singthung
IndoForum Junior E
- No. Urut
- 7164
- Sejak
- 21 Sep 2006
- Pesan
- 1.634
- Nilai reaksi
- 27
- Poin
- 48
Hati Yang Terlatih
Oleh: Phra Suwat Suvaco (Phra Bodhidhammacariya Thera)
Oleh: Phra Suwat Suvaco (Phra Bodhidhammacariya Thera)
Kita semua telah datang dan berkumpul disini dengan sebuah keyakinan, bermaksud dengan sungguh-sungguh untuk belajar dan berlatih Dhamma yang akan membawa kebahagiaan dan pemenuhan kebutuhan hati kita. Kita harus mengerti bahwa Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha tidak berada dimanapun, sejauh apapun. Seperti yang tertulis dalam kitab Pali (Ti-Pitaka), Dhamma terlatih dan tidak terlatih muncul disini, di dalam hati kita. Jika kita ingin belajar Dhamma, kita harus belajar dari hati kita sendiri. Ketika kita mengenal baik hati kita, kita akan mengenal baik Dhamma. Ketika kita mengenal baik Dhamma, kita akan mengenal baik hati ini.
Ada kalanya hati ini sedang dalam suasana hati yang buruk. Kualitas mental yang jelek bersatu dengan suasana hati itu, membuatnya semakin parah. Menyebabkan kita semakin menderita baik secara jasmani maupun pikiran. Kualitas-kualitas mental jelek ini dikatakan "tidak terlatih/jahat" (akusala). Sang Buddha mengajarkan kita untuk memperlajari kualitas-kualitas ini sehingga kita dapat mencegah mereka timbul.
Ada pula waktunya dimana hati sedang dalam suasana hati yang baik: merasa tenteram dengan sebuah rasa kebahagiaan. Kita merasa tenteram entah saat kita sedang duduk atau berbaring, entah saat kita sendiri atau berkumpul dengan teman-teman dan keluarga kita. Ketika hati mendapatkan ketenteraman semacam ini, hal yang dikatakan berdiam dalam Dhamma. Dengan kata lain, kualitas mental yang terlatih/baik (kusala) telah muncul dalam hati kita. Hati yang terlatihlah yang memberikan kita kebahagiaan. Inilah mengapa Sang Buddha mengajarkan kita untuk mengembangkan kualitas-kualitas baik ini, untuk memberikan kesempatan pada mereka (kualitas-kualitas mental yang baik) untuk muncul dalam diri kita.
Jika Anda menuliskan satu persatu kualitas-kualitas baik ini, akan ada banyak sekali. Tapi walaupun ada banyak kualitas-kualitas baik/terlatih tersebut, mereka semua muncul dari satu hati kita. Jadi jika kita ingin mengetahui dan melihat Dhamma, kita harus mengembangkan kesadaran dan kewaspadaan, selalu mengawasi hati kita. Jika hati tidak berada dalam keadaan tenteram, jika hati kacau dan bergejolak, kita harus menyadari bahwa pada saat itu hati kita telah keluar dari keadaannya. Kualitas-kualitas jahat/tidak terlatih telah muncul didalamnya. Jadi kita harus berupaya menjadi sadar dan waspada untuk membuatnya kembali ke keadaan baik. Kita harus selalu mengawasi hati kita agar melihat, apakah pada saat ini hati kita dalam keadaan baik atau tidak.
Jika kita melihat bahwa hati ini masih belum berada dalam keadaan terpuaskan, kita harus melepas keasyikan tak baik dan membuat diri kita sendiri sadar mana yang baik. Kita ingin menjadi bahagia, jadi kita tidak ingin hal-hal yang membuat kita menderita. Kita harus berupaya untuk membuat pikiran dalam keadaan baik, keyakinan dalam berlatih Dhamma yang akan mengembangkan kesadaran kita. Kita harus selalu melihat hati kita sehingga selalu yakin dan puas dalam latihan kita. Kita harus mengingatkan diri kita bahwa dalam mengikuti latihan ini berarti kita sedang mengikuti jalan Sang Buddha: Dia Yang Tahu, Yang Melihat, seorang Arahat yang terbebaskan dari segala macam kekotoran, terbebaskan dari penderitaan kematian dan tumimbal lahir. Kenyataan bahwa kita sedang berlatih di jalan Dhamma sebagaimana yang diajarkan Sang Buddha berarti bahwa kita sedang belajar dalam sebuah institusi pembelajaran tertinggi, dengan Sang Buddha sebagai guru junjungan kita.
