• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Hukum pacaran???

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. TauruZ88
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai
Islam sudah memperingatkan laki-laki dan wanita yang bukan mahram untuk tidak menyepi berduaan karena yang ketiganya adalah setan. Rasulullah SAW bersabda,
Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan." (Riwayat Ahmad)

"Jangan sekali-kali salah seorang di antara kamu menyendiri dengan seorang perempuan, kecuali bersama mahramnya."


Imam Qurthubi dalam menafsirkan firman Allah yang berkenaan dengan isteri-isteri Nabi, yaitu yang tersebut dalam surah al-Ahzab ayat 53, yang artinya:
"Apabila kamu minta sesuatu (makanan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari balik tabir. Karena yang demikian itu lebih dapat membersihkan hati-hati kamu dan hati-hati mereka itu,"
mengatakan: maksudnya perasaan-perasaan yang timbul dari orang laki-laki terhadap orang perempuan, dan perasaan-perasaan perempuan terhadap laki-laki. Yakni cara seperti itu lebih ampuh untuk meniadakan perasaan-perasaan bimbang dan lebih dapat menjauhkan dari tuduhan yang bukan-bukan dan lebih positif untuk melindungi keluarga.

Ini berarti, bahwa manusia tidak boleh percaya pada diri sendiri dalam hubungannya dengan masalah bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak halal baginya. Oleh karena itu menjauhi hal tersebut akan lebih baik dan lebih dapat melindungi serta lebih sempurna penjagaannya.

Istilah pacaran itu sebenarnya bukan bahasa hukum, karena pengertian dan batasannya tidak sama buat setiap orang dan sangat mungkin bebeda dalam setiap budaya. Karena itu kami tidak akan menggunakan istilah `pacaran` dalam masalah ini, agar tidak salah konotasi.

Yang jelas Islam itu mengakui adanya rasa CINTA yang ada dalam diri manusia. Ketika seseorang memiliki rasa cinta, maka hal itu adalah anugerah Yang Kuasa. Termasuk rasa cinta kepada wanita (lawan jenis) dan lain-lainnya.
Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik . ?(QS. Ali Imran :14).


Khusus kepada wanita, Islam menganjurkan untuk mengejawantahkan rasa cinta itu dengan perlakuan yang baik, bijaksana, jujur, ramah dan yang paling penting dari semau itu adalah penuh dengan tanggung-jawab. Sehingga bila seseorang mencintai wanita, maka menjadi kewajibannya untuk memperlakukannya dengan cara yang paling baik.
Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang paling baik terhadap pasangannya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku”


Tanggung jawab ini tidak mungkin sekedar diucapkan atau digoreskan di atas kertas surat cinta belaka. Atau janji muluk-muluk lewat SMS, chatting dan sejenisnya. Tapi ikrar dan pernyataan tanggung-jawab ini harus disaksikan oleh orang banyak termasuk yang paling utama adalah dari ayah kandung (wali) wanita. Kepada ayah kandung wanita itu, seorang laki-laki yang bertanggung-jawab akan berikrar dan melakukan ikatan untuk menjadikan wanita itu sebagai orang yang menjadi pendamping hidupnya, mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya dan menjadi `pelindung` dan pengayomnya`. Bahkan `mengambil alih` kepemimpinannya dari bahu sang ayah ke atas bahunya.

Dengan ikatan itu, jadilah seorang laki-laki itu `the real gentleman`. Karena dia telah menjadi SUAMI dari seorang wnaita. Dan hanya ikatan inilah yang bisa memastikan apakah seorang laki-laki itu betul serorang gentlemen atau sekedar kelas laki-laki iseng tanpa nyali. Beraninya hanya menikmati sensasi seksual, tapi tidak siap menjadi the real man.

Dalam Islam, hanya hubungan suami istri sajalah yang membolehkan terjadinya kontak-kontak yang mengarah kepada birahi. Baik itu sentuhan, pegangan, cium dan juga seks. Sedangkan di luar nikah, Islam tidak pernah membenarkan semua itu. Kecuali memang ada hubungan `mahram` (keharaman untuk menikahi). Akhlaq ini sebenarnya bukan hanya monopoli agama Islam saja, tapi hampir semua agama mengharamkan perzinaan. Apalagi agama Kristen yang dulunya adalah agama Islam juga, namun karena terjadi penyimpangan besar sampai masalah sendi yang paling pokok, akhirnya tidak pernah terdengar kejelasan agama ini mengharamkan zina dan perbuatan yang menyerampet kesana.

