jika engkau hanya mencintai Tuhan. Engkau harus tahu bagaimana mendapatkan cinta serta rahmat-Nya, dan membuat kasih-Nya terarah kepadamu. Tidak ada gunanya berteriak menyatakan bahwa Tuhan milikmu; engkau harus mendambakan pernyataan Tuhan bahwa engkau milik-Nya. Itulah hal yang piling penting yang harus engkau capai.
Mulai saat ini binalah sifat-sifat luhur yang akan mengundang pernyataan semacam itu dari Tuhan; dengan demikian hidupmu akan tersucikan.

Arjuna adalah manusia ideal, namun ia melakukan segala kegiatan seperti orang kebanyakan untuk menjadi teladan bagi seluruh umat manusia. Di dalam batin ia selalu memusatkan pikirannya kepada Krishna. Arjuna tahu bahwa badan kasarnya hanyalah untuk mematuhi perintah Krishna. Krishna menunjukkan hal ini sebagai sifat ideal seorang stithaprajna.
 

bcak

IndoForum Newbie B
PERCAKAPAN 24

KESABARAN DAN KETABAHAN ADALAH LATIHAN ROHANI


Dari semua sifat mulia yang harus dikembangkan oleh seorang abdi Tuhan, yang paling penting adalah kshama atau 'kesabaran dan ketabahan', yaitu sifat pemaaf penuh kedamaian, tetap tenang dalam situasi apa pun dan senantiasa berbuat baik kepada orang lain tanpa mengindahkan imbalannya.
Kshama atau 'kesabaran dan ketabahan' adalah inti semua latihan rohani. Sifat ini harus dimiliki oleh setiap orang dalam hidupnya. Dapat dikatakan bahwa kesabaran dan ketabahan adalah kemuliaannya orang yang mulia, penebusan dosa bagi orang yang bertobat, dan kebenarannya orang yang jujur. Sesungguhnya kshama adalah kebenaran. Kshama adalah pengorbanan. Kshama adalah dharma. Kshama adalah Weda. Kshama adalah cinta kasih. Kshama adalah tanpa kekerasan. Kshama adalah belas kasihan. Kshama adalah kebahagiaan. Kshama adalah segala-galanya. Tanpa Kshama tidak mungkin engkau menyadari kebenaran atma, yaitu kehadiran Tuhan yang kekal abadi, yang selalu bersinar dalam hatimu.

Jika engkau mengira bahwa badan ini nyata dan Tuhan tidak nyata, engkau tidak akan pernah dapat memahami prinsip atma. Selama engkau menyamakan dirimu dengan badan dan bukannya dengan atma, engkau tidak akan menghayati ketuhanan dalam dirimu. Berbagai cara telah digunakan untuk menjelaskan atma, tetapi ia hanya dapat benar-benar dipahami melalui pengalaman langsung. Manisnya gula dapat dijelaskan panjang lebar, tetapi bagaimana seseorang yang belum pernah merasakan gula dapat mengerti manisnya. Engkau tidak akan dapat sedikit pun memahami atma yang tidak berwujud jika engkau tidak melakukan latihan rohani dan berusaha mengerti sifat-sifat Tuhan. Bagaimanakah caranya mencapai keabadian? Asusila harus dibuang jauh-jauh; itulah satu-satunya jalan menuju keabadian. Hanya bila engkau menghilangkan kelemahan yang ada pada dirimu seperti kecemburuan, kebencian, kemarahan, kecongkakan, dan lain sebagainya maka engkau akan dapat memahami ketuhanan. Hanya dengan memahami suatu atau dua dari kedua puluh enam kebajikan yang disebutkan dalam Gita, meresapkan makanannya, menerapkannya, dan menjadikannya bagian dari hidupmu, engkau akan dapat mengerti keabadian atma. Dari semua sifat ini, terutama kesabaran dan ketabahan sangatlah penting.

Kesabaran dan ketabahan tidak dapat dipelajari dari buku. Juga tidak bisa diperoleh dari ajaran-ajaran guru. Itu bukan barang yang dapat dibeli di toko. Hanya bila engkau tetap setia melaksanakan latihan rohanimu walau berada dalam keadaan yang sulit dan berat maka engkau akan memperoleh kesabaran dan ketabahan. Jika engkau berada dalam cobaan, dalam keadaan yang penuh permasalahan dan kesulitan, maka engkau dapat mengembangkan kesabaran dan ketabahan. Manusia mempunyai banyak kelemahan yang tersembunyi. Dalam keadaan sulit, kelemahan yang tersembunyi ini akan muncul sebagai kemarahan, ketakutan, keangkuhan, dan kebencian. Pada saat-saat itulah engkau harus belajar bersabar dan tabah.

Jika engkau belum mengembangkan kesabaran dan ketabahan, engkau akan merasa amat tidak bahagia dan tidak merasakan kedamaian dalam hidupmu. Tanpa kesabaran dan ketabahan mungkin engkau akan menempuh jalan yang salah dan jahat. Karena itu penting sekali engkau menyadari gunanya kesabaran dan ketabahan. Segala pendidikan, kekuasaan, dan kemasyhuran yang engkau peroleh tidak akan ada gunanya bagimu bila engkau tidak memiliki kesabaran dan ketabahan. Banyak orang yang berhasil mencapai hal-hal yang hebat dan memperoleh berbagai kesaktian karena terikat, tetapi mereka tidak dapat menikmati hasil tirakatnya karena tidak memiliki kesabaran dan ketabahan. Banyak raja kehilangan kerajaan mereka karena kurang kesabaran dan ketabahan. Kurang kesabaran dan ketabahan menyebabkan banyak ilmuwan besar kehilangan martabatnya. Kesabaran dan ketabahan dapat diibaratkan sebagai permata yang indah berkilauan yang menghias dirimu. Jika sifat yang demikian penting seperti kesabaran dan ketabahan hilang, engkau akan mendapati dirimu menderita berbagai masalah dan kesedihan. Karena itu, salah satu sifat paling penting yang harus kau miliki ialah kesabaran dan ketabahan; sifat ini mutlak perlu bagi seorang abdi Tuhan. Bila sifat ini tidak bersinar pada umat manusia secara umum maka seluruh umat manusia akan memenuhi kehancuran.

Engkau harus meningkatkan sifat kesabaran dan ketabahan yang sangat penting ini dengan berlatih sedapat-dapatnya, menguji dirimu sendiri dalam berbagai keadaan yang sulit. Kesabaran dan ketabahan dapat dianggap sebagai pelindungmu yang sangat penting. Bila engkau melengkapi diri dengan kesabaran dan ketabahan, engkau tidak akan mengalami kesedihan atau penderitaan, kesulitan atau kemalangan. Membalas kebaikan dengan kebaikan bukan hal yang luar biasa, tetapi kejahatan dibalas dengan kebaikan...itu suatu nilai yang luar biasa, dan melakukan seperti itu memerlukan banyak keterampilan. Bagaimana pun gencar kecaman orang kepadamu, betapa pun besar kutukan dan kritik mereka terhadapmu, engkau tidak boleh kehilangan kesabaran dan ketabahan hati; engkau harus tetap tenang dan terus menikmati kedamaian batin. Bila orang memperingatkan engkau, engkau tidak kehilangan apa-apa karenanya. Tetapi jika kebetulan karena kelemahanmu engkau kehilangan ketabahan dan kesabaran, maka engkau kehilangan segala-galanya. Jadi engkau harus belajar menerapkan kesabaran serta ketabahan dan berlatih dengan baik dalam berbagai keadaan.

Dalam alam ini ada tidak benda penting yang sangat berguna bagi manusia yaitu: pohon, sungai, dan sapi. Tanpa pohon, sungai, dan sapi umat manusia tidak akan berfungsi dengan baik. Bagaimana pun kekejaman yang dilakukan manusia terhadap pohon, bagaimana pun perusakan dilakukan terhadapnya dengan memotong cabang-cabangnya untuk kayu bakar, pohon-pohon tetap melindungi manusia dari hujan dan terik matahari, menaungi siapa saja yang berteduh di bawahnya, dan berusaha terus memberikan kebahagiaan. Pohon tiada hentinya berbuat baik kepada manusia dengan memberikan buah, kembang, dan kayu bakar, walaupun sebagai balasannya manusia merusak pohon itu. Begitu pula dengan sungai, bagaimana pun pencemaran dilakukan oleh manusia, bagaimana pun cara orang memanfaatkan sungai tanpa rasa terima kasih kepadanya, sungai tetap mengabdikan dirinya kepada umat manusia, dan sambil mengabdi tetap mengalirkan airnya ke laut yang merupakan tujuan dan rumahnya. Air memberi kehidupan kepada umat manusia. Apakah engkau menggunakannya untuk kebaikan atau untuk kejahatan, ia tidak peduli. Ia tetap mengabdi.

Selanjutnya, sapi tidak memberikan susunya kepada anaknya sendiri, tetapi memberikan susunya kepada umat manusia. Sapi memberikan secara berlimpah susu yang begitu tinggi gizinya bagi umat manusia. Apa pun kesulitan dan kesusahan yang mungkin engkau timpakan terhadapnya, ia tetap memberikan susunya yang lezat itu. Jadi sapi pun selalu hanya berbuat kebaikan kepada manusia, sedangkan manusia mungkin memberikan berbagai kesusahan kepada mereka. Ketiganya ini: pohon, sungai, dan sapi, merupakan contoh yang baik untuk sifat sabar dan tabah. Namun demikian engkau tidak boleh terus-menerus menunjukkan kesabaran dan ketabahan dalam segala keadaan secara mutlak. Pada waktu melatih diri dalam kesabaran dan ketabahan, engkau harus menimbang dengan seksama segala keadaan dan menilai baik buruknya.

Dalam sejarah India terkenal sekali bahwa Muhammad Ghori banyak menyusahkan Prithwiraj. Muhammad Ghori menyerbu negeri Prithwiraj sebanyak 17 kali. Ia tidak hanya menyerang negeri itu 17 kali, tetapi juga mengakibatkan kerusakan yang berat dan meluas setiap kali menyerang. Ia menjarah banyak harta benda. Ia menyebabkan seluruh negeri menderita kesulitan dan kerugian yang besar. Meskipun demikian, ketika Prithwiraj berhasil menangkap Mohammad Ghori, ia memaafkan musuhnya dan mengizinkannya pulang ke negerinya. Karena kebesaran hatinya, Prithwiraj memaafkan Muhammad Ghori dan memulangkannya tanpa mengenakan hukuman apa pun.

Dalam Mahabharata diceritakan bahwa ketika Arjuna menghadapkan Ashwattama kepada Draupadi setelah Ashwattama membunuh semua anaknya, Draupadi mengajar Arjuna pemberian maaf kepada seorang penjahat dalam keadaan tertentu. Draupadi mengatakan kepada Arjuna bahwa tidak dibenarkan membunuh orang yang ketakutan, seorang yang mengaku salah dan bertobat, seorang yang kehilangan kesadaran, seorang yang sedang mabuk, seorang yang patah hati, seorang yang minta pengampunan, dan wanita pada umumnya, walaupun sebenarnya mereka patut mendapat hukuman semacam itu.

Begitu pula ketika Mohammad Ghori menyerah dan minta pengampunan serta perlindungan, Prithwiraj mengampuninya dan memulangkan ia kembali ke negerinya. Tetapi Mohammad Ghori tidak menunjukkan rasa terima kasih sama sekali. Ia sama sekali tidak menyesali perbuatannya, tetapi bersikap jahat dan terus membenci Prithwiraj. Begitu ia dibebaskan dan dipulangkan ke negerinnya, kembali ia menyerang, dan kali ini dengan tipu muslihat ia berhasil menangkap Prithwiraj. Tanpa rasa belas kasihan ia mencongkel kedua mata Prithwiraj. Orang yang tidak punya rasa terima kasih seperti itu, yang menaruh dendam seperti ular, tidak perlu engkau hadapi dengan kesabaran. Dalam bahasa Telugu ada peribahasa yang mengatakan, jangan memberi air kepada semak berduri atau memberi susu kepada ular. Kesabaran bukan untuk orang yang tidak tahu berterima kasih. Hal ini menyangkut keduniawian, tetapi harus kau mengerti benar-benar bahwa dalam bidang spiritual, kesabaran dan ketabahan adalah sifat yang sangat penting untuk mencapai ketuhanan dan harus kau laksanakan dengan tekun.

Dalam diri Yesus engkau juga dapat melihat sifat kesabaran dan ketabahan yang sangat tinggi. Yesus mempunyai 12 murid yang selalu menyertai Beliau. Yesus melimpahi mereka dengan kasih sayang dan belas kasihan, melindungi dan memberi mereka tempat bernaung. Tetapi salah seorang dari mereka, yaitu Yudas, tidak punya rasa terima kasih dan tergoda oleh uang, mengkhianati gurunya. Meskipun Yudas tidak setia, Yesus mengampuninya dan tetap mencintainya. Tidak perlu engkau berdoa kepada Tuhan dan memohon agar orang semacam itu dihukum. Seperti halnya Yudas, perbuatannya sendiri akan menghancurkannya. Perbuatan jahat apa pun yang dilakukan seseorang, buah perbuatan itu harus dipikulnya sendiri. Tidak seorang pun dapat lepas dari akibat perbuatannya. Mungkin engkau tidak dapat meramalkan kapan dan dalam keadaan apa ia akan menderita akibatnya, tetapi penderitaan itu sudah pasti.

Dalam cerita Ramayana dan Mahabharata ada kejadian-kejadian yang menggambarkan bahwa pada akhirnya orang akan menderita bila mereka tidak melaksanakan kesabaran dan ketabahan. Ingatlah Pandawa sangat menderita karena harus mengasingkan diri ke hutan dan hidup dari umbi-umbian serta dedaunan akibat tindakan Dharmaraja yang tergesa-gesa menerima ajakan main dadu. Dharmaraja mengabaikan petunjuk Krishna dan nasehat saudara-saudaranya; tanpa pikir ia terjun dalam permainan judi dan harus menderita akibatnya. Sebagai akibat kurang kesabaran dan ketabahan, ia dan saudara-saudaranya kemudian menemui kesulitan besar. Karena tindakannya yang terburu-buru itulah maka segala akibat ini terjadi. Bahkan engkau temukan seseorang yang mulia seperti Rama tidak cukup sabar dan tabah. Rama menangis seperti orang kebanyakan ketika Sita diculik oleh Rawana. Pada akhir cerita Ramayana, ada kejadian ketika Rama setelah mendengar celaan dan komentar seorang tukang cuci, mau membuang Sita dari kerajaannya. Setelah itu Beliau menderita karena berpisah. Sudah tentu dalam hal penjelmaan Tuhan, ada makna-makna yang lebih mendalam dan penting dalam segala tindakan mereka. Namun bila engkau mencoba memahami tindakan Rama dalam arti duniawi, engkau bisa mengerti bahwa karena kehilangan kesabaran dan ketabahan, Rama membuang Sita dan akhirnya menderita.

Tetapi bila orang yang melakukan kebaikan dan hidup hanya untuk kesejahteraan orang lain mengalami berbagai macam kesulitan, orang tersebut akan menderita secara terhormat dan bertindak sebagai teladan, mengajarkan nilai kesabaran dan ketabahan sementara berada dalam kesusahan. Nilai ini harus digunakan dengan pertimbangan, tergantung pada situasi dan kondisi. Sedikit banyak engkau semua memiliki kesabaran, tetapi bila permasalahan melampaui batas tertentu, engkau kehilangan kesabaran. Ada keadaan yang menghendaki tindakan cepat. Engkau harus selalu berpikir lebih dulu dan menyadari akibat perbuatanmu. Dalam keadaan tertentu sikap sabar dapat menyebabkan kesulitan di kemudian hari. Dalam banyak hal, tindakan terburu-buru akan menyebabkan kesulitan. Kata orang, penundaan yang tidak semestinya mengubah madu menjadi racun.

Sifat lamban dan tergesa-gesa kedua-duanya ekstrim. Di satu pihak jika engkau tergesa-gesa tindakanmu bisa beracun, tetapi jika engkau menunda terlalu lama juga bisa beracun. Jadi engkau harus menggunakan kemampuan pertimbanganmu dan bersikap sabar sampai batas-batas yang sesuai dengan keadaan. Jika harus segera memberikan pertolongan pertama, atau jika engkau menunggui seorang yang sakit keras dan kemungkinan akan meninggal beberapa menit lagi jika belum diberi obat, maka engkau harus segera bertindak. Dalam keadaan seperti itu tindakan tidak boleh ditunda-tunda; penundaan merupakan racun, dan engkau harus bertindak cepat memberikan bantuan yang tepat. Juga ada kalanya engkau menghadapi orang jahat atau orang yang menempuh jalan sesat. Untuk yang demikian itu mungkin perlu kehilangan kesabaran; mungkin perlu memperbaiki mereka atau menangani masalah itu sehingga bersikap seolah-olah kehilangan kesabaran dapat merupakan tindakan yang tepat.

Dalam keadaan seperti itu sekedar mengubah nada suara (bernada marah) barangkali sudah cukup. Ini bukan berarti engkau kehilangan kesabaran benar-benar; engkau dapat tetap tenang sementara menaikan nada suaramu, tetapi dalam hatimu engkau tidak kehilangan kesabaran. Seperti telah dinyatakan sebelumnya, bagi orang yang menempuh jalan kebenaran itu sendiri adalah kesabaran dan ketabahan. Karena itu, engkau harus selalu berpegang pada jalan yang benar, tetapi kadang-kadang mungkin engkau perlu mengubah nada dan volume suaramu dalam menghadapi situasi yang sulit.

Dalam Mahabharata ada cerita yang terkenal mengenai Ashwattama. Ia telah bersumpah pada malam terakhir perang Mahabharata bahwa ia akan menghancurkan seluruh Pandawa sebelum matahari terbit keesokan harinya. Tentu Krishna mengetahui tekad maut Ashwattama lalu mengambil langkah-langkah untuk melindungi Pandawa. Sudah hampir tengah malam, tetapi Ashwattama tidak berhasil menemukan Pandawa. Krishna tahu bahwa Ashwattama akan mendatangi Resi Durwasa yang sangat bijak waskita untuk menanyakan di mana Pandawa berada. Nah, resi agung seperti Durwasa tidak akan berbohong. Ia sangat terkenal suka marah, tetapi kemarahannya itu hanya untuk melindungi dharma dan memadamkan api kejahatan serta kebatilan; dalam keadaan marah pun ia tetap berpegang pada kebenaran, tetapi kadang kala ia mengubah nada suaranya dalam menyatakan kebenaran itu.

Pada malam itu juga Krishna menemui Durwasa. Durwasa sangat senang menerima Krishna. Durwasa mengatakan kepada Krishna betapa ia merasa sangat bahagia karena memperoleh kehormatan dengan mendapat kunjungan Beliau, dan berkata kepada Krishna, "Swami." Krishna menjawab, "Durwasa, Aku perlu pertolonganmu." Dalam hati sanubarinya Durwasa sangat gembira karena Krishna yang melindungi dan menguasai seluruh dunia datang minta tolong kepadanya. Namun untuk ini pun ada batas-batasnya. Durwasa yang sangat pandai dan mengetahui segala-galanya berkata kepada Krishna, "Swami, saya bersedia memberikan pertolongan apa saja yang Swami perlukan, tetapi saya tidak bersedia berbohong." Krishna berkata kepada Durwasa, "Aku penghuni hati semua makhluk; Aku lahir berkali-kali untuk melindungi dharma. Bagaimana mungkin aku menyuruh engkau berdusta? Dharma berarti tingkah laku yang bajik, berdasarkan kebenaran. Jelas aku tidak akan menyuruh engkau berbohong." Durwasa menjawab, "Kalau begitu saya bersedia melaksanakan apa saja yang Swami katakan. Bagaimana rencana Swami? Saya akan menjalankannya."

Krishna minta agar digali sebuah lubang yang dalam, cukup untuk menampung lima orang. Krishna lalu menyuruh Pandawa masuk ke lubang itu. Lubang itu ditutup dengan papan hingga tertutup sama sekali. Sebuah karpet dibentangkan di atas papan, kemudian kursi Durwasa diletakkan di atas karpet. Krishna minta agar Durwasa duduk di atas kursi. Ia memberikan Durwasa, "Ashwattama akan datang dan menanyakan di mana Pandawa. Katakanlah yang sebenarnya; tetapi dalam mengatakan itu, engkau dapat mengubah suaramu sedikit." Seperti telah diramalkan oleh Krishna, Ashwattama datang; sambil memberi salam hormat kepada Resi Durwasa, ia bertanya, "Swami, Swami mengetahui segala-galanya dalam tiga alam ini. Beritahulah saya di mana saya bisa menemukan Pandawa?" Durwasa bertindak seperti yang telah diperintahkan oleh Krishna. Ia mengatakan yang sebenarnya. Ia berkata kepada Ashwattama, "Pandawa? Pandawa? Ya, mereka ada di sini! Tentu mereka ada di sini! Mereka ada di sini di bawah kakiku!"

Ketika Durwasa yang berlagak amat marah memberitahu Ashwattama bahwa Pandawa tepat ada di bawah kakinya, Ashwattama merasa sangat ketakutan. Kemarahan Durwasa sangat terkenal dan sangat ditakuti. Ashwattama berpikir bahwa bukannya ia yang bisa membunuh Pandawa pada malam itu, malahan ia sendiri mungkin akan dibunuh oleh Durwasa, maka cepat-cepat ia berlari. Dalam mempertahankan kepribadian dan bobotnya sebagai maharesi, dan dengan mengikuti perintah Tuhan untuk melindungi orang-orang yang baik, Durwasa mengucapkan kebenaran, tetapi ia memang mengubah sedikit kesannya dengan nada marah.

Engkau harus memiliki kesabaran dan ketabahan, tetapi sekaligus harus tahu dalam keadaan apa dan dengan cara bagaimana menggunakannya. Engkau harus menggunakan kesabaran dan ketabahan dalam latihan rohani dan untuk mengendalikan perkataan bila engkau terbawa perasaan ingin menggunakannya tanpa pikir terhadap orang lain. Engkau harus menggunakan ketabahan untuk mengendalikan sifat-sifat yang buruk pada dirimu yang dapat menghambat tercapainya tujuan spiritualmu. Engkau harus menganggap kemampuan menggunakan kesabaran dan ketabahan dalam latihan rohani dan untuk mengendalikan perkataan bila engkau terbawa perasaan ingin menggunakannya tanpa pikir terhadap orang lain. Engkau harus menggunakan ketabahan untuk mengendalikan sifat-sifat yang buruk pada dirimu yang dapat menghambat tercapainya tujuan spiritualmu. Engkau harus menganggap kemampuan menggunakan kesabaran dan ketabahan dalam berbagai keadaan tertentu sebagai ujian. Bagi abdi Tuhan, kesabaran dan ketabahan sangat penting. Hanya setelah engkau mencapai kesabaran dan ketabahan engkau akan mampu memahami prinsip spiritualitas dan ketuhanan yang sejati.

Untuk melaksanakan kesabaran dan ketabahan masih ada hal-hal lain yang harus dibuang jauh-jauh. Tidak boleh ada keterikatan, kebencian, atau kedengkian pada dirimu. Jika engkau memiliki sifat-sifat itu walau pun dalam ukuran kecil, engkau tidak akan dapat mengembangkan kesabaran dan ketabahan. Karena kesabaran dan ketabahan merupakan kebajikan yang penting bagi setiap abdi Tuhan, setelah ini kita akan membicarakan musuh-musuh kesabaran dan ketabahan, yaitu amarah, kebencian, serta kedengkian, dan belajar bagaimana caranya membasmi mereka secara tuntas.
note: tidak jemu saya ingatkan agar dibaca dengan bijak..... :)
 

bcak

IndoForum Newbie B
PERCAKAPAN 25

KEDENGKIAN DAN KEBENCIAN, HAMA KEMBAR YANG MENGHANCURKAN KEDAMAIANMU


Eksistensi yang kekal dan yang tidak berubah-ubah yang memenuhi segala makhluk, segala benda, dan seluruh ruang, disebut penghuni. Badan tidak kekal, ia datang dan pergi, tetapi penghuninya tetap sama selama-lamanya. Nama lain untuk penghuni ialah atma, diri yang kekal atau roh, yang melandasi segala sesuatu. Dunia dapat dianggap sebagai badan Tuhan, Tuhan sendirilah penghuninya. Tuhan dan diri sejati itu satu dan sama. Prinsip atma yang esa, kekal, tidak berubah, dan abadi ini adalah penghuni segala tubuh. Karena itu ia disebut Dehi dalam bahasa Sanskerta, atau yang menghuni deha, yaitu 'tubuh'.

Kitab-kitab suci memberikan petunjuk untuk mencari dan menyadari Dehi 'penghuni', tetapi ajaran kitab suci itu saja tidak cukup untuk mengetahuinya. Engkau tidak bisa mencapai Dehi hanya dengan mempelajari kitab-kitab suci. Dengan menggunakan pernyataan kitab-kitab suci sebagai dasar, engkau harus berusaha dengan tekun untuk mengembangkan penglihatan batin. Berbagai kitab suci seperti Upanishad, Weda, dan Purana hanya menunjukkan jalan. Semua itu ibarat papan petunjuk jalan yang menunjukkan arah. Untuk mencapai tujuan engkau harus jalan sendiri. Dengan mengikuti arah itu engkau harus mengadakan perjalanan untuk mencapai tempat tujuan. Untuk ini Bhagawad Gita telah menyediakan jalannya.