Jadi selalulah sadar untuk menjaga hati Anda dalam keadaan baik. Sadar atas kata meditasi Anda, buddho. Atau jika Anda inginkan, Anda dapat berkonsentrasi pada keluar-masuknya napas. Ketika napas masuk, jagalah pikiran Anda agar dalam keadaan tenang. Ketika napas Anda keluar, jagalah agar pikiran Anda dalam keadaan tenang. Jangan menjadi tegang, jangan memaksakan segala sesuatunya, jangan pula terjebak dalam bentuk keinginan apapun untuk mengetahui atau melihat melebihi batas akal sehat. Jika kita menyerah pada bentuk keinginan seperti ini, kekotoran semacam ini, hal ini akan mengganggu hati. Jadi kita harus berhati-hati untuk menjadi sadar, untuk melihat jalannya pikiran,untuk melakukan meditasi yang bagus. Sungguh-sungguh menjadi sadar akan napas. Ketika napas Anda masuk, biarkan napas itu masuk dengan tenang. Ketika napas itu keluar, biarkan napas itu keluar dengan tenang. Biarkan pula pikiran dalam keadaan tenang. Jika ada sesuatu hal yang datang dan mengganggu Anda, jangan terlibat dengannya. Cukup menjaga rasa tenang berlangsung. Jika kesadaran Anda dapat tetap mempertahankan rasa kepuasan Anda, rasa keyakinan Anda dalam berlatih, pikiran akan terpisah dari keasyikan luarnya dan mengumpul menjadi sebuah rasa keheningan. Akan ada sebuah rasa keringanan. Kenyamanan. Sebuah perasaan puas dengan kenyamanan tersebut.
Jika ada sesuatu hal yang terjadi ketika kita sedang berusaha untuk mempertahankan keadaan damai dalam hati, gangguan-gangguan mulai muncul untuk mengganggu, membuat pikiran menjadi kacau dan gelisah. Kita harus ingat bahwa kita tidak perlu mencari keadaan damai yang hilang itu ke mana-mana. Ingat: dimana saja terdapat kegelisahan, disanalah terdapat keheningan. Kita harus menjadi waspada terhadap keasyikan yang membuat pikiran keluar dari kondisinya. Kita tidak menginginkan mereka, jadi kita tidak perlu menaruh perhatian apapun pada mereka. Kita harus mencoba untuk mengingat keasyikan-keasyikan baik yang telah memberikan kita sebuah keadaan damai dan tenang sebelumnya. Ketika kita dapat membuat pikiran berada dalam keadaan tenang dengan jalan ini, hal-hal yang mengganggu kedamaian itu akan lenyap tepat disana, tempat dimana keasyikan-keasyikan buruk berada.
Hal ini seperti kegelapan. Tidak peduli berapa lama kegelapan itu telah merajalela, ketika kita menyadari bahwa ada kegelapan dan kita menginginkan cahaya, kita tidak perlu melihat ke tempat lain. Jika kita mempunyai sebuah lentera, kemudian secepat kita menyalakannya, secepat itu pula cahaya akan muncul tepat dimana terdapat kegelapan sebelumnya. Kita tidak perlu mencari ke tempat lain. Kegelapan akan menghilang tepat dimana ada cahaya. Dengan cara yang sama ketika pikiran tidak berada dalam kedamaian, kita tidak perlu mencari kedamaian di tempat lain. Kegelisahan muncul dari sebuah kegemaran yang tidak terlatih/buruk, sedangkan kedamaian muncul dari kegemaran terlatih/baik tepat di tempat yang sama.
Ketika kita telah mengembangkan sebuah kegemaran baik yang membuat pikiran berada dalam keadaan damai, kita harus melihat sesudahnya dan mempertahankan keadaan damai tersebut dengan baik. Selama kegemaran-kegemaran ini menguasai hati, hati akan mempertahankan kedamaiannya. Jadi kita tidak perlu mencari kebaikan di tempat lain, yang malah akan dengan mudah merusak dan mencurangi hati. Kita harus selalu melihat ke dalam hati kita sendiri, melihat apakah ia sudah dalam keadaan baik atau tidak. Semua orang memiliki sebuah hati dan semua hati memiliki kualitas baik atau buruk. Jadi pergunakanlah kualitas dhamma-vicaya, kemampuan Anda untuk menganalisis perbedaan, untuk mengamati hati, rasa kesadaran ini tepat berada disini, dalam diri Anda sendiri.