Sedangkan pemandangan yang terlihat dimana ada orang Islam yang melakukan praktek pacaran dengan pegang-pegangan, ini menunjukkan bahwa umumnya manusia memang telah terlalu jauh dari agama. Karena praktek itu bukan hanya terjadi pada masyarakat Islam yang nota bene masih sangat kental dengan keaslian agamanya, tapi masyakat dunia ini memang benar-benar telah dilanda degradasi agama.
Barat yang mayoritas nasrani justru merupakan sumber dari hedonisme dan permisifisme ini. Sehingga kalau pemandangan buruk itu terjadi juga pada sebagian pemuda-pemudi Islam, tentu kita tidak melihat dari satu sudut pandang saja. Tapi lihatlah bahwa kemerosotan moral ini juga terjadi pada agama lain, bahkan justru lebih parah.
__________________
www.syriahonline.com
 
pacaran dalam islam boleh2 aja kok..wajib musti kudu harus malah.

tapi klo udah nikah.. :D


jadi pacaran setelah menikah.. :D
 
ane ada satu tulisan dari temen baik ni coba ja dibaca ya

Pacaran dengan-“nya” atau, (Biar Saja) Ngejomblo (Dulu)?
-Sebuah Kegelisahan Seseorang yang sedang Menyukai Seseorang