Dalam Gita petunjuk untuk menempuh perjalanan itu mulai dengan bait kesebelas dalam bab dua. Itulah permulaan ajaran Krishna. Ajaran itu mulai dengan kata Asochya yang artinya 'orang-orang yang tidak perlu disedihkan'. Bagaimana mencegah kesedihan? Guru Gita menyatakan bahwa tidak ada gunanya menyedihkan benda-benda yang tidak kekal dan bersifat sementara. Krishna berkata, "Arjuna, kesedihanmu sia-sia belaka." Segala sesuatu yang di alam ini mempunyai lima sifat; dalam istilah Weda disebut: Asthi, Bhati, dan Priyam, Nama, dan Rupa, yang artinya 'ia ada', ia memancarkan cahaya batin', 'ia punya tujuan dan memberikan kebahagiaan', 'Ia punya nama', dan ia punya bentuk'. Dalam bahasa Sanskerta padan kata untuk Asthi, bahti, dan Priyam adalah Sat Chit Ananda. Sat Chit Ananda ini adalah kebenaran yang abadi; ia merupakan kenyataan yang tidak berubah. Bagi Sat Chit Ananda tidak ada kelahiran dan tidak ada kematian. Karena itu Asthi, Bhati, dan Priyam atau Sat Chit Ananda dapat digambarkan sebagai tanda atau ciri ketuhanan. Keduanya sesungguhnya hanya imajinasi.

Segala ciptaan yang engkau lihat di dunia ini adalah buatan. Semua muncul pada sesuatu saat dan akan hilang pada suatu saat di masa yang akan datang; dengan kata lain mereka mengalami kelahiran dan kematian. Mereka dapat dibandingkan dengan sanak saudara. Sanak saudara datang dan tinggal bersamamu beberapa waktu, kemudian pulang lagi. Mereka tidak tinggal terus di rumahmu. Seperti sanak keluarga, suka serta duka juga datang dan pergi. Begitu pula setiap perwujudan yang mempunyai nama dan rupa, tidaklah kekal. Untuk memahami spiritualitas engkau harus menyadari bahwa segala ciptaan ini bersifat tidak kekal dan sementara. Setiap saat benda-benda itu bisa musnah; mereka terus menerus mengalami perubahan. Bersusah hati untuk benda-benda yang sementara seperti itu tentu tidak ada gunanya.

Jika engkau ingin memahami ketiga sifat yang penting yaitu Asthi, Bhati, dan Priyam yang kekal, engkau harus meningkatkan sifat-sifat yang mulia dan bajik. Seperti telah dijelaskan oleh Krishna dan Bhakti Yoga, dalam bab pengabdian, peminat kehidupan rohani yang telah memiliki ke-26 sifat mulia itu sangat dicintai Tuhan. Tetapi engkau tidak perlu memiliki ke-26 sifat itu semuanya. Dalam sebuah kotak korek api, terdapat banyak batang korek. Jika engkau memerlukan api, engkau tidak perlu menyalakan semua batang korek itu; hanya satu yang perlu digoreskan untuk mendapatkan api yang engkau inginkan. Jika engkau mengembangkan sepenuhnya satu atau dua kebajikan itu, yang lainnya juga akan berkembang dengan sendirinya. Tetapi sifat-sifat itu harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dirimu sebelum engkau berharap akan dapat memahami prinsip atma. Dalam percakapan terdahulu telah kita bicarakan sifat baik ketabahan dan kesabaran. Kini kita akan menguraikan kebalikannya, yaitu kedengkian dan kebencian.

Kedengkian dan kebencian adalah ibarat maling kembar. Yang satu tidak bisa hidup tanpa ditemani yang lain. Hubungan keduanya tidak terpisahkan, melainkan saling melindungi. Kebencian dapat diibaratkan sejenis hama, dan kedengkian jenis hama yang lain. Dua hama kembar ini bersama-sama dapat menghancurkan pohon. Bayangkanlah sebuah pohon yang menghijau, sedang berbunga dan berbuah, sangat indah dipandang mata. Bila suatu hama memakan akarnya, dalam beberapa hari saja pohon ini akan kering. Salah satu hama ini menyerang akar dan hama yang lain merusak batang dan daun. Yang satu berusaha membinasakan kehidupan pohon itu dan yang satu lagi merusak keindahan pohon. Keduanya saling melengkapi. Kalau tidak ada kedengkian tidak akan ada kebencian. Bila timbul kebencian maka engkau akan menemukan kedengkian bersembunyi di baliknya. Kebencian mempunyai bentuk tertentu. Ia muncul dengan berbagai cara. Sedangkan kedengkian tidak punya bentuk; ia tetap tersembunyi di bawah permukaan. Ada dikatakan bahwa tiada seorang pun di dunia ini yang tidak mempunyai rasa dengki; setidak-tidaknya ada sedikit kecenderungan untuk merasa iri pada setiap manusia. Untuk menjamin agar kedengkian dan kebencian ini tidak masuk dalam dirimu, engkau harus mengembangkan kasih yang tidak mementingkan diri sendiri. Bila kasih tanpa ego ini bersemi dalam dirimu, maka tidak ada lagi tempat untuk bersarang bagi kedengkian dan kebencian. Bila kedengkian dan kebencian terbuang jauh-jauh engkau akan mengalami kebahagiaan yang sejati.

Keindahan adalah suatu bentuk kebahagiaan. Di mana ada keindahan engkau akan mendapatkan juga kegembiraan. Sesuatu yang indah adalah kegembiraan yang tiada putusnya. Apakah keindahan itu? Apakah alam yang memberikan keindahan kepada suatu benda, ataukah keindahan itu sudah menjadi sifat yang terkandung dalam benda itu? Kita telah mengetahui bagaimana semua benda itu mengalami perubahan. Bayangkan semua benda yang mengalami perubahan ini, berapa lama benda-benda itu tetap indah? Hanya sesuatu yang tidak berubah dapat mempunyai keindahan. Eksistensi yang abadi dan tidak berubah adalah Tuhan, karena itu hanya Tuhanlah yang indah. Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih indah daripada Tuhan. Tugas bakta yang paling penting adalah meminum madu kebahagiaan yang mengalir dari keindahan itu. Untuk meminum dan memuaskan dirimu dengan ketuhanan yang begitu penuh dengan keindahan ini engkau perlu memilki kebajikan tertentu. Untuk mengembangkan kebajikan ini engkau harus memusnahkan kelemahan dan kekurangan yang membusuk dalam dirimu. Kedengkian misalnya, dapat masuk walaupun dalam hubungan dengan Tuhan. Ada suatu contoh mengenai hal ini.

Arjuna duduk di dalam kereta; Krishna mengemudikan kereta itu sebagai sais. Pada waktu itu Arjuna belum dapat memahami sifat ketuhanan Sri Krishna, tetapi ia merasa bahwa Krishna seorang yang agung. Arjuna telah mendengarkan semua yang dijelaskan dan diuraikan oleh Krishna, tetapi ia belum siap melaksanakannya. Perang besar sedang berlangsung dan dalam medan laga beberapa senjata yang ampuh digunakan. Pada suatu hari Arjuna harus menghadapi Bhisma. Dalam pertemuan itu Bhisma melepas sejumlah panah yang amat sakti dan mengerikan, mengenai kereta Arjuna, tetapi tidak melukai Arjuna. Pertempuran berkecamuk sepanjang hari, tidak ada pihak yang menang, hingga akhirnya Bhisma jatuh di keretanya. Pada saat itu Arjuna menyatakan kemenangannya atas pertempuran yang berlangsung hari itu. Arjuna senantiasa bertakwa kepada Tuhan, tetapi pada saat itu ia agak congkak karena mengira hanya dialah yang menyebabkan kemenangan dalam perang ini. Ia yakin bahwa ialah yang membawa kemenangan, sedangkan Krishna hanya mengendalikan kereta.

Matahari sudah terbenam ketika mereka membawa kereta mereka pulang. Segera setelah kereta mencapai perkemahan Pandawa, Krishna menghentikan kereta agak jauh dari tenda dan ia berpaling kepada Arjuna sambil berkata, "Arjuna, silakan turun dari kereta dan pergi ke tenda." Arjuna yang diliputi rasa keakuan, berkata dalam hati, "Akulah yang memimpin, Krishna hanya kusirku; ia harus turun lebih dulu dan membukakan aku pintu. Kemudian aku, sebagai majikan, turun dari kereta. Itulah aturannya yang benar." Arjuna berkata kepada Krishna, "Kakanda, silahkan Kakanda turun lebih dahulu." Tetapi Krishna berkata dengan tegas, "Tidak Arjuna, engkau turun lebih dahulu." Perbantahan ini berlangsung beberapa lama.

Arjuna mengalami pikiran yang agak gelap; ia mula merasa cemburu kepada Krishna. Arjuna berpikir, "Selama ini aku mengira Krishna seorang yang agung, tentunya karena aku memujinya dan mengaguminya maka ia sekarang bersikap seperti ini, seakan-akan ia lebih penting. Ya, itu salahku sendiri. Tetapi perang masih akan berlangsung, aku harus bertempur dan aku memerlukan Krishna, jadi sebaiknya aku tidak mempunyai rasa permusuhan dengan dia. Itu tidak baik untuk kepentinganku sendiri." Maka dengan sangat enggan Arjuna lebih dulu turun dari kereta. Setelah turun ia berdiri di dekat kereta. Krishna terus menyuruh Arjuna, "Jangan berdiri di sini. Pergilah ke tenda." Karena tidak ada pilihan lain, Arjuna memasuki tenda. Krishna segera melompat serta lari menjauhi kereta. Begitulah Krishna keluar, Kereta meledak dan terbakar hingga habis menjadi abu.

Dharmaraja dan Arjuna yang menyaksikan dari jauh bertanya kepada Krishna, "Apa yang terjadi? Apa yang menyebabkan hal itu?" Krishna menjawab, "Arjuna, tidak seorang pun dapat berharap bisa mengerti tindakan Tuhan. Bagi Tuhan tidak ada sifat mementingkan diri sendiri, tidak ada egoisme. Melindungi bakta adalah kewajiban-Ku. Membesarkan hati dan mendatangkan faedah bagi bakta adalah satu-satunya tujuan-Ku. Semua senjata dahsyat yang dilepaskan oleh Bhisma yang masuk dalam kereta, Kubuat tidak berbahaya karena kuinjak dengan kaki-Ku, selama panah-panah itu ada di bahwa telapak kaki-Ku senjata itu tidak dapat membahayakan engkau. Jika Aku turun dari kereta lebih dulu, senjata itu akan menghancurkan engkau bersama kereta itu. Engkau akan menjadi abu. Karena tidak menyadari kebenaran ini, engkau menyuruh Aku turun lebih dulu." Ketika Arjuna mendengar kata-kata Krishna itu, ia menyadari kecongkakan dan kebodohannya.

Tadinya ia memperlihatkan tanda-tanda kedengkian.Mencari-cari kesalahan pada Tuhan merupakan sejenis kedengkian. Ada sejumlah gejala kedengkian yang menonjol. Kedengkian timbul bila engkau berhubungan dengan orang yang terkenal dari padamu. Atau kedengkian akan bersemi bila engkau berjumpa dengan orang yang lebih kaya. Juga engkau akan merasa dengki bila berjumpa dengan orang yang lebih cantik atau lebih tampan. Jika ada murid lain yang memperoleh nilai lebih tinggi daripadamu, kedengkian akan muncul ke permukaan. Sudah merupakan kelemahan orang kebanyakan memiliki rasa benci terhadap orang yang melebihinya dalam hal kekayaan, kedudukan, kecantikan, kecerdasan, dan sebagainya. Pada saat kedengkian timbul pada seseorang, semua kebajikan yang telah terbina sejak lama akan hilang lenyap. Sifat dengki bukannya tidak berbahaya bagi seseorang. Sifat itu menghancurkan semua sifat mulia yang ada pada diri manusia. Dengki menimbulkan sifat iblis, ia menghancurkan sifat kemanusiaan dan menguatkan sifat kebinatangan. Sifat itu tidak peduli kanan kiri dan tidak ada rasa enggan. Karena itu setiap orang pertama-tama harus menjaga agar rasa dengki jangan sampai bersarang dalam dirinya. Engkau harus merasa senang atas kemakmuran orang lain. Engkau harus ikut merasa bahagia dengan kemajuan orang lain. Engkau harus berbahagia dengan kesejahteraan orang lain. Inilah kebajikan yang sejati. Inilah yang diajarkan oleh Bhagawad Gita; menginginkan agar orang lain sejahtera dan baik adalah sifat yang mulia dan sangat penting yang harus dimiliki oleh setiap orang.

Krishna berkata kepada Arjuna, "Arjuna, engkau harus selalu menjadi Anasuya." [B]Anasuya[/B] artinya orang yang tidak mempunyai rasa dengki. Ada cerita yang mengatakan bahwa pada waktu ketiga aspek ketuhanan; Brahma, Wishnu, dan Maheshwara menguji Anasuya, wanita suci itu mampu mengubah mereka menjadi bayi. Ini berarti jika engkau tidak mempunyai rasa dengki, engkau akan dapat mengendalikan dan menaklukkan ketiga Guna yaitu: Rajas, Sattva, dan Tamas yang menggambarkan kekuatan Tuhan untuk mencipta, memelihara, dan melebur; Brahma, Wishnu, dan Maheshwara. Sesungguhnya bila engkau mampu membebaskan diri dari kedengkian, engkau akan dapat menaklukkan segalanya. Tetapi jangan terlalu memikirkan bahwa kedengkian akan menghancurkan semua sifat yang baik. Mungkin engkau mengira bahwa kedengkian akan menghancurkan orang lain, tetapi sesungguhnya ia menghancurkan engkau, bukan orang lain. Sifat itu menyebabkan engkau sakit. Engkau tidak bisa tidur nyenyak; engkau tidak bisa makan enak. Walaupun pada mulanya engkau sehat benar, segala macam penyakit bisa timbul karena kedengkian. Kedengkian itu ibarat penyakit dalam; seperti TBC merayap dan menggerogoti badanmu dari dalam, begitu pula kedengkian akan melemahkan engkau tanpa engkau sadari. Sifat ini masuk ke dalam badanmu dengan berbagai cara dan akhirnya menghancurkan dirimu.

Kedengkian adalah penyakit yang ganas dan tidak boleh dibiarkan bercokol dalam dirimu. Engkau harus merasa bahwa Tuhan akan selalu melimpahkan rahmat-Nya kepadamu walaupun engkau menduduki jabatan yang kurang penting, tidak seperti yang kau harapkan. Engkau harus berbahagia dengan kebahagiaan orang lain; engkau harus senang mendengar keberhasilan mereka dan tidak bersedih hati hanya karena engkau tidak mempunyai apa yang dipunyai orang lain. Kedengkian merajalela dalam zaman kali ini. Kedengkian ada pada semua jenis manusia, baik ia seorang yogi, bogi, atau rogi, yaitu orang yang dianggap suci, orang awam, atau orang sakit dan orang yang tidak kenal aturan. Kebanyakan karena rasa dengki manusia tidak mendapat ketenteraman hati dan menyia-nyiakan hidupnya.

Ada sebuah cerita:
Pada suatu hari Sang Buddha pergi meminta sedekah. Beliau hampir tiba di suatu dusun tempat tinggal beberapa murid Beliau. Semua orang di kampung itu sangat menyayangi Buddha. Tetapi ketika hampir sampai di perbatasan kampung itu, beberapa anak muda urakan yang kebetulan bergerombol di san mencela Beliau. Karena agak heran dengan kejadian ini, Beliau berhenti lalu duduk di atas batu. Beliau berkata kepada mereka, "Ya, anak-anak, kesenangan apa yang kalian dapat dengan mencela Aku?" Tanpa memberi alasan apapun mereka makin gencar saja mencela Sang Buddha. Buddha berkata, "Teruskan semau kalian." Mereka terus saja mencela hingga mereka capai sendiri dengan caci maki mereka dan akhirnya pergi.

Sebelum mereka pergi, Buddha berkata, "Anak-anak, Aku ingin memberi tahu sesuatu kepada engkau sekalian. Di kampung yang akan Aku tuju, semua orang sangat mencintai-Ku; kalau saja mereka mendengar kalian mencela aku dengan kasar seperti itu, mereka akan mencincang engkau. Untuk menyelamatkan kalian dari bahaya itu, Aku duduk di sini dan membiarkan kalian mencela terus. Jadi sesungguhnya Aku telah memberi kalian hadiah yang sangat besar. Bila ingin menggembirakan orang biasanya engkau harus mengeluarkan biaya besar dan membuat berbagai persiapan, tetapi tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun, tanpa susah-susah, aku telah memberi kalian demikian banyak kesenangan dengan membiarkan kalian mencaci maki Aku. Karena kelihatannya mendapat begitu banyak kegembiraan dengan mencerca Aku, maka tentunya Akulah yang menyebabkan kegembiraan kalian. Tanpa persiapan Aku telah berhasil memuaskan banyak orang; jadi kalian tahu, bukannya Aku sedih karena celaan kalian, melainkan Aku merasa bahagia karena Aku bisa memberi kalian begitu banyak kebahagiaan.

Kemudian Buddha memaparkan hal lain yang juga penting kepada mereka sedemikian rupa sehingga sangat berkesan bagi mereka. "Misalkan seorang pengemis mendatangi rumahmu dan minta sedekah. Engkau memberinya makanan. Namun, katakanlah bukan itu yang dimintanya. Bayangkan bahwa ia menolak barang yang engkau berikan. Apa yang engkau lakukan? Ya, engkau akan berkata, 'Jika engkau tidak mau menerima apa yang aku berikan, aku ambil kembali dan akan tetap menjadi milikku.' Begitu pula engkau melontarkan segala kecaman ini, itulah sedekah yang engkau berikan kepada-Ku. Tentu engkau mengira Aku memerlukan nasehatmu dan kau berikan kepada-Ku dengan cuma-cuma. Tetapi Aku tidak mau menerimanya. Nah, lalu ke manakah jatuhnya pemberian itu? Ia kembali kepadamu; ia tetap bersamamu dan menjadi milikmu. Jelas sekali bahwa sebenarnya engkau mencela dirimu sendiri, engkau sama sekali tidak mencela Aku."

Seseorang dapat mengirim surat tercatat kepada temannya. Jika temannya tidak mau menerima surat tercatat itu, apa yang dilakukan oleh Kantor Pos? Surat itu akan dikembalikan kepada si pengirim. Jika engkau mencela atau menjelek-jelekkan seseorang, tetapi orang itu tidak mau menerima perbuatanmu itu, maka tidak dapat dielakkan lagi, kecaman itu akan kembali kepadamu. Cara pemuasan hati seperti itu sangat rendah, yaitu mengira bahwa dengan kedengkian dan kebencianmu itu engkau (dapat) menyusahkan orang lain. Tetapi engkau sama sekali tidak menyusahkan orang lain, melainkan engkau menyusahkan dirimu sendiri. Banyak kesulitan yang bisa timbul karena kedengkian yang bersarang dalam diri seseorang.

Seorang Sanyasin menanami kebun dengan bunga-bunga dan pohon buah-buahan. Meskipun ia seorang Sanyasin, ia masih mempunyai rasa keakuan yang kuat. Jika rasa keakuan berkembang, kedengkian pun bercokol. Bila keakuan dan kedengkian muncul, kebencian dengan sendirinya bergabung. Tuhan melihat bahwa orang yang memakai jubah sanyasin ini menaruh racun dalam hatinya. Tuhan ingin memperbaikinya dengan memberi pelajaran. Tuhan menyamar sebagai brahmana tua dan datang ke kebun itu. Brahmana tua ini mendekati pohon itu. Ia berkata, "Siapakah yang menanam pohon yang indah ini?" Sanyasin datang dan berkata, "Oh Brahmana, sayalah yang mengurus seluruh kebun ini. Saya yang menanam pohon ini dan pohon-pohon lainnya. Dengan usaha saya sendiri saya buat jalan setapak yang menyenangkan ini dan saya tanam serta saya pelihara kebun yang indah ini. Saya sendiri yang mengurus segala-galanya. Tidak ada tukang kebun. Saya yang mengambil air. Saya sendiri memberi pupuk. Saya menyiangi rumput dan membasmi hamanya. Saya membersihkan jalannya. Saya mengatur semua bunga yang indah ini serta pohon-pohon, buah-buahan dan itu semua hanya untuk membahagiakan orang lain." Dengan begitu ia terus mengulang kata, "Saya...saya....saya...."

Setelah mendengarkan semuanya ini sang brahmana meninggalkan kebun. Tidak lama kemudian ada seekor sapi masuk ke kebun. Sapi itu amat lemah sehingga hampir jatuh dan menimpa tanaman. Sanyasin melihat bahwa sapi ini akan merusak kebun, lalu ia mengambil kayu dan melempar sapi itu untuk mengusirnya. Tetapi begitu kayu itu mengenai sapi, sapi itu lalu roboh dan mati. Sanyasin sangat terkejut karena sekarang ia harus menanggung dosa membunuh sapi. Tak lama kemudian brahmana tua tadi datang lagi ke kebun. Sementara ia berjalan ke dekat sapi, ia melihat sapi mati itu dan bertanya, "Siapa yang membunuh sapi ini? Siapa yang berbuat itu seganas ini?" Karena sanyasin itu tidak langsung menjawab, brahmana berkata lebih tegas, "Katakan, tahukah engkau siapa yang membunuh sapi ini?" Sanyasin menjawab, "Sudah tentu itu kehendak Tuhan. Tanpa kehendak Tuhan mungkinkah ia terbunuh seperti itu? Kalau tidak sudah ditakdirkan mati, masakan ia jatuh dan mati karena kena kayu sekecil itu?" Setelah mendengar jawaban sanyasin , sang brahmana berkata, "Tadi engkau mengatakan bahwa engkau sendiri bertanggung jawab mengurus seluruh kebun ini, engkau sendiri yang menanam semua tanaman dan membuat jalan. Engkau menerima pujian atas segala yang baik yang terjadi di sini, tetapi giliran yang tidak baik yang engkau salahkan adalah Tuhan. Engkau orang yang egois, bahkan engkau dengki kepada Tuhan. Engkau menerima pujian atas sesuatu yang sebenarnya milik Tuhan." Seketika itu sang brahmana memperlihatkan kesejatiannya dan berkata, "Aku adalah Tuhan sendiri. Aku datang untuk menghancurkan rasa egoismu."

Dalam bentuk apa Tuhan mungkin datang untuk memperbaiki pribadi yang diliputi kedengkian dan egoisme, tidak dapat diramalkan. Ia mungkin menyamar sebagai apa saja dan kapan saja. Engkau harus berhati-hati jangan sampai diliputi keakuan dan kedua hama kembarnya: kebencian dan kedengkian. Kalau sifat-sifat itu bersarang dalam dirimu, akan sulit menghilangkannya. Engkau tidak akan dapat membasmi kedengkian hanya dengan membaca kitab suci. Melainkan dengan tekad dan usaha yang tekun untuk mengubah pikiran dan mengembangkan cinta kasih yang tidak mementingkan diri, engkau dapat membinasakan semua hama ini dan menyerahkan segala pikiran burukmu di kaki Tuhan. Selama engkau masih diliputi kedengkian, engkau tidak akan bersinar. Segala kebajikan yang ada pada dirimu akan dimusnahkan oleh rasa dengki. Gita mengajarkan bahwa latihan rohani yang utama ialah mengembangkan kebajikan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari; dengan demikian engkau menciptakan iklim yang baik bagimu. Bila hidupmu dipenuhi kebajikan, engkau akan dapat menghayati prinsip atma. Tetapi jika engkau tidak mengembangkan sifat-sifat yang baik dan mulia serta mengamalkannya terus menerus dalam kehidupan sehari-hari, engkau tidak akan dapat memahami ketuhanan.

Cahaya atma ada di mana-mana. Ia tidak terbatas pada satu orang atau satu bentuk; ia bersinar sebagai kecemerlangan yang memenuhi seluruh alam semesta. Ia dapat mengambil wujud dan nama apa saja. Ia merupakan dasar setiap nama dan wujud. Misalnya sinar yang memancar dari bola lampu, atau angin dari kipas listrik, atau panas dari kompor listrik, atau gerakan dari motor listrik. Pengaruhnya berbeda-beda. Kerja motor berbeda dengan angin dari kipas. Sinar dari bola lampu lain dengan makanan yang masak di atas kompor. Pengaruh berbeda, mesinnya berbeda, tetapi yang masuk ke dalam alat-alat itu sama yaitu aliran listrik. Begitu juga prinsip atma. Dalam tubuh-tubuh yang berbeda, perwujudannya berbeda, tetapi dasarnya satu dan sama.

Kecemerlangan cahaya listrik sesuai dengan besar aliran listrik dalam bola lampu. Cahaya yang bersinar dari bola lampu dapat dibandingkan dengan cahaya atma yang bersinar pada setiap pribadi. Cahaya tidak punya bentuk atau rupa, tetapi bola lampu mempunyai bentuk dan kekuatan yang berbeda-beda. Bola lampu pijar mempunyai bentuk tertentu, lampu neon mempunyai bentuk yang berbeda. Mungkin lampu di ruang makan sangat terang; sedangkan lampu di kamar tidur redup. Karena ketidaktahuan mungkin engkau berpikir jika listrik yang sama memberi kekuatan pada bola lampu di kamar tidur dan di ruang makan, mengapa cahayanya berbeda? Perbedaan itu disebabkan oleh bola lampu. Begitu pula ekspresi cinta kasih dari setiap hati berbeda-beda. Jika kasihmu penuh sebulat hati, engkau akan mampu mewujudkan kebulatan cahaya atma dan memancarkan sinar terang. Jika engkau memiliki cinta kasih yang sempit dan mementingkan diri, tidak ada bedanya dengan lampu kamar tidur. Yang menjadi masalah bukan alirannya; potensi penyediaan aliran selalu tersedia. Bola lampunya yang harus diganti untuk mendapat sinar yang lebih terang. Bila engkau diliputi oleh kedengkian maka kekuatan sinar akan sangat lemah. Jika engkau memiliki kecemerlangan kasih yang suci murni dan tidak mementingkan diri maka kekuatannya dapat dimisalkan dengan bola lampu 1000 watt. Karena itu, kembangkanlah kasihmu. Engkau hanya dapat menyadari prinsip ketuhanan dengan bantuan kasih.