Ketika Anda duduk disini mendengarkan, memfokuskan perhatian Anda sepenuhnya terhadap hati Anda sendiri. Suara pembicaraan ini akan masuk ke dalam hati dengan sendirinya. Anda tidak perlu memfokuskan perhatian Anda di luar dari suara atau menganalisis apa yang sedang dikatakan. Bangkitkan kesadaran Anda tepat dalam hati. Ketika orang yang berbicara menyebutkan kualitas ini atau itu, kesadaran terhadap kualitas itu akan muncul tepat di dalam hati Anda. Jika hal itu tidak segera muncul, biarlah ia muncul dengan sendirinya. Katakanlah sebagai contoh, bahwa pikiran sedang berada dalam keadaan buruk. Ketika orang yang berbicara menyebutkan hal-hal yang baik, cobalah untuk memberikan kesempatan bagi suasana/mood baik untuk muncul di dalam hati. Buatlah diri Anda percaya diri, puas dalam berlatih. Bangkitkan upaya-upaya Anda untuk memberikan kesempatan muncul pengetahuan akan hal-hal yang belum pernah Anda ketahui sebelumnya, untuk mendapatkan hal-hal yang belum pernah Anda dapatkan sebelumnya, untuk melihat hal-hal halus yang belum pernah Anda lihat sebelumnya, langkah demi langkah dalam pikiran Anda sendiri.
Selama hidupnya Sang Buddha membabarkan Dhamma mengetahui dengan jelas kemampuan pendengarnya, sadar terhadap tingkat inteligensi dan potensial, dan aspek Dhamma manakah yang paling mudah mereka mengerti. Beliau kemudian mengajarkan mereka Dhamma tersebut. Sebagai pendengarNya, mereka memfokuskan perhatian mereka pada hati dan pikiran mereka sendiri, dan akan mengerti sejalan dengan latihan-latihan yang telah mereka lakukan sebelumnya. Ketika kualitas-kualitas yang sesuai muncul di dalam hati mereka sendiri, mereka mampu mengetahui sejalan dengan munculnya kebenaran di dalam diri mereka. Ketika Dhamma muncul di dalam hati mereka, mereka merasakan kedamaian dan ketenangan, atau mencapai pemahaman dalam kebenaran-kebenaran yang diajarkan Sang Buddha. Sebagai contoh, ketika Beliau mengajarkan stress/derita dan penderitaan, pendengarNya fokus pada derita dan penderitaan dalam hati mereka sendiri. Mereka mencoba untuk mengerti pada poin dimana mereka melihat hal-hal itu tidak bisa selain dari apa yang diajarkan Sang Buddha. Mereka benar-benar melihat derita dan penderitaan. Ketika Sang Buddha mengajarkan bahwa cacat yang dikatakan asal mula derita harus dihindari, mereka melihat penderitaan yang muncul dari keinginan rendah. Mereka melihat bagaimana hal-hal ini dapat saling terkait satu sama lain. Kapan pun keinginan rendah muncul, penderitaan selalu muncul dibelakangnya.
Akibatnya, mereka membuat sebuah upaya penuh untuk menghindari asal mula derita. Semakin mereka mampu menghindari keinginan rendah, semakin lemah penderitaan mereka tumbuh. Ketika mereka mampu memotong keinginan rendah sepenuhnya, derita dan penderitaan sepenuhnya hilang. Mereka kemudian mengetahui dengan sepenuhnya sejalan dengan kebenaran. Keadaan pikiran mereka tidak memburuk atau jatuh, karena mereka telah masuk ke dalam kebenaran itu sendiri. Mereka telah mendengarkan Dhamma dan fokus pada pikiran mereka sendiri dengan jalan yang sesuai, sehingga mereka dapat melihat prinsip-prinsip dasar kebenaran dengan kesadaran dan kecerdasan mereka sendiri.