Oleh USEP HASAN SADIKIN

Dalam tulisan ini, saya menceritakan sebuah keadaan. Keadaan yang mungkin pernah terjadi juga pada pembaca. Keadaan itu adalah, saya sedang tertarik dengan seseorang. Saya bertemu dan kenal dengan seseorang yang sosoknya bagi saya sangat ideal. Pribadinya baik, berwawasan, dan bagi saya dia ”enak dilihat”. Saya menyukai dia. Mungkin bisa dibilang, saya sedang jatuh cinta.
Pertanyaannya, apa yang harus saya lakukan terhadap kedaaan ini? Perasaan yang saya alami ini, akan mendorong kepada pilihan sikap apa?
Setidaknya sikap yang bisa saya pilih ada tiga. Pertama, saya harus menyatakan kepadanya, bahwa saya menyukai dia. Kemudian saya ingin mengenalnya lebih jauh. Bukan sebatas kenal, tidak hanya sebagai teman, tapi (juga) sebagai pacar. Tentu sikap ini dipilih dengan asumsi, dia menerima pernyataan saya, dan mau mencoba untuk mengenal saya lebih jauh. Dan semoga di dalam proses pacaran itu, saya dan dia menemukan persamaan tujuan hidup, kemudian menentukan langkah selanjutnya menuju jenjang pernikahan untuk membangun keluarga.
Tapi bagaimana jika asumsi itu tidak sama dengan di lapangan. Ketertarikan saya terhadap dia tidak disambut baik? Pernyataan bahwa, saya menyukainya, tidak diterima. Cinta bertepuk sebelah tangan. Apakah saya harus mencari orang lain yang bisa menerima saya, untuk menjadi pacar, dengan mengorbankan perasaan saya yang sebelumnya? Atau saya memilih pilihan sikap kedua. Yaitu, saya (tetap) menjomblo, tetapi saya menyimpan dan menjaga perasaan saya kepadanya. Saya masih menjalin hubungan sebagai teman dengannya, tetapi berharap semoga suatu saat nanti dia mau menerima saya, untuk menjadi pacarnya.
Atau saya memilih sikap ketiga. Sikap di mana, saya tidak menyatakan (untuk saat ini) bahwa, saya menyukainya. Tetapi saya mempersiapkan diri, membangun pribadi yang mapan. Mapan dalam artian siap mental, ilmu dan materi. Baru kemudian (setelah mapan), saya menyatakan bahwa saya menyukainya. Dan menawarkan diri untuk jadi pasangannya dalam membangun keluarga. Saya tidak ingin memilih untuk pacaran terlebih dahulu dengannya, tetapi saya langsung memintanya untuk menjadi pasangan perjalanan hidup dalam nahkoda keluarga bersama saya.
Setidaknya sampai saat ini, yang saya pilih adalah sikap yang ketiga. Bagi saya sikap ketiga ini yang lebih baik. Kenapa?
Pertama, sepertinya saya belum mau membagi waktu saya untuk seseorang yang saya sebut pacar. Kesendirian atau jomblo, bagi saya sangatlah mengasyikan. Dengan ngejomblo saya mempunyai banyak waktu bebas yang saya gunakan untuk melakukan hal-hal yang saya sukai. Membaca, menulis, mengikuti (/ mengadakan) diskusi dan kajian, menghadiri seminar-seminar, olahraga, bermain musik dan menyanyi, mengajar, jalan-jalan, maen Winning Eleven, ngenet (gratisan di kampus), berorganisasi melakukan aksi sosial masyarakat, dan lain-lain. Hal-hal tersebut terlalu sayang saya kurangi atau saya tinggalkan untuk sebuah hubungan yang bernama pacaran.
Selain itu. Seandainya saya bisa pacaran dengan keasyikan tersebut, saya akan merasa kasihan dengan pacar saya nanti. Karena alokasi waktu untuknya bukanlah sebuah prioritas. Posisinya ada di bawah hal-hal yang sangat saya sukai untuk dilakukan.
Kadang ada keinginan untuk mencari seseorang, di mana saya dapat menjalin hubungan dengannya sebagai pacar, tetapi di samping itu saya bisa menjalankan hal-hal yang saya suka bersamanya. Sepertinya tidak ada yang bisa seperti itu –”kalau ada, kenalin dong! Semoga saya bisa tertarik dengannya”.
Saat ini, seseorang yang saya sukai juga sedang asyik menjalankan hal-hal yang disukainya. Dia selalu saya ajak untuk berdiskusi atau melakukan hal lain, tetapi dia jarang memenuhi. Saya tidak tahu apakah dia menyukai saya atau tidak. Lalu, haruskah saya menyatakan kepadanya bahwa, saya menyukainya? Untuk mengetahui apakah saya bisa diterima atau tidak, sebagai pacarnya.
Tampaknya, dengan keasyikan saya yang sekarang ini, jawaban diterima atau tidak bukanlah sebuah hal yang penting. Di samping itu, belum ada keinginan bagi saya untuk memilih kehidupan berumah tangga dalam waktu dekat. Karena diri ini, belum menjadi pribadi yang mapan. Untuk apa saya pacaran, kalau toh saya tidak punya keinginan (dalam waktu dekat) membangun rumah tangga. Untuk apa saya menjalani hari-hari bersama seseorang dengan ”status” pacar, tetapi saya tidak bertujuan berkeluarga bersamanya.
Maka saya akan konsisten dengan pilihan sikap yang ketiga. Saya tidak menyatakan (untuk saat ini) bahwa, saya menyukainya. Saya tidak ingin pacaran dengannya. Tetapi saya terus berusaha mempersiapkan diri, membangun pribadi mapan. Baru kemudian setelah siap, saya akan datang menawarkan kepadanya untuk menjadi pasangan hidup dalam keluarga bersama saya.
Tapi bagaimana jika, dalam kondisi mapan itu, tawaran saya tidak diterimanya? ”Ah, ga pa-pa!”. Bagi saya ngejomblo lebih mengasyikan dibandingkan bersama seseorang yang tidak saya sukai. Saya akan tetap menjalin hubungan dengannya (sebagai teman), sambil berharap dia akan menerima saya –ini mirip dengan pilihan sikap yang kedua.
Dan bagaimana jika ketika saya sedang menjalankan proses membangun kemapanan diri, ternyata orang yang saya suka malah ada yang ngegebet? Dia ada yang macarin. ”Mmm, tenang saja!”. Saya ingat slogan lama kok, ”sebelum janur kuning berkibar, saya akan tetap mengharapkannya”.
Lalu bagaimana jika dia menikah dengan orang lain? ”Mmm, (masih) tenang!”. Karena, slogan akan saya ganti menjadi, ”sebelum bendera kuning berkibar, saya akan tetap mengharapkannya”. Karena keinginan saya untuk bersamanya (mungkin) hanya bisa dihilangkan dengan kematian –Waduh!, segitunya Sep. Semoga prinsip ”gila” ini bisa saya rubah. 

USEP HASAN SADIKIN
Jomblo; belum pernah pacaran
(dan mungkin gak akan pacaran)
bagi yang tertarik menjadi/ menawarkan ”pasangan hidup” kepada saya hubungi:
081808159231
atau kirim-kirim surat ke e-mail:
[email protected]
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.