Untuk melihat bulan engkau tidak perlu memakai lampu senter. Dengan cahaya bulan sendiri engkau dapat melihatnya. Jika engkau ingin mengetahui dan melihat Tuhan yang perwujudan-Nya adalah cinta kasih maka hanya dengan kasihlah engkau dapat melihat-Nya. Tidak mungkin melihat Tuhan jika engkau diliputi kebencian yang sangat bertentangan dengan cinta kasih.
Kebencian hampir seperti kebutaan. Bagaimana pun terangnya cahaya yang engkau pancarkan kepada orang buta, ia tidak akan dapat melihat cahaya itu. Selama engkau masih memiliki sifat-sifat buruk, Tuhan yang sangat dekat tidak akan dapat kau lihat. Bila engkau bebas dari kedengkian, bebas dari keakuan, dan bebas dari kebencian, engkau bisa langsung menghayati kemuliaan Tuhan. Seseorang yang sudah terbuka mata pengetahuan dan kebijaksanaannya akan memancarkan kehadiran Tuhan. Seseorang yang matanya tertutup ketidaktahuan tidak akan mengetahui kehadiran Tuhan. Dengan menutup matamu engkau harus mencari ke sana ke mari handuk yang tergantung di atas kepalamu dalam rak yang sangat dekat. Jika engkau membuka matamu langsung engkau dapat mencapainya. Seorang Jnani, orang yang bijaksana, yang matanya terbuka terhadap ketuhanan dan yang tidak diselimuti ketidaktahuan, dapat langsung melihat Tuhan dan mencapai-Nya.

Engkau akan menjadi seorang Jnani bila engkau penuh dengan kebajikan. Tetapi bila engkau diliputi oleh sifat-sifat buruk, keragu-raguan, segala macam kedengkian, dan kebencian, engkau tidak akan dapat mengerti apa-apa. Karena itu orang mengatakan, "Kematian lebih manis daripada but karena kekaburan batin." Engkau harus membebaskan dirimu dari ketidaktahuan ini. Kedengkian adalah kejahatan yang mengembagkan ketidaktahuan itu. Karena itu para pelajar dan mahasiswa yang hatinya lembut sekali yang masa depannya terang dan akan mencapai banyak kemajuan, jangan sampai kalian dihinggapi kedengkian. Jika dalam kelasmu ada teman yang mendapat nilai bagus, engkau tidak boleh iri hati. Engkau pun dapat berusaha untuk memperoleh nilai yang bagus. Jika engkau tidak mencapai prestasi itu dan engkau merasa iri maka engkau membuat dua kesalahan. Pertama engkau tidak belajar dengan baik, kalau engkau sungguh-sungguh belajar tentu engkau akan mendapat nilai yang lebih baik, dan kedua engkau telah mengotori hatimu dengan kedengkian. Kemudian menangisi hal itu adalah kesalahanmu yang ketiga. Jangan memupuk sifat-sifat buruk seperti itu yang dapat menyebabkan engkau mengalami banyak kesulitan, bahkan dapat menghancurkan seluruh keluarga yang tadinya bahagia dan menikmati kehidupan yang layak.

Sementara menjelaskan prinsip ini kepada Arjuna, Krishna berkata, "Kaurawa, 101 putra Dhritarashtra ingin menghancurkan kebahagiaan Pandawa. Sifat-sifat jahatnyalah yang menyebabkan mereka melakukan semua perbuatan jahat itu. Orang yang dengki akan menarik orang yang jahat itu. Orang yang dengki akan menarik orang yang jahat sebagai temannya. Kaurawa mempunyai paman yang jahat, Shakuni, yang memanas-manasi mereka dalam permusuhan dengan Pandawa. Shakuni penuh dengan kedengkian. Mereka adalah manusia-manusia buta. Seperti ayah mereka yang buta mata jasmaninya, Kaurawa buta mata hatinya. Mereka berkomplot dan bekerja sama. Tetapi engkau boleh yakin, Arjuna, sifat-sifat jahat pada mereka itu akan menghancurkan diri mereka sendiri." Karena itu tak seorang pun dari mereka hidup untuk melakukan upacara terakhir bagi orang tua mereka jika meninggal.

Jika engkau sungguh-sungguh ingin memahami Bhagawad Gita, engkau harus mulai memupuk sifat-sifat yang baik dan kebajikan yang telah dipaparkan. Jika sifat-sifat yang baik ini telah menjadi bagian dari hidupmu, engkau langsung menghayati ketuhanan. Gita ibarat pohon yang mengabulkan keinginan. Gita akan memberikan makna tertentu dan taraf pengertian yang mencerminkan tingkat keinginanmu. Pada zaman ini banyak orang menyalahartikan Gita karena mereka mempunyai begitu banyak keinginan yang keliru. Karena itu, Gita sia-sia saja. Tetapi engkau harus memupuk kebajikan dan memenuhi diri dengan kasih, maka ajaran Gita yang mulia akan bersinar dalam dirimu dan mengilhami engkau untuk mencapai sifat Tuhan yang merupakan kenyataanmu yang abadi.
 

bcak

IndoForum Newbie B
PERCAKAPAN 26

DARMA DAN KEBENARAN ADALAH NAPAS KEHIDUPAN


Krishna berkata, "Di mana ada dharma, di mana ada kebajikan dan kesucian, di mana kewajiban dan kebajikan dan kebenaran dipatuhi, di sana akan ada kemenangan. Orang yang melindungi dharma akan dilindungi oleh dharma. Arjuna! Amalkanlah dharma selalu. Tempuhlah kehidupan yang suci dan terhormat."
Dharma mempunyai tujuh segi seperti halnya matahari mengandung tujuh warna. Segi dharma yang pertama adalah kebenaran. Segi yang kedua adalah watak yang baik. Yang ketiga kebajikan. Yang keempat pengendalian indera. Yang kelima tapa. Yang keenam menjauhi (nafsu dan keinginan) duniawi, dan segi yang ketujuh adalah tanpa kekerasan. Ketujuh segi dharma itu dicanangkan untuk melindungi manusia dan untuk kesejahteraan masyarakat.

Seperti panas adalah sifat api, dingin sifat es, harum sifat bunga yang sedang mekar, dan manis sifat gula, begitu pula kebenaran adalah sifat manusia. Kebenaran adalah dasar dharma. Bila manusia menyadari kebenaran sejati yang merupakan sifat dasarnya, maka ia mengetahui kesejatian dirinya. Watak yang baik merupakan napas hidup bagi kebenaran.

Ada tiga aspek watak yang sangat penting bagi setiap orang yang ingin mencapai sukses dalam bidang kerohanian. Aspek yang pertama sangat tepat dinyatakan dengan kata-kata: toleransi, kesabaran, dan ketabahan. Aspek ketiga dapat dinyatakan dengan kata-kata: ketetapan hati, kebulatan tekad, dan keuletan. Pendidikan apapun yang engkau miliki, betapa pun kayanya engkau, apa pun jabatanmu, apakah engkau seorang sarjana atau negarawan, jika engkau tidak mempunyai ketiga aspek watak ini, engkau tidak lebih daripada orang mati. Hasil lain apapun yang mungkin engkau peroleh, tanpa ketiga aspek watak ini, segala prestasi dan hasil karyamu tidak akan berarti. Orang hanya memperhatikan keindahan luar, tetapi Tuhan hanya mengenal keindahan batin. Sebenarnya bagi manusia, watak yang luhurlah yang merupakan keindahannya. Orang yang tidak memiliki watak yang baik tidak berbeda dengan sebuah batu. Engkau harus mengikuti ketujuh segi dharma ini dan membiarkan setiap aspek bersinar dalam dirimu karena setiap aspek itu merupakan sifatmu yang sejati.

Langkah dasar adalah kebenaran. Kebenaran tidak berarti sekedar tidak berbohong. Engkau harus menganggap kebenaran sebagai jantung hatimu, sebagai dasar hidupmu. Engkau harus siap meninggalkan segalanya demi kebenaran. Dunia berjalan karena menakuti kebenaran dan selalu mengabdi kepada kebenaran. Bila kebenaran tidak ada, manusia akan takut hidup. Kebenaran memberikan keberanian kepada manusia. Kebenaranlah yang melindungi dunia dan menyebabkannya bergerak. Kebenaranlah yang mengusir rasa takut. Kebenaran adalah suatu nilai yang begitu penting sehingga hanya bila ditegakkan benar-benar manusia akan dapat mencapai sifat ketuhanan. Watak yang baik adalah napas kebenaran. Yang penting bagi watak adalah kebajikan dan tingkah laku yang baik. Umat manusia tidak akan bersinar tanpa perbuatan yang baik. Kebajikan, sifat-sifat yang baik, dan perbuatan yang baik, semua ini memberi keindahan dan kemuliaan pada umat manusia.

Untuk melindungi umat manusia dan mengembangkan sifat ketuhanan, engkau harus menjadikan kebenaran, watak yang baik, dan perbuatan yang baik sebagai dasar. Sejak kecil engkau harus berusaha mencapai hal-hal ini. Pada masa kanak-kanak, manusia cenderung melakukan kesalahan-kesalahan kecil, disadari atau tidak. Karena takut kesalahan itu diketahui orang tuanya dan mungkin ia akan dihukum atau dicela maka si anak berusaha menyembunyikan kesalahannya itu, Dengan demikian anak sejak kecil mengembangkan kebiasaan berbohong; kebiasaan ini akhirnya akan menghancurkan sifat manusiawi dalam diri seseorang. Karena itu engkau harus bertekad untuk selalu berbicara jujur, tanpa merasa takut dan tanpa memperdulikan akibatnya, apakah akan menyenangkan dan menguntungkan bagimu, ataukah akan berakibat dimarahi dan dihukum. Seperti halnya fondasi sangat penting bagi bangunan rumah, seperti halnya akar merupakan dasar sebatang pohon, kebenaran adalah dasar hidup bagi manusia.

Jika engkau ragu-ragu dalam menegakkan kebenaran, tidak akan ada keselamatan dan perlindungan bagi hidupmu. Contoh kepatuhan mutlak pada kebenaran dapat dilihat dalam kehidupan Harischandra. Untuk mematuhi kebenaran, Harischandra meninggalkan istrinya, putranya, dan kerajaannya; ia menjadikan kebenaran sebagai tirakatnya. Akhirnya, untuk membayar hutangnya, ia harus menjual istrinya sebagai budak, kemudian putranya, dan akhirnya dirinya sendiri. Walaupun dalam keadaan yang buruk seperti itu, walaupun ia dalam keadaan tidak berdaya, ia tidak bersedia berkata yang tidak benar. Ketika anaknya meninggal, istrinya membawa jenazahnya ke tempat perabuan. Walaupun ia tahu istrinya, Chandramurti, dan jenazah itu adalah anaknya, ia tetap merasa bertanggung jawab melakukan tugas sebagai pengelola tempat perabuan. Dalam keadaan yang amat sulit, Harischandra tidak pernah meninggalkan kejujuran atau menyimpang dari dharma. Ia menganggap kebenaran dan dharma sebagai dua mata, atau seperti dua roda sebuah kereta, atau seperti dua sayap seekor burung, satu dan yang lain tidak terpisahkan.

Orang tua harus mendidik anak-anak sejak dini mengenai pentingnya berbicara jujur. Pada suatu ketika, seorang ayah ingin memberikan hadiah khusus untuk ulang tahun putranya. Karena cintanya kepada anaknya itu, sang ayah memberi anak itu uang logam dari emas serta menyuruh anak itu minta kepada ibunya agar dibuatkan cincin dari mata uang itu. Keesokan harinya anak- laki-laki itu akan mengikuti ujian; ia menaruh uang logam itu di atas meja tempat ia belajar. Anak ini mempunyai adik perempuan yang selalu ingin tahu dan nakal. Ia masuk ke kamar dan melihat uang logam itu. Ia mengambil uang itu dan bertanya, "Kak, apa ini?" Kakaknya menjawab, "Uang logam dari emas." Adiknya bertanya, "Dapat dari mana uang itu?" Dengan berkelakar ia berkata, "Ya, tumbuh di atas pohon." "Bagaimana mungkin uang logam bisa tumbuh dari pohon?", adiknya yang masih kecil bertanya. Kakaknya lalu mengarang cerita dan terus menceritakan kisah-kisah bohong. Katanya, "Jika engkau jadikan uang ini sebagai bibit dan kau tanam dalam tanah, lalu kau sirami, kau urus, dan kau lindungi, nanti akan tumbuh sebatang pohon. Kemudian dari pohon itu engkau akan mendapat banyak uang logam emas." Adiknya mau bertanya lagi, tetapi kakaknya berkata. "Dengar, aku tidak mempunyai waktu untuk bicara lagi dengan engkau sekarang. Aku harus belajar. Nanti saja kalau bertanya." Karena melihat kakaknya sibuk, ia mempergunakan kesempatan untuk mengantongi uang logam emas itu lalu pergi. Dari tempat itu ia pergi ke halaman dan menggali lubang. Ia menaruh uang logam itu dalam lubang dan menimbuninya dengan tanah. Ia menyirami gundukan tanah itu. Sepanjang hari ia memikirkan apa yang telah dikatakan oleh kakaknya bahwa sebatang pohon akan tumbuh dari uang logam itu jika ditanam.

Pembantu rumah tangga yang mengamati anak kecil itu dari jendela, melihat anak itu memasukkan uang emas ke dalam lubang. Ketika anak itu masuk ke rumah, si pembantu menggali lubang tadi dan mengambil uangnya. Tak lama kemudian ibu si anak datang dan menyuruh anak laki-laki tadi bersiap pergi ke sekolah. Anak itu akan memberikan uang logam tadi kepada ibunya agar dibuatkan cincin sebagaimana pesan ayahnya. Tetapi anak tidak menemukan uang logamnya. Ia mencari adiknya dan menanyakan apakah ia melihat uang logam itu. Adiknya berkata, "Kak, saya pikir jika kita tanam uang itu agar tumbuh menjadi pohon, kita akan mempunyai banyak uang logam seperti itu; jadi uang itu saya tanam dalam lubang yang saya buat di kebun." Mereka pergi ke tempat itu dan menggali, tetapi uang logamnya tidak ada di sana.

Nah, anak itu sangat sedih. Pada hari ulang tahunnya, saat mestinya ia bergembira, ia menangis. Ia menceritakan apa yang terjadi kepada ibunya. Ibunya bertanya kepadanya, "Tetapi Nak, katakan kepadaku mengapa adikmu mengambil uang logam itu dan menanamnya di kebun?" Anak laki-laki itu tidak tahu, maka adiknya dipanggil dan ditanya mengapa ia melakukan hal itu. Anak itu berkata, "Kakak mengatakan kepadaku bahwa uang itu bisa tumbuh menjadi pohon uang logam; jadi saya kerjakan seperti yang dikatakan kakak." Ibunya berkata kepada anak laki-laki itu, "Karena engkau mengada-ada cerita ini dan berbohong kepada adikmu, akibatnya engkau bukannya bergembira dan menikmati hari ulang tahunmu, tetapi engkau menangis; bukan hanya itu, engkau kehilangan uang logam emas yang diberi ayahmu." Pada usia muda bila anak diizinkan berbohong dan berbuat yang tidak benar, kebiasaan ini akan menjadi-jadi. Sebaliknya, jika engkau mendidik anak sejak kecil agar menjadikan kebenaran sebagai dasar hidupnya, wataknya akan tumbuh dan ia akan dapat mencapai berbagai hal yang besar.

Pada suatu hari ada seorang jagadguru, guru besar yang banyak menolong orang agar maju dalam bidang kerohanian. Bila ada orang yang datang untuk didiksa, guru ini menanyakan tentang tingkah laku dan wataknya untuk menentukan sifat-sifat orang itu. Sesuai dengan kualitas dan tingkat perkembangan rohaninya, sang guru memberikan mantra. Seorang pencuri, setelah mengetahui kebesaran jagadguru ini, datang kepadanya dan memohon mantra. Sang guru berkata kepadanya, "Baik Nak, bagaimana sifat-sifatmu? Apakah kelemahanmu?" Pencuri itu berkata, "Sifat saya yang tidak baik adalah memasuki rumah demi rumah pada tengah malam dan mencuri barang-barang dalam rumah itu. Karena malam hari saya mencuri, siang hari saya mabuk dan tidur. Minum adalah kebiasaan buruk saya yang kedua. Jika polisi menangkap saya, maka untuk menyelamatkan diri, saya berbohong. Itu kebiasaan buruk saya yang ketiga."

Mahatma bertanya kepadanya, "Baik Nak, dapatkah engkau menghilangkan satu dari tiga sifat yang buruk itu?" Ia berpikir sebentar, "Jika aku tidak mencuri, bagaimana aku mengurus keluargaku, anak-anak dan istriku? Tidak, aku tidak bisa meninggalkan kebiasaan ini. Hanya bila badanku sehat dan kuat aku bisa lolos jika tertangkap. Jadi aku harus cukup tidur, dan minum dapat menolongku agar gampang tidur pada siang hari. Tetapi tidak mungkin polisi sering menangkap aku; jadi aku akan meninggalkan kebiasaan berbohong." Lalu orang mulia ini bertanya, "Dapatkah engkau berjanji bahwa engkau akan selalu mengatakan yang benar mulai besok dan seterusnya?" Pencuri itu menjawab, "Pasti. Bahkan mulai hari ini saya hanya akan berkata yang benar." Inilah tekad pencuri itu. Betul-betul sejak hari itu ia selalu berkata jujur ke manapun ia pergi.

Pada suatu musim panas, malam hari udara panas sekali. Pada masa itu tidak ada pendingin ruang, bahkan kipas angin pun tidak ada. Seorang walikota tertentu, orang yang sangat kaya, sedang beristirahat di teras lotengnya. Karena udara malam yang panas dan pengap, ia tidak bisa tidur. Pencuri tadi berhasil memanjat ke teras lotengnya. Segera setelah pencuri itu masuk ke teras loteng, orang kaya tersebut melihatnya dan tahu bahwa orang itu pencuri. Ia menegurnya dan berkata, "Hai, siapa itu?" Karena pencuri jujur, ia menjawab, "Saya pencuri." Untuk mengetahui apa rencana orang itu, orang kaya berkata, "Oh ya? Baik, saya juga pencuri." Mereka sepakat untuk bekerja sama dan mereka merencanakan mencuri beberapa barang berharga yang disimpan dalam rumah. Orang kaya berkata kepada pencuri, "Ada banyak barang perhiasan terkunci dalam peti di rumah orang kaya ini, tetapi akan sulit membuka peti itu kalau kita tidak mendapat kuncinya. Biar saya yang masuk ke rumah, barangkali saya bisa mencuri kunci peti itu." Orang kaya itu berkata lagi, "Saya sedang menunggu seseorang yang bisa menjaga saya. Sekarang karena ada teman seperti engkau, saya mau masuk."

Ia tinggalkan pencuri itu dan berpura-pura mendobrak rumah, lalu masuk. Ia sibuk mondar mandir dan menunda keluar rumah beberapa saat. Kemudian ia mengambil kunci dan diam-diam keluar. Ia berkata kepada pencuri, "Nah, ini kuncinya, tetapi saya cari petinya di mana-mana tidak ketemu. Biar saya yang berjaga di luar dan engkau masuk. Barangkali engkau bisa menemukan peti itu dan mengambil perhiasan yang disimpan pemiliknya." Orang kaya ini menyimpan tiga butir berlian besar di dalam peti. Pencuri masuk dan segera menemukan peti itu; peti dibuka dan tiga butir berlian diambil. Segera timbul masalah dalam pikirannya. Bagaimana membagi tiga berlian itu di antara mereka berdua? Karena pencuri ini mengikuti jalan kebenaran, secara otomatis sekelumit kebajikan timbul dalam dirinya. Ia membawa ketiga berlian itu keluar dan berkata kepada orang kaya, "Bung, Anda ambil satu berlian. Saya bawa satu. Berlian ketiga tidak dapat dipecah. Saya akan mengembalikan berlian itu ke dalam peti untuk pemilik rumah. Biarlah berlian itu untuk dia sendiri." Dengan keputusan ini, pencuri masuk kembali dan menaruh satu dari tiga berlian itu ke dalam peti, kemudian ia kembali ke loteng.

Setelah selesai pembagian, pencuri itu akan pergi, tetapi orang kaya berkata kepadanya, "Bung, barangkali kita bisa bekerja sama seperti ini lagi di kemudian hari. Tolong beri saya alamat Anda sehingga saya dapat menghubungi Anda." Karena harus jujur, pencuri memberikan alamat yang sebenarnya. Keesokan harinya orang kaya ini, yang menjadi Zamindar atau kepala daerah itu, mengambil alamat itu dan memerintahkan agar dibuat pengaduan kepada polisi tentang hilangnya berlian dari petinya. Ia menyuruh polisi pergi ke kampung sesuai dengan alamat yang diberikan dan menangkap pencuri yang tinggal di sana. Pencuri itu telah terkenal di kampungnya. Polisi pergi ke sana dan dengan mudah menemukan si pencuri. Mereka menangkapnya dan membawanya ke Zamindar. Pencuri tidak mengenali Zamindar yang kemarin menjadi rekan kerjanya.

Zamindar lalu bertanya kepada pencuri. "Nah, bagaimana caramu memasuki rumah? Bagaimana caramu mendapatkan berlian ini?" Pencuri menceritakan dengan cermat petualangannya langkah demi langkah. Ia ceritakan bagaimana ia naik ke loteng, mendapat teman untuk bekerja sama, memasuki rumah, membuka peti, mengambil tiga berlian, memberikan satu berlian kepada temannya, satu untuk dirinya sendiri, lalu kembali masuk ke rumah dan membuka peti lagi, kemudian mengembalikan satu berlian. Seluruh kejadian ini diceritakannya. Zamindar memanggil kepala kantornya dan berkata, "Pergilah dan lihat apakah masih ada satu berlian di dalam peti." Pegawai itu mengambil kunci peti. Ia berpikir, "Adakah pencuri yang mengembalikan berlian?" Sambil berpikir begitu ia membuka peti, melihat berlian yang telah dikembalikan oleh pencuri, lalu mengantonginya, dan kembali ke Zamindar, melaporkan bahwa tidak akan ada berlian di dalam peti.
Zamindar lalu memanggil pencuri itu, Ia berkata, "Saya tahu bahwa apa yang engkau ceritakan kepada saya semuanya benar. Karena itu mulai hari ini engkau saya angkat menjadi kepala kantor saya. Hanya orang yang jujur boleh menjadi pegawai. Sayang sekali engkau telah menjadi pencuri, tetapi sifatmu tidak begitu." Orang ini sekarang tidak mencuri lagi dan menjadi pegawai tinggi; ia selalu berkata jujur. Dengan sendirinya lama kelamaan ia berhenti minum minuman keras dan mencuri; kemudian menjadi manusia yang lurus dan jujur.

Mungkin pada mulanya engkau menemui banyak kesusahan karena berpegang teguh pada kejujuran. Walaupun menanggung kesusahan, jika engkau tetap mengikuti jalan kejujuran, akhirnya sifat jujur ini akan membuat engkau senang dan bahagia, dan memberimu keberhasilan dalam segala usaha. Karena itu, untuk meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusialah Krishna dalam Gita mengajarkan bahwa kita harus selalu bersikap jujur. Beliau menyatakan bahwa kebenaran adalah cara hidup yang mulia dan jalan kebenaran itu adalah satu-satunya jalan untuk membina tingkah laku yang benar dalam masyarakat. Kadang-kadang dikatakan bahwa dharma telah merosot. Tetapi pernyataan ini tidak benar. Karena didasarkan pada kebenaran, dharma tidak akan pernah berubah. Namun dalam zaman tertentu, pelaksanaan dharma yang mungkin mengalami perubahan. Shri Krishna menjelma untuk menegakkan kembali pengamalan dharma, bukan menegakkan dharma itu sendiri. Dharma tidak pernah musnah, juga tidak pernah berubah, hanya tidak diterapkan.

Ketujuh segi dharma telah ada dalam zaman-zaman yang lampau, entah pada zaman Krita, Treta, Dwapara, atau Kali. Tetapi setiap yuga mempunyai pengalaman yang paling sesuai dengan zamannya. Misalnya, dalam Krita Yuga latihan rohani yang paling tepat adalah meditasi, dalam Treta Yuga latihan rohaninya adalah Yajna atau kurban; dalam Dwapara Yuga latihan rohaninya adalah upacara pemujaan; dan dalam Kali Yuga ialah namasmarana yaitu 'mengulang-ulang nama Tuhan yang suci'. Seperti halnya dalam zaman Krita ada pengaruh Kali, begitu pula dalam zaman Kali sekarang ini ada pengaruh Krita dan zaman-zaman yang lain. Maka dalam zaman Kali ini ada orang yang melakukan meditasi, ada yang melaksanakan upacara pemujaan. Demikian pula dalam zaman Krita ada orang yang mengidungkan nama Tuhan. Tetapi pelaksanaannya yang utama tergantung pada sifat dan suasana umum pada zaman itu.

