• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Indonesia ke Arah Bangsa yang Gagal

roughtorer

IndoForum Senior A
No. Urut
44416
Sejak
24 Mei 2008
Pesan
6.755
Nilai reaksi
175
Poin
63
BANDUNG - Seratus Tahun pasca- Kebangkitan Nasional, kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia kian menunjukkan kegagalan di berbagai aspek. Hal ini disebabkan bangsa Indonesia tidak lagi memiliki semangat dan nilai-nilai kejuangan yang sama seperti 100 tahun lalu.

Hal ini mengemuka pada diskusi dan orasi kebangsaan bertema ”Revitalisasi Nilai-nilai Kejuangan untuk Membangun Indonesia yang Maju, Sejahtera, dan Berkarakter” di Bandung, Sabtu (21/6).

Guru besar geofisika Institut Teknologi Bandung, MT Zen, mengatakan, 100 tahun pascakebangkitan, Indonesia semakin terpuruk dalam berbagai bidang, terutama peningkatan kesejahteraan rakyat. Hal ini terbukti dengan tingginya angka kemiskinan di tengah negara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah.

Kekayaan bangsa Indonesia yang terdiri dari sumber daya alam dan manusia yang begitu beragam saat ini justru dijadikan alat pemecah bangsa. ”Bila perbedaan ini dulu dijadikan semangat untuk bersatu, tetapi sekarang sebaliknya. Semangat dan nilai juang saat dulu sudah beralih menjadi kepentingan individu,” kata Zen.

Ia mengatakan, pudarnya semangat dan nilai juang ini disebabkan pembentukan karakter bangsa yang buruk. Tidak hanya menyebabkan hilangnya persatuan bangsa, tetapi menyebabkan berbagai masalah sosial muncul akibat tata kelola negara yang tidak baik.

Oleh karena itu, menurut dia, Indonesia perlu melakukan transformasi budaya dalam mengejar ketertinggalan dari negara berkembang lainnya. ”Transformasi ini harus dilakukan dari pembentukan karakter melalui pemberian pendidikan yang baik kepada generasi berikutnya,” kata Zen.

Hal senada disampaikan guru besar ITB, Gede Raka, yang berpendapat, bangsa Indonesia kini memiliki enam karakteristik budaya utama. Ini meliputi budaya korupsi, kultur kekerasan, kemunafikan, peminta-minta (kurang berusaha), individualistis, hingga menurunnya kebanggaan atas bangsa sendiri.

Oleh karena itu, perlu dilakukan pembentukan karakter yang mengedepankan persatuan, penghargaan pada keberagaman, solidaritas, dan optimistis melalui perbaikan pendidikan dan budaya.

Demokrasi tak optimal

Pada aspek politik, pengamat politik, Zukri Saad, mengatakan, kegagalan Indonesia tecermin pada pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) yang hanya bergerak pada tataran normatif. ”Esensi dari pilkada jarang tersentuh, bahkan pada pilkada masih disetir oleh kekuatan yang memiliki modal (uang/kapital),” kata Zukri.

Menurut dia, Indonesia membutuhkan penyusunan agenda publik 100 tahun ke depan, dengan menekankan pada aspek pelaksanaan demokrasi yang optimal. Dengan demikian, terpilih pemimpin yang tegas, berwibawa, dan mampu memberikan perubahan terhadap bangsa Indonesia.

Sedangkan mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Erry Riyana Hardjapamekas, berpendapat, kegagalan bangsa Indonesia berakar pada buruknya budaya birokrat sebagai pemegang core bernegara. Oleh karena itu, transformasi bangsa tidak hanya dilakukan dari segi pendidikan, tetapi juga menyentuh pula aspek tata kembali birokrasi bangsa.

Pengamat hukum, Achmad Ali, berpendapat, tata laksana berbangsa dan bernegara hendaknya diikuti keberadaan tata aturan atau norma yang menunjang aspek berbangsa dan bernegara. ”Ubahlah paradigma (mindset) atau pola pikir bangsa dari manusia untuk (menaati) hukum menjadi mencari hukum yang tepat untuk manusia,” kata Achmad.

Ia menilai, setelah 100 tahun mengikuti sistem hukum yang mengacu pada tata hukum Belanda, sudah saatnya Indonesia memiliki tata hukum yang sesuai kebutuhan bangsa. (A15/A01/A04)
 
Hal senada disampaikan guru besar ITB, Gede Raka, yang berpendapat, bangsa Indonesia kini memiliki enam karakteristik budaya utama. Ini meliputi budaya korupsi, kultur kekerasan, kemunafikan, peminta-minta (kurang berusaha), individualistis, hingga menurunnya kebanggaan atas bangsa sendiri.
bener ni yg d blg na
stuju g pif /pif
 
gwe setuju juga tuh ama Si Bard....
Indo Di suruh melestarikan budaya2nya.....
yah di quote ama si Bard termasuk tuh.../gg
 
emang parah sih orang2 Indonesia skrg ini... mao negara maju... tapi ga mao ikut memajukan.... malah ngejek2, bangga ma negara lain... @@
 