Bagi mereka yang kemampuan mentalnya belum sepenuhnya kokoh, mereka yang telah mengembangkan kemampuan mentalnya hanya pada tingkat biasa saja, walaupun mereka telah mendapatkan Dhamma ketika mereka sedang duduk mendengarkannya, Sang Buddha mengajarkan delapan jalan utama kepada mereka untuk dilatih. Hal ini memungkinkan mereka untuk mendapatkan pengetahuan dan pemahaman langkah demi langkah, sampai poin dimana kesadaran dan kecerdasan mereka cukup kuat untuk membawa mereka ke poin Dhamma selanjutnya, sejalan dengan jasa kebajikan dan potensial yang telah mereka kembangkan dengan upayanya sendiri.
Bagi kita walaupun mungkin kita tidak memperoleh Dhamma ketika mendengarkannya, Sang Buddha mengajarkan jalan menuju akhir dari penderitaan kepada kita untuk dikembangkan dengan melaksanakannya. Jalan ini tak lain adalah jalan mulia: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, daya upaya benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar. Selain mengajarkan tentang jalan benar yang harus kita kembangkan, Sang Buddha juga mengajarkan tentang jalan salah yang harus kita hindari. Dengan kata lain, Beliau mengajarkan kita:
Untuk menjauhi pandangan salah dan untuk mengembangkan pandangan benar
Untuk menjauhi pikiran salah dan untuk mengembangkan pikiran benar
Untuk menjauhi ucapan salah dan untuk mengembangkan ucapan benar
Untuk menjauhi perbuatan salah dan untuk mengembangkan perbuatan benar
Untuk menjauhi mata pencaharian salah dan untuk mengembangkan mata pencaharian benar
Untuk menjauhi daya upaya salah dan untuk mengembangkan daya upaya benar
Untuk menjauhi perhatian salah dan untuk mengembangkan perhatian benar
Untuk menjauhi konsentrasi salah dan untuk mengembangkan konsentrasi benar
Untuk alasan inilah kita harus memberitahukan pada diri kita sendiri tentang mana jalan yang benar dan jalan yang salah. Pandangan salah macam apakah yang harus kita hindari? Pandangan salah dimulai dengan pandangan tentang tubuh, atau penampilan fisik kita secara umum. Jika kita memandang bentuk fisik sesuai dengan apa yang Sang Buddha ajarkan - yaitu rūpam aniccam, bentuk fisik tidaklah kekal; rūpam dukkham, bentuk fisik sesungguhnya penuh dengan duka; rūpam anattā, bentuk fisik bukanlah aku - itulah yang dikatakan pandangan benar. Tapi jika kita melihat bentuk fisik ini sebagai sesuatu yang kekal atau berusaha membuatnya kekal - itu adalah pandangan salah dan berjalan berlawanan dengan ajaran Buddha. Dengan kata lain jika kita memandang bahwa rūpam niccam, bentuk fisik adalah kekal; rūpam sukham, bentuk fisik - tubuh ini - adalah penuh ketenteraman; rūpam attā, bentuk fisik adalah diri kita sendiri atau benar-benar miliki kita, itu adalah pandangan yang salah.
Jika kita melihat tubuh ini benar-benar sesuai dengan kebenarannya, kita akan melihat bahwa tubuh ini sesungguhnya tidaklah kekal. Sejak tubuh ini lahir kita dapat dengan mudah melihat tubuh ini mengalami perubahan-perubahan setiap saat. Tubuh ini menua dan letih setiap harinya. Ketidakkekalan ini menyebabkan kita harus selalu berjuang melawan keinginan untuk membuatnya kekal dan abadi. Karakteristik tubuh ini adalah selalu merasa kurang akan sesuatu hal atau hal-hal lainnya - ibarat tank air yang bocor terus menerus. Kita harus selalu mengisi air kedalamnya agar menjaganya tidak kering. Jika kita lupa untuk menambah airnya, air dalam tank akan mengering tentunya. Dengan cara yang sama, tubuh jasmani sesungguhnya tidaklah kekal, melainkan penuh dengan penderitaan. Jika tubuh ini kekal adanya, kita tidak perlu berjuang keras, kita tidak perlu mencari hal-hal untuk menjaganya tetap berlanjut, kita tidak perlu bekerja. Alasan kita bekerja mencari uang adalah agar kita memelihara tubuh ini, yang terus-menerus terbuang percuma. Sang Buddha melihat dengan jelas bahwa kerja dan perjuangan ini penuh dengan penderitaan. Bahwa hal itu berkaitan erat dengan ketidakkekalan tubuh ini. Dimana terdapat ketidakkekalan, disana pulalah terdapat penderitaan. Dan karena penderitaan itulah, tubuh ini tidaklah abadi. Kualitas ini saling bergantungan satu sama lain.