Dapat dikatakan bahwa pelaksanaan yang berbeda memberi bentuk berbeda pula kepada dharma, tetapi ini dharma tetap sama. Kebenaran tidak akan pernah berubah. Kebenaran selalu satu, tidak pernah dua. Dalam ketiga waktu: dahulu, sekarang, dan yang akan datang; dalam ketiga alam: bumi, langit, dan alam bawah; dalam ketiga keadaan: jaga, mimpi, dan tidur nyenyak; dan dalam ketiga guna: sattva, rajas, dan tamas; kebenaran tetap satu. Karena kebenaran itu satu dan merupakan dasar dharma, dharma tidak bisa berubah; ia tidak pernah goyah atau mengalami perubahan. Tetapi tugas manusia sebentar-sebentar akan berubah. Misalnya, orang yang mengerjakan pekerjaan. Berapa lamakah pekerjaan ini menjadi tugasnya? Sampai ia berhenti dari pekerjaan itu. Sebelum itu ia tetap setiap hari pergi ke kantor. Kalau ia sudah pensiun, tugasnya berubah. Setelah pensiun mungkin ia bergerak di bidang bisnis. Lalu ia berkata bisnis adalah tugasnya. Dalam kegiatan bisnis ini mungkin ia tergoda untuk mendapatkan laba lebih banyak dengan cara yang tidak benar; mungkin ia berusaha mendapat uang dengan berbohong dan menipu. Tetapi ia akan tetap berkata bahwa bisnis adalah tugasnya. Walaupun sekarang mungkin ia melakukan kebohongan atau penipuan untuk memperoleh uang, ia tetap menganggap pekerjaan yang dilakukannya itu sebagai tugasnya. Bila tugas itu berubah-ubah bagaimana kita dapat mengatakan bahwa itu dharma? Kegiatan yang berubah-ubah ini hanya merupakan tugas, tetapi tidak dapat dikatakan dharma.

Ada makna yang tepat untuk kata dharma. Segala perbuatan yang tidak mengganggu orang lain, yang tidak melanggar kebebasan orang lain, dapat dikatakan sebagai dharma. Ada sebuah contoh. Engkau memegang sebatang tongkat yang panjang dan bermain dengan tongkat itu, menggerakkan tongkat itu ke kanan dan ke kiri sementara engkau berjalan di jalan raya. Jalan ini penuh orang lalu lalang. Engkau berkata, "Saya berhak berjalan ke mana saya suka. Ini kebebasan saya. Ini dharma saya." Baik, jika ini dharmamu maka orang yang datang dari arah berlawanan mempunyai hak untuk menyelamatkan dirinya agar tidak tertekan tongkatmu. Engkau merasa senang melakukan kegiatan yang mungkin dapat membahayakan orang lain yang sedang lewat. Namun, (kaidah) tingkah laku yang benar menghendaki agar engkau berbuat sedemikian rupa sehingga engkau tidak mengganggu orang lain yang sedang berjalan di jalan itu. Jika engkau dapat bertingkah laku tanpa menyebabkan ketidaknyamanan dan gangguan terhadap kebebasan orang lain maka engkau berperilaku sesuai dengan dharma. Jika setiap orang beranggapan bahwa merupakan dharmanyalah untuk bertingkah laku tanpa mengganggu, merugikan, atau membahayakan orang lain, maka akan terdapat ketenteraman, kesejahteraan, dan kebahagiaan yang berlimpah di dunia ini. Berbuat seperti ini adalah tugasmu yang sesungguhnya, yaitu suatu tugas yang harus dilaksanakan untuk memberi contoh kepada orang lain dan untuk menegaskan cita-cita dharma yang mulia.

Dalam kehidupanmu sehari-hari di dalam keluarga, ada tiga jenis kewajiban yang dapat dianggap sebagai tiga segi dharma; ada tugas kemasyarakatan, ada tugas wajib, dan ada tugas keluarga. Pertama kita perhatikan contoh tugas kemasyarakatan. Misalkan besok hari Minggu, yaitu hari libur bagimu. Engkau ingin mengundang beberapa orang ke rumahmu untuk jamuan teh. Tiba-tiba malam harinya engkau sakit panas. Waktu sedang sakit engkau menyadari bahwa jika engkau mengundang teman esok harinya, engkau tidak akan dapat menerima mereka dengan semestinya, karena itu engkau tidak merasa gembira. Maka engkau putuskan untuk menunda jamuan teh itu. Atas dasar keinginanmu dan perubahan situasi, engkau ubah waktu jamuan teh itu menjadi minggu berikutnya. Itu adalah hakmu. Engkau dapat membuat perubahan, engkau dapat menunda kunjungan, engkau bebas membuat rencana sekehendak hatimu.

Kemudian ambil contoh mengenai tugas wajib. Sehubungan dengan ujian mendatang, wakil rektor telah menetapkan bahwa semua dosen harus hadir dalam suatu rapat. Karena ini merupakan rapat panitia ujian yang penting, engkau harus hadir. Walaupun engkau sedang sakit panas, engkau minum pil aspirin dan pergi menghadiri rapat. Ini wajib, engkau tidak puny hak untuk membatalkannya. Penjadwalan rapat ini tidak dalam kekuasaanmu dan bila telah ditetapkan, engkau harus hadir.

Kita lihat sekarang contoh tentang tugas keluarga. Engkau sedang berada di rumah. Pertengkaran kecil terjadi antara suami dan istri. Di dalam kamar sang suami memperingatkan istrinya dengan keras. Sang istri sangat marah. Sang suami pergi ke ruang tamu dan kebetulan seorang temannya datang berkunjung. Segera setelah ia melihat temannya itu, ia tersenyum lebar dan menyapanya dengan ramah. Ia menyuruh temannya duduk. Di hadapan temannya ia terus tersenyum. Ketika ia ke dapur dan melihat istrinya masih marah, ia kembali berkata keras, tetapi setelah kembali ke ruang depan menemui temannya ia melanjutkan percakapan dengan gembira. Ia berkewajiban menjaga nama baik keluarga dengan berbuat sedemikian rupa sehingga temannya tidak tahu bahwa ia bertengkar dengan istrinya.

Jika seseorang yang sedang marah dengan istrinya di dalam kamar tidur keluar ke ruang tamu dan dengan marah-marah menyuruh temannya meninggalkan rumah, maka temannya itu akan tersinggung, dan mungkin ia menganggap kawannya sinting. Seorang kepala keluarga mempunyai tugas penting untuk menjaga agar rahasia keluarga tidak diketahui umum. Ia harus tetap tanggap untuk melindungi kehormatan keluarga. Jika karena kesemberonoannya kehormatan keluarga terganggu, maka ia dan keluarganya tidak akan mendapatkan kebahagiaan sepanjang hidupnya.

Untuk menjaga nama baik keluarga engkau harus tetap waspada dan sadar akan kepentingan orang lain; ini memerlukan pengendalian indera. Jika engkau tidak dapat mengendalikan indera seperti yang telah dijelaskan beberapa waktu yang lalu, engkau akan bersikap angkuh. Pengendalian indera dalam bahasa Sanskerta adalah dama, terdiri dari dua kata da dan ma. Jika dibalik, dama menjadi mada. Mada artinya keangkuhan; sifat ini sangat buruk. Orang yang telah mampu mengendalikan indera mendapat sebutan sakshara 'orang yang menjadi pemimpin'. Kata sakshara ini pun kalau dibalik menjadi rakshasa atau 'iblis'. Dengan kata lain, orang yang angkuh dan tanpa pengendalian indera tidak berbeda dengan iblis. Karena itu, jika engkau mau mengamalkan dan melindungi dharma, engkau harus mengendalikan indera. Pengendalian indera sangat penting untuk segala hal yang baik dan bermanfaat dalam kehidupan manusia.

Krishna berkata kepada Arjuna, "Arjuna, jadilah seorang stithaprajna, orang yang bijaksana, dan kendalikanlah inderamu sepenuhnya. Jangan tunduk pada ketagihan indera yang berubah-ubah. Nafsu harus dikendalikan. Jangan diperbudak oleh nafsu. Engkaulah yang harus memperbudak nafsu. Engkau adalah Gudakesa, orang yang menguasai nafsu; Karena engkau mampu mengendalikan nafsu engkau diberi hak mendekati Rishikesha 'penguasa indera' (sebutan untuk Sri Krishna). Tanpa pengendalian indera atau nafsu engkau tidak akan bisa mendapat Rishikesha."

Dalam Gita bab kedua mengenai Sankya Yoga semua sifat stithaprajna telah dijelaskan; dari semua sifat itu, pengendalian indera adalah salah satu yang paling penting. Dalam pembicaraan ini kita telah membahas berbagai segi dharma yang dapat diumpamakan sebagai sinar matahari yang mengandung tujuh warna atau segi. Seperti telah dikemukakan sebelum ini, cahaya matahari dharma ini mengandung sinar kebenaran, watak yang baik, tingkah laku yang benar, pengendalian indera, tapa, meninggalkan (keinginan dan nafsu) keduniawian, dan tanpa kekerasan. Milikilah semua sifat ini. Sebelum menghafalkan bait-bait Gita ini, engkau harus berusaha mengerti maknanya, kemudian kembangkan dan amalkan sifat-sifat baik yang diberitahukan di situ.

Yang menjadi keinginan Swami adalah bila engkau demikian berminat dan tekun mempelajari bait-bait Gita ini, engkau harus menunjukkan semangat yang tinggi pula dalam pengamalannya dan dengan demikian engkau akan memperoleh semua sifat baik yang diamanatkan dalam bait-bait itu.
 

bcak

IndoForum Newbie B
PERCAKAPAN 27

KEBAIKAN DAN BELAS KASIH ADALAH SIFAT MANUSIA YANG SEJATI


Cintailah semua. Itulah ajaran pokok Bhagawad Gita. Jangan bersikap bermusuhan atau menunjukkan kebencian kepada siapa pun juga. Ketuhanan yang utuh bersemayam dalam hati setiap manusia.
Bila engkau membenci seseorang, Tuhan sendirilah yang engkau benci. Bila engkau mencela atau memperingatkan seseorang, Tuhan yang engkau sembahlah yang engkau cela dan caci maki. Inilah ajaran persaudaraan yang universal yang dipaparkan dalam kitab-kitab suci India sejak zaman purba.

Tetapi Bhagawad Gita bahkan telah mencapai tingkat yang lebih tinggi dari ini. Gita tidak saja mengajarkan bahwa Tuhan ada di mana-mana sebagai kekuatan universal, tetapi juga satu dan sama dengan atma atau diri sejati yang merupakan penghuni (tubuh). Karena itu, di samping ajaran persaudaraan universal, Gita juga mengajarkan kemanunggalan diri sejati, yaitu atma yang esa yang ada di mana-mana. Gita menunjukkan bahwa atma yang ada sebagai diri sejati dalam dirimu, juga ada sebagai diri sejati dalam diri orang lain, dalam bintang, burung, dan setiap jenis makhluk lainnya. Seperti halnya Gita mengajarkan agar engkau menganggap kebahagiaan dan kesengsaraan itu sama, engkau juga diajarkan menyadari bahwa atma ada di semua makhluk, baik manusia, binatang, maupun tumbuh-tumbuhan.

Karena itu engkau harus yakin bahwa dari serangga dan makhluk kecil-kecil sampai kepada Brahman, prinsip ketuhanan yang sama ada di dalam semuanya. Sebab itu penyair Thyagaraja memuja Rama dengan nyanyian, "Ya Tuhan, Engkau ada dalam semut dan juga Brahma, Engkau datang sebagai Krishna dan Rama, tetapi sesungguhnya Engkau ada dalam segala rupa." Dewasa ini sifat manusia sudah sedemikian rupa sehingga bila melihat semut ia dengan cepat membunuhnya; bersamaan dengan itu bila ia melihat patung yang menggambarkan perwujudan Tuhan, ia berdoa kepadaNya. Berbuat sesuatu yang bertentangan dengan apa yang dikatakannya adalah ciri khas manusia sekarang. Karena itu bukannya tingkat mahatma 'orang suci' yang dicapainya, tetapi duratma 'orang jahat'. Namun Bhagawad Gita mengajarkan bahwa keselarasan perkataan, pikiran, dan perbuatan merupakan sifat sejati manusia, itulah yang menjadikannya seorang mahatma.

Tingkatkanlah imanmu dan sadarilah bahwa prinsip ketuhanan yang sama ada dalam setiap makhluk. Limpahkan cinta kasihmu, yaitu intisari sifat ketuhananmu dan sifat ketuhanan pada semua makhluk. Tunjukkan belas kasihan dan cinta kasih kepada setiap orang. Bila engkau tidak bersikap seperti itu terhadap orang lain, seluruh latihan rohani atau kegiatan spiritualmu akan sia-sia. Bila engkau memuja Tuhan, tetapi menjahati orang lain, engkau tidak akan sampai ke tujuanmu. Gita mengajarkan bahwa manusia itu sendiri adalah (perwujudan) Tuhan dan Tuhan adalah (diri sejati dalam) manusia. Kemanunggalan Tuhan dan manusia ini berkali-kali ditandaskan dalam Gita. "Hanya orang yang memperlakukan semuanya sama adalah manusia sejati," demikian kata Krishna. Pendidikan apapun yang telah engkau capai, jika engkau tidak memiliki kebaikan manusiawi, pendidikan itu tidak berarti apa-apa, nol kosong. Kebaikan kepada semua makhluk merupakan salah satu sifat baik yang sangat penting pada manusia. Engkau harus menggunakan kemampuan pertimbanganmu dan temukan cara untuk mengembangkan sifat baik ini serta terapkan dalam hidupmu sehari-hari. Bhutadaya atau kebaikan kepada makhluk hidup berarti memperhatikan orang atau makhluk hidup lain yang sengsara dan menolong mereka. Engkau harus melakukan usaha yang diperlukan untuk meringankan penderitaan, kesedihan, dan kesulitan mereka. Tidak ada gunanya mengulang-ulang kata Kebaikan, Kebajikan, kebaikan dengan tiada putusnya; engkau harus menerapkannya dan menjadikannya bagian dari hidupmu. Engkau harus percaya bahwa kebaikan sama dengan ketuhanan. Engkau harus yakini bahwa hati yang berisi kebaikan adalah tempat persemayaman Tuhan.

Ada beberapa kelemahan yang bersarang pada diri manusia; akibatnya manusia kehilangan kebaikan hatinya dan menjadi kejam. Mereka bertingkah laku seperti binatang buas yang tinggal di hutan. Krishna mengajarkan bahwa hal semacam itu bukan sifat manusia yang sejati, melainkan kebalikan dari kemanusiaan. Kata kemanusiaan atau manusiawi diartikan sebagai kebaikan. Dari berbagai kembang kebaktian, Tuhan hanya menerima kembang kebaikan hati manusia dengan penuh kasih. Bila manusia membawa bunga yang bisa dan memuja Tuhan dengan disertai pikiran dan keinginan biasa, ia tidak akan membangkitkan kasih Beliau. Persembahan itu tidak dapat menyenangkan Tuhan dan Beliau tidak akan menerima sajian seperti itu. Apa yang mau Beliau terima? Apakah yang Beliau hargai? Tuhan akan menerima dan sangat menyukai bunga kebaikan manusia, bunga cinta kasih, bunga belas kasihan yang mekar di hatimu. Bagaimana caranya engkau menyatakan kebaikan ini? Bukan sekedar dengan berbuat baik. Yang diperlukan ialah keyakinan yang mendalam, keimanan. Engkau harus mengubah hatimu. Engkau harus yakin bahwa Tuhan ada dalam hati setiap manusia. Engkau harus mengembangkan keyakinan akan kemahaadaan Tuhan. Maka engkau akan dapat merasakan penderitaan dan kesedihan orang lain sebagai penderitaan dan kesedihanmu sendiri.

Di suatu desa hidup sepasang suami istri yang mempunyai seorang anak perempuan. Dalam keluarga itu hanya ada tiga orang. Keluarga itu tidak kaya, bahkan sangat miskin. Walaupun keluarga itu miskin, mereka bertekad menyekolahkan anak mereka. Karena di kampung itu tidak ada sekolah, maka anak itu disekolahkan di kampung lain. Setiap hari anak perempuan itu harus melalui hutan untuk mencapai kampung tempat sekolahnya. Orang kota mungkin takut berjalan melewati hutan, tetapi orang desa sudah biasa; sudah menjadi bagian dari hidup mereka sehari-hari. Jadi anak kecil ini setiap hari berangkat ke sekolah di desa tetangga, belajar di sana, lalu pulang ke rumah petang hari.

Di jalan, di dalam hutan, ada sebuah dangau yang didirikan untuk tempat berteduh bagi orang-orang yang lewat. Pada suatu hari ketika lewat di sana, anak perempuan ini menjumpai seorang tua di dangau itu. Orang itu rupanya sedang sakit. Anak kecil ini menyadari bahwa orang tua itu tidak akan mampu lagi berjalan ke desa berikutnya untuk mendapat pengobatan dan perawatan. Karena kurang makan, badannya sangat lemah dan si anak ini bisa melihat kalau keadaan orang tua itu kurang sehat. Setiap hari saia biasa membawa bekal makanan dan sejak hari berikutnya ia memberikan makanannya kepada orang sakit itu, yang masih terus terbaring di dalam dangau di hutan. Setiap pagi dalam perjalanannya ke sekolah ia meletakkan makanannya dan petang hari ia mengambil tempat makanan yang sudah kosong itu dalam perjalanannya pulang. Sesudah sepuluh hari mengurus orang tua itu, kesehatan kakek itu mulai membaik.

Pada suatu hari ketika anak itu lewat dalam perjalanan pulang, orang tua itu memegang tangannya dan bertanya, "Anak yang baik, engkau memberi aku makanan setiap hari. Katakanlah dari mana engkau peroleh makanan itu. Apakah orang tuamu tahu kalau engkau membawakan aku makanan setiap hari? Atau engkau ambil dari suatu tempat tanpa sepengetahuan mereka? Barangkali makanan itu disediakan untuk makan siangmu dan engkau berikan kepadaku? Ceritakanlah semua itu. Jawablah pertanyaanku." Anak itu menjawab, "Kakek, saya telah dididik tidak mengambil barang tanpa izin. Dan saya katakan yang sebenarnya bahwa orang tua saya tahu kalau saya membawakan makanan untuk Kakek. Kami keluarga yang amat miskin dan tidak punya banyak uang, namun kami masih menyediakan makanan untuk keluarga kami dan untuk mereka yang membutuhkan. Maka saya membawa makanan dari keluarga saya khusus untuk Kakek." Ia bertanya lagi, "Tetapi jika uangmu sedikit bagaimana mungkin engkau membeli makanan ini?" Anak itu menjawab, "Dalam hutan ini di sebelah sana ada pohon yang sedang berbuah. Dalam perjalanan ke sekolah saya mengambil buah dari pohon itu dan menjualnya. Dengan sedikit uang yang saya peroleh, saya belikan makanan. Keesokan harinya setelah makanan siap, saya bawakan untuk kakek." Orang tua yang sakit itu sangat gembira atas pengorbanannya dan kecerdasan serta kejujurannya. Ia bertanya lagi, "Bagaimana engkau bisa mendapat sifat yang mulia seperti itu?" Anak itu berkata, "Semua ini karena asuhan dan pendidikan yang diberikan oleh orang tua saya. Seingat saya, orang tua saya selalu mengatakan bahwa kita harus berbagai dengan orang lain dan menolong serta melayani orang lain. Keluarga kami sangat miskin, namun kami tetap berusaha menolong orang lain. Saya belajar kebaikan itu sejak kecil, hal itu memberi kepuasan yang besar kepada saya." Dengan cerita ini ia memberitahu orang tua itu sedikit tentang keluarganya, lalu pulang.

Kesehatan orang tua itu berangsur-angsur membaik dan ia dapat berjalan ke kampung tempat tinggal anak perempuan serta keluarganya. Apakah hasil dari segala perbuatan baik yang telah ditunjukkan kepada orang tua yang sakit itu oleh si gadis kecil? Orang tua itu menyatakan kepada keluarga si anak bahwa ia telah berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, karunialah orang tua anak ini kesehatan dan kemakmuran. Ketika aku sakit dan tidak berdaya, aku tidak berguna bagi masyarakat. Kini aku sudah agak sehat dan dapat membantu orang lain. Aku berdoa kepadaMu dengan hati yang penuh rasa terima kasih agar Engkau memberkati keluarga ini." Dengan cara ini ia memberitahu mereka doa yang selama ini diulang-ulangnya agar Tuhan memberkati keluarga yang baik dengan ikhlas menolong mereka yang membutuhkan pertolongan.

Dalam berbuat kebaikan anak ini tidak pernah mengharapkan imbalan atau perbuatannya itu. Tanpa mengharapkan pahala, dengan setia ia meladeni orang sakit itu setiap hari. Kini Tuhan melimpahkan rahmat-Nya kepadanya. Pada suatu malam Tuhan datang ke rumah itu membawa sebongkah emas dan bertanya, "Apakah ini rumah anak kecil yang telah memberikan demikian banyak makanan dan minuman kepada orang yang menderita? Tuhan berkata, "Akulah yang pergi ke dangau itu dalam wujud orang sakit. Nah, Aku berikan uang ini agar anak itu dapat tumbuh dan mendapat pendidikan tinggi. Aku tinggal dalam dangau itu selama sepuluh hari untuk menguji anak perempuan itu. Hati anak ini sangat suci dan bersih, sangat lembut; hatinya adalah tempat tinggal-Ku, pura-Ku sendiri." Ia memberikan uang itu kepada orang tua si anak sambil memberitahukan mereka agar menggunakannya untuk kebahagiaan dan kesejahteraannya.

Tetapi orang tua anak itu tidak terlalu bergembira dengan kekayaan yang akan diperoleh itu. Mereka bersujud kepada orang suci ini yang telah memberkati mereka dengan kunjungan-Nya. Mereka berkata, "Oh Mahatma, kami tidak membutuhkan begitu banyak harta. Kekayaan yang di luar kemampuan seseorang akan membahayakan, mengganggu ketenteraman hati. Kekayaan itu dapat memperbesar rasa keakuan dan membuat orang melupakan Tuhan. Kami tidak menginginkan kekayaan sebegitu banyak." Tetapi setelah memberkati mereka, Beliau menghilang dengan meninggalkan seluruh harta itu. Orang yang datang itu bukan hanya seorang yang mulia. Keluarga itu menganggapnya sebagai perwujudan Tuhan sendiri. Mereka tidak menggunakan uang itu untuk kepentingan mereka sendiri, melainkan harta itu mereka gunakan untuk kesejahteraan seluruh masyarakat di kampung tersebut. Mereka minta kepada setiap orang agar mendasarkan tingkah laku mereka pada keyakinan bahwa Tuhan bersemayam dalam setiap makhluk. Mereka memberi contoh dengan hidup mereka sendiri bahwa Tuhan dapat dicapai bila manusia memberikan kasih, belas kasihan, dan kebaikan hati kepada semua makhluk yang membutuhkannya.

Jangan engkau mempersempit keyakinanmu kepada Tuhan dengan beranggapan bahwa Ia hanya berada di tempat tertentu. Engkau harus menghayati Tuhan di mana-mana. Bagaimana engkau dapat mengembangkan perasaan ini? Seperti dikatakan oleh para pelajar dan mahasiswa dalam doa mereka beberapa saat yang lalu, Tuhan berada di dalam dan di luar. Jika Tuhan hanya berada di dalam, kesucian batin sudah cukup. Karena Tuhan juga berada di luar, kesucian lahir juga diperlukan. Maka karena Tuhan ada di dalam dan di luar, engkau perlu memiliki kesucian lahir batin; Kemudian barulah engkau dapat menghayati kemaha-adaan Tuhan. Apa yang dimaksud dengan kesucian lahir ini? Sudah tentu kesucian lahir berarti mengucilkan (membersihkan) badan dan memakai pakaian yang bersih. Tetapi ada arti yang lebih luas. Tempat tinggalmu harus bersih. Buku-buku yang engkau baca juga harus tetap bersih. Baik badan atau pikiranmu jangan dibiarkan menumpuk kotoran dan sifat-sifat yang buruk. Pernyataan bahwa engkau harus mandi dua kali sehari berarti setiap kotoran pada badan dan dalam pikiran harus dibersihkan. Kalau daki menebal, kuman akan bersarang dan membawa penyakit. Karena itu jangan kau biarkan kotoran apa pun juga tetap berada pada dirimu.

Setiap pagi engkau harus membersihkan gigi dengan sikat dan pasta gigi, juga membersihkan lidahmu. Jangan kau biarkan ada kotoran di pintu utama. Kalau ada air kotor di luar, nyamuk, cacing, belatung, dan bakteri-bakteri akan bersarang. Begitu pula kalau ada kotoran di badanmu, kuman-kuman dan kutu akan bersarang. Bukan hanya itu, sekitar rumahmu juga harus bersih. Apa peribahasa di negara Andhra, "Lihat rumahnya dan engkau akan mengetahui penghuninya," dengan kata lain kebersihan rumah mencerminkan kebersihan itu dimaksud untuk kebaikanmu. Baik rumah maupun daerah sekitarnya, kalau semuanya bersih, engkau akan berbahagia. Engkau harus menjaga kebersihan dan ketertiban dirimu sendiri dan tempat sekitarmu agar dapat menikmati hidup yang sehat; bila engkau sehat engkau akan selalu bahagia.

