ane ada satu tulisan dari temen baik ni coba ja dibaca ya
Pacaran dengan-“nya” atau, (Biar Saja) Ngejomblo (Dulu)?
-Sebuah Kegelisahan Seseorang yang sedang Menyukai Seseorang
Oleh USEP HASAN SADIKIN
Dalam tulisan ini, saya menceritakan sebuah keadaan. Keadaan yang mungkin pernah terjadi juga pada pembaca. Keadaan itu adalah, saya sedang tertarik dengan seseorang. Saya bertemu dan kenal dengan seseorang yang sosoknya bagi saya sangat ideal. Pribadinya baik, berwawasan, dan bagi saya dia ”enak dilihat”. Saya menyukai dia. Mungkin bisa dibilang, saya sedang jatuh cinta.
Pertanyaannya, apa yang harus saya lakukan terhadap kedaaan ini? Perasaan yang saya alami ini, akan mendorong kepada pilihan sikap apa?
Setidaknya sikap yang bisa saya pilih ada tiga. Pertama, saya harus menyatakan kepadanya, bahwa saya menyukai dia. Kemudian saya ingin mengenalnya lebih jauh. Bukan sebatas kenal, tidak hanya sebagai teman, tapi (juga) sebagai pacar. Tentu sikap ini dipilih dengan asumsi, dia menerima pernyataan saya, dan mau mencoba untuk mengenal saya lebih jauh. Dan semoga di dalam proses pacaran itu, saya dan dia menemukan persamaan tujuan hidup, kemudian menentukan langkah selanjutnya menuju jenjang pernikahan untuk membangun keluarga.
Tapi bagaimana jika asumsi itu tidak sama dengan di lapangan. Ketertarikan saya terhadap dia tidak disambut baik? Pernyataan bahwa, saya menyukainya, tidak diterima. Cinta bertepuk sebelah tangan. Apakah saya harus mencari orang lain yang bisa menerima saya, untuk menjadi pacar, dengan mengorbankan perasaan saya yang sebelumnya? Atau saya memilih pilihan sikap kedua. Yaitu, saya (tetap) menjomblo, tetapi saya menyimpan dan menjaga perasaan saya kepadanya. Saya masih menjalin hubungan sebagai teman dengannya, tetapi berharap semoga suatu saat nanti dia mau menerima saya, untuk menjadi pacarnya.
Atau saya memilih sikap ketiga. Sikap di mana, saya tidak menyatakan (untuk saat ini) bahwa, saya menyukainya. Tetapi saya mempersiapkan diri, membangun pribadi yang mapan. Mapan dalam artian siap mental, ilmu dan materi. Baru kemudian (setelah mapan), saya menyatakan bahwa saya menyukainya. Dan menawarkan diri untuk jadi pasangannya dalam membangun keluarga. Saya tidak ingin memilih untuk pacaran terlebih dahulu dengannya, tetapi saya langsung memintanya untuk menjadi pasangan perjalanan hidup dalam nahkoda keluarga bersama saya.
Setidaknya sampai saat ini, yang saya pilih adalah sikap yang ketiga. Bagi saya sikap ketiga ini yang lebih baik. Kenapa?
Pertama, sepertinya saya belum mau membagi waktu saya untuk seseorang yang saya sebut pacar. Kesendirian atau jomblo, bagi saya sangatlah mengasyikan. Dengan ngejomblo saya mempunyai banyak waktu bebas yang saya gunakan untuk melakukan hal-hal yang saya sukai. Membaca, menulis, mengikuti (/ mengadakan) diskusi dan kajian, menghadiri seminar-seminar, olahraga, bermain musik dan menyanyi, mengajar, jalan-jalan, maen Winning Eleven, ngenet (gratisan di kampus), berorganisasi melakukan aksi sosial masyarakat, dan lain-lain. Hal-hal tersebut terlalu sayang saya kurangi atau saya tinggalkan untuk sebuah hubungan yang bernama pacaran.
Selain itu. Seandainya saya bisa pacaran dengan keasyikan tersebut, saya akan merasa kasihan dengan pacar saya nanti. Karena alokasi waktu untuknya bukanlah sebuah prioritas. Posisinya ada di bawah hal-hal yang sangat saya sukai untuk dilakukan.
Kadang ada keinginan untuk mencari seseorang, di mana saya dapat menjalin hubungan dengannya sebagai pacar, tetapi di samping itu saya bisa menjalankan hal-hal yang saya suka bersamanya. Sepertinya tidak ada yang bisa seperti itu –”kalau ada, kenalin dong! Semoga saya bisa tertarik dengannya”.
Saat ini, seseorang yang saya sukai juga sedang asyik menjalankan hal-hal yang disukainya. Dia selalu saya ajak untuk berdiskusi atau melakukan hal lain, tetapi dia jarang memenuhi. Saya tidak tahu apakah dia menyukai saya atau tidak. Lalu, haruskah saya menyatakan kepadanya bahwa, saya menyukainya? Untuk mengetahui apakah saya bisa diterima atau tidak, sebagai pacarnya.
Tampaknya, dengan keasyikan saya yang sekarang ini, jawaban diterima atau tidak bukanlah sebuah hal yang penting. Di samping itu, belum ada keinginan bagi saya untuk memilih kehidupan berumah tangga dalam waktu dekat. Karena diri ini, belum menjadi pribadi yang mapan. Untuk apa saya pacaran, kalau toh saya tidak punya keinginan (dalam waktu dekat) membangun rumah tangga. Untuk apa saya menjalani hari-hari bersama seseorang dengan ”status” pacar, tetapi saya tidak bertujuan berkeluarga bersamanya.
Maka saya akan konsisten dengan pilihan sikap yang ketiga. Saya tidak menyatakan (untuk saat ini) bahwa, saya menyukainya. Saya tidak ingin pacaran dengannya. Tetapi saya terus berusaha mempersiapkan diri, membangun pribadi mapan. Baru kemudian setelah siap, saya akan datang menawarkan kepadanya untuk menjadi pasangan hidup dalam keluarga bersama saya.
Tapi bagaimana jika, dalam kondisi mapan itu, tawaran saya tidak diterimanya? ”Ah, ga pa-pa!”. Bagi saya ngejomblo lebih mengasyikan dibandingkan bersama seseorang yang tidak saya sukai. Saya akan tetap menjalin hubungan dengannya (sebagai teman), sambil berharap dia akan menerima saya –ini mirip dengan pilihan sikap yang kedua.
Dan bagaimana jika ketika saya sedang menjalankan proses membangun kemapanan diri, ternyata orang yang saya suka malah ada yang ngegebet? Dia ada yang macarin. ”Mmm, tenang saja!”. Saya ingat slogan lama kok, ”sebelum janur kuning berkibar, saya akan tetap mengharapkannya”.
Lalu bagaimana jika dia menikah dengan orang lain? ”Mmm, (masih) tenang!”. Karena, slogan akan saya ganti menjadi, ”sebelum bendera kuning berkibar, saya akan tetap mengharapkannya”. Karena keinginan saya untuk bersamanya (mungkin) hanya bisa dihilangkan dengan kematian –Waduh!, segitunya Sep. Semoga prinsip ”gila” ini bisa saya rubah.
USEP HASAN SADIKIN
Jomblo; belum pernah pacaran
(dan mungkin gak akan pacaran)
bagi yang tertarik menjadi/ menawarkan ”pasangan hidup” kepada saya hubungi:
081808159231
atau kirim-kirim surat ke e-mail:
[email protected]