Ketika kita merenungkan hal ini sampai kita melihat kebenarannya, maka kita melihat Dhamma. Kita memiliki pandangan benar. Semakin diri ini mengerti tentang derita dan penderitaan, semakin pikiran dapat terus berkembang dan menyingkirkan beban-bebannya. Ketamakannya akan berkurang. Kemarahannya akan berkurang. Khayalannya tentang bentuk fisik akan berkurang. Hal ini akan membuat pikiran menjadi lebih bijaksana dan lebih tenang. Sebuah mental yang terlatih muncul dengan cara demikian sehingga kita dapat melihatnya dengan jelas ketika kita merenungkan kejadian-kejadian yang muncul dalam pikiran sesuai dengan kebenarannya.
Ketika Sang Buddha menjelaskan perihal pandangan benar, Beliau mulai dengan derita dan penderitaan: jātipi dukkha, kelahiran adalah penderitaan; jārapi dukkha, usia tua adalah penderitaan; maraņampi dukkham, kematian adalah penderitaan. Kebenaran ini ditemukan di dalam setiap dan semua dari kita - semua orang, semua makhluk hidup. Entah kita mempelajari permasalahan ini atau tidak, inilah jalannya segala sesuatunya. Selama ratusan dan ribuan tahun yang lampau, dimanapun terjadi kelahiran, disanalah terjadi kelapukan, kesakitan, dan kematian. Hal yang sama terjadi pada masa sekarang ini dan bahkan juga di masa-masa yang akan datang. Semua orang yang lahir juga akan mengalami peristiwa-peristiwa ini. Ajaran ini merupakan kebenaran sejati. Kebenaran ini tidak akan pernah berubah menjadi apapun yang lain. Tak peduli ratusan atau bahkan ribuan orang akan dilahirkan, mereka semua akan mengalami kesakitan, mengalami usia tua, mengalami kematian, setiap dan semua dari mereka. Tidak satu pun dari mereka yang akan terlewatkan. Tidak peduli pengetahuan apapun yang mereka punyai, senjata apapun yang mereka ciptakan, mereka tidak akan mampu mengalahkan kebenaran sejati ini. Jadi ketika kita telah mengembangkan pandangan benar dengan jalan ini, kita harus menghilangkan kekotoran batin kita. Dengan kata lain, kecanduan kita terhadap kemudaan, kecanduan kita untuk bebas dari penyakit, kecanduan kita untuk menjadi hidup. Kita kemudian akan menjadi mampu untuk bersikap dalam sebuah cara yang akan menjadi keuntungan sebenarnya bagi kita selama kita masih hidup.
Sebagaimana kita mengembangkan kesadaran perenungan terhadap dalam dan luar tubuh, melihat sifat alaminya dan mengembangkan pandangan benar, hati kita akan semakin dan semakin yakin terhadap kenyataan ini dan akan berkembang semakin jauh dari pandangan salah. Kita akan mampu mengembangkan pandangan benar secara terus-menerus. Ini adalah jalan yang akan membimbing kita untuk mencapai Dhamma, kedamaian tertinggi.
Sebagaimana kita mengembangkan pandangan benar, maka pikiran benar akan mudah dikembangkan. Karena pikiran kita untuk bermeditasi mengembangkan pandangan benar, di dalam dan di luarnya. Pikiran benar: pikiran untuk melihat Dhamma, untuk mengetahui Dhamma, sesuai dengan kebenaran yang berlangsung di dalam tubuh kita sendiri. Dimulai dengan kebenaran akan derita dan penderitaan. Tubuh kita mengalami kelahiran, segera setelah kelahiran muncullah penderitaan. Kita menderita karena kelahiran. Kelaparan, nafsu keinginan, panas, dan dingin yang menusuk; kesemua hal ini muncul sebagai akibat dari kelahiran. Dan tak peduli betapa berhati-hatinya kita memperhatikan tubuh ini, tubuh ini tetap mengalami usia tua dan kelapukan. Tak peduli betapa kita memohon dengan sangat terhadapnya, tubuh ini tidak akan mendengarkan kita. Tubuh ini hanya terus mengalami kelapukan.