Mungkin engkau hanya mempunyai dua setel pakaian, tetapi bila sat setel engkau pakai, engkau harus menyimpan yang lain dalam keadaan bersih. Kemudian engkau dapat mengganti pakaian dan mencuci yang pertama. Sebenarnya bahkan tidak perlu mempunyai dua setel pakaian; satu setel cukup asal dijaga agar tetap bersih setiap hari. Apa pun yang engkau miliki harus dijaga agar tetap bersih; jangan biarkan dirimu menjadi kotor. Tetapi hanya membersihkan bagian luar dan memakai pakain bersih, sementara membiarkan hatimu kotor tidak ada gunanya. Engkau juga harus berusaha keras memelihara kesucian batin. Untuk ini engkau perlu menjaga kesucian pikiran dan perasaanmu. Arahkanlah pikiranmu kepada pengabdian bagi orang lain. Jangan biarkan kedengkian dan kebencian memasuki dirimu. Berusahalah selalu membina perasaan riang. Tidak perlu engkau ikut meributkan urusan orang lain. Selalulah memikirkan yang baik-baik mengenai orang lain. Dalam hubungan ini Weda menyatakan, "Semoga seluruh dunia berbahagia." Membantu meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan seluruh dunia adalah dasar keyakinan Weda dan merupakan tujuan pengalaman Weda. Karena itu nama Tuhan yang suci harus kau renungkan dengan tiada putusnya sehingga hatimu tersucikan. Hanya bila engkau menjaga baik-baik kesucianmu lahir dan batin, engkau akan mampu mencegah masuknya pikiran buruk serta sifat-sifat jahat seperti kedengkian dan kebencian.

Prahlada menyatakan bahwa hanya bila engkau mengalahkan keenam musuh dalam dirimu, engkau dapat dianggap orang yang mulia. Ia berkata kepada ayahnya, "Ayah hanya seorang raja sekarang, tetapi jika Ayah dapat menguasai enam musuh dalam diri Ayah, maka Ayah dapat menjadi adiraja yang besar." Keenam musuh itu adalah keinginan (nafsu), kemarahan, ketamakan, khayalan, kecongkakan dan kedengkian. Jangan kau biarkan enam musuh ini bersarang di hatimu; jika engkau buang mereka jauh-jauh, engkau akan lepas dari segala kesulitan dan kesusahan. Untuk mencapai hal itu, engkau harus memperlakukan suka dan duka, laba dan rugi, panas dan dingin, dengan sikap seimbang; bila engkau memiliki keseimbangan seperti itu, keenam musuh itu tidak akan menjamahmu. Tetapi memang sulit menganggap suka duka, kesengsaraan dan kebahagiaan itu sama, kecuali bila engkau benar-benar yakin bahwa Tuhan berada di setiap hati manusia. Bila engkau menyadari hal itu maka semua pasangan yang bertentangan ini akan terkalahkan dan tidak lagi mengganggu ketenteramanmu. Kemudian engkau akan dilimpahi rahmat Tuhan dan bagaimana pun buruk nasibmu, engkau tidak akan terjamah oleh nasib buruk itu.

Bila engkau mempunyai keyakinan kuat bahwa prinsip ketuhanan yang sama ada di setiap hati manusia maka segala hambatan akan dapat diatasi. Bila engkau percaya sepenuhnya pada Tuhan yang bersemayam dalam dirimu maka segala sesuatu, apa saja, menjadi milikmu. Keyakinan itulah kuncinya merupakan akar kehidupan spiritual. Peganglah prinsip itu. Itulah tujuanmu. Jika engkau mau menebang pohon, tidak perlu engkau memotong cabang-cabang dan daunnya. Jika engkau memotong akarnya, seluruh pohon akan tumbang. Jika engkau telah memegang prinsip ketuhanan itu, semuanya akan dapat engkau kuasai. Agar dapat menghayati ketuhanan dalam hidupmu sehari-hari, engkau harus melaksanakan sadhana mengembangkan rasa belas kasihan kepada semua makhluk. Juga engkau harus meningkatkan kesucian lahir dan batin, menjaga agar jasmani dan rohani selalu bersih cemerlang. Hanya dengan demikianlah engkau akan dapat menyadari prinsip ketuhanan yang ada di mana-mana.

Engkau harus menyadari bahwa jika dalam baktimu engkau memanjatkan doa kepada Tuhan dan menyampaikan sembah sujudmu; Tuhan itu jugalah yang bersemayam dalam hati semua makhluk. Maka engkau harus berhati-hati sekali, jangan sampai mencela orang lain; engkau harus meyakini benar-benar bahwa setiap celaan yang engkau lontarkan kepada orang lain akan langsung mengenai Tuhan yang bersemayam di hati itu. Hidup dapat dibandingkan dengan sungai. Jika engkau biarkan air sungai kehidupan ini mengalir tanpa kendali dan tanpa batas, engkau akan merusak kampung-kampung. Engkau harus mengambil tindakan apa saja yang perlu agar air sungai ini tidak meluap dan dapat mengalir ke laut. Hanya laut yang dapat menahan dan menyerap air sungai itu. Bagaimana caranya agar sungai kehidupan itu sampai di laut? Telah dikatakan dalam Bhagawad Gita, engkau harus membuat dua tanggul. Bila sungai mempunyai dua tanggul, airnya akan mengalir ke laut dengan selamat.

Apakah yang dimaksud dengan dua tanggul itu? Yang dimaksud ialah dua mantra yang sangat ampuh. Satu mantra berbunyi, "Ia yang ragu-ragu akan hancur." Mantra yang lain berbunyi, "Ia yang imannya kuat akan mencapai kebijaksanaan." Jadi kedua tanggul sungai kehidupan itu akan melenyapkan keragu-raguan dan menyemikan iman. Bila engkau mempunyai kedua tanggul itu untuk menyalurkan hidupmu maka engkau akan dapat mencapai tujuan dan menyatu dengan laut. Ajaran yang diberikan Krishna ini adalah intisari pengabdian kepada Tuhan; yang mengantar engkau ke samudera anugraha, lautan rahmat yang tidak terbatas.

Krishna berkata, "Nak, lautan rahmat Tuhan itulah tujuan umat manusia, tujuan akhir segala kehidupan. Jangan melupakan tujuan itu. Jangan percaya pada keduniawian dan jangan takut pada kematian, tetapi senantiasa ingatlah Tuhan yang merupakan alasan mengapa engkau lahir. Aku berikan kepadamu tiga prinsip ini:
Jangan pernah melupakan Tuhan.
Jangan Pernah mempercayai keduniawian.
Jangan pernah takut pada kematian.
Ukirlah tiga mutiara ini dalam hatimu dan ingatlah selalu padanya karena ia akan menyucikan hidupmu dan mengantar engkau kepada-Ku.
 

bcak

IndoForum Newbie B
PERCAKAPAN 28

KEBERANIAN ADALAH MELIHAT DIRI SEJATI DI MANA-MANA DALAM SEGALA SESUATU


Bila engkau melihat siapa saja atau apa saja selain Tuhan, rasa takut dapat menghinggapi engkau. Hanya bila engkau mengetahui bahwa setiap nama dan setiap rupa yang terdapat di mana saja dalam alam raya ini, tidak lain adalah gabungan dari lima unsur, dan wujud apa pun yang terjadi dari kelima unsur itu, dasarnya dan pendukungnya selalu Tuhan...bila keyakinanmu sangat mendalam akan hal ini maka engkau tidak akan dihinggapi rasa takut dan engkau akan terbebaskan dari rasa takut itu untuk selama-lamanya.
Semua benda tanpa kecuali terbuat dari lima unsur. Tidak ada unsur lain yang dapat dijumpai dalam ciptaan yang kasat mata ini; tidak ada unsur keenam. Ini meja, ini kursi, ini podium; jendela dan pintu. Aneka ini hanya berbeda nama dan bentuknya; isinya, yaitu kayu, sama semua. Begitu pula gunung berbatu-batu, pohon terdiri dari kayu, bumi berisi tanah, badan terdiri dari daging, lautan dari air...semua itu berbeda nama dan bentuknya, tetapi komposisinya hanyalah kombinasi kelima unsur pokok itu; lima unsur ini adalah lima aspek atau pantulan Tuhan Yang Maha Esa. Selain kelima unsur ini tidak ada unsur lainnya di seluruh jagat raya. Dalam lima unsur ini hanya ada satu prinsip ketuhanan. Hanya satu, tidak ada duanya di luar itu. Bila engkau mengetahuinya tanpa ragu maka engkau tidak akan merasa takut.

Keberanian mendapat tempat yang penting dari semua sifat yang baik. Keberanian adalah suatu sifat baik yang ideal. Bila engkau tidak mempunyai keberanian, engkau tidak akan dapat hidup dengan senang. Baik dalam bidang keduniawian, dalam perjuangan hidup di dunia, maupun dalam pergulatanmu di bidang kerohanian, jangan sampai rasa takut mendapat peluang masuk dalam dirimu; rasa takut tidak boleh diberi tempat dalam hidupmu. Bila seseorang dihinggapi oleh rasa takut, ia menjadi pemalu. Pekerjaan sekecil apa pun tidak akan dapat ia selesaikan. Orang yang diliputi rasa takut tidak bersinar di dunia. Karena itu Bhagawad Gita mengajarkan bahwa kita tidak boleh takut sama sekali. Keberanian, abhaya, tidak dapat diartikan tidak adanya rasa takut semata-mata, yaitu yang dinamakan nirbhaya. Kedua hal itu tidak sama. Baik rasa takut dan tidak adanya rasa takut berkaitan dengan kesadaran badan. Tidak ada rasa takut kadang-kadang sama dengan gila, misalnya bila badan terancam bahaya. Sebaliknya keberanian lebih tinggi daripada kesadaran badan. Ini hanya dialami bila manusia menyadari kebenaran bahwa ketuhanan yang Maha Esa tanpa ada duanya, bersemayam sepenuhnya dalam hati setiap manusia.

Dikatakan bahwa orang yang takut, mati berkali-kali, sedangkan orang berani mati sekali. "Karena itu," Krishna berkata kepada Arjuna, "Enyahkan rasa takutmu dan jadilah seorang pemberani!" Hanya orang berani dapat mencapai kemenangan dalam usaha yang besar. Orang yang betul-betul berani tidak mempunyai keterikatan dengan benda-benda duniawi dan penuh dengan kasih kepada Tuhan. Sebaliknya, orang egoismenya besar dan terikat dengan keduniawian akan selalu merasa takut. Keterikatan dengan benda-benda yang bersifat duniawi dan rasa keakuan tidak dimiliki oleh orang yang bebas dari rasa takut.

Dalam Purana ada cerita tentang raja raksasa, Hiranyakashipu, seorang penakut, sedangkan anaknya, Prahlada, seorang yang sama sekali tidak mengenal takut. Hiranyakashipu berkiblat pada nama dan bentuk; ia percaya pada keduniawian. Prahlada berlindung pada kekuasaan Tuhan; ia percaya pada Tuhan. Guru-guru Prahlada, Chanda dan Amarka, menghadap raja raksasa itu dan berkata, "Yang Mulia, putra Anda Prahlada sama sekali tidak takut. Kesulitan apa pun kami berikan kepadanya, ia tidak pernah mengeluh dan tidak pernah keberatanq atau menangis. Bukannya menitikkan air mata, ia bahkan terus menerus mengucapkan puji syukur kepada Narayana, menyanyikan kemuliaan serta keagungan Tuhan dengan tiada putusnya." Mengapa Prahlada tidak merasa takut sama sekali? Karena ia mempunyai keyakinan yang kuat bahwa di dunia ini tidak ada yang lain kecuali Narayana; keyakinan itu memberikan keberanian yang tak tergoyahkan kepadanya. Dalam Brihadaranyaka Upanishad, Yadnavalkya juga mengajarkan hal keberanian. Ia berkata kepada Janaka, "Oh Janaka, engkau tidak punya rasa takut karena itu engkau tidak usah khawatir mengenai apa pun juga. Hatimu menyatu dengan Tuhan. Engkau hidup hanya sebagai alat Tuhan di dunia ini, mengabdi kepada-Nya dalam segala hal. Engkau sama sekali tidak mempunyai keterikatan kepada benda-benda duniawi. Engkau percaya bahwa segala sesuatu di dunia adalah wujud Tuhan dan suci. Ke mana pun engkau memandang, engkau hanya melihat kemanunggalan dalam keanekaragaman; kesadaran ini membuat engkau tak kenal rasa takut.

Dari semua rasa takut yang menghantui manusia, takut mati paling menonjol. Bagaimana pun keberanian dan keperkasaan seseorang, bagaimana pun besar bakat dan kemampuannya, takut mati tetap menghantuinya; perasaan itu melenyapkan prestasinya dan menghancurkan rasa percaya dirinya. Ia merasa putus asa bila melihat orang meninggal. Jika mendengar seseorang meninggal, ia anggap itu berita sial dan ia tidak mau mendengar berita itu. Meskipun seseorang sudah mencapai usia lebih dari 100 tahun, ia tetap takut jika membayangkan kematian; ia ingin hidup lebih lama lagi. Tetapi bagaimana pun besar keinginannya untuk hidup lebih lama, kematian itu pasti. Semua benda di dunia dan semua orang di dalamnya akan tersapu oleh aliran maut. Apa gunanya manusia berlindung pada manusia lain yang juga akan mati? Keduanya, orang yang berlindung dan orang yang melindungi akan mati. Hanya bila engkau berlindung kepada Tuhan yang ibarat tanggul perkasa bagi aliran maut ini yang tidak terkikis oleh arus maut, engkau dapat berharap memperoleh keselamatan.

Takut akan maut dan membiarkan pikiranmu menggeluti kesenangan duniawi yang fana akan membuat sia-sia di kemudian hari. Keberanian dapat diibaratkan sebagai gunung yang perkasa, seperti Gunung Meru, sedangkan rasa takut seperti angin kecil yang berasal dari napasmu ini menggoyangkan gunung yang perkasa itu? Tentu tidak. Angin rasa takut tidak akan pernah dapat menggoyangkan gunung keberanian. Bila gunung keberanian yang kokoh dan tidak tergoyahkan dalam dirimu bersatu dengan pikiran yang bebas dari khayalan, pikiran yang berada dalam alam kebahagiaan, dan bila ia disertai oleh akal budi yang bersih dan suci, maka engkau akan dapat menghayati ketuhanan yang selalu ada dalam dirimu dan engkau pasti akan diselamatkan.

Engkau akan memiliki keberanian bila engkau meyakini keberanian bahwa hanya satu eksistensi yang ada di mana-mana, dan Yang Maha Esa itu adalah ketuhanan yang memenuhi segala sesuatu, Yang Maha Ada. Mengapa engkau harus takut akan sesuatu? Apa kiranya yang membuat engkau takut akan sesuatu? Kematian sebenarnya hanya semacam lelucon dalam drama hidup ini. Jika peranmu dalam sandiwara mengharuskan engkau jatuh dan mati di pentas, apakah engkau sebagai pemain akan terkena kejadian itu? Apa yang begitu menakutkan tentang kematian suatu tubuh yang dilahirkan untuk mati? Badan jasmani yang terbuat dari lima unsur itu pada suatu ketika akan hancur. Mengapa engkau harus merisaukan dirimu untuk sesuatu yang bersifat sementara itu? "Arjuna, engkau bukanlah orang yang akan membunuh, juga musuhmu tidak akan terbunuh. Yang dapat terbunuh adalah badan. Engkau sendiri adalah atma dan bukan badan." Keberanian inilah yang diajarkan kepada Arjuna oleh Krishna, dan karena itu membuat ia menjadi berani. Keberanian adalah sifat yang sangat vital dan penting seperti napas. Itulah kebajikan yang paling utama yang diajarkan dalam Gita. Perintah Tuhan adalah, "Jangan takut! Serahkan dirimu kepada-Ku. Aku akan menyelesaikan semuanya."

Sesungguhnya manusia mempunyai sifat Tuhan dan keberanian adalah pembawaannya. Hakikat ketuhanan pada manusia ini tercakup dalam arti kata manawa yang digunakan untuk menyebut manusia. Ada cerita mengenai hal ini. Ada suatu hutan yang amat mengerikan dan dalam hutan ini hidup banyak binatang. Biasanya di hutan yang ada singanya tidak ada gajah; dan jika ada gajah berkeliaran, tidak akan ada singa. Tetapi dalam hutan ini ada segala jenis binatang: singa, gajah, serigala, anjing, pokoknya segala macam binatang ada di sana. Pada suatu hari seekor serigala yang cerdik berpikir, "Manusia membanggakan sifatnya yang unik. Kata mereka hampir tidak mungkin lahir sebagai manusia. Tetapi manusia dilahirkan sama seperti kita-kita ini. Kata jantu dipakai untuk menamakan segala makhluk yang lahir dari rahim ibu. Masalahnya adalah: mengapa manusia disebut manawa dan bukan jantu? Dalam hal apa kita lebih rendah daripada manusia?"

Serigala terus memikirkan berbagai alasan dan sanggahan terhadap persoalan yang membingungkan ini dan ia mengambil keputusan untuk membuktikan bahwa tidak ada perbedaan antara manusia dan binatang. Sejak itu ia mulai mengumandangkan masalah ini di seluruh kawasan hutan. Kepada binatang lain ia berkata, "Mengapa kita harus menerima keadaan seperti sekarang ini? Manusia menganggap kehidupan binatang lebih rendah daripada kehidupan manusia. Kita harus bertindak untuk mengubah pendapat yang keliru itu." Dengan cara ini ia membangkitkan semangat semua binatang yang ada di hutan agar memikirkan persoalan ini. Ia menunjukkan bagaimana pendapat yang keliru ini telah diajarkan dan diterima oleh semua binatang, bahkan oleh gajah yang lebih kuat daripada binatang-binatang lain dan oleh singa yang tak kenal takut, sang raja hutan. Serigala mau mengadakan rapat besar para binatang untuk membahas masalah ini dan membuat keputusan yang disepakati bersama. Nama yang diusulkan untuk rapat ini adalah Chatushapada mahasaba yang artinya 'rapat umum makhluk berkaki empat'. Telah ditentukan bahwa pada suatu hari tertentu, jam tertentu, semua binatang akan hadir di lapangan terbuka untuk mengadakan rapat khusus ini.

Mula-mula telah disetujui untuk membicarakan tiga hal. Yang pertama adalah bahwa manusia sama dengan binatang, lahir dari rahim ibu, karena itu sebutan untuk manusia dan binatang harus sama, satu nama. Jelasnya nama itu mestinya jantu 'yang lahir dari rahim ibu'. Apakah manusia harus disebut jantu atau binatang disebut manusia, tetapi tidak boleh ada dua nama yang berbeda atau sebutan berlainan. Itulah keputusan pertama yang akan dibahas dalam rapat. Acara kedua ialah bahwa binatang dikatakan bodoh, sedangkan manusia dikatakan memiliki pengetahuan, tetapi binatang tidak boleh menerima anggapan ini. Dalam hal apa kebijaksanaan manusia mengungguli binatang? Serigala amat berkeras untuk mengetahui hal ini. Ia bertanya, "Kepandaian apa yang dimiliki manusia yang tidak kita miliki? Kita harus menetapkan bahwa baik manusia maupun binatang punya kepandaian yang sama."

Acara ketiga yang diusulkan serigala adalah, "Manusia dianggap sebagai makhluk yang dapat berbicara sedangkan kita bisu; hal ini dianggap sangat merugikan pihak binatang, dan menurut kata manusia, ini merupakan perbedaan yang besar. Tetapi, meskipun kita tidak bisa berbicara, apa kekurangan kita? Dengan belajar bicara dan dengan memiliki kemampuan itu, kebahagiaan luar biasa macam apa yang diperoleh manusia dari kemampuan itu? Mari kita usulkan agar kemampuan bicara dan kebisuan dianggap kurang lebih sama."

"Ada lagi acara keempat yang perlu diperhatikan," kata serigala. "Manusia menganggap kita bersifat rajasik sedangkan mereka bersifat satwik. Kita tidak boleh menyetujui pandangan ini. Kitalah yang mempunyai sifat sattvik, manusia tidak memiliki. Kita lebih berhak mendapat nama baik dan pengakuan bahwa kita jauh lebih bersifat sattvik daripada bangsa manusia." Mereka semua setuju dengan keempat mata acara yang akan dibicarakan dalam rapat. Kemudian mereka berpikir, siapa yang akan diminta untuk memimpin rapat mereka.

Serigala mengingatkan bahwa ada beberapa resi dan mahatma yang selama ini bertapa di hutan. "Kita harus memilih resi yang sangat terkenal untuk memimpin rapat kita," sarannya. Mereka semua setuju dan mengutus serigala untuk mencari maharesi dan minta agar mengetuai rapat. Serigala pergi ke suatu gua dan di sana ia melihat seorang resi sedang bertapa. Dengan penuh hormat ia mendekati resi itu serta memohon, "Swami, dalam dunia binatang kami bermaksud mengadakan rapat yang amat penting, chatushpada mahasabha, dan kami mohon Swami yang memimpin rapat itu." Resi yang melihat segala sesuatu sebagai perwujudan Tuhan berkata, "Baik, dengan senang hati aku akan datang memimpin rapatmu itu." Maka mereka menyiapkan lapangan yang luar untuk rapat besar itu.

Di hutan itu setiap binatang dari yang paling kecil hingga yang paling besar datang dengan membawa anak-anaknya, banyak pula yang membawa cucu nya. Semua ikut dalam rapat besar itu dengan hati gembira, dan mereka sangat menghormati presiden mereka. Suatu podium disediakan untuk presiden. Di sebelah kursi presiden disediakan tempat untuk singa. Maharesi yang memimpin rapat itu juga sangat gembira dan sama sekali tidak merasa takut pada singa yang duduk disebelahnya. Maharesi ini menyadari bahwa Tuhan ada di setiap makhluk, karena itu ia tidak punya rasa takut. Setelah semua hadirin duduk dirasakan perlu memberi penghormatan kepada maharesi yang ada di tengah-tengah mereka. Sekretaris rapat besar ini adalah sang serigala. Serigala menyampaikan kata sambutannya.

"Yang mulia Bapak presiden, yang terhormat raja hutan, rapat menteri dan saudari-saudari sekalian! Hari ini akan ditandai dengan tinta emas dalam sejarah kerajaan hutan dan segenap penghuninya. Ini adalah hari bersejarah yang tidak akan pernah dilupakan dalam sejarah kerajaan binatang, karena pada hari ini kita akan mencapai sesuatu yang sangat berharga dalam pertemuan penting yang kita adakan ini. Untuk datang ke tempat ini saudara-saudari meninggalkan berbagai pekerjaan dan telah menyisihkan waktu di sela-sela kesibukan saudara-saudari untuk menghadiri rapat ini. Maka izinkanlah saya pertama-tama menyampaikan rasa terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada saudara sekalian." Kemudian sekretaris memberikan penjelasan mengenai acara rapat. Sesudah itu sang singa bangkit dan menyampaikan amanatnya.

Singa berkata, "Kalian telah mendengar apa yang disampaikan oleh saudara kita. Ketahuilah bahwa sifat utama yang kalian miliki seperti keberanian, tidak dimiliki oleh manusia. Hal ini saya buktikan sendiri. Jika kalian membayangkan keberanian dan keperkasaan saya, kegagahan dan kekuatan saya, yang hebat, adakah manusia yang dapat menyamai saya? Meskipun saya raja binatang, saya tidak pernah melakukan perbuatan yang tidak benar atau tidak dapat dipertanggungjawabkan. Saya tidak akan membunuh binatang tanpa alasan. Hanya kalau saya lapar, saya makan sedikit. Saya tidak membunuh binatang untuk rekreasi; saya tidak membuang-buang makanan. Pertimbangkan keberanian kita, kode etik kita, tingkat moral kita yang tinggi; apakah manusia mempunyai nilai-nilai yang mulia itu? Tidak! Sama sekali tidak. Karena itu mengapa kita harus takut kepada manusia? Mengapa kita dianggap lebih rendah daripada manusia? Hari ini marilah kita bertekad menghapuskan noda pada nama baik kita ini."

Gajah yang duduk di samping singa bangkit lalu berkat, "Manusia bahkan tidak ada separo kaki saya besarnya. Jelas badan saya sangat besar, kuat, hebat, dan agung. Dalam kecerdasan saya terkenal sangat hebat. Raja, maharaja, para pemimpin terkenal, semuanya hormat dan mempercayai saya. Kalau ada penobatan, tetapi saya tidak hadir, maka acara itu harus ditunda. Kalau saya demikian hebat, bagaimana bisa dikatakan bahwa manusia lebih unggul daripada saya? Kecerdasan saya luar biasa, karena itu, dengan dua hal itu saja, kecerdasan dan badan saya, kalian dapat meyimpulkan bahwa manusia tidak akan pernah dapat menyamai saya."


note: tumben kagak muat karakternya...... :D
 

bcak

IndoForum Newbie B
Lanjutan,.....