Karakteristik Indonesia sendiri menyulitkan untuk jadi bangsa yang sukses. Terpisah-pisah dengan laut karena kita negara kepulauan. Kemudian suku bangsa yang sangat beragam. Agama yang juga beragam. Adat istiadat yang kadang bertolak belakang. Alamt demokrasi yang masih baru benar-benar diterapkan, sehingga sering salah kaprah. Iklim kebebasan yang tidak bisa diterima semua golongan, terutama golongan angkatan 66. Korupsi yang sudah mendarah daging, sampe tukang parkir saja nyantai korupsi. Kondisi ekonomi yang bikin depresi. Sumber daya alam yang semakin tidak jelas penggarapannya. Nasionalisme yang sudah hampir hilang.

Tapi, harapan tentu masih ada. Beberapa post yang menanggapi threat ini membuktikan ke arah sana. Sedikit, tapi tetap ada. Indonesia gak ada matinya. Tunggu waktu saja, sedekade, seabad? atau satu millenium ke depan? Faktanya kita memiliki segalanya untuk melesat maju seperti tetangga-tetangga. Waktu juga sudah membuktikan kita pernah menjadi yang paling disegani di kawasan ini.

Mungkin mulainya nanti dari generasi kita, anak-anak muda yang semakin kritis dan smart cara berpikirnya. Semoga.... Aku tetap cinta Indonesia.
 
Sulit bro,sulit untuk merubah pendapat atau pandangan seseorang

Uda terlanjur tertanam jauh didalam pikiran kita /hmm
 
Memang sulit. sangat sulit malah. Itu yang gw maksud. Banyak yang tahu dan ngerti sulitnya merubah paham yang sudah menjadi kebiasaan. Tapi, paling tidak ada yang sadar bahwa itu semua harus dirubah kan?

Mana ada sesuatu yang bagus, jaya, makmur dsb diperoleh secara instan?!
 
masa demo BBM ampe jait mulut sgala, , , ,

parah dah , , ,

Indonesia emang suka mengeluh ,, klu aja ga mengeluh ,, pasti kalah deh singapur /no1
 
Indonesia adalah bangsa yang besar yang berhasil menyatukan ratusan atau bahkan ribuan etnis dalam satu negara. Bandingkan, kalau kita berjalan di Eropa dengan perjalanan yang sama panjang dengan perjalanan melintasi Indonesia, kita akan menemukan ratusan negara.

Modal besar ini masih ditambah lagi dengan kekayaan alam yang melimpah, baik di laut mau pun di darat serta posisi strategis Indonesia yang terletak di lintas pelayaran internasional. Di samping itu, Indonesia juga tercatat sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, yang mana negara-negara muslim terkenal dengan kekayaan minyaknya.

Hanya faktor keberuntungan saja yang belum kita miliki. Kita masih belum beruntung untuk dapat memilih pemimpin yang tepat untuk memanage potensi yang besar ini. Kecenderungan salah memilih pemimpin sudah berurat akar mulai dari tingkat pemilihan RT hingga ke tingkat presiden. Visi dan misinya tidak jelas, dan niat baiknya tidak kelihatan, tapi kita tetap mendukung secara membabi buta. Suara-suara diperjualbelikan (terutama saat) pilkada, tapi kita pasrah. Kalau memang tidak ada yang memenuhi syarat, kenapa kita memaksakan diri ke bilik suara?

Kalau semua rakyat Indonesia mau menerapkan rumus 3M dari Aa Gym:
1. Mulailah dari hal kecil
2. Mulailah dari diri sendiri
3. Mulailah dari sekarang
tidak lama lagi, kita akan melihat Indonesia yang jaya!
 
gimana indo ga maju, anggota DPR saja melakukan pelecehan seksual (tadi ada beritanya di global TV)
 
Sulit....sulit sekali....sangat sulit...Bangsa ini telah gagal total menjadi bangsa yang besar. Warisan budaya Feodal (kultusIndividu) dari zaman kerajaan dulu masih melekat
kuat. Akibat divide at impera membuat bangsa ini jadi kolonis preman.
Disetiap tempat ada jogoannya. Demokrasi yang nggak jelas arahnya...yang timbul demoCrazy. Mahasiswa demo urakan...nggak tau tujuannya...
Nationalisme bagaikan pohon yang tak berakar dan berdaun.
Pejabat dan ahli2 ngomong teory tanpa bisa berbuat apapun.

Dinegara ini orang pinter dan jujur pasti tersingkir. Pilkada adu kuat bukan adu pinter.

Nah, bagaimana caranya bisa bikin negara ini besar ??? kuat??
 
daripada tiap hari ngomong "indo ga maju2 karna inilah karna itulah"
kita harus mulai dari diri kita sendiri dulu,
Sudahkan anda berbuat sesuatu untuk bangsa ini?
 
suatu saat pasti berubah kq...cina aja dulu negara paling korup, dll bs maju...masa Indonesia ngga...iya g...?
 
salah tuh kata2nya

bukan "ke arah yang"

tapi "memang sudah"
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.