Dan diatas semua itu, tubuh ini menyimpan semua jenis penyakit. Jika Anda benar-benar melihat tubuh ini, Anda akan melihat bahwa penyakit-penyakit itu dapat muncul sewaktu-waktu. Tubuh ini adalah sarang penyakit. Dia memiliki mata, maka terdapat penyakit mata. Dia memiliki telinga, maka terdapat penyakit telinga. Dia memiliki hidung, maka terdapat penyakit hidung. Dia mempunyai lidah, maka terdapat penyakit-penyakit lidah. Penyakit dapat muncul dalam bagian-bagian tubuh setiap dan semua orang. Ini adalah kebenaran sejati. Inilah mengapa terdapat dokter-dokter dan rumah sakit-rumah sakit di semua negara. Semua orang dari segala bangsa harus bergantung pada obat-obatan. Bahkan orang yang mengatakan hal ini pada Anda mempunyai penyakit-penyakit, sama seperti orang lain. Ketika kita benar-benar melihat kebenaran, kita akan melihat bahwa Ajaran Buddha tidak sedikit pun salah. Ajaran ini terdapat di dalam setiap dan semua dari kita.
Jika kita mengembangkan pikiran-pikiran kita sesuai dengan kebenaran sehingga pandangannya benar, ketidakwaspadaan dan kebingungan akan mereda. Kita akan melihat bahwa ketamakan yang kita rasakan di masa lampau tidak memiliki arti. Ketika api kemarahan muncul dalam diri orang lain, kita akan melihat bahwa hal itu tidak akan memiliki arti, bahwa hal itu bukanlah apa-apa selain derita dan penderitaan. Kita akan melihat bahwa satu-satunya jalan keluar adalah membuat pikiran menjadi tenang. Inilah jalan menuju kebahagiaan sebenarnya. Kita akan menuai kekecewaan, penglihatan - menyampaikan sifat-sifat alami hal-hal - bahwa apa yang telah menyibukkan diri kita sendiri sebenarnya tidak memiliki arti. Hal itu melelahkan kita tanpa memiliki tujuan sebenarnya, menciptakan kesulitan-kesulitan demi tujuan yang tak jelas, dan telah meninggalkan kita tanpa apapun yang dapat sungguh-sungguh kita katakan "milikku". Pikirkanlah tentang semua hal yang telah Anda lihat dan timbun semenjak Anda lahir sampai detik ini. Adakah sesuatu yang dapat benar-benar Anda percayai? Apapun yang dapat Anda katakan sebagai miliki Anda? Tidak ada. Tidak satu pun dari hal-hal itu yang dapat benar-benar menolong Anda. Mereka mungkin dapat membantu Anda sedikit, tapi tidak cukup untuk memberikan Anda kebahagiaan sesungguhnya.
Jadi saya minta kepada Anda semua untuk berusaha mengembangkan pandangan benar. Meditasi dengan objek empat perenungan (satipatthāna) untuk mengembangkan ketajaman. Saat Anda melakukan meditasi - duduk, berdiri, berjalan, atau berbaring - tetap sadar terhadap tubuh ini, yang dipenuhi ketidakkekalan. Tidak peduli dimanapun Anda melihat, tubuh ini tidaklah kekal. Tubuh ini juga penuh dengan derita. Dimanapun Anda melihat, Anda akan melihat penyakit-penyakit dan rasa sakit dapat muncul sewaktu-waktu. Tubuh ini dapat menua sewaktu-waktu. Tidak terdapat bagian-bagian dari tubuh ini yang dapat bebas sepenuhnya dari sakit dan rasa sakit. Jika Anda tidak percaya pada saya, ambil sebuah paku besar dan tusukkan di bagian mana saja daru tubuh ini, dan Anda akan melihat bahwa tubuh ini merasa sakit di tempat Anda menusukkannya. Anda dapat melihat dengan jelas sesuai dengan kebenaran bahwa seluruh tubuh ini penuh dengan penderitaan. Mengenai buddho, kesadaran yang muncul dalam pikiran akan sadar bahwa apa yang benar-benar penting bukanlah tubuh ini, melainkan pikiran. Ketika Anda melihat ketakutan dan derita tubuh, kemudian ketajaman, pencerahan, dan ketenangan akan muncul dalam hati, membebaskannya dari beban-beban dan hutang-hutang karma dikaitkan dengan tubuh. Dengan cara ini kita melepaskan beban-beban berat kita: nicchāto parinibbuto, bebas dari rasa lapar. Sepenuhnya tidak terkekang, menggapai berkah dan kedamaian abadi.