Serigala berdiri dan berkata, "Singa, maharaja kita, telah menyampaikan wejangannya, dan Gajah, menteri kita, telah pula menyampaikan buah pikirannya. Sekarang kami minta wakil dari golongan binatang yang kecil untuk memberi sambutan." Pada kesempatan ini anjing hutang diminta bicara. Ia memberi penghormatan kepada presiden, maharaja, menteri, sekretaris, dan semua yang hadir dalam rapat. Anjing hutan berkata, "Meskipun saya kecil dan lemah, dalam hal kesetiaan tidak ada yang dapat dibandingkan dengan saya. Saya sangat hormat, percaya, dan setia kepada orang yang membesarkan serta memelihara saya. Saya akan selalu berterima kasih dan setia, bahkan seandainya saya korban jiwa. Kalau pun saya dilukai atau disakiti oleh majikan saya, saya tidak akan membalas dengan kekejaman. Semua tahu kalau manusia tidak memiliki kesetiaan yang dimiliki anjing. Dalam hal kesetiaan saya tidak dianggap lebih rendah daripada manusia. Manusia sering menyusahkan orang yang telah memelihara dan membimbingnya dengan penuh kasih seperti majikan atau orang tuanya. Manusia tidak peduli melakukan kejahatan untuk membalas kebaikan yang diterimanya. Ia mencela dan membuat rencana untuk menipu dan menjahati orang yang telah memeliharanya dengan baik. Manusia tidak punya rasa terimakasih sama sekali. Ia tidak punya kesetiaan. Hanya selama kepentingannya terpenuhi ia akan pura-pura patuh dan taat. Pada saat kepentingannya yang egois terpenuhi, ia mulai menggerogoti majikannya. Bila demikian keadaannya, bagaimana kita dapat dikatakan lebih rendah daripada umat manusia?"

Rapat berjalan terus dengan pembicara demi pembicara secara bergiliran memberikan pendapatnya. Sesuai dengan status dan pengalaman mereka, mereka berbicara, mengagungkan sifat-sifat mulia yang dimiliki binatang, yang tidak diindahkan oleh manusia. Akhirnya tiba giliran presiden yang berbicara. Resi memberi sambutan, "Margasatwa yang kucintai. Semua yang kalian katakan itu benar. Bila seorang master (guru) mengerjakan sesuatu atau mengatakan sesuatu kepada kita, tujuannya adalah untuk kebaikan kita. Semuanya dimaksudkan untuk menggalang persaudaraan dan pengertian bersama, manusia menjadi curiga dan mengira ada sesuatu yang tidak baik yang diperbuat kepadanya. Di depan Master ia hormat, tetapi di belakangnya ia mencela. Di depan Master ia mengucapkan kata-kata pujian di belakangnya ia akan melontarkan kata-kata cemohan dan celaa. Dengan melakukan hal-hal yang bertentangan seperti itu dan menggunakan kecerdikannya untuk hal yang bersifat rendah, ia menyia-nyiakan kemampuan akal budinya dan hidupnya. Segala cacat cela yang dikemukakan di sini memang benar ada pada manusia. Mengenai makanan, tidur, bernapas, dan lain-lain, sama sekali tidak ada perbedaan antara manusia dan binatang."

Resi melanjutkan, "Namun aku ingin menyampaikan bahwa ada sesuatu yang unik pada manusia yang tidak dapat dibandingkan dengan binatang. Binatang mewarisi sifat kejam, kalau sifat itu telah dimiliki, tidak dapat diubah lagi. Seekor harimau misalnya bagaimanapun laparnya, tidak akan makan nasi dan sayur. Ia hanya menginginkan daging. Ia tidak akan minum teh dan makan kue. Bagaimana keras usahanya untuk mengubah kebiasaannya, ia tidak akan berhasil. Sebaliknya, jika manusia berusaha keras, ia dapat mengubah sifatnya yang kejam dan sifat-sifat buruk lainnya. Perbedaan yang sangat penting antara manusia dan binatang adalah bahwa manusia, dengan berusaha, dapat mengadakan perubahan yang menyeluruh pada dirinya, sedangkan binatang tidak akan dapat mencapai hal itu. Kemampuan dan keterampilan khusus untuk mengubah diri sendiri hanya ada pada manusia.

Serigala berdiri dan berkata, "Swami, kami mau mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan khusus untuk mengubah sifatnya, tetapi jika ia tidak memanfaatkan kemampuan itu, apakah ia patut menikmati kedudukan yang lebih tinggi?" Presiden menjelaskan, "Jika seseorang mempunyai kemampuan untuk mengubah dirinya, tetapi tidak melakukannya, maka ia jauh lebih buruk daripada binatang." Atas pernyataan ini semua binatang bertepuk tangan. Maharesi mengulang pokok penting yang baru saja diucapkannya...bahwa manusia yang mempunyai kemampuan berbuat baik, tetapi tidak menggunakan kemampuannya itu untuk memperbaiki kelakuan dan mengembangkan nilai-nilai mulia pada dirinya, sudah tentu lebih buruk daripada binatang. Resi menambahkan, "Apa gunanya segala ilmu yang ia pelajari? Apakah sifatnya berubah? Kalau pikiran buruk masuk di kepalanya, pikirannya jadi buntu dan ia menjadi idiot. Dalam hal ilmu dan kemampuan manusia telah mencapai status yang tinggi. Tetapi ilmu ini hanya untuk mencari nafkah, ia menggunakan ilmunya itu untuk mengisi perutnya saja dan untuk menambah penghasilan.

Pada saat itu serigala bangkit dan menambahkan apa yang telah diuraikan oleh presiden, "Dalam proses kegiatannya mencari nafkah, manusia menggunakan segala cara yang tercela. Dalam hal ini jelas bahwa kita binatang jauh lebih baik daripada manusia." Serigala terbawa oleh semangat dan kepandaiannya berpidato, ia melanjutkan tema yang sama untuk sementara waktu. "Kita selalu adil dalam mencari makan. Dalam segala hal, bila dibandingkan dengan manusia, kita jauh lebih baik. Sungguh, kitalah yang terbaik!" Ia mendapat sambutan tepukan yang gegap gempita dari hadirin yang berkaki empat. Tetapi serigala sudah melampaui batas waktunya sehingga presiden harus memukulkan palu dan minta agar tenang. Pada saat itu Resi menjelaskan perbedaan besar kedua yang membuat manusia makhluk yang unik. Ia berkata, "Manusia mampu mengalahkan maya, yaitu khayalan. Kalau ia telah berhasil, ia dapat menghayati atma, kemudian ia dapat mencapai tingkat nirwana. Inilah perbedaan utama antara manusia dan binatang."

"Manusia mempunyai kemampuan dan juga kekuasaan untuk menaklukkan maya. Jika manusia mau berusaha dan bersusah payah, ia akan dapat langsung menghayati atma. Dengan bantuan latihan rohani ia dapat mencapai nirwana. Kalian binatang tidak memiliki kemampuan itu." Maharesi melanjutkan, "Anak-anakku, dalam bahasa Inggris bangsa manusia dinamakan umat manusia, memakai kata m-a-n. Dalam bahasa Sanskerta juga digunakan kata manawa. Arti yang lebih mendalam kata m-a-n adalah bahwa manusia dapat memisahkan dan menghilangkan khayalan (m)aya; manusia dapat memperoleh penampakan (a)tma, dan mengalami kebijaksanaan serta kebahagiaan dalam keadaan yang disebut (n)irwana. Itulah arti kata m-a-n. M berarti memusnahkan maya. A berarti melihat atma, dan N artinya mencapai nirwana. Mencapai nirwana artinya manusia manunggal dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Jadi, manusia sejati adalah orang yang telah melenyapkan ketidaktahuan maya, orang yang telah menghayati atma, dan telah manunggal dengan kebahagiaan yang tertinggi.

Sesudah Resi selesai bicara, semua binatang menundukkan kepala mengakui bahwa ketiga hal tersebut tidak dapat mereka capai. Lalu timbul pertanyaan, "Apakah semua manusia sudah berhasil mencapainya?" Jawabnya, "Tidak!" "Hanya beberapa." Orang yang sama sekali tidak berusaha ke arah itu, sama saja dengan kita dan sama sekali tidak ada alasan untuk membedakan mereka dari binatang," demikian keputusan mereka. Maharesi setuju. Ia berkata, "Walaupun manusia mempunyai kemampuan yang hebat untuk mencapai kebijaksanaan dan kebahagiaan, mereka belum mengembangkan dirinya ke arah itu, karena itu mereka belum dapat memperoleh kebahagiaan dalam hidup mereka."

Kemudian sebagai pernyataan pribadi presiden menjelaskan mengapa ia tinggal di hutan. Ia berkata, Manusia kurang memperhatikan sifat-sifat yang mulia ini. Binatang hanya mengganggu mereka yang menganggunya. Kalau tidak, binatang hidup damai. Tetapi manusia menyakiti orang dan makhluk lain yang tidak menyakiti dia sama sekali. Tanpa alasan ia menyalahkan orang lain dan menimbulkan kesulitan, mencelakakan orang yang tidak bersalah dan orang yang tidak pernah menganggunya. Manusia juga melakukan berbagai pekerjaan yang tidak benar, yang tidak patut dan tidak berhak ia lakukan." Maharesi mengakhiri pembicaraannya, "Karena alasan-alasan ini para resi meninggalkan pergaulan dengan manusia dan tinggal di hutan. Manusia makin mementingkan diri sendiri, apa pun yang dikatakannya, apa pun yang dilakukannya, apa pun yang dipikirkannya, penuh dengan sifat mementingkan diri sendiri. Binatang tidak mementingkan diri seperti itu. Binatang tidak mencelakakan binatang lain dan tidak menumpuk kekayaan. Karena itu dalam banyak hal manusia berperilaku lebih jahat daripada binatang."

Dalam hubungan inilah Krishna berkata, "Arjuna! Jadilah manusia sejati, bukan manusia yang lebih jahat daripada binatang. Bangkitlah, tinggalkan sifat kebinatanganmu dan capailah sifat kemanusiaanmu yang sejati. Ada dua sifat kebinatangan yang harus engkau buang jauh-jauh. Engkau bukan domba yang penakut dan pengecut, juga engkau bukan macan yang selalu kejam terhadap yang lain. Engkau manusia. Engkau pantas mencapai hal-hal yang lebih tinggi. Jangan takut. Jangan biarkan dirimu diliputi rasa takut!" Arjuna lalu menangkupkan tangan seraya berkata, "Ya Tuhan, saya akan melaksanakan perintah itu."

Manusia memiliki kemampuan yang tidak terbatas dalam dirinya. Walaupun demikian, ia tidak percaya pada dirinya sendiri. Mengapa demikian? Itu dikarenakan ia merasa terpisah dan ia percaya bahwa ia berbeda dengan prinsip ketuhanan yang sesungguhnya selalu ada dalam dirinya sebagai hakikat dirinya. Prinsip ketuhanan ini juga meliputi seluruh alam semesta. Bila engkau menumbuhkan keyakinan yang teguh kepada Tuhan, engkau tidak akan mempunyai rasa takut sama sekali; engkau akan menyadari bahwa Tuhan yang engkau puja adalah Tuhan yang ada di mana-mana, dalam setiap manusia, dalam segala sesuatu, dan juga dalam dirimu. Keyakinan ini akan menghapuskan rasa takut pada dirimu. Tetapi bila engkau tidak mempunyai keyakinan itu engkau akan diliputi oleh rasa takut. Setiap saat, setiap langkah, engkau akan ketakutan. Engkau takut menghadapi ujian. Engkau takut naik pesawat terbang. Engkau takut kalau ada kendaraan datang dari arah yang berlawanan. Sejak bangun tidur sampai engkau akan tidur lagi, engkau merasa takut. Bahkan di tempat tidur pun engkau takut kalau-kalau ada pencuri yang masuk rumah dan mengambil barang-barangmu. Engkau melewatkan seluruh waktumu dalam ketakutan. Ini tidak benar. Engkau harus menghilangkan rasa takut.

Keyakinan pada kemaha-adaan Tuhan adalah kunci untuk memupuk keberanian. Hanya bila engkau kehilangan kepercayaan, rasa takut akan berkembang; hanya bila engkau melupakan dirimu yang sejati, timbul rasa takut. Engkau telah melupakan sifatmu yang sejati; engkau melupakan atma. Engkau menganggap dirimu tubuh kecil yang tingginya 150 cm ini, tetapi sesungguhnya wujudmu tidak terhingga dan kekuasaanmu tidak terbatas. Bila engkau berusaha menghilangkan khayalan itu dan mendapatkan penghayatan atma, engkau mencapai nirwana, maka engkau dapat menamakan dirimu manusia sejati. Jika engkau tidak berusaha sama sekali ke arah itu, engkau bukan manusia (Inggris-man), melainkan nam, hanya namanya manusia. Bila seseorang memiliki rasa percaya diri, dengan kata lain, bila ia menyadari dirinya yang sejati, ia dinamakan sakshara. Orang yang demikian itu menguasai nafsunya; itulah makna sakshara. Sakshara terdiri dari tiga suku kata Sanskerta sa-ksha-ra. Sebagai kebalikan jiwa mulia semacam itu, ada orang yang tidak dapat menguasai nafsunya; ia adalah ra-ksha-sa, dengan kata lain iblis atau rakshasa.

Bila engkau membaca kata itu dari depan dan dari belakang, engkau akan melihat dua jenis manusia yang berbeda, orang yang diliputi shanti 'kedamaian' dan orang yang tidak mempunyai apa-apa kecuali ashanti 'kekacauan', orang yang benar-benar dapat menamakan (man) dan orang yang palsu, hanya namanya manusia. Karena itu engkau harus mengatur hidupmu agar engkau dapat menyebut dirimu benar-benar manusia dan hidup sesuai dengan ideal yang mulia yang menyertai anugerah besar ini, yaitu karena engkau telah dikaruniai kelahiran suci sebagai manusia.

Salah satu nama yang diberikan oleh Krishna kepada Arjuna ialah Kurunandana, artinya 'orang yang senang bekerja'. Kebanyakan dari kalian bila diberi pekerjaan merasa lekas bosan. Jika hari minggu tiba dan engkau libur sehari, engkau gembira. Tetapi jika Arjuna sehari tidak bekerja, ia sangat tidak senang. Arjuna selalu merasa bahagia bila bekerja. Ia dinamakan Kurunandana karena ia senang sekali bekerja. Nama-nama yang diberikan oleh Krishna kepada Arjuna dalam Gita ada kaitannya dengan berbagai sifat mulia dan kebaikan. Engkau akan dapat memahami sifat Tuhan bila setiap engkau menerapkan satu kebajikan dalam hidupmu.

Kesadaran, ketabahan, belas kasihan, dan tanpa kekerasan adalah sifat baik yang dibicarakan dalam percakapan-percakapan ini. Kini engkau juga telah mempelajari keberanian. Masih ada sejumlah sifat yang penting. Hanya bila engkau membina sifat-sifat ini dalam kegiatan sehari-hari, engkau akan mendapat karunia Tuhan. Tanpa mengembangkan sifat-sifat mulia ini, engkau tidak akan memperoleh tempat dalam persemayaman Tuhan, terlepas dari pendidikan, kedudukan, dan kekayaan yang kau miliki. Seseorang tidak diizinkan pergi ke negara lain tanpa paspor; begitu pula untuk mendapat rahmat Tuhan, sifat-sifat yang baik dianggap sebagai paspor. Engkau harus membina sifat-sifat ini. Sementara mengejar ilmu pengetahuan engkau juga harus membina kebiasaan yang baik dan waktu yang mulia. Tanpa itu semua, pendidikanmu akan sia-sia. Ilmu dan pengetahuan yang sekarang kau kejar hanya berguna untuk hidup di dunia yang fana; pengetahuan duniawi tidak akan mengantar engkau kepada Tuhan. Dewasa ini para sarjana telah mampu menyingkap banyak rahasia alam. Tetapi apakah mereka memperoleh ketenteraman batin? Apakah mereka memperoleh kebahagiaan dari mesin yang mereka buat? Kebahagiaan dan kedamaian tidak dapat diperoleh dari benda-benda itu. Kebahagiaan hanya dapat diperoleh dari Tuhan.

Kebahagiaan dan ketenteraman duniawi yang engkau peroleh hanya bersifat sementara dan tidak kekal. Engkau tidak mendapat kebahagiaan abadi dari padanya. Dalam Gita bab Sangkhya Yoga, kata sangkhya diartikan 'kebijaksanaan'. Sangkhya adalah prinsip yang membantu engkau untuk memahami ketuhanan Yang Maha Esa yang memenuhi segala sesuatu dan selalu ada di dekatmu. Bab Sangkhya luas sekali, di dalamnya ada 72 ayat. Tetapi engkau tidak akan dapat menghapuskan kesedihanmu hanya dengan mempelajari ayat-ayat itu dan dengan mengidungkannya setiap hari; cara itu tidak banyak manfaatnya. Engkau harus berusaha sungguh-sungguh untuk mengamalkan makna ayat-ayat itu dan menerapkannya terus menerus dalam hidupmu sehari-hari. Hanya bila engkau melaksanakannya dalam kehidupanmu sehari-hari dan menjadikannya bagian dari hidupmu, engkau akan mendapat karunia Tuhan dan manunggal dengan-Nya selama-lamanya.
 

bcak

IndoForum Newbie B
PERCAKAPAN 29

BILA ENGKAU MEMANDANG TUHAN, TUHAN AKAN MEMANDANG ENGKAU


Siapa yang mempunyai kesadaran penuh dan mengembangkan kemampuan wiwekanya, tidak akan mengalami penderitaan dan tidak akan dihinggapi rasa takut. Hanya orang yang mempunyai keterikatan kepada badan dan benda akan mengalami rasa takut dan penderitaan. Karena itu, Krishna menyuruh Arjuna mengembangkan pandangan yang menyeluruh.
Pandangan yang menyeluruh ini diistilahkan dengan kata Sudarshana yang juga berarti 'pandangan yang baik'. Dewasa ini manusia mempunyai tiga jenis pandangan. Yang pertama adalah pandangan yang berorientasi lahiriah. Pandangan ini dangkal; orang semacam itu hanya melihat penampilan luar orang lain seperti pakaian dan perhiasan yang dipakai, roman muka, ukuran tubuh dan ciri-cirinya, kekhasan suara, dan sebagainya. Pandangan ini semata-mata berorientasi pada dunia yang kasat mata.

Pandangan yang kedua adalah pandangan batin. Pandangan ini tidak melihat ciri-ciri luar orang lain. Orang mempunyai pandangan ini melihat tingkah laku orang lain dari pencerminan sikap, tabiat, tindak tanduk, dan ekspresinya. Karena itu orang ini orang yang mempunyai pandangan batin berusaha mengetahui perasaan yang timbul dari hati seseorang dan buah pikirannya, sebagaimana tercermin dari apa yang dikatakan dan dilakukannya. Dengan kata lain, orang yang berorientasikan batin melihat gejala lahirlah yang mencerminkan keadaan batin. Sikap orang yang berpandangan demikian yaitu ia selalu berbicara dan bertindak menurut perasaan dan pikirannya.

Pandangan yang ketiga adalah pandangan atma. Orang yang mempunyai pandangan atma tidak membatasi persepsinya hanya pada penampilan lahirlah orang lain atau pada perasaannya seperti yang tercermin dari perbuatan dan ekspresinya, namun orang tipe yang ketiga ini telah mengembangkan pandangan yang terpadu. Ia melihat kemanunggalan batin, kesadaran Tuhan yang ada pada setiap manusia. Walaupun ada perbedaan fisik dan perbedaan tingkah laku. Ia menyadari bahwa perasaan, pikiran, dan ciri-ciri tingkah laku semuanya mengalami perubahan dan pergantian. Karena itu orang dengan pandangan atma tidak tertarik atau merasa senang atau tidak senang pada wujud fisik atau ekspresi orang lain. Pandangannya terpusat sepenuhnya kepada Tuhan sebagai penghuni (tubuh). Ini merupakan pandangan yang suci.

Orang yang mempunyai presepsi yang utuh seperti itu menjadi alat Tuhan. Bukan saja ia menjadi alat Tuhan, tetapi sesungguhnya ia merupakan Tuhan sendiri. Kata Upanishad, orang yang menyadari Brahman menjadi Brahman. Karena itu, orang yang mempunyai pandangan demikian suci mempunyai sifat ketuhanan. Manusia akan menjadi seperti apa yang dilihat atau dibayangkannya. Untuk menjadi seorang stithaprajna, orang yang mempunyai kebijaksanaan tertinggi, engkau harus mengembangkan pandangan yang terpadu atau sudarshana dan terus menerus merenungkan keesaan diri sejati yang berada dalam segala keanekaragaman lahiriah. Karena itu Krishna memerintah Arjuna agar selalu mengarahkan pandangannya kepada atma dan memegang teguh pandangan yang utuh itu dalam keadaan apa pun.

Menurut tradisi kuno di India ada suatu upacara kereta yang diselenggarakan oleh semua tempat ibadat di desa dan di kota. Dalam upacara itu patung perwujudan Tuhan yang ada di tempat ibadat diarak. Mula-mula dibuat sebuah kereta yang besar untuk tujuan ini dan dihiasi seindah-indahnya. Di dalamnya disediakan tempat duduk yang bagus untuk patung Tuhan itu. Pada hari rayanya, patung perwujudan Tuhan itu dipindah ke dalam kereta dengan upacara dan doa yang sesuai. Kemudian kereta di arah dengan meriah di jalan raya dan ditarik oleh umat dengan didahului oleh tari-tarian, musik, dan nyanyian. Sepanjang jalan orang-orang mempersembahkan hormat bhakti kepada Tuhan dengan menyalakan lampu-lampu suci dan melakukan aarati.

Ribuan orang datang dari kampung-kampung sekitarnya untuk menyaksikan arak-arakan kereta ini. Mereka terdiri dari tiga jenis manusia. Yang pertama yang jumlahnya terbanyak, memusatkan seluruh perhatian mereka pada kereta dan keindahannya. Yang kedua adalah orang-orang yang terutama memperlihatkan ekspresi dan tingkah laku para peserta, penarik kereta, para pendeta, dan para penari. Kelompok yang ketiga merupakan jumlah yang terkecil, adalah mereka yang mengetahui tujuan upacara itu. Hanya kelompok kecil itu yang melihat prinsip ketuhanan yang ada pada patung-patung di kereta. Tentu tujuan upacara ini adalah menyemayamkan patung Tuhan. Tanpa ada patung Tuhan dalam kereta, upacara itu tidak akan berarti apa-apa. Patung itu mewakili sang penghuni, yaitu Tuhan sendiri. Namun tidak banyak orang yang memusatkan seluruh perhatiannya pada ketuhanan itu.

Kebanyakan hanya melihat bagian luar kendaraan, hiasannya, dan hal-hal lain seperti pakaian patung, pakaian penari serta pemain musik, kejenakaan mereka, dan segala bunyi-bunyian serta warna-warni yang memeriahkan upacara. Sebagian terbesar pengunjung hanya melihat yang ada di luar. Tetapi ada pula yang memperlihatkan segi ritualnya dan sajian yang dipersembahkan seperti pemecahan kelapa, lampu, dupa, dan rasa bakti yang tercurah pada upacara itu. Jumlah orang yang mempunyai pandangan dan minat seperti itu jauh lebih kecil daripada mereka yang terutama memperhatikan dekorasi kendaraan, tari-tarian, drama, serta segala perlengkapan dan hiasan yang berhubungan dengan perayaan itu.

Tetapi patung perwujudan Tuhan yang dipasang dalam kereta, yang mengendarai kereta, dan yang menghuni kereta, hanya dapat dilihat oleh segelintir manusia yang penuh bakti, yang mendambakan penampakan suci Tuhan. Dalam keramaian orang yang datang berbondong-bondong untuk menyaksikan perayaan ini, orang yang seperti dikatakan tadi dapat dihitung dengan jari satu tangan. Bagi mereka segala hiasan luar, segala bunyi-bunyian dan hiruk-pikuk arak-arakan merupakan penghambat untuk mendapatkan penglihatan wujud Tuhan yang patungnya berada dalam kereta.

Apakah makna yang lebih mendalam mengenai kereta ini? Berapakah jumlah kereta semacam itu? Kereta yang dibicarakan di sini adalah badan manusia. Jadi tidak hanya satu kereta, melainkan berjuta-juta. Setiap hari kereta ini berkeliling di jalanan melewati rumah-rumah dengan membawa pengendaranya dalam perjalanannya itu. Selama ini engkau mengembangkan pandangan sedemikian rupa sehingga engkau hanya melihat tubuh dan roman muka yang mengungkapkan berbagai keadaan emosi. Engkau belum belajar mengembangkan penglihatan batin, suatu pandangan yang melihat penghuni dalam kereta badan ini serta mengetahui siapa dia sebenarnya. Jarang sekali orang yang berusaha memandang lebih jauh ke dalam, melampaui lapisan luar dan aspek fisiknya, dan lebih dalam daripada emosi serta sifat mental seseorang, untuk mencoba menemukan prinsip atma yang suci yang ada dalam diri manusia.

Badan manusia bukanlah merupakan kereta satu-satunya. Badan binatang seperti anjing, harimau, atau gajah juga kereta. Sesungguhnya tubuh setiap makhluk adalah kereta. Umpamanya, Shiwa digambarkan menunggang Nandi, lebih jantan. Lembu jantan itu kendaraan Shiwa. Namun bila engkau melihat lembu jantan engkau tidak membayangkan Shiwa, tetapi Beliau ada di sana. Bila engkau melihat tikus, engkau tidak memikirkan Ganesha, tetapi Ganesha juga ada di sana mengendarai tikus. Tikus adalah kendaraan Ganesha, maka tikus juga merupakan kereta tempat Tuhan duduk bersemayam. Begitu pula singa, gagak, anjing, ular, elang, dan binatang serta burung lainnya digunakan sebagai kendaraan bagi aspek Tuhan yang berlainan. Sebenarnya setiap makhluk hidup adalah kereta yang membawa Tuhan dalam arak-arakan. Sekarang ini engkau hanya melihat keretanya. Engkau memusatkan seluruh perhatianmu pada hiasan luar. Dalam zaman ini seluruh waktumu habis untuk menghias kereta dan memikirkan kenyamanan serta kenikmatan jasmani. Akibatnya engkau hanya memperhatikan perbedaan-perbedaan yang tampak dan tidak berusaha melihat penghuni di dalamnya.

"Karena itu, Arjuna," kata Krishna, "Ketahuilah bahwa semua orang yang engkau risaukan ini hanyalah kereta belaka. Apakah ia kakek, saudara, sepupu, atau siapa saja, mereka itu hanya kereta. Sesungguhnya engkau hanya melihat berbagai kereta dalam bentuk sanak keluarga. Pandanganmu tertutup dan hanya melihat badan jasmani, tetapi orang suci seperti engkau tidak boleh terpaku pada penampilan luar. Engkau harus memusatkan pikiran pada penghuni yang ada dalam diri setiap manusia. Hanya dengan demikianlah pandanganmu akan menjadi suci. Pandangan suci itulah yang melandasi kejayaanmu. Hanya orang yang memiliki pandangan suci dapat mencapai sukses besar. Arjuna, orang menilai bayangan sama dengan bendanya sendiri; mereka menilai pantulan sama dengan benda yang dipantulkan. Itu tidak benar. Objek yang tidak berubah dan suci adalah atma. Nilainya tidak terhingga dan tidak dapat diukur, sedangkan kesemarakan luar semua tubuh ini, dan segala pikiran, perasaan, serta tingkah laku yang diperlihatkan oleh tubuh-tubuh ini hanya bayangan belaka. Semua itu hanya bayangan, tidak berisi dan tidak kekal."

Bila Arjuna menilai bayangan begitu tinggi, maka ia bertindak sangat bodoh. Tetapi sesungguhnya Arjuna bukan orang yang bodoh. Dalam bab kedua Bhagawad Gita Krishna menamakan Arjuna seorang Kripanah. Arti umum kata Kripanah ini adalah orang yang miskin dan sengsara. Tetapi kata-kata ini tidak dapat dipakai untuk melukiskan Arjuna. Sudah tentu Arjuna tidak miskin, juga tidak sengsara dalam arti keduniawian. Dalam hal kekayaan duniawi, ia telah memiliki kekayaan yang berlimpah-limpah; ia tidak pernah kekurangan apa pun juga. Arti lain kata kripanah ialah kikir. Tetapi sebagaimana telah dijelaskan oleh Swami sebelumnya, arti ini juga tidak melukiskan Arjuna. Arjuna tidak kikir, bahkan ia meninggalkan segala harta benda yang dimilikinya. Ia berkata kepada Krishna, "Aku tidak menginginkan kerajaan ini. Walaupun seluruh alam ini ditawarkan kepadaku, tidak akan aku terima. Lebih baik aku meminta-minta untuk hidup, daripada membunuh orang-orang ini. Arjuna telah mencapai tingkat penyangkalan diri seperti itu. Maka kata kikir sama sekali tidak mengena untuk melukiskan sifat Arjuna.

Lalu apa arti kripanah yang sebenarnya bila digunakan untuk menggambarkan Arjuna? Kripanah berarti tidak mampu menilai, tidak bisa membedakan mana yang sejati dan mana yang tidak sejati. Seperti yang telah Swami katakan sebelum ini, kripanah dalam hal ini artinya ketidaktahuan. Arjuna menunjukkan ketidaktahuan. Tetapi bukan ketidaktahuan dalam keduniawian, melainkan ketidaktahuan dalam spiritual. Arjuna belum mengembangkan penglihatan batinnya. Untuk menyelamatkannya dari kesalahpahaman dan kebingungan yang pasti timbul bila tidak memiliki penglihatan batin, Krishna mengajarkan kepada Arjuna ilmu suci tentang atma dan memberitahukan latihan rohani yang haru dilakukannya agar dapat mencapai kebijaksanaan tertinggi ini.

Sebelum seorang petani dapat menanam tanaman di ladangnya, ia harus mengadakan berbagai persiapan. Sebelum bibit ditanam, tanah harus dibersihkan dari semak belukar, batu-batu dibuang, dan rerumputan dicabut, kemudian dibajak dan dialiri agar tanah menjadi gembur. Sang petani harus menentukan bibit apa yang cocok untuk ditanam serta pupuk apa yang bagus untuk menyuburkan tanah. Setelah semuanya dipersiapkan, akhirnya bibit ditanam. Karena itu, sebelum menanam, seluruh lahan harus dipersiapkan. Batu-batu dan rumput harus dibuang. Barulah bibit yang baik dapat ditanam agar menghasilkan panen yang baik. Begitu pula seorang pencinta kerohanian harus terlebih dahulu mempersiapkan ladang pertanian.

Pertama-tama ia harus menghilangkan semua pikiran buruk dan kebiasaan yang tidak berguna. Segala yang tidak baik harus digali keluar dan dibersihkan. Sesudah itu engkau harus mengairi ladang hatimu dengan air cinta kasih; air cinta kasih ini menjadikan hatimu lembut dan siap ditanami. Dengan bantuan latihan rohani, atau dengan kata lain, dengan sadhana, engkau harus membajak ladang hatimu dan memupuknya dengan iman agar ladang menjadi subur dan banyak mengandung zat-zat makanan bagi bibit tanaman yang akan tumbuh di ladang itu. Hanya bila semuanya ini telah dilakukan maka ladang hati siap ditanami. Bila hati dipenuhi oleh rumput-rumput pikiran yang rendah, kalau tanahnya gersang, keras, kering, dan kurang subur, bagaimana mungkin bibit yang baik dapat tumbuh di ladang itu dan berkembang subur sehingga menghasilkan panen yang melimpah?

Dalam kaitan inilah Krishna berkata kepada Arjuna, "Arjuna, engkau harus mengusahakan dan mengubah ladang hatimu. Engkau harus menghilangkan pandangan lahiriah. Tingkatkan aliran kasih kepada Tuhan, suci dan kokoh. Tanamlah benih nama Tuhan di hatimu maka engkau akan memperoleh panen melimpah kesadaran kemanunggalan karena tanaman itulah yang tumbuh paling baik di ladang hatimu; itu telah menjadi sifatnya. Dengan demikian engkau akan menjadi seorang stithaprajna, orang yang memiliki pengetahuan yang kokoh, dan engkau akan mencapai tujuan spiritualmu. Dalam taman hatimu itu engkau akan dapat menikmati buah moksa yang suci; saat itulah engkau tidak pernah mengalami rasa takut lagi.

Bila engkau mempunyai keyakinan yang kokoh dan pandangan yang menyeluruh, dan bila engkau memikirkan prinsip ketuhanan yang ada dalam dirimu, engkau tidak akan mabuk oleh kesenangan atau berkecil hati karena duka; maka dalam kondisi itulah engkau tidak akan mempunyai rasa takut atau abhaya. Bhaya artinya 'takut'; abhaya artinya 'tidak takut'. Ada kata lain, nirbhaya, yang artinya 'tidak ada rasa takut'. Walaupun kelihatannya sama, tetapi kedua kata itu mempunyai arti yang sangat berbeda. Nirbhaya adalah menghilangkan rasa takut. Sebagai contoh, jika engkau melihat tali melingkar di tanah waktu gelap. Meskipun barang itu hanya tali, dalam keadaan tidak begitu terang engkau menyangkanya ular. Karena takut ular itu akan menggigit engkau, engkau menyalakan lampu senter agar dapat melihat lebih jelas, juga agar mengetahui apakah ular itu ular berbisa. Tetapi begitu cahaya bersinar, engkau melihat yang sebenarnya, engkau tahu bahwa itu bukan ular, hanya seutas tali, maka rasa takutmu lenyap sama sekali. Merasa takut dan kemudian tidak merasa takut, keduanya hanya pengalaman sementara, datang dan pergi.

Rasa takut hanya merupakan khayal yang diciptakan oleh pikiran; tidak ada rasa takut juga khayal yang diciptakan oleh pikiran. Salah lihat menimbulkan rasa takut; menyadari kesalahan dan memperbaikinya akan menghilangkan rasa takut. Dua kata ini, bhaya dan nirbhaya, dihubungkan dengan rasa takut dan lenyapnya rasa takut. Sedangkan abhaya sama sekali tidak ada hubungannya dengan kedua pengertian itu. Abhaya berarti berani; suatu keadaan yang tidak berubah, tidak pernah mengalami rasa takut. Seseorang yang abhaya tidak pernah mengalami rasa takut. Seseorang yang abhaya selalu sadar akan kesejatiannya; bagi orang seperti itu tidak mungkin ada rasa takut. Engkau tidak boleh menganggap sifat abhaya itu hanya sebagai tidak adanya rasa takut. Dalam keadaan tak kenal takut itu, orang yang bersangkutan tidak menyadari adanya eksistensi yang lain. Orang merasa takut hanya kalau ada eksistensi yang lain, tetapi bagi seorang yang memiliki abhaya, sama sekali tidak ada eksistensi yang kedua. Karena itu, keberanian dihubungkan dengan kesadaran yang menyatu, yaitu adwaita, tidak ada dua, melainkan selalu hanya satu. Hanya bila engkau berada dalam tingkat adwaita seperti itu engkau akan sungguh-sungguh berani.

Bila engkau melupakan dirimu yang sejati, jika engkau melupakan atma, engkau akan menderita rasa takut. Bila engkau hanya mengingat dunia dan bukan Tuhan, engkau akan menderita ketakutan. Bila engkau dipenuhi keinginan, nafsu, dan keterikatan, engkau akan menderita ketakutan. Sebaliknya, jika engkau selalu asyik merenungkan kenyataan adikodrati ini, engkau akan bebas sepenuhnya dari rasa takut; engkau tidak akan takut kepada apa pun. Maka engkau akan selalu dalam keadaan abhaya, tanpa rasa takut. Krishna berkat, "Arjuna, hanya ada satu hal yang harus engkau pupuk. Engkau tidak perlu meningkatkan pandanganmu terhadap dunia yang fana; engkau tidak perlu terus mengembangkan pikiranmu. Engkau hanya perlu mengembangkan pandangan kepada Yang Maha Esa yang ada di mana-mana dalam setiap makhluk. Jika engkau mengetahui hal itu, dan jika engkau mengingatnya, maka engkau tidak akan terkena siklus yang tiada putusnya antara takut dan menghilangkan rasa takut, antara bhaya dan nirbhaya. Selama engkau masih mempunyai pandang yang keliru bahwa dunia ini nyata dan terdiri dari berbagai objek yang terpisah-pisah, pandanganmu akan teselubung dan engkau akan merasa takut. Tetapi bila engkau menyadari kebenaran keesaan seluruh ciptaan, engkau akan bersifat abhaya, selama-lamanya tidak kenal takut. Seorang seperti engkau harus bijaksana, harus menjadi stithaprajna dan tidak lagi mengalami rasa takut.

Engkau harus mengendalikan kecenderunganmu untuk melihat aspek luar. Yaitu badan dan tingkah lakunya, dan aspek pikiran dengan buah pikiran serta perasaannya, sebaliknya engkau harus mengembangkan pandangan ke dalam batin, kepada atma yang suci. Inilah pandangan yang baik, pandangan yang menyeluruh, yaitu sudarshana. Ada contoh yang baik mengenai hal ini dalam kitab Srimad Bhagawatham, yaitu cerita seekor gajah yang digigit buaya. Gajah ini = , Gajendra, mempunyai rasa keakuan yang besar dan ia yakin bahwa karena tenaganya sangat kuat, ia akan dapat melawan dan membebaskan dirinya dari gigitan buaya itu tetapi, di sini ada dua kenyataan yang harus diketahui; gajah sangat perkasa di darat, buaya sangat perkasa di air. Bila dalam air, gajah tidak begitu perkasa, dan bila buaya di darat, ia pun tidak begitu perkasa seperti di dalam air, tempat tinggalnya yang alami. Dalam hal ini karena buaya ada dalam air, ia dapat menggunakan segenap kemampuannya. Namun sang gajah Gajendra sangat sombong; ia mabuk karena keakuannya dapat menganggap tidak ada seekor buaya pun yang dapat menandingi gajah, si raja hutan. Ia tidak tahu bahwa dalam air buaya tidak dapat dilawan oleh gajah yang jauh dari daratan.

Lama sekali kedua binatang itu bergulat tanpa kenal lelah; akhirnya gajah merasa letih, kehabisan tenaga dan semangat. Selama itu ia merasa yakin sepenuhnya akan kemampuan fisik dan mentalnya, tetapi setelah kehabisan semuanya, ia mulai berdoa kepada Tuhan. Selama pandangannya diarahkan kepada badan, ia tidak memandang ke arah Tuhan. Selama ia yakin akan kemampuan fisik dan mentalnya, pikiran tentang Tuhan tidak muncul dan rahmat Tuhan tidak tercurah. Ketika gajah itu kehabisan tenaga serta semangat dan memohon pertolongan Tuhan, segera Wishnu mengirim senjata sudarshana-Nya dan membebaskannya dari malapetaka yang tengah mengancam. Sudarshana yang dibicarakan di sini tidak berarti cakra yang dipakai Wishnu sebagai senjata Beliau; sudarshana berarti penampakan yang suci. Bila engkau mengarahkan pandanganmu kepada Tuhan, Tuhan akan mengarahkan pandangannya kepadamu. Sudarhsana berarti memohon rahmat dan pandangan Tuhan bagimu. Kapankah engkau akan mendapat penampakan Tuhan serta dilimpahi dengan rahmat-Nya? Bila engkau meninggalkan segala keyakinan yang egosentris pada kekuatan fisik serta mentalmu, lalu seperti yang dilakukan oleh gajah Gajendra, menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan, memohon perlindungan-Nya dan mengalihkan pandanganmu sepenuhnya kepada-Nya.

Hanya bila engkau mengarahkan pandanganmu kepada Swami maka Swami akan mengarahkan pandangan-Nya kepadamu. Walaupun pandangan Swami jatuh kepadamu, jika pada waktu itu pandanganmu tidak terarah kepada Swami, engkau tidak akan mengalami pandangan-Nya yang penuh kasih. Sekarang ini seluruh pandanganmu terpusat pada aspek badan. Kecemerlangan sinar matahari mungkin ada di sekitarmu, tetapi sinarnya tidak masuk ke dalam kamarmu. Mengapa demikian? Engkau memasang gorden dan penutup jendelalah yang menahan sinar matahari. Hanya bela engkau membuka gorden dan penutup itu cahaya matahari akan masuk ke ruangan. Begitu pula engkau telah menutupi pandanganmu dengan kebimbangan, keakuan, dan gorden tebal kesadaran badan, karena itu sinar rahmat tidak dapat menembus dan masuk ke dalam hatimu. Mungkin engkau akan berkata, "Aku tidak memperoleh rahmat Tuhan." Bagaimana mungkin engkau mendapat rahmat-Nya jika engkau tidak mengarahkan pandanganmu kepada-Nya?

Ada suatu kejadian kecil beberapa hari yang lalu. Ada seorang tua meninggal dalam suatu rumah tangga. Istri dan anak-anaknya sangat sedih. Mereka berdoa dan mengatakan, "Ya Tuhan, mengapa Engkau begitu kejam? Mengapa Engkau sedikit sekali melimpahkan rahmat-Mu kepada kami? Mengapa Engkau melupakan kami? Swami, karena Engkau tidak memberkati kami maka malapetaka ini menimpa diri kami." Tiba-tiba terdengar suara ajaib, "Mengapa engkau melupakan Aku? Engkau berkata Tuhan telah melupakan engkau, tetapi apakah engkau ingat kepada-Ku? Engkau berkata pandangan Tuhan tidak jatuh kepadamu, tetapi apakah engkau mengarahkan pandanganmu kepada-Ku?"

Jika engkau tidak memandang Tuhan, sudah tentu engkau tidak dapat melihat Tuhan. Jika Aku berdiri tepat di depanmu dan engkau berdiri tepat di depan-Ku dan kita saling memandang, apa yang akan kita lihat? Siapa yang akan engkau lihat dalam mata-Ku dan siapa yang akan Aku lihat dalam matamu? Kita saling melihat dalam mata masing-masing. Jika kita berdiri berhadap-hadapan, Aku melihat diri-Ku dalam matamu, dan engkau melihat dirimu dalam mata-Ku. Tetapi jika engkau berdiri di belakang-Ku, bagaimana dapat Aku melihat diri-Ku dalam matamu, atau engkau melihat dirimu dalam mata-Ku? Itu tidak mungkin. Karena itu berdirilah tepat di depan-Ku dan pusatkan pandanganmu kepada-Ku. Ketika pandangan Gajendra diarahkan kepada Tuhan, pandangan Tuhan bertemu dengan pandangannya karena pada waktu itu penglihatan Tuhan terarah kepadanya. Kalau hal itu terjadi, dengan sendirinya segala masalah teratasi.

Siapakah gajah ini? Gajah ini adalah kecongkakan dan kebanggaan. Bila manusia diliputi kecongkakan dan kebanggaan maka akan tumbuh keinginan. Keinginan dapat diibaratkan sebagai rasa haus. Kalau orang congkak ini merasa haus, ia mencari air keduniawian untuk di minum; ia memasuki samsara. Bahkan sebelum ia mendapatkan air itu, ia diterkam oleh keterikatan. Keterikatan dan rasa kemilikan adalah ibarat buaya yang menghabiskan tenagamu dan menyebabkan engkau bersedih hati. Sebelum memasuki air samsara, sebelum dibelenggu oleh berbagai keterikatan, engkau jarang sedih. Umpamanya, sebelum kawin seorang pemuda merasa bebas dan tidak punya beban. Tetapi setelah menikah, keterikatan datang bertubi-tubi. Ia harus mengurus istri, anak-anak, orang tua, mertua, dan sanak keluarga yang lain; segera ia merasa seolah-olah seluruh dunia menerkam dan menyeretnya ke dalam air.

Bila engkau memiliki keakuan dan kecongkakan, keinginan dan nafsu akan timbul; segera hal ini disusul oleh keterikatan, dan dari keterikatan ini timbul segala ikatan lainnya. Dengan keterikatan ini engkau akan kebingungan dan kacau sehingga engkau tidak dapat mengarahkan dirimu kepada Tuhan dan tidak dapat melihat-Nya. Hanya bila engkau mengarahkan pandangan kepada Tuhan, engkau akan dapat melihat-Nya. "Karena itu, Arjuna." Krishna berkata, "Janganlah membiarkan dirimu menjadi korban keterikatan ini. Jernihkan dan sucikan pikiranmu, senantiasa arahkan pandanganmu kepada atma, prinsip yang universal, Tuhan Yang Maha Esa yang ada dalam segala sesuatu. Pupuklah pandangan batin ini dalam dirimu. Jangan kau biarkan rerumputan dan semak-semak, yaitu keakuan dan kesadaran badan, tumbuh dalam hatimu. Melainkan tanamlah pohon rahmat Tuhan dalam hatimu. Arahkan pandanganmu kepada Tuhan. Jadikanlah ini tujuan dan sasaranmu."
 

bcak

IndoForum Newbie B
PERCAKAPAN 30

AGAR BEBAS, SERAHKANLAH SELURUH PIKIRANMU KEPADA TUHAN


Setelah alam adalah perwujudan ketiga guna. Selama ketiga guna itu masih bercokol di dalam hatimu dan meliputi pikiranmu, engkau akan tetap berada dalam keterikatan. Dari ketiga guna itu, rajas dan tamaslah yang menyebabkan segala penderitaan, kesedihan, kesulitan, serta masalah yang engkau alami. Bila rasa takut, kegusaran, kemalasan, kelembaman, dan rasa kantuk yang tampak, maka engkau dikuasai oleh kekuatan tamo guna. Bila rajo guna yang berpengaruh, sifat kemanusiaanmu yang sejati terlupakan; rajo guna menimbulkan sifat kebinatangan dan sifat iblis. Seorang petani yang ingin mendapat panen yang baik harus mulai membersihkan rumput-rumputan dari ladangnya. Selama rerumputan menutupi ladang, menghabiskan zat makanan dan energi tanah, tanaman tidak bisa hidup. Karena itu, menghilangkan tumbuh-tumbuhan yang tidak berguna itu merupakan persyaratan penting untuk menanam tanaman yang baik. Begitu pula seorang abdi Tuhan yang ingin memperoleh penerangan batin, yang ingin menghayati kebahagiaan atma, harus membersihkan ladang hatinya dari segala perwujudan rajo guna dan tamo guna yang telah mengakar di ladang itu dalam bentuk hawa nafsu, kemarahan, keserakahan, kebencian, kedengkian, dan kecemburuan. Keenam musuh manusia ini adalah anak-anak rajas dan tamas. Engkau tidak akan dapat memetik kebahagiaan atma selama rumput-rumput itu masih ada dalam dirimu.

Bab pertama Bhagawad Gita dan tamo guna yang ada di hatinyalah yang menyebabkan kesedihannya itu. Karena ia memasukkan sifat-sifat itu dalam hatinya, ia mengalami kesedihan yang berat. Krishna mengajarkan kepada Arjuna bahwa pertama-tama ia harus mencabut tamo guna dan rajo guna sampai ke akar-akarnya dari hatinya. "Berikanlah ketiga guna itu kepada-Ku," kata Krishna, "Maka engkau akan terbebaskan dari rasa takut serta kesedihan, dan engkau akan dapat mencapai kemenangan di dunia."

Dengarlah cerita ini!
Jika engkau mengundang seorang yang agung seperti resi atau orang yang berilmu agar datang ke rumahmu, harus diadakan persiapan tertentu umpamanya membersihkan menghias rumahmu. Engkau harus membersihkan rumah di bagian luar dan dalam serta merapikan tempat sekitarnya sebelum tamu datang. Tamu agung tidak akan mau memasuki rumah yang penuh kotoran dan tidak suci. Demikian juga jika engkau mengundang gubernur atau menteri ke kampungmu, engkau membersihkan dan menghias jalan-jalan serta mempersiapkan segala-galanya untuk kedatangan tamu agung itu. Walaupun orang itu hanya memegang jabatan untuk sementara, engkau tetap dengan sungguh-sungguh membersihkan rumahmu dan membuat segala macam persiapan untuk menyambut tamu itu.

Jika engkau mengadakan usaha begitu hebat untuk menyambut tamu duniawi, lalu betapa jauh lebih besar usaha dan persiapan yang harus kau lakukan untuk mengundang Pencipta dan pelindung alam agar berkunjung ke rumahmu? Jelaslah, jika engkau mengundang Tuhan ke dalam hatimu, hatimu harus dibersihkan sebaik-baiknya. Hanya bila engkau menyucikan hatimu, Tuhan akan datang dengan senang hati. Krishna berkata, "Arjuna, sampai saat ini engkau hanya menganggap Aku sebagai kusir keretamu, tetapi engkau harus menjadikan Aku kusir hidupmu! Kursi yang Aku duduki di keretamu bersih dan sangat indah untuk tempat duduk-Ku di situ, jika Aku harus bersemayam di dalamnya sebagai kusir hidupmu." Jika engkau harus duduk di tanah di luar, pertama engkau akan memasang tikar, sehelai koran, atau saputangan, dan duduk untuk badanmu yang bersifat sementara dan tidak suci, betapa engkau harus berusaha mempersiapkan diri untuk mengundang Tuhan ke hatimu.

Selama kedua guna, rajas dan tamas, itu masih bercokol di hatimu maka hatimu tetap tidak suci. Kedua guna ini terus menerus mengotori hatimu. Selama hatimu kotor, Tuhan tidak akan masuk ke dalam hatimu; engkau tidak akan dapat menghayati kehadiran-Nya. Karena itu, pertama engkau harus menyingkirkan tamo guna dan setelah itu engkau harus membuang rajo guna. Maka satwa guna akan bersinar. Mulailah dari sekarang berusaha sekuat tenaga membersihkan setiap butir debu yang menumpuk di hatimu. Dengarlah cerita berikut ini.

Dewasa ini bila pria atau wanita mengadakan piknik, mereka membawa cermin, sisir, dan saputangan. Mengapa mereka membawa barang-barang ini? Dalam perjalanan kemungkinan besar rambut akan berantakan; untuk merapikannya engkau akan mengambil sisir. Untuk melihat apakah rambut sudah rapi, engkau lalu mengambil cermin. Dan untuk mengelap mukamu engkau mengambil saputangan. Jika engkau lupa membawa salah satu barang tersebut, penampilanmu tidak akan sempurna. Jadi cermin, sisir, dan saputangan perlu membersihkan wajahmu dan menjaga kerapian penampilanmu.

Begitu pula jika engkau ingin membenahi kecantikan hatimu, engkau harus membawa alat tertentu. Apakah rambutmu berantakan atau tidak dapat kau lihat di cermin. Apakah hatimu tidak karuan atau bersih, dapat dilihat dari pengabdianmu yang berfungsi sebagai cermin. Cermin ini harus bersih. Jika kacanya bersih engkau dapat melihat apakah hati dan pikiranmu bersih ataukah tertutup kotoran. Bila engkau tahu hatimu tidak benar, engkau harus memperbaikinya, dan untuk itu engkau memerlukan sisir, yaitu sisir pengetahuan kesunyataan. Pengetahuan kesunyataan dapat menjernihkan hatimu serta mengembalikannya dalam keadaan baik dan cantik. Maka seperti engkau menggunakan kain untuk membersihkan kotoran yang melekat pada wajahmu, engkau harus membuang debu yang masuk ke dalam hatimu dengan kain ketidakterikatan. Dengan kain ketidakterikatan engkau dapat membersihkan segala debu yang menumpuk dalam pikiranmu. Seperti engkau membawa ketiga barang tadi: cermin, sisir, dan saputangan, kemana pun engkau pergi dalam perjalanan duniawi, demikian pula dalam perjalanan hidup engkau harus membawa bakti, pengetahuan, dan ketidakterikatan untuk membersihkan hati dan pikiranmu.