Jika saya minta kepada Anda semua - yang memiliki keyakinan, yang menginginkan kedamaian, yang menginginkan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari Anda - untuk mengembangkan kesadaran, untuk mengembangkan pandangan benar. Lihatlah tubuh ini luar dan dalamnya. Dalam dan luar tubuh ini disebutkan dalam kotbah mengenai empat landasan perhatian benar (Mahasatipatthana Sutta), tapi tidak secara tertulis. Hal itu tidak terdapat di dalam buku. Hal itu ada disini. Ketika kita berlatih, kita tidak harus mengulang kata-kata yang ada. Kita memperhatikan tubuh kita sendiri, pada apa yang sudah ada. Kesadaran adalah sesuatu yang sudah kita punyai, semua yang harus kita lakukan adalah menggunakannya pada tubuh. Jika kita tidak sadar akan tubuh maka itu bukanlah kesadaran yang benar. Ketika kita menjadi sadar akan tubuh, itulah kesadaran kita: kesadran yang memungkinkan kita untuk berlatih, yang memungkinkan kita untuk mengetahui. Jika kita tetap meneliti tubuh ini, kita pasti melihat apa yang ada disini.
Semakin kita teliti, semakin kita akan menjadi cakap. Kita akan mengerti sejelas dan sebenar-benarnya. Semakain jelas kita melihat, semakin kita berusaha - usaha yang benar - kita akan mengetahui dan melihat lebih utuh. Kesadaran benar akan lebih sadar terus-menerus, dan konsentrasi benar akan lebih mudah dibentuk. Ucapan benar dan perbuatan benar akan mengikuti kemudian. Jadi kembangkan pandangan benar di dalam hati Anda dengan mengembangkan perhatian. Awasi tubuh dalam dan luarnya. Latih sesuai dengan kebenaran, baik siang maupun malam. Entah saat Anda sedang duduk, berdiri, berjalan, ataupun berbaring. Ketika Anda berlatih secara benar, tidak satupun dengan kebijaksanaan sejati apapun yang akan bertentangan dengan Anda, ketika Anda terfokus pada kebenaran sejati: ketidakkekalan, derita dan penderitaan, semua dari empat kesunyataan mulia yang dapat dilihat tepat disini, di dalam tubuh ini. Hal-hal ini tidak dapat ditemukan di tempat lain. Jika kita benar-benar mengembangkan pandangan benar dengan melihat hal-hal ini, hasilnya akan muncul dalam diri kita. Ketika hasilnya muncul, sifat alami dari pikiran bahwa dia akan mengetahui dengan sendirinya. Dia tidak perlu diberitahukan. Semua yang diperlukan adalah Anda berlatih dengan benar. Mulailah dengan mencoba dari saat ini dan seterusnya. Jangan terganggu atau dibingungkan oleh orang ini yang mengatakan itu atau orang itu yang mengatakan ini. Tidak ada lagi tempat dimana Anda harus lihat. Faktanya adalah tubuh Anda sendiri. Betapa tidak kekalnya tubuh ini, Anda akan mengetahui dengan sendirinya. Tubuh ini tidak akan berbohong pada Anda. Betapa menderitanya tubuh ini, betapa banyak penyakit, sakit, dan rasa sakit; Anda akan mengetahui dengan sendirinya. Tubuh ini tidak akan berbohong pada Anda. Kebenaran selalu berada disana bagi Anda untuk melihat.
Berlatih untuk melihat sesuai dengan kebenaran dalam jalan ini disebut melihat Dhamma, sifat alami kebenaran dalam dan luarnya. Kita akan datang untuk melihat kebenaran sepanjang jalan yang dilalui dan mendapat kebebasan dari derita dan penderitaan. Jadi pertahankan terus. Ketika Anda mendapatkan pemahaman apapun, kita dapat diskusikan sebagaimana mereka muncul, setahap demi setahap, sampai akhirnya Anda mendapatkan kebebasan sejati dari derita dan penderitaan. Tapi sekarang cukup sampai disini.