Kita telah membicarakan tamo guna. Sekarang mari kita periksa ciri khas rajo guna. Seseorang yang memiliki sifat rajo guna selalu tergesa-gesa; ia tidak memiliki kesabaran dan ketabahan. Ia tidak bisa diam tenang barang sedetik pun, dan ia sering marah. Tidak hanya itu, ia juga mempunyai keinginan yang tidak terbatas. Itu semua ciri khas rajo guna. Hal ini jelas bila engkau menyaksikan binatang-binatang yang ada di kebun binatang. Apakah citah, harimau, atau serigala, mereka tidak pernah diam barang sedetik pun. Sebabnya adalah, binatang-binatang itu diliputi oleh sifat rajo guna yang berlebihan. Bila rajo guna masuk ke hati manusia, badan dan pikirannya tidak bisa tenang; ia akan selalu bergerak. Tidak hanya gelisah, tetapi ia juga terpedaya. Bila terpedaya, ia akan sangat mendambakan objek-objek duniawi. Karena nafsu dan keinginan ini timbul dalam hatinya, ia akan berusaha mendapatkannya. Maka jelaslah bahwa khayal, nafsu, dan karma adalah tiga sifat yang kuat yang menjadi ciri rajo guna.

Karena rajo guna itulah engkau terus menerus bergerak. Misalnya bila engkau duduk di suatu tempat, engkau tidak bisa tenang agak lama; salah satu bagian badanmu atau lainnya akan terus bergerak. Hal ini dapat dibandingkan dengan pohon pipal. Walaupun tidak ada angin, daun pohon itu akan selalu bergoyang. Begitu pula kuda. Kata kuda dalam bahasa Sansekerta berarti sesuatu yang tidak pernah diam. Bila engkau melihat kuda, kepalanya, ekornya, atau kakinya selalu bergerak. Karena itulah upacara korban suci zaman dahulu yang disebut ashwameda-yaga atau korban kuda, digambarkan sebagai cara untuk menenangkan pikiran.

Rawana, raja raksasa, adalah perwujudan rajo guna. Kumbakarna, raksasa yang tidur terus, adalah perwujudan tamo guna. Wibisana adalah perwujudan satwa guna; ia juga termasuk keluarga raksasa, tetapi ia mengabdi Sri Rama dan memilih untuk berpihak kepada yang bajik. Ketiga raksasa itu: Rawana, Kumbakarna, dan Wibisana, bersaudara. Jika engkau biarkan Rawana dan Kumbakarna memasuki hatimu, mereka akan menimbulkan celaka dan duka dengan tiada hentinya. Jika engkau ingin masuk ke dalam kerajaan moksa, engkau harus menyingkirkan ketiga-tiganya dari hatimu. Ketiganya termasuk satu keluarga dan ada suatu ikatan kekeluargaan diantara mereka. Itulah sebabnya wedanta mengajarkan bahwa engkau harus mengatasi ketiga guna itu dan menyerahkan kepada Shiwa yang akan mengawasi mereka dengan tiga mata-Nya dan menguasai mereka dengan senjatanya yang bermata tiga.

Apakah cara yang terbaik untuk menghilangkan ketiga guna itu? Jika suatu duri menusuk kakimu, tidak perlu engkau mengambil pisau yang besar, untuk mengeluarkan duri itu. Engkau harus mengambil duri yang lain untuk mengeluarkannya. Sesudah selesai, engkau buang kedua duri itu tanpa membeda-bedakannya. Demikian pula engkau harus menghilangkan tamo guna dengan rajo guna. Kemudian engkau harus menghilangkan rajo guna dengan satwa guna. Akhirnya engkau menghilangkan satwa guna itu juga. Sebelum engkau masuk dalam kerajaan kesadaran Tuhan, engkau harus membuang ketiga guna itu. Jika salah satu masih ada dalam dirimu, engkau akan selalu berada di luar kerajaan kebebasan. Itulah sebabnya Krishna menyuruh Arjuna melampaui ketiga guna itu. Ia mengingatkan Arjuna bahwa ia harus berusaha sekuat tenaga dan menjaga agar terbebas dari ketiga guna itu untuk seterusnya.

Setelah mengajarkan berbagai sifat guna, Krishna menunjukkan kepada Arjuna cara mengatasinya. Dengan cara itu Krishna menjadikan Arjuna manusia yang agung. Sumber utama ketiga guna itu adalah pikiran. Tidak mungkin engkau melampaui sifat manusia ini dan mencapai sifat Tuhan sebelum pikiranmu berhenti bergerak dan mencapai ketenangan. Karena itu, langkah pertama adalah menyerahkan pikiranmu kepada Tuhan. Setelah engkau menyerahkan seluruh pikiranmu kepada-Nya, Tuhan akan memelihara dan menjaga engkau dalam segala hal. Ada sebuah cerita untuk menggambarkan hal itu.

Pada suatu hari Raja Janaka mengumumkan kepada rakyat di seluruh kerajaannya, "Apabila ada diantara kalian seorang ulama, pendeta, mahatma, yogi, maharesi, atau orang arif bijaksana, siapa pun orangnya, datanglah dan ajarkan kepadaku pengetahuan tentang atma." Dalam amanatnya Raja mengatakan bahwa ia ingin mencapai atma jnana "kesadaran diri sejati" dalam waktu beberapa detik setelah diberi pelajaran. Bahkan pada waktu naik kepunggung kudanya sebelum duduk, ia harus sudah mencapai atma jnana. Raja mengatakan, "Jika orang yang akan mengajar aku pengetahuan atma jnana tidak mampu melaksanakan tugas ini, yaitu membuat aku mencapai penerangan dalam sekejap mata, maka aku tidak mau menemuinya walaupun ia seorang ulama yang teragung, orang yang pengetahuannya paling tinggi, atau orang yang paling pandai di kerajaan ini." Semua pendeta dan resi takut dengan persyaratan ini. Mereka menganggap ini suatu ujian yang sangat berat sehingga tidak seorang pun berani datang menawarkan diri untuk mengajar raja dengan persyaratan seperti itu.

Pada saat itulah seorang anak laki-laki bernama Astavakra masuk ke kerajaan. Dalam perjalanannya menuju kota Mittilapura ia berjumpa dengan sejumlah orang yang datang dari kota itu, termasuk para ulama dan pendeta; mereka semua cemberut, tampak resah dan sedih. Astavakra menanyakan sebab kegelisahan dan kesedihan mereka. Mereka menjelaskan semua yang telah terjadi. Tetapi Astavakra tidak mengerti mengapa mereka semua harus takut pada hal yang sekecil itu. Ia berkata," Akan saya selesaikan masalah ini bagi sang raja." Segera ia memasuki balairung istana Janaka. Ia berkata kepada raja," Yang Mulia, saya bersedia mengajarkan pengetahuan atma, tetapi pengetahuan suci ini tidak dapat diajarkan dengan mudah. Istana ini diliputi oleh rajo guna dan tamo guna. Kita harus pergi dari sini menuju ke tempat sattva yang suci." Mereka meninggalkan istana melalui jalan ke luar kota menuju ke hutan. Mereka membawa beberapa kuda dan menurut kebiasaan bila seorang raja keluar dari istana, bala tentara mengiringi raja, tetapi Janaka meninggalkan pengiringnya di luar hutan.

Astavakra dan Janaka masuk ke hutan. Astavakra berkata kepada Raja Janaka, "Saya tidak akan mengajar Yang Mulia kecuali jika Yang Mulia menerima persyaratan saya. Saya memang anak kecil, tetapi karena saya harus mengajar Yang Mulia, maka saya bertindak sebagai guru. Yang Mulia mungkin seorang raja yang sangat berkuasa, tetapi karena Yang Mulia akan belajar dari saya, Yang Mulia menjadi murid. Bersediakah Yang Mulia menerima hubungan ini? Jika Yang Mulia setuju maka Yang Mulia harus mempersembahkan hadiah tradisional kepada guru, yaitu gurudaksina yang diberikan oleh murid kepada guru. Setelah Yang Mulia menyerahkan hadiah itu kepada saya, pelajaran akan dimulai." Raja Janaka berkata kepada Astavakra, "Mencapai kesadaran Tuhan adalah hal yang paling penting bagiku maka aku bersedia memberikan kepadamu apa saya yang engkau inginkan." Tetapi Astavakra menjawab, "Saya tidak menginginkan benda-benda duniawi, yang saya inginkan adalah pikiran Yang Mulia. Yang Mulia harus menyerahkan pikiran Yang Mulia." Raja menjawab, "Baiklah, aku serahkan pikiranku kepadamu. Selama ini kuanggap pikiranku adalah milikku, tetapi mulai sekarang dan seterusnya pikiranku adalah milikmu."

Astavakra menyuruh Janaka turun dari kudanya dan menambatkan kuda itu di pinggir, kemudian ia menyuruh Raja duduk di tengah-tengah jalan. Astavakra masuk ke hutan dan duduk tenang di bawah pohon. Bala tentara menunggu lama. Raja maupun Astavakra tidak kembali dari hutan. Para pengiring ingin tahu apa yang terjadi pada mereka, maka satu demi satu mereka pergi mencari. Ketika mereka lewat di jalan yang menuju ke hutan, mereka menemukan Raja duduk di situ di tengah jalan. Kudanya berdiri di sebelahnya. Maka Raja tertutup dan ia tidak bergerak. Astavakra tidak tampak. Para perwira khawatir kalau-kalau Astavakra menyihir Raja sehingga tidak sadar. Lalu mereka menemui Perdana Menteri.

Perdana Menteri datang seraya berkata kepada Janaka, "Oh Raja! Oh Raja! Oh Raja!" Tetapi Raja tidak membuka matanya; sama sekali ia tidak bergerak. Perdana Menteri ketakutan. Tidak saja Perdana Menteri, tetapi semua perwira merasa ketakutan sebab waktu bagi Raja untuk makan dan minum telah lewat dan Raja belum bergerak. Waktu berjalan terus dan malam tiba, tetapi Raja tidak bergerak dari tempatnya, tetap duduk tenang di tengah jalan. Karena tidak ada jalan lain, Perdana Menteri mengirim kereta kembali ke istana untuk menjemput para permaisuri dengan harapan jika permaisuri yang berbicara kepada Raja, beliau pasti menjawab. Permaisuri datang dan berkata kepada Raja, "Raja, Raja, Raja!" Raja tidak juga bergerak; sama sekali tidak ada jawaban dari Raja. Sementara itu bala tentara mencari Astavakra di hutan. Di bahwa pohon duduklah Astavakra dengan damai dalam keadaan begitu tentram dan tenang.

Tentara menangkap Astavakra dan membawanya ke tempat Raja. Astavakra berkata, "Mengapa Bapak-Bapak begitu khawatir? Raja selamat dan tidak apa-apa." Tetapi mereka memaksa dan membawanya ke hadapan Raja yang duduk dengan mata tertutup, badannya tidak bergerak sama sekali. Kata tentara itu, "Itu, lihat sendiri! Lihat apa yang terjadi pada Raja!" Sampai saat itu perdana menteri, para menteri, permaisuri, para pegawai istana, atau rakyat memanggil dan menegur Raja, tetapi Raja tidak membuka mulut dan tidak juga membuka mata. Tetapi kini Astavakra datang dan berbicara kepada Raja. Raja Janaka segera membuka matanya dan menjawab, "Swami!" Astavakra bertanya, "Ya, para menteri datang, tentara datang, dan banyak yang lain juga datang, mengapa Anda tidak menjawab pertanyaan mereka?" Janaka menjawab, "Gagasan, ucapan, dan perbuatan berhubungan dengan pikiran, dan aku telah menyerahkan seluruh pikiranku kepadamu. Karena itu, sebelum aku dapat menggunakan pikiranku ini untuk apa pun juga, aku memerlukan izinmu. Kekuasaan apakah yang ada padaku untuk berbicara kepada seseorang atau menggunakan pikiranku untuk suatu hal? Tanpa izin dan perintahmu aku tidak akan berbuat apa-apa." Lalu Astavakra berkat, "Engkau telah mencapai tingkat kesadaran Tuhan."

Astavakra menyuruh Janaka menaruh kaki pada tempat kaki pelana dan naik ke punggung kuda. Setelah duduk di atas punggung kuda dan menaruh kaki yang lain pada tempat kaki, ia telah mencapai kesadaran atma. Setelah seseorang menyerahkan pikirannya, dan bersama itu juga ucapan dan perbuatannya, maka ia tidak lagi mempunyai wewenang atau kekuasaan untuk melakukan perbuatan apa pun juga tanpa izin orang yang telah diserahi pikirannya. Begitu pula Krishna berkata kepada Arjuna, "Arjuna, persembahkanlah semuanya kepada-Ku. Serahkan semua darmamu kepada-Ku. Aku akan memelihara dan menjagamu serta memberimu kebebasan dan keselamatan." Ia menyuruh Arjuna menyerahkan seluruh darmanya, seluruh tugas fisik, mental, spiritual, dan keduniawian, seluruh perbuatannya, pikirannya, dan ucapannya... "Serahkan semuanya itu kepada-Ku!" Mungkin sekarang engkau agak ragu-ragu. Jika semua dharma, semua tugas, dilepaskan dan diserahkan kepada Tuhan, apa lagi yang tinggal untuk engkau kerjakan? Keinginan untuk moksa pun merupakan sejenis darma. Mungkin engkau berpikir, "Jika aku serahkan semuanya kepada Tuhan, maka keinginan untuk moksa punt tidak ada lagi." Tetapi arti yang sebenarnya adalah bahwa Tuhan menyingkirkan bebanmu sehingga engkau dapat mencapai moksa.

Segala pendidikan yang engkau peroleh, segala ilmu yang engkau cari, berkaitan dengan ketiga guna. Hanya bila engkau melampaui ketiga guna ini engkau akan dapat mencapai atma jnana. Ketika merayakan suatu perkawinan, diberikan restu agar kedua mempelai bersama-sama mencapai dharma, artha, dan kama. Inilah ketiga hal pertama dari keempat tujuan utama dalam kehidupan manusia. Dharma berarti tugas, tanggung jawab, dan kedudukan. Artha berarti usaha untuk mengumpulkan kekayaan, dan kama berarti keinginan untuk memperoleh keturunan dan kelestarian garis keluarga; semua ini berkaitan dengan hidup duniawi. Tujuan hidup yang keempat adalah moksa atau kebebasan yang berhubungan dengan kehidupan spiritual. Keempat tujuan ini disebut purushartha. Tetapi tiga purushartha yang pertama bila digabung, tidak dapat disamakan dengan yang keempat, yaitu kebebasan. Serahkanlah semua kegiatan remeh yang menyangkut tiga purushartha yang pertama itu, serahkanlah seluruhnya kepada Tuhan, dan tukarkan dengan satu harta amat mulia yang diberikan Tuhan sebagai imbalannya, yaitu purushartha yang keempat, kebebasan.

Contoh sebagai berikut.
Seratus paisa sama dengan satu rupi; 100 rupi sama dengan 10.000 paisa ... jika engkau harus membawa 10.000 paisa ke mana-mana berarti engkau membawa bungkusan yang amat besar dan berat. Di samping sangat sulit menyembunyikan serta melindungi bungkusan uang logam yang begitu besar. Membawanya saya sudah susah. Jika engkau membungkus 10.000 paisa itu dengan sehelai kain, kain itu akan segera jebol dan uang logamnya tumpah semua. Karena itu Krishna berkata kepada Arjuna, "Arjuna, Aku akan memberikan kepadamu sehelai uang kertas seratus rupi, serahkan bungkusan logam 10.000 paisa itu kepada-Ku. Sehelai uang kertas seratus rupi sama dengan 10.000 paisa, tetapi beratnya sangat berbeda jika untuk dibawa ke mana-mana. Sama halnya dengan berbagai tugas kecil-kecil yang membebani engkau. Serahkanlah 10.000 darma itu kepada-Ku; Aku akan memberikan selembar uang kertas 100 rupi sehingga dapat meringankan bebanmu." Pikiranmu yang bermacam-macam, segala keinginan dan kemauanmu...semua keinginan kecil-kecil ini dapat dibandingkan dengan paisa itu. Bila engkau memiliki paisa yang kecil-kecil itu, jika tidak ditempatkan dalam satu kantong, nilainya tidak sama dengan uang satu rupi. Krishna berkata, "Arjuna, semua keinginan kecil-kecil itu tidak akan pernah sama nilainya dengan rahmat yang Aku limpahkan kepadamu. Maka serahkanlah itu semua kepada-Ku." Demikianlah cara Janaka mencapai kebebasan setelah ia menyerahkan seluruh pikirannya, seluruh hatinya, perbuatan, dan ucapannya kepada Astavakra.

Inti cerita ini adalah agar engkau menjadi amanaska yang artinya 'hampa pikiran'. Hanya bila engkau mempunyai pikiran maka senang dan sakit, bahagia dan duka, dan semua pasangan yang berlawanan lainnya akan timbul. Jika engkau ingin bebas dari hal-hal yang berlawanan itu dan menghadapi segala sesuatu dengan perasaan yang seimbang, engkau harus menyerahkan seluruh pikiranmu kepada Tuhan. Karena itulah Wedanta mengatakan bahwa pikiranlah sumber penyebab kebebasan dan keterikatan. Selama pikiranmu masih menguasai dirimu, rajo guna dan tamo guna tidak akan meninggalkan engkau. Selama engkau dikuasai oleh rajo guna dan tamo guna, engkau tidak bisa mencapai ketenangan. Mengapakah pikiran bergerak terus, selalu pindah dari satu tempat ke tempat yang lain? Sebabnya ialah karena adanya keinginan. Semua keinginan ini berhubungan dengan tubuh.

Bayangkan bahwa engkau menuang air ke dalam mangkuk; bila mangkuk itu goyang, air pun bergoyang juga. Jika mangkuknya tidak bergerak, air pun tenang. Bila air tenang, engkau dapat melihat bayanganmu dalam air. Kalau air goyang, bayanganmu juga goyang dan tidak jelas. Begitu pula jika engkau ingin mencapai keadaan hening dalam meditasi dan ingin mendapat penglihatan diri yang sejati, badanmu harus tenang. Badanmu ibarat mangkuk; pikiran dapat diumpamakan sebagai air yang ada di dalamnya. Jika badan bergerak seperti mangkuk yang goyang, pikiran pun lalu ikut bergerak. Karena jika engkau ingin agar pikiranmu tenang, engkau harus menenangkan badanmu. Makin banyak badan digerakkan, pikiran pun makin goyang.

Jika engkau melemparkan batu ke dalam kolam, maka timbullah riak. Riak atau gelombang yang timbul karena batu menimpa air, segera menyebar sampai ke pinggir kolam. Begitu juga jika engkau memasukkan suatu gagasan ke dalam kolam pikiran, getarannya merambat ke seluruh tubuh. Dan apa pun juga yang kau pikirkan, gagasan itu akan mempengaruhi perbuatanmu. Karena itu engkau harus selalu memasukkan gagasan yang baik ke dalam kolam pikiranmu.
Bila engkau mempunyai pikiran yang baik, maka akan ada perasaan yang baik juga dalam hatimu. Jika gagasan buruk masuk ke dalam pikiranmu, maka dalam apa pun juga yang engkau lihat, dalam apa pun yang engkau dengar, dalam apa pun yang engkau ucapkan, dan ke mana pun engkau pergi, pikiran buruk ini akan melahirkan perbuatan yang buruk sehingga membuahkan kesedihan.

Bila engkau duduk, badanmu harus tegak..tidak seperti orang tua, membungkuk. Engkau harus kokoh dan tegak. Tetapi jangan berlebihan sampai mengangkat kepala atau mendongak; juga jangan menoleh ke kiri dan ke kanan. Untuk meditasi penting sekali engkau duduk tegak. Jika engkau harus memukul paku yang panjang tegak lurus di atas kepalamu, paku itu harus langsung menuju muladhara cakra, pusat tenaga halus yang terletak paling rendah pada pangkal tulang punggung. Dengan cara demikian tenaga kundalini akan dapat bergerak tanpa halangan dari muladhara ke sahasrara, pusat energi tertinggi pada puncak kepala. Karena itu jagalah agar badanmu tenang, tegak, dan kokoh. Jika dari kecil membungkuk, maka pada usia tua punggungmu akan bungkuk sama sekali. Baik kepalamu, leher, atau tubuhmu, jangan sampai membungkuk. Hal itu sangat penting bagi para pelajar, mahasiswa, dan bagi para bakta. Karena itu, Aku akan sering mengingatkan engkau mengenai hal ini.

Mengapa engkau belajar; apa tujuanmu belajar? Sebenarnya engkau belajar untuk menenangkan pikiran dan badanmu. Kecuali bila sedang bermain, engkau jangan bergerak terlalu banyak; bahkan bila engkau sedang berbicara atau bernyanyi, engkau harus tenang. Dengan cara ini, jika sejak kecil engkau dapat mengendalikan badanmu, kelak akan sangat berguna bagimu sebagai sarang mencapai meditasi. Itulah sebabnya Krishna memberikan petunjuk-petunjuk ini kepada Arjuna untuk menjadikan ia contoh yang ideal bagi umat manusia. Krishna berkata kepadanya, "Arjuna, Aku menjadikan engkau alat sehingga dengan teladanmu engkau dapat mengajar seluruh umat manusia."

Arjuna menjadi seorang yang ideal. Karena kegoncangan pikirannya disebabkan oleh rajo guna dan tamo guna, Krishna memberitahu Arjuna agar secara perlahan-lahan ia menghilangkan kedua sifat itu. Dalam Bhagawad Gita bab kedua, bab mengenai Sankya Yoga, Krishna mengajarkan beberapa cara untuk menaklukkan sifat-sifat itu sehingga engkau dapat mengubah dirimu menjadi stithaprajna 'orang yang memiliki kebijaksanaan tertinggi'.
note: akhirnya selesai sudah percakapan ini, semoga berguna dan dapat menambah pengetahuan akan cara mencapai 'pembebasan' yang kekal. Tidak lupa saya ingatkan agar dibaca dengan bijak dan diaplikasikan pula setelah mencernanya terlebih dahulu, karena hasil yang berbeda jika diaplikasikan tanpa mencerna terlebih dahulu..... :)
 

bcak

IndoForum Newbie B
lanjutin bro
:)
Wah, kiriman filenya cuman sampe segitu doank,........ :D

ntar klo saya mampu merenungin dan menangkap isi dari Bhagawadgita, nanti baru saya lanjutkan percakapannya, itu butuh perenungan yang lama....;)

gimana caranya tau kita dipandang tuhan bro?:D
:D
udah dijelaskan bro dalam percakapan tsb,

Jika engkau tidak memandang Tuhan, sudah tentu engkau tidak dapat melihat Tuhan. Jika Aku berdiri tepat di depanmu dan engkau berdiri tepat di depan-Ku dan kita saling memandang, apa yang akan kita lihat? Siapa yang akan engkau lihat dalam mata-Ku dan siapa yang akan Aku lihat dalam matamu? Kita saling melihat dalam mata masing-masing. Jika kita berdiri berhadap-hadapan, Aku melihat diri-Ku dalam matamu, dan engkau melihat dirimu dalam mata-Ku. Tetapi jika engkau berdiri di belakang-Ku, bagaimana dapat Aku melihat diri-Ku dalam matamu, atau engkau melihat dirimu dalam mata-Ku? Itu tidak mungkin. Karena itu berdirilah tepat di depan-Ku dan pusatkan pandanganmu kepada-Ku. Ketika pandangan Gajendra diarahkan kepada Tuhan, pandangan Tuhan bertemu dengan pandangannya karena pada waktu itu penglihatan Tuhan terarah kepadanya. Kalau hal itu terjadi, dengan sendirinya segala masalah teratasi.
Di percakapan 30 juga ada bro....... :)
note: jeg ane dueg-an metakon ajak ane mara melajah...... :D
 

yunisaraf

IndoForum Newbie E
menguasi bngt BG yah bro

saya baru ngerti akan BG setelah baca buku lain yg gak ada hubungannya dengan BG =))
 

bcak

IndoForum Newbie B
menguasi bngt BG yah bro

saya baru ngerti akan BG setelah baca buku lain yg gak ada hubungannya dengan BG =))
Nah udah jelas bro, bahwa kemampuan bro itu jauh diatas saya, lha wong saya baca BG sampe (mungkin) udah 50 kali belum ngerti-ngerti juga....... :D
sedangkan bro dengan membaca buku lain yang kagak ada hubungannya aja udah jadi mengerti.......B-)

Nah jadi jelas beda kemampuan pemahaman ya bro...... :)
 

AHIMSA

IndoForum Newbie F
Namaste,
Sloka BG paporit saya (lupa slokanya), yang terjemahannya kurang lebih begini:
"Tidak merasa suci ketika dipuji, pun tidak merasa hina ketika dicaci, itulah manusia utama yang akan menuju Aku"

Ketika kita berhasil, sukses, senang, sehat, dalam keadaan suka cita... kita tertawa terbahak-bahak... namun sebaliknya ketika kita gagal, sakit, dan dalam keadaan berduka... kita menagis tersedu-sedu...
Padahal Tuhan meyuruh kita untuk tetap menyeimbangkan tingkat emosional kita. Dengan kata lain mereka yang akan menemui-Nya hanyalah orang-orang bisa menjaga 'amplitudo' emosionalnya.

AHIMSA,
menolak segala bentuk kekerasan riil dan virtual
 

Pasang iklan disini dapat menyebabkan produk dikenal, omzet naik, keuntungan bertambah, good investment dan brand image. Contact us untuk memulai